The Possibilities of the Kra Canal

The Possibilities of the Kra Canal:

Why it Matters to Indonesia

Oleh: Heni Sugihartini

 

  1. Introduction

Dalam dunai pelayaran dan dari segi ekonomi, pencarian jalur transportasi laut dengan rute terpendek, tercepat dan teraman dari pelabuhan asal ke pelabuhan yang dituju adalah suatu hal yang prinsipal. Hal ini mengingat biaya dan resiko perjalanan melalui laut yang secara alamiah memang lebih mahal dan tinggi dibandingkan dengan rute darat. Kebutuhan akan hal tersebut pun semakin meningkat terutama dengan meningkatnya globalisasi dimana kapal-kapal yang membawa orang, barang ataupun komoditas lainnya semakin hari semakin besar ukuran dan nilainya. Berkenaan dengan itu pula, pembangunan infrastruktur transportasi maritim dipandang sebagai salah satu solusi yang tepat, terutama untuk wilayah-wilayah perairan yang rentan terhadap ancaman pelayaran.

Secara tradisional, pembangunan infrastruktur transportasi juga dipandang sebagai faktor penting dalam pembentukan aset finansial untuk pertumbuhan ekonomi. Fasilitas transfortasi yang baik akan mendorong konektifitas dan akses menuju rute perdagangan lebih besar serta dapat meningkatkan daya tarik dari area tersebut di mata investor (Gauthie, 1970). Disisi lain, keterhubungan insfrastruktur transportasi yang efisien juga dapat membantu memupuk perdagangan dan kerjasama antara bangsa-bangsa yang lebih baik di kawasan sekitarnya. Hal ini adalah salah satu yang menjadi daya tarik dan dasar rasional dari ide pembangunan kanal di tanah genting Kra, Thailand.

Ide untuk membangunan kanal Kra itu sendiri telah muncul sejak pertangahan abad ke-16. Namun pembangunan kanal belum pernah dapat benar-benar direalisasikan, walaupun sangatlah dimungkinkan dan dinantikan. Ide pembangunan Kanal tersebut terus muncul dan tenggelam karena banyak faktor yang kerap menjadi perdebatan, mulai dari masih belum tersedianya teknologi, biaya pembangunan yang fantastis, kekhawatiran  ancaman terhadap keamanan nasional maupun regional, pertimbangan hubungan politik/diplomatik dan ekonomi dengan negaa lain hingga masalah kerusakan lingkungan yang akan ditimbulkan.

Jikapun demikian, wacana realisasi pembangunan kanal Kra tetap hidup hingga hari ini. Pada tahun 2005, sebuah laporan internal Menteri Pertahanan AS Donald H. Rumsfeld berjudul “Energy Futures in Asia” diterima oleh Washington Times.  Laporan tersebut di terima dari US defense contractor firm, Boos Allen Hamilton, yang juga merekerut dan memperkerjakan Edward Snowden (wikileaks) diperusahannya. Di dalam dokumen tersebut disebutkan bahwa:

“China is building strategic relationships along the sea lanes from the Middle East to the South China Sea in ways that suggest defensive and offensive positioning to protect China’s energy interests, but also to serve broad security objectives,”[1].

Berkenaan dengan kanal Kra, disebutkan bahwa:

China is considering funding construction of a $20 billion canal across the Kra Isthmus that would allow ships to bypass the Strait of Malacca. The canal project would give China port facilities, warehouses and other infrastructure in Thailand aimed at enhancing Chinese influence in the region[2].

Di tahun 2015, tepatnya tanggal 17 Mei, wacana realisasi pembangunan Kanal Kra kembali muncul dalam media massa Hongkong, Wen Wei Po. Di dalam artikel, yang kemudian diterjemahkan kedalam bahasa Inggris oleh chinadailymail.com, disebutkan bahwa pembangunan ‘the long awaited canal’ atau “an international golden waterway” (成为国际黄金水道) di Thailand mungkin akan menjadi kenyataan dengan bantuan uang dari China. Disebutkan pula bahwa Thailand dan China telah menandatangani “Memorandum of Cooperation on the Development on the Kra Canal” seharga 28 USD di Guangzhou, China.[3] Berita tersebut disanggah oleh juru bicara Kementerian Luar negeri China, Hong lei, bahwa China tidak pernah terlibat dalam studi atau kerjasama apapun dalam kanal Kra. Namun sejumlah wartawan menyebutkan bahwa ketika ditanya apakah ada bentuk kerjasama di pihak swasta, Hong lei tidak memberikan respon apapun. Sejumlah pakar berargumen bahwa China tidak akan berbicara dengan mudah mengenai proyek seperti ini, mengingat dampak politik dan bilateral yang juga tidak bisa dipandang remeh.

Maaf untuk membaca full akses konten dalam format post artikel silahkan terlebih dahulu mendaftar sebagai anggota milist FKPM –> D A F T A R

View posts by
Heni Sugihartini, lahir di Sumedang 21 November 1993. Tahun 2011 menempuh pendidikan pada Program Studi Hubungan Internasional, Universitas Padjadjaran, Bandung. Memulai karirnya pada Juli 2016 sebagai staff redaksi dan analis di Forum Kajian Pertahanan dan Maritim (FKPM).

Leave a Reply

avatar
  Subscribe  
Notify of
Scroll to top
Share via
Copy link
Powered by Social Snap