Angkatan Laut “Kecil”, “Sedang”, “Besar” dan Peperangan Jejaring Centrik—Ulasan Singkat

  • Umum

…..It cannot be emphasized enough that [such a] model (small, medium, hard, soft, brown, blue, modern, pen) is an analytical tool and not one of prediction (atau next force structure, pen). In no way is it claimed that given certain inputs, there must be a specific naval hardware output. The subject being analyzed does not lend itself to forecasts…a much more modest and realistic objective is to expose the complexity of evolving maritime reality through the use of a model which provides a simple but realistic framework for understanding (Michael S. Lindberg, hal 13) [1].

       …..Quantitative results indicate that the smaller navy must fight dispersed and win by outscouting the enemy and attacking him effectively first. This requires a superior scouting capability, effective command & control, and communications (C3), and the ability to deliver sufficient striking power (Yao Ming Tiah, Abstrak Thesis) [2].

Melabelkan Angk Laut negara “A” kecil, sedang atau besar, ditambah kata modern, seperti apa ya jadinya? Peluang perang besar dilaut semakin kecil, perang laut lebih berorientasi ke-litoral. Kapal tempur besar (capital ships) diposisikan jauh dari littoral. Aktor Angk laut inferior menggunakan taktik menyebar, meningkatkan kekuatan tembak (firepower) dan memperkecil ruang yang akan diterobos lawan dengan menciptakan zone maritim khusus dan berbahaya (a.l: zona-zona pep ranjau, pep anti kapal selam, khusus latihan penembakan permukaan, dll~maritime‘s operational zone)[3] atau menjalankan strategi anti akses. Bisakah di-ukur dari anggaran pemerintah [4] atau besar kecilnya alut sista yang dimiliki atau pertimbangan lain? Karena pemiliknya adalah negara kecil, sedang atau akan berkembang (developed, underveloping country, dll—pengertian Ekonomi) atau dalam tahap modernisasi, transformasi atau sebagai Angkatan Laut “lunak” (soft)[5]. Literatur Angk Laut “kecil” banyak membahas tugas (task) sebagai pengapal dan pendarat pasukan, ops perdamaian & kemanusiaan, ops stabilisasi dan ops maritim skala kecil (Till menyebutnya lunak?, pen). Benarkah Angk Laut Singgapore, Selandia baru, Denmark, Portugal, Irlandia, Vietnam, temasuk “kecil”, sebaliknya Belanda, Australia, Canada, Afrika selatan, Korea selatan dan Spanyol berkategori “sedang” (medium). Angk Laut modern mengisyaratkan bahwa kapabilitas kontrol tidak terbatas di-domain maritim (termasuk udara diatas, permukaan, bawah laut, dasar laut & disemua perairan yang bisa dilayari) juga domain cyber (dampak revolusi industry 4.0 & revolution in military affairs, pen) dan domain elektronika magnetik [6].

Modernisasi adalah utilisasi system agar bisa meningkatkan kapabilitas (paling tidak) agar mengimbangi predator atau pengancam yang berjumlah lebih banyak. Modernisasi     mengait upaya memperpanjang usai pakai dan effektifitas system yang sudah terbelakang[7]. Globalisasi dan sentuhan RUM (revolusi urusan militer/rma~teknologi) membuat penggunaan konsep kontrol di-laut semakin rumit (atau semakin kabur)? Globalisasi maritim (baca: maritimisasi global) [8] adalah hubungan pasar dengan maritim dan transaksi mulai damai-konflik-perang. Tugas Angk Laut kecil, sedang atau besar sejalan dengan obyektif-nya yakni kesanggupan kontrol di-domain maritim yang semakin luas dimensinya, termasuk komunikasi dan pengawasan bawah laut (sea-bed mining). Angk laut modern dituntut meningkatkan kapabilitas kontrol sampai ke-ceruk ceruk dimensi domain maritim dan tuntutan kawal diplomasi & penangkalan melalui teknologi agar terdongkrak (leverage) kekuatan mempengaruhi-nya. Kapabilitas akan mendikte modernisasi dan effektifitas Angk Laut. Besar kecilnya Angk Laut tidaklah di-lihat dari “harga” kapabilitas [9] versus lawan atau basis deploi di-perairan coklat, hijau dan biru[10], perlu pertimbangan menentukan besar, kecil, atau coklat, hijau atau biru.

Tidak-lah “mudah” melabelkan semua itu, tanpa pemahaman definisi operasional itu, kesanggupan memilih dan mengoperasionalkan alut sista. Opsi Angk Laut kecil, sedang, besar dengan Armada coklat, hijau, biru tergantung bagaimana memanfatkan utilitas geographik dalam wadah geostrategi. Pemilik geography darat pasti sulit mengembangkan asa maritim (maritime power) dengan Angk laut besar (contoh Rusia dan Jerman)—Russia mengandalkan besarnya unit atas air dengan meriam caliber besar sedangkan Jerman dengan kapal selam-nya, kedua-nya memiliki keterbatasan akses kelaut[11]. Pemilik domain maritim seperti RI dengan sumber daya semua elemen domain maritim, potensial menopang daya hidup (survival & resilience) dan sangat berpotensi sebagai negara maritim. Opsi kekuatan Angk laut (umumnya) kecil, sedang, besar, dipengaruhi factor; pertama model struktur kekuatan militer, kedua, model akuisisi (bukan investasi) dalam bingkai total life-cycle cost; ketiga, model birokrasi yang sanggup membaca rencana dan membaca bagaimana kalkulus force structure itu [12].

  • Peran Geostrategy[13]

                                           ‘sea power was a function of strategic geography as well as the possession of a fleet’ (Wolfgang Wegener)[14]

Akurasi pemikiran Spykman mengikuti pendahulunya MacKinder ihwal penguasaan jantung daratan (heartland) [15]—dasar sentra pemusatan kekuatan Nato dan kekuatan sayap (flank) di-Eropah (Rimland) ‘tuk menahan serbuan Russia. Dua (2) pendekatan pembagian kekuatan Angk Laut yakni analisis diskriptif dan fungsional[16]. Gagasan Kearsley (lebih fungsional dan sedikit diskriptif) bahwa kapabilitas tugas, struktur kekuatan dan faktor geographik bisa diterima semua pihak. Isu geostrategy meliput geopolitik, strategy dan ekonomi—konsep global now. Wolfgang Wegener, seorang Navalis[17], mengartikan bahwa variabel (pelaksanaan) strategy geography akan memberikan sumbangan besar-nya terhadap asa laut (sea power)[18]. Suatu gagasan yang membenarkan bahwa geography (plus strategy) & property domain maritim berperan penting dan sangat menentukan besar kecilnya asa laut. Ujung-ujungnya memberikan besaran potensi pertahanan, keamanan maritim dan signifikan menjamin kelancaran “peta jalan” menuju negara maritime—negara maritim menjamin dan melindungi cita-cita atau obyektif kepentingan nasional di-domain maritim [19]. Mahan percaya faktor geography (geography berbasis domain maritim, pen), sangat menentukan dan berpotensi menjamin pengembangan asa laut (sea power).

