ASIMETRIK—RISIKO—SKENARIO—DEMISTIFIKASI ULANG

Today, threats are no longer direct (inter-state conflict), intended, and calculable, as during the Cold War, but asymmetric and indirect, diffuse, and highly uncertain (International Handbook on Risk Analysis and Management, Professional Experiences). 

Oleh : Budiman Djoko Said

 

Pendahuluan

Revolusi urusan militer/RUM (revolution in military affairs) telah[1] menggoyang dramatik perubahan doktrin, inovasi strategi, konsep operasi dan bentuk peperangan. Keunggulan teknologi (baca RUM)[2] menjadi kekuatan dahsyat namun murah melawan yang lebih kuat atau unggul melalui cara asimetrik. RUM telah mentransformasi aktor non-negara menjadi insurjensi “tidur” dan memunculkan dirinya setiap kesempatan[3]. Mentransformasikan identitas sebagai kekuatan insurjen “spiritual” baru dengan baju radikal atau insurjen “komersial” kuasi seperti “peperangan/konflik zone abu-abu”. Usai perang dingin memunculkan integrasi paradigma baru sebagai cara mengatasi aktor asimetrik yang menggunakan integrasi cara konvensional dan atau non-konvensional dengan teknologi informasi.

Perang asimetrik tradisional terorganisir dikenal sebagai perang gerilya sudah dilakukan unit pasukan Jerman SS-Werwolf dimedan perang Eropah era PD-II (meski tidak sukses)[4]. Simetrik menginginkan format keseimbangan, sebaliknya bagi asimetrik. Kedua-nya melekat dalam literatur ihwal desain konsititutional[5]. Berkembanglah konsep peperangan kecil (small wars) vs asimetrik dan peperangan panjang (long wars) vs terrorisme. Definisi perang kabur dan berkembang dalam diskursus dengan sebutan konflik zona abu-abu (gray-zone warfare/conflict)[6]—hasil studi kasus di-Lebanon, Afghanistan, Somalia, ex-USSR seperti Ukraina, Georgia dan Crimea. Methoda perang atau konflik sebagai bagian dari keputusan keamanan nasional (baca: model) sangat tergantung analisis risiko[7]. Risiko berkaitan erat dengan bahaya dan ancaman (baca: peluang). Baik buruknya situation awareness vs keamanan nasional (baca: strategi kamnas) tergantung andal tidaknya (derajad kepercayaan)[8] skenario yang dibangun Kemhan. Seyogyanya kompetensi (knowledge-based) membangun skenario, risiko, dan kapabilitas kekuatan militer harus dikuasai setiap personil keamanan nasional (baca militer) guna meyakinkan setiap keputusan keamanan nasional—tugas Lemdik dilingkungan TNI.

Peperangan asimetrik

                                                                   This is another type of war, new … (JFK, West Point, 1962)

Tipikal ancaman (peperangan) asimetrik sudah di-gambarkan Presiden JFK dalam sambutannya di Akmil AS (West Point) tahun 1962 … This is another type of war, new in its intensity, ancient in its origin—war by guerillas, subversives, insurgents, assasins, war by ambush instead of by combat; by infiltration instead of aggression, seeking victory by eroding and exhausting the enemy instead of engaging him[9]. Tantangan bagi setiap negara dan kesulitan pasti di-jumpai ketika ke-dua belah pihak berhadapan, terlatih dalam perang konvensional serta di-posisikan di-dekat pemukiman penduduk. Terminologi bentuk peperangan akan tergantung mashab, kebiasaan dan periode, seperti LIC (low intensity conflict), peperangan tidak beraturan, asimetrik, peperangan generasi ke-empat atau hybrid[10], bahkan paling kontemporer adalah peperangan atau konflik zona abu-abu—-semua sebenarnya relatif sama. Bila memperhatikan subyeknya barangkali definisi peperangan asimetrik jauh lebih tepat. Seperti punya “aturan main” spesifik, di-cirikan dengan kekasaran (brutality) dan memerlukan imajinasi serta respon ad-hoc. Boleh-boleh saja ada yang tidak setuju, tetapi bagi yang terlatih bertarung secara konvensional, peperangan asimetrik ini lebih menyakitkan dan brutal. Peperangan asimetrik mewakili perang antara yang lemah versus yang kuat dan dinikmati oleh kelompok militer, baik kuantitatif ataupun kualitatif yang lebih unggul.

Kelompok ini yang bisa menyerang negara dan aktor non-negara, kelompok kombatan tidak beraturan (irregular combatants), insurjensi (bukan kelompok kriminal bersenjata)[11], gerilya, atau teroris. Sesungguhnya taktik gerilya oleh pihak yang lemah versus pihak yang lebih kuat—ciri-ciri kuat bentuk peperangan yang sangat klasik[12]. Unit tempur peperangan tidak beraturan atau insurjensi atau gerilya tidak selalu “harus” teroris, kecuali ada salah satu kegiatan di-dalamnya yang mengait dengan ciri-ciri spesifik teroris. Lanjut Samy Cohen, petarung asimetrik memilih methoda selalu berada di-dekat unit kekuatan tradisional sasaran, dan tiba-tiba secara mendadak menyerang kelompok musuh yang terisolasi, mengerusnya dan membuat lemah kekuatan besar lawan. Kemenangan asimetrik ini dibayar mahal sebagai harga pertaruhan bagi kekuatan yang lebih besar. Unit yang lemah memegang inisiatif dan kendali serangan sekaligus faktor kejud. Membingungkan bagi aktor yang kuat militernya, tidak di-ketahui mana garis depan dan garis belakang atau pinggir kanan ataupun kiri tidak diketahui. Peperangan dekolonisasi adalah contoh konflik asimetrik. Beberapa perang besar yang terjadi bisa dikategorikan peperangan asymmetrik a.l: serangan Jepang ke Russia tahun 1904, serangan Jepang ke Pearl tahun 1941, intervensi China di-Korea tahun 1950, offensif Pakistan di-Kashmir tahun 1965, offensif Mesir di-Sinai tahun 1973, dan invasi Argentina tahun 1982 di-kep Falklands. Kesamaan relatif dalam enam (6) kasus tersebut bahwa aktor inisiatornya berkekuatan militer yang relatif lemah[13]. Dari ke-enam (6) kasus tersebut, diluar rasionalitas, negara yang lemah justru berinisiatif menyerang negara yang lebih kuat. Pendekatan manfaat dan ongkos (cost-benefit) rasanya tidak akan mempertemukan manfaat yang besar dengan konsekuensi (baca: perang) yang cukup besar (dollar terbuang, korban manusia, kapal, pesawat terbang, dll)[14].

