INDIA “THE  REAL  ACTOR”  DALAM  IORA

Oleh : Willy F. Sumakul.

 

IORA ( Indian Ocean Rim Association) adalah organisasi kerjasama regional bagi negara-negara di kawasan tepi Samudera India, yang sampai saat ini beranggotakan sebanyak 21 negara ditambah 6 negara besar sebagai mitra dialog. Prinsip keanggotaan  dalam IORA adalah terbuka yang berusaha merangkul seluruh negara ditepian samudera Hindia yang mencakup tiga benua yaitu Afrika, Asia dan Australia. Asosiasi ini didirikan  pada tanggal 7 Maret tahun 1997 di Mauritius dan  pada  bulan Maret yang lalu merayakan ulang tahunnya yang ke dua puluh, ditandai dengan pertemuan antar kepala negara dan kepala pemerintahan (tidak semua hadir) di  Jakarta. Sekalipun sudah berusia cukup panjang, banyak pengamat politik menilai bahwa IORA belum memberikan  manfaat yang berarti bagi para anggotanya. Bahkan dibandingkan dengan  kerjasama regional dibagian  dunia yang lain, IORA boleh dikatakan mengalami stagnasi, belum moved on. Pertemuan-pertemuan  yang dilakukan hanya sebatas formalitas, membahas kerja  sama tanpa implementasi yang berarti. Komitmen awal pada pembentukannya adalah  kerjasama ekonomi dengan mendorong diwujudkannya liberalisasi perdagangan iini yang dapat dikatakan seluruhnya adalah negara bekas jajahan (koloni) utamanya jajahan  Inggris diharapkan menjadi unsur pemersatu dan  pembentuk identitas karena senasib sebagai orang terjajah.

Selain dari itu Samudera India sejak dahulu kala telah menjadi sarana perhubungan  dan transportasi antar  negara dimana para pelaut, pelancong dan  saudagar telah  singgah dipelabuhan-pelabuhan ditepian Hindia. Sebagai contoh, pelau-pelaut  dari Indonesia/ Makasar pada abad  ke 19telah  berlayar sampai ke pulau Madagaskar dan menyinggahi beberapa pelabuhan di pantai Timur  benua Afrika. Kegiatan perekonomian inilah yang juga kemudian menumbuhkan kedekatan sosial dan budaya yang ikut menginspirasi para pemimpin negara-negara dikawasan ini untuk membentuk satu asosiasi kerja sama yang  saling menguntungkan. Namun seiring dengan perjalanan waktu hingga saat ini  manfaat asosiasi ini bagi negara-negara anggotanya belum dirasakan. Menurut para  pengamat, masih banyak  kelemahan dalam IORA  yang perlu  dibenahi, disepakati dan  disempurnakan. Salah satunya adalah ketiadaan kepemimpinan. “ Untuk menggerakkan suatu kerjasama perlu suatu kepemimpinan yang kuat dari salah satu  negara anggota. Harus  ada negara yang berani investasi konkrit diluar kegiatan business as usual seperti workshop atau seminar.[1][i]

Satu hal yang perlu dicatat yaitu saat diadakan pertemuan di Jakarta pada bulan  Maret yang lalu karena Indonesia sebagai tuan rumah sekaligus sebagai ketua (akan berakhir bulan Oktober 2017 yad) dimana telah menelorkan suatu kesepakatan yang disebut sebagai Jakarta Concord. Salah satu point yang sangat penting didalam kesepakatan tersebut adalah komitmen untuk mewujudkan terciptanya kawasan Samudera India yang aman, damai dan stabil ditengah-tengah persaingan yang sangat tajam antara negara-negara maritim besar di kawasan tersebut.  Disamping itu ingin memajukan kerjasama dibidang keamanan dan keselamatan jalur perhubungan laut utamanya untuk perdagangan antar Negara-negara Rim Indian Ocean. Dikaitkan  visi Maritim Indonesia untuk menciptakan Poros Maritim dunia, agaknya dalam forum ini Indonesia ingin memanfaatkan atau ingin menarik keuntunngan dari banyaknya lalu lintas kapal yang melewati kawasan tersebut.

Fakta menunjukkan bahwa India adalah Negara terbesar di IOR sehingga tidak dapat diabaikan potensinya begitu saja. Oleh karena itu sangat menarik untuk dibahas tentang bagaimana sikap India memandang kedudukannya terhadap Negara-negara lain disekitarnya .

 

Pengaruh Negara-Negara Maritim Besar.

 

Samudera  India adalah samudera yang terbesar ketiga  didunia yang memiliki kedudukan strategis dipandang dari letak geografis serta potensi yang dimilikinya. Paling tidak terdapat 9 ( Sembilan ) alur pelayaran (access) yang banyak digunakan menghubungkan berbagai Negara pantai dikawasan ini untuk kebutuhan perdagangan, dan terdapat 5 (lima) buah SLOC (Sea Lanes Of Communication) yang digunakan untuk angkutan energy serta komoditi strategis keberbagai belahan dunia. Karena itu banyak Negara maritim dunia mempunyai kepentingan yang sama dikawasan ini yaitu kebebasan, keamanan dan keselamatan pelayaran bagi kapal-kapalnya yang lewat disitu. Bahkan dalam perkembangan selanjutnya, beberapa Negara maririm besar dunia kelihatannya ingin mendominasi dan menencapkan pengaruhnya di samudera Hindia dengan menghadirkan kekuatan Militer (baca Angkatan Laut) diwilayah tersebut. Beberapa Negara besar tersebut antara lain yang paling menonjol adalah: Amerika Serikat (AS), Inggris, India, China dan Rusia. Fakta menunjukkan bahwa kecuali India, maka keempat Negara besar tersebut tidak mempunyai akses ke Samudera Hindia dalam arti tidak berhubungan langsung , namun mengklaim punya kepentingan besar disana.

