Evaluasi patroli, operasi atau gabungan di-AOO—perspektif teori (pendekatan) pencarian ?

  • Pendahuluan

Science is contributing so liberally to every department of knowledge …that it seems only natural and reasonable that we should call science to our aid to lead us to a clearer comprehension of naval warfare (Rear Admiral Stephen B Luce) [2]. Within the Navy, terms like “strategy,” “vision,” and “concepts” have been used almost interchangeably (bisa ditukar-tukar artinya) [3].

 

Angk Laut berkualitas dunia, sering di-ungkap Prof (Han) Dr. Marsetyo; tentu saja bukan hanya alut sista-nya—dari hulu ke-hilir setiap unit organisasi berkualitas mendunia (total quality) ditambah kepemimpinan yang didukung dengan manajemen profesi dan teknologi setara magister pertahanan nasional. Teknology membuat nyaman manusia dan era now selain tidak lagi ber-orientasi material (hard) tapi effisiensi pemanfaatan-nya (soft)—sehingga muncul disiplin seperti: rekayasa economic (economics engineering), rekayasa sosial, rekayasa finansial, analisis jejaring sosial, ergonomik, manfaat lingkungan (green environtment), dll. Angk Laut adalah mesin kekuatan maritim (maritime forces) di-domain maritim (maritim atau laut, pen?) [4] yang bekerja dibawah kontrol strategi pertahanan maritim (maritime defense strategy) saat krisis dan konflik. Berbeda dengan penjaga pantai (coast-guard) yang berproses di-bawah kontrol strategi nasional untuk keamanan maritim (+keselamatan) [5] saat damai. Dinamika kehidupan Angkatan (atau organisasi manapun) adalah “ruh” manajemen modern yang peka dan responsif versus tantangan kedepan. Konsekuensi-nya (≠ retorika) isu-isu inovasi, inisiatif, kreatifitas, kualitas dosen, instruktur, materi ajaran, kurikulum, dukungan bahan ajar, perpustakaan, dll semua berjalan baik dan berkelas dunia. Untuk memahami itu semua memerlukan suatu evaluasi yang berkualitas. Evaluasi adalah agenda “besar” produk kebijakan berbasis bukti (evidence-based). Evaluasi menggeser fokus & orientasi “inputs” ke ”outcomes”, “hasil” atau “produk” dan membuat semakin tajam produk kebijakan. Evaluasi [6] mengangkat ke-permukaan pelacakan pengunaan biaya, alokasi penggunaan anggaran, cerminan professional operasional di-lapangan, kalkulasi rasional dan menoleh kembali kebijakan yang dibuat—sudah sepadan-kah produk (manfaat, untung, effektifitas) dengan alokasi dukungan biaya [7]. Monitoring & evaluasi adalah jantung kebijakan berbasis bukti (evidence-based), sebagai perangkat bukti transparansi, digunakan untuk memperbaiki kualitas, effisiensi, effektifitas program dan perbaikan kurikulum professional di-tingkat implementasi [8]… dan perangkat terbaiknya adalah riset, membuat Angkatan atau Lembaga pemerintah lebih mengigit melalui sejumlah riset [9]. Kasus kegiatan patroli, latihan bersama atau sendiri adalah suatu hal yang serius, bukan hanya diwaktu perang bahkan damai sekalipun. Jantung kegiatan patroli adalah pencarian dan makalah ini banyak menjelaskan teori pencarian meski sebatas narasi (tanpa notasi matematika). Berikut contoh negara lain dengan pengembangan teori pencarian telah membuktikan kapabilitasnya melakukan sesuatu yang benar (doing the right things).

Konsep evaluasi

Angk Laut adalah donator besar tercapainya obyektif pertahanan maritim di-domain maritim dan setia kepada konstitusi yang dibebankan padanya dan berpartisipasi mengembangkan kekuatan maritim nasional. Bersama-sama strategi instrumen kekuatan nasional lain (PEM atau DIME atau MIDLIFE) ikut menjamin tercapai-nya obyektif kepentingan nasional [10] melalui strategi (dan evaluasi) yang disebut strategi keamanan nasional (baca Kam Nas saja). Angk Laut menjaga kedaulatan wilayah nasional bersama Angk lainnya dibawah kontrol strategi pertahanan nasional dan di-domain maritim sendiri dibawah kontrol strategi pertahanan maritim. Penjaga pantai (co-partner Angk laut di-domain maritim) fokus pada keamanan maritim (plus keselamatan maritim) di-bawah kontrol (dan evaluasi) strategi nasional ‘tuk keamanan maritim [11]. Evaluasi, lebih berorientasi kepada produk yang menghasilkan informasi yang dibutuhkan pengambil keputusan—informasi adalah sumber daya [12]. Evaluasi adalah suatu prasangka (adakah gap yang muncul) setelah di-bandingkan dengan standar performa—seberapa jauhnya jurang (gap) tersebut…demi perbaikan. Penilaian (assessment) lebih berorientasi pada proses. Evaluasi mengikuti kriteria seperti relevansi, effektifitas, effisiensi dan keberlanjutan. Relevansi mengaitkan kegiatan pada strategi yang di-sepakati dan di-rencanakan menuju obyektif yang telah ditetapkan. Effektifitas menunjukkan seberapa jauh ukuran yang bisa di-capai (sesuai tetapan ukuran effektifitasnya atau MOE) di-lapangan. Patroli umumnya di-lakukan untuk melakukan investigasi pelanggaran hukum dalam wilayah juridiksi suatu negara [13]. Harapan-nya aksi ini mendongkrak capaian effektifitas patroli dan ujung-nya tentu mendongkrak capaian derajad keamanan maritim itu sendiri [14]—meski tidak serta merta langsung memberikan sumbangan [15]. Ukuran effektifitas yang di-dapat ini adalah produk evaluasi, bisa saja mendekati harapan, lebih atau mungkin juga kurang dan gap inilah yang dijadikan tolok ukur (perbaikan kompetensi, salah satunya) mendatang. Bisa saja kapal A dan B sama tingginya capaian effektifitasnya, namun dukungan (baca: konsekuensi) biaya-nya berbeda (biaya/cost; bukan anggaran). Konsep efektifitas dikaitkan dengan konsekuensi biaya disebut sebagai effektitfitas–biaya [16], yang menjadi basis akuisisi alut, sista, dll atau proposal suatu kegiatan. Evaluasi dalam bentuk pertanyaan di-kaitkan dengan  masing-masing kriteria evaluasi dapat di-tabelkan seperti di-bawah ini [17].

Pola dasar patroli (model)

Patroli berlaku selama operator berada di-AOO, tidak termasuk saat transit dan “isi ulang” BBM (gambar bawah). Figur AOO sesuai “kalkulasi” operator kecuali ada perintah khusus. Setiap phasa mewakili rentang waktu dengan catatan status system tidak berubah—phasa di-pisahkan oleh “kejadian”. Phasa “pencarian”(search) berhenti bila ada “kejadian” deteksi [18] (bisa saja  kapal & sasaran mendekat) namun tidak ada informasi  tentang “kejadian” terdeteksi tidaknya. Phasa “kejadian” di-jelaskan dalam tabel-1 & 2, sedang kegiatan saat “keputusan” tabel-3 akan menjawabnya. Bisa saja terjadi di-luar phasa pengejaran, keputusan di-buat untuk melakukan VBSS [19] atau tidak. Pilihan pola, tergantung tetapan MOE (MOE untuk giat patroli bisa saja adalah probabilita deteksi—semakin tinggi probabilita-nya semakin effektif). Tanpa pola dan kalkulasi effektifitas (tanpa MOE) akan jelas sulit mengukur capaian effektifitasnya dan berujung apakah patrli ini sukses atau tidak. Siklus di-bawah menggambarkan siklus mulai pencarian—pengejaran—pemeriksaan—dan kawal (hand-off), seperti di-bawah ini.

