Ekonomi Pertahanan Nasional (Generik Studi Ekonomi Pertahanan)

Oleh: Budiman Djoko Said

Latar Belakang

Ekonomi sangat berkepentingan dengan alokasi sumber daya − seperti memilih doktrin-doktrin dan teknik-teknik yang ada guna menghasilkan “pukul­an” tempur terbaik. Mengekonomiskan sama artinya bergiat menambah sumber daya yang satunya dan mengurangi sumber daya lainnya, contoh kombi­nasi gun versus butter dalam kurva PPC (production possibility curve). Ekonomik atau ekonomis sama saja artinya membuat cara yang pa ling efisien bagi suatu kegiatan yang ditetapkan. Problema menggabungkan (alternatif) sejumlah sumber daya terbatas seperti ru­dal, anak buah, pangkalan, transportasi dan fasilitas pemeliharaan suatu kekuatan udara strategik yang diharapkan dapat menghasilkan efek “getar” (deter­rence) harga sebesar e3 terhadap lawan “A” meru­pakan problema ekonomik yang sebanding dengan menggabungkan sejumlah sumber daya yang terbatas seperti bijih besi, alat angkut, tungku rebus dan pasar yang akan menghasilkan sejumlah “produk” dalam ton untuk menghasilkan “keuntungan” sebesar k6.

Ekonomi dan efisiensi adalah dua cara melihat ter­hadap ciri yang sama dari suatu operasi. Bila produ­sen atau komandan satuan memiliki anggaran yang sudah ditetapkan maka usahanya adalah bagaimana memaksimumkan produksi atau memaksimum­kan pencapaian obyektif militernya. Sebaliknya bila produksi atau obyektif militer sudah ditetapkan maka problemanya adalah “mengekonomiskan” peng­gunaan sumber daya − dua kasus yang sebenarnya relatif sama.1 Ilmu Ekonomi lazimnya berkepentingan mengatasi kelangkaan sumber daya, analog ekonomi pertahanan berusaha mengoptimalkan sumber daya yang ada (fi nansial dan fisikal) versus kelangkaannya demi kepentingan strategi keamanan nasional. Prob­lema paling kompleks adalah mengalokasikannya, bukan membagi-bagi.

Mencermati besarnya sumber daya, memaksa pen­gambilan keputusan memilih banyak alternatif me­lalui cara yang lebih transparan, efektif dan efisien.2 Memilih alternatif berorientasi pada pilihan yang ekonomik agar nilai yang diterima sebanding dengan nilai kepuasan yang didapat − analisis ekonomik.3 Analisis problema Ekonomi pertahanan menggunak­an kerangka konseptual yang sistematik menginvesti­gasi pilihan alternatif problema ekonomi pertahanan. Contoh Ekonomi pertahanan (makro) a.l.: Memilih kapabilitas kekuatan militer cadangan dengan kon­sekuensi biaya yang murah, kapasitas industri per­tahanan yang mendukung pertumbuhan ekonomi nasional atau “kebijakan” pengurangan kekuatan mi-liter, atau transformasi unit militer dengan kelebihan kapabilitas, daya rusak (decisive), profesional, mobil dan struktur kecil (light units/small numbers), dengan konsekuensi total biaya yang lebih murah.

Alokasi sumber daya pertahanan yang sangat besar menyulitkan solusinya mengingat alternatif-alternatif solusi yang tercipta biasanya merupakan himpunan obyektif (multiple – objectives criterion) yang tidak jelas, serta faktor ketidakpastian meliput hampir semua problema ekonomi pertahanan nasional.4 Makalah ini menggagas konsep generik yang berpotensi sebagai studi ekonomi pertahanan dan menghindari teknik yang lebih dalam seperti analisis sistem yang lebih mempostulasikan pencapaian obyektif yang ditetap­kan dengan menginvestigasi lebih dalam “biaya” dan “efektivitas” setiap alternatif yang diajukan − konsep efektivitas dan biaya sebagai konsep yang memerlu­kan pemahaman mendalam bagaimana membangun model efektivitas dan membangun model biaya.

