Intelijen: Re (Organisasi, Formasi, Volusi) atau Transformasi ?

Intelijen ?: Re (Organisasi, Formasi, Volusi) atau Transformasi ?

Oleh: Budiman Djoko Said

Pendahuluan

Pemahaman Intelijen masih sebatas wacana[1](tertutup) dibandingkan keinginannya untuk memahamibentuk alami proses intelijen dan kepentingannya bagi kepentingan dan keamanan nasional.Keterbatasan ini menyulitkanadaptasi perubahan versuspola ancaman non-tradisional. Agar resimintellijen lebih effektif makaKI (Komuniti intelijen) harus membuka diri dan mau berubah untuk membangun jejaring kolaborasi[2] dengan berbagai sumber. Terciptanya produk intelijen menuntut cara interdisiplinair,berintegrasi dengan OsInt[3]dan kepakaran sektor privat.

Harapan diatas terganjal dengan kebiasaanKI bekerja tertutup dan terkesan menyembunyikan sesuatu (secrecy). Hasilnya KI sering dikritik sebagai “pipa-pabrik“ (stove-pipe ~ unik) sulit berbagi rasa apalagi berbagi informasi. Perubahan (termasuk intelijen) dengan cara reformasisering dilakukannegara dengan setengah hati. Faktanya hampir semua gerakan reformasi intelijen dalam kurun waktu 50 tahunan ini,memfokuskan dirinya pada kewenangan dan tanggung jawab Direktur Intelijen Pusat atau Nasional [4].Faktor kritikal penyebab perubahan adalahkemajuan teknologi—RMA. RMA mudah menggoyah infrastruktur, organisasi pertahanan nasional dan Intelijen.

Intelijen sebagai alat kelengkapan suatu pemerintahan adalah isu penting.Isu ini menjadi semakin penting bila memikirkan lebih dalam peranan Intelijen dimasa mendatang versus isu global.Lebih mengkuatirkan lagi adalah kepentingan atau intensi perubahanperan dan misi intelijenyang melenceng jauh dari keinginan badan Intelijen pusat.Keprihatinanmembawa intelijenkealamat yang lebih sistematik (komprehensif atau memenuhi konsep “system thinking”) dalam kontek yang lebih luas.Meskipun ada perubahan dan pemimpin Intelijen senang dengan perubahan radikal ini serta terusmenerus tidak semua orang menyukainya[5].  Dilakukan terus menerus agar ditemukan cara yang lebih effisien meskipun hasilnya sedikit signifikan dari saat kesaat, dalam rangka mencapai kecepatan, ketelitian bahkan kualitasproduk inteijen. Hadirnya RMA sebagai revolusidalam bidang militer/pertahananan nasional dan mitranya dalam intelijen yakni revolusi urusan intelijen (RUI)[6]—dengan cara apa RUI dilakukan? Cukupkah dengan cara revolusi, reformasi, reorganisasi ataukah transformasi? Perubahan apa saja yang dapat dilakukan oleh KI (komuniti Intelijen) menghadapi  tantangan baru yang mengglobal ?Makalah ini lebih banyak menyoroti intelijen dilingkungan pertahanan nasional (militer).

Intelijen

Problema KI tahun 2020 adalah ketidak seimbangan tuntutan kualitas produk intelijenkeseluruhan (overall) dari kumpulan “ keluaran “ individual KI denganmasing-masing penguasaan teknik analysisnya[7].Disisi lain ancaman yang melebar,diskrit dan berjumlah banyak sesuai ragam dan perilakunya serta meningkatnya porsi ancaman non-militer.KI mencoba adaptasi meski adahambatan segregasi dan perilaku menekankan kerahasiaan yang menjauhkandari usaha (enterprise)[8]produksi menjadi lebih komprehesif analitik dan berkualitas.