Lanjut Mahan…empat (4) dari enam (6) faktor sangat mempengaruhi dan menjamin sukses-nya negara maritim yang memiliki asa laut dengan factor dominan adalah geography. Geography mempengaruhi asa Angk Laut ditingkat nasional dan di-tingkat individu (internal) Angk Laut sendiri. Di-tingkat nasional geography memberikan justifikasi hubungan kepentingan maritim, kepentingan nasional, kepentingan maritim nasional, antisipasi ancaman di-domain maritim dan pentingnya dibangun asa maritim serta Angk lautnya. Di-lingkungan Angk Laut, geography mempengaruhi strategy, seni operasi dan taktik yang perlu diadop oleh Angk Laut sama halnya dengan pertumbuhan atau updating kalkulasi struktur kekuatan yang sedang dipelihara (fungsi manajemen Angk Laut & fungsi utama Kem/DepHan) sedang dibangun atau akan dibangun. Tidak diragukan lagi geography mempengaruhi operasional Angk Laut. Kekuatan Angk laut (naval forces) dalam perang laut banyak didikte kondisi geography. Kekuatan Angk Laut adalah produk struktur kekuatan dan dideploi di-perairan biru, hijau atau coklat[20]. Rasionalisasi ini menyisakan kesulitan kalkulus struktur kekuatan yang terbaik. Kalkulus struktur kekuatan terbaik mendatang (force structuring) berbasis skenario akurat [21]. Konsekuensi desain kekuatan Angk Laut adalah upaya agar usia pakai alut sista bisa dicapai selama mungkin—memberikan peluang harga pengalaman luar biasa bagi anak buah alut sista didunia nyata. Sisi logstik adalah disiplin menjalankan total life cycle maintenance cost agar mean-time between failure (MTBF) dari sisi maintenance semakin kecil, dengan rendahnya konsekuensi total life cycle cost yang diterapkan sampai habis masa usia pakai (ketrampilan staf logistik). Total life cycle cost menjamin control petinggi logistik tetap mengalokasikan anggaran tahun berikutnya. Pemakaian lebih 30 tahun[22] memudahkan deploi (baca: distribusi) unsur kekuatan Angk Laut—semakin lama usia pakai, semakin banyak deploi alut sista dan memudahkan mengisi ruang geographik dan keberlanjutan (sustainability) tugas di-area operasi. Deploi komponen Angk Laut guna menginterdiksi (pilihan dinamik strategi pertahanan maritim? pen)[23] lawan diluar ZEE atau dekat dengan perairan lawan atau sewaktu mengawal kapal angkut yang diproyeksikan (diluar teritori sendiri?, pen) merupakan deklarasi Angk laut  medium. Untuk mendemonstrasikan kapabilitas tempur, selain kapabilitas peperangan jejaring sentrik (network-centric warfare) butuh kapabilitas sensor eksternal (satelit, pesawat patroli maritim, pesawat kawal udara) dan jejaring komunikasi handal (reliable) serta tembok api (fire-wall) penghalang serangan cyber[24]. Opsi pilihan strategy; setelah menyeberangi laut luas dan mendekati perairan lawan, hampir dipastikan area itu dipenuhi kapal selam samudra dengan rudal anti permukaan atau kapal selam “siluman” atau kapal selam dengan torpedo jarak jauhnya dan klaster-klaster posisi ranjau—konten pilihan akan prematur menyatakan pilihan zona (strategi dinamik pertahanan maritim?, pen) dekat perairan lawan[25]. Makin mendekati perairan lawan semakin mendebarkan—hadangan rudal anti kapal permukaan, ranjau berbagai varian, kapal selam pantai, terbatas-nya ruang bermaneuvra. Bahkan semenjak masuki ZEE sudah dihadang, tanpa kapabilitas kekuatan Angk laut medium terpaksa memilih bertahan di-perairan sendiri dan bertarung—risiko hilangnya peluang mengendalikan lawan, kehilangan kontrol zona operasi dan sebaliknya didikte lawan. Pentingnya peran geographik bagi kepentingan ops maritim kekuatan Angk Laut.

Bukan di-dikte maka negara butuh Angk Laut—-negara butuh untuk membela diri. Geography bukan mendikte hanya mengajak kekuatan Angk Laut setelah nego dengan strategy ekonomik yang rasional. Thucydidas berpikiran sama dan dinyatakan oleh Francis Bacon (Lord Chancellor of England) bahwa strategy Armada Athena berbasis kebebasan (cikal bakal konsep freedom of manuevra?, pen) di-laut dan prasyarat mengkomandoi dilaut dengan konsekuensi butuh (dan harus) Angk laut. Konsep Angk Laut kecil, sedang atau besar sulit untuk diselaraskan—misal: apa manfaatnya konsep komando atau kontrol dilaut bagi Angk Laut kecil dengan ruang geographic manuevra yang kecil? Bagi Angk Laut “medium/besar” seberapa jauhkah relevansi konsep komando di-laut dan kontrolnya…dan sampai batas mana disanggupinya [26]? Bagi negara yang baru merdeka atau sedang berkembang otomatis sebagai Angk Laut kecil paling tidak memiliki alasan tepat guna mengisi area atau wilayah (baca: geography) mulai dari perairan teritorial sampai ZEE. Minimal hadir perangkat penegakkan hukum (fungsi konstabulari) [27] meski jauh dari kapabilitas ideal. Karena itu besar kecilnya Angk laut, disoroti dari tiga (3) ambisi, pertama kapabilitas memproyeksikan kekuatan maritim—berarti mengisyaratkan (deklarasi) ambisinya kapabel menginjakan kakinya di-negeri orang (dari just war ke unjust war?, pen). Kedua, konsekuensi (takdir) Angk laut negara pantai yang terpaksa mempertahankan teritori pantainya hidup-mati versus aktor lawan. Ketiga, hanya kekuatan konstabulari. Fungsi-nya mengawasi (lebih rendah dari kontrol) khusus di-zona territorial—lebih melindungi kepentingan politik dan ekonomi nasional [28]. Unit konstabulari sejalan dan berkualitas militer, paham dasar gak-kum dan keselamatan di-dalam kondisi serta lingkungan operasi yang labil. Eropah bahkan menegaskan konstabulari adalah “satuan polisi yang berstatus militer” (provost militer/pom, pen) [29]. Karena itu kualitas Angk laut perairan pantai (geographik), kecil, perairan coklat[30] dituntut memiliki kapabilitas konstabulari (militer gak-kum). Skema ini bisa digunakan sebagai pendekatan kalkulus kekuatan—bila Angk Laut tersebut kapabel memproyeksikan kekuatan (besar/medium) otomatis kapabel sebagai Angk Laut perairan pantai (littoral).

  • Angk Laut kecil atau medium?

 

We must recognize the chief characteristics of the modern era – a permanent state of what I call violent peace …the continuing and widespread existence of localized conflicts and crises …. In this age of violent peace, the Navy (sebesar apapun juga?, pen) is on the front lines already, and will be for the foreseeable future. – ADMIRAL JAMES D. WATKINS, USN.[31]

 

Semakin besar geographik maritim, dituntut konsekuensi kepemilikan asa maritim dan kapabilitas lebih besar. Sekecil apapun kekuatan Angk laut kecil dengan tingkat kapabilitas minimal tetap dituntut memberikan effek pengaruh yang dirasakan negara tetangga [32]. Besar kecilnya Angk Laut sebagai konsekuensi besar kecilnya wilayah…dan besar kecil-nya beban mendukung kepentingan nasional di-domain maritim. Makin besar kepentingan nasional yang dibangun (tingnas ~ maunya bangsa yang terbaik untuk tetap “survive”)[33], makin besar asa maritim dhi kekuatan Angk laut. Faktor-faktor  berikut merupakan pertimbangan menciptakan Angk Laut kecil, tapi berpeluang beroperasi jauh dari pangkalan-nya. Negara pantai (apalagi kepulauan) plus panjang pantai yang luar biasa, menjadi factor signifikan peningkatan asa maritim lebih besar, apapun ikon kekuatan Angk laut-nya. Panjang pantai menjadi pendorong kuat (driver) peningkatan kapabilitas dengan cara mengakuisisi kapal, pesawat yang mencukupi, menjamin dan menangkal ancaman atau predator dengan menutup lubang penetrasi yang tersebar luas.

 

Kesulitan terbesar terjadi saat menghadapi Angk laut medium & besar yang kapabel memproyeksikan kekuatan dan melindungi asset serbuan kedarat disepanjang garis pantai yang panjang itu[34]. Kemajuan teknologi senjata yang dilontarkan (ship-to-shore weapons system) membuat jarak tembak semakin jauh, diluar kesanggupan system pertahanan Angk laut kecil membalasnya. Panjang pantai menciptakan banyak pantai pendaratan dan mempersulit fokus kekuatan pertahanan negara pantai. Banyaknya pulau-pulau ideal sebagai sasaran raid amphibi semakin menambah penderitaan system pertahanan maritim negara pantai apalagi negara kepulauan. Idem ketidak hadiran factor kesulitan pendaratan seperti sedikit pantai terjal atau berkarang, beda pasang surut yang tinggi, arus kuat, atau kemudahan mendekat kepantai dari sisi ber-navigasi. Di-tambah isu tumpang tindih resim laut (teritorial, ZEE, dll)—membuat ngotot Kemhan negara pantai merancang struktur kekuatan laut (force planning) dengan basis kapabilitas setara dengan actor lain yang merasa berhak diatas zona tersebut. Tumpang tindihnya resim laut itu dan berasumsi jarak ZEE kl 200 mil, negara pantai setidaknya harus memiliki asset yang sanggup (able) mengontrol area dengan sumbu kl kl 400 mil laut. Melalui sampel beberapa Angk laut “kecil” di regional Asia, diperoleh ciri-ciri kekuatan (tren) Angk Laut tersebut. Fregat, Perusak atau kapal kecil/menengah dengan rudal anti permukaan, diantaranya dilengkapi helicopter anti kapal selam. Digaris bawahi dengan tren hadirnya perahu (craft atau boat, pen?) cepat penyerang, tidak lebih 600 ton dan kecepatan   maksimal 25 knot, dilengkapi dengan torpedo, meriam, rudal—isu yang popular bagi negara kecil bahkan lebih makmur [35]. Tidak ada Angk laut kecil yang memiliki pangkalan pesawat dilaut (ship-based) atau kapal penjelajah dan kapal selam penyerang nuklir.

