KEMELUT NEGOSIASI PROGRAM SENJATA NUKLIR KOREA UTARA

KEMELUT NEGOSIASI PROGRAM SENJATA NUKLIR KOREA UTARA

Oleh Amelia Rahmawaty, S. H. Int

 

PENDAHULUAN

Meskipun dikenal sebagai negara yang sangat misterius, namun Korea Utara tetap menarik untuk disimak. Sejak negara tersebut, yang saat ini dipimpin oleh generasi ketiga Kim, berdiri sampai dengan hari ini, Korea Utara terus berulah dan menyibukkan aktor-aktor Hubungan Internasional. Terutama bagi Amerika Serikat, Korea menjadi special case yang tak kunjung selesai sejak berakhirnya Perang Dunia kedua.

Berita terbaru yang didapat dari laporan International Atomic Energy Agency (IAEA) kepada United Nations (UN) mengatakan bahwa, nampak adanya tanda-tanda dioperasikannya kembali reaktor nuklir Korea Utara di 100 km dari Pyongyang. Hal ini terlihat dari uap dan air yang muncul dari reaktor di kompleks nuklir negara tersebut, Yongbyong. Para ahli meyakini reaktor tersebut mampu menghasilkan plutonium untuk membuat bom atom (Dahl, 2014). Meskipun belum dapat dipastikan keakuratannya, namun hal ini sejalan dengan pernyataan Kim Jong Un pada April 2013 lalu, bahwa Korea Utara akan kembali mengoperasikan reaktor nuklirnya.

Dalam kasus nuklir, tingkah Korea Utara seolah-olah menunjukkan bahwa mereka tidak segan untuk menginisiasi serangan nuklir.Berbagai upaya telah dilakukan demi membujuk Korea Utara untuk menghentikan segala aktivitas yang berkaitan dengan pembangunan nuklirnya. Beberapa dialog dan negosiasi berhasil dilakukan, kesepakatan berhasil dicapai. Namun hubungan internasional bersifat dinamis.Pada tahun-tahun berikutnya, ada saja sikap atau peristiwa yang terjadi, baik dari pihak Amerika Serikat (dan Korea Selatan) ataupun dari Korea Utara sendiri, yang pada akhirnya membuat kesepakatan penghentian program misil dan nuklir tersebut gagal.

Jadi, apa sebetulnya yang membuat penyelesaian kasus nuklir Korea Utara ini menjadi begitu sulit?

 

KOREA: DIANTARA DUA POLAR

Tulisan ini tidak akanmembahas Perang Korea yang terjadi pada tahun 1950 hingga 1953. Meskipun demikian, berbicara mengenai nuklir Korea Utara tetap akan memaksa kita kembali lagi pada era Perang Dingin. Untuk itu, sebelum menjawab pernyataan diatas, ada baiknya jika penulis memberi sedikit latar belakang mengapa Korea Utara membangun reaktor nuklir – untuk kepentingan militer – dan tidak pernah mundur meski mengalami keadaan ekonomi yang buruk dan diasingkan dari arena pergaulan hubungan internasional.

Menjelang berakhirnya Perang Dunia kedua, masa depan Korea sebagai wilayah yang diokupasi Jepang didiskusikan. Pada tahun 1943, Amerika Serikat, Uni Soviet, Inggris, dan China bertemu di Kairo dan bersepakat untuk memerdekakan Korea pada waktunya.Setelah menyerahnya Jepang pada sekutu tahun 1945, Korea dibagi pada garis paralel utara ke-38 derajat.Garis pembagi tersebut kemudian menjadi demarkasi; sebelah selatan dari garis tersebut diokupasi oleh Amerika Serikat, sedangkan Uni Soviet mengokupasi sebelah utara garis itu.Pembagian tersebut dimaksudkan hanya untuk sementara waktu (Hartmann, 1978: 383). Demarkasi ini kemudian bukan sekedar menjadi pembatas geografi, tetapi juga membagi Semenanjung Korea ke dalam dua blok yang begitu berbeda dari ideologi, sistem politik, dan nilai ekonomi (Ohn, 2010; 23).

Seiring dengan ketegangan antara Amerika dan Soviet berlangsung, kesepakatan mengenai masa depan Korea menemui jalan buntu. Uni Soviet menginginkan Korea menjadi negara merdeka yang demokratis dan setia pada Soviet, sehingga kedepannya negara ini tidak akan menjadi ancaman bagi Soviet. Sedangkan Amerika Serikat melihat ini sebagai strategi Soviet untuk mendominasi Korea seutuhnya, dan dengan demikian bertentangan dengan tujuan Amerika, yaitu mencegah dominasi Soviet di Korea (ibid.,26).

Karena tidak menemui jalan keluar juga, akhirnya Amerika menyerahkan masalah Korea pada United Nations General Assembly (UNGA).UNGA kemudian menyetujui dilaksanakannya pemilihan umum dibawah badan pengawas PBB, UN Temporary Commission on Korea (UNTOC).Namun Soviet tetap dengan pendiriannya dan menolak memberikan akses pada UNTOC ke Korea Utara (Hartmann, 1978: 383).Dengan demikian, akhirnya diputuskan pemilihan umum hanya akan diadakan di daerah-daerah yang dapat dijangkau oleh UNTOC, dalam arti hanya di daerah okupasi Amerika, Korea Selatan.