Pembagian Studi dan Penyumbang Gagasan

Ilmu Ekonomi pertahanan terus berkembang seb­agai refleksi problema alokasi sumber daya dan tentu saja masing-masing negara memiliki perspektif mas­ing-masing menghadapi tantang an isu Ekonomi per­tahanan. Umumnya penyebaran studi ekonomi per­tahanan, makro dan mikro bisa didekati dari penggal waktu terjadi konflik besar, misal di era perang dunia II, lebih banyak mengait produksi besar-besaran alut dan sistem persenjataan dan logistiknya (termasuk angkutan). Era perang dingin berperan sebagai eko­nomi yang membantu Kemhan, perlucutan senjata, konversi dan perdamaian. Paska perang dingin sep­ertinya menggarap ekonomi antara perang dan da­mai, sedangkan Ekonomi kontemporer lebih bermi­nat menggarap yang berkaitan dengan peperangan konvensional, ethnik dan konflik termasuk revo lusi, peperangan saudara dan peperangan panjang (the long war).5 Pionir-pionir penyumbang bidang studi yang kebanyakan didominasi oleh AS, adalah :6

i.          Model perlombaan persenjataan (Richardson, 1960, dan Intriligator dan Brito, 1989 dan Schelling, 1966).

ii. Theori Ekonomi Alliansi (Olson dan Zechauser , 1966, dan Sandler ,1988).

iii. Permintaan (Demand) pembelajaan (Expenditure) militer (R Smith, 1980).

iv. Pertahanan, Pertumbuhan dan Perkembangan (Benoit, 1973).

v. Ekonomi personil militer, khususnya militer suk­arelawan (Hansen dan Weisbrod, 1967, dan Oi di­tahun yang sama) − Ekonomik cadangan ternyata jauh lebih murah.7 Meski ekonom Ing gris lebih dahulu menampilkan isu hangat ini dibandingkan rekannya dari AS, dari sisi frekuensi debat publik, lebih banyak dilakukan ekonom AS.

vi. Pengadaan dan kontrak (Peck dan Schere, 1962).

Semenjak berakhirnya perang dingin dan selama paska perang dingin, tercipta beberapa perkemban­gan menarik dalam ekonomi pertahanan − refleksi akhir perang dingin, dan globalisasi ditambah anca­man keamanan baru dalam format terorisme dan kriminal transnasional (Sandler dan Hartley, 2007).

Perkembangan tersebut adalah :

a). Studi Ekonomi perlucutan senjata dan pampasan perang (Hartley, et-all, 1993).

b). Perdagangan senjata (Levine, Sean dan Smith, 2000).

c). Terorisme (Sandler, 1992).

d). Studi Ekonomi konflik (Hartley dan Sandler, 2003).

e). Ekonomi pemeliharaan perdamaian (Solomon dan Berkok, 2006).

Studi ekonomi kontemporer yang berikut ini masih terus dikembangkan a.l: perlombaan senjata, aliansi Militer (al: Nato), permintaan dan pasokan komoditi militer, hubungan antara pertumbuhan & pertahanan dan perkembangan, personil militer (sukarelawan, wajib, cadangan versus total personil), pengadaan peralatan militer, basis industri pertahanan, alternatif potensi pertahanan, ekspor persenjataan, insentif per­lucutan dan perdamaian.

Problema Ekonomi pertahanan

Perkembangan Ekonomi yang cukup kritik mengi­kat Dephan AS era Presiden Lyndon B. Jhonson dan Menhan Robert Mc Namarra de ngan problema Eko­nomi Pertahanan yang me reka sebut “unfi nished busi­ness-nya” dengan kata-katanya yang dikenal yakni “How much is enough” − berapa sih cukupnya (kebutu­han militer riil yang diperlukan)? Belum adanya teta­pan (kriteria) untuk menentukan pilihan menyulitkan para komptroller (analis efektivitas dan biaya/staf semacam Srena, pen) untuk membantu Menhan me­mutuskan. Isu debat internal ini bisa disebut juga seb­agai isu HSM (hubungan sipil-militer) mengingat be-tapa seriusnya Menhan AS (sipil) saat berdikusi (dan berdebat) untuk mencoba menemukan pola alokasi anggaran pertahanan bersama mitranya para Kom­andan lapangan (militer). Relatif kejadian yang sama terjadi dinegeri kita saat berbicara tentang kesiapan TNI beralasan anggaran yang dinilai tidak memadai − dan anggaran disalahkan karena Ekonomi nasional yang belum dapat memenuhi harapan.

Benarkah ini isu murni kebutuhan militer? Ada benarnya kata Enthoven yang mengatakan bahwa Presiden dan DPR lah yang pantas berkomentar. Di lingkungan beliau-beliau ini sudah bukan lagi men­jadi isu murni kebutuhan militer tetapi sudah men­jadi isu alternatif strategi pertahanan nasional yang penuh risiko (ketidakpastian, pen) berikut kalkulus konsekuensi anggarannya per setiap alternatif strate­ginya.8 Isu alternatif strategi pertahanan nasional(strategik) yang mengait petinggi-petinggi puncak merupakan problema ekonomi pertahanan (mak­ro). Problema Ekonomi Dephan di tingkat strategik menurun ke tingkat strategi militer nasional yang berbentuk (misalnya) alternatif pemilihan kekuat an (forces), sistem senjata, platform dan rumitnya selalu terbentur masalah perbedaan faktor waktu (life cycle/ usia ekonomi), biaya, platform, lead-time, dll, isu yang paling tradi sional adalah budaya yang sepertin­ya lebih suka menampilkan total komponen anggaran sebagai atribut problema yang sebenarnya.