 

Gambar no.1 Siklus operasional  [20]

 

Hint: Phasa ini berlaku, diluar transit dan refueling. Transit menunjukkan saat operator keluar, ada operator lain yang masuk kedalam, selama dalam tetapan waktu misi masih berjalan—periksa tabel-1, phasa. “Kejadian” isi BBM (refuel) bisa saja dilakukan antar setiap phasa, phasa “handoff” adalah “kejadian” dikirim-nya sasaran ke-pangkalan atau station pemeriksaan terdekat. Secara umum, waktu setiap phasa tidak selalu sama. Meskipun kotak phasa relatif sama luasnya, bisa saja realita lapangan berbeda, misal sesudah search (pencarian), lanjut dengan phasa pemeriksaan (inspect).

 

Tabel – 1 Phasa & kegiatan-nya, periksa dibawah ini

Sedangkan definisi “kejadian” seperti deteksi, intersep, penyelesaian dan handoff selama siklus patroli, periksa tabel – 2 dibawah ini.

Tabel – 2, definisi semua kejadian yang mungkin terjadi .

 

Keputusan per setiap phasa, relatif terhadap sasaran, periksa tabel – 3 di-bawah ini,

Tabel – 3, Keputusan

Sebagai kontek dalam pola patroli status yang bisa tercipta adalah status kapal tidak laik, belum terlatih, belum siap, siap dan belum terlatih (status ini bisa di-gunakan oleh model Markov). Figur AOO secara umum, periksa gambar di-bawah ini[21]:

Gambar no.2. Tipikal skenario patroli —- kotak ditengah adalah AOO.

 

AOO di-batasi kotak pencarian persegi empat. Sesungguhnya lebih baik mengikuti kontur geographik bernavigasi—sehingga pola bisa berbentuk segitiga, lonjong,  kerucut, atau tidak beraturan dengan kalkulasi lebih realistik. Abaikan area yang dangkal atau berbahaya atau tidak mungkin dilewati kapal yang akan dikejar, dll (di-luar AOO) sehingga luas area mudah dihitung. Kalkulasi luas AOO memudahkan menghitung probabilita deteksi (perhatikan gambar no.2)—kalkulasi sederhana Pdeteksi satu kapal patroli tunggal = luas area deteksi radar/luas AOO [22]. Awal patroli, tanpa mengetahui data awal probabilita, maka kalkulasi probabilita 2 kapal atau lebih, bisa saja menggunakan kasus probabilita union (penjumlahan probabilita)[23]. Parameter lain adalah jumlah kapal yang di-deploikan, rata-rata bertahan effektif di-AOO, kecepatan ekonomi patroli dan kecepatan maksimum yang di-ijinkan untuk mengejar. Klasifikasi sasaran yang lebih di-pentingkan (interest target), waktu patroli, jumlah kapal patroli, jumlah BBM yang tersedia dan ongkos (baca:bukan anggaran), waktu transit dan handoff. Konsep rantai Markov, prinsipnya adalah menemukan probabilita transisi (matriks) dari satu status ke-status lain (yang akan datang) [24] —produk-nya adalah prediksi probabilita dalam status transisinya diketahui (given) harga probabilita status sekarang ini. Analysis Markov adalah properti data sekuensial sebelumnya yang kapabel memoles halus “outcome” dan ramalan outcome yang akan datang (sampai langkah atau hari ke-n). Markov (rantai Markov) [25] berbasis dinamika acak dan kapabel menghadapi  ketidak pastian—misal: posisi sasaran, waktu, dll tidak diketahui. Selain Markov, teknik simulasi (diskrit, kontinyu) berbasis acak yang sangat sederhana, seperti random walk, drunkard’s steps, thief run [26]cerdas menirukan ketidakpastian. Penggunaan paralel Markov dengan simulasi (teknik Monte Carlo) guna uji statistik hasil—penggunaan paralel kedua teknik ini sangat di-sarankan [27]. Markov  bisa dikembangkan lebih dari dua (2) status dengan masing-masing lebih dari dua (2) aksi [28].

Analisis operasional CMF (Combined Maritime Firces)

Satgas gabungan kekuatan maritim antar negara (CMF) mempromosikan keamanan, stabilitas dan kesejahteraan di-perairan Timur tengah seluas 2.5 juta mil laut di-tahun 2006 (lihat peta bawah) [29]. Komandan Tugas adalah pati AL-AS di-bantu seorang pati Angk Laut Inggris, terbagi dalam CTF 150/anti terorisme & CTF 151/anti perompakan dengan AOO memanjang mulai Terusan Suez sampai ke-selatan, CTF 152/keamanan dan kooperasi di teluk/semenanjung Arabia. Anggota CMF adalah sukarelawan dan tidak terikat perjanjian militer. Mengukur sukses CTF 150 sungguh sulit dikarenakan definisi misi (hanya) adalah promosi keamanan maritim [30], strategi penangkalan dan mencegah kontrol oleh teroris di-domain maritim internasional ini. Di-luar ini semua ada satgas lain, seperti NATO dan Uni Eropah. CMF yang terbentuk semenjak tahun 2001, tapi kegiatan analisis operasional yang di-lakukan kelompok ilmuwan analis operasional (OA) [31] yang bergabung kedalam unit-unit organisasi CMF [32] baru dimulai semenjak tahun 2006.

Gambar no.3. Peta AOO CMF, (hint: IRTC = Internationally Recognized Transit Corridor).

 

Hint: Mengapa dipetakan hash (kusut, kacau,dll) highway, smack (tamparan) track (dengan arsir lebih tebal) dan piracy high risk area (sebagai ruang dengan probabilita berisiko tinggi) sebagai hasil kalkulasi para analisis operasional dan mengait dengan kepentingan kalkulasi effektifitas dan effisiensi operasi (tidak sembarang maksud).

Jalur panas transaksi ini ada di-rute hash highway [33] dan smack track—di-petakan  mengikuti kriteria ukuran effektifitas. Beberapa sumber produksi narkoba ada di-Afghanistan, rute melalui pantai Makran dan kemudian transfer ke-kapal kargo yang lebih besar dan menyebar sesuai sasaran. Pertanyaan yang sulit di-dapat (bagi analis OA) adalah seberapa jauh effektifitasnya menghalang-halangi sebaran narkoba, bila data opium dan heroin saja yang tercatat, padahal banyak jenis lain yang sulit di-dapat informasi-nya, misalnya korelasi antara sumber di-darat sebagai sumber pendanaan (sepertinya menjadi lahan polisi). Lebih dalam lagi adalah seberapa jauh korelasi dengan pembiayaan (cost-analysis) yang di-keluarkan—agaknya menjadi wilayah kerja dan informasi bagi polisi dan intelijen, tidak bagi kepentingan para analis. Mengukur effektifitas CMF sungguh sulit dengan AOO seluas itu versus terbatasnya jumlah kapal, kelas kapal, jumlah hari yang operasional per masing-masing kapal, kapabilitas per area patroli (baca area deteksi) per hari atau tetapan di-suatu area tertentu untuk tugas interdiksi per satuan waktu. Tidak semua elemen CMF adalah kapal tempur, bahkan tanker, logistik dan kapal patroli pantai serta jenis lain. Fakta yang menimbulkan komplikasi dan sulit mengukur effektifitas.