Usai perang dinginditandai meningkatnyaancaman aktor non-negara yang kuat sepertikelompok teroris internasional yang nyata-nyata berkolaborasi dengan kelompok kriminal transnasional. Hampir semuakelompok menggunakan cara asimetrik untuk melawan. Kecenderungan global dengan kecepatan pertumbuhan penduduk, ketidak seimbangan pertumbuhan ekonomi, urbanisasi, pandemik HIV/AIDS, bioteknologi, dan ekologikal semakin mempercepatinstabilitas dan keamanan internasional[9].Organ Intelijen harus memberanikan diri untuk memprioritaskan koleksi data dan analisisnya.Penugasan yang diberikan KI kontemporer sementara ini adalah [1] mencermati perkembangan ini, [2] identifikasi ancaman potensial bagi keamanan nasional[10],dan [3]mengkualitaskan produkintelijen untuk dipersembahkan kepada elit nasional  militer. KI tetap melakukan cara-cara tradisional versus sumber informasi yang tertutup (misal Kedutaan dan stafnya)dan harus menyimpulkandari sumber informasi yang lebih terbuka meskipun menghadapi sejumlah besar informasi yang beragamdan hanya sedikit yang bernilai intelijen.KI harusmembangun jejaring; mengintegrasikan OsInt dan tetap mempekerjakan tenaga terampil dari sektor privat, bahkan dengan ajensi luar semua ini[11]~ populer dengan kata “enterprise”.

Dibantu teknologi[12]sekarang ini yang kapabel mengolah dan mengakses volume besar data/informasi mentah mendekati waktu riil berkaitan dengan setiap aspek lingkungan operasional.Segudang informasi mudahdiakses dikaitkan denganisu cuaca, medan, pengaruh kultur, teman, mitra, dan kekuatan lawan atau yang di”sasarkan” bahkan populasi penduduk sipil. Massa informasi yang luar biasa besarnya dari berbagai kolektor menjadi subyek analisis yang memiliki nilai intelijen (intelligiable) yang bernilai tinggi diolah guna memprediksi dan menduga kapabilitas “lawan” dan intensinya[13].

Informasi yangsudah lama dikenal biasanya merupakan rangkaian fakta dan boleh jadi sangat berguna bagi Komandan.Mengait informasi lain yang pernah diketahui tentang lingkungan operasional ditambah pertimbangan informasi masa lalu yang berkenaan dengan “lawan” atau yang disasarkan (targeted)—himpunan fakta ini disebut Intelijen.Intelijen bisa disebut sebagai organisasi, proses dan produk yang melibatkan kegiatankoleksi, proses, eskploitasi, dan diseminasi informasi bagi pengambil keputusan[14],periksa figur no.1 dibawah ini.

Figur no.1. Siklus Intelijen tradisional

1

Referensi:diambilkan dari Wilkipedi

Intelijen hanya berguna bagi pengguna—penggunalah yang menginisiasi dan mengajak KI untuk melakukan proses. Kejelasan hubungan antara data, informasi dan intelijen,juga hirarkhi antara koleksi,proses dan analisis ini bisa dilihat dalam figur no.2dibawah ini :

Figur no. 2.Hubungan antara data, informasi dan intelijen.

2

Referensi:US JP  (Joint Pub) 2-0 , June 2007, “ Joint Intelligence “ , halaman  I-2, Model ini sama dengan siklus Intelijen (collecting , processing and exploitation, dan analysis serta production-nya ~ siklus Intelijen). Meskipun kegiatan proses dan analysis menjadi tantangan kepakaran KI kontemporer namun disini lebih digambarkan dalam bentuk hubungan antara data, information, dan intellijen.

Bagi komuniti pertahanannasional makaintelijenmiliter—proses analisiskekuatan militer asingsebagai masukan dalam proses kampanye, kebijakan penggunaan dan deploi kekuatan militer mendatang. Substansi produk adalah kapabilitas [15]militer, intensi, perencanaan, disposisi, dan peralatan, analisis kandungan informasi, mengembangkan temuan, disposisi satuan tempur lapangan, dan sumber informasi mereka[16]. Intelijen militer tampil dalam 3 format, yakni strategik, operasional dan taktik.Inteljen strategik adalah kebutuhan intelijen guna memformulasikan strategi, kebijakan, dan perencanaan militer dan operasi militer di tingkat nasional dan mandala perang. Fokusnya adalah faktor yang semantik a.l: geographi, infrastruktur dan perencanaan pembangunan kekuatan militer atau tren jangka panjang seperti aplikasi taktik baru, teknik, prosedur atau pengembangan sumber daya kekuatan baru—perangkat pentingguna mengantisipasi dan menghadang ancaman dari segala arah.