INGGRIS,  adalah yang mula-mula menancapkan kaki di Samudera India, yang dimulai sejak awal abad ke 17. Hal ini sejalan dengan penaklukan Inggris sampai ke timur jauh, (kejayaan Pax Britanica)  dimana Samudera India telah menjadi lalu lintas perdagangan kapal-kapal niaga dan kapal perang pergi dan pulang dari Negara-negara jajahannya. Inggris membentuk BIOT (British Indian Ocean Territory) pada tahun 1810 an mencakup beberapa Negara kepulauan kecil yaitu, Diego Garcia, Mauritius dan Chagas Archilelago. Namun yang perlu dicatat, pelaut Portugis Vasco Da Gama pernah sampai ke kepulauan Chagas tetapi hanya mampir saja dan tidak menetap. Demikian juga Perancis pada awal tahun 1800 pernah menduduki kepulauan Mauritius , namun kemudian diambil alih oleh Inggris lewat perjanjian Paris. Dengan kekuatan Angkatan Laut yang besar dan disegani pada masa itu, Inggris berhasil melakukan pengendalian laut disepanjang SLOC yang ditopang oleh pangkalan-pangkalan mulai dari Gibraltar, Malta, Suez, Aden, Colombo, Malaka, Singapura terus ke Hongkong. Keadaan ini dapat kita sebut “Jalur Sutera Inggris” yang membentang dari Eropah melewati Samudera India terus sampai Timur jauh. Ketika Negara-negara tepi Samudera Hindia memperoleh kemerdekaan menjelang abad ke 20, baik yang di Asia selatan maupun yang terletak di benua Afrika Timur, maka Pax Britanica ikut melemah dan pengaruh Inggris juga perlahan-lahan menyurut. Satu-satunya factor yang menjadi perekat dengan Inggris adalah beberapa Negara sekawasan menjadi anggota Commonwealth. Pada tahun 1971 Inggris menyewakan kepulauan Diego Garcia kepada AS lewat suatu perjanjian, dimana penduduk pulau tersebut kemudian dipindahkan ( secara  paksa) ke kepulauan Mauritius. AS kemudian membangun  pangkalan Angkatan Laut dan pangkalan Udara di pulau tersebut yang tujuannya tidak lain  adalah untuk pertahanan dan keamanan.

RUSSIA, kekuatan maritime besar didunia yang merasa punya kepentingan di Samudera India adalah Russia. Dalam dua dekade terakhir ekonomi Russia mengalami peningkatan pertumbuhan, terutama kekuatan sumber daya energinya yang semakin menguat. Karena energy merupakan salah satu kunci utama penggerak seluruh kekuatan untuk dapat memperluas pengaruhnya didunia, termasuk di Samudera Hindia. Russia semakin meningkatkan aktifitasnya dan yang paling menonjol adalah hubungan kedekatannya dengan India. Pada tahun 2003 kedua Negara menyepakati untuk melakukan latihan militer bersama yang terdiri dari 5 (lima) rangkaian latihan berlanjut, yang kemudian disebut Indra Project. [2] Pada tahun 2012 juga kedua Negara menyepakati memproduksi Brahmas Cruise Missile (peluru kendali supersonic) dibangun di India dengan Russia sebagai supplier, dan memang sejak lama Russia adalah pemasok senjata utama bagi India. Tiga Negara yaitu India, Russia dan China telah membentuk organisasi kerjasama bernama Syanghai Cooperation Organization yang bertujuan antara lain untuk meniadakan potensi konflik yang mungkin terjadi di kawasan Samudera India, mendorong integrasi ekonomi ketiga Negara untuk keuntungan bersama. Pada bulan Juli tahun 2012, pemerintah Russia dan pemerintah kepulauan Seychelles menandatangani persetujuan dimana Russia akan membangun pangkalan Angkatan Laut di Negara kepulauan tersebut. Langkah-langkah kebijakan politik dan pertahanan Russia, mengindikasikan bahwa Russia ingin membangun pengaruh di kawasan Samudera Hindia .

CHINA, Negara besar lain yang akhir-akhir ini sangat agresif ingin menanamkan pengaruhnya di Samudera India adalah China. Dengan mengandalkan kekuatan ekonominya (uang), dengan cadangan devisa sebesar 3 trillyun dollar AS yang diperkirakan lebih dari seperempat total cadangan devisa global melampaui kemampuan Negara adi daya yang lain. Dengan kekuatan financial sebesar itu, maka China mempromosikan pembangunan ekonomi lewat pemberian bantuan bagi Negara-negara yang sangat membutuhkan. Pada tahun 2013 Presiden China Xi Jinping dalam kunjungannya ke Kazakhstan  untuk pertama kali melontarkan gagasan One Belt One Road (OBOR), yaitu bantuan pembangunan ekonomi perdagangan Negara-negara Asia dan Eropah yang mengadaptasi Jalur Sutera yaitu jalur perdagangan lewat darat dari China sampai ke Eropah pada jaman dahulu. Fokus pembangunan ini adalah pembangunan infra struktur meliputi jalan darat, jalur kereta api, pembangkit listrik dan sebagainya. Tujuan pemberian bantuan ini adalah untuk mempererat hubungan China dengan Negara-negara yang terkena proyek OBOR di Asia dan Eropah. Pada awal tahun ini telah dibuka jalur kereta api untuk angkutan barang dari propinsi Zhejiang China ke London Inggris melewati beberapa Negara di Asia Tengah dan Eropah.  Sebagai sarana pendanaannya, dibentuk New Development Bank dan institusi multilateral Asian Infrasructure Investment Bank (AIIB) dengan modal 240 miliar dollar AS. [3]  Strategi ekonomi OBOR China ini mendapat sambutan hangat dari banyak Negara ( 62 negara), karena dianggap sangat penting, sebagai jalan terobosan mengantisipasi kebijakan proteksionis dan anti globalisasi dari Amerika Serikat dan beberapa Negara Eropah saat ini seperti Uni Eropah, Brexit dan America First di AS.  Negara-negara dijalur Sutera baru ini menyumbang sepertiga pada output ekonomi global, 40 persen pada perdagangan global dan dihuni 60 persen penduduk dunia. [4]

Pada tanggal 14 Mei 2017 diadakan konperensi tingkat tinggi di Beijing yang dihadiri oleh 29 pemimpin dunia, termasuk presiden Joko Widodo dari Indonesia, bertujuan untuk menegaskan dan meyakinkan kembali Negara-negara akan rencana / komitmen China lewat misi OBOR tersebut. Misi OBOR kemudian berganti nama menjadi Belt and Road Initiative (BRI), yang juga dianggap sebagai “New Silk Road” dan dalam perobahan ini terdapat tambahan pembangunan infrastruktur yaitu pelabuhan-pelebuhan laut untuk kepentingan kapal-kapal dagang yang menyinggahi Negara-negara seputar tepi Samudera India. Jelas terlihat bahwa China sangat berkepentingan akan jalur perhubungan laut di Samudera India untuk mewujudkan ambisi BRInya. Komitmen terakhir ini menyebutkan China menyediakan dana sebesar 124 miliar dollar Amerika. Bahkan sebelum adanya BRI, China telah menawarkan pembangunan infrasruktur berupa pembangunan pelabuhan laut kebeberapa Negara di Afrika Timur seperti Mozambique, Ethiopia, dan Sudan yang memiliki pantai di laut Merah.

