GEOPOLITIK INDIA: (PEMBELAJARAN DARI SATU NEGARA MARITIM)

GEOPOLITIK  INDIA

(PEMBELAJARAN  DARI SATU NEGARA  MARITIM)

Oleh : Willy F. Sumakul, anggota FKPM.

 

 

Pendahuluan

Menilik akan konfigurasi serta letak geografisnya, India yang terletak dibenua Asia sering kali mendapat julukan benua kecil (sub continent) Asia. Hal ini disebabkan bentuk fisik negara yang terdiri dari daratan yang sangat luas dan masif namun dikelilingi oleh lautan yang luas pula. Bentuk negara adalah  Federal Union yang terdiri dari 29 negara bagian  ditambah dengan 7 Union Territory. Luas wilayah daratan mencapai 4,4 juta km2 atau 10% dari keseluruhan benua Asia, memberi kesan kalau India sangat kuat menganut visi kontinental dalam membangun dan mengejar kesejahteraan bagi rakyatnya. Tetapi sejarah telah membuktikan bahwa India memiliki kejayaan maritim sejak Jaman kerajaan Romawi di Eropah, dimana sejarah mencatat telah terjalin perdagangan antara India dan Romawi berupa export rempah-rempah dan sutera pada jaman itu. Demikian pula pada abad ke 7 dan ke 8, kerajaan Chola di India Selatan telah melakukan perdagangan dengan wiayah-wilayah di Asia Tenggara menggunakan kapal-kapal dagang dijaman itu. Ini menunjukkan bahwa visi maritim pemerintah dan rakyatnya tidak pernah luntur dari jaman ke jaman. Memang  harus diakui, sampai dengan tahun 1960-an, ancaman utama terhadap integritas wilayah dan keamanan negara selalu datangnya  dari daratan khususnya dari arah barat dan timur.  Pada jaman itu India selalu disibukkan dengan perang didaratan, tapi bukan berarti mengabaikan pembangunan kekuatan dibidang maritim. Dewasa ini India telah menjadi satu kekuatan maritim yang disegani didunia baik secara ekonomi maupun secara militer. India agaknya akan segera mengukir sejarah dunia  lewat kekuatan maritimnya serta mengembangkan pengaruhnya baik secara regional maupun secara internasional. Tidak berlebihan bila India diramalkan menjadi negara yang berpotensi menjadi salah satu super power dunia masa depan terbukti dari digolongkannya India dalam BRICS.  Kenyataan dunia dewasa ini sangat cocok dengan apa yang sedang berkembang di Cina dan India, karena sangat kuat indikasi bahwa kedua Negara akan memainkan peranan yang amat menentukan didunia dalam beberapa tahun mendatang. Kemunculan kedua negara sebagai “ the new global power” dapat disamakan dengan keadaan Jerman pada abad ke 19, dan dengan  Amerika  Serikat  pada abad ke 20, yang diramalkan  secara potensial akan merobah tatanan Geopolitik dunia sebagaimana yang terjadi pada dua abad sebelumnya.

 

Khususnya mengenai kebangkitan India, bukannya belum diketahui, namun menarik untuk disimak beberapa hal fundamental yang menjadi faktor utamanya : Pertama, adanya perubahan dalam  cara berpikir Pemerintah dan rakyatnya untuk menyusun  kebijakan dibidang ekonomi dan politik Nasional  yang lebih menekankan pada paham realisme. Agaknya kebangkitan ekonomi India banyak mengambil keuntungan dari intensitas globalisasi ekonomi yang berkembang dewasa ini. Sukses dibidang ekonomi ini ditopang oleh sektor industri yang berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi tinggi. Kedua, India secara geopolitik tidak lagi terbendung/terkurung (contained) dikawasan Asia Selatan seperti halnya pada masa perang dingin, tatkala India menjalin sekutu dengan Uni Soviet, yang menyebabkan Amerika Serikat dan Cina dibantu oleh Pakistan membendung India di kontinentnya. Ketiga, perobahan dalam hubungan India dan Amerika Serikat yang memasuki babak baru menuju pada hubungan yang lebih erat dibidang politik , yang berlanjut pada  kerjasama bidang keamanan termasuk dengan negara-negara sekutu Amerika Serikat di Asia Pasifik. Keempat, yang justru paling penting adalah menyadari kebangkitan pengaruhnya, akan menimbulkan konsekwensi luas pada negara-negara pantai sekeliling lautan India mulai dari Afrika Selatan sampai ke Australia. Pandangan ke selatan (“Southward  looking”) kedunia maritim semakin meningkat  karena kebijakan New Delhi yang merangkul ekonomi dan pasar global, mendorong diterbitkannya suatu Doktrin Maritim baru yang menempatkan samudera India menjadi pusat pemikiran dalam kebijakan  strategik India saat ini.