Effektifitas masing-masing kapal dan per masing masing negara sangat berbeda bahkan jauh berbeda versus kesadaran siaga (situation awareness) [34]. Misal; apakah destroyer di-hargai lebih 20% dibanding fregat. Apakah indeks effektifitas fregat plus helikopter sama dengan destroyer tanpa helli [35]? Kapal dari satu negara, satu dengan helikopter (plus jangkauan radar permukaan yang lebih panjang) satunya tidak, di-hargai sama? Bagaimana beroperasi dan di-kombinasikan dan atau samakah beberapa kapal patroli pantai dengan 1 fregat atau destroyer? Semua mengundang perdebatan kalkulasi effektifitas yag hangat. Dalam rute prioritas (hash dan smack track) indeks pengukuran itu akan berpotensi terhadap besar kecilnya area penutupan (coverage area) dan kalkulasi waktu kritikal pendeploi-an, masuk keluar-nya operator di-AOO (mencari bentangan waktu effektif dalam AOO)…serta waktu kritikal Helli agar saat kapal pembawa-nya mengetahui manuevra kapal perompak, maka helli segera menempatkan diri dan menghalang-halangi mendekati sasaran. Luas area penutupan (coverage area) adalah harapan menemukan sasaran (perompakan, pembawa narkoba, kriminal, dll), berasumsi kapal yang hadir sama besar indek kapabilitasnya, terutama di-jalur-–hash dan smack. Mengait profesi OA, dalam laporan berkala yang dibuat Komandan CMF tahun 2004, tertulis…perlunya penempatan tim OA di-semua asset dalam CMF (atau gugus tugas lain). NATO, Inggris, AS, Australia, Canada, dan lain-lain telah melibatkan tim OA dalam satgas mereka sendiri [36], artinya evaluasi patroli di-kerjakan dengan norma riset atau ilmiah—militer mulai berpikir membangun rekayasa dan riset ilmiah (meng-engineeringkan Navy a.l: kata SAF/Singgapore) [37]. Contoh lain; rekayasa Angk Laut Colombia telah menemukan rute patroli terbaik dengan sejumlah titik belok (way-point) dengan variabel jumlah Naval bases, jumlah & jenis platform patroli dengan radar penutupan (radar coverage) tertentu, varian luas AOO (gambar bawah) agar tidak lagi muncul ikon telah menggergaji laut [38]:

 

Hint: warna biru adalah rute platform yang di-kontrol pangkalan biru (yang terdekat, BN 4)  dan merah oleh pangkalan merah (BN 1). Tanda asterik (merah atau biru) adalah titik optimal dan sekaligus titik belok (way-point) masing-masing operator.

Melacak kehadiran teori pencarian (search theory)

Teori pencarian (search theory) adalah bagian dari ops riset (OR) tradisional namun tetap populer digunakan Penjaga pantai maupun Angk Laut [39]. Desain awal sebenarnya untuk berburu kapal selam oleh kapal permukaan. Berkembang di-gunakan oleh satuan darat dan lainnya untuk melacak kehilangan sasaran atau posisi di-darat, pegunungan, dan padang pasir di-bantu pesawat, drones, atau kombinasi [40] 2 atau 3 platform. Kasus menggunakan kapal selam sebagai pemburu masih sangat terbatas  (konfidensial?) literatur-nya [41]. Bukan dominasi Angk Laut, Darat & Udara saja, semua instansi menggunakan teori ini. Sebenarnya obyektif (maunya/sasaran) operasional riset mengait isu pencarian adalah…prediksi effek dari sensor, taktik dan sista versus sasaran yang bergerak. Dalam isu ketidak pastian ini sementara yang diburu adalah obyek tunggal (single object)[42], meski kampanye U-Boat Donietz semakin serius dengan Wolfpack-nya. Definisi ini berkembang dari ancaman U-Boat di-Atlantik Utara. Awal aplikasi teori pencarian adalah dibentuknya OEG (operations evaluation group) Sekutu versus U-Boat Jerman, merespons pernyataan Hitler oleh PM Inggris Churchill dengan kalimat…“bahaya” U-Boat adalah mimpi yang menakutkan [43].

Kasus besar yang menggunakan teori ini a.l: mencari bom H yang jatuh di-perairan dekat Palomares, Sepayol, tahun 1966, dan mencari bangkai kapal selam USS Scorpion yang tenggelam tahun 1968 [44] dan sukses hasilnya—bangkai USS Scorpion ditemukan hanya berbeda tipis (dalam ratusan yards) antara kalkulasi duga (estimasi/apriori) dengan posterior. Membantu menemukan kapal selam balistik nuklir Russia selama perang dingin, termasuk penjaga pantai AS yang mempraktekkan dan mengembangkan teori Bayesian untuk memperbaiki pola pencarian SAR. Model penentuan lokasi terbaik pangkalan seperti di-LCS oleh China, Vietnam, Malaysia dan Philippines diatas pulau buatan dan membangun pos pangkalan SAR. Hadirnya pos-pos sebagai pangkalan ops SAR sangat membantu memperpendek waktu respon ops SAR. Jelasnya dengan menggunakan teori pencarian di-gabung simulasi [45] bisa ditemukan pertanyaan a.l: waktu kritis yang dapat digunakan. Razzi & Karatas bahkan mengusulkan menggunakan IB-BAM (incident based–-boat allocation model) untuk kasus multi-obyective [46] menentukan alokasi & penempatan kapal kapal SAR di-area tertentu. Temuan penelitian Akbari dalam kasus  yang relatif sama, khususnya di perairan Canada [47]. Pengembangan dan aplikasi teori pencarian via teknologi pesawat nir-awak atau lebih popular disebut drone dengan berbagai versi tempur maupun kepentingan sipil seperti di-bidang inspeksi, pemadam kebakaran, jurnalisme, konservasi, pertanian, dan pengantaran, dll. Berikut dibahas suatu produk riset yang dilakukan Lcdr Jose Manuel Landa Borges, Angk Laut Venezuela dalam thesisnya tentang pencarian dan deteksi dengan radar di-pesawat CASA 212 S-43 tahun 2004[48].

 

Referensi: Ibid, hal 5, Venezuelan Caribbean Sea (Submarine’s Operating Area), seluas total 125,004.45 mil 2.

Skenarionya; Casa 212 S-43 dengan radar permukaan RDR-1500B diberikan misi mencari dan menemukan periskop kapal selam diesel elektrik (tak dikenal) di-AOO (di-batasi garis warna hitam). Parameter pencarian bagi kapal selam yakni kapan, berapa lama, dan frekuensi menampilkan periskop RCS (cylindric) [49] dan tiangnya. Sedangkan parameter pencarian pesawat adalah ketinggian, kecepatan dan area yang ditetapkannya (zone spesifik di-AOO). Karena ketinggian mempengaruhi effektiftas ketahanan lama terbang maka Angk Laut Venezuela telah menetapkan tinggi terbang terbaik untuk  pencarian kapal selam adalah 1000 kaki. Effektifitas Radar juga tergantung pada RCS periskop, maka pesawat harus menyesuaikan dengan tabel performa radar versus performa periskop untuk menentukan ketinggian terbaik. Hasilnya berbagai varian luas AOO dengan 1 atau lebih pesawat sebagai berikut [50]:

Gambar CDP (cumulative detection probability) dengan area seluas  125,000 mil (125 ribu mil persegi) 2 dengan 1 pesawat.