 

Beberapa negara Angk laut kecil memiliki kekuatan udara kapabel melindungi secara effektif operasi Angk laut kecil pada jarak terdekat dengan daratan [36].  Jarang Angk laut kecil memiliki pangkalan aju mobil yang bergerak terus menerus dilaut, khususnya negara pantai dengan begitu luasnya domain maritim dan akses bagi penerobos memasuki wilayah darimana dan kapan tanpa terkontrol. Fitur Angk laut kecil dengan dukungan kekuatan ekonomi yang kurang memadai, sulitnya mengungkit (leverage) sebagai posisi tawar atau kekuatan pengaruh antar aktor selama krisis atau konflik antar actor dalam operasi penangkalan. Apalagi pemilik kapabilitas konstabulari di”bully” Angk laut medium yang sering berdalih melindungi nelayan mereka dan (selalu) diikuti hadirnya kekuatan pengawal pantai setiap saat. Signifikan sebagai muatan konsep pak Mahan dan Till untuk memposisikan hadirnya asa maritim dengan asa Angk lautnya sebagai prasyarat (baca: pilar) mewujudkan impian negara maritim. Bila bentangan ciri Angk laut “kecil” sampai ke- “besar” dengan label Angk laut samodra (ocean going navy)—diantara Angk laut “kecil” dan Angk laut samodra pasti hadir Angk laut “medium”. Masa lalu Angk laut Asia dengan limpahan kapal cepat Russia di-Vietnam (contoh—sebagai atribut Angk laut kecil) sekaligus produk (dikte?) strategik Russia dinegara berkembang dengan dominasi teknologi dan taktik Russia waktu itu— merupakan test operasi dan taktik Russia versus Barat[37]. Angk laut besar dicirikan selain hampir pasti dimiliki oleh negara besar maritim dengan industri pertahanan yang kuat. Fungsinya; proteksi pengapalan milik sendiri, melumpuhkan kapal niaga musuh serta kapabel memproyeksikan kekuatan kedarat (teritori lawan). Kapabilitas ini sejalan dengan kekuatan pengaruh terhadap actor lain-nya—-jamin suksesnya operasi penangkalan (deterrence)[38]. Proyeksi kekuatan menjadi atribut atau ikon principal fungsi Angk laut negara besar.  Dikatakan James Cable, penulis Gun Boat Diplomacy, 1919-1979[39], … Naval ambitions and naval resources rise and fall not only with the balance of power in the world, but also with the variable chemistry of national politics. Ciri-ciri bahasan diatas (small, medium, besar), bisa digunakan melakukan verifikasi, validasi guna menjawab…sudah benarkah struktur kekuatan Angk laut yang terbangun selama ini. Sesuaikah fungsi yang dibebankan kepadanya,…berlebihan atau kurang atau tidak tepat perangkat (format terstruktur) pengukuran…modernisasi dan kualitas yang berlaku bagi unit organisasi lainnya.

  • Sain & Tek (S & T) Angk laut (kecil atau medium), kapabilitas dan peperangan jejaring centric (network centric warfare) [40]… negara pantai atau kepulauan.

                                             “…it (networking) allowed us to make decisions and execute those decisions faster than any opponent.”  [41]

…. ….  “knowledge is the weapon – and the net delivers it.” [42]

S & T, kapabilitas dan peperangan jejaring centric (PJC)—-thema ini berkaitan erat satu sama lain. Sain mendorong terciptanya teknologi—semakin maju sain; semakin maju teknologinya. S & T membuat operator lebih nyaman, effisien dan produk tempur asset yang tercipta semakin effektif—semakin kapabel asset Angk laut ini[43]. Maju tidaknya sain yang dibangun sangat tergantung kepada utilitas riset yang dilakukan. Riset mengikuti kaidah langkah ilmiah, bukan kajian tertulis semalam atau bukan diatas kertas saja. Kekuatan riset hanya dimiliki negara-negara yang memiliki sain, teknologi dan infrasruktur pendukung (industri pertahanan maritim) yang benar-benar bisa menikmati perkembangan dan evaluasi guna memperbaiki kapabilitas.

 

Tanpa itu semua negara pemilik Angk laut hanya bisa menikmati teknologi yang diijinkan  atau transfer of technology (TOT) yang selama ini belum pernah dicermati dari sisi cost effectiveness & untung ruginya—sulit rasanya membangun kapabilitas. Negara maritim pasti dikenali dari beberapa icon atau asset maritim, yakni icon kekuatan Angk laut atau Coast Guard. RI di-era operasi Trikora memiliki RI Irian[44] sebagai kapal penjelajah terbesar kebanggaan TNI-AL dan tentu saja menjadi ikon di Asia tenggara. Pengamat Barat saat itu menyebut teknologi modern tidak memerlukan desain kapal tempur ukuran besar. Lebih effisien dan kapabel sekelas kapal perusak dengan sista Rudal, pendorongan dan kontrol sistem elektronik digital yang lebih maju, ringan, akurat, cepat dan andal[45]. Investasi kapal tempur kecil dan cepat dengan Rudal anti permukaan lebih diminati Angk laut kecil sebagai obyek modernisasi. Lembaga riset bukan saja membuat pintar alut sista namun manusia-nya, negara besar seperti AS (US Naval Postgrad) dan Inggris (HMS Srivenham) sudah lama membangun sekolah pasca sarjana. Harapannya kapabel menciptakan kepemimpinan perwira yang memiliki ambisi, inovasi dan manajerial memodernisasi Angk laut. Perubahan dramatik usai era perang dingin di-tunjukkan dengan meningkatnya hadirnya Angk laut “kecil” sebagai penjamin (dan pendukung) tercapainya obyektif kepentingan nasional di domain maritim [46] meningkat pesat. Kepentingan Angk laut sebagai komponen asa maritim negara pantai (bersama-sama kekuatan KamMar lainnya yakni Coast Guard) sebagai penjamin (dan pendukung) tercapainya obyektif kepentingan nasional di domain maritim [47] sesuai amanah hukum laut Internasional (UNCLOS III) ‘tuk melakukan kontrol ke-ZEE (zone di-domain maritim yang terluas umumnya) terhadap sumber daya hidup dan tidak hidup (non-living). Amanah ini mendorong negara pantai untuk investasi sejumlah besar kapal-kapal kecil dengan kapabilitas pengamatan (surveillance)[48] mengingat luasnya zona domain maritim dan kapal kecil tersebut menjadi kekuatan inti Angk laut. Kapabilitas pengamatan menjadi ciri-ciri modernisasi. Teknologi baru, dengan rudal diatas kapal cepat kecil milik Mesir, menarik perhatian di-tahun 1966, dengan tenggelamnya perusak Israel Eliat oleh rudal Styx (kode NATO)[49]. Sukses kapal cepat rudal mendorong cepat pertumbuhan Angk laut kecil dan melebar pada jenis unsur bawah air, yakni kapal selam diesel elektrik dengan berbagai varian (kapal selam pantai sampai samodra). Misal: Angk laut Swedia meskipun mengaku kecil, ikut berpartisipasi dalam operasi pembersihan ranjau (mine clearance ops) di L. Baltik dan anti piracy di-Teluk. Riset dan upaya Angk lautnya mengejar kapal selam pantai (diduga) milik Russia (ingat Whiskey on the rock untuk kesekian kalinya, pen) bahkan penetrasi terbaru tahun 2014, di dekat Stockholm. Kapabilitas penetrasi kapal selam pantai non-samodra cukup menakutkan sampai sekarang,….meskipun milik Angk laut besar. Meski dalam latihan gabungan (termasuk AS) sulitnya mendeteksi kapal selam konvensional milik Swedia, plus realitas keberanian (provokatif?, pen) kapal selam diesel elektrik China mendekat kapal induk AS tahun 2006 ditengah kawalan kapal perusak gugus serang kapal induk (carrier battle-group)—memaksa Barat meninjau kembali kapabilitas anti kapal selamnya [50].

 

Betapa seriusnya bahaya kapal selam diesel penyerang negara Angk laut “medium”[51] indikasikan dan demo kapal selam non nuklirpun sanggup (able) mengontrol situasi tanpa terdeteksi. Tidak mengherankan pertumbuhan negara maritim sangat tergantung pada (pilar) dua komponen asa maritim tersebut. Dua (2) komponen yang saling mengisi; bila suhu di domain maritim panas maka Angk laut akan lebih banyak beraksi dan Pengawal pantai bersifat membantu (kekuatan cadangan Angk laut). Sebaliknya dimasa “dingin” Angk laut banyak diminta untuk berpatroli di-ruang kosong yang berpeluang digunakan para penerobos memasuki wilayah negara pantai (apalagi negara kepulauan). Luar biasa beban Angk laut kecil untuk menutup ruang yang begitu banyaknya siang dan malam. Tidaklah mencukupi hanya mengandalkan beberapa kapal yang tidak semua sanggup mencapai ZEE atau pesawat yang bisa terbang diluar cuaca yang bersahabat dan hanya “bisa” (able) melaporkan keberadaan kapal atau benda yang dicurigai tanpa “bisa” melakukan VBSS [52]. Pelajaran pahit Barat versus Soviet saat perang dingin dengan basis ancaman nyata dan pertarungan one-on-one engagament butuh sejumlah besar asset tempur dan upaya jungkir balik memeras sector ekonomi, bahkan nyaris kolaps, beruntung Soviet terlebih dahulu menyatakan mundur dalam perlombaan senjata ini. Beberapa opsi menjawab optimasi solusi[53], seperti modernisasi, kapabilitas dan operasi berbasis effek ….dan semua itu mengarah untuk kepentingan operasi gabungan. Operasi gabungan adalah operasi yang paling effisien dan dipersyaratkan dengan wadah jejaring centrik—peperangan jejaring centrik.