T.V Paul lebih mempercayai konsep “rasionalitas subjektif”[15]—model Bayesian. Model ini akan berasumsi bahwa system nilai, kepercayaan dan ekspektasi pemilik masalah[16] adalah faktor penting guna menentukan harga probabilistik (peluang) masing-masing alternatif sebelum dia menentukan alternatif mana yang di-ambil[17]. Asumsi dalam model Bayesian ini akan semakin rasional apabila “body informasi” kapabel memberikan “merits” (harga ~ pay-off), per setiap pilihan (course of actions) yang bisa di-evaluasi. Dengan menentukan satu-satu-nya alternatif sulit untuk menilai dominasi kebenarannya—tidaklah rasional suatu laporan dengan satu (1) solusi atau alternatif saran dan tindak, kecuali hadir dominasi solusi atau saran.

Taktik China untuk membendung kekuatan Barat (AS dkk)

                   Western policy makers, guided as they are by political election cycles, are no match for China’s patient, long-range strategy of salami slicing to recover its past hegemonic position (Nayan Chanda).[18]

Bisa di-golongkan asimetrik seperti yang terjadi di-Ukraina, Georgia, Crimea, dan negara ex-negara bagian Uni Soviet dengan sebutan Green soldiers bagi passus Russia (lebih berkualitas dari Spitnaz) dan diaspora Georgia atau Ukraina. Tidak jelas bentuk peperangannya, tidak pakai seragam, tidak ada letusan senjata, namun membingungkan bagi setiap aktor untuk memilih unit yang tepat merespons dengan legal. Sementara itu di Laut China Selatan (LCS), paramiliter China yang bekerja diatas kapal ikan kayu China nampak sigap, militan, dan terlatih merespon segera perintah dari atasan[19]––analog dengan green soldiers di-Georgia dan sekitarnya, disini dikenal sebagai green sailors. China dikenal nakal dengan cara seperti ini (kadang kadang disebut sebagai taktik salami-slicing atau cabbage-leaf)[20] untuk memainkan kepentingannya di LCS atau LCT.

China diuntungkan dengan taktik zone abu-abu-nya, meskipun mungkin dianggap tidak “fair” bahkan disebut sebagai taktik salami-slicing atau cabbage-leaf. Salami-slicing, kata Goncu… this tactic means you focus on a long term strategy but with each move, only a  small piece of territory is gained in a way that invokes (menciptakan) the smallest reaction possible from opponents[21]. Taktik yang sangat menguntungkan China untuk mempertahankan status-quo-nya tanpa harus menggunakan methoda yang lebih coercive (atau provokasi)—kapabel menghadirkan situasi yang tidak menakutkan publik atau masyarakat internasional. Bahkan jadi bumerang bagi kekuatan resmi yang mencoba mengatasi taktik abu-abu untuk disalahkan masyarakat internasional. Beberapa pengamat menyebut taktik kubis, untuk meningkatkan kekuatan dan pengaruhnya di LCS, seperti kata Xi’an Jiatong dari Universitas Liverpool[22]. Ahmet Goncu, professor di-Universitas yang sama, mengatakan…Cabbage tactic… whenever there is a conflicted small island the Chinese military and paramilitary[23] are sent to overwhelm the islands and lay siege to the surrounding islands with military ships, fishing boats along with other kinds of paramilitary (bahkan dengan kapal pengawal pantai/Coast guard vessels).

Goncu menambahkan bahwa taktik tersebut disebut cabbage (kubis) karena pulau tersebut akan dipenuhi dengan lapisan (mirip daun kubis) kapal ikan China yang menutup pintu masuk atau keluar Angkatan laut negara manapun juga. Goncu mencontohkan bahwa taktik ini dilakukan PLA(N) China di-area tertentu sebagai cara mengembangkan teritori (yang di-kuasai dan diklim?, pen) perlahan-lahan dan membangun instalasi militer di-pulau pulau kecil berdalih membangun jejaring logistik dan monitoring yang lebih baik. Intensi China untuk mempertahankan keseimbangan kekuatan dengan membuat lawan bingung dan seperti tidak berdaya apa-apa untuk bertindak lebih tegas (robust)[24]. Angk Laut aktor manapun akan belajar bagaimana taktik China dan bagaimana ribetnya  mengatasi manuevra taktik China tersebut—melegalkan cara illegal dan membuat bingung respon pihak lain.

Secara “ad-hoc” membuat pijakan kaki China lebih dalam dan kuat. Belum pernah ada aksi yang aneh selama ini. Cara asimetrik China dan Russia seperti ini membuat aktor lain “terpaksa” fokus dan terpaku bagaimana mengatasinya dan isu ini terasa di-bagian dunia yang berbeda dan terpisah sehingga menguras tenaga dan kekuatan mereka untuk “di-paksa” terjebak dalam satu posisi dengan konsentrasi kekuatan asimetrik Russia maupun China. Kebetulankah Russia dan China menjalankan strategi AA yang mirip? [25] Di-Krimea, Ukraina, Georgia, dll, Russia memainkan unit Passus dan unit cyber. Di-LCS, China mengembangkan paramiliter (bagian dari PLA(N)) sebagai unit asimetriknya. China sulit melepaskan klim teritori sebagai bagian juridiksi berbasis historik—meski dengan keputusan Arbitrase internasional atau…memang bagian strategi rayanya. Taktik salami dan strategi AA/AD, telah di-demonstrasikan [26], taktik yang dijalankan dengan pelahan tapi pasti akan mengganggu tepi batas antar negara, didorong dengan mesin militer yang unggul serta berpeluang menciptakan destabilisasi di-landskap Asia[27].

