ANALISIS TERHADAP STRATEGI MILITER MARITIM INDIA

Oleh: Alman Helvas Ali

1. Pendahuluan 

Angkatan Laut Indiapada Mei 2007 telah menerbitkan dokumen bertajuk Freedom to use the Seas: India’s Maritime Military Strategy. Dalam dokumen yang terdiri dari sembilan bab itu, diuraikan tentang aspirasi geopolitik India hingga strategi employment di masa damai dan konflik serta strategi pembangunan kekuatan (Angkatan LautIndia). Strategi Militer MaritimIndia merupakan panduan bagi Angkatan Laut dalam bidang perencanaan dan operasi di masa kini dan ke depan.

Seperti pernah ditulis sebelumnya, Indonesiadalam hal ini TNI Angkatan Laut akan lebih banyak berinteraksi dengan Angkatan Laut Indiadi tahun-tahun mendatang seiring terwujudnya The Indian Navy Vision 2022. Oleh karena itu, pemahaman yang mendalam terhadap strategi maritimIndia dipandang perlu untuk mengantisipasi perkembangan ke depan. Tulisan ini akan menganalisis tentang Strategi Militer Maritim India secara lengkap.

2. Pandangan Umum 

Strategi Militer Maritim India terdiri dari sembilan bab, yang terbagi atas Bab I Strategi Militer Maritim Dalam Perspektif, Bab II Implikasi Sejarah Maritim Terkini, Bab III Kawasan Samudera India dan Geopolitiknya. Selanjutnya Bab IV Perdagangan Maritim dan Keamanan Energi, Bab V Maritime Domain Awareness. Berikutnya Bab VI Strategi Penggunaan Kekuatan Di Masa Damai, Bab VII Strategi Penggunaan Kekuatan Di Masa Konflik, Bab VIII Strategi Pembangunan Kekuatan dan Bab IX Penutup.

Pada Bab I, diulas tentang Strategi Militer Maritim Dalam Perspektif. Di dalam bab ini diuraikan hubungan antara kepentingan nasional, tujuan keamanan nasional dan kebijakan keamanan nasional. Kebijakan keamanan nasional tersebut akan mensinergikan semua komponen kekuatan nasional untuk mencapai tujuan-tujuan keamanan nasional melalui grand strategy.[i]

Sebagaimana dijelaskan pada Sub Bab Grand Strategy, dalam sistem keamanan nasional yang berlaku di India, grand strategy akan diturunkan menjadi strategi militer gabungan (joint military strategy). Strategi militer gabungan terbagi dalam tiga turunan sekaligus, di antaranya adalah strategi maritim. Dengan kata lain, posisi Strategi Militer Maritim India dalam tataran sistem keamanan negeri itu sangat jelas, sehingga peran, misi dan tugas operasional Angkatan Laut-nya fondasinya juga sangat jelas.

Dibahas pula tentang hubungan antara doktrin dan strategi. Dinyatakan bahwa doktrin merupakan turunan dari kebijakan-kebijakan pemerintah dan doktrin adalah turunan dari doktrin.[ii] Pemahaman demikian sudah sesuai dengan pemahaman universal mengenai hubungan antara doktrin dan strategi. Diterbitkannya Strategi Militer Maritim India menyusul diluncurkannya Doktrin Maritim India pada 2004 mencerminkan bahwa dokumen itu memang merupakan turunan dari doktrin yang dianut.

Kerangka Waktu dan Tujuan-tujuan Strategi Militer Maritim juga diuraikan pada bab ini. Strategi Militer Maritim India disusun untuk bekerja dalam kerangka waktu hingga 15 tahun ke depan, dengan mempertimbangkan dua faktor. Pertama adalah kondisi India dan kedua yaitu perkembangan teknologi.

Kondisi India yang dimaksud adalah negeri itu tengah membangun untuk melaksanakan transformasi dari status negara berkembang menuju negara maju. Strategi maritim yang disusun saat ini dipandang akan mampu mengamankan aspirasi kepentingan nasional India yang masih berstatus negara berkembang. Namun dalam 15 tahun ke depan, bisa jadi status India telah meningkat menjadi negara maju sehingga aspirasinya mengalami perluasan dibandingkan saat ini.

Perubahan itu akan diikuti pula strategi keamanan nasionalnya, termasuk pula strategi maritim.

Begitu pula dengan teknologi, yang mana India menyesuaikan perkembangan teknologi yang dikuasainya dengan strategi maritim yang dirancang. Dalam Strategi Militer Maritim India, perkembangan teknologi difokuskan pada teknologi yang berkaitan dengan maritim. Dengan kata lain, teknologi yang dimaksud tidak semata yang mempunyai keterkaitan langsung dengan sistem senjata Angkatan Laut, tetapi teknologi lain yang memiliki relevansi dengan aktivitas manusia pada domain maritim.

