ANALISIS TERHADAP PEMBANGUNAN ANGKATAN LAUT CHINA

Oleh: Alman Helvas Ali

1. Pendahuluan  

China’s International Fleet Review yang diselenggarakan pada 20-23 April 2009 di Qingdao merupakan sarana untuk memamerkan kekuatan lautChina. Sesuai dengan aspirasinya,China ingin menjadi kekuatan global bukan saja pada bidang politik dan ekonomi, tetapi juga mencakup bidang militer. KebangkitanChina sebagai kekuatan militer telah memperoleh perhatian serius dari beberapa negara di kawasan Asia Pasifik, khususnya negara-negara yang kepentingan nasionalnya di bidang politik dan militer bersentuhan dengan China.

Indonesia merupakan salah satu negara yang strategis di kawasan, termasuk di mata China. Terkait dengan hal tersebut, sudah sewajarnya bilaIndonesiajuga memberikan perhatian terhadap pembangunan kekuatan lautChina. Sebab cepat atau lambatIndonesia, khususnya TNI Angkatan Laut, akan banyak berinteraksi dengan kekuatan lautChina. Apapun bentuk interaksi yang tercipta, sebaiknyaIndonesiasejak dini telah mempunyai pengetahuan tentang pembangunan kekuatan lautChinasebagai bekal dasar yang perlu dimutakhirkan.

Apakah betul pembangunan kekuatan laut Chinaakan berwujud blue water navy dalam satu hingga dua dekade mendatang? Benarkah pembangunan itu akan memunculkan instabilitas di kawasan Asia Pasifik? Tulisan ini meninjau kedua pertanyaan tersebut.

2. Latar Belakang Aspirasi Blue Water Navy 

Sudah bukan rahasia lagi bahwa China mempunyai aspirasi untuk mengembangkan   Angkatan Laut yang mampu untuk diproyeksikan jauh dari wilayahnya. Pembangunan Angkatan Laut Chinaberada dalam bingkai kebijakan pemerintah Chinauntuk menjaga pertumbuhan ekonomi dan pembangunan, menjaga stabilitas politik dalam negeri, mempertahankan kedaulatan nasional dan keutuhan wilayah Chinadan mengamankan status Chinasebagai kekuatan besar.[i]  Stabilitas pertumbuhan ekonomi negeri itu sebelum terjadinya krisis ekonomi 2008 menjadikanChina sebagai kekuatan baru di dunia. Peningkatan ekonomi diikuti dengan pembangunan kekuatan lautChina yang diarahkan untuk mampu melakukan proyeksi kekuatan guna mengamankan kepentingan nasionalnya yang berada di luar wilayah yurisdiksi.

Menurut data, kini Chinatengah tumbuh menjadi kekuatan maritim baru di dunia. Sekarang negeri ini tercatat sebagai negara pemilik terbanyak untuk kapal niaga dengan tonase di atas 1.000 gross ton.[ii] Pelabuhan Shanghai juga telah menjelma menjadi salah satu pelabuhan tersibuk di dunia menyaingi Pelabuhan Amsterdam dari sisi volume kargo secara total. Industri perkapalan China saat ini menempati posisi ketiga di dunia.

Industri maritim semakin kompetitif untuk menjamin kinerja ekonomi yang stabil, namun pada sisi lain masih sangat tergantung pada akses yang aman terhadap pasar dan sumber daya, khususnya besi dan bahan bakar fosil. China menyadari bahwa ketergantungan pada pihak asing merupakan suatu kerawanan tersendiri bila muncul konflik. Oleh sebab itu, fakta ketergantungan telah membentuk perilaku strategisChina di kawasan dan dunia.

Salah satunya menyangkut keamanan regional, selain mempunyai kerawanan akan tergantung pada pasokan minyak bumi dari luar negeri,Chinajuga memiliki sejumlah sengketa wilayah dengan beberapa negara kawasan Asia Pasifik. Di samping itu, masalahTaiwandan sengketa Kepulauan Spratley dan Kepulauan Paracel juga mendapat perhatian besar dalam keamanan nasionalChina. Situasi keamanan regional tidak dapat pula dilepaskan dari peran signifikan Amerika Serikat yang akan mempunyai dampak terhadap China, terlebih ketika dikaitkan dengan faktor ekonomi. Ketergantungan China terhadap pasokan minyak dari luar negeri, khususnya Timur Tengah, yang belum diikuti oleh kemampuan proyeksi kekuatan Angkatan Lautnya menempatkan negeri itu pada suatu posisi tidak menguntungkan. Sebab menurut pemikiran strategis yang berkembang di sana, pihak-pihak yang berseberangan kepentingan dengan China dapat mengeksploitasi kelemahan itu apabila terjadi konflik. Misalnya melalui pemutusan jalur perhubungan laut sehingga terjadi blokade jarak jauh (distant blockade). Di situlah terletak kerawanan (vulnerabilities) maritim China yang sangat disadari oleh para ahli strategi China sendiri.

Berangkat dari sana, sebagian pihak asing berpendapat bahwa aspirasi China mengembangkan blue water navy adalah untuk mempertahankan SLOC, khususnya pasokan minyak bumi. SLOC China yang memanjang dari Timur Tengah melewati Asia Tenggara dan berakhir di kawasan Asia Timur rawan terhadap ancaman dan tantangan, sebab negara-negara besar di sepanjang jalur itu sebagian besar terlibat dalam persaingan geopolitik dengan China.

Selain itu, sebagai pemain baru dalam industri maritim, sulit bagiChinauntuk menghindari kebutuhan melindungi perkapalannya dari berbagai ancaman dan tantangan. Kembali ke teori strategi maritim klasik, salah satu fungsi mendasar Angkatan Laut adalah untuk melindungi armada niaga. Tentu merupakan suatu hal yang riskan bila pertumbuhan industri maritimChina, termasuk armada niaga tidak diimbangi dengan kemampuan Angkatan Lautnya untuk melindungi industri tersebut.