Bagi PLA(N) dan sebagian PLA(AF) masih fokus kepada pesaing klim maritim di LCS dan LCT. Analog dengan kekuatan darat (PLA/A) yang berhadapan dengan kekuatan darat India. Taktik salami China bekerja di-landskap darat atau maritim. Halus, tapi pasti, strategi China telah memberikan sumbangan suksesnya program jalur sutra maritim. Program yang akan membentuk sabuk kontrol dari timur ke-barat sekaligus titik logistik perang China (bahkan via rute Artik nantinya). Pertanyaan besarnya; bagaimana membendung strategi China? Empat (4) opsi disarankan Hal Brands & Zack Cooper, guna mengurangi ambisi China, yakni Rollback, Containment, Offset, dan Accomodation. Rollback menginginkan (khusus) China meninggalkan NDL (nine-dash line) termasuk pulau buatan di Spratley & Paracel[28]. Containment; menginginkan China tidak lagi merubah elemen status-quo di-LCS dengan cara mengembangkan dan merubah fitur di-tiap pulau atau teritori yang diklaim dengan cara yang coersif di-dukung  militer. Opsi ini di-pilih karena memilih Rollback sebenarnya sangatlah berbahaya sekali. Memilih Offset, konsekuensinya harus lebih agresif mencegah Beijing mendominasi wilayah LCS. Opsi Accomodation (yang terakhir); sama sekali tidak menentang China bahkan merangkul China dan negara lain sebagai mitra yang lebih kompetitif untuk memberdayakan sumber daya yang ada. Opsi yang menyenangkan China, sebaliknya AS membayar mahal dengan melupakan FONOP-nya, frekuensi pelatihan dengan mitra dilaut, bahkan tidak menghendaki adanya perundingan atau pertemuan tentang pertikaian di-kedangkalan Scarborough dan Second Thomas [29].

Teori risiko [30] dan kalkulasinya

Risk management is a decision support process and the risk analysis itself is a form of a policy tool, as well as a vital tool for military planning and decision-making (NATO,2010) [31].

Memahami arti risiko[32] dan ketidakpastian, seperti dua (2) kata yang bisa di-rasakan tetapi sulit diterjemahkan. Dua (2) kata tersebut menghantui setiap proyek besar atau nasional yang mengandung konsekuensi dukungan biaya yang sangat besar sekali. Tidaklah berlebihan bila analisis risiko (plus ketidakpastian) sudah dilaksanakan dan dipercayai sebagai bagian dari manajemen portofolio kl 30 tahunan yang lalu di-negara maju—demonstrasi betapa sangat esensial analisis ini.[33] Bahasan berikut ini lebih banyak berorientasi teori dan praktek bagi setiap Dewan keamanan nasional (atau ajensinya) aktor manapun ihwal penilaian risiko dengan formal dan serius sebagai beban manajemen untuk uji kelaikan[34].

Proses penilaian risiko memiliki dua (2) obyektif, yakni implementasi dengan alasan kuat dan kontrol berhati-hati serta dokumentasi dengan baik[35]. Manajemen risiko terdiri dari analisis risiko, evaluasi risiko & reduksi dan kontrol risiko, seperti di-gambarkan di-bawah ini [36].

 

Gambar. Manajemen risiko dengan (mengaitkan) komponen komponen (analisis, evaluasi dan reduksi serta kontrolnya). Perhatikan bahwa Intelijen bekerja meliput area analisis risiko, tingkat risiko yang bisa diterima, dan pencegahan untuk mengurangi risiko. [37]

Analisis risiko adalah teknik mengidentifikasi dan menemukan akses yang diperkirakan akan mengagalkan proyek atau operasi. Analisis risiko bisa disebut analysis impak proyek (project impact analysis). Proyek ini menggunakan konsep manfaat–biaya (bagi bisnis) atau effektiftas-biaya dilingkungan militer. Tim analisis risiko (militer) harus kompeten dalam pemodelan effektifitas dan biaya. Sedangkan penilaian risiko (assesment) adalah proses kedua dalam siklus manajemen risiko[38]. Organisasi memanfaatkan dalam tahap ini, guna mempertimbangkan apakah ada ancaman (atau bahaya) terhadap spesifik asset; signifikan sangup merubah tingkatan ancaman terhadap organisasi. Penilaian risiko menggunakan konsep yang lebih ilmiah; beralasan vs isu yang kompleks dan probabilistik.[39]

Risiko yang lebih tinggi bisa di-tolerir apabila capaian operasional yang diperoleh diperkirakan tinggi[40]. Audit penilaian menjadi vital untuk menjamin logika dan pendekatan yang konsisten disertai data relevan. Guna menjamin proses manajemen risiko (analisis, evaluasi, reduksi & control) dan kaitannya di-gambarkan dengan cara yang lebih inovatif seperti dibawah ini. Ilustrasi produk inovasi masukan pakar analisis risiko, military force structure analysis, MOR (military operations research) analyst, dan military decision analysis[41].

 

Gambar Deretan blok yang panjang dari kiri ke-kanan dibagian bawah sama dengan gambar sebelumnya, mulai dari definisi system sampai dgn risk reduction. OR, RA, DA, FP adalah sistem kepakaran dan “tool” yang di-gunakannya. Hint: OR (operations research), DA (decision analysis), FP (force Planning/force structure), RA (risk analysis). Blok paling bawah adalah (membangun) kriteria effektifitas (atau MOE ~ (measure of effectiveness)) sebagai ukuran kuantitatif capaian system yang memanfaatkannya. Blok ini bisa jadi menggunakan teknik yang lebih lunak apabila menggunakan pilihan kualitatif dibandingkan kuantitatif,mengingat ada dua (2) methoda yang bisa dipilih untuk digunakan—kualitatif atau kuantitatif.

Dalam blok opsi analysis (Analysis of options), dibuat daftar (list) opsi ancaman atau bahaya yang mungkin timbul disertai masing-masing besaran impaknya. Blok ini juga bisa diproses dalam bentuk kualitatif atau kuantitatif. Untung maupun ruginya bisa dilihat dalam tabel berikut [42].

 

 

 

Tabel dibawah ini akan menjelaskan definisi risk manajemen dan komponen-nya [43].