Intelijenoperasional digunakan bagi perencanaan dan pelaksanaan kampanye serta operasi besar untuk mencapai obyektif strategik dalam suatu mandala operasi atau area operasional. Operator inibisa saja bekerja bersama operatorintelijen strategik dalam suatu mandala operasional yang sama, namun lebih sempit tanggung jawabnya.Terakhir; intelijen taktik lebih fokus kepada lokasi lawan dan pilihan penggunaan taktik, satuan, dan senjata yang sepertinya sangat cocok untuk menyumbangkan kemenangan diarea tertentuyang lebih sempit (AOI=area of interest sebagai elemen dari AOR).

Tantangan nasional yang perlu diwaspadai KI

Intelijen sebagai teori, seni, atau sesuatu yang harus disembunyikan (secrecy) ?Sebagai perangkat pengambilan keputusan atau bantu keputusan (decision support system)?Sebagai aksi terbuka (overt), tertutup (covert), klandestin atau termasuk aksi spionase?Terlibat aktif untuk kemenangan offensif atau defensifbahkan sampai dengan tercapainya outcome “operasi berbasis effek” ditingkat turunan ketiga dst? Semuanya bisa jadi pilihan. OperatorKI dewasa ini berhadapan dengan gigihnya tantangan yang terus hadir sebagai pengancam keamanan nasional. Fenomena 4 tantangan yang terus berkembang mengglobal dapat digambarkan dalam figurno.3dibawah ini :

Figur no.3.Prioritas arah pertahanan nasional

3

Referensi: Larson,Eric.W,et-all (4 persons), RAND, 2008, “Assesing Irregular Warfare ; A Framework for Intelligence Analysis “,halaman 49. Perhatikan arah pergeseran prioritas kearah interseksi tiga bentuk ancaman yakni disruptif, katastropik, dan tidak beraturan pergerakan diawali dari kuadran tradisional.

Pertama;tradisional, diwakili negara yang menggunakan legasi dan dikenal sebagai kekuatan militer nasionalyang unggul. Bentuk pelibatannya adalah kompetisi dan konflik sebelum terjadinya peperangan antar aktor atau pelibatan dengan non-aktor. Kedua; bentuk tidak beraturan (irregular) dengan methoda non-konvensional dengan penggunanya adalah aktor atau non-aktor lemah yang melawan kekuatan yang unggul (pemerintah)[17]. Ketiga, bencana (catastrophic) yang ditimbulkan dengan keterlibatan proses akusisi, posesi oleh aktor atau non aktor negara simpatisan teroris yang bisa saja menggunakan senjata pemusnah massal (SPM).

