Evolusi Metodologi Perencanaan Kekuatan : Belajar dari Negara Lain

Evolusi Metodologi Perencanaan Kekuatan[1]: Belajar dari Negara Lain

Oleh Budiman Djoko Said

Pendahuluan

Kekuatan untuk operasi militer gabungan (jointness)[2]merupakan genesis pertanyaan bagi KemHan AS; yakni…How much is enough? How much of each is enough?Why[3]?Collin Gray, pemikir strategi, membenarkan kesulitan itu dan mengatakan; ”realitas yang paling dominan dalam perencanaan kekuatan adalah ketidak pastian itu sendiri”. Era kemerdekaan dansesudahnya memberikan kejelasan siapa yang dihadapi dan logik menemukan kalkulus kekuatan RI.Setelah era itu, TNI menggunakan dua atau tiga “trouble-spot” yang bersamaan sebagai basis kalkulus kekuatan .[4]NATO dan AS era Perang Dingin menggunakan basis dua (2) dua mandala tempur besar (Major Theatre of War/MToW) bersamaan.

Basis ini mengisyaratkan kesiapan offensif di geografik tersebut dengan misi yang jelas, yaknito fight and win two nearly two simultaneous major theatre of wars.Skenario[5] dua (2) mandala besarsebagai perangkat pendekatan yang mudah diterima.Perancang kekuatan diKemhan memiliki tiga (3) kompetensi.Pertama, kalkuluskekuatan dengan risiko minimum yang bisa diterima (minimum degree of acceptablerisk)[6].Kedua, distribusi postur kekuatan.Ketiga, meyakinkan wakilrakyat dan publik bahwa solusi dua kompetensi diatas berbasisakurasi kalkulus.[7]Tiga (3) basis perencanaan kekuatan digunakan , yakni pertama,berbasis ancaman (Threat-Based Planning/TBP). Kedua, berbasis asumsi (assumption-based planning/ABP). Ketiga, berbasiskapabilitas (Capabilities-Based Planning/CBP)[8].ABP luwes menatap ketidak pastian dan sebagai kontrol mengatasi perubahan rancanganberbasis ancaman yakni TBP maupun perencanaan jangka panjangCBP. Tugas perancang mempostulasikanskenario yang berpeluang muncul.Skenario[9]yang membantu perencanaankekuatan dengan risiko minimum (expected risk) untuk bertempur dan menang (to fight and win).Skenario merekomendasikan struktur kekuatan yang memenangkanmelalui model statik dan dinamik berikut konsekuensi biayaserta meyakinkan Dewan.Bila intelijen pesimistik terjadinya perangsebaiknya meninggalkan MToW,menurun ke-Major Regional Contigencies (MRC),atau Major Scale Conflict,atau Medium Scale Conflict (MSC),bahkan Small Scale Conflicts(SSC) dan dipimpin Komandan[10].

Agenda berikutadalah nego alternatif kekuatan(+ alternatif risiko) dan konsekuensi anggaran.[11]Tanpa kerangka fikir sulit mengevaluasi maupun mempertanggungjawabkandan mustahil membangun postur yang baik, bahkan terkesan mendadak .[12]Orientasi kekuatan adalah operasi gabungandan merujuk petunjuk strategikyang di-suntikan kedalam model postur kekuatanberbasis skenario operasi gabungan atau degradasinya (MRC,MSC, dst).Produk ini dijadikan perangkat arahan oleh Panglima Gabungan (atau Kasgab) bagi Angkatan yang akan menyiapkan aset yang ada.Kalkulus perencanaan kekuatan menjadi kebutuhan karena memiliki kejelasan basis pemahaman,dan menjembatani tugas besar nasional yang terbentang antara pemilik kebijakan nasional dan provisi mereka yang terlatih mendukung tugas nasional ini.[13]Makalahakan membahas pendekatan yang pernah digunakan[14]dalam perencanaan kekuatan.

Perencanaan pembangunan kekuatan (force planning) yang terintegrasi

Para wakil rakyat dan analis  pertahanan nasional menjadi semakin kritis dan terlatih mencermati kerangka fikir yang sungguhlogis, persuasif,dan dapat dipertanggungjawabkansebagai portofolio manajemen pertahanan nasional. Seyogyanya anggota Dewanmendorong Kemhan[15]meningkatkan daya intelektual dan analitik personil dengan rekayasa-ulang kurikulum Lemdikmiliter dalam rangka ~ menciptakan “smart-power” sebagai bagian paket“hard power” dan “soft-power”. Biasanya lima(5) pernyataan pokok yang biasanya digunakan sebagai suntikan kerangka fikir kekuatan , yakni:

-Laporan strategi keamanan nasional[16] tahunan.

-Laporan Panglima OpsGab dan kajian alternatif strategi militer nasional

-Petunjuk Presidensialtentang strategi militer nasional dan limitasi anggaran tahunan

-Petunjuk bagi komponen-komponen militer nasional oleh Kemhan

-Laporan tahunan kepada Dewan KamNas oleh Kemhan dan Panglima gabungan militer nasional.[17]

Suntikan pertamaberupa strategi Kamnas—yang merupakan kumpulan strategi nasional atau strategi semua instrumenkekuatan nasional (PEM,atau DIME atau MIDLIFE+Mar[18]) guna mendukung tercapainya obyektif kepentingan nasional. Ancamannasional dihitung relatif terhadap gangguan terhadap obyektif kepentingan nasional. Ancaman yang lebih rendah dari ini didegradasikan sebagai Kamdagri. Sasaran fisik yang ingin diketahui adalah intensi, perilaku “kandidat” pengancam potensial dan kapabilitasnya mengganggu kepentingan nasional dengan strategi mereka dan perlu dihadapi dengan strategi KamNas yang “teroskestra”.[19]

Suntikan keduaadalahstrategi militer. Sebagai komponen strategi keamanan nasional, strategi ini mengemploikan kekuatan guna mengawal tercapainya obyektif kepentingan nasional. Syaratnya PangOpsgab dan Menhantelah mengajukan alternatif strategi militer untuk dipilih Presiden dan telah mengkaji hubunganstrategi dan kapabilitas yang mungkin bisa (tidaknya) dicapai dengan limitasi anggaran.Suntikan ketiga, petunjuk Presiden tentang strategi dan anggaran.Presiden memeriksa ulang strategi yang dikembangkan oleh Kasgab (atau Panglima),dan fokus pada dua (2) isuyakni menggarisbawahi obyektif strategi nasional dan konsekuensi risiko yang dipertimbangkan serta kapabilitas kekuatan dengan limitasi anggaran yang tersedia.[20]Suntikan keempat; arahanMenhanbagi komponen Kemhandengan menegaskan ulang  petunjuk Presiden tentang strategi keamanan nasional yang digaris bawahidengan limitasi anggaran dan laporan Kasgab/Panglima tentang strategi militer nasional yang terpilih (dari sekian alternatif) dengan limitasi anggaran.[21]

Suntikan kelima, laporantahunan Menhan dan Kasgab atau Panglima yang menginformasikan WanKamNas tentang arah dan rencana memelihara keamanan nasional dengan rinciannya berturut-turut; situasi global yang mungkin mengancam kepentingan nasional, komitmen nasional, komitmen negara sahabat, strategi global menjawab ancaman tersebut,pengawasan terhadap strategi regional/lokal kritis yang perlu diawasi, obyektifnya dan kriteria performa atau suksesnya strategi tersebut. Termasuk deploi kekuatan masa damai serta proyeksike-area pelibatan perang MToW, atau konflik (MRC,atau MSC,dll). Bila tensi krisis meningkat akan dijelaskan kekuatan demi kekuatandan personil serta kapabilitas[22]kekuatan yang dideploikan. Berikut dijelaskan penilaian sasaran jangka pendek dan panjang; bagaimana kekuatan militer  mendukung komitmen dan strategi regional,enumerasi program dan kebutuhan untuk memelihara dan meningkatkan kualitas,serta mendukung elemen kekuatan ini. Terakhir; mendayagunakan industri dasar pertahanan nasional[23], instalasi pertahanan dan mengatur kedua agensi ini,serta diskusi isu kepentingan yang spesifik. Interaksi pentingantar agensi pertahanan nasional menghadapi isu perencanaan pertahanan nasional dan pembangunan kekuatan militer nasional sepintas periksa gambar no.1 dibawah ini.