 

Kepentingan yang besar terhadap Samudera India

Tidak seperti Indonesia, India bukanlah sebuah negara kepulauan melainkan adalah sebuah negara pantai yang memang wilayah daratannya dikelilingi oleh laut yaitu lautan India.  Panjang pantainya mencapai 4660 mil, (7500 km) berarti memiliki potensi yang sangat besar untuk mengembangkan suatu kekuatan maritim. India sangat menyadari konfigurasi dan kondisi geografisnya sehingga mengembangkan visi maritim yang kuat untuk membangun dan mengambil keuntungan sebesar-besarnya dari posisinya tersebut. Seperti yang disampaikan oleh Vice Adm (ret) Premvir Das : As India grows economically, maritime security concern will become encreasingly important. Security of energy and trade safe movement at sea, is key to India’s security interests.[1]  Kita akan coba membahas mengapa India sangat peduli dengan Lautan India? Secara realita India adalah suatu negara besar , dapat dikatakan subcontinent di benua Asia karenanya merupakan kekuatan “ continental”, namun yang posisi geografisnya terletak  ditengah lautan India (Indian Ocean) suatu fakta  tak terhindarkan yang akan memberikan pengaruh  sangat besar, kalau tidak dikatakan sangat menentukan  dalam  lingkungan keamanan negara India sendiri. Orang India berpendapat bahwa  “bila bagi negara lain lautan India hanyalah merupakan salah satu bagian lautan yang penting didunia, maka bagi India , merupakan wilayah lautan yang sangat vital bagi eksistensi negaranya , karena jalur transportasi penting (lifeline) berada di kawasan laut tersebut. Bahkan kemerdekaan India dalam arti luas tergantung pada kebebasan memiliki akses ke wilayah lautan tersebut, juga berarti; tidak ada pembangunan industri, tidak ada pertumbuhan perdagangan, tidak ada stabilitas politik bagi India kecuali kalau dapat mengamankan pantai-pantainya dengan baik. Beberapa faktor kunci dalam pertimbangan keamanan India dapat dilihat sebagai berikut berkaitan dengan lautan India.

1. Para pengamat geopolitik sering kali membandingkan kedudukan dan lingkungan India dengan kedudukan Italia di lautan Mediterania. Armada kapal-kapal perang dari negara-negara maritim besar memiliki akses yang luas dikawasan ini, sama seperti halnya dengan di lautan Mediterania. Dikawasan ini pula tak terhindarkan proliferasi senjata-senjata konvensional dan senjata nuklir diantara negara kawasan, berlalu lalang dengan kemungkinan tak terdeteksi. Masalah dalam negeri India sendiri menyangkut konflik antar golongan agama yang melibatkan negara tetangga, masalah perbatasan maritim yang belum terselesaikan, serta kekuatiran terhadap ambisi negara maritim besar untuk menancapkan hegemoninya di lautan India. Dihadapkan pada lingkungan seperti ini , maka India percaya bahwa keamanannya hanya dapat terjamin  apabila mereka memperluas perimeter keamanannya terutama meraih posisi yang berpengaruh kuat mencakup seluruh kawasan lautan India,  mulai dari selat Hormuz diujung barat sampai ke selat Malaka, dan dari pantai timur Afrika sampai ke pantai barat Australia. Tidak heran bila India memandang lautan India sebagai halaman belakang negara India.

