Ethika, moral dan gaya kepemimpinan militer 

 …more than 160 years, the Naval Academy has served as a beacon of moral and ethical leadership to the nation and to the world, producing leaders of uncompromising character, who have fought our wars with honor and have gone on to serve as positive role models in the civic affairs of this nation and the world (The Stockdale Center for Ethical Leadership, USNA, Annapolis) [1]“the officer must have strength of character—‘the ability to keep one’s head at times of exceptional stress and violent emotion.’ [2]. A recent National Leadership Index showed that American citizens were more confident in the leadership of the military than any other professional and governmental bodies, ….  (Pittinsky, Rosenthal, Welle, & Montoya, 2005) .[3]The great leader is not necessarily the one who does the greatest things, (but) he is one who gets the  people to do the greatest things (Strock 1998,p.17) [4]You must lead yourself first (Greg Hastings) [5].

 

Menyongsong SDM Indonesia kedepan, di-butuhkan teknologi manajerial dan kualitas manusia, khususnya kualitas pemimpin yang memiliki loyalitas nasional [6]. Kepemimpinan militer adalah komoditi perdagangan yang membuat aliran darah tubuh militer bergerak terus dan berbeda dengan lain. Berbahaya, apabila militer keliru menggunakan hak senjata yang mematikan (lethal) [7].  Mungkin betul slogan USNA, USAFA [8] di-atas sebagai ikon mencari pemimpin ber-etika dan ber-karakter. Pelatihan & pembelajaran tidaklah cukup menghafal Juk dasar kepemimpinan saja (via jembatan keledai, pen) bahkan satu semesterpun tidaklah cukup. Studi kepemimpinan oleh Harvard [9], adalah signal kuat dari perguruan tinggi kelas dunia yang berminat kuat terhadap isu kepemimpinan.

 

John Kotter, penulis Harvard tentang kepemimpinan, karya tulisnya popular dikalangan siswa senior US Army War College [10]. Kerasnya pendidikan militer, ketatnya seleksi, dan padatnya materi serta upaya pengembangan moral, etika, mental, disiplin, melalui kredo, sumpah, janji serta pendampingan kementoran–tidak semua elite militer ber-kelas “petarung” (warrior) bahkan sebagian keluar dari batas harapan. Kasus kepemimpinan melibatkan perwira, meski di-unit yang lebih kecil para bintara menjadi profil panutan. Dimensi kepemimpinan sangat luas, bukan sebatas ethika, kepribadian, moral, loyalitas, pembinaannya, atau gaya yang dibawakan. Belakangan; muncul isu kepemimpinan buruk dan racun seperti pencitraan, ineffisiensi, beda di-depan dengan fakta, kebohongan, tidak-jujur, narsis, korup, dll. Iklim di-lingkungan marinir, kapal selam, kapal atas air, kapal induk, penerbangan, passus atau elite dan staff berbeda, bahkan antar Angkatan. Pemimpin nasional kebanyakan terdidik di-Akademi Militer semua Angkatan, karena itu penulisan banyak mengambil referensi almamater-almamater tersebut.

 

Perjalanan panjang pemimpin militer

[1] It’s critical that Army leaders be agile, multiskilled pentathletes who have strong moral character, broad knowledge, and keen intellect. They must display these attributes and leader competencies bound by the concept of the Warrior Ethos. Leaders must be committed to lifelong learning to remain relevant and ready during a career of service to the Nation [11].[2]There may be “born leaders” but there surely are far too few to depend on them. Leadership must be learned and can be learned (Peter Drucker) [12]

Studi (disiplin) kepemimpinan telah melalui jalan panjang untuk mendefinisikan diri. Banyak cara pandang kepemimpinan, mulai dari sudut teori manusia besar (The Great Man Theory), yang melahirkan konsep pemimpin memang dilahirkan [13], hingga teori “sifat kepemimpinan” yang melekat di-dalam, di-bumbui kepemimpinan transaksional, transformasional, dll [14]. Berkembang pemimpin berethika, mengagungkan diri, otentik, di-sengaja, kolaboratif bahkan lebih jelek—buruk atau racun dan hadir dalam beragam varian organisasi militer, menambah kesulitan pelibatan kepemimpinan ini. Wajarlah kalau waktu dan konsep pendalaman memakan waktu panjang. Akademi militer menggunakan seluruh semester yang ada (8 semester) untuk tatap-muka, pelatihan kepemimpinan, diskusi grup, studi kasus, seminar, ceramah dari selected leader, penugasan dan lain-lain. Akademi Angk Laut menjadi lembaga primer untuk mencetak pemimpin Angk Laut masa depan, sama halnya dengan Akmil dan AAU.

 

Atribut kepemimpinan adalah…memiliki karakter kuat, kapabel mendemonstrasikan etika, moral, mental dan phisik yang siap menghadapi konflik (low level—high) sampai pertempuran mati hidup, memberikan sumbangan maksimum kepada keamanan nasional dan kesejahteraan negaranya melalui dharma kepemimpinan berkelanjutan sewaktu aktif maupun selaku warga-negara biasa [15]. Persyaratan masuk sungguh kompetitif, mengingat posisi-nya biasanya masuk 10 perguruan tinggi terbaik. Pola tiga elemen seleksi di-gunakan sebagai syarat awal mengikuti pendidikan di-Akademi, yakni skor akademik, skor kepemimpinan dan skor panel seleksi (pantuhir). Seleksi lewat tiga (3) elemen sesuai  bobot masing-masing, periksa tabel dibawah ini [16].

 

Hint: GPA (sama IPK tingkat SLA), SAT mungkin standard academic test. Perhatikan komponen akademik berbobot 60 % nya.

Pemantauan pengembangan kepemimpinan individu perwira adalah program berkelanjutan dan sangat progresif serta ketat monitor di-mana mereka bertugas[17]. Melalui riset dua (2) dari elemen itu (Akademi dan Kepemimpinan) signifikan kapabel guna memprediksi sukses/gagal-nya seorang kadet bahkan perwira (setelah lulus) [18]. Setelah di-tinjau ulang di-hasilkan bobot agak berbeda, periksa tabel dibawah ini [19].

 

Hint: perhatikan perubahan bobot di-elemen akademik maupun kepemimpinan menjadi 75 % dan 25 %, panel seleksi menjadi 0 %.

AD-AS menyebutnya sebagai program pengembangan kepemimpinan. Angk lain melakukan hal yang tidak terlalu sama, mungkin domain operasional dan kebutuhan agak berbeda plus hadirnya tradisi, budaya, kebiasaan dan system nilai yang dominan masing-masing Angkatan. Kurikulum pelatihan, pendalaman maupun pengajaran kepemimpinan di-salurkan melalui tiga (3) domain kelembagaan yang terlibat, yakni Angk sendiri, satuan operasional dan individu masing-masing. Setiap domain mendayagunakan kegiatan pelatihan, pendidikan, dan pengalaman (studi kasus/tukar menukar pengalaman) agar tingkat kualitas pemimpin semakin meningkat. Pelajaran yang di-dapat dari ber-bagai perang mengungkap perlunya kompetensi kepemimpinan lebih luas dan konsekuensi model pengembangan kompetensi agar memenuhi harapan operasi mendatang. Col Frederick M. O’Donnell [20] mengusulkan ekspansi kompetensi perwira junior. Mungkin ini penyebab AD melakukan riset bulan Nov tahun 2002, berakhir tahun 2004 melalui proses panjang kajian kurikulum dan pelatihan kepemimpinan. Obyektif kompetensi kepemimpinan adalah terbangun-nya pemimpin yang effektif, kapabel mempengaruhi individu di-dalam agar organisasi sukses [21]. Materi pengembangan di-rujuk dari mengalir-nya visi organisasi (maunya organisasi) turun menjadi visi “kepemimpinan yang jelas”,    lanjut dengan ujud phisik (seperti apa) yang bisa dihasilkan (desired result) oleh kepemimpinan yang jelas, kemudian di-jabarkan dalam kompetensi yang “pas”. Kompetensi yang melibatkan klaster, ketrampilan, kesanggupan dan ciri-ciri individual yang di-tengarai kuat [22] dan kapabel membawa organisasi lebih sukses ini kemudian turun dalam “road-map”, yang memonitor performa kepemimpinan setiap individu sebagai kontrol per periodik guna menaksir perkembangan kepemimpinan (baca: potret).

 

Kepemimpinan yang buruk dan racun (bad & toxic leadership)

[1] ….Bad leadership divides into two categories: ineffective and unethical…[23]

[2] We can’t have leaders who are risk averse, we can’t have leaders who are micro-managers and don’t trust their subordinates — [that’s] the kind of toxic leadership that we can’t afford. — General Raymond T. Odierno, Chief of Staff, U.S. Army [24].

 

Tipikal ini mulai memasuki kamus budaya publik (mainstream culture). Sebelumnya beredar (hanya) di-kalangan jurnal ilmiah tingkat atas, ruang makan atau ruang terbatas dilingkungan militer. Keseriusan ini meningkat menjadi liputan psikologik pop dan konsultan (periset) manajemen militer [25]. Apapun perilaku pemimpin, pemimpin akan menentukan performa organisasi. Berbekal ethos kerja positif dan peduli dengan organisasi, hampir pasti organisasi menerima buah yang manis  [26]. Isu tidak effektif atau misi yang gagal merupakan ikon pemimpin kurang beruntung, sedangkan pemimpin yang gagal melaksanakan misi dan gagal membina bawahan lebih effektif adalah pemimpin racun (toxic leader) [27]. Kepemimpinan racun di-AD cukup lama berkembang. Khusus tahun 2011 empat (4) Pwa senior AD–AS, di-non-aktifkan. Ancaman pemimpin racun ini bukan barang baru, di-tahun 2003, Menteri AD–AS, Thomas. E. White mengajak US Army War Coll untuk melakukan riset…katanya; “address how the Army could effectively assess leaders to detect those who might have destructive leadership styles.” [28].

 

Isu kepemimpinan yang sangat serius [29] dan terdefinisi sebagai pemimpin yang egois, intimidasi & memaksa bawahan, dll—dampak negatif terhadap kinerja unit [30]. Barbara Kellerman; Kapus studi lanjut kepemimpinan Harvard Univ, menyebutkan bila pemimpin tidak ber-ethika atau narsis atau amoral—organisasi memetik hasil buruk, bisa lebih buruk [31]. Dua model peran di-dalam; yakni pemimpin dan pengikut. Pemimpin butuh pengikut effektif untuk itu pemimpin harus kapabel menciptakan-nya. Versus isu kepemimpinan buruk akan mengerucut pada dua (2) komponen pokok; yakni ethika dan effektifitas. Wajar kalau Kellerman membagi tingkat paling mendasar dari kepemimpinan buruk dalam dua (2) ketegori; tidak effektif dan tidak berethika. Pemimpin yang tidak effektif adalah pemimpin yang gagal menampilkan perubahan signifikan sesuai keinginan organisasi. Isu ethika hanyalah cara pandang yang pantas dan tidak, non-ethika dan di-klim tidak sanggup berlaku sopan yang sangat mendasar maupun berperilaku baik—proses kepemimpinan ternodai[32]. Adem Yavas, periset Turki menyatakan beberapa tahun belakangan ini “sisi gelap” kepemimpinan (racun) ini menarik perhatian ilmuwan. Isu yang terjadi tidak di-pemerintahan bahkan swasta. Kepemimpinan racun ini di-klim menurunkan effisiensi, effektifitas-biaya organisasi, laju absensi, meningkatkan mutasi personil, dll [33]—iklim yang kurang sehat dan berpeluang menimbulkan konflik dalam organisasi. Meski studi tentang pemimpin racun mengerucut pada situasi negatif, belum satu konsensus terdefinisi. Racun sebagai kata yang mewakili varietas kepemimpinan disfungsional. Kesatuan konsensus diharapkan kapabel menciptakan skala yang mudah diterima semua pihak untuk riset empirik [34].

 

Kepemimpinan racun, dengan beberapa definisi dibawah ini [35]:

  1. Tirani kecil, (bahkan Ashforth, 1997, menyebut tirani). Tendensi mendewakan, mengkultuskan atasan.
  2. Supervisi kasar, (Tepper, 2000, menyebut hostile verbal/non-verbal). Sebagai serangan verbal atau non verbal, tanpa kekerasan phisik.
  3. Kepemimpinan merusak (destructive). Perilaku pemimpin (supervisi, manajer) yang melanggar aturan main dan hak yang sah, dengan mensabot tujuan, misi, sumber daya, effektifitas, motivasi, kesejahteraan dan tingkat kepuasan bawahan.
  4. Perundungan di-tempat kerja. Perilaku negative terus menerus kepada “bawahan” yang bahkan sangat lemah untuk melindungi dirinya sekalipun.
  5. Karakter disfungsional. Merusak dan menunjukkan karakteristik disfungsional tertentu.

Whicker, pencetus istilah pemimpin beracun pertama kali dalam literatur, mendefinisikan pemimpin beracun sebagai “tidak sesuai, tidak pantas dan sering berlaku jahat ” [36]. Lubit menyatakan bahwa pemimpin racun adalah….narsis, agresif, kaku dan cacat (jiwa) [37]. Riset Hair & Andersen, Tatham & Bileck, tahun 1998, dengan sampel 0.926 (92 % lebih sampel) melihat karakteristik pemimpin racun (factor 1, 2, dst) sebagai berikut (tabel tidak menggambarkan penuh sesuai ref),

..dan seterusnya [38].

…dan seterusnya.

 

…dan seterusnya.

 

…dan seterusnya.

Melalui analisis factor, di-dapat variabel yang relevan dan signifikan (ada yang didrop atau berubah posisi):

 

 

 

 

 

Hint: Perhatikan dari factor 1 sampai dengan 5, didapat sub-sub variabel yang lebih relevan, bedakan dengan tabel sebelum perbaikan dengan analisis factor, misal: factor 4, sub variable S16, tadinya di-urutan bawah (tdk nampak) sekarang menjadi urutan teratas, dan ada yang sebaliknya—-misal: he does not act as a colleague, manager, or counterpart, he acts as boss. …dan lain-lain, masih banyak yang bisa di-ungkap dengan teknik statistik inferensial.

 

Kellerman melihat pembagian di-atas bukan tipologi pemimpin buruk tapi buruknya kepemimpinan [39]. Komen George E. Reed (purn AD-AS);…gaya memimpin yang merusak tidak mendongkrak nilai, bahkan merugikan organisasi [40]. Lanjut Reed … an apparent lack of concern for the well-being of subordinates and a personality or interpersonal technique that negatively affects organizational climate and a conviction by subordinates that the leader is motivated primarily by self interest [41]. Akhir komentar Reed,…Ask a group of military officers and non-commisions officers if they have considered leaving the proffesion of arms becaused of the way a supervisor treated them, and, depending on their time in service, anywhere from a third to all of them will raise their hands to say yes [42].

 

Kajian ethika, moral, kepemimpinan transformasional dan transaksional

 

The development of the moral element of leadership is very often ignored in the training and education of military officers—non-commissioned, staff non-commissioned, and commissioned. This is partly due to the lack of understanding of the developmental stages in the career of a service member [43]

Kajian, riset, telaan (semua-nya adalah evaluasi atau laporan), terdefinisi sebagai investigasi suatu materi atau sumber tertentu dalam rangka menemukan fakta dan capaian konklusi baru dengan menggunakan cara ilmiah seperti methodologi, model (kerangka masalah), pendekatan, data real time, observasi aktual dan uji verifikasi, validasi, dll. Ethika kepemimpinan bertumpu pada tiga pilar: (1) karakter moral pemimpin; (2) legitimasi ethika dari nilai-nilai yang tertanam dalam visi, artikulasi dan program pemimpin yang diikuti atau ditolak pengikut; (3) moralitas dari proses pilihan dan tindakan ethika sosial yang melibatkan dan diikuti oleh para pemimpin dan pengikut [44]. Diskursus moral lebih normatif, mudah di-tangkap dalam kalimat benar/salah, baik/buruk, dan bagus/jahat [45]. Tiga (3) dimensi kepemimpinan—moral, phisik dan intelektual adalah materi yang sulit ditanamkan dan dikembangkan, apalagi  di-jadikan satu unit pengukuran yang sama [46]. Aspek atribut fisik kepemimpinan—keberanian, kebanggaan, daya tahan, dan bahkan tampilan, di-kembangkan melalui pelatihan yang ketat & disiplin. Aspek intelektual kepemimpinan—di-kembangkan melalui studi intensif tentang sifat manusia, manajemen krisis, kepemimpinan, teknik pengambilan keputusan, filsafat, logika, matematika & sains, dsb (melebur dalam program studi (pilihan/majoring). Aspek moral/ethika kepemimpinan—menanamkan perilaku etika pada orang lain jauh lebih sulit dan butuh waktu untuk dikembangkan bagi kepribadian perwira. Militer masih belum meng-klim hadirnya metode effektif mengatasi kegagalan moral/ethika [47]. Di-lingkungan militer, “moral” dan “motivasi” sering digunakan bergantian untuk merujuk kesiapan prajurit untuk bertarung dan berkorban demi misinya. Studi oleh Col. Gal, IDF [48] menyatakan;…moral lebih menggambarkan kondisi kelompok dan motivasi; terutama gambaran atribut individu dalam pertempuran. Kedua konsep ini sering di-gabungkan, bahkan beberapa penulis mendefinisikan moral dan motivasi yang saling tergantung [49]. DoN (Depart of the Navy, US) memandang penting ethika di-kembangkan [50]. Etika adalah sistem nilai moral dan moral adalah prinsip perilaku benar dan salah—pengembangan moral adalah upaya belajar menjadi lebih baik dari kesalahan selama ini. Pembelajaran isu moral ini dapat di-bagi dalam empat (4) tahap; kepatuhan, pemahaman moral, kematangan moral, dan ambisi moral [51]. Bukan barang baru—bahkan militer Roma sudah menggunakan, mulai dari obecessium (patuhan pada perintah & arahan), fides (yakin pada organisasi yang mengeluarkan perintah & arahan), integritas (keutuhan, kelengkapan, integritas)[52]. Moral adalah elemen penting kepemimpinan, sedang pengembangan moral dalam pelatihan & pendidikan membutuhkan model peran (role models) [53]. Moral adalah penentu kritis terwujudnya performa, motivasi dan entusiasme dalam organisasi. Moral adalah status pikiran…apa yang ada dalam individu. Moral, pasukan, unit, teman, semua yang ada dalam pikiran semua orang dalam kelompok di-jamin mendorong maju terus atau sebaliknya tidak bermoral akan mundur atau menyerah. Kondisi ini berpengaruh langsung terhadap keberanian, kepercayaan diri, disiplin, antusiasme, semangat dan kemauan pasukan untuk menanggung beban kesulitan, pengorbanan, heroism atau apapun selama bertugas. Isu moral sudah lama menjadi keprihatinan elit militer [54]. Moral menjadi perekat unit, agar satuan tidak mudah menyerah dan mundur. Moral di-orientasikan sebagai kondisi pikiran ke-depan dan percaya diri yang relevan & vital demi tujuan bersama [55]. Manning memandang moral sebagai semangat dan kegigihan anggota kelompok. Grinker memandang sebagai kekuatan psikologik kelompok sebagai semangat bertempur [56]. Moral penting bagi militer modern, karena memainkan kunci versus beberapa perubahan dan tantangan yang dihadapi. Moral adalah fondasi pasukan masa depan. Moral lebih banyak mengalir dari atas ke-bawah bukan sebaliknya—besar kecilnya moral tergantung besar kecilnya gaya kepemimpinan yang ada. Ada hubungan kuat antara gaya transaksional dan transformasional (bersama-sama) terhadap moral. Kepemimpinan seseorang di-pahami sebagai perspektif perilaku. Konklusi Burn (1978) & Bass (1985) menyatakan bahwa kepemimpinan terbagi dalam dikotomi—transaksional dan transformasional[57].  Berangkat dari hyphothesis gaya kepemimpinan yang lebih menyumbangkan sukses (tidaknya) seorang perwira [58]. Gaya transaksional dikenal sebagai gaya “bercerita”, fokus kepada struktur [59], hasil, ganjaran dan penalty. Pengikut termotivasi janji, pujian, dan penghargaan dari para pemimpin. Terkoreksi oleh umpan balik negatif, teguran, ancaman atau tindakan disipliner. Pemimpin bereaksi terhadap “transaksi” antara pemimpin dan pengikut, contoh; Jend Norman H. Schwarzkopf. Gaya ini cocok dengan situasi dimana reaksi atau response segera diperlukan serta hadirnya instruksi dan informasi yang mengalir deras dari atas kebawah. Keunggulan transformational adalah lebih strategik, visioner, menantang dan karismatik. Mengapa disebut transformasional? Pemimpin dan pengikut bertransformasi mempertajam cara pandang kedepan. Transformasional bekerja baik dalam perubahan situasi, idea yang mengalir bebas dan subordinasi yang berani dan terdorong menyumbangkan solusi terbaik. Gaya ini sukses merangsang minat, membangkitkan kesadaran dan memotivasi untuk melihat peluang bekerja yang lebih berkualitas [60] menuju obyektif yang lebih effisien didepan mata. Kepemimpinan transformasional di-dukung empat (4) komponen [61]; kharismatik atau pengaruh idealisme, motivasi inspirasi, stimulasi intelektual, dan pertimbangan individual—kepemimpinan yang dianjurkan sebagai pemimpin membangun. Contoh; Gen. Omar Bradley, ketua Kas-Staf gabungan pertama kali dan Jendral bintang lima terakhir[62]. Gaya melayani (server) tapi jarang seperti Gen. Matthew B. Ridgway dan gaya autokrasi seperti Gen. George S.Patton [63]. Riset Yammarino & Bass, tahun 1989 versus lulusan USNA [64]—kepemimpinan transformational lebih besar peran-nya terhadap performa penugasan di-bandingkan transaksional. Diversitas dan aktifitas olahraga besar sumbangan-nya terhadap berkembangnya kepemimpinan transformasional…those who played varsity sports (olahraga tim) were seen as more charismatic, individually considerate, inspirational, and intellectually stimulating, and also more transactional in terms of rewards and promises than those who did not play varsity sports [65]. Thesis Jeff Rogers menyatakan;…lessons taught in sports and athletic activities are suggested to be a positive factor in the prediction of midshipmen (kadet, pen) and officer performance (Leskovich, 2000 & Zettler, 2002) [66]—mengapa aktifitas olahraga tim dan atletik sangat di-pertimbangkan sebagai syarat masuk Akademi militer.

 

Apa yang dikerjakan masing-masing Akademi Angkatan?

One of the most important things you can do as a leader is to develop other leaders. Those leaders will affect hundreds, if not thousands, of other people. [67]

Dikarenakan kurangnya tulisan, kertas karya, dan produk riset di-Akademi Angkatan RI, sulit membahas isu dari dalam. Di-lain pihak begitu banyaknya referensi yang mudah di-dapat dari Akademi militer asing sangat membantu memudahkan kajian. Sangat di-pahami mengapa Akademi Angkatan asing mengembangkan konsep pelatihan, pembelajaran tersendiri masing-masing. Akar ke-ilmuan bisa sama, namun tradisi, kebanggaan, sejarah, kebiasaan, system nilai masing-masing Angkatan ber-beda. Karena itu Akademi Angkatan berdiri di-lahan masing-masing, dengan pakaian khas sendiri, tradisi, system nilai, maupun atribut lainnya dan memiliki kebebasan mengelola kepemimpinan khas berbasis kepentingan masing-masing. Tiga Akademi sepertinya mengembangkan program studi teknik (engineering) yang relative sama kuatnya, bisa jadi kl porsi teknik 75 %, sisa-nya humaniora/social [68]. Angk Udara banyak berharap pemimpin masa depan mendominasi ruang Angkasa, karena itu basis engineering dan kepemimpinan yang mendukungnya dibangun kearah sana. Di-AAL hadirnya bapak nuklir AL-AS, Laks G.H Rickover, membuat usulan perombakan kurikula. Tahun 1970-an, USNA lebih di-kenal sebagai pencetak perwira muda insinyur dan sebagian besar masuk dalam Armada nuklir (kapal induk, kapal atas air, kapal selam). Elemen pengembangan kepemimpinan selama ini bertumpu pada tiga (3) dasar perdebatan, yakni [1] ciri-ciri atau tipikal pemimpin—biology versus development, misal: di-lahirkan, di-latih, di-didik atau di-ajarkan atau dipaksakan ke-posisi tertentu? [2] methoda pengembangan—dikelas atau berdasarkan pengalaman yang di-diskusikan? [3] “keterampilan penting, perspektif serta dimensi”. USMA dengan kredo (duty, honor, country) sepertinya mengembangkan konsep kepemimpinan berkarakter (selama 8 semester) dengan skema (dan dasar perdebatan) dibawah ini [69]. Kepemimpinan termasuk salah satu materi pokok yang harus diselesaikan sekurang-kurangnya 2 tahun. Materi pokok tersebut adalah:kimia, ilmu computer, ekonomi, inggris, sejarah, hubungan internasional, hukum, kepemimpinan, matematika, sejarah militer, filosophi, phisika, geographi dan ilmu politik [70]… plus 30 program studi sebagian besar engineering sebagai studi pilihan (majoring). Skema model pengembangan kadet, dengan lima (5) komponen pengembangan karakter; gambar bawah;

Hint: Ibid, halaman 12.

[1] Personil siap dikembangkan; kadet harus terbuka dan siap belajar dari pengalaman. Staf dan fakultas (program studi) bertanggung jawab untuk mengingatkan kadet beragam pengalaman nantinya bermanfaat memberikan sumbangan p pengembangan karakter dan menyiapkan mereka untuk bertugas nanti.

[2] Pengalaman perkembangan: Fakultas memberikan pengalaman kepada kadet sesuatu yang menantang, dinilai dan harus didukung. Pengalaman ini bisa saja di-rencanakan atau spontan. Setiap pengalaman membantu kadet memahami sendiri dan atau orang lain dengan cara baru.

[3] Refleksi: Akademi harus memberi peluang kadet untuk melakukan refleksi (renungan, diskusi pribadi, konsultasi, dll) yang terstruktur sehingga mereka memahami kesenjangan perkembangan mereka. Dua metode reflektif paling kuat (dianjurkan) adalah membuat jurnal dan bertemu dengan mentor yang memiliki harapan tinggi untuk mereka.

[4] Kapasitas dan Pengetahuan Baru: Kombinasi pengalaman perkembangan, dengan pertemuan formal di-kelas dan refleksi terstruktur menghasilkan perspektif, pemahaman dan keterampilan baru.

[5] Waktu: Pengembangan membutuhkan investasi waktu yang signifikan untuk taruna, staf, staf pengajar, dan pelatih. Setiap bagian model ini membutuhkan alokasi waktu persiapan, refleksi terstruktur dan penilaian.

Skema besar dalam tabel, seperti dibawah ini, adalah hubungan antara program, grup dan dukungan akademi untuk pengembangan karakter (Program, Group, and Academy Support for Character Development—Means); yakni; Program Akademik, Militer, Fisik, dan Karakter adalah sarana utama untuk mengembangkan lima sisi karakter individu. Ke-empat program tersebut memiliki sasaran karakter utama dengan warna hijau dan sasaran pendukung dengan warna kuning[71]:

Misalnya, Program Akademik (kolom academic) memiliki tujuan pengembangan karakter utama (primary) dalam moral, kinerja (performance) dan social (hijau dalam kolom primary). Sebagai tujuan pendukung (supporting), program Akademik mengembangkan karakter kewarganegaraan (civic) dan kepemimpinan (leadership). Program lain berkontribusi pada karakter utama dan pendukung berbasis aktivitas mereka. Rincian perkuliahan dari semester 1 sampai akhir, silahkan download Catalog USMA dari tahun ke tahun.

 

Beberapa buku petunjuk yang digunakan selama perkuliahan kepemimpinan sebagai berikut: Cadet Leadership Development System, West Point Honor System and Procedures, Values Education Guide, Hip Pocket Values Education Guide, Cadet Basic Training Values Education Guide, Cadet Field Training Values Education Guide, New Cadet Character Development Workbook, and West Point White Paper for the Cadet Honor Code and Honor System [72] . Agenda perubahan USAFA di-perkenalkan semenjak tahun 2003, langsung oleh Menteri dan KASAU, dengan waktu yang relative sama dengan perubahan USNA dengan judul the Strategic Plan of the Naval Academy, di-tahun 2002 [73]. Bagi USNA rencana strategik tersebut berbasis petunjuk tahun 1997 yakni the Higher Standard dengan konten pokok adalah; Military Faculty Recruitment and Qualifications, Academy Mission, dan Leadership and Professional Development Changes (berikut jabaran rinci yang tidak dikutip di-sini) [74]. Angk Laut AS dan Angk Udara, sebagai lembaga, menetapkan nilai-nilai yang di-anut sesuai harapan masing masing anggota Angkatan dan nilai-nilai masing-masing Angkatan terbukti sangat mendukung pernyataan misi & visi masing-masing Akademi.  Pesan kuat USNA via krido “kehormatan, keberanian, dan komitmen” (honour, courage and commitment), bagi semua kadet dan pesan itu tidak pernah di-lupakan setiap anggota Brigade yang siap ” moral, mental, dan secara fisik” mengarungi kerasnya kehidupan Korps Laut dan Marinir. Analog bagi USAFA dengan krido-nya, yakni “integritas, (kepentingan) dinas diatas segala-galanya, dan produk yang luar biasa (excellence) apa yang telah dilakukan,” (Integrity, Service before self, and Excellence in all we do) ditekankan dalam pernyataan misi dan visi Wing Kadet USAFA[75]. Rencana penting seperti diatas akan menjadi rujukan pengembangan kurikulum kepemimpinan masing-masing Akademi untuk di-aplikasikan dan di-kontrol oleh petunjuk guna terselenggaranya orchestra yang menuntun terbentuknya kepemimpinan yang menjadi panutan kadet masing-masing. Di-simpulkan bahwa riset yang berbasis ilmiah adalah kekuatan abstrak suatu Angkatan, termasuk riset kepemimpinan [76]. Bukan dominir Angkatan tersebut, bahkan kajian dokrin, strategi, operasi, taktik atau manajemen di-percayakan dan terbuka bagi ajensi di-luar kementerian pertahanan. Misalnya RAND, DARPA, DTIC, DRDC, DST, DSTO, dll, milik AS, Australia, Canada, Singgapore, India, Inggris, Perancis, Swedia, dll dengan reputasi dan kualitas produk tulisannya yang sudah di-kenal bahkan di-percaya oleh Kementerian masing-masing sebagai produk kajian pertahanan…selain kajian Universitas terkemuka di-negaranya masing-masing yang tidak kalah kualitasnya. Mereka memanfaatkan sekaligus mendidik ilmuwan sipil untuk melakukan sesuatu yang berharga bagi kepentingan negaranya selain membantu langsung Angkatan masing-masing mengingat anggotanya sudah terlalu di-sibukkan dengan kegiatan rutin sendiri-sendiri. Sampai sekarang tren di-negara manapun pemimpin militer masih merupakan profil percontohan kepemimpinan yang baik…meski di-luar ini hadir kepemimpinan racun. Apapun perbedaan antar tiga Akademi, basis kode kehormatan (honor code) relatif sama, yakni…cadets (USMA, USAFA)/ midshipmen (USNA) can not lie or cheat (curang, nakalan) or steal (mencuri) [77]. Sebagai penutup ada baiknya kalimat ini menjadi simpulan umum[78], …. the military has a distinctive national reputation for the competence and personal and professional character of its leaders.

 

 

Pengantar, Tren Kepemimpinan militer sebagai ikon kepemimpinan nasional, konsekuensinya pemilik ikon ini harus memperhatikan perbaikan kualitas pelatihan, pendidikan, diskusi, seminar, tentang kepemimpinan. Berharap akan muncul “warrior atau hero” disamping ada juga (mungkin) kekuatiran hilangnya loyalitas nasional. Sulitnya memperoleh sumber dari almamater Akademi militer RI, memaksa bahasan menggunakan kajian negara lain. Kajian produk ajensi asing yang berkualitas, punya reputasi dan di-percaya melakukan kajian disemua tingkat kepentingan (strategik, operasional, dll) sudah menjadi sumber terbuka era now…dan riset bukan sebatas teknologi saja, termasuk yang lunak (soft) seperti personil, manajemen, dll, sudah menjadi santapan rutin dan di-percaya kementerian pertahanan untuk di-garap di-luar.

[1] USNA (US Naval Academy) memiliki Pusat Studi Etika Kepemimpinan Stockdale, sedangkan USMA (US Military Academy) memiliki Pusat Studi Kepemimpinan yang berkarakter.

[2] Douglas R Lindsay, et-all, Leadership & Character at the United States Air Force Academy, (The Journal of Character & Leadership Integration, August 2010), hal 38.

[3] Pittinsky, T.L., Rosenthal, S.A., Welle, B., Montoya, R.M. (2005). National Leadership Index 2005: A National Study of Confidence in Leadership. (Center for Public Leadership, John F. Kennedy School of Government, Harvard University, Cambridge, Massachusetts),

[4] Miller, Christopher, Ltn USN, The Influence of Leadership on Moral at the US Naval Academy, (Thesis NPS, Dec 2006, MS in Leadership & Human Resources), halaman 10.

[5] Maj Doug Crandell, Leadership Lessons, from West Point, (Journal Leader to Leader Institute, Jossey Baas, 2007), hal 32.

[6] Meskipun secara tradisional ada yang berpendapat pemimpin ada yang dilahirkan, pertanyaan besar versus dunia global dan lingkungan yang begini komplek masihkah bisa bertahankah pemimpin yang tradisional dilahirkan begitu saja?

[7]Hamad Bakar Hamad, Transformational Leadership Theory: Why Military Leaders are More Charismatic and    Transformational?, (International Journal on Leadership, Volume 3 Issue 1 April 2015), halaman 2, ….Leadership in military is like stocks in trade (Wong, 2003); it has to be always just right to keep the military moving and making a different (U.S. Army, 1999a, p. 7 as cited by Wong, 2003). The military is an arm of government, authorised to use lethal force, and weapons, to support the Internets of the state and some or all of its citizens.

[8] USAFA = US Air Force Academy, USMA = US Mlitary Academy.

[9] Harvard Business Review, November, 2010… menariknya kepemimpinan militer memaksa Harvard melakukan studi kepemimpinan yang terjadi di-lingkungan militer.

[10] Thomas P. Galvin & LtCol Lance D. Clark, USAF, Beyond Kotter’s Leading Change: A Broad Perspective on Organizational Change for Senior U.S. Military Leaders, Paper US Army War College Department of Command, Leadership, and Management Carlisle Barracks, Carlisle, PA…halaman 1… John Kotter’s 1996 book “Leading Change-2is popular among U.S. Army War College students and with good reason. The book, and its subsequent editions, is well-written, easy to read, and appears simple to apply toward one of the more vexing challenges facing senior military leaders – how to transform a large, complex organization.

[11] Kirk G. Mensch & Tim Rahschulte, Military Leader Development and Autonomous Learning: Responding to the Growing Complexity of Warfare, (Human Resource Development Quarterly, vol. 19, no. 3, Fall 2008 © Wiley Periodicals, Inc. Published online in Wiley InterScience (www.interscience.wiley.com) • DOI: 10.1002/hrdq.1239), halaman 266…pernyataan Gen.Peter Schoomakerdalam Foreword of the Army’s primary leadership manual.

[12] James M Strock, Serve to Lead; Your Transformational 21 st Century Leadership System, ….

[13] Toraiheeb Al Harbi, LCDR, Royal Saudi Navy, Navy Definitions of Leadership and LMET/NAVLEAD Competency Clusters   Compared To Selected Leadership Theories, (Thesis NPS, Dec 1995, MS in Management), halaman 7… “Leaders are born and not made.” [Ref. 1: p. 225]. Carlyle proposed the “Great Man” theory of leadership. This theory implied that training in leadership was not a subject that was worth considering, since there was a strong belief that leadership qualities were solely a function of heredity and only those who were exceptional and born with those qualities could be expected to perform in leadership positions. According to this theory, identifying leaders was easy – one had only to look for the people who occupied leadership positions.

[14] Transaksional, menitik beratkan hanya pada hubungan antara pemimpin dengan para pengikutnya,….a transactional leader generally does not look ahead in strategically guiding an organization to a position of market leadership; instead, these managers are often concerned with making sure everything flows smoothly today. Gaya kepemimpinan seperti ini cenderung bekerja rutin, hari ke-hari. Transformasional adalah kepemimpinan yang mendayagunakan ilmu dan ketrampilan yang dimilikinya untuk lebih mengungkit (leverage) produk atau outcome organisasi dan lebih memikirkan masa yang datang (strategik)—kepemimpinan karismatik.

[15] Michael S. Styskal, Major USMC, An Assesment of the Educational and Training Needs of a Marine Naval Academy Graduate, (Thesis US NPS, MS in Leadership & HRD, June 2008), halaman 1

[16] How effective Are Military Academy Admission Standards?, RAND Research Brief, periksa www.Rand.org/t/RB9905, halaman 1…pola yang digunakan oleh USAFA yang relatif tidak sama persis di-gunakan USMA (US Military Academy).

[17] Bisa dilhat juga bahwa program pengembangan ini bukan di-dominasi Angk Darat saja, bahkan semua Angkatan baik regular maupun cadangan kekuatan.

[18] Ibid, halaman 2….tentu saja ada peluang indeks sukses sebagai perwira cenderung menurun mengingat lingkungan dan tekanan ditempat kerja jauh lebih besar dibandingkan di-Akademi (pen).

[19] Ibid, halaman 2…perhatikan bahwa inovasi dan inisiatif sangat dihargai sekali demi meningkatkan performa kegiatan apapun juga. Bisa saja tabel pertama tersebut berjalan dalam jangka waktu pendek di-ikuti riset sebagai evaluasi dan hasilnya terjadi pembobotan baru dalam bentuk tabel kedua.

[20] Colonel Frederick M. O’Donnell, US Army, Developing Strategic Leader Competencies in Today’s Junior Officer Corps, (US Army War Coll Research Paper, March 2013), Abstrak.

[21] Jefferey Horey & Jon J. Fallesen, Competency-Based Future Leadership Requirements, (US Army Research Institutes, July, 2004), halaman 2.

[22] Ibid,

[23] Barbara Kellerman (staf pengajar dan direktur riset pusat studi lanjut kepemimpinan Harvard Univ), How bad leadership happens, (Journal leader to leader, Winter, 2005), halaman 42.

[24] Col Stephen A Elle, US Army, Breaking the Toxic Leadership Paradigm in the US Army, (US Army War Coll, Strategy Research Project, Feb 2012), halaman 1. … a disturbing trend has developed within the Army, evidenced by several brigade-level commanders being relieved of duty because of toxic leadership practices. The destructive actions of these senior leaders have provided renewed interest into this leadership area because of the prevalence and seriousness of consequences such leadership failures cause.

[25] https://taskandpurpose.com/military-toxic-leadership-problem

[26] Penulis tidak tercantum, ch.1 What is Ladership? What is Toxic Leadership?, (Academic Libraries and Toxic Leadershp, DOI: http://dx.doi.org/10.1016/B978-0-08-100637-5.00001-7, halaman 1.

[27] Carl Forsling, The Military Has a Toxic Leadership Problem, periksa  https://taskandpurpose.com/military-toxic-leadership-problem. August 23, 2017 at 09:24 AM.

[28] Col Stephen A Elle, US Army, Breaking the Toxic Leadership Paradigm in the US Army, (US Army War Coll,  Strategy Research Project, Feb 2012), halaman 1…dan tahun itu juga dilakukan riset personil besar-besaran tentang kepemimpinan.

[29] Angk lain mengalami goncangan isu yang sama, nampaknya tidak banyak yang muncul dalam publikasi terbuka, selain dari AD – AS.

[30] Army Doctrine Publication No. 6-22; periksa, https://inhomelandsecurity.com/address-toxic-leadership-military/, it defines toxic leadership as self-centered leaders who deceive, intimidate, coerce subordinates, and have a negative impact on the mission performance, tulisan Dr. Jarrod Sadulsk, dengan judul : It’s Time to Address Toxic Leadership in the Military.

[31] Penulis tidak tercantum, ch.1 What is Ladership? What is Toxic Leadership?, (Academic Libraries and Toxic Leadershp, DOI: http://dx.doi.org/10.1016/B978-0-08-100637-5.00001-7, halaman 1.

[32] Barbara Kellerman (staf pengajar dan direktur riset pusat studi lanjut kepemimpinan Harvard Univ), How bad leadership happens, (Journal leader to leader, Winter, 2005), halaman 43.

[33] Adem Yaves, Sectoral differences in the perception of toxic leadership, (Journal Procedia, Social & Behavioral Science, 2016), halaman 267, 268.

[34] Ibid, halaman 268.

[35] Ibid, halaman 268.

[36] Ibid, halaman 268,…Whicker, who used toxic leader term for the first time in literature, defines toxic leaders as “maladjusted, malcontent, and often malevolent, even malicious. They succeed by tearing other down”. 

[37] Ibid, halaman 269.

[38] Ibid, halaman 271.

[39] Barbara Kellerman (staf pengajar dan direktur riset pusat studi lanjut kepemimpinan Harvard Univ), How bad leadership happens, (Journal leader to leader, Winter, 2005), halaman 44.

[40] George E Reed, Col US Army (Ret), Leadership style, organizational climate and organizational effectiveness: Whats style got to do with it? slides # 13.

[41] Ibid, slide # 19.

[42] Col George E. Reed, US Army (Ret) & LtCol Richard A. Olsen, US Army (Ret), Toxic Leadership: Part Deaux, (Military Review, Journal US Army War Coll, Nov-Dec 2010), halaman 58.

[43] Joseph J. Thomas, Lakefield Family Foundation Distinguished Military Professor of Leadership United States Naval Academy, The Four Stages of Moral Development in Military Leaders, (The ADM James B. Stockdale Center for Ethical Leadership United States Naval Academy), abstrak.

[44] Bernard M. Bass, Paul Steidlmeier, Ethics, Character, and Authentic Transformational Leadership Behavior, (Leadership Quarterly Vol. 10 No. 2, 1999), halaman 182.

[45] Ibid, halaman 185.

[46] Nilai akademik (intelektual) dari berbagai jurusan (program studi) digunakan untuk memilih mereka yang terbaik, bisakah?…mungkin bisa bila program studi memiliki bobot kesulitan (akademik) yang sama, bagaimana dengan program studi (progdi disamakan dengan korps…pelaut, teknik, electro, administrasi, marinir, apakah sama bobot kesulitan akademiknya)? Ketiga Akademi tidak mendemosntrasikan lulusan yang terbaik keseluruhan, terbaik Akademik ya! Tidak ada penggabungan  nilai kepribadian (personality) dan kesamaptaan jasmani atau fitness test (seseorang yang phisiknya bagus…apa memberikan sumbangan terhadap suksesnya kepemimpinan-nya?). Intelektual,…jelas sumbangan terbesar terhadap sukses dan performa kepemimpinan bisa diakui dari elemen ini.

[47] Joseph J. Thomas, Lakefield Family Foundation Distinguished Military Professor of Leadership United States Naval Academy, The Four Stages of Moral Development in Military Leaders, (The ADM James B. Stockdale Center for Ethical Leadership United States Naval Academy).

[48] IDF, Israel Defence Forces.

[49] Col Reuven. Gal, PhD, IDF, Unit Morale: From a Theoretical Puzzle to an Empirical Illustration-An Israeli Example, Journal of Applied Social Psychology, 1986,16, 6, pp. 550.

[50] Ibid,

[51] Kadet calon perwira hampir pasti hafal tahapan-tahapan ini, pen.

[52] Joseph J. Thomas, Lakefield Family Foundation Distinguished Military Professor of Leadership United States Naval Academy, The Four Stages of Moral Development in Military Leaders, (The ADM James B. Stockdale Center for Ethical Leadership United States Naval Academy), halaman 2.

[53] Timothy M. Clark, Lieutenant, USN, Moral Development at the US Naval Academy; The Midshipman’s Perspective, (Thesis US NPS, MS in Leadership & HRD, Sept 2004), halaman 73… A fourth recommendation addresses what the focus group midshipmen described as the most important aspect of moral development at USNA: their role models..

[54] Nor Hidayah Ahmad Hamid, et-all, Influence of Military Commander’s LeadershipStyle towards Subordinate’s Morale, http://dx.doi.org/10.6007/IJARBSS/v8-i6/4309, 24 may 2018.

[55] Ibid, riset Smith tahun 1985.

[56] Ibid, halaman 1156.

[57] Jilian Gonzales, Leadership Styles in Military Settings and Their Infuences on Progran Satisfaction,(Thesis MS, MS Satesboro,Georgia), 2016, halaman 3.

[58] Leanna Atwater & Francis J. Yammarino, Transformational Leadership Among Midshipmen Leaders at the United States Naval Academy (USNA), (Center for Leadership , SUNNY at Binghamton & Office of Naval Technology, June 1986), halaman 44.

[59] by NCO Jurnal;–https://www.armyupress.army.mil/Journals/NCO-Journal/, halaman 3.

[60] Marco Tavanti, PhD, Transformatinal Leadership, https://www.academia.edu/4987307/Tavanti Transformational_Leadership_1_Transformational_Leadership

[61] Bernard M. Bass & Paul Steidlmeier, Binghamton University, Ethics, Character, and Authentic Transformational Leadership Behavior, (Leadership Quarterly Vol. 10 No. 2 1999), halaman 182.

[62] by NCO Jurnal;–https://www.armyupress.army.mil/Journals/NCO-Journal/, halaman 3.

[63] Ibid,

[64] Adem Yaves, Sectoral differences in the perception of toxic leadership, (Journal Procedia, Social & Behavioral Science, 2016), halaman 273-275.

[65] Ibid, halaman 17.

[66] Jeff D Rogers, Ltn, USN, Midshipmen Military Performance as an Indicator of Officer, (Thesis NPS, June 2003, MS in Leadership & HRD), halaman 12.

[67] Maj Doug Crandell, Leadership Lessons from West Point, (Jossey-Baas, 2007), halaman 4. … barangkali sesuai ajaran agama yang banyak mengajarkan memberikan manfaat kepada orang lain jauh lebih bernilai guna dan memperoleh nilai plus.

[68] Mengapa ¾ nya teknik, sisa-nya non teknik, mereka percaya bahwa penguasaan ilmu teknik akan membuat negara nya maju. Bagi pemerintah (seperti di Jerman spt itu ¾ nya engineering dan sisanya humaniora) kalau sdh ditetapkan Policy seperti itu kebawah akan mudah mengontrol PT, SMA (tidak dipermudah ijinnya) atau sekolah kejuruan kejuruan diuar itu, dan basis teknik lebih banyak porsi-nya ditingkat sebelum PT, Akademi.

[69] Office of the Superintendent, US Military Academy, US Military Academy, Character Development Strategy; Live Honorably and Build Trust; (USMA, West Point, New York, 10996-5000), halaman 12.

[70]  Christopher S. Landers, Maj US Army, Army Junior Officer Education: An Assesment Of Institutional Learning, halaman 30.

[71] Ibid, halaman 13.

[72] Evan H. Offstein & Ronald L Dufresne; Building Strong Ethics And Promoting Positive Character Development; The Influence of HRM at the US Military Academy at West Point, (Human Resource Management, Spring 2007, Vol. 46, No. 1), halaman 99.

[73] Dennis J. Volpe, Ltn USN, Educating Tomorrow’s Leaders Today: A Comparison of the Officer Development Programs of the USNA and the USAFA, (Thesis NPS, June 2003, MS in Leadership & HRD), halaman 14.

[74] Ibid, halaman 14.

[75] USMA dan USNA, membentuk organisasi kadet sampai tingkat Brigade sedangkan USAF sampai dengan Wing. Perhatikan masing-masing akademi militer memiliki krido masing-masing yang dijadikan salah satu petunjuk untuk mengembangkan materi kurikulum kepemimpinan.

[76] Cynthia S Cycyota, Leaders of Character: The USAFA Approach to Ethics Education and Leadership Development, Journal Acad Ethics (2011) 9:177–192, … The importance of effective and committed leaders to successful organization has been the focus of study by organizational scholars for many years (Barnard 1968; Hambrick 2007).

[77] https://www.nytimes.com/1994/01/13/us/an-inquiry-finds-125-cheated-on-a-naval-academy-exam.html, dari berita New York Times, tahun 1994, 124 orang kadet USNA (midshipmen) di-keluarkan ( hampir 10 % dari kadet yang mau dilantik) karena dianggap curang (nyontek?, pen) waktu ujian final semester (progdi electricity engineering)—alasannya lebih baik dikeluarkan sekarang daripada dibiarkan menjadi perwira dan berbuat kecurangan yang lebih besar ada juga scandal tahun 1990, terhadap kadet wanita .Tahun 1984, kadet udara sejumlah 19, dari progdi Physika dikeluarkan, dan di-tahun 1976, 152 cadets West Point dikeluarkan karena melanggar kode ini.

[78] LtCol R F. Jeffrey Jackson, et-all, USAFA, Leadership & Character at the United States Air Force Academy, (The Journal of Character & Leadership Integration, vol 1, issue 2, Sept 2010), hal 37.

Making Sense the Current Race Toward Global Supremacy

  1. Pendahuluan

Di dalam dunia militer, pertahanan dan keamanan, pemikiran Clausewitz, yang tertuang dalam bukunya ‘On War’, bahwa “whether war is a mean to an end outside itself or whether it can be an end in itself. . . war is ‘politics by other/different means” sudah sangatlah populer. Artinya, perang tidak boleh terjadi atau dilakukan hanya semata untuk perang itu sendiri, melainkan harus menyumbangkan suatu tujuan tertentu untuk negara. Clausewitz memandang perang sebagai instrumen rasional dari kebijakan nasional. ketiga kata tersebut, “instrumen”, “rasional” dan “nasional” merupakan konsep kunci dalam paradigmanya. Dari sudut pandang ini, keputusan untuk melakukan perang harus rasional, dalam arti hal tersebut harus didasarkan pada perhitungan biaya dan keuntungan perang. Selanjutnya, perang harus instrumental atau dipandang sebagai salah satu instrumen, artinya hal tersebut harus dilakukan dengan tujuan untuk mencapai suatu tujuan (goal) tertentu, bukan  berperang demi perang itu sendiri. Juga dalam arti bahwa semua strategi dan taktik harus diarahkan pada satu, dan hanya satu tujuan semata, yakni menuju kemenangan. Terakhir, perang harus lah nasional, dalam arti bahwa objektif dari perang tersebut harus demi mengedepankan kepentingan nasional dan bahwa keseluruh upaya bangsa harus dimobilisasi untuk mencapai tujuan militer.

Permasalahan klasik yang kerap dihadapi oleh angkatan bersenjata dan ahli ataupun pemerhati strategis di Indonesia adalah Indonesia tidak mempunyai grand strategy atau strategi keamanan nasional yang jelas dan terdokumentasikan. Sehingga, seringkali tidaklah mudah bagi pemerintah Indonesia untuk dapat menentukan sikap yang tegas dan menunjukkan arah yang jelas mau dibawa kemana negara-bangsa ini baik untuk jangka pendek, menengah maupun jangka panjang. Sementara hal tersebut juga sangatlah penting dan akan menentukan bagaimana pembangunan struktur kekuatan (Force Structure), procurement, dan program R&D (Research and Development) yang akan ditempuh, terlebih ditengah persaingan teknologi, juga tantangan dan persaingan global yang sedang dan akan kita hadapi di masa yang akan datang. Alinea keempat Undang-Undang Dasar 1945, barangkali memberikan gambaran umum dan fundamental tentang tujuan bangsa Indonesia yang harus diwujudkan oleh negara. Namun bukan berarti hal tersebut sudah cukup untuk menjawab apa yang diinginkan nasional ini. Salah satu faktor yang menyebabkan hal tersebut, menurut hemat penulis, adalah beragamnya ide dan gagasan serta dasar moral berfikir yang ada dan tumbuh didalam elit dan masyarakat Indonesia. Dan terkadang, ide dan gagasan serta dasar moral berfikir tersebut bisa saling bertentangan satu sama lain.

Hari ini, dunia sedang dihadapkan dengan persaingan dua negara besar dimana persaingan yang berlangsung tidak hanya meliputi aspek ekonomi, politik dan militer semata, tetapi bisa jadi akan menentukan bagaimana tatanan global (global order) di masa yang akan datang. Tulisan ini ditujukan untuk membantu kita untuk lebih memahami konteks politik yang tengah berlangsung dan dihadapi oleh Indonesia, dan mengapa nampaknya Indonesia seolah selalu sulit untuk menentukan posisi yang jelas dan tegas dalam banyak isu internasional. Demikian, pemahaman yang lebih jelas mengenai dunia dimana kita beroperasi juga diharapkan dapat membantu TNI AL untuk melihat pilihan-pilihan apa saja yang dapat dilakukan TNI AL di dalam isu-isu strategis yang tengah berkembang.

 

  1. The Race

[Yi Shan Bu Neng Chang Er Hu]

Potongan kalimat diatas merupakan salah satu peribahasa yang sangat populer dalam literatur China yang secara literal berarti “satu gunung tidak mungkin menyembunyikan dua harimau”. Artinya, tidak bisa ada dua pihak -pemimpin- dengan karakter yang kuat memimpin satu ‘ruang’ yang sama. Jika ada dua harimau di satu gunung yang sama, maka dapat dipastikan mereka akan berkelahi hingga salah satunya meninggalkan gunung tersebut. Jika kita melihat secara lebih dekat dan secara lebih mendalam, esensinya persaingan antara Amerika Serikat dengan China, menurut penulis, setidaknya meliputi empat hal, yakni: (1) global economy; (2) technology of the future – Offset Strategy; (3) geopolitics and startegy; dan pada akhirnya (4) International norms, regulations and global order.

  1. Global economy

Mulai dari tariff terhadap kedelai, baja, Huawei hingga mineral langka. Perang dagang antara Amerika dan China merupakan salah satu topik yang sangat kontroversial, tidak hanya bagi negara lain, namun juga dikalangan elit dan publik Amerika sendiri yang secara umum menerima teori keuntungan komparatif dan ekonomi maju sejak lama. Karena banyak kebijakan Trump tersebut bertentangan dengan perdagangan bebas yang merupakan prinsip dasar dari liberalisme-kapitalisme. Tentu, kebijakan tarif yang dilakukan Trump berdampak positif terhadap pekerjaan di satu sektor tertentu (ex. perusahaan baja lokal) namun juga mengorbankan pekerjaan di sektor ekonomi lainnya (ex. petani kedelai dan retailer baja impor)[1]. Karena penekanan terhadap proteksionisme dalam berdagangan dengan China tersebut, perdagangan dengan China seolah berdagang dengan musuh. Biasanya, aktifitas bisnis, perdagangan dan kerjasama ekonomi yang pada umumnya merupakan penyubur dan sisi yang relatif lebih fleksibel dalam hubungan antar negara – sekalipun ditengah-tengah pertentangan politik.

Jikapun demikian, jika kita melihat dari perspektif Amerika Serikat, pendekatan merkantilis proteksionisme Trump tersebut memiliki logika strategis.  Komunitas keaamanan nasional Amerika Serikat telah lama khawatir akan kenaikan China. Karena, setelah Uni Soviet bubar, maka salah satu musuh potensial bagi Amerika dan  nilai-nilai yang dibawanya (demokrasi liberalisme-kapitalisme) adalah China. Partai Komunis China disisi lain mampu bertahan dari keruntuhan ketika ‘kawan’ satu ideologinya di Eropa Timur ikut runtuh bersamaan dengan runtuhnya Soviet. Hal tersebut ditandai dengan terjadinya peristiwa di Tiananmen Square 1989 yang selalu menjadi salah satu topik kunci yang dipakai Amerika untuk menekan China di dalam forum global.[2] Persistensi PKC ditambah dengan modernisasi dan semakin terkesposnya industri dan jasa China kedalam pasar global (marketisasi), membuat mereka khawatir bahwa Amerika berpotensi untuk berhadapan dengan great power yang otoriter dan sejahtera. Kondisi ini berbeda dengan kondisi yang dihadapi Amerika Serikat ketika bersaing dengan Soviet pada saat perang dingin.

Ditahun 1990an hal demikian masih dapat dikesampingkan. Melihat bubarnya Soviet dan runtuhnya tembok Berlin, banyak elit di Amerika nampaknya meyakini bahwa pada waktunya China (PKC) pun akan ikut runtuh. Presiden Clinton pada masa itu nampaknya meyakini apa yang ditulis oleh Francis Fukuyama dalam “The End of History and the Last Man”(1992)[3] dan democratice peace theory[4] yang dikenal di kalangan pestudi HI. Ia menerapkan logika strategis yang dikenal dengan istilah “modernization by stealth“. Dengan harapan, dengan membawa China kedalam pergaulan dan ekonomi global akan secara perlahan meliberalisasi China secara politik dan sosial (compromised then democtratized Chinese Communist Party).  Oleh karena itu, setelah Den XiaoPing mengeluarkan apa yang dikenal dengan “Open Door Policy” (1978-1984), juga mempertimbangkan potensi pasar domestik China yang sangat besar, Amerika sangat mengakomodir kebijakan tersebut. Presiden Clinton (presiden ke-42 AS – 1993-2001) bahkan mendukung masuknya China secara formal ke dalam WTO di tahun 2000 dan memberikan status “Most Favored Nation” kepada China.

Strategic Gamble tersebut dipandang masih sangat masuk diakal pada masa itu, melihat bagaimana modernisasi dan kesejahteraan berhasil menempa negara-negara sosialis-komunis lainnya terutama di Eropa, Amerika Latin dan beberapa negara Asia lainnya. Kekayaan dan modernisasi China diharapkan akan membuat ketertarikam China terhadap kompetisi dan nasionalisme terkikis dan lebih tertarik pada peningkatan materiil dan kualitas hidup (liberalized and capitalized). Dan masyarakat china yang sejahtera dan modern juga diharapkan pada akhirnya menjadi terdemokratisasi -tuntutan terhadap kebebasan individu, Hak Azasi Manusia dan pilihan serta proses politik yang lebih demokratis. Demokrasi di Taipei, Taiwan, merupakan salah satu modelnya.

Namun apa yang nampak di tahun 2019 ini sepertinya tidak berjalan sebagaimana yang dulu diharapkan. Modernisasi dan kapitalisasi serta dukungan untuk masuk kedalam pasar global yang diharapkan akan menjinakkan Sang Harimau, justru berbalik seolah memberikan sayap kepada Harimau tersebut. Kini, bisnis dan perdagangan dua ekonomi terbesar dunia tersebut dalam konflik yang semakin memanas. Terlebih keduanya kini sedang bersaing dalam semua teknologi masa depan  yang dapat menentukan posisi superpower dimasa yang akan datang. Dengan demikian, perang dagang yang dilakukan Trump memiliki logika strategis. Economics must be subservient to politics, dan Amerika harus rela berkorban sebagian keuntungan dari perdagangan dengan China – barang murah, modal murah- untuk keuntungan yang lebih besar yang mungkin dapat diperoleh dari penekanan pertumbuhan China -termasuk akses pasar dan perlakuan bisnis yang lebih adil di China bagi perusahaan asing- juga kenaikan China sebagai Hegemon di kawasan.