Konsep Ekonomi umum biasanya diawali dari liputan makro tentang sektor penerimaan negara, alokasi dan distribusinya, menurun ke liputan mikro yang bicara tentang sistem pasar dan perilakunya, kebutuhan dan pasokan (demand dan supply) dst. Analogi problema Ekonomi pertahanan mulai dari tingkat makro tentang distribusi dan alokasi dari Dephan merujuk strategi pertahanan nasional yang bicara tentang pemilihan alternatif sumber daya seb­agai means (ekonomik), ways (caranya) dan ends (sa­saran fisikalnya). Berikut liputan mikro yang meru­juk strategi militer nasional dan lebih operasional dengan means, ways, dan ends-nya versus problema pemilihan alternatif seperti pemilihan kekuatan mi-liter gabungan, pembagian wilayah operasional, de­ploi Gugus tugas, kolaborasi dan kooperasi operasi gabungan sipil-militer dalam operasi selain perang. Merujuk kembali kasus “unfi nished business”; bagi Menhan AS sepertinya lebih mengharapkan budaya penalaran yang bisa menjawab apa sebenarnya yang diperlukan dan dibutuhkan − bukannya berapa total biaya yang dibutuhkan? Berangkat dari harapan ini ditahun 1961, hadir perangkat yang berorientasi ke­pada kalkulus ekonomik − yang disebut “program penganggaran”.

Sentra penyajian program ini lebih banyak berori­entasi kepada isu output seperti: kapabilitas serangan balik nuklir, kapabilitas-kapabilitas sistem senjata, peperangan terbatas, kekuatan yang lebih rendah kualitasnya, pengawasan senjata, pertahanan sipil, berbagai pangkalan mobilisasi, angkutan laut, dsb 9 − jawaban apa sebenarnya yang dibutuhkan dilanjutkan dengan berapa yang dibutuhkan atau “berapa sih cukupnya?”.10 Dampaknya dalam tahapan berikutnya proposal yang akan diajukan lebih menonjolkan es­ensi yang berkaitan dengan misi atau efektivitas alut atau sista itu sudah tidak ada lagi proposal tradisional yang hanya berorientasi nominal (angka) anggaran yang dibutuhkan. Program pengadaan meriam misal­nya; mudah dicerna pengesah anggaran apabila ber­bentuk besaran kapabilitasnya, atau sajian outcome­nya (apa yang akan diperoleh sebenarnya) misalnya berapa CER (circular error probability) per setiap jarak tembak. 11

Informasi seperti jarak tembak, kecepatan tembak, kecepatan jelajah, daya kejut, kerahasiaan, dll, sesuai rancangan pabrik − sama sekali belum menampilkan seberapa jauh dampak program tersebut terhadap musuh. Pernyataan abi litas belum menampilkan misi yang sebenarnya dari alut, atau sista atau material atau “barang jadi” (fi nished good) yang mau dibeli, di­pelihara, dimodernisir, diujicobakan, dioperasional­kan dan akhirnya dimusnahkan sewaktu harga buku “nol” − pengadaan berbasis BSU (Biaya Sepanjang Usia pakai/total life cycle cost) berlangsung sampai alut atau sista dimusnahkan. Pengadaan bukan hanya sebatas investasi awal saja. Anggaran suatu progam atau proyek akan lebih “nyaman” apabila diperhi­tungkan sampai dengan harga buku “nol”, termasuk perhitungan nilai mata uang mendatang (present dan future value, pen).

Konsep terakhir ini akan menjadi komponen uta-ma biaya pendukung yang lebih dikenal sebagai to­tal biaya berbasis BSU. Apabila dipasangkan harga “perolehan” misi dan konsekuensi biayanya serta dipertanggungjawabkan kedua-duanya (effektivitas dan biaya) maka akan jauh lebih fair. Perlakuan sep­erti itu akan memudahkan para pengguna anggaran untuk tidak mengais-ngais anggaran di-tahun ber­jalan berikutnya dari sektor lainnya guna menutup keperluan bagi proyek atau program yang sedang berjalan tersebut. Alasan lain adalah transparansi, publik menghendaki informasi berapa unit (sebena­rnya) kocek negara yang telah digunakan dan berapa unit (sebenarnya) perolehan atau hasil misi, atau efek­ivitas yang didapat, tidaklah fair hanya Pj Keuangan yang mewakili kedua ukuran tersebut − esensi lain dari Ekonomi pertahanan.