2. Faktor kedua yang dapat dikemukakan adalah kekuatiran terhadap peranan dan potensi negara maritim kuat yang mencoba mendominasi lautan India, seperti yang pernah diungkapkan oleh almarhum PM Jawaharlal Nehru : “History has shown that what ever power controls the Indian Ocean has, in the first instance, India’s seaborne trade at her mercy and, in the second, India’s very independence itself”. Pandangan ini tetap mewarnai doktrin maritim India sampai saat ini. Secara spesifik India menaruh perhatian khusus pada kekuatan luar yang besar yaitu Cina dan Amerika Serikat. Sekalipun hubungan dengan Cina dewasa ini semakin membaik, namun faktor-faktor pemicu konflik belum sepenuhnya hilang dari kedua negara, misalnya Cina belum menghapus strategi “contain India“ yang wujud nyatanya berupa: sengketa territorial yang belum terselesaikan, penjualan senjata dan pembentukan aliansi militer dengan negara-negara yang notabene tidak bersahabat dengan India (Pakistan, Bangladesh, Myanmar dan Nepal), serta oposisi Cina terhadap India di forum-forum Internasional maupun regional.

Dilautan India, India merasa tidak nyaman dengan semakin meningkatnya kemampuan Angkatan Laut Cina yang secara intens menghadirkan kapal-kapal perangnya di teluk Benggala dan laut Arab sebagai bagian dari strategi “String of Pearls (rantai mutiara)“ dan “Preparation of the Battle Field”. Ada dugaan Cina akan membangun pelabuhan laut, landasan udara, jalan raya , pipa minyak di Myanmar guna mendukung kapal-kapal perangnya yang beroperasi dilautan India.

3. Faktor ketiga yang sebelumnya tidak terlalu diperhitungkan adalah kegiatan fundamentalist Islam yang berbasis di Pakistan yang seringkali berbenturan dengan peradaban barat dan Hindu, dimana kegiatan mereka banyak kali dilakukan dilautan India . Didalam doktrin Maritim India disebutkan bahwa  gencarnya kegiatan para fundamentalis yang militant berpengaruh besar dalam jangka panjang pada keseluruhan lingkungan keamanan dilautan India.

4. Faktor keempat mengapa India berkepentingan di lautan India adalah Energi (minyak dan gas). Sekitar 70% kebutuhan minyak dalam negeri diimport dari luar, diperkirakan akan meningkat menjadi 85% pada tahun 2020. Karena itu taruhan energi minyak India dilautan India sangat besar, sehingga diperlukan pengamanan  SLOC dan ladang-ladang minyak dan gas lepas pantai, serta perlindungan terhadap instalasi pengeboran di ZEE dan laut dalam.

 

Hubungan dengan Amerika Serikat

Barangkali benar apa yang dikatakan oleh para ahli politik , apabila kita tidak mampu mengalahkan saingan kita, lebih baik kita berkawan dengan dia sehingga kita dapat menarik keuntungan dari padanya.   Itu kira-kira yang dilakukan India terhadap AS, dengan tujuan akan mengambil keuntungan sebesar-besarnya dari hubungan kedua negara. Dari hubungan dengan AS  ini diharapkan akan meningkatkan dan memperbesar kekuatan India sendiri, termasuk didalamnya yang sangat penting adalah mempromosikan  kepentingan India di Samudera India . AS dipandang sebagai aktor kunci external, yang sudah sejak lama menempatkan kekuatan militernya yang cukup besar di teluk Persia, laut Arab, Pakistan, pantai timur dan timur laut Afrika, Singapura dan Diego Garcia. Kekuatan Amerika yang sangat menentukan dikawasan ini tentu saja  sangat berpengaruh pada upaya India untuk mencapai tujuan politik dan strateginya di samudra India. Hubungan baik kedua negara dewasa ini dilandasi oleh kesamaan persepsi tentang  terorisme internasional, ekstrimis keagamaan dan kebangkitan Cina. Kedua negara telah sepakat  untuk bekerjasama dalam berbagai program termasuk bidang keamanan. Dalam bidang keamanan misalnya, kapal-kapal perang  Angkatan Laut  India memberikan perlindungan terhadap lalulintas kapal niaga AS yang melintas di selat Malaka. Bentuk kerjasama yang lain adalah bantuan kemanusiaan seperti penanggulangan bencana tsunami tahun 2004. Dibidang militer kerjasama juga digalakkkan misalnya ; latihan militer gabungan, kunjungan kapal perang, dialog masalah pertahanan rudal, persetujuan Amerika untuk India membeli pesawat airborne warning and control system dari Israel dan tawaran kepada India untuk membeli berbagai jenis perlengkapan militer termasuk pesawat tempur dan pesawat intai maritim P3 orion dari Amerika. Suatu deklarasi bilateral terbaru yang dibuat pada bulan Juni 2005 untuk jangka waktu 10 tahun kedepan disebut “ New Framework for the US- India Defense Relationship” yang berisi peningkatan kerjasama perdagangan pertahanan seperti produksi bersama peralatan militer, kerjasama pertahanan rudal, menghapus kontrol terhadap export teknologi AS yang sensitive serta perlindungan bersama  jalur-jalur perhubungan laut yang rawan.