Sedangkan di Djibouti yang juga terletak di pesisir laut Merah, China berhasil memperoleh akses dari NATO dan AS sehingga memungkinkan suatu saat kapal-kapal perangnya dapat berlabuh dan mengisi bahan bakar dipelabuhan tersebut. Salah satu keberhasilan China yang dianggap paling berharga  di kawasan ini adalah persetujuan dengan Pakistan untuk membangun pangkalan Angkatan Laut di Gwadar di Pakistan (biasa disebut Gwadar Project) sekaligus juga sebagai pelabuhan komersial  bagi kapal-kapal dagangnya. Direncanakan akan dibangun suatu jalan darat dari Gwadar menuju ke kota-kota di China dan proyek ini dianggap sebagai satu awal perkembangan baru mengenai situasi  di pesisir samudera Hindia.  Betapa tidak karena kedudukan Gwadar yang sangat strategis memungkinkan suatu waktu China dapat melakukan pengawasan (sea Control) terhadap rute-rute perdagangan di Samudera India dari Asia Pasifik ke Timur Tengah dan Eropah dan sebaliknya, suatu hal yang juga sangat diimpikan oleh India. Dapat dimengerti keadaan ini akan menjadi tantangan tersendiri bagi India. Sejauh ini India adalah satu-satunya Negara dikawasan ini yang sangat skeptik bahkan curiga akan rencana besar pembangunan BRI, sehingga masih menahan diri untuk menyambut tawaran China tersebut.

 

AMERIKA SERIKAT, (AS) Dapat dikatakan sejak tahun 1960 AS telah menjadi satu-satunya kekuatan de facto yang dianggap sebagai penjamin keamanan dikawasan Samudera India sekalipun AS tidak memiliki akses langsung. Kehadiran AS di Samudera India, tidak terlepas dari keterlibatan AS langsung di Timur Tengah karena kawasan ini telah menjadi SLOC utama bagi lalu lintas kapal-kapal perang AS dari dan ke Timur Tengah. Sampai saat ini Samudera India telah menjadi wahana bagi AS untuk memproyeksikan kekuatan Angkatan perangnya kekawasan perang di Afganistan, Irak, Suriah dan wilayah lain di Timur Tengah. Dibidang ekonomi perdagangan, kepentingan AS dengan jelas dapat dibaca sebagai berikut :

 The United States has a definite strategic approach to the Indian Ocean Region.

  • Washington seeks to ensure the free passage of raw materials and manufactured goods, keep watch over the choke points that provide access to the ocean and ensure that its objectives in the region are not impeded.
  • These objectives drive its Indian Ocean policy and its relationships with several key actors to a large degree.[5]

Sejak tahun 1976 Departemen Pertahanan AS membagi tugas dan wewenang serta tanggung jawabnya untuk pengawasan kawasan Samudera India antara Komando Atlantik dan Komando Pasifik.  Sejak itu pengawasan  diserahkan ke Komando Pasifik , Komando Tengah (Central) dan Komando Afrika, masing-masing sepertiga bagian sedangkan sisanya diserahkan pada Komando Eropah mencakup sampai teluk Aqaba.

Dari segi keamanan, terdapat dua perhatian utama AS di Samudera India, tanpa meniadakan kepentingan-kepentingan yang lain yang lebih kecil. Pertama, adalah konflik dan ketegangan yang berkepanjangan dikawasan Timur Tengah, dan kedua, peningkatan kehadiran China di samudera tersebut. Pengalaman sejarah dalam hubungan AS dengan Negara-negara di Timur Tengah , membuat AS merasa ikut bertanggung jawab menjamin keamanan negara-negara sekutunya disana, serta memastikan bahwa mereka tidak akan banyak terpengaruh dengan konflik/perang yang berlangsung diwilayah tersebut. Washington sangat menaruh perhatian terhadap keamanan sekutu tradisionalnya yaitu Saudi Arabia dan Israel terhadap program peluru kendali nuklir Iran, sehingga setiap saat AS membutuhkan jaminan dari Iran bahwa percobaan senjata nuklirnya semata-mata hanya ditujukan untuk membela diri dan tidak diuntuk menyerang negara-negara sekutu AS dan negara lainnya di Timur Tengah. Dilain pihak, China semakin meningkatkan kehadirannya di Samudera India yang katanya dalam upaya mengamankan jalur perhubungan lautnya (SLOC). Keadaan ini .membuat AS semakin waspada dengan cara mengikuti terus perkembangan situasi utamanya terhadap semakin intensnya persaingan anatara India dengan China memperebutkan dominasi di Samudera India. Jadi secara singkat dapat dikatakan bahwa tujuan keamanan (security goals) AS di Samudera India adalah sebagai berikut:

The principal US security goals in the Indian Ocean Region are the safekeeping of its trade and energy SLOCs, maintaining a force sufficiently strong to balance or counter most events in the Middle East and elsewhere along the ocean’s littoral, and ensuring the naval primacy it has retained in the ocean since the Second World War. It is to meet these objectives that Washington has established military bases at Diego Garcia in the British Indian Ocean Territory and in the Persian Gulf. Other major bases are located at Djibouti, in the Horn of Africa, and in Ethiopia. Each of these bases can cater to between five hundred and five thousand personnel. Strategically placed, they could host rapid reaction forces that could cater to virtually any circumstance quickly. The locations of these bases frees the US from the necessity to pursue more ambitious goals in the region as the potential power inherent in them is sufficient to stabilise it.[6]

 

The US has been forced by economic circumstances to divest itself of many of the security responsibilities it carried since the end of the Second World War. That notwithstanding, it remains the most powerful economy in the world and, arguably, still possesses the strongest military. It has adapted to its changed circumstances by creating partnerships of varying degrees with regional stakeholders to ensure that its interests in the Indian Ocean, in this case, are not negatively affected. It is probable that its primacy in the Indian Ocean will continue for many years to come.[7]

India (The Real Actor).