 

 

 

 

 

 

 

Skenario (perencanaan)—model dari estimasi kejadian

               —– Development of a scenarios is a common task within military analysis (Tomas Eriksson & Tom Ritchey)

Skenario merupakan methoda strategik yang sangat bermanfaat untuk membuat kalkulasi kekuatan guna merespons ancaman potensial. Membangun skenario dengan hati-hati, cermat, terus menerus, teliti serta tekun dalam jangka panjang sangat membantu pemilik masalah untuk melihat hadirnya ancaman dan lebih memahami. Memahami dengan teliti suatu ancaman adalah elemen yang esensial sebagai lawan-strategi (counterstrategy) dan upaya menyelamatkan negara[44].  Dalam upaya untuk mencegah kejadian yang tidak diharapkan, seringkali terkendala dengan sesuatu realitas yang berada diluar jangkauan imajinasi. Karena itu membangun skenario harus dilibatkan elemen pemikiran antisipatori (anticipatory-thinking) yang sanggup menghantar dan menyiapkan skenariois ke-situasi yang paling memungkinkan munculnya realita yang tidak diharapkan. Lebih sering daripada tidak—skenariois, lemah mengungkapkan suatu yang visionaire, hasilnya kurang menggigit, tanpa inspirasi, celakanya lebih banyak fantasi.[45] Ketika merancang skenario, disarankan mencermati keseimbangan antara kebutuhan dan opsi yang mungkin ada. Imajinasi akan tercubit untuk mengevaluasi dan analisis, misalnya: risiko bagi obyek skenario apa yang mungkin muncul, dari peluang paling parah impaknya dan kerusakan (atau kegagalan) lainnya. Lebih baik lagi, apabila rancangan skenario dibuat lebih hati-hati dan di-uji cobakan, versus realita ancaman (derajad/peluang)[46]—skenario akan banyak menolong untuk memilih prioritas dan memutuskan opsi yang mengait dengan kontijensi atau segera. Menjadi tren model pembangunan kekuatan militer (force structure, force planning) bagi aktor-aktor jaman now[47], menggunakan basis skenario yang tentu saja di-up date terus menerus dengan teknik yang lebih modern (ilmiah) dan andal.

Kebijakan pertahanan nasional[48] di-formulasikan dalam tekanan lingkungan yang komplek, ketidak pastian evolusi lingkungan dan sulit diprediksi; utamanya dalam jangka panjang. Sejumlah methodologi selama decade akhir ini nampaknya mengacu kepada dua (2) klaster; yakni [1] penggunaan skenario untuk mendemonstrasikan ketidakpastian dan [2] menanamkan dalam organisasi Kemhan keluesan pertahanan dan keamanan. Untuk menentukan tipikal skenario apa yang cocok dibangun dan penggunaan selanjutnya, perlu dipahami pertimbangan apa saja yang menjadi muatan kebijakan pertahanan dan keamanan[49]. Tipikal pertama, adalah skenario normatif. Dalam bentuk  suatu kalimat visi, menjelaskan masa depan yang dikehendaki dan memberikan petunjuk berbeda-beda bagi pemain dalam upayanya pencapaian masa depan tersebut.

Dengan visi yang melebar (karena banyak orang) akan ditemukan arah yang terbaik dari pemain yang sudah berusaha keras itu, contoh skenario proyek millennium PBB. Tipikal kedua, di-ijinkan menghadirkan masa depan dengan cara instan dan khusus seperti apa sebenarnya dan tantangan yang harus dihadapi serta menarik suatu kesimpulan struktur kebutuhan kekuatan (requirement) yang sangup mengontrol tantangan dan dinamika masa depan itu. Skenario seperti ini di-sebut—skenario pembangunan kekuatan (militer—kekuatan militer)—bahasa NATO disebut “perencanaan situasi”[50]. Skenario ini sudah lama berjalan mulus dan terbarukan/modern (state-of-art) di-lingkungan keluarga besar NATO. Skenario sebagai pendekatan kalkulasi kekuatan militer selalu berbasis operasi militer gabungan[51], dan digunakan keluarga besar NATO, a.l: Inggris, AS, Perancis, Australia, New Zealand, Korsel, Bulgaria, masih banyak lagi diluar ini. Skenario dan persepsi masing-masing aktor bisa dijelaskan dalam bentuk slide dibawah ini, sebagai berikut:

Catatan: AS=Australia, CA=Canada, UK=Inggris, US = Amreika. CBP= capabilities-based planning (antithesanya adalah TBP=treat-based planning). CPB  sudah digunakan semenjak tahun 2001 (16 tahun yang lalu).

Proses beberapa negara (framework) bisa saja berbeda, namun kerangka pikir akan  menuntun menghasilkan struktur kekuatan yang dibutuhkan dan pengadaannya (acquisition)[52]. Beberapa aktor membangun kerangka pikir dan menggenerik lengkap kebutuhan kekuatannya, aktor lain bisa sebagian. Dasarnya ruh kerangka pikir ini relatif sama bagi aktor manapun juga. Gambar berikut adalah skema membangun force planning sebagai perbandingan, diawali dengan kerangka pikir force planning secara umum mulai dari tingkat (stage) pertama dan kedua, kemudian pola pikir aplikasi beberapa negara[53].

Perhatikan tingkat (stage two) kedua diwarnai biru kehijau-hijauan, berawal dari dirumuskannya capability assesement yang diturunkan dari capability assesment yang sama gambar sebelah kiri. Awal dari kerangka pikir force planning ini berasal dari kerangka pikir dibawah ini [54]:

 

Gambar. Generik proses pemetaan CBP, relative sama dengan yang lain bukan?

Kerangka pikir Australia untuk membangun kekuatan militernya. Perhatikan bahwa dalam blok Government guidance adalah dokumen stratgeik yang harus dirujuk, misal:National security strategy, National military strategy, dan rujukan-rujukan lain yang penting.

Pola pikir Defence Capability Plan Australia;

…..Skema Canada dengan focus Force Development Analysis-nya.

…. Skema Canada dengan focus CBP (Capabilities-Based Planning)[55]

 

Saat Canada focus pada Implementasi strategik.

…dan Inggris focus dua (2) obyektif; yakni Force Planning dan Equipment Planning.

Force planning UK, dibawah ini,

& Equipment planning UK

Model berikut, dipetik dari literatur militer AS[56], gambar ditengahnya (assessment & analysis) menunjukan pentingnya skenario (defense planning scenario). Integrated architecture menunjukkan bahwa kekuatan militer yang akan dibangun (force structure) berbasis operasi gabungan (didukung Joint Functional Concepts—blok sebelah kanan tengah). Pada tahap ini, Angkatan maupun Komandan tempur belum ikut mengkaji dan menelaahnya. Mereka akan beraksi uji kelaikan kapabilitas tempurnya, setelah struktur kekuatan gabungan dihasilkan.