Tujuan dari Strategi Militer Maritim adalah (i) it is a design for relating ends to means, (ii) it is a significant tool in maritime planning because it provides the rationale for the application of maritime power flexibility over a range of contingencies and areas dan (iii) preparation for conflict is critical for ensuring that deterrence is effective. Ends dari Strategi Militer Maritim adalah penangkalan, baik konvensional maupun strategis. Untuk menciptakan penangkalan itu, means–nya adalah a three-dimensional, versatile, blue water Navy, manned by our skilled human resources.[iii]

Penyusunan suatu strategi maritim pasti didorong pula oleh key determinants. Begitu pula dengan Strategi Militer Maritim India, yang key determinants-nya adalah an era of violent peace, growing sea dependence, India’s maritime geography, supporting foreign policy, influencing operations ashore, the importance of joint operations, maritime domain awareness, role of air power, capability prioritization dan national maritime infrastructure.[iv]

India sangat memperhatikan pengalaman sejarah maritimnya di era modern. Oleh karena itu, pada Bab II tentang Implikasi Sejarah Maritim Terkini, terdapat Evolusi Strategi MaritimIndiamendapat tempat tersendiri. Evolusi itu mulai dari saat India dijajah Inggris saat Angkatan Laut India bernama Royal Indian Navy hingga Perang 1965 dan 1971 melawan Pakistan. Selain itu, dalam salah satu sub bab diulas pula pengalaman operasi militer selain perang yang pernah dilaksanakan oleh Angkatan Laut India.

Dalam sub bab ini, penekanan bukan pada keberhasilan operasi yang dicapai, tetapi lebih pada lesson learned apa yang bisa diambil dari operasi-operasi yang digelar di masa lalu dan impaknya terhadap perencanaan Angkatan Laut di masa-masa berikutnya. Misalnya dalam Perang 1971, Angkatan Laut India menilai kemampuan maritime domain awareness (MDA) mereka jauh dari cukup, karena alutsista pendukungnya terbatas. Begitu pula menyangkut sustainability and reach, yang di masa itu kapal perang India sebagian besar time between overhaul-nya kurang dari 60 hari x 24 jam.[v] Akibatnya, kapal perang tersebut tidak dapat dieksploitasi secara maksimal selama masa sebelum dan sesudah konflik, walaupun sistem senjatanya cukup mematikan.

Bab III membahas Kawasan Samudera India dan Geopolitiknya. Sub bab pertama membahas tentang Choke Points Samudera India. Menurut pandangan Angkatan Laut India, terdapat tujuh choke points di Samudera India yang lima di antaranya adalah SLOC energi kunci. Hambatan terhadap salah satu atau beberapa choke points dapat mengganggu perdagangan lewat laut dan kerawanan yang tak terkontrol terhadap harga minyak dan komoditas, yang memicu pada pergolakan terhadap ekonomi global.[vi] Kesembilan choke points itu berturut-turut adalah Selat Hormuz, Terusan Suez, Selat Bab-El-Mandeb, Selat Malaka, Selat Lombok, Selat Sunda, Six Degree Channel, Nine Degree Channel dan Tanjung Harapan.

Sebagai respon terhadap perkembangan lingkungan strategis di Samudera Indiadan sekitarnya, Indiamelakukan sejumlah inisiatif politik guna menata kawasan itu sesuai dengan Indian political system. Inisiatif-inisiatif itu dibahas pada sub bab Inisiatif-inisiatif Kebijakan Luar Negeri Yang Tengah Berjalan, yang dalam pembahasannya dikelompokkan berdasarkan kawasan, yaitu tetangga dekat (immediate neighbourhood), Asia Tenggara, Teluk dan Asia Barat, Afrika,Eurasia, Eropa dan Amerika.

Sub bab berikutnya adalah Faktor-faktor Geopolitik Yang Berkontribusi Terhadap Konflik. Dari persepsi India, terdapat empat faktor yang memiliki sumbangan terhadap konflik di Samudera India, yaitu kegagalan negara dan asal mula konflik, sengketa maritim dan teritorial, kecenderungan populasi dunia dan resiko populasi bagi kawasan Samudera India.[vii]

Selanjutnya mengupas tentang terorisme, Indiamengidenfikasi tiga isu penting menyangkut hal tersebut. Yaitu Al Qaida dan jaringannya, Jemaah Islamiyah dan maritime trafficking. Ketiga isu mendapat perhatian dari Angkatan Laut India, karena dapat mengancam stabilitas Samudera India, termasuk choke points yang terletak di sekitar perairan itu.

Isu Keberagaman di kawasan Samudera Indiamendapat tempat pula dalam Bab III. Indiamenilai bahwa di kawasan ini terdapat sejumlah keberagaman, baik dari segi populasi, sumber daya alam, ekonomi, terorisme, konflik dan ancaman lintas negara dan keragaman pada bencana alam. Khusus tentang yang terakhir, menurut Indiakawasan ini merupakan locus dari 70 persen bencana alam dunia.[viii]

Isu geopolitik lainnya adalah Penilaian Terhadap Maritim Regional dan Kecenderungan-kecenderungan Angkatan Laut Ekstra Kawasan. Menyangkut hal yang pertama, isu yang dicakup meliputi instabilitas di Teluk, Asia Barat dan Afrika, menguatnya kelompok Hizbullah di Lebanon dan ancaman terorisme maritim. Isu selanjutnya adalah pembangunan kekuatan Angkatan Laut negara-negara di Samudera Indiadengan mengadopsi teknologi terbaru seperti kapal selam berteknologi air independent propulsion (AIP).[ix] Meskipun terdapat kecenderungan pembangunan kekuatan laut yang demikian, namun di sisi lain terdapat kecenderungan peningkatan kerjasama antar negara di Samudera India untuk menanggulangi ancaman keamanan maritim.[x]

