BAGAIMANA PERANGUN BOAT DIPLOMACY SAAT INI?

Letkol Laut (P) Dickry Rizanny N., MMDS

 

Speak softly and carry a big stick; You will go far. (Theodore Roosevelt – Diplomacy)

 

Jika secara sederhana diplomasi adalah manajemen dalam hubungan internasional, maka diplomasi maritim dapat didefinisikan sebagai manajemen dalam hubungan internasional melalui domain maritim. Definisi ini bukan berarti penggunaan diplomasi untuk mengatur permasalahan maritim melalui kodifikasi hukum internasional, namun lebih pada penggunaan aset maritim dalam mengatur hubungan internasional itu sendiri.

 

Gunboat Diplomacy

Gunboat Diplomacy mulai dikenal sejak abad 19 yaitu pada saat kapal-kapal perang negara Eropa bermanuver di sepanjang pantai dengan terus menembakkan meriam ke arah darat, dengan tujuan untuk mendapatkan pengaruh dalam memenangkan diplomasi dan agar negara sasaran menyerahkan diri. Baru pada awal tahun 2000, ketika kekuatan di dunia mulai berubah ke arah kekuatan multipolar, negara-negara yang dulunya merupakan korban, misalnya Cina, India dan Korea Selatan, mulai menggunakan diplomasi serupa demi mencapai tujuan nasional.

Gunboat diplomacy bukanlah suatu taktik yang telah ketinggalan jaman. Secara nyata, gunboat diplomacy tidak pernah ditinggalkan dan secara prinsip tidak pernah berubah, hanya karakter yang berubah. Sebagai contoh, pada bulan Desember 2011 sampai Januari 2012, dalam latihanVelayat 90, AL Iran menunjukkan kemampuan mereka dalam menembakkan Sub-Surface to Surface Missile (rudal dari kapal selam ke kapal permukaan). Tujuan latihan ini untuk mengirim pesan kepada negara lain, terutama yang melintas Selat Hormuz, bahwa apabila merasa terancam, Iran mampu untuk menutup selat tersebut. Beberapa hari kemudian, USS Abraham Lincoln, kapal induk terbesar AL Amerika Serikat, dengan dikawal flotilla kapal perang sekutu, berlayar melintas Selat Hormuz. Pelintasan selat ini memang merupakan rotasi rutin dalam skema operasi AL Sekutu di perairan Teluk Persia. Namun gugus tugas ini sekaligus memberikan pesan jelas kepada dunia internasional, bahwa AL sekutu mampu memberikan respons cepat, khususnya dalam menghadapi kekuatan Iran. Apa yang dilaksanakan AL Iran dan AL Sekutu merupakan bentuk gunboat diplomacykontemporer. Tujuan mereka sama yaitu saling unjuk kekuatan untuk mempengaruhi opini pengambil kebijakan dan perkembangan lingkungan strategis.

Jelas bahwa gunboat diplomacytidak pernah hilang dalam operasi angkatan laut di seluruh dunia. Terlebih dengan perkembangan dimensi peperangan maritim dan peran angkatan laut serta karakter yang berlainan, diplomasiakan selalu menjadi salah satu bagian dari peran melekat pada angkatan laut. Dalam perkembangannyagunboat diplomacy menjadi coercive maritime diplomacy, serta dikembangkan dua jenis diplomasi lainnya yaitu co-operative maritime diplomacy dan persuasive maritime diplomacy.

 

Co-operative Maritime Diplomacy

Co-operative maritime diplomacy atau diplomasi maritim kerja sama dilaksanakan dengan berbagai cara. Diplomasi ini adalah lebih cenderung menggunakan cara pendekatan yang lunak, tanpa menunjukkan dan menggunakan hard power.

Sebagai contoh, pada tahun 2010, AL Cina mengirimkan Peace Ark, kapal rumah sakit tipe 920, ke Jibouti, Kenya dan Tanzania dalam rangka memberikan bantuan logistik dan perawatan medis. Peace Ark datang dan disambut dengan baik dari penduduk Afrika. Namun, yang patut dipertanyakan adalah, mengapa AL Cina berkeinginanmembangun Peace Ark yang berbobot 10.000 ton dan hanya berfungsi sebagai kapal rumah sakit kemudian mengirimkan ke Afrika dengan anggaran yang sangat besar?