Gambar berikut, di-petik dari literatur RAND Corpt—perhatikan force planning (force planning atau force structure dua istilah yang sama) gaya AS, dibagian tengah adalah proses dari skenario perencanaan pertahanan nasional (ber-basis opsmil gab), dengan guidance (blok-blok dari atas/luar) seperti National Security Strategy (baca:—kamnas) & National Defense Strategy (+National Military Strategy) berujung (produk) pada kebutuhan kekuatan militer yang dibutuhkan (force requirement) dalam bentuk operasi gabungan (gugus tugas—elemen gugus dihitung dan dikaji ulang oleh Kas Angkatan masing masing)—lebih rinci lagi adalah Force Structure (produk turunan Force Requirement).

Model force planning yang lebih di-sederhanakan (bandingkan dengan gambar pertama). Gambar yang diblok hitam bawah kanan dan kiri sepertinya adalah Capabilities[57]. Framework yang akan menghasilkansuatu struktur kekuatan militer selalu ditengarai dengan masukan (hadirnya petunjuk) seperti President’s guidance atau SecDef (Menhan), National military strategy, National Defense strategy, dan National security strategy (semua menggunakan kosa kata National bukan negara)—semua kerangka pikir force planning tidak akan lepas dari petunjuk atau rujukan ini  (bukan kertas putih/white paper)). Perhatikan konsep cost analysis bukan lagi sekedar perkiraan biaya, namun berhitung dengan biaya yang dikeluarkan pembeli dengan perkiraan besarnya kepantasan yang diperoleh pabrik atau penjual dengan memperoleh untung yang memadai (tidak berlebih-lebihan) yang disebut sebagai cost affordable. Hint: model seperti diatas, adalah kerangka membangun struktur kekuatan (relatif mirip) dari Inggris, Selandia baru, Canada, Korea selatan dan masih banyak lagi negara lainnya. Tanpa satu kerangka, sulit menjaga konsistensinya dan evalusi berikut verifikasinya (bagaimana mempertanggung jawabkan secara realistik dan logik bisa diketemukan sejumlah kapal, pesawat, helli, tank-tank, sekian sekian, dst, dan sista yang dipasang adalah ini memiliki kapabilitas (bukan desain pabrik atau kata pabrik saja) ini itu.

Berikut; adalah model inovatif kerangka pikir Australia untuk membangun kekuatan militer (force structure) dengan catatan opsi force structure sudah terbangun (gambar blok bawah) dan diuji ulang (garis titik titik) dengan skenario terbarukan (up-dating), obyektif militer (sasaran realistik militer) terbarukan (current) vs obyektif militer yang akan datang, sumber daya yang ada (resources)—memadukan antara system thinking (produk) yang sudah ada dengan yang akan datang (terbarukanàintegrating current & future thinking).

Parameter dari kerangka pikir yang ada di-atas benar-benar signifikan sebagai jantung ketrampilan dan pengetahuan bagi analist force planning adalah; membangun skenario (scenario analysis), membangun kebutuhan kekuatan (force requirements) dan membuat kalkulasi tentang kapabilitas (capabilities analysis & risk analysis). Betapa signifiannya parameter CBP, skenario, dan task analysis lainnya yang melekat dalam force planning model yang dipilih negara tersebut—bukan sekedar tren ikut-ikutan namun benar benar elemen ilmiah (scientific-based) sangat berperan didalamnya. Dengan tool-tool dan dukungan perangkat yang sudah dilakukan belasan tahun lamanya. Mengulang kembali tentang kaitannya dengan komponen renops (atau ConOps) dan definsinya, periksa gambar dibawah ini.

Hint: Effek dan tugas (dimaksud) sebagai elemen komponen EBO (Effect-Based Operations ~ sekarang adalah elemen analysis dalam renops/CONOPS) dan definisi Capability [58] mengikuti definisi MORS (military operations research society).

Methodologi menciptakan scenario yang diperlukan terdiri dari tiga (3) tingkatan; [1] analisis problem; merumuskan definisi yang jelas tentang problem investigasi, [2] sistem analisis; mengidentifikasi pengaruh luar yang relevan terhadap problem yang sedang diamati, [3] proses synthesis; menyelidiki saling ketergantungan (faktor) dan mempertimbangkan alternatif skenario [59]. Analisis problema akan membantu para pakar dan analist serta pemilik masalah agar bisa mengerucut kepada pandangan bersama, kemudian membatasi atau menstrukturkan lebih jelas. Sistem analisis akan menggambarkan problema sebagai suatu system dengan sub atau komponen-nya dan menghubungkan dengan faktor yang mempengaruhi dari luar/dalam—menemukan mana yang relevan dan tidaknya.

Proses sinthesis akan mempertimbangkan cara yang sistematik dan logic untuk mengurai semua skenario yang memungkinkan (plausible) dan menentukan skenario utamanya atau mengimbanganginya dengan scenario campuran[60]. Cara pelaksanaan yang lebih kreatif seperti “pemanasan” (brainstorming), RTD, dan Delphi memungkinkan dalam proses yang pertama dan kedua. Tersedia dua (2) methodologi dasar untuk prose kedua dan khususnya ketiga (proses sinthesis), lanjut pak Nguyen. Pertama, Non Bayesian method  (a.l: Morphological Analysis, pendekatan Battelle, dan FAR (Field Anomaly Relaxation). Kedua; Bayesian, misalnya CIA (cross impact analysis) atau programa tujuan (Goal programming). Pengayaan lebih lanjut dapat dilakukan dengan methoda Analsisi Cluster sewaktu menggunakan BA (Battelle Approach) dengan IP (integer programming) sewaktu membongkar masalah dengan GP (Goal Programming) atau Logika Fuzzi atau mungkin kombinasi dari itu semua[61].