 

CDP adalah bentangan ukuran effektifitas (hasil MOE) [51] yang bisa diperoleh. Graphik CDP versus waktu melakukan pencarian (dengan 1 pesawat). CDP(t) (garis mendatar) adalah waktu yang diperlukan untuk memperoleh CDP tertentu (lamanya waktu yang digunakan). Misal: carilah waktu pencarian untuk mencapai (harapan) CDP sebesar .50 atau dengan (given) CDP berapa dengan sortie tunggal dalam 6.15 jam atau 24 jam atau 48 jam? [52]. Kurva 3 warna dalam graphik di-atas menggambarkan posisi CDP per setiap klasifikasi sasaran (small, medium, large). Perolehan CDP sebesar  .50 diperlukan waktu pencarian 183.5 jam, 164.7 jam, dan 150.5 jam tergantung klas sasaran…dan berapa sortie penerbangan agar pencarian terus berlanjut … dan berapa total biaya yang harus dikeluarkan per sortie? … bila mengharapkan CDP sebesar  .03, di-perlukan sortie tunggal dalam waktu 6.15 jam pencarian. Sebenarnya CASA masih belum bisa didefinisikan sebagai  patroli maritim [53]. CASA sebagai subyek untuk meneliti kapabilitas deteksi saja….belum bisa menjawab keputusan bila yakin kapal selam tersebut musuh. Arti patroli maritim bukan hanya menemukan, termasuk klasifikasi dan menyerang serta kapabel menghancurkan sebagai satu rangkaian KOC [54]. Riset kapabilitas CASA yang terbang berpatroli di-domain maritim dengan sensor radar permukaan-nya tapi belum kapabel menghancurkan sasaran kapal selam, belum berperan sebagai patmar riil.

Graphik menunjukkan CDP vs 2 pesawat yang di-gunakan dalam luas AOO yang sama. Hasilnya, CDP naik tajam namun tetap lamban dengan satu sortie dengan 2 pesawat—patroli 6.15 jam bisa berharap memperoleh CDP sebesar .05. Berharap CDP  .50 perlu 91.8 jam (small target), 82.8 jam (medium target) dan 75.7 jam. Kontrol seluruh area AOO ini butuh 13 – 15 sortie @ 2 pesawat dan secara kasar dibutuhkan waktu 3 sampai 4 hari…beruntunglah si-kapal selam. Solusi sementara; tajamkan area AOO dengan peluang bernavigasi riil bagi kapal selam menyelam sedalam periskop…ulangi simulasi… hasilnya….. Perbaikan solusi dengan setengah luas yakni 62,500 mildengan 1 pesawat  [55] dan hasil simulasi sebagai berikut:

 

Hasilnya, sama dengan yang lalu dengan 2 pesawat berburu dan berpatroli dua kali. Interpretasi singkat, simulasi ini mendemonstrasikan bahwa area pencarian menjadi lebih effektif (setelah perbaikan AOO) dan bisa meningkatkan laju deteksi (detection rate). Pertanyaan berikut dengan luas area sebesar 625,000 mil2 (masih sama) namun aset pesawat dilipat gandakan menjadi 2 pesawat, hasilnya?

 

Meningkat lebih baik dengan sortie tunggal 2 pesawat, dengan capaian CDP sebesar  .11. Dengan 2 pesawat simultan melakukan pencarian memperoleh performa sebesar  .50 dengan waktu sebesar 46.0 jam (small), 41.3 jam (medium) dan 37.7 jam (sasaran “large”). Hasil riset di-dalami, lakukan analisis kepekaan sekali lagi dengan cara memperkecil AOO menjadi setengah-nya yakni 31,200 mil2 dengan hanya 1 pesawat [56]:

 

Sama dengan kasus sebelumnya dengan 2 pesawat dan berpatroli dua kali di AOO. Berikutnya kasus lebih di-peka-kan dengan luas yang sama dengan 2 pencari (searcher), hasilnya lebih baik, < 24 jam di-peroleh CDP sekurang-kurangnya  .50 dengan waktu 23 jam, 20.6 jam dan 18.9 jam (large target). Bila menggunakan waktu 6.15 jam akan diperoleh harapan sebesar  .20 (CDP). Bila diteruskan tes kepekaan ini, akhirnya didapat format yang mungkin paling mudah, murah, yakni luas AOO hanya sebesar 3,900 mildengan  menggunakan 1 pesawat saja. Luas ini kira kira  65 x 60 nm (atau ukuran lain), namun harga ini nampaknya cukup terjangkau dengan jumlah aset patrloli maritim yang sangat terbatas. CDP sebagai petunjuk waktu pencarian dengan probabilita deteksi sebesar  .50 dengan sortie tunggal dengan lama operasional 6.15 jam. Versus ketiga klas sasaran memperoleh skor CDP sebesar  .52,  .56 dan .59 (beda tipis antara  klas). Jadi kalau tetapan ukuran effektifitasnya adalah probabilita deteksi maka CDP antara .50 – .60 sudah memberikan  harapan yang cukup bagus. Kasus yang di-bahas singkat hanyalah sebagian kecil upaya mengeffisienkan setiap kegiatan. Tersirat betapa militer berkeinginan mempertanggung jawabkan semua kegiatan kepada publik lebih transparan (bukan hanya Pjk Keu saja). Singkatnya 2 variabel yang dipertanggungan jawabkan kepada publik, [1] seberapa besar performanya (effektifitas, manfaat, keuntungan atau utilitas) dan [2] seberapa besar konsekuensi biaya yang ditanggung-nya (unit cost misalnya; 1 pesawat per mil persegi atau 2 pesawat per sortie per mil persegi) [57]. Tidak dibahas cara memperoleh CDP, jarak minimum ke-sasaran (Rmin), Latran (lateral range), jarak maksium (Rmax), jarak ke horizon (Rh), RCS (radar cross sections), dan TPE (time periscope exposure), dll, termasuk asumsi dan analisis konsekuensi dukungan biaya (bukan anggaran)—cost estimate[58]. Tren aplikasi teori pencarian adalah utilitas drone (sipil atau militer) untuk melacak penerobos perbatasan, mencari sasaran di-area urban, koordinasi patroli oleh 2 atau 3 drone atau antara drone dengan kapal atas air, bahkan serangan terkoordinasi (swarming), dll. Ekspansi penggunaan drone sungguh radikal mengubah bentuk dan moralitas peperangan dengan konsekuensi sosial maupun komersial yang semakin nyata. Serangan drone yang mematikan (lethality) plus kecilnya risiko peperangan, mengeliminir kerusakan kolateral (CD/collateral damage), remot (remotely) dan tidak membahayakan penerbang maupun awak pesawat lainnya [59]. Di-sisi lain (ethika, moral) sepertinya belum di-atur global. Faktor yang berperan terhadap rencana missi drones adalah:[1] obyektif, [2] MOE, dan [3] operasional, teknikal dan kendala logistik [60]. Passus bisa menggunakan[61] drone ukuran kecil; di-area urban atau pegunungan yang menyembunyikan insurjen atau teroris. Kapabilitas drone bervariasi mulai pengamatan, pengintaian [62], pelibatan sasaran, intelijen, dan kontrol penembakan sista/rudal jarak jauh, bencana alam, dll.