Sub Bab Kecenderungan-kecenderungan Angkatan Laut Ekstra Kawasan membahas tentang kehadiran Angkatan Laut dari negara-negara lain di SamuderaIndia. Meskipun tidak menyebutkan Angkatan Laut negara tertentu, dari uraian secara  tersirat salah satu fokusnya adalah kehadiran Angkatan Laut Amerika Serikat di perairan itu untuk melaksanakan operasi di Afghanistandan Irak. Namun demikian, tujuan strategis kehadiran Angkatan Laut tersebut tidak dipandang bertentangan dengan kepentingan strategis India, malah sebaliknya terdapat kesamaan kepentingan, yaitu memerangi terorisme dan fundamentalisme, menjamin keamanan SLOC dan pencegahan proliferasi senjata pemusnah massal.[xi]

Justru yang menjadi kekhawatiran Indiaadalah Cina yang juga berambisi menjadi blue water navy. Program modernisasi Angkatan Laut Cina seperti proyeksi kapal induk, kapal selam nuklir dan rudal jelajah dan balistik bersama dengan upaya Cina memperoleh pijakan di kawasan Samudera India disorot dalam sub bab ini.[xii] Seperti diketahui, sementaraIndia berusaha untuk mencegah Cina mempunyai pijakan di SamuderaIndia, Cina memanfaatkan hubungan baiknya denganPakistan danMyanmar untuk memperoleh pijakan dimaksud.

Bab IV membahas tentang Perdagangan Maritim dan Security of Energy. Samudera India sebagai jalur SLOC internasional bernilai strategis bukan saja bagi negara-negara lain, tetapi juga bagi India. Negeri itu tercatat sebagai negara yang mempunyai armada niaga terbesar ke-15 di dunia, sehingga kontribusi perdagangan maritim cukup signifikan terhadap kinerja ekonominya.

Samudera India juga merupakan jalur energi yang dibawa dari Asia Barat menuju kawasan Asia Timur. Dalam Strategi Militer Maritim India, dibedakan definisi antara energy security dan security of energy. Energy Security adalah fungsi dari beragam faktor yang berinteraksi, termasuk sumber suplai sumberdaya energi, ketersediaan energi di masa kini dan mendatang pada harga yang bersaing, proyeksi kebutuhan energi berdasarkan pada tingkat konsumsi saat ini dan pertumbuhan ekonomi yang diharapkan, rasio antara energi tradisional dan komersial dan lain sebagainya.[xiii]

Sedangkan security of energy mencakup sarana militer dan quasi militer yang diadopsi untuk menggarisbawahi kerawanan suplai energi. Isu security of energy lebih terkonsentrasi pada keselamatan dan keamanan aset-aset energi di wilayah littoral, garis perhubungan laut, sumber asal energi dan juga tempat penyimpanan dan jaringan distribusi.[xiv]

Mengingat pentingnya isu energy security dan security of energy, salah satu sub bab membahas tentang Kebutuhan EnergiIndia versus Ketersediaan Di Dalam Negeri. Sub bab ini mengupas tentang kebutuhan energiIndia, fasilitas minyak dan gas lepas pantai, sumber utama minyak mentah dan cadangan strategis energi. Pada bagian akhir dari sub bab ini menekankan tentang sumber energiIndia yang berada di luar wilayah kedaulatan dan implikasinya terhadap Angkatan Laut India.

Sub bab berikutnya mengulas tentang Strategy for Security of Energy. Menghadapi isu security of energy, India mengembangkan strategi yang menggunakan pendekatan banyak rupa (multi-faceted approach), baik pada ranah domestik maupun internasional. Pendekatan pada ranah domestik melibatkan berbagai instansi yang terkait, dengan berbagai langkah seperti information sharing antar instansi, perlindungan perkapalan, investasi aset untuk meningkatkan kemampuan maritim guna melindungi infrastruktur minyak dan gas di kawasan pantai dan institusionalisasi SOP untuk pengamanan infrastruktur minyak dan gas yang berada di seberang lautan.

Adapun pada ranah internasional, langkah yang dilakukan Indiaadalah kerjasama untuk meningkatkan MDA dengan negara-negara lain, pengembangan kemampuan respon multinasional lewat latihan maritim bilateral dan multilateral untuk mencapai interoperability, dan meningkatkan upaya-upaya pemeliharaan perdamaian (peacekeeping). Isu MDAyang digagas oleh Amerika Serikat dalam ranah internasional untuk meningkatkan keamanan maritim direspon oleh banyak pihak, sehingga tidak aneh bila hal itu tercantum pula dalam Strategi Militer Maritim India.

Terkait dengan hal tersebut, Bab V membahas tentang Maritime Domain Awareness. Sub bab pertama mengupas Kawasan Kepentingan MaritimIndia, yang menyoroti isu demarkasi perbatasan maritimIndia denganlima negara (Indonesia,Maladewa,Myanmar, Srilanka danThailand) yang telah diselesaikan. Di sini terdapat tabel yang menerangkan tentang kesepakatan delimitasi maritim yang telah tercapai dengan kelima negara, baik menyangkut landas kontinen, perbatasan bilateral, perbatasan trilateral dan perairan bersejarah.