Misi tersebut memiliki keuntungan diplomasi dan efek yang sangat kuat terhadap kehidupan bernegara. Peace Ark mengirim pesan perdamaian, membangun kepercayaan terhadap negara yang dibantu, memperkuat hubungan diplomatik dan mendorong persepsi bahwa Cina adalah negara yang ramah. Persepsi keramahan inilah yang merupakan tujuan pokok Cina, apalagi jika dikaitkan dengan pertanyaan ada apa dibalik pembangunan kekuatan angkatan bersenjata Cina, terutama angkatan lautnya yang sangat pesat. Cina hanya ingin memberikan persepsi bahwa Cina adalah negara yang ramah dan cinta damai. Cina berusaha menghilangkan persepsi bahwa pembangunan kekuatan militer yang pesat dari AL Cina, bukanlah untuk tujuan yang berperang atau keinginan untuk mencaplok negara lain.

Selain Peace Ark, AL Cina juga menggunakan kapal latihZheng He dalam melaksanakan diplomasi, yaitu dengan melaksanakan pelayaran keliling dunia dan berkunjung ke pangkalan-pangkalan negara lain, baik negara besar maupun negara kecil. Pada tahun 1989 adalah merupakan pertama kalinya kapal AL Cina berkunjung ke pangkalan Amerika Serikat di Hawaii. Kunjungan ini bertujuan bukan saja untuk menunjukkan misi diplomasi dan membangun pengaruh terhadap sekutu, namun juga memastikan potensi rival dan musuh, dalam hal ini Amerika itu sendiri. Indonesia juga melakukan misi yang sama ketika mengirimkan KRI Dewaruci melaksanakan pelayaran keliling dunia dan singgah di negara lain, yaitu berdiplomasi melalui kerja sama.

Dengan mempelajari apa yang dilakukan Peace Ark dan Zheng He, dengan dua jenis operasi yang berbeda, Zheng He adalah kapal latih yang mempunyai misi goodwill ke negara-negara maju dan berkembang, Peace Ark adalah kapal rumah sakit yang memberikan bantuan kemanusiaan di beberapa negara miskin di dunia, dapat disimpulkan bahwa bentuk kedua diplomasi tersebut merupakan bagian dari diplomasi maritimyang mengutamakan kerjasama.Sangat jelas bahwa pengaruh bantuan Peace Ark dan Zheng He terhadap kemanusiaan dan bencana alam lebih memberikan efek diplomatis yang lebih besar daripada “Invasi Sekutu ke Iraq pada tahun 2003.”  Dua diplomasi modern di atas adalah contoh yang sangat tepat untuk menerangkan tentang konsep pelaksanaan co-operative maritime diplomacy.

 

Operasi Militer Selain Perang dan Soft Power

Perkembangan teknologi menambah peran yang diemban kapal perang dan memberikan pilihan bahwa kapal perang tidak hanya untuk berperang, namunjuga mampu mengemban peran dan fungsi selain perang,dimana peran inimenjadi lebih penting dan lebih diperlukan dunia daripada perang itu sendiri, misalnya bantuan kemanusiaan dan bencana alam.

Bentuk bantuan ini terbukti lebih memiliki efek diplomatis dengan menunjukkan niat baik yang dapat mempengaruhi dalam kehidupan antar negara. Pada tahun 2010, di depan Parlemen Australia, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan kebanggaan dalam melihat pasukan Australia dan TNI bekerja bersama dalam menyelamatkan nyawa dan meringankan penderitaan korban bencana alam tsunami.[1] Ini menunjukkan fakta bahwa walaupun setelah 5 tahun sebelumnya Australia memimpin intervensi internasional terhadap Timor Timur, namun tentara Australia masih di terima oleh Indonesia. Inilah efek dari good will yaitu membantu korban bencana alam dan kemanusiaan mampu memberikan efek yang positif dalam diplomasi.Australia berhasil memenangkan hati dan pikiran Indonesia.

Seorang ahli teori diplomasi, Joseph Nye menjelaskan bahwa diplomasi yang bertujuan untuk memenangkan hati dan pikiran rakyat atau negara yang ditujudisebut sebagai Teori Soft Power. Dalam bukunya, Nye menjelaskan bahwa “Soft Poweris getting others to want the outcome that we want and rests on ability to shape the preferences of others.” (Soft Power adalah aksi mempengaruhi orang lain untuk ikut menginginkan apa yang kita inginkan dan sangat bergantung pada kemampuan untuk membentuk pemikiran orang lain tersebut).[2]Pembentukan pemikiran tersebut tidak didapatkan melalui paksaan (coercion), namun dengan menunjukkan personalitas yang menarik, budaya, nilai politik dan institusi,jalan hidup atau kebijakan yang lebih bermoral dan resmi.