Untuk menampilkan solusi ekonomi yang baik dalam problema (pemilihan) ekonomi pertahanan maka output atau esensi atau misi sebenarnya mas­ing-masing alternatif harus terukur demikian juga konsekuensi dukungannya berupa komponen-kom­ponen anggarannya dihitung berbasis BSU. Solusi ekonomi pertahanan berorientasi untuk masa yang akan datang sebab penggunaan (utilisasinya, pen) sumber daya dan realisasinya adalah masa yang akan datang, bukan sekarang. Jantung solusi problema ekonomi pertahanan adalah proses pengambilan keputusan (MCDC/ multiple criteria decision making) dan seleksi beberapa alternatif cara bertindak (COA/ course of action, pen ) guna menetapkan harga (relatif) misi atau output atau efektivitas dan harga (relatif) biaya sebagai konsekuensi dukungan per masing­masing alternatif.

Penjelasan konsep terakhir ini, membulatkan suatu perangkat analisis ekonomi pertahanan yang populer disebut rasio effektivitas biaya (REB). Maka­lah tidak membahas lebih dalam tentang REB meng­ingat memerlukan pemahaman pemodelan efektivi­tas dan pemodelan komponen biaya. Dalam seksi ini beberapa hal yang perlu dijadikan catatan ihwal para analis problema ekonomi pertahanan. 12

Pertama, para analis bukanlah pengambil kepu­tusan. Mereka hanyalah bagian dari MCDM (multiple criteria decision making), perannya lebih kepada mem­bantu pengambil keputusan memilih beberapa cara bertindak − menampilkan kepatutan harga efektivi­tas dan biayanya per setiap alternatif, dengan asumsi yang dapat diciptakan dan membangun model-model efektivitas serta total biaya berbasis BSU yang dinilai absah. Kedua, para analis jarang memberikan narasi yang cukup jelas bagi pengambil keputusan tentang produk analisisnya. Barangkali justru akan menyulit­kan memaparkan rinci produknya, utamanya model efektivitas dan biaya yang bisa saja sangat rekayasa sekali (engineering) lebih-lebih versus isu yang strate­gik sekali dengan obyektif ganda (multiple objectives criterion) dan faktor ketidakpastian yang tinggi. Un­tuk ini perlu interaksi dan kearifan antara pengambil keputusan dan para analis sendiri sebelum diputus­kan.

Ketiga, para analis biasanya belum menampilkan alternatif mana yang paling optimal, analis hanya merekomendasikan dalam urutan atau memberikan gambaran umum. Pengambil keputusan bisa saja me­nentukan pilihan dengan kriteria [1] effektivitas yang ditetapkan atau [2] biaya tertentu yang ditetapkan atau [3] dengan teknik tertentu (analisis kepekaan, pen) bisa saja ditemukan alternatif lain. Konsep seperti ini dikenal sebagai AoA (Analysis of Alternatives). Kon­sep lebih disempurnakan oleh Prof Melese dengan EEoA (Economic Evaluation of Alternatives) berorien­tasi pada tingkat keabsahan produsen/pengembang atau pihak ketiga yang menyediakan alut, sistem, dll dalam ruang keputusan (model) effektivitas − atau mempertanyakan bisakah/benarkah kapabel sesuai usia pakainya (Economics Life).13

Ekonomi Pertahanan, Strategi, Teknologi Dan Pen­gambilan Keputusan

Strategi Ekonomi nasional, strategi diplomasi (po­lugri) dan strategi pertahanan nasional dengan kapa­bilitas kekuatan militer nasionalnya merupakan pilar instrumen kekuatan nasional.14 Tanpa Strategi Ekonomi nasional yang kokoh, maka pendapatan negara akan menurun dan mem­berikan kucuran anggaran “sedikit” bagi kekuatan militernya. Sebaliknya tanpa kekuatan militer maka dukungannya terhadap strategi ekonomi nasional dan strategi /politik luar negeri akan melemah. Aki­bat melemahnya dukungan semua strategi tersebut terhadap pencapaian obyektif kepentingan nasional akan menurun. Oleh karena semua strategi instru­men kekuatan nasional bisa disebut (atau subordi­nasi) strategi keamanan nasional maka diperlukan seorang “dirigen” yang akan mengatur irama dan kekompakan semua strategi dan wakil ketua Dewan Keamanan nasional yang akan mengendalikan opera­sionalnya kesehariannya − dewan inilah yang men­jalankan analisis keputusan untuk memilih alternatif strategi yang terbaik. Masing-masing strategi memer­lukan cara yang paling effisien dan ekonomik untuk menjalankan kegiatannya − masing-masing memiliki problema Ekonomi per bidangnya. Ekonomi pertah­anan menggunakan perangkat Ekonomi di dalam kasus pertahanan atau isu yang berkaitan dengan pertahanan. Para ekonom mengikuti kerangka pikir dan metoda ekonomi empirik atau teoritikal dihadap­kan isu pertahanan dan kebijakannya, serta memper­timbangkan keterkaitannya dengan strategi nasional lainnya.