Berikutnya adalah Kawasan Kepentingan Terfokus. India membagi kawasan kepentingannya menjadi dua klasifikasi, yaitu primary areas dan secondary areas. Primary areas meliputi Laut Arab dan Teluk Benggala, choke points menuju dan dari Samudera India yakni Selat Malaka, Selat Hormuz, Selat Bab-El-Mandeb dan Tanjung Harapan, negara-negara pulau di Samudera India, Teluk Persia yang merupakan sumber utama suplai minyak India dan SLOC utama yang melewati kawasan Samudera India.[xv] Adapun secondary areas mencakup kawasan bagian selatan Samudera India, Laut Merah, Laut Cina Selatan dan kawasan Pasifik Timur.[xvi]

Dengan memperhatikan kondisi aset Angkatan Laut Indiakini, di dalam dokumen ditekankan bahwa strategi saat ini hanya akan difokuskan pada areas of primary interest. Artinya, setidaknya hingga 15 tahun mendatang sesuai dengan masa berlakunya Strategi Militer Maritim India, Angkatan Laut India akan memfokuskan operasinya pada primary areas saja. Apabila The Indian Navy Vision 2022 sudah tercapai, sangat mungkin ada perubahan kawasan mana saja yang tergolong sebagai primary areas dan secondary areas.

Untuk mengantipasi peristiwa yang terjadi di primary areas yang dapat mengancam kepentingan nasional India, tercantum Skenario Yang Mungkin Bagi Penggunaan Kekuatan Militer Oleh Angkatan Laut India. India merancang delapan skenario terkait hal tersebut, yaitu konflik dengan negara tetangga atau kekuatan ekstra kawasan, operasi bantuan kepada negara tetangga, operasi anti terorisme, menjamin good order at sea, pemeliharaan perdamaian, menjamin keselamatan dan keamanan SLOC di Samudera India, melindungi diaspora India dan kepentingan India di luar negeri dan humanitarian assistance and disaster relief (HADR).[xvii]

Untuk memenuhi peran, misi dan tugas dari delapan skenario yang dikembangkan, maritime domain awareness dipandang sebagai persyaratan awal yang mutlak. Menurut Strategi Militer Maritim India, maritime domain awareness bersifat esensial bagi pengambilan keputusan pada semua tingkatan operasi, baik strategis, operasional maupun taktis.[xviii] Untuk menciptakan maritime domain awareness,India  membagi  pengamatan  padalima tingkat, yaitu pada pengamatan untuk mendukung operasi pada tingkat taktis dan teater, pengamatan terhadap choke points dan kawasan vital, pengamatan masa damai secara periodik, misi pengamatan pada waktu tertentu (occasional) dan pengamatan untuk mendukung LIMO (low intensity maritime operations). Angkatan Laut India, sebagaimana tercantum dalam Strategi Militer Maritim India, mengandalkan pengamatan menggunakan electronical surveillance.

Bab VI mengulas tentang Strategi Penggunaan Di Masa Damai. Sebagaimana pada dokumen strategi lainnya, elemen pertama penggunaan kekuatan pada masa damai adalah penangkalan. India membagi tiga bentuk postur penangkalan, yaitu strategis, nuklir dan konvensional. Penangkalan strategis bertujuan untuk mempertahankan status quo dan melibatkan semua elemen kekuatan nasional dan pengaruh internasional.[xix]

Untuk menciptakan penangkalan, dibutuhkan strategi yang oleh India dirumuskan ke dalam empat bentuk, yang dibahas dalam Sub Bab Strategi Untuk Memungkinkan Penangkalan. Meliputi improvement in combat efficiency, ensuring forward presence, improving reach and sustainability dan information capability.[xx] Information capability sendiri dikelompokkan dalam tiga bentuk, yaitu intelijen, pengamatan dan jaringan dan membangun kemitraan.

Selanjutnya dibahas tentang Strategi Untuk Peran Diplomatik. Indiamengelompokkan peran diplomasi Angkatan Laut dalam dua bentuk, yaitu maritime diplomacy dan maritime cooperation. Menyangkut kerjasama maritim, India menetapkan Vision for Maritime Cooperation yang terdiri dari empat butir.[xxi] Yakni menciptakan lingkungan maritim yang favourable di kawasan Samudera India pada masa damai dan konflik, mencegah penyusupan (incursion) oleh kekuatan yang tidak bersahabat terhadap kepentingan nasional India melakukan pelibatan aktif terhadap negara-negara di kawasan Samudera India, melibatkan Angkatan Laut kawasan dan kekuatan ekstra kawasan dalam kegiatan-kegiatan yang saling menguntungkan untuk menjamin keamanan kepentingan maritim India dan memproyeksikan Angkatan Laut India  sebagai  kekuatan yang  profesional, kredibel  dan  alat utama bagi kerjasama maritim. Di sini pembahasan lebih banyak dituangkan mengenai kerjasama maritim daripada diplomasi Angkatan Laut.