Selain China, tidak dapat disangkal bahwa India telah muncul menjadi satu negara yang sangat menonjol dan berpengaruh dalam masalah-masalah dunia baik ekonomi, politik dan pertahanan. Karena itu penulis akan membahas lebih mendalam tentang India dalam tulisan ini. Kenyataan dunia dewasa ini sangat cocok dengan apa yang sedang berkembang di Cina dan India, karena sangat kuat indikasi bahwa kedua negara  akan memainkan peranan yang amat menentukan didunia dalam beberapa tahun mendatang. Kemunculan kedua negara sebagai “ the new global power” dapat disamakan dengan keadaan Jerman pada abad ke 19, dan dengan  Amerika  Serikat  pada abad ke 20, yang diramalkan  secara potensial akan merobah tatanan Geopolitik dunia sebagaimana yang terjadi pada dua abad sebelumnya.

Khususnya mengenai kebangkitan India, bukannya belum diketahui, namun menarik untuk disimak beberapa hal fundamental yang menjadi faktor utamanya : Pertama, adanya perobahan dalam cara berpikir Pemerintah dan rakyatnya untuk menyusun  kebijakan dibidang ekonomi dan politik Nasional yang lebih menekankan pada paham realisme. Agaknya kebangkitan ekonomi India banyak mengambil keuntungan dari intensitas globalisasi ekonomi yang berkembang dewasa ini. Sukses dibidang ekonomi ini ditopang oleh sektor industri yang berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi tinggi. Kedua, India secara geopolitik tidak lagi terbendung/terkurung (contained) dikawasan Asia Selatan seperti halnya pada masa perang dingin, tatkala India menjalin sekutu dengan Uni Soviet, yang menyebabkan Amerika Serikat dan Cina dibantu oleh Pakistan membendung India di kontinentnya. Ketiga, perobahan dalam hubungan India dan Amerika Serikat yang memasuki babak baru menuju pada hubungan yang lebih erat dibidang politik, yang berlanjut pada  kerjasama bidang keamanan termasuk dengan negara-negara sekutu Amerika Serikat di Asia Pasifik. Keempat, yang justru paling penting adalah menyadari kebangkitan pengaruhnya, akan menimbulkan konsekwensi luas pada negara-negara pantai sekeliling Samudera India mulai dari Afrika Selatan sampai ke Australia. Pandangan ke selatan (“Southward  looking”) kedunia maritim semakin meningkat  karena kebijakan New Delhi yang merangkul ekonomi dan pasar global, mendorong diterbitkannya suatu Doktrin Maritim baru yang menempatkan Samudera India menjadi pusat pemikiran dalam kebijakan  strategik India saat ini.

 

Samudera  India bagi India.

 

Mengapa India sangat peduli dengan Samudera India? Secara realita India adalah suatu negara besar , dapat dikatakan subcontinent di benua Asia karenanya merupakan kekuatan “continental” , namun yang posisi geografisnya terletak ditengah Samudera  India suatu fakta  tak terhindarkan yang akan memberikan pengaruh  sangat besar, kalau tidak dikatakan sangat menentukan  dalam  lingkungan keamanan negara India sendiri. Orang India berpendapat bahwa “bila bagi negara lain Samudera India hanyalah merupakan salah satu bagian lautan yang penting didunia, maka bagi India, merupakan wilayah lautan yang sangat vital bagi eksistensi negaranya , karena jalur transportasi penting ( lifeline) berada di kawasan lautan  tersebut. Bahkan kemerdekaan India  dalam arti luas tergantung pada kebebasan memiliki akses ke wilayah lautan tersebut, juga berarti; tidak ada pembangunan industri, tidak ada pertumbuhan perdagangan, tidak ada stabilitas politik bagi India kecuali kalau dapat mengamankan pantai-pantainya dengan baik. Beberapa faktor kunci dalam pertimbangan keamanan India dapat dilihat sebagai berikut:

  1. Kedudukan dan lingkungan India kadang-kadang dibandingkan dengan kedudukan Italia di lautan Mediterania. Armada kapal-kapal perang dari negara-negara maritim besar memiliki akses yang luas dikawasan ini, proliferasi senjata-senjata konvensional dan senjata nuklir diantara negara kawasan, masalah dalam negeri sendiri menyangkut konflik antar golongan agama yang melibatkan negara tetangga, masalah perbatasan maritim yang belum terselesaikan, serta kekuatiran terhadap ambisi negara maritim besar untuk menancapkan hegemoninya di Samudera India. Dihadapkan pada lingkungan seperti ini, maka India percaya bahwa keamanannya hanya dapat terjamin apabila mereka memperluas perimeter keamanannya terutama meraih posisi yang berpengaruh kuat mencakup seluruh kawasan Samudera India, dari selat Hormuz sampai ke selat Malaka, dan dari pantai timur Afrika sampai ke pantai barat Australia. Tidak heran bila India memandang Samudera India sebagai halaman belakang negara India. Pemberian namanya pun mengikuti nama negaranya “ India”.
  2. Faktor kedua yang dapat dikemukakan adalah kekuatiran terhadap peranan dan potensi negara maritim kuat yang mencoba mendominasi Samudera India, seperti yang pernah diungkapkan oleh almarhum PM Jawaharlal Nehru : “ History has shown that what ever power controls the Indian Ocean has, in the first instance, India’s seaborne trade at her mercy and, in the second, India’s very independence itself”. Pandangan ini tetap mewarnai doktrin maritim India sampai saat ini. Secara spesifik India menaruh perhatian khusus pada kekuatan luar yang besar yaitu Cina dan Amerika Serikat. Sekalipun hubungan dengan Cina dewasa ini semakin membaik, namun faktor-faktor pemicu konflik belum sepenuhnya hilang dari kedua negara, misalnya Cina belum menghapus strategi “contain India“ yang wujud nyatanya berupa: sengketa territorial yang belum terselesaikan, penjualan senjata dan pembentukan aliansi militer dengan negara-negara yang notabene tidak bersahabat dengan India (Pakistan, Bangladesh, Myanmar dan Nepal), serta oposisi Cina terhadap India di forum-forum Internasional maupun regional. Disamudera India, India merasa tidak nyaman dengan semakin meningkatnya kemampuan Angkatan Laut Cina yang secara intens menghadirkan kapal-kapal perangnya di teluk Benggala dan laut Arab sebagai bagian dari strategi “ String of Pearls “dan “ Preparation of the Battle Field”. Ada dugaan Cina akan membangun pelabuhan laut, landasan udara, jalan raya, pipa minyak di Myanmar guna mendukung kapal-kapal perangnya yang beroperasi diSamudera India.
  3. Faktor ketiga yang sebelumnya tidak terlalu diperhitungkan adalah kegiatan fundamentalist Islam yang berbasis di Pakistan yang seringkali berbenturan dengan peradaban barat dan Hindu, dimana kegiatan mereka banyak kali dilakukan diSamudera India . Didalam doktrin Maritim India disebutkan  bahwa  gencarnya kegiatan para fundamentalis yang militant berpengaruh besar dalam jangka panjang pada keseluruhan lingkungan keamanan diSamudera India.
  4. Faktor keempat adalah Energi( minyak dan gas). Sekitar 70% kebutuhan minyak dalam negeri diimport dari luar, diperkirakan akan meningkat menjadi 85% pada tahun 2020. Karena itu taruhan energi minyak India dilautan Hindia sangat besar, sehingga diperlukan pengamanan SLOC dan ladang-ladang minyak dan gas lepas pantai, serta perlindungan terhadap instalasi pengeboran di ZEE dan laut dalam.