Gambar no.1 Interaksi perencanaan pertahanan nasional yang terintegrasi[24]

sept1

Penjelasan:

Sec-Def=Menhan. OMB=office of management budget. NSC=National Security Council. Hadirnya ketua Kasgab/gabungan (Chairman of Joint Chiefs of Stafff) mencerminkan kerangka pikir kekuatan militer berorientasi kepada kekuatan gabungan yang lebih effisien. Kalkulus kekuatan=kalkulus kekuatan gabungan. Perhatikan sentra interaksi berada ditangan Menhan (blok tengah) dan ketua Kasgab.Ciri yang khas dari kerangka pikir akan melibatkan segmentasi proses perencanaan pertahanan nasional dalam beberapa segmen, seperti: kegiatan diskrit, ketergantungan, tingkatan hirarki, dan kategori fungsional (lihat gambar no.1).

 

Pokok-pokok interaksi sebagai berikut :

-Presiden akan menyatakan obyektif keamanan nasional dan formulasi ulang strategi keamanan nasional.[25]

-Kasgab atau Panglima plus arahan Menhan dan hasil konsultasi dengan Komandan Tempur Angkatan-Angkatan mengembangkan strategi militer nasional serta menjamin risiko terkecil dan anggaran terbatas pada tingkat tertentu. Setelah melakukan kaji ulang Menhan melapor  Presiden tentang alternatif strategi dan kajiannya.

-Presiden setelah mengkaji ulang strategi-strategi ini akan memberikan penilaian. Setelah bermusyawarah dengan Dewan,  Presiden mengeluarkan petunjuk strategi Kamnas dan limitasi anggaran.

-Petunjuk Presiden ini dijadikan arahan Menhan bagi komponen kekuatan militer nasional ditambah isu-isu lain yang spesifik.Angkatan mengulang program dan anggaran untuk mengorganisir kesiagaan kekuatan yang ada.Menhan meredefinisi seluruh rencana pertahanan nasional sekarang dan mendatang, sesuai limitasi anggaran dan mengajukan ulang ke Presiden.Setelah Presiden setuju, program dan anggaran tersebut masuk program tahunan mendatang bagi kepentingan kesiagaan kekuatan militer nasional.

 

Proses interaksi masihsebatas fokus pengembangan kekuatan, seperti kekuatan dilapangan (yang  disiagakan)dan kapabilitas operasional.

Assumption-Based Planning(ABP)

ABP mula-mula dikembangkan sebagai perangkat perbaikan suatu perencanaan berbasis kecenderungan (Trend-Based Planning/TrBP) yang digunakan AD-AS.Tabel # 1dibawah menggambarkan perbedaan TrBP dan ABP.

Tabel #1. Perbedaan pendekatan TrBP versus ABP[26]  .

sept3

 

TrBP umumnya baik untuk proyeksi jangka pendek[27]dan berorientasi yang bisa dikerjakan sekarang.Meski berjangka pendek, TrBP tidakberdaya berhadapan dengan kejadian mendadak karena buruknya asumsi dan rancangan. ABP menjadipanakea tunggal dan pendekatan yang kapabel menyelaraskan perubahan (slide #1)ini.ABP “cocok” untuk jangka panjang khususnya versus ketidakstabilan periodedimana sebagian besar asumsi yang diciptakan berpeluang menghadapi perubahan. ABP kokoh dan mudah beradaptasi versus perubahan  perencanaan. Diawali proses mengulang kembali detail perencanaan dan konsentrasi pada asumsi-asumsi yang dibangun untuk memperkecil risiko, APB membangun hipotesa diawal skenario. Era perang dingin yang dibungkus stabilitas berkepanjangan [28] dan skenario yang lemah,  sangatlah tepat dengan kehadiran  ABP.ABP fokus pada dua (2) isu yakni pemikiranulang, merubah pendekatan guna meredam ketidakpastian yang tinggi. Misal;melawan Rusia tidak perlu fokus untuk bertempur, tetapi pada siasat mencegah pertempuran.Kedua, menggunakan analisis multi skenario (multi-scenario analysis).

Slide # 1. Kekuatan ABP adalah kapabel menyelaraskan perubahan perencanaan yang sedang  berjalan

sept2

Referensi: Dewar,J., et-all (3 persons), 1997, “Assumption-Based Planning and Force XXI ”, halaman  4.

Tiga pendekatan perencanaan dikatagorikan kurang tepat di-era perang dingin dan jarang dipakai sampai sekarang;yakni:

[1] Ekstrapolasi kecenderungan (most likely futures planning) atau trends-based planning/TrBP, menjadi ikon perencanaan selama perang dingin yang stabil.Pendekatan dengan standar dan teknik eksptrapolasi memanfaatkan skenario perencanaan jangka panjang berbasis proyeksi teknologi dan kecenderungan geopolitik yang stabil.Teknologi sebagai mesin perubahan rentan dengan ketidakpastian sehingga eksptrapolasi kecenderungan bermanfaat singkat.[29]

[2] Perencanaan (skenario) yang buruk dibungkus alasan ketidakpastian. Misal; menyebut perang di pusat Eropa meningkatkan eskalasi perang nuklir.Munculnya skenario buruk itu berbalik mempertanyakan keabsahanperencanaan sehinggamenjadi keniscayaan bahwa ancaman sekarang adalah semua yang mengancam daya hidup suatu bangsa (survival).

[3] Tiga progam paralel; yakni program tiga produksi bom dan pengembangan rudal balistik, dan hadirnya situasi darurat,ketidakpastian yang tinggi, dan keharusan mendanai ketiga program paralel sungguh membebaniNATO.[30]Semua ini membutuhkan pemikiran ulang perencanaan dan mengadop ABP.

Proses ABP secara singkat dapat divisualisasikan melalui tabel dibawah ini:

Slide # 2. Proses ABP.

sept4

Referensi:Dewar,James, Dr, RAND, Cambridge University Press, 2004“ Assumption-Based Planning , A Tool for Reducing Avoidable Surprise “, halaman 32. Output langkah-3 adalah menuju langkah-4(shaping actions) dan mendukung langkah-5 (hedging actions).ABP sebagai anggota keluarga analisis multi-skenario dengan methoda spesifik; kapabel dan teratur memberikan peringatan dini serta bereaksi versus perubahan dengan hedging actions atau shaping actions (periksa langkah-4 dan langkah-5).