Salah satu bukti pendukung kebenaran pendapat ini adalah pengiriman Gugus Tugas Angkatan Laut China ke perairan Somalia sejak 2008. Pengiriman itu di samping untuk menguji kemampuan Angkatan Laut China melaksanakan operasi Angkatan Laut jarak jauh, juga didorong oleh sejumlah serangan pembajak terhadap beberapa kapal niaga berbendera China. Selain ke Somalia, secara rutin setiap tahun terdapat Gugus Tugas Angkatan Laut China yang melakukan muhibah ke beberapa negara yang jauh dari daratannya, seperti ke Hawaii dan pantai barat Amerika Serikat, Asia Tenggara dan juga Samudera India.

Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa faktor pendorong aspirasi China mengembangkan blue water navy tidak lepas dari strategi nasional yang dianutnya. Strategi tersebut adalah mengelola tekanan eksternal untuk menjamin suatu lingkungan yang kondusif bagi pembangunan ekonomi.[iii] Kebijakan luar negeri dan keamanan China yang dijalan sekarang mengacu pada strategi itu. Namun masalahnya adalah tidak mudah menepis kekhawatiran negara-negara di kawasan Asia Pasifik tentang hidden agenda sebagai faktor pendorong dalam pembangunan Angkatan Laut itu.

Sudah menjadi keyakinan sebagian besar negara di kawasan bahwa pembangunan kekuatan laut Chinabukan sekedar untuk menghadapi masalah Taiwan, tetapi beyond Taiwan.[iv] Walaupun negara itu telah menetapkan strategi nasional seperti telah dijelaskan sebelumnya, akan tetapi pertanyaan mendasar yang sering dimunculkan oleh pihak asing adalah bagaimanaChina mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan dan sekaligus bagaimana mencegah konflik dengan negara-negara tetangga dan juga Amerika Serikat.

China memiliki beberapa klaim wilayah dengan negara-negara di sekitarnya, termasuk dengan Indonesia menyangkut sembilan garis putus-putus hingga ke perairan sekitar Kepulauan Natuna pada Peta 1992. Begitu pula dengan Amerika Serikat, kedua negara dalam 10 tahun terakhir terlibat beberapa insiden serius di zona ekonomi eksklusif sekitar China seputar isu kebebasan bernavigasi versus kedaulatan negara di laut. Kasus terakhir yang menonjol adalah insiden antara kapal survei USNS Impecabble (T-AGOS 23) dengan lima kapal China pada posisi 75 mil selatan Pulau Hainan di Laut China Selatan pada 8 Maret 2009.

Isu klaim wilayah dengan negara-negara tetangga dan insiden-insiden secara berulang dengan kapal-kapal dan pesawat udara Angkatan Laut Amerika Serikat biasanya memicu kembali pertanyaan di kawasan mengenai niat China mengembangkan blue water navy. MeskipunChina secara terang menyatakan bahwa salah satu tujuan pembangunan  kekuatan lautnya ditujukan untuk mengamankan kepentingan ekonominya, namun tingkat kecurigaan dari negara-negara lain masih tinggi bahwa kekuatan itu dapat digunakan pula untuk “mengamankan status China sebagai negara besar” dalam arti luas.

Terkait dengan pembangunan kekuatan militerChinasecara umum dan Angkatan Laut secara khusus, beberapa negara di kawasan telah memberikan respon yang “kurang bersahabat”. Seperti ikatan kerjasama pertahanan yang melibatkanIndia,Australia, Jepang dan Amerika Serikat yang secara implisit ditujukan untuk membendungChina. Hal itu bisa dilihat dari serangkaian Latihan Malabar yang dilaksanakan secara rutin di Samudera India dan Laut Filipina lepas pantai Pulau Okinawa dalam beberapa tahun terakhir.

Dari sini kemudian muncul pertanyaan mendasar, yakni apakah pembangunan kekuatan Chinapatut diwaspadai sebagai salah satu faktor pendorong instabilitas kawasan Asia Pasifik di masa mendatang? Apabila mengikuti secara rutin Annual Report to Congress: Military Power of the People’s Republic of China yang diterbitkan oleh Departemen Pertahanan Amerika Serikat, sulit dipungkiri bahwa di dalam laporan itu penuh dengan kecurigaan terhadap pembangunan kekuatan militerChina. Tuduhan tidak adanya transparansi dalam pembangunan itu senantiasa muncul dari para pejabat sipil dan militer di Pentagon.

Akan tetapi masalahnya laporan tersebut dari perspektif kepentingan nasional Amerika Serikat. Salah satu kepentingan nasional negara itu adalah mencegah lahirnya nearpeer competitor dan nampaknya China dipandang sangat potensial untuk menjadi peer competitor di masa depan. Di dalam Quadrennial Defense Review Report 2006 dinyatakan bahwa kemampuan penangkalan salah satunya ditujukan pada near-peer competitor.[v]

3. Strategi Dan Struktur Kekuatan Angkatan Laut China 

Menyoroti pembangunan kekuatan lautChina, akan lebih komprehensif apabila tidak terfokus semata pada pengadaan kapal perang dan pesawat udara baru. Tinjauannya  perlu menyentuh  pula isu-isu lain yang krusial dan saling terkait, seperti strategi dan doktrin, organisasi Angkatan Laut China, pembinaan personel, interoperability Angkatan LautChina dengan angkatan lain maupun dengan Angkatan Laut asing dan kunjungan kapal perangChina ke luar negeri.