 

Hubungan dengan Amerika Serikat.

 

Barangkali benar apa yang dikatakan oleh para ahli politik, apabila kita tidak mampu mengalahkan saingan kita, lebih baik kita berkawan dengan dia (bandwagoning?).  Itu kira-kira yang dilakukan India terhadap AS, dengan tujuan akan mengambil keuntungan sebesar-besarnya dari hubungan kedua negara. Dari hubungan dengan AS  ini diharapkan akan meningkatkan dan memperbesar kekuatan India sendiri, termasuk didalamnya yang sangat penting adalah mempromosikan kepentingan India di Samudera India . AS dipandang sebagai aktor kunci external, yang sudah sejak lama menempatkan kekuatan militernya yang cukup besar di teluk Persia, laut Arab, Pakistan, pantai timur dan timur laut Afrika, Singapura dan Diego Garcia. Kekuatan Amerika yang sangat menentukan dikawasan ini tentu saja sangat berpengaruh pada upaya India untuk mencapai tujuan politik dan strateginya di Samudra India. Hubungan baik kedua negara dewasa ini dilandasi oleh kesamaan persepsi tentang terorisme internasional, ekstrimis keagamaan dan kebangkitan Cina. Kedua negara telah sepakat  untuk bekerjasama dalam berbagai program termasuk bidang keamanan. Dalam bidang keamanan misalnya, kapal-kapal perang  Angkatan Laut  India memberikan perlindungan terhadap lalulintas kapal niaga AS yang melintas di selat Malaka. Bentuk kerjasama yang lain adalah penanggulangan bencana tsunami tahun 2004, latihan militer gabungan, kunjungan kapal perang, dialog masalah pertahanan rudal, persetujuan Amerika untuk India membeli pesawat airborne warning and control system dari Israel dan tawaran kepada India untuk membeli berbagai jenis perlengkapan militer termasuk pesawat tempur dan pesawat intai maritim P3 orion dari Amerika. Suatu deklarasi bilateral terbaru yang dibuat pada bulan Juni 2005 disebut  “New Framework for the US- India Defense Relationship” yang berisi peningkatan kerjasama perdagangan pertahanan seperti produksi bersama peralatan militer, kerjasama pertahanan rudal, menghapus kontrol terhadap export teknologi AS yang sensitive serta perlindungan bersama  jalur-jalur perhubungan laut yang rawan.

 

India dan negara-negara littoral Samudera India.

 

Dalam upaya menggapai  pengaruh yang lebih besar diseluruh kawasan Samudera India, terutama untuk mengamankan kepentingan ekonomi dan keamanannya, maka inisiatif strategik dan diplomatik yang ditempuh India adalah membina hubungan yang lebih erat dengan negara-negara yang memiliki “pintu” masuk ke Samudera India. Khususnya negara-negara dengan chokepoints seperti ; Iran ( selat Hormuz ), Djibouti dan Ereitrea (selat Bab el Mandeb), Afrika Selatan dan Mozambik (Cape of Good Hope dan Mozambik Channel), Singapura, Thailand dan Indonesia (selat Malaka). Disamping itu kebijakan “near West“ terfokus pada negara tetangga dan sekitar laut Arab yaitu Pakistan, Iran, Israel dan beberapa negara Afrika.

Hubungan India –Pakistan dewasa ini semakin membaik sejak tahun 2003, ketika perdana menteri India Ayal Bihari Vajpayee pada masa itu mengulurkan tangan persahabatan ke Pakistan, kemudian disusul dengan proses kearah perdamaian. Tujuannya untuk menghindari timbulnya  konflik militer kedua negara, mengurangi tekanan di Kashmir  dan yang paling penting adalah untuk memperoleh kebebasan bergerak yang lebih luas di Asia Selatan  dan regional pada umumnya.  Dengan kata lain bahwa peredaan ketegangan dengan Pakistan harus dilakukan untuk mengurangi hambatan bagi India mewujudkan ambisinya memperoleh hegemoni di Samudera India.