Kesimpulan

When you come in to command, you’re fired up and ready to go. I think that during the first two months… when you’re trying to figure out what’s going on you tend to temper your expectations. I’ve never heard of a gaining commander looking back and saying, “This guy has it all figured out, I don’t need to make any changes”.[63]

 

Pergantian komando (evaluator baru) seperti di-atas meletakkan posisi organisasi saat sertijab sebagai posisi awal dengan harapan tercapai-nya masa depan yang terukur, syukur-syukur tetap  dalam phasa doing the right thing….tinggal berlari. Evaluasi [64] (berkualitas) butuh keberanian manajemen [65] menatap masa depan dengan berorientasi pada doing the right thing (justru kultur lebih sering menghalangi) daripada doing the thing right, meski awalnya sulit. Evaluasi membutuhkan model-model (Markov, Monte Carlo, dll) teknik manajemen modern yang mampu menghasilkan produk yang kapabel mendemonstrasikan hadirnya suatu “gap” (suka atau tidak suka) menuju isu yang lebih baik dan ditangani oleh tim OA atau ajensi swasta diluar lingkungan militer. Organisasi militer tidak memiliki waktu lapang untuk melakukan riset dalam waktu lama dan biaya yang besar sekali. Studi komparatif negara lain seperti Venezuela, Singgapore, dll, dengan penduduk yang jauh lebih sedikit namun memiliki produk menarik untuk dipamerkan.  Bahasan khusus drone menjadi sangat menarik, mengingat penggunaan aset ini sudah teruji di-medan perang, bahkan  menjadi inventori pasukan baik regular maupun passus era now. Literatur tentang drone sudah begitu ekspansif dengan area pendalaman seperti operasi per kelas, sista, pola pencarian, serangan terkoordinir dan serentak (swarming), K2, drone intelijen, drone strategi, dll sedangkan aturan mainnya (legalitas) sungguh masih tertinggal jauh.

[1] Skema di-bawah ini menunjukkan posisi AOInf (Area of Influence), AOInt (Area of Interest), AOR (Area of Responsibility) dan AOO (Area of Operation)—dengan porsi luas : AOO  < AOInf (influence)  < AOInt (interest):

 

 

 

 

[2] Keith R. Tidman, The Operations Evaluation Group; A History of Naval Operations Analysis, (Naval Institute Press, Annapolis, Maryland), halaman 1.

[3] Peter Swartz, et-all, The Origins and Development of A Cooperative Strategy for 21st Century Seapower (2015), (CNA/Center of Naval Analyses, Sept 2017), halaman 6.

[4] Juk Strategy Bersama tiga (3) Angkatan yakni US Navy, USMC dan USCG, A Cooperative Strategy for 21st Century Seapower,                                                                               Introduction,…because the maritime domain (yakni)—the world’s oceans, seas, bays, estuaries, islands, coastal areas, littorals, and the airspace above them—supports 90% of the world’s trade, etc. Domain maritim lebih luas dari kata laut dan samodra bahkan lebih dari itu semua. Faktanya dalam satu dekade ini kata tradisional penggunaan  laut seperti dari, dan, di, ke laut sudah tidak ada lagi dalam doktrin, strategy atau jukops Angk Laut negara maritim lainnya …. tergeser dengan kata di-domain maritim. Hal yang sama, periksa The National Strategy for Maritime Security, (Dept of Homeland Security), halaman ii,… together, the National Strategy for Maritime Security and its eight supporting (8 sub strategi pendukungnya) plans present a comprehensive national effort to promote global economic stability and protect legitimate activities while preventing hostile or illegal acts within the maritime domain. Ibid, halaman 1,  di-maksud maritime domain is defined as all areas and things of, on, under, relating to, adjacent to, or bordering on a sea, ocean, or other navigable waterway, including all maritime-related activities, infrastructure, people, cargo, and vessels and other conveyances. Note: The maritime domain for the United States includes the Great Lakes and all navigable inland waterways such as the Mississippi River and the Intra Coastal Waterway, periksa definisi yang sama dalam . https://en.wikipedia.org/wiki/Maritime_domain. UK bahkan menyebut ada 9 thema dalam maritime strategy 2050-nya, mendemonstrasikan sector maritim lebih luas dari sector laut sendiri.  https : // assets . publishing . service . gov . uk / government / uploads/system/uploads/attachmentdata/file/773178/maritime-2050.pdf. Inggris dengan The National Strategy for Maritime Security-nya (May 2014), menyebut international domain maritime, lebih dari national maritime domain, periksa  https://assets.publishing.service.gov.uk/government/uploads/system/uploads/ attachmentdata/file/322813/20140623-40221national-maritime-strat-Cm8829accessible.pdf, hal 18,…UK Maritime Security Objectives 21; [1]. To promote a secure international maritime domain and uphold international maritime norms; [2]. To develop the maritime governance capacity and capabilities of states in areas of strategic maritime importance; [3]. To protect the UK and the Overseas, dst. Periksa US Coast Guard Strategy for Maritime Security, Safety, and Stewardship, (DHS, Washington, Jan 19, 2007), section – I, America’s Coast Guard,..An essential attribute of any nation is its ability to protect its citizens and to maintain sovereign control of its land, air, and sea borders. In the maritime domain, this means exerting and safeguarding sovereignty in the nation’s internal waters, ports and waterways, and littorals, as well as protecting vital national interests on the high seas. Periksa The US Coast Guard: Maritime Strategy for Homeland Security, (DHS, Washington.D.C, Dec 2002), hal 5,….Maritime Homeland Security mission to prevent terrorist attacks, reduce America’s vulnerability, and minimize the damage from attacks that do occur in the U.S. Maritime Domain. Ibid, section 1….US Coast Guard’s role…to protect the U.S. maritime domain and the Marine Transportation System, and dst. Periksa: Dr Rowan Allport, Fire and Ice – A New Maritime Strategy for NATO’s Northern Flank, …. Dalam text strategy dan policy NATO era perang dingin jilid II (sekarang ini) jarang sekali menyebut laut, bahkan kekuatan Angk laut (naval forces) lebih sering disebut Maritime forces. Literatur-literatur nampaknya lebih suka bicara tentang maritim dan sedikit membicarakan laut (ocean) saja dengan isu yang sama. Bicara aman, mana yang akan di-amankan (dan diselamatkan) lautnya (ocean/sea security/safety) atau domain maritim—maritime security/safety? Penggunaan definisi domain maritim akan merangsang pemilik domain untuk mengelola sebesar-besarnya demi kepentingan rakyat, mulai dari udara di-atasnya, sampai di-bawah dasar laut, sumber daya hidup atau mati, energy yang belum diolah, sedang, akan dilakukan riset,dll—-mana yang lebih tepat, menggunakan kata laut saja atau lebih ambisius (dan strategik) dengan “kata” maritim dalam kontek mengelola sumber daya ini?

[5] Dua (2) strategy yang bekerja di-domain maritim yakni strategi pertahanan maritim (The Maritime Defence Strategy) dan strategy nasional untuk keamanan maritim (The National Strategy for Maritime Security—plus maritime safety) sebagai pengawal domain maritim—sesuai amanah hukum laut internasional. Yang pertama banyak berperan saat konflik, krisis, dan perang. Yang kedua saat damai. Pengawal pantai biasanya menjadi cadangan kekuatan maritim (maritime forces reserves) saat perang. Namun masih di-prihatinkan di-negeri ini yang memiliki domain maritim yang begitu luasnya tentang kehadiran (dan ketidak-hadiran) Coast Guard  yang sebenarnya.

[6] Ben Connable, Walter L. Perry, Abby Doll, Natasha Lander, Dan Madden, Modeling, Simulation, and Operations Analysis in Afghanistan and Iraq Operational Vignettes, Lessons Learned and a Survey of Selected Efforts, (RAND Corpt, 2014), hal 1- 9, menjelaskan panjang lebar dan sangat komprehensif pengertian tentang assesment, evaluasi, ORSA (Operations Research & System Analysis), OR (operations research), SA (system analyses), maupun OA (operations analyses).