Menyangkut susunan tempur, Angkatan Laut China mempunyai sekitar 75 kapal kombatan yang terdiri dari kapal perusak dan fregat, lebih dari 60 kapal selam, 55 kapal amfibi ukuran besar dan dan sekitar 70 kapal patroli cepat berpeluru kendali.[vi] Selain menambah kapal kombatan berpeluru kendalia dalam susunan tempurnya, kekuatan laut China juga menambah jumlah kapal selam nuklir. Dalam perkembangan terakhir, dua kapal selam serang nuklir kelas Shan (Type 093) dan satu kapal selam berpeluru kendali balistik kelas Jin (Type 094) telah masuk dalam susunan tempur untuk mendampingi empat kapal selam kelas Han dan satu kapal selam kelas Xia.[vii]

Angkatan Laut China juga berambisi mempunyai kapal induk buatan dalam negeri. Negeri itu telah membeli dua bekas kapal induk Uni Soviet yaituKievdan Varyag. Diduga dari pembelian ituChinakemudian mempelajari bagaimana rancang bangun kapal induk tersebut. Hasil dari kegiatan itu kemudian akan digunakan sebagai ilmu dasar dalam pengembangan kapal induk lokal.

Ambisi China untuk memiliki kapal induk dalam susunan tempur Angkatan Lautnya dimulai sejak era Laksamana Liu Huaqing ketika menjadi Kepala Staf Angkatan LautChina(1982-1988) dan Wakil Ketua Komisi Militer Pusat (1989-1997). Namun hingga kini program kapal indukChinamasih menjadi tanda tanya, karena tidak ada keterangan resmi dari otoritas berwenang mengenai hal itu. Namun banyak pihak di luarChinayang menduga bahwa negeri itu tengah menyiapkan kapal induk lokal yang siap diluncurkan antara 2020-2030.

Untuk payung udaraAngkatan Laut,Chinamempunyai sekitar 23 pesawat tempur Su-30 MK2. Namun, mayoritas pesawat tempur yang memperkuat sayap udara Angkatan Laut adalah pesawat lama era Uni Soviet. Implikasinya, kemampuan payung udara Angkatan Laut China untuk beroperasi jauh dari pangkalan untuk melindungi armada laut masih diragukan.

Menyangkut strategi, dokumen resmi People’s Liberation Army mengklasifikasikan peperangan terdiri atas tiga peringkat konflik bersenjata dan tempur, yakni perang, kampanye dan pertempuran.[viii] Perang menurut PLA dapat berupa lokal atau total, yang mana perang adalah perjuangan untuk mencapai tujuan-tujuan politik bangsa secara keseluruhan. Adapun kampanye berfungsi sebagai penghubung operasional dengan pelaksanaan pertempuran. Masih menurut PLA, perang dibimbing oleh strategi, kampanye dipandu oleh metode kampanye dan pertempuran dituntun oleh taktik.

Terkait dengan hal tersebut, PLA menerbitkan dokumen yang berjudul The National Military Strategic Guidelines for the New Period. Dokumen yang mirip dengan National Military Strategy di negara-negara lain itu mempunyai dua komponen utama.

Pertama adalah reformasi dan modernisasi, yang mencakup upaya-upaya modernisasi, pembangunan perlengkapan dan pengadaan dan reformasi institusional dan organisasi. Termasuk dalam komponen pertama ini adalah program transformasi PLA, yakni:[ix]

  • Dari tentara yang dipersiapkan untuk bertempur pada peperangan lokal di bawah kondisi-kondisi biasa, menjadi tentara yang mempersiapkan diri untuk bertempur dan menang pada peperangan lokal di bawah kondisi-kondisi modern dan teknologi tinggi;
  • Dari tentara yang berbasis pada kuantitas menjadi tentara yang berbasis pada kualitas;
  • Dari tentara yang berbasis pada personnel intensive menjadi tentara yang berbasis pada science and technology intensive.

Kedua, yaitu operasional yang memberikan sejumlah perangkat luas dan mendasar  dalam pendekatan-pendekatan fundamental untuk melaksanakan perang. Paduan operasional pada tingkat nasional bersifat umum dan tidak memberikan arahan khusus untuk operasi pada tingkat kampanye atau taktis atau bahkan kontinjensi spesifik. Komponen operasional saat ini dari National Military Strategic Guideliness for the New Period dikenal sebagai Active Defense yang telah disesuaikan untuk bisa melaksanakan “Peperangan Lokal Di Bawah Kondisi Teknologi Tinggi Modern”. Active Defense adalah panduan strategi tertinggi bagi semua operasi PLA selama perang dan persiapan perang pada masa damai, sehingga berlaku pula bagi Angkatan Laut China.

Oleh Angkatan Laut China, Active Defense diturunkan dalam bentuk Offshore Defense Strategy pada 1985 dan telah disetujui oleh Komisi Militer Pusat Partai Komunis China.  Secara operasional, Offshore Defense Strategy menekankan pada hal-hal sebagai berikut:[x]

  • Secara keseluruhan, strategi militer adalah defensif. Kami menyerang hanya setelah diserang. Namun operasi-operasi berciri ofensif;
  • Ruang atau waktu tidak akan membatasi lawan ofensif kami;
  • Kami tidak akan menetapkan garis batas pada batas-batas ofensif kami;
  • Kami akan menunggu untuk waktu dan situasi yang menguntungkan kekuatan kami ketika menginisiasi operasi-operasi ofensif;
  • Kami akan fokus pada kelemahan-kelemahan kekuatan lawan;
  • Kami akan menggunakan kekuatan sendiri untuk meniadakan kekuatan musuh;
  • Operasi ofensif terhadap lawan dan operasi defensif bagi perlindungan kekuatan kami akan dilaksanakan secara bersamaan.