Keempat, kekacauan(disruptive) yang berasal dari perkembangan persaingan, kepemilikan, dan penggunaan paksa kapabilitas teknologi sebagai pengganti keunggulan “lawan” (asimetrik) dalam suatu  domain operasional tertentu yang lebih sering dilakukan pihak yang lebih kecil dan lemah (asymmetrical threat & anti-access strategy).Bagai negara yang memiliki elemen domain maritim yang begitu luasnya seperti RI,sebaiknya prioritas dan fokus kearah ke-domain maritim [18]mengingat medanpelibatan tantangan kedua, ketiga dan terakhir dan semuanya berbentuk ketidak beraturan(irregular threat).Beda denganintelijen tradisional yang fokus utama kepada aktor negara dan fokus kedua pada ancaman transnasional dan non-negara. Dewasa ini sangat terbalik, prioritas utama diarahkan pada aktor non-negara, dan pandanganpada aktor negara diposisikan berpeluang tidaknya sebagai induk semangatau fasilitator pengancam asimetrik.Dewasa ini pejabat kebijakan dan bahkan intelijen nasional suatu aktor mudahberbagi kejelasan kandungan suatu ” negara“, meski berlabel rahasia. Kesulitan versus aktor non-negara  yang sangat sedikit diketahui “ kandungannya ”namun hadir dalam jumlah besar baik bentuk maupun sifatnya.Mereka membentuk jejaring dan hirarkhi tersendiri,sehinggaupaya memahaminya terbatas, sebaliknyahal ini menjadi peluang mereka untuk sukses [19].Sungguh berat beban operator KI di negeri ini menanganinya, meskipun TNI siap namun belum semuanya terbiasa dan terlatih menghadapi  bentuk tantangan terakhir itu [20]. Peta skenario pertahanan nasional dan keamanan nasional (kalau ada)bisa diujikan versus tantangan sekaligus patokan pembelajaran (bench-marking). Misalisu Poso sebagai markas pelatihan teroris dan dikaitkan dengan pertanyaan kunci riset seperti:operator KI mana yang menanganiseperti isu diatas; daerahkah, TNI, Polri, atau gabungan TNI dan Polri atau TNI-Polri-Pemda?Unit mana yang paling effektif-biaya ?

Seandainya sudah tercium lama, siapakah inisiatornya di tingkat siaga anti terorisme tingkat 4 atau 3 ?Bila disadari ini adalah tantangankeamanan nasional dan menjadi prioritas mestinya fokus pada bentuk operasi gabungan operator KI sipil-militer didaerah antara TNI-Polri-Pemda [21]utamanyaditingkat siaga anti terorisme tingkat 3 dan 4, sebagai persiapan operasi penindakan (siaga 1 dan 2 antiterrorisme) yang jauh lebih penting.Gabunganlah sebagai cara yang lebih effisien beroskestra.Cara asimetrik yang digunakan kelompok insurjensi ini adalah pilihan termurah melawan pemerintah.Biasanya mereka lebih memilih sasaran: dilingkungan populasi padat, pusat ekonomi dan lokasi simbolik untuk menunjukkan kepada pemerintah dan dunia bahwa mereka bisa hadir danpunya kekuatan.

Perlukah dilakukan manuvra penangkalan terhadap operator pengancam asimetrik tersebut ? Disinilah beban kerja operator KI diawal pelibatannya dengan mereka untuk melakukan tindakan penangkalan dengan berbagai varian, sebelum meningkat menjadi siaga 1 dan 2 sebagai aksi penindakan anti terrorisme. Perbedaan perilaku pengancam baru ini perlu dihadapi dengan cara dan proses yang baru,oleh karena itu pelatihanuntuk operasi gabungan sipil-militer terus menerus harus dilakukan [22] . Operator KI harus bisa menyuguhkan kepada Komandan tim dilapangan apa intensi pengancam, sasaran phisik, memprediksi manuvra pengancam, dan mendeteksi pergerakan pengancam waktu demi waktu (connecting the “dot”, pen) dan merekomendasikan pada tim lapangan perhitungan pencegahan dan risiko jauh hari sebelum aksi penindakan dilakukan. Kolektor tradisional namun masih yang terbaik adalah adalah HUMINT yang disusupkan atau UAV (pesawat nir awak).

Reorganisasi-Reformasi-Revolusi-Transformasi operator KI

Deborah Barger, peneliti RAND mengatakan intelijen termasukintelijen lurgri (luar negeri) dan LI (lawan intelijen).Intelijen lurgri memuat kapabilitas aktor negara, intensi dan kegiatan pemerintahan, organisasi pemerintahan, dan kegiatan teroris internasional yang ada.Kegiatan LI adalah pengumpulan informasi, dan melindungi ancaman spionase lawan serta kegiatan intelijen lainnya, sabotase dan pembunuhan yang dilakukan mengatas namakan pemerintah tersebut atau elemennya, organisasi asing, personil asing atau teroris internasional.Sedangkan operator atau elemen KI terbagi dalam tiga (3) ajensi yakni Kemhan, Non Kemhan dan Independen dengan anggota-anggotanya sesuai figur no.4bawah :

Figur no.4. Elemen Komuniti Intelijen (KI)

4

Referensi: Barger, halaman  6.Perhatikan 1/2 lingkaran kiri adalah KI non KemHan sedangkan ½ lingkaran kanan adalah KI Kemhan, dan sisanya diisi ajensi Intelijen independent lainnya.