Munculnya teknik kontemporer salah satunya adalah sistem analisis15 dalam sistem bantu pengam­bilan keputusan problema pertahanan (MCDM) den­gan melibatkan teknik ekonomi di dalamnya telah menimbulkan debat hangat para ekonom pertahanan tentang trio strategi, tehnologi dan ekonomi yang su­dah tidak laik lagi dipertimbangkan sebagai materi yang “bebas”. Strategi adalah interaksi dan kejelasan means (sumber daya; termasuk biaya/anggaran), ways dan ends guna mencapai obyektif militer. Tehnologi memunculkan serangkaian kandidat alternatif strate­gi dan problema Ekonomi pertahanan (makro) adalah memilih strategi yang paling efisien atau ekonomis.16

Umumnya problema ekonomi pertahanan di tingkat strategik bisa disebut “optimalisasi raya (grand optimum)”.17 Optimalisasi raya ini sebagaima­na lasimnya diruang strategik, akan selalu berhada­pan dengan faktor ketidakpastian yang tinggi. Um­umnya dua kategori ketidakpastian akan muncul, yakni [1] ketidakpastian status dunia atau kejadian di masa mendatang. Faktor besarnya adalah ketidakpas­tian teknologi, ketidakpastian dalam kontek strategik, dan ketidakpastian tentang “lawan” dan reaksinya. Kedua [2] adalah ketidakpastian statistika. Tipikal ini berangkat dari peluang kemunculan kejadian didunia nyata yang berbeda jauh dengan kalkulasi probabili­tas kemunculannya. Ketidak pastian tipikal kedua, bi­asanya lebih mudah diatasi dengan studi sistem anali­sis, bilamana perlu teknik simulasi atau Monte Carlo dan bahkan analisis kepekaan dapat dilakukan.

Sedangkan kategori pertama, lebih sering muncul, dan amat sering terjadi ditipikal problema perenca­naan jangka panjang dan amat susah mengatasinya. Teknik yang dapat digunakan selain analisis kepe­kaan, juga analisis kontijensi dan analisis “a-fortriori”.

Teknik yang lebih bersifat operasional tersebut tidak dibahas lebih dalam. Kasus strategik yang dicontoh­kan Fisher adalah “optimum force mix”. Suatu kekua­tan gabungan yang dideploikan dengan dibatasi kapabilitas, kualifikasi, kekuatan dan moda angkutan (sea-lift atau air-lift), serta bentangan waktu sampai diterminasikan. Kasus strategik yang tentunya tidak gampang diselesaikan, setidak-tidaknya gambaran ekonomik, effisien dan ekonomis bisa tergambar di dalam produk para komptroler.

Gabungan akan mengambarkan efi siensi bukan saja kualitas namun upayanya, moda angkutan dan batasan waktu serta medan yang ada selanjutnya akan membuat suatu pilihan selanjutnya yakni siapakah pemegang kendalinya dari Darat, Laut atau Marinir atau Udara. Definisi optimum (atau esensial, pen) menurut sistem rekayasa adalah harga yang “pas” disesuaikan dengan obyektif kekuatan gabungan bisa saja membentang antara minimum dan maksimum.

Ide pelibatan perangkat Ekonomi pertahanan yang ada dengan teknik-teknik analisis ekonominya dengan MCDM bukanlah sesuatu yang baru. Para analis dengan analisisnya akan terus menerus men­gulang kembali langkah-langkah kajiannya lebih operasional sebagai bagian tanggung jawabnya, dan sepatutnya diingat bahwa analisis dan para analis khususnya para komptroller bukan satu-satunya pembantu pengambilan keputusan.18 Ekonomi per­tahanan atau problema Ekonomi pertahanan tidaklah sama sekali mengambil alih “kewenangan” pengam­bil keputusan. Bahkan sebaliknya obyektif proses pe­nyelesaian problema ini akan menjamin basis penal­aran yang lebih baik untuk membantu pelaksanakan kewenangan (judgment) pengambil keputusan me­lalui pernyataan problema (definisi masalah) yang lebih konkrit, kemudian menemukan dan menjabar­kan lebih lanjut kemunculan alternatif-alternatifnya dan membuat perbandingan antar alternatif (seleksi) dan seterusnya. 19