Oleh karena perencanaan kekuatan berisikomenghadapi ketidakpastian pada waktu tertentu dan tidak bisa dijamin hanya satu alternatif, dituntut perilaku luwesdan adaptif, membuat organisasi harus tahu kapan adaptasi, merubah, atau membuang rancangan yang tidak perlu atau mengembangkan saja, dan ABP-lah yang bisa mengatasi.Bagi ABP identifikasi asumsi begitu penting, masalahnya berbagai varian asumsi bisa saja hadir, ada yang jelas,relevan, bahkan begitu halus dan tersembunyi[31]. Perlu pemahaman dankepekaan justifikasi para perancang dibantu dengan 9 (sembilan) langkah mengidentifikasi asumsi. [32]Mengingat perencanaanjangka panjang mengikat banyak asumsi yang diperlukandalam cakrawala jangkapanjang.[33]Ada baiknya asumsi perlu dijelaskansingkat[34].Perencanaan membutuhkan asumsi yang bisa menjamin perencanaan mendatang berjalan baik namun seringkali dihadang kesulitan menemukan asumsi yang kokoh,selain ituterciptanya asumsi membutuhkan imaginasi dan logika perencanaan.

Berbagai macam kelemahan dan kekuatan asumsi perlu diinvestigasi mana yang perlu dipoles menjadi kuat atau dibuang atau diperbaharui dan struktur mana yang mengendalikannya. Asumsi didefinisikan sebagai pernyataantentang karakteristik dunia nyata (sekarang,mendatang) yang mendasari berjalannya konsep organisasi atau rancangan operasi. Asumsi sangat rentan menyebabkan perubahan konsep atau rancangan bila dinyatakan “keliru”. Dalam evolusinya definisi asumsi melebar menjadidiskriptif, prediktif, evaluatif, atau eksplanatori, implisit, bahkan eskplisit. Bila eksplisit, bisa saja berbentuk diarahkan (directed) atau dipilih (elected)[35],sedangkan implisitbisasaja berbentuktidak dikenal atau menindas/menahan.[36]Asumsi merespons ciri-ciri dunia (area masalah) yang dicermati dan biasanya berbentuk kalimat panjang.[37]

Obyektif  perencanaan adalah mengklarifikasikan dan memudahkan memahami  dunia nyata tentang apa yang akan/sedang dikerjakandengan syarat ada kaitan antara elemen perencanaan dan ciri-ciri lingkungan yang mempengaruhi—kaitan-kaitan ini seringkali akan  diliput asumsi. Diproses langkah-1yangmengklarifikasikanasumsi-asumsi yang penting, dilanjutkan dengan identifikasi kelemahandalam langkah-2. Identifikasi dilakukan dengan menempatkan asumsi dalam lorong cakrawala waktu (plausible events within time horizon).Semakin jauh posisi kejadian dalam lorong waktu semakin berpeluang menciptakan asumsi yang lemah.[38] Asumsi diproyeksikan untuk periode tertentu sehingga tidak selamanya bisa digunakan.

Asumsi ditolak karenalemah disuatu titik dalam cakrawala waktu sehingga peran cakrawala waktu sangat krusial dalam perencanaan berbasis asumsi.[39]Dua langkah menemukan asumsi yang lemah, pertama, identifikasi elemen perubahan yang bisa  terjadi kurun waktu 25-30 tahun kedepan (periksa tanda panah kebawah dari blok “plausible event” (slide #2)yang memberikan efek kepada organisasi). Perancang seyogyanya memiliki naluri kuat meletakkan asumsi dalam cakrawala waktu berorientasi yang dapat terjadimendatang, bukanpada apa yang akan terjadi di dunia ini.Kedua, serasikan (gabungkan) elemen perubahan yang didapat dengan asumsi penting yang disuntik dari langkah pertama ABP. Aktivitas langkah2 ini sangat kritikalkarena menghasilkan 3 hal yakni pos-tanda (sign-post)/langkah3, mempertajam aksi (langkah-4)dan menghadapinya (langkah5).Penggunaan teknik Delphi akan menambah fokus masa mendatang dengan mengumpulkan pakar/analisis pertahanan nasional, strategi pertahanan nasional, strategi militer nasional, analisis operasional militer (atau riset operasi militer), analisis tempur, dan pakar staf ahli operasi gabungan.[40]

Pos–tanda bertindak sebagai pintu gerbang dan memonitor serta mengingatkan asumsi yang lemah, atau perlu perubahan  bahkan evaluasi dampak perubahan radikal (surprises) diikuti dengan langkah4dan langkah5.Misal: isu sista yang kemungkinan menua atau melemah, dengan langkah 4 dapat bertindak dengan segera yakni meningkatkan efektivitas sista ~ kegiatan teknologi dari Litbang agar ukuran efektivitas sista meningkat (MOE)[41]. Langkah ke-4adalah bagian sukses ABP karena menemukan kelemahan asumsi dan memperkuatnya. Sebaliknya langkah ke-5 disebut bagian gagalnyakarena menghapuskan atau merespon dampak gagal/lemahnya asumsi.Misal:ketahanan hidup pembom strategisterhadap potensi ancaman lawansebenarnya bisa dimonitor, diperlunak, maka diputuskan untuk dihadapi saja (hedging actions).ABP sebagai anggota analis skenario jamak tangguh menghadapi banyak perubahan potensial. Proses krusial di-langkah 3, 4 dan 5 membuktikan bahwa ABP adalah panakea perencanaan jangka panjangversus  ketidakpastian. Dalam kontek bahasan ini ditampilkan model lain yang menemukan tanda-tanda perubahan radikal seperti gambar dibawah ini[42] (meskipun tidak seakurat ABP):

Gambar no.2 .Konsep sketsa/garis besar proses strategis dan kapabilitas

sept

Referensi:Ibid,halaman 166. Simpul proses menemukan tanda perubahan berada ditengah dengan warna merah. Perhatikan bahwa simpul Defence Executive adalah Menhan, elit militer plus perancang kekuatan militer. Perhatikan juga fenomena pergeseran (trade-off) kapabilitas sekarang (current) dengan mendatang (desired capability) .

TBP versus CBP

PrakteknyaNATO menggunakan kalkulus kekuatan berbasis TBP sebagai peta jalan peperangan (skenario) berbasis kontijensidua regional besar (MRCs/Major Regional Contigencies).[43]Usaiperang dingin dan usai penggunaan kekuatan dasar ditahun 1990-an, ditiadakannya duo MRC (two MRCs Strategy)setelah menghadapi dilema kontroversi,sangatlah berlebihan (over-stuffed), membebani, tidak disanggupi, sangat tidak mencukupidan menyiagakan 95% kekuatan NATO sangat membebani anggarannya.Kekuatan NATO era perang dingin didesain reaktif menghadapi ancaman,didaerah dan kekuatan spesifik diselaraskan dengan skenario yang dibangun (lebih cenderung one-on-engagement)[44].Pemahaman TBP terbangun dinamis diikuti dengan kesiagaantinggimenghadapi pakta Warsawa.Kesiagaan ini semakinbertambah sebagai dampak laporan inteligen tentang kekuatan pakta Warsawa yang berlebih-lebihan.Prakteknya penggunaan kekuatan seperti penangkalan, pertahanan teritorial, restorasi teritorial yang diduduki, dan kesiagaan disetujui untuk dikuantitatifkan, diikuti tesdalam olah main yudha (OMY), dan simulasi massal[45] secara terus menerus sebagai kalkulasi dan uji dan evaluasi struktur kekuatan yang dibutuhkan—fenomena yang atraktif. TBP sebagai metodologi perencanaan kekuatan nampak sederhana, tetapi sarat RMA, logistik maupun pengembangan studi dan kajian akademik dan gambaran“mengerikan” (besaran atrisi korban manusia, material dan dampak nuklir) meskipun terbelenggu realitas keterbatasan anggaran. Faktanya NATO lebih serius menekankan dan menyiapkan diri masing-masing pada ancaman dan daerah pelibatan yang paling memungkinkan (most likely)dan celakanya abai tentang konsepgabungan.[46]Usaiperang dingin yang tiba-tiba (radikal) mengundang perubahan misi dan penugasan diluar bidang pertahanan bagi negara-negara tersebut[47], misaloperasi perdamaian dunia, pertahanan fisik teritorial, perbatasan, peperangan asimetrik atau peperangan generasi keempat. TBPdengan cepat menjadi usang dan pendekatan baru diperlukan. Pergeseran pendekatan dan kriteria mendesak diperlukan bagi perancang Kemhan sebagai dasar perencanaan yang dapat dilakukan (bukan apa yang akan dilakukan) dengan produksi struktur kekuatan yang kokoh tapi luwes (flexible) menghadapibentuk ancaman yang semakin kabur. CPB dikembangkansebagai model alternatif [48]pengganti TBP yang lebih koheren, transparans, rasional dalam perencanaan akuisisi mendatang, serta lebih memberikan efek (EBOàeffect-based operations) pencapaian misi dengan cara yang lebih cerdas dan effisien serta melibatkan analisis fungsional untuk operasi mendatang.Perhatikan tabel dibawah ini yang membedakan kedua pendekatan ini [49].