Wang Shouwen, dalam wawancara dengan PBS menyatakan bahwa China tidak ingin berperang dengan negara manapun. Bahkan perang dagang sekalipun. Ia menambahkan, sebagaimana penyataan Presiden Xi, China menilai bahwa samudra Pasifik cukup besar untuk mengakomodasi kedua ekonomi dan CHina tidak memiliki strategi rahasia apapun untuk menggantikan posisi Amerika Serikat sebagai global superpower (PBS Doc. min 46.14).

 

扮猪吃老虎 [bàn zhū chī lǎo​hǔ] – “pretending to be a pig, to eat the tiger

 

Peribahasa diatas barangkali sangatlah tepat untuk menggambarkan sikap China terhadap Amerika Serikat saat ini. Dengan pengalaman sejarahnya yang sangat kaya selama berabad-abad melalui beberapa dinasti, tidak berlebihan jika halnya kita asumsikan para elit politik di China memahami betul peribahasa tersebut. Peribahasa tersebut sederhananya berarti ‘berpura-pura lemah atau menyembunyikan kekuatanmu yang sebenarnya dan melakukan ‘suprise attack’ di waktu yang tepat’. Peribahasa ini penuh dengan intrik namun juga sangat bermanfaat terutama ketika seseorang memasuki lingkungan baru dimana disana pasti sudah ada figur ‘harimau’ atau superpower. Demikian, ketika bertemu dengan superpower yang sudah ada, penting untuk memahami bagaimana mereka berfikir dan melakukan sesuatu (how they think and how they do their things). Logikanya, negara yang sudah terbiasa dan lama menjadi superpower, mereka belum siap dan tidak akan mudah untuk membagi kekuasaannya.

Oleh karena itu, seseorang tidak bisa masuk begitu saja kedalam kelompok mereka dan mempertunjukkan bahwa dia lebih kapabel dan ingin mengubah sesuatu. Terkadang, bahkan ketika masukannya nampak lebih logis. Membuktikan dengan aksi dan kesuksesan, barulah seseorang tersebut bisa mempunyai hak untuk mengubah sesuatu. Krisis finansial global yang terjadi pada tahun 2007 dan 2008 merupakan titik balik bagaimana China memandang Amerika dan sistem ekonomi dan sistem finansial global saat ini. Disisi lain, keberhasilan ekonomi dan pembangunan China selama dekade terakhir merupakan suatu hal yang tidak semua negara di dunia bisa capai dengan cepat. Bill Bishop, editor Sinocism, menyatakan:

“There is still a lot of respect towards U.S economic system, toward U.S financial system. A lot of respect for the big banks and the idea that the U.S understood how to run a financial market. And then, the crash happened. A meltdown on a Wall Street, the worst since 9/11. The worst financial crisis in modern time. Three out of the five biggest investment banks are gone. The financial crisis of 2007 and 2008 as a really key turning point in how the leading Chinese thinkers saw the U.S.. Where the U.S maybe was up there (high) in terms of something to emulate in certain ways, went down to here or lower. Because basically the emperor has no clothes. The Attitudes changed profoundly.” (PBS Doc.)

The time was ripe for China. Adalah ketika Xi Jinping naik menjadi ketua PKC, Presiden sekaligus komandan tertinggi militer China, China mulai menunjukkan kapabilitas dirinya. Di bawah Xi Jinping, China merangkul rencana nasional yang ambisius yang dikenal dengan “Made in China 2025” yang menempatkan penekanan yang lebih tinggi untuk mendominasi berbagai industri kunci global, baik itu melalui investasi (di luar negeri – ex. silicon valley), maupun pengembangan industri dalam negeri -tidak hanya low and cheap manufacturing product, tetapi juga high-tech manufacturing product. Xi Jinping juga berhasil mencuri panggung Trump melalui pidatonya di World Economic Forum 2015 lalu. Terlebih ketika Trump menurunkan komitmen Amerika Serikat di dalam Paris Agreement, Xi Jinping – yang merupakan presiden dari negara penyumbang polutan terbesar di dunia, justru memperkokoh komitmenya di dalam kesepakatan internasional mengenai lingkungan tersebut. Xi Jinping juga memperkenalkan model baru pembangunan, terutama infrastruktur, dengan Belt and Road Initiave-nya. Direktur University of IR, Beijing, Da Wei berargumen:

“Is America complain about the way china handle its economy or is it about China’s legitimacy to become a prosperous and powerful country? our population is four times bigger than the U.S. , 1.3 billion people. So, by logic, China’s economy should be four times higher than the U.S economy. Now we are only 60% of the size of the U.S. I think we do have the right to be at least as powerful as the U.S. and even one day much more powerful tha the U.S.” (PBS Doc.)

 

  1. Technology of the Future (Offset Strategy)

Seperti disebutkan sebelumnya, salah satu faktor yang juga semakin memperpanas persaingan geopolitik dan perang dagang antara AS dengan China karena keduanya kini tengah berlomba untuk teknologi masa depan. Yakni mengejar keuntungan kompeitif jangka panjang terhadap strategi musuh (offset).  Kita juga memahami bahwa berbagai penemuan dan teknologi baru yang terus bermunculan dengan cepat hari ini berpotensi untuk mengubah bagaimana cara kita bertarung, memenangkan perang dan mencegah ancaman, baik itu di darat, laut, udara, ruang angkasa maupun ruang siber. Machine learning, kecerdasan buatan, otomatisasi dan senjata robotik merupakan beberapa contoh kecil diantaranya. Demikian, sebagaimana halnya selama perang dingin, AS bergantung pada superioritas teknologi untuk mempertahankan keuntungan kompetitif (offset) terhadap keuntungan dalam waktu, ruang dan ukuran kekuatan Uni Soviet. Teknik militer yang high-tech dan up-to-date pada masa itu memungkinkan Kekuatan Gabungan AS untuk mengadopsi fostur kekuatan dan konsep operasional yang mampu mengimbangi keuntungan militer numerik konvensional Soviet tanpa harus bertarung orang per orang atau tank per tank.

Fakta bahwa hari ini kita juga membaca dan memanfaatkan internet adalah salah satu konsekuensi besar dari runtuhnya Uni Soviet. Selama perang dingin, ilmuwan Uni Soviet dan Amerika Serikat berlomba untuk mengembangkan jaringan komputernya masing-masing yang dinamakan “cyberspace race“. Soviet menginginkan cara untuk dapat mengkoordinasi dan merasionalisasikan tatangan rancangan ekonomi terpimpin (command or administrative command economy). Sementara Amerika mencari jalan untuk memfasilitasi komunikasi internal untuk perang nuklir. Eksperimen yang dilakukan Soviet tidak membuahkan hasil, namun upaya yang dilakukan Amerika berbuah jauh lebih baik. Ketika Uni Soviet runtuh, semua perkembangan yang telah dihasilkan Soviet di deklasifikasi sehingga memberikan  jalan bagi berkembanganya jaringan sipil yang kita kenal dengan internet hari ini. Oleh karena itu, salah satu perubahan besar lainnya yang dihasilkan dari runtuhnya Uni Soviet adalah bagaimana sektor swasta menjadi inkubator bagi lahirnya teknologi terkinikan (cutting-edge tech) saat ini (Triolo, 2016)[5]. Disisi lain, pemerintah selalu menjadi sumber utama dari program Riset dan Pengembangan (R&D) Amerika[6]. Keuntungan dari cutting-edge military technology and tactics yang dihasilkan dari program pemerintah tersebut terus memberikan keuntungan lebih bagi militer AS dalam berhadapan dengan musuh atau musuh potensial di kawasan selama dua dekade setelah perang dingin berakhir.

Jika halnya Soviet, di masa perang dingin, tidak pernah mampu bersaing dengan, apalagi melebihi,  superioritas teknologi Amerika, China bisa jadi tidak demikian. Sejak tahun 1885, Amerika Serikat belum pernah berhadapan dengan kompetitor ataupun sekelompok kompetitor dengan GDP yang lebih besar dari GDP-nya. China disisi lain, sejak tahun 2014 telah melampaui paritas daya beli (purchasing power parity) Amerika dan sedang berjalan menuju negara ekonomi terbesar dunia pada 2030. Sebagai perbandingan, musuh AS pada masa perang dingin, Soviet, memiliki fondasi ekonomi yang lemah dan tidak berkelanjutan yang pada akhirnya akan jatuh tertekan. Pada puncak kekuasaannya, GDP Soviet hanya sekitar 40 persen dari GDP Amerika Serikat (Rodriguez et.al., 2017). GDP China hari ini, disisi lain, kurang lebih ada pada angka 60% GDP AS.

Di akhir perang dingin, China tidak menunjukkan potensi ancaman terhadap momen unipolar Amerika. China memang merupakan salah satu negara pemilik nuklir, namun jika dibandingkan dengan kapabilitas nuklir AS, masih sangat jauh. Ia memiliki militer yang besar, namun kekuatannya kurang dipersenjatai dan tidak siap untuk perang besar. Hari ini, kapabilitas teknologi China telah berkembang secepat perkembangan kekuatan ekonominya. Kondisi dimana sektor swasta lah yang menjadi inkubator dan pemain kunci dalam penemuan dan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah memberikan keuntungan terhadap China dibandingkan state-based planned  R&D programm seperti yang dilakukan Amerika.

Perkembangan teknologi militer China tersebut tidak hanya berkenaan tentang misil, kapal atau senjata konvensional lainnya semata. Selain telah memiliki kapabilitas Anti Akses dan Area Denial (AA/AD), kekuatan misil dan operasi siber yang berhasil membuat negara tetangganya harus ekstra berhati-hati. Selama satu dekade terakhir, investasi pemerintah China juga meliputi banyak hal termasuk teknologi-teknologi untuk sektor publik seperti Alibaba, BeiDou (GPS), WeChat (What’s Up), Weibo (Facebook, Twitter dsj), Youku (Youtube), Huawei dan lainnya. Strategi tersebut telah secara tidak langsung membantu china melatih ranking militer kapabilitas  teknologinya di pasar komersil. China bahkan bisa mengkapitalisasi investasinya di dalam teknologi-teknologi tersebut. Oleh karena itu, seringkali teknologi militer China juga meluncur lebih cepat dibandingkan dengan program R&D pertahanan Amerika (Rodriguez et.al., 2017)[7]. “You fight with your own way, i fight with my own way”. Tidaklah kaget jika halnya pendekatan China kedepannya adalah pendekatan perang yang bersifat inkonvensional, hybrid atau berada di area abu-abu.

Superioritas dalam teknologi militer AS barangkali belum bisa China lampaui hari ini. Namun tidak menutup kemungkinan akan jika pola dan kecepatan perkembangan China hari ini tidak dibendung. Sejumlah pakar menyebutkan bahwa saat ini China masih dalam tahap untuk menumpulkan superioritas teknologi militer AS. Ahli strategis China, disisi lain, tidak pernah secara eksplisit mendeskripsikan tujuan mereka seperti dipaparkan diatas. Namun demikian, melihat perkembangan dan pencapaian militer China dalam kurang dari dua dekade terakhir dan berbagai tujuan yang ingin dicapai China dalam jangka pendek, menengah maupun panjang. Maka perkembangan atau kesuksesan China sekecil apapun akan menjadi sorotan negara lain, terutama Amerika Serikat. Kasus dan pemblokiran yang menimpa Huawei dan teknologi 5G-nya merupakan salah contohnya. Demikian, perang dagang antara China dan AS pun sudah mencapai pada produk mineral langka (rare earth materials) yang sangat krusial untuk minimalisasi teknologi untuk smartphone, ICT dan teknologi untuk satelit.

 

  1. Geopolitics and Strategy

Persaingan antara Amerika Serikat dan China yang ketiga adalah berkaitan dengan geopolitik dan strategi. Hal ini terutama setelah Xi Jinping keluar dengan proyek ambisiusnya untuk menghidupkan kembali jalur sutra darat dan jalur sutra maritim – bahkan hingga di kutub utara – yang juga disertai dengan ambisi militernya.

Jika kita melihat peta jalur proyek Belt and Road Intiative China dan dinamika strategi militer China, maka dapat dikatakan pula bahwa China sedang dalam proses untuk membangun land-based navy terbesar di dalam sejarah. Kaplan menyebutkan, ambisi baru ‘imperium’ China tersebut merefleksikan masa kejayaan Dinasti-Dinasti China di masa lalu, yakni Dinasi Tang yang kenal dengan masa kejayaan diplomatik China; Dinasti Yuan, kejayaan jalur darat China dan Dinasti Ming yang membawa China pada puncak kejayaan maritimnya. Dan jantung dari ‘imperium’ baru ini adalah Samudra Hindia. Karena Samudra Hindia merupakan titik temu dari semua energi di dunia, juga menghubungkan ladang hydrocarbon Timur Tengah dengan pusat ekonomi dan industri di Asia Timur (Kaplan. 2019).

Untuk dapat mengamankan ‘jantung’ tersebut -atau tepatnya menjamin keamanannya di ‘jantung’ tersebut- penting bagi China untuk menguasai dua hal, Laut China Selatan adalah salah satunya sisinya. Samudra Hindia  terhubung dengan Laut China Selatan melalui selat Malaka, Sunda dan selat Lombok. Oleh karena itu, jaminan keamanan jalur perdagangan dan penguasaan di Laut China Selatan merupakan salah satu faktor penting dalam strategi China. Penguasaan terhadap Laut China Selatan tidak hanya akan semakin membuka lebar jalur menuju Samudra Hindia, tetapi juga akan dapat secara perlahan menekan Taiwan dan memberikan akses yang lebih besar bagi PLA Navy China menuju Pasifik.

Selain laut China Selatan, maka kawasan Timur Tengah, kawasan Afrika timur hingga tanduk Afrika merepresentasikan sisi lainnya dari Samudra Hindia. Negara-negara wilayah ini sangatlah rentan terhadap konflik dan perang, seperti yang diungkapkan oleh Zbigniew Brzezinski bahwa:

“. . .that hundreds of millions of Muslims do not yearn for democracy as much as they yearn for dignity and justice, things which are not necessarily synonymous with elections. The Arab Spring was not about democracy: rather, it was simply a crisis in central authority. The fact that sterile and corrupt authoritarian systems were being rejected did not at all mean these societies were institutionally ready for parliamentary systems: witness Libya, Yemen and Syria. As for Iraq, it proved that beneath the carapace of tyranny lay not the capacity for democracy but an anarchic void. The regimes of Morocco, Jordan and Oman provide stability, legitimacy, and a measure of the justice and dignity that Brzezinski spoke of, precisely because they are traditional monarchies, with only the threadbare trappings of democracy. Tunisia’s democracy is still fragile, and the further one travels away from the capital into the western and southern reaches of the country, close to the Libyan and Algerian borders, the more fragile it becomes.”

Berbeda dengan Amerika Serikat yang datang untuk mempromosikan nilai-nilai demokrasi, HAM dan liberalisme kapitalisme, China, disisi lain tidak hirau akan hal tersebut. Oleh karena itu, kondisi di sisi barat samudra Hindia seolah terbentuk secara khusus untuk China yang tidak datang membawa ajaran moral  atau mendoktrin bentuk pemerintahan atau tatanan tertentu, i.e. demokrasi, liberalisme-kapitalisme. China tetap menawarkan dan menyediakan mesin pembangunan terhadap negara manapun terlepas apapun bentuk pemerintahannya. Bagi China, globalisasi utama dan lebih utamanya adalah tentang penyebrangan kontainer; sebuah aktifitas ekonomi yang telah mahir dikuasai oleh China.

 

Pemilihan Djibouti sebagai salah satu hub penting PLA/Navy, misalnya, adalah rasional secara strategis. Pangkalan tersebut menghubungkan: ke timur ke Gwadar di Pakistan, ke selatan ke Bagamoyo di Tanzania dan ke arah Utara di Piraeus di Yunani. Kesemuanya tersebut, pada akhirnya, membantu jangkar perdangangan dan investasi China di seluruh kawasan Timur Tengah, Afrika Timur dan Eastern Mediterranean (perhatikan gambar diatas). Djibouti adalah negara diktator, Pakistan pada dasarnya dalah negara militer, Tanzania semakin otoriter dan Yunani  adalah negara demokrasi yang semakin terbukan terhadap China. Dan begitulah kondisi dunia apa adanya yang ada di kawasan antara Eropa dan Asia Timur. Namun bagi China yang tidak hirau akan perbedaan sistem tersebut, lingkungan demikian sangatlah menguntungkan. Oleh karena di Hindia, China dikelililingi oleh kekuatan negara lain -sudah memiliki Blue Water Navy yang established. Seperti AS di Diego Gracia, Perancis di Yaman, Rusia dan NATO di Teluk Arab dan terutama India yang memang merupakan ‘tuan rumah’ disana. Dengan adanya proyek Belt and Road Initiative, juga untuk mengamankan jalur perdagangan dan energi China, maka adalah langkah yang logis bagi China untuk mulai membangun pondasi untuk Blue Water Navy-nya sendiri.

Bagi Amerika Serikat, pengerahan kekuatan yang lebih kuat untuk kawasan Indo-pasifik dan pembangunan konsep Indo-Pasifik itu sendiri juga merupakan salah satu konsekuensi logis AS untuk membendung pengaruh dan peningkatan supremasi China di kancah dunia. Sehingga, salah satu prioritas utama yang dilakukan Amerika -Trump- adalah secara perlahan melepaskan diri dari konflik di Timur Tengah, yakni dengan memberikan kekuasaan dan ‘rewards’ lebih untuk Israel sehingga dia akan dapat mempertahankan dirinya sendiri; menjual lebih banyak senjata militer kepada Arab Saudi dan aliansinya sehingga dapat mempertahankan dirinya sendiri dalam melawan Iran dan mengevaluasi dan memuktakhirkan kembali program senjata nuklirnya (nampak dalam US NSS, dan US Congress Budget Office Document untuk program senjata nuklir 2017-2046) disisi lain. Sehingga, kekuatan yang dulu di proyeksikan disana, dapat dipakai untuk memperkuat proyeksi kekuatan di Indo-Pasifik. Selain itu, tidak ada tempat di kawasan Timur Tengah yang dapat menawarkan keuntungan yang lebih besar untuk mendukung AS vis-a-vis China seperti halnya yang India dan Taiwan dapat tawarkan. Sebaliknya, jika halnya AS tetap bersikeras terlibat dalam konflik disana, seolah AS membantu menjaga dan mengamankan bisnis China di kawasan – seperti semakin memberikan sayap terhadap seekor harimau.

Merangkul India adalah salah satu langkah penting ketika Trump memperkenalkan konsep Indo-Pasifiknya. Namun demikian India bukanlah aliansi AS, dan bagi AS akan lebih baik jika hal tersebut tetap sama. India, juga merupakan suatu entitas yang tidak hanya sekedar sebuah negara saja, melainkan sebuah peradaban yang telah eksis lama. Dengan demikian, tidak akan mudah untuk mengubah India sejalan dengan ideologi AS- Inggris juga bahkan tidak berhasil. Selain itu posisi Geografis India terlalu dekat dan berbatasan langsung dengan China. Sehingga, hanya dengan mempertimbangkan pertumbuhan demografi, perkembangan teknologi dan militer, posisi geografis dan fakta bahwa samudra Hindia itu sendiri merupakan halaman rumah tempat bermain India, maka India merupakan penyeimbang alami terhadap kenaikan pengaruh China di kawasan. Oleh karena itu, membangun partnership yang lebih kuat dan mendukung perkembangan India, tanpa harus membahas aliansi formal, sudah cukup bagi Amerika Serikat selama ia tidak bergeser kedalam orbit China.  Pendekatan serupa nampaknya juga dilakukan AS terhadap Indonesia yang merupakan negara kunci di kawasan Asia Tenggara.

Taiwan, disisi lain, disebutkan sebagai salah satu negara aliansi model bagi Amerika Serikat. Demokrasi yang stabil dan berwarna dan merupakan salah satu negara paling sejahtera dan ekonomi terefisien di dunia. Singkatnya, Taiwan adalah negara angkat yang paling sukses bagi tatanan dunia demokrasi liberal di mata Amerika. Presiden Nixon pada masa itu berhasil membuka hubungan diplomatik dengan China tanpa harus membahayakan posisi Taiwan. Oleh karena itu, jika halnya komitmen AS terhadap Taiwan dalam mempertahankan dirinya terhadap China tidak kuat, maka akan menjadi sinyal akhir dari dominasi strategis Amerika Serikat di kawasan Asia Timur. Dominasi China terhadap Taiwan juga akan secara nyata mengkonfirmasi dominasi efektif China terhadap Laut China Selatan, dan dengan demikian memberikan akses yang lebih mudah bagi China menuju dua lautan terbesar di dunia – Hindia dan Pasifik. Oleh karena itu, kita melihat bagaimana persaingan kedua negara tersebut , dan perbedabatan mengenai konsep  Indo Pasifik juga semakin panas – baik di kalangan ahli militer dan ahli strategis, maupun dalam first track dan second track diplomacy.

 

  1. International norms, regulations and order

Ekonomi, teknologi masa depan dan geopolitik. Pada jangka panjang, menurut penulis, persaingan antara Amerika Serikat dan China adalah mengenai siapa, apa dan bagaimana tatanan global di masa depan. Kita sudah tidak asing ketika banyak elit dan diplomat kita muncul dengan kalimat “rule-based international order” atau tatanan internasional yang didasarkan pada hukum. Namun norma, aturan atau hukum siapa yang dimaksudkan?. Konsep ‘rule-based international order’ yang kita kenal kenal saat ini dimaksudkan pada sejumlah kesepakatan yang memungkinkan untuk dilakukannya upaya bersama dalam menjawab tantangan-tangan ataupun sengketa geopolitik, ekonomi atau berbagai tantangan global lainnya. Yakni meliputi berbagai institusi multilateral seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa, melalui berbagai fungsi arsitektur lainnya seperti Bretton Woods system (World Bank dan IMF), dan seperangkat hukum internasional dan perjanjian/rezim internasional dan regional lainnya. Singkatnya, rule-based international order meliputi institusi dan aturan-aturan atau rezim internasional yang umumnya berupa prinsip  dasar yang mengawal bagaimana transaksi hubungan ekonomi dan politik antar negara dilakukan.

Menjawab pertanyaan diatas, beberapa aspek dari tatanan hukum internasional yang kita kenal saat ini memang sangat terpengaruh oleh nilai-nilai tertentu, misalnya yang tercantum dalam Deklarasi HAM Universal (the Universal Declaration of Human Rights). Jikapun kebanyakan diantaranya hanya berisi prinsip-prinsip dasar dalam hubungan antar negara. Bagi beberapa pihak, tatanan internasional yang kita kenal saat ini dipandang sebagai konsep yang sarat muatan politik. Hal tersebut dapat dipahami terutama bagi beberapa negara yang tidak memiliki atau hanya memiliki peran kecil dalam pembentukan hukum/aturan/standarisasi regulasi tertentu; atau mereka yang memang lebih mengedepankan ambisi nasionalnya dan memandang multilateralisme sebagai pengurangan terhadap kedaulatan negara; atau mereka yang merasa bahwa standar nilai-nilai universal dan kepentingan bersama tersebut membatasi atau bahkan bergesekan dengan preferensi politik, nilai-nilai tradisional dan pengalaman sejarah mereka.

Dari sini penulis satu pemahaman dengan apa yang diungkapkan oleh Robert Kaplan dalam tulisannya “America Must Prepare for the Coming Chinese Empire”. Robert Kaplan berargumen bahwa walaupun penggunaan istilah pemerintahan imperial -kekaisaran, atau istilah lainnya yang serupa- sudah hilang sejak semakin banyaknya negara-negara yang memerdekakan diri, dalam konteks tertentu konsep tersebut sepertinya masih tetap hidup di tengah-tengah kita hingga hari ini. Ia beragumen bahwa America, since the end of World War II and into the second decade of 21st century, was an empire in all but name” (Kaplan, 2019). Perserikatan Bangsa-Bangsa (UN), sistem finansial, sistem perdagangan dan ekonomi global (contoh. IMF, World Bank dan penggunaan Dollar AS sebagai global currency) serta Wall Street adalah beberapa institusi dan tatanannya. Baik itu aturan atau regulasi yang ada didalamnya maupun standar (misal standar pembangunan dan sejenisnya), memiliki pengaruh yang sangatlah besar di kancah global. Namun hal tersebut sudah mulai tidak berlaku lagi, oleh karena banyak negara-negara saat ini, bahkan negara-negara aliansi AS di Eropa dan Asia mulai mempertanyakan konsistensi Amerika. Ia menambahkan bahwa:

“empire, or its great power equivalent, requires the impression of permanence: the idea, embedded in the minds of local inhabitants, that the imperial authorities will always be there, compelling acquiescence to their rule and influence” (Kaplan, 2019).

Artinya, sebuah imperium atau bentuk kekuasaan sejenisnya, harus memiliki kesan permanen: yakni: ide yang melekat dalam benak penduduk lokal bahwa otoritas kekaisaran tersebut akan selalu ada, menuntut kerelaan terhadap pengaruh dan peraturan mereka. Power, bagi sebuah imperium juga pada akhirnya tidak hanya serta merta mengenai kekuatan ekonomi atau militer semata, melainkan juga moral. Dan moral yang dimaksud juga bukan semata-mata berkaitan dengan ‘humanitarian’, melainkan fidelitas[8] kata dari ‘imperium’ tersebut dimata khalayaknya. Dan fidelitas Amerika Serikat terhadap banyak isu global kini mulai dipertanyakan. Invansi militer Amerika Serikat ke Irak tahun 2003 merupakan salah satu isu awal yang menjadi perdebatan panas negara-negara, yakni tentang keadilan dan izin intervensi militer serta pentingnya untuk membatasi kekuatan AS. Selanjutnya, krisis ekonomi global tahun 2007-2008, batalnya dukungan AS terhadap Trans Pacific Partnership, dan inkosistensi Amerika -dibawah kepemimpinan Trump- terhadap kesepakatan-kesepakatan dan institusi multilateral adalah beberapa faktor utamanya.

Disisi lain, ketika suatu ‘imperium’ atau sejenisnya turun, maka yang lain akan naik. Sepanjang sejarah, hampir semua upaya untuk membentuk rule-based international order, selalu diperoleh dengan cara-cara kekerasan atau dari konflik. Terbentuknya perjanjian Westphalia, misalnya, merupakan salah satu upaya awal yang dilakukan negara-negara di Eropa untuk keluar dari perang agama yang berkepanjangan (the 30 years war). Dari perjanjian tersebutlah tatanan awal konsep negara-bangsa yang kita kenal saat ini lahir, yakni penekanan terhadap sakralnya kedaulatan dan prinsip non-interference terhadap urusan internal negara lain.

Kita saat ini tengah berada di masa dimana persaingan antara ‘imperium lama’ dengan ‘imperium yang sedang naik’ semakin memanas. Ditengah menurunnya fidelitas Amerika terhadap tatanan post-1945, Xi Jinping (China) naik dan mengambil panggung. Namun, menurut penulis, tidak untuk mempertahankan atau menyelamatkan tatanan tersebut. Xi Jinping memang berdiri dan mengambil alih ketika Paris Agreement ditinggalkan Trump. Namun Xi juga tebang pilih ketika menerapkan hukum lainnya, misalnya tidak dihormatinya hasil keputusan International Tribunal on the South China Sea yang dulu diajukan oleh Filipina. Selain itu, ketidakpuasan China terhadap Bretton Woods system telah mengalami momentumnya ketika krisis finansial global 2008 terjadi. Dengan demikian Xi Jinping dapat dengan lebih percaya diri ketika memperkenalkan mekanisme alternatif-nya (AIIB dan BRI).

Salah satu poin penting yang diharapkan adalah, persaingan tersebut tidak mengarah pada apa yang yang dikenal dengan istilah the Thucydide Trap[9]. Thucydides menyebutkan:

“When one great power threathens to displace another, war is almost always the result —  tho, doesn’t have to be”.

Adalah misinterpretasi Sparta terhadap intensi dan kenaikan Athena yang menyebabkan perang pecah antara keduanya. Dunia saat ini juga berada dalam dilema tentang bentuk dan perbaikan tatanan berdasarkan hukum – dan multilateralisme sebagai intinya- yang baru ‘ditinggalkan’ Trump dengan “American First” policy-nya. Dunia semakin bergerak segala arah – kehilangan ‘kepala’. Salah satu yang paling pertama akan dirasakan adalah yang dihasilkan atau resiko dari fragmentasi sistem perdagangan multilateral -orang lebih condong pada kerjasama bilateral seperti yang ditawarkan China pada skema BRI-nya). Namun konsekuensi yang paling nyata dari ketidakpedulian akan rule-based international order atau ambisi dari negara besar adalah semakin rentan atau berpotensinya negara-negara kecil dan yang lebih lemah untuk menjadi ‘tawanan’ persaingan geopolitik negara besar tersebut.

A fire at the city gate is also a disaster to the fish in the pond[10].

Artinya, sebuah aksi drastis dapat secara tidak langsung berpengaruh terhadap pihak lain dan bahkan membahayakan penonton diselilingnya yang tidak bersalah.

“Dua gajah berkelahi, pelanduk mati ditengahnya”

Salah satu upaya yang bisa dan diupayakan oleh negara-negara middle dan small power adalah memperkuat rule-based mechanism terutama yang berbasis kawasan seperti yang dilakukan oleh ASEAN. Walaupun tentu mekanisme demikian tidak akan bisa menyelesaikan masalah untuk jangka panjang, dan hanya bisa menitikberatkan pada inklusifitas program atau regulasi untuk mempertahankan diri dari guncangan. Atau dengan kata lain, jikapun terjadi guncangan atau perubahan besar, resiko kerusakan terhadap masyarakat tidak terlalu besar.

  1. Lesson-Learned

Salah satu permasalahan klasik yang kerap dihadapi oleh angkatan bersenjata Indonesia adalah clear objective dari pemerintah, apa yang ingin dituju oleh Indonesia. Sebagai contoh adalah ketika bertemu dengan isu baru seperti Indo-Pasifik, pilihan-pilihan aksi dan kerjasama Indonesia sangatlah terbatas dan seperti formalitas saja. Perang tidak boleh terjadi atau dilakukan hanya semata untuk perang itu sendiri, melainkan harus menyumbangkan suatu tujuan tertentu untuk negara. War is ‘politics by other means’ kata Clausewitz.  Salah satu alasan mengapa demikian bukanlah semata karena Indonesia belum capable, tidak mempunyai ambisi seperti misalnya AS dan China, melainkan tidak adanya atau sulitnya menentukan strategi nasional Indonesia. Kaplan menyebutkan bahwa grand strategy is about reflecting oneself. It is not about what we do outside, but what we strengthen inside. Realitas dan pengaruh budaya, adalah satu topik yang juga sering dihindari oleh banyak ahli maupun pemerihati strategis. Indonesia adalah negara demokrasi dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Dan didalam perdagangan dan pergaulan global, serta finansial, Indonesia mengikuti Bretton Woods system – sebagaimana halnya mayoritas negara lainnya. Ketiga hal tersebut tidak harus selalu bertentangan satu sama lain secara nilai. Namun dalam satu titik tertentu, adanya perbedaan mendasar dari ketiga elemen tersebut menjadikan proses pembuatan kebijakan di Indonesia lebih lambat. Oleh karena pemerintah Indonesia harus selalu bisa menjaga keseimbangan diantara ketiga. Belum banyak aspek lain yang perlu dipertimbangkan, misalnya politik domestik Indonesia dan proses di parlemen.

Salah satu kekuatan yang dimiliki China – yang juga merupakan aspek yang kerap dilupakan oleh Amerika- adalah bahwa China itu adalah suatu ‘organisme’ yang unik. China bukan hanya sebuah negara, melainkan juga sebuah peradaban yang kaya akan pengalaman sejarah dan shared-values. Oleh karena itu, nilai-nilai bersama yang telah ditempa oleh sejarah dan waktu tersebutlah yang membuat masyarakat China, pemerintah (PKC) dan pelaku-pelaku bisnisnya – dimana 90% lowongan pekerjaan berada- dapat bergerak bersama dengan lebih mudah dan relatif cepat. Dengan demikian, ketika maju ke panggung global, dapat keluar dengan pemikiran-pemikiran yang original (yang mereka telah buktikan sendiri) dan satu suara. Dan dari pemparan diatas kita juga menyadari bahwa pada akhirnya persaingan antara AS dan China yang kita saksikan hari ini akan menentukan siapa dan bagaimana tatanan global di masa depan. Kecuali jika Indonesia dapat menemukan suatu terobosan baru dan berhasil diterapkan di Indonesia (tidak harus selalu dipromosikan atau bahkan dipaksakan keluar) terutama dalam sektor dasar seperti sistem finansial, ekonomi dan perdagangan. Maka Indonesia akan terus berada pada posisi yang harus melakukan penyeimbangan atau menjaga equilibrium ditengah-ditengah sistem yang ada yang ditawarkan oleh negara lain seperti yang kita lakukan hari ini.

Seperti disebutkan sebelumnya, mekanisme demikian tidak akan bisa menyelesaikan masalah dalam jangka panjang, dan hanya bisa menitikberatkan pada inklusifitas program atau regulasi untuk mempertahankan diri dari guncangan. Atau dengan kata lain, jikapun terjadi guncangan atau perubahan besar, resiko kerusakan terhadap masyarakat tidak terlalu besar. Demikian, pilihan-pilihan aksi yang dapat dilakukan oleh, misalnya TNI AL dalam isu Indo-Pasifik, pun sangatlah terbatas dan terkesan formalitas saja. Showing the flag, naval diplomacy, inttelligence exchange, atau mengejar military benefit, merupakan beberapa opsi aman yang umumnya direkomendasikan. Oleh karena perang tidak boleh terjadi atau dilakukan hanya semata untuk perang itu sendiri, melainkan harus menyumbangkan suatu tujuan tertentu untuk negara. War is ‘politics by other means’ begitu kata Clausewitz.

________________________

[1] Trump’s Trade War – Frontline PBS Documentary. Video dapat diakses di: <https://www.youtube.com/watch?v=4_xQ5JisFuo>

[2] Isu mengenai Hak Azasi Manusia – dan sekarang ditambah dengan isu diskriminasi terhadap minoritas muslim di Xinjiang- merupakan salah satu topik yang selalu diangkat.

[3] Di dalam bukunya Fukuyama berargumen bahwa mengikuti naiknya demokrasi liberal gaya Barat, perang dingin dan runtuhnya Uni Soviet, umat manusia tidak hanya mencapai periode bersejarah berakhirnya suatu perang, melainkan akhir dari sejarah itu sendiri: yakni titik puncak dari evolusi ideologi dan universalisasi demokrasi liberal barat sebagai bentuk final dari pemerintahan manusia (Fukuyama.1989. P.13-18)

[4]Democratic peace theory berargumen bahwa negara-negara demokrasi yang matang jarang bahkan tidak akan melakukan perang terhadap satu sama lain. Hal ini karena diyakini bahwa norma-norma dalam demokrasi dan sistem check and balances antara pemerintah dan parlemen (dewan perwakilan rakyat) akan membuat pertimbangan untuk melakukan perang terhadap negara lain lebih ketat. Negara-negara demokrasi liberal hanya akan memulai perang hanya ketika bermaksud untuk memapankan tujuan liberalnya seperti masalah peningkatan kebebasan individu, HAM di negara lain — dari sini kita kenal juga dengan istilah R2P atau Responsibility to Protect.

[5] https://www.eurasiagroup.net/live-post/technology-youre-looking-at-the-end-of-the-cold-war-right-here

[6] Kita kenal US Offset Strategy –first offset strategy, second offset strategy dan third offset strategy hari ini.

[7] https://foreignpolicy.com/2017/07/28/america-needs-a-new-dreadnought-strategy-military-technology-rd/

[8] Fidelity (noun) mean faithfulness to a person, cause, or belief, demonstrated by continuing loyalty and support.

[9] https://foreignpolicy.com/2017/06/09/the-thucydides-trap/

[10] Berasal dari peribahasa China “城门失火,殃及池鱼” [chéngmén shīhuǒ yāngjí chí yú].Secara literal berarti “Kebakaran di Gerbang Kota adalah bencana untuk ikan di kolam juga”. Peribahasa ini berangkat dari gagasan bahwa jikapun ikan di kolam nampak aman dari api dan kebarakan di luar, namun jika halnya pemadam kebakaran menggunakan air kolam tersebut untuk membantu memadamkan api hingga kering, dengan demikian ikan-ikan pun ikut menderita.

Evaluasi patroli, operasi atau gabungan di-AOO—perspektif teori (pendekatan) pencarian ?

  • Pendahuluan

Science is contributing so liberally to every department of knowledge …that it seems only natural and reasonable that we should call science to our aid to lead us to a clearer comprehension of naval warfare (Rear Admiral Stephen B Luce) [2]. Within the Navy, terms like “strategy,” “vision,” and “concepts” have been used almost interchangeably (bisa ditukar-tukar artinya) [3].

 

Angk Laut berkualitas dunia, sering di-ungkap Prof (Han) Dr. Marsetyo; tentu saja bukan hanya alut sista-nya—dari hulu ke-hilir setiap unit organisasi berkualitas mendunia (total quality) ditambah kepemimpinan yang didukung dengan manajemen profesi dan teknologi setara magister pertahanan nasional. Teknology membuat nyaman manusia dan era now selain tidak lagi ber-orientasi material (hard) tapi effisiensi pemanfaatan-nya (soft)—sehingga muncul disiplin seperti: rekayasa economic (economics engineering), rekayasa sosial, rekayasa finansial, analisis jejaring sosial, ergonomik, manfaat lingkungan (green environtment), dll. Angk Laut adalah mesin kekuatan maritim (maritime forces) di-domain maritim (maritim atau laut, pen?) [4] yang bekerja dibawah kontrol strategi pertahanan maritim (maritime defense strategy) saat krisis dan konflik. Berbeda dengan penjaga pantai (coast-guard) yang berproses di-bawah kontrol strategi nasional untuk keamanan maritim (+keselamatan) [5] saat damai. Dinamika kehidupan Angkatan (atau organisasi manapun) adalah “ruh” manajemen modern yang peka dan responsif versus tantangan kedepan. Konsekuensi-nya (≠ retorika) isu-isu inovasi, inisiatif, kreatifitas, kualitas dosen, instruktur, materi ajaran, kurikulum, dukungan bahan ajar, perpustakaan, dll semua berjalan baik dan berkelas dunia. Untuk memahami itu semua memerlukan suatu evaluasi yang berkualitas. Evaluasi adalah agenda “besar” produk kebijakan berbasis bukti (evidence-based). Evaluasi menggeser fokus & orientasi “inputs” ke ”outcomes”, “hasil” atau “produk” dan membuat semakin tajam produk kebijakan. Evaluasi [6] mengangkat ke-permukaan pelacakan pengunaan biaya, alokasi penggunaan anggaran, cerminan professional operasional di-lapangan, kalkulasi rasional dan menoleh kembali kebijakan yang dibuat—sudah sepadan-kah produk (manfaat, untung, effektifitas) dengan alokasi dukungan biaya [7]. Monitoring & evaluasi adalah jantung kebijakan berbasis bukti (evidence-based), sebagai perangkat bukti transparansi, digunakan untuk memperbaiki kualitas, effisiensi, effektifitas program dan perbaikan kurikulum professional di-tingkat implementasi [8]… dan perangkat terbaiknya adalah riset, membuat Angkatan atau Lembaga pemerintah lebih mengigit melalui sejumlah riset [9]. Kasus kegiatan patroli, latihan bersama atau sendiri adalah suatu hal yang serius, bukan hanya diwaktu perang bahkan damai sekalipun. Jantung kegiatan patroli adalah pencarian dan makalah ini banyak menjelaskan teori pencarian meski sebatas narasi (tanpa notasi matematika). Berikut contoh negara lain dengan pengembangan teori pencarian telah membuktikan kapabilitasnya melakukan sesuatu yang benar (doing the right things).

Konsep evaluasi

Angk Laut adalah donator besar tercapainya obyektif pertahanan maritim di-domain maritim dan setia kepada konstitusi yang dibebankan padanya dan berpartisipasi mengembangkan kekuatan maritim nasional. Bersama-sama strategi instrumen kekuatan nasional lain (PEM atau DIME atau MIDLIFE) ikut menjamin tercapai-nya obyektif kepentingan nasional [10] melalui strategi (dan evaluasi) yang disebut strategi keamanan nasional (baca Kam Nas saja). Angk Laut menjaga kedaulatan wilayah nasional bersama Angk lainnya dibawah kontrol strategi pertahanan nasional dan di-domain maritim sendiri dibawah kontrol strategi pertahanan maritim. Penjaga pantai (co-partner Angk laut di-domain maritim) fokus pada keamanan maritim (plus keselamatan maritim) di-bawah kontrol (dan evaluasi) strategi nasional ‘tuk keamanan maritim [11]. Evaluasi, lebih berorientasi kepada produk yang menghasilkan informasi yang dibutuhkan pengambil keputusan—informasi adalah sumber daya [12]. Evaluasi adalah suatu prasangka (adakah gap yang muncul) setelah di-bandingkan dengan standar performa—seberapa jauhnya jurang (gap) tersebut…demi perbaikan. Penilaian (assessment) lebih berorientasi pada proses. Evaluasi mengikuti kriteria seperti relevansi, effektifitas, effisiensi dan keberlanjutan. Relevansi mengaitkan kegiatan pada strategi yang di-sepakati dan di-rencanakan menuju obyektif yang telah ditetapkan. Effektifitas menunjukkan seberapa jauh ukuran yang bisa di-capai (sesuai tetapan ukuran effektifitasnya atau MOE) di-lapangan. Patroli umumnya di-lakukan untuk melakukan investigasi pelanggaran hukum dalam wilayah juridiksi suatu negara [13]. Harapan-nya aksi ini mendongkrak capaian effektifitas patroli dan ujung-nya tentu mendongkrak capaian derajad keamanan maritim itu sendiri [14]—meski tidak serta merta langsung memberikan sumbangan [15]. Ukuran effektifitas yang di-dapat ini adalah produk evaluasi, bisa saja mendekati harapan, lebih atau mungkin juga kurang dan gap inilah yang dijadikan tolok ukur (perbaikan kompetensi, salah satunya) mendatang. Bisa saja kapal A dan B sama tingginya capaian effektifitasnya, namun dukungan (baca: konsekuensi) biaya-nya berbeda (biaya/cost; bukan anggaran). Konsep efektifitas dikaitkan dengan konsekuensi biaya disebut sebagai effektitfitas–biaya [16], yang menjadi basis akuisisi alut, sista, dll atau proposal suatu kegiatan. Evaluasi dalam bentuk pertanyaan di-kaitkan dengan  masing-masing kriteria evaluasi dapat di-tabelkan seperti di-bawah ini [17].

Pola dasar patroli (model)

Patroli berlaku selama operator berada di-AOO, tidak termasuk saat transit dan “isi ulang” BBM (gambar bawah). Figur AOO sesuai “kalkulasi” operator kecuali ada perintah khusus. Setiap phasa mewakili rentang waktu dengan catatan status system tidak berubah—phasa di-pisahkan oleh “kejadian”. Phasa “pencarian”(search) berhenti bila ada “kejadian” deteksi [18] (bisa saja  kapal & sasaran mendekat) namun tidak ada informasi  tentang “kejadian” terdeteksi tidaknya. Phasa “kejadian” di-jelaskan dalam tabel-1 & 2, sedang kegiatan saat “keputusan” tabel-3 akan menjawabnya. Bisa saja terjadi di-luar phasa pengejaran, keputusan di-buat untuk melakukan VBSS [19] atau tidak. Pilihan pola, tergantung tetapan MOE (MOE untuk giat patroli bisa saja adalah probabilita deteksi—semakin tinggi probabilita-nya semakin effektif). Tanpa pola dan kalkulasi effektifitas (tanpa MOE) akan jelas sulit mengukur capaian effektifitasnya dan berujung apakah patrli ini sukses atau tidak. Siklus di-bawah menggambarkan siklus mulai pencarian—pengejaran—pemeriksaan—dan kawal (hand-off), seperti di-bawah ini.

 

Gambar no.1 Siklus operasional  [20]

 

Hint: Phasa ini berlaku, diluar transit dan refueling. Transit menunjukkan saat operator keluar, ada operator lain yang masuk kedalam, selama dalam tetapan waktu misi masih berjalan—periksa tabel-1, phasa. “Kejadian” isi BBM (refuel) bisa saja dilakukan antar setiap phasa, phasa “handoff” adalah “kejadian” dikirim-nya sasaran ke-pangkalan atau station pemeriksaan terdekat. Secara umum, waktu setiap phasa tidak selalu sama. Meskipun kotak phasa relatif sama luasnya, bisa saja realita lapangan berbeda, misal sesudah search (pencarian), lanjut dengan phasa pemeriksaan (inspect).

 

Tabel – 1 Phasa & kegiatan-nya, periksa dibawah ini

Sedangkan definisi “kejadian” seperti deteksi, intersep, penyelesaian dan handoff selama siklus patroli, periksa tabel – 2 dibawah ini.

Tabel – 2, definisi semua kejadian yang mungkin terjadi .

 

Keputusan per setiap phasa, relatif terhadap sasaran, periksa tabel – 3 di-bawah ini,

Tabel – 3, Keputusan

Sebagai kontek dalam pola patroli status yang bisa tercipta adalah status kapal tidak laik, belum terlatih, belum siap, siap dan belum terlatih (status ini bisa di-gunakan oleh model Markov). Figur AOO secara umum, periksa gambar di-bawah ini[21]:

Gambar no.2. Tipikal skenario patroli —- kotak ditengah adalah AOO.

 

AOO di-batasi kotak pencarian persegi empat. Sesungguhnya lebih baik mengikuti kontur geographik bernavigasi—sehingga pola bisa berbentuk segitiga, lonjong,  kerucut, atau tidak beraturan dengan kalkulasi lebih realistik. Abaikan area yang dangkal atau berbahaya atau tidak mungkin dilewati kapal yang akan dikejar, dll (di-luar AOO) sehingga luas area mudah dihitung. Kalkulasi luas AOO memudahkan menghitung probabilita deteksi (perhatikan gambar no.2)—kalkulasi sederhana Pdeteksi satu kapal patroli tunggal = luas area deteksi radar/luas AOO [22]. Awal patroli, tanpa mengetahui data awal probabilita, maka kalkulasi probabilita 2 kapal atau lebih, bisa saja menggunakan kasus probabilita union (penjumlahan probabilita)[23]. Parameter lain adalah jumlah kapal yang di-deploikan, rata-rata bertahan effektif di-AOO, kecepatan ekonomi patroli dan kecepatan maksimum yang di-ijinkan untuk mengejar. Klasifikasi sasaran yang lebih di-pentingkan (interest target), waktu patroli, jumlah kapal patroli, jumlah BBM yang tersedia dan ongkos (baca:bukan anggaran), waktu transit dan handoff. Konsep rantai Markov, prinsipnya adalah menemukan probabilita transisi (matriks) dari satu status ke-status lain (yang akan datang) [24] —produk-nya adalah prediksi probabilita dalam status transisinya diketahui (given) harga probabilita status sekarang ini. Analysis Markov adalah properti data sekuensial sebelumnya yang kapabel memoles halus “outcome” dan ramalan outcome yang akan datang (sampai langkah atau hari ke-n). Markov (rantai Markov) [25] berbasis dinamika acak dan kapabel menghadapi  ketidak pastian—misal: posisi sasaran, waktu, dll tidak diketahui. Selain Markov, teknik simulasi (diskrit, kontinyu) berbasis acak yang sangat sederhana, seperti random walk, drunkard’s steps, thief run [26]cerdas menirukan ketidakpastian. Penggunaan paralel Markov dengan simulasi (teknik Monte Carlo) guna uji statistik hasil—penggunaan paralel kedua teknik ini sangat di-sarankan [27]. Markov  bisa dikembangkan lebih dari dua (2) status dengan masing-masing lebih dari dua (2) aksi [28].

Analisis operasional CMF (Combined Maritime Firces)

Satgas gabungan kekuatan maritim antar negara (CMF) mempromosikan keamanan, stabilitas dan kesejahteraan di-perairan Timur tengah seluas 2.5 juta mil laut di-tahun 2006 (lihat peta bawah) [29]. Komandan Tugas adalah pati AL-AS di-bantu seorang pati Angk Laut Inggris, terbagi dalam CTF 150/anti terorisme & CTF 151/anti perompakan dengan AOO memanjang mulai Terusan Suez sampai ke-selatan, CTF 152/keamanan dan kooperasi di teluk/semenanjung Arabia. Anggota CMF adalah sukarelawan dan tidak terikat perjanjian militer. Mengukur sukses CTF 150 sungguh sulit dikarenakan definisi misi (hanya) adalah promosi keamanan maritim [30], strategi penangkalan dan mencegah kontrol oleh teroris di-domain maritim internasional ini. Di-luar ini semua ada satgas lain, seperti NATO dan Uni Eropah. CMF yang terbentuk semenjak tahun 2001, tapi kegiatan analisis operasional yang di-lakukan kelompok ilmuwan analis operasional (OA) [31] yang bergabung kedalam unit-unit organisasi CMF [32] baru dimulai semenjak tahun 2006.

Gambar no.3. Peta AOO CMF, (hint: IRTC = Internationally Recognized Transit Corridor).

 

Hint: Mengapa dipetakan hash (kusut, kacau,dll) highway, smack (tamparan) track (dengan arsir lebih tebal) dan piracy high risk area (sebagai ruang dengan probabilita berisiko tinggi) sebagai hasil kalkulasi para analisis operasional dan mengait dengan kepentingan kalkulasi effektifitas dan effisiensi operasi (tidak sembarang maksud).

Jalur panas transaksi ini ada di-rute hash highway [33] dan smack track—di-petakan  mengikuti kriteria ukuran effektifitas. Beberapa sumber produksi narkoba ada di-Afghanistan, rute melalui pantai Makran dan kemudian transfer ke-kapal kargo yang lebih besar dan menyebar sesuai sasaran. Pertanyaan yang sulit di-dapat (bagi analis OA) adalah seberapa jauh effektifitasnya menghalang-halangi sebaran narkoba, bila data opium dan heroin saja yang tercatat, padahal banyak jenis lain yang sulit di-dapat informasi-nya, misalnya korelasi antara sumber di-darat sebagai sumber pendanaan (sepertinya menjadi lahan polisi). Lebih dalam lagi adalah seberapa jauh korelasi dengan pembiayaan (cost-analysis) yang di-keluarkan—agaknya menjadi wilayah kerja dan informasi bagi polisi dan intelijen, tidak bagi kepentingan para analis. Mengukur effektifitas CMF sungguh sulit dengan AOO seluas itu versus terbatasnya jumlah kapal, kelas kapal, jumlah hari yang operasional per masing-masing kapal, kapabilitas per area patroli (baca area deteksi) per hari atau tetapan di-suatu area tertentu untuk tugas interdiksi per satuan waktu. Tidak semua elemen CMF adalah kapal tempur, bahkan tanker, logistik dan kapal patroli pantai serta jenis lain. Fakta yang menimbulkan komplikasi dan sulit mengukur effektifitas.

Effektifitas masing-masing kapal dan per masing masing negara sangat berbeda bahkan jauh berbeda versus kesadaran siaga (situation awareness) [34]. Misal; apakah destroyer di-hargai lebih 20% dibanding fregat. Apakah indeks effektifitas fregat plus helikopter sama dengan destroyer tanpa helli [35]? Kapal dari satu negara, satu dengan helikopter (plus jangkauan radar permukaan yang lebih panjang) satunya tidak, di-hargai sama? Bagaimana beroperasi dan di-kombinasikan dan atau samakah beberapa kapal patroli pantai dengan 1 fregat atau destroyer? Semua mengundang perdebatan kalkulasi effektifitas yag hangat. Dalam rute prioritas (hash dan smack track) indeks pengukuran itu akan berpotensi terhadap besar kecilnya area penutupan (coverage area) dan kalkulasi waktu kritikal pendeploi-an, masuk keluar-nya operator di-AOO (mencari bentangan waktu effektif dalam AOO)…serta waktu kritikal Helli agar saat kapal pembawa-nya mengetahui manuevra kapal perompak, maka helli segera menempatkan diri dan menghalang-halangi mendekati sasaran. Luas area penutupan (coverage area) adalah harapan menemukan sasaran (perompakan, pembawa narkoba, kriminal, dll), berasumsi kapal yang hadir sama besar indek kapabilitasnya, terutama di-jalur-–hash dan smack. Mengait profesi OA, dalam laporan berkala yang dibuat Komandan CMF tahun 2004, tertulis…perlunya penempatan tim OA di-semua asset dalam CMF (atau gugus tugas lain). NATO, Inggris, AS, Australia, Canada, dan lain-lain telah melibatkan tim OA dalam satgas mereka sendiri [36], artinya evaluasi patroli di-kerjakan dengan norma riset atau ilmiah—militer mulai berpikir membangun rekayasa dan riset ilmiah (meng-engineeringkan Navy a.l: kata SAF/Singgapore) [37]. Contoh lain; rekayasa Angk Laut Colombia telah menemukan rute patroli terbaik dengan sejumlah titik belok (way-point) dengan variabel jumlah Naval bases, jumlah & jenis platform patroli dengan radar penutupan (radar coverage) tertentu, varian luas AOO (gambar bawah) agar tidak lagi muncul ikon telah menggergaji laut [38]:

 

Hint: warna biru adalah rute platform yang di-kontrol pangkalan biru (yang terdekat, BN 4)  dan merah oleh pangkalan merah (BN 1). Tanda asterik (merah atau biru) adalah titik optimal dan sekaligus titik belok (way-point) masing-masing operator.

Melacak kehadiran teori pencarian (search theory)

Teori pencarian (search theory) adalah bagian dari ops riset (OR) tradisional namun tetap populer digunakan Penjaga pantai maupun Angk Laut [39]. Desain awal sebenarnya untuk berburu kapal selam oleh kapal permukaan. Berkembang di-gunakan oleh satuan darat dan lainnya untuk melacak kehilangan sasaran atau posisi di-darat, pegunungan, dan padang pasir di-bantu pesawat, drones, atau kombinasi [40] 2 atau 3 platform. Kasus menggunakan kapal selam sebagai pemburu masih sangat terbatas  (konfidensial?) literatur-nya [41]. Bukan dominasi Angk Laut, Darat & Udara saja, semua instansi menggunakan teori ini. Sebenarnya obyektif (maunya/sasaran) operasional riset mengait isu pencarian adalah…prediksi effek dari sensor, taktik dan sista versus sasaran yang bergerak. Dalam isu ketidak pastian ini sementara yang diburu adalah obyek tunggal (single object)[42], meski kampanye U-Boat Donietz semakin serius dengan Wolfpack-nya. Definisi ini berkembang dari ancaman U-Boat di-Atlantik Utara. Awal aplikasi teori pencarian adalah dibentuknya OEG (operations evaluation group) Sekutu versus U-Boat Jerman, merespons pernyataan Hitler oleh PM Inggris Churchill dengan kalimat…“bahaya” U-Boat adalah mimpi yang menakutkan [43].

Kasus besar yang menggunakan teori ini a.l: mencari bom H yang jatuh di-perairan dekat Palomares, Sepayol, tahun 1966, dan mencari bangkai kapal selam USS Scorpion yang tenggelam tahun 1968 [44] dan sukses hasilnya—bangkai USS Scorpion ditemukan hanya berbeda tipis (dalam ratusan yards) antara kalkulasi duga (estimasi/apriori) dengan posterior. Membantu menemukan kapal selam balistik nuklir Russia selama perang dingin, termasuk penjaga pantai AS yang mempraktekkan dan mengembangkan teori Bayesian untuk memperbaiki pola pencarian SAR. Model penentuan lokasi terbaik pangkalan seperti di-LCS oleh China, Vietnam, Malaysia dan Philippines diatas pulau buatan dan membangun pos pangkalan SAR. Hadirnya pos-pos sebagai pangkalan ops SAR sangat membantu memperpendek waktu respon ops SAR. Jelasnya dengan menggunakan teori pencarian di-gabung simulasi [45] bisa ditemukan pertanyaan a.l: waktu kritis yang dapat digunakan. Razzi & Karatas bahkan mengusulkan menggunakan IB-BAM (incident based–-boat allocation model) untuk kasus multi-obyective [46] menentukan alokasi & penempatan kapal kapal SAR di-area tertentu. Temuan penelitian Akbari dalam kasus  yang relatif sama, khususnya di perairan Canada [47]. Pengembangan dan aplikasi teori pencarian via teknologi pesawat nir-awak atau lebih popular disebut drone dengan berbagai versi tempur maupun kepentingan sipil seperti di-bidang inspeksi, pemadam kebakaran, jurnalisme, konservasi, pertanian, dan pengantaran, dll. Berikut dibahas suatu produk riset yang dilakukan Lcdr Jose Manuel Landa Borges, Angk Laut Venezuela dalam thesisnya tentang pencarian dan deteksi dengan radar di-pesawat CASA 212 S-43 tahun 2004[48].

 

Referensi: Ibid, hal 5, Venezuelan Caribbean Sea (Submarine’s Operating Area), seluas total 125,004.45 mil 2.

Skenarionya; Casa 212 S-43 dengan radar permukaan RDR-1500B diberikan misi mencari dan menemukan periskop kapal selam diesel elektrik (tak dikenal) di-AOO (di-batasi garis warna hitam). Parameter pencarian bagi kapal selam yakni kapan, berapa lama, dan frekuensi menampilkan periskop RCS (cylindric) [49] dan tiangnya. Sedangkan parameter pencarian pesawat adalah ketinggian, kecepatan dan area yang ditetapkannya (zone spesifik di-AOO). Karena ketinggian mempengaruhi effektiftas ketahanan lama terbang maka Angk Laut Venezuela telah menetapkan tinggi terbang terbaik untuk  pencarian kapal selam adalah 1000 kaki. Effektifitas Radar juga tergantung pada RCS periskop, maka pesawat harus menyesuaikan dengan tabel performa radar versus performa periskop untuk menentukan ketinggian terbaik. Hasilnya berbagai varian luas AOO dengan 1 atau lebih pesawat sebagai berikut [50]:

Gambar CDP (cumulative detection probability) dengan area seluas  125,000 mil (125 ribu mil persegi) 2 dengan 1 pesawat.