 

Modernisasi tidak akan pernah lepas dari kata teknologi. Teknologi akan menuntut ongkos yang mahal, meskipun bisa dicarikan alternatif yang lebih murah (varian teknologi). Kapabilitas adalah ukuran kesanggupan system terhadap ancaman atau musuh, sama sekali bukan berbasis pada kesanggupan system secara teknik, misal kecepatan maksimum, aksi radius, kecepatan tembak, dll. Semakin kapabel, semakin yakin sistem akan sukses versus obyek. Bahasan diatas tidak hanya berlaku di-unit operasi atau tempur termasuk unit manajemen (baca pembinaan) lainnya. Misal: unit pendidikan semakin kapabel apabila hasil didik bisa disejajarkan dengan lulusan pendidikan Angk laut manapun atau ditengarai minat negara lain (bukan politik, pen) mengikuti Pendidikan itu. Kapabilitas unit pendidikan bukan dihitung dari jumlah kelulusan siswa, namun lebih kepada dampaknya yakni tingkat inovasi perwira untuk memajukan dan mensukseskan organisasi[54]. Hubungannya dengan teknologi, modernisasi, dll? Teknologi pengajaran, metoda diskusi, riset, kekebasan akademik, sejumlah besar buku pustaka yang up to date, dosen, instruktur terbaik, kemasan kurikulum modern yang dinamik, mengikuti jaman dan berkualitas. Inilah tujuan sebenarnya setiap unit organisasi dimanapun, apalagi yang selalu melibatkan diri dengan teknologi militer, khususnya Angk laut dan Udara. Modern (atau kualitas mendunia) tidaklah sama artinya dengan kesanggupan investasi system yang terbarupun, begtu juga kapabilitas. Kapabilitas adalah hasil eksperimen pemilik bukan pabrik atau penjual. Modernisasi tidak lepas dari upaya penajaman nilai dan alasan mengapa Angk laut harus hadir.

 

Seperti kata Adm Sir George King-Hall, RAN, [55]how a navy defines its value to a nation and how a nation understands the value of its navy. The first responsibility of a navy is combat, and it must be ready to fight at sea. … how naval means and national ends are matched for this purpose of military effectiveness. Bisa disepakati bahwa alasan effektifitas dan effisiensi (baca: hemat anggaran belanja negara) semakin kuat bagi unit organisasi apapun juga kepentingannya dan menjadi tanggung jawab Dep/Kemhan manapun. Sesungguhnya cara paling effisien bertempur adalah melalui operasi gabungan [56] (vs sinergik, pen?). Operasi gabungan semacam ini bisa dikerjakan dengan prasyarat hadir peta besar yang komprehensif, menyeluruh, tepat waktu (real-time), terdisplai sebagai basis pengambilan keputusan untuk seluruh operator yang terlibat bersama dalam suatu medan laga—lahirlah jejaring centrik dan pelibatan yang disebut peperangan jejaring centrik [57]. Melekatnya kata peperangan mungkin saja dikarenakan unsur peperangan hybrid atau cyber yang terjadi dalam jejaring yang ada dan beberapa tipikal jejaring yang ada [58]. Pemahaman dan upaya untuk mengerti mengapa jejaring centrik ini digunakan dengan mengamati beberapa hal; yakni:[59] PJC adalah konsep tingkat tinggi (high concept) yang mendefinisikan gagasan di bidang studi strategic (kesan Colin Gray)—pelaksanaan-nya lamban diawal gagasan. Transformasi [60] dengan radikal, agak konservatif, dengan kemahiran struktur hirarkhi militer gabungan yang dijalankan. PJC adalah isu yang kompleks baik konsep (high concept) maupun implementasinya, ketrampilan operasi gabungan sangat diperlukan sekali. Susahnya, matra berada dipersimpangan jalan untuk diajak menyatu dalam komitmen bersama, (mungkin) masih terkendala untuk berkompetisi bersama dan jauh dari keinginan memiliki komitmen operasi gabungan dengan ikhlas. Tanpa perubahan ini; tingkat kemahiran tidak beranjak dari peperangan platform centric (platform centric warfare) yang tidak memerlukan jejaring dan sentrik pada matra masing-masing (each platform). Agar policy ini berhasil, maka PJC harus dipandang kontekstual sebagai suatu strategy—bukan dipandang sederhana hanya bagian dari teknology saja atau sisipannya [61], sepintas keluhan awal Paul Dibb sewaktu menjelaskan proses awal menerima transformasi dan teknology PJC bagi Australia. Sulitnya (awalnya) menerima sebagai bentuk “ketrampilan tingkat tinggi” (state-of-art—SOA) bahkan sebagai produk dari “ketajaman pengetahuan” (knowledge-edge). Konsep  PJC berawal tahun 1991; disambut hangat AS dan negara sekutu lain, diakui sebagai inti dari transformasi operasi militer gabungan[62]. Sekutu menyambut dengan desakan dilakukan analysis mendalam, serius, uji coba dan eksperimen, memastikan konsekuensi biaya (cost effectiveness) sebelum diterapkan diunit tempur dan transformasi dalam doktrin, organisasi maupun strategy. Kehadiran perang Teluk, Afghanistan dan Irak, berpeluang menguji konsep PJC dengan data hasil eksperimen yang cukup guna evaluasi total serta prospek perbaikan mendatang[63]. Militer AS berhasil mengintegrasikan produk riset informasi, komunikasi dan komandonya [64] dilapangan, termasuk intervensi riset seperti prosedur uji coba yang lamban, lebih cepat lagi, sesuatu yang tidak pernah terjadi di-era sebelumnya. Digalinya parameter statistik a.l: jumlah korban per sorti per sasaran (sorties-per-target), kecepatan (rata-rata) mulai sasaran diperoleh dan dihancurkan, korban/kerusakan salah sasaran (collateral-damage), pendeknya semua ukuran statistik ataupun even-even dalam rangkaian model “rantai-kehancuran” (kill-chain)[65]—mendukung penting-nya PJC dalam system perencanaan penggunaan kekuatan militer. Membantu kalkulasi data/jumlah, informasi akurat, “real-time” dan distribusi ke unit yang memerlukan dengan cepat, diikuti aksi unit yang berkepentingan, berorientasi pada obyektif yang ditetapkan (sasaran operasi). Singkatnya semua langkah atau prosedur tersebut mengikuti even-even dalam “rantai penghancuran” (kill-chain). Gambaran sederhana yang digariskan Pentagon seperti:—deteksi—lokalisasi–serang—evaluasi dan kurangi penggunaan sumber daya/kekuatan yang tidak perlu. PJC adalah konsep ampuh untuk memenangkan peperangan dan mendongkrak kapabilitas militer dengan jaminan semua unit tempur memperoleh informasi apapun dan sanggup mengerahkan semua assetnya dengan cara yang tercepat dan fleksibel[66] berbasis informasi yang masuk. PJC sukses mendemonstrasikan struktur kekuatan yang “kecil” namun mampu menunjukkan ukuran effektifitas yang maksimum dalam pertempuran. PJC adalah bukti dan produk ketrampilan tertinggi (state-of-art) dan ketajaman pengetahuan yang meningkatkan kapabilitas kekuatan Angk laut. PJC adalah konsep transformasi operasi militer gabungan abad 21. PJC fokus pada teknologi informasi yang menghubungkan semua unit tempur laut, udara, bawah air, darat, dan markas Komando, dalam operasi gabungan via jejaring integrasi tingkat tinggi dan data-link kecepatan tinggi. Dampaknya kedalam adalah perubahan substansial dalam doktrin, taktik, dan petunjuk organisasi. Aplikasi PJC adalah konsep CEC (cooperative Engagement Capability), program IT, dan Intranet Pelaut dengan Marinir [67]. PJC mendayagunakan kekuatan yang ada ‘tuk menyelesaikan obyektif lebih effisien, cepat, risiko kecil, kecilnya korban pasukan sendiri, beban sedikit senjata, di-ruang tempur yang terbatas, informasi dan intelijen (asset informasi mulai satelit sd drones, robot) dan komando & kontrol yang jauh lebih baik dan kompilasi gambaran yang real-time dan selangkah didepan proses keputusan musuh [68]—reduksi waktu proses operasi militer (model tempur) atau “kill chain” [69] dan bayangkan bila digabung dengan operasi drone pembunuh Predator yang bisa dikendalikan bahkan dari Dallas ketimur tengah. Teknologi atau modernisasi ini membantu pemilik Angk laut “kecil” namun memiliki kapabilitas marjin diatas kekuatan pengancam (adversaries).