UNGA kemudian mengakui rezim terpilih, Syngman Rhee, sebagai pemerintahan yang sah di Korea Selatan. Korea Utara juga mengadakan pemilihan umum dengan gaya Uni Soviet yang menetapkan Kim Il-Sung sebagai pemimpin Korea Utara, meskipun tidak diakui oleh mayoritas UN. Dengan demikian, terbentuklah dua pemerintahan Korea yang semakin melanggengkan pembagian di Semenanjung Korea.

 

PEMBANGUNAN NUKLIR KOREA UTARA

Semangat Kim Il-Sung untuk menyatukan kembali Semenanjung Korea Utara dibawah sistem komunisme masih sangat besar.Tak lama setelah penarikan kembali pasukan Amerika Serikat dan Uni Soviet dari Korea, Kim Il-Sung meminta dukungan Stalin dan Mao Zedong untuk melancarkan serangan ke Korea Selatan. Stalin (dan Mao), setelah beberapa kali menolak gagasan Kim Il-Sung untuk menyerang Korea Selatan, akhirnya setuju memberikan bantuan berupa senjata, perlengkapan, termasuk pula penasihat strategi perang; sedangkan China mengirimkan pasukannya.

Pada saat perang berlangsung, tahun 1952, Kim sempat mengajukan untuk gencatan senjata, tetapi Stalin dan Mao mendesak Kim untuk bertahan.Namun, pada tahun 1953, Stalin akhirnya mengizinkan Kim untuk melakukan negosiasi dengan pihak musuh (Myers, 2010).Akhirnya, PBB (Amerika Serikat), China, Korea Utara sepakat menandatangani gencatan senjata. Berdasarkan persetujuan yang mengakhiri Perang Korea tersebut,pihak-pihak yang terlibat sepakat membentuk Zona Demiliterisasi (DMZ).Akan tetapi hingga saat inikonfrontasi tetap terjadi di DMZ Korea. Sebagaimana yang kerap dikatakan oleh GI Amerika yang bertugas di zona tersebut; “there ain’t no D in the DMZ” (Oberdorfer, 2001). Berdasarkan laporan Buku Putih Pertahanan Korea Selatan 2012, Korea Utara telah melanggar perjanjian gencatan senjata sebanyak lebih dari 430.000 kasus.

Sesaat setelah Perang Korea berakhir, Kim Il-Sung berniat memulai program nuklir.Ia menilai bahwa serangan Amerika dan kekalahan Korea Utara banyak disebabkan karena kurangnya penangkalan nuklir yang dimiliki negaranya. Kurangnya pembalasan yang setara terhadap serangan lawan mendominasi pemikiran militer Korea Utara sejak saat itu (French, 2014: 333).Tetapi, hal tersebut bukanlah satu-satunya alasan yang mendorong Korea Utara mengembangkan program nuklir dan misilnya.Banyak hal yang terjadi selama rentang waktu 1980an hingga 1990an.

Pasca Perang, Korea Utara membutuhkan bantuan besar untuk memulihkan ekonomi dan memperbaiki infrastrukturnya.China dan Uni Soviet adalah mitra dagang terbesar Korea Utara.Sebagai harga persahabatan, mereka menyediakan kebutuhan industri, militer, dan bantuan tekhnologi pada Korea Utara dengan harga murah. Pada masa-masa sulit Uni Soviet di akhir abad ke-20, bantuan dari negara tersebut pada Korea Utara berkurang secara berkala hingga pada akhirnya tidak ada bantuan sama sekali. Uni Soviet telah disibukkan dengan masalah di Eropa Timur dan ancaman terhadap kemakmuran negaranya sendiri.

Sehingga, kehancuran Uni Soviet berarti juga bencana bagi Korea Utara.Tidak hanya Soviet, penyokong Korea Utara lainnya, China, juga berpaling dari Korea Utara.Setelah Perang Dingin berakhir, sistem ekonomi China beralih menjadi terbuka.BaikUni Soviet maupun China membangun hubungan diplomatik dengan musuh besar Korea Utara, Korea Selatan, pada akhir 1980an.

Pertumbuhan ekonomi rival besar Korea Utara pun semakin menambah jejeran panjang keterpurukan negara tersebut. Meski Korea Selatan juga mengalami masa sulit pasca Perang, namun seiring dengan perkembangan waktu, kondisi ekonomi dan infrastruktur Korea Selatan semakin membaik.Hal ini sehubungan dengan sistem ekonomi yang mereka anut – juga donor – dari Amerika Serikat.Lambat laun, Korea Selatan meninggalkan Korea Utara dengan ketimpangan yang besar.

Semua kondisi tersebut, ditambah pemikiran yang dipercaya oleh Kim Il-Sung mengenai kurangnya kemampuan pembalasan yang setara sebagaimana disebutkan diatas, mendorong Korea Utara untuk membangun senjata nuklir. Dengan hilangnya patron dan semakin berkembangnya Korea Selatan, Kim mungkin tidak dapat memikirkan alternatif lain yang lebih baik selain mengembangkan senjata nuklir sebagai penangkal serangan Korea Selatan dan Amerika Serikat dan penjamin kelanggengan rezimnya.