 

India dan negara-negara littoral lautan India

Dalam upaya menggapai  pengaruh yang lebih besar diseluruh kawasan lautan India,terutama untuk mengamankan kepentingan ekonomi dan keamanannya, maka inisiatif strategik dan diplomatik yang  ditempuh India adalah membina hubungan yang lebih erat dengan negara-negara yang memiliki “ pintu” masuk ke lautan India. Khususnya negara-negara dengan chokepoints seperti ; Iran (selat Hormuz), Djibouti dan Ereitrea (selat Bab el Mandeb), Afrika Selatan dan Mozambik (Cape of Good Hope dan Mozambik Channel), Singapura, Thailand dan Indonesia (selat Malaka). Disamping itu kebijakan “near West“ terfokus pada negara tetangga dan sekitar laut Arab yaitu Pakistan, Iran, Israel dan beberapa negara Afrika.

Hubungan India–Pakistan dewasa ini semakin membaik sejak tahun 2003, ketika perdana menteri India Ayal Bihari Vajpayee mengulurkan tangan persahabatan ke Pakistan, kemudian disusul dengan proses kearah perdamaian. Tujuannya untuk menghindari timbulnya  konflik militer kedua negara, mengurangi tekanan di Kashmir  dan yang paling penting adalah untuk memperoleh kebebasan bergerak yang lebih luas di Asia Selatan  dan regional pada umumnya.  Dengan kata lain bahwa peredaan ketegangan dengan Pakistan harus dilakukan untuk mengurangi hambatan bagi India mewujudkan ambisinya memperoleh hegemoni di lautan India.

Dilaut Arab India boleh dibilang sukses mendekati Iran. Dalam pandangan Iran India adalah partner yang kuat  yang dapat membantu Teheran menghindari  upaya mengisolasi Iran dari dunia internasional. Lagipula  kerjasama ekonomi dengan India, sejalan dengan kebijakan ekonominya sendiri  ,khususnya peralihan perdagangan minyak dan gas Iran yang sekarang lebih banyak dengan negara-negara Asia dan berangsur-angsur mengurangi ketergantungan eksportnya  kepada negara-negara Barat. Jelas bahwa hubungan baik dengan Iran karena faktor energi minyak dan gas , yang pada bulan Januari 2005 menandatangani persetujuan dengan National Iranian Oil Company untuk mengimport  lima juta ton gas alam cair pertahun  selama jangka waktu 25 tahun. Kedua negara juga sepakat untuk membangun proyek yang cukup ambisius yaitu pipa gas sepanjang 2700 km dari Iran ke India melewati Pakistan yang rencananya akan diselesaikan dalam waktu 5 thaun.  Hubungan antara India-Iran bukannya tanpa masalah, Iran tentunya belum merasa nyaman menyangkut  hubungan erat antara India dan Israel. Apalagi  Iran tidak senang dengan sikap India yang mendukung resolusi yang diajukan IAEA ke Dewan Keamanan PBB menyangkut  issue senjata nuklir  Iran.