 

  • Kesimpulan singkat

 

Tidak mudah mengatakan kecil, sedang, besar atau Angk laut hijau, coklat bahkan biru sekalipun. Personil Angk laut tidak terkecuali harus sanggup (able) bukan saja mengawaki, namun kapabel memilih mana yang mendukung peningkatan kapabilitas (model kapabilitas) dengan konsekuensi anggaran terkecil (cost-effectiveness). Turbulensi teknologi dihadapi dengan kesiapan para personil (bukan saja awak alut sista) termasuk kandidat pengambil kebijakan melalui program pendidikan yang lebih multi-disiplinair (S & T & Appl) [70] berbasis pengetahuan yang tepat (state-of-art) agar keputusan benar-benar effisien. Peperangan jejaring centrik jauh berbeda dengan saudaranya yang lebih tradisional—platform centric warfare dengan andalan teknologi lebih tua, dan tidak andal menghadapi domain cyber dan domain elektronik dan jauh dari effisien. PJC kini sudah berusia kl 25 tahun telah membantu mengalahkan musuh (berapapun ongkosnya) lebih effisien dengan membantu mereduksi rantai penghancuran menjadi pendek. Angk laut yang berambisi memenangkan pertempuran pasti berminat menggunakan PJC. Makalah singkat ini bisa membantu mencerna bahasa atau kalimat teknik manajemen operasi militer, seperti efisiensi, efektifitas, kapabilitas (dampaknya relatif terhadap musuh), kualitas, modern, rantai penghancuran, PJC, dll yang sebenarnya sudah lama terjadi dan telah melewati tahap riset, setidak tidaknya diskusi koginitif, semoga bermanfaat. Teks ini bisa saja dijadikan pendorong diskusi di Lemdik lemdik TNI. Sekian

———————————————————————————-

[1] Michael S. Lindberg, Geographical Impact on Coastal Defense Navies: the Entwining of Force Structure, Technology and Operational Environtment, (MacMillan Press Ltd,1998), hal 13..mengutip ucapan Kearsley..

[2] Yao Ming Tiah, Singg Civilian DSO, An Analysis of Small Navy Tactics Using a Modified Hughes’s Salvo Model, (Thesis US NPS, MS in Opt Research, March 2007), Abstrak.

[3] a.Karen D Smith, Nancy F Nugent, The Role of MDZ (Maritime Defense Zone) in the 21 st century, (US Center of Naval Analysis, September 2000), hal 5. …. The role of MDZ is to provide an integrated Navy-Coast Guard approach to waterborne port defense and protection of critical infrastructure (semua negara menyebut proteksi infrastrutur kritikal(CIP)…RI menyebut pam obvitnas (?)), high value sealift assets, and naval units.

  1. Proffesor Michael Schmitt, Maritime Operational Zones, (United States Naval War College Center for Naval Warfare Studies International Law Department, 2006), prakata, Introduksi, …dan Peacetime Zones in National Waters,…..a.l: Included in this assessment are Safety zones, Security zones, Regulated navigational areas, Naval vessel protection zones, Restricted waterfront areas, Restricted areas, Danger zones, Naval defensive areas, and Air defense identification zones (ADIZ).
  2. Timothy C. Young, Cdr JAGC,USN, Maritime Exclusion Zones: A Tool for the Operational Commander, (Paper; US Naval War Coll, 1992), halaman 1 -5.

[4] http://cimsec.org/fighting-for-sea-control-in-the-next-war/37598, … menarik melihat  prediksi biaya (cost estimate) untuk Angk Laut modern ditahun 2050-an hanya seharga 1 kapal induk saja, biaya personil, dll menjadi semakin meningkat tajam. Terlalu bias mengukur besar kecilnya Angk Laut dari sisi anggaran saja, lihat saja perbedaan nilai mata uang, distribusi program dan anggaran masing-masing aktor, distribusi life-cycle time kapal tempur, distribusi usia pakai, distribusi obyektif peran dan fungsi masing masing Angk Laut, dll, pen.

[5] Soft, ditujukan untuk Angkatan Laut yang memiliki peran kecil atau fokus pada tugas-tugas lunak seperti patroli keamanan maritim di pesisir (litoral) atau anti perompakan (piracy). Ambisi Angk Laut modern (dan besar) adalah kapabilitas (kemampuan) melakukan kontrol laut, hanya Angk Laut yang besar dan modern yang sanggup. Kata kapabilitas artinya bukan hanya sanggup (ability) tetapi plus telah terbukti (berbasis terukur, hasil riset, percobaan, pengalaman) memberikan dampak terhadap sasaran atau musuh (bagaimana bisa kata radius aksi, kecepatan tembak (misal) disebut kemampuan, terhadap siapa? Kapabilitas dirumuskan = abilitas (sanggup, bisa) + “ukuran atau hasil riset atau hasil pengalaman” (formula kelompok operasi riset milter). Komando di-laut (command at sea) tidaklah mudah, tidak mutlak, relatif, tidak sempurna dan tidak jelas serta tidak lengkap.

[6] Modern bisa dikatakan bila memiliki teknologi yang sanggup mendukung dan menjamin kapabilitas NCW (network centric warfare, cyber dan dominan dalam Pernika atau EW) à sebaliknya (lawan produksi) bila diluar kriteria ini mengisyaratkan dirinya modern. Bila ditambah kata kualitas mendunia (atau mengglobal?), mestinya disikapi dengan arti konsep total kualitas yakni berkualitas dari hulu ke hilir—misal: recruiting, seleksi, jalur berkarir, manajemen (baca: pembinaan), lembaga pendidikan dengan kurikulum modern, perpustakaan, laboratorium, buku-buku dan jurnal yang mengikuti kualitas era sekarang dan dipenuhi dengan idea dan gagasan jernih perwira-perwira, riset dan evaluasinya, dll, benar-benar berkualitas. Bisakah hulu berkualitas sedangkan hilir tidak atau sebaliknya suatu system disebut berkualitas sedangkan salah satu sub-elemen lainnya tidak berkualitas? Terlalu prematur dan gampang untuk mengatakan hadirnya sejumlah kecil alut-sista modern otomatis menjadi berkualitas dunia. Revolusi industry 4.0 ( perkembangan revolusi digital dan cyber) berbarengan dengan RMA hampir pasti menjadi keprihatinan industriawan, pengusaha; patut tentu saja termasuk Kemhan dan Kemlu (prioritas) dan infrastruktur penting lainnya (perbankan, keuangan dan critical infrastructure lainnya, dll)  yang potensial (hazard) jadi bulan-bulanan serangan cyber—belajar dari kampanye hybrid dan serangan cyber oleh diaspora Russia di-Ukraina, Georgia, dll (sampai NATO, Israel dan Eropah turun tangan membantunya) serta kekuatan kelima PLA(N) yang hadir di zona illegal fishing—program ini menjadi bagian dari CIP (critical infrastructures protection) semua negara Barat dan analog dengan pengamanan obyek vital nasional—Pam Ob-Vit-Nas).

[7] Membuat pernyataan effektifitas, berarti pemilik system sudah membangun bentangan ukuran effektifitas (MOE, measures of effectiveness) bagi system tersebut untuk diukur—bisa diukur benar effektif atau tidak? Menyatakan effektif adalah terukur dan ada basis pengukurannya (model MOE).

[8] Kata Maritimisasi mengutip kata Laksamana Castex (Swedia).

[9] Definisi kapabilitas (kemampuan) “pemilik” alut sista tidaklah sama dengan “maunya” desain pabrik. Pabrik hanya bicara  (by design) semisal jarak jelajah atau kecepatan maksimum, atau kecepatan tembak meriam utamanya, dll. Tentunya lain dengan “maunya”  pemilik alut sista yang lebih konsen pada dampak relatif terhadap musuh atau sasaran, misalnya probabilita kena, probabilita deteksi, atau lebih bagus lagi probabilita menghancurkan (kill) given (diketahui) probabilita kena, dll. Misal: memilih diantara 2 meriam lapangan cal 100 mm type A dan B, mana yang terbaik  kemampuan-nya (baca: kapabilitas) ? Selama ini dengan gampangnya cukup dijawab Meriam dengan kecepatan tembak lebih tinggi atau jarak tembaknya lebih jauh lagi—-sah sah saja, yang lebih penting dan “pas” kata kapabilitas sebaiknya diarahkan pada dampak terhadap sasaran/musuh, ini yang jauh lebih penting. Peluru Meriam atau bom yang dijatuhkan dari udara dengan CER (circular error probability) lebih kecil akan lebih unggul dan lebih berpeluang untuk dipilih karena positif kemampuannya lebih dari yang lain. Probabilitas kill given detection given range jauh lebih penting dibandingkan data jarak maksimum kesasaran. CER, adalah harga probabilita dll didapat dari experiment, percobaan yang terukur, pengalaman di lapangan, bukan maunya pabrik.