 

KEMELUT PENYELESAIAN KRISIS NUKLIR KOREA UTARA

Kapitulasi Uni Soviet pada krisis misil Kuba dan filosofi baru Kim Il-Sung yang mengedepankan militer pada tahun 1960an mendorong ketertarikan Korea Utara untuk mengembangkan senjata nuklir. Beberapa tahun kemudian, Korea Utara akhirnya memutuskan untuk membangun sendiri reaktor nuklirnya dengan memanfaatkan pengalaman yang didapat dari hasil bekerjasama dengan Uni Soviet tahun 1967.Pada tahun 1980an, satelit mata-mata Amerika menangkap foto yang menunjukkan tanda-tanda pembangunan reaktor nuklir tersebut. Maka, sejak penemuan tersebut, hubungan antara Amerika dan Korea Utara diwarnai dengan konfrontasi program senjata nuklir Korea Utara (Witet all., 2004).

PBB maupun Amerika Serikat telah beberapa kali memberikan sanksi ketat yang membatasi aktivitas Korea Utara mengembangkan program senjata nukir dan ekspor teknologi rudal balistiknya. Sebagai contoh, sejak pertama kali Korea Utara melancarkan uji coba nuklirnya di tahun 2006 hingga 2013 lalu, PBB telah menjatuhkan empat resolusi sanksi kepada Korea Utara. Resolusi tersebut meliputi embargo senjata termasuk larangan transaksi keuangan terkait, pelatihan teknis, layanan, dan bantuan, embargo nuklir dan rudal balistik, larangan ekspor barang mewah ke Korea Utara, larangan perjalanan atau pembekuan aset pada individu atau badan tertentu yang ditargetkan,dan larangan penyediaan jasa atau transfer keuangan yang berkontribusi terhadap program atau kegiatan yang dilarang.

PBB mengenakan sanksi yang lebih ketat kepada Korea Utara pada resolusi paling terbaru ini. Hal tersebut diantaranya mengharuskan negara-negara untuk memeriksa kargo Korea Utara di wilayah mereka jika dicurigai kargo tersebut berisi barang terlarang, atau menolak akses pelabuhan untuk setiap kapal Korea Utara yang menolak untuk diperiksa kapal lain.Hal-hal ini sengaja dilakukan agar mempersulit gerak Korea Utara dalam melakukan aktifitas pengembangan senjata nuklirnya dan ekspor teknologi rudal balistik negara tersebut.

Namun, jalan penyelesaian krisis nuklir Korea Utara yang dilakukan Amerika dan PBB tidak hanya dengan pemberian sanksi.Amerika juga mengupayakan negosiasi di atas meja.Pada tahun 1994, Amerika bersepakat dengan Korea Utara untuk menghentikan program senjata nuklir negara tersebut. Sebagai gantinya, Amerika akan menyediakan Light Water Reactor (LWR) dan heavy fuel oil (HFO)sebagai bentuk bantuan energi pada Korea Utara. Meskipun pada akhirnya kesepakatan tersebut dilanggar (Riding, 1994).Ada pula pada 13Februari 2007,Korea Utara bersepakat dengan Amerika, China, Rusia, Jepang, Korea Selatan untuk menonaktifkan fasilitas nuklirnya dan mengizinkan inspektur nuklir kembali ke negara itu, dengan imbalan bantuan sekitar $400 juta pada bahan bakar minyak dan bantuan lainnya (Yardley & Sanger, 2007).

Meskipun negosiasi maupun sanksi telah ditempuh, tetapi kesepakatan agar Korea Utara benar-benar menonaktifkan aktifitas pengembangan senjata nuklir maupun ekspor teknologi nuklir dan misil tidak pernah sungguh-sungguh tercapai.Penulis menyoroti beberapa hal yang menyebabkan on-off kesepakatan pembekuan nuklir Korea.

1. Persepsi Keamanan

Korea Utara lahir dengan menganut pada ideologi Marxisme-Leninisme.Namun, Kim Il-Sung kemudian mengembangkan sendiri filosofi yang lebih sesuai interpretasinyadalam aplikasi realita kehidupan Korea.Ia merefisi beberapa aspek Marxisme-Leninisme Uni Soviet dan menolak banyak elemen teori dan praktek Maoist (French, 2014). Filosofi yang masih dijunjung teguh sampai dengan hari ini dikenal dengan sebutan Juche (Chuch’e), atau dikenal juga dengan Kim Il-Sungisme.Juche terdiri dari tiga nilai; chaju, charip, dan chawi.Dari praktek kehidupan sehari-hari, sampai hubungan dengan bangsa lain, atau kebijakan politik, ekonomi, dan militer Korea Utara, semua didasari oleh teori Juche ini.

Charip adalah kemandirian dalam ekonomi. Membangun ekonomi nasional yang independen berarti bebas dari ketergantungan orang lain, berdiri di kaki sendiri. Ekonomi yang melayani bangsa sendiri, mengembangkan kekuatan negeri sendiri, dan oleh upaya bangsa sendiri.Chaju adalah cara Korea Utara melakukan hubungan antar bangsanya. Dalam pandangan nilai ini, kedaulatan adalah hak yang tak dapat diganggu gugat. Menyerah pada tekanan luar negeri dan mentoleransi interfensi politik atau bersikap sebagaimana anjuran pihak lain harus dihindari.Terakhir, adalah nilai chawi yang merupakan prinsip fundamental dari negara merdeka; membela negara sendiri dengan usaha sendiri. Menerima bantuan dalam pertahanan nasional dari negara-negara persaudaraan dan teman-teman diperbolehkan, akan tetapi, hal utama adalah kekuatan sendiri. Tentara modern apabila dipadukan dengan keunggulan politik-ideologis dan teknologi modern akan menjadi tentara revolusioner yang benar-benar tak terkalahkan (Quinones, 2008).