Lebih jauh kebarat adalah hubungan dengan Israel. Sekalipun hubungan diplomatik baru dijalin sejak tahun 1992, namun  kedua negara telah berhubungan baik secara tidak resmi sejak tahun 1980. Agaknya  hubungan India –Israel lebih ditekankan pada hubungan Pertahanan dan militer, dimana akhir-akhir ini pejabat militer kedua negara saling kunjung mengunjungi  layaknya  suatu persekutuan militer. Israel dewasa ini menjadi pemasok senjata terbesar kedua setelah Rusia ke India , menjadikan India pasar peralatan pertahanan Israel terkemuka  dan sekaligus partner perdagangan  kedua terbesar di Asia setelah Jepang.

Dikawasan Barat lautan India , India telah menjalin hubungan militer dengan negara-negara teluk (Gulf States) sejak tahun 2002 antara lain melakukan kerjasama melalui latihan bersama secara regular  dengan Oman . Kerjasama pertahanan ditandatangani pada tahun 2003 yang mencakup eksport-import senjata, latihan militer dan koordinasi masalah-masalah keamanan khusus. India juga telah menandatangani  apa yang disebut “ Framework Agreement for Economic Cooperation “dengan  Gulf Cooperation Council (GCC) dalam masalah perdagangan bebas.

Hubungan India dengan negara-negara pantai Afrika Timur, masih terbatas namun sedang dikembangkan. Negara-negara yang dianggap penting adalah ; di tanduk Afrika, Afrika Selatan,Tanzania, Mozambique dan negara kepulauan Mauritius dan Seychelles. Afrika Selatan adalah satu-satunya negara yang mempunyai hubungan bilateral keamanan , dimana untuk pertama kalinya pada tahun 2004 Angkatan Udara India melakukan latihan bersama pertahanan udara dengan Afrika Selatan , dimana latihan ini juga diikuti oleh Amerika Serikat, Jerman dan Inggris. Latihan bersama Angkatan Laut juga telah dilakukan di pantai Timur Afrika pada  bulan Juni 2005.  Menyusul kunjungan presiden India ke Tanzania pada tahun 2004, diadakan perjanjian dibidang militer, dimana personil militer Tanzania dapat belajar dan berlatih di India, demikian pula frekwensi kunjungan kapal-kapal perang India ke pelabuhan-pelabuhan di Tanzania semakin meningkat. Dengan negara-negara kepulauan Mauritius dan Seychelles India berkomitmen menjamin pertahanan, keamanan dan kedaulatan negara-negara tersebut. India juga sangat aktif meningkatkan hubungan baik dengan Maldives, ditandai dengan bantuan yang begitu besar ketika terjadi bencana tsunami pada Desember 2004.

 

Look East Policy

Melengkapi orintasinya ke Barat, dewasa ini India juga secara intens menjalin hubungan yang lebih erat dengan negara-negara diteluk Benggala dan negara-negara di kawasan Asia Tenggara, sesuai kebijakan “Look East”. Dimulai dengan negara tetangga terdekat yaitu Sri Langka, yang pada tahun 2000 sepakat melakukan perdagangan bebas, terbukti telah meningkatkan duakali lipat nilai transaksi perdagangan kedua negara. Tambahan pula kedua negara bertetangga tersebut  secara mantap menuju  a Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) mencakup berbagai bidang pembangunan ekonomi termasuk infrastruktur yaitu jalan raya,pelabuhan laut dan udara serta eksplorasi minyak dan gas bumi. Tidak ketinggalan  kerjasama dibidang pertahanan meliputi pendidikan dan pelatihan personil militer Sri Lanka  di India, berbagi data intelejen, pemasokan peralatan pertahanan ke Kolombo, bantuan perbaikan kapal perang sampai pada latihan militer gabungan  yang untuk pertama kalinya dilakukan pada tahun 2004 termasuk unsur-unsur Angkatan Laut. Namun satu hal yang perlu dicatat bahwa India menolak permintaan Sri Langka untuk melakukan patroli bersama melawan pemberontak Tamil (Sea Tigers).  Hubungan India dengan tetangga  terdekat yang  lain , Bangladesh, ditandai dengan pasang surut karena berbagai  ganjalan klasik antara lain; imigran illegal dari Bangladesh ke India, masalah air sungai, belum ada penyelesaian tuntas .Namun  belakangan ini sudah ada perbaikan hubungan  dimana kedua negara bersepakat  pada tahun 2005 membangun “Eastern Corridor Pipeline“ yaitu pipa gas  yang mengalirkan gas dari  Myanmar ke India melewati  teritori Bangladesh.