Tabel no.2. Perbedaan penggunaan TBP dan CBP.

sept5

Referensi: Ibid,halaman 6. Keduanya dibedakan dalam parameter perilaku ancaman, format skenario, fokus kekuatan serta cara penyelesaiannya.Perhatikan nosi TBP terakhiryang mengisyaratkan mudahnya mengkuantitatifkan struktur kekuatan akan memudahkan pemodelan duel one-on-one, sampai group-on-group engagement (fokuslebih kepada pelibatan dibandingkan pada skenarionya) yang tentunya menampilkan produk sejumlah besar aset tempur dan sejumlah personil dan konsekuensi “biaya” besar.

Kapabilitas yang diemban ditransformasikan ke-kekuatan/satuan yang diemploi maupun dideploikan. Kapabilitas berorientasi menjawab pertanyaan “apa yang terbaik yang bisa (harus)di-lakukan”. Tidaklagi bertanya dengan cara sederhanaseperti mengatakan “peralatan apa yang harus diadakan (akan dibeli) atau baru”. Atau merubah  pertanyaandari “adakahopsi pengadaan baru Artileri? “ menjadi “bagaimana caranya bisa mendukung tembakan jarak jauh bagi pasukan darat dengan Artileri ( yang ada)?”, artinya ada opsi meningkatkan kapabilitasmelalui program Litbang oleh industri pertahanan. CBP berbeda dengan TBP yakni  tidak lagi berhadapan dengan ancaman yang spesifik ataukondisi tertentu. Hasil (outcome) perencanaan tipikal ini tidak didemonstrasikan dalam bentuk fisik seperti jumlah sista maupun kekuatan pengawaknya, namun lebih ditransformasikan dalam bentuk penugasan (task)[50]kepada masing-masing unit pelaksana(dengan kapabilitas masing-masing) dilapangan (periksa gambar no.3 dibawah ini,setelah teridentifikasi “apa yang bisa” dilakukan sebagai kapabilitasyang diperlukan).

Gambar no.3 . Hubungan Capabilities (sebagai means, ways) dan Effects.

sept6

Referensi: Cdr Todd, Pentagon, slide # 14.Perhatikan effects—akan dikembangkan dalam RenOps nantinya berbentuk Operasi berbasis efek(Effects-Based Operation/EBO).

CBP[51]lebih inovatif dan responsif menghadapi  ketidakpastian, risiko dan “ongkos”, proses skematik CBP digambarkan gambar no.4 dibawah ini[52]:

Gambar no.4 . Proses generik pemetaan CBP.

sept7

Referensi:Ibid, halaman 4.Perhatikan Skenario sebagai jantung model adalah sentra skema ini. Skenario ini akan melahirkan Capability Goals.

CBP semakin populer sejalan berkembangnyaperilaku ancaman yang semakin samar-samar.[53]CBP sangat bergantung  pada skenario. Ada empat bagian utamaarsitektur CBP;pertama orientasi pada “output”, yakni kapabilitas yang dihasilkan dari analisis fungsional dengan injek (masukan) keinginan pemerintah. Kedua,mempertimbangkan cara bagaimana kekuatan militer bertempur, dengan melalui bentuk top-down, atau doktrin tingkat atas atau melalui titik perubahan (overarching) model yang digunakan negara lain. Ketiga, dengan standar kelompok (cluster/group standards) atau partisi (dipecah-pecah dalam sub-sub CBP) agar lebih mudah mengontrol proses pelaksanaan CBP.Keempat, kapabilitas yang dihasilkan direalisasikan kedalam sumber daya yang ada.CBP mengalami kesulitan menebak intensi, ketidakpastian, juga menempatkan kekuatan dalam satu titik cakrawala waktu tersendiri dalam analisis skenario. Kesulitan perancang bukan saja dikarenakan tidak menyatunya titik skenario yang dicermati, namun kadang – kadang harus lebih mengadopsi dan mengaplikasikan keinginan elit sponsor dalam “kearifan” perencanaan kekuatan ini.Oleh karena itu perlu dibahas sedikit tentang skenario dan limitasinya.  Skenariomenjadi penting karena menghubungkan kebijakan pertahanan nasional (dan strategi – strategi) dan obyektifCBP ( mendefinisikan kapabilitas dalam penugasan) dan sudah menjadi aset umum disemua bagian kekuatan serta diakomodasikan disemua tipikal operasi militer yang memang diharapkan pemerintah.[54]Skenario tidak sekedarmemenuhi alternatif kondisi mendatang atau bermuara dalam titik temu eksplorasi ide/pemikiran,tetapi lebih mengarah pada jaminankonteks yang ada. Skenario membantu pengembangan yang realistik antara obyektif kapabilitas[55], kelengkapan kekuatan pertahanan yang memenuhi kebutuhan dengan konsekuensi “biaya” terendah.Skenario memfasilitasi seluruh kapabilitas dalam bentangan cakrawala waktu,tidak diarahkan kesuatu titik sembarang/tertentu sepanjang cakrawala waktu.[56] CBP akan menentukan skenario dengan ketrampilannya. Terlalu sedikit skenario menyebabkan miripsatu sama lain dan sulit mencakup isu yang luas, serta menambah siginifikan beban kerja CBP. Untuk memahami kebutuhan kapabilitas dengan skala penuh dan memunculkan hambatan atau kelemahannya,perlu tes bagi kekuatan atau satuan tertentu dengan menggunakan skenario yang sesuai untuk menantang keabsahan (validitas) keberadaan kekuatan tersebut.[57]

Skenario tanpa tes validitas tidakkapabel mengeksplor kelemahan dan problema kekuatan. Bahkan bisa jadi menciptakan kekuatan yang sulit adaptasi terhadap berbagai-bagai kondisi. Skenario dikembangkan ditingkat operasional akan mempertajamobyektif kapabilitas.Pengembangan obyektif ini dilakukan disekitar implementasi skenario agar didapat ketelitian yang tinggidengan mengembangkan teknik simulasi atau olah main yudha yang dapat dilakukan berkali-kali.[58] Sebagai gambaran kerangka pikir CBP (ditengah tengah sebagai bagian kecil kerangka pikirbesar struktur kekuatan militer) dapat dilihat  dalam gambar no. 5 dibawah. Bayang bayang skenario banyak diturunkan dalam blok sebelah kanan  (non linear interative prosesses dengan blok-blok seperti:alternate futures, strategic military objectives, future warfare concepts, resource outlook, future force options, dll) dalam jangkauan waktu lebih dari 15 tahun (periksa garis horizontal dibawah ~ long-range planning).