Teknologi modern pada nilai Chawi mungkin dapat menjadi pencerahan bagi kita semua. Meskipun Amerika Serikat atau PBB atau kesepakatan multilateral apapun menawarkan Korea Utara bantuan dana dan energi, namun dilihat dari nilai yang dipercaya sebagai dasar pemikiran Korea Utara, maka tidaklah heran apabila negosiasi bagaimanapun akan mengalami kegagalan. Karena apa yang diyakini oleh Korea Utara adalah perpaduan antara tentara dengan teknologi modern.Mereka membutuhkan senjata bertekhnologi mutakhir untuk dapat menyempurnakan prinsip tersebut.Korea Utara memiliki jumlah tentara yang banyak dengan kedisiplinan yang tinggi, maka dengan memiliki senjata nuklir, lengkaplah sudah formula teori yang mereka pegang baik-baik itu.

Sedangkan Amerika melihat nuklir sebagai ancaman luar biasa.Presiden Amerika Serikat mendeskripsikan nuklir sebagai ancaman paling cepat dan ekstrim untuk keamanan global. Serangan radiologi atau nuklir di tanah Amerika akan mengakibatkan konsekuensi yang mengerikan dan mendalam bagi Amerika (U.S. Department of Homeland Security). Apa yang lebih banyak dikhawatirkan Amerika terhadap kepemilikan senjata nuklir Korea Utara mungkin bukan kepada serangan nuklir ke tanah Amerika. Tetapi, jatuhnya senjata dan teknologi tersebut ke tangan teroris atau pihak-pihak yang mengancam keamanan Amerika atau kestabilitasan keamanan global.

Beberapa tahun lalu, Korea Utara memamerkan pabrik pengayaan uranium di Yongbyon yang mampu menghasilkan cukup uranium untuk membuat bom setiap tahunnya.Penyingkapan ini dipercaya oleh ahli Amerika bahwa Korea Utara pastilah memiliki pabrik paralel lainnya yang masih belum ditemukan dan telah beroperasi dalam beberapa tahun ini (Allison Jr., 2013). Apa yang ditakutkan dari pengayaan uranium ini adalah ketika Korea Utara terjepit oleh sanksi-sanksi yang memberatkan keadaan ekonomi – dan demikian anggaran pertahanannya – maka Korea Utara tidak akan segan untuk menjual bom-bom tersebut kepada pihak-pihak yang bersedia membayar. Uranium, tidak seperti plutonium, sulit untuk dideteksi dan tidak mengeluarkan panas dan merupakan bahan fisil termudah untuk membuat bom.Sehingga uranium mudah untuk dijual (Fisher, 2013).

Setidaknya resolusi 2094 tahun 2013 masih dapat memberi harapan asalkan dapat benar-benar diaplilkasikan.Ketika memiliki dugaan yang kuat bahwa kapal yang menyinggahi pelabuhan suatu negara membawa material yang melanggar resolusi, baiknya diperiksa agar tidak membiarkan penjualan bom tersebut tersebar dengan demikian mudahnya.

Maka, benang merah yang dapat kita tarik dari sini adalah terdapatnya perbedaan persepsi keamanan yang fundamental diantara kedua negara, atau negara-negara selain Korea Utara dan aliansinya. Sebagaimana dikatakan oleh Hartmann, beda kepentingan nasional, maka berbeda pula suatu negara dalam memandang keamanan. Pandangan keamanan antara Korea Utara dan Amerika Serikat tidak akan pernah sama karena persepsi mereka dalam memandang keamanan jauh bertolak belakang.Dengan memegang ideologi dan persepsi keamanan yang sangat berbeda tersebut, rasanya sulit untuk membayangkan Amerika dan Korea Utara memiliki hubungan bilateral yang lebih harmonis dalam jangka waktu panjang.Karena bagaimanapun juga, hubungan kedua negara ini didominasi oleh perbedaan persepsi keamanan yang amat curam.

2.Perilaku kepala negara

Berdasarkan peristiwa-peristiwa yang terjadi, sikap kepala negara Korea Utara justru menjadi lebih keras pendirian dan menantang ketika mereka dalam keadaan terjepit.Contohnya ketika Februari 2013 lalu dikenakan sanksi oleh PBB dan demi mengetahui latihan militer yang terus menerus dilakukan oleh Amerika bersama Korea Selatan, Korea Utara mengatakan akan membatalkan gencatan senjata yang disepakati tahun 1953 untuk mengakhiri Perang Korea. Apabila Korea Utara benar akan melakukan hal demikian, maka zona demiliterisasi di perbatasan garis paralel utara ke-38 yang merupakan bagian dari kesepakatan tersebut otomatis tidak berlaku.