 

CDP adalah bentangan ukuran effektifitas (hasil MOE) [51] yang bisa diperoleh. Graphik CDP versus waktu melakukan pencarian (dengan 1 pesawat). CDP(t) (garis mendatar) adalah waktu yang diperlukan untuk memperoleh CDP tertentu (lamanya waktu yang digunakan). Misal: carilah waktu pencarian untuk mencapai (harapan) CDP sebesar .50 atau dengan (given) CDP berapa dengan sortie tunggal dalam 6.15 jam atau 24 jam atau 48 jam? [52]. Kurva 3 warna dalam graphik di-atas menggambarkan posisi CDP per setiap klasifikasi sasaran (small, medium, large). Perolehan CDP sebesar  .50 diperlukan waktu pencarian 183.5 jam, 164.7 jam, dan 150.5 jam tergantung klas sasaran…dan berapa sortie penerbangan agar pencarian terus berlanjut … dan berapa total biaya yang harus dikeluarkan per sortie? … bila mengharapkan CDP sebesar  .03, di-perlukan sortie tunggal dalam waktu 6.15 jam pencarian. Sebenarnya CASA masih belum bisa didefinisikan sebagai  patroli maritim [53]. CASA sebagai subyek untuk meneliti kapabilitas deteksi saja….belum bisa menjawab keputusan bila yakin kapal selam tersebut musuh. Arti patroli maritim bukan hanya menemukan, termasuk klasifikasi dan menyerang serta kapabel menghancurkan sebagai satu rangkaian KOC [54]. Riset kapabilitas CASA yang terbang berpatroli di-domain maritim dengan sensor radar permukaan-nya tapi belum kapabel menghancurkan sasaran kapal selam, belum berperan sebagai patmar riil.

Graphik menunjukkan CDP vs 2 pesawat yang di-gunakan dalam luas AOO yang sama. Hasilnya, CDP naik tajam namun tetap lamban dengan satu sortie dengan 2 pesawat—patroli 6.15 jam bisa berharap memperoleh CDP sebesar .05. Berharap CDP  .50 perlu 91.8 jam (small target), 82.8 jam (medium target) dan 75.7 jam. Kontrol seluruh area AOO ini butuh 13 – 15 sortie @ 2 pesawat dan secara kasar dibutuhkan waktu 3 sampai 4 hari…beruntunglah si-kapal selam. Solusi sementara; tajamkan area AOO dengan peluang bernavigasi riil bagi kapal selam menyelam sedalam periskop…ulangi simulasi… hasilnya….. Perbaikan solusi dengan setengah luas yakni 62,500 mildengan 1 pesawat  [55] dan hasil simulasi sebagai berikut:

 

Hasilnya, sama dengan yang lalu dengan 2 pesawat berburu dan berpatroli dua kali. Interpretasi singkat, simulasi ini mendemonstrasikan bahwa area pencarian menjadi lebih effektif (setelah perbaikan AOO) dan bisa meningkatkan laju deteksi (detection rate). Pertanyaan berikut dengan luas area sebesar 625,000 mil2 (masih sama) namun aset pesawat dilipat gandakan menjadi 2 pesawat, hasilnya?

 

Meningkat lebih baik dengan sortie tunggal 2 pesawat, dengan capaian CDP sebesar  .11. Dengan 2 pesawat simultan melakukan pencarian memperoleh performa sebesar  .50 dengan waktu sebesar 46.0 jam (small), 41.3 jam (medium) dan 37.7 jam (sasaran “large”). Hasil riset di-dalami, lakukan analisis kepekaan sekali lagi dengan cara memperkecil AOO menjadi setengah-nya yakni 31,200 mil2 dengan hanya 1 pesawat [56]:

 

Sama dengan kasus sebelumnya dengan 2 pesawat dan berpatroli dua kali di AOO. Berikutnya kasus lebih di-peka-kan dengan luas yang sama dengan 2 pencari (searcher), hasilnya lebih baik, < 24 jam di-peroleh CDP sekurang-kurangnya  .50 dengan waktu 23 jam, 20.6 jam dan 18.9 jam (large target). Bila menggunakan waktu 6.15 jam akan diperoleh harapan sebesar  .20 (CDP). Bila diteruskan tes kepekaan ini, akhirnya didapat format yang mungkin paling mudah, murah, yakni luas AOO hanya sebesar 3,900 mildengan  menggunakan 1 pesawat saja. Luas ini kira kira  65 x 60 nm (atau ukuran lain), namun harga ini nampaknya cukup terjangkau dengan jumlah aset patrloli maritim yang sangat terbatas. CDP sebagai petunjuk waktu pencarian dengan probabilita deteksi sebesar  .50 dengan sortie tunggal dengan lama operasional 6.15 jam. Versus ketiga klas sasaran memperoleh skor CDP sebesar  .52,  .56 dan .59 (beda tipis antara  klas). Jadi kalau tetapan ukuran effektifitasnya adalah probabilita deteksi maka CDP antara .50 – .60 sudah memberikan  harapan yang cukup bagus. Kasus yang di-bahas singkat hanyalah sebagian kecil upaya mengeffisienkan setiap kegiatan. Tersirat betapa militer berkeinginan mempertanggung jawabkan semua kegiatan kepada publik lebih transparan (bukan hanya Pjk Keu saja). Singkatnya 2 variabel yang dipertanggungan jawabkan kepada publik, [1] seberapa besar performanya (effektifitas, manfaat, keuntungan atau utilitas) dan [2] seberapa besar konsekuensi biaya yang ditanggung-nya (unit cost misalnya; 1 pesawat per mil persegi atau 2 pesawat per sortie per mil persegi) [57]. Tidak dibahas cara memperoleh CDP, jarak minimum ke-sasaran (Rmin), Latran (lateral range), jarak maksium (Rmax), jarak ke horizon (Rh), RCS (radar cross sections), dan TPE (time periscope exposure), dll, termasuk asumsi dan analisis konsekuensi dukungan biaya (bukan anggaran)—cost estimate[58]. Tren aplikasi teori pencarian adalah utilitas drone (sipil atau militer) untuk melacak penerobos perbatasan, mencari sasaran di-area urban, koordinasi patroli oleh 2 atau 3 drone atau antara drone dengan kapal atas air, bahkan serangan terkoordinasi (swarming), dll. Ekspansi penggunaan drone sungguh radikal mengubah bentuk dan moralitas peperangan dengan konsekuensi sosial maupun komersial yang semakin nyata. Serangan drone yang mematikan (lethality) plus kecilnya risiko peperangan, mengeliminir kerusakan kolateral (CD/collateral damage), remot (remotely) dan tidak membahayakan penerbang maupun awak pesawat lainnya [59]. Di-sisi lain (ethika, moral) sepertinya belum di-atur global. Faktor yang berperan terhadap rencana missi drones adalah:[1] obyektif, [2] MOE, dan [3] operasional, teknikal dan kendala logistik [60]. Passus bisa menggunakan[61] drone ukuran kecil; di-area urban atau pegunungan yang menyembunyikan insurjen atau teroris. Kapabilitas drone bervariasi mulai pengamatan, pengintaian [62], pelibatan sasaran, intelijen, dan kontrol penembakan sista/rudal jarak jauh, bencana alam, dll.

Kesimpulan

When you come in to command, you’re fired up and ready to go. I think that during the first two months… when you’re trying to figure out what’s going on you tend to temper your expectations. I’ve never heard of a gaining commander looking back and saying, “This guy has it all figured out, I don’t need to make any changes”.[63]

 

Pergantian komando (evaluator baru) seperti di-atas meletakkan posisi organisasi saat sertijab sebagai posisi awal dengan harapan tercapai-nya masa depan yang terukur, syukur-syukur tetap  dalam phasa doing the right thing….tinggal berlari. Evaluasi [64] (berkualitas) butuh keberanian manajemen [65] menatap masa depan dengan berorientasi pada doing the right thing (justru kultur lebih sering menghalangi) daripada doing the thing right, meski awalnya sulit. Evaluasi membutuhkan model-model (Markov, Monte Carlo, dll) teknik manajemen modern yang mampu menghasilkan produk yang kapabel mendemonstrasikan hadirnya suatu “gap” (suka atau tidak suka) menuju isu yang lebih baik dan ditangani oleh tim OA atau ajensi swasta diluar lingkungan militer. Organisasi militer tidak memiliki waktu lapang untuk melakukan riset dalam waktu lama dan biaya yang besar sekali. Studi komparatif negara lain seperti Venezuela, Singgapore, dll, dengan penduduk yang jauh lebih sedikit namun memiliki produk menarik untuk dipamerkan.  Bahasan khusus drone menjadi sangat menarik, mengingat penggunaan aset ini sudah teruji di-medan perang, bahkan  menjadi inventori pasukan baik regular maupun passus era now. Literatur tentang drone sudah begitu ekspansif dengan area pendalaman seperti operasi per kelas, sista, pola pencarian, serangan terkoordinir dan serentak (swarming), K2, drone intelijen, drone strategi, dll sedangkan aturan mainnya (legalitas) sungguh masih tertinggal jauh.

[1] Skema di-bawah ini menunjukkan posisi AOInf (Area of Influence), AOInt (Area of Interest), AOR (Area of Responsibility) dan AOO (Area of Operation)—dengan porsi luas : AOO  < AOInf (influence)  < AOInt (interest):

 

 

 

 

[2] Keith R. Tidman, The Operations Evaluation Group; A History of Naval Operations Analysis, (Naval Institute Press, Annapolis, Maryland), halaman 1.

[3] Peter Swartz, et-all, The Origins and Development of A Cooperative Strategy for 21st Century Seapower (2015), (CNA/Center of Naval Analyses, Sept 2017), halaman 6.

[4] Juk Strategy Bersama tiga (3) Angkatan yakni US Navy, USMC dan USCG, A Cooperative Strategy for 21st Century Seapower,                                                                               Introduction,…because the maritime domain (yakni)—the world’s oceans, seas, bays, estuaries, islands, coastal areas, littorals, and the airspace above them—supports 90% of the world’s trade, etc. Domain maritim lebih luas dari kata laut dan samodra bahkan lebih dari itu semua. Faktanya dalam satu dekade ini kata tradisional penggunaan  laut seperti dari, dan, di, ke laut sudah tidak ada lagi dalam doktrin, strategy atau jukops Angk Laut negara maritim lainnya …. tergeser dengan kata di-domain maritim. Hal yang sama, periksa The National Strategy for Maritime Security, (Dept of Homeland Security), halaman ii,… together, the National Strategy for Maritime Security and its eight supporting (8 sub strategi pendukungnya) plans present a comprehensive national effort to promote global economic stability and protect legitimate activities while preventing hostile or illegal acts within the maritime domain. Ibid, halaman 1,  di-maksud maritime domain is defined as all areas and things of, on, under, relating to, adjacent to, or bordering on a sea, ocean, or other navigable waterway, including all maritime-related activities, infrastructure, people, cargo, and vessels and other conveyances. Note: The maritime domain for the United States includes the Great Lakes and all navigable inland waterways such as the Mississippi River and the Intra Coastal Waterway, periksa definisi yang sama dalam . https://en.wikipedia.org/wiki/Maritime_domain. UK bahkan menyebut ada 9 thema dalam maritime strategy 2050-nya, mendemonstrasikan sector maritim lebih luas dari sector laut sendiri.  https : // assets . publishing . service . gov . uk / government / uploads/system/uploads/attachmentdata/file/773178/maritime-2050.pdf. Inggris dengan The National Strategy for Maritime Security-nya (May 2014), menyebut international domain maritime, lebih dari national maritime domain, periksa  https://assets.publishing.service.gov.uk/government/uploads/system/uploads/ attachmentdata/file/322813/20140623-40221national-maritime-strat-Cm8829accessible.pdf, hal 18,…UK Maritime Security Objectives 21; [1]. To promote a secure international maritime domain and uphold international maritime norms; [2]. To develop the maritime governance capacity and capabilities of states in areas of strategic maritime importance; [3]. To protect the UK and the Overseas, dst. Periksa US Coast Guard Strategy for Maritime Security, Safety, and Stewardship, (DHS, Washington, Jan 19, 2007), section – I, America’s Coast Guard,..An essential attribute of any nation is its ability to protect its citizens and to maintain sovereign control of its land, air, and sea borders. In the maritime domain, this means exerting and safeguarding sovereignty in the nation’s internal waters, ports and waterways, and littorals, as well as protecting vital national interests on the high seas. Periksa The US Coast Guard: Maritime Strategy for Homeland Security, (DHS, Washington.D.C, Dec 2002), hal 5,….Maritime Homeland Security mission to prevent terrorist attacks, reduce America’s vulnerability, and minimize the damage from attacks that do occur in the U.S. Maritime Domain. Ibid, section 1….US Coast Guard’s role…to protect the U.S. maritime domain and the Marine Transportation System, and dst. Periksa: Dr Rowan Allport, Fire and Ice – A New Maritime Strategy for NATO’s Northern Flank, …. Dalam text strategy dan policy NATO era perang dingin jilid II (sekarang ini) jarang sekali menyebut laut, bahkan kekuatan Angk laut (naval forces) lebih sering disebut Maritime forces. Literatur-literatur nampaknya lebih suka bicara tentang maritim dan sedikit membicarakan laut (ocean) saja dengan isu yang sama. Bicara aman, mana yang akan di-amankan (dan diselamatkan) lautnya (ocean/sea security/safety) atau domain maritim—maritime security/safety? Penggunaan definisi domain maritim akan merangsang pemilik domain untuk mengelola sebesar-besarnya demi kepentingan rakyat, mulai dari udara di-atasnya, sampai di-bawah dasar laut, sumber daya hidup atau mati, energy yang belum diolah, sedang, akan dilakukan riset,dll—-mana yang lebih tepat, menggunakan kata laut saja atau lebih ambisius (dan strategik) dengan “kata” maritim dalam kontek mengelola sumber daya ini?

[5] Dua (2) strategy yang bekerja di-domain maritim yakni strategi pertahanan maritim (The Maritime Defence Strategy) dan strategy nasional untuk keamanan maritim (The National Strategy for Maritime Security—plus maritime safety) sebagai pengawal domain maritim—sesuai amanah hukum laut internasional. Yang pertama banyak berperan saat konflik, krisis, dan perang. Yang kedua saat damai. Pengawal pantai biasanya menjadi cadangan kekuatan maritim (maritime forces reserves) saat perang. Namun masih di-prihatinkan di-negeri ini yang memiliki domain maritim yang begitu luasnya tentang kehadiran (dan ketidak-hadiran) Coast Guard  yang sebenarnya.

[6] Ben Connable, Walter L. Perry, Abby Doll, Natasha Lander, Dan Madden, Modeling, Simulation, and Operations Analysis in Afghanistan and Iraq Operational Vignettes, Lessons Learned and a Survey of Selected Efforts, (RAND Corpt, 2014), hal 1- 9, menjelaskan panjang lebar dan sangat komprehensif pengertian tentang assesment, evaluasi, ORSA (Operations Research & System Analysis), OR (operations research), SA (system analyses), maupun OA (operations analyses).

[7] Paul J. Gertler, et-all, 5 persons, Impact Evaluation in Practice, (IDB, 2016), halaman 3.

[8] Ibid,

[9] Riset (kajian) tentu berbeda dengan apa-apa (seperti kajian yang sering kita dengar) yang sudah biasa di-lakukan selama ini, riset butuh aplikasi kaidah ilmiah seperti model, kerangka pikir  yang komprehensif, pendekatan yang digunakan, hyphothesa, dan segudang data yang diperlukan, kualitatif atau kuantitatif atau campuran, dll…dan butuh waktu yang tidak pendek—sekurang-kurangnya riset operasional untuk kepentingan effektifitas operasional perlu di-galakkan.

[10] PIM (politik, ekonomi, militer), DIME (diplomacy, informational, military dan economics), atau MIDLIFE(military, Informational, Diplomatic, Legal, Intelligence dan Economics), terserah pemerintah memilih trio mana.

[11] a.Dept Homeland Security (DHS), The National Strategy for Maritime Security, DHS US dan negara barat lain menyebut strategi di domain maritim—-the national strategy for maritime security (bukan the maritime’s strategy).Ioannis Chapsos & James A Malcolm, Maritime security in Indonesia: Towards a comprehensive agenda?, (Journal, Marine Policy 76: 178–84)…. The UK laid out five maritime security objectives ([33]: 9–10). These focused on [1] securing the international maritime domain, [2] developing maritime governance capacity, [3] protecting overseas territories, [4] securing global trade and energy routes, and [5] protecting the UK and its territories against “illegal and dangerous activity, including serious organised crime and terrorism”. Semua negara yang memiliki pengawal pantai hampir semuanya menyebutkan maritime (domain maritime)—masih lebih besarkah urusan laut, samudra, litoral, pantai, sungai bahkan danau dibandingkan urusan dalam domain maritim?, pen. Sumber resmi Inggris lebih suka menyebut domain maritim mengait dengan strategi pertahanan maritim (Angk Laut) ataupun strategi nasional untuk keamanan maritim (Coast Guardnya)—“…the advancement and protection of the UK’s national interests, at home and abroad, through the active management of risks and opportunities in and from the maritime domain, in order to strengthen and extend the UK’s prosperity, security and resilience and to help shape a stable world.” Definisi keamanan maritim sendiri cukup jelas menggunakan model Bueger yang membagi wilayah domain maritim dalam keamanan dan keselamatan maritim.

[12] Richard C. Larson & Edward H. Kaplan, Decision-Oriented Approaches to Program Evaluation, (Journal, New Directions for Program Evaluation, 10, 1981), halaman 49.

[13] Bisa saja patroli di-lakukan untuk aksi khusus, misal: interdiksi, intersept, SAR, berburu kapal selam, intai, dll, namun kebanyakan di-laukan saat krisis, konflik atau perang.

[14] Ioannis Chapsos & James A. Malcol, Maritime security in Indonesia: Towards a comprehensive agenda? (Malcolm Centre for Trust, Peace & Social Relations, Coventry University & Journal Maritime Policy, Elsevier),…hal 179-180, Sarif Widjaya dari KKP tahun 2015, mengatakan “…fighting transnational crime, including people smuggling and human trafficking, is key to Indonesia’s maritime security and integral to the government’s design to establish Indonesia as a Global Maritime Axis “.

[15] Ibid,…menarik karena agenda pertemuan tingkat akademik tentang isu yang terjadi di-domain maritim di-Indonesia telah di-laksanakan di Indonesia….Indeed, in recent years this proliferation of the issues under focus relating to security in the maritime domain has been met by increased efforts on a more macro-level to map out a ‘maritime security studies’ agenda, and establish associated academic infrastructure (agenda termasuk di Indonesia, di-UI, Unhan, UGM & Conventry Univ/UK).

[16] Konsep ini lebih dikenal sebagai konsep effektitfitas-biaya (berbeda degan manfaat-biaya bagi proyek atau kegiatan yang bisa diukur dengan konsekuensi rupiah atau dolar) menggunakan dua variabel yakni besaran effektifitas (berbasis MOE) dan konsekuensi dukungan atau biaya (biaya bukan anggaran atau tidaklah sama dengan anggaran). Biaya lebih merupakan konsekuensi upaya, risiko, orang, material, korban, kecelakaan, meninggal, dll.

[17] Guidelines for Project and Programme Evaluations, (Final Draft, July 2009, Austrian Development Cooperation), halaman 2.

[18] Clark W Pritchett; Patrol:  Volume – I – Model Description and Analyst’s Guide, (U.S. Coast Guard Research And Development Center, Avery Point, Groton, Connecticut, Final Report, Sept 1986), halaman 3.

[19]  https://www.google.com/search?q=VBSS+meaning%2C&rlz=1C1CHBFenID793ID793&oq=VBSS+meaning%2C&aqs= chrome .. 6 9 i 57j0.4375j0j8&sourceid=chrome&ie=UTF-8….VBSS atau visit, board, search and seizure is a term used by law enforcement agencies for maritime boarding actions and tactics.

[20] Clark W Pritchett; Patrol:  Volume – I – Model Description and Analyst’s Guide, (U.S. Coast Guard Research And Development Center, Avery Point, Groton, Connecticut, Final Report, Sept 1986), halaman 4.

[21] Opcit, hal 7

[22] Pobabilitas deteksi kapal patroli tunggal, bisa dicari dengan membagi luas area deteksi (22/7 x radius Radar)/luas AOO—kedua variabel tersebut dengan mudah di-hitung. BIla kapal patroli, atau beberapa lebih dari dari 1, berapa probabilita deteksi kedua, atau tiga kapal patroli (gunakan kejadian union, maka probabilita union sama dengan probabilita penjumlahan masing masing).

[23] Probabilita Union = Probabilita kapal 1 + Probabilita kapal 2. Bila satu kapal, maka luas area deteksi (perimeter) radar kapal dibagi luas AOO (kalikan 100 %) adalah probabilita deteksi satu kapal, bila dua kapal berpatroli bersama dengan ciri-ciri radar yang sama, maka P deteksi dua kapal menjadi P deteksi kapal pertama  + P deteksi kapal kedua (union probability).

[24] Status misal: hujan, tdk hujan atau sakit, sembuh, meninggal, dll.

[25] Henk Tijms, Understanding Probability, halaman 462.

[26] Paul A Gagniuc; Markov Chains: From Theory to Implementation and Experimentation, (Wiley & Sons, 2017), halaman 39-40. Pengambilan keputusan kuantitatif berdasarkan kejadian sebelumnya, pen. Markov, Simulasi, dan semua teknik kuantitatif modern berbasis kuat kepada inferensial probabilita dan statistik. Misal, 2 status yang bisa terjadi disuatu area, yakni Sunny—S (matahari cerah), Rainy—R (hujan) periksa gambar dibawah ini. Berikut matrik transisinya:

 

 

 

P( S|S) artinya probablita besok (Sunny—S) akan cerah diketahui (given) sekarang matahari cerah sebesar  .20 (P (S|S )= 0.2), dst., Tanda | (slash) menunjukkan arti diketahui (given). P ( R|S ), artinya probabilita besok akan hujan (R—rainy), diikuti tanda | (slash) diketahui (given) sekarang cerah ( S—sunny), atau P ( R|S) =  .625 (gambar matrik ditulis  .63 ( ~ .625).

[27] Lance Champagne (US Air Force Institute Technology/US AFIT) & Raymond Hill (Wright State University), Search Theory: Agent-Based Simulation, and U-Boats in the Bay of Biscay, (Proceedings of the 2003; Winter Simulation Conference), hal 993.

[28] D J. White, Markov Decision Processes, (Wiley & Sons, 1993), halaman 2, 3. Contoh model rantai Markov dengan status I (I =2), dan masing masing status dibangun aksi k (k= 2), contoh dibawah ini untuk kasus  pemasaran mainan anak-anak (state=status):

…. untuk status i   dan aksi k

Rantai Markov untuk kasus patroli dengan dua (2) status (1 = deteksi & 2 = tidak terdeteksi) dengan masing masing dua (2) aksi, yakni: Status – 1 (terdeteksi), dengan k1 = lakukan VBSS dan k2 = tidak dilakukan VBSS. Status – 2 (tidak terdeteksi) dengan opsi aksinya, yakni k 1 =lanjutkan patroli tanpa dibantu drones dan k2 =lanjutkan patrol plus drones. Perancang pola harus benar-benar memahami teknik ini berikut peluang yang bisa dikembangkannya dan rantai Markov akan membantu sekali.

[29] Matthew R. MacLeod, (Center for Operational Research and Analysis, Defence Research and Development Canada, Canadian Forces Maritime Warfare Centre) & William M. Wardrop, (Defence Science & Technology Lab, Maritime Warfare Centre, HMS Collingwood, UK), Operational Analysis at Combined Maritime Forces, (International Symposium of Military Operations Research, July 2015), hal 2.

[30] Definisi keamanan maritim (maritime security—lagi-lagi maritim, bukan laut) sangatlah luas, bisa diperiksa melalui konsep pemikiran Buerger, dan atau Strategi nasional untuk keamanan maritime atau The National Strategy for Maritime Security, (beda dengan strategi pertahanan maritim atau the Maritime Defense Strategy) menggunakan versi beberapa negara seperti Inggris, US dan Australia dan negara negara lain (check Google) sebagai pembanding. Periksa laporan EU-Asia Dialogue, Konrad Adenauer Stiftung and European Union dengan judul, Maritime Security and Piracy; Common Challenges and Responses from Europe and Asia,…halaman 23…kurang lebihnya …To many observers, maritime security appears to be a large and sometimes nebulous concept. In fact, it has become a large area involving many entities from the international, public, and private sectors aiming at: [1] preserving the freedom of the seas,[2] facilitating and defending commerce, and [3] maintaining maritime good governance…. Transnational forces and irregular challenges continue to be the primary threat today aand in the forseeable future, especially in the maritime domain. Maritime security has to be distinguished from maritime safety. Maritime security is “the combination of preventive and responsive measures to protect the maritime domain against threats and intentional unlawful acts”. The key words are: preventive and responsive measures, aiming at both law enforcement as a civilian and military requirement and defense operations as a military, in this case, naval, requirement. Perhatikan isu dalam keamanan maritim (dan keselamatan) maritim selalu diletakkan dalam ruang domain maritim (fokus).

[31] Ben Connable, et-all, (5 personnels), Modeling, Simulation, and Operations Analysis in Afghanistan and Iraq Operational Vignettes, Lessons Learned, and a Survey of Selected Efforts, (RAND Corpt, 2014), hal 9,  periksa …For this report, the term analysis generally refers to the ways in which ORSA’s (operations research & system analyses) used standard and ad hoc tools to provide decision support to commanders. Both OA (or OR) and systems analysis have multiple, conflicting, and contested definitions. For purposes of simplicity, we group the use of operations and systems analysis together under the term analysis. OA (operations analysis), SA (system analysis dan OR (operations research) bisa saling tindih atau sama (relative) artinya dan tipis beda-nya.

[32] Analisis operasional atau mereka yang memiliki latar belakang kuantitatif yang kuat (OR, Math) untuk kepentingan kajian atau riset.

[33] Dari kata hashi (semacam narkoba juga).

[34] Ben Connable, et-all, (5 personnels), Modeling, Simulation, and Operations Analysis in Afghanistan and Iraq Operational Vignettes, Lessons Learned, and a Survey of Selected Efforts, (RAND Corpt, 2014), halaman 7, 8. Rangkaian kampanye di Irak staf Gugus Tugas gabungan koalisi di-dominasi mereka yang berlatar belakang OR/OA sampai ditingkat Brigade. Bahkan di Irak maupun Afghanistan… In Iraq and Afghanistan, intelligence analysts at the brigade level and above often use OR-derived charts to support their analyses. Sedemikian disadari utilitas OR/OA dalam kampanye militer dengan demonstrasi pengawakannya bukan hanya setingkat staf opts tetapi juga staf intelijen gabungan…dan ketrampilan seperti ini di-dominasi oleh mereka yang berlatar belakang OR (atau OA).

[35] Matthew R. MacLeod, (Center for Operational Research and Analysis, Defence Research and Development Canada, Canadian Forces Maritime Warfare Centre) & William M. Wardrop, (Defence Science & Technology Lab, Maritime Warfare Centre, HMS Collingwood, UK), Operational Analysis at Combined Maritime Forces, (International Symposium of Military Operations Research, July 2015), halaman 3.

[36] Ibid, halaman 12…..artinya mereka memandang tim OR/OA bermanfaat dilibatkan sebagai evaluator.

[37] RADM (Ret) Richard Lim, Preface, Engineering our Navy 50, Lessons from Engineering A Navy, DTC is the Secret – Edge Weapon of the SAF, Preface.

[38] Camilio Ernesto Segovia Forero, Development of a Model to Optimize Maritime Surveillance and Patrol Operations in Colombian Navy; halaman 4.

[39] Zachary C. Lukens, Ltn (US Navy), Optimizing Search Patterns for Multiple Searchers Prosecuting a Single Contact in the South China Sea, (Thesis US NPS, MS in OR/Applied Math, 2016, September), halaman 1,…Teori pencarian di-definisikan… how to distribute your resources to most efficiently (platform plus sensor dan sista) find something when you don’t know where it is, but you have some idea about where it might be and how it moves.

[40] Lance Champagne & R. Greg Carl (Air force institute of technology), Raymond Hill (Biomedical, Industrial & Human Factors Eng, Wright State University Dayton, OH), Search Theory, Agent-Based Simulation, and U-Boat in the bay of Biscay, halaman 991. Originally, Operations Research (OR) was defined as the “prediction of the effects of new weapons and tactics”.

[41] Plaform terbaik anti kapal selam sesungguhnya adalah kapal selam itu sendiri.

[42] Michele Pace, Stochastic models and methods for multi-object tracking, (Dissertation, Institut de Math´ematiques de  Bordeaux, France, Universit´e Bordeaux, Juillet, 2011), halaman 2, 3. Sedangkan problem ketidak pastian dalam teori pencarian versus sasaran tunggal (single object tracking) jauh lebih sederhana. Beberapa literatur menyebut problema lain tentang pelacakan terhadap obyek ganda (multiple object trackings) jelas jauh lebih rumit. Target seringkali disebut moving objects atau dibalik, sama artinya, pen.

[43] Lance Champagne & R. Greg Carl (Air force institute of technology), Raymond Hill (Biomedical, Industrial & Human Factors Eng, Wright State University Dayton, OH), Search Theory, Agent-Based Simulation, and U-Boat in the bay of Biscay, halaman 991.

[44] Henry R. Richardson & Lawrence D. Stone, Operations Analysis During The Underwater Search for Scorpion, (Journal MORS), halaman 141….disebut dalam abstrak-nya…. The a priori target location probability distribution for the search was obtained by Monte-Carlo (Teknik simulasi) procedures based upon nine different scenarios concerning the USS Scorpion loss and associated credibility weights. These scenarios and weights were postulated by others. USS Scorpion was found within 260 yards of the search grid cell having the largest a priori probability. Frequent computations of local effectiveness probabilities (LEPs) were carried out on scene during the search and were used to determine an updated (a posteriori) target location distribution, dan halaman 144….menunjukkan perbedaan yang tidak begitu jauh antara probabilita (apriori probability) posisi serpihan kaal selam dengan deteksi riil yang didapat beberapa saat kemudian.

[45] Teknik ini lebih populer dengan sebutan teknik Monte Carlo.

[46] Kasus kasus bisa diselesaikan dengan solusi single objectives —maksimalkan/meminimalkan…., atau solusi multiple objectives, misal: untuk platform  kelas A tentukan waktu pencarian terbaik, untuk kelas B tentukan waktu terlama di AOO, dll.

[47] Xiao Zhou, et-all, Integrating Island Spatial Information and Integer Optimization for Locating Maritime Search and Rescue Bases: A Case Study in the South China Sea, (International Journal of Geospatial Information, 2019), halaman 2.

[48] José Manuel Landa Borges, LCDR Venezuelan Navy, Radar Search and Detection with the CASA 212 S 43 Aircraft, (Thesis US NPS, MS in Operations Research, Dec 2004), halaman 5.

[49] Kapal selam modern konvensional (diesel elektrik) dengan teknologi Air Independent Propulsion (AIP) memungkinkan kapal selam untuk menyelam di bawah air selama berminggu-minggu, jauh lebih lama dibandingkan kapal selam tanpa AIP yang hanya beberapa hari saja.  Berapa frekuensi timbul akan sangat tergantung kepada kapasitas batteray yang ada, keinginan Komandan kapal untuk mengintai situasi sekelilingnya atau updating posisi visual (memancarkan radar navigasi apabila darurat saja mungkin, pen). Periode ini bisa saja menggunakan model rantai Markov untuk menemukan probabilt tarnsisi kapan saatnya kapal selam menyelam penuh atau sedalam periskop. Parameter kapan saat muncul dan lama periskop diatas air bisa di-kalkulasikan dengan model Markov, pen.

[50] José Manuel Landa Borges, LCDR Venezuelan Navy, Radar Search and Detection with the CASA 212 S 43 Aircraft, (Thesis US NPS, MS in Operations Research, Dec 2004), halaman 44.

[51] MOE atau measures of effectiveness.

[52] José Manuel Landa Borges, LCDR Venezuelan Navy, Radar Search and Detection with the CASA 212 S 43 Aircraft, (Thesis US NPS, MS in Operations Research, Dec 2004), halaman 43.

[53] Awalnya definisi patroli maritim adalah peasawat yang digunakan untuk memproses (rangkaian kill of chain/KOC) mulai deteksi, lokalisasi, klasifikasi, dan serang/hancurkan. Seri pesawat patmar yang popular adalah Neptune (P-2), dan paling popular lagi adalah seri P – 3 C (Orion), pesawat patmar tertentu saja dipenuhi dengan sensor dan senjata anti kapal selam. Sekarang patmar nampaknya sduah berkembang menjadi pesawat anti kapal permukaan dengan seri yang lebih canggih lagi yakni Nimrod (UK) dan P-8 Poseidon.

[54] KOC atau kill of chain.

[55] Merubah-rubah parameter atau variabel dalam analisis kuantitatif disebut sebagai analisis kepekaan.

[56] Ibid, halaman 47.

[57] Indeks unit cost seperti ini akan memudahkan menghitung berapa biaya yang diperkirakan (cost estimate) untuk mendukung riil suatu operasi pencarian per mil persegi per 1 pesawat, dll) dan dimasukkan dalam DUK,DIP,dll.

[58] Cost estimate (bukan kir-biaya) dengan beberapa pendekatan a.l: system engineering, parametric estimate, expert system, top-down, bottom-up, cost of quality, reserve analysis, dll. Cost analyses menjadi bagian majoring dari progdi Operations Research di-NPS.

[59] James DeShaw Rae, Analyzing the Drone Debates: Targeted Killing, Remote Warfare, and Military Technology, (Palgrave MacMilan, 2014), halaman 2. …. Penerbang drone bisa duduk santai di-suatu negara yang jaraknya ribuan mil dari zone terbang drone, pen.

[60] Alan Washburn & Moshe Kress (kedua-duanya dari US NPS, Dept OR), Combat Modeling, (Springer, 2009), Halaman 186,….Routing a UAV…

[61] Drone yang digunakan spesifik bagi kepentingan militer biasa disebut drone tempur atau UCAV (unmanned combat area vehicles).

[62] DoD, DoD Dictionary of Military and Associated Terms, (DoD, as of June 2019), beda pengamatan (surveillance) dengan pengintaian (reconnassaince) dan Intelligence; sbb: SurveillanceThe systematic observation of aerospace, cyberspace, surface, or subsurface areas, places, persons, or things by visual, aural, electronic, photographic, or other means. ReconnaissanceA mission undertaken to obtain, by visual observation or other detection. Intelligence—is sent out to investigate a certain object in a certain location.

[63] Ben Connable, Embracing the Fog of War: Assessment and Metrics in Counterinsurgency, (RAND CORPT, 2012), halaman 224, … artinya kl, …begitu terima jabatan atau tanggung jawab, lupakan yang lalu berpikirlah mendatang, jangan cerita lagi yang dulu dulu…(apalagi pribadi)atau mengatakan pejabat lama sudah baik, saya  tinggal melanjutkan (rutinitas lagi!!), haruslah disadari bahwa rutinitas, belum menjamin pekerjaan yang sudah dilakukan betul-betul baik (antara doing the thing right dengan doing the right thing). Sesuatu yang baru tentu saja saja akan sulit  permulaannya—misal: membuat format evaluasi yang baru, laporan, kalkulasi AOO yang lebih serius, dll.

[64] Pada dasarnya semua evaluasi adalah laporan.

[65] Manajemen bisa berada ditangan pejabat senior atau Pembina atau pimpinan atau bahkan pemimpin langsungnya.

Grand Strategy, Globalisasi 4.0 dan Tantangan Keamanan Nasional Indonesia: Sebuah Refleksi Bersama sebagai Anak Bangsa

Justice is within a soul . . . the soul or inspired intelligence is about the continuous search for meaning and purposes

  • Pengantar

Perdebatan mengenai Grand Strategy Indonesia merupakan salah satu perdebatan yang selalu hangat terjadi dikalangan baik militer, pemangku kepentingan dan pembuat kebijakan serta akademisi di Indonesia. “Apakah kita mempunyai Grand Strategi?”, jika tidak “bagaimana kita membangun sebuah grand strategi?”. Namun lebih penting lagi adalah menentukan “apa yang kita mau atau apa yang hendak kita capai (ends or goals)”; “dengan atau cara (means) apa yang akan kita lakukan untuk mencapai tujuan tersebut”. Pertanyaan-pertanyaan tersebut nampak sederhana, namun bagi sebuah bangsa yang besar seperti Indonesia, menjawab atau menentukan jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan mendasar seperti demikian bisa jadi merupakan tantangan tersendiri. Hal tersebut menjadi semakin menantang ketika bangsa dihadapkan para era dan perkembangan baru yang tengah terjadi. Terdapat setidaknya empat hal yang menurut penulis menantang bangsa Indonesia untuk menjawab atau mempertahankan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan diatas, yakni: (a) Perkembangan teknologi dan perubahan zaman yang dihadapi serta dampaknya terhadap kehidupan masyarakat; (b) tantangan geografis dan demografis yang saat ini dihadapi bangsa Indonesia; (c) persaingan negara-negara besar dan tantangan kawasan; (d) tantangan global lainnya yang harus dihadapi di era globalisasi 4.0. Disamping itu, ditahun 2014 lalu kita diperkenalkan dengan visi Poros Maritim Dunia yang pada intinya adalah keinginan bangsa Indonesia untuk kembali kepada fitrahnya sebagai bangsa maritim, mengembalikan kejayaannya sebagai bangsa maritim dan menjadi poros maritim dunia. Dapatkah visi tersebut dikatakan sebagai kepentingan nasional Indonesia dan merupakan pengejawantahan dari tujuan dasar bangsa Indonesia sebagaimana disebutkan dalam alinea keempat UUD 1945?. Dapatkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) dikategorikan sebagai grand strategy atau strategi nasional Indonesia?. Tulisan ini tidak akan menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut secara menyeluruh dan sempurna, melainkan sebagai refleksi bersama ditengah tantangan, ketidakpastian dan kebingungan yang kita hadapi bersama di era yang sedang dan akan kita hadapi dimasa depan.

  • Landasan Teori: Grand Strategy

Semula, grand strategy adalah konsep yang dikembangkan dan diaplikasikan oleh sejarahwan militer yang dimaksudkan pada strategi yang secara sengaja digunakan oleh para pejabat untuk memenangkan perang dan menciptakan kondisi untuk perdamaian di masa depan, dengan menggunakan sumber daya diantara semua sumber daya bangsa (Silove, Nina. 2017. P. 30). Konsep original dari grand strategy tersebut kemudian dipinjam dan diaplikasikan oleh para cendikiawan dan komentator untuk untuk menunjukkan beberapa fenomena. Walaupun istilah grand strategi menjadi sangat popular terutama pasca berakhirnya perang dingin, pertanyaan mengenai bagaimana mendefinisikan grand strategy, ‘apakah haltersebut ada?’, ‘apakah disengaja atau tidak?’, ‘apakah sebuah grand strategy itu konstan atau fleksibel?’, ‘apakah semua negara dapat atau punya grand strategy?’, masih merupakan pertanyaan besar dalam studi ini.

Jikapun demikian, para cendikiawan secara umum menyetujui bahwa yang dimaksuddengan grand strategi merujuk pada sesuatu yang bersifat jangka Panjang dalam jangkauannya, berkaitan dengan prioritas tertinggi dari negara, dan meliputi dengan semua bidang keterampilan seorang negarawan atau sphere of statecraft, termasuk didalamnya bidang militer, diplomasi dan ekonomi. Untuk mengembangkan sebuah grand strategy baru, adalah penting untuk berfikir dalam terminologi tujuan (ends) dan sarana (means) dan pada saat yang bersamaan memproyeksikannya ke dalam kepentingan jangka panjang dan mempertimbangkan semua aspek kenegaraan (statecraft). Untuk dapat mengembangkan grand strategy yang baik, tujuan dan sarana harus direkonsiliasi dan strateginya harus koheren, dalam arti elemen-elemen dari startegi tersebut tidak boleh bekerja tumpang tindih atau bersebrangan.

Robert J. Art menyebutkan bahwa “the most fundamental task in devising a grand strategy is to determine a nation’s national interests”, atau dengan kata lain, salah satu hal yang paling mendasar dan sulit dalam merencakan sebuah strategi raya adalah menentukan kepentingan nasional bangsa. P.H Liotta menyebutkan “kepentingan nasional juga menjawab pertanyaan mendasar namun penting tentang ‘what are we willing to die for?’ atau apa yang kita rela mati?”. Robert J. Art melanjutkan “setelah  hal tersebut teridentifikasi, hal-hal tersebut akan: Pertama, mendorong kebijakan luar negeri dan strategi militer bangsa; Kedua, menentukan arah dasar yang harus ditempuh, jenis dan jumlah sumber daya yang dibutuhkan, dan; Ketiga, gaya atau sikap yang negara harus gunakan untuk sukses. Karena peran kepentingan nasional yang sangat penting tersebut, maka dari itu penentuan atau identifikasi kepentingan nasional harus dilakukan dengan sangat hati-hati.

Sampai pada titik ini, kita memahami bersama bahwa pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia tahun 1945 alinea ke-4 merupakan fundamental of national goals of Indonesia, tujuan dan cita-cita tertinggi bangsa Indonesia. Hal diperlukan selanjutnya adalah pengelaborasian dari fundamental national goals tersebut kedalam tujuan nasional yang lebih terperinci dan operasional, adanya pemberian skala prioritas dan jangka waktu, dan yang terpenting adalah kalkulasi dan koordinasi yang baik antara tujuan yang ingin dicapai dengan sarana atau cara yang digunakan. Apa yang dimaksud dengan “melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia”?, pertahanan, keamanan, integritas territorial, persatuan dan kesatuan Indonesia sebagai wilayah, negara dan bangsa. “Memajukan kesejahteraan umum” tidak hanya berarti economic wellbeing, tetapi lebih luas termasuk keadilan dan pemerataan kesejahteraan – baik ekonomi, sosial dan pembangunan-; keamanan dan stabilitas finansial; kesehatan dan seterusnya. “Mencerdaskan kehidupan bangsa” berkaitan akses terhadap dan kesempatan untuk mendapatkan pendidikan yang layak dan pendidikan yang lebih tinggi, sumber daya dan aktualisasi diri bangsa Indonesia.

Kemudian, “Ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial” juga tidak hanya dicontohkan dengan keterlibatan atau peran aktif Indonesia dalam peace keeping operation PBB, melainkan juga bagaimana menciptakan tatanan dan lingkungan yang mengelilingi ruang hidup (lebensraum) bangsa dan negara Indonesia – baik itu regional, internasional dan global- yang mendukung (favorable) pencapaian cita-cita dan kepentingan nasional Indonesia berdasarkan penghormatan terhadap nilai-nilai kemerdekaan (mutual respect and human rights), perdamaian abadi dan keadilan sosial. Visi Poros Maritim Dunia, menurut hemat penulis, dengan demikian lebih merupakan suatu pengingat dan penggugah kembali bahwa untuk mencapai tujuan nasional atau cita-cita dasar negara dan bangsa Indonesia seperti diatas adalah dengan kembali pada realitas geografis dan jati diri bangsa Indonesia sebagai bangsa maritim yang merupakan negara kepulauan terbesar di dunia yang berada di posisi silang dunia antara dunia samudra dan dua benua dan berada di kawasan yang begitu berwarna dan dinamis. Pun demikian, terminologi maritim disini perlu dipahami dengan baik dan dibedakan dengan terminologi ‘kelautan’ semata.

Dengan demikian, apakah Indonesia mempunyai Grand Strategi? Boleh dikatakan belum saat ini. Dalam kajian akademik, mengidentifikasi apakah grand strategy itu ada dan seterusnya, pada dasarnya bergantung pada apakah grand strategy tersebut dikonseptualisasikan sebagai sebuah rencana (a plan), sebuah prinsip (a principle), atau sebagai sebagai pola perilaku (a pattern of behaviour). Nina Silove menyebutkan, secaraumumyang dimaksuddengan grand strategidapatdilabelikedalamtigapelabelanyakni yang termasukdalam label ‘grand plans’, ‘grand principles’, dan ‘grand behaviour’.

  1. Grand Plans (refers to a deliberate, detailed plan devised by individuals): Liddle Hart adalah satu tokoh dalam aliran ini. Ia mengobservasi bahwa ada strategi yang lebih tinggi dari sekedar strategi yang ia namai grand strategi. Liddle Hart menyebutkan:

“while practically synonymous with policy which guides the conduct of war, as distinct from the more fundamental policy which should govern its objects, the term ‘grand strategy’ serve to bring out the sense of ‘policy in execution’. For the role of grand strategy is to coordinate and direct all the resources of a nation, or band of nations, toward the attainment of the political object of the war – the goal defined by fundamental policy.”

Salah satu contoh kontemporer nyata dari konsep grand strategy as a grand plan ini adalah dokumen kebijakan keamanan nasional Amerika Serikat (US National Security Strategy). Dokumen tersebut menunjukkan kepentingan, tujuan dan objektif Amerika Serikat; kebijakan- kebijakan, komitmen pandangan dunia (worldview commitment), dan kapabilitas yang diperlukan untuk mencapai objektif-objektif tersebut; dan penggunaan elemen kekuatan nasional untuk mencapai tujuan (goals) itu.

  1. Grand Principles (refers to an organizing principle that is consciously held and used by individuals to guide their decisions): dibandingkan menekankan pada rencana detail, blueprint atau ‘buku resep’, grand strategi bagi cendikiawan dan komentator dalam tradisi ini adalah tentang “an overarching guide”, “a framework”, “a basic strategic view”, “critical considerations”, “overarching foreign policy doctrine”, atau “sets of ideal shared by policy makers”. Oleh karenanya konsep grand strategy ini dikenal dengan istilah ‘grand principle”. Pemikiran dasar dari tradisi ini dapat dicontohkan dengan pernyataan Colin Duek berikut:

“if we define grand strategy -wrongly- as simply a prefabricated plan, carried out to the letter against all resistance, then clearly no president and probably nor world leader has ever had such strategy, nor ever will. But if we adopt a less stringent definition, we see that all presidents necessarily make choices and decisions in relations to US foreign policy and national security policy, based at least partially upon their own preexisting assumptions”

Namun perlu digaris bawahi, bahwa pernyataan diatas memuat dua hal yang berbeda, yakni keberadaan sebuah plan, dengan pengimplementasian plan tersebut.

  1. Grand Behaviour (refers to a pattern in state behaviour): Berbeda dengan dua tradisi sebelumnya yang menekankan pada adanya ‘deliberate or conscious action’ atau unsur kesengajaan, grand startegy dalam tradisi ini di konseptualisasikan sebagai pola perilaku atau dengan kata lain pola itu sendiri adalah grand strategy. Singkatnya, dalam tradisi ini konsep grand strategy merujuk pada pola perilaku yang muncul bersamaan dengan ketika negara membuat pilihan-pilihan besar (grand choices) walaupun tanpa ‘pendekatan yang jelas’ terhadap kebijakan ataupun ‘rencana yang realistis’ untuk mengalokasikan sumber daya. Ini mensugestikan bahwa pemimpin bisa saja mengikuti logika dari grand strategy mereka secara ‘sadar maupun tidak sadar’ dan bahkan secara tidak langsung menyatakan bahwa grand startegy dapat dibuat dengan dengan cara-cara istimewa atau berulang.

Secara teoritis, ketiga jenis grand strategy tersebut masing-masing menyediakan kerangka kerja yang berberda dan berguna dalam mengidentifikasi atau menganalisis grand strategy negara lain. Namun pada praktiknya, dalam kaitannya dengan pertanyaan grand strategy Indonesia, secara umum peneliti, akademisi dan praktisi di Indonesia menyetujui bahwa Indonesia saat ini belum memiliki apa yang dimaksud dengan grand strategy. Indonesia mempunyai modalitas yang luhur, dengan ideologi Pancasila, fundamental of national goals yang tercantum dalam alinea keempat UUD 1945 dan visi Poros Maritim Dunia sebagai dasarnya. Namun untuk dapat mengidentifikasi kebijakan dan tujuan turunan, kemudian pembangunan startegi di masing-masing bidang yang terkoordinasi dan terkonsolidasi dengan baik satu sama lain, pengorkestraan semua elemen kekuatan nasional dan sarananya, dan seterusnya masih memerlukan proses ‘rembukan’ yang panjang yang rumit. Terlebih Indonesia belum mempunyai sejenis National Security Council dan masing-masing lembaga/kementerian dapat memiliki persepsi yang berbeda dalam mendefinisikan dan menurunkan tujuan fundamental negara dan visi misi yang ada. Dengan demikian, harmonisasi dan pengorkestraan setiap kebijakan dan strategi turunan yang dilahirkan belum dapat maksimal, efektif, efisien dan komprehensif dalam mencapai tujuan nasional tersebut. Dokumentasi, seperti halnya dilakukan Amerika Serikat dengan National Security Strategy document-nya, merupakan salah satu faktor lain yang menjadi pertimbangan, terutama dalam kaitannya dengan proses pengawasan dan evaluasi.

Adapun beberapa hal lain yang perlu diperhatikan dalam merancang sebuah grand strategi yang baik adalah berkaitan dengan kondisi internal dan eksternal yang telah, sedang dan yang paling penting adalah memprediksi/ imaginasi trend di masa yang akan datang. Oleh karena sifat grand strategy yang menekankan pada perencanaan jangka panjang dan harus mempertimbangkan seluruh aspek kenegaraan dan elemen kekuatan nasional. Beberapa hal yang akan digarisbawahi dalam pembahasan selanjutnya yakni: Perkembangan teknologi dan perubahan zaman yang dihadapi serta dampaknya terhadap kehidupan masyarakat;  tantangan geografis dan demografis yang saat ini dihadapi bangsa Indonesia; persaingan negara-negara besar dan tantangan kawasan; tantangan global lainnya yang harus dihadapi di era industri dan globalisasi 4.0.

 

  • Revolusi Industri dan Globalisasi 4.0

Revolusi Industri 4.0 sudah ada dihadapan kita. Demikian dengan pengaruhnya terhadap kehidupan kita sebagai individu, masyarakat, anak bangsa dan bangsa-bangsa. Kekhawatiran, ketidakpastian, rasa tidak aman dan kebingungan yang dirasakan kita sebagai anak bangsa dalam beberapa tahun terakhir barangkali merupakan salah satu dampak dari perkembangan teknologi dan perubahan di dalam masyarakat yang terjadi. Demikian, kita pun harus mulai dengan memahami betapa dalamnya konteks tata kelola (governance) dan kerjasama berubah akibat revolusi industri 4.0 ini. Kecerdasan buatan dan machine learning, internet of things (IoT), kendaraan tanpa awak, drone,  akurasi pengobatan dan rekayasa gen, smart grids, robotik, Big Data dan berbagai perkembangan teknologi lainnya mentransformasi ekonomi, bisnis, masyakat, politik bahkan identitas manusia.

Transformasi teknologi ini menghadirkan tantangan yang fundamental ke dalam cara ekonomi dan masyarakat mengorganir dirinya di dalam kebijakan domestik dan bagaimana komunitas internasional bekerjasama melalui institusi-institusi dan kesepakatan-kesepakatan. Dengan demikian, kebutuhan akan model kebijakan dan kesepakatan kerjasama baru akan sangat dibutuhkan – baik ditingkat domestik maupun antar negara dan global- untuk membantu masyarakat memaksimalkan keuntungan yang dapat diambil dari perkembangan dan perubahan yang terjadi dan memitigasi resiko-resiko dari hal tersebut. Oleh karena perkembangan teknologi dan perubahan di masyarakat (ie. Produsen –distributor – konsumen) akan mengubah banyak hal dalam kegiatan ekonomi masyarakat, bisnis dan industri yang kemudian akan menggeser sifat kompetisi dalam produk domestik, kapital dan pasar tenaga kerja termasuk startegi perdagangan dan investasi internasional negara. Namun yang paling banyak digarisbawahi bahwa perubahan tersebut akan semakin memperlebar ketimpangan ekonomi dan sosial didalam masyarakat dan mengakibatkan terjadinya dislokasi pekerja dan komunitas dalam skala dan kecepatan yang tidak teratur.

Gelombang tantangan teknologi tersebut juga bertepata dan berinteraksi dengan tiga transformasi penting yang sama-sama sedang terjadi dalam konteks ekonomi dan politik global saat ini, yakni semakin mendesaknya isu ekologi yang dihadapi bumi dan umat manusia saat ini, tidak terbatas hanya isu pemanasan global tetapi juga isu-isu lainnya seperti overfishing dan sampah; semakin multipolarnya hubungan antarnegara dan pluralisasi ekonomi dunia (ekonomi, perdagangan dan permodalan/ finance), dan; semaking meningkatnya ketidakpuasan sosial didalam banyak negara mengenai ketimpangan ekonomi- sosial dan hasil pertumbuhan ekonomi.

Transformasi-transformasi yang terjadi tersebut kemudian melahirkan fase baru dalam globalisasi, yakni globalisasi 4.0, yang arahnya akan sangat bergantung pada sebagaimana baiknya tata kelola (governance) dalam berbagai level –pemerintah, korporasi dan internasional- beradaptasi terhadap perubahan tersebut. Memodernkan arsitektur tata kelola untuk meningkatkan efektifitas didalam era ini dengan demikian akan membutuhkan pelibatan yang lebih luas dan imaginasi yang lebih kuat dari setiap pemangku kepentingan. Hubungan secara langsung, dialog terbuka akan sangat krusial, demikian dengan kemampuan imaginasi untuk berfikir secara sistematis yang terkadang semakin sulit dilakukan individu di era terlalu banyaknya distraksi dan informasi ini, terlebih diluar waktu pertimbangan kelembangaan institusi dan pemerintah negara-negara yang relatif pendek.

Menilik kebelakang, Shaman Richard dari World Economic Forum (2019) menyebutkan bahwa secara umum ada tiga fase integrasi ekonomi di era modern. Pertama adalah periode sebelum tahun 1914 ketika imigrasi dan permodalan lintas batas serta arus perdagangan sangatlah tinggi bahkan untuk standar kontemporer, namun arsitektur institusional global masih sangatlah terbatas. Oleh karenanya orang-orang bebas melakukan perjalanan dari satu negara ke negara lainnya tanpa menggunakan passport, kebijakan imigrasi bebas dari pembatasan pemerintah dan hanya ada sejumlah institusi dan kesepakatan ekonomi internasional yang ada seperti the International Telegraph Union (1865), Universal Postal Union (1874), International Association of Railway Congresses (1884) and International Sanitary Convention (1892).

Globalisasi fase kedua terjadi pasca Perang Dunia II hingga akhir tahun 1990an dimana telah banyak arsitektur ekonomi global telah lahir baik itu dibidang perdagangan, finansial dan intitusi serta kesepakatan pembanguna. Demikian, perusahaan-perusahaan multinasional berkembang dan merambah dengan cepat keseluruh belahan dunia. Hal tersebut didorong tidak hanya karena meluasnya kebijakan liberalisasi, tetapi juga karena perkembangan teknologi terutama teknologi komunikasi. Fase ketiga terjadi pasca tahun 1990an hingga beberapa tahun belakangan dan ditandai dengan munculnya internet, terbentuknya Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) dan masuknya China secara formal kedalam sistem perdagangan dunia melalui organisasi tersebut. Perkembangan teknologi terutama teknologi informasi dan komunikasi seperti internet  merupakan peningkatan yang paling penting dalam peiode ini. Begitupun dengan teknologi alat managemen resiko finansial dikombinasikan dengan liberalisasi perdangan dan kapital yang terus berlanjut, khususnya melalui perjanjian perdagangan kawasan (Regional Free Trade Agreement) dan perjanjian perdagangan bilateral yang semakin banyak dan intens, mendorong integrasi pasar dan ekspansi value chains lintas batas menuju titik puncak baru.

Globalisasi fase keempat atau globalisasi 4.0 kini sedang terbentuk. Akan tetapi, kasus Brexit, pergeseran kebijakan Amerika Serikat di bawah pemerintahan Donald Trump, dan perkembangan isu-isu seputar isu imigrasi, privasi dan keamanan data, China Belt and Road Initiatove, perbedaan kecepatan integrasi negara-negara Uni Eropa dan dampak otomatis dari perkembangan teknologi terhadap pekerjaan dan perkembangan ekonomi dimasa depan nampaknya mensugestikan bahwa kita akan memasuki era baru dimana banyak hal-hal dari periode sebelumnya tidak akan berlaku lagi. Sebagaimana pendahulunya, globalisasi 4. 0 juga akan dibentuk oleh kombinasi dari keputusan-keputusan tata kelola (governance) dan perkembangan teknologi.

Sebagaimana perkembangan teknologi mengubah sistem kesehatan, transportasi, komunikasi, produksi, distrbusi, energy, kehidupan masyarakat sehari-hari, beberapa diantaranya, maka kontruksi sinergi baru antara kebijakan dan institusi publik dengan perilaku dan norma korporasi akan sangat dibutuhkan, terutama penenkanan terhadap aspek kemanusiaan sangatlah krusial di era ini. Selain itu, kita tidak sedang menghadapi pilihan jelas antara perdagangan bebas dengan proteksionisme, teknologi dengan pekerjaan, imigrasi dengan identitas nasional, atau pertumbuhan ekonomi dengan keadilan sosial. Namun lebih terkemukanya polemik-polemik tersebut dalam diskursus politik kontemporer (domestik maupun global), mengilustrasikan betapa tidak siapnya kita bagi globalisasi 4.0 ini.

 

  • Tantangan dan Ancaman terhadap Keamanan Nasional Indonesia

Tantangan dan ancaman terhadap keamanan nasional Indonesia akan semakin meluas dan beragam di dalam tahun-tahun kedepan, beberapa diantaranya didorong oleh perkembangan teknologi dan dampaknya terhadap masyarakat, tantangan demografis dan geografis, persaingan negara besar dan tantangan kawasan serta ancaman-ancaman global lainnya.

  1. Perkembangan Teknologi dan Dampak terhadap Masyarakat

Salah satu modalitas dan kekuatan terbesar bangsa Indonesia adalah persatuan dan kesatuan NKRI yang walaupun berasal dari latar belakang suku, ras, agama, budaya dan kepercayaan yang berbeda-beda, namun hal tersebutlah yang menjadikan bangsa ini begitu indah dan berwarna. Sikap dan kebiasaan gotong royong, moderasi dan toleransi, musyawarah mufakat, tolong menolong, menghargai dan menghormati perbedaan, tenggang rasa, kesederhanaan dan sopan santun merupakan beberapa karakteristik yang menjadi kekhasan bangsa Indonesia yang mempersatukan dan menjadikannya kuat hingga hari ini. Nilai-nilai tersebut nampaknya semakin tergerus dan mendapatkan tantangan seiring dengan perkembangan zaman, globalisasi dan perkembangan teknologi yang semakin massif. Tidak dapat dihindari, oleh karena perkembangan teknologi, komersialisasi dan difusi inovasi merupakan  proses sosial yang terjadi bersamaan dengan pertukaran dan perkembangan ide-ide, nilai, norma, kepentingan dan normal sosial dalam berbagai konteks yang terjadi diantara individu masyarakat. Oleh karena itu pula sangatlah sulit untuk dapat melihat dampak sosial dari sistem teknologi baru terhadap masyarakat secara utuh. Namun tantangan terbesar yang dihadapi masyarakat saat ini adalah bagaimana menyerap dan mengakomodasi perubahan dan modernitas baru dan pada saat yang bersamaan tetap memeluk dan menjaga aspek-aspek sistem nilai tradisionalnya. Revolusi industri 4.0, yang menguji banyak asumsi fundamental kita, bisa menjadi salah satu faktor penting yang memperkeruh gesekan yang ada di masyarakat. Baik itu antara kelompok masyarakat religius yang mempertahankan nilai-nilai fundamental mereka dengan  mereka yang keyakinannya dibentuk oleh pandangan dunia yang lebih sekuler, antara kelompok minoritas dengan mayoritas dan seterusnya, terlebih di dalam masyarakat Indonesia yang pluralistik.