Kebijakan melihat ke Timur rupa2nya telah membuahkan hasil khususnya dengan negara-negara ASEAN. Sejak tahun 1996 India telah menjadi anggota dari ARF (Asean Regional Forum) sehingga telah menjadi partner dialog penuh  dengan negara-negara Asean. Pada tahun 2004  India bersama sepuluh negara Asean menandatangani kesepahaman  kerjasama dibidang perdamaian, ekonomi dan keamanan termasuk didalamnya memberantas terorisme internasional serta pencegahan terhadap penyebaran senjata pemusnah massal (Weapon Of Mass Destruction).  Dibidang ekonomi keduabelah pihak  berjanji meningkatkan perdagangan bebas, investasi, turisme  serta bekomitmen menciptakan  suatu kawasan perdagangan bebas menjelang tahun 2011 dengan  Brunai Darussalam,  Indonesia , Malaysia , Thailand dan Singapura, sedangkan dengan negara Asean lainnya pada tahun 2016. Namun perlu digaris bawahi  dalam hubungan pertahanan India memiliki hubungan erat hanya dengan Myanmar, Thailand dan Singapura. Fokus  perhatian India di Asia tenggara adalah untuk berkompetisi dengan Cina dan lebih spesifik lagi memiliki akses pada choke points tertentu serta alur-alur pelayaran penting yang kira-kira dapat digunakan untuk mencegah gerakan Cina kelautan Hindia. Hal itu pulalah yang menjadi tujuan utama India memperkuat pangkalan Angkatan Lautnya di kepulauan Andaman dan Nicobar. Lebih jauh lagi, dari pangkalan tersebut memungkinkan India memproyeksikan kekuatannya ke laut Cina Selatan.

 

Kekuatan Angkatan Laut

Untuk menunjang inisiatif politik dan diplomasinya, India dewasa ini sedang mengembangkan kekuatan dan kemampuan Angkatan bersenjatanya, agar dapat menjawab tantangan kebutuhan masa kini dan masa depan. Khusus untuk kekuatan laut bertujuan; antara lain  mencegah angkatan laut Cina memperoleh pijakan yang kuat di lautan India, mampu memproyeksikan kekuatan di mana saja dikawasan lautan India terus sampai ke laut Cina Selatan  terutama pada choke points tertentu, pulau-pulau yang vital, dan alur-alur pelayaran penting. Pada tahun 2004 India telah memesan sistim senjata seharga US $5,7 miliard melampaui pembelian Cina dan Arab Saudi ,menjadikan India sebagai pembeli persenjataan terbesar  diantara negara-negara berkembang  didunia. Kekuatan permukaan saat ini  AL India memiliki  satu buah kapal induk, 8 buah destroyer, 11 buah frigates, sejumlah kapal pendarat (LST), korvets, dan kapal-kapal patroli. Dalam lima tahun  kedepan  akan ada penambahan  2 buah kapal induk baru, 6 destroyer, 12 frigates, 5 LST, beberapa kapal Korvet dan kapal patroli, serta  1 buah LPD. Kapal Frigates yang sedang dibangun di Mumbai Type 15 A akan dipersenjatai dengan 16 buah peluru kendali Brahmos luncur vertikal. Salah satu kapal induk mendatang, eks Uni Soviet berukuran 44500 ton akan diserahkan pada tahun 2008, sedangkan kapal induk yang lain buatan India sendiri (produksi pertama), peletakan lunas pada tahun 2005 berukuran 40000 ton. Kapal induk ini dirancang  sebagai kapal pertahanan udara (Air Defense Ship) yang mampu membawa sekitar 16 buah Mig- 29 K dan 20 buah helicopter anti kapal selam dan anti permukaan. Setelah dilakukan modifikasi, kapal induk ex Rusia dapat mengangkut  16 buah pesawat tempur Mig -29 Ks dan 8 buah helicopter anti kapal selam.