Ringkasan penting

Konsep asimetrik, ancaman, ragam peperangan hybrid, perilaku kekuatan militer negara lain/tetangga adalah konsekuensi yang dipahami militer sekarang dan semuanya menjadi elemen masukan tersiptanya skenario. Force planning adalah kalkulasi kekuatan militer termasuk personilnya, bagaimana dengan kekuatan cadangan (UU)? Logikanya cadangan adalah konsekuensi (impact) kekuatan regular yang mungkin hilang, rusak, meninggal, dll. Pengembangan methodologi dan model kalkulasi kekuatan militer modern (force planning) NATO dan negara lain—bahan evaluasi Kemhan atau TNI. Demonstrasi modernisasi, pengetahuan serta ketrampilan manusia jauh lebih signifikan di-bandingkan sekedar hanya memodernisir operator (kompetensinya) alut sista. Membeli manusia yang kompeten (berkualitas dunia) versus isu masa depan, memahami dan sanggup mengatasi tantangan (knowledge-based)—lama, mahal, tapi lebih menjanjikan demi masa depan bangsa bukan? Materi engineering dan sain seperti disebut diatas (Morphological, dll) perlu jauh hari disiapkan.

Re-engineering, inovasi kurikulum dan kajian ilmiah Lemdik-lemdik KemHan dan TNI (workshop bidang personil & pendidikan Kemhan, TNI barangkali) sangatlah penting sekali. Berhandai-handai skenario terbangun maka ujung-ujungnya akan muncul beberapa hal; seperti sangat memungkinkan, memungkinkan tapi tidak signifikan, atau bahkan lemah kemugkinan-nya (probable, plausible, possible), kartu liar (wild-card), hal ekstrim yang  bisa saja terjadi atau diluar ini semua (skenario gagal). Bahasan ini ditutup dengan gambar skenario dan peluangnya kedepan, termasuk hadirnya kartu liar (wild-card) atau skenario gagal [62].

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

[1] Barat sering menyebut (lebih menyukai sebutan RMA) RMA, sebaliknya Russia lebih suka menyebut dengan revolusi teknologi militer (RMT).

[2] Steven Metz & James Kievit, The Revolution in Military Affairs and Conflict Short of War, (US Army War Coll, Monograph, July, 25, 1994), halaman 1. … in the purest sense, revolution brings change that is permanent, fundamental, and rapid.  The basic premise of the RMA is simple: throughout history, warfare usually developed in an evolutionary fashion, but occasionally ideas and inventions combined to propel dramatic and decisive change. This is not only affected the application of military force, but often altered the geopolitical balance in favor of those who mastered the new form of warfare.      

[3] Kekuatan Insurjensi di Indonesia yang formal a.l: PRRI, Permesta, DI/TII, namun selanjutnya kegiatan semacam insurjensi lebih banyak disebut sebagai “gerakan”— konsekuensi dan respons atas serangan insurjensi dan gerakan berbeda sekali  (?), penulis.

[4] Adam B. Lowther, Americans and Asymmetric Conflict: Lebanon, Somalia, and Afghanistan, (Praeger, 2005), halaman 5.

[5] Brendan O’Leary, (Ed), National and Ethnic Conflict in the 21 St Century; Asymmetric Autonomy; and the Settlement of Ethnic Conflicts, ch7, halaman 183;

——-Brendan O’Leary; Thinking About Asymmetry and Symmetry in the Remaking of Iraq’,

              [6] Scott W Harold, et-all; The US,-Japan Alliance ad Deterring Gray Zone Coercion in the Maritime, Cyber, and Space Domains, halaman 23, ….Singkatnya zona abu-abu dapat diterjemahkan sebagai berikut….konflik yang tidak jelas, apakah berada dalam situasi damai  murni ataukah tidak — konflik-pun sepertinya terasa tapi  sangat tidak jelas (no clear-cut).

[7] Thomas R Peltier, Information Security Analysis, (Aurbach, Taylor & Francis Group LLC, 2005), halaman 2, …pemerintah US (Federal) sdh menerbitkan petunjuk untuk setiap birokrat dan ajensi resmi pemerintah untuk melaksanakan Manajemen RIsiko semenjak tahun 1979 ~ bulatkan jadi 1980-an sudah dimulai, jadi 30 tahun-an yang lalu. Kapan pemerintah RI?

[8] Keandalan (reliability) adalah tingkat dimana gambaran yang tercipta mendekati benar. Semakin andal, semakin dipercaya atau yakin peluang untuk sukses atau tingjkat kepercayaannya tinggi. Skenario dituntut memiliki tingkatan seperti itu, untuk mencapainya perlu personil yang terlatih membangun scenario seperti ini. Tidak ada satu negarapun yang akan memberikan pelatihan yang terbaik untuk membangun skenario, sekedar introduksi barangkali ya — berlatihlah sendiri, dalami sendiri dan evaluasikan terus menerus.

[9] David L. Buffaloe, Defining Asymmetric Warfare, (Papers by The Institute of Land Warfare, Sept, 2006), halaman 1…bayangkan tahun 1962, pidatonya begitu kontemporer …, pen.

[10]  Samy Cohen, Israel’s Asymmetric Wars, halaman 11.

[11] Kelompok insurjensi adalah kelompok yang menyerang negera, pemerintah (symbol atau aparatnya), atau pemberontak, bukan pelaku tindak kriminal, apalagi membawa senjata dan menyerang aparat pemerintahan atau symbol pemerintahan — aturan mainnya …. sebagai penindak anti mereka adalah militer.

[12] Bentuk perang gerilya, mulai era kemerdekaan RI, Vietnam era 65-70an, perang di-Lebanon sangat semakin jauh berbeda-satu sama lain, sulit dibandingkan—semakin brutal dibandingkan sebelumnya. TIdak bisa petarung gerilya sukses di-Lebanon akan sukses di-Vietnam atau di-Indonesia—sangat berbeda gaya dan pola pertarungannya.