Hal tersebut diperparah dengan berbagai dampak revolusi industri 4.0 terhadap kemampuan dan keahlian sosial manusia seperti empati dan kepedulian yang merupakan modal penting persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Hubungan kita dengan smartphone misalnya. Fakta bahwa hampir semua pemilik smartphone selalu terkoneksi dengan perangkatnya dapat menghilangkan salah satu aset paling penting dalam hidup kita, yakni waktu untuk berhenti, merefleksikan diri dan terlibat dalam perbincangan substantif tanpa terganggu, melibatkan atau dibantu melalui sosial media. Seorang penulis teknologi dan budaya, Nicholas Carr, menyatakan bahwa semakin banyak waktu yang kita gunakan tenggelam di dalam dunia digital, semakin dangkal pula kemampuan kognitif kita karena fakta bahwa kita berhenti mengasah perhatian kita. Perhatian kita menjadi mudah terpecah. Sering terjadinya interupsi memecah pikiran kita, melemahkan daya ingat kita dan menjadikan kita mudah tegang dan gelisah. Kita juga ketahui bersama bahwa di era ini informasi begitu mudah untuk didapatkan bahkan saking banyaknya sehingga terkadang kita kewalahan dan bingung mau memilih atau mempercayai informasi yang mana. Kombinasi antara semakin melemahnya kemampuan dan keahlian sosial masyarakat; berkurangnya kemampuan kognitif, waktu untuk berhenti, merefleksikan diri dan memberikan perhatian pada dunia sekitarnya; dengan semakin mudahnya masyarakat untuk merasa tegang dan gelisah sebagai akibat dari intens-nya hubungan kita dengan teknologi tentu bukanlah modalitas yang positif bagi keamanan dan persatuan dan kesatuan bangsa.

  1. Tantangan Demografis dan Geografis

Tantangan demografis dan geografis yang dihadapi Indonesia merupakan salah satu poin yang mendapatkan penekanan khusus dalam tulisan ini. Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia dengan jumlah pulau lebih dari 17.000 . Jarak tempuh dari ujung paling Barat Indonesia ke ujung paling Timur, kerap disamakan dengan jarak dari kota London ke Istanbul, Turki. Namun demikian, pemerataan pembangunan dan ekonomi  dan terutama persebaran penduduk masih terpusat di Pulau Jawa. Yang menjadi kekhawatiran adalah asumsi bahwa semakin padat penduduk di suatu kawasan atau kota tertentu, maka akan semakin mudah bagi lahirnya kecemburuan sosial, semakin mudah memanas dan terjadinya gesekan sosial yang pada kahirnya berpotensi untuk menyulut terjadinya konflik, bahkan lebih jauh lagi, perang sipil. Terlebih di era revolusi industri 4.0 ini, dimana penggunaan teknologi sudah begitu merekat didalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Penggunaan smartphone dan sosial media, kembali menjadi salah satu contoh yang paling nyata yang sudah kita rasakan hari ini. Fenomena post-truth, fakenews, mobilisasi gagasan, transaksi belanja permodalan (fintech), hingga gaya hidup dan kosumerisme  semuanya dapat mendatangkan resiko yang tidak kecil.

Selain itu, kekhawatiran akan semakin meluas dan meningkatnya ketimpangan ekonomi dan sosial sebagai akibat dari revolusi industri 4.0 merupakan salah satu faktor penting yang dapat semakin memperburuk kondisi diatas –demografi dan geografi.  Oleh karena masalah kesenjangan bukan masalah ekonomi semata, melainkan merupakan tantangan besar bagi masyarakat.  Dalam bukunya yang berujudul “the Spirit Level: Why Greater Equality Makes Societies Stronger”, Richard Wilkinson dan Kate Pickett menunjukkan data yang mengindikasikan bahwa masyarakat yang timpang cenderung pada kekerasan, jumlah tahanan penjara tinggi, lebih mudah terkena penyakit mental  dan cenderung memiliki tingkat kepercayaan yang rendah.  Semakin tinggi  tingkat ketimpangan di dalam masyarakat, juga berpotensi meningkatkan segregasi dan mengurangi hasil pendidikan bagi anak-anak dan pemuda. Dalam global Risk Report 2018, dinatra 29 resiko global dan 13 trend global yang teridentifikasi , interkoneksi paling kuat muncul antara meningkatnya ketimpangan pendapatan, pengangguran dan underemployment dengan instabilitas sosial tinggi.  Sebagaimana dibahas sebelummnya, bahwa dunia dengan konektifitas tinggi dan ekspektasi yang juga tinggi dapat menciptakan resiko sosial jikahalnya masyarakat merasa bahwa mereka tidak mempunyai kesempatan untuk mencapai tingkat kesejahteraan atau arti dalam hidupnya. Bagi Indonesia, resiko-resiko sosial demikian berpotensi untuk semakin memperkeruh ketimpangan pembangunan, ekonomi dan masalah tingkat kepadatan dan persebaran penduduk yang belum merata di seluruh negeri.

  1. Persaingan Negara-Negara Besar dan Tantangan Kawasan

Persaingan antara negara besar, terutama antara Amerika Serikat dengan China, di kawasan yang mengelilingi ruang hidup (lebensraum) bangsa Indonesia kini bahkan sudah meliputi lingkungan disekitar kawasan timur Indonesia. Kompetisi tersebut  kini sudah meliputi semua domain mulai dari perlombangan superioritas teknologi dan militer, politik dan diplomasi, tatanan perdagangan dan ekonomi global, tatanan finansial dan bantuan pembangunan global hingga kompetisi mengenai nilai-nilai. Rusia dan China kini tengah berupaya membentuk dan memperomosikan tatanan dunia dan sistem internasional berdasarkan nilai-nilainya, dan membentuk dinamika keamanan kawasan dan menggunakan pengaruh politik dan ekonominya terhadap negara-negara di dunia, terutama di Asia Tenggara, Asia Timur, dan beberapa tahun terakhir, di negara-negara Pasifik. Disisi lain, negara-negara Barat terutama Amerika berupaya untuk mempertahankan supremasi kekuatannya sebagai kekuatan dunia dan mempertahakan tatanan dunia pasca Perang Dunia II yang mereka rancang, bangun dan tumbuh kembangkan sejak abad  ke-19.  Salah satu persaingan yang paling nampak adalah persaingan tatanan ekonomi, perdagangan, finansial dan dana pembangunan global ala Amerika – Washington Concensus (IMF, World Bank dan US Treasury Department – Bretton Woods System). Dengan kemunculan dan sedang naik daunnya Asia Infrastruture Invesment Bank/ AIIB dan (Green) Belt and Road Initiave (Ancient/Overland Silk Road, Maritime Silk Road, dan Polar Silk Road) – Beijing Concensus.

Persaingan antara China dengan Amerika Serikat dibidang militer juga semakin hari semakin memanas. Amerika, hingga hari ini masih merupakan superpower dunia dibidang militer. Ia merupakan satunya-satunya negara di dunia yang mempunyai pusat komando armada di hampir seluruh benua dan kawasan yang ada di muka bumi ini. CENTCOM, AFRICOM, EUCOM, INDOPACOM dan SOUTHCOM . Pun demikian dengan kekuatan tempur, sistem alutsista dan pengalaman perang yang belum yang dapat menyaingi kekuatan dan kapabilitas yang dimiliki Amerika Serikat. Strategi string of pearls, aktifitas dan pembangunan militer China di Laut China Selatan, pangkalan di Djibouti dan baru-baru ini upaya pengaruh China di Pasifik dipandang sebagai upaya China untuk mengangsir supremasi kekuatan Amerika Serikat tersebut.

Pada intinya, persaingan antara superpower dengan superpower-in-waiting ini adalah washington melihat rezim otoriter China tersebut sebagai ancaman utama terhadap tatanan internasional liberal-kapitalis yang dipimpin oleh Amerika Serikat sejak berakhirnya perang dunia II. Hal ini nampak jelas dalam dua dokumen kebijakan penting Amerika Serikat, US National Security Strategy dan US National Defece Strategy, yang secara gambalng menyebutkan bahwa China sebagai ‘revisionist power’ yang berupayan untuk mengangsir nilai dan kepentingan ekonomi Amerika Serikat. Washington melihat Beijing ingin mengubah aturan-aturan, norma, dan nilai-niai yang mengatur hubungan antar negara atau ‘international order’ yang telah ada yang dibangun dan dipimpin oleh Amerika Serikat.

Persaingan dua negara besar – Amerika dan China- ini akan berdampak pada keamanan dan kepentingan nasional Indonesia baik di tataran global maupun domestik. Sebagai negara besar yang berada di posisi geografis yang strategis, Indonesia kini tidak hanya harus ‘memitigasi’ resiko dari persaingan pengaruh dua negara tersebut di Laut China Selatan (wilayah Barat Indonesia) tetapi juga di lingkungan sekitar Kawasan Timur Indonesia dan Kawasan Indo-Pasifik secara luas. Dengan adanya tantangan geografis dan demografis yang dihadapi Indonesia secara domestik, ditambah dengan semakin tereksposes-nya masyarakat terhadap dunia maya dan jaringan siber dan adanya potensi kerawanan sebagai ‘spill over’ dari persaingan negara besar, Indonesia akan dihadapkan pada tantangan yang semakin kompleks dan tidak mudah dimasa depan.

  1. Ancaman-Ancaman Global Lainnya

Sebagaimana disebutkan sebelumnya, tantangan dan ancaman terhadap keamanan nasional Indonesia di masa yang akan datang akan semakin meluas dan kompleks. Secara keseluruhan, beberapa bentuk ancaman global yang harus dihadapi Indonesia di era globaliasi 4.0 ini adalah: ancaman cyber; Online influence operations; terrorisme dan radikalisme; spill over perlombaan senjata konvensional, senjata pemusnah massal, dan proliferasi; Operasi intelligence dan counter-interlligence; teknologi-teknologi baru dan teknologi perusak dan ancaman terhadap daya saing dan stabilitas ekonomi; spill over persaingan ruang angkasa; kejahatan-kejahatan transnasional; ekonomi dan energy; serta keamanan manusia.

Indonesia secara resmi tidak pernah menyatakan memiliki musuh nyata dalam arti merujuk pada negara atau kelompok negara tertentu. Hal ini bisa berarti hal yang baik maupun buruk, oleh karena itu berarti Indonesia memiliki dan harus berhadapan dengan musuh yang tidak memiliki identitas. Artinya, musuh bisa datang dari mana saja, kapan saja dan siapa saja tanpa identitas yang jelas. Sebagai contoh adalah ancaman yang berkaitan dengan ancaman cyber, online influece operations, intelligence dan counter-interlligence. Semakin tingginya penggunaan kapabilitas siber -termasuk pengintaian, penyerangan dan upaya mempengaruhi melalui jaringan siber- untuk memperoleh keuntungan politik, ekonomi maupun militer terhadap Indonesia dapat datang dari musuh potensial ataupun kompetitor startegis manapun.

Namun demikian, ada beberapa pemain besar yang memiliki kapabilitas untuk melakukan operasi-operasi seperti itu, yakni: China, dengan perkembangan dan peningkatan kapabilitasnya dibidang teknologi informasi dan komunikasinya (ex. Huawei, teknologi 5G, dan giantfirewall-nya); Rusia, yang disinyalir banyak melakukan operasi-operasi siber terhadap Amerika Serikat dan aliansinya; Amerika Serikat dan the Five Eyes Nation (the Intelligence Alliances of Anglosphere) adalah aliansi intelligence paling tua dan kuat di era kontermporer ini. Atau bahkan mungkin the Nine Eyes atau Fourteen Eyes nations?, yang pasti bocoran dari Snowden, Wikileaks, menunjukkan bahwa aliansi intelligence negara-negara ini melakukan melakukan operasi diseluruh dunia dan mengumpulkan banyak informasi mengenai banyak hal termasuk di Indonesia.  Satu lagi musuh potensial yang memiliki bisa memiliki intensi dan bisa melakukan operasi-operasi  seperti tersebut diatas terhadap Indonesia adalah kelompok-kelompok terroris dan radikal yang mencoba mencari atau mengumpulkan kekuatan atau pengaruh di Indonesia. Pada intinya, musuh potensial atau kompetitor strategis kita yang tidak teridentifikasi tersebut akan semakin sering menggunakan kapabilitas siber untuk mendapatkan keuntungan militer, politik maupun  militer atas Indonesia dan mendorong atau mengarahkan sikap atau kebijakan Indonesia ke arah tertentu. Baik itu dengan mencuri informasi atau data tertentu, menganggu sistem atau infrastruktur penting tertentu maupun dengan mempengaruhi hati (psikologi) dan pikiran (ide) masyarakat Indonesia.

 

  • Simpulan dan Masukan

Perderbatan mengenai apakah Indonesia memiliki grand strategy atau tidak merupakan pertanyaan sekaligus keinginan yang sudah lama menjadi perhatian baik praktisi maupun akademisi di Indonesia. Dengan harapan arah dan navigasi Indonesia secara domestik, di kawasan, politik internasional dan tatanan global dimasa mendatang akan lebih jelas dan terarah. Pun demikian setiap upaya-upaya, kebijakan atau aksi yang dilakukan Indonesia dapat lebih tepat, efektif, efisien dan terukur. Banyak hal yang tentunya harus dipertimbangkan untuk dapat merancang grand strategy yang baik, terutama dalam menjawab dan menentukan “apa yang kita mau atau apa yang hendak kita capai (ends or goals)”; “dengan atau cara (means) apa yang akan kita lakukan untuk mencapai tujuan tersebut”. Pada saat yang bersamaan, dunia saat ini sedang mengalami pergeseran, baik disebabkan oleh terjadinya revolusi industri 4.0 maupun pergerseran dalam konteks politik dan ekonomi global. Dengan demikian, tantangan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar sebuah grand strategy diatas juga akan semakin sulit. Demikian juga tantangan dan ancaman yang akan dihadapi Indonesia sebagai negara dan sebagai bangsa dimasa depan akan semakin kompleks dan luas. Perang, konflik dan ketegangan antara negara maupun aktor non neagra sepertinya akan terus berlangsung. Namun perkembangan teknologi dan revolusi industri seperti yang sedang berlangsung saat ini pada umumnya mendorong terjadinya perubahan sifat peperangan (the nature of warfare) dan metode yang digunakannya (metode operasi dan peperangan) – lebih pada metode-metode yang berada di zona atau bersifat ‘grey/asymetric/guerilla warfare’ di berbagai atau lintas bidang kenegaraan (statecraft). Perancang dan eksekutor grand strategy Indonesia perlu mempertimbangkan tidak terbatas pada beberapa hal yang telah dibahas diatas.

Beberapa masukan yang dapat diberikan penulis terutama dalam kaitannya dengan strategy untuk menjawab sejumlah tantangan yang harus dihadapi seperti: perkembangan teknologi dan perubahan zaman yang dihadapi serta dampaknya terhadap kehidupan masyarakat;  tantangan geografis dan demografis yang saat ini dihadapi bangsa Indonesia; persaingan negara-negara besar dan tantangan kawasan; tantangan global lainnya yang harus dihadapi di era industri dan globalisasi 4.0. demi menjaga keamanan, pertahanan dan persatuan dan kesatuan NKRI adalah:

  1. Pertama, Pemerintah harus konsisten dengan model pembangunan yang dapat menjawab tantangan dan masalah pemerataan pembangunan infrastruktur dan ekonomi. Dengan harapan, dalam jangka menengah dan jangka panjang pemerataan pembangunan di seluruh wilayah Indonesia tersebut dapat mengurai permasalahan kepadatan penduduk dan pemerataan persebaran penduduk di Indonesia yang saat ini masih terkonsentrasi di Jawa, khususnya Jakarta dan kota satelitnya dan Surabaya. Dengan demikian, kekhawatiran akan terjadinya kecemburuan sosial, gesekan sosial bahkan menuju konflik antar kelompok masyarakat yang diakibatkan oleh tingginya suhu kompetisi di era revolusi industri 4.0 dan mendatang dapat dihindari. Selain itu, jika halnya proses ini berhasil dilakukan, maka sejumlah kekhwatiran-kekhawatiran lama seperti aksi-aksi separatisme, ketidakpuasan terhadap pemerintah, rasa pengakuan sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia, juga akan ikut terselesaikan. Sehingga persatuan dan kesatuan bangsa dan negara Indonesia akan semakin kuat dan terjaga.
  2. Kedua, kini tantangan dari persaingan negara-negara besar dan kawasan semakin intens dan sudah melilingi seluruh kawasan Indonesia. Dari kawasan disekitar wilayah barat Indonesia, tengah hingga wilayah timur Indonesia – persaingan AS dan China di Pasifik. Jika halnya military establishment Indonesia di wilayah barat seperti selat Malaka dan Natuna relatif sudah lebih matang dan lama. Kita harus akui bersama bahwa military establisment Indonesia di wilayah tengah dan terutama wilayah timur Indonesia masih sangatlah baru dan belum matang. Dengan tantangan yang akan dihadapi seperti dipaparkan diatas, kemudian kecenderungan sifat dari peperangan (the nature of warfare) dan metode yang digunakan di era 4.0 ini (cenderung di zona abu-abu dan asimetrik), maka pematangan military establisment akan perlu dipercepat. Demikian pula dengan pembangunan ROE (Rules of Engagement) dan ROC (Rules of Conduct) di masing-masing wilayah, khususnya untuk TNI AL (wilayah Armada I, II dan III).
  3. Permasalahan utama dari adanya revolusi industri 4.0 terhadap masyarkat adalah dampaknya terhadap emosi, pikiran dan aspek psikologi kita sebagai individu dan manusia. Namun demikian, bukan berarti kita harus menolak revolusi industri ini dan berbagai hal positif dan kesempatan yang ditawarkannya. Oleh karena, berbagai gangguan dan tantangan yang muncul berarti juga adalah hasil dari perbuatan diri kita sendiri. Dengan demikian, kita hanya dapat menjawab tantangan-tantangan tersebut jika halnya kita bersama-sama memobilisasi hati, pikiran dan jiwa kita untuk menjadi leih bijak. Pemupukan kembali nilai-nilai spiritualitas, keagamaan, budaya dan etika-moral kita sebagai manusia dan anak bangsa barangkali bisa menjadi penyeimbang, rem, dan titik teduh serta refleksi ditengah masa yang segala sesuatunya serba cepat ini. Dengan demikian, keharmonisan di dalam masyarakat dapat terus terjaga dan kita dapat menyongsong Indonesia yang lebih maju dan bahagia di era revolusi dan globalisasi 4.0 ini.

 

________________________

Referensi

Coats, Daniel R. 2019. “Worldwide Threat Assessment of the US Intelligence Community”

Samans, Richard. 2019. “Globalization 4.0: Shaping a New GLobal Architecture in the Age of the Fourth Industrial Revolution”

Schwab, Klaus. 2016. “The Fourth Industrial Revolution”. World Economic Forum.

Silove, Nina. 2017. Beyond the Buzzword: the Three Meanings of Grand Strategy. Routledge.

K2 sebagai komando & kontrol atau komando & kendali?

One of the least controversial things that can be said about command and control is that it is controversial, poorly understood, and subject to wildly different interpretations [1].  Command and control (C2) is the means by which a commander synchronizes and/or integrates force activities in order to achieve unity of effort [2].

 

Pendahuluan

Kegiatan K2 (komando & kontrol) [3] atau K3 (bila ditambah komunikasi) [4]. K terakhir sebagai asset teknology yang menambah metrik, value atau view K2 sebagai system. Idem dengan K3I [5], K3ISR atau bahkan K4ISR. Isu K2 di-besarkan dan populer di-lingkungan militer maupun non-militer. Organisasi [6] (sipil atau militer) adalah suatu system yang membutuhkan kontrol terhadap individu dalam proses mengejar kepentingan organisasi sesuai keputusan dan “apa mau-nya” (goals) pemimpin-nya (pemilik Command/Komando). System kontrol membutuhkan prosedur, aturan main atau hukum untuk melakukan proses mengejar (pursue) tercapainya keinginan “boss” pemegang (system) komando (pemilik keputusan, pemegang kendali).

K2 menghasilkan produk informasi bagi Komando untuk memilih (alternatif) keputusan. K2 dari perspektif pengambilan keputusan adalah suatu proses identifikasi dan memilih cara bertindak (course of action) dan solusi yang lebih menguntungkan [7]. Bagi KemHan, hal ini sangat vital mendukung suksesnya ops militer—tantangan terbesar mendukung operasi militer gabungan mendatang. Komentar Sweeney…tidak ada satu-pun peperangan yang tidak membutuhkan K2. K2 tidak pernah bekerja sendiri dan sanggup menghancurkan sasaran. Kampanye militer tanpa K2 tidak ada artinya—K2 menjadi desain penting dalam arsitektur pos komando militer, sipil atau posko opsgab sipil-militer. Study tentang K2 mirip dengan siklus pengambilan keputusan, diawali dari observasi–orientasi-keputusan-aksi. Urutan K2 bahkan aliran system dukungan pengambilan keputusan (DSS)[8]—sebagai OODA-loop, periksa gambar dibawah [9]:

Gambar no.1. OODA loop.

 

Aplikasinya (contoh)[10]; temukan situasi baru (observasi)—temukan gambaran operasional  (orientasi) yang lebih baik—tetapkan keputusan (decide)—aksi (acts). Stigma kontroversi dan rendahnya pengertian tentang desain K2 sendiri—mendorong memahami apa itu K2 lebih dalam.

 

Pentingnya memahami K2

Command and Control (C2) systems are the tools employed by military commanders to manage the forces assigned to them in accomplishing an operational mission. They are an integral and essential part of any commander’s assigned force  encompassing all functions within the force. Command and control is not one word [11]. C2 (dan MOE-nya) are required to measure and evaluate the operation and performance of C2 systems in a combat context [12].

 Jargon K2 dari Jomini tahun 1838 menjadi populer ditahun 1964, ketika Pres Truman memberikan instruksi kepada Jend MacArthur untuk mengambil alih komando dan kontrol seluruh kekuatan militer. Komando (command)[13] melekat secara antropomorpisasi (anthropomorphized)[14] atau melekat dengan perilaku kewenangan komandan. Karena itu sentra studi K2 adalah komando dan kontrol tentunya. Meski awalnya mendalami isu komando saja, berkaitan dengan komando, ke-komandanan, dan apa yang harus diselesaikan atau lebih disiplin lagi seberapa jauh harapan atau capaian melalui komando yang bisa didapat atau yang harus diperbaiki merujuk capaian tersebut—domain komando. Alberts, et-all, mulai melacak studi K2 era Napoleon dengan kredit staf komando yang modern sebagai subyek studi [15]. Studi tentang komando dipahami sebagai suatu perintah atau keinginan Komandan (baca: kendali, kewenangan, keputusan) untuk di-teruskan, di-terjemahkan, di-monitor dan di-evaluasi terus menerus oleh si-kontroler.

 

Komando adalah kewenangan yang diberikan [16] pada seorang komandan (militer) untuk di-jalankan unit hirarkhis dibawahnya. Komando merupakan perintah, instruksi atau semacam itu (kendali, pen) dan format keinginan untuk di-patuhi dan di-laksanakan melalui kontrol [17]. Kewenangan kontrol adalah sebagian kewenangan seorang Komandan (kendali) [18]—kontrol tidak bisa menggantikan komando. Hadirnya teknologi abad 21, memaksa konsep K2 harus mendemonstrasikan “harga” kapabilitas K2 untuk ditampilkan. Misi militer dewasa ini berbeda dengan misi tradisional, kuantitatif maupun kualitatif. Selain kompleks, dinamik, di-tuntut kapabilitas dan upaya lebih kuat dibanding misi tradisional dengan platform centric warfare-nya. Model K2 yang baik selain bisa menjawab pertanyaan diatas juga menjadi basis desain informasi superioritas. Superioritas adalah fondasi peperangan jejaring sentrik (network centric warfare) yang sangat mahal [19], baik perangkat lunak, keras, maupun agilitas informasinya, seperti dibawah ini [20].

Gambar no.2 . Kerangka konseptual peperangan jejaring sentrik.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Hint: impetus, di-karenakan posisi harus berstatus sebagai pemilik informasi yang superior dan di-dukung indikator tiga (3) dimensi informasi yakni relevan, akurasi dan waktu yang singkat [21].

 

Gambar no.3 (bawah) mendemonstrasikan K2 sederhana namun lebih berbasis kognitif dan konseptual (menjawab cara berpikir kita) dengan sentra komando dan kontrol. Model tidak harus menjelaskan sempurna, namun bisa mendemonstrasikan apa yang terjadi dalam ikatan K2 ini? Model konseptual relatif mirip dengan model mathematika atau simulasi yakni studi yang melibatkan blok atau bagian seperti variabel dan hubungan antar variabel, seperti dibawah ini. Intinya, elemen minimum esensial K2 adalah komando, kontrol dan dua (2) himpunan kapabilitas (pendingin & pemanas), sasaran/obyektif (ruangan), lingkungan dan sensor (thermostat). Model menggambarkan bahwa kendali ditangan”komando” bukan si-”kontroler”. Kontrol adalah salah satu elemen penting dalam gambar, signifikan menunjukkan fungsinya bukan sebagai kendali. Lain dengan pemegang blok “komando” (dibelakang control) yang jelas berbeda jauh fungsinya. Atkinson & Moffat menyebut signifikan berbeda; kontrol adalah fungsi aturan main, waktu dan lebar frekuensi dan komando adalah fungsi kepercayaan, kesetiaan, dan agilitas [22]. Kontrol tidak bisa bekerja tanpa kendali “komando” à kendali melekat dalam “komando”.

    Gambar no.3 . Elemen minimum esensial sebagai kontrol suhu ruangan [23].

 

Alberts menegaskan, … the word “control” is used here in its traditional sense: is a set of actions taken to create an effect or achieve a desired outcome—outcome disini adalah temperatur ruangan yang terjaga sesuai perintah [24]. Kontrol berfungsi menterjemahkan muatan Komando untuk mengatur temperatur dengan suatu formula yang di-terjemahkan dalam program algoritmik oleh sang “kontroler”. Turun naiknya temperatur di-pengaruhi lingkungan; di-monitor sebagai sasaran dan di-stabilkan bila melanggar tetapan temperatur. Gambar no.4 memperjelas kualitas komando, setelah di-uraikan via fungsi komando dan di-jabarkan kedalam kualitas masing-masing fungsi komando-nya [25] (parameter kualitas—kolom kanan):

Gambar no.4. Kualitas komando

 

 

 

 

 

 

Gambar no.5 memperlihatkan bila blok komando & kontrol dipisahkan nampak berbeda fungsi komando (plus domain-nya) dan kontrol (kolom paling kanan) [26]. Model memperlihatkan harmonisasi dan fleksibelitas komando dan kontrol (anak panah dari kontrol ke-komando). Model memperlihatkan keberadaan control sebatas tidak langsung terhadap domain komando (tanda titik titik ke domain). Hadir empat (4) domain peperangan dalam fungsi komando, yakni social, kognitif, information, dan phisikal [27].

Gambar no.5. Fungsi komando dan kontrol terhadap domain liputannya.

 

Proses K2 dan interaksi antar dan intra individual menjadi dasar organisasi dan doktrin di-dalam domain social [28]. Persepsi dan pemahaman tentang status informasi dan sumberdaya di-dalam domain kognitif. Domain informasi adalah aset dan akses informasi maupun distribusi informasinya. Elemen domain physic adalah sensor, systems, platform dan fasilitas yang ada di-dalam. Kontrol meskipun berhak atas liputan domain yang sama, namun tingkat kewenangan-nya berbeda. Kontrol memperoleh kewenangan (kendali) sebatas yang diberikan komando (garis putus-putus—ditetapkan/designated), tidak mutlak dan “bukan kendali”. Manajemen tempur lebih mempertanyakan isu kualitas bahkan kapabilitas (plus kelemahannya), sebagaimana isu kualitas masing-masing blok (command, control, sensor, target, dll), dll.

Model dikembangkan (gambar no.6) guna menjawab pertanyaan itu [29]. Blok di-kembangkan (garis putus-putus) guna menjawab demonstrasi system nilai. Blok komando (misal) menjawab—kualitas (parameter penilaian, laporan, monitoring).

 

Gambar no.6. Model yang dikembangkan dengan system nilai (performa, kualitas).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sasaran (dhi: environtment) menjawab dengan kualitas dan effektifitas missi yang dijalankan. Parameter kualitas bisa lebih dari dua (2) variabel. Model dikembangkan guna memperkaya (rich pictures) konsep dan berakhir dalam desain teknis nanti. Gambar no.7 merubah system heating & cooling (gambar no.6) di-ganti dengan blok perilaku (behavior). Beralasan blok ini sebenarnya mencerminkan perilaku yang dikontrol oleh blok kontrol. Komponen penting dalam model adalah penilaian (assesment mission effectiveness—pojok kanan) berkaitan erat dengan produk effect operasional nantinya (EBO/effect-based operations)—sesuaikah dengan MOE. Kontrol dalam model mencerminkan fungsi-nya terhadap perilaku proses agar menghasilkan effek (versus sasaran/musuh) yang di-harapkan (MOE) sesuai rencana operasi (RO) [30]. Ukuran yang didapat (berbasis MOE) [31] adalah dampak relatif terhadap sasaran yang bisa dicapai atau di-inginkan (expected).

Gambar no.7. Modifikasi blok proses menjadi perilaku (behavior).

 

 

Membangun (umum) ukuran effektifitas (MOE) [32] … dan untuk K2 ?

Command and control is the process of and the means for the exercise of authority and direction by a properly designated commander (siapapun—pemegang komando) over assigned forces for the accomplishment of the commander’s mission[33]… (from means to ends state, pen). DoD describes MOEs as “tools used to measure results achieved in the overall mission and execution of assigned task”s,  which is fine as far as it documents (no paragraph) completed tasks and missions. In testimony to the U.S. Senate, Joseph A. Christoff, Director of International Affairs and Trade, argued that a report based on a number of completed missions in Iraq do not accurately reflect progress toward mission goals.[34] (sukses suatu operasi/kegiatan bukan dikarenakan jumlah operasi, namun seberapa jauh dampaknya/manfaat (yang didapat) terhadap lawan/sasaran dan seberapa jauh dukungan anggarannya).

 

Isu klasik seperti kekuatan militer dibahas dengan phrasa kualitas atau kuantitas. Kuantitas bicara jumlah, dan kualitas bicara dalam dimensi parameter (dp) seperti kecepatan, aksi radius, jarak tembak maksimum, dll. Meskipun DP; sama sekali bukan cerminan kapabilitas (kemampuan). Isu kapabilitas lebih ribet, lebih ke harga capaian atau sukses sista bila berdampak terhadap lawan atau sasaran—bukan sekedar bisa mengalahkan saja. Mengalahkan dengan ukuran seberapa jauh (dampak dan keyakinan) terhadap musuh…dan berapa konsekuensi sumber daya (dan anggaran) yang sudah digunakan untuk melaksanakan opsi ini? Contoh, bila negara Z menjadi musuh (dalam scenario berkategori—most likely) bagi A dan kedua-nya (hanya) memiliki jenis korvet sebagai platform utama di-laut. A dengan k Korvet, dan Z dengan n Korvet, bila k > n—negara A memenangkan pertarungan dilaut…dengan peta ini yakinkah publik percaya? Korvet negara A atau B memiliki abilitas (kesanggupan—sanggup menembak lawan; bukan kapabel)[35] yang sama—negara A berpeluang untuk memenangkan “duel” dilaut [36]. Kapabilitas (baca kemampuan) terukur dengan ukuran yang di-desain terhadap sasaran atau musuh dengan harga probabilita kena Meriam Korvet tersebut—cukup “fair” bukan? Keabsahan ukuran sukses atau capaian system tersebut di-ukur terhadap sasaran atau lawan, bukan di-berikan pabrik yang merancang desain awal (misal kecepatan tembak, aksi radii, dll).

 

Konsep ini berkembang menjadi standar ukuran sukses atau pengukuran capaian efektiftas (atau suksesnya)—MOE (quantitative) measures of effectiveness. MOE usai PD-II, dalam publikasi grup evaluasi operasi “Methods of Operation Research” [37] adalah…“The measure of effectiveness is the criterion by which solutions will be judged –proposed solutions, solutions under test, or solutions in being”. Berkembang menjadi can be defined as a measure of the extent to which a system maybe expected to achieve a set of specific mission requirements”—dampak terhadap lawan (DP seperti: kecepatan, aksi radius, jumlah peluru, dll, tidak berpengaruh terhadap musuh)[38]. WSEIAC & Ackoff sepakat definisi effektifitas sebagian besar adalah probabilita [39]. Kapabilitas sebenarnya adalah tetapan MOE setelah di-uji dan berapa “outcome” (hasilnya) [40]. Bila ditetapkan (MOE) bagi platform Korvet (misalnya) adalah probability of submarine detection (versus kapal selam diesel elektrik) [41] dan melalui riset lapangan atau simulasi ditemukan sebesar .56—itulah harga kapabilitas deteksi-nya (bukan jarak maksimum sonar, phrasa ini adalah abilitas bukan kapabilitas). Contoh dibawah, tetapan MOE yang digunakan beberapa alut sista (kolom kanan), dengan kolom kiri adalah jenis platform-nya yang akan diukur: Pesawat, Destroyer, MAD dan Sonar.[42]:

Tabel no.1a. dari platform-missi-kriteria sukses-dan MOE

 

 

 

 

 

 

Contoh berikut adalah platform MAD dan Sonar, missi-nya adalah investigasi kontak, dan masing-masing kriteria sukses, baru terdefinisikan tetapan MOE-nya. MOE adalah bentangan (range) pengukuran sejauh mana suatu system telah mengerjakan tugas dengan baik. Misal: untuk mengevaluasi performa deteksi sebuah sensor, maka MOE-nya adalah bentangan probabilita deteksi sebagai fungsi dari jarak sasaran (harga probabilita per setiap jarak tentu berbeda)[43].

Tabel no.1b. uraian platform-missi-kriteria sukses-dan MOE

 

 

 

 

 

Bisa saja MOE dipahami dalam bentuk produk rangkaian. Misal: rangkaian serangan/tembakan berawal dari deteksi (probabilita deteksi)—lokalisasi & posisi (probabilita lokasi given deteksi)—klasifikasi (probabilita klasifikasi kapal selam)—penembakan (probabilita kena given bisa menembak)—menghancurkan diketahui (given) sasaran sudah dikenai tembakan (kill given hit, artinya bisa kena/hit tapi tidak menghancurkan atau penilaian kerusakan-nya/damage assesement rendah). Semuanya dihitung sebagai satu produk MOE. Contoh (konsep di-atas) berlaku pada tingkatan taktik. Sedangkan pada tingkatan satuan atau kekuatan (force level) berbeda dan terminology MOE disini menjadi MOFE—measures of force effectiveness. Pengeboman dari udara, MOEnya adalah harga probabilita lingkaran kesalahan—dalam bentuk jari jari lingkaran, makin kecil jari-jarinya semakin bagus MOE-nya [44]. Contoh MOE dalam komunikasi (berikutnya contoh model MOE untuk K2), bisa ditampilkan sebagai berikut:

Tabel no.2  Versus objective (sasaran) spesifik.

MOE per setiap platform bagi setiap Angkatan dan NATO sudah lama dibakukan. Awalnya MOE digunakan guna mempertajam system akuisisi (pengadaan) dan sebagai bentuk pertanggung jawaban baik buruknya system yang di-adakan saat itu (cost-effectiveness). Analis memandang lebih dari itu, MOE adalah pandangan jangka panjang kedepan, baik desain, konsep maupun operasional suatu platform yang dibangun—force planning. Tabel dibawah ini adalah ringkasan mengukur efektifitas tersebut dari objectifnya (keinginan atau sasaran), dampak dan pengambil keputusan [45].

Tabel no.3.  Dampak MOE terhadap keputusan dan pengambil keputusannya.

 

Terminologi berkenaan pengukuran performa secara umum ada 4 (empat) parameter seperti dibawah ini. Bagi K2, ke-empat-empatnya bisa dilibatkan dalam proses K2, yakni:  a.  Parameter dimensional (atau DP) [46]

  1. MOPs atau measures of performance
  2. MOEs system K2 (measures of effectiveness)
  3. MOFEs system K2 (measures of effectiveness) untuk satuan atau kekuatan (force level)

Ke-empatnya digambarkan dalam satu lingkaran berlapis[47]. NATO mengembangkan empat parameter tersebut menjadi lima dan disebut MoM (measures of merits). Dari lingkaran terdalam, yakni  DP (properties or characteristics in physical entities)—MoP (measures of performance, measures of attributes of internal system behavior)—MoE (untuk isu K2 disebut MOCE—measures of C2 effectiveness atau measures impact of C2 systems)—MoFE (measures of force effectiveness adalah measures of how a force meets mission objcetives)—MoPE (Measures of Policy Effectiveness), periksa gambar bawah [48].

Gambar no.8  Hirarkhis MoM ( 5 bagian).

 

Hint: DP (dimesi parameter, bagian MOE yang terkecil) — MOF — MOFE — MOPE.

Dari fokus, skenario, upaya, dll, di-tabel-kan pengukuran tinggi rendahnya masing-masing elemen merits (MoPE, MoP, dll) di-bawah ini [49]:

Tabel no.4.  Fokus, skenario, kebutuhan upaya, impak, dll, dihubungkandengan MoM.

 

Valdur Pile mengungkap, bahwa; [50]; [1] No single measures or methodology exists for assessing overall effectiveness of C & C (command & control), [2] A multi-method, multi-phase approach is necessary.

 

Aplikasi K2 dalam peperangan-peperangan atau ancaman.

Command and control (C2) increasingly being recognized as an area of critical importance in the design of military   organizations[51]. Compared to the traditional command and control system, the new characteristics are listed as follows:…Combat spatial perception joint operations system is a Network-centric system, fully integrated with space-based, land-based, sea-based, air-based sensor information system. The “information structure” establishment greatly improves the ability of combat spatial perception, but also requires higher processing capacity of command and control system [52].

 

Bisnis Komandan adalah komando, bisnis staff adalah kontrol. Komando selain pemimpin, juga seniman. Komandan memformulasikan konsep, visualisasi status kedepan, perkiraan risiko dan keputusan. Kontrol, usai menerima komando berperan sebagai ilmu yang memproses keinginan “boss”nya dan kelanjutannya. Kontrol lebih berperan sebagai staff (bussiness staf) [53], seperti di-bawah ini,

Gambar no.9.  Komando sebagai seni versus Kontrol sebagai ilmu .

 

Gambar no.10 menjelaskan perspektif K2 bisa dilihat dari sisi doktrin, policy, dll, sebagai pendekatan atas ke-bawah (dari sisi makro atau strategy—from strategy-to-task). Sedangkan pendekatan bawah-ke-atas digunakan sebagai algoritma evaluasi atau analysis yang diawali dari entitas phisik sampai obyektif (sasaran misi atau goal), seperti dibawah ini[54]:

Gambar no.10. Perspektif K2 dari sisi doktrin, dll (top-down) dengan jenjang evaluasi dari bawah (bottom-up).

 

Sebagai pemimpin atau pengambil keputusan K2 bisa digambarkan dalam model Lawson (Lawson’s laws) seperti gambar bawah:

 

Gambar no.11. K2 dengan pendekatan Lawson’s

Lingkaran disebelah kiri menunjukkan system K2 sebagai “otak” suatu satuan (atau forces), di-hubungkan (beroperasinya) ke-“sensor” (sense) diikuti proses dengan perolehan data dari luar (external data), bandingkan dengan status yang di-inginkan (compare)—putuskan, aksi, dan lapor ke-otoritas yang lebih tinggi. Berikut di-kembangkan model proses konseptual (sesuai pikiran kita) K2, dengan merubah variabel proses sebagai penilaian, dan ketiga varibel lainnya seperti compare, decide dan act menjadi generate, select, plan, dan direct guna memudahkan proses analitik. Gambar no.12 dibawah, masih belum juga memberikan kejelasan tentang K2 bila menghadapi isu ganda (mulitple) seperti anti serangan udara, anti kapal selam, dan anti kapal permukaan, dll secara bersamaan.

 

Dengan arsitektur K2 dalam operasi gabungan yang mengalir seperti gambar no.13 [55]; bisa memodelkan bentuk peperangan ganda di-domain maritim.

Gambar no.13. Bagan K2 Operasi gabungan

 

Tugas utama departemen dalam ops gabungan ini adalah (periksa blok teratas) [56]: intai & intelijen, koleksi data/informasi, situasi lapangan, merancang operasi gabungan dan opsi-nya, mengorganisir operasi darat gabungan, maritim gabungan, dirgantara dan rudal jarak jauh, petunjuk operasi informasi [57], offensif informasi, informasi pertahanan, dan koordinasi operasi lanjutan [58]. Bedanya; blok atas bertanggung jawab tentang operasi dalam bingkai keseluruhan medan tempur, fokus pada perencanaan dan koordinasi serta dinamikanya sedangkan blok bawah pada rincian tugas dan operasional sesuai rencana operasi gabungan [59].  Bagan ini dibatasi pada operasi gabungan satu Angkatan dan konsep peperangan dilihat dari konsep peperangan sentrik platform (PCW—platform centric warfare). Produk teknology baru utamanya kecanggihan dan kecepatan meningkatkan kapabilitas signifikan kekuatan Maritim untuk berkoordinasi tentang aksinya lintas samudra, daratan, udara dan ruang angkasa maupun ruang cyber [60]. Tampil konsep lebih maju (namun lebih mahal)—yakni peperangan jejaring sentrik (NCW—network centric warfare); mengadopsi hadirnya peperangan modern dan terkinikan.

Kedua-nya dilihat relatif dari K2; yakni platform centric warfare—gabungan Angkatan sendiri dengan network centric warfare—dan network centric warfare sebagai kebutuhan gabungan antar angkatan, negara, atau lebih dari itu; dengan syarat kapabel ber-interoperabilitas (system didalamnya harus compatible), periksa gambar no.14 [61]. Teknologi merangsang K2 untuk berbuat lebih jauh, baik jangkauan, entiti bahkan domain yang digarapnya.

K2 dituntut meliput tantangan global yakni mendukung peperangan jejaring sentrik[62].

Gambar no.14. Platform centric vs network centric warfare

 

Hint: kiri bagan peperangan platform sentrik (platform centric warfare)  dan kanan jejaring sentrik (netwok centric warfare).

Di-tingkat nasional desain K2 dalam sistem pertahanan nasional bergantung pada kehadiran skenario pertahanan (fungsi & produk Kemhan) dengan klasifikasi sangat mungkin terjadi (most likely).Gambar di-bawah lebih menjelaskan proses K2 dalam kedua peperangan tersebut[63]:

 

Gambar no.15. Platform vs network cenric warfare dalam bagan proses kontrol (K2) sampai ke sista (weapon system) di area pelibatan.

 

Hint: Proses dari S(ensor) – P(rocessor) – W(eapons) dan keputusan—aksi; dilaksanakan di-area pertempuran B (B= battlespace).  Skenario pertahanan nasional memerlukan konten [64] ancaman dan risiko. Sulit menterjemahkan hanya dari sisi militer atau non-militer, mengingat dunia kontemporer sudah masuk dalam arena hybrid atau ambigu antara militer dan non-militer (aneksasi Estonia, Crimea, Ukraina, Georgia, serta PLAMM) [65]. Tipikal ancaman dengan varian dimensi parameter (DP) bertujuan memetakan situasi kesiagaan (situation awareness) dengan  ukuran probability kemunculan, response (seperti apa) dan kekuatan yang terlatih khusus mengatasinya—peta yang komprehensif. Bentangan potensi ancaman (risiko) menjadi kumpulan entitas tantangan strategik yang harus dihadapi—terrorism global, senjata pemusnah massal, senjata NBCD, cyber, proxy, hybrid, negara gagal, konflik lokal & regional, dan perang antar negara besar. Memaksa peninjauan ulang kebijakan hankam AS dan merubah asumsi sifat ancaman & bahaya dalam sistem internasional [66]. Gambar no.16, ilustrasi elemen kuadran [67] tentang tipikal tantangan yang mungkin muncul dengan harga ancaman. Mulai dari katastropik (I), disruptif (II), tradisional (III) dan tak beraturan (IV). Kuadran di-batasi dengan garis mendatar dan garis tegak. Mendatar adalah bentangan kelemahan maksimum (kanan) dan minimum (kiri) sedangkan tegak adalah bentangan garis yang tertinggi peluangnya untuk muncul (higher likelihood) dan yang terendah.

Gambar no.16. tantangan strategik yang mungkin dihadapi [68].

 

Hint: Kuadran dengan tipikal ancaman. Katastropik (catastrophic) lebih menyedihkan, menyakitkan dan parah dibanding disaster.

RAND Corpt menterjemahkan ancaman dan konteknya yakni kelemahan (vulnerability) dan konsekuensi. Ancaman sebagai skenario terjadinya (probabilita) serangan teroris. Kelemahan adalah harga probabilita sukses serangan (dampaknya) yang dilancarkan teroris tersebut diketahui (given) informasi tentang serangan [69]. Konsekuensi adalah ukuran fatalitas, luka-luka dan dampak ekonomi maupun psikologik di-ketahui (given) serangan teroris sukses di-lancarkan. Risiko adalah kombinasi dari tiga (3) elemen; skenario, probabilita dan konsekuensi (risiko beda dengan ketidakpastian). Skenario adalah urutan peristiwa yang terpisah dan lengkap yang bisa terjadi dalam konteks risiko tertentu. Probabilita mencerminkan kemungkinan (likelihood) munculnya suatu skenario dan kejadian didalam. Konsekuensi (korban, cedera, dampak, dan semacam itu) didefinisikan pada akhir urutan kejadian. Untuk memudahkan fokus tantangan ini peta kuadran dibagi dua (2) bagian besar, kuadran I & IV — global war on terrorism, dan kuadran II & III — major combat operations [70]tergantung produk Dewan Keamanan Nasional dan masukan dari Skenario Kemhan (gambar no.17).

 

Pergeseran ancaman dari kuadran III ke I adalah kecenderungan kontemporer—elemen kuadran III semakin kecil peluang untuk muncul dan bergeser kuat ke-kuadran I. Risiko yang sangat mungkin terjadi adalah terorisme global (kuadran I & IV). Ancaman katastropik (termasuk keluarga bencana, lebih menyedihkan, menyakitkan, dibanding disaster). Termasuk serangan terhadap masyarakat atau simpul kritikal pemerintah[71], keuangan, perdagangan, atau infrastruktur oleh negara sponsor (surrogated, sponsorized), negara “jahat” (rogue), atau aktor teroris non-negara—risiko sulit di-minimalkan apabila probabilita munculnya tinggi dan kelemahan-nya maksimal (most likely).

Gambar no.17. Dua (2) kelompok besar yang diwaspadai

 

Ancaman tak beraturan, di-kuadran IV (irregular threat ßà irregular warfare)[72], derajad  (probabilita) ancaman yang masih di-bawah katastropik. Seperti: terroris, insurjensi (organisasi, individu yang menentang penguasa yang syah) atau agen proksi. Ancaman gangguan (disruptive threat) dengan probabilita hadir lebih kecil di-banding katastrophik, mungkin lebih tinggi karena teknologi atau melalui informasi global dan ruang angkasa atau sista energi terarah (direct energy weapons)[73]. Ancaman tradisional (kuadran III) masih di-tingkat probabilita terendah. Risiko yang sangat mungkin terjadi adalah peperangan global lawan terorisme (kuadran I) dan peperangan tak beraturan (kuadran IV); tergantung produk skenario pertahanan nasional negara.

 

Kalkulasi Ancaman dan Risiko menjadi rujukan strategy dan operasional seluruh instrumen kekuatan nasionalRisk is a function of the values of threat, vulnerability and consequence. The objective of risk management is to create a level of protection that mitigates vulnerabilities to threats and the potential consequences, thereby reducing risk to an acceptable level. Risiko adalah demonstrasi ukuran sekuriti tertentu yang masih bisa ditolerir dan risiko berbeda dengan ketidakpastian [74]. Organisasi sebaiknya memiliki format penilaian risiko guna melindungi aset-nya. Blok dibawah menjelaskan parameter yang dibutuhkan untuk memproses harga masing-masing variabel T, V dan C. Organisasi harus memproteksi (bukan mengamankan saja) aset-nya (utama-nya yang kritikal) terhadap ancaman (T), kelemahan (V) dan konsekuensi-nya (C) di-notasikan R, yakni R (isk) = T(hreat) x V(ulnerability) x  C(onsequences ). Bawah, gambar risiko dan masing-masing variabel (T,V,C) serta parameter dibawahnya [75]. Konsekuensi (severity=menyakitkan) menggambarkan dampak (kotak kanan) riil bila risiko yang diperkirakan muncul atau ada pengeluaran ongkos atau sumber daya untuk memitigasi risiko.

Gambar no.18. Rumusan Risk dengan variabel dan parameternya.

 

….akhirnya [1] masihkah di-sebut komando & kendali (kodal) atau komando & kontrol (kokon) dan [2] berharap PCW atau NCW?… saran; perkuat industri pertahanan dan pendukung. Semoga bermanfaat.

______________________

[1] Maj USMC Michael M. Sweeney, An Introduction to Command and Control, (Thesis US Naval Postgraduate School, MS in System Technology, June 2002), halaman  1.

[2] Bradley Wilson, et-all (9 personnel), Maritime Tactical Command and Control Analysis of Alternatives, (RAND CORPT, 2016), hal 1.

[3] Penulis lebih memilih kata kontrol daripada kendali melihat prasa yang sudah menjadi umum yakni komando dan kendali (KoDal). Sebenarnya hanya dua kata yang menjadi jantungnya yakni komando (command) dan control (control) dalam suatu system atau organisasi yang bekerja. Kontrol dan kendali sepertinya tidak sama. I=intelligence, S=surveillance, R=reconnassaince.

[4] Dr Ricki Sweet, Dr Morton Metersky, Dr Michael Sovereign, Command and Control Evaluation Workshop, (MORS C2 MOE Workshop, January 1985, Naval Postgraduate School), halaman 2 -2… Thus, throughout this report the term “C ” should be taken to mean as broad a concept as is useful for the analysis being undertaken or discussed.

[5] Hadirnya keunggulan teknologi Informasi di abad 21 ini menambah ikatan pengertian K2 menjadi K3I.

[6] Il-Chul Moon, Kathleen M. Carley, Tag Gon Kim, Modeling and Simulating Command and Control; For Organizations Under Extreme Situations, (Springer, 2013), halaman 4.

[7] Scott A. Berg, L.Cdr US Navy; Introduction to Command, Control and Communications (C3) Through Comparative Case Analysis, (Thesis US NPS, MS in System Technology, March 1990), halaman 32.

[8] DSS — decision support system.

[9] National Research Council of the National Academic, USA, Network – Centric Naval Forces; A Transition Strategy for Enhancing Operational Capabilities, (Committee of C4ISR for Future Naval Strike Groups Naval Studies Board, Division on Engineering and Physical Sciences, National Academic Press, Washington, DC, 2000), halaman 57.

[10] OODA – loop akronim dengan langkah pengambilan keputusan cepat (observe-orient-decide-act) dikembangkan oleh penemunya Col USAF John Boyd, periksa: https://www.google.com/search?q=OODA+loop+%2Cthe+founderrlz=1C1CHBFenID793ID793 &oq=OODA+loop%2Cthe+founder&aqs=chrome..69i57.10047j0j8&sourceid=chrome&ie=UTF-8.

[11] DoA (Depart of the Army), Command and control, Measures of effectiveness, Handbook, (Study and Analysis Center, Fort Leavenworth, Kansa USA), C2 Definitions, 2 – 2.

[12] Ibid, halaman 2 – 1.

[13] Terjemahan command sebagai komando.

[14] Anthropomorphized… menggantikan atribut manusia pada yang bukan manusia atau binatang.

[15] David S Alberts & Mark E Nissen, Toward Harmonizing Command and Control with Organization and Management Theory, (CCRP, The International C2 Journal, vol 3, no.2, 2009), halaman 5.

[16] DoD, Dictionary of Military and Associated Terms, (DoD, JP 1-02, 12 April 2001, as amended through April 2010), halaman 86.

[17] Ibid, …. A unit or units, an organization, or an area under the command of one individual.

[18] Ibid, halaman 104, …. control1. Authority that may be less than full command exercised by a commander over part of the activities of subordinate or other organizations…

[19] Lim, Soon-Chia, Lieutenant Colonel, RSAF, Network Centric Warfare: A Command and Control Perspective, (Thesis US NPS, March 2004, MS in Information Technology Management), halaman 9,…“Network Centric Warfare (NCW) is an information superiority enabled concept of operations that generates increased combat power by networking sensors, decision makers, and shooters to achieve shared awareness, increased speed of command, higher tempo of operations, greater lethality, increased survivability, and a   degree of self synchronization. In essence, NCW translates information superiority into combat power by effectively linking knowledge   entities in the battlespace.

[20] Ibid, halaman 10.

[21] Ibid, halaman 10.

[22] David S Alberts & Richard E Hayes, Understanding Command and Control, (DoD CCRP/Depart of Defense Command and Control Research Program, 2006), halaman 20.

[23] Ibid, halaman 20.

[24] Ibid, halaman 20….khususnya penjelasan footnotes.

[25]Ibid, halaman 155.

[26] Ibid, halaman 60.

[27] David S Alberts & Richard E Hayes, Power to the Edge; Command…Control…in the Information Age, (DoD, CCRP), halaman 15.

[28] Ibid, halaman 15.

[29] David S Alberts & Richard E Hayes, Understanding Command and Control, (DoD CCRP/Depart of Defense Command and Control Research Program, 2006), halaman 29.

[30] Memahami konsep MOE akan mudah menjawab … misalnya seberapa jauh effektifitas unit tempur ini, atau pesawat pemburu modern ini , dll…..atau tanpa MOE yang didefinisikan bagaimana bisa menjawab harga effektifitasnya?

[31] Director, Center for Army Lessons Learned, Assesment and measures of effectiveness in stability operations: tactics, techniques and procedures, (Handbook no 10-41, May 10), halaman 6, … Measures of effectiveness (MOEs) are based on effects assessment. Effects assessment is defined as the process of determining whether an action, program, or campaign is productive and persuasive and achieve desired results in stability operations. MOE atau measures of effectiveness…adalah ukuran relatif yang bisa digunakan sebagai standar untuk meyakinkan apakah missi yang dijalankan berhasil atau tidak dengan mengukur tingkat kesuksesannya, misal: kalau sukses seberapa suksesnya atau kalau tidak seberapa jauh gagalnya. Misal: sukses besar bila bisa menguasai 80 % teritori musuh (sesuai RO) dengan kehilangan korban yang jauh lebih kecil dari perkiraan. Atau dalam konsep sista yang sudah melalui T & E (test & evaluation) didapat tabel berapa probabilita mengenai sasaran per sekian jumlah peluru dan lebih bagus lagi ada tabel probabilita kerusakan sasaran diketahui (given) probabilita mengenai sasaran (Bayesian konsep). Ukuran effektifitas yang didapat merupakan kandidat pernyataan kapabilitas (kemampuan) sista—misal:berapa probabilita merusakkan sasaran diketahui probabilita mengenai sasaran adalah ukuran kapabilitas yang dapat dipertanggung jawabkan. Bukan seberapa jauh kecepatan tembak atau seberapa jumlah peluru yang bisa dibawa atau kecepatan maksimum platform atau aksi radii platform, dll yang tidak berdampak sama sekali terhadap sasaran atau musuh—pernyataan ini bukan pernyataan kapabilitas (atau kemampuan) tapi lebih ke abilitas (kebisaan, kesanggupan) saja, pen

[32] JP 1 – 02, Joint Publication, DoD Dictionary of Military and Associated Terms, (JP 1-02. DoD Dictionary of Military and  Associated Terms, 12 April 2001), halaman 293… measure of effectivenessA criterion used to assess changes in system behavior, capability, or operational environment that is tied to measuring the attainment of an end state, achievement of an objective, or creation of an effect…also called MOE….bandingkan dengan cara tradisional yang menggambarkan kemenangan hanya dengan satu standar saja…mengalahkan musuh, titik. Bukankah ada alternatif lain? Misal: 90 % kuasai teritori atau 80%-nya saja (tidak harus 100% terlalu mahal) atau tangkap pemimpinnya saja, dll.

[33] Noel Sproles, University of South Australia, Establishing Measures of Effectiveness (MOE) for Command and Control: A Systems Engineering Perspective, (DSTO, Information Technology Division, Electronics and Surveillance Research Laboratory, March 2001), halaman 8.

[34] Sean P. Sutherland Major, USAF, Measuring Effectiveness In Conflict Environtments, (Thesis NPS, Master of Arts in Security Studies, Sept 2009), halaman 36-37. …. dengan ditetapkannya MOE sebagai suatu standar ukuran effektifitas setiap missi, maka seluruh Angkatan akan menggunakan konsep ini dalam setiap missi-nya. Menurut laporan atau testimoni didepan Senat, bahwa jumlah (seberapapun) laporan missi yang telah diselesaikan tidak mencerminkan (seberapa jauh atau sebenarnya) effektifitas missi yang telah ditetapkan.

[35] Abilitas diterjemahkan kesanggupan saja. Sanggup sesuai desain pabrik, misal Meriam cal 100 mm  (abaikan panjang laras), maka jarakan tembak maksimum bisa (ekpektasi) 10 mil atau jarak deteksi Radar … sekian mil, benarkah itu berlaku umum di-semua kondisi, tidak bukan?—ini bukan kemampuan, baru sebatas kesanggupan bukan? Kesanggupan akan meningkat apabila sudah dilakukan test dan modifikasi atau modernisasi teknologi. Rekayasa (engineering) sederhana bisa dilakukan dengan cara statistik, yakni melatih terus menerus Meriam tersebut sehingga mengetahui berapa harga probabilita kena Meriam (belum probabilita menghancurkan given kena—berbeda) per masing- masing jarak yang bervariasi. Output test, latihan modernisasi dll akan menemukan harga kapabilitasnya dengan memperoleh harga probabilita yang telah diperbaiki dengan cara (missal) memperbaiki tabel penembakan dengan angka koreksi, dll). Harga probabilita yang telah diperbaiki akan menjadi harga kapabilitas (kemampuan) yang sebenarnya yang dimiliki Meriam korvet.