Dilaut Arab India boleh dibilang sukses mendekati Iran. Dalam pandangan Iran, India adalah partner yang kuat  yang dapat membantu Teheran menghindari  upaya mengisolasi Iran dari dunia internasional. Lagipula  kerjasama ekonomi dengan India, sejalan dengan kebijakan ekonominya sendiri, khususnya peralihan perdagangan minyak dan gas Iran yang sekarang lebih banyak dengan negara-negara Asia dan berangsur-angsur mengurangi ketergantungan eksportnya kepada negara-negara Barat. Jelas bahwa hubungan baik dengan Iran karena faktor energi minyak dan gas, yang pada bulan Januari 2005 menandatangani persetujuan dengan National Iranian Oil Company untuk mengimport  lima juta ton gas alam cair pertahun  selama jangka waktu 25 tahun. Kedua negara juga sepakat untuk membangun proyek yang cukup ambisius yaitu pipa gas sepanjang 2700 km dari Iran ke India melewati Pakistan. Hubungan antara India-Iran bukannya tanpa masalah, Iran tentunya belum merasa nyaman menyangkut  hubungan erat antara India dan Israel. Apalagi beberapa waktu lalu,  Iran tidak senang karena India mendukung resolusi yang diajukan IAEA ke Dewan Keamanan PBB menyangkut  issue senjata nuklir  Iran.

Lebih jauh kebarat adalah hubungan dengan Israel. Sekalipun hubungan diplomatik baru dijalin sejak tahun 1992, namun  kedua negara telah berhubungan baik secara tidak resmi sejak tahun 1980. Agaknya  hubungan India –Israel lebih ditekankan pada hubungan Pertahanan dan militer, dimana akhir-akhir ini pejabat militer kedua negara saling kunjung mengunjungi  layaknya  suatu persekutuan militer. Israel dewasa ini menjadi pemasok senjata terbesar kedua setelah Rusia ke India , menjadikan India pasar peralatan pertahanan Israel terkemuka dan sekaligus partner perdagangan kedua terbesar di Asia setelah Jepang.

Dikawasan Barat Samudera India, India telah menjalin hubungan militer dengan negara-negara teluk (Gulf states) sejak tahun 2002 antara lain melakukan kerjasama melalui latihan bersama secara regular  dengan Oman. Kerjasama pertahanan ditandatangani pada tahun 2003 yang mencakup eksport-import senjata, latihan militer dan koordinasi masalah-masalah keamanan khusus. India juga telah menandatangani  apa yang disebut “Framework Agreement for Economic Cooperation “dengan  Gulf Cooperation Council (GCC ) dalam masalah perdagangan bebas.

Hubungan India dengan negara-negara pantai Afrika Timur, masih terbatas namun sedang dikembangkan. Negara-negara yang dianggap penting adalah; di tanduk Afrika, Afrika Selatan, Tanzania, Mozambique dan negara kepulauan Mauritius dan Seychelles. Afrika Selatan adalah satu-satunya negara yang mempunyai hubungan bilateral keamanan, dimana untuk pertama kalinya pada tahun 2004 Angkatan Udara India melakukan latihan bersama pertahanan udara dengan Afrika Selatan, dimana latihan ini juga diikuti oleh Amerika Serikat, Jerman dan Inggris. Latihan bersama Angkatan Laut juga telah dilakukan di pantai Timur Afrika pada  bulan Juni 2005.  Menyusul kunjungan presiden India ke Tanzania pada tahun 2004, diadakan perjanjian dibidang militer, dimana personil militer Tanzania dapat belajar dan berlatih di India, demikian pula frekwensi kunjungan kapal-kapal perang India ke pelabuhan-pelabuhan di Tanzania semakin meningkat. Dengan negara-negara kepulauan Mauritius dan Seychelles India berkomitmen menjamin pertahanan, keamanan dan kedaulatan negara-negara tersebut. India juga sangat aktif meningkatkan hubungan baik dengan Maldives, ditandai dengan bantuan yang begitu besar ketika terjadi bencana tsunami pada Desember 2004.

 

Look East Policy.

 

Melengkapi orientasinya ke Barat, dewasa ini India juga secara intens menjalin hubungan yang lebih erat dengan negara-negara di teluk Benggala dan negara-negara di kawasan Asia Tenggara, sesuai kebijakan “ Look East”. Dimulai dengan negara tetangga terdekat yaitu Sri Langka, yang pada tahun 2000 sepakat melakukan perdagangan bebas, terbukti telah meningkatkan dua kali lipat nilai transaksi perdagangan kedua negara. Tambahan pula kedua negara bertetangga tersebut secara mantap menuju a Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) mencakup berbagai bidang pembangunan ekonomi termasuk infrastruktur yaitu jalan raya, pelabuhan laut dan udara serta eksplorasi minyak dan gas bumi. Tidak ketinggalan  kerjasama dibidang pertahanan meliputi pendidikan dan pelatihan personil militer Sri Lanka di India, berbagi data intelejen, pemasokan peralatan pertahanan ke Kolombo, bantuan perbaikan kapal perang sampai pada latihan militer gabungan yang untuk pertama kalinya dilakukan pada tahun 2004 termasuk unsur-unsur Angkatan Laut. Namun satu hal yang perlu dicatat bahwa India pernah menolak permintaan Sri Langka untuk melakukan patroli bersama melawan pemberontak Tamil (Sea Tigers).  Hubungan India dengan tetangga  terdekat yang  lain, Bangladesh, ditandai dengan pasang surut karena berbagai  ganjalan klasik antara lain; imigran illegal dari Bangladesh ke India, masalah air sungai, belum ada penyelesaian tuntas. Namun  belakangan ini sudah ada perbaikan hubungan  dimana kedua negara bersepakat  pada tahun 2005 membangun “Eastern Corridor Pipeline “ yaitu pipa gas  yang mengalirkan gas dari  Myanmar ke India melewati  teritori Bangladesh.

Kebijakan melihat ke Timur rupa-rupanya telah membuahkan hasil khususnya dengan negara-negara ASEAN. Sejak tahun 1996 India telah menjadi anggota dari ARF (Asean Regional Forum) sehingga telah menjadi partner dialog penuh  dengan negara-negara Asean. Pada tahun 2004 India bersama sepuluh negara Asean menandatangani kesepahaman kerjasama dibidang perdamaian, ekonomi dan keamanan termasuk didalamnya memberantas terorisme internasional serta pencegahan terhadap penyebaran senjata pemusnah massal (Weapon Of Mass Destruction).  Dibidang ekonomi keduabelah pihak  berjanji meningkatkan perdagangan bebas, investasi, turisme serta bekomitmen menciptakan  suatu kawasan perdagangan bebas yang dimulai sejak  tahun 2011 dengan  Brunei Darussalam,  Indonesia, Malaysia, Thailand dan Singapura, sedangkan dengan negara Asean lainnya pada tahun 2016. Namun perlu digaris bawahi dalam hubungan pertahanan India memiliki hubungan erat hanya dengan Myanmar, Thailand dan Singapura. Fokus perhatian India di Asia tenggara adalah untuk berkompetisi dengan Cina dan lebih spesifik lagi memiliki akses pada choke points tertentu serta alur-alur pelayaran penting yang kira-kira dapat digunakan untuk mencegah gerakan Cina ke Samudera India. Hal itu pulalah yang menjadi tujuan utama India memperkuat pangkalan Angkatan Lautnya di kepulauan Andaman dan Nicobar. Lebih jauh lagi, dari pangkalan tersebut memungkinkan India memproyeksikan kekuatannya ke laut Cina Selatan.