[13] T V Paul, Steve Smith, Ken Booth, et-all, Asymmetric Conflicts:  War Initiation by Weaker Powers, ( Cambridge Universtity Press, 1984) , halaman 14

[14] Teori Benefit Cost (atau Cost Benefit sama saja artinya) sudah lama berkembang (dan telah lama di-praktekan dinegara maju kl 40 tahun yang lalu per setiap manajemen proyek nasional atau besar). Teorinya masing-masing alternatif manfaat atau Benefit atau Effectiveness (setiap masalah) akan di-dukung dengan masing-masing konsekuensi ongkos, dan ongkos adalah konsekuensi pilihan (yang mana mau diambil) sama sekali bukan bukanlah kendala—kendala yang sebenar-benarnya adalah ketidakmampuan pemilik masalah untuk membangun definisi masalah (model Benefit atau Effectiveness) dan obyektif masalah yang akan dikejar. Biaya atau ongkos sebagai kendala sdh sekian lama selalu di-mithoskan sebagai kendala, padahal tidak. Perhatikan — bila Benefit (B) atau Effectivenss (E) dari 1, 2, dan n didukung dengan pasangan konsekuensi biayanya atau C (cost), maka — B1 atau E1  per C1, ditulis B1 (atau E1) / C1, bandingkan dengan B2 (atau E2) / C2, dan B3 (atau E3) /  C3, dst…. mana yg paling effisien … atau ada kriteria lain tergantung maunya Boss), misal Fixed Benefit/Effectiveness per Cost ratio , atau Fixed Cost pilih Benefit mana saja pasangan Fixed Cost tersebut, atau bisa juga pilih Benefit atau Effectiveness yang tertinggi tdak perduli ongkosnya,   dll.

[15] Ibid, halaman 14.

[16] Pemilik masalah tidak selalu pengambil keputusan, bisa saja tim pemberi saran atau staff pengambil keputusan atau analis keputusan atau konsultan.

[17] Praktek sehari-hari akan lebih rasional apabila pemilik masalah membangun berbagai alternatif solusi atau saran (atau sesuatu system yang akan dibeli, diadakan, diinvest, atau saran untuk suatu laporan atau kegiatan sebaiknya ada alternative yang lebih dari satu) — saran atau solusi yang tanpa alternatif rasanya perlu dipertanyakan kebenaran-nya…bernarkah hanya ada satu alternatif atau tidak adakah peluang untuk alternatif lainnya?  Dan masing-masing alternatif dengan dukungan (berapa) besarnya biaya yang dibutuhkan (khusus untuk suatu system sebaiknya dalam bentangan total life cycle cost). Pilihan atau alternative solusi yang akan dilakukan atau dipilih atau diadakan (pengadaan) atau dibeli hanya satu-satu-nya biasanya sangat jarang terjadi (kecuali pilihan dominan), dan rasanya kurang “fair”. Akan menjadi “fair” dengan solusi atau saran atau jawaban ber-bagai alternatif pilihan. Pilihan yang menjadi prioritas akan ditemukan sejumlah penjual investor atau penjual yang akan mempertahankan kebenaran harga Manfaat atau Effektifitasnya dan masing masing komponen biayanya. Tanpa cara ini pembeli akan dikendalikan para penjual atau investor.

[18] https://www.huffingtonpost.com/nayan-chanda/chinas-tactics-in-east-asia_b_4667993.html

[19] Ryan Pickrell, The Daily Caller, June 8, 2017, 2:47 PM, http://www.businessinsider.com/china-has-covert-naval-fleet-disguised-fishing-boats-2017-6/?IR=T …. China has a covert naval fleet disguised as fishing boats,…The Chinese Maritime Militia (CMM), a paramilitary force masquerading as a civilian fishing fleet, is a weapons for gray zone agreesion  that has operated in the shadow of plausible debniability for years. Supported by the PLA (N) “grey hull” and the Chinese Coast Guard “white hulls” the CMM “blue hulls” constitute China’s third sea force.  Idem insiden yang dihadapi UNSN Impeccable yang dihadang kapal ikan China yang nampak terorganisir mencegatnya dan membuat manuevra berbahaya.

[20] Scott W Harold, et-all; The US, -Japan Alliance ad Deterring Gray Zone Coercion in the Maritime, Cyber, and Space Domains, halaman 23,

[21] https://aa.com.tr/en/economy/china-invokes-cabbage-tactics-in-south-china-sea/63892

[22] Ibid, … China is conducting ‘cabbage’ or a militarily overwhelming (luar biasa) strategy and ‘salami-slicing’ – insidious land-grabbing tactics to strengthen its power in the South China Sea, … He (Xi’s Jiantong) added that “to achieve its strategic goals, China is following very clever tactics that are difficult to counter.”

[23] Ibid, dan beberapa sumber menyebutkan bahwa paramiliter adalah pengawak kapal ikan China tersebut.

[24] Ibid,

[25] AA = anti akses

[26] AA/AD  =  anti access & area denial.

[27] https://www.japantimes.co.jp/opinion/2013/07/25/commentary/world-commentary/chinas-salami-slice-strategy/ #. W s 7UGJcxU2w

[28] Hal Brands & Zack Cooper, Getting Serious About Strategy in The South China Sea, (Naval War Coll Review, Winter 2018, volume 71, Number 1), halaman 18.

[29] Ibid, halaman 25.

[30] James S Thomason, IDA’s Integrated Risk Assesment and Management Model, (Institute for Defense Analysis, June 2009), halaman 3… In the DoD (Dephan AS) context, risk is defined as: “probability and severity of loss linked to hazards. Risk assessment — the identification and assessment of hazards, risk management — the process of identifying, assessing, and controlling risk arising from operational factors and making decisions that balance risk cost with mission benefits.

[31]  Hans Liwang, An Examination of the Implementation of Risk Based Approach in Military Operatiosns, hal 3.

[32] Terje Aven, Foundations of Risk Analysis, (John Wiley & Sons, Ltd, Second edition, 2012), halaman 4, … several definitions  of risks; including: exposure to the chance of injury or loss, a hazard or dangerous chance, the hazard or chance of loss, the degree of probability of such loss.

[33] Manajemen proyek apa yang tidak memiliki risiko, mulai bencana (bangunan jebol, rusak, ambruk, sampai dengan tidak terselesaikan/mangkraknya suatu proyek besar—?) — mengendalikan risiko dan memitigasinya.

[34] Thomas R Peltier, Information Security Risk Analysis, (Auerbach, Taylor & Francis, 2005, Second Edition), halaman 3.

[35] Ibid, halaman 39.

[36] Hans Liwang, Risk-Based Ship Security Analysis – An Approach Based On Civilian and Military Methods, (Dept of Shipping and Marine Technology Chalmers University of Technology, Gothenburg, Sweden, 2012), halaman 2

[37]   Beat Habegger (ed), The International Handbook on Risk Analysis and Management, (Swiss Federal Institute of Technlogy, 2008), halaman 94.