[36] Kesanggupan akan meningkat apabila sudah dilakukan test dan modifikasi atau modernisasi teknologi. Rekayasa (engineering) sederhana bisa dilakukan dengan cara statistik, yakni melatih terus menerus Meriam tersebut sehingga mengetahui berapa harga probabilita kena Meriam (belum probabilita menghancurkan given kena—berbeda) per masing- masing jarak yang bervariasi. Output test, latihan modernisasi dll akan menemukan harga kapabilitasnya dengan memperoleh harga probabilita yang telah diperbaiki dengan cara (missal) memperbaiki tabel penembakan dengan angka koreksi, dll). Harga probabilita yang telah diperbaiki akan menjadi harga kapabilitas (kemampuan) yang sebenarnya yang dimiliki Meriam korvet.

[37] John M Green, Towards a Theory of Measures of Effectiveness (MOE), (NPS, 2002), halaman 2.

[38] Ibid, halaman 2.

[39] Ibid, halaman 3.

[40] Dapat di-notasikan bahwa C (apabilities) = A (bilities) + “ outcome”.

[41] Harus jelas berhadapan dengan siapa, tidak sama semua kapal selam, Korvet kapabel. Versus kapal nuklir penyerang mungkin Cuma kapal selam penyerang nuklir yang terbaik.

[42] J.G. Rau, Measures of Effectiveness (MOE) Handbook, (Operations Research & Economic Analysis Depart, Ultrasystems, Incorporated Irvine, California, August 1974), halaman 3, 4, dst. MAD (magnetic anomaly detector).

[43] J.G. Rau, Measures of Effectiveness Handbook, (Operations Research & Economic Analysis Depart, Ultrasystems, Inc, Irvine, California, August 1974), halaman 6.

[44] Probabilita ini merupakan fungsi ketinggian terbang dan kecepatan pesawat, artinya makin pelan dan makin rendah akan semakin kecil Circular Error Probabilita (atau CEP-nya, dihitung dengan besarnya jari-jari lingkaran kesalahan)…semakin effektif operasi pemboman tersebut.

[45] Dr Ricki Sweet, Dr Morton Metersky, Dr Michael Sovereign, Command and Control Evaluation Workshop,   (MORS, C2, MOE Workshop, January 1985, Naval Postgraduate School), halaman 1 – 11….tambahan isu akuisisi dan procurement adalah isu yang sering dan selalu muncul dalam masalah pengadaan dan negosiasi dengan kontraktor.

[46] Ibid, Parameter dimensional, lebih diartikan sebagai property atau ciri-ciri dari system perilaku seperti berat, kecepatan, ukuran, kapasitas, luminositas, jumlah piksel, aksi radii, dll), …. Dimensional Parameters – Properties or characteristics inherent in the physical entities whose values determine system behavior and the structure under question even when at rest (size, weight, aperture, size, capacity, number of pixels, luminosity).

[47] Dr Ricki Sweet, Dr Morton Metersky, Dr Michael Sovereign, Command and Control Evaluation Workshop, (MORS, C2, MOE Workshop, January 1985, Naval Postgraduate School), halaman 2 – 5.

[48] Valdur Pile, Dr R Hayes & Ms C Wallshein; Measures of Merits (MoM), (Metrics and Experimentation Group Systems of Systems Section  Defence R & D Canada, Valcartier ),  Slide # PR 3 – 8.

[49] Ibid, slide # PR 3 – 11.

[50] Ibd, PR 3 – 26.

[51] Dale F Cooper, et-all, ( 3 personnel ), Dept of Accounting & Management University of Southampton, UK, Models of Naval Command and Control Systems, (European Journal of Operational Research 26 (1986), halaman 217.

[52] Chen-yan Kong, et-all, Effectiveness Evaluation of Command and Control System in Joint Operations, (Science and Technology on Information System Engineering key Laboratory Nanjing, China), halaman 146.

[53] David S Alberts & Richard E Hayes, Command Arrangements for Peace Operations, (DoD,CCRP), halaman 5.

[54] DoA (depart of the army), Command and Control; Mesures of Effectiveness Handbook, (TRADOC Analysis Center, Study and  AAnalysis Center, Fort Leavenworth, Kansas), halaman 2-2.

[55] Chen-yan Kong, et-all, Effectiveness Evaluation of Command and Control System in Joint Operations, (Science and Technology on Information System Engineering Key Laboratory Nanjing, China), halaman 147.

[56] Ibid, halaman 147. Blok atas disebut Departement dari komando operasi gabungan (The Joint Opts Command Dept), sedangkan blok bawah disebut sebagai Military Branches Command Department (land forces, sea/maritime forces, dst).

[57] DoD, DoD Dictionary of Military and Associated Terms, (DoD, as for January 2019), halaman 112…… information operations — The integrated employment, during military operations, of information-related capabilities in concert with other lines of operation to influence, disrupt, corrupt, or usurp the decision-making of adversaries and potential adversaries while protecting our own. Also called IO. See also electronic warfare; military deception; operations security; military information support operations. (JP 3-13), halaman 12. Sedangkan sel-sel operasi informasi yang harus dilakukan begitu banyaknya, periksa bagan di-bawah ini (periksa JP 3 –13, halaman II-6):

 

[58] Chen-yan Kong, et-all, Effectiveness Evaluation of Command and Control System in Joint Operations, (Science and Technology on Information System Engineering Key Laboratory Nanjing, China), halaman 147.

[59] Ibid, 147.

[60] DoA (Depart of the Navy), US Navy Information Dominance Roadmap 2013 –  2018, (Director of Warfare Integration), halaman 7.

[61] National Research Council of the National Academic, C4ISR for future Naval Strike Groups, (Committee of C4ISR for Future Naval Strike Groups Naval Studies Board, Division on Engineering and Physical Sciences, National Academic Press, Washington, DC, www.nap.edu, 2006), halaman 34.

[62] Supaya bisa interoperability, negara harus memiliki industry pertahanan sendiri.

[63] National Research Council of the National Academic, USA, Network – Centric Naval Forces; A Transition Strategy for Enhancing Operational Capabilities, (Committee of C4ISR for Future Naval Strike Groups Naval Studies Board, Division on Engineering and Physical Sciences, National Academic Press, Washington, DC, www.nap.edu, 2000), halaman 27.

[64] Definisi perkiraan (estimate) sebaiknya dengan kalmat peluang yang ada (mulai least likely sampai dengan most likely).

[65] PLAMM artinya kekuatan ketiga satuan maritim yang dikontrol PLAN (Angk laut China) dalam armada kapal ikannya—PLA Maritime Militia dan menjadi salah satu isu sentra di Laut China Selatan.

[66] Nathan Freier,  Strategic Competition And Resistance In the 21 St Century: Irregular, Catastrophic, Traditional, and Hybrid Challenges in Context,  (US Army War Coll, Monograph, May 2007), halaman 1.

[67] Kuadran diberi nomor mulai I, II, III, dan IV. Kuadran I adalah ruang pojok kanan atas, kemudian kebawahnya (kuadran II), bergerak ke-kiri (kuadran III), dan keatas lagi—kuadran IV.

[68] Ibid, halaman 2

[69] Howard Kunreuther & Michael Useem, Learning from Catastrophes: Strategies for Reaction and Response, (Pearson Education, Inc, 2010), halaman 181….semakin sukses serangan berarti semakin lemah yang diserang. Kata diketahui (given) adalah kata kondisional (probabilita yang diperbaiki dengan informasi yang ada sebelumnya—conditional probability).

[70] National Research Council of the National Academic, C4ISR for future Naval Strike Groups, (Committee of C4ISR for Future Naval Strike Groups Naval Studies Board, Division on Engineering and Physical Sciences, National Academic Press, Washington, DC, www.nap.edu, 2006), halaman 20.

[71] Oleh karena itu hasil format penilaian asset akan muncul daftar asset nasional yang kritikal menjadi subyek yang diproteksi dalam program nasional yang disebut CIP (critical infrastructure protection, benar benar melindungi asset nasional yang kritikal, bukan lagi mengamankan), bagi kita (mungkin) relatif sama dengan pengamanan obyek vital ( Pam Obvitnas?,pen).

[72] Peperangannya disebut pep tak beraturan (PTB).

[73] National Research Council of the National Academic, C4ISR for future Naval Strike Groups, (Committee of C4ISR for Future Naval Strike Groups Naval Studies Board, Division on Engineering and Physical Sciences, National Academic Press, Washington, DC, www.nap.edu, 2006), halaman 19.

[74] NASA Cost Estimating Handbook Version 4.0, Appendix, G 1.1. The Difference Between Risk and uncertainty…..Risk is the chance of loss or injury. In a situation that includes favorable and unfavorable events, risk is the probability that an unfavorable event will occurUncertainty is the indefiniteness about the outcome of a situation. It is assessed in cost estimate models to estimate the risk (or probability) that a specific funding level will be exceeded.

[75] https://www.wbdg.org/resources/threat-vulnerability-assessments-and-risk-analysis

MEMAHAMI  KEBIJAKAN  BARU  US  INDO-PACIFIC COMMAND

  1. Pendahuluan

Slogan “America First” yang dicanangkan pertama kali oleh presiden Donald Trump semenjak menjadi presiden AS, sangat kental mewarnai substansi dari kebijakan yang dituangkan dalam National Security Strategy pada Desember tahun 2017. Amerika menyadari bahwa dunia masa kini berada dalam kompetisi dan persaingan yang sangat ketat yang tidak hanya datang dan berlalu dalam sekejap , tetapi akan berlangsung dalam waktu lama, karena itu membutuhkan suatu komitmen dan fundamental ketahanan yang membutuhkan  perhatian yang besar. Sekalipun Amerika menyadari memiliki berbagai keuntungan yang “belum tertandingi” dibidang Politik, ekonomi, militer serta keunggulan teknologi, inovasi kebijakan dan penyesuaian-penyesuaian tetap perlu dilakukan terus-menerus. Namun satu hal yang perlu difahami adalah , acuan atau landasan utama atas semua pengambilan keputusan adalah Kepentingan Nasional AS ( National Interest) yang harus selalu dipertahankan dan dilindungi.  Beberapa asas fundamental didalam National Interest tersebut adalah: satu, Melindungi warga negara Amerika ( dimanapun berada), melindungi dan mempertahankan integritas serta keutuhan wilayah dan territorial negara. Implementasinya misalnya, melakukan control dan pengawasan yang ketat  diseluruh perbatasan negara, menggelar system pertahanan peluru kendali untuk mengantisipasi serangan peluru kendali musuh. Ditegaskan juga bahwa AS akan mencari dan mengejar musuh sampai pada sumbernya, agar musuh dapat dihentikan sebelum dapat mencapai daratan AS.  Kedua, gaya /cara hidup( American way of life ) dan terus mempromosikan Kesejahteraan (promote American prosperity) dalam arti akan selalu memajukan ekonomi demi untuk keuntungan para pekerja dan perusahaan Amerika. Hubungan ekonomi perdagangan timbal balik dengan pihak lain sedapat mungkin dilaksanakan secara adil dan berimbang. AS akan berusaha mempertahankan keunggulan dalam riset dan teknologi serta mencegah pihak-pihak lain secara tidak adil mencuri hak milik intelektual. Ketiga, mempertahankan dan menjaga perdamaian melalui kekuatan, dengan cara membangun kembali dan mempertahankan keunggulan kekuatan militer sehingga mampu menangkal musuh-musuh dan bila perlu berperang dan memenangkannya. Bersama seluruh potensi kekuatan nasional akan menjamin dibagian dunia manapun tidak didominasi oleh hanya satu kekuatan. Keempat, Amerika akan berusaha meningkatkan pengaruh diseluruh dunia , sehingga kekuatan-kekuatan yang mendukung kepentingan nasional Amerika yang merefleksikan nilai-nilai yang dianut, akan membuat Amerika lebih aman dan sejahtera. Itulah keempat pilar utama yang menjadi tujuan Kepentingan Nasional Amerika yang naskah tertulisnya ditanda tangani oleh presiden Donald Trump pada bulan Desember tahun 2017. Berbeda dengan negara kita yang harus diakui kemungkinan belum jelas apa Kepentingan Nasionalnya (secara tertulis), di AS selalu disusun  setiap kali habis satu masa jabatan seorang presiden.

Dengan demikian Kepentingan Nasional akan menjadi rujukan bagi segenap potensi kekuatan bangsa dan negara untuk menyusun strategi pembangunan dibidang masing-masing. Dari keempat point diatas, ternyata sudah mengandung dan mencakup seluruh kekuatan /potensi bangsa yaitu Politik, Ekonomi, Militer, Intelijen, Pertahanan dan lain- lain. Sebagai contoh strategi dibidang Pertahanan dan Militer akan selalu mengacu pada National Security Strategy dan seterusnya diarahkan untuk  mencapai Kepentingan Nasionalnya. Sejauh menyangkut kawasan Indo Pasifik, dalam dokumen tersebut menyatakan: “Our vision for Indo-Pacific excludes no nation. We will redouble our commitment to establish alliances and partnerships , while expanding and deepening relationships with new  partners that share respect for sovereign affair and reciprocal trade , and the rule of law. We will reinforce our commitment to freedom of the seas and the peaceful resolution of the territorial diputes in accordance ith international law.” [1]Menyangkut keamanan dan militer, dinyatakan : “We will maintain a forward Military presence capable of deterring  and, if necessary defeating any adversary.”[2] Dari alur pemikkiran dalam hirarchi pengambilan keputusan dapat juga dipahami bahwa US Indo Pacific Command adalah merupakan implementasi di bidang operasional yang selanjutnya menjadi bahasan dibawah ini.

 

  1. US- INDO- Pacific Command.

Sejak awal dibentuk pada tanggal 1 Januari 1947 namanya adalah United States Pacific Command, disingkat US Pacom. Pada hakekatnya US Pacom adalah suatu Komando Gabungan Terpadu dari Angkatan Bersenjata Amerika Serikat pada level operasional yang bila ditinjau dari usianya, adalah Komando gabungan terpadu yang tertua dibanding dengan komando gabungan yang lain misalnya di Atlantik atau Mediterania. .Wilayah tanggung jawabnya ( Area of responsibility) adalah juga yang terbesar meliputi seluruh kawasan samudera Pasifik termasuk pesisirnya(Rim Pacifik) dan Samudera India juga pesisirnya. Dikepalai oleh seorang Panglima yang biasanya ditunjuk seorang perwira tinggi paling senior dari ketiga Angkatan di Pasifik. Panglima bertanggung jawab dalam melaksanakan operasi darat, laut maupun udara di suatu wilayah yang luasnya lebih dari 100 juta mil persegi ( 260.000.000 km2) atau kira-kira mencakup 52% permukaan bumi . Untuk lebih jelasnya wilayah tersebut membentang dari pantai barat Amerika sampai kepantai barat India dan dari Laut Arctic sampai ke laut Antartika. Panglima bertanggung jawab dan menyampaikan laporan kepada Menteri Pertahanan dan dalam keadaan tertentu bisa langsung kepada Presiden. Secara organisatoris dibawah Panglima terdapat komponen-komponen operasional pendukung khas Angkatan seperti: US Army Pacific, US Pacific Fleet, US Pacific Air Forces ,US Marine Pacific Forces, US Forces Japan, US Forces Korea, Special Operations Command Korea, dan Special Operations Command Pacific. Disamping itu masih terdapat dua unit operasi yang memiliki akses laporan langsung yang disebut juga  Direct Reporting Unit( DRU) yaitu; US Pacific Command Joint Intelligence Operations Center(JIOC) dan Center For Excellence in Disaster Management and Humanitarian Assistence( CFE DMHA). Markas besar US Pacom berada di Camp HM Smith , Hawai.

Semenjak tanggal 31 Mei 2018 komando pertahanan ini berobah nama menjadi US Indo- Pacific Command dengan Area Of Responsibility(AOR) yang tetap, ( seperti pada peta dibawah ini ). Demikian pula Tugas Pokoknya yang kelihatannya tetap tidak berobah ketika Presiden Donald Trump memegang kekuasaan di gedung putih. Rumusannya adalah: “US Indo-Pacific Command protects and defends , in concerts with other US Government agencies, the territory of the United States, its people, and its interests. With allies and partners , we will enhance stability in the Indo-Asia –Pacific region by promoting security cooperation, encouraging peaceful development, responding to contingencies , deterring aggression and, when necessary fighting to win.”[3] Dari rumusan definisi ini jelas terlihat bahwa melindungi kepentingan Amerika diluar wilayah teritori negaranya menjadi sangat krusial dan karena itu harus senantiasa dipertahankan dari kemungkinan ancaman dan gangguan. Amerika juga akan tetap mempertahankan sekutu-sekutu dan mitra-mitranya dikawasan yang siap sedia membantu bilamana diperlukan. Tersirat juga dalam pengertian ini bahwa pendekatan yang dilakukan sangat kental dengan penggunaan kekuatan militer bahkan siap untuk berperang manakala situasi membutuhkan.  Namun dapat dipahami juga  bahwa Amerika lewat Komando operasional ini, dalam menangani masalah-masalah keamanan dan stabilitas diwilayah ini, menggunakan pendekatan yang didasarkan pada kebersamaan , kehadiran dan kerja sama yang baik diantara negara-negara rim Pasifik dan rim  India.  Perlu disimak apa yang disampaikan oleh menteri Pertahanan AS James Mattis pada saat peresmian perobahan nama Komando tersebut beberapa waktu lalu di Hawai mengatakan:” In recognition of the increasing connectivity , the Indian Ocean and Pacific Oceans , to day we rename the US Pacific Command to US Indo-Pacific Command.”  [4]Selanjutnya Mattis menyatakan: “Over many decades this command has repeatedly adapted to changing circumstance , and to day carries that legacy forward as America focuses west.” [5] Dia melanjutkan :” It is our primary combatant command, it’s standing watch and intimately engaged with over half of the earth,s surface and its diverse populations , from Hollywood , to Bollywood , from polar bears to penguins”[6]. Yang dia maksudkan adalah suatu komando militer yang daerah tanggung jawabnya (AOR) meliputi 36 negara termasuk India baik di rim samudera Pasifik dan rim samudera India. Dengan mengacu pada Strategi Pertahanan AS tahun 2018, menetapkan komitmen kuat AS untuk selalu menghadapi setiap tantangan yang muncul di Indo Pacific , dimana pandangan AS ini juga didukung oleh sebagian besar negara dikawasan ini. Barangkali sebagai sindiran terhadap langkah China , dikatakan bahwa bagi setiap negara dimana kedaulatan sangat dihormati, tidak memandang negara besar atau kecil , dimana investasi terbuka dan bebas, ekonomi perdagangan hendaknya dilakukan secara timbale balik yang adil dan saling menguntungkan, dan bukannya menjadi mangsa negara yang ekonominya kuat atau dibawah tekanan dan ancaman. Sebagaimana fakta berbicara bahwa China  telah menginvestasikan milliard dollars untuk mewujudkan apa yang disebut One Belt One Road initiative. Kebijakan AS, akan tetap meneruskan investasinya yang besar dikawasan Indo Pacific dengan tujuan untuk mempertahankan stabilitas keamanan, serta akan mendorong diterapkannya peraturan internasional secara terbuka dan bebas , seperti apa yang sudah dinikmati negara-negara sekawasan selama lebih dari 70 tahun. Dalam perjalanan tur nya yang pertama ke Asia pada bulan Nopember tahun 2017, presiden Trump menyatakan bahwa kini saatnya untuk memikirkan strategi di Indo-Pacific. Hal ini secara de facto mengakhiri strategi Washington sebelumnya yang dianut oleh para pendahulunya sejak tahun 2011 dengan penekanan pada poros Asia.(Pivot to Asia). Ternyata perobahan politik dan strategi ini memberi peluang bagi terbentuknya persekutuan antara 4(empat) negara yaitu AS, India, Jepang  dan Australia yang dikenal dengan nama QUAD.

Namun ditegaskan bahwa Strategi Keamanan Nasional AS tahun 2018 bukanlah strategi konfrontasi, melainkan suatu strategi untuk menciptakan perdamaian lewat kekuatan yang dimilki. AS akan terus mempertahankan dan menjaga ikatan persekutuan dengan negara-negara sekutu dan mencari serta membentuk kemitraan yang baru dikawasan ini , karena hal tersebut merupakan  pilar pokok bagi arsitektur ketahanan keamanan sehingga mampu menghadapi setiap ancaman dalam segala bentuk, termasuk penanggulangan terhadap bencana alam yang mungkin terjadi. Seorang pejabat gedung putih menegaskan bahwa , AS adalah salah satu kekuatan di Asia Pasifik , sehingga keamanan dan kesejahteraan AS akan sangat tergantung pada bagaimana mempertahankan kebebasan aliran perdagangan dan kemerdekaan ekonomi diwilayah ini.( Free and Open Indo-Pacific strategy).  Akan tetapi rasanya sulit untuk dibantah bahwa langkah AS ini , adalah sebagai antisipasi dan jawaban terhadap langkah-langkah China yang sangat agresif dan yang telah menimbulkan ketegangan di kawasan Laut China Selatan.

 

  1. Faktor India dan China

Menarik untuk di cermati apa yang dikatakan oleh Menhan AS James  Mattis tentang policy Amerika berkaitan dengan perobahan lingkungan  strategis dikawasan Pasifik rim dan samudera India.Tak dapat disangkal bahwa langkah Pentagon ini sebagai refleksi dari perkembangan penting yang sedang terjadi di India dari sudut pandang pemikiran strategic Amerika. Hal itu sudah dimulai sejak pemerintahan presiden Barrack Obama, yang menyebut India sebagai “ Major Defence Partner”, yang kemudian ditandai dengan penyediaan transfer teknologi dari AS kepada India dan mempererat kerjasama dibidang pertahanan antar kedua negara. Pada tahun 2016 India dan US menandatangani pakta pertahanan khususnya dibidang logistic yang krusial yang intinya memungkinkan militer kedua negara menggunakan pangkalan dan asset masing-masing untuk sarana perbaikan  dan dukungan suplai logistic , guna pelaksanaan operasi yang lebih efisien. Demikian juga presiden Trump dalam kunjungannya ke beberapa negara Asia beberapa bulan yang lalu, menegaskan tentang kuatnya keterikatan Amerika diwilayah ini :” It’s not just an accident of the World War II that the United States is in this region the way that have longstanding alliances, security treaties with five countries in the region and very close security and economics partnerships with others”. [7] Namun dalam pembicaraan dengan India, Jepang dan Australia (tergabung dalam Quad), Trump menegaskan bahwa  strategi ini tidak dimaksudkan untuk membendung (contain) China . Beberapa pengamat masalah keamanan mengatakan sebenarnya sulit untuk membantah bahwa kemunculan strategi keamanan baru dengan tema Indo-Pacific ini, untuk tidak dikaitkan dengan “a Rising China” dan dampaknya terhadap keamanan Asia khususnya. Jelasnya ,ide ini  disusun sebagai jawaban terhadap suatu transisi  kekuatan potensial di Asia dengan kemunculan China sebagai suatu kekuatan besar ( great power). Sehingga mendorong adanya “suatu kebutuhan untuk meninjau / memandang bahwa samudera India dan samudera Pasifik merupakan satu kesatuan geostrategic yang terintegrasi.” Tindakan militerisasi Laut Cina Selatan oleh China dan kehadiran jauh dari pangkalan(forward presence) kekuatan Angkatan Laut China di Samudera India bagian Timur, telah menimbulkan kegelisahan dan kekuatiran dibanyak negara sekitar kawasan tersebut atas jangkauan dan skala ambisi strategic China .

Sekalipun India telah menjalin hubungan erat dengan AS seperti yang disebutkan diatas, namun dalam hal memandang samudera India, dalam kaitan dengan Indo-Pacific, India sedikit mempunyai pendapat yang lain. Dikatakan , bentangan geografis Indo-Pacific belum pernah di definisikan secara jelas secara kolektif oleh negara-negara kekuatan regional dan masih terbuka untuk diinterpretasikan. Pernyataan mantan panglima Komando Pasifik laksamana Harri Harris bahwa area tangggung jawabnya “ from Hollywood to Bollywood”, secara geografis mungkin benar bagi Tokyo, Canberra dan Washington DC , namun bagi India Indo-Pacific merupakan suatu mandala maritime yang lebih luas yang dapat dibagi menjadi 2(dua) bagian, mencakup wilayah kepentingan yang utama /pertama dan wilayah kepentingan yang sekunder. Dalam arti bahwa  strategi maritime India dapat dibagi dua bagian yang terpisah dimana kadar keutamaannya juga berbeda, yaitu kearah Timur dan kearah Barat .Strategi India kearah Timur ditujukan untuk menghadapi kehadiran kekuatan Angkatan Laut China yang semakin besar dan intens di samudera India bagian Timur dan lebih jauh lagi untuk mengamankan kepentingan ekonomi dan keamanan di selat Malaka, selat Sunda dan selat Lombok( sebagai choke points). Untuk tujuan ini  India tidak segan-segan akan menghadirkan kekuatan Angkatan Lautnya sejauh mungkin di laut China Selatan dan akan bergabung dengan kekuatan Angkatan Laut negara maritime lain di kawasan tersebut. Kebijakan ini akan menunjukkan komitmen India untuk ikut memelihara keamanan maritime disana, utamanya untuk menghadapi dominasi China di Laut China Selatan. Sekalipun demikian , dalam dokumen tentang strategi keamanan maritime India yang diterbitkan oleh Angkatan Laut, memberi perhatian yang sangat besar ke samudera India bagian Barat. Pertimbangan utamanya adalah ,karena hampir 65%  kebutuhan energy India berupa minyak dan gas bumi diimpor dari  Timur Tengah. Disamping itu faktanya , lebih dari 7(tujuh) juta imigran India berdomisili dinegara-negara teluk tersebut. Dengan demikian jalur perhubungan laut ( sea lines of communication/SLOC) di samudera India kearah Barat menjadi sangat penting , karenanya harus tetap dijaga keamanannya. Pertanyaan yang mungkin timbul bagi pengamat , ketika India menerima konsep tata keamanan baru di Indo-Pacific, apakah  Samudera India bagian barat dapat di pandang juga sebagai bagian dari Indo-Pacific? Lebih jauh lagi , dalam kaitan itu pertanyaan  lain apakah Iran dapat dianggap sebagai negara kawasan Indo –Pacific ? Sampai disini, timbul perbedaan pandangan yang sangat mendasar antara India dan AS. Iran adalah pemasok utama energy ke India sehingga hubungan kedua negara sangat erat , sedangkan Iran sangat bermusuhan dengan AS, terlebih ketika Presiden Trump menarik diri dari kesepakatan nuklir  dan menerapkan sangsi kepada Iran sejak bulan Mei 2018. Pada saat ini India mempunyai proyek besar yaitu membangun pangkalan/ pelabuhan  di Chabahar Iran yang dapat diinterpretasikan sebagai  niat  India menjadi satu kekuatan maritime yang disegani disekitar selat Hormuz dan dilaut Arab. Disamping itu , proyek tersebut juga menjadi bagian jawaban India terhadap pengembangan pelabuhan dan pangkalan China di negara tetangga  Pakistan dalam rangka perwujudan “Maritime Silk Road”. Jadi sejauh menyangkut posisi India dalam Indo-Pacific, samudera India bagian barat merupakan kepentingan India yang utama, dan selat Hormuz adalah jalur perhubungan laut yang vital untuk energy. Kenyataan perkembangan situasi  ini harus menjadi pemikiran dan perenungan bagi pengambil keputusan di AS dan implikasinya terhadap kebijakannya di Timur Tengah dalam kerangka dinamika perkembangan konsep baru Indo-Pacific.

CHINA, sebagai salah satu negara yang terlibat langsung dengan kawasan ini, khususnya terkait dengan BRI ( Belt and Road Initiative), tentunya tidak akan diam melihat perkembangan yang sedang  terjadi khususnya pada tingkat strategic. Sekalipun belum ada pernyataan  resmi yang dikeluarkan oleh pemerintah China , namun terdapat beberapa elemen nyata yang memungkinkan kita memahami bagaimana China merespon strategi Indo-Pacific yang dibuat oleh AS ini. Pertama, kebijakan perluasan pelabuhan-pelabuhan laut didalam kerangka mendukung BRI, sekaligus menjadi pangkalan bagi kapal-kapal perangnya jelas terlihat di Jibouti di tanduk Afrika, pelabuhan Gwadar di Pakistan, Hambantota di SriLanka, di Maldives dan di Tanzania. Pembangunan seluruh pelabuhan tersebut memiliki dua tujuan, satu, bahwa China ingin melindungi rute perdagangan dan suplai energy (SLOC) untuk menjamin kelangsungan pembangunan ekonomi didalam negeri. Karena itu selama beberapa decade ini China telah membangun kekuatan Angkatan Lautnya khususnya kemampuan kapal-kapal perangnya agar dapat melaksanakan berbagai jenis tugas-tugas operasi  dilaut jauh diluar wilayah teritorialnya,(forward presence) termasuk bantuan kemanusiaan. Jadi pelabuhan-pelabuhan diluar tersebut , juga digunakan sebagai pangkalan kapal-kapal perangnya, atau disebut pangkalan berfungsi ganda (duel-use strategy). Semua rencana ini  adalah dalam rangka mempertahankan pertumbuhan ekonomi China ,sebagai contoh , 80% kebutuhan minyak China juga diimpor dari Timur Tengah  dan rute kapal yang digunakan adalah melewati Samudera India dan Selat Malaka terus ke laut China Selatan. Karena itu bagi China ,SLOC di Indo Pacific merupakan “energy survival” yang harus dipertahankan dan diamankan terhadap kemungkinan gangguan , sabotase, pemblokiran oleh pihak-pihak yang bermusuhan. Misalnya blockade terhadap selat Malaka akan menghambat aliran /suplai minyak dari Timur Tengah yang tentunya membawa dampak  negatif yang besar bagi perekonomian bahkan dapat menggangu stabilitas dalam negeri. Kekhawatiran ini sudah jauh-jauh sebelumnya diungkapkan oleh  presiden Hu Jintao pada tahun 2003, ketika membicarakan tentang choke points di Asia Tenggara . Factor lain adalah pertimbangan  geografi dimana negara China memiliki luas daratan dan panjang pantai yang besar  dianggap sangat rawan  terhadap ancaman musuh , sehingga perlu pengamanan yang maksimal. Pengalaman pahit dimasa lalu menjadi pelajaran berharga dan tidak ingin terulang lagi, yaitu ketika China mengalami pembendungan (containment) oleh musuh didaratan maupun wilayah maritimnya. Jelas bahwa kebijakan ekspansi pelabuhan-pelabuhan yang dibangun China di Indian Rim , adalah untuk meminimalisir ancaman dan kerawanan maritime serta untuk tujuan ekonomi yaitu memperpendek jalur angkutan laut. Inilah yang disebut “Dual use strategy” atau penggunaan pelabuhan laut untuk kepentingan sipil dan militer sekaligus. Alasan Kedua dari ekspansi pangkalan China adalah menyangkut keinginan Beijing untuk memperluas pengaruhnya dikawasan samudera Pasifik dan India untuk mencapai tujuan-tujuan politiknya baik yang bersifat Hard atau Soft Power. Langkah-langkah yang dilakukan antara lain merangkul negara-negara kecil di Pasifik selatan dan tenggara lewat bantuan ekonomi dan keuangan. Dengan Vanuatu ,dicapai kesepakatan China akan membangun Pos Militer yang tidak lain bertujuan untuk melindungi jalur laut perdagangan dengan negara-negara kecil di Pasifik Selatan, juga untuk menciptakan kondisi yang menguntungkan untuk “mengawasi” kegiatan maritime Australia. Seperti diketahui bahwa Australia telah bergabung dalam aliansi QUAD yang terdiri dari AS, Jepang , India dan Australia. Pada tahun 2015 China menerbitkan Buku Putih Strategi Militer, yang antara lain  memuat rencana pengembangan armada laut China menuju  Blue Water Navy sehingga mampu melaksanakan operasi jarak jauh serta perlindungan lepas pantai. Ditegaskan dalam dokumen tersebut, yang dimaksud dengan offshore protection adalah batas pertahanan terluar(frontier defence) dari garis batas terluar sesuai dengan ketentuan baru misalnya menurut 9 garis terputus-putus di laut China Selatan, yang diselaraskan dengan kepentingan keamanan Beijing yang baru. Pembentukan Blue Water Navy ini juga menjadi sangat penting sebagai implementasi Strategi Pertahanan nasional, yang menekankan pada pergerakan kekuatan Angkatan Laut dimandala operasi antara dua samudera , Pasifik dan India. Peralihan strategi Pertahanan ini juga untuk menjawab tantangan dalam  doktrin “1.5 “ bahwa China harus mempunyai kekuatan dan kemampuan armada Angkatan Laut yang dapat melaksanakan perang disatu kawasan laut tertentu , sembari juga mampu menangkal suatu konflik militer yang kedua dibagian mandala yang lain. Atau secara konkrit misalnya China harus mampu melaksanakan perang laut di Laut China Timur atau di laut China selatan misalnya melawan AS, sambil juga mampu menghadapi perang melawan India diperbatasan darat, ataupun sebaliknya. Pembentukan armada Samudera(High Sees Fleet) akan memfasilitasi kehadiran militer China ditingkat regional dan global dan diharapkan mampu meniadakan kebijakan pengepungan (encirclement) yang mungkin dilakukan oleh AS dan India. Kalkulasi China terhadap India yaitu dengan menciptakan apa yang dinamakan “Pearl Chain” di Sri Lanka, Pakistan, Maldives dan Bangladesh berwujud pangkalan-pangkalan militer dan sipil,  Sedangkan strategi yang lain yang disebut “String of Pearls” semata-mata hanya untuk titik-titik dukungan logistic dikawasan yang sama. Secara singkat, aspek krusial yang dikembangkan oleh Beijing dengan Indo –Pacific Strategynya melalui pembangunan dan perluasan pelabuhan-pelabuhan/pangkalan serta membangun kekuatan Angkatan lautnya  menjadi Blue Water Navy yang harus menjadi perhatian kita negara-negara sekawasan. Pangkalan jelas akan menjadi titik-titik dukungan terhadap armada lautnya untuk melindungi jalur perhubungan laut bagi kepentingan ekonomi, dan untuk memperluas pengaruh China lewat kekuatan armada  Angkatan Laut pada tingkat regional dan global.

ASEAN. Organisasi kerjasama 10(sepuluh) negara Asia Tenggara  yang tergabung dalam ASEAN sangat penting bagi Amerika Serikat. Hal ini ditandai antara lain dengan kehadiran wakil Presiden AS Mike Pence dalam Asian Summit di Singapura pada bulan Nopember tahun 2018. Pence membawa misi mewakili presiden Donald Trump tentang strategi Free and Open Indo-Pacific (FOIP)  di Asia Tenggara dimana negara-negara ASEAN berada didalamnya. Sejak diungkapkan oleh Presiden Trump pertama kali pada konperensi APEC di bulan Desember 2017 yang lalu di Vietnam , maka menteri luar negeri Mike Pompeo dan menteri Pertahanan Jim Mattis kembali menekankan hal tersebut dalam kunjungan mereka ke Asia Tenggara  pada tahun 2018.  Bahwa strategi FOIP yang intinya adalah suatu upaya untuk memepertahankan kebebasan dan keterbukaan dalam alur pelayaran (SLOC) untuk kepentingan ekonomi maupun militer adalah suatu keniscayaan karena sesuai dengan hukum dan aturan yang berlaku. Ditekankan pula bahwa upaya ini akan sukses dilakukan apabila ada kerelaan dan keikutsertaan  negara-negara sekawasan. Asia Tenggara memiliki peran yang sangat penting dihadapkan dengan konsep Indo-Pacific karena posisi geografisnya yang berada ditengah-tengah antara samudera Pasifik dan samudera India, yang dengan sendirinya juga menjadi penghubung jalur pelayaran kedua samudera. Selain itu wilayah ini secara kumulatif memiliki penduduk nomor tiga terbesar dan kekuatan ekonomi kelima terbesar didunia. Sekalipun tergabung dalam ikatan asosiasi ASEAN, pada kenyataannya kesepuluh negara anggotanya sangat beragam ,mempunyai banyak perbedaan dalam politik luar negerinya , sistim pemerintahan yang berbeda sesuai dengan kepentingan nasionalnya  masing-masing serta tingkat pertumbuhan ekonomi yang beragam. Keadaan ini diakui oleh pemerintahan Trump sehingga AS harus melakukan kegiatan-kegiatan yang juga berbeda disetiap negara disesuaikan dengan keadaan di negara-negara Asia Tenggara tersebut. Masalahnya adalah bagaimana menyusun suatu kegiatan atau pendekatan yang dapat diterima oleh semua pihak dihadapkan pada  strategi barunya itu. Surat kabar The Straight Times di Singapura menulis : “ Recognition is a necessary but in sufficient part of integrating Southeast Asia into the FOIP strategy”.[8]Artinya bahwa andaikata seluruh nerara Asia Tenggara secara sukses dapat diintegrasikan kedalam strategi AS tersebut dimasa datang  maka hal itu belumlah cukup. Diperlukan suatu pemahaman dan pengertian  yang dalam bagi para pengambil keputusan di AS akan peluang yang dapat dimanfaatkan , maupun tantangan-tantangan yang akan dihadapi terhadap kenyataan yang ada. Tantangan yang mungkin dihadapi misalnya , masih adanya kecurigaan terhadap maksud dan niat dari strategi tersebut , adanya keraguan akan keberlanjutannya serta kondisi dan situasi suatu negara tertentu yang semua ini akan membatasi kemampuan dan kerelaan negara-negara sekawasan untuk mendukung strategi FOIP tersebut. Sikap politik presiden Trump juga cukup memberi  andil bagi kecurigaan yang dimaksud diatas. Sejarah juga pernah mencatat bahwa tidaklah mudah bagi para pengambil keputusan di AS untuk menyusun suatu strategi yang dapat bertahan lama yang dapat diintegrasikan dengan kebijakan AS di Asia,  ditengah keberagaman negara-negara Asia Tenggara. Contoh nyata semasa perang Vietnam dan situasi selama perang dingin dimana kiblat politik negara-negara sangat berbeda. Namun harus tetap diakui paling tidak sampai saat ini, bahwa AS masih merupakan kekuatan yang belum tertandingi oleh siapapun dikawasan Asia Pasifik. AS telah  memainkan peran sebagai penjaga keamanan dan perdamaian selama berpuluh tahun dan masih akan terus dibutuhkan kehadirannya baik bagi negara sekutu maupun negara mitra. Kuncinya adalah kebersamaan dan keterbukaan serta kerjasama menanggulangi tantangan-tantangan yang ada serta melihat peluang demi untuk keuntungan dan kepentingan bersama.

Kita akan melihat bagaimana pandangan Indonesia terhadap US Indo- Pacific. Secara geografis, negara kepulauan terbesar didunia ini terletak diantara dua samudera Pasifik dan samudera India yang dengan sendirinya posisi ini sangat mempengaruhi dalam menentukan geopolitiknya. Beberapa minggu lalu menteri luar negeri Retno Marsudi mengatakan bahwa Indonesia akan bekerjasama dengan negara-negara ASEAN yang lain untuk memperkuat arsitektur keamanan regional dalam kerangka kerjasama dalam Indo-Pasifik. Kepentingan Indonesia yang utama adalah mempertahankan stabilitas , menjaga keamanan dan mengejar kesejahteraan  untuk semua negara sekawasan sekitar samudera Pasifik dan India. Menlu Retno melanjutkan: “ We must all ensure that the Indian and Pacific Ocean do not become a site of battle for natural resources , regional conflicts and maritime supremacy”.[9] Negara-negara yang tergabung dalam QUAD , AS, Jepang, Australia dan India, sangat mendukung terciptanya “free and open Indo-Pacific” dan mengharapkan negara-negara maritime sekawasan juga ikut berpartisipasi dalam kerjasama strategis tersebut. Namun demikian terdapat interpretasi yang berbeda mengenai konsep ini, dimana Amerika Serikat menginginkan suatu kerja sama yang luas bersama-sama dalam QUAD sebagai salah satu cara untuk membendung China, yang faktanya sedang mencoba memperluas pengaruh kekuatannya ke Asia tenggara melalui investasi miliaran dollar AS dalam strategi BRI( Belt and Road Initiative. Dalam pertemuan puncak negara-negara Asia Timur pada bulan Nopember tahun 2018 yang lalu, presiden Joko Widodo juga menyampaikan pandangan Indonesia dalam menyikapi lingkungan strategis yang berkembang. Presiden menyampaikan beberapa prinsip kunci yang harus diikuti yaitu keterbukaan , keterlibatan, kerjasama, dialog serta kepatuhan pada hukum internasional. Seorang pengamat dari Indonesia berpendapat bahwa Indonesia harus tetap menerapkan pendekatan politik bebas aktif serta bekerja sama diantara dua kekuataan besar yang berhadapan. Indonesia juga mengharapkan negara-negara tetangga se ASEAN juga mengambil sikap independen terhadap konsep Indo-Pacific, dan berupaya menjadikan wilayah ASEAN menjadi poros kepentingan yang  berimbang antara negara-negara tersebut dengan kekuatan-kekuatan besar yang jadi mitra dari luar. Lewat sarana-sarana politik seperti misalnya persekutuan negara-negara Asia Timur (East Asia Summit), Forum Regional Asean, maka Indonesia bersama-sama dengan seluruh negara ASEAN yang lain harus terlibat langsung dan ikut menentukan dalam kerangka konsep Indo-Pacific. Artinya bahwa Asean harus senantiasa proaktif dalam merespon perkembangan situasi dikawasan dan actor penggerak dalam perubahan. (put themselves in the driver’s seat.) Tegasnya bahwa negara-negara ASEAN hendaknya bersatu dalam mengambil sikap dalam menanggapi perkembangan situasi yang berkaitan dengan  lingkungan strategisnya sendiri. Dengan kata lain bahwa ASEAN harus ikut berperan , dan tidak hanya menerima dan melaksanakan apa yang diinginkan dan diputuskan oleh kekuatan-kekuatan besar dari luar. Indonesia juga sangat berkepentingan dengan stabilitas dan keamanan di laut China Selatan dan akan memastikan bahwa deklarasi kode etik ( Declaration code of Conduct) yang telah disepakati antara ASEAN dan China tahun lalu, benar-benar dipatuhi dan dilaksanakan. Sebagai negara terbesar dengan penduduk yang terbanyak di Asia Tenggara , maka tidaklah berlebihan jika Indonesia mengambil peran lebih besar dan menjadi penjuru dalam penentuan kebijakan menyangkut keamanan dan pertahanan di kawasan ini.

  1.  Penutup

Konsep baru Keamanan dan Pertahanan di samudera Pasifik dan samudera India yang dicanangkan presiden AS Donald Trump sejak bulan Mei 2018 yaitu  US Indo-Pacific sangat jelas ditujukan untuk menghadapi perkembangan lingkungan strategis saat ini. Sekalipun wilayah tanggung jawabnya tetap sama dengan pendahulunya ( US Pacom), namun tujuan politiknya sedikit berbeda. AS berpendapat bahwa ada sebuah pertalian (connectivity) yang erat antara kedua samudera Pasifik dan India dan apa yang sedang berkembang disana, tidak dapat dipisahkan. Secara konkrit AS ingin merangkul negara India yang dianggap merupakan satu kekuatan baru diwilayah itu baik ekonomi maupun militer. Tak dapat disangkal bahwa factor India dan China adalah merupakan pendorong utama diadakan perobahan kebijakan strategi keamanan AS ini. Lebih jauh lagi, diharapkan bersama-sama akan menggalang kekuatan untuk membendung kekuatan ekonomi dan militer China yang akhir-akhir ini sangat intens dan agresif di samudera India. Akan tetapi apa yang diharapkan sepertinya tidak mudah dan mulus dilakukan oleh AS, khususnya di samudera India. Karena India mempunyai kepentingannya (interest) sendiri yang sudah ada sejak berpuluh tahun lalu ,yang dalam hal tertentu kebijakannya justru bertentangan dengan Amerika. Misalnya , kedekatan India  dengan Iran yang menjadi pemasok energy utama bagi India, tetapi menjadi musuh utama  AS. ASEAN bersatu ternyata juga sangat sulit diwujudkan karena masing-masing anggotanya mempunyai kepentingan sendiri-sendiri, sehingga merupakan tantangan tersendiri bagi AS. Indonesia sebagai negara terbesar di ASEAN, tetap teguh pada kebijakan politik yang bebas aktif, dan netral. Indonesia mengharapkan kawasan Asia Pasifik dan India tidak menjadi arena konflik antar negara-negara besar , tetapi sebaliknya keamanan dan kestabilan tetap terjaga demi untuk pembangunan ekonomi untuk kesejahteraan bangsa dan negara. US Indo-Pacific akan terus ada dan bekerja mencapai tujuannya, baik  disetujui atau tidak oleh negara-negara sekawasan, seperti apa yang sudah dilakukan berpuluh tahun yang lalu, dan ini adalah suatu kenyataan.

__________________________

REFERENSI

US National Security Strategy 2018. Diakses dari: < https://www.whitehouse.gov/wp-content/uploads/…/NSS-Final-12-18-2017-0905.pdf>

Doan, Xuan Loc. 2018. US’s Indo-Pacific plan unveiled with China as key target. Diakses dari Asia Times Hongkong [31 Mei 2018]

Medcalf, Rory. 2018. Why China doesn’t like the Indo-Pacific and why it matters. Diakses dari: < https://www.afr.com/news/economy/why-china-doesnt-like-the-indopacific-and-why-it-matters-20180520-h10aq6>; <https://nsc.crawford.anu.edu.au/people/academic/rory-medcalf?tb=news&page=1>;Parameswaran, Prashanth. 2018. ASEAN and the U.S. Indo-Pacific Strategy. Diakses dari: <https://www.wilsoncenter.org/blog-post/asean-and-the-us-indo-pacific-strategy>

PTI. 2018. US Pacific Command renamed as US Indo-Pacific Command. Diakses dari: The Economic Times [17 December 2018]

[1] National Security Strategy of the United States of America.

[2] Ibid

[3]  The Economic Times 17 December 2018

[4]  Ibid

[5]  0pcit

[6] opcit

[8] The Straight Times 16 Oktober 2018.

[9] ibid

Peperangan tak beraturan (PTB atau IW/irregular warfare), proksi, zona abu-abu, hybrid—peperangan modern kontemporer?

  • Pendahuluan

IW (irregular warfare), is used loosely as a synonym for unconventional warfare, asymmetric warfare, guerrilla warfare, partisan warfare, nontraditional warfare, low intensity conflict (LIC), insurgency, rebellion, revolt, civil-war, insurrection, revolutionary warfare, internal war, counterinsurgency (COIN), subersive war, war within a population, intrastate war, internal development, internal security, internal defense, stability, law and order, nation building, state building, small wars, peacemaking, peacekeeping, 4GW, and global war on terror(GWOT) [1].   

Peperangan generasi ke-4, hybrid, zona abu–abu, asimetrik [2], proksi, PTB, dll, sudah berjalan kl 35 tahun dan disebut sebagai perang modern kontemporer [3]. Artinya mirip satu sama lain. Bagamana respon di-lapangan, sudah siapkan pemerintah [4]? Biasa terjadi di-negara ketiga, tidak stabil, korup, atau memiliki sumber daya alam yang besar (minyak, hasil tambang lainnya) dan di-incar oleh orang asing. Ribetnya isu ini, periksa gambar bawah [5].

 

Keinginan mengeksplor sumber daya itu tentunya berniat memperoleh keuntungan maksimal menggunakan agen proksi, misal: paramiliter, insurgensi, gerilya, satuan perlawanan/resistance atau sewaan/mercenaries atau kelompok radikal dengan membantu dana, persenjataan, pelatihan atau bentuk lain. Harapannya negara pemilik sumber daya alam tersebut menjadi chaos sehingga mudah di-atur guna memperoleh keuntungan maksimal. Alasan, negara besar menggunakan cara seperti itu selain mewakili kepentingan yang terselubung—-murah menghindari konfrontasi langsung, seperti kasus Mujahidin di-Afghanistan [6] atau risiko perang besar. Keluarga peperangan tak beraturan bisa dimasukkan keluarga operasi militer selain perang (baca perang konvensional—aktor versus aktor). Operasi gabungan militer (atau sipil-militer) atau operasi tertutup/khusus yang lebih kapabel dan effisien dilakukan oleh pasukan khusus dibandingkan pasukan regular (GPF=general purpose forces). Makalah mengambil contoh praktek peperangan hybrid [7] atau ambigu atau abu-abu oleh Russia.

Sekilas tentang PTB (Peperangan tak beraturan/Irregular Warfare)

The most common type of threat today comes not from standing armies of enemy states but from groups that wage war from the shadows, wearing no uniforms and claiming no state but able to wreak havoc by using the basic precepts of guerrilla warfare. These actors understand that the only way to confront a larger, stronger enemy is to use unconventional tactics that turn their weakness into strengths. The understand that the battlefield is a human one and that creating psychological is the key to victory [8]

From Civil War to International WarIrregular Warfare is “war out of the dark“ (Proff Freidrich August) [9] .

Porsi bagian ini perlu benar-benar dipahami, mengingat semua bentuk peperangan non-tradisional atau non-konvensional banyak memiliki kriteria atau perilaku yang sama dengan PTB. Peperangan ini membutuhkan ketrampilan tinggi, khusus dan pemahaman lingkungan PTB. Militer harus kapabel membedakan peperangan konvensional, peperangan lawan insurjensi (COIN) dan ketrampilan pengetahuan sosial serta budaya manusia. PTB fokus kepada kontrol (bukan pengendalian) populasi dan obyektifnya adalah sukses mempengaruhi populasi [10]. Peperangan non-konvensional adalah ops militer atau ops militer kuasi [11] diluar peperangan konvensional, tidak termasuk peperangan nuklir ataupun biokimia [12]. PTB adalah [13]… perjuangan kekerasan antara aktor negara (pemerintah) dengan actor non-negara untuk memperoleh legitimasi dan pengaruh terhadap penduduk (populasi) yang relevan [14]. Pejoang proksi (insurgensi bagi pemerintah) atau bentuk perjoangan insurjensi adalah peperangan berlarut (protracted) yang menguji ketahanan pemerintah. Pantas kalau Kemhan AS memprioritaskan ketrampilan PTB (mengingat rumitnya) [15]. Untuk memudahkan gambaran, didefinisikan singkat peperangan beraturan (regular) atau tradisional atau konvensional, yakni … A form of warfare between the regulated militaries of states, or alliances of states, in which the objective is to defeat an adversary’s armed forces, destroy an adversary’s war-making capacity, or seize or retain territory in order to force a change in an adversary’s government or policies (DoD Directive 3000.07).

Apa yang membuat tidak beraturan adalah…What makes IW ―irregular is the focus of its operations—a relevant population, and its strategic purpose—to gain or maintain control or influence over, and the support of that relevant population through political, psychological, and economic methods. Warfare that has the population as its ―focus of operations requires a different mindset and different capabilities than warfare that focuses on defeating an adversary militarily (Joint Pub 3 – 0) [16]. Struktur perang beraturan (RW) dan IW seperti gambar dibawah [17]. RW menempatkan HNG, Populasi, dll sebagai isu lingkungan. IW memerlukan komponen seperti HNG (host nation group=tuan rumah) dan ruang pelibatan milik HNG. Blue adalah teman HNG, Red adalah musuh Blue & HNG, dan Populasi adalah sentra model (ditengah)…to support of the population becomes a key objectives of Blue, Red and the HNG[18]. Populasi adalah partner esensi Blue untuk menekan Red, melegitimasi HNG dan mendukung stabilisasi. PTB adalah pelibatan dalam negara (intrastate) versus satu (atau lebih) actor non-negara guna memperoleh legitimasi dan merebut pengaruh populasi [19]. Bentuk peperangan PTB bisa saja methamor ke gerilya, asimetrik, zona abu-abu, dll.

 

Contoh; Philipina dan China di-abad 20, Russia usai PD-I, Amerika tengah & Karibia tahun 1920 & 1930-an, perang saudara China sesudah PD-II, Vietnam tahun 1960-an, Lebanon tahun 1980, Somalia tahun 1990 dan Afghanistan & Irak dekade akhir ini. Sekolah pasca sarjana AL-AS menetapkan PTB sebagai pertarungan pemerintah versus aktor non-negara merebutkan legitimasi dan pengaruh terhadap penduduk[20]. PTB bisa dilakukan dengan  pendekatan langsung atau asimetrik, bisa saja dengan dimensi (full range military dimension) operasi militer penuh, dalam rangka mengalahkan pengaruh [21] & niat insurjensi terhadap populasi. Fokus adalah penduduk yang relevan (populasi)[22] dan kepentingan strategik adalah kapabilitas kontrol politik, psikologik dan ekonomik [23]. Disadari bahwa PTB [24] banyak menghadapi isu lingkungan (gambar RW dan IW) [25]. Model dibawah kapabel menggambarkan “fokus” (penduduk/populasi) dan “kontras” (pep konvensional vs ptb)[26].

 

PTB, mengutamakan focus mengurangi effektiftas insurgensi juga mewaspadai populasi. Populasi sulit di-kontrol, mereka bisa nasionalis, menolak pemerintah, ektremis, kriminal, radikal, teroris dan penantang yang tidak suka pemerintah atau kombinasi semua-nya. Dikelompokan tiga (3) elemen besar populasi (pro & kontra pemerintah, ragu-ragu) sebagai konstituen dalam PTB, seperti dibawah ini [27].

 

PTB memiliki 14 (empat belas) kegiatan operasi militer seperti: insurjensi[28], lawan insurjensi[29], pep non-konvensional, terorisme, pertahanan intern negara sahabat (FID), stabilisasi & security & transisi & rekonstruksi (SSTR), komstra, ops psiko, ops informasi, operasi civil-militer [30], intellijen & lawan intelijen, kriminalitas transnasional termasuk lintas narcoba, lintas senjata gelap & manusia, kriminal dilaut, perompakan, dll—bisa dijadikan bagian operasi militer selain perang. Linda Robinson menyarankan hal yang sama tentang Passus sebagai perangkat lawan insurgensi (COIN) [31]. Bukan karena “rambo” [32], tetapi kesanggupan menghindari kekerasan, memahami konsekuensi bumerang pembunuhan (ops couvert), kapabel ungkit perilaku penduduk,  mencapai obyektif politik, adaptif mengimbangi manuevra lawan, kapabel peperangan asimetrik, konflik intensitas rendah, dan lintas budaya & social—kapabel memisahkan pengaruh lawan terhadap  populasi [33].

Peperangan proksi [34]

No longer were large mechanized armies the solution to bring a conflict to a quick and decisive ending and the distinction between   conventional and unconventional conflicts soon started to fade. This phenomenon required a completely new way of fighting wars which demanded a broad and coherent cooperation between both civilian and military actors [35]. In this type of war . . . the task is to destroy the effectiveness of the insurgents’efforts and his ability to use the population for his own ends. (Air Force General Curtis E. Lemay) [36]. Often proxy war promises to hit the political sweet spot between doing too little and too high a cost. In reality, however, it is an imperfect form of warfare [37] .

Peperangan yang kompleks, lemma antara ethika, kebutuhan, effisiensi campur aduk dan dimensi taktik, operasi, strategi, dan penangkalan. Segala isu diciptakan untuk melemahkan dan membingungkan populasi. Isu yang tidak boleh luput dari perhatian dan pemahaman manajer personalia, pendidikan dan latihan militer [38]—krusial bagi staff operasi, panglima, komandan, dll [39]. Mengapa? Penjelasan diatas menyadarkan bahwa NKRI bisa menjadi sasaran proxy. Peperangan proksi adalah pertikaian yang didorong aktor lain yang tidak terlibat langsung dalam pertikaian tersebut. Prasyarat; pertikaian tersebut langsung terjadi dan sudah terjalin hubungan batin lama antara aktor luar dengan “yang terlibat pertikaian” termasuk masalah pendanaan, pelatihan atau dalam bentuk bantuan material lain-nya[40].

Bisa juga actor proksi mempunyai agenda tersendiri versus pemerintah. Peperangan proksi [41] adalah penganti sementara dan logika untuk meneruskan kelangsungan pencapaian kepentingan nasional negara sponsor. Jahatnya tidak terjadi dinegara sponsor justru menghindari keterlibatan langsung, khususnya pertempuran yang mengerikan. Definisi Bar-Siman-Tov lebih sederhana—peperangan proksi identik dengan perang dingin, yakni menggunakan aktor substitusi untuk menghindari konfrontasi/pelibatan langsung atau risiko terjadinya perang besar. Dalam peperangan proxy pasti melibatkan kekuatan sponsor yang mengintervensi, meskipun tidak menjadi fokus actor pemerintah—fokus aktor negara lebih pada usaha mengalahkan unit proksi ini dan memenangkan pengaruh terhadap populasi. Mumford memahami peperangan proksi sama dengan intervensi proksi. Kontrol dan peran negara “sponsor” sangat besar sekali pengaruhnya. Unit proksi yang sudah biasa bertarung lama, dan ter”budaya” dengan brutalnya peperangan akan sulit untuk kembali seperti budaya lama yang damai. Perang proksi menjadi standar kompetisi atau strategi besar antar negara besar, mulai perang dingin, perang Vietnam [42], pelibatan di Afghanistan, konflik Ukraina (Donbass) sampai perang saudara Syria [43]. Peperangan proksi menggantikan konfrontasi (besar) militer dan saat yang sama (intervensi) memberikan dukungan agar bisa berlangsung lama dan bahkan menjadi “dingin” dengan sendirinya [44]. Peperangan tersebut dianggap modern dengan hadirnya unit cyber, unit militer (pasukan khusus) tanpa uniform dan hadirnya unit pasukan privat (PMC—private military companies)—belakangan literatur lebih memahami sebagai bentuk peperangan hybrid. Mumford lebih menyoroti peperangan ini dari identifikasi perang proksi.

Analisis dilakukan melalui serangkaian indicator konflik yang berlaku, tanpa kehadiran konflik sepertinya konklusi-nya adalah kebalikannya. Mumford tidak mengulas keterlibatan actor besar/kuat sebagai bagian dari peperangan proksi—karena itu perang saudara di-Spanyol, Afghanistan diklasifikasikan sebagai perang non-proksi. Eland menyebut operasi proksi yang terjadi di-Somalia, adalah suksea bagi AS mengingat AS kapabel menembus dan mempengaruhi Somalia melalui kooptasi effektif dengan agen local [45]. Perang proksi membutuhkan saling ketergantungan sang ”sponsor” (principal, surrogate, induk semang) dengan agen local sebagai unit proksi. Model ketergantungan sang principal (surrogate, menthor, induk semang) dengan agen proksi periksa gambar berikut [46]. Kathleen Eisenhardt menyebut hubungan prinsipal-agen, seperti si-agen menjalankan dikte si-sponsor, si-agen butuh dukungan (dana, pelatihan, dll) dan hubungan ini berjalan dinamik [47].