Gambar no.5Model konseptual perencanaan strategik[59]

sept8

Penjelasan gambar:jantung CBP adalah blok capability analysis (capability delivery,capability definition,capability planning) sebagai proses perbaikan pemikiran mendatanguntuk mewujudkan produk “Future Force Options”. Posisi ini menuntut provisi dan profesionalisme staf perancang kekuatan untuk mejalankan model CBP (versi Australia) yang berlaku ditahun 1998-an.[60] Menggabungkan model yang terdahulu dengan model sekarang dalam model yang lebih sederhana bisa dilakukan berdasarkan tawaran Hodge dalam gambar no.6dibawah ini.[61]

Gambar no.6Integrasi perencanaan sekarang dan mendatang

sept89

Referensi: Ibid, halaman 182. Dalam blok “Current and Force Objectives (planning base)” merupakan ajang analisis kapabilitas, sama dengan prosedur yang dilakukan dalam gambar no.3 diblok tengah.

Solusinya berupa beberapaalternatif struktur kekuatan, misal “ the optimal portfolio of defence program ”, atau optimal capability mix for air defence, dan atau optimal solution (mix) for offensive counter air operations, dll. Ada baiknya mencermati kerangka pikir tradisional yang lama terbangun di-Sekolah perang Angkatan Laut AS (US Naval WarColl) dikaitkan dengan strategi nasional dan dokumen strategik kemudian membandingkan sepintas dengan kerangka pikir yang dibahas diatas, periksa gambar no.7 dibawah ini.

Gambar no.7 . Model pembangunan (struktur) kekuatan sekolah perang Angkatan Laut AS[62]

sept9

Hint: Bagi Perwira TNI/TNI-AL yang pernah menginjak bumi Cipulir pasti mengenal model diatas dengan sebutan pendekatan kesisteman perencanaan kekuatan militer dan strategi. Perhatikan bahwa perencanaan pembangunan kekuatan militer nasional selalu menggunakan kerangka pikir.Meskipun tradisional, ketajaman model pak Lloyd & Lorenzini membuat model bisa beradaptasi dengan pergeseran TBP ke CBP(dari Clinton ke Bush).

Evolusi kerangka pikir ini dipetakan Isaiah Wilson-III,PhD,berbasis perubahan kebijakan masing-masing Presiden (Bush dan Clinton). Pendekatan yang mencermati proses kebijakan sebagai suatu interaksi proses internal (poin # 1, satu blok besar warna merah) dan pengaruh luar (pertimbangan dan poin # 2, yakni Allies, Friendly Nations, dll).[63]Strategi Clinton fokus pada kendala sumber daya dan ancaman sedangkan Bush lebih difokuskan terhadap hal-hal yang menonjol dari isu teknologi (RMA?).Kedua “pemimpin” itu sepakat tetap mendayagunakan strategi instrumen kekuatan nasional terpilih (PEM/politik,ekonomi,dan militeràsub blok dibawah National Security Strategy)sebagai strategi nasional pendukung strategi keamanan nasional guna menjamin tercapainya kepentingan nasional.[64]Hint: Rangkaian produk force structure diawali dari block assement, alternatives, sampai dengan availlable forces.

Rangkuman

Oleh karena kekuatangabungan adalah jantung kekuatan pertahanan nasional maka pakar pertahanan nasional dan perancang kekuatan di Kemhan, TNI,dan Angkatan akan membangun kerangka pikiruntuk memproduksi struktur kekuatan operasi gabungan yang meyakinkan anggota Dewan sebagai kebutuhan yang diperlukan (necessary condition). Berorientasi kepada proses terintegrasi, lebih transparan, dan terbuka.Teknisnya akan menjawab program portofolio manajemen pertahanan mana yang lebih optimal dengan ujud kekuatan campuran (mixed) esensial [65]yang paling optimal untuk operasi gabungan. Misal: kekuatan campuran (porsi) kekuatan darat optimal (Marinir dan AD) regular (+cadangan).Kekuatan campuran ini muncul karena efektivitas yang berbeda menghadapi situasi, kondisi dan sasaran tertentu, namun memberikan effek terbesar (EBO) dan konsekuensi  “biaya” termurah”. Atau lebih mementingkan satuan kapal selam lebih besar dari atas air, atau seimbang, atau lebih kecil, atau lebih memilih satuan pembom lebih banyak dari pemburunya atau pemburu yang kapabel melindungi pembom, atau pembom juga pemburu (fighter bomber), dll.

Proses terintegrasi mewujudkan kerangka pikir kekuatan gabungan perlu didemonsrasikan dan dikembangkan sebagai pertanggung jawabankepada publik.Sebaiknya anggota Dewan tidak hanya fokus pada “hard-power” maupun “soft-power” namun fokus pada kebutuhan “smart-power” menjadi sangat penting bagi TNIguna mengungkit (leverage) daya analitik yang kuat sebagai salah satu atribut profesionalisme ~ dengan sistem rekayasa ulang (reengineering curricula) kurikulum Lemdiknya.[66]Peta jalan menetapkan aktor lawan perlu skenario serta proyeksi jangka panjang, berikut asumsi-asumsinya, tanpa skenario pelibatan tidak akan pernah terjadi.  Pelibatan (misal) dengan negara A, B dan Cseyogjanya melalui fase analisis kontigensi yang terdiri dari 3 pilihan yakni “ best case” atau “ worst case” atau “fortriori”.C yang mencurigai A dan B adalah pesaing strategisnya belum tentu membiarkan X yang dianggap sahabat (sebagai pangsa pasar) dibiarkan dipengaruhi   A atau B ?Memodelkan pelibatan satu lawan satu akan mengulang kembali kekeliruan NATO dkk ~ mahal “biayanya”. Konsep ABP mengeksplore keahlian membuat asumsi, memilah dan memilih asumsi yang relevan, kuat atau lemah sampai titik tertentu dalam cakrawala-waktudan dibantu teknikDelphi.Teknik perencanaan berbasis ABP,CBP, TBP, TrBP bahkan SBP (Scenario-Based Planning) perlu didalami sebagai pendekatan (model) perencanaan pertahanan nasional danmelaksanakan interaksi para elit nasional dan elit pertahanan nasional, serta kelembagaan Presiden.Gambar dibawah menggambarkan dunia nyata dan model (yang menirukan dunia nyata)[67], dilandasi sikap mau menghadapi perubahan dan mau berubah dalam proses perencanaan strategi.Hint: Simpul 4 dan 5 menunjukkan hubungan mesra militer dengan dapur pemikir (atau think-tank[68]) agensi pertahanan yang sudah berjalan lama untuk saling bekerja sama.

Gambar no. 8 .Hubungan model (system world) dengan dunia nyata

sept10


[1] “ Kekuatan” yang dimaksud adalah kekuatan militer.Sedangkan sebutan perancang adalah perancang kekuatan militer.

[2] Operasi gabungan bisa gabungan sipil-militer, gabungan urusan sipil (civil-affairs atau civil-military) atau militer saja, dua yang pertama belum dikenal di jajaran KemHan RI padahal operasi gabungan ini sangat diperlukan sewaktu operasi HADR/kemanusiaan  dengan kooperasi dan bantuan negara-negara lain.

[3] Genesis Menhan AS Mc Namarra; berapa sih cukupnya (how much is  enough–pertanyaan balik ke Panglima dan Komandan Satuan tempur AS) .