 

Kekuatan Angkatan Laut.

 

Untuk menunjang inisiatif politik dan diplomasinya, India dewasa ini sedang mengembangkan kekuatan dan kemampuan Angkatan bersenjatanya, agar dapat menjawab tantangan kebutuhan masa kini dan masa depan. Khusus untuk kekuatan laut bertujuan; antara lain  mencegah angkatan laut Cina memperoleh pijakan yang kuat di Samudera India, mampu memproyeksikan kekuatan di mana saja dikawasan ini terus sampai ke laut Cina Selatan  terutama pada choke points tertentu, pulau-pulau yang vital, dan alur-alur pelayaran penting. Pada tahun 2004 India telah memesan sistem senjata seharga US $5,7 miliar melampaui pembelian Cina dan Arab Saudi ,menjadikan India sebagai pembeli persenjataan terbesar diantara negara-negara berkembang didunia. Kekuatan permukaan saat ini AL India memiliki satu buah kapal induk, 8 buah destroyer, 11 buah frigates, sejumlah kapal pendarat (LST), korvets, dan kapal-kapal patroli. Dalam lima tahun kedepan akan ada penambahan 2 buah kapal induk baru, 6 destroyer, 12 frigates, 5 LST, beberapa kapal Korvet dan kapal patroli, serta 1 buah LPD. Kapal Frigates yang sedang dibangun di Mumbai  Type 15 A akan dipersenjatai dengan 16 buah peluru kendali Brahmos luncur vertikal. Salah satu kapal induk  eks Uni Soviet berukuran 44500 ton telah  diserahkan  pada tahun 2008, sedangkan kapal induk yang lain buatan India sendiri (produksi pertama), peletakan lunas pada tahun 2005 berukuran 40000 ton. Kapal induk ini dirancang sebagai kapal pertahanan udara (Air Defense Ship) yang mampu membawa sekitar 16 buah Mig- 29 K dan 20 buah helicopter anti kapal selam dan anti permukaan. Setelah dilakukan modifikasi, kapal induk ex Rusia dapat mengangkut  16 buah pesawat tempur Mig -29 Ks dan 8 buah helicopter anti kapal selam.

India juga terus meningkatkan kemampuan armada kapal selamnya, baik yang ada saat ini maupun pengadaan baru. Angkatan Laut India memiliki 4 buah KS Type 1500 buatan Jerman  dan 10 buah kelas Kilo buatan Rusia. Yang belakangan ini telah menjalani refit di Rusia dan telah dipasangi  peluru kendali jenis Klub berkemampuan anti kapal dan sasaran darat dengan jarak jangkau mencapai 200 km. Kedepan pemerintah India menyetujui pembelian  6 buah kapal selam jenis Scorpene buatan Perancis, dan 4 sampai 6 kelas Amur 1650 hunter killers (SSKs). Disamping itu prioritas diberikan pada pengembangan KS bertenaga nuklir buatan sendiri (indigenously constructed),  dengan bantuan teknologi dari Rusia. Sejak tahun 2005 perwira-perwira AL India telah berlatih di St Petersburg untuk mengawaki dua buah kapal selam serang Akula  II bertenaga nuklir yang akan disewa dari Rusia. Kedua KS tersebut dipersenjatai dengan peluru kendali jarak sedang namun mampu membawa 200 kiloton kepala nuklir. Singkatnya pemerintah India berambisi mempersenjatai seluruh sisteim senjata laut utamanya dengan peluru kendali jelajah nuklir. Sebagai gambaran dan perbandingan, menurut data dari Naval Forces of the World, maka Combat Value (kesiapan tempur yang dinyatakan dengan angka mengandung keseluruhan jumlah dan kwalitas dari kapal beserta anak buahnya dalam suatu pertempuran laut), beberapa negara maritim kuat adalah: Jepang 26, Inggris 46, Cina 16, India 10, Indonesia 2, Russia 45 dan Amerika Serikat 302.

 

Pangkalan Angkatan Laut.

 

Untuk mendukung operasi kapal-kapal perangnya maka keberadaan pangkalan armada sangatlah penting. Salah satu pangkalan AL India yang sangat penting terletak di Karwar, dekat Goa di pantai Malabar, suatu lokasi yang dipilih karena lebih dekat ke Samudera India dibanding dengan yang di Mumbai (dulu Bombai). Pangkalan laut sekaligus udara yang bernama INS Kadamba ini sedang dalam penyelesaian, dimana nantinya akan menjadi pangkalan AL India pertama yang benar-benar eksklusif dalam arti terpisah dari pelabuhan laut komersial dan sipil. INS Kadamba akan mampu dirapati oleh kapal induk terbaru, menjadi homebase beberapa jenis kapal kombatan, menjadi pangkalan utama kapal-kapal selam bertenaga nuklir dan pada gilirannya akan menjadi markas besar Komando AL  kawasan Barat.