Strategi Untuk Peran Konstabulari dituangkan dalam sub bab berikutnya. Dalam peran konstabulari, Indiamembaginya ke dalam dua bentuk, yaitu Low Intensity Maritime Operations (LIMO) dan Maintaining Good Order at Sea.[xxii] Apabila diperhatikan, perbedaan antara LIMO dengan maintaining good order at sea di dalam Strategi Militer Maritim India cukup tipis, karena keduanya seringkali mencakup isu yang sama, yaitu terorisme maritim, pembajakan dan penyelundupan.

Berikutnya adalah Strategi Untuk Peran Benign (peran di masa damai). Peran benign pada Angkatan Laut India meliputi humanitarian assistance and disaster relief (HADR), non-combatant evacuation operations, hidrografi dan building maritime consciousness yang didukung oleh strategic communications.[xxiii] Adanya peran benign dalam Strategi Militer Maritim India tidak lepas dari pengaruh doktrin Angkatan Laut Inggris yang juga mengenal peran tersebut.

Bab VII membahas tentang Strategi Penggunaan Kekuatan Di Masa Konflik. Dalam pembukaan bab ini dijelaskan tentang cara Angkatan Laut untuk mempengaruhi keluaran dari konflik, yaitu menggunakan metode indirect operations dan direct operations. Seiring dengan perkembangan teknologi, Angkatan Laut India masa kini membutuhkan kemampuan untuk menggunakan secara maksimal kedua pendekatan untuk to address pertempuran darat dengan tujuan mempengaruhi peristiwa-peristiwa di darat. Terkait dengan hal itu, India memandang bahwa implikasinya adalah negara itu harus mempunyai kemampuan ekspedisionari.[xxiv]

Karena perkembangan lingkungan strategis yang ditandai dengan perubahan spektrum konflik dan ancaman serta revolution in military affairs, India menyadari perlunya suatu strategi baru untuk menghadapi situasi tersebut. Strategi lama berjudul A Maritime Military Strategy for India 1989-2014 yang telah meletakkan tugas-tugas bagi penggunaan kekuatan Angkatan Laut di masa konflik dinilai tidak dapat lagi mengakomodasi perkembangan lingkungan strategis.

Oleh karena itu, strategi baru yang dikembangkan dalam India’s Maritime Military Strategy berfokus pada durasi dan intensitas konflik, tempo operasi, analisis ancaman, operasi terfase, all-arms battle, operasi dukungan, tata operasional baru, fase gabungan operasi, isu perencanaan, indeks struktur kekuatan, exclusion zones dan aturan pelibatan dan pre-emption and windows of opportunity.[xxv]

Bab VII membahas tentang Strategi Pembangunan Kekuatan. Pada bab ini diuraikan tiga prinsip dasar pembangunan kekuatan laut Indiake depan, yaitu konsep kemandirian dan indigenesation, menghasilkan kesiapan tempur dan lompatan katak teknologi untuk menjembatani kesenjangan dengan negara maju dan akibat lanjutannya melalui investasi pada ilmu pengetahuan dan teknologi, infrastruktur uji coba dan kemitraan dengan perguruan tinggi.[xxvi]

Dalam pembangunan kekuatan, diidentifikasi delapan faktor pendorong bagi Angkatan Laut India. Yaitu maritime domain awareness, enhanced reach and sustainability, operasi anti kapal selam, operasi anti (serangan) udara, operasi ekspedisionari, operasi gabungan, operasi khusus dan peperangan ranjau.[xxvii] Terkait dengan hal itu, pembangunan kekuatan laut akan senantiasa dituntun oleh tiga faktor yaitu perencanaan jangka panjang dan alokasi anggaran dan pembangunan kompetisi inti (pada galangan kapal, pabrik pesawat udara dan industri pertahanan).

Untuk mencapai pembangunan kekuatan Angkatan Laut India, dibutuhkan investasi pada sejumlah teknologi masa depan. Dalam Strategi Militer Maritim India, bidang investasi yang ditetapkan mencakup teknologi informasi dan komunikasi, teknologi nano dan teknologi evolusioner.[xxviii] Teknologi evolusioner meliputi sumber daya pembangkit, teknologi propulsi, teknologi angkasa, teknologi senjata, teknologi targeting/navigasi presisi, wahana tanpa awak, simulator dan teknologi computing.

Bab IX merupakan Penutup, yang menguraikan tentang mengapa dokumen India’s Maritime Military Strategy diterbitkan. Dijelaskan bahwa dokumen ini diterbitkan untuk memberikan alasan rasional bagi Angkatan Laut India untuk merencanakan pengadaan dan penyebaran aset-aset di lingkungan maritim yang diharapkan dihadapi. Tak luput pula ditegaskan India sebagai negara demokratis dengan ekonomi yang kuat, modern, berpandangan sekuler dan profil penduduknya yang dinamis, mempunyai semua atribut menjadi kekuatan utama yang potensial. Dokumen strategi tersebut merupakan dokumen yang deliberated dalam Angkatan Laut.