Apabila dikaji lebih jauh, Offshore Defense yang kini dianut oleh Angkatan Laut China  merupakan suatu paradigma baru. Pergeseran paradigma itu bukan saja pada aspek operasi Angkatan Laut, tetapi menyentuh pula aspek pembangunan kekuatan melalui modernisasi Angkatan Laut. Paradigma sebelumnya yang dianut oleh Angkatan Laut Chinaadalah Coastal Defense yang terfokus pada perencanaan dan operasi pada wilayah-wilayah pantai China untuk mendukung perang darat besar. Strategi Coastal Defense selain lahir karena adanya ancaman invasi darat Uni Soviet selama Perang Dingin, juga tidak lepas dari posisi Angkatan LautChina di masa lalu yang hanya sekedar pendukung Angkatan Darat.

Perubahan paradigma sehingga muncul Offshore Defense bersamaan pula waktunya program modernisasi ekonomiChina yang dimotori oleh Deng Xiaoping. Dalam program modernisasi itu, yang terjadi bukan saja pergeseran sentra ekonomi dari kawasan pedalaman China menuju pantai timur negeri itu, tetapi melahirkan pula ketergantungan besar China terhadap sumber daya yang berasal dari luar negeri, termasuk minyak bumi.

Namun demikian perlu dipahami bahwa isu keamanan (pasokan) minyak bumi sebenarnya belum pernah muncul dalam dokumen resmi dan atau pernyataan resmi pemerintah China.[xi] Situasi ini memunculkan pertanyaan apakah keamanan (pasokan) minyak bumi tidak dikonseptualisasikan oleh para pemimpin negeri itu? Saat berpidato di depan Komisi Militer Pusat Partai Komunis China pada 24 Desember 2004, Ketua Komisi Hu Jintao sama sekali tidak menyinggung secara langsung isu keamanan (pasokan) minyak bumi dalam kebijakan militer baru China.[xii]

Offshore Defense merupakan konsep strategis yang mengarahkan Angkatan Laut China untuk bersiap memenuhi tiga misi kunci “untuk periode baru” melalui pelibatan dalam operasi-operasi maritim di laut dan membangun Angkatan Laut yang mampu melaksanakan operasi berkelanjutan di laut. Tiga misi kunci yang diemban oleh Angkatan Laut China yaitu:[xiii]

  • Menjaga musuh dalam batas dan menolak invasi dari laut;
  • Melindungi kedaulatan teritorial nasional;
  • Menjaga keutuhan ibu pertiwi dan hak-hak maritim

Apabila kini dikenal istilah two island chains yang terdiri dari first island chain dan second island chain, hal itu seringkali membingungkan bagi pihak asing ketika mengaitkannya dengan Offshore Defense. Penting untuk dipahami bahwa kini Offshore Defense tidak lagi terkait batas geografis tertentu seperti di era lalu. Strategi itu kini telah berevolusi dan mengacu pada pernyataan Presiden Jiang Zemin pada 1997 bahwa Angkatan Laut China “harus fokus pada memunculkan kemampuan tempur komprehensif di lepas pantai dalam first island chain, harus meningkatkan penangkalan konvensional dan nuklir dan kemampuan serangan balik, dan harus secara bertahap membangun kemampuan tempur untuk pertahanan samudera jauh”.[xiv]

Terkait dengan hal tersebut, menjadi pertanyaan sampai seberapa jauh Offshore Defense akan dipraktekkan? Mengacu pada laporan intelijen Angkatan Laut Amerika Serikat, jawabannya adalah “sejauh kemampuan Angkatan Laut China akan memungkinkannya mengoperasikan gugus tugas di laut dengan sejumlah persyaratan untuk dukungan dan keamanan”.[xv] Jawaban demikian kemudian menimbulkan penafsiran di kalangan perwira Angkatan Laut China sendiri bahwa jangkauan operasional Offshore Defense (sejauh ini) adalah sejauh jangkauan jelajah pesawat udara PLA yang berpangkalan di darat dan kemampuan peperangan anti kapal selam Angkatan Laut China sendiri.

Angkatan Laut Chinamengenal enam jenis kampanye, yakni blokade laut, anti SLOC, serangan dari laut ke darat, antikapal, perlindungan transportasi laut dan pertahanan pangkalan Angkatan Laut.[xvi] Dari enam jenis kampanye tersebut, Angkatan Laut China melaksanakan pelatihan pada jenis-jenis spesifik dari metode tempur yang dikenal sebagai Three Attacks and Three Defenses. Three Attacks yaitu serangan terhadap pesawat siluman, rudal jelajah dan helikopter bersenjata. Adapun Three Defenses yakni pertahanan melawan serangan presisi, jamming elektronik dan pengintaian elektronik dan pengamatan.

Menyangkut doktrin, perubahan doktrin dalam PLA —termasuk Angkatan Laut China— berjalan tidak  secepat di  negara-negara lain. Hal ini  disebabkan oleh karakter dalam organisasi PLA yang menggariskan bahwa perubahan kebijakan, arahan dan peraturan diterbitkan di bawah otoritas dari Komisi Militer Pusat Partai KomunisChina. Semua perubahan doktrin harus mengacu pada ideologi yang dianut oleh negara. Dalam beberapa kasus, perubahan doktrin dalam PLA bersamaan waktunya dengan penetapan Rencana Lima Tahun China.