[38] Thomas R Peltier, Information Security Risk Analysis, (Auerbach, Taylor & Francis, 2005, Second Edition), halaman 16.

[39] Charles Yoe, Principles of Risk Analysis; Decision Making Under Uncertainty, (CRC Press, Taylor& Francis Group,2012), halaman 5 .

[40] Ibid, halaman 4.

[41] Ibid, halaman 8.

[42] Thomas R Petier, Information Security Risk Analysis, (Auerbach, Taylor & Francis, 2005, Second Edition), halaman 78.

[43] Ibid, halaman 8.

[44]  Beat Habegger (ed), The International Handbook on Risk Analysis and Management, (Swiss Federal Institute of Technlogy, 2008), halaman 97.

[45] Ibid, halaman 97,98.

[46] Ibid,

[47] Tomas Eriksson & Tom Ritchey; Scenario Development and Force Requirements Using Morphological Analysis (MA), (Swedish Defence Research Agency/FOI, Divison of Defence Analysis),

[48] Sepertinya kosa – kata pertahanan actor-aktor selalu diikuti  dengan kata nasional bukan negara—mungkin saja cukup nalar bahwa yang dipertahankan bukan sekedar negara (phisik) namun juga system nilai, harga diri, kedaulatan, harga diri dll—pantas disebut pertahanan nasional, strategi pertahanan nasional, strategi keamanan nasional,dll.

[49] Tudor Tagarev & Lidia Velkova; Scenarios for Resource Allocation to Bulgaria’s Defense in the Horizon of 2035, (J. Def Manag, 2014, vol 4, number 1), halaman 1…Scenarios in Defense Policy Formulation.

[50] Ibid,

[51] Mengapa operasi militer gabungan—operasi yang paling effisien adalah ops-mil gab. Produk skenario adalah kekuatan militer gabungan yang dibutuhkan. Barulah produk ini diserahkan ke-masing-masing Angkatan untuk dipertimbangkan kapabilitasnya, jumlah, deploy dll. Bukan sebaliknya dari Angkatan masing-masing ajukan untuk disetujui.

[52] Definisi pengadaan, bukanlah sesederhana ada anggaran langsung beli, namun dipelajari terlebih dulu kapabilitasnya, kemudian dipetakan mulai invest (beli awal), kemudian biaya – biaya pemeliharaan, operasional, modernisasi, sampai dengan alut atau system tersebut tutup buku (book value) — total life cycle cost.

[53] Gambar gambar berikut dan sedikit penjelasan-nya dipetik dari TTCP Technical Report,Guide to Capability-Based Planning, Apaper prepared by the Joint Systemand Analysis Group,Technical Panel 3 (JSA TP-3) of TTCP for the MORS (military operations research society) Workshop held in Alexandria,Va,USA, 10-21 October 2004.

[54] TCCP, Panel – 3, Guide to Capability-Based Planning, (Joint system and analysis group), halaman 5.

[55] Secara tradisonal basis force planning adalah TBP (threat-Based Planning) era perang dingin lalu.

[56] Perhatikan blok diatas adalah rujukan penting, seperti National security strategy, National military strategy, Joint Concepts (juk ops mil gab), dll.

[57] Sepertinya definisi kemampuan (kapabilitas) yang selama ini didengungkan adalah kesanggupan alut sista atau system apapun sesuai desain teknisnya (engineering)—misal: kecepatan masksimum, aksi radii, kecepatan tembak, dll. NATO atau Barat mendefinisikan sebagai ukuran keberhasilan dampak terhadap lawan atau sasaran atau operasi, misal probabilita deteksi given a certain range, probability kill given hit, probability number of enemy’s aircraft downed, dll. Sedangkan kecepatan tembak per menit, aksi radius, jarak tempuh maksimu, dll adalah by design pabrik (harapan atau ekpektasi pabrik atau teknik) tidak ada kaitannya sama sekali dengan dampak terhadap musuh atau sasaran (tidak teruur, tdk terbukti,tidak teruji statistic). Bagaimanapun juga “super” – nya design pabrik namun tidak bisa memberikan effeck sedikitpun terhadap sasaran belum pantas disebut kapabel (mampu). Definisi yang cukup logik untuk membantu memilih system yang terbaik setelah digabungkan konsekuensi biaya. Definisi kapabel versi Barat dikaitkan juga dengan basis effek terhadap musuh atau sasaran (EBO ~ effect based operations) dan definisi capability menurut military operations research (MORS) adalah — capability  = ability (design pabrik) + “outcome” (hasil uji coba, modeling, simulasi, uji coba atau pengalaman sesungguhnya dalam peperangan, statistik, dll. Jadi kesanggupan atau kebisaan (ability) “by design” pabrik belum pantas disebut capable (mampu) sebelum terlihat atau teruji bahwa system tersebut benar-benar bermanfaat (ada dampaknya terhadap musuh). Ukuran manfaat dilingkungan militer adalah effektifitas, ukuran yang bisa dicapai sesungguhnya dalam uji coba atau pertempuran dalam bentangan MOE.

[58] Mengulang definisi (sesuai MORS), maka Capability = Ability (desain pabrik—kecepatan kapal, pesawat,aksi radius,dll) + “outcome” (hasil eksperimen, statistic, uji coba yang mengikuti formula stsistik,dll). Sekali lagi kemampuan yang sering disebut masih sebatas desain pabrik, masih sebatas bisa atau sanggup tetapi belum kapabel, maunya pabrik,penjual, dan belum teruji terhadap sasaran atau obyek. CBP definition sendiri adalah …. This method involves a functional analysis of operational requirements. Capabilities are identified based on task required…. Once the required capability inventory is defined, the most cost effective and efficient options to satisfy the requirements are sought.

[59] M.T Nguyen & M Dunn, Some Methods for Scenario Analysis in Defence Strategic Planning, (Defence Science and Technogy Organisation, Australia), hal 1.

[60] Ibid,

[61] Ibid,

[62]  Maree Conway, An Introduction to Scenario Planning, Foresight Methodologies; Workshop, 28 Sept,2003, slide # 13.

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x
Share via
Copy link
Powered by Social Snap