3. Hubungan Antara RMA Dengan Operasi 

Setelah mendalami Strategi Militer Maritim India, terdapat beberapa butir penting yang patut untuk digarisbawahi, terlebih lagi dikaitkan denganIndonesiayang masih mencari bentuk konstruksi keamanan nasionalnya dan bagaimana peran TNI Angkatan Laut di dalam konstruksi itu.

Pertama, kepentingan nasional. Terkait dengan Samudera India, kepentingan nasional Indiasangat jelas yaitu menciptakan India political system di kawasan perairan itu. Untuk itu, dibutuhkan Angkatan Laut yang berstatus blue water navy yang mampu disebarkan ke kawasan SamuderaIndia sebagai kekuatan penangkal dan pemukul. Dalam Strategi Militer MaritimIndia, tergambar dengan jelas benang merah antara kepentingan nasionalIndia dengan Angkatan LautIndia sebagai salah satu instrumen kekuatan nasional sangat jelas dalam sistem keamanan nasional negeri itu.

Adanya benang merah antara kepentingan nasional dengan Angkatan Laut akan memudahkan Angkatan Laut di segala bidang, mulai dari pembangunan kekuatan hingga penggunaan kekuatan. Dengan kata lain, Angkatan Laut tidak akan dipusingkan dengan masalah-masalah di bidang tersebut, karena sudah menjadi komitmen politik pemerintah untuk membangun Angkatan Laut. Hal inilah yang terjadi di India dan tidak heran bila Angkatan Laut negeri itu mempunyai The Indian Navy Vision 2022,yang akan diperkuat oleh sekitar 160 lebih kapal perang, termasuk tiga kapal induk, 60 kapal kombatan atas air dan kapal selam dan hampir 400 pesawat udara berbagai tipe.[xxix]

Kedua, pengalaman operasi. Suatu strategi yang dirancang akan lebih membumi sekaligus diharapkan dapat menjawab tantangan ke depan tanpa melupakan sejarah di masa lalu. Kata kuncinya adalah kemauan dan keberanian menjadikan pengalaman operasi di masa lalu sebagai lesson learned. Materi pengalaman operasi yang menjadi lesson learned bukan saja tentang keberhasilan, tetapi juga kegagalan atau kekurangan yang terjadi.

India yang sejak hari-hari awalnya berdiri sebagai negara merdeka hingga hari ini masih menghadapi ancaman nyata dari negara tetangganya, mempunyai beragam pengalaman operasi Angkatan Laut. Kekayaan pengalaman itu dijadikan salah satu acuan dalam menyusun strategi maritim. Pengalaman itu pula yang menjadi pendorong kemampuan apa saja yang harus dimiliki di masa depan, agar kegagalan atau kekurangan di masa lalu tidak terulang kembali.

Ketiga, pemahaman geopolitik. Seperti dinyatakan oleh Geoffrey Till dalam Maritime Strategy in the Nuclear Age, strategi tidak bekerja di alam vakum. Pernyataan itu dipahami betul oleh para perencana strategis Angkatan LautIndia dalam menyusun Strategi Militer MaritimIndia, bahwa untuk mengoperasionalkan strategi maritim, harus melihat kondisi di alam nyata yang kompleks, multidimensi dan saling terkait. Keterkaitan antara strategi dengan kondisi di alam nyata merupakan salah satu isu kritis dalam penyusunan strategi, karena kegagalan untuk menghubungkan keduanya akan mempengaruhi rumusan strategi menjadi sesuatu tidak bisa dioperasionalkan.

Angkatan Laut di mana pun, sampai kapan pun akan senantiasa terkait dengan geopolitik, sebab Angkatan Laut beroperasi dalam bingkai geopolitik. Oleh karena itu, pemahaman akan geopolitik dalam menyusun strategi maritim merupakan hal yang absolut. Tanpa itu, strategi yang dihasilkan tidak akan membumi atau tidak dapat diturunkan menjadi menjadi bentuk-bentuk operasional.

Keempat, proliferasi MDA. MDAsaat ini merupakan kecenderungan global pada berbagai Angkatan Laut di dunia. Berubahnya spektrum konflik menuntut Angkatan Laut di seluruh dunia untuk mempunyai data dan informasi yang (nyaris) real time tentang wilayah di mana mereka beroperasi dan sekaligus dapat berbagi informasi dengan Angkatan Laut-Angkatan Laut lainnya. Konsep MDAyang dirancang oleh Amerika Serikat secara tersirat harus diadopsi oleh negara-negara lain, khususnya elemen-elemen maritim.

Angkatan Laut Indiasebagaimana tampak dalam Strategi Militer Maritim India, sangat responsif sekaligus adaptif terhadap konsep itu. Responsif dalam arti mereka segera mengadopsi konsep itu dengan sumber daya yang tersedia saat ini, sedangkan adaptif maksudnya konsep itu direkayasa ulang agar dapat bekerja dalam bingkai kepentingan nasionalnya. Karena salah satu kepentingannya nasionalnya adalah menciptakan Indian political system di kawasan Samudera India, maka MDAyang diadopsi harus bekerja untuk mendukung hal tersebut. Pembahasan lebih lanjut mengenai adopsi MDA di Angkatan LautIndia akan diuraikan pada bagian lain dari tulisan ini.