Dapat disimpulkan bahwa, dalam berdiplomasi kekuatan angkatan laut dapat digunakan tidak hanya untuk kepentingan perang, namun dapat berpotensi digunakan untuk hal-hal lain atau tujuan diplomasi suatu negara yang seharusnya dilaksanakan oleh departemen pemerintahan atau lembaga lainnya.Kesimpulan ini sesuai dengan apa yang dituliskan Geoffrey Till dalam bukunya Sea Power, yaitu angkatan laut memiliki rentang kemampuan yang luas sehingga mengharuskan mereka untuk melaksanakan peran-peran yang biasanya sulit dikerjakan oleh angkatan militer lain.[3]

Persuasive Maritime Diplomacy

Persuasive maritime diplomacy ini adalah lebih untuk meningkatkan pengakuan sebagai sebuah kekuatan maritim atau kekuatan nasional, serta membangun dan meningkatkan gengsi atau nilai tawar di tingkat internasional. Diplomasi ini bukan untuk mempengaruhi suatu negara tertentu dan juga bukan untuk mengancam atau untuk menyerang negara yang merupakan potensi menjadi musuh. Namun, diplomasi ini untuk membujuk orang lain atau menimbulkan pengakuan negara lain bahwa angkatan laut negara tersebut adadan efektif.

Diplomasi maritim persuasif ini juga bisa disebut dengan diplomasi “showing the flag” yaitu diplomasi yang menggunakan kapal perang dengan menunjukkan kehadiran dan kekuatan suatu negara tanpa perlu mencari atau mempengaruhi kebijakan negara lain. Contoh yang sangat jelas adalah pada saat Presiden US, Theodore Roosevelt, memerintahkan dua skuadron battleships dan kapal perang pengawal mereka untuk di cat putih dan melaksanakan pelayaran keliling dunia mulai Desember 1907 sampai dengan Februari 1909. Operasi Great White Fleetini bertujuan utama bahwa pemerintah US ingin menunjukkan rasa cinta damai dan Amerika mampu menjangkau seluruh dunia.

Di dalam pelayarannya,Great White Fleet juga merupakan kombinasi diplomasi dengan co-operative maritime diplomacy, dengan tujuan tambahan yaitu untuk memperkuat persekutuan/ aliansi dan membangun pengaruh US di dunia. Pelayaran ini merupakan keinginan untuk menunjukkan bahwa Amerika adalah salah satu negara terkuat di dunia, terutama setelah memenangkan pertempuran dalam Spanish-American War tahun 1898 dan berhasil merebut Guam, Filipina dan Porto Rico.Roosevelt hanya ingin menunjukkan bahwa Amerika adalah kekuatan global baru.Roosevelt memberikan misi bukan untuk melaksanakan invasi atau menanggulangi agresi yang terjadi atau keinginan untuk berkonfrontasi dengan negara lain, namun dengan semboyan “Speak softly and carry a big stick” dalam diplomasinya.

Namun, diplomasi ini jarang dilaksanakan oleh negara-negara maritim dengan alasan misi yang cenderung tidak jelas dan memerlukan anggaran yang besar. Sangat sulit menentukan keseimbangan antara anggaran dalam menggerakkan gugus tugas dengan pencapaian tujuan yang diinginkan. Sehingga, persuasive maritime diplomacy sering dilaksanakan kombinasi dengan diplomasi lain, karena efek diplomatis  yang timbul sulit diukur keberhasilannya.Karena diplomasi ini bertujuan menanamkan keyakinan akan kehadiran kekuatan maritim terhadap negara lain, tanpa berusaha untuk mempengaruhi kebijakan politis suatu negara. Kesulitan dalam menyeimbangkan penggunaan anggaran operasi diplomasi ini dengan tujuan akhir yang diharapkan menyebabkan jenis diplomasi ini jarang digunakan di banding dua cara diplomasi maritim lainnya.

Coercive Maritime Diplomacy (Contemporary Gunboat Diplomacy)

Bentuk terakhir dari diplomasi maritim adalah coercive maritime diplomacy. Diplomasi ini merupakan bentuk kontemporer dari gunboat diplomacy yaitu mengejar tujuan melalui diplomasi dengan mengutamakan kekuatan (hard power). Namun seiring dengan berkembangnya teknologi dan peralatan tempur angkatan laut, definisi dari gunboat diplomacy menjadi tidak jelas, karena penggunaan alut sista yang berbeda. Namun secara prinsip, diplomasi jenis ini tetap dilaksanakan walaupun karakternya yang berbeda.