Dalam organisasi Angkatan Laut China, masalah doktrin ditangani oleh Institut Riset Kajian Militer. Lembaga ini bertanggung jawab dalam pengembangan strategi Angkatan Laut tingkat nasional, pengembangan konsep operasional Angkatan Laut, pengembangan taktik Angkatan Laut dan riset dan kajian pada peperangan Angkatan Laut di masa depan dan perkembangan isu-isu Angkatan Laut asing.[xvii] Doktrin Angkatan Laut China untuk operasi maritim difokuskan pada enam jenis kampanye yang telah disebutkan sebelumnya.[xviii]

Organisasi Angkatan LautChinaterdiri dari struktur administrasi dan struktur operasional. Penamaan jabatan dan satuan dalam organisasi Angkatan LautChinamengadopsi istilah-istilah yang berlaku pada Angkatan Darat, sehingga cukup membingungkan bagi sebagian kalangan, khususnya pihak asing. Belum lagi menyinggung masalah kepemimpinan dalam organisasi Angkatan Laut, yang mana selain Kepala Staf Angkatan Laut masih ada pula Komisaris Politik Angkatan Laut yang perannya tidak dapat dipandang sebelah mata.

Struktur administrasi Angkatan LautChinaterdiri dari empat departemen, yaitu Markas Besar, Politik, Logistik dan Perlengkapan. Keempatnya digolongkan sebagai departemen tingkat pertama, yang mana setiap departemen itu mempunyai beberapa departemen tingkat kedua yang memiliki tanggung jawab administratif dan atau fungsional dalam Markas Besar dan seluruh Angkatan LautChina.

Adapun struktur operasional Angkatan Laut China terdiri atas tiga armada, yakni Armada Laut Utara yang bermarkas di Qingdao, Armada Laut Timur yang berpusat di Dinghai dan Armada Laut Selatan yang berbasis di Zhan Jiang. Kekuatan tiap  armada   dibagi   lagi dalam bentuk Zhidui (flotila), Dadui (skuadron) dan Zhongdui.[xix] Zhidui merupakan satuan kapal perang yang dibagi berdasarkan jenisnya, seperti kapal selam, kapal perusak, fregat, kapal bantu dan lain sebagainya. Dadui adalah satuan kapal yang lebih kecil daripada Zhidui, yang oleh pihak Barat diterjemahkan sebagai skuadron. Sedangkan Zhongdui yakni satuan kapal yang lebih kecil daripada Dadui.

Secara garis besar, kekuatan ketiga Armada Angkatan Laut Chinarelatif berimbang kekuatannya. Setiap armada dilengkapi dengan berbagai jenis kapal perang, seperti kapal selam nuklir dan diesel elektrik, kapal perusak, kapal fregat, kapal amfibi dan lain sebagainya. Terdapat pula unit Penerbangan Angkatan Laut pada setiap armada, selain Pasukan Pertahanan Pantai. Sedangkan untuk Korps Marinir, satuan tempur itu hanya ada di Armada Laut Selatan yang terdiri atas dua brigade.[xx]

Tentang pembinaan personel dalam Angkatan Laut China, tidak ada data yang spesifik mengenai jumlah personelnya. Menurut perkiraan intelijen Angkatan Laut Amerika Serikat, terdapat sekitar 290.000 personel yang memperkuat kekuatan laut negeri itu.[xxi] Rasio personel antara perwira, Non Commisionned Officer (NCO) dan wajib militer diperkirakan 1:1:1, sehingga jumlah personel pada setiap strata kepangkatan diperkirakan sekitar 97.000 orang.

Departemen Kader yang merupakan bagian dari Departemen Politik merupakan satuan kerja yang bertanggung jawab dalam sistem pembinaan personel terhadap korps perwira. Karir para perwira terbagi dalamlimajalur, yaitu perwira militer (jalur komando), perwira politik, perwira logistik, perwira perlengkapan dan perwira teknik.

Dalam hal promosi dan penempatan jabatan, salah satu hal yang membedakan dalam masalah pembinaan personel dengan Angkatan Laut di dunia adalah penilaian atau kondite terhadap karakter politik oleh Departemen Kader. Setiap perwira menerima tiga evaluasi, yakni evaluasi tahunan, evaluasi dua-tiga tahunan  dan  evaluasi promosi. Evaluasi   menyangkut  karakter  politik  merupakan penilaian utama, baru diikuti oleh hal-hal yang bersifat profesionalisme militer. Keputusan terhadap promosi dan penempatan jabatan akan diputuskan oleh Komisi Militer Pusat Partai KomunisChina, bukan oleh Markas Besar Angkatan LautChina.

Pembinaan personel pada strata NCO dan wajib militer dilakukan secara bersama oleh Departemen Staf Umum dan Departemen Politik. Departemen Staf Umum berwenang bertanggung jawab atas masalah-masalah teknis dalam pembinaan personel, sedangkan Departemen Politik bertanggung jawab terhadap seleksi terhadap keanggotaan partai dan mengatur hal-hal yang terkait dengan isu-isu politik.

Personel pada strata NCO sumbernya berasal dari eks wajib militer yang telah menyelesaikan dua tahun wajib militer dan secara sukarela memilih menjadi NCO. Sedangkan personel dari wajib militer merupakan hasil rekrut dari setiap wilayah di Chinayang telah memenuhi syarat untuk mengikuti wajib militer. Menurut laporan yang tersedia, pola kota-pedalaman berlaku dalam wajib militer di China.[xxii] Maksudnya, warga yang berasal dari wilayah pedalaman lebih tinggi minatnya untuk menjalani wajib militer dibandingkan mereka yang berasal dari wilayahkota.