[7] Paul J. Gertler, et-all, 5 persons, Impact Evaluation in Practice, (IDB, 2016), halaman 3.

[8] Ibid,

[9] Riset (kajian) tentu berbeda dengan apa-apa (seperti kajian yang sering kita dengar) yang sudah biasa di-lakukan selama ini, riset butuh aplikasi kaidah ilmiah seperti model, kerangka pikir  yang komprehensif, pendekatan yang digunakan, hyphothesa, dan segudang data yang diperlukan, kualitatif atau kuantitatif atau campuran, dll…dan butuh waktu yang tidak pendek—sekurang-kurangnya riset operasional untuk kepentingan effektifitas operasional perlu di-galakkan.

[10] PIM (politik, ekonomi, militer), DIME (diplomacy, informational, military dan economics), atau MIDLIFE(military, Informational, Diplomatic, Legal, Intelligence dan Economics), terserah pemerintah memilih trio mana.

[11] a.Dept Homeland Security (DHS), The National Strategy for Maritime Security, DHS US dan negara barat lain menyebut strategi di domain maritim—-the national strategy for maritime security (bukan the maritime’s strategy).Ioannis Chapsos & James A Malcolm, Maritime security in Indonesia: Towards a comprehensive agenda?, (Journal, Marine Policy 76: 178–84)…. The UK laid out five maritime security objectives ([33]: 9–10). These focused on [1] securing the international maritime domain, [2] developing maritime governance capacity, [3] protecting overseas territories, [4] securing global trade and energy routes, and [5] protecting the UK and its territories against “illegal and dangerous activity, including serious organised crime and terrorism”. Semua negara yang memiliki pengawal pantai hampir semuanya menyebutkan maritime (domain maritime)—masih lebih besarkah urusan laut, samudra, litoral, pantai, sungai bahkan danau dibandingkan urusan dalam domain maritim?, pen. Sumber resmi Inggris lebih suka menyebut domain maritim mengait dengan strategi pertahanan maritim (Angk Laut) ataupun strategi nasional untuk keamanan maritim (Coast Guardnya)—“…the advancement and protection of the UK’s national interests, at home and abroad, through the active management of risks and opportunities in and from the maritime domain, in order to strengthen and extend the UK’s prosperity, security and resilience and to help shape a stable world.” Definisi keamanan maritim sendiri cukup jelas menggunakan model Bueger yang membagi wilayah domain maritim dalam keamanan dan keselamatan maritim.

[12] Richard C. Larson & Edward H. Kaplan, Decision-Oriented Approaches to Program Evaluation, (Journal, New Directions for Program Evaluation, 10, 1981), halaman 49.

[13] Bisa saja patroli di-lakukan untuk aksi khusus, misal: interdiksi, intersept, SAR, berburu kapal selam, intai, dll, namun kebanyakan di-laukan saat krisis, konflik atau perang.

[14] Ioannis Chapsos & James A. Malcol, Maritime security in Indonesia: Towards a comprehensive agenda? (Malcolm Centre for Trust, Peace & Social Relations, Coventry University & Journal Maritime Policy, Elsevier),…hal 179-180, Sarif Widjaya dari KKP tahun 2015, mengatakan “…fighting transnational crime, including people smuggling and human trafficking, is key to Indonesia’s maritime security and integral to the government’s design to establish Indonesia as a Global Maritime Axis “.

[15] Ibid,…menarik karena agenda pertemuan tingkat akademik tentang isu yang terjadi di-domain maritim di-Indonesia telah di-laksanakan di Indonesia….Indeed, in recent years this proliferation of the issues under focus relating to security in the maritime domain has been met by increased efforts on a more macro-level to map out a ‘maritime security studies’ agenda, and establish associated academic infrastructure (agenda termasuk di Indonesia, di-UI, Unhan, UGM & Conventry Univ/UK).

[16] Konsep ini lebih dikenal sebagai konsep effektitfitas-biaya (berbeda degan manfaat-biaya bagi proyek atau kegiatan yang bisa diukur dengan konsekuensi rupiah atau dolar) menggunakan dua variabel yakni besaran effektifitas (berbasis MOE) dan konsekuensi dukungan atau biaya (biaya bukan anggaran atau tidaklah sama dengan anggaran). Biaya lebih merupakan konsekuensi upaya, risiko, orang, material, korban, kecelakaan, meninggal, dll.

[17] Guidelines for Project and Programme Evaluations, (Final Draft, July 2009, Austrian Development Cooperation), halaman 2.

[18] Clark W Pritchett; Patrol:  Volume – I – Model Description and Analyst’s Guide, (U.S. Coast Guard Research And Development Center, Avery Point, Groton, Connecticut, Final Report, Sept 1986), halaman 3.

[19]  https://www.google.com/search?q=VBSS+meaning%2C&rlz=1C1CHBFenID793ID793&oq=VBSS+meaning%2C&aqs= chrome .. 6 9 i 57j0.4375j0j8&sourceid=chrome&ie=UTF-8….VBSS atau visit, board, search and seizure is a term used by law enforcement agencies for maritime boarding actions and tactics.

[20] Clark W Pritchett; Patrol:  Volume – I – Model Description and Analyst’s Guide, (U.S. Coast Guard Research And Development Center, Avery Point, Groton, Connecticut, Final Report, Sept 1986), halaman 4.

[21] Opcit, hal 7

[22] Pobabilitas deteksi kapal patroli tunggal, bisa dicari dengan membagi luas area deteksi (22/7 x radius Radar)/luas AOO—kedua variabel tersebut dengan mudah di-hitung. BIla kapal patroli, atau beberapa lebih dari dari 1, berapa probabilita deteksi kedua, atau tiga kapal patroli (gunakan kejadian union, maka probabilita union sama dengan probabilita penjumlahan masing masing).

[23] Probabilita Union = Probabilita kapal 1 + Probabilita kapal 2. Bila satu kapal, maka luas area deteksi (perimeter) radar kapal dibagi luas AOO (kalikan 100 %) adalah probabilita deteksi satu kapal, bila dua kapal berpatroli bersama dengan ciri-ciri radar yang sama, maka P deteksi dua kapal menjadi P deteksi kapal pertama  + P deteksi kapal kedua (union probability).

[24] Status misal: hujan, tdk hujan atau sakit, sembuh, meninggal, dll.

[25] Henk Tijms, Understanding Probability, halaman 462.

[26] Paul A Gagniuc; Markov Chains: From Theory to Implementation and Experimentation, (Wiley & Sons, 2017), halaman 39-40. Pengambilan keputusan kuantitatif berdasarkan kejadian sebelumnya, pen. Markov, Simulasi, dan semua teknik kuantitatif modern berbasis kuat kepada inferensial probabilita dan statistik. Misal, 2 status yang bisa terjadi disuatu area, yakni Sunny—S (matahari cerah), Rainy—R (hujan) periksa gambar dibawah ini. Berikut matrik transisinya:

 

 

 

P( S|S) artinya probablita besok (Sunny—S) akan cerah diketahui (given) sekarang matahari cerah sebesar  .20 (P (S|S )= 0.2), dst., Tanda | (slash) menunjukkan arti diketahui (given). P ( R|S ), artinya probabilita besok akan hujan (R—rainy), diikuti tanda | (slash) diketahui (given) sekarang cerah ( S—sunny), atau P ( R|S) =  .625 (gambar matrik ditulis  .63 ( ~ .625).

[27] Lance Champagne (US Air Force Institute Technology/US AFIT) & Raymond Hill (Wright State University), Search Theory: Agent-Based Simulation, and U-Boats in the Bay of Biscay, (Proceedings of the 2003; Winter Simulation Conference), hal 993.