Atau pada tanggal 20 Desember 2005, Korea Utara menegaskan untuk melanjutkan pembangunan reaktor nuklirnya dikarenakan Amerika telah menarik diri dari kesepakatan pokok untuk membangun dua reaktor baru.Juga ketika Washington mengabaikan ancaman Korea Utara yang berniat meluncurkan serangan nuklir terhadap Amerika sebagaimana juru bicara Gedung Putih mendeskripsikannya dengan “deeply hypothetical”.Tepat keesokan harinya, selamat dua hari berturut-turut, Korea Utara melakukan uji coba enam rudal – termasuk Taepodong 2 jarak jauh –dan uji coba tujuh rudal dengan tidak mengindahkan kutukan dan peringatan komunitas internasional(BBC, 2013).

Melihat tingkah laku Korea Utara ini, maka ancaman Korea Utara memang tidak bisa disepelekan begitu saja.Semakin ditantang, Korea Utara semakin agresif.Hal ini menempatkan negara yang ingin bernegosiasi serba salah. Di sisi lain, dialog dan negosiasi dengan Korea Utara perlu dilakukan ketika negara ini mulai bersikap agresif, tetapi disisi lain tidak ada yang bisa menjamin bahwa Korea Utara akan menghentikan program dan aktifitas pengembangan senjata nuklir secara menyeluruh.

3. Aliansi terkuat Korea Utara

Korea Utara tidak banyak membangun hubungan diplomasi dengan negara-negara luar.Diantara segelintir negara yang dijaga hubungan baiknya, China adalah aliansi paling penting sepanjang sejarah dan eksistensiKorea Utara.Hubungan antara China dan Korea Utara telah dibangun semasa Perang Korea tahun 1950.Di tahun 1970an ketika Presiden Nixon mengunjungi China, Korea Utara menganggap bahwa Beijing telah mengkhianati perjuangan bersama melawan imperialism Amerika, dan itu berarti, hanya Korea Utara sendiri yang akan menghadapi kekuatan Amerika di Asia. Namun, segera setelah kunjungan Nixon, demi meredakan kemarahan aliansinya, China meluncurkan bantuan ekonomi dan militer baru pada Korea Utara untuk 15 tahun kedepan (French, 2014: 277).

Hari ini, aliansi China dan Korea Utara masih erat.Meskipun beberapa pihak menilai terjadi sedikit guncangan pada hubungan dekat ini dengan adanya dukungan China terhadap sanksi PBB yang dikenakan pada Korea Utara akibat uji coba nuklirnya.Namun, hubungan China dan Korea Utara tidak dapat secara terburu-buru disimpulkan menurun. Sebagaimana yang dikatakan oleh Menteri Luar Negeri China, bahwa mereka tidak akan meninggalkan Korea Utara meskipun memberi dukungan pada sanksi PBB. Bagaimanapun China tetap mendukung jalur dialog, ketimbang sanksi, untuk membujuk Korea Utara menghentikan program senjata nuklirnya (Perlez, 2013).Hal ini jelas menandakan bahwa China tidak berniat mempersulit Korea Utara.China tetap menjadi pendonor utama Korea dengan menyuplai 70% bahan bakar minyak sejak Amerika menghentikan suplainya. Diprediksi China akan tetap menjadi penyokong makanan utama bagi Korea Utara hingga beberapa dekade kedepan (French, 2014: 317).

Sebagaimana sedikitnya negara yang memiliki hubungan diplomasi dengan Korea Utara, mitra dagang negara tersebut juga tidaklah banyak.Hal ini ditambah dengan filosofi yang mereka percaya mengenai kemandirian ekonomi.Sehingga keinginan untuk membuka investasi tertahan oleh prinsip Juche yang sangat ditaati negara itu.Namun China memiliki posisi special bagi Korea Utara.China merupakan mitra dagang terbesar negara tersebut. Berdasarkan data Observatory of Economic Complexity, 5 tujuan perdagangan Korea Utara dengan perbandingan persentase, yaitu; China sebanyak 84%, Indonesia 2.1%, Brazil 1.5%, Pakistan 1.5%, dan Paraguay 0.88%.

Dalam beberapa bulan terakhir, laporan Korean International Trade Association mengatakan bahwa pada bulan Mei dan Juni 2014 ini, Korea Utara mengekspor Logam Tanah Jarang (Rare Earth Elements/REE) dengan jumlah yang sangat besar kepada China, yaitu sebanyak 62.662 kg atau senilai dengan $1.8 juta. Logam tanah jarang merupakan mineral langka karena sulit untuk ditambang. Namun di Pyongyang, logam tanah jarang ini mudah untuk ditambang dan dikembangkan (Kang, 2014).

Mineral ini memiliki nilai ekonomi yang strategis, dibutuhkan untuk membuat peralatan vital militer, seperti sonar kapal perang, alat pembidik meriam tank, pelacak sasaran pada peluru kendali, kendaraan lapis baja, maupun proyektil yang menghancurkan. REE juga berfungsi untuk membuat peralatan GPS, baterai, alat-alat elektronik seperti televise, telepon seluler, hingga mobil hibrida.Selama 10 tahun terakhir, China mendominasi penjualan REE di pasar dunia dengan harga penjualan yang sangat murah (Indonesia Mining Exploration; Geoscience News and Information).