Untuk menjaga dan meningkatkan kualitas personel, Angkatan Laut China pada Januari 2002 telah menerbitkan pedoman yang berjudul Outline of the Military Training and Evalution (OMTE). Materi pelatihan yang dilaksanakan oleh Angkatan LautChina meliputi:

  • Pelatihan di bawah situasi perang sesungguhnya
  • Employing operasi mobil dan dukungan
  • Beroperasi di wilayah unfamiliar dalam situasi tidak dikenal
  • Transisi dari siang hari ke malam hari
  • Pelatihan dalam kondisi cuaca buruk
  • Melaksanakan sejumlah subyek pelatihan secara bersamaan
  • Employing formasi lebih besar
  • Penggunaan saluran dan radio silence
  • Beroperasi pada situasi jamming elektromagnetik dan countermeasures

Terkait dengan perubahan strategi dari coastal defense menjadi offshore defense, materi pelatihan seperti operasi mobil dan dukungan, beroperasi di wilayah unfamiliar dan tidak dikenal dan lain sebagainya menjadi fokus Angkatan Laut China saat ini. Pelatihan dilaksanakan di ketiga armada dan pada saat tertentu yakni dua kali dalam setahun ketiga armada itu akan melaksanakan pelatihan bersama di laut. Namun pelatihan itu belum dapat digolongkan sebagai latihan (exercise), sebab latihan Angkatan LautChina didasarkan pada skenario tertentu.

Pelatihan bagi unsur-unsur kapal perang di armada Angkatan LautChinamengenal tiga tahap. Tahap pertama berlangsung dari November sampai Januari atau Februari tahun berikutnya, yang mana tidak semua kapal perang diawaki secara penuh. Tahap kedua berlangsung dari Maret hingga Juni. Tahap ketiga dilaksanakan pada awal musim panas (Juli) hingga akhir Oktober.

Tahap ini merupakan latihan puncak (final exercise) yang melibatkan semua unsur-unsur pada ketiga armada Angkatan LautChina. Dari tinjauan nomeklatur, Angkatan LautChina membagi latihan dalam 14 kategori, mulai dari latihan setiap kapal perang secara mandiri hingga latihan laut gabungan. Untuk jenis latihan yang terakhir melibatkan unsur-unsur Angkatan Laut dengan unsur-unsur angkatan lainnya.

Latihan gabungan antara Angkatan Laut Chinadengan angkatan lainnya mendapat fokus khusus sejak 15 tahun lalu. Namun demikian, hingga kini masih ada sejumlah masalah yang masih menyelimuti kegiatan latihan gabungan, sehingga intensitas latihan gabungan masih rendah. Masalah utama terjadi antara Angkatan Laut Chinadengan Angkatan Udaranya dalam hal-hal seperti taktis dan perbedaan sistem. Dengan kata lain, interoperability antara Angkatan LautChina dengan Angkatan UdaraChina khususnya masih jauh dari harapan.

Adapun latihan yang melibatkan Angkatan LautChinadengan Angkatan Laut asing intensitasnya juga tidak tinggi. Latihan rutin yang diselenggarakan baru sebatas latihan gabungan antara Angkatan Bersenjata China dengan Angkatan Bersenjata Rusia. Sedangkan dengan negara-negara lainnya di kawasan Asia Pasifik, khususnya dengan negara-negara yang selama ini dikenal mempunyai hubungan dekat dengan Amerika Serikat, masih rendah intensitasnya dan baru menyentuh pada materi seperti SAR Exercise. Misalnya antara Angkatan LautChina dengan Angkatan Laut Amerika Serikat sendiri.

Kunjungan kapal perangChinake luar negeri, menurut data yang tersedia sebenarnya tidak tinggi. Antara tahun 1985-2006, muhibah hanya dilakukan sebanyak 25 kali ke 35 negara. Dari muhibah tersebut, pelayaran terbanyak dilakukan pada wilayah Asia Pasifik, sisanya adalah kawasan benua Amerika, Eropa dan Afrika. Khusus untuk muhibah ke luar kawasan Asia Timur, susunan kapal yang dilibatkan biasanya terdiri dari satu atau dua kapal perusak dan satu kapal bantu minyak.

Dalam perkembangan terakhir, sejak Desember 2008 Angkatan Laut China juga menyebarkan beberapa kapal perangnya dalam susunan yang tidak jauh berbeda dengan kunjungan muhibah untuk mengatasi pembajakan di perairan Somalia. Penyebaran tersebut selain untuk mengamankan kepentinganChinayaitu kapal-kapal niagaChinayang berlayar di perairanSomalia, juga untuk menguji kemampuan beroperasi jarak jauh.

4. Isu Kritis 

Bertolak dari penjelasan sebelumnya tentang strategi dan struktur kekuatan Angkatan Laut Chinabeserta segenap dinamikanya, menjadi menarik ketika dikaitkan dengan implikasi pembangunan kekuatan laut Chinaterhadap stabilitas kawasan. Pertanyaan pokoknya adalah apakah aspirasi Chinauntuk mempunyai blue water navy akan berimplikasi negatif berupa instabilitas kawasan Asia Pasifik? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, beberapa isu kritis berikut patut untuk diperhatikan.

Pertama, aspek operasional. Memperhatikan kondisi Angkatan Laut Chinasaat ini,  kemampuan  untuk   menjadi kekuatan  blue  water navy masih  dipertanyakan. Langkah menuju blue water navy tidak dapat sebatas menambah sejumlah kapal perang dan pesawat udara Angkatan Laut, tetapi juga perlu diikuti oleh pembenahan secara luas dalam aspek operasional pada Angkatan LautChina.

Kemampuan Chinamelaksanakan operasi Angkatan Laut jarak jauh sekarang masih jauh dari harapan. Begitu pula dalam soal kemampuan pengendalian laut yang baru sebatas di wilayah perairannya dan sedikit ZEE yang bisa dicapai oleh endurance pesawat tempurnya. Merupakan suatu fakta bahwa Angkatan LautChina belum mampu untuk melaksanakan pengendalian laut pada SLOC-nya, bahkan pada jalur yang membentang dari wilayahChina ke Selat Malaka sekalipun.