[4] Meskipun belum jelas posisinya. Geografis yang jelas perlu untuk mengenal medan dan pelatihan pasukan. NATO menyebut daratan Eropa (Jerman Barat/Timur) dan perairan Pasifik sebagai dua area MToW.

[5] Skenario adalah sekumpulan hipotetik situasi dalam rangka memetakan emploi dan deploi kekuatan.

[6]Hubungan kekuatan (Forces) dan risiko (Risk) yakni Forces à Risk ,semakin besar Kekuatan (our Forces) relatif terhadap Lawan, semakin kecil Risiko yang diderita dan sebaliknya….Risiko adalah konsekuensi pilihan Forces. Yang diprogramkan adalah mencari Forces ( dan varian alternatifnya) dan konsekuensi pilihan berupa Risiko (given).

[7] Troxell,John F,US Army War Coll, Sept 15, 1997,“Force Planning in an Era of Uncertainty : Two MRC’s as a Force Sizing Framework ”, halaman 1.

[8] Referensi via email :Threat-based planning (TBP) is poorly defined, but it means at least two different things, first it means planning with a particular enemy in mind. Second, it sometimes means planning in detail for particular scenarios, such as planning for an invasion by a  particular neighbor, but with a week of warning and the expectation that the attack will be of a particular type.ABP was formulated to review critically a plan that had already been built.  What flaws might it have?  What hidden assumptions might it be making?  What modifications of the plan would address the vulnerabilities uncovered by asking about hidden assumptions? Trends-Based Planning (TrBP) adalah proyeksi jangka pendek, berbasis kecenderungan sesaat dan lebih mirip Rencana Operasi.

[9]Hadirnya “time horizon” dalam skenario dapat mengklasifikasikan asumsi yang lemah didalamnya. Skenario sebagai jantung model, digambarkan dalam dunia nyata, lingkungan, futuristik dan parameter operasional. Kapabilitas pertahanan nasional dinilai dari kebisaannya (ability) mengontrol jalannya skenario dan mencapai misi obyektif yang dibebankan kepada kekuatan militer.Berkembangnya “total policy”(kekuatan regular&cadangan) ditingkat siaga—kesiagaan adalah kriteria atau orientasi penggunaan anggaran belanja negara pertahanan nasional–sehingga paket anggaran belanja tdk termasuk gaji,dll.

[10] Semakin kecil AOR (area of responsibility)àMToW menurun ke-MRC-MajorSC-MediumSC-SSC–semakin besar dampak  keyakinan publik dan politik tentang derajad keamanan di area itu. Munculnya MToW dengan Panglima (C-In-C/commander in chief) berbeda dibandingkan munculnya MSC bahkan SSC dengan tingkat Komandan. AOR bagi Panglima (Area Of Responsibility) adalah mandala perang. Area yang semakin mengecil (misal AoI=area of interest) dgn tanggung jawab yang lebih kecil seperti konflik , dan dibatasi waktu , akan lebih sesuaidipimpin seorang Komandan.

[11]Keterampilan menampilkan alternatif kekuatan militer (dan alternatif skenario), serta alternatif konsekuensi anggarannya (total life cycle cost) adalah keterampilan perancang kekuatan. Alokasi anggaran kekuatan diproyeksikan untuk tingkat Kesiagaan (readiness) Alut/sita/sistem versus pengancam kepentingan nasional (KamNas). Konsep yang berorientasi kepada aktivitas dan biaya sebagai konsekuensi pilihan aktivitasnya disebut Activity-Based Costing (ABC). Sebaliknya dengan konsep aktivitas sebagai konsekuensi anggaran (anggaran ada dulu, baru dikais-kais aktivitasnya)—sering tidak jelas kegiatan yang sepertinya diada-adakan. ABC-lah yang mampu membuat program prioritas, tidak prioritas, dll. Benarkah pertanggungan jawab kegiatan cukup diwakili PJK Keuangan. Pertangg jawab kegiatan seyogyanya meliput kedua-duanya:[1] mencerminkan seberapa jauh performa aktivitas/kualitasnya dan [2] berapa besarnya konsekuensi anggaran yang digunakannya; memadaikah atau seimbangkah? Barangkali inilah bisnis riil Inspektorat birokrasi mendatang.

[12]Bagaimana dengan isu pembelian kapal atau alut dengan harga murah. Dengan sisa usia yang pendek bisa-bisa saja menjadikan total cost lebih tinggi.

[13] Kent,Glenn.A, RAND, Auguts 1983, “Concepts of Operations: A More Coherent Framework for Defense Planning”, hal 24.

[14] White-paper bukanlah dokumen strategis, periksa Australian Govt,“Strategy Planning Framework Handbook”, 2006, halaman 12….White Paper disebut sebagai suatu strategy development document yang “unclassified” (terbuka), untuk konsumsi umum, publik, dan diplomasi dan bicara sebatas short term (1-2 tahun),bukan “classified documents”.

[15] Menhan, Panglima, atau Kas Gabungan merumuskan strategi pertahanan dan skenario penggunaan kekuatan dalam cakrawala waktu tertentu sebagai rujukan pembangunan kekuatan Angkatan, strategi sumber daya manusia (human capital strategy) untuk mendongkrak daya analitik dan intelektual sebagai bagian kapabilitas proffesionalisme. Dinegara maju, lemdik militer menyelenggarakan sekolah pasca sarjana guna memenuhi daya intelektual dan daya analitiknya, bahkan beberapa lemdiknya termasuk 10 besar lemdik perguruan tinggi (PT) nasional bersaing dengan PT non militer.

[16]Kent,Glenn., RAND, 1989, “A Framework for Defense Planning“, halaman 4.  Presiden dan Dewan Pewakilan Rakyat sebaiknya bersama-sama mendefinisikan obyektif kepentingan nasional dan strategi keamanan nasional untuk mengawalnya.Strategi KamNas mempunyai peran utama dan penting;pertamamencermati aktor pengancam kepentingan nasionaldan komitmen nasional, dankedua mendayagunakan (utilize) seluruh instrumen kekuatan nasionalnya dimasa damai maupun perang untuk melindungi kepentingan nasional menghadapi pengancam tersebutsecara teroskestra. Obyektif kepentingan nasional biasanya adalah kelangsungan hidup, kesejahteraan bangsa, kedaulatan dan integritas teritorial, dan melindungan kelembagaan, dll. Obyektif kepentingan nasional mengisyaratkan (promosi) kedunia luar apa sebenarnya yang diinginkan bangsa ini.

[17] Ibid,  halaman 3.

[18] + Mar, opsi MIDLIFE ditambah 1 instrumen kekuatan nasional lagi,yakni Maritim~MIDLIFE+Mar. Bagi RI; Maritim seyogyanya menjadi instrumen kekuatan nasional yang sangat berpotensi mendukung kesejahteraan dan ekonomi mengingat semua entiti (subset) domain Maritim ada di-Nusantara ini. Per definisi domain Maritim adalah semua entiti, benda atau apapun, di, diatas, dan didalam estuari, teluk, sungai, pantai, dasar laut dengan sumber daya mineralnya dan hayati serta nabati, laut, kelautan bahkan ruang udara diatasnya. Cermati bahwa entiti kelautan, dll adalah subset domain maritimàsepantasnya Maritimlah (pemangku strategi instrumen maritim) yang dijadikan strategi, dan Maritimlah yang diamankan bukan Kelautannya, dll.

[19]Strategi keamanan nasional adalah kumpulan strategi nasional per bidang instrumen kekuatan nasional. Terorkestranya strategi instrumen ini menjamin “deterrence” kuat dan terpadu, biasanya dilakukan oleh lakhar Ketua harian WanKamnas (Wapres atau Menhan), pada level Kamnas bukan tertinggi. Nampak kokoh karena semua pemangku strategi nasional (menteri-menteri) dikoordinasikan dengan cara yang ketat.