Isu strategik sangatlah rumit, tidak serta merta para analis ekonomi pertahanan mendapat gambaran utuh tentang “maunya” sang pemimpin, sebaliknya sang pemimpin terkadang belum bisa menalarkan idea “padat” dalam bahasa yang sederhana. Meng­ingat faktor kesulitan ditingkat strategik disebabkan isu politik, sosiologi dan pertimbangan psikologi ser­ta tidak bisa langsung ditetapkan dalam satu proses analitik khususnya dalam bahasa kuantitatif.20 Upaya analitik pemecahan problema ekonomi pertahanan sepertinya memerlukan dan mengharuskan kebera­nian para analis untuk berinteraksi dengan pen­gambil keputusan (sebaliknya kerendahan hati sang pemimpin untuk bisa menerima kenyataan ini, pen) sesering mungkin − akan semakin lebih baik. 21

Kesimpulan

Bagi negara maju Ekonomi pertahanan menjadi agenda yang penting, kajian US NPS dalam empat operasi kehadirannya Gugus laut AS (forward pres­ence) menujukkan hasil yang signifi kan mendongkrak indeks saham dan PDB nya. 22 Ekonomi pertahanan sangat luas untuk dibicarakan, mudah-mudahan makalah ini bisa menggenerik teks Ekonomi per­tahanan di negeri tercinta ini di masa mendatang. Setidak-tidaknya beberapa perangkat Ekonomi perta­hanan sudah dapat dijadikan prototype guna perbaik­an dan pe nyempurnaan sistem anggaran, seperti teknik pembiayaan berbasis BSU (Biaya Sepanjang Usia pakai), teknik REB (rasio effektivitas biaya), dll .

Ekpresi akuntabilitas, effisiensi dan transparansi sebagai retorika tata kelola pemerintahan yang baik sudah diliput (meskipun sedikit) sebagian besar ma­teri singkat yang dibahas di atas. Pelajaran strategik yang dapat dipetik dari Mc Namarra dan staff-nya selain isu HSM juga juga gebrakannya dalam sistem program dan anggaran, meskipun mereka (para comptroller) berada dalam “inside–of–the box” proses MCDM pemerintah namun nampak lebih leluasa dan effektif (dengan ide segarnya) ikut membangun tata kelola pemerintahan yang baik.

Banyak isu-isu Ekonomi pertahanan strategik dan kritik yang bisa segera dikaji lebih sistematik, semi-sal didongkraknya (leveraging) peran DIB (Defense In­dustrial Board) yang bekerja sebagai agen (full-agent) Ekonomik yang bisa mendorong TNI dan parnernya (industri Hannas) dengan asumsi kehadiran Strategi pertahanan dan kebijakan (policy) TNI-nya (subor­dinasi strategi Pertahanan Nasional) dan Strategi masing-masing aktor industri pertahanan. Mungkin saja industri pertahanan sudah mengarahkan dirinya untuk ikut merealisasikan pertumbuhan Ekonomi nasional atau regional (sekurang-kurangnya) − se­berapa jauhkan strateginya? Industri tidak bisa di iming-iming begitu saja dengan nominal anggaran, namun perlu mengetahui obyektif strategi pertahan­an dan militer yang konkrit untuk berhitung “biaya” Litbangnya, dll, utamanya porsi beban kerja (workload dan workforce) untuk sekian persen produk komersial dan sekian persen produk militer per tahun termasuk porsi transfer teknologi dalam tingkatan tertentu (ti­dak semua bagian bisa ”mutlak” ditransfer) seperti platform, atau mekanikal bisa sampai 100% — elek­tronik → amat bervariasi … (tergantung kedekatan dengan negara produsen, pen).