India juga terus meningkatkan kemampuan armada kapal selamnya, baik yang ada saat ini maupun pengadaan baru. Angkatan Laut India memiliki 4 buah KS Type 1500 buatan Jerman  dan 10 buah kelas Kilo buatan Rusia. Yang belakangan ini telah menjalani refit di Rusia dan telah dipasangi  peluru kendali jenis Klub berkemampuan anti kapal dan sasaran darat dengan jarak jangkau mencapai 200 km. Kedepan pemerintah India menyetujui pembelian  6 buah kapal selam jenis Scorpene buatan Perancis, dan 4 sampai 6 kelas Amur 1650 hunter killers (SSKs).  Disamping itu prioritas diberikan pada pengembangan KS bertenaga nuklir buatan sendiri (indigenously constructed),  dengan bantuan teknologi dari Rusia. Sejak tahun 2005 perwira-perwira AL India telah berlatih di St Petersburg untuk mengawaki dua buah kapal selam serang Akula  II bertenaga nuklir yang akan disewa dari Rusia. KeduaKS tersebut dipersenjatai dengan peluru kendali jarak sedang namun mampu membawa 200 kiloton kepala nuklir. Singkatnya pemerintah India berambisi mempersenjatai seluruh sistim senjata laut utamanya dengan peluru kendali jelajah nuklir. Sebagai gambaran dan perbandingan , menurut data dari Naval Forces of the World, maka Combat Value ( kesiapan tempur yang dinyatakan dengan angka mengandung keseluruhan jumlah dan kwalitas dari kapal beserta anak buahnya  dalam suatu pertempuran laut), beberapa negara maritim kuat adalah: Jepang 26, Inggris 46, Cina 16, India 10, Indonesia 2, Russia 45 dan Amerika Serikat 302.

 

Pangkalan Angkatan Laut

Untuk mendukung operasi kapal-kapal perangnya maka keberadaan pangkalan armada sangatlah penting.  Salah satu pangkalan AL India yang sangat penting terletak di Karwar, dekat Goa di pantai Malabar, suatu lokasi yang dipilih karena lebih dekat ke lautan Hindia dibanding dengan yang  di Mumbai (dulu Bombai).Pangkalan laut sekaligus udara yang bernama INS Kadamba ini  sedang dalam penyelesaian, dimana nantinya akan menjadi pangkalan AL India pertama yang benar-benar eksklusif dalam arti terpisah dari pelabuhan laut komersial dan sipil. INS Kadamba akan mampu dirapati oleh kapal induk terbaru, menjadi homebase beberapa jenis kapal kombatan, menjadi pangkalan utama kapal-kapal selam bertenaga nuklir dan pada gilirannya akan menjadi  markas besar Komando AL  kawasan Barat.

Lebih jauh keselatan, India sedang meningkatkan infrastuktur pangkalan diCochin dimana pesawat –pesawat terbang  pengintai tak berawak ( Unmanned Aerial Vehicles) ditempatkan. Pesawat UAV ini berperan memberikan laporan segera(real time) kepada unsur-unsur Angkatan laut lainnya mulai dari alur laut yang sibuk di utara laut Arab sampai ke selat Malaka. Mungkin karena lokasinya yang strategis dikatakan bahwa pangkalan Cochin  sebagai tantangan bagi pangkalan AS di Diego Garcia. Selain di Cochin, AL India juga membangun pangkalan untuk UAV di Port Blair, markas Komando AL Andaman dan Nicobar dan di pulau Lakshadweep yang terletak di choke point teluk Persia. Pangkalan di kepulauan Andaman dan Nicobar, memiliki arti yang sangat strategis bagi New Delhi, karena melalui pangkalan ini India dapat memperkuat kehadiran militernya di teluk Benggala. Sekalipun beberapa tahun yang lalu pangkalan ini rusak berat dilanda gelombang tsunami, namun India tetap menganggap pangkalan Port Blair sebagai “ Diego Garcia”nya India dimasa depan. Dalam kaitan ini, hampir pasti India akan menjadikan kepulauan ini sebagai pangkalan depan peluncuran peluru kendali dari kapal selam , yang pada akhirnya juga senjata nuklir.Selain daripada itu, kepulauan ini juga akan memainkan peranan yang penting bagi upaya India untuk menandingi sepak terjang Cina  di Asia Tenggara serta untuk memperlancar gerakan “ Look East policy”.