[10] https://en.wikipedia.org/wiki/Green-water_navy… …dijelaskan tentang siapa saja yang termasuk Angk Laut perairan hijau, seperti Australia, Brazilia, Canada, Finlandia, dll, meskipun dari besarannya termasuk kekuatan Angk Laut medium (medium size navies). Jadi tidak selalu kekuatan Angk Laut kecil, atau medium berbanding lurus dengan kekuatan Angk Laut coklat, hijau bahkan biru. Periksa Chris D Yung, The Chinese Navy: Expanding Capabilities, Evolving Roles, (US National Defense University),:

——-ch 5. The Evolution of China’s Maritime Strategy and Capabilities: From “Near Coast” and “Near Seas to Far Seas”, oleh Nan Li, hal 109… sebagai pembanding China lebih menyebut kategorisasi ini sebagai perkembangan kapabilitasnya. Kalau ditahun 1980-an pemikir strategy China menyebutnya sebagai Jin’an Fangyu (near coast defense strategy), berikutnya Jinhai Jiji Fangyu (near-seas active defense strategy) sesudah tahun 1980-an dan yang terluar adalah Yuanhai Zuozhan (far-seas operations strategy) ditahun 2000-an. Kategori strategy ini bisa saja (menurut China) untuk mendemonstrasikan bahwa mereka sudah mencapai kekuatan yang kapabel beroperasi di wilayah yang jauh (far seas operations). Bisa juga hal ini dikaitkan dengan ngototnya China mengembangkan (paket) Jalur Sutra Maritim (Maritime’s silk road) sebagai paket ekonomi/kesejahteraan (konon kabarnya, pen) … (dan sebagai jalur dan titik logistik perang lautnya, pen) ß kepentingan Maritim China? (Maritime’s interest bagi China).

[11] Geoffrey Till & Collin Koh Swee Lean, Naval Modernisation in Southeast Asia, Part – Two; Submarine Issues for Small and Medium Navies, (Palgrave, MacMillan, 2018) hal 2…The stealth advantages of the submarine, they argued, would narrow the military technical dominance the great navies derived from the capacity of their great ships to control the sea, to blockade the shipping of weaker countries. Bagaimanapun juga dominan dan banyaknya kapal kapal tempur besar, untuk melakukan control dilaut, blockade, penangkalan, semuanya menjadi kecil dengan hadirnya kapal selam apalagi kapal selam berteknologi “siluman”. …dan kata the French delegate to the 1922 Washington Treaty, ‘the submarine is the only arm that allows a country without a large navy to defend itself at sea’.

[12] Ketiga-nya tidak dibicarakan dalam makalah ini.

[13] https://en.wikipedia.org/wiki/Geostrategy,…Geostrategy di-artikan sebagai bagian dari geopolitics, bisa diartikan sebagai kebijakan luar negeri yang prinsip; dengan pertimbangan (kombinasi) faktor geographik dan memberdayakan (utility) atau mempengaruhi instrumen kekuatan nasional lain seperti politik, ekonomi dan militer(wilkipedia). Sebagaimana strategi lain, geostrategy konsen pada means, ways, end-state yang akan dicapai atau dikejar.

[14] Michael S. Lindberg, Geographical Impact On Coastal Defense Navies: The Entwining of Force Structure, Technology and Operational Environtment, (MacMillan Press Ltd, 1998), hal 38.

[15] Brian B Blouet, Global Strategy: MacKimder and the Defense of the West, (CAAS, 2005), hal 6.

[16]  Ibid, hal 33. …. Analisis diskriptif a.l: 1.politico socio economic development level, mis: Angk Laut dunia, menengah, atau super power,2. Political alignment; misal: Barat, Timur atau Non-Blok,3. Geograhical, misal: Kawasan mana, 4.karakteristik struktur kekuatan, misal  komposisi, kekuatan (jenis, pasukan, tipe, dll), 5.capaian geographic/lingkungan operasional.6.State level of maritime dependence, and 7.mission capability (capability tidaklah sama dengan desain atau maunya pabrik). No. 1 sd 6 cocok untuk analisis diskriptif sdgkan no. 7 & 8 lebih ke analisis fungsional….beralasan fungsional analysis lebih ke skop fungsi Angk Laut dibentuk—untuk apa sebenarnya (mission achievement). Sebaliknya Kearsley lebih memadukan pendekatan mission capability, force structure dan geographic reach/operational environtment; dan berpotensi banyak diterima oleh semua pihak.

[17] Navalis (atau Navalist) adalah seorang yang paham dengan isu-isu ke-Angkatan Lautan (Navalism).

[18] Sea power secara hirarkhis lebih superior dari asa maritim (maritime power) dan kekuatan Angkatan Laut (naval power).

[19] Peta jalan menuju negara maritim, sebaiknya muncul diawal deklarasi Pres Jokowi saat mengumandangkan negara RI sebagai poros maritim, agar jelas sebagai kontroler kebijakan, kontroler semuastratgei yang mdnukung kebijakandan operasional dilapanganserta konskuensi anggaran yang akan digunakan. Faktor kritikal dalam peta jalan tersebut adalah isu waktu, mau 5, 6, 7 atau 10, 15 tahun dan infrastruktur seperti apa, agar menjadi rujukan untuk peta jalan pemda – pemda yang terlibat.

[20] Michael Lindberg & Daniel Todd, Brown-Green-and Blue-Water Fleets: The Influence of Geography of Naval Warfare, 1861 to the Present, (Praeger, 2002), hal 195-198…klasifikasi operasional kekuatan Angk Laut disebut sebagai kekuatan perairan Biru dan Non-Biru. tIdak disebut coklat atau hijau.

[21] Skenario = model probabilistik dengan memasukkan semua peluang yang mungkin muncul. Kecenderungan sekarang untuk meninggalkan pendekatan ancaman tapi lebih banyak pendekatan kapabilitas. Pengalaman pendekatan ancaman yang nyata seperti isu perang dingin lalu membuat hampir semua negara yang terlibat mengalami krisis ekonomi yang mencekam. Desainer Skenario adalah desainer state-of-art (ketrampilan tinggi). Tanpa skenario bagaimana bisa berhitung kekuatan yang memadai…apalagi yang esensial? Periksa  Peter de Leon, Scenario Designs: An Overview, (RAND, ARPA, June 1973), hal 1… An Important element of most complex models,smulations, or games is their “scenarios”. The Scenario delineates the modeler’s conception of whatever process or system he is attempting to represent, it is “a atatement of assumptions about the operating envrontment of the particular system” being analysed….  The scenario is at the very heart of the modeling process …. Scenario adalah model….pembaca yang berminat lebih mendalami periksa E S Quade & W I Boucher dalam System analysis and policy planning: Applications in Defense, dan Seyom Brown dalam Scenarios in System Analysis, hal 300.

[22] Norman Friedman, New Technology and Medium Navies, (Sea Power Centre, RAN Maritime Studies Program, Working Paper no.1.New Technology and Medium Navies, 1999), hal 1……RAN berpikir lebih dari 40 tahun kedepan (butuh ketrampilan membangun skenario).

[23] Strategy pertahanan manapun sebaiknya kokoh (sulit dibantah), realistik dan diupdating terus menerus. Konten strategy merupakan arahan (means, ways, ends), bahasanya sudah memutuskan—tidak lagi dituliskan memilih ini dan itu, tapi … terarah … do it, or leave it! Masalahnya doktrin mau mengikuti dunia nyata atau dunia nyata yang mengikuti doktrin?

[24] Handal atau reliable artinya probabilitas (sistem atau sensor) untuk tidak mudah rusak, dalam media elektronik, sensor yang handal adalah sensor yang kapabel keluar dari tekanan perang elektronik. Sensor yang handal adalah sensor yang tingkat mudah rusaknya rendah sekali.

[25] Dalam prakteknya apakah strategi maritim (baca strategi pertahanan maritim) era sebelum Pres Jokowi dan sekarang sama konten -nya?Tentunya sangat jelas berbeda jauh. Keinginan Pres Jokowi menjadi poros maritim dunia sungguh-sungguh menunjukkan betapa (harus) berubah muatan strategi pertahanan maritim yang dipilih. Divisi operasional satuan pukul atau patrol atau apapun juga namanya akan berbeda jauh. Strategi pertahanan maritim sebagai ruh control didomain (baca poros) maritim tentunya berbeda bukan? Menjadi tugas pemilik strategi pertahanan maritim untuk segera membukukan sebagai petunjuk yang jelas bagi unit-unit asa maritim di-bawahnya bukan dibiarkan tanpa suatu rujukan sedikitpun.