[28] D J. White, Markov Decision Processes, (Wiley & Sons, 1993), halaman 2, 3. Contoh model rantai Markov dengan status I (I =2), dan masing masing status dibangun aksi k (k= 2), contoh dibawah ini untuk kasus  pemasaran mainan anak-anak (state=status):

…. untuk status i   dan aksi k

Rantai Markov untuk kasus patroli dengan dua (2) status (1 = deteksi & 2 = tidak terdeteksi) dengan masing masing dua (2) aksi, yakni: Status – 1 (terdeteksi), dengan k1 = lakukan VBSS dan k2 = tidak dilakukan VBSS. Status – 2 (tidak terdeteksi) dengan opsi aksinya, yakni k 1 =lanjutkan patroli tanpa dibantu drones dan k2 =lanjutkan patrol plus drones. Perancang pola harus benar-benar memahami teknik ini berikut peluang yang bisa dikembangkannya dan rantai Markov akan membantu sekali.

[29] Matthew R. MacLeod, (Center for Operational Research and Analysis, Defence Research and Development Canada, Canadian Forces Maritime Warfare Centre) & William M. Wardrop, (Defence Science & Technology Lab, Maritime Warfare Centre, HMS Collingwood, UK), Operational Analysis at Combined Maritime Forces, (International Symposium of Military Operations Research, July 2015), hal 2.

[30] Definisi keamanan maritim (maritime security—lagi-lagi maritim, bukan laut) sangatlah luas, bisa diperiksa melalui konsep pemikiran Buerger, dan atau Strategi nasional untuk keamanan maritime atau The National Strategy for Maritime Security, (beda dengan strategi pertahanan maritim atau the Maritime Defense Strategy) menggunakan versi beberapa negara seperti Inggris, US dan Australia dan negara negara lain (check Google) sebagai pembanding. Periksa laporan EU-Asia Dialogue, Konrad Adenauer Stiftung and European Union dengan judul, Maritime Security and Piracy; Common Challenges and Responses from Europe and Asia,…halaman 23…kurang lebihnya …To many observers, maritime security appears to be a large and sometimes nebulous concept. In fact, it has become a large area involving many entities from the international, public, and private sectors aiming at: [1] preserving the freedom of the seas,[2] facilitating and defending commerce, and [3] maintaining maritime good governance…. Transnational forces and irregular challenges continue to be the primary threat today aand in the forseeable future, especially in the maritime domain. Maritime security has to be distinguished from maritime safety. Maritime security is “the combination of preventive and responsive measures to protect the maritime domain against threats and intentional unlawful acts”. The key words are: preventive and responsive measures, aiming at both law enforcement as a civilian and military requirement and defense operations as a military, in this case, naval, requirement. Perhatikan isu dalam keamanan maritim (dan keselamatan) maritim selalu diletakkan dalam ruang domain maritim (fokus).

[31] Ben Connable, et-all, (5 personnels), Modeling, Simulation, and Operations Analysis in Afghanistan and Iraq Operational Vignettes, Lessons Learned, and a Survey of Selected Efforts, (RAND Corpt, 2014), hal 9,  periksa …For this report, the term analysis generally refers to the ways in which ORSA’s (operations research & system analyses) used standard and ad hoc tools to provide decision support to commanders. Both OA (or OR) and systems analysis have multiple, conflicting, and contested definitions. For purposes of simplicity, we group the use of operations and systems analysis together under the term analysis. OA (operations analysis), SA (system analysis dan OR (operations research) bisa saling tindih atau sama (relative) artinya dan tipis beda-nya.

[32] Analisis operasional atau mereka yang memiliki latar belakang kuantitatif yang kuat (OR, Math) untuk kepentingan kajian atau riset.

[33] Dari kata hashi (semacam narkoba juga).

[34] Ben Connable, et-all, (5 personnels), Modeling, Simulation, and Operations Analysis in Afghanistan and Iraq Operational Vignettes, Lessons Learned, and a Survey of Selected Efforts, (RAND Corpt, 2014), halaman 7, 8. Rangkaian kampanye di Irak staf Gugus Tugas gabungan koalisi di-dominasi mereka yang berlatar belakang OR/OA sampai ditingkat Brigade. Bahkan di Irak maupun Afghanistan… In Iraq and Afghanistan, intelligence analysts at the brigade level and above often use OR-derived charts to support their analyses. Sedemikian disadari utilitas OR/OA dalam kampanye militer dengan demonstrasi pengawakannya bukan hanya setingkat staf opts tetapi juga staf intelijen gabungan…dan ketrampilan seperti ini di-dominasi oleh mereka yang berlatar belakang OR (atau OA).

[35] Matthew R. MacLeod, (Center for Operational Research and Analysis, Defence Research and Development Canada, Canadian Forces Maritime Warfare Centre) & William M. Wardrop, (Defence Science & Technology Lab, Maritime Warfare Centre, HMS Collingwood, UK), Operational Analysis at Combined Maritime Forces, (International Symposium of Military Operations Research, July 2015), halaman 3.

[36] Ibid, halaman 12…..artinya mereka memandang tim OR/OA bermanfaat dilibatkan sebagai evaluator.

[37] RADM (Ret) Richard Lim, Preface, Engineering our Navy 50, Lessons from Engineering A Navy, DTC is the Secret – Edge Weapon of the SAF, Preface.

[38] Camilio Ernesto Segovia Forero, Development of a Model to Optimize Maritime Surveillance and Patrol Operations in Colombian Navy; halaman 4.

[39] Zachary C. Lukens, Ltn (US Navy), Optimizing Search Patterns for Multiple Searchers Prosecuting a Single Contact in the South China Sea, (Thesis US NPS, MS in OR/Applied Math, 2016, September), halaman 1,…Teori pencarian di-definisikan… how to distribute your resources to most efficiently (platform plus sensor dan sista) find something when you don’t know where it is, but you have some idea about where it might be and how it moves.

[40] Lance Champagne & R. Greg Carl (Air force institute of technology), Raymond Hill (Biomedical, Industrial & Human Factors Eng, Wright State University Dayton, OH), Search Theory, Agent-Based Simulation, and U-Boat in the bay of Biscay, halaman 991. Originally, Operations Research (OR) was defined as the “prediction of the effects of new weapons and tactics”.

[41] Plaform terbaik anti kapal selam sesungguhnya adalah kapal selam itu sendiri.

[42] Michele Pace, Stochastic models and methods for multi-object tracking, (Dissertation, Institut de Math´ematiques de  Bordeaux, France, Universit´e Bordeaux, Juillet, 2011), halaman 2, 3. Sedangkan problem ketidak pastian dalam teori pencarian versus sasaran tunggal (single object tracking) jauh lebih sederhana. Beberapa literatur menyebut problema lain tentang pelacakan terhadap obyek ganda (multiple object trackings) jelas jauh lebih rumit. Target seringkali disebut moving objects atau dibalik, sama artinya, pen.

[43] Lance Champagne & R. Greg Carl (Air force institute of technology), Raymond Hill (Biomedical, Industrial & Human Factors Eng, Wright State University Dayton, OH), Search Theory, Agent-Based Simulation, and U-Boat in the bay of Biscay, halaman 991.