Kelima, aplikasi revolution in military affairs. Revolution in military affairs (RMA) bukan hal baru dalam tubuh Angkatan LautIndia. Dalam Strategi Militer MaritimIndia, tergambar dengan jelas bahwa Angkatan LautIndia masa kini dan masa depan akan terus menerapkan RMA dalam pembangunan dan penggunaan kekuatannya. Salah satu bentuknya adalah melalui adopsi MDA, Angkatan LautIndia akan tergantung pada alat penginderaan tak berawak untuk mendukung operasinya.

Aplikasi RMA yang intensif di tubuh Angkatan Laut Indiatidak dapat dilepaskan pula dengan kondisi penguasaan teknologi Indiasecara nasional. Indiakini merupakan negara berkembang yang mampu mengembangkan teknologi di berbagai bidang dengan kualitas yang mampu bersaing dengan buatan negara-negara maju. Dalam bidang teknologi informasi yang merupakan salah satu tulang punggung MDA misalnya, negeri itu mempunyai kotaBengalore yang telah menjadi Silicon Valley-nya India. Pencapaian dalam penguasaan teknologi itu pula yang menjadi pendukung pembangunan kekuatan Angkatan Laut India menuju status blue water navy.

Keenam, penggunaan kekuatan. Penggunaan kekuatan dalam Strategi Militer Maritim India terbentang dari peran benign hingga konflik nuklir. Satu hal yang patut untuk digarisbawahi adalah Angkatan Laut India tidak meninggalkan peran konstabulari meskipun negeri itu telah memiliki Coast Guard. Kondisi itu membuktikan eksistensi peran konstabulari Angkatan Laut di mana pun tidak akan hilang atau terhapus dengan keberadaan Coast Guard, seperti yang dikhawatirkan beberapa pihak di Indonesia.

Berikutnya menyangkut dalam peran benign. Dari empat liputan peran benign yang dirumuskan, setidaknya isu HADR dan non-combatant evacuation operations (NOE Ops) patut untuk diperhatikan dengan seksama. Prediksi perkembangan lingkungan strategis setidaknya hingga 10 tahun ke depan, kawasan Samudera India dan sekitar akan terus mengalami perubahan di segala bidang. Termasuk pula dinamika kebumian, oleh karena kawasan ini merupakan ring of fire dan sekaligus pertemuan lempeng-lempeng bumi.

Artinya, potensi bencana alam besar seperti gempa dan tsunami di Aceh, Srilanka dan Thailand pada 26 Desember 2004 sangat besar. Berkaca pada operasi HADR yang digelar Angkatan Laut Amerika Serikat di kawasan Samudera India sebagai respon terhadap gempa dan tsunami, India kini merancang kekuatan lautnya untuk mampu melaksanakan operasi serupa. Masalahnya adalah HADR langsung atau tidak langsung mempunyai keterkaitan agenda politik tersembunyi dari negara pelaksana, yang seringkali kurang disadari oleh negara tuan rumah, misalnya menanamkan pengaruh.

NOE Opssemestinya tidak luput pula dari perhatian, karena secara tersirat diuraikan dalam Strategi Militer Maritim India bahwa operasi itu akan digelar pada negeri-negeri di mana banyak terdapat warga negara India dan atau komunitas India. Angkatan Laut India yang dirancang untuk memiliki kemampuan operasi ekspedisionari dipastikan mampu melaksanakan NOE Ops sebagaimana terlihat pada Perang Lebanon Juli-Agustus 2006. Masalahnya adalah bagaimana pola interaksi antara Angkatan Laut India dengan negara yang menjadi sasaran NOE Ops.

Dalam operasi Angkatan Laut masa kini dan masa depan, peperangan informasi merupakan bagian yang vital. Dalam Strategi Militer Maritim India, information dominance dengan segenap enabler-nya (net-centric warfare, electronic surveillance, ocean surveillance, littoral surveillance, electronic warfare, intelligence) dirancang sebagian bagian tak terpisahkan dari fase operasi. Angkatan Laut India kini menyadari bahwa untuk menciptakan pengendalian laut (sea control) dan atau pencegahan penggunaan laut oleh lawan (sea denial), harus didukung oleh terciptanya information dominance terlebih dahulu.

Mengapa demikian? Karena upaya menciptakan pengendalian laut dan atau pencegahan penggunaan laut oleh lawan di era sekarang tidak dapat lagi menggunakan metode-metode lama, yang mana informasi yang terkumpul belum bersifat real time. Perang di masa kini, termasuk di laut, salah satu kunci kemenangannya adalah pada siapa yang lebih dahulu “menguasai” informasi battlespace, sebab informasi itulah yang akan menuntun penentuan cara bertindak untuk mengalahkan lawan.

Guna mewujudkan information dominance, aplikasi RMA dan adopsi MDA merupakan prasyarat mutlak. Aplikasi RMA dan adopsi MDA sudah pasti akan mengubah strategi yang selama ini dianut oleh Angkatan Laut, sebab keduanya mengubah paradigma dan karakter operasi di laut. Bila kini Angkatan Laut India mengubah strategi maritimnya, hal itu merupakan konsekuensi dari dari aplikasi RMA dan adopsi MDA.