Mencakup pula aspek operasional adalah isu komando dan kendali pada kapal perang yang berada jauh dari daratanChina. Masih menjadi pertanyaan sejauh mana isu komando dan kendali pada kapal perangChinabisa dipecahkan, khususnya ketika kapal beroperasi jauh dari daratanChinadan terjadi gangguan komunikasi antara Puskodal Angkatan LautChinadengan kapal itu. Seperti diketahui, terdapat dualisme komando antara komandan kapal dan perwira komisaris politik pada kapal perangChina. Isu ini makin krusial ketika menyentuh aspek operasional kapal selam, sebab Angkatan Laut China kemampuannya sejauh ini masih terbatas dalam hal komunikasi antara kapal selam yang beroperasi di laut dengan Puskodal.

Aspek operasional berikutnya adalah dukungan logistik, khususnya kemampuan replenishment at sea. Sampai sejauh ini, belum ada peningkatan signifikan pada kuantitas kapal bantu Angkatan LautChina dibandingkan beberapa tahun sebelumnya. Mayoritas kapal bantu yang berkemampuan RAS belum berkualifikasi jelajah samudera. Di samping itu, China belum mempunyai pengetahuan dan pengalaman yang komprehensif dan teruji mengenai sistem dukungan logistik dalam operasi jarak jauh.

Kedua, aspek latihan. Durasi latihan yang dilaksanakan oleh Angkatan Laut Chinadi laut lepas, baik bersama Angkatan Udara Chinamaupun dengan Angkatan Laut asing masih cukup rendah. Seperti telah dijelaskan sebelumnya, secara kualitas interoperability antara  Angkatan   Laut  China  dengan  Angkatan  Udaranya  masih diselimuti sejumlah masalah.

Isu latihan di laut lepas —semisal di SLOC antara perairan China dengan Selat Malaka— penting untuk digarisbawahi sebab di situ dapat diuji berbagai doktrin, strategi dan taktik yang sebelumnya telah didalami secara teoritis. Terlebih lagi bagi Angkatan Laut Chinayang mempunyai aspirasi menjadi kekuatan blue water navy. Memperhatikan siklus latihan Angkatan LautChina saat ini, tercermin bahwa siklus tersebut demikian mendukung pada arah untuk tercapainya aspirasi tersebut.

Begitu pula intensitas latihan dengan Angkatan Laut asing. Kecuali dengan Angkatan Laut Rusia, latihan Angkatan Laut China dengan Angkatan Laut negara-negara lain di Asia Pasifik frekuensinya sangat rendah dan baru menyentuh pada aspek SAR. Dengan materi latihan yang sangat terbatas, maka kesempatan untuk mengambil ilmu dan bertukar pengalaman dalam aspek operasional dengan Angkatan Laut asing menjadi sangat terbatas pula tentunya.

Dengan demikian, dapat direka bahwa dari aspek latihan Angkatan Laut Chinasaat ini belum menunjang pada tercapainya aspirasi kekuatan blue water navy. Untuk menuju blue water navy, memerlukan latihan dengan intensitas tinggi jauh dari wilayah negara induk dan tentu saja latihan itu harus dilakukan selama bertahun-tahun. Salah satu contoh yang baik adalahIndia yang melaksanakan beragam latihan di berbagai perairan dunia dengan bermacam Angkatan Laut asing.

Ketiga, aspek dukungan industri dan teknologi. Industri perkapalanChinatengah tumbuh untuk menjadi pesaing industri perkapalan negara-negara maju. Dalam hal industri kapal perang, baik kapal atas air maupun kapal perang,Chinatelah mampu merancang dan membangun kapal sendiri. Bahkan saat iniChinaditengarai tengah mempelajari desain rancang bangun dua eks kapal induk yang dibeli dari Rusia untuk kemudian merancang dan membangun kapal induk lokal.

Namun demikian, laju pembangunan kapal perang baruChinasebenarnya tidak signifikan. Sebab menurut informasi yang didapat, kapasitas yang tersedia pada berbagai galangan kapal di negeri itu digunakan untuk kepentingan pembangunan kapal niaga. Dengan laju  pembangunan kapal  perang seperti saat ini, penambahan kuantitas kapal perangChinamasih dapat dinilai normal. Kecuali apabila dalam waktu-waktu ke depan terjadi peningkatan kapasitas galangan kapalChinayang digunakan bagi kepentingan pembangunan kapal perang baru.

Adapun mengenai teknologi, secara umum teknologi yang sedang giat-giatnya dipelajari oleh China adalah teknologi kapal induk. Karena tidak ada negara-negara lain yang memberikan teknologi itu, maka cara yang ditempuh adalah dengan mempelajari dua bekas kapal induk Rusia. Akan tetapi sejauh mana penguasaan para insinyurChinaterhadap rancang bangun kapal induk masih menjadi pertanyaan besar. Sedangkan teknologi lainnya terkait rancang bangun kapal atas air maupun kapal selam, begitu pula teknologi senjata dan elektronikaChinatelah lama menguasainya.

Keempat, aspek sumber daya manusia. Penyiapan perwira, khususnya perwira militer (jalur komando), logistik, perlengkapan dan teknik dilakukan secara khusus melalui sejumlah akademi PLA. Dengan penyiapan demikian, secara akademis para perwira pengawak Angkatan LautChinamempunyai potensi yang bagus untuk berkembang dan tidak kalah dengan perwira Angkatan Laut dari negara-negara lain. Namun bagaimana pengembangannya ke depan tergantung pada sistem yang berlaku pada Angkatan Laut tersebut.