[20] Kent,Glenn., RAND, 1989, “A Framework for Defense Planning“, halaman 7.

[21]Ibid.., tambahan Menhan tentang identifikasi area kritis, misal kelemahan atau kekurangan dalam komponen kekuatan yang ditugaskan, berikut tambahan arahan seperti dana litbang, investasi, operasi dan pemeliharaan serta program spesifik.

[22] Kapabilitas atau kemampuan (capabilities) sama dengan kebisaan (ability) plus “outcome”. Tanpa “outcome” status sistem masih berkatagori “bisa” (atau able) .

[23] Pendayagunaan industri pertahanan erat dengan policy dan strategi masing-masing industri plus dan suntikan rencana strategi pertahanan nasional dan strategi militer. Misal pilihan (porsi) yang diproduksi Industri bagi kepentingan militer (kontrak/pesanan) dan atau komersial (industri bisa membangun sendiri bagi kepentingan komersial—mencari profit).

[24]Kent,Glenn, RAND, 1989, “A Framework for Defense Planning“, halaman10.

[25] Diawal pemerintahan, kepala negara memformulasikan kepentingan nasional, strategi nasional atau strategi keamanan nasional untuk mendukung tercapainya obyektif kepentingan nasional sebagai visi bangsa lima tahun kedepan dan sebagai rujukan/masukan PjPT atau rencana jangka menengah dan panjang (apapun juga namanya).

[26]Dewar,James.A dan Levin, Morlie H, RAND, 1992, “Assumption-Based Planning for Army 21”, hal 4. Konon definisi long-range planning menyebutkan panjangnya cakrawala waktu per setiap skenario adalah antara 25-30 tahun.

[27]Semakin panjang jangka waktunya semakin melemah peluangnya untuk hadir. Dewar,James.A dan Levin, Morlie H, RAND, 1992, “Assumption-Based Planning for Army 21”, hal 4. Konon definisi long-range planning menyebutkan panjangnya cakrawala waktu per setiap skenario adalah antara 25-30 tahun.

[28]Goodman,Sherri, Center for Naval Analyses, 2004, Skenario Boooklet, “The Future of Humanitarian and Disaster Relief under Climate Change:Political Military and International Perspectives”. Skenario bukanlah prediksi analitik kedepan, jelasnya: We have made some assumption about the future in order to ensure that we highlight the very demanding global issue we want to explore”.Skenario sepertinya kumpulan asumsi-asumsi penting dan bernilai guna tinggi dalam cakrawala waktu yang dibuat.

[29] Dewar,James,et-all (3 persons), 1997, “Assumption-Based Planning and Force XXI”, halaman  4.

[30] Ibid., halaman 5.

[31]Ibid., halaman 9. Contoh; The Army will fight combined with the force of other nation”,  if the Army does not fight combined in some instance , its current operations remain unchanged, and from an ABP stand-point , the assumption is not important. Which is not to say that fighting combined is not important ; indeed , the Army has spent a great deal of energy and money to prepare itself for fighting combined. Rather , we emphasize that the assumption is not sensitive to wether we fight combined. On the otherhand, another assumption underlying  the future concept was “our long range weapons willl be military effective.” If they are not, the concept is seriously undermined. Therefore,”our long-range weapons will be military effective” is an important assumption.ABP hanya fokus kepada asumsi yang penting, mengapa? Asumsi menjadi sangatlah penting—apabila tidak berlaku, maka signifikan merubah semua perencanaan atau operasi yang sedang berjalan.

[32]Dewar, James, Dr, RAND, Cambridge University Press, 2004“ Assumption-Based Planning , A Tool for Reducing Avoidable Surprise “, hal 32. 9 (sembilan) langkah tersebut:…telling planned actions the long way,looking for wills and musts,rationalizing a plan, asking the journalist’s questions,strategic assumption surfacing and testing (SAST), driving force analysis, discovery driven planning,core belief identification squad, annual belief identification squad.

[33] Dewar,James, et-all., RAND, 1993, “Assumption-Based Planning,A Planning Tool For Very Uncertain Times“, ch.1, Introduction, halaman 2.

[34]Dewar,James, RAND, Cambridge University Press, 2004“ Assumption-Based Planning , A Tool for Reducing Avoidable Surprise “,  halaman 1..agroup ofU.S.military officersgathers in1940 tolook into thefuture toidentify  eventsthat could  plausibly leadtoconflict. Oneofthemsuggestsanairattack by Japan onaU.S. Navybase inHawaii—asuggestionthat isdismissedoutofhand.

[35] Ibid, hal 6. Diarahkan misal:”We have been told to assume there will be a NATO 15 years from now on”, dipilih misalnya:“We are assuming no major nuclear exchange occurs in the planning period”.

[36]Ibid. Contoh hal yang tidak dikenal “As was the assumption that the US will have at least parity in long range weapons with any enemy in the AirLand Battle-Future Umbrella”. Contoh menindas/menahan, ”as is the assumption in that document that there will be a separately constituted Army 15 years form now on”.

[37] Ibid, hal 7. Hanya petunjuk dari ataslah (komando atas) yang eksplisit (tegas) dan pendek. Misal;pernyataan bahwa, “you will assume for planning purposes that there will still be a NATO in 20 years”.

[38]Ibid, halaman 17. Masa diatas 7 tahun sulit diprediksi manusia. Asumsi yang dibuat sangatlah tergantung pada waktu (time-dependant). Asumsi bukan suatu yang kekal berlangsung tetapi lebih diproyeksikan untuk jangka waktu tertentu.  Asumsi yang dipetakan dalam skenario bisa saja dengan mudahnya dinegasikan (ditolak pada suatu periode waktu tertentu) dan tanpa cakrawala waktu ini, setiap asumsi adalah lemah. Dengan cakrawala waktu, asumsi yang mungkin berubah adalah yang lemah. Perencanaan dengan cakrawala waktu menjadi komponen yang krusial dalam ABP.

[39] Dewar,James, et-all, RAND, 1993, “ Assumption-Based Planning , A Planning Tool For Very Uncertain Times “, halaman 17.

[40]Ibid,halaman 22. Delphi adalah teknik pertama digunakan RAND untuk menemukan kelemahan-kelemahan asumsi. Caranya; mengumpulkan yang dianggap ahli dalam bidangnya, setidak-tidaknya sangat berpengalaman. Waktu itu digunakan sampel pakar sejumlah 16 orang yang benar-benar menguasai analisis keamanan nasional dengan spesialis isu regional, isu strategi pertahanan dan militer, teknologi pertahanan, perencanaan kekuatan militer, ditambah pengalaman kuat sebagai staff tempur gabungan, staff perencanaan militer, dan hampir semuanya pernah bertempur maupun berpengalaman di-staff operasi gabungan. Delphi akan menggiring atau mempengaruhi stakeholder atau partisipan untuk mengarah atau fokus kepada ketidakpastian yang kritikal, sedangkan Skenario dalam pengembangannya mengarahkansesuatu yang “dapat” terjadi (could happen, bukan “will happen”)  dan bisa diplot dalam lorong “cakrawala waktu” instalasi atau arsitektur masalah mendatang.

[41] Bisa juga bersama-sama industri pertahanan nasional mengembangkan peningkatan ukuran effektivitas (MOE).

[42]Hodge,Richard,BA, Dissertation Univ of South Australia, Defence and System Institute, January 2010, “A System Approach to Strategy and Execution In National Security Enterprises”, halaman 166.