Ketujuh, pembangunan kekuatan. Pendekatan yang digunakan dalam pembangunan kekuatan, sebagaimana diuraikan dalam Strategi Militer Maritim India, menggunakan pendekatan komprehensif. Angkatan Laut India sangat sadar akan karakteristiknya sebagai kekuatan yang sarat teknologi, sehingga dukungan dari dunia industri dan dunia pendidikan merupakan keharusan. Oleh sebab itu, di dalam dokumen itu disebutkan tiga kompetensi inti yang harus mendukung pembangunan kekuatan yaitu galangan kapal, pabrik pesawat udara dan industri pertahanan.

Keterpaduan  antara Angkatan Laut dengan dunia industri senantiasa menjadi salah satu masalah pada negara-negara berkembang. Seringkali industri pertahanan nasional belum mampu memenuhi kebutuhan operasional Angkatan Laut, sehingga Angkatan Laut lebih banyak tergantung pada industri pertahanan asing. Hal demikian tidak terjadi di India yang sejak meraih kemerdekaan pada 1947, bangsa itu mempunyai karakter berupaya memenuhi sendiri segala kebutuhannya. Karakter demikian mendorong kemajuan dan kemandirian industri pertahanan India, sehingga kini mampu mendukung kebutuhan Angkatan Laut-nya.

Pada sisi lain, terdapat komitmen yang kuat dan konsisten dari pemerintah India untuk mendukung perencanaan jangka panjang pembangunan kekuatan Angkatan Laut. Keterbatasan anggaran tidak dijadikan alasan pemaaf untuk tidak membangun kekuatan laut, sebab hal itu pada dasarnya dihadapi oleh semua negara. Masalah keterbatasan anggaran dihadapi dengan sejumlah pendekatan, misalnya capability-based planning.

Terkait dengan pembangunan kekuatan, investasi yang dilaksanakan oleh Angkatan Laut India pada sejumlah teknologi masa depan yang sesungguhnya merupakan aplikasi RMA. Keputusan untuk melaksanakan investasi pada sejumlah teknologi itu merupakan keputusan visioner, karena di masa depan teknologi-teknologi itulah yang akan mewarnai sistem senjata Angkatan Laut. Negara itu menyadari bahwa salah satu cara mewujudkan dan mempertahankan keunggulan kualitas Angkatan Laut India terhadap Angkatan Laut di kawasan membutuhkan investasi pada teknologi masa depan semenjak dini.

4. Penutup 

Freedom to use the Seas: India’s Maritime Military Strategy merupakan suatu dokumen yang komprehensif mengenai strategi maritim India untuk mewujudkan aspirasi Indian political system di Samudera India dan perairan lainnya di dunia. Konstruksi keamanan nasional India yang telah terbangun dipastikan akan mendukung  tercapainya  tujuan-tujuan Strategi Militer Maritim India. Penting untuk digarisbawahi bahwa dalam strategi tersebut Angkatan Laut India sangat akomodatif terhadap aplikasi RMA dan MDA guna mewujudkan kekuatan laut India yang mempunyai deterrence di kawasan Samudera India.

Bagi Indonesia, sebaiknya bila Strategi Militer Maritim India didalami untuk memprediksi dinamika ke depan di kawasan Samudera India dan dampaknya terhadap kepentingan nasional Indonesia. Sebagai negara yang berbatasan langsung dengan Samudera India, Indonesia berada dalam lingkungan yang dicita-citakan India nantinya berada dalam Indian political system. Masalahnya adalah belum tentu Indian political system itu selaras dengan kepentingan nasional Indonesia, sehingga sudah sepatutnya bila Indonesia mengantisipasi perkembangan demikian. Termasuk di dalamnya mentransformasikan komitmen politik untuk membangun kekuatan laut yang mampu mengamankan Nusantara menjadi tataran operasional.

[i]. Integrated Headquarters of the Ministry of Defence (Navy), Freedom to use the Seas: India’s Maritime Military Strategy, May 2007, hal.1
[ii]. Ibid, hal.3
[iii].  Ibid, hal.9
[iv]. Ibid, hal.10-13
[v]. Ibid, hal.19
[vi]. Ibid, hal.25
[vii]. Ibid, hal.33-36
[viii]. Ibid, hal.40
[ix]. Ibid
[x]. Ibid, hal.41
[xi]. Ibid
[xii]. Ibid
[xiii]. Ibid, hal.46
[xiv].  Ibid, hal.47
[xv]. Ibid, hal.59-60
[xvi]. Ibid, hal.60
[xvii]. Ibid, hal.60-61
[xviii]. Ibid, hal.64
[xix]. Ibid, hal.74
[xx]. Ibid, hal.80-82
[xxi]. Ibid, hal.83
[xxii]. Ibid, hal.90-91
[xxiii]. Ibid, hal.95-97
[xxiv]. Ibid, hal.100
[xxv]. Ibid, hal.107-1113
[xxvi]. Ibid, hal.115-116
[xxvii]. Ibid, hal.117-120
[xxviii]. Ibid, hal.121-125
[xxix]. “Indian Navy Chief Admiral Sureesh Mehta Speels Out Vision 2022”, http://www.india-defence.com/reports-3954

 

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x
Share via
Copy link
Powered by Social Snap