Seyogyanya Lemdik TNI, UNHAN dan UPN su­dah mulai memikirkan kurikulum analisis biaya, aplikasi sistem analisis, sekurang-kurangnya sebagai bagian dari Ekonomi pertahanan. Ekspresi akuntabil­itas, efisiensi dan transparansi sebagai retorika tata kelola pemerintahan yang baik akan meliput sebagian besar materi yang dibahas diatas. Upaya Menhan AS dengan “unfi nished business” merupakan idea segar perbaikan sistem anggaran dari komuniti “inside-of­the box” dan nampak efektif membangun tata kelola pemerintahan yang baik bisa dijadikan pelajaran. Berikutnya teknik mo dern dan konsep mempertang­gungjawabkan suatu proyek atau program bukan hanya dari sisi keuangan atau anggarannya namunlebih penting lagi adalah apa yang dapat diperoleh dari misi sistem atau alut atau materi “barang-jadi” yang konon kabarnya sudah lama dilakukan negara lain (kl semenjak tahun 1972-an). Meskipun (mung­kin) sulit pada awalnya, namun lebih “fair” (tentun­ya, pen) bila dapat dipertanggungjawabkan didepan publik − bukan hanya PJK Keu saja, namun performa/ efektifvitas atau manfaat yang bisa didemonstrasikan kepada publik. Sekaligus mendemonstrasikan bahwa satu unit rupiah atau dollar yang sudah dikeluarkan (expense) telah mendukung sekian unit manfaat/ efektivitas atau performa. Tidaklah “fair” bila daya serap dijadikan ukuran effektivitas berjalannya pro­gram, kecuali semua proyek/program berjalan dalam waktu yang sama , pencairan turun pada hari H ta­hun 0 dan setiap proyek berangkat pada waktu yang sama serta semua kategori proyek sama (misal pen­gadaan baru), kualifikasi pihak ketiga sama, de ngan laju “lead time” inventory setiap material sama. Konsep ini mendidik kita bahwa untuk setiap unit “keringat” biaya (bukan saja nominal rupiah, tetapi juga risiko, atrisi, kehilangan, dll) sebagai konsekuensi dukungan kegiatan terpilih yang diharapkan (ekpektasi) dapat memberikan “kenikmatan” atau “manfaat” atau “efektivitas” tertentu.

Insentif lainnya adalah perkembangan yang bisa dimonitor dari hasil konferensi Ekonomi pertahanan nasional, sepertinya Angkatan masing-masing negara sudah menjadi lembaga riset tentang Ekonomi per­tahanannya masing-masing dengan agendanya yang mungkin bisa menjadi topik riset mahasiswa Ekono­mi S-2 atau S-3 nya. Tidak berlebihan bila Bappenas atau Perguruan tinggi (FE, FTI) di negeri tercinta ini bisa memulai kajian tentang Ekonomi pertahanan leb­ih komprehensif dan sistematik dihadapkan dengan kondisi yang ada. Nampaknya kemahiran (state-craft) Ekonomi pertahanan sudah bukan lagi menjadi do­main dan dominasi korps keuangan atau administrasi atau komuniti “comptroller” mengingat keterampilan memutuskan situasi yang tidak pasti dan ketrampilan memonitor tinggi rendahnya tingkat efektivitas alut atau material yang dapat dicapai dan tinggi rendahn­ya konsekuensi anggaran yang mampu mendukung pilihan yang telah diputuskan dan analisis kepekaan­nya − merupakan ruang pelibatan (decision engage­ment) isu ekonomi pertahanan atau lebih spesifi k lagi adalah ruang analisis alternatif (AoA/analysis of alter­natives) yang sudah semakin disempurnakan dengan konsep AEoA (Analysis Economics of Alternatives) dan berada di ruang besar pengambilan keputusan (deci­sion space). Semoga bermanfaat .

 Referensi:

[1] Hitch, Charles J, dan McKean, Roland N, RAND CORPT,March 1960, “ The Economics of Defense in the Nuclear Age ” , halaman 2.

[2] From: Melese,Francois (CIV), Prof of Economics, DRMI/US NPS,Sent: Wednesday,November 28,2012; 10:13 AM, To:budimandjokosaid@yahoo.com, cc: Melese,Francois(CIV),Subject: FW:substance of economics of the defense.

[3]Edmonds,Jr, Edmund.W, Colonel USAF, Chairman Defense Economi Analysis Council, Defense Resources Management Institute, ”Economic Analysis Handbook”,2  Edition, hal 4.

[4]Fisher, Gene.H, RAND Corpt,  Cost Considerations in System Analysis ”, A Report Prepared for Office of the Assistant Secretary of Defense (SecDef), December 1970, halaman 1…isu lead-time sebagai satu penyebab faktor ketidak pastian didefinisikan sebagai waktu antara pesanan  suatu item/sistem sampai item/sistem tersebut siap pakai, atau datang/diterima, dan kasus  ini didunia nyata merupakan kasus yang sangat probabilistik (conditional probabiltiy ) dalam studi Inventori pengadaan (akuisisi). 

[5]Hartley, Keith, Prof, Univ of York,UK, “Defense Economics : Achievement and Challenges”.Center for Defence Economics, University of York, UK, kh2@yaork.ac.uk .The Long War atau peperangan generasi keempat (4 th Generation of war) atau peperangan lawan terrorisme    (GWOT) vice-versa boleh dibolak balik sama artinya.

[6] Ibid, halaman 2

[7] Seputar Cadangan, Reformasi , dst“ oleh Budiman Djoko Said, periksa www.fkpmaritim,org

[8] Enthoven,Allain.C,Smith,K.Wayne,RAND,New Edition,2005,”How much is enough? Shaping the Defense Program 1961-1969”, halaman 2.