[43] Dengan hirarkhis mulai dari (berturut-turut) : perang – kontijensi – konflik, output area pertanggungan jawaban (AOR) menjadi MToW – MRC – MSC, atau dari Major Theatre of  War – Major Regional Contigencies – Major Scale Conflicts. Tetapi beberapa literatur sering (relatif) menyebut MToW samadengan MRC atau sebaliknya(menyamakan).

[44] Troxell, John. F, US Army War Coll (monograph), “Force Planning in an Era of Uncertainty: Two MRCs as a Force Sizing Framework “, halaman 1.  Anggaran pertahanan sebaiknya berorientasi kepada obyektif kesiagaan dan kapabilitas. Tanpa orientasi yang kokoh lebih-lebih tidak jelas, sulit berhitung dengan angka sebenarnya berapa sih cukupnya ?

[45] Model pelibatan akan sulit dan “fair” meyakinkan bahwa kalkulus kekuatan yang dibuat “hampir pasti” mampu mengatasi lawan, selama model tersebut memiliki asumsi-asumsi lemah akibat lemahnya inteligen tentang ukuran efektivitas sista atau kapabilitas (bukan kebisaan atau able tapi lebih ke capability; capability = able + “Outcome”). Desain pabrik hanyalah ekspektasi saja (diatas kertas) sebatas bisa atau able (atau yang diharapkan). Kapabel berorientasi kepada dampak mematikan terhadap sasaran atau musuh. Kecepatan tembak, kecepatan kendaraan lapis baja, jarak tempuh, dll, belum berarti apa-apa terhadap musuh. Berbeda misalnya dengan CEP bom ynag dijatuhkan, probabilita deteksi, probabilita menghancurkan bunker bila bunker dapat dikenai, dll.Simulasi masal (OMY) dan terus menerus hanyalah salah satu cara (melatih) pengambilan keputusan terbaik sambil mengeksplor berbagai fenomena perang modern yang biasanya sering muncul (karena memang faktor ini yang sering dibiarkan berkembang), bukan menentukan siapa kalah atau menang.

[46] Blog ICDS, 24 April 2009, “The Risk of TBP“ oleh Tony Lawrence.

[47] Secara hirarki , function, role, mission dan task berbeda, meskipun filosofinya sama.Function sulit dirubah (permanent) misal fungsi TNI atau TNI-AL, akan tetapi mission, role dan taskdinamis mengikuti maunya strategi TNI;from stategy-to-task.

[48]Stojkovic,Dejan dan Dahl, Byon Robert, Norwegian Defence Research Establishment, 2007, “Methodology for Long Term Defence Planning”, halaman 13.

[49]Dewar,James,et-all, 1997, “Assumption-Based Planning and Force XXI”, halaman 2.

[50]Kaitan antara Capabilitiesdan Task, periksa Cdr Todd Klfer,J-7,JTCD,Pentagon,2004, “Capabilities-Based Planning Framework”,

[51]A capability is the ability to perform a mission or task ( komuniti MOR/military operations research menyebutàcapability = ability+ ”outcome” ), to achieve a goal, or to produce an output;[1] associated with SecDef – assigned mission,[2] associated with future needs of the DoD. Readiness is a measure of the abilityof a system (system of systems) to produce the desired output;i.e;its capability. CBP…this method involves a functional analysis of operational requirements. Capabilities are identified based on the task required. Once the required capability inventory its defined, the most cost effective and efficient options to satisfy requirements are sought [Handbook in Long Term Defense Planning]. Definisi CBP….planning, under uncertainty, to provide capabilities suitable for a wide range of modern-day challenges and circumstances while working within an economic framework that necessitates choice, diambil dari Monograph, “Analytic Architecture for Capabilities-Based Planning, Mission-System Analysis, and Transformation”,  Davis,Paul.K,RAND,2003.

[52]Guide to Capability-Based Planning”, The Technical Cooperation Program Joint System and Analysis Group Technical Panel # 3 (NATO),2004, halaman 4.

[53] Ancaman nasional dihitung relatif terhadap hambatannya atau gangguannya terhadap pencapaian obyektif kepentingan nasional, melalui strategi keamanan nasional (KamNas), ancaman diluar/dibawah ini didegradasikan kedalam ancaman dalam negeri (kamtibmas)—supaya lebih effisien mengatasinya.

[54]Guide to Capability-Based Planning”, The Technical Cooperation Program Joint System and Analysis Group Technical Panel # 3 (NATO),2004, halaman 9. Periksa juga “Olah Main Yudha (OMY) and Aplikasi dilingkungan Pertahanan Nasional ”, oleh Budiman Djoko Said, QD,vol  &, no.2, Agustus 2013, halaman 9.

[55]Ibid, section 4.5,haaman 9-10. Bahasan tujuan kapabilitas (capability goals) cukup panjang, pembaca dapat mendalaminya melalui teks aslinya. Perlu dipahami juga bahwa perancang kekuatan militer baik distaff gabungan maupun Kemhan (Srena,Srenum,Intel dan Ops) harus benar-benar memahami apa itu capability goals.

[56]Ibid., halaman 9.

[57]Ibid., halaman 9.

[58]Ibid., halaman 9.

[59] Hodge,Richard.BA, Disertasi Univ of South Australia, January 2010, “A System Approach to Strategy and Execution in National Security Enterprise”, halaman 35.

[60] Ibid., halaman 182.

[61] Ibid.

[62] Wilson III, Isaiah, PhD, US Military Academy, April 2002,  “Strategy,  Revisited, Analyzing the Shift from a Threat – Based to Capabilities-Based Approach to US Strategic Planning“, halaman 11.

[63] Ibid., halaman 12.

[64] Periksa blok merah mulai dari national interest, national objectives, national security strategy, dan national  military strategy (national economy strategy dan national politics/diplomacy tidak digambarkan disini,mestinya ada,karena model ini diciptakan oleh sekolah perang Angk Laut  AS). Blok yang menjadi jantung kehidupan bangsa dan visi bangsa. Perhatikan semua blok menggunakan kata akhir adalah nasional bukan “negara” ~ nasional = negara + “sistem nilai“. Negara lebih berperilaku fisikal. Pilihan instrumen dalam gambar diperlihatkan adalah PEM (politik, ekonomi dan militer).

[65]Definisi (kata) esensial yang didapat dari kalkulus struktur kekuatan bisa saja bergerak acak dari harga minimum ke harga maksimum, mengingat esensial sudah hampir pasti akan mengikuti limitasi (constrains ~ subjects to) yang telah ditetapkan dalam program matematika linear (harga esensial=harga pas/optimum). Barangkali  tanpa didefinisikan minimum, harga yang esensial pasti akan diterima bergerak acak antara maksimum ke minimum atau sebaliknya. Menjadi sangat membingungkan dengan tambahan kata minimum sebelum kata esensial.

[66] Proses updating kurikulum menyesuaikan perkembangan RMA dan tuntutan profesionalisme sepertinya perlu lebih didongkrak (leverage) guna menyiapkan daya intelektual dan daya analitik personil TNI supaya tidak kalah dengan dengan negara lain.

[67] Hodge,Richard.BA, Disertasi Univ of South Australia, January 2010, A System Approach to Strategy and Execution in National Security Enterprise”, halaman 137.

[68] Agensi dapur pemikir yang berada diposisi luar (outside of the box) akan lebih banyak berorientasi kepada fakta dan pendekatan akademik dibandingkan dapur pemikir organisasi (lembaga kajian ) yang berada dalam organisasi (inside of the box).

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Scroll to top
Share via
Copy link
Powered by Social Snap