[26] Joseph R Morgan, Porpoises Among the Whales : Small Navies in Asia and the Pacific,  (East West Center, 1994), hal 7.

[27] Setelah HLI memberikan amanah kewenangan sampai ZEE….konstabulari (tidaklah sama artinya dengan kepolisian), arti sebenarnya adalah fungsi penegakkan hukum, contoh didunia nyata yang disebut menjalankan konstabulari adalah operator semacam provost atau pom (militer)—bukan polisi. Singkatnya operator konstabulari lebih dekat ke-perilaku militer, tetapi lebih memahami dan mendalami serta focus pada aspek security dan safety serta tidak diperkenankan menggunakan senjata mematikan (lethal weapons).

[28] Joseph R Morgan, Porpoises Among the Whales: Small Navies in Asia and the Pacific,  (East West Center, 1994), hal 7.

[29] David T. Armitage, Jr. & Anne M. Moisan, Constabulary Forces and Postconflict Transition: The Euro-Atlantic Dimension, (Institute for National Strategic Study, National Defense University, Strategic Forum no.218, November 2005), halaman 1, 2…The term constabulary refers to “a force organized along military lines, providing basic law enforcement and safety in a not yet fully stabilized environment.”. Europeans often describe constabulary forces as “police forces with a military status.” Militer yang bertugas khusus untuk menegakkan hukum, tidak ada kaitannya dengan polisi.

[30] Beberapa literatur menyebut Angk laut dengan label brown water navies atau spesialis peperangan sungai (riverine warfare).

[31] James Cable, Navies in Violent Peace”, (Palgrave Macmillan, 1989), hal ix.

[32] Pemahaman kapabilitas sebagai suatu ukuran abilitas (kesanggupan, kebisaan) plus (yang lebih penting) harga outcomenya (hasil riset, praktek dilapangan, atau bukti statistik alut sista terhadap sasaran) sebagai pemahaman dasar yang digunakan, perlu dirasakan negara tetangga pemilik Angk laut kecil tersebut. Tanpa dasar pemahaman tersebut pemilik Angk Laut kecil memberikan isyarat yang keliru tentang kapabilitasnya—sia-sia bukan?

[33] P H Liotta, mengatakan tingnas — apa saja yang terbaik bagi bangsa untuk mempertahankan daya hidupnya (survivability-survival).

[34] Joseph R Morgan, Porpoises Among the Whales: Small Navies in Asia and the Pacific, (East West Center, 1994), hal 9.

[35] Christopher Chan, Smalll Craft Navies; (Arms & Armour Press, 1992), Prakata.

[36] Ibid, hal 10.

[37] John D Harbron; Small Navies and Soviet Strategy, http://www.tandfonline.com/loi/rusi19, hal 149….The role of small, non – nuclear fleets in the age of nuclear …The North Vietnamese torpedo boat attack against destroyers of the us Seventh Fleet in August 1964 was a measure of the nuisance capability of the tiny, peripherals navies dominated by the USSR and communist China….The Indonesian Navy, besides being the largest…is the outstanding example of Soviet domination of the naval strength of strategically -placed smaller nations……Others in the same net include the United Arab Republic and Cuba. Bisa jadi Russia menawarkan pembelian asset kekuatan maritim tersebut dengan harga murah atau sewa

[38] Tanpa kekuatan yang memiliki kapabilitas memproyeksikan kekuatannya kedarat dan memproteksi manuevra kekuatan maritim versus ancaman principal dilaut selama perjalanan-nya dilaut, tidak akan memiliki daya pengaruh kuat terhadap negara yang akan ditangkal (menangkal memerlukan kejelasan siapa yang di-tangkal, dan kekuatan yang sanggup mempengaruhi keputusan nasional aktor lain dan memposisikan kekuatan tangkalnya digaris langsung ke negara aktor yang ditangkal). Kekuatan siap tangkal harus memiliki komitmen untuk kapabel melakukan pukulan pertama atau pukulan awal (preemptive attacks). Sungguh suatu mythos untuk dengan mudahnya mengatakan bahwa memiliki alut sista modern atau baru akan memiliki dampak tangkal yang kuat.

[39] James Cable, Navies in Violent Peace”, (Palgrave Macmillan, 1989), hal 102.

[40] Peperangan jejaring sentrik (NCW—network centric warfare) akan mengandalkan system informasi jejaring sentrik yang bisa memdisplaikan gambaran operasional maupun taktis menyeluruh dan terpadu dalam dimensi peperangan darat, laut dan udara serta bawah air. Tentu saja teknologinya  menjadi sangat sangat mahal, sementara itucara peperangan yang lebih tradisonal lebih disebut sebagai platform centric warfare (atau PCW).

[41] Lt Gen David G McKiernan, Coalition Force Component Commander, OIF, 23 April 2003, slide # 3, NCOIC, Military Transformation.

[42] Norman Friedman, Technology for Medium Navies — Part Two, (Canadian Naval Review, vol 2, no.2 , Summer 2006),

[43] Formula Capability = Ability (kebisaan, sanggup) + “Outcome” (ukuran keberhasilan, performa, suskesnya, dll). Outome atau produk suatu proses yang dikerjakan, misal probability kena sasaran manusia pada jarak sekian adalah sekian….probability atau outcome yang didapat bisa disebut juga ukuran effektifitas. Semakin tinggi harganya atau nilai system yang digunakan itu semakin effektif. Ukuran yang digunakan untuk menunjukkan seberapa jauh effektifnya suatu system disebut ukuran effektifitas (atau MOE, measures of effectiveness). Effektifkah sejumlah kapal-kapal kecil dengan Meriam ukuran lebih kecil dari 100 mm (misal 85 mm) meskipun duel dengan 1 destroyer dengan Meriam 100 mm, bisa jadi jumlah peluru Destroyer kalah jauh dengan jumlah peluru kapal yang lebih kecil itu, namun teoritik pada jarak 10 mil mendekati kapal kecil tersebut si-Destroyer tersebut bisa membuka tembakan sampai jarak tertentu dimana kapal kecil baru bisa membuka tembakan yakni mulai jarak 8.5 mil (kalau masih selamat).

[44] Dulu dinamai RI Irian (RI = Republik Indonesia) kemudian berubah mengikuti lazimnya penggunaan nama kapal Angk Laut yakni kapal negara….misal USS , HMS, HMAS (belakang adalah singkatan S/kapal, depan adalah negaranya) — jadilah KRI sekarang.

[45] Andal adalah reliability atau probability untuk tidak rusak, semakin andal artinya semakin tinggi probabilita tidak rusaknya.

[46] Atribut keamanan maritim (keamanan laut adalah bagian kecil dari keamanan maritim) adalah salah satu obyektif jaminan dan dukungan kepentingan nasional di domain maritim. Definisi domain maritim dengan elemennya … yakni segala sesuatu benda, barang diatas , didalam, di, dibawah, didasar laut, samodra, pantai (litoral), sungai, teluk, pesisir, selat dan perairan yang bisa dilayari (AS memasukan danau didalam definisi ini) , termasuk udara diatas, dan infrastruktur  diatasnya. Jadi predator atau pengganggu terhadap elemen domain maritim adalah entity yang harus dihadapi aparat keamanan maritim.

[47] Atribut keamanan maritim (keamanan laut adalah bagian kecil dari keamanan maritim) adalah salah satu obyektif jaminan dan dukungan kepentingan nasional di domain maritim. Definisi domain maritim dengan elemennya … yakni segala sesuatu benda, barang diatas , didalam, di, dibawah, didasar laut, samodra, pantai (litoral), sungai, teluk, pesisir, selat dan perairan yang bisa dilayari (AS memasukan danau didalam definisi ini) , termasuk udara diatas, dan infrastruktur  diatasnya. Jadi predator atau pengganggu terhadap elemen domain maritim adalah entity yang harus dihadapi aparat keamanan maritim.

[48] Peter Ashworth, Unmanned Aerial Vehicles and the Future Navy, (RAN, Sea Power Centre, WP # 6, 2001), hal 4. Reconnaissance dan surveillance sering digunakan bergantian (relative sama artinya), namun sebenarnya berbeda; Recon … atau reconnaissance as a mission undertaken to obtain, by visual observation or other detection methods, information about the activities and resources of an enemy or potential enemy; or to secure data concerning the meteorological, hydrographic or geographic characteristics of a particular area. By contrast, surveillance is the quite specific and systematic observation of a particular area or target, possibly for extended periods of time. Kajian yang lebih intensif sangat memerlukan kamus pertahanan untuk menyamakan persepsi.