Menanggapi krisis Korea Utara, China tidak terancam secara langsung oleh pengembangan dan penjualan senjata nuklir negara tersebut.Jika salah satu ketakutan Amerika terhadap pengayaan nuklir Korea Utaraadalah jatuhnya bom atau teknologi nuklir ke tangan teroris, nampaknya China tidak terlalu mengkhawatirkan hal tersebut.Hal ini dikarenakan keamanan nasional China belum pernah diserang oleh teroris.Sehingga perhatian negara bamboo ini terhadap dampak proliferasi senjata nuklir Korea Utara jatuh ke tangan teroris tidak terlalu signifikan.

Hilangnya pesawat Malaysia Airlines MH370 Maret lalu sempat dimanfaatkan Amerika mengingatkan kembali akan ancaman terorisme. Amerika memperlihatkan bahwa ancaman teroris, sebagaimana serangan 9/11 yang menimpa Amerika, ancamannya juga dekat dengan Asia.Jika MH370 benar adalah aksi teroris, maka China juga telah mengalami serangan teroris tingkat internasional sebagaimana yang dirasakan Amerika.Secara berulang Amerika mengajak Asia untuk lebih memahami dan mendukung upaya anti-terorisnya di Afghanistan (Hengjun, 2014).Akan tetapi, respon China terhadap ajakan Amerika tersebut datar-datar saja.

Selain itu, China memiliki kepentingan untuk menjaga stabilitas di perbatasan negaranya.China berbatasan langsung dengan Korea Utara.Ketidakstabilan di Korea Utara dapat mengancam keamanan China.Ancaman seperti pengungsi yang membajiri wilayahnya dapat menyebabkan ketidakstabilan sosial dan mengganggu perkembangan ekonomi China (Thompson, 2011: 14-15).

Hal yang mungkin agak mengancam dari nuklir Korea Utara bagi China bahwa negara target tembakan nuklir tersebut adalah mitra dagang penting China, yaitu Jepang dan Korea Selatan.Jika demikian, China memang harus memasang strategi yang tepat; antara tidak melukai aliansinya dan tidak membuat mitra dagangnya berada dalam keadaan sulit.

Lekatnya aliansi China dan Korea Utara ini menjadi hambatan bagi Amerika dalam membatasi aktifitas dan program pengayaan nuklir Korea Utara. Meski Amerika dan PBB memberikan sanksi dan sulitnya akses transaksi keuangan, namun jika China masih memberikan bantuan yang besar kepada Korea Utara, maka tujuan dari pemberian sanksi tidak akan benar-benar efektif menghukum Korea Utara. Dibutuhkan kerjasama China untuk bertindak tegas terhadap Korea Utara.Persoalannya, bagaimana jika kepentingan China tidak sejalan dengan apa yang menjadi gagasan umum dalam memandang krisis nuklir Korea Utara?

4. Tidak Adanya Rasa Saling Percaya

Ketiadaan rasa percaya Korea Utara kepada Amerika lebih daripada dugaan, tetapi juga kekhawatiran akan bernasib sama jika menghentikan program pengayaan uranium mereka tersebut. Pelajaran ini Korea Utara petik dari apa yang terjadi pada Pemimpin Iran, Saddam Husein, dan Pemimpin Libya, Moammar Ghadaffi.

Pasca kekalahan Irak pada Perang Teluk Persia, Irak diduga memiliki program senjata nuklir yang canggih dari yang dapat Amerika dan IAEA duga.PBB kemudian mengeluarkan resolusi 687 untuk melakukan inspeksi ke Irak.IAEA ditugaskan untuk melaksanakan inspeksi untuk memastikan bahwa Irak memenuhi persyaratan pelucutan senjata seperi yang diamanatkan PBB.Pada tahun 1999, IAEA melaporkan bahwa Irak tidak memiliki senjata pemusnah masal, ataupun teknologi untuk memproduksi bahan tersebut (Kerr, 2003).Beberapa tahun kemudian, Amerika menyerang Irak dengan tuduhan kepemilikan senjata masal.

Begitupun dengan  Ghadaffi. Di tahun 2003 ia mengumumkan untuk menghentikan program senjata pemusnah massalnya dan mempersilahkan inspektur internasional untuk memverifikasi komitmen Libia tersebut. Menyusul dengan pernyataan tersebut, Amerika, Inggris, dan organisasi-organisasi internasional membongkar senjata kimia dan program nuklir Libia, beserta rudal balistik terpanjang yang dimilikinya (Arms Control Association, 2014).Tahun 2011, terjadi pemberontakan di Libia yang bertujuan menggulingkan rezim sebagaimana yang terjadi di Mesir dan Tunisia.Dengan justifikasi humanitarian, Amerika bersama Inggris dan Prancis dibawah NATO melakukan serangan kepada Libya (Ghadaffi).

Seandainya Irak masih menyimpan senjatanya dan Ghadaffi tidak mempersilahkan Amerika melucuti senjatanya, rezim Saddam Hussein dan Moammar Ghadaffi tidak akan diintervensi sebagaimana yang terjadi saat itu (Kaplan & Baker, 2013; Gowans, 2013).Pelajaran ini mungkin dipahami oleh Kim Generasi kedua dan ketiga baik-baik.Adalah hal yang sangat beresiko untuk membongkar atau membekukan program pengayaan uraniumnya. Sesaat ketika Korea Utara menuruti perintah Amerika (dan asing), nasib Kim akan berakhir seperti Ghadaffi dan Hussein (ibid.).

