ASIMETRIK—RISIKO—SKENARIO—DEMISTIFIKASI ULANG

Today, threats are no longer direct (inter-state conflict), intended, and calculable, as during the Cold War, but asymmetric and indirect, diffuse, and highly uncertain (International Handbook on Risk Analysis and Management, Professional Experiences). 

Oleh : Budiman Djoko Said

 

Pendahuluan

Revolusi urusan militer/RUM (revolution in military affairs) telah[1] menggoyang dramatik perubahan doktrin, inovasi strategi, konsep operasi dan bentuk peperangan. Keunggulan teknologi (baca RUM)[2] menjadi kekuatan dahsyat namun murah melawan yang lebih kuat atau unggul melalui cara asimetrik. RUM telah mentransformasi aktor non-negara menjadi insurjensi “tidur” dan memunculkan dirinya setiap kesempatan[3]. Mentransformasikan identitas sebagai kekuatan insurjen “spiritual” baru dengan baju radikal atau insurjen “komersial” kuasi seperti “peperangan/konflik zone abu-abu”. Usai perang dingin memunculkan integrasi paradigma baru sebagai cara mengatasi aktor asimetrik yang menggunakan integrasi cara konvensional dan atau non-konvensional dengan teknologi informasi.

Perang asimetrik tradisional terorganisir dikenal sebagai perang gerilya sudah dilakukan unit pasukan Jerman SS-Werwolf dimedan perang Eropah era PD-II (meski tidak sukses)[4]. Simetrik menginginkan format keseimbangan, sebaliknya bagi asimetrik. Kedua-nya melekat dalam literatur ihwal desain konsititutional[5]. Berkembanglah konsep peperangan kecil (small wars) vs asimetrik dan peperangan panjang (long wars) vs terrorisme. Definisi perang kabur dan berkembang dalam diskursus dengan sebutan konflik zona abu-abu (gray-zone warfare/conflict)[6]—hasil studi kasus di-Lebanon, Afghanistan, Somalia, ex-USSR seperti Ukraina, Georgia dan Crimea. Methoda perang atau konflik sebagai bagian dari keputusan keamanan nasional (baca: model) sangat tergantung analisis risiko[7]. Risiko berkaitan erat dengan bahaya dan ancaman (baca: peluang). Baik buruknya situation awareness vs keamanan nasional (baca: strategi kamnas) tergantung andal tidaknya (derajad kepercayaan)[8] skenario yang dibangun Kemhan. Seyogyanya kompetensi (knowledge-based) membangun skenario, risiko, dan kapabilitas kekuatan militer harus dikuasai setiap personil keamanan nasional (baca militer) guna meyakinkan setiap keputusan keamanan nasional—tugas Lemdik dilingkungan TNI.

Peperangan asimetrik

                                                                   This is another type of war, new … (JFK, West Point, 1962)

Tipikal ancaman (peperangan) asimetrik sudah di-gambarkan Presiden JFK dalam sambutannya di Akmil AS (West Point) tahun 1962 … This is another type of war, new in its intensity, ancient in its origin—war by guerillas, subversives, insurgents, assasins, war by ambush instead of by combat; by infiltration instead of aggression, seeking victory by eroding and exhausting the enemy instead of engaging him[9]. Tantangan bagi setiap negara dan kesulitan pasti di-jumpai ketika ke-dua belah pihak berhadapan, terlatih dalam perang konvensional serta di-posisikan di-dekat pemukiman penduduk. Terminologi bentuk peperangan akan tergantung mashab, kebiasaan dan periode, seperti LIC (low intensity conflict), peperangan tidak beraturan, asimetrik, peperangan generasi ke-empat atau hybrid[10], bahkan paling kontemporer adalah peperangan atau konflik zona abu-abu—-semua sebenarnya relatif sama. Bila memperhatikan subyeknya barangkali definisi peperangan asimetrik jauh lebih tepat. Seperti punya “aturan main” spesifik, di-cirikan dengan kekasaran (brutality) dan memerlukan imajinasi serta respon ad-hoc. Boleh-boleh saja ada yang tidak setuju, tetapi bagi yang terlatih bertarung secara konvensional, peperangan asimetrik ini lebih menyakitkan dan brutal. Peperangan asimetrik mewakili perang antara yang lemah versus yang kuat dan dinikmati oleh kelompok militer, baik kuantitatif ataupun kualitatif yang lebih unggul.