[49] Sama jenisnya dengan rudal P-15 yang dimiliki TNI-AL.

[50] Problema yang cukup serius dengan operasi dan takktik anti kapal selam Barat.

[51] Colum Hawken, The Increasing Improtance of Small Navies, (2016, https://www.phoenixthinktank.org/articles/colum-hawken-the-increasing-importance-of-small-navies.html). …lebih mengerikan apabila membawa torpedo anti kapal permukaan jarak jauh (lebih dari 5-10 mil)?

[52] VBSS atau visual, boarding, search and seize terhadap kapal yang dicurigai.

[53] Optimasi atau optimisasi adalah dua (2) kata yang sama benarnya, artinya upaya mengoptimalkan suatu masalah. Optimalisasi adalah prosesnya.

[54] Harapannya hadir produk tulisan yang aplikatif, inovasi dan bisa dikembangkan menjadi suatu modernisasi atau revolusi urusan militer (RUM) atau bentuk validasi, verifikasi dan evalusi riset bagi kepentingan organisasi. Organisasi diuntungkan dengan inovasi gagasan, bukan dibalik organisasi menjadi trauma dengan gagasan yang inovatif ini, semakin banyak inovasi, saran, kritik akademik, akan semakin maju organisasi. Inovator adalah personil yang justru sangat loyal, karena mereka prihatin dan merasakan ada sesuatu yang kelemahan internal. Negara maju mana yang tidak terbuka bagi inovasi-inovasi seperti ini? Negara lain barangkali tidaklah butuh menyaksikan demo militer yang lebih banyak sebagai konsumsi masyarakat saja, mereka butuh mendalami konsep, cara berpikir atau produk tulisan, taskap, jurnal, thesis, atau desertasi perwira dari perpustakaan unit militer atau lebih bagus membaca laporan apa saja yang ada—pekerjaan Intelijen sekarang.

[55] Admiral Sir George King-Hall, KCB, Commander-in-Chief Australia Station, 1912.

[56] Operasi gabungan bertujuan untuk effisiensi, salah satu means-nya adalah utilisasi kelebihan (dan kelemahan) masing-masing unit, satuan atau matra agar obyektif gabungan tercapai dengan optimal. Agak berbeda sedikit dengan sinergik (Operasi synergy?, pen), yang terdefinisi sebagai dua atau lebih unit/satuan yang relatif memiliki kapabilitas sama beroperasi (aktif) bersama agar hasilnya yang dicapai akan lebih dari biasanya ( 2 + 2 biasanya 4, harapannya 2 + 2 =  5 atau lebih). Kalau penerbang militer dan sipil bersama-sama aktif (sinergik?) mempertahankan kedaulatan suatu wilayah dirgantara tertentu…rasanya sulit didefinisikan bukan (unmatched)?

[57] Jejaring centric ini merupakan gabungan dan modernisasi serta peningkatan kapabilitas system informasi dibandingkan cara tradisional yang disebut platform centric (platform centric warfare)—alias perang sendiri –  sendiri.

[58] RAND CORPT, The Advent of Netwar;

——–ch.4.Varieties of Netwar; ……peperangan jejaring ?—-proposition: the more an actor uses network forms of organizations, doctrine, strategy and communications to engage in conflict of crime, the more it is a netwar actor.

[59] Paul Dibb, Australia’s Future Stance on Network Centric Warfare; (Dibb adalah Former Deputy Sec Def, Australian DF dalam Network Centric Warfare Conference, Sept, 2003), hal 1. …NCW (network centric warfare) is the key to the revolution in military affairs….dst.

[60] Transformasi, sebenarnya relatif sama artinya dengan revolusi urusan militer (RMA—RUM revolusi urusan militer), namun transfomasi lebih didalami sebagai konsekuensi tuntutan RUM yakni ketrampilan tinggi (state-of-art), pengetahuan maupun inovasi teknology itu sendiri. RUM melibatkan lebih dalam pada evolusi atau perubahan doktrin, teknologi dan organisasi. RUM sendiri sanggup merubah langsung atau penuh semua atau sebagian bentuk peperangan atau lebih dalam lagi dikarenakan teknologi tepat tembak (precision/precision guided fires), teknologi siluman, dan system informasi. Sebagian bisa sukses segera, sebagian tidak karena ada perubahan dan sangatlah logik untuk menerima resistance internal organisasi dan dari manajemen sendiri. Isu ini sangatlah jelas, bagi negara pemilik teknologi. Tidak bagi negara berkembang atau negara yang terbiasa membeli teknologi, membeli alut sista—-konsep RMA, inovasi maupun transformasinya barangkali agak sulit dipahami, karena jarang menggeluti atau mendalami hal-hal tersebut, termasuk dampak lainnya misalnya ukuran effektifitas, efisiensi, biaya (cost), total life cycle cost, capability, dll.

[61] Ibid,

[62] Col. Alan D. Campen, USAF (Ret.), Look Closely At Network-Centric Warfare, (https://www.afcea.org/content/look-closely-network-centric-warfare, January 2004), …. Network-centric warfare is widely acclaimed to be the centerpiece…technology can both aid and dominate the warfighter.

[63] John Luddy, The Challenge and Promise of Network-Centric Warfare, (Lexington Institute, Arlington, 2005), halaman 1.

[64] Ketiga parameter penting dalam olah resim PJC yakni informasi, komuniksi dan komando (instruksi).

[65] Parameter atau variabel yang biasa digunakan dalam analysis tempur atau analysis operasi, adalah hal-hal yang biasa diungkap dalam analisis, kajian, atau diskusi dengan kelompok operasi riset militer (military operations research society).

[66] John Luddy, The Challenge and Promise of Network-Centric Warfare, (Lexington Institute, Arlington, 2005), halaman 3.

[67] Ronald O Rourke, Navy Network-Centric Warfare Concpet: Key Programs and Issues for Congress, (Congressional Research Service Report for Congress, 6 June 2001),

[68] John Luddy, The Challenge and Promise of Network-Centric Warfare, (Lexington Institute, Arlington, 2005), halaman 3.

[69] Ibid, hal 3…. not quite a month after the 9/11 attacks on the World Trade Center, the Pentagon and in Pennsylvania, U.S. and British ships and aircraft introduced the 21st century (and the Taliban) to network-centric operations (sama saja dengan network centric warfare). With a striking blend of old and new technology, operating throughout the electromagnetic spectrum and across the range of operations, from ground forces to air and sea platforms and into space, U.S. forces in both conflicts used networked information to achieve huge efficiencies in combat. The “kill chain” (kill-chain adalah model analisis tempur yang digunakan untuk mengkaji system operasi militer gabungan) against enemy targets was reduced in many cases from hours to minutes, and information about the location of enemy and friendly forces was relayed and tracked just as quickly. In Afghanistan, the deployment of American ground troops was minimal; in Iraq, a force one-quarter the size of the 1991 Desert Storm coalition defeated the Iraqi regime in 21 days, with only 161 troops killed in action. In both theaters, the incidence of civilian casualties and other collateral damage (biasanya adalah kerusakan/korban krn salah tembak, atau lingkungan yang rusak diluar dugaan penembak) was minimal…dan mungkin masih banyak lagi contoh – contoh bagaimana meredusir rantai penghancuran sebagai model tempur dari jam ke menit saja. Wallahualam.

[70] Appl singkatan dari applied science.

0 0 vote
Article Rating

Budiman Djoko Said

View posts by Budiman Djoko Said
Budiman Djoko Said, lahir di Pekalongan, Jawa Tengah 1 Oktober 1946, alumni AAL-XV (1969). Berbagai penugasan sebagian besar dihabiskan di kapal-kapal Armada timur (terakhir Komandan KRI HSN) , dan variasi penugasan dalam rangka latihan baik dengan TNI-AL maupun gabungan dan staf perancang latihan bersama dengan negara-negara sahabat. Penugasan di Pendidikan di Kodikal, AAL dan Seskoal. Pendidikan militer jenjang di Long TAS/India, Diklapa-II, Seskoal, Sesko TNI, dan kursus Sumber Daya Hankam di AS (IDMC). Jabatan terakhir adalah Dan Seskoal. S-1 ditempuhnya di STTAL, progdi Teknik Manajemen Industri. S-2 Program Manajemen DI UPN “Veteran” Jakarta. Sebagai PUREK –III/UPN “Veteran” Jakarta, dan menjabat Rektor selesai tahun 2011. Beliau juga merupakan dosen dan pembimbing aktif di progdi Keamanan Maritim Universitas Pertahanan Indonesia (IDU). Bergabung dengan FKPM (Forum Kajian Pertahanan dan Maritim) di bawah kontrol Asrena KASAL semenjak tahun 2003 sampai sekarang selaku Wakil Ketua merangkap analis.
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x
Share via
Copy link
Powered by Social Snap