Begitu pula dengan para NCO, yang mana Angkatan LautChinatelah menyiapkan sejumlah lembaga pendidikan untuk terus meningkatkan profesionalisme mereka. Yang menjadi titik kritis justru pada personel hasil rekrutmen wajib militer, sebab mayoritas dari mereka berasal dari lembaga pendidikan umum di wilayah pedalamanChina. Padahal di sisi lain dengan terus meningkatnya sistem senjata dengan teknologi maju pada Angkatan LautChina, menuntut sumber daya manusia yang andal untuk mengawaki senjata itu.

Di samping keempat aspek yang telah diuraikan, aspirasi Chinamempunyai blue water navy akan ditentukan pula oleh seberapa mampu Angkatan LautChina mengeksploitasi   kemampuan  sistem  senjata yang  ada  pada  susunan  tempurnya.

Sebagai contoh, bagaimana memadukan kemampuan operasional kapal atas air dengan kapal selam pada suatu wilayah operasi yang luas. Pemaduan kemampuan itu antara lain ditentukan oleh kemampuan melaksanakan komando dan kendali.

Begitu pula dengan eksploitasi kapal induk apabila pada 2020-2030 negara itu telah mampu memproduksi kapal induk buatan dalam negeri. Sangat mungkin Angkatan Laut China tidak kesulitan mencari pesawat tempur yang cocok untuk mengisi kekuatan udara di kapal tersebut, tetapi seberapa jauh kapal induk itu dapat dieksploitasi masih menjadi suatu pertanyaan mendasar. Sebab ada premis mendasar mengenai kapal induk, yaitu mempunyai kapal induk dalam susunan tempur Angkatan Laut tidak selalu berbanding lurus dengan lahirnya suatu blue water navy.

Terdapat beberapa contoh di dunia yang menunjukkan bahwa mayoritas Angkatan Laut yang mengoperasikan kapal induk tidak digolongkan sebagai blue water navy. Misalnya Angkatan Laut Italia, Spanyol danThailand. Selain itu, secara ekonomis pengoperasian kapal induk tidak ringan, walaupun prestise politiknya sangat besar.

5. Penutup 

Pembangunan kekuatan Angkatan Laut Chinamemang ditujukan untuk menuju blue water navy sebagai realisasi strategi Offshore Defense. Namun demikian, kemampuan Angkatan LautChina untuk beroperasi jauh dari wilayahnya masih terbatas, sebab terdapat beberapa isu kritis yang hingga kini belum mampu dipecahkan olehChina. Dengan begitu, diperkirakan masih butuh waktu minimal 20 tahun ke depan bagi negara itu untuk mampu mengendalikan SLOC-nya yang ditengarai menjadi faktor pendorong utama pembangunan kekuatan lautChina.

Memperhatikan pola pembangunan kekuatan Angkatan LautChina, secara kualitas memang terdapat peningkatan yang tercermin pada sistem senjata. Namun titik   krusialnya   berada   pada   kualitas   sumber   daya   manusia, khususnya pada tingkatan wajib militer yang mengawaki sistem senjata. Perlu ada keseimbangan antara penambahan kekuatan sistem senjata dengan kualitas sumber daya manusia untuk mewujudkan aspirasi blue water navy.

Dengan struktur kekuatan seperti saat ini, pembangunan kekuatan laut Chinasebenarnya belum mampu untuk menimbulkan instabilitas di kawasan. Masih perlu waktu yang panjang, minimal dua dekade, bagi Angkatan Laut Chinauntuk menjadi kekuatan yang diperhitungkan di kawasan, sekaligus sebagai blue water navy. Itu pun dengan asumsi bahwa tidak ada hambatan —eksternal maupun internal— dalam pembangunan kekuatan lautChina ke depan.

Apabila ada hambatan, maka diperlukan waktu yang jauh lebih lama untuk mewujudkan hal tersebut. Atau bukan tidak mungkin kekuatan lautChina hanya menjadi kekuatan laut regional dan bukan pemain global. Salah satu faktor eksternal yang bisa mempengaruhi pembangunan Angkatan LautChinaadalah ekonomi.

[i]. U.S. Department of Defense, Annual Report to Congress: Military Power of the People’s Republic of China 2009, hal.2
[ii]. Storey, Ian, “China as a Global Maritime Power: Opportunities and Vulnerabilities”, dalam Australia and Its Maritime Interests: At Home and in the Region. Commonwealth of Australia, Sea Power Center, 2008, hal.109
[iii]. Op.cit, hal.9
[iv]. Ibid, hal.28
[v]. U.S. Department of Defense, Quadrennial Defense Review Report 2006, hal.vi
[vi]. Ibid, hal.48
[vii]. Ibid, hal.49
[viii]. Office of Naval Intelligence, China’s Navy 2007, hal.23
[ix]. Ibid, hal.24
[x]. Ibid, hal.24-25
[xi]. Erickson, Andrew and Goldstein, Lyle, “Gunboats For China’s New “Grand Canals”?, dalam Naval War College Review, Spring 2009, Vol.62.No.2, hal.44
[xii]. Ibid, hal.47
[xiii]. Office of Naval Intelligence, Op.cit hal.25
[xiv]. Ibid, hal.26
[xv]. Ibid
[xvi]. Ibid, hal.27
[xvii]. Ibid, hal.30
[xviii]. U.S. Department of Defense, Op.cit, hal.11-12
[xix]. Mengacu pada referensi dari Angkatan Laut Amerika Serikat, zhongdui tidak mempunyai padanan yang tepat dalam Bahasa Inggris. Namun secara umum zhongdui adalah satuan kapal perang yang lebih kecil daripada skuadron.
[xx]. Office of Naval Intelligence, Op.cit hal 55
[xxi]. Ibid, hal.58
[xxii]. Ibid, hal.76

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x
Share via
Copy link
Powered by Social Snap