Di luar daripada hal itu, akan sangat sulit bagi Korea Utara untuk mau menuruti persetujuan yang telah disepakati bersama. Bagaimanapun, menghindari untuk bersikap menyerah pada tekanan luar negeri dan melakukan sesuai anjuran pihak lain adalah prinsip politik luar negeri Korea Utara, bukan?

Sedangkan Amerika sendiri sesungguhnya sudah mendapat pelajaran yang cukup banyak dari Korea Utara. Tidak ada yang benar-benar bisa menjamin Korea Utara akan mengakhiri pengembangan senjata nuklirnya. Untuk melakukan upaya peningkatan kepercayaan melalui Confidence Building Measure (CBM) juga tidak akan mengubah pandangan Amerika terhadap Korea Utara. Korea Utara sangat membatasi akses dan informasi mengenai negaranya.Keadaan persisnya Pyongyang saja sedikit yang tahu, apalagi mengenai anggaran pertahanan mereka? Korea Utara kemungkinan sekali tidak akan memberi informasi yang transparan sebagaimana diharapkan oleh Amerika dan aliansi.

Sepanjang negosiasi yang berlangsung antara Korea Utara dan Amerika, nampak bahwa Korea Utara tidak pernah benar-benar bermaksud untuk menghancurkan pengayaan nuklirnya.Sebagai contoh, setelah menandatangani kesepakatan 1994, di tahun 2002 terungkap bahwa Korea Utara secara diam-diam dan illegal mengembangkan program pengayaan uranium (O’Hanlon & Mochizuki, 2003: 31). Dan ketika Korea Utara melihat bahwa lambatnya progress Light Water Reactor (LRW) yang dijanjikan Amerika sebagai harga tukar dengan penonaktifan program nuklir Korea Utara, Pyongyang mulai mengekspor misilnya ke negara-negara, salah satunya Iran. Hal ini membuat Amerika sangat marah (French, 2014: 310).Hal ini berarti juga melanggar bukan hanya kesepakatan 1994, tetapi juga pelanggaran terhadap Non-Proliferation Treaty yang ditandatangani Korea Utara tahun 1985, dan kesepakatan denuklirisasi di Semenanjung Korea antara Korea Utara dan Korea Selatan yang difasilitasi oleh Amerika. Dengan demikian, wajar apabila Amerika (dan dunia?) sangsi dengan komitmen Korea Utara dalam menghentikan program senjata nuklir dan rudal balistiknya.

Kenyataan bahwa rakyat maupun pemimpinnya sangat setia menaati filosofi Juche – dalam hal ini kebijakan military first – seharusnya juga sudah cukup jelas memberi pemahaman, bahwa Korea Utara tidak akan mundur dari program senjata nuklir dan rudal balistiknya. Selama Korea Utara menganut filosofi tersebut, selama itu pula Korea Utara akan terus mengembangkan teknologi nuklirnya; baik untuk dijual maupun untuk pertahanan negara. Ditambah lagi, nuklir Korea Utara tidak hanya digunakan sebagai penangkal, tetapi juga sebagai alat untuk memperoleh bantuan dana dan perhatian diplomatik (O’Hanlon & Mochizuki, 2003: 31).Membantu terbukanya investasi dan perdagangan bebas bagi negara tersebut juga melukai filosofi yang mereka anut. Dibutuhkan waktu lama dan proses yang bertahap untuk meyakinkan Korea Utara melakukan aktifitas perdagangan yang jauh lebih terbuka dari sistem yang Korea Utara anut saat ini.

 

KESIMPULAN

Hambatan terbesar dari negosiasi non-aktifan atau penghentian program nuklir Korea Utara tidak akan mudah karena hal tersebut bertentangan dengan ideologi yang mereka pegang secara setia. Perasaan terlalu terancam oleh Amerika Serikat beserta aliansi dan keadaan ekonomi Korea Utara yang buruk membuat Korea membutuhkan nuklir, baik sebagai penangkal maupun sebagai alat negosiasi untuk mendapat bantuan dana dan bahan bakar minyak.

Hal-hal tersebut penulis nilai merupakah hal yang mendominasi sulitnya kesepakatan krisis nuklir Korea Utara ini diselesaikan. Di satu sisi, Amerika dan aliansi serta PBB menginginkan dihentikannya sama sekali program senjata nuklir dan rudal balistik di Korea Utara dan mau memberikan bantuan untuk memperbaiki ekonomi buruk Korea Utara.  Di sisi lain, Korea tidak akan pernah mau dan tidak ada yang benar-benar bisa menjamin bahwa Korea Utara akan menghentikan pengayaan uraniumnya tersebut secara menyeluruh. Bahkan, China yang memiliki pengaruh besar terhadap Korea Utara sekalipun, tidak dapat menjamin hal tersebut.

 

n.b :  penulis berterima kasih kepada Laksda TNI Untung Suropati yang telah menjadi narasumber di salah satu tulisan penulis.