Kejadian yang dapat menjelaskan definisi coercive maritime diplomacy adalah diplomasi Amerika, Inggris, Rusia, dan Prancis dalam membuka jalur perdagangan ke Jepang. Pada tahun 1853, gugus tempur kapal US terdiri dari empat kapal perang, dipimpin oleh Komodor Matthew C. Perry, berlayar menuju Edo (sekarang Tokyo) mempunyai tujuan tidak hanya untuk menunjukkan kebangkitan kekuatan imperialisme Amerika, namun juga untuk  membuka sistem perdagangan global. Diplomasi ini berhasil memaksa Jepang memberikan dua pelabuhan besarnya, Shimoda dan Hakodate melalui Konvensi Kanagawa sebagai pelabuhan perdagangan dengan Amerika. Keberhasilan Amerika ini kemudian diikuti oleh negara lain dengan mengirimkan kekuatan angkatan lautnya ke Jepang yaitu Inggris pada tahun 1854, Rusia pada tahun 1855, dan Prancis pada tahun 1858, yang juga berhasil mendapatkan akses perdagangan global dan internasional dengan Jepang sebagai pelabuhan utama.

 

Kesimpulan

Diplomasi maritim dilaksanakan saat pada masa damai,karena batas antara diplomasi yang menggunakan kekuatan dengan aksi peperangan menjadi tidak jelas. Namun, keduanya dapat mempunyai efek politis.Sehingga, jelas bahwa diplomasi maritim adalah sebuah kegiatan diplomasi dengan menggunakan atau memanfaatkan kekuatan maritim untuk mencapai tujuan tertentu, yang bukan tujuan militer saat perang.  Diplomasi maritim bukanlah suatu kegiatan yang berdiri sendiri, namun sebuah spektrum kegiatan mulai dari jenis diplomasi kerja sama sampai dengan jenis pemaksaan.Selain itu, diplomasi maritim juga merupakan kegiatan yang mampu mengisi ruang antara perang militer dengan diplomasi sipil, dengan memberikan pilihan cara kepada pembuat kebijakan untuk dapat mencegah eskalasi yang meningkat dan mencegah terjadinya peperangan yang berkepanjangan. Yang perlu disimpulkan bahwa, apapun jenis diplomasi maritim, mempunyai kesamaan yang mendasar yaitu menunjukkan kepada kawan maupun lawan melalu kemampuan dan niat.Prinsipnya adalah tetap mempertahankan relevansi terhadap tujuannya, yaitu untuk mengejar atau mendapatkan suatu tujuan atau kepentingan suatu negara dengan cara memaksa negara lain, tanpa menimbulkan konflik berskala besar dan menggunakan anggaran yang besar.

 

 

BIBLIOGRAFI

 

Antulio J. Echevaria. 2007. Clausewitz and Contemporary War. USA. Oxford University Press.

Christian Le Miere. 2014. Maritime Diplomacy in the 21 st Century : Drivers and Challenges. Routledge, 2014.

Deborah Sanders. 2014. Maritime Power in the Black Sea. UK Kong’s College London. Ashgate Publishing Limited.

Geoffrey Till. 2009. Sea Power A Guide for the Twenty-First Century. Routledge.

John B. Hattendorf. 2000. Naval Policy and Strategy in the Mediterranean : Past, Present and Future. London , Frank Cass Press.

Toshi Yoshihara & James R. Holmes. Asia looks Seaward Power and Maritime Strategy. Westport. Praeger Security International.

Toshi Yoshihara and James R. Holmes. Red Star Over the Pacific China Rises and the Challenge to US Maritime Strategy.

https://www.theguardian.com/world/2010/apr/22/north-korea-cheonan-sinking-torpedo. Diakses terakhir tanggal 25 Mei 2017.

www.iranwatch.org/our-publications/weapon-program-background-report/iran-missile-milestones-1985-2016. Diakses terakhir tanggal 10 Mei 2017.

 

 

[1] Sambutan Presiden RI, Dr. Susilo Bambang Yudhoyono DI Parlemen Australia tanggal 10 Maret 2010. Tersedia di www.presidenri.go.id/index.php/eng/pidato/2010/03/1353.html (diakses 4 November 2016)

[2]Joseph S. Nye, Jr. Soft Power – The Means to success in World politis. Public Affairs, New York, 2004.

[3]Geoffrey Till, Sea Power, A Guide for the Twenty-First Century, Second Edition, Routledge, 2004.

0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x
Share via
Copy link
Powered by Social Snap