Kelompok ini yang bisa menyerang negara dan aktor non-negara, kelompok kombatan tidak beraturan (irregular combatants), insurjensi (bukan kelompok kriminal bersenjata)[11], gerilya, atau teroris. Sesungguhnya taktik gerilya oleh pihak yang lemah versus pihak yang lebih kuat—ciri-ciri kuat bentuk peperangan yang sangat klasik[12]. Unit tempur peperangan tidak beraturan atau insurjensi atau gerilya tidak selalu “harus” teroris, kecuali ada salah satu kegiatan di-dalamnya yang mengait dengan ciri-ciri spesifik teroris. Lanjut Samy Cohen, petarung asimetrik memilih methoda selalu berada di-dekat unit kekuatan tradisional sasaran, dan tiba-tiba secara mendadak menyerang kelompok musuh yang terisolasi, mengerusnya dan membuat lemah kekuatan besar lawan. Kemenangan asimetrik ini dibayar mahal sebagai harga pertaruhan bagi kekuatan yang lebih besar. Unit yang lemah memegang inisiatif dan kendali serangan sekaligus faktor kejud. Membingungkan bagi aktor yang kuat militernya, tidak di-ketahui mana garis depan dan garis belakang atau pinggir kanan ataupun kiri tidak diketahui. Peperangan dekolonisasi adalah contoh konflik asimetrik. Beberapa perang besar yang terjadi bisa dikategorikan peperangan asymmetrik a.l: serangan Jepang ke Russia tahun 1904, serangan Jepang ke Pearl tahun 1941, intervensi China di-Korea tahun 1950, offensif Pakistan di-Kashmir tahun 1965, offensif Mesir di-Sinai tahun 1973, dan invasi Argentina tahun 1982 di-kep Falklands. Kesamaan relatif dalam enam (6) kasus tersebut bahwa aktor inisiatornya berkekuatan militer yang relatif lemah[13]. Dari ke-enam (6) kasus tersebut, diluar rasionalitas, negara yang lemah justru berinisiatif menyerang negara yang lebih kuat. Pendekatan manfaat dan ongkos (cost-benefit) rasanya tidak akan mempertemukan manfaat yang besar dengan konsekuensi (baca: perang) yang cukup besar (dollar terbuang, korban manusia, kapal, pesawat terbang, dll)[14].

T.V Paul lebih mempercayai konsep “rasionalitas subjektif”[15]—model Bayesian. Model ini akan berasumsi bahwa system nilai, kepercayaan dan ekspektasi pemilik masalah[16] adalah faktor penting guna menentukan harga probabilistik (peluang) masing-masing alternatif sebelum dia menentukan alternatif mana yang di-ambil[17]. Asumsi dalam model Bayesian ini akan semakin rasional apabila “body informasi” kapabel memberikan “merits” (harga ~ pay-off), per setiap pilihan (course of actions) yang bisa di-evaluasi. Dengan menentukan satu-satu-nya alternatif sulit untuk menilai dominasi kebenarannya—tidaklah rasional suatu laporan dengan satu (1) solusi atau alternatif saran dan tindak, kecuali hadir dominasi solusi atau saran.

Maaf untuk membaca full akses konten dalam format post artikel silahkan terlebih dahulu mendaftar sebagai anggota milist FKPM –> D A F T A R

0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Scroll to top
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x
Share via
Copy link
Powered by Social Snap