[44] Henry R. Richardson & Lawrence D. Stone, Operations Analysis During The Underwater Search for Scorpion, (Journal MORS), halaman 141….disebut dalam abstrak-nya…. The a priori target location probability distribution for the search was obtained by Monte-Carlo (Teknik simulasi) procedures based upon nine different scenarios concerning the USS Scorpion loss and associated credibility weights. These scenarios and weights were postulated by others. USS Scorpion was found within 260 yards of the search grid cell having the largest a priori probability. Frequent computations of local effectiveness probabilities (LEPs) were carried out on scene during the search and were used to determine an updated (a posteriori) target location distribution, dan halaman 144….menunjukkan perbedaan yang tidak begitu jauh antara probabilita (apriori probability) posisi serpihan kaal selam dengan deteksi riil yang didapat beberapa saat kemudian.

[45] Teknik ini lebih populer dengan sebutan teknik Monte Carlo.

[46] Kasus kasus bisa diselesaikan dengan solusi single objectives —maksimalkan/meminimalkan…., atau solusi multiple objectives, misal: untuk platform  kelas A tentukan waktu pencarian terbaik, untuk kelas B tentukan waktu terlama di AOO, dll.

[47] Xiao Zhou, et-all, Integrating Island Spatial Information and Integer Optimization for Locating Maritime Search and Rescue Bases: A Case Study in the South China Sea, (International Journal of Geospatial Information, 2019), halaman 2.

[48] José Manuel Landa Borges, LCDR Venezuelan Navy, Radar Search and Detection with the CASA 212 S 43 Aircraft, (Thesis US NPS, MS in Operations Research, Dec 2004), halaman 5.

[49] Kapal selam modern konvensional (diesel elektrik) dengan teknologi Air Independent Propulsion (AIP) memungkinkan kapal selam untuk menyelam di bawah air selama berminggu-minggu, jauh lebih lama dibandingkan kapal selam tanpa AIP yang hanya beberapa hari saja.  Berapa frekuensi timbul akan sangat tergantung kepada kapasitas batteray yang ada, keinginan Komandan kapal untuk mengintai situasi sekelilingnya atau updating posisi visual (memancarkan radar navigasi apabila darurat saja mungkin, pen). Periode ini bisa saja menggunakan model rantai Markov untuk menemukan probabilt tarnsisi kapan saatnya kapal selam menyelam penuh atau sedalam periskop. Parameter kapan saat muncul dan lama periskop diatas air bisa di-kalkulasikan dengan model Markov, pen.

[50] José Manuel Landa Borges, LCDR Venezuelan Navy, Radar Search and Detection with the CASA 212 S 43 Aircraft, (Thesis US NPS, MS in Operations Research, Dec 2004), halaman 44.

[51] MOE atau measures of effectiveness.

[52] José Manuel Landa Borges, LCDR Venezuelan Navy, Radar Search and Detection with the CASA 212 S 43 Aircraft, (Thesis US NPS, MS in Operations Research, Dec 2004), halaman 43.

[53] Awalnya definisi patroli maritim adalah peasawat yang digunakan untuk memproses (rangkaian kill of chain/KOC) mulai deteksi, lokalisasi, klasifikasi, dan serang/hancurkan. Seri pesawat patmar yang popular adalah Neptune (P-2), dan paling popular lagi adalah seri P – 3 C (Orion), pesawat patmar tertentu saja dipenuhi dengan sensor dan senjata anti kapal selam. Sekarang patmar nampaknya sduah berkembang menjadi pesawat anti kapal permukaan dengan seri yang lebih canggih lagi yakni Nimrod (UK) dan P-8 Poseidon.

[54] KOC atau kill of chain.

[55] Merubah-rubah parameter atau variabel dalam analisis kuantitatif disebut sebagai analisis kepekaan.

[56] Ibid, halaman 47.

[57] Indeks unit cost seperti ini akan memudahkan menghitung berapa biaya yang diperkirakan (cost estimate) untuk mendukung riil suatu operasi pencarian per mil persegi per 1 pesawat, dll) dan dimasukkan dalam DUK,DIP,dll.

[58] Cost estimate (bukan kir-biaya) dengan beberapa pendekatan a.l: system engineering, parametric estimate, expert system, top-down, bottom-up, cost of quality, reserve analysis, dll. Cost analyses menjadi bagian majoring dari progdi Operations Research di-NPS.

[59] James DeShaw Rae, Analyzing the Drone Debates: Targeted Killing, Remote Warfare, and Military Technology, (Palgrave MacMilan, 2014), halaman 2. …. Penerbang drone bisa duduk santai di-suatu negara yang jaraknya ribuan mil dari zone terbang drone, pen.

[60] Alan Washburn & Moshe Kress (kedua-duanya dari US NPS, Dept OR), Combat Modeling, (Springer, 2009), Halaman 186,….Routing a UAV…

[61] Drone yang digunakan spesifik bagi kepentingan militer biasa disebut drone tempur atau UCAV (unmanned combat area vehicles).

[62] DoD, DoD Dictionary of Military and Associated Terms, (DoD, as of June 2019), beda pengamatan (surveillance) dengan pengintaian (reconnassaince) dan Intelligence; sbb: SurveillanceThe systematic observation of aerospace, cyberspace, surface, or subsurface areas, places, persons, or things by visual, aural, electronic, photographic, or other means. ReconnaissanceA mission undertaken to obtain, by visual observation or other detection. Intelligence—is sent out to investigate a certain object in a certain location.

[63] Ben Connable, Embracing the Fog of War: Assessment and Metrics in Counterinsurgency, (RAND CORPT, 2012), halaman 224, … artinya kl, …begitu terima jabatan atau tanggung jawab, lupakan yang lalu berpikirlah mendatang, jangan cerita lagi yang dulu dulu…(apalagi pribadi)atau mengatakan pejabat lama sudah baik, saya  tinggal melanjutkan (rutinitas lagi!!), haruslah disadari bahwa rutinitas, belum menjamin pekerjaan yang sudah dilakukan betul-betul baik (antara doing the thing right dengan doing the right thing). Sesuatu yang baru tentu saja saja akan sulit  permulaannya—misal: membuat format evaluasi yang baru, laporan, kalkulasi AOO yang lebih serius, dll.

[64] Pada dasarnya semua evaluasi adalah laporan.

[65] Manajemen bisa berada ditangan pejabat senior atau Pembina atau pimpinan atau bahkan pemimpin langsungnya.

0 0 vote
Article Rating

Budiman Djoko Said

View posts by Budiman Djoko Said
Budiman Djoko Said, lahir di Pekalongan, Jawa Tengah 1 Oktober 1946, alumni AAL-XV (1969). Berbagai penugasan sebagian besar dihabiskan di kapal-kapal Armada timur (terakhir Komandan KRI HSN) , dan variasi penugasan dalam rangka latihan baik dengan TNI-AL maupun gabungan dan staf perancang latihan bersama dengan negara-negara sahabat. Penugasan di Pendidikan di Kodikal, AAL dan Seskoal. Pendidikan militer jenjang di Long TAS/India, Diklapa-II, Seskoal, Sesko TNI, dan kursus Sumber Daya Hankam di AS (IDMC). Jabatan terakhir adalah Dan Seskoal. S-1 ditempuhnya di STTAL, progdi Teknik Manajemen Industri. S-2 Program Manajemen DI UPN “Veteran” Jakarta. Sebagai PUREK –III/UPN “Veteran” Jakarta, dan menjabat Rektor selesai tahun 2011. Beliau juga merupakan dosen dan pembimbing aktif di progdi Keamanan Maritim Universitas Pertahanan Indonesia (IDU). Bergabung dengan FKPM (Forum Kajian Pertahanan dan Maritim) di bawah kontrol Asrena KASAL semenjak tahun 2003 sampai sekarang selaku Wakil Ketua merangkap analis.
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x
Share via
Copy link
Powered by Social Snap