 

Berikut tabel perang proxy modern dengan kolom unit proksi, konflik, mandala, principal, kejadian dan periodesasi-nya, dll, seperti di-bawah ini [48]:

 

Bagaimana dari sisi hukum? Dua (2) cara pandang dari konflik bersenjata—[1] absahnya (pembenaran) berperang dan [2] menjalankan perang dengan baik/adil. Teoritik bisa saja terjadi pelanggaran aturan saat perang sambil tetap mematuhi aturan konflik bersenjata. Alasan ini membuat kedua cara pandang secara hukum ini satu sama lain mutlak berbeda dan tidak mengait satu sama lain [49]. Jus (atau ius) ad bellum—mendefinisikan absahnya pelibatan suatu negara dalam perang dengan kriteria tertentu dan membuat perang tersebut berjalan adil. Jus in bello—seperangkat hukum yang berlaku guna mengatur pelaksanaan perang dengan baik. Sesi ini ditutup dengan komen The National Interest [50]:

THE SYRIAN Civil War is the world’s bloodiest conflict, and much of the blame can be laid at the feet of Syria’s neighbors and the world’s major powers. So far, France, Iran, Israel, Jordan, Qatar, Russia, Saudi Arabia, Turkey, the UAE, the United Kingdom and of course the United States have all intervened—and this long list of countries excludes the dozens of other coalition members that back U.S. efforts or otherwise played smaller roles. These states have bombed their enemies in Syria, provided money, arms and training to allied government or rebel groups, offered a safe haven to fighters, pressed their preferred cause at international fora like the United Nations, and otherwise used their power to help a local group that acts as a proxy for their interests.

Peperangan zona abu-abu atau hybrid ?

The end of the Cold War and subsequent evolution of the military and political atmosphere has led to an increase in the use of gray zone activities. Gray zone conflict consists of “activity that is coercive and aggressive in nature, but that is deliberately designed to remain below the threshold of conventional military conflict and open interstate war [51].

 

Hal Brands mengawali tulisan, “Paradoxes of the Gray Zone”, menyebut [52] peperangan hybrid adalah konflik yang sarat dengan koersif dan agresif, berada di-antara garis konflik militer konvensional dan perang antar negara terbuka. Pendekatan zona abu-abu, kabarnya di-rekayasa kekuatan revisionis [53] yakni aktor yang berupaya memodifikasi beberapa aspek lingkungan yang ada—untuk meraup keuntungan dikaitkan dengan kemenangan perang. Pendekatan zona abu-abu [54] bermaksud memenangkan pertarungan tanpa peperangan terbuka atau melanggar tetapan dan tidak membebani pelaku dengan hukuman atau risiko-nya—murah ongkosnya. Lebih komplek dibanding keluarga besar PTB dan ambigu dan memiliki fitur [55] seperti taktik konvensional, serangan cyber, propaganda dan peperangan politikal [56], ekonomi koersif dan sabotase, serta peran sponsor pejuang proksi terus bergerak meningkat sampai ke-ekspansi militer. Jend Votel membenarkan peran Passus—mempertimbangkan terbatasnya langkah kaki pasukan, menghindari konflik langsung atau konvensional, tidak membatasi serangan presisi atau bertarung melalui proksi, lebih menggunakan kadar pengaruh dan “perang politik”[57]—lahan subur Passus.  Peperangan ini ditekankan pada persaingan politik (luar negeri), ekonomi dan operasi informasi [58] serta aksi militer intens. Tingkat-nya di-atas loby diplomasi kondisi-mapan dan di-bawah perang konvensional. Perang politik lebih lanjut dikatakan…dimainkan dalam ruang antara diplomasi dan peperangan terbuka dengan syarat status tradisional tidak mendukung atau tidak efektif dan opsi penggunaan militer konvensional dianggap tidak pantas karena berbagai alasan.

 

Perang politik memusat (sentrik) pada populasi dengan kegiatan mempengaruhi, membujuk, bahkan mengkooptasi [59]. Bahkan George Kennan, menggambarkan perang ini sebagai “penggunaan semua cara atas perintah suatu bangsa, melalui (minimal konflik, pen?) peperangan untuk mencapai tujuan nasional”. Langkah-langkah-nya seperti propaganda putih, aliansi politik, program ekonomi atau “operasi tertutup” (couvert opts, pen) seperti klandestin mendukung teman, perang psikologis ‘hitam’, dan mendorong resistansi bawah tanah di-negara-negara proxy [60]—tetap memanfaatkan medsos untuk merusak tata pikiran normal.

 

Russia dengan praktek peperangan hybrid dan proxy.

When Vladimir Putin schemed to annex the Crimean peninsula, he didn’t launch an “invasion.” Instead, Russia relied on techniques including phony media reports, special forces and and proxy fighters (dubbed “little green men”), and cyber attacks [61]. … This kind of hybrid warfare gave Putin just enough plausible deniability about what was clearly happening — Russia seizing territory that belonged to another nation.

 

Mengawali testimoni, Chivvis menyebut Russia mengawali peperangan hybrid ini dengan narasi sejarah viktimisasi kekuatan Barat [62]. Lanjut Chivvis, …[63] Russia memanfaatkan sebagai instrumen subversif dan sebagian diantaranya adalah aksi non-militer. Russia menggunakan peperangan hybrid untuk mengejar (pursue) obyektif kepentingan nasional. Moskow menggunakan perang hybrid untuk memastikan konsistensi pada sejumlah kritik kebijakan Russia, membagi dan melemahkan NATO; menumbangkan pemerintah pro-Barat; menciptakan dalih perang; aneksasi wilayah; dan memastikan akses ke pasar Eropa dibawah kontrolnya. Meski istilah ini masih ambigu—relatif sama, seperti perang hibrida, strategi zona abu-abu, persaingan konflik singkat, tindakan aktif dan perang generasi baru. Namun bagi Russia itu sama, yakni utility semua instrumen kekuasaan dan pengaruh, penekanan instrumen non-militer bahkan ke-luar wilayah. Aksi-aksi prioritas yang di-lakukan Russia:

Pertama, penggunaan kekuatan militer yang ekonomik [64]. Menyadari peluang-nya kecil versus konflik konvensional versus NATO, Moskow memilih mengejar kepentingan tanpa kekuatan militer terbuka dan memanfaatkan senjata konvensional nuklir sebagai bagian strategi hibrida, namun memilih yang ekonomik. Contoh sangat bagus adalah peperangan cyber [65].

Ke-dua, kegigihan. Mengapa? Perang hibrida kapabel memecah tirai perang dan damai. Realita perang ini adalah perubahan intensitas konflik terus menerus setiap saat. Sambil menjalankan konsep peperangan hybrid, setiap saat bisa berubah intens atau mendadak berubah dalam pola tempur konvensional [66].

Ke-tiga, populasi-sentris. Analis militer Rusia sudah lama melacak pola AS mempengaruhi populasi (plus NATO) di-Balkan, Timur Tengah, dan di tempat lain selama ¼ abad akhir ini, via operasi informasi [67], membina kelompok proxy dan operasi pengaruh lainnya. Rusia menggunakan format hybrid dengan pendekatan disiplin politik dan sosiologi pencapaian tujuan.

 

 

 

 

 

Referensi:https://hips.hearstapps.com/hmg-prod.s3.amazonaws.com/images/russian-paramilitaries-stand-guard-outside-of-a-ukrainian-news-photo-476960813-1531492781.jpg?crop=1xw:1xh;center,top&resize=480:*… Russian paramilitaries stand guard outside of a Ukrainian military base in the town of Perevevalne near the Crimean city of Simferopol on March 6, 2014 in Perevevalne, Ukraine…Russia menggunakan kekuatan paramiliter (bukan militer) sebagai bagian dari pep hybrid-nya (pen).

 

Russia menetapkan tiga (3) diskriptif obyektif (sasaran) yang harus dikejar:

[1] Menaklukan wilayah tanpa kekuatan militer terbuka atau konvensional. Krimea yang menjadi korban, tahun 2014, menjadi obyek diskusi tentang langkah hybrid Russia. Sukses aneksasi Krimea bergantung pada “orang-orang hijau kecil” yang keras-keras dan di-kenal, yakni Passus Russia [68] dibawah control aturan pelibatan dan struktur komando Passus terbaru. Penggunaan elit dibarengi letupan perang informasi dan deploy unit proxy loyalis Russia—aneksasi Krimea berjalan lancar tanpa letusan senjata. Analog aneksasi Russia di-Georgia, tahun 2008, meski tidak sesukses Krimea [69]. “Konflik beku” [70] di-Ukraina dan Georgia menghambat upaya integrasi negara ini dengan Eropa Barat. Melalui artikel tahun 2013, direferensikan sebagai perang modern, Kasum militer Russia Jen. Valery Gerasimov menyatakan cara non-militer telah digunakan empat kali lebih sering dalam konflik modern daripada tindakan militer konvensional.

[2] Ciptakan dalih aksi militer lebih terbuka dan konvensional. Aneksasi Krimea menimbulkan kecemasan seandainya Moskwa menggunakan strategi yang sama untuk aksi militer dimana saja, termasuk Baltik. Bisa juga Russia menciptakan perselisihan dengan minoritas Russia di-Estonia dilanjutkan narasi yang menggambarkan pemerintah bertindak represif dan kemudian memanfaatkan-nya sebagai pembenaran invasi militer Russia [71]. Kampanye ini akan disertai dengan operasi cyber guna meningkatkan ketegangan atau membuat kebingungan nasional atau menghalang-halangi bantuan NATO. Hampir pasti disertai upaya mempengaruhi opini Eropa dan dunia, dan menguntungkan serta memihak aksi Russia. Di-lapangan tentu saja melibatkan penggunaan agen dan proxy rahasia Rusia.

[3] Gunakan langkah-langkah hybrid untuk mempengaruhi politik dan kebijakan negara-negara di-Barat dan di tempat lain. Tujuan ini membuat tantangan paling mendesak bagi pemerintah Barat, termasuk Amerika Serikat. Kremlin tidak berusaha menggunakan hybrid sebagai pengganti aksi militer atau sebagai rujukan untuk berperang, namun lebih mengharapkan negara yang disasar mengakomodasi kepentingan nasional Russia. Paling rentan adalah negara yang lemah, tidak kaya, mudah disuap, dll. Bahkan negara kaya-pun seperti Jerman atau AS tidak menjamin kekebalan itu. Instrumen peperangan hybrid yang digunakan Russia:

Pertama, operasi informasi (information warfare). Media yang digunakan yakni komunikasi strategik melalui outlet (Russia today, Sputnik News), program TV, mendanai Lembaga think-tank Eropah, membangun troll internet, bot-bot dan produksi berita palsu (hoax) begitu masif dan intens-nya, via distribusi berita dengan volume yang luar biasa dan terusan ganda (multichannel). Sebagai bagian dari propanda; tujuannya adalah membentuk opini, memperkeruh suasana dan mengaburkan opini yang benar dan actual dengan pengiriman berita intens, massif dan berharap banyak bahwa opini terbentuk—cara yang dianggap menguntungkan Kremlin. Tentu saja konten yang dikirim lebih berkualiatas berbeda dengan ke-negara yang miskin atau sedang berkembang, mengingat penduduk Eropah sudah berpendidikan tinggi [72].

Ke-dua, operasi cyber. Kremlin memiliki organ cyber dilingkungan militer yang terus di-kembangkan baik jumlah maupun kualitasnya—dikenal sebagai “little-green men”. Kekuatan organic cyber sangat mungkin meretas jejaring system informasi Barat untuk berbagai keperluan peperangan cyber atau peperangan jejaring sentrik (network centric operations). Informasi ini (plus pengalaman-nya) digunakan untuk mempengaruhi pemilihan dan hasil politik lainnya di luar perbatasan Russia, termasuk di pemilihan Presiden A.S, tahun 2016[73]. Diluar teknik pencurian data, Russia memiliki teknik cyber yang lebih canggih guna memanipulasi atau merusak data [74] system informasi bagi kepentingan politik Barat—namun belum ada bukti kuat Russia memiliki kapabilitas seperti itu. Sebaikya pihak Barat mulai membangun pertahanan cyber agar tidak mudah dijebol Russia.

Ke-tiga, proksi. Menggunakan berbagai unit proksi pendukung Moskwa. Proxy adalah kelompok yang bersimpati terhadap kepentingan Russia, misalnya: Night Wolves, klub gowes, Ultranasionalis, Geng anti-Amerika…dan pemimpinnya adalah sohib Presiden Putin. Salah satu unit proxy Russia adalah Night Wolf,…peran-nya belum diketahui tetapi diduga telah mengintimidasi penduduk dan memfasilitasi kegiatan hybrid dibelakang layar. Upaya Russia mengeksploitasi gerakan protes Eropa, misal; mendukung kelompok anti-Uni Eropa (UE) dalam referendum 2016 perdagangan Ukraina di-Belanda. Russia di-curigai mendukung kelompok gas anti-serpih [75] dan gerakan protes di-Bulgaria guna mempersulit Bulgaria mengurangi ketergantungannya pada sumber energi Russia.

Ke-empat, pengaruh ekonomi. Russia menggunakan pengaruh ekonomi langsung dan tidak langsung untuk mempengaruhi Eropa. Moskow menggunakan energi sebagai senjata kebijakan luar negeri, saat menutup pasokan gas alam ke-Ukraina, memaksa Ukraina sepakat mengenai harga gas Russia. Pengaruh Ekonomi tidak langsung telah dibangun di-Eropa di-zaman Soviet. a.l: jaringan pipa gas alam yang luas, raksasa gas milik negara Russia Gazprom dan anak perusahaan yang berpengaruh di-banyak negara Eropa. Russia menawarkan investasi besar-besaran membangun jaringan pipa energi dan infrastruktur lain dinegara-negara yang bergantung pada pasokan energi Rusia sebagai perangkat pengaruhnya—sering dilakukan negosiasi kamar belakang dan investasi legal lainnya.

Ke-lima, aksi klandestin. Russia kapabel dengan spionase tradisional sebagai bagian dari metode hybrid-nya, seperti: menyuap, memeras, dan berbagai cara terus menerus dan tentu saja berusaha mempengaruhi tokoh politik lemah guna mendukung Moskwa[76]. Sebagai bagian program modernisasi militernya, Rusia telah memperkuat pasukan operasi khusus dengan berbagai peran[77]. Bisa saja inflitrasi ke-negara lain dan menciptakan peperangan hybrid. Intelijen militer Rusia, misalnya, diyakini menghasut rencana 2016 menggulingkan pemerintah Montenegro yang pro-NATO. Bukti suksesnya peran Passus Russia merebut Krimea dan mendukung insurgensi di-Donbass (Ukraina), dan kemungkinan beroperasi di beberapa negara sekutu NATO.

Ke-enam, pengaruh politik. Pemimpin Russia menggunakan diplomasi tradisional, untuk mendukung partai dan kandidat politik pilihan mereka, menawarkan kunjungan tingkat tinggi di-Moskow, sebaliknya Russia melakukan kampanye gelap versus pemimpin politik yang mengkritisasi Moskow. Meski di-curigai terus menerus plus ada klim diplomasi, namun Russia tetap membantah terus.

 

Akhirnya,…..bagaimana dengan peperangan hybrid ini di-Sudan, Somalia, Iran, Iraq, Libya, Palestina, Ukraina, Georgia, Krimea, sampai ke L China Selatan. Tantangan untuk di-diskusikan dan di-bahas lebih dalam oleh Unhan, lemdik-lemdik TNI, dan Angkatan…atau mengamati perilaku jaringan kelompok Santoso di-Poso sampai ke-kelompok insurjensi (kelompok kriminal?) di-Papua dan kelompok radikal sudahkah mengadopsi peperangan modern ini….petakan dengan teori (meskipun sedikit) masuk golongan peperangan apa?

_____________________________

[1] David J Painter, Maj US Army, et-all (3 personnels), Reorganizing for Irregular Warfare, (Thesis  US NPS, Master of Science in Defense Analysis, Dec 2009), halaman 10. … GWOT=global war on terrorism.

[2] Adam B. Lowther, et-al; Americans and Asymmetric Conflict, (Preager, 2007), halaman 3…fokus baru tentang konflik non-konvensional disebut sebut dalam nomenklatur terakhir sebagai peperangan asimetrik.

[3] Major Amos C. Fox, US Army, In Pursuit of a General Theory of Proxy Warfare, (Land Warfare, Paper 123/February 2019, The Institute of Land Warfare, US Army), halaman 2… Proxy environtments dominate modern war.

[4] Definisi peperangan non-konvensional yang bermunculan usai perang dingin, patut ditengarai setidak-tidaknya dijadikan obyek penelitian bagi Lemdik TNI guna diajarkan dan digunakan sebagai “obyek” kajian, tulisan, kertas karya, thesis, dll.

[5] http://iblagh.com/en/main-political-rifts-middle-east/….  perhatikan hadirnya negara besar & kaya yang punya kepentingan dinegara tersebut—biasa disebut surrogate, menthor, sponsor, dll. Aktor non-negara dalam negara proxy disebut agen proxy. Misal: di Yemen (Yaman) adalah pok Houti. Sedangkan ISIS sama-sama dipelihara Iraq dan Syria, dst.

[6] Salem B. S. Dandan, On Proxy War, A Work on Progress, Depart of Political Science of Copenhagen.

[7] Hybrid (tau Hibrida) dalam bisnis adalah konsep yang menawarkan produk unggulan, unik dan beda dgn yang lainnya serta harga yang murah.

[8] Linda Robinson, Master of Chaos: The Secret History of the Special Forces, CSIS, Nov 2005.

[9] Freidrich August, Modern Irregular Warfare; In Defense Policy and as a Military Phenomenon, (Franklin House Press), halaman 21 dan 3.

[10] LtCol Norman E Emery, US Army, Irregular Warfare informations operations: Understanding the Role of People, Capabilities and Effects. (Journal Military Review, November-December 2008), halaman 27.

[11] Kuasi—pura pura, kabur, samar samar, sepertinya,dll.

[12] Nagao Yuichiro, Unconventional Warfare: A Historical Perspective, Paper, halaman 167, 168.

[13] David J Painter, et-all, Maj US Army, Reorganizing for Irregular Warfare, (Thesis US NPS, 2009, MS Defense Analysis), halaman 1, menunjuk  JP 3 – 0, JP (joint Publication)…artian full range of military operations … diambilkan dari JP 3 – 0 halaman 10, ch-1…..The potential range of military activities and operations extends from military engagement, security cooperation, and deterrence in times of relative peace up through major operations and campaigns that typically involve large-scale combat.

[14] Penduduk yang relevan maksudnya penduduk yang mulai digarap pok ektrim ini untuk melawan pemerintah.

[15] Eric V Larson, et-all, (4 personnel), Assesing Iregular Warfare; A Framework for Intelligence Analysis, (RAND CORPT, 2008), halaman 4.

[16] David J Painter, Maj US Army, et-all (3 personnels), Reorganizing for Irregular Warfare, (Thesis  US NPS, Master of Science in Defense Analysis), halaman 11 & periksa JP ( 3 -0 ), Version 1, tahun 2007, Executive Summary…. Irregular warfare is about people, not platforms. IW depends not just on our military prowess, but also our understanding of such social dynamics as tribal politics, social networks, religious influences, and cultural mores. People, not platforms and advanced technology, will be the key to IW success. The joint force will need patient, persistent, and culturally savvy people to build the local relationships and partnerships essential to executing IW.

[17] IW=irregular warfare, RW=regular warfare (digunakan dalam perang konvensional antar actor negara).

[18] Alex Wahlman, Improving Capabilities for Irregular Warfare, Volume – II: Capabilities Analysis.(Insitute Defense Analysis, Joint Advanced Warfighting Program, August 2007), Hint: capabilities/kemampuan (menurut MORS/Military Operations Research Society) didesain untuk memberikan dampak kepada musuh, bukan atribut teknis seperti kecepatan gerak, aksi radius, kecepatan tembak, kecepatan maksimum, jarak tembak maksimum, dll,  yang signifikan tidak memberikan dampak kepada musuh—bukanlah suatu atribut kapabilitas/kemampuan), halaman I-3.

[19] Ibid, halaman xi, populasi relevan adalah (barangkali) penduduk yang terlibat dengan kelompok PTB (yang akan  mempengaruhi), pen.

[20] David J Painter, Maj US Army, et-all (3 personnels), Reorganizing for Irregular Warfare, (Thesis  US NPS, Master of Science in Defense Analysis), halaman 11.

[21] Joint Publication 3 – 1, Information Operations, (DoD, November 2014), halaman II-1.Influence is at the heart of diplomacy and military operations.

[22]David J Painter, Maj US Army, et-all (3 personnels), Reorganizing for Irregular Warfare, (Thesis  US NPS, Master of Science in Defense Analysis), halaman 11.

[23] Ibid,

[24] Cpt Richard F. Brown (TRADOC/Army Analysis Center – Monterey), Dr. Jeffrey Appleget (Operations Research Department, NPS), Timothy K. Perkins (U.S. Army Engineer Research and Development Center), Curtis Blais (MOVES Institute, NPS, Developing Best Practices for Validation of Irregular Warfare Models, IW modeling…Because IW is focused on influencing relevant populations, the focus of IW modeling is substantially different than most existing combat models that represent conflict between two organized, armed (and typically mechanized) forces.

[25] Cpt Richard F. Brown (TRADOC/Army Analysis Center – Monterey), Dr. Jeffrey Appleget (Operations Research Department, NPS), Timothy K. Perkins (U.S. Army Engineer Research and Development Center), Curtis Blais (MOVES Institute, NPS, Developing Best Practices for Validation of Irregular Warfare Models, IW modeling…Because IW is focused on influencing relevant populations, the focus of IW modeling is substantially different than most existing combat models that represent conflict between two organized, armed (and typically mechanized) forces.

[26] Ibid, halaman 12. Dua model ini berawal dari model Gordon McCormick (pengajar NPS).

[27] LtCol Norman E Emery, US Army, Irregular Warfare Informations Operations: Understanding the Role of People, Capabilities and Effects. (Journal Military Review, November-December 2008), halaman 29.

[28] Sebenarnya siapapun kelompok yang menyerang pemerintah atau aparat pemerintah (Ikon pemerintah), dapat dikelaskan sebagai insurjensi, misal kelompok Santoso, kelompok kriminal bersenjata, dll dan TNI tentunya bisa saja masuk dan berperan. COIN—counterinsurgencies atau lawan insurjensi yakni cara bertindak militer versus insurjensi.

[29] COIN = counterinsurgencies

[30] Operasi ini sebenarnya gabungan sipil dan militer ada tahap awal, ancaman bisa diatasi oleh pemda setempat maka kapemda setempat menjadi Komandan (unit militer terbatas/intel dan membantu),  meningkat sampai akhirnya diperlukan operasi militer penuh diambil alih komadan militer—joint civil military operation. Kalau sudah jelas mengapa didefinisikan sebagai kelompok kriminal bersenjata? Hadirnya kelompok kelompok ini lantas siapa (badan, Kementerian, atau Lembaga nasional mana?) yang mendefinisikan atau menetapkan dengan tegas dan resmi…insurjensi atau bukan—sebagai aksi dan respon segera, kalau tidak terlambat aksinya nanti.

[31] Linda Robinson, Master of Chaos: The Secret History of the Special Forces, CSIS, Nov 2005.

[32] Fim Rambo dengan bintang Silvester Stallone…..sebagai anggota Passus yang begitu  tangguh fisiknya….

[33] Ibid,op-cit.

[34] Beberapa literatur menyebut proxy war, proxy warfare, or war by proxy artinya sama, bisa dibolak balik.

[35] L. Degenaar – First Lieutenant Royal Netherlands Air Force, How Military Change Affected Western States Ability to End     Conflicts Decisively, ( Militaire Spectator, Jaargang 184 Nummer 11-2015).

[36] LtCol Norman E Emery,US Army, Irregular Warfare informations operations: Understanding the Role of People, Capabilities and Effects.(Military Review,  November-December 2008).

[37] Daniel Byman, periksa https://nationalinterest.org/feature/why-states-are-turning-proxy-war-29677

[38] Kata Manajer berasal dari manajemen yang memegang fungsi tertentu. Mungkin kata manajemen lebih baik dibandingkan kata pembinaan yang sering digunakan dilingkungan TNI, yang terakhir sepertinya tidak jelas atau tidak ada aksinya—membina ? Seperti apa? Aksi Pembina bandingkan dengan Manajer, yang terakhir ini harus membuat planning, dst, termasuk masa depannya (future event). Ketidakjelian manajer membaca situasi apa yang akan terjadi atau bahkan sudah terjadi sangatlah membahayakan bagi suatu organisasi khususnya militer.

[39] Mungkin ada benarnya pejabat personil selalu diambilkan dari mereka-mereka yang terbaik.

[40] https://en.wikipedia.org/wiki/Proxy_war, tanggal 2 Maret 2019.

[41] Andrew Mumford, Proxy Warfare and the Future of Conflict, (The RUSI Journal, 158:2, 40-46, DOI: 10.1080/03071847. 2013.787733, 28 April 2013), halaman 40-46.

[42] Konon kabarnya perang gerilya (anggota PTB) di Vetnam adalah yang paling komplikatif.

[43] Konyukhovskiy, Pavel V &  Grigoriadis, Theocharis, Proxy Wars, (Working Paper, Saint Petersburg University, Faculty of Economics, Department of Economic Cybernetics &  Freie Universität Berlin, School of Business & Economics & Institute of East European Studies, Garystr. 55, 14195, Berlin, Germany), halaman 1…perang Syria dan Ukraina  tersebut disebut-sebut sebagai konflik modern.

[44] Ibid,

[45] Ibid,

[46] Major Amos C Fox, US Army, In Pursuit of a General Theory of Proxy Warfare, (Land Warfare, Paper 123/February 2019, The Institute of Land Warfare, US Army), halaman 2.

[47] Ibid, halaman 7.

[48] Ibid, halaman 3.

[49] Karma Nabulsi, Jus ad Bellum/Jus in Bello, paper, 1 halaman.

[50] https://nationalinterest.org/feature/why-states-are-turning-proxy-war-29677.

[51] Asmeret Naugle &  Michael Bernard,  Proxy War in the Gray Zone, (Sandia National Laboratories).

[52] Hal Brands, periksa https://www.fpri.org/article/2016/02/paradoxes-gray-zone/

[53] Nathan Freier, et-all, Outplayed: Regaining Strategic Initiative in the Gray Zone, (US Army War Coll, SSI), halaman 4, AS menganggap Russia, China dan Iran sebagai kekuatan revisionist….

[54] Definisi Gray Zone bisa berbeda bahkan menuliskannya juga, ada yang menulis  grey zone atau gray zone…terserah apapun juga namanya yang penting maksudnya sama.

[55] Fitur, diartikan lebih ke kualitas produk atau teknologi yang memudahkan.

[56] Joseph L. Votel, Charles T. Cleveland, Charles T. Connett, and Will Irwin, Unconventional Warfare in the Gray Zone, (JFQ 80, 1st Quarter 2016), halaman 101….Political warfare is played out in that space between diplomacy and open warfare, where traditional statecraft is inadequate or ineffective and large-scale conventional military options are not suitable or are deemed inappropriate for a variety of reasons. Political warfare is a population-centric engagement that seeks to influence, to persuade, even to co-opt. One of its staunchest proponents, George Kennan, described it as “the employment of all the means at a nation’s command, short of war, to achieve its national objectives,” including overt measures such as white propaganda, political alliances, and economic programs, to “such covert operations as clandestine support of ‘friendly’ foreign elements, ‘black’ psychological warfare, and even encouragement of underground resistance in hostile states.”

[57] Ibid,

[58] Joint Publication 3 – 1, Information Operations, (DoD, November 2014), halaman ix,—IO as the integrated employment, during military operations, of IRCs (information related capabilities) in concert with other lines of operation to influence, disrupt, corrupt, or usurp the decision making of adversaries and potential adversaries while protecting our own.

[59] Joseph L. Votel, Charles T. Cleveland, Charles T. Connett, and Will Irwin, Unconventional Warfare in the Gray Zone, (JFQ 80, 1st Quarter 2016), halaman 101.

[60] Ibid, halaman 123.

[61] https://www.popularmechanics.com/military/a22140482/nato-russia-hybrid-warfare-start-a-war/

[62] Douglas J Lovelace, Jr, Terrorism; Commentary on Security Documents: Hybrid Warfare and the Gray Zone Threat; (Oxford University Press, 2016), halaman 8….Iredentist sepertinya kecenderungan untuk menunjukan kembali kejayaaan yang lama.

[63] Christopher S. Chivvis, Understanding Russian “Hybrid Warfare” and What Can be Done About It, (RAND CORPT), Testimoni tanggal 22 Maret 2017, ….before the Committee on Armed Services United States House of Representatives. Istilah pepranagan abu-abu muncul seiring dengan munculnya peperangan hybrid. Namun Chivvis nampaknya lebih suka menggunakan kata hybrid dibanding peperangan abu-abu atau ambigu ini.

[64] Ekonomikal (economical)—lebih memilih fokus pada tercapainya manfaat atau effektifitas sasaran atau keinginan dengan konsekuensi penggunaan sumber daya yang minimal.

[65] Christopher S. Chivvis, Understanding Russian “Hybrid Warfare” and What Can be Done About It, (RAND CORPT), Testimoni tanggal 22 Maret 2017, halaman 2.

[66] Konon kabarnya tentara Israel sendiri kewalahan menghadapi perubahan pola tempur Hammas.

[67]

[68] Konon kabarnya lebih elite dari Spetnaz.

[69] https://edition.cnn.com/2014/03/13/world/europe/2008-georgia-russia-conflict/index.html, Aneksasi di Georgia, berlangsung 5 hari, dilaporkan 170 pegawai/tentara, 14 polisi, 228 sipil terbunuh dan 1747 luka luka. Sedangkan pihak Russia 67 terbunuh (militer) dan 283 luka luka.

[70] Mungkin saja karena konflik yang terjadi didaerah dingin mmaka disebutt cold conflct.

[71] Christopher S. Chivvis, Understanding Russian “Hybrid Warfare” and What Can be Done About It, (RAND CORPT), Testimoni tanggal 22 Maret 2017, halaman 3.

 

[72] Ibid, halaman 3.

[73] Ibid,

[74] Isu teknis adalah big data mining dalam cyber warfare.

[75] Ibid, ….gas anti serpih adalah produk gas yang diemukan diformasi batu serpih.

[76] Sebagian literatur menyebut sebagai smart approach sebagian menyebut sebagai shape approach dengan berbagai cara, tidak peduli halal atau haram, sepertinya isu moral/ethika diabaikan.

[77] Mungkin semacam FID (foreign internal defense), kecabangan Passus AS (atau SOF/special operations forces).

Merumuskan Definisi Keamanan Maritim

 Letkol Laut (P) Dickry Rizanny Nurdiansyah, PSC(J), MMDS

 

Abstrak

Keamanan maritim adalah salah satu diskursus terkini dari suatu hubungan internasional. Pemimpin-pemimpin negara mulai memasukkan dalam kebijakan pemerintahan atau membingkai kembali pekerjaan mereka dalam istilah-istilah yang berhubungan dengan keamanan maritim. Keamanan maritim menjadi istilah yang terus menarik perhatian dengan bermunculannya tantangan-tantangan baru yang diikuti oleh usaha dalam mengatasinya. Namun, belum ada konsensus internasional tentang definisi keamanan maritim secara pasti. Walaupun tanpa ada sebuah konsensus, namun kata kuncinya adalah koordinasi tindakan internasional. Risiko yang bersifat konstan tentang ketidaksepahaman dan konflik kebijakan yang kurang jelas juga muncul. Namun, sejak terdapat sedikit prospek dalam mendefinisikan keamanan maritim secara pasti dan universal, sebuah kerangka berpikir diperlukan dalam mengidentifikasi kesamaan dan ketidaksetujuan tersebut. Artikel ini mengusulkan tiga kerangka berpikir tentang keamanan maritim. Pertama, keamanan maritim dapat dipahami dalam matriks hubungannya dengan konsep-konsep lain (hubungan semiotika), seperti keamanan laut, pertahanan maritim, ekonomi kelautan dan ketahananmaritim. Kedua, kerangka sekuritisasi[1] memungkinkan untuk mempelajari bagaimana ancaman maritim dibentuk dan pemahaman yang berbeda dalam mengungkap kebijakan politik dan ideologi yang berbeda. Ketiga, teori praktik keamanan memungkinkan sebuah studi tentang apa yang sebenarnya dilakukan oleh para aktor maritim ketika mereka bertindak untuk meningkatkan keamanan maritim. Bersama-sama, ketiga kerangka kerja ini memungkinkan perumusan definsi keamanan maritim.

Kata kunci : keamanan maritim, semiotika, sekuritisasi, komunitas keamanan

 

 

 

 

 

Pendahuluan : Mendefinisikan keamanan maritim?

Keamanan Maritim adalah salah satu istilah terkini(buzzword[2]) darisebuah hubungan internasional. Dalam rentang waktu dekade terakhir, aktor-aktor dalam kebijakan maritim, pengelolaan lautan dan keamanan internasional mulai memasukkan keamanan maritim dalam mandat atau kebijakan mereka atau membingkai ulang pekerjaan mereka dalam istilah-istilah dalam domain tersebut. Beberapa contoh pada tahun 2014, Kerajaan Inggris dan Uni Eropa (EU) meluncurkan sistem keamanan maritim yang ambisius, dengan nama Europian Maritime Security Agency (EMSA). Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) juga memasukkan keamanan maritim sebagai salah satu tujuannya dalamAlliance Maritime Strategypada tahun 2011. Negara AS memelopori perkembangan ini ketika meluncurkan Kebijakan Keamanan Maritim nasional pada tahun 2004. Ditambah dengan Komite Keselamatan Maritim (the Maritime Safety Committee/MSC) dari International Maritime Organization (IMO) memasukkan keamanan maritim dalam daftar pekerjaan mereka. Sebagaimana tercermin dalam kebijakan AS, konsep “keamanan maritim” memperoleh arti penting sejak serangan teroris 11 September dan kekhawatiran terkait penyebaran terorisme melalui jalur maritim. Jika terorisme maritim sebagian besar masih menjadi ancaman virtual[3], munculnya istilah keamanan maritim semakin meningkat dengan banyaknya kejadian pembajakan di lepas pantai Somalia antara tahun 2008 dan 2011. Ancaman pembajakan terhadap perdagangan internasional membawa dimensi keamanan maritim kepadakesadaran global dan yang kemudian mengangkatnya tinggi untuk masuk pada sebuah agenda kebijakan. Selain itu, ketegangan antar-negara di kawasan, seperti Laut Cina Selatan dan Laut Cina Timur serta munculnya kekuatan maritim besar dalam berinvestasi menjadi Blue Water Navy, seperti India dan Cina, telah menarik dan meningkatkan perhatian kearah lautan sebagai ruang keamanan[4].

Keamanan Maritim, seperti kata kunci pada hubungan internasional lainnya, menjadi diskursus yang menarik perhatian karena bersamaan dengan munculnya tantang-tantangan baru dan usaha untuk menghadapi dan mengatasi hal tersebut. Diskusi tentang keamanan maritim sering dilakukan dengan berangkat dari bentuk “ancaman” yang terjadi di domain maritim.[5]Diskusi ini merujuk terhadap ancaman seperti sengketa perbatasan antar negara, terorisme maritim, pembajakan, perdagangan narkotika, penyelundupan manusia, proliferasi senjata, penangkapan ikan ilegal, polusi lingkungan, kecelakaan maritim dan bencana alam. Diskursus yang munculkemudian adalah bahwa keamanan maritim harus dapat didefinisikan dengan tidak melihat bentuk ancaman tersebut. Karena, pendekatan dengan “daftar ancaman” untuk mendefinisikan keamanan maritim ini banyak dikritik karena tidak cukup dalam memprioritaskan permasalahan, juga tidak mampu memberikan petunjuk tentang bagaimana isu-isu ini saling terkait, atau bagaimana secara garis besar ancaman ini dapat diatasi. Selain itu, diskusi juga menciptakan pertanyaan lanjutan bahwa di mana ancaman harus dimasukkan dalam sebuah agenda kebijakan. Apakah perubahan iklim dan bencana alam berada di masalah keamanan laut maritim? Haruskah perselisihan antar negara diperlakukan seperti dalam hal keamanan nasional daripada keamanan maritim?

Analis lainnya menganjurkan untuk memahami keamanan maritim sebagai “good or stable order at sea” yaitu sebuah aturan di laut yang baik atau stabil.[6]Kontras dengan definisi bersifat “negatif” tentang keamanan maritim dengan mengesampingkan berbagai ancaman, pemahaman istilah ini memberikan konseptual yang “positif”yang mampu memproyeksikan tujuan (ends) yangideal dan unik yang harus dicapai. Dengan pendekatan ini hampir tidak ada diskusi tentang pengertian “good or stable order at sea” yang dimaksudkan, atau aturan siapa yang dimaksud untuk diterapkan. Sebaliknya, diskusi segera berubah menjadi pertanyaan tentang bagaimana penegakan hukum di laut dapat ditingkatkan. Sebuah diskusi terkait bertujuan untuk mendefinisikan keamanan maritim dalam hal positif dengan menghubungkannya dengan “pertumbuhan ekonomi maritim” atau yang sering disebut dengan “pertumbuhan ekonomi biru”. Dalam upaya ekonomi ini untuk mendefinisikan keamanan maritim, pertanyaan serupa muncul: perekonomian siapa yang dipedulikan, dan siapa yang akan menjadi penerima manfaat utama dari pertumbuhan tersebut? Diskusi dan tanggapan tentang keamanan maritim memberikan pokok bahasan yang sangat luas dan terkadang tidak selaras dari beragam pandangan atau berbagai proposal kebijakan yang cenderung memerhatikan perlunya koordinasi, berbagi informasi, pembuatan peraturan dan undang-undang, penegakan hukum dan pengembangan kemampuan di dalam domain maritim. Sekali lagi, diskusi tetap terbuka tentang apa dan siapa yang harus dikoordinasikan atau diatur dan siapa yang harus membangun kemampuan dan seperti apa kemampuan tersebut. Singkatnya, dengan pandangan beberapa pengamat dan analis kemaritiman yang terlihat meyakinkan, namun belum dapat terbentuknya sebuah konsensus internasional mengenai definisi keamanan maritim.[7]

Apakah belum adanya konsensus ini menjadi permasalahan? Perlu adanya pemahaman komprehensif tentang keamanan maritimuntuk menghasilkan suatu jawaban. Seperti yang ditunjukkan oleh Cornwall dalam bukunya Buzzwords and Fuzzwords : Deconstructing Development Discourse,menyebutkan bahwa “untuk mendapatkan penilaian dan kekuatan suatu diskursus melalui penggunaan kualitas yang tidak pasti dan samar, kemampuan perumusan harus mampu untuk mendefinisikan makna sebanyak mungkin dan resonansi normatif definisi tersebut.”[8] Pernyataan ini adalah sama persis dengan variabel yang dimiliki oleh keamanan maritim. Buzzwordsatau kata kunci (istilah penulis) adalah apa yang Gallie sebut sebagai “kontestasi perumusan sebuah konsep dasar”.[9]Kata kunci ini semacam mewakili suatu kesepakatan umum dalam ketidakpastian, tetapi tetap menghasilkan ketidaksepakatan yang berkelanjutan (dan tak terpecahkan) tentang proses perumusan suatu definisi pada kata kunci ini. Lowy Ilana[10] memahami konsep-konsep ini adalah proses yang memiliki fungsi yang bermanfaat karena memungkinkan aktor-aktor untuk mengoordinasikan tindakan mereka, yangkemudian melanjutkan dalam kegiatan bersama walaupun bersifat sementara dan secara bersamaan masih terdapat ketidaksepakatan atas definisi yang sempit. Dalam rumusan kebijakan, kata kunci(buzzwords)diartikan sebagai “tingkat keragu-raguan untuk digunakan sebagai dasar pemikiran kepada beragam potensial aktor dalam perumusan sebuah konsep.”[11] Mereka memberikan “konsep yang tidak terikat dan bebas dari referensi yang konkret, untuk dirumuskan dengan makna yang ditentukan oleh mereka sendiri. Sebuah proses ini menjadi kekuatan penafsiran yang menjadi ciri negosiasi perumusan suatu kebijakan, dengan kata-kata kunci dalam berbagai agenda diskusi, menyediakan ruang untuk manuver berpikir dan ruang untuk kontestasi.”[12] Namun, kata-kata kunci dalam rangka perumusan sebuah definisi juga mengandung risiko, yaitu untuk menutupi kepentingan suatu politik dan ideologi yang mendasari, serta meninggalkan banyak dari apa yang sebenarnya dirumuskan tanpa dipertanyakan lagi.[13]

Dengan menggunakan keamanan maritim sebagai kata kunci, memungkinkan kita untuk memahami arti-penting serta perbedaan pendapat di sekitar konsep tersebut. Isitilah keamanan maritim sebagai kata kunci memungkinkan koordinasi tindakan internasional, di bawah ketiadaan konsensus itu sendiri. Namun, kata ini juga menghadapi risiko yang bersifat konstan bahwa ketidaksepakatan dan konflik kebijakan yang tidak jelas. Ketidaksepakatan semacam itu bisa muncul dalam situasi krisis dan kemudian mengarah ke jalan buntu, yang kemudian muncul di saat hal itu sangat dibutuhkan. Ketidaksepakatan mungkin juga mengarah pada kegiatan yang saling bertentangan dan koordinasi yang lemah, ketika para pelaku berpikir bahwa mereka berpikir tentang hal yang sama, padahal sebenarnya mereka tidak. Jika keamanan maritim adalah kata kunci tersebut, maka ada sedikit prospek untuk membentuk konsensus internasional mengenai konsep tersebut. Untuk mengutarakannya secara lebih langsung, perumusan secara intelektual untuk mengidentifikasi definisi yang secara logis dan bersifat superior serta kriteria yang rasionalis, semua orangharus menyetujui perumusan definisi yang memang tidak produktif dan bersifat samar tersebut. Kepentingan sebuah kebijakan dan pemahaman normatif yang berbeda akan selalu mengarah pada pemahaman konsep yang berbeda.

Namun, bagaimana kita bisa mengatasi situasi ini? Untuk menemukan jawabannya, kita perlu mengidentifikasi kerangka berpikir yang dengannya seseorang dapat memahami kesamaan dan ketidaksetujuan yang ditimbulkan oleh konsep keamanan maritim. Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk mengusulkan tiga kerangka berpikir sebagai titik tolak perumusan. Hal ini dapat dikembangkan dari studi keamanan maritim yang terus terjadi, dimanaselama dekade terakhir, pembahasan tentang studi keamanan ini muncul dengan pertanyaan serupa.[14]Pelajaran yang bisa ditarik dari diskusi ini menunjukkan metode-metode atau kerangka berpikir yang penting tentang bagaimana mendorong sebuah perumusan intelektual dan kebijakan tentang keamanan maritim ke depannya. Kerangka berpikir yang digunakan penulis adalah (1) “semiotik”[15] yang bermaksud memetakan makna berbeda dengan mengeksplorasi hubungan antara keamanan maritim dan konsep lain, (2) kerangka “sekuritisasi”[16] yang menyediakan sarana untuk memahami bagaimana berbagai ancaman dimasukkan ke dalam keamanan maritim, dan (3) teori praktik keamanan yang bertujuan untuk memahami tindakan apa yang dilakukan atas nama keamanan maritim.

Pertama, artikel ini mengacu pada inti dari semiotika bahwa konsep-konsep akan mendapatkan maknanya dalam kaitannya dengan konsep-konsep lain. Keamanan maritim dapat dipahami dengan cara mengatur konsep lama yang sudah mapan dengan konsep yang lebih baru. Konsep tersebut termasuk konsep keselamatanmaritim, pertahanan maritim, ekonomi maritim dan ketahanan maritim. Mempelajari hubungan ini dapat mengarahkan pada garis besar matriks yang dapat digunakan untuk memetakan pemahaman yang berbeda tentang keamanan maritim dan mengeksplorasi bagaimana aktor yang berbeda dalam menempatkan ancaman. Kedua, penulis dalam bagian selanjutnya memperkenalkan kerangka berpikir “sekuritisasi”. Prinsip cara berpikir inti dari pendekatan ini adalah untuk mempelajari bagaimana ancaman dibuat dan pengambilan langkah kebijakan yang berbeda. Ini adalah pendekatan yang sangat berguna untuk mengungkap kepentingan suatu kebijakan dan pemahaman yang berbeda. Ketiga, penulis membahas kerangka teori praktik keamanan. Pertanyaan yang dimunculkan oleh penulis adalah fokus pada apa yang sebenarnya dilakukan oleh para aktor ketika mereka mengklaim usaha-usaha dalam meningkatkan keamanan maritim. Di bagian terakhir penulis menyimpulkannyaberdasarkan beberapa klaim studi dengan memanfaatkan kerangka kerja ini. Studi semacam itu memiliki nilai yang signifikan dan memfasilitasi koordinasi internasional dalam memetakan berbagai pemahaman tentang keamanan maritim dan membentuk sebuah konsensus pada kebijakan di masa mendatang.

 

Hubungan semiotika : Matriks keamanan maritim

Dalam pemikiran semiotika, makna suatu istilah dapat dipahami dengan mengeksplorasi relasi antara istilah dengankonsep lain. Sebuah konsep akan memperoleh makna mereka secara relasional, melalui persamaan dan perbedaan diantaranya. Keamanan maritim dapat dianalisis dengan cara yang sama dengan mengakui hubungan dengan istilah lain. Keamanan maritim mengatur jaringan hubungan, menggantikan atau menyimpulkan konsep yang telah ada, konsep yang sudah mapan, serta berhubungan dengan sebuah konsep yang lebih baru. Setidaknya empat konsep lain mempunyai pertimbangan hubungan tersebut, yaitu : keselamatanmaritim, pertahanan maritim, ekonomi maritim dan ketahanan maritim. Masing-masing konsep ini mengarahkan kita pada dimensi keamanan maritim yang berbeda. Konsep-konsep keselamatan dan pertahanan maritim merupakankonsep lama, dimana posisinyaberhubungan tingkat marabahaya di laut, kemudian dua konsep terakhir muncul relatif sama dengan keamanan maritim.

Sebuah wacana tentang keamanan di laut yang mendahului diskursus tentang “keamanan maritim” adalah peperangan laut, yaitu pentingnya proyeksi kekuatan maritim dan konsep kekuatan laut (seapower). Dengan berpegang teguh pada pemahaman secara tradisional tentang keamanan nasional sebagai perlindungan kelangsungan hidup warga negara, konsep “seapower” bertujuan untuk meletakkan peran kekuatan angkatan laut dan mengelaborasi strategi untuk penggunaan laut tersebut.[17] Di masa damai, peran kapal perang terutama terlihat dalam melindungi jalur komunikasi laut dalam memfasilitasi jalur perdagangan dan mendukung kemakmuran ekonomi dengan cara penangkalan, pengawasan dan pelarangan/interdiksi.[18]Konsep seapower terkait dengan keamanan maritim dalam dua hal. Hal pertama adalah menyangkut fakta bahwa angkatan laut adalah salah satu aktor utama dalam keamanan maritim. Hal kedua adalah perdebatan tentang seberapa jauh angkatan laut mampu bertindak di luar perairan teritorial mereka, memasuki wilayah lain diluar wilayah sendiri dan mampu menunjukkan kehadiran di perairan internasional.

Konsep “keselamatan laut” ditujukan untuk keselamatan kapal dan instalasi maritim dengan tujuan utama melindungi para profesional maritim dan lingkungan laut. Pertama, keselamatan laut menyiratkan pada pengaturan pembangunan kapal dan instalasi maritim, kontrol rutin prosedur keselamatan mereka serta pendidikan profesional maritim dalam mematuhi peraturan khususnya di laut. Keamanan laut terkait erat dengan pekerjaan International Maritime Organization (IMO) dan Maritime Safety Committee (MSC)yang bertindak sebagai badan internasional utamadalam mengembangkan aturan dan peraturan keselamatan laut. Jika masalah utama keselamatan laut, untuk sebuah kecelakaan kapal di laut, misalnya tenggelam, maka konsep akan bergeser ke dalam bagaimana pencarian dan penyelamatan serta perlindungan kehidupan pelaut dan penumpang, yang secara bertahap bergeser ke masalah lingkungan, pencegahan tabrakan, kecelakaan dan lingkungan kelautan. Misalnya, khususnya tumpahan minyak telah meningkatkan sebuah pembahasan pada dimensi lingkungan dari keselamatan laut.Sementara peristiwa-peristiwa seperti tumpahan minyak yang diakibatkan oleh sebuah perang di laut, dapat mengungkapkan hubungan antara keamanan laut dan masalah lingkungan. Masalah keamanan adalah inti dari keamanan maritim mengingat itu mungkin melibatkan kepentingan lingkungan dan budaya di laut. Keamanan laut juga semakin terkait dengan keamanan maritim mengingat bahwa industri maritim, perusahaan pelayaran dan karyawan mereka secara bersamaan merupakan target potensial (misalnya perompak, teroris, atau kriminal) serta pelaku potensial (dengan terlibat dalam kejahatan maritim seperti perdagangan manusia, penyelundupan barang, senjata atau berkolaborasi dengan pelaku kriminal di laut).

Keamanan maritim juga terkait dengan pembangunan ekonomi. Sepanjang sejarah, lautan selalu menjadi faktor penting dalam ekonomi. Mayoritas perdagangan dilakukan melalui laut dan perikanan adalah industri yang signifikan. Baik pelayaran maupun perikanan global telah berkembang menjadi industri yang menghasilkan trilyunan rupiah. Nilai komersial lautan juga dievaluasi kembali karena potensi ekonomi sumber daya lepas pantai, energi fosil, penambangan dasar laut, serta potensi ekonomi pariwisata di daerah pesisir. Konsep “ekonomi biru” bertujuan untuk menghubungkan dan mengintegrasikan berbagai dimensi pembangunan ekonomi lautan dan membangun strategi manajemen berkelanjutan untuk hal ini. Konsep ekonomi biru terkait dengan keamanan maritim karena strategi pengelolaan berkelanjutan tidak hanya membutuhkan penegakan dan pemantauan hukum dan peraturan, tetapi lingkungan laut yang aman memberikan prasyarat untuk mengelola sumber daya laut.

Dua dimensi inti dalam konsep ekonomi biru, keamanan pangan dan ketahanan penduduk pesisir secara langsung terkait dengan konsep keempat yang perlu dipertimbangkan untuk memahami hubungan semiotik keamanan maritim, yaitu keamanan manusia, yang merupakan bagian dari ketahanan maritim. Keamanan manusia adalah faktor utama untuk memahami keamanan dalam hal ketahanan nasional dalam domain maritim yang akan diciptakan. Konsep tersebut bertujuan untuk memusatkan pertimbangan keamanan pada kebutuhan manusia pada suatu negara.[19]Dimensi inti dari keamanan manusia menyangkut makanan, tempat tinggal, mata pencaharian yang berkelanjutan dan pekerjaan yang terjamin.[20] Mempertimbangkan bahwa perikanan merupakan sumber makanan dan industri yang penting, terutama di negara-negara yang memiliki wilayah laut yang luas,kejadianperikanan ilegalmerupakan masalah utama yang berdampak pada keamanan manusia tersebut. Namun demikian, keamanan manusia memiliki beberapa dimensi maritim, yang membentang dari keamanan pelaut sampai kerentanan populasi pesisir terhadap ancaman-ancaman masa depan secara lebih luas. Khususnya ketahanan populasi pesisir telah diidentifikasi sebagai faktor kunci dalam munculnya ancaman maritim dan karenanya penting dalam terdapat pencegahan-pencegahannya.

Keamanan Maritim menghubungkan keempat konsep ini satu sama lain, dan bahkan berpotensi untuk menggantikannya definisi keempatnya. Perspektif semiotika ini menyiratkan bahwa untuk memahami apa definisi keamanan maritim sebenarnya, kita dapat mempelajari hubungan yang terjadi dengan konsep-konsep lain. Secara grafis ini dapat diproyeksikan sebagai matriks pada gambar 1 yangmenggambarkan matriks keamanan maritim yang memproyeksikan hubungan antara konsep-konsep tersebut dalam istilah-istilah yang ideal. Keamanan maritim berada di pusatnya. Penulis juga menempatkan isu-isu keamanan maritim yang berbeda di dalam matriks.


 

 

 

 

 

 

 

Matriks adalah alat analisis untuk memahami perbedaan dan kesamaan pemahaman dari aktor yang berbeda.Dengan matriks diatas, pertama-tama memungkinkan untuk mempelajari jenis-jenis hubungan yang dibentuk oleh aktor-aktor yang berbeda antara keamanan maritim dan konsep-konsep lain. Matriks ini juga memberikan pandangan untuk meneliti apa yang termasuk dan yang tidak termasuk dalam konsep keamanan maritim. Terlihat interpretasi ancaman dapat sangat berbeda. Untuk beberapa aktor, ancaman atau permasalahan mungkin terkait dengan dimensi ekonomi, sementara untuk yang lain terkait dengan masalah keamanan atau kedaulatan nasional. Matriks itu menggambarkan hubungan konsep satu dengan yang lain. Yang perlu diperhatikan bahwa pemahaman ideal tentang keamanan maritim tidak harus mengintegrasikan pengertian dari empat konsep lainnya.

 

Dekonstruksi ancaman: Kerangka sekuritisasi

Kerangka kedua yang dapat digunakan dalam studi keamanan adalah kerangka konstruktivis ancaman. Perdebatan mengenai konten dan prioritas kebijakan keamanan dan pertahanan, terutama pada masa pasca Perang Dingin, menyebabkan timbulnya diskursus bahwa apa yang diperlukan adalah analisis proses kontruksi ancaman dan masalah diangkat dalam lingkup agenda keamanan. Salah satu kerangka utama yang muncul dari diskusi ini adalah “kerangka sekuritisasi.” Awalnya diusulkan oleh Ole Waever dan Barry Buzan, yang menyebutkan bahwa kerangka berpendapat adalah sebuah logika asli untuk proses konstruksi ancaman, sehingga proses tersebut dapat dengan menganalisis melalui kerangka kerja yanggenerik.[21]

Sekuritisasi menunjukkan bahwa ancaman dibangun oleh (serangkaian) klaim yang mengacu pada tata bahasa secara generik. Dalam tata bahasa ini, sebuah masalah, seperti pembajakan, disajikan menjadi ancaman eksistensial terhadap objek tertentu, misalnya negara atau jalur perdagangan internasional. Klaim semacam itu hanya berhasil jika disampaikan oleh aktor yang memiliki wewenang untuk berbicara tentang keamanan dan jika audienrelevan menerima klaim ancaman tersebut. Konstruksi ancaman biasanya dilengkapi dengan proposal tindakan yang harus diambil untuk melindungi objek referensi dari ancaman. Menurut Buzan dan Waever, hal itu adalah karakteristik khusus dari keamanan, harus memenuhi aksi balasan yang luar biasa dan ekstrem. Aksi ini mungkin melibatkan instrumen militer hingga skala konflik militer atau gangguan pada kebebasan sipil.

Berangkat dari kerangka sekuritisasi dalam memahami keamanan maritim, diskusi  mengarah ke dua arah investigasi. Pertama, investigasi tentang klaim kemanan maritim telah menjadi isu-isu masalah yang telah disekuritisasi. Ini berarti timbul pertanyaan bagaimana pemahaman kontemporer tentang lautan, dimana lautan sebagai ruang ketidakamanan dan mengandung banyak ancaman, dan bagaimana hal itu telah berubah dari waktu ke waktu. Sederhananya adalah wacana lautan sebagai zona bahaya dan area ketidakpastian secara tradisional. Analisis semacam itu memberikan gambaran besar tentang bagaimana dan mengapa maritim sebagai sumber ketidakamanan atau sebagai objek yang perlu dilindungi.

Arah investigasi kedua adalah analisis tentang bagaimana isu-isu ancaman yang berbeda, telah diaksi untuk membentuk agenda keamanan maritim. Rekonstruksi yang seksama terhadap isu ancaman pada daftar keamanan maritim adalah hasil dan perhatian yang diberikan kepada pertanyaan tentang siapa yang mengamankan isu-isu tersebut. Untuk mengartikan kepentingan kebijakan yang berbeda, hal ini secara khusus mengungkapkanakan objek referensi mana yang diperlukan dalam sekuritisasi maritim. Atau apa saja objek referensi yang benar-benar harus dilindungi dari ancaman keamanan maritim?

Sebagaian besar aktor internasional mendefinisikan keamanan maritim dengan mengidentifikasi sejumlah ancaman yang berhubungan dengan konsep tersebut. Misalnya, Laporan Sekjen PBB tahun 2008 tentang Lautan dan Hukum Laut memberikan garis besar ancaman yang biasanya disertakan dalam keamanan maritim.[22] Laporan ini membedakan dalam 7 jenis ancaman maritim, yaitu (1) Pembajakan dan perampokan bersenjata, (2) tindakan teroris, (3) perdagangan gelap senjata dan senjata pemusnah massal, (4) penyelundupan narkotika, (5) perdagangan orang lewat laut, (6) penangkapan ikan ilegal, dan (7) kerusakan yang disengaja dan melanggar hukum terhadap lingkungan laut.

Dokumen strategi terbaru dari Uni Eropa dan Inggris juga membuat garis besar yang serupa. Strategi keamanan maritim 2014 di Inggris lebih mengacu pada “risiko keamanan maritim” daripada ancaman dan mengelompokkan beberapa masalah. Penggambaran resiko misalnya sebagai “gangguan terhadap rute perdagangan maritim penting sebagai akibat dari perang, kriminalitas, pembajakan atau perubahan dalam norma internasional.”[23]Dokumen ini juga memasukkan “serangan siber terhadap perdagangan atau infrastruktur maritim.”Uni Eropa tidak hanya memasukkan keamanan siber, tetapi memasukkan dalam tujuh ancaman termasuk “sengketa laut teritorial, tindakan agresi dan konflik bersenjata antar Negara,” serta “potensi dampak bencana alam, perubahan iklim ekstrem pada sistem transportasi maritim dan khususnya pada infrastruktur maritim”dan “kondisi di laut dan zona pesisir yang melemahkan potensi pertumbuhan dan pekerjaan di sektor kelautan dan maritim.”[24]

Tujuan dari analisis sekuritisasi ini adalah untuk me-dekonstruksi bagaimana ancaman dan risiko ini telah diangkat oleh para aktor maritim terkait dalam agenda keamanan maritim. Analisis ini akan memberikan pemahaman para aktor apa yang layak dilindungi (dan apa yang tidak) dan dengan tindakan apa dalam agenda keamanan maritim ini. Mengambil perspektif ini, hal ini akan menunjukkan kapan dan bagaimana pemahaman pelaku maritim terhadap persamaan persepsi ancaman dan kapan perbedaan persepsi ancaman.

