GENERIK KERANGKA MODEL PEMILIHAN PESAWAT TERBANG PATROLI MARITIM

Latar Belakang

Dinegara manapun komuniti militer merupakan pionir pengambilan keputusan dan manajemen modern. Modern yang dikaitkan dengan ketatnya kerangka atau model yang digunakan.Masalahnya militer merasakan betul-betul ketidakberdayaan asset yang digunakan apabila salah pilih dimedan tempur.Sangatlah sederhana untuk berfikir setiap kali akuisisi selalu ada harapan bahwa asset yang sudah terbeli benar benar bermanfaat sesuai umur kelangsungan hidupnya (life-cycle time).Ukuran bermanfaat benar-benar harus disadari bukan sekedar hanya dengan menyatakan asset tersebut mampu ini,itu dsb. Bagi orang-orang dengan latar belakang profesi kuantitatif atau sebangsa itu,pasti akan membuat fomulasi bahwa kapabel sama dengan bisa (able) setelah ada (ditambah) produk atau keluaran (outcome) tertentu.Pertanyaannya bagaimana mengukur keluarannya atau angka keluaran yang diharapkan?Sudah waktunya untuk menyadari bahwa setiap akuisisi asset manapun juga memiliki dua (2) konsekuensi,pertama seberapa jauh asset tersebut bisa memberikan manfaat sepanjang kelangsungan hidupnya,kedua seberapa jauh pemilik asset bisa memelihara dia sepanjang umur hidupnya?Kuajiban tim pengambilan keputusan untuk memodelkan dua konsekuensi ini dan pemimpin tinggal memilih urutan alternatif  berapa akan ditunjuk. Barangkali model seperti ini bisa djadikan kerangka untuk didemonstrasikan didepan wakil rakyat terhormat bila diperlukan.

Model Manfaat 

Problema pengambilan keputusan pemilihan dalam kajian singkat ini langsung meloncat tahap pemodelan manfaat.Bagi dunia bisnis definisi manfaat sangatlah sesuai,namun bagi militer definisi tersebut dapat dimanipulasikan sebagai ukuran effektivitas/UE (atau MOE/measures of effectiveness,pen).Kembali kepada UE pesawat PatMar,dengan mudah dikembalikan kepada ukuran keberhasilan pesud tersebut menjalankan aksinya, yakni menjalankan fungsi utamanya sebagai pemburu kapal selam (ASW actions, periksa definisi Maritime Patrol dalam kamus NATO atau DoD AS). Kalau berhasil memburu (baru bisa atau able) dan dilanjutkan dengan tertembaknya kapal selam barulah pesud tersebut disebut kapabel. Fenomena ini membantu memodelkan UE pesud Patmar yang dipilih, dengan bantuan formula sederhana seperti dibawah ini:

KS tenggelam = (deteksi, klasifikasi, lokalisasi, aksi serangan, tembak dan tenggelam),

Variabel keputusan mulai deteksi sampai dengan tembak dan tenggelam (bisa juga tembak diketahui/given tidak tenggelam,pen) adalah isu stokastik/probabilistik yang diwakili dengan besaran angka probabilistik. Definisi problema sudah semakin mengerucut, langkah berikut mencari obyektif problema. Dengan mudah ditetapkan obyektifnya adalah memaksimumkan (atau meminimumkan, pen) probabilita kapal selam tenggelam. Masukkan kata-kata memaksimumkan kedalam variable keputusan, misal maksimumkan deteksi, maksimumkan lokalisasi,dst.Solusi isu memaksimumkan probabilita deteksi kapal selam oleh Pesud PatMar sangat tergantung kepada kebisaan Pesud berpatroli diarea survilanse seluas dan selama mungkin dan kebisaan membawa sebanyak mungkin sensor anti kapal selam seperti Sonobouy, MAD, ETI, Infra red, Radar survilanse, ESM, dll.

Berikut isu klasifikasi yang sangat tergantung keandalan (reliability sensor) dan ketrampilan operator sensor. Dua variable keputusan yang sangat berat bagi pesud didunia nyata, contoh terakhir Inggris versus 1 U-209 Argentina.Isu berikutnya tidaklah terlalu sulit, namun tetap memiliki besaran angka probabilistik.Kesimpulan pemodelan UE:cari pesud yang bisa mengudara lama dan rendah diatas permukaan air laut  serta kecepatan terendah terbaik untuk pencarian,memiliki sensor yang andal,operator yang “qualified”,sanggup bekerja terus menerus dalam waktu cukup lama per setiap sortie dibekali dengan sista anti kapal selam yang lethal yang setiap saat bisa menyerang kapal selam yang jelas melanggar kedaulatan wilayah.Total keluaran angka probabilistik tersebut akan menjadi angka harapan keluaran (expected “outcome”) atau UE yang bisa dicapai per setiap asset tempur.

Model “biaya” 

Sudah waktunya untuk memodelkan “biaya selama kelangsungan hidupnya” per setiap asset tempur atau material yang diakuisisi TNI.Berasumsi mengetahui total “biaya” selama kelangsungan hidupnya,dapat diperkirakan rincian biaya per tahun berjalan sampai dengan biaya pada akhir hidupnya (harga buku “nol”),mulai dari “biaya” R & D,pelatihan awal, sampai dengan perbaikan pendek,menengah,dst.Perjalanan panjang selama kelangsungan hidup pesud merupakan catatan sejarah yang mungkin sulit dirubah-rubah dan akan terbaca seri oleh dua (2) generasi pengguna asset tersebut.Singkatnya total “biaya” selama kelangsungan hidup setiap alternatif pesud PatMar akan mudah dibaca siapa saja, apaplagi pemerintah sekarang menggunakan pola “G-to-G” akan lebih semakin transparan, dan akuntabel akhirnya berujung kepada pengelolaan yang effisien.

Kesimpulan 

Menggabungkan dua (2) konsekuensi diatas menjadi satu rasio effektivtas (UE yang didapat) dan total “biaya” (total life cycle cost) akan memudahkan memilih sekaligus mendemonstrasikan ada suatu manfaat (atau UE yang didapat) dan konsekuensi “biaya” yang harus dikeluarkan sepanjang kelangsungan hidupnya untuk membiayai UE yang diharapkan. Rasio ini dikenal sebagai rasio effektivitas-biaya bagi komuniti  militer atau rasio manfaat “biaya” bagi komuniti sipil.Tentu saja diprioritaskan pesud dengan angka UE yang terbesar dan “biaya” terendah untuk dipilih.Ujikan kerangka model ini didunia nyata…hasilnya, mengapa banyak pesud Patmar dengan baling-baling lebih disukai dibandingkan bermesin jet, yang jelas pesawat jet akan sulit terbang rendah dan selama mungkin dekat permukaan air laut, belum variable keputusan lainnya lainnya,selamat mencoba.

 

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x
Share via
Copy link
Powered by Social Snap