[9]Kapabilitas  (capability) menurut MORS (military operations research society) selalu dirumuskan = ability  (kebisaan sesuai rancang bangun pabrik) + “outcome”nya. Outcome adalah harga yang didapat setelah diuji coba dengan satuan dasar ukuran yakni ukuran effektivitasnya (MOE – berorientasi bagaimana mengalahkan musuh dan  memenangkan pertempuran). Kecepatan tanjak tank,kecepatan bergerak dipadang rumput sekian km/jam, kecepatan tembak dll,baru sebatas abilitas masih belum berorientasi pada dampak terhadap musuh atau sasaran dan  informasi seperti ini masih bisa dan mudah dicuri. Outcome jauh lebih penting dan sangat dirahasiakan — parameter yang sangat menentukan kemenangan dalam pertempuran (decisiveness).  Perlu persepsi bersama tentang definisi ability (sementara diterjemahkan abilitas), spy konsisten dan tidak mudah untuk bicara seperti  mampu atau kapabel ini itu, padahal baru sebatas “bisa”,tidak lebih atau kurang.

[10] McKean,Roland.N, RAND Corpt, July 1974, “Economics of Defense”.

[11] Dalam perkembangan konsep, apa yang akan diperoleh (keberhasilannya) terdefinisi sebagai misinya dan satuan ukuran keberhasilan misi disebut ukuran effektivitas (atau MOE/measure of effectiveness).

[12]Economic Analysis Handbook Theory and Application”, volume —II, Concepts and Techniques, General Research Corp, Prepared for DoA (Department of the Army) , USA , November 1973, halaman 4.  

[13] Melese, Dr. Francoise, Working Paper Series , Defense Resources  Management  Institute  , School of International Graduate Studies, Naval Postgraduate School, Sept 2009, “ The Economic Evaluation of Alternatives ”, halaman 1-3.

[14] Neu, C.R, dan Wolf Jr, Charles, RAND CORPT, 1994, “The Economic Dimensions of National Security”, halaman 1-3.

[15]Beberapa literatur menyebutnya selain sistem analisis adalah analisis manfaat-biaya, analisis effektivitas-biaya,sistem rekayasa, operasi riset atau operasi analysis. Bagi Fisher tidak ada lagi perangkat strategik yang bisa membantu problema ekonomi pertahanan ditingkat strategi selain sistem analisis. Lebih lanjut dikatakan … teknik sistem analisis lebih dari riset strategik dibandingkan sekedar methoda atau teknik, lebih kearah seni dibandingkan ilmu. Disimpulkan bahwa sistem analisis dapat dipandang sebagai pendekatan, cara pandang atau teknik pemilihan problema yang sangat kompleks, dan biasanya diliputi dengan kondisi ketidakpastian.

[16]Fisher,  halaman 6-7.Hartley, K, and Sandler, T, Elsevier Science, 1995, “Handbook of Defense Economics “,volume – I, ch2.” Defense Economics and International Security ”, McGuire,Martin.C, University of California,Irvine, halaman 14-15.

[17] Fisher, halaman 7 , pernyataan mantan Menhan AS , Robert MC Namarra ,… they (sistem analists  dan para comptroller) provide the top level civilian and military decision makers of the DoD(DepHan) a far higher order of analytical support than has ever been the case in the past.I’m convinced that this approach leads not only to far sounder and more objective decisions over the long run, but also maxmizes the amount of effective defense we obtain from each dollars expended …ybs didepan senat Angkatan perang AS , tahun 1968.

[18]Defense Economic Analysis Council, Defense Resources Management Institute, 2 Edition, “ Economic Analysis Handbook “, halaman 2

[19]Fisher, Gene H, RAND CORPT,Dec 1970, “Cost Consideration In Systems Analysis” , A Report prepared for Office of the Assistant Secretery of Defense (Systems Analysis),halaman 5 dan periksa  Hitch,Charles J, dan McKean,Roland N, RAND CORPT, “The Economics of Defense in the Nuclear Age”, halaman 396

[20] Ibid, halaman 7. Mantan pembantu Menhan AS (bidang system analisis)  mengomentari sebagai berikut … all policies are made…on  the basis of judgments.There is no other way , and there never will be. The question is whether those judgments have to be made in the fog of inadequate and inaccurate data, unclear dan undefined isuuses, and a welter of conflicting personal personal opinions, or whether they can be made on the basis of adequate, reliable information , relevant experience and clearly drawn issues. In the ends , analysis is but an aids to judgment …. Judgment is supreme (Enthoven,AC).

[21] Looney, Robert dan Scharady, David, US Naval Postgraduate School, October 2000, “Estimating Economic Benefit of Naval Forward Presence”, halaman 1. 

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x
Share via
Copy link
Powered by Social Snap