 

Kesimpulan

Dalam beberapa tahun belakangan ini India telah menempatkan negaranya pada arah dan jalur untuk menggapai posisi berpengaruh di Lautan India, karenanya berusaha  meningkatkan dan memperkuat profilnya terutama dikalangan negara-negara litoral lautan India serta negara-negara Asean.  Kekuatan maritim khususnya kekuatan Angkatan Laut adalah kunci sukses bagi pencapaian kebijaksanaan politik, yang tentunya ditopang oleh kekuatan ekonomi yang  kuat . Visi maritim India abad 21 mencakup wilayah dari teluk Persia sampai ke selat Malaka .Hubungan dengan  aktor-aktor penting  dari luar seperti Amerika Serikat, Jepang, Israel, dan Perancis, semakin erat  merupakan faktor penting bagi India untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan perdagangannya.  Harus diakui bagi sebagian besar negara-negara Asia Tenggara , langkah-langkah yang ditempuh India saat ini belum banyak menarik perhatian. Umumnya perhatian  tertuju pada Cina yang memiliki ambisi  di laut Cina Selatan. Padahal kebangkitan India, dengan sasaran menanamkan hegemoni di lautan India, pada gilirannya akan merubah tatanan geopolitik negara-negara kawasan tidak terkecuali Asia Tenggara dan Indonesia.  Kebijaksanaan politik ”Look East”, rupa-rupanya dijalankan secara paralel  antara bidang ekonomi dan pertahanan/militer. Untuk pertama kalinya dalam 10 tahun terakhir, pada tahun 2005, suatu gugus tugas kapal perang India berkunjung ke Indonesia dan beberapa negara Asia Tenggara lainnya , yang kita yakini sebagai bagian dari diplomasi Angkatan Laut India. Pembangunan kekuatan Angkatan Laut (baca : kapal perang) yang dibarengi dengan pengembangan  pangkalan merupakan indikasi kuat akan niat pemerintah India mencapai kepentingan nasionalnya (dilaut). Dalam waktu yang tidak terlalu lama dapat dipastikan negara-negara Asia Tenggara akan berhadapan dengan tiga kekuatan besar yang saling berebut pengaruh dikawasan ini; Amerika Serikat, Cina dan India. Dari kenyataan saat ini, hubungan pertahanan antara India dengan negara-negara Asean, yang terdekat hanya dengan Myanmar, Thailand dan Singapura. Pendekatan yang dilakukan kedua Angkatan Laut , TNI AL dan IN  melalui acara Navy to Navy Talks, adalah merupakan langkah strategis, yang diharapkan dapat dijadikan sarana untuk mempererat hubungan kedua AL serta membawa manfaat bagi hubungan  kedua negara pada umumnya.

Indonesia dalam beberapa bulan kedepan akan mengalami penggantian pimpinan Nasional (presiden). Presiden baru bapak Ir Joko Widodo mempunyai komitmen untuk membangun kembali kekuatan maritim Indonesia khususnya pembangunan ekonomi yang berbasis maritim yang selama berpuluh tahun dapat dikatakan kurang mendapat prioritas. ”Poros Maritim” yang dicanangkan oleh presiden baru haruslah segera diterjemahkan dalam program-program pembangunan yang konkrit, bagaimana starteginya, tahapan-tahapannya dan bidang-bidangnya sesuai kebutuhan pembangunan ekonomi. Inilah momentum baru yang sudah lama ditunggu-tunggu, yaitu mewujudkan kekuatan dan kewibawaan maritim, demi untuk meningkatkan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Kebijakan yang ditempuh India dapat memberi inspirasi ataupun dapat dicontoh oleh pemimpin/pemerintah baru Indonesia, khususnya mengembangkan geopolitik yang tepat yang tentunya akan disusul dengan pengembangan geoekonomi yang memadai pula.

 

Referensi:

  1. Vice Adm (Ret) Premvir Das, Maritime Power, Key to India’s security Interests
  2. Adm Sureesh Mehta, Maritime Power Emerging.
  3. Wikipedia.org, India’s Maritime Power.

 


[1] Vice Adm ret Premvir Das , Maritime Power, key to India’s security interests.

0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Scroll to top
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x
Share via
Copy link
Powered by Social Snap