Kerangka sekuritisasi juga menunjukkan kita pada suatu dinamika penting, yaitu sekuritisasi menyiratkan bahwa masalah diperlakukan sebagai masalah jika mendesak dan menjadi prioritas utama, serta biasanya lebih banyak sumber daya yang dikhususkan untuk aksi penindakannya.[25] Sekuritisasi masalah maritim adalah salah satu sisi pengembangan definisi yang disambut baik, karena hal itu memunculkan profil isu-isu maritim dan meningkatkan sumber daya yang tersedia dalam mengatasinya. Sekuritisasi, di sisi lain, memiliki logika yang berbeda yang biasanya mengharuskan tindakan ekstrim yang diambil dan bereaksi jangka pendek.Sekuritisasi tidak perlu mengarah pada solusi yang optimal dan berkelanjutan, yang diprioritaskan adalah aksi cepat dan efektif. Oleh karena itu, kemungkinan penggunaan tindakan yang cepat dan solusi jangka pendek, namun sangat mahal, misalnya penggunaan kekuatan militer. Sebagai contoh, kasus imigran melalui laut. Dengan memahami migrasi manusia sebagai ancaman yang dapat menggerogoti ekonomi atau kemanusiaan, menyebabkan seringnya pengambilan tindakan dalam pengendalian perbatasan yang ekstrim dan membungkam tragedi kemanusiaan dalam kasus migrasi ilegal.

 

Praktik dan komunitas keamanan maritim

Kerangka ketiga bergerak menjauh dari pertimbangan bahasa dan bertanya apa yang sebenarnya dilakukan aktor atas nama keamanan maritim. Kegiatan apa yang dilakukan ketika para aktor mengatakan bahwa mereka telah memastikan keamanan maritim?Perspektif semacam itu mengambil definsisi dari analisis sekuritisasi karena tertarik pada penerapan langkah-langkah yang disiratkan oleh proses sekuritisasi. Hal ini tertanam dalam pemahaman tentang politik keamanan di mana praktik, yang dipahami sebagai pola yang terorganisir dalam melakukan tindakan, adalah unit analisis sentral.[26] Dari perspektif seperti itu, pertanyaan tentang alut sista dan teknologi apa, seperti kapal perang atau satelit, yang digunakan dalam praktik keamanan maritim adalah unit analisis inti.

Terdapat spektrum praktik yang secara konvensional merupakan bagian dari keamanan maritim dengan berbagai aktor yang terlibat hal ini. Pertama, praktik keamanan ini diarahkan pada Maritime Domain Awareness (MDA). Hal ini termasuk pengawasan melalui radar, satelit, data pelacakan, information sharing/fusion melalui pusat data dan pusat layanan terpadu. Kedua, kegiatan di laut, seperti patroli, interdiksi, pencarian, inspeksi, dan juga latihan. Ketiga, kegiatan penegakan hukum, seperti penangkapan, ekstradisi, penuntutan, persidangan dan penjara. Keempat, kegiatan koordinasi pada tingkat yang berbeda. Ini mungkin melibatkan pertemuan, konferensi, seminar dan harmonisasi standar hukum, prosedur, mandat atau pengembangan strategi dan rencana implementasi. Kelima, praktik potensial lainnya yang mungkin seperti diplomasi angkatan laut, capacity building, dan operasi peperangan maritim.

Studi tentang praktik keamanan maritim berkisar pada dua perspektif berbeda yang menjanjikan wawasan yang berbeda. Studi tentang praktik-praktik rutin, yaitu apa yang dilakukan para aktor setiap hari seperti yang diuraikan di atas, akan mengungkapkan bagaimana makna keamanan maritim menjadi tetap dan diatur dalam serangkaian praktik yang berbeda. Perspektif lain mengimplikasikan untuk menginvestigasi ketika bersifat kontroversial, apakah serangkaian kegiatan harus dilakukan atas nama keamanan maritim. Praktek-praktek seperti perang laut, diplomasi angkatan laut dan pembangunan kapasitas maritim, berpotensi menjadi bagian dari bidang-bidang makna lain (perang, diplomasi, pembangunan kapasitas). Mempelajari kontroversi seputar praktik semacam itu menjanjikan wawasan tentang bagaimana para aktor membatasi arti keamanan maritim.

Ketentuan keamanan maritim adalah tantangan antarlembaga tinggi bahkan di tingkat nasional. Semakin luas pemahaman tentang keamanan maritim semakin luas jangkauan para aktor yang terlibat. Sementara bentuk koordinasi nasional yang tepat, kebijakan dan operasi bersama, dan pembagian informasi tergantung pada konsep kebijakan pemerintah, sehingga berbagai lembaga fungsional perlu dikoordinasikan. Hal ini termasuk koordinasi sipil-militer, karena “tidak ada pemisahan yang jelas antara kegiatan sipil dan operasi angkatan laut.”[27] Ini termasuk beberapa badan/lembaga pengatur dan koordinasi, seperti kementerian transportasi, maritim, perikanan, pertanian dan perdagangan, dan lembaga hukum, dari penjaga pantai, otoritas pelabuhan, penjaga perbatasan, polisi atau badan intelijen. Hal ini juga menyangkut koordinasi antara negara, perusahaan pelayaran dan perikanan, industri sumber daya, serta penyedia keamanan maritim non pemerintah. Aktor dari industri maritim adalah target potensial sekaligus pelaku potensial. Penyediaan keamanan non pemerintah juga sedang berkembang pesat. Perusahaan keamanan tidak hanya melindungi fasilitas pelabuhan atau instalasi maritim tetapi juga menyediakan penjaga bersenjata di atas kapal, atau bahkan mungkin dikontrak untuk mengelola seluruh perairan, seperti dalam kasus kapal-kapal yang melintas di perairan Somalia dengan menggunakan tim keamanan swasta bersenjata.

Keamanan maritim secara luas dipahami sebagai tugas transnasional. Laporan Sekjen PBB 2008 menekankan pentingnya kerjasama internasional dan tindakan terkoordinasi, dan menekankan bahwa keamanan maritim adalah tanggung jawab bersama dan membutuhkan visi baru tentang keamanan secara kolektif. Strategi maritim lainnya termasuk Amerika Serikat, NATO, UE, atau Inggris sama-sama menekankan pentingnya multilateralisme dan aksi terkoordinasi bersama. Ini adalah konsekuensial mengingat ancaman keamanan maritim bersifat transnasional dan pelaku kejahatan beroperasi lintas batas negara, sehingga keamanan maritim tidak hanya memiliki konsekuensi transnasional, tetapi juga karena melampaui batas-batas wilayah maritimdan karakter transnasional yang kompleks dari pelayaran dan perdagangan global, di mana setiap praktik keamanan selalu mencakup berbagai warga negara dan yurisdiksi.

Selanjutnya, dengan menganalisa siapa yang melakukan apa dalam domain keamanan maritim, juga memungkinkan untuk mengatasi apa yang sebenarnya dilakukan oleh para aktor maritim, bagaimana mereka bekerja sama satu sama lain dan apa dampak yang potensial dari kerja sama ini. Konsep yang layak untuk menangani dimensi ini adalah dengan mengandalkan konsep komunitas keamanan maritim.

Konsep komunitas keamanan maritim menggambarkan suatu bentuk kerjasama yang ideal antara semua aktor yang relevan dalam sektor maritim. Dalam bentuk ideal ini semua pemangku kepentingan keamanan maritim secara bersama-sama, yaitu mengidentifikasi ancaman yang eksis terhadap objek maritim dan aksi apa yang harus dilakukan untuk menjawab tantangan tersebut. Para aktor maritim saling berbagi informasi dan mengoordinasikan kegiatan mereka. Mereka mengembangkan pemahaman bersama dan konsep untuk memupuk keamanan maritim. Konsep ini sangat menarik dalam menentukan sebuah konsep komunitas keamanan dalam menghadapi tantangan keamanan maritim. Mengikuti usulan asli oleh ahli teori integrasi Karl Deutsch, komunitas keamanan telah dipahami sebagai bentuk kerja sama politik yang sebagian besar ditandai dengan tidak adanya perang, penyelesaian damai jika terjadi konflik di antara anggota komunitas dan rasa saling percaya yang besar dalam pengembangan identitas bersama.[28]

Gagasan komunitas keamanan maritim mengintegrasikan pemikiran saat ini tentang komunitas keamanan dan mengembangkan konsep ini lebih lanjut dengan menyatakan bahwa pemahaman yang tepat tentang keamanan harus melampaui pemahaman tradisional tentang tidak adanya konflik berkelanjutan. Komunitas keamanan adalah bentuk yang berbeda dari konsep keamanan yang lain seperti aliansi.[29]Komunitas keamanan adalah tentang sekuritisasi bersama, bagaimana ancaman yang berbeda diidentifikasi dan bagaimana komunitas saling berhubungan antar mereka secara kolektif. Selain itu, reformulasi ini mengklarifikasi bahwa apa yang membuat komunitas keamanan berkembang bukanlah perjanjian formal, komunike atau deklarasi, tetapi praktik transnasional sehari-hari. Ini tidak hanya melibatkan politisi dan diplomat tingkat tinggi, tetapi juga menyangkut praktisi keamanan tingkat menengah dan bawah yang lebih luas dan bagaimana mereka terlibat satu sama lain. Konsep komunitas keamanan maritim adalah tipe yang ideal dalam mendefinisikan keamanan maritim. Konsep ini berguna untuk mengevaluasi bagaimana para aktor berkolaborasi dalam keamanan maritim. Namun, tidak ada komunitas yang benar-benar ada yang sepenuhnya sesuai dengan harapan dari sebuah konsep komunitas keamanan.

 

Kesimpulan: Merumuskan definisi keamanan maritim

Keamanan maritim adalah kata kunci dan tidak memiliki arti yang pasti. Perumusan definisinya oleh para aktor dengan mengaitkan konsep itu dengan yang lain, dengan upaya untuk mengisinya dengan ancaman yang berbeda dan dengan aksi untuk meresponnya. Jika para pelaku sepakat mengenai nilai keamanan maritim dalam istilah umum, makna praktiknya akan selalu berbeda dari segi aktor, waktu dan ruang. Merumuskan definisi keamanan maritim yang diakui secara universal adalah sebuah pencarian yang tidak produktif. Artikel ini telah merancang cara-cara bagaimana mengatasi multi-tafsir terhadap konsep tersebut. Tiga strategi telah digariskan untuk memahami arti keamanan maritim dengan mengungkap kepentingan politik dan pandangan secara global. Strategi-strategi ini memberikan jalur akses yang produktif ke dalam sebuah studi keamanan maritim dan meneliti dari perspektif yang berbeda dari para pelaku di ruang yang berbeda pula.

Dengan mengajukan pertanyaan “Apa definsisi Keamanan Maritim?”, maka, jawabannya mengarah ke agenda penelitian prospektif untuk memetakan makna konsep tersebut. Studi semacam itu memiliki implikasi kebijakan langsung di tingkat nasional dan global. Mereka mengungkapkan kapan dan bagaimana aktor setuju dan tidak setuju serta saling menumbuhkan pengertian dan pemahaman bersama. Mereka mungkin bertindak untuk mengatasinyadengan koordinasi, dan memungkinkan memiliki jenis interpretasi sengketa maritim yang berbeda, dengantidak berangkat dari kepentingan yang diasumsikan dari para aktor, tetapi dengan analisis tentang makna dari para pelaku maritim tersebut yaitu sebagai ruang keamanan. Akhirnya, studi semacam itu juga akan membantu merumuskan definisi yang muncul dari studi keamanan maritim dan menguraikan terhadap tautan disiplin ilmunya kepada ekonomi, studi pembangunan, studi lingkungan atau ketahanan.

 

Referensi

[1] Sekuritisasi dalam hubungan internasional adalah proses subyek menjadi persoalan “keamanan” oleh suatu negara. Ini adalah politisasi versi ekstrem yang mengizinkan cara apapun demi menjaga keamanan. Sebuah isu yang tersekuritisasi tidak selalu berupa isu yang menentukan keberlangsungan sebuah negara (sumber online).

[2]Buzzword adalah sebuah kata atau sebuah frase, baru atau telah ada, yang menjadi popular pada periode tertentu, yang biasanya merupakan istilah teknis, dimana arti teknikalnya sering disamarkan melalui sebuah penggunaannya, dengan tujuan memberikan perhatian yang lain (Kamus Meriam Brewster dan Oxford). Kata atau frase ini semacam sebuah topik yang sedang hangat dibacarakan atau bisa juga dikatakan sebagai sebuah gosip yang membicarakan sesuatu yang sedang “ngetrend” di kalangan masyarakat. Hal ini biasanya untuk mengungkapkan istilah-istilah baru sebagai bahan pembicaraan hingga menjadi buah bibir yang hangat untuk dibicarakan (disimpulkan penulis dari berbagai sumber online).

[3] Martin N, Murphy. Small Boats, weak states, dirty money, piracy and maritime terrorism in the modern world. Columbia :  Hurst and Co Publishers Ltd, 2010.

[4] Alice, Ba. Staking claims and making waves in the South China Sea : How troubled are the waters?. Contemporary Southeast Asia 2011; 33(3) : 269-92. James, Manicom. Maritime boundary disputes in East Asia : Lessons for the Arctic. International Studies Perspective 2011; 12 (3): 327-40. Rober, Ross. China’s naval nationalism : Sources, Prospects, and the US response. International Security 2009; 34(2): 46-81.

[5] Nathalie, Klien. Maritime Security and the law of the sea. Oxford dan New York : Ocford University Press, 2011. James, Kranka dan Pedrozo, Raul. International Maritime Security Law. Leiden dan Boston : Martinus Nijhoff, 2013. Ashley, Roach.  Initiatives to enhance maritime security at sea. Maritime Policy 2004; 28(1); 41-66.

[6] Till, Geoffrey. Sea Power. A Guide for the twenty-first century. London : Routledge, 2004. Bekkevold, Joe Inge dan Till, Geoffrey (Editors). International Order At Sea. How it is challenged. How it is maintained. London : Palgrave Macmillan Publishers Ltd, 2016.

[7] James dan Raul, 56.

[8] Cornwall, Andrea. Buzzwords and Fuzzwords : Deconstructing Development Discourse. Development Practice 2007: 17 (4).

[9] Gallie. Essentially contested concepts. Proc Aristotles Social 1955; 56 : 167-98.

[10] Ilana, Lowy. The strength of loose concepts – boundary concepts, federative experimental strategies and disciplinary growth : the case of immunology. History Science 1992; 30; 371-96.

[11] Cornwall, 84.

[12] Ibid. hlm. 84

[13] Opcit. Hlm. 84

[14] David, Baldwin. The Concept of Security. Rev International Studies 1997; 23(1): 5-26.

[15]Semiotika atau ilmu ketandaan (juga disebut studi semiotik) adalah studi tentang makna keputusan (sumber online)

[16]Penulis menyimpulkan sekuritisasi sebagai usaha untuk mengkonversi sekelompok hal-hal menjadi satu hal yang berharga, dalam hal ini beberapa isu-isu dan ancaman maritim untuk menjadikan sebuah kerangka keamanan maritim.

[17] Geoffrey Till. Sea Power A Guide for the twenty-first century. London : Routledge, 2004.

[18] Rubel Robert C. Navies and Economic Prosperity- The New Logic od Sea Power. Corbett Working Paper No.11. London : King’s College.

[19]Gasper Des. Securing Humanity : situating Human Security as concept and discourse. J Human Dev 2005 “ 6. Halaman 221.

[20]Roland, Paris. Human Security : paradigm shift or hot air? . International Security 2001: 26(2), halaman 87-102.

[21]Buzan Barrym Waever Ole dan Jaap de Wilde. Security : A new framework for analysis. Boulder : Lynne Rienner Publishers, 1998.

[22]United Nations. Oceans and the law of the sea. Report of the Secretary – General, UN General Assembly Document A/63/63, tanggal 10 Maret 2008. NewYork : United Nations ; 2008.

[23]UK Government. National strategy for maritime security. London : UK Government; 2014.

[24]European Union.EuropeanUnionmaritimesecuritystrategy.Councilofthe European UnionDoc.11205/14.Brussels:EuropeanUnion;2014.

[25]Buzan Barry,WaeverOle,JaapdeWilde.Security.Anewframeworkfor analysis.Boulder:LynneRiennerPublishers;1998.

[26]Pouliot Vincent.International Security Inpractice: The PoliticsofNATO – RussiaDiplomacy. Cambridge:CambridgeUniversityPress;2010.

[27]Kraska James,PedrozoRaul.International Maritime Security Law.Leiden& Boston: MartinusNijhoff;2013.

[28]Adler Emanuel,PatriciaGreve.When Security Community Meets Balanceof Power: Overlapping Regional Mechanismsof Security Governance.RevIntStud 2009;35(S1):59–84.

[29]Bueger Christian,JanStockbruegger.Security Communities, Alliancesand Macro-securitization: The Practicesof Counter-piracy Governance. dalam :Struett MichaelJ,NanceMarkT,CarlsonJonD,editors.Maritime Piracyand The Construction of Global Governance.London:Routledge;2013. Hal .99–124.

Taksiran biaya … selamat datang (pahlawan) CBA/CEA

–“Saving” programs will cause the costs of other programs to escalate dramatically as reduced business bases will increase overhead costs and lower production rates will increase direct costs [2].

No decisionmaker can sensibly claim to be comparing the cost and benefits of his decisions unless he has a clear and defensible notion about the meaning of “cost[3] .

Pendahuluan

Sama halnya Kementerian lain, militer menghadapi turbulensi anggaran. Memaksa pengelola anggaran militer berjibaku mengalokasikan anggaran guna kesiagaan alut sista. Kata Diana Angelis [4]any course of action, any decision, will exact a cost…cost is a measure of the consequences of our decision…anggaran cuma konsekuensi…so what? Bukan masalah kan? Penting tentukan obyektif masalah dulu, baru munculkan opsi proyek atau program, bukan mempertanyakan anggarannya dulu (konsekuensi rupiahnya). Biaya bisa juga menjadi benda atau isu yang mencurigakan, enggan dipertanyakan…suatu mythos. Pengalaman selama ini untuk melakukan kalkulasi perkiraan biaya (kalbia atau kir biaya), bukan masalah sulit, bahkan sederhana sekali.

 

Caranya, periksa program (apa saja) dengan (konsekuensi) biaya tahun lalu, tambah 10%–semudah itu? Kalau biaya hanya sekedar konsekuensi dukungan, mengapa yang di-Pjk adalah biaya? Bagaimana dengan performa, effektifitas, outcome atau manfaat kegiatan/ program/proyek secara phisik yang lebih esensial [5] malah diabaikan? Publik menuntut berapa sebenarnya manfaat, effektifitas, atau performa kegiatan dan berapa sebenarnya dukungan biaya setiap opsi pilihan? Prioritas solusi masalah adalah mencari alternatif kegiatan-kegiatan (given objective) dengan menaksir besar-nya (konsekuensi) biaya per masing-masing alternatif kegiatan itu. Naskah  membahas singkat ihwal taksiran biaya dan (mungkin) siapa personil yang terlibat [6], khususnya menaksir biaya (estimate cost) yang tidak mudah itu. Mislick & Nussbaum [7] mengatakan; keragu-raguan pemilik dana bisa saja meminta “penaksir-biaya” (cost estimator) memeriksa ulang taksiran, bila dirasa terlalu besar dan sulit diterima (affordable). Penaksir mencari data tambahan agar memperketat taksiran dan memenuhi syarat lengkap, wajar, kredibel, dan pembenaran analitik (completeness, reasonableness, credibility, analytically defensibility)[8]. Catatan: Angk laut AS mengembangkan teknik ini mulai tahun 1996, dengan pusat kajian di-NCCA (Naval Center for Cost Analysis)[9].

 

Tulisan membahas dan dibuka dengan vignet yang menggambarkan pentingnya taksiran biaya. Vignet-vignet menggambarkan isu yang berbeda satu sama lain, namun relevan dengan isu taksiran biaya di-pemerintahan [10]. Dampaknya beberapa proyek dilingkungan Angk laut AS ternyata bisa di-hemat biaya-nya, dan tidak mengurangi effektifitas program dan dampaknya terhadap program esensi lain. Era now, taksiran biaya parametrik (statistics regression) menjadi salah satu pendekatan popular [11] (dari 4 pendekatan lain) yang menggabungkan riwayat biaya masa lampau dengan sekarang. Secara umum, teknik taksiran dapat didekati dengan intuitif atau tradisional sampai sekarang, periksa gambar bawah ini. Bila tidak ada risiko dan ketidak pastian, maka alur model akan seperti dibawah ini:

 

Referensi: Gregory K. Mislick & Daniel A. Nussbaum (Keduanya Doctor, Dosen, Dept Opt Research, US NPS), Cost Estimation: Methods and Tools, (Wiley & Sons, 2015), halaman 283…bila risiko & ketidak pastian = nol.

 

Analisis biaya dirancang untuk menaksir anggaran suatu proyek/program/kegiatan beberapa tahun kedepan (taksiran Total Life Cycle Cost) dan dikontrol ketat kantor akuntansi nasional. Dua (2) kelemahan (seringkali) bagi penaksir, yakni underestimate (meremehkan) atau underfund (terlalu tinggi—rasanya dana kurang). Hadirnya dua (2) faktor ini tidak bisa dihindari. Besar kecilnya akibat kesalahan ini bisa dikontrol dengan menggunakan metrik factor pertumbuhan biaya (cost-growth factor~CGF) [12]. Metriks ini adalah rasio antara biaya akhir terhadap taksiran biaya—bila CGF < 1.0 artinya biaya akhir telah melampaui anggaran awal (yang ditetapkan).

Vignet 1. Taksiran biaya mendukung program pembangunan kapal baru. Sewaktu Angk laut AS membangun kapal-kapal besar, dengan konsekuensi anggaran yang begitu besar. Sebagai penaksir [13], saya ditantang menaksir biaya yang pantas (cost affordable) sesuai syarat diatas dan menemukan salah satu kesalahan—yakni (bila) kapal Angkatan laut dikerjakan didalam galangan bersama kapal lain sepatutnya beban overhead coast dibebankan bersama. Varian isu ini bisa saja bermacam-macam misalnya, bagaimana bila salah satu instansi membatalkan kontraknya—siapa yang akan menanggung?

Vignet 2. Taksiran biaya mendukung program Rudal jarak menengah. Meremehkan taksiran (undertestimate) adalah masalah besar, apalagi salah meletakkan komponen penting (komponen material; komponen biaya) dalam struktur system persenjataan (rudal). Dalam system rekayasa (system engineering), komponen dipecah secara hirarkhis dalam struktur saling bergantungan (setiap komponen memiliki biaya—material cost & labor cost, paling tidak) yang disebut WBSE (work breakdown structure element)[14] dan setiap komponen dihargai tertentu dengan biaya pemasangan, dll, (material & labor cost, pen). Meskipun sudah tertata dalam struktur; komponen itu bisa saja  hilang, biaya diatas kertas tetap diperhitungkan berjalan (overrun). Proyek Rudal dibagi dalam dua (2) bagian, sebut proyek A & B dan komponen yang dianggap penting (katakanlah sensor x) selalu menjadi prioritas dalam pengerjaan—lebih aman masuk ke-bagian A.

Saya lebih menyukai komponen penting tersebut dimasukkan dalam komponen biaya pokok (major cost component) dalam R & D bila seluruh biaya mengikuti kerangka total life cycle cost (R & D—investment—operational—modernisasi—disposal)[15], periksa gambar.

Referensi: Gregory K. Mislick & Daniel A. Nussbaum (Keduanya Doctor, Dosen, Dept Opt Research, US NPS), Cost Estimation: Methods and Tools, (Wiley & Sons, 2015), halaman 18.

 

Manajer penaksir biaya proyek membenarkan konsep ini (anehnya manajer mengaku sensor penting tersebut ada dalam proyek B). Saya khawatir terjadi kelambatan di-proyek B dan kelambatan komponen penting itu menunda semua proyek B, bahkan proyek A-pun bisa tertunda sedangkan biaya tetap diperhitungkan berjalan (overrun—terutama labor cost, pen)—biaya ekstra? Faktanya ada keterlambatan—kerugian karena dikeluarkannya biaya ekstra. Hal ini terjadi karena salah tetapan struktur material dalam proyek pemasangan rudal yang sudah ditetapkan (dari awal) ditambah terjadi kelambatan/tunda.

Vignet 1.3. Taksiran biaya program kapal besar (CLF/combat logistics fleet). Angk Laut AS paham pentingnya penganggaran CLF dengan cara tradisional, yakni  dikelola sendiri. Muncul ide cemerlang dengan cara “sewa jangka panjang” (long-term lease) dengan pihak galangan/pembuat kapal. Artinya galangan yang mengatur pekerjaan selama total life cycle cost. Saya dimintai kajian keabsahan (legal & finansial) [16] khususnya akun Operational & Maintenance untuk membayar sewa jangka panjang dengan paket anggaran untuk O & M bagi CLF [17]. Studi menyatakan tawaran itu bisa diterima—Angk laut bisa menghemat banyak. Killick & Nussbaum mendemonstrasikan 6 kasus Angk laut AS dalam bukunya dan makalah ini hanya memuat 3 kasus itu.

Kehadiran analisis biaya

Cost estimating is the process of collecting and analyzing historical data and applying quantitative models, techniques, tools, and databases in order to predict an estimate of the future cost of an item, product, program or task. Cost estimating is the application of the art and the technology of approximating the probable worth (or cost), extent, or character of something based on information available at the time.” [18]

 

Given the current budget crisis and the complex and uncertain security environment, the Department of Defense (DoD) is very focused on affordability [19].

 

RAND dianggap inovator konsep analisis biaya ini, dengan salah satu pakar, David Novick, dalam The Meaning of Cost Analysis, [20]… menyebut analisis biaya sebagai bagian system analisis. Dalam sidang pemilihan pesawat turbo-prop dan jet didepan para petinggi Angk Udara di Washington; disetujui pesawat pembom bermesin turbo-prop adalah dominasi pilihan. Hanya Jendral Curt LeMay menentangnya dan mengajak meninjau ulang analisis biaya. Pemilihan ulang di-lakukan di-Dayton bulan Desember berikutnya dan apa yang terjadi? Data biaya yang diperoleh dari Comptroller (semacam divisi system analysis Srena) Mabes Angk Udara dan telah diperiksa ulang oleh staff pangkalan Angk Udara di-Wright-Patterson. RAND sebagai tim yang dimintai bantuan, begitu yakin-nya akan keabsahan data tersebut. Ternyata hasilnya terbalik sama sekali, harga turbo-prop naik dua (2) kali lipat dan jet sebaliknya. Tim terkejud; sampai-sampai tim bersumpah bahwa tidak mau terulang lagi. Presiden RAND marah dan memerintahkan RAND harus kapabel dengan ketrampilan analisis biaya dan tidak lagi tergantung pada taksiran orang atau insititusi lain [21].

 

Kasus diatas bisa dijadikan contoh bagaimana memilih system atau struktur kekuatan militer atau kasus pilihan lainnya di-antara berbagai alternatif yang tersedia…dan bagaimana melakukan taksiran biaya? Biaya adalah komponen konsekuensi masing-masing pilihan yang tidak bisa diabaikan. Harus di-pahami (taksiran) biaya proposal yang telah ada dan harus sanggup berkompetisi dengan biaya proposal alternatif lain. Setelah dipasangkan dengan manfaat, performa atau effektifitas masing-masing—kemudian dibandingkan masing-masing rasionya [22]. Pelibatan kecerdasan analis militer diperlukan agar sanggup memberikan bobot performa atau kapabilitas atau effektifitas setiap pilihan system atau apa saja yang akan diakuisisi (pengadaan) dalam manajemen militer dan pengambilan keputusan dibandingkan sector pemerintah atau swasta [23]. Taksiran biaya untuk system senjata atau system yang akan dipilih menjadi sangat penting, bukan saja dikarenakan (biasanya) system yang baru bisa saja menjadi sangat mahal biayanya, tetapi kompetisi juga menjadi semakin tajam pertimbangannya. Tanpa ada kompetisi antar alternatif menyulitkan justifikasi—fairness? Justifikasi muncul setelah sanggup membandingkan biaya dan effektifitas per masing masing alternatif dan dipilih (harga rasio) yang menguntungkan. System senjata terdiri dari peralatan, ketrampilan, dan teknik, merupakan komposit yang membentuk instrumen tempur. System senjata lengkap; termasuk semua peralatan dan fasilitas yang mengait, material, jasa, dan personil yang terlibat dalam operasional system—sehingga instrumen tempur tersebut (berbasis teknik CBA atau CEA) [24] tampil sebagai unit yang kapabel melakukan pertempuran sesuai lingkungan atau skenario yang telah dibangun. Cara tradisional menaksir total biaya pembelian pesawat terbang selama ini hanya mencermati kerangka-nya, sekarang melibatkan semua komponen besar termasuk mesin dan biaya lainnya sepanjang usia pakai.

 

Studi sumber daya yang dilakukan serius ini (dari kasus diatas) nyata-nyata bisa membedakan antara turbo-prop (atau antara beberapa versi turbo prop) dengan jet murni, mengingat banyak versi turbo-prop maupun antar versi jet murni sendiri sebagaimana laiknya menghadapi kemungkinan beberapa versi perang udara atau anti udara. Melakukan studi seperti ini, tidak dibatasi system yang tersedia saja, bahkan dipertimbangkan kelanjutannya, seperti ketersediaan material system yang diminati—bisakah diadakan lagi atau harus beli atau harus kanibal dikemudian hari, dll. Bahkan bisa menentukan alternatif mana yag termurah (total cost) dalam kasus beli (bekas) dan digunakan dengan usia pakai yang tidak terlalu lama dengan obyektif masalah—beli murah sekali atau beli baru saja atau lepaskan [25]? Hal ini tentu menambah taksiran biaya dan merubah munculnya peluang pilihan. Pertimbangan faktor tidak dimilikinya material mendatang menambah kesulitan (sustainability—ini biaya juga, pen) dan mengurangi peluang untuk memenangkan pertempuran yang mungkin saja bisa berjalan lama. Era McNamara selaku Menhan (tahun 60-an—dengan slogan-nya …berapa sih cukupnya—how much is enough?, pen) [26] meresmikan pola progam pengambilan keputusan untuk memilih system atau senjata dilihat baik dari performa, effektifitas dan konsekuensi anggaran[27]. Sebagai rasionalisasi kerangka bantu pengambilan keputusan dan membantu memunculkan beberapa alternatif keputusan. Prakteknya, secara sistematik menemukan pilihan atau alternatif solusi (performa, effektifitas, manfaat, dll) [28] dengan diikuti masing-masing konsekuensi biaya—“boss” keputusan yang akhirnya menentukan pilihan (mau pakai: given fixed-cost atau given effectiveness atau given certain effectiveness (FOM-figure of merits)—at all cost)[29].

 

Cara tradisional dengan hanya 1 alternatif dan tanpa menampilkan besaran performa, dirasakan tidak terlalu adil (fair) kecuali effektifitas atau performa sangat dominan (suka—tidak suka harus memilih ini) [30]. Situasi seperti ini bisa terjadi bila pengambil keputusan tidak suka dengan kemunculan beberapa alternatif keputusan (ribet, repot, satu saja cukup, pen?)[31]. Semakin banyak alternatif yang muncul semakin memudahkan pengambil keputusan memilih mana yang mana terbaik atau mana yang cukup atau pantas dipilih dari sekian banyak alternatif dan mana yang paling effisien. Pasangan harga performa, effektifitas, manfaat atau ukuran lainnya per setiap alternatif dengan konsekuensi biaya masing masing itulah yang disebut analisis manfaat-biaya (CBA) atau analisis effektifitas-biaya (CEA)[32]. Revolusi system ini, menjadi rujukan sampai sekarang bahkan dalam system anggaran (budgeting) nasional yang disebut PPBS [33]. Proses ini sudah berjalan kl 40 tahun lamanya, disertai dengan juknis dilingkungan Kemhan AS dan masing-masing Angkatan atau Departemen (Kementerian)[34]—peran Irjen dan kantor akuntasi pusat (federal— GAO) kuat sekali untuk memeriksa keabsahan penggunaan teknik CBA atau CEA. Bagaimana sebenarnya alir proses memuat taksiran biaya per setiap alternatif isu yang akan diputuskan?

 

Dalam system akuisisi (pengadaan) [35] pertahanan nasional maka taksiran biaya adalah prediksi atau ramalan tentang biaya satu proyek, program, kegiatan mulai dari tahap riset, operasional, sampai dengan disposal…sepanjang usia pakainya (total life-cycle cost) dalam bingkai skenario perencanaan pembangunan kekuatan militer (force planning/force structure) kedepan dan dikontrol ketat…menjawab: sebandingkah effektifitas dengan konsekuensi biaya? Langkah pengadaan [36](baca acquisition, bukan investment) merupakan suatu paket lengkap dari awal pakai sampai disposal (selesai usia pakai). Memahami skedul program dan profil akuisisi sangatlah penting untuk membuat taksiran biaya—memahami hubungan performa/atribut system senjata dan biaya. Gambar dibawah [37], menunjukkan langkah-langkah untuk menaksir lebih cermat lagi. Langkah dalam gambar mengembangkan kejelasan kerangka pikir untuk melakukan taksiran biaya dan masing-masing langkah selalu diikuti dengan umpan balik mencheck dan test dengan langkah sebelumnya.

 

 

 

 

CBA atau CEA dilingkungan Militer

For every proposed program, initiative or decision point that is presented to decision makers, it is important to provide an accurate and complete picture of both the costs to be incurred and the benefits to be derived  [38].

 

Hal-hal mendasar yang perlu dipahami tentang biaya, (contoh) bila dalam operasi militer telah ditugaskan beberapa kapal, pesawat terbang atau pasukan disuatu mandala tempur, maka mereka itu semua (sebagai sumber daya) tidak bisa lagi digunakan untuk penugasan lainnya (pada saat yang sama). Artinya taksiran biaya setiap pilihan atau keputusan adalah taksiran manfaat yang seharusnya dapat diperoleh—“biaya ekonomik” adalah “manfaat yang hilang”. Faktor-faktor seperti ini sering digunakan dalam isu biaya sebagai “biaya alternatif” atau “biaya peluang” (opportunity cost) [39]. Konsep yang dikembangkan sekarang ini nampaknya beralasan dengan kepedulian isu biaya sebagai konsekuensi dukungan setiap alternatif kegiatan sama beratnya dengan kepedulian tentang manfaat atau effektifitas. Contoh sederhana dalam kasus pemilihan (pembelian-pun memilih juga, bukan?, pen) program [40] Rudal anti udara, pemeriksaan lebih dalam tentang komponen system anti udara ini memberikan isyarat betapa pentingnya pemeriksaan ini—potensialkah (seberapa jauh kapabilitasnya) menghancurkan (pesawat atau rudal) musuh? Secara umum suksesnya rudal menghancurkan pesawat yang menerobos area pertahanan udara dipengaruhi oleh tiga (3) factor, pertama jumlah penempatan rudal (distribusi posisi) yang bisa menjangkau penerobos (intruders). Kedua, probabilita rudal yang bisa ditembakkan saat penerobos masuk jarak tembak. Ketiga, bahwa (given) setiap rudal yang bisa meluncur, berapa probabilitas sanggup menghancurkan sasaran. Ketiga tiganya menjadi komponen rantai penghancuran (kill-of-chain). Ke-tiga tiganya harus memiliki harga yang maksimal untuk meyakinkan setiap rudal sanggup menghancurkan sasaran. Produk kill-of-chain (KOC) adalah harga perkalian ke-empatnya, dengan satu komponen saja tidak bagus harga akan menurun, misalnya: hadirnya kontrol rudal lawan yang kapabel (technology) membelokkan atau mengelabui atau menghindar dari anti rudal yang menuju kearahnya, maka harga kill-of-chain akan merosot turun.

Supaya harga ke-tiganya maksimal maka peran pendukung tidak langsung harus optimal, misal jadwal pemeliharan (sustainability), test peralatan, forensic, keandalan (reliability~probabilita system tidak rusak, pen), technology (jelas), modernisasi, dll. Dunia militer modern telah mengembangkan teori dan praktek CBA atau CEA ini dengan memasukkan konsep ekonomi yang diawali oleh ekonom Perancis waktu itu (kl 40 tahun lalu) dengan konsep yang disebut akuntansi biaya [41]. Jantung CBA atau CEA adalah effisiensi alokasi atau khususnya Pareto effisiensi. Berikut dikembangkan konsep CEA sebagai solusi versus komponen biaya yang tidak bisa di-nominalkan dalam uang tertentu.  RAND dengan inovasinya berbasis konsep ini mengembangkan konsep baru seperti Ekonomi pertahanan dengan maksud agar: [i] memberikan arahan kebijakan pertahanan (alokasi sumber daya nasional diantara misi besar atau sasaran militer nasional) dan [ii] memberikan arahan tentang investasi pertahanan (pilihan diantara alternatif proyek atau program untuk mencapai sasaran yang sudah ditetapkan). Tantangan signifikan penggunaan CBA dalam format pengambilan keputusan militer adalah mentransformasi obyektif tugas atau misi dalam format “manfaat”[42]. Kesulitan lain ditingkat strategik nasional adalah…dalam jangka panjang bisa terjadi dampak[43] yang bisa diukur dalam tingkat pertumbuhan ekonomik, perdamaian atau kesejahteraan. Konsep ini di-matangkan era Robert McNamara menjadi Menhan AS (tahun 65-an) dibantu Charles Hicth (RAND) yang memimpin divisi system analysis sebagai comptroller untuk memodelkan PPBS (Planning, Programming, and Budgeting System) dan model ini selanjutnya menjadi modul anggaran negara, dan kebetulan Hitch lama membantu RAND mengembangkan konsep ini[44]. Konsep berorientasi pada output kerangka penganggaran, dan patut dipahami bahwa PPBS bertumpu murni kepada konsep system analysis dan CBA militer untuk membangun belanja pembangunan pertahanan militer nasional.

 

CBA fokus pada kepentingan nasional dan pendukung-nya yakni keamanan nasional [45]. Bisa saja elit politik memanipulasi keputusan besar pertahanan nasional, namun CBA atau CEA militer tetap tumbuh pesat karena alasan ekonomik, transparansi dan akuntabilitas[46]. Untuk memperjelas bagaimana konsep ini dijalankan, berikut didemonstrasikan contoh penggunaan CEA (Cost Effectiveness Analyses) [47]. Versus isu pembelian sista (system senjata), tentunya Kemhan akan melakukan pilihan. Isu pemilihan sista atau sistem (kapal, pesawat, K2, sensor jarak jauh, dan semacam itu) bergantung kepada effektifitas dan biayanya. Effektifitas sista dapat didefinisikan (sederhana) sebagai skala kuantitatif yag sanggup mengukur performa system sehingga menjamin system tersebut bisa mencapai sasarannya (objectives) [48]. Pilihan system yang bisa mencapai effektifitas tertinggi dengan biaya yang termurah lebih diprioritaskan untuk dipilih. Isu pilihan sungguh rumit, karena harus mempertimbangan factor yang mendukung terdefinisinya skala atau ukuran effektifitas ini. Konsep effektifitas sangat kuat kaitannya dengan definisi kapabilitas, namun tidak dibahas lebih dalam disini [49]. Effektifitas meriam bisa dillihat (didefinisikan) dari probabilita kena (hit) yang disebabkan karena bentuk sasaran (bulat, segi empat, ekliptik) dan perbedaan masing masing pelurunya (beda volume isian, beda berat massa proyektil, dll) atau kalau dimudahkan bisa digantikan dengan skala radius kerusakan (lethality) terbesar, menengah, dst. Negara X akan melakukan pengadaan (akuisisi) meriam lapangan bagi AD dengan menggunakan konsep CEA (konsep yang lebih rumit dibandingkan CBA) sebagai berikut.

 

Dua (2) alternative digunakan, pertama (Alt – 1, $ 37.500,) tetap menggunakan Meriam lapangan lama dengan performa yang masih terbukti bagus atau membeli Meriam baru (Alt – 2, $ 70.000,)[50]. Ukuran effektifitas yang ditetapkan adalah performa menghadapi tiga (3) jenis sasaran (T), yakni T1, T2, dan T3., dengan keterangan T1 adalah pasukan infantry berdiri, T2 adalah infantry yang sedang berlindung dan T3, adalah meriam yang sedang ditarik. Sasaran berada di peta dengan skala 100m x 100m. Bila probabilita kena tembak masing sasaran adalah .5, .35 dan .15 oleh masing masing alternatif Meriam tersebut (dibuat sama agar mudah, pen?) dan radius kerusakan masing sasaran adalah 15m, 9m, dan 4m bagi Meriam G1 dan radius kerusakan akibat meriam G2 adalah 20m, 15m, dan 8m. Diharapkan untuk mencapai 50% kerusakan saja bagi G1 dan G2, dibutuhkan waktu 3 menit untuk sasaran pertama dan kedua, dan 5 menit untuk sasaran ketiga.  Laju penembakan (rates of fire) masing-masing Meriam adalah 7 dan 4 peluru per menit. Sasaran diarahkan ditengah lebar sasaran, dan ditabelkan sebagai biaya dan data operational sebagai berikut:

 

 

 

 

Jumlah Meriam yang dibutuhkan per setiap jenis untuk merusakkan 50 % sasaran sebagai berikut [51]:

 

 

Catatan: baris pertama… jumlah Meriam G1 yang dibutuhkan adalah . 76 unit dengan peluru yang ditembakkan sejumlah 16 versus T1,     dibandingkan G2   yang dibutuhkan sejumlah  . 75 unit dengan peluru yang ditembakkan sejumlah 9 versus sasaran yang sama yakni T1. Analog arti dibaris kedua, dst.

Untuk membandingkan effektifitasnya, kriteria yang digunakan adalah Meriam yang sanggup (able) mendemonstrasikan kerusakan sasaran sebesar 50%. Setiap Meriam dihitung kesanggupannya (dalam jumlah berapa) memberikan tingkat kerusakan yang diminta pengambil keputusan (yakni 50%). Di-hitung jumlah (berapa banyak meriam dibutuhkan per masing masing alternatif) dengan formula n (G1) = Probabilita mengenai sasaran vs T1 x jumlah (unit) G1 + Probabilita mengenai sasaran vs T2 x jumlah (unit) G1  + Probabilita mengenai sasaran vs T3 x jumlah (unit) G1 , maka dihasilkan [52] :

—n (G1) = .5 x .76 + .35 x 2.19 + .15 x 6.65 = 2.14 unit G1, cara yang sama mencari jumlah unit G2 sebagai berikut:

—n (G2) = .5 x .75 + .35 x 1.33 + .15 x 2.90 = 1.28 unit G2 .

Tahap pemodelan effektifitas sudah bisa diselesaikan, sekarang bagaimana dengan model biaya? Oleh karena jumlah unit G1 sebesar 2.14 yang dibutuhkan sama dengan 1.28 unit G2 versus sasaran (obyektif) yang sama, maka ekpresi dalam kolom system biaya, dibuat bahwa kebutuhan unit bagi kedua meriam tersebut adalah sebesar itu untuk menghancurkan sedikitnya 50% area, konsekuensi total biaya sebesar tabel dibawah ini—pilih paling minimum konsekuensi biaya, berbasis pendekatan fixed – cost?

Catatan: biaya sucad ditetapkan (norma) sebesar 10 %, biaya pemeliharaan hanya 1 % (norma), (tidak ada biaya R & D, biaya modernisasi, dll—itulah biaya total sepanjang usia pakai (total life cycle cost).

 

Dengan kriteria effektifitas-biaya dan pendekatan effektifitas yang ditetapkan (given fixed-effectiveness) [53], disarankan pilih G2. Kalkulus effektifitas – biaya ini dikerjakan dikantor comptroller (divisi system analysis di bawah pejabat semacam Srena). Personil dibagian tersebut trampil dengan teknik memodelkan effektifitas system dan memodelkan konsekuensi biaya-nya (cost estimate). Varian problema menjadi lebih banyak, misal: bagaimana kalau alternative pilihan lebih dari dua (2), atau total life cycle cost-nya berbeda atau permintaan pengambil keputusan berubah dari tingkat kerusakan sebesar 50 % menjadi 60 atau 70 %, bagaimana kalau digunakan pendekatan fixed-cost atau figure of merit (FOM/figure of merit) dibawah ini:

Referensi: contoh yang dibuat oleh E. S. Quade & W. I. Boucher, System Analysis and Policy Planning: Applications in Defense, (RAND, R – 439 – PR, Abridged), halaman 56… titik A & B outliers. Bila ditetapkan fixed – cost di titik C3, maka alternatif yang dipilih adalah alternatif – II (effektifitasnya lebih tinggi). Bila ditetapkan (fixed) effectiveness di titik E1, maka ada dua (2) pilihan biaya, yakni konsekuensi cost sebesar C1 atau C2 (pilih C1). Pendekatan FOM (figure of merit) dititik tertinggi (diatas E3) hanya alternatif – II, maka berapapun biayanya akan dikeluarkan (at all costs).

.…bagaimana bila problema-nya adalah memilih dua (2) atau tiga (3) jenis bom yang dijatuhkan (MOE yang digunakan bisa saja CEP atau circular error probability) [54]? Atau memilih jenis drones (alt – 1, obyektif: sebagai surveillance saja), dan alt – II drones yang sanggup (obyektif) surveillance dan menembak disuatu area illegal fisihing[55], dan alt – lain-lain….? Sama halnya memilih kapal tempur atau yang lain, sangat-sangat tergantung apa “maunya” (menjadi kandidat obyektif) pengambil keputusan, seperti contoh diatas obyektif pilihan sista yang kapabel (kapabilitas) mencapai 50 % tingkat kerusakan (bisa saja naik jadi 60 %, 65 % dst, tergantung ekspektasi pemimpin) [56]. Berikut gambaran sederhana proses efektifitas (effectiveness—warna merah), effisiensi, mulai dari sumber daya (resources—start program) sampai digunakan seperti ganbar dibawah ini. Perhatikan bentangan antara output dan sasaran adalah bentangan ukuran effektifitas yang dibangun (MOE). Effektifitas tidak akan diketahui bila tidak dibangun obyektif (sasaran dengan ekpektasinya) yang terukur.

Misal: sasaran [57] dirusakkan cukup 60% (60 % adalah ekspektasi effektifitas yang diinginkan), 0 % sampai 100 adalah skala/bentangan ukuran effektifitas atau MOE [58]. Antara sumber daya dan output adalah isu effisiensi (makin banyak sumber daya yang digunakan dan output tidak sebanding bahkan sia sia—ineffisiensi).

(Mengulang)…konsep risiko 

In today’s resource-constrained environment, the Army must exercise wise stewardship of every dollar it manages [59]. Recognizing the value of systematic quantitative analysis, senior US Army leadership has “directed that any decisions involving US Army resources be supported by a CBAMilitary CBA offers a valuable set of analytical tools to increase the transparency, efficiency, and effectiveness of critical defense decisions.

 

When the cost of a future system (future value) is considered, decision-makers often ask:” What is the chance its cost will exceed a particular amount”, “How much is could cost overrun?”, “What are the uncertainties and how do they drive cost? “ [60] (risiko?).   

 

Risiko sering kabur dengan ketidak pastian. Mengait dengan manajemen (pembinaan)[61] maka definisi risiko adalah…Risk management is the process for identifying, analyzing, and communicating risk and accepting, avoiding, transferring, or controlling it to an acceptable level considering associated costs and benefits of any actions taken.” … Definisi lain … as “the potential for an unwanted outcome resulting from an incident, event, or occurrence, as determined by its likelihood and the associated consequences [62]. Risiko bisa dibaca mengait dengan biaya dan kerugiannya. Biaya disini bisa diartikan berapa ongkos yang digunakan untuk memperkecil atau menutup besarnya risiko yang tidak bisa ditutup. Ketidak pastian merujuk status ketidak yakinan atau besar kecilnya derajad perubahan-perubahan selama observasi yang sulit dikendalikan. Ketidak pastian melibatkan informasi—semakin banyak informasi semakin berkurang ketidak pastiannya dan mengerucut pada risiko yang mengecil. Satu faktor yang ikut mengganggu risiko dan derajad ketidak pastian adalah beban biaya yang harus ditanggung menghadapi fungsi waktu yang cukup panjang dihadapkan tingkat suku bunga dan nilai fluktuasi karensi yang digunakan, berangkat dari perhitungan nilai uang sekarang atau net present value (NPV).

Contoh, bila C (cost) = (c1, c2,c3, … c4) adalah elemen biaya dalam kurun waktu phase 1, 2, 3, … n, dan r adalah faktor diskontonya, maka NPV (net present value sampai tahun n) totalnya sebesar [63]  :

 

 

Keputusannya adalah :

  1. Bila NPV > 0, maka terima proyek tersebut,
  2. Bila < 0 , maka tolak.

(Hint: meskipun ada jenis cash flow lain seperti Future Value (FV) sementara tidak dibahas disini). Mengapa risiko dan ketidak pastian perlu dibahas, Killick menyebutnya tidak ada taksiran biaya tanpa risiko dan analisis ketidak pastian. Konsekuensi dua (2) kata tidak menyenangkan tersebut (risiko, ketidakpastian) adalah mencoba mendalaminya serta kaitannya. Adanya dua (2) pandangan (umum) tentang risiko dan ketidak pastian, pertama [1] Pandangan Risiko (risk overview);  adalah bagian signifikan dari biaya, taksiran skedul dan digunakan untuk menyesuaikan taksiran biaya, anggaran, serta antisipasi biaya bertumbuh [64]. Definisi risiko paling sederhana sekali adalah berapa probabilita munculnya kejadian negatif atau yang tidak menguntungkan. Bisa saja memperlakukan risiko dengan tidak semestinya, mungkin saja lebih baik diabaikan saja, namun celaka-nya menciptakan perasaan palsu tentang aman/tidaknya. Empat (4) tipikal [65] risiko yang harus dipertimbangkan dalam taksiran biaya selama usia pakainya (total life cycle cost); pertama [a] risiko taksiran biaya. Risiko yang disebabkan kesalahan taksiran biaya dan ketidak pastian, yang disebabkan penggunaan methodology statistikal. Kedua [b] risiko teknis atau skedul. Hadirnya jadwal yang tidak bisa dipenuhi atau kekeliruan obyektif secara teknik, berakibat ter-tundanya skedul dan menurun-nya performa yang seharusnya dicapai sesuai skedul. Ketiga, [c] risiko kebutuhan, lebih disebabkan dari pergeseran yang tidak terlihat sebelumnya misal system spesifikasi. Bisa karena kekurang pengertian atau ketidak sanggupan untuk mencapai performa yang diinginkan dan keraguan memutuskan—menambah waktu dan biaya. Kempat, [d] risiko ancaman, akibat munculnya ancaman baru atau belum terbaca diwaktu lalu, membuat pergeseran komponen baru (atau penghapusan) dengan taksiran biaya baru untuk mengatasinya. Pandangan berikut, [2] pandangan ketidak pastain (uncertainty overview), mengkuantifisir ketidak pastian dalam taksiran biaya dalam rangka menjawab (menaksir) beberapa pertanyan dibawah ini: [a] seberapa jauh (simpangannya) relatif terhadap titik taksiran (point of estimate), [b] probabilita bahwa tetap biaya berada dalam batas toleransi, [c] seberapa jauh biaya tersebut bisa dijalankan. Dua (2) pandangan tersebut diatas meyakinkan benar bahwa konsep analisis biaya sanggup mendemonstrasikan transparansi dan akuntabilitas biaya yang digunakan, dan ketegasan bahwa 1 unit $ yang dikeluarkan negara diikuti berkah sekian unit manfaat/effektifitas bagi pemilik system.

 

Kesimpulan

The Memorandum of Agreement signed by the Assistant Secretaries of the Navy for Research, Development, and Acquisition and for Financial Management and Comptroller in June 1996 committed the Naval Center for Cost Analysis (NCCA) to improve cost analyses by helping program managers prepare better cost estimates  [66].

 

Analysis biaya menjadi suatu lahan tersendiri, menuju tercapainya kapabilitas system senjata yang rasional—disiplin ini dilebur dalam disiplin besar ilmu optimasi keputusan (operasi riset) yang diajarkan di sekolah pasca sarjana militer. Analisis biaya sangat strategik karena meliput isu rencana jangka panjang. Menjadi perhatian Parlemen mengingat penggalan taksiran biaya mengerucut kepada unit anggaran negara (budgeting). Taksiran biaya ini menjadi ajang rasionalisasi utama setelah dipasangkan dengan effektifitas yang di-tetapkan dan berujung pada akuntabilitas dan transparansi. Mengapa negara itu bersikeras mengunakannya—sederhana dan rasional, yakni 1 unit biaya yang sudah dikeluarkan harus memperoleh gantinya sekian unit manfaat atau effektifitas (tidak sia-sia bukan? pen)…dan bisa mempertanggungjawabkan effektifitas serta konsekuensi biaya semua proyek/program/ kegiatan sekaligus kepada publik bukan sebatas Pjk Keu saja…dan berlaku bagi semua Angkatan bahkan departemen pemerintahan lainnya. CBA/CEA sanggup mengeksplor opsi alternatif yang saling berkompetisi satu sama lain dan memilih yang terbaik (satu pilihan/alternatif hanya bisa terjadi bila pilihan tersebut dominan)[67]. Bukan hanya KemHan, instansi semahal NASA sudah lama mempraktekkan. CBA, CEA adalah perangkat yang sanggup mendemonstrasikan transparansi, akuntabilitas, effisiensi, dan effektifitas pilihan. Banyak negara menggunakan teknik ini sebagai basis penganggaran dan evaluasi anggaran (budgeting) kl 35 tahun lalu. Contoh skema CEA dibawah ini; dipetik dari laporan pemerintah Selandia baru tahun 2011 [68].

 

Perhatikan, Investasi adalah awal dijalankan suatu proyek, naik keatas adalah proses Economy (proses finansial), kemudian memasukkan input (sumber daya) untuk diproses, agar dihasilkan outputs (produk sesaat). Antara input—output adalah isu effisiensi. Bentangan investasi ke output melibatkan isu (taksiran) biaya dalam total life cycle cost (cost overrun). Antara input ke outcomes adalah isu effektiftas – biaya. Outcomes adalah dampak (bisa dalam turunan ke 2, 3 dst—effect based operations) setelah melibatkan sasaran atau pasar (bisnis). Analisis ini adalah synthesa (ilmu) ekonomi, statistik, ilmu keputusan dan system rekayasa. Digunakan secara luas dan terus dikembangkan KemHan negara maju, meliput isu-isu i) strategy keamanan nasional (baca: kamnas), ii) himpunan kebijakan pengadaan, iii) informasi tentang investasi kritikal tentang personil, peralatan, infrastruktur, jasa, dan logistik. Selain strategik, isu kebijakan (lebih superior dari strategy dan lebih menyentuh kepentingan nasional) bisa terbantukan. Menjadi tantangan bagi korps Supply dan Operasi untuk membangun model effektifitas dan model biaya. Pemilihan sista, pembelian, investasi, kontrak; bukan lagi dominasi logistik, bahkan menjadi knowledge-based ledership dan kepentingan produk renops, manajemen, renkam, perencanaan jangka panjang, rencana strategik, pembangunan kekuatan (force planning, force structures, dll)—pengetahuan wajib. Ukuran effektifitas bahkan diperlukan bagi staff intelijen, staf lemdik, pasukan khusus, instruktur, dosen, kabag, Komandan, bahkan semua unit membutuhkan dan dimasukkan dalam dalam orgaspros sebagai KIP (key performance indicator/kpi). Kajian tentang CBA atau CEA menjadi kandidat lahan kajian di semua Angkatan, kandidat thesis mahasiswa setingkat Sesko (yang akan menambah program gelar via UNHAN), mahasiswa UNHAN atau mahasiswa sipil yang tertarik dengan isu CEA. Teknik ini membantu mengerucutkan solusi pemilihan dengan “pasangan” ukuran effektifitas [69] dan konsekuensi biaya yang cukup “fair” untuk didemonstrasikan ke-publik… Semoga bermanfaat.

____________________________________________________________

[1] CBA = cost benefit analysis, CEA= cost effectiveness analysis dan AoA= analysis of alternative, CBA dan CEA sdh berjalan selama kl 40 tahun, sekarang dikembangkan yang lebih pantas lagi (affordable) yakni AoA, namun tidak dibahas disini.

[2] Michael N. Beltrano, PhD, Affordability: The Key to a Strong Defense from Now On, (Prepared for 1993 DoD/Kemhan AS, Cost Analysis Symposium Innovative Estimating Techniques for Business Base Changes & Related Overhead Impacts), hal 3. …. definisi cost banyak berasal dari (minimal) pengetahuan manajerial akuntansi, sekarang menjadi pemahaman umum bagi para perwira militer…praktek pendalaman menuju effisiensi jauh lebih penting. Overhead costs, mudahnya adalah biaya lain-lain.

[3] Gene H Fisher, Cost Considerations in System Analysis, (RAND, R – 490 – ASD, Dec 1970), halaman 25.

[4] Diana Angelis (slide DRMI/NPS), Cost Concepts and Analysis, slide # 2.

[5] Obyektif kegiatan adalah ……apa sebenarnya yang mau dicari. Misal membangun Gedung—obyektifnya: untuk dipakai rapat terus menerus untuk sekian orang, dgn agenda kl rata-rata 3 jam per hari.… kalau hanya dipakai sebulan sekali dan rata rata 1 jam, apa manfaatnya…kan bisa digunakan ruang lain yang ada?

[6] Gene H Fisher, Cost Considerations in System Analysis, (RAND, R – 490 – ASD, Dec 1970) halaman 26, dst. … (biaya tidak selalu berarti uang atau dollars, biaya bisa diartikan manfaat yang dibuang atau manfaat yang terpaksa hilang atau manfaat/konsekuensi negative (negative benefit) seperti jumlah kapal tenggelam, korban, personil tewas, dll. Sepantasnya kalau ada komentar…at all costs, pen).

[7] Gregory K Mislick & Daniel A Nussbaum (Keduanya Doctor, Dosen, Dept Opt Research, US NPS), Cost Estimation: Methods and Tools, (Wiley & Sons, 2015), halaman 2. Sekarang taksiran biaya menjadi program studi tersendiri dibawah Dept Operations Research NPS.

[8] Ibid,  … syarat absahnya konsekuensi anggaran mendukung suatu kegiatan.

[9] Timothy P Anderson & Jeffery S Cherwonik, Cost Estimating Risk and Cost Estimating Uncertainty Guidelines, (Journal, Acquisition Review Quarterly—Summer 1997), hal 339.

[10] Gregory K Mislick & Daniel A Nussbaum (Keduanya Doctor, Dosen, Dept Opt Research, US NPS), Cost Estimation: Methods and Tools, (Wiley & Sons, 2015), halaman 2. Sebetulnya ada 6 kasus dalam buku tersebut, namun hanya 3 kasus yang ditampilkan disini.