 

Referensi:

Allison Jr., G. (2013)‘North Korea’s Lesson: Nukes for Sale’, International Herald Tribune, Februari 12, tersedia di:http://www.nytimes.com/2013/02/12/opinion/north-koreas-lesson-nukes-for-sale.htm[diakses pada 1 September 2014].

Arms Control Association (2014)‘Chronology of Lybia’s Disarmament and Relations with the United States’, Arms Control Association,Februari, tersedia di: http://www.armscontrol.org/factsheets/LibyaChronology [diakses pada 1 September 2014].

BBC (2013)Timeline: North Korea Nuclear Stand-Off, April 2, tersedia di: http://www.bbc.com/news/world-asia-pacific-11811861 [diakses pada 2 September 2014].

Dahl, F. (2014)IAEA Sees Signs North Korea Reactor May Be Operating,September 4, tersedia di:http://www.reuters.com/article/2014/09/04/us-northkorea-nuclear-iaea-idUSKBN0GZ2EF20140904 [diakses pada 4 September 2014].

Fisher, M. (2013)‘Why Uranium Would Make a North Korean Nuclear Test Especially Scarry’, The Washington Post, Februari 8, tersedia di: http://www.washingtonpost.com/blogs/worldviews/wp/2013/02/08/why-uranium-would-make-a-north-korean-nuclear-test-especially-scary/ [diakses pada 3 September 2014].

French, P. (2014) North Korea: State of Paranoia, London: Zed Books.

Geoscience News and Information, ‘REE – Rare Earth Elements and Their Uses’ (online), tersedia di: http://geology.com/articles/rare-earth-elements/ [diakses pada 7 September 2014].

Gowans, S. (2013)‘Why North Korea Needs Nuclear Weapons’ (online), Februari 16, tersedia di:http://gowans.wordpress.com/2013/02/16/why-north-korea-needs-nuclear-weapons/ [diakses pada 1 September 2014).

Hartmann (1978) The Relations of Nations (5th ed.), New York: Macmilla Publishing Co., Inc.

Hengjun, Y (2014) ‘What Flight MH370 Tells Us About the US in Asia’, The Diplomat, Maret 21, tersedia di: http://thediplomat.com/2014/03/what-flight-mh370-tells-us-about-the-us-in-asia/ [diakses pada 5 September 2014].

Indonesia Mining Exploration (2014) ‘Logam Tanah Jarang: Kekayaan SDA yang Terabaikan’ (online), Maret, tersedia di: http://indonesia-mining-exploration.blogspot.com/2014/03/logam-tanah-jarang-kekayaan-sda-yang.html [diakses pada 7 September 2014].

Kang, Tae-Jun. (2014)‘North Korea Resumes Rare Earth Exports to China’, The Diplomat,Juli 30, tersedia di: http://thediplomat.com/2014/07/north-korea-resumes-rare-earth-exports-to-china/ [diakses pada 2 September 2014].

Kaplan, R. & Baker, R. (2013)‘Why North Korea Needs Nukes’,Forbes, Desember, 4, tersedia di: http://www.forbes.com/sites/stratfor/2013/12/04/why-north-korea-needs-nukes/ [diakses pada 1 September 2014].

Kerr, P. (2003)‘Bush’s Claims about Iraq’s Nuclear Program’,Arms Control Association, September, tersedia di:http://www.armscontrol.org/print/1361[diakses pada 5 September 2014].

Myers, B. (2010) The Cleanest Race: How North Koreans See Themselves and Why It Matters, Brooklyn: Melville House Publishing

O’Hanlon, M. & Mochizuki, M. (2003) Crisis on The Korean Peninsula: How to Deal with a Nuclear North Korea, New York: McGraw-Hill.

Oberdorfer, D. (2001) The Two Koreas: Revised and Updated A Contemporary History, New York: Basic Books.

Ohn, C. (2010) ‘The Causes of The Korean War’, International Journal of Korean Studies, Vol. XIV (No. 2), tersedia di: http://www.icks.org/publication/pdf/2010-FALL-WINTER/1.pdf [diakses pada 1 September 2014].

Perlez, J. (2013) China Says It Won’t Forsake North Korea, Despite Support for U.N. Snctions, Maret 9, tersedia di: http://www.nytimes.com/2013/03/10/world/asia/china-says-it-will-not-abandon-north-korea.html?pagewanted=all&_r=0 [diakses pada 5 September 2014].

Quinones, C. (2008) Juche’s Role in North Korea’s Foreign Policy for International Symposium on Communism in Asia, June 7, 2008.

Riding, A. (1994)U.S. and North Korea Sign Pact to End Nuclear Dispute World, Oktober 22, tersedia di:http://www.nytimes.com/1994/10/22/world/us-and-north-korea-sign-pact-to-end-nuclear-dispute.html[diakses pada 1 September 2014].

Thompson, D. (2011) Silent Partners: Chinese Joint Ventures in North Korea, USA: U.S.-Korea Institute.

Wit, J., Poneman, D., Gallucci, R. (2004) The First North Korean Nuclear Crisis, Washington: The Brookings Institute.

Yardley, J. & Sanger, D. (2007) Feb 13 In Shift, Accord on North Korea Seems to be Set, Februari 13,tersedia di: http://www.nytimes.com/2007/02/13/world/asia/13korea.html[diakses pada 3 September 2014].

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Scroll to top
Share via
Copy link
Powered by Social Snap