Lebih jauh keselatan, India sedang meningkatkan infrastuktur pangkalan di Cochin dimana pesawat – pesawat terbang pengintai tak berawak (Unmanned Aerial Vehicles) ditempatkan. Pesawat UAV ini berperan memberikan laporan segera (real time) kepada unsur-unsur Angkatan laut lainnya mulai dari alur laut yang sibuk di utara laut Arab sampai ke selat Malaka. Mungkin karena lokasinya yang strategis dikatakan bahwa pangkalan Cochin sebagai tantangan bagi pangkalan AS di Diego Garcia. Selain di Cochin , AL India juga membangun pangkalan untuk UAV di Port Blair, markas Komando AL Andaman dan Nicobar dan di pulau Lakshadweep yang terletak di choke point teluk Persia. Pangkalan di kepulauan Andaman dan Nicobar, memiliki arti yang sangat strategis bagi New Delhi, karena melalui pangkalan ini India dapat memperkuat kehadiran militernya di teluk Benggala. Sekalipun beberapa tahun yang lalu pangkalan ini rusak berat dilanda gelombang tsunami, namun India tetap menganggap pangkalan Port Blair sebagai “Diego Garcia”nya India dimasa depan. Dalam kaitan ini, hampir pasti India akan menjadikan kepulauan ini sebagai pangkalan depan peluncuran peluru kendali dari kapal selam, yang pada akhirnya juga senjata nuklir. Selain daripada itu, kepulauan ini juga akan memainkan peranan yang penting bagi upaya India untuk menandingi sepak terjang China  di Asia Tenggara serta untuk memperlancar gerakan “ Look East policy”.

 

Kesimpulan.

 

Asosiasi negara-negara tepi Samudera India (IORA), dihadapkan pada tantangan besar untuk mewujudkan kesepakatan yang sudah diambil beberapa waktu lalu di Jakarta. Namun dinamika perkembangan terakhir yang ditandai dengan begitu agresifnya China menggalang dukungan negara-negara sekawasan lewat bantuan ekonomi pembangunan, maka dapat diprediksi  misi IORA akan surut atau bahkan tenggelam, dengan kata lain hanya akan tetap rencana diatas kertas tanpa ada perwujudannya. Apalagi saat ini pengaruh negara besar sangat dominan, membuat polarisasi kekuatan saling tarik menarik mencari dukungan. Samudera India telah menjadi ajang persaingan dan perebutan pengaruh negara-negara maritime besar dunia. Inggris dapat disebutkan sebagai kekuatan masa lalu, namun diakui masih mempunyai pengaruh besar karena masih mempunyai keterikatan erat dengan beberapa negara dikawasan ini terutama karena ikatan sejarah. Demikian pula dengan AS dan Russia yang ingin tetap mempertahankan dominasi masing-masing utamanya demi untuk kepentingan ekonomi perdagangan dan keamanan. Pangkalan Angkatan Laut dan Udara AS di kepulauan Diego Garcia adalah bukti besarnya kepentingan AS sehingga akan terus menancapkan kehadirannya agar dapat melakukan pengendalian di Samudera India. Namun yang paling menonjol belakangan ini adalah kemunculan China yang dianggap pendatang baru tetapi dengan cepat memperoleh simpati negara-negara di Tepi Samudera India. Karena kemampuan ekonominya yang luar biasa, maka China meluncurkan program “New Silk Road” yang disebut Belt and Road Initiative (BRI). Diatas semuanya India adalah negara yang terbesar dalam IORA dan yang mempunyai akses langsung kedalamnya tentu tidak akan mau mengalah dan akan berupaya memainkan peranan yang penting di Samudera India. Dibanding negara-negara besar yang lain, India dalam semua Gatra pembangunan yaitu Ideologi, Politik, Ekonomi, Sosial Budaya dan Pertahanan Keamanan sangat lengkap, sehingga mengembangkan geopolitik yang realistis. Dalam beberapa tahun belakangan ini India telah menempatkan negaranya pada arah dan jalur untuk menggapai posisi berpengaruh di Samudera India, karenanya berusaha meningkatkan dan memperkuat profilnya terutama dikalangan negara-negara litoral Samudera India serta negara-negara Asean.  Kekuatan maritim khususnya kekuatan Angkatan Laut adalah kunci sukses bagi pencapaian kebijaksanaan politik, yang tentunya ditopang oleh kekuatan ekonomi yang  kuat. Visi maritim India abad 21 mencakup wilayah dari teluk Persia sampai ke selat Malaka. Hubungan dengan aktor-aktor penting dari luar seperti Amerika Serikat, Jepang, Israel, dan Perancis, semakin erat merupakan faktor penting bagi India untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan perdagangannya.  Harus diakui bagi sebagian besar negara-negara Asia Tenggara, langkah-langkah yang ditempuh India saat ini belum banyak menarik perhatian. Umumnya perhatian tertuju pada Cina yang memiliki ambisi  di laut Cina Selatan dan Samudera India. Padahal kebangkitan India, dengan sasaran menanamkan hegemoni di Samudera India, pada gilirannya akan merobah tatanan geopolitik negara-negara kawasan  tidak terkecuali Asia Tenggara dan Indonesia.  Kebijaksanaan politik ”Look East”, rupa-rupanya dijalankan secara paralel  antara bidang ekonomi dan pertahanan/militer. Untuk pertama kalinya dalam 10 tahun terakhir, pada tahun 2005, suatu gugus tugas kapal perang India berkunjung ke Indonesia dan beberapa negara Asia Tenggara lainnya, yang kita yakini sebagai bagian dari diplomasi Angkatan Laut India. Pembangunan kekuatan Angkatan Laut (baca: kapal perang) yang dibarengi dengan pengembangan pangkalan merupakan indikasi kuat akan niat pemerintah India mencapai kepentingan nasionalnya (dilaut). Singkatnya, India yang menganggap Samudera India adalah “bagian dari  wilayahnya”  adalah pemain utama atau The Real Actor di dalam IORA.

 

 

 

 

 

Referensi :

 

    1. Lindsay Hughes, Future Directions International 2013
    2. Harian Kompas 12  Mei 2017  dan tgl 14 Mei 2017.
    3. Indian Ocean Rim Asociation, Blue Economic Conference, Jakarta Indonesia 8-10 Mei 2017.
    4. Info Singkat, Vol VII No 06 /II/ P3DI Maret 2015.
    5. Indian Ocean  Rim Asociation, Wikipedia The Free Encyclopedia.
    6. www.Indian navy.nic.in/mission.

 

 

 

 

 

 

 

 

[1] Harian Kompas 4 April 2017.

[2] Future directions International 28 Juni 2013.

[3] Koran Kompas 13 Mei 2017.

[4] Ibid.

[5] Lindsay Hughes, Future Directions International, 16 Juni 2016.

[6] Ibid.

[7] ibid

 [i]

0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x
Share via
Copy link
Powered by Social Snap