[11] NASA, Cost Estimating Handbook Version 4.0, (Appendix C, NASA, Feb 2015), halaman C – 5, periksa gambar:

Khususnya CER (atau Cost Estimate Relationship—salah satu bentuk taksiran biaya), empat (4) pendekatan tersebut adalah analogy, parametric, system engineering, dan extrapolation. James Ruth (jamesbennettruth@gmail.com), dalam papernya,”Overview of Cost Definitions and Costing Methods”, menyebut pendekatan yang digunakan… Top-Down, Algorithmic, or Parametric (often used when fine detail is not available), Bottom-Up or Industrial Engineering (usually used when fine detail is available), Expert Judgment (experts estimate or ‘guesstimate’ project costs),  Work Forward, Work Back (when the project has a specific due date), Activity Based Costing (time consuming and requires accurate data), Analogy (comparing similar and like for like projects), Quick and Dirty Costing (fast, but accurate to an order of magnitude only). 

[12] Mark V. Arena, et-all, Impossible Certainty: Cost Risk Analysis for Air Force Systems, (RAND Corpt, PAF, 2006), Summary, hal xix.

[13] Penulis buku, Mislick & Nussbaum.

[14] DoA (Dept of the Army), US Army Cost Benefit Analysis: Guide, (DoA, 2010), halaman 23, …. Work Breakdown Structure (WBS)… A work breakdown structure defines in detail the work necessary to accomplish an initiative/proposal’s objectives. A typical WBS reflects the requirements, what must be accomplished to develop the initiative/proposal, and provides a basis for identifying resources and tasks for developing a cost estimate.

[15] Pembelian material atau system yang prototype (kapal, pesawat terbang,dll), hampir pasti harga produksi (jual) termasuk biaya R & D, bagaimana bila melakukan investasi (beli) lebih dari 1 unit, akankah pembeli membayar n kali jumlah prototype yg dibeli—fairkah (pen)?

[16] Finansial — mungkin tidak melanggar aturan keuangan dan tentu lebih menguntungkan (hemat).

[17] Otomatis jadwal perbaikan, dll, masuk dok, modernisasi menjadi konsen teknis pihak galangan. Secara teknis tidak dijelaskan penulis kadar absah dan akuntabilitas finansial seperti apa (financial sense).

[18] Gregory K. Mislick & Daniel A. Nussbaum (Keduanya Doctor, Dosen, Dept Opt Research, US NPS), Cost Estimation: Methods and Tools, (Wiley & Sons, 2015), halaman 11.

[19] Kirk Michealson, Affordability Analysis: How Do We Do It?, (MORS/Military Operations Research Workshop, 1 – 4 October 2012, Lockheed Martin Corpt, Va), halaman 1.

[20] David Novick, The Meaning of Cost Analysis, (RAND CORPT, P-6881, May 1983), hal 1

[21] Ibid, halaman 2.

[22] Bila tersedia opsi n alternatif, maka akan muncul pasangan E1/C1 (baca rasio effektifitas system alternative -1 dengan konsekuensi biaya alternatif -1), E2/C2, …  En/Cn, pilih sesuai kriteria yang ditetapkan, bisa fixed cost approach, atau fixed effectiveness approach, atau any effectiveness (FOM – figure of merit) dgn cost (mungkin) yang terbesar.

[23] David Novick, System and Total Force Cost Analysis, (RAND, Memorandum RM-2695-PR, April 1961), hal 2. Akuisisi yang benar adalah dimulai dari tahap R & D, invets, operasional, perbaikan terjadwal, modernisasi dan disposal, bukan dilakukan hanya sewaktu beli saja (invest)….konsep memilih dengan teknik CBA atau CEA bukan hanya bagi militer saja, namun sekarang sudah diterapkan bagi kementerian lain-nya. CBA akan lebih banyak digunakan dilingkungan sipil nampaknya.

[24] CBA agak berbeda dgn CEA, CBA berbasis manfaat, misalnya proyek membangun ruang rapat, kriteria manfaat bisa didefinisikan adalah ruangan dengan luas sekian kali sekian, digunakan untuk temu rapat, dll, paling tidak sekian ratus kali setahun—-kalau jarang jarang dipakai untuk apa dibangun tidak sebanding dnegan konsekuensi biaya yang cukup besar bukan…alias kurang bermanfaat.

[25] Beli bekas, sepertinya murah namun setelah dihitung dalam sisa total life cycle cost sampai usia disposal, ternyata jatuhnya bisa saja lebih besar dari harga beli bekas (investasi)—lanjutkan beli atau lepaskan? Kasus beli baru namun, dan tidak ada pembeli lain tentu saja pembeli satu-satu-nya harus menanggung derita biaya R & D yang sangat besar.

[26] Mungkin pusing mencermati dan mendengarkan semua Panglima mengajukan proyek dengan menekankan pada sisi anggaran saja.

[27] Francoise Malese, et-all (3persons all), Military Cost-Benefit Analysis, (Routledge, DRMI/US NPS, 2015):

—–by F Malelese, et – all, Ch1. Introduction: Military Cost- Benefit Analysis, halaman 14, (footnotes 16); … McNamara relied heavily on systems analysis to reach several controversial weapon decisions. He canceled the B-70 bomber, begun during the Eisenhower years as a replacement for the B-52, stating that it was neither cost-effective nor needed, and later he vetoed its proposed successor, the RS-70. McNamara expressed publicly his belief that the manned bomber as a strategic weapon had no long-run future; the intercontinental ballistic missile was faster, less vulnerable, and less costly. Similarly, McNamara terminated the Skybolt project late in 1962. Begun in 1959, Skybolt was conceived as a ballistic missile with a 1,000-nautical mile range, designed for launching from B-52 bombers as a defense suppression weapon to clear the way for bombers to penetrate to targets. McNamara decided that Skybolt was too expensive, was not accurate enough, and would exceed its planned development time. He claimed other systems, including the Hound Dog missile, could do the job at less cost.

[28] Peforma, outcome, effektifitas, masuk dalam elemen bentangan ukuran effektifitas (MOE), pilihan definisi tergantung isu dan obyektif yang diigninkan pengambil keputusan.

[29] E S Quade & W I Boucher, System Analysis and Policy Planning: Application in Defense, (RAND, R – 439 – PR, June 1968),:

  1. D. Attaway, ——-ch 4. Criteria and the measurement of effectiveness (MOE), — halaman 56, fig 4-1.

[30] Bisa saja ekivalen dengan beberapa alternative kontraktor atau rekanan, namun tetap saja orientasinya yang termurah… (termurah     belum tentu effektif atau tinggi manfaatnya).

[31] Munculnya alternatif keputusan akan memberikan kelonggaran munculnya alternatif dukungan biaya yang disangggupi. Misalnya bila dampak serbuan diharapkan 60 % area (EBO) akan diduduki, mengapa harus menggunakan alternatif menggunakan seluruh kekuatan yang ada. Atau bahkan ekstrimnya cukup menguasai pemimpinnya sudah bisa menaklukkan suatu daerah, mengapa harus merusak seluruh area tersebut?

[32] Dua (2) sub model yang menjadi tantangan penaksir biaya yakni membangun model manfaat atau effektifitas dan model (komponen) biaya sebagai konsekuensinya. CEA terjadi apabila komponen biaya tidak bisa lagi dilakukan dengan nominal rupiah, namun dengan parameter lainnya, misal jumlah korban, jumlah pesawat yang jatuh, dll, diluar ini bisa ditampung dengan CBA (cost benefit analysis).

[33] PPBS singkatan Planning, Programming & Budgeting system, sekarangdengan perobahan sedikit menjadi PPBES (E =execution).

[34] Francoise Malese, cs; Introduction, Military Cost-Benefit Analysis (CBA): Theory & Practice, (NPS, atau http: / / hdl . handle . net / 10945/43577), halaman 17, foot notes 2,…Office of the Deputy Assistant Secretary of the Office of  the  Deputy Assistant  Secretary of the Army, U.S. Army Cost–‐Benefit Analysis Guide, January 12, 2010, p.6. In general, the U.S. Federal Government’s, Office of Management, and Budget (OMB) Circular A–‐94 provides guidance for the application of CBA across the entire Executive Branch. DoD Instruction 7041.3 “Economic Analysis for Decision Making” provides explicit guidance for the Department of Defense.

[35] Hanya negara yang memiliki teknologi dan fasilitas produksi system, kapabel melakukan system akuisisi (pengadaan), dimulai saat R & D, operasional, pemeliharaan, modernisasi dan disposal sepanjang usia pakainya. Diluar ini actor hanya sanggup melakukan investasi awal saja (beli saja, pen). Total biayanya disebut total life-cycle cost.

[36] Proses pengadaan hanya sebatas investasi (beli) saja dan berhenti sampai disini bukanlah akuisisi.

[37] F. Malese, Anke Richter, and Binyam Solomon, Military Cost Benefit Analysis; Theory and Practice, (Routledge with US NPS, 2015),

—–Diana Angelis & Dan Nussbaum; Ch5. Cost Analysis, halaman 116.

[38] US Army, US Army Cost – Benefit Analysis Guide, (US Dept of the Army, 12 Januari 2010), halaman 6…sebagai catatan bahasa manfaat (benefit) bisa diganti dengan effektifitas bila manfaat tidak bisa lagi diukur dengn uang (non-monetary).

[39]  Gene H Fisher, Cost Consideration in System Analysis, (Rand, R – 490 – ASD, Dec 1970), Halaman 25.

[40] Proyek a.l:infratsruktur seperti pangkalan dengan semua fasilitasnya, sedangkan program misalnya; system senjata, kapal, tank, pesawat terbang, dll.

[41] Malese, F, cs; Introduction, Military Cost-Benefit Analysis (CBA): Theory & Practice, (NPS atau http:// hdl. handle. net/10945/43577), halaman 3.

[42] Ibid, hal 5,…bila manfaat tidak bisa di rupiahkan (non-monetized benefit), the terms “Systems Analysis” or “Cost-Effectiveness Analysis” are often used to describe Military CBA.

[43] Ibid, hal 4…oleh karena CBA atau CEA bisa berjalan dalam tahapan yang disebut total life cycle cost (tlcc), maka isu akuisisi (pengadaan) & inventory, akan mengikuti tahapan mulai R & D, pemeliharaan berkala dst sampai dengan disposal, termasuk kerangka blok anggaran.

[44] Era McNamara telah berkembang pesat konsep pengambilan keputusan dengan obyektif (goal) ganda atau multi criteria decision making.

[45] Kepentingan nasional akan djamin terlaksananya oleh strategi keamanan nasional (baca KamNas) , yakni strategi seluruh  instrument kekuatan nasional.

[46] Ibid, halaman 7.

[47] CBA tidaklah terlalu rumit dibandingkan kalkulus CEA, karena model cost (CBA) bisa diekspresikan dalam nominal karensi mata uang (dolar, rupiah, dll), berbeda dengan analis CEA yang harus kapabel memodelkan effktifitas system (memodelkan MOE = measures of effectiveness) yang dipilih dan model komponen cost yang bukan karensi mata uang, misal jumlah korban, peralatan, dll.

[48] Effektifitas berbeda dengan kesanggupan, kebisaan (able), bahkan kemampuan berbasis design pabrik, seperti kecepatan kapal/pesawat, jelajah aksi, endurance, kecepatan tembak per menit, kecepatan maksimum, dll. Skala ini tidak berpengaruh sama sekali terhadap keinginan pemilik system untuk bisa mengalahkan lawan. Berbeda misalnya diketahui berapa probabilita menghancurkan sasaran, setelah diketahui probabilita mengenai sasaran diketahui dan probabilita peluru meledak diketahui serta probabilita peluru berhasil ditembakkan dari Meriam, dst. MOE diperhitungkan relatif terhadap lawan atau sasaran. Sama halnya dengan COG (center of gravity) selalu diperhitungkan relatif terhadap lawan, jadi bukan relative terhadap diri sendiri misal: pernyataan bahwa COG kita adalah kota-kota besar berpenduduk padat (misal), apakah lawan memilih COG yang sama atau harus sama dengan yang bertahan?

[49] Formula Capability = Ability + “Outcome”. Outcome yang diharapkan ini akan menunjang experimen, test, evaluasi lebih lanjut untuk menemukan harga yang akurat. Pendekatan harga akan dilakukan menurut skala ukuran effektifitas (MOE) yang telah ditetapkan. Kalau definisi effektifitas bom tradisional yang dijatuhkan dari pembom adalah CER (circular error probability—tetapan sederhana), maka test atau experimen berkali-kali yang dilakukan dengan varian ketinggian pesawat terhadap berbagai macam sasaranà harga yang ditemukan bisa digunakan sebagai harga “outcome” dari formula diatas. Singkatnya (misal), CER semakin kecil, maka effektifitas semakin besar dan kapabilitas (karena kapabilitas aalah abilitas plus outcomenya) menjadi besar. Bila diterjemahkan dalam kalimat lengkap, maka kapabilitas (capabilities) bom yang dijatuhkan adalah (=) (ability) kesanggupan bom untuk dijatuhkan dengan (+) harapan sebesar 80 % atau 0.8 akan mengenai sasaran. Berbeda jauh dengan pernyataan pemilik bom (penjual) tentang kemampuan dengan kalimat … mampu menghancurkan sasaran (yang mana?) dari ketinggian berapa saja (samakah ekpektasinya?). Kemampuan yang diharapkan dihitung relatif dampaknya terhadap musuh atau sasaran. Definisi yang tegas dan jelas ini akan membantu pilihan yang “fair”.

[50] N.K Jaiswal, Military Operations Research: Quantitative Decision Making, (Springer Science, New York, 1997), hal 114.

[51] Ibid, menggunakan simulasi… prob adalah probabilita.

[52] ….n (subscript) adalah …number atau jumlah. Oleh karena sedang memperhitungkan jumlah Meriam (dalam unit) yang dibutuhkan maka angka yang dipakai tidak dibulatkan, seperti G1.memang dibtuhkan sebesar 2.14 unit.

[53] Ibid, halaman 112, bisa saja dipilih dengan pendekatan [i] fixed cost approach, atau [ii] fixed budget approach, atau [iii] figure of merit approach. Jumlah peluru yang ditembakkan per jenis Meriam akan mengerucut menjadi jumlah Meriam yang dibutuhkan untuk

menghancurkan 50 % area sasaran. Sedangkan total biaya (TLCC=total life cycle cost) sepanjang usia pakai adalah biaya mulai R & D,   invest awal, pemeliharaan, operasional, pemeliharaan, suku cadang, modernisasi, dan disposal.

[54] MOE menggunakan CEP bisa saja terhadap sasaran berbentuk lingkaran, ellips atau persegi panjang, dan tentu saja berbeda tetapan MOE-nya ukuran efektifitas-nya).

[55] Effektifitas (MOE) dalam kasus ini bisa saja didefinisikan sebagai berikut: area yang bisa ditutup (coverage area) atau probabilita menemukan sasaran, dll atau koc (kill-of-chain).

[56] Atau saran analis operasi, mengatakan cukup 45 %.

[57] Target atau sasaran tidak selalu property musuh, bisa juga berbentuk fisik atau kondisi yang diharapkan untuk kepentingan bisnis. Target bisa disamakan dengan end-state (status akhir yang diinginkan).

[58] MOE (measures of effectiveness) adalah bentangan atau skala ukran effektifitasnya.

[59] US Dept of Homeland Security, Risk Management Fundamentals, (DHS/Dept of Homeland Security Risk Management Doctrine, April 2011), hal 7. …., risk is defined as “the potential for an unwanted outcome resulting from an incident, event, or occurrence, as determined by its likelihood and the associated consequences.” DHS Risk Lexicon, 2010 Edition.

[60] Paul R Garvey, Uncertainty and the Role of Probability In Cost Analysis; A System Engineering Perspective, (Marcel Dekker, 2000), halaman 1.

[61] Kata pembinaan yang asal katanya adalah manajemen, nampaknya lebih lunak dibandingkan dengan manajemen (dengan elemen POAC-nya) yang lebih menggigit.

[62] US Dept of Homeland Security, Risk Management Fundamentals, (DHS/Dept of Homeland Security Risk Management Doctrine, April 2011), hal 7. …. throughout this document, risk is defined as “the potential for an unwanted outcome resulting from an incident, event, or occurrence, as determined by its likelihood and the associated consequences.” DHS Risk Lexicon, 2010 Edition.

[63] Gregory K. Mislick & Daniel A. Nussbaum (keduanya Doctor, Dosen, Dept Opt Research, US NPS), Cost Estimation: Methods and Tools, (Wiley & Sons, 2015), halaman 276.

[64] Ibid, halaman 281.

[65] Ibid, halaman 282.

[66] Timothy P Anderson & Jeffery S Cherwonik, Cost Estimating Risk and Cost Estimating Uncertainty Guideline, Acquisition Review Quarterly. (Summer 1997). p. 339-348, http://hdl.handle.net/10945/48820.

[67] Gregory K. Mislick & Daniel A. Nussbaum (Keduanya Doctor, Dosen, Dept Opt Research, US NPS), Cost Estimation: Methods and Tools, (Wiley & Sons, 2015), halaman 15 & 16.

[68] Pem Selandia baru, Central government: Cost Effectiveness and Improving Annual Reports, hal 29.

[69] Sekali lagi effektifitas (ukuran) berbeda dengan (iming-iming) desain pabrik sista atau penjual yang menawarkan system dengan kemampuan (katanya) seperti: kecepatan maksimum, aksi radius, ketinggian jelajah, dll. Bagi militer definisi effektifitas di-ukur relatif dampak terhadap sasaran….apa gunanya kecepatan, aksi radius, dll meskipun sungguh-sungguh hebat tapi tidak memiliki harapan (expected value) seberapa jauh memberikan kerusakan terhadap sasaran atau lawan yang terukur….? DIsamping itu, sungguh meragukan kalau penjual (mestinya tahu) tidak tahu skala effektitiftas produk yang dijual.

Beyond Military Revolution in 4.0 Era: National Resilience, Foreign Policy and Security Policy

“Resilience is a necessary foundation for offense” – Ralph Thiele (2018)

 

  1. Pendahuluan

Dalam dunia dewasa ini, kita kembali dihadapkan dengan permasalahan fundemental dalam mendefinisikan keamanan nasional, atau apa arti dari merasa aman itu sendiri. Terdapat banyak dimensi dari hal tersebut, mulai dari dimensi militer atau pertahanan hingga dimensi ekonomi, politik dan sosial didalam masyarakat kita- bahkan dimensi psikologi. Di era 4.0 yang telah dan sedang berlangsung ini, perang selalu berubah. Arena perang pun berubah. Betul adanya bahwa batasan antara perang dan damai yang dulu jelas kini semakin memudar. Seringkali kita mendengar tentang demonstrasi militer, latihan-latihan bersama, dan operasi serangan siber dan informasi dalam beberapa tahun terakhir. Secara tradisional, hal –hal tersebut dipandang sebagai ‘prelude’  atau yang membuka konflik. Namun bagaimana jika halnya hal-hal tersebut justru adalah perang itu sendiri?. Dengan kata lain, tidak perlu kita mengambil resiko dengan mengerahkan seluruh kekuatan dalam peperangan nyata. Kita hanya perlu menggunakan/ memanfaatkan sejumlah ‘alat’ (baca: kekuatan nasional) untuk melakukan penekanan untuk mencapai tujuan yang sama. Demikian, sejarah memberikan kita gambaran dan pelajaran bahwa peperangan dan cara berperang terus berubah sesuai dengan perubahan di dalam masyarakat. Demikian peperangan dan bagaimana perang kemungkinan akan dilakukan di masa depan pun akan berbeda dengan hari ini. Jika dalam tulisan sebelumnya penulis membahas topik mengenai revolusi industri keempat, penjelasan umum dan dampaknya terhadap pertahanan, keamanan dan ketahanan nasional. Dalam tulisan ini penulis akan membahas mengenai revolusi militer, konteks yang melingkupinya atau perkembangan trend dan lingkungan strategis hari ini, dan masukan yang dapat diambil oleh pemerintah baik dalam konteks kebijakan luar negeri; ketahanan, keamanan dan pertahanan nasional; dan khususnya untuk TNI AL.

  1. Landasan Teoritis

Sebelum masuk kedalam pembahasan, pertama-tama kita perlu terlebih dahulu membedakan apa yang dimaksud dengan revolusi militer, revolusi urusan militer atau RMA, dan transformasi militer.  Dalam ontologinya, Knox and Murray menyebutkan bahwa, institusi militer berubah untuk beradaptasi atau untuk mengantisipasi perubahan dalam masyarakat. Murray menyebutkan setidaknya ada lima revolusi militer yang telah terjadi sepanjang sejarah (dari tahun 1300an), yakni: lahirnya sistem negara abad ke-17; Revolusi Perancis; Revolusi Industri; Perang Dunia I, dan kompetisi nuklir negara-negara besar atau superpower (MacGregor Knox, Williamsom Murray. 2001. “The Dynamics of Military Revolution, 1300-2050”. Hlm. 13).  RMA atau Revolution in Military Affairs, disisi lain, adalah perpaduan  kompleks inovasi taktis, organisasi, doktrinal, dan teknologi untuk menerapkan pendekatan konseptual baru terhadap peperangan ata sub-cabag khusus peperanga (hlm. 12). Adapun yang membedakan RMA dengan inovasi lainnya adalah penekanan terhadap atau loncatan dramatis dalam efektifitas militer. Transformasi, dalam hal ini, meliputi proses menciptakan kemampuan RMA , atau  inovasi dalam skala besar yang menghasilkan keunggulan kompetitif utama. Dalam bahasa lain, Krepinevich menyebutkan bahwa transformasi pertahanan adalah sebuah proses sistematik untuk mengaplikasikan teknologi terhadap sistem militer dikombinasikan dengan konsep operasional dan adaptasi organisasi inovatif yang secara fundamental mengubah karakter dan metode konflik. Transformasi tersebut pada akhirnya akan menciptakan perubahan dalam instrumen perang seperti teknologi yang digunakan, organisasi dan strategi operasional yang pada akhirnya akan mendorong terjadinya revolusi urusan militer atau RMA.

Ada tiga hal, setidaknya, yang perlu diperhatikan atau yang mendorong terjadinya transformasi militer, yakni: (a) ditentukan oleh dinamika geopolitik, kontigensi atau ketidakpastian di masa depan, dan perilaku terhadap hal tersebut; (b) perkembangan teknologi-teknologi baru yang berpotensi mengganggu keamanan dan mengubah bagaimana perang dilakukan dalam 20-30 tahun kedepan, dan; (c) bagaimana negara lain mengadopsi dan mengadaptasi teknologi militer kedalam strategi dan doktrin. Sebelum memasuki pembahasan tersebut (singkatnya, lingstra), penting untuk terlebih dahulu memahami hirarki kepentingan nasional dalam melihat lingkungan strategisnya. Merujuk pada matrik basic national interest atau intensities of interest dari Donald Nuechterlein, ada empat kepentingan nasional dasar yang menjadi landasan kuat semua kebijakan luar negeri dan kebijakan keamanan nasional suatu negara, yakni (Nuechterlein. 1997):

  1. Defense of Homeland: Menjaga keutuhan wilayah, populasi dan sistem politik
  2. Economic Well-Being: Stabilitas finansial dan standar kehidupan
  3. Favorable World Order: Lingkungan keamanan internasional
  4. Promotion of Values: Kebebasan, Rule of Law dan HAM

Tersebut diatas perlu kembali di highlight supaya kita semua dapat memiliki satu pemahaman bersama bahwa kepentingan nasional itu memiliki hirarki. Bagi Indonesia, rujukan hirarki kepentingan nasional Indonesia tercantum dalam Perpres No. 7 Tahun 2008 Tentang Kebijakan Umum Pertahanan Negara, bahwa kepentingan nasional tersebut terdiri dari 3 (tiga) strata, yaitu:

  1. Mutlak, kelangsungan Negara Kesatuan Republik Indonesia, berupa integritas teritorial, kedaulatan nasional, dan keselamatan bangsa Indonesia.
  2. Penting, berupa demokrasi politik dan ekonomi, keserasian hubungan antar suku, agama, ras, dan golongan (SARA), Penghormatan terhadap Hak Asasi Manusia, dan Pembangunan yang Berwawasan Lingkungan Hidup.
  3. Pendukung, berupa perdamaian dunia dan keterlibatan Indonesia secara meluas dalam upaya mewujudkannya.

Dengan kata lain, semua sumber daya nasional disiapkan pertama-pertama adalah untuk menjaga kelangsungan Negara Kesatuan Republik Indonesia, berupa integritas teritorial, kedaulatan nasional, dan keselamatan bangsa Indonesia.. Dari poin tersebut pula tersirat bahwa negara harus memiliki kemampuan untuk ‘melindungi’. Melindungi dari apa? dari ancaman yang sekali lagi tidak bisa di tafsirkan secara ekslusif misal ancaman tradisional dan non tradisional;ancaman langsung dan tidak langsung; acaman dari dalam atau dari luar; perdata atau pidana dan seterusnya. Melainkan ancaman terhadap kepentingan nasional Indonesia: kepentingan utama (survival), kepentingan vital (vital), kepentingan penting (major), dan kepentingan pendukung ( pheriperal).Sesuatu dapat dipandang sebagai ancaman adalah ketika ia memenuhi anatomi berikut:

Ancaman ó (I)ntention X (C)apabilities X (C)ircumtances X (V)ulnerability

Dengan kata lain, dalam membaca perkembangan lingkungan strategis dan acaman terhadap kepentingan nasional Indonesia, kita perlu melihat: apakah Intensi dari negara tersebut?; apakah ia mempunyai kapabilitas untuk mencapai intensi tersebut? Atau kapabilitas apa yang mereka punya untuk mencapai kepentingannya?; apakah situasimendukung untuk negara tersebut menjalankan rencananya?, dan ; apakah ada kerentanan kita yang dieksploitasi oleh negara lain untuk mencapai kepentinganya?. Berkaitan dengan itu, para pakar dunia kini bersepakat bahwa disepanjang tahun 2018 ini terdapat sepuluh titik konflik yang paling mematikan – konflik, bukan perang. Namun dalam hal ini, penulis kategorikan kedalam empat bentuk, yakni konflik antar negara, konflik intra-negara, kejahatan organisasi kriminal transnasional, dan R2P (Responsibility to Protect). Ada dua poin yang menarik memang, yang pertama adalah kejahatan organisasi transnasional dimana terkadang yang dimaksud dalam hal ini tidak terbatas pada kejahatan-kejahatan transional seperti IUU fishing, terrorisme, perompakan, drug/human trafficking dan sejenisnya. Melainkan juga organisasi-organisasi seperti tentara bayaran atau tentara militan (baca: grey/ hyrbrid warfare), yang secara jelas mereka bukanlah entitas yang mematuhi aturan hukum. Kedua adalah R2P, yang kerap kali datang dengan dalih demokrasi, HAM dan sejenisnya. Namun perlu kita perhatikan dan sikapi dengan jernih karena terkadang tujuan intinya adalah berkaitan dengan akses terhadap sumber daya alam/ mineral tertentu. Sejarah memberikan banyak contoh, misalnya hubungan China dengan Eropa dimasa lalu adalah tentang teh, sutera, keramik, dan kemudian opium war terjadi. Hubungan antara Iran dan Amerika Serikat adalah tentang revolusi Iran pada masa Muhammad Mossadeq, nasionalisasi minyak, kudeta oleh Shah Iran dan seterusnya yang berlangsung hingga hari ini dalam isu nuklir dan terrorisme. Hubungan Saudi Arabia dengan AS adalah tentang minyak dan perdagangan senjata militer (Saudi adalah pembeli terbesar peralatan militer AS) dan berlangsung hingga hari ini. Dan jika kita mau menilik kembali sejarah bahkan dari sejak sebelum kemerdekaan Indonesia, keberadaan Freeport dan ekstraksi mineral -yang tidak hanya terbatas pada emas- di bumi Papua barangkali bisa menjadi salah satu contoh kasus.

  1. Perkembangan Lingkungan Strategis

Sepertidisebutkansebelumnya, pembahasanmengenailingkunganstrategisiniakanmeliputitigahal, yakni: dinamika geopolitik (terutama negara-negara besar), kontigensi atau ketidakpastiann di masa depan dan perilaku terhadap hal tersebut; perkembangan teknologi-teknologi baru yang berpotensi menganggu keamanan dan mengubah bagaimana perang dilakukan dalam 20-30 tahun kedepan, dan; bagaimana negara lain mengadopsi dan mengadaptasi teknologi militer kedalam strategi dan doktrin-nya. Ketika kita berbicara mengenai geopolitik, terutama geopolitik negara-negara besar, rasanya penting bagi kita untuk mengambil satu langkah kebelakang terlebih dahulu. Yakni memahami esensi utama dari politik internasional. Atau dengan kata lain, mendeteksi dan memahami kekuatan-kekuatan yang menentukan hubungan politik antara bangsa-bangsa, dan memahami jalan/cara kekuatan-kekuatan tersebut bertindakk satu dalam lain dalam hubungan politik dan institusi internasional. Hans J Morgenthau dalam bukunya “Politics Among Nations” menyebutkan bahwa, politik internasional, sama dengan politik lainnya, adalah sebuah perebutan kekuatan (struggle for power) (Morgenthau, ***. Hlm. 13). Apapun tujuan utama dari politik internasional, power selalu merupakan tujuan terdekatnya. Para negarawan atau orang dapat bertujuan utama untuk mencapai kebebasan, keamanan, kesejahteraan atau kekuasaan itu sendiri. Mereka juga dapat mendefinisikann tujuan mereka dalam ketentuan agama, filsafat, ekonomi atau social ideal. Mereka dapat berharap bahwa idealisme tersebut dapat terwujud apakah itu melalyi kekuatan dalam dirinya sendiri, intervensi atau ketentuan tuhan/ divine force, atau melalui perkembangan alamiah dalam hubungan manusia. Apapun itu, ketika mereka berupaya untuk mewujudkan tujuan mereka melalui politik internasional, mereka melakukannya dengan berjuang untuk kekuasaan. Adapun yang dimaksud dengan power dalam konteks ini adalah power dari suatu negara-bangsa terhadap pikiran dan tindakan dari negara-bangsa lainnya. Dan power dari sebuah bangsa, kita kenal dengan istilah kekuatan nasional (Morgenthau, ****. Hlm. 73).

Ketika hasrat akan power tersebut tidak dapat terpenuhi didalam batasan nasionalnya sendiri, maka mereka/ negara-bangsa tersebut akan memproyeksikannya kepada negara-bangsa lain atau kedalam panggung internasional. Morgenthau menyebutkan ada delapan elemen dari kekuatan nasional, yakni: geografi; sumber daya alam; kapasitas industri, termasuk ICT dan sains; kesiapan militer; populasi; karakter nasional; moral nasional, atau tingkat tekad nasional yang mendukung kebijakan luar negeri pemerintahnya dalam perang ataupun damai, dan; kualitas diplomasi. Dalam politik internasional, beberapa menyebutkan bahwa diplomasi adalah ‘otak’ dari kekuatan nasional, dan moral nasional adalah jiwanya. Jika visinya kabur, penilainya rusak, dan tekadnya lemah. Maka semua keunggulan/keuntungan dari lokasi geografi, swasembada atau melimpahnya sumber daya pangan, SDA dan SDM, hasil industri, kesiapan militer, jumlah dan kualitas populasi, dalam jangka panjang akan sedikit membekali negara. Sebuah bangsa yang dapat membanggakan semua keunggulan tersebut, namun tidak setaraf diplomasi dengan mereka, dapat mencapai keberhasilan sementara melalui beratnya aset alamnya. Dalam jangka panjang, sangatlah mungkin bagi negara tersebut untuk menghambur-hamburkan aset alaminya dengan mengaktifkannya secara tidak sempurna, terbata-bata dan sia-sia untuk tujuan negara. Pada akhirnya, negara yang diplomasinya mampu membuat yang terbaik dari apapun elemen-elemen power lainnya yang ada ditangan mereka, sehingga dengan keunggulannya sendiri dapat mengimbangi/ menutupi kekurangannya di bidang lain. Dengan menggunakan kekuatann potensial negara dengan sebaik-baiknya, sebuah diplomasi yang kompeten dapat meningkatkan kekuatan nasional suatu bangsa diluar perkiraannya.

  1. Politik Negara-Negara Besar

USA First: Make America Great Again

Amerika Serikat, setidaknya hingga hari ini, masih merupakan negara superpower dan dominan dalam politik dunia. Jikapun demikian, dalam beberapa dekade terakhir, Amerika menghadapi tantangan di hampir berbagai front dari negara-negara yang mereka sebut dengan ‘negara revisionist’ dan ‘musuh dari Amerika’. Yakni tantangan dari Rusia (dan Iran) di front Timur Tengah, juga di front Eropa. Kemudian tantangan dari semakin naik dan agresifnya China (dan Korea Utara) di Front Asia Timur dan Pasifik (kemudian diperluas dalam konsep Indo-Pacific). Dan kita ketahui bahwa Amerika Serikat dibawah kepemimpinan Trump populer dengan slogan “USA First dan Make America Great Again”. Dan slogan tersebut bukanlah ‘pepesan kosong’ jika kita memperhatikan dengan baik perilaku dan kebijakan-kebijakan yang diambil Trump dalam beberapa tahun terakhir. Salah satunya contohnya adalah pengerahan tiga gugus tempur Amerika Serikat di Indo-Pasifik, yakni USS Carl Vinson, Nimitz dan Ronald Reagan.  Tidak hanya itu, upaya Amerika Serikat dalam mempertahankan status quo sebagai superpower juga nampak dalam rancangan anggaran pertahanan Amerika Serikat dalam beberapa tahun kedepan. Perhatikan tabel dibawah ini:

US Departement of Defense Budget(US DOD Budget Fiscal Year 2019. Hlm 1-2)

$ in Billions FY 2017Enacted FY 2018Continuing Resolution FY 2019 Request FY18 – FY19 Change
Base 523.5 523.7 617.1 + 93.4
OCO 82.5 83.4 69.0 – 14.4
Emergency Supplemental 4.7 – 4.7
Total 606.0 611.8 686.1 + 74.3

 

Ada tiga poin yang ingin di-highlight oleh penulis dari rancangan anggaran pertahanan Amerika Serikat beberapa tahun terakhir. Pertama, bahwa selain anggaran untuk pos-pos biasa,terdapat penekanan terhadap penguatan kekuatan nuklir Amerika. Dalam DOD FY2018, yang merupakan rancangan anggaran tahun fiskal pertama yang dibuat pemerintahan Trump, pemerintah AS mengajukan rencana program modernisasi senjatan nuklir dan penguatan nuclear detterence. Amerika Serikat, melalui CBO (Congressional Budget Office) telah merancang pengeluaran biaya untuk kebutuhan tersebut untuk estimasi 30 tahun dengan total biaya 1.2 T USD (+/- 800 B USD untuk pengoperasian dan secara inkrimental memperbarui kekuatan nuklir AS, dan sisanya +/- 400B USD untuk modernisasi). Anggaran tersebut diposkan melalui anggara tahun fiskal sejumlah lembaga/kementerian terkait seperti NNSA Budget FY 2019 – 2023 dengan total anggaran kurang lebih 60.859.7 M USD (11.1 M USD di FY2019), dan 8.47 B USD yang diajukan dalam anggaran US DOD FY2019 . Kedua, anggaran untuk operasi interlligent luar negeri (disini disebut Overseas Contigency Operation) pun meningkat, yakni dari 82.5 B USD di FY17 menjadi 83.4 B USD utk FY 2018. Ketiga, selain program senjata nuklir, dimensi lain yang mendapat highlight adalah ruang siber dan ruang angkasa sebagai ‘war fighthing domain’(US FY19 DOD Budget, 2019; Gloud & Mehta, 2018; US CBO. 2017).

Sebagaimana diungkapkan sebelumnya, Amerika Serikat hingga hari ini masih merupakan negara superpower dan akan berupaya untuk mempertahankan atau ‘mengembalikan’ kembali privillage sebagai negara dominan tersebut dengan berbagai cara.Untuk itu Amerika  kapabilitas yang establishedatau kekuatan nasional yang relatively masih dominan dibandingkan negara lain dalam beberapa bidang seperti: military power, intelligence, diplomacy, legal power, informational power, finance dan economics. Dengan  memberdayakan  kekuatan-kekuatan tersebut Amerika akan berupaya untuk mempertahankan status quo dominasi atau sphere of influence-nya dalam politik internasional. Salah satu strategi yang dimunculkan adalah konsep Indo-Pasifik, menggantikan konsep Asia-Pasific pada era Obama.

The Chinese Dream: One Belt One Road

Pembahasan mengenai The Chinese Dream dan OBOR ini sebetulnya telah dikupas dalam beberapa edisi Quarterdeck sebelumnya, Yakni Maritime Silk Road dan Startegi Maritim China, juga Memahami China dari Sudut Pandang Lain. Demikian, dalam tulisan ini hanya akan dibahas poin intinya saja. Cita-cita Beijing dalam ‘the Chinese Dream: the Great Rejenuvation of the Chinese Nation” adalah cita-cita untuk mengembalikan kembali kejayaan dan ‘supremasi hegemoni’ bangsa China seperti kejayaannya di masa lampau. Namun demikian, perlu dicatat bahwa definisi ‘supremasi hegemoni’ China disini bisa jadi memiliki penafsiran yang berbeda dengan konsep hegemony yang umumnya kita kita kenal. the China Dream tersebut memvisualisasikan ‘China Raya’ yang tidak hanya mencakup Taiwan saja, tetapi juga hampir seluruh wilayah sengketa di Laut China Selatan dan pulau Senkaku/ Diaoyu (first island chain). Juga menjangkau seluruh wilayah Asia Timur hingga Pasifik Barat (second island chain). Cita-cita tersebut juga mencakup ‘ambisi’ China untuk memperluas  wilayah pengaruh / sphere of influence­-nya hingga dua pertiga dunia, meliputi daratan eurasia, wilayah Indo-pasifik hingga Timur Tengah dan Afrika. Hal tersebut nampak dalam visi China melalui OBOR atau BRI yang setidaknya ada tiga garis utama, yakni penghidupan kembali ancient silk road/ jalur sutra darat; maritime silk road, dan yang terbaru adalah polar silk road.Upaya pencapaian tujuan tersebut, China menggunakan beberapa metode, diantaranya debt trap; extended quasi territory; resettlement pemuda china; hegemoni Yuan, dan apa yang sejumlah pakar sebut dengan ‘sharp power’. Yang dimaksud dengan ‘sharp power’ disini adalah upaya penyampaian pengaruh melalui jaringan-jaringan yang dapat secara langsung mempengaruhi proses pembuatan kebiajakan, seperti melalui elit politisi atau birokrat, organisasi think-tank dan sejenisnya.Dan untuk mencapai tujuannya dalam the Chinese Dream atau Strategic Plan 2025-nya tersebut, china juga didukung dengan sejumlah kekuatan yang ia miliki seperti: psyco-cultural warfare; media-information warfare; legal warfare; diplomacy; economic power; finance warfare, dan military power.

 

Putinism and Mariskova 2.0

Rusia, dibawah presiden Putin, kini kembali berfokus untuk membangkitkan kembali dirinya sebagai ‘great power’. Dalam hal ini dapat diartikan sebagai upaya Rusia untuk mengembalikan sphere of influence Moskow sebagaimana yang dimiliki Uni Soviet dulu, termasuk beberapa negara merdeka yang kini merupakan anggota NATO.Adapun yang dimaksud dengan Mariskova 2.0 adalah istilah yang digunakan oleh para pakar untuk mendeskripsikan alat dan teknik irregular dan hybrid yang digunakan Valdimir Putin dan kekuatan keamanan dan intelligen-nya untuk mencapai tujuan Moskow diatas – renewed Russian regional hegemony and strategic reach. Pertama, untuk mendeskripsikan serangan terhadap Georgia di tahun 2018, kemudian di Ukraina dan saat ini di Suriah. Secara umum, konsep dan teknik-teknik yang digunakan Rusia, sebagian besar, bukanlah teknik yang baru, setidaknya bagi mereka. Jika halnya Mariskova tradisional terdiri dari teknik-teknik seperti kamuflase, decepton, denial, subversion, sabotage, espionage, propaganda dan pyschological operations. Maka yang dimassud dengan Mariskova 2.0 ini adalah kelanjutan dari pendekatan militer tradisional tersebut dan penggunaan alat pemerintah baru lainnya seperti koersi, manipulasi media, penggunaan akses dan harga bahan bakar fossil sebagai senjata, serangan siber, political agitation, penggunaan agen provokator, deployment kekuatan militer dalam status rahasia dan penggunaan agen kekuatan pengganti dengan memberikan persediaan senjata, peralatan, pelatihan, intelligen, dukungan logistik dan command control. Selain itu, Mariskova 2.0 ini juga berntung pada diplomasi rahasia dan low visibility dan/ atau persiapan rahasia dari lanskap politik, militer, ekonomi dan informasi.Upaya pencapaian tujuan Moskow dengan teknik demikian, boleh dikatakan, sudah berhasil dilakukan. Sebut saja Rusia kini telah berhasil ‘mengambil alih’ Krimea, dimana bahkan NATO pun kelabakan dan tanpa ada keributan baik di PBB maupun dunia internasional.

 

  1. The Next Big Thing: Great Power Competition

Poin selanjutnya yang akan dibahas adalah mengenai perkembangan teknologi yang berpotensi memberikan ancaman dimasa depan dan bagaimana negara lain mengadopsi dan mengadaptasi teknologi tersebut kedalam strategi-nya.Bagi negara-negara besar, memperhitungkan persaingan militer-teknis jangka panjang dengan negara ‘rival’ merupakan salah satu poin penting dalam membangun strategi pertahanannya. Dengan kata lain, mengembangkan sumber-sumber baru keunggulan kompetitif yang akan memungkinkan kekuatan pasukan mereka untuk mempertahakan keseimbangan yang menguntungkan di teater peperangan maupun dalam peperangan strategis merupakan poin penting dalam kompetisi ini. Terlebih dalam lingkungan keamanan yang sangat tidak pasti dan dinamis yang dihadapi dewasa ini.

Sebelumnya kita mempelajari, bahwa di era revolusi industri 4.0 ini sejumlah penemuan dan pengembangan teknologi telah berlangsung dan akan terus berlangsung dengan sangat cepat. Kita juga mempelajari bahwa perkembangan-perkembangan tersebut sangat berpotensi untuk mengubah karakter dari peperangan secara substansial. Sejarah menunjukkan bahwa bagi mereka (militer) yang dapat mengidentifikasi bentuk peperangan baru akan menikmati keuntungan besar dibandingkan ‘rival’-nya. Dengan demikian, ada keuntungan yag sangat besar bagi mereka yang menjadi orang yang pertama, atau salah satu dari yang pertama, yang mampu mengidentifikasi dan mengeksploitasi ‘the next big thing’ or things dalam peperangan. Sebut saja beberapa ‘breakthrough’  yang mengubah jalannya peperangan sepanjang sejarah modern manusia seperti bijih logam (besi, baja, nikel dan seterusnya), bubuk mesiu, minyak dan gas bumi hingga uranium (bahan dasar nuklir). Dan mereka yang berhasil mengidentifikasi dan mengeksploitasi-nya terlebih dahulu mendapatkan posisi yang lebih menguntungkan dibandingkan yang lain. Lalu apakah kira-kira yang berpotensi atau mungkin sudah menjadi ‘the next big thing’ dalam kompetisi kunci dominasi militer negara-negara besar saat ini?. Tanpa meninggalkan pemanfaatan teknologi yang sudah ada, bisa jadi banyak hal. Revolusi Industri Keempat ini menawarkan banyak pilihan penemuan dan inovasi, bahkan bagi indivual atau aktor non negara sekalipun. Namun penulis akan membahas setidak-nya dua hal, yakni 5G dan satelit dan militerisasi ruang angkasa.

Pertama.Ketika hal-nya kita sibuk dengan e-commerce, fintech dan seterusnya, seringkali kita lupa platform utama dimana semua hal tersebut bergatung adalah jaringan internet. Dengan ditemukan dan diaplikasikannya 5G, maka infrastruktur kritis nasional generasi baru akan terbagun dan mereveolusi penggunaan teknologi semakin dalam kedalam kehidupan sehari-hari dan ekonomi masyarakat. Membentuk kendaraan tanpa awak, smart cities dan penggunaan perangkat-perangkat digital skala besar semakin mungkin. Teknologi 5G akan mendukung aplikasi digital generasi baru yang memungkinkan komunikasi tingkat tinggi, dengan kecepatan ultra dan latensi rendah (atau lag). Hal tersebutlah yang akan menjadi bahan bakar bagi smart cities, ekonomi digital dan seterusnya, yang bisa juga berarti adalah pendorong kunci bagi pertumbuhan ekonomi di era 4.0. Dengan demikian, negara superpower yang mendapatkan keuntungan sebagai penggerak pertama dalam menyelesaikan banyak tantangan teknologi, politik dan kebijakan, namun bersamaan dengan itu juga berhasil menerapkan jaringan 5G kemungkinan akan memperoleh keunggulan ekonomi yang signifikan dibandingkan negara lain (Ingat kembali tendensi negara untuk power).

Oleh karena itu pengimplementasian jaringan 5G bisa jadi dipandang sebagai zero-sum game oleh negara-negara besar seperti Amerika dan China (dan Rusia), dibandingkan mutual gain sebagaimana perkembagan teknologi biasanya diasumsikan. dan dari sisi geoekonomi, teknologi ini juga bisa menjadi game-changer yang dapat menggeser perimbangan bagi negara ekonomi pertama dan kedua dunia tersebut. Hal ini kemudian akan berlaku juga terhadap negara-negara lainnya yang dipandang periphery di bidang ini. Oleh karena teknologi 5G ini memiliki potensi sebagai ‘the next laverage tool’ dalam persaingan kekuasaan antara Amerika dan China. Mereka akan berupaya untuk membuat garis pemisah yang keras, apakah anda American/ western 5G-based camp atau China 5G-based camp?. Terutama bagi negara-negara di kawasan Asia Timur, Asia Tenggara dan Asia Selatan (Indo-Pacific?).

Pernyataan tersebut diatas tidaklah berlebihan, oleh karena jika kita lihat dari sisi keamanan, penggunaan teknologi tersebut sangatlah riskan dan berpotensi menjadi ‘proxy’ dalam keamanan nasional maupun internasional. Hal ini salah satunya nampak dalam sikap Amerika Serikat dalam kasus Huawei dan ZTE dimana mereka melarang penggunaan teknologi China tersebut diseluruh lembaga dan kementeriannya. Karena masih ada ketidakpercayaan mendalam antara AS-China dan kekhawatiran bahwa Amerika Serikat akan menjadi sangat rentan terhadap chinese cyberespionage dan bahkan menjadi subjek diskurpsi infrastruktur siber kritis yang bisa melumpuhkan seluruh negeri. Oleh karena, tidak hanya perangkat militer (untuk command, control, CS4IR, deployment dst) yang bergatung terhadap jaringan digital, tetapi juga hampir semua kebutuhan negeri mulai dari pembangkit energi, instruktur ekonomi, pesawat hingga jaringan kereta api dan seterusnya, juga bergatung terhadap jaringan digital.

Dengan demikian, tidaklah juga berlebihan jika dikatakan, bahwa teknologi ini bisa  menjadi salah sat pion dalam permainan geopolitik negara besar – Amerika Serikat vs China. sebut saja, setelah kebijakan AS tersebut, negara-negara Quad lainnya (Jepang, Australia dan India) juga mulai mempertimbangkan untuk pelarangan penggunaan teknologi 5G China. Sementara Eropa masih mencoba mencari jalan tengah dengan berupaya mengurangi kerentanannya dan memperkuat mutual trust dengan perusahaan teknologi China. Sementara negara-negara lainnya yang cenderung ‘swing’  termasuk Indonesia didalamnya, bahkan Korea Selatan yang merupakan aliansi AS, juga akan dituntut untuk menentukann sikap. Karena pada akhirnya, panggung kompetisi 5G ini akan menjadi area perang proxy bagi supremasi teknologi, ekonomi dan pada akhirnya supremasi militer negara adidaya yang negara-negara kecil lainnya harus berupaya secara hati-hati supaya tidak menjadi korban dari pertarungan persaingan tersebut.

Kedua. Diatas Fintech, 5G dan geopolitik, geoekonomi ataupun geostrategi yang muncul karenanya, jika kita pikirkan lebih jauh maka elemen utama atau sumber utama dari peperangan/ persaingan di era 4.0 secara keseluruhan adalah ruang dan objek diatas langit kita – Satelit ruang angkasa. Dan dominasi ruang angkasa sudah sangat dipahami oleh negara-negara besar seperti Amerika Serikat dan Rusia (pioneer) dan program eksplorasi ruang angkasa China yang semakin matang,  bahkan juga India. Amerika Serikat khsusnya sudah mengambil langkah yang lebih jauh dan salah satunya ketika presiden Donald Trump secara resmi menggajukan rencana pembentukan Armada Keenam (Space Force). Dengan demikian membuka kembali secara resmi ambisi Amerika Serikat untuk memiliterisasi ruang angkasa. Sebelumnya, unit untuk urusan cyber dan ruang angkasa ini pada dasarnya sudah ada di bawah US Air Force, namun dipandang masih undevelop sehingga dirasa penting untuk dibuat sebagai unit tersendiri, terlebih dengan kebutuhan yang semakin mendesak. Pada kamis, 9 Agustus 2018 lalu, wakil Presiden AS, Mike Pence, memaparkan rencana pembentukan Space Force yang merupakan “an elite group of war fighters speacializing in the domain of space”(the Guardian. 2018). Kebijakan tersebut berangkat dari kekhawatiran akan ancaman ruang angkasa dari musuh-musuh Amerika, terutama Rusia dan China, yang mampu mengembangkan senjata untuk menyumbat, membutakan atau bahkan merusak dan menghacurkan satelit-satelit yang sangat krusial bagi sistem komunikasi. Dan dampak daru kerusakan tersebut sudah berulangkali dielaborasikan dalam tulisan ini, terutama di era 4.0. Oleh karenanya, Amerika berambisi, tidak hanya sekedar ‘American presence in Space”, tetapi juga “American dominance in Space”. Sekali lagi, jargon Trump dengan “Make America Great Again” bukanlah pepesan kosong dan kita harus bersiap untuk berhadapan dan mungkin ‘membayar’ hal tersebut.

Namun lebih dari itu, penulis ingin mengajak kita untuk mundur selangkah lagi kebelakang. Ada hal yang juga seringkali tidak kita sadari ketika ‘menonton’ persaingan negara-negara adidaya tersebut. Apalagi di dunia yang semakin kompleks dan kabur sehingga kita dan banyak pejabat ahli dan negarawan kita kesulitan untuk melihat dimana awal dan ujung dari benang yang sudah sangat-sangat kusut ini. Penulis meyakini, disamping semua hal yang sudah familiar dan trend saat ini, ada faktor yang paling  tua dan paling mentah dalam setiap aksi dan interaksi suatu negara, atau manusia. The oldest and rawest factor, yakni akses terhadap sumber daya- dalam konteksi ini, sumber daya alami dan mineral. Dalam konteks sumber daya material misalnya, sejarah menunjukkan bahwa minyak dan gas bumi bisa menjadi pemicu perang, demikian pun emas, bijih besi, uranium/ nuklir, bahkan rempah-rempah.

Jika kita kembali melihat ambisi dan potensi ruang kompetisi dominasi negara besar dimasa depan, atau setidaknya 20-30 tahun kedepan, maka sumber daya mineral apa yang menjadi ‘backbone’ atau tulang punggung untuk mewujudkann ambisi tersebut. Menciptakan satelit, pesawat ruang angkasa dan berbagai perangkat lainnya? Hal tersebut juga mensugestikan bahwa bisa jadi ada juga kompetisi dalam akses terhadap sumber daya tersebut, Bellirium adalah salah satunya. Penulis tidak mensugestikan bahwa Indonesia harus bisa mengejar ketertinggalan tersebut. Melainkan ada setidaknya satu poin lain yang perlu kita perhatikan, dimana mungkin juga tidak banyak orang sadari, ada satu ruang lain yang bisa menjadikan kita bulan-bulanan dan arena kompetisi dan ekspoitasi negara besar. Apakaj kita sudah mengenali tanah, air, udara dan ruang diatasnya kita sendiri?. Hal ini kembali menjadi pertanyaan. Tidak hanya sumber daya mineral, intensi atau tujuannya bisa juga adalah posisi geografis dan/ atau ruang pengaruh (sphere of influence). Jika kita perhatikan peta dunia seperti dibawah ini, misalnya, maka nampak jelas dimana posisi Indonesia -yang juga merupakan dua pertiga dari Asia Tenggara- ini di dalam politik dunia dan persaingan kekuasaan negara-negara besar di Indo-Pasifik.

Dan negara-negara besar, seperti disebutkan sebelumnya, mempunyai perangkat (capability/ national power) yang banyak untuk melancarkan kepentingannya dan dengan memanfaatkan atau mengeksploitasi kelemahan atau kerentanan kita (Ancaman = ICCV). Bisa itu kerentanan kita dalam hal geografi; kapasitas indusutri, sains dan ICT;  kesiapan  militer; demografi dan masyarakat kita sendiri (populasi yang pada dan timpang rentan gesekan sosial); karakter nasional atau moral nasional kita diperlemah dan dipecah belah, misalnya- Media Sosial bisa menjadi media proxy; kualitas diplomasi  hingga fragmentasi dalam sistem pemerintahan dan politik. Semuanya bisa dieksploitasi negara lain untuk mencapai kepentinggnya dan mengaburkan pandangan kita (negara) dari hal yang seharusnya dilakukan dan mampu lindungi. Dan jika kita perhatikan kembali peta diatas, maka kita juga dapat melihat bahwa wilayah laut yang mendominasi di Indo-Pasifik ini.

  1. Simpulan dan Masukan

“War is Ever Changing”.  Dunia kini menghadapi perang yang berbeda. Peperangan yang berbeda. Resiko yang kita hadapi juga berbeda dann semakin terkoneksi (connected risk) sehingga resiko atau potensii ancaman pun kita temui semakin hybrid antara resiko/ ancaman militer, terror, krominal, irrelegular dan proxy. Kita juga hidup di era dimana teknologi juga semakin terkoneksi tinggi, inovasi tinggi, seperti Drones, power unit, advanced materials, 5G, biometrics dan HPE (Human Perfomances Enhancement) dan banyak lainnya. Sehingga domain perang pun kini semakin kabur dan tekoneksi antara domain siber, darat, laut, udara dan ruang angkasa, dan dampaknya pun akan semakin luas kedalam berbagai sendi kehidupan masyarakat manusia dengan semakin saling terkoneksinya tersebut. Dengan demikian pembahasan ini tidak bisa semata difokuskan kedalam satu topik mengenai transformasi militer 4.0 semata. Melainkan perlu adanya kembali pembicaraan atau rembukan nasional di berbagai bidang mulai dari ketahanan nasional, kebijakan luar negeri, dan keamanan nasional. Jika halnya kita ‘break down’ lagi pembahasan ini, maka sebetulnya ada banyak sekali hal yang bisa dilakukan oleh masing-masing lembaga dalam berbagai bidang/ lini kehidupan masyarakat.

Tanpa melupakan hal-hal yang bersifat prinsipal untuk dilindugi seperti dipaparkan dalam tulisan ini. Berikut adalah beberapa masukan yang dapat dilakukan yang juga terangkum dalam pemaparan Raplh Theille di CSIS Indonesia bulan lalu, yakni:

  1. memperlakukan cyberspace sebagai domain operasional untuk mengorgansir, melatih dan mempersenjatai dengan tujuan untuk mengambil manfaat sebesar-besarnya dari potensi ruang siber.
  2. meluncurkan konsep operasional baru untuk melindungi jaringan dan sistem kita sendiri dan untuk melibatkannya bersamaan dengan kapabilitas operasional lainnya.
  3. Membangun partner dengan lembaga atau departemen pemerintah lainnya dan dengan sektor swasta untuk memungkinkan terciptakan strategi cybersecurity whole-of-government, yang terintegrasi secara interaktif dengan baik.
  4. Membangun hubungan yang kuat/ robust dengan aliansi atau partner internasional lainnya untuk memperkuat keamanan siber kolektif.
  5. Memanfaatkan semaksimal mungkin kapabilitas yang ada dengan performa siber yang tinggi dan inovasi tekonologi tinggi.
  6. Berinvestasi dalam inovasi untuk terus berjalan menjawab tantangan. Dan jika halnya kita masih menjadi ‘konsumen’, maka jadilah konsumen yang baik dan  cerdas ketika membeli.

Untuk Angkatan  Laut Indonesia, khususnya, dapat dilakukan beberapa hal, yakni: Mengembangkanpolicy guidance; Rangkul efek siber sebagai komponen intgeral dari kekuatan Angkatan Laut; Fokus dalam membangkitkan interoperable naval forces untuk menjamin all-domain access; Mengitegrasikan kapabilitas siber AL kedalam a joint and whole-of-government approach, dan juga dengan sektor privat dan sekutu atau sejenisnya; Fokus pada fleksibilitas level taktis; Menjamin kemampuan untuk beroperasi dari lingkungan ruang siber yang bertubrukan; Perkut ketahanan TNI AL, karena ‘resilience is a necessary foundation for offense’; Menjamin pengalaman dan kesiapan dari kekuatan siber untuk memasukkan leadership; Datang/ maju dengan kebutuhan/ persyaratan yang jelas; Menjamin tempo dan agilitas dalam perencanaan, budgeting dan proses akuisisi; Mempersiapkan diri untuk perkembangan teknologi yang semakin cepat dan masif.

 

REFERENSI

Buku:

Morgenthau, Hans J. 1948. “Politics Among Nations: The Struggle for Power and Peace”.

MacGregor Knox, Williamsom Murray. 2001. “The Dynamics of Military Revolution, 1300-2050”.

Website:

Durkin, Erin. 2018. “Mike Pence Announced on Thrusday a New Military Brancj Decicated to Fighting Wars in Space – but What is Space Force?”.  The Guardian. Diakses dari: <https://www.theguardian.com/us-news/2018/aug/10/space-force-everything-you-need-to-know>

Gloud, Joe & Aaron Mehta. 2018. “Nuclear Weapons Budget Gets Boost in US Spending Bill”. Diakses dari: https://www.defensenews.com/congress/2018/09/11/nuclear-weapons-budget-gets-boost-in-us-spending-bill/>

US CBO. 2017. “Approaches for Managing the Cost of US Nuclear Forces 2017 to 1946”. Diakses dari: https://www.cbo.gov/system/files?file=115th-congress-2017-2018/reports/53211-nuclearforces.pdf

US Department of Defense. 2018. “Fiscal Year 2019 Defense Budget”. Diakses dari: <https://comptroller.defense.gov/Portals/45/Documents/defbudget/fy2019/FY2019_Budget_Request_Overview_Book.pdf>

Tham, Jasen. 2018. “Why 5G Is the Next Front of US-China Competition”. The Diplomat. Diakses dari: https://thediplomat.com/2018/12/why-5g-is-the-next-front-of-us-china-competition/

 

Video:

The 2nd KAS-CSIS: Germany- Indonesia Strategic Dialogue. CSIS Indonesia. Diakses dari :<https://www.youtube.com/watch?v=2OhIYBbTpIU>