Hadirnya aksi baru sepertipeperangan tidak beraturan (irregular warfare) versusaktor/non-aktor mendesak diperlukan reformasi organisasi dan ajensi intelijen, meski Barger menyarankanperubahan infrastruktur dan perilakunya kearah revolusi[23]. Alasannya ; pertama pengaruh kuat teknologi didalamnya yakni RMA dan RUI,kedua; bisnis intelijen menjadi luas, kompleks dan perlu dibuka untuk dipahami bersama publik dan kalangan akademisi (mencari methoda yang lebih canggih) ~ intelijen menjadi korporasi (enterprise)[24].

Menyatunya dalam suatu korporasi;memudahkan intelijen menguak kelemahan dan kesalahan-kesalahan masa lalu yang tidak perlu, diperbaiki secara ilmiah dengan teknik analisis yang lebih maju oleh elemen korporasi diluar KI. Proses reorganisasi[25] lebih berorientasi pada perbaikankewenangan dan tanggung jawab dan tidak mengulangkembali kesalahan historik disemua lini bisnis intelijen.Reformasi merupakanproses perbaikan dan kelanjutan proses reorganisasi. Reformasi menoleh “error’” yang pernah dilakukan,memperbaiki segera dan menyiapkan diri mengerjakanperbaikan tersebut dengan “yang seharusnya“ (it what was!).Kedua proses ini  dilanjutkan dengan proses terkinikan yang disebut transformasi, yakni prosesmemahami dan memandang kedepan (berbasis performa organisasi) apa dampak perubahan yang sudah dilakukan (dengan reformasi,reorganisasi) serta memahami peluang selanjutnya dengan jelasuntuk mengarah pada “apa yang seharusnya dapat dilakukan “ (what could be)[26]. Salah satu bentuk performa lembaga intelijen adalah meniadakan peluang didadak (surprise) “lawan “,meskipun masih banyak lagi ukuran effektivitas bagi lembaga ini (MOE=measure of effectiveness).

Alhasil perhatian kepada transformasi[27]lebih dianjurkan daripada reformasi, reorganisasi bahkan revolusi,dengan melibatkan keamanan nasional (obyektif strategi KamNas ~ mendukung tercapainya obyektif kepentingan nasional) sebagai perspektif pendekatan pengukuran kuantitatif terhadap implikasi semua proposal perubahan infrastruktur intelijendan KI-nya. Meskipun dengan definisi intelijen yang sangat beragam bagi kepentingan masing-masing aktor namun “ musuh “global/bersama sebagai kenyataan tidak bisa dihindari lagi untuk menggulirkan dalam muara kesamaan perspektifancaman.

Pergeseran dan perubahan pola ancaman ke non-aktorasimetrik mengglobal mendorong dunia bersama-sama menghadapi ancaman asimetrik. Apalagi ancaman ini telah berkolaborasi dengan aktor/non-aktor yang meramaikan isu keamanan multi dimensi ini,seperti kriminal transnasional, nasional,regional dan internasional,dan paling menonjol adalah terorisme. Bagi KI (Komuniti Inteligen) khususnya intelijen militer (IM) lebih mencoba menangkap infomasi tentang siapapun actor/non-negara yang patut diketahui intensi dan kapabilitasnya. Intelijen mendemonstrasikan produk informasi dan mendistribusikannya  dalam lima (5) kelas kepercayaan[28], pertama“hampir pasti sepertinya ”(>90 % pasti),kedua; ”sepertinya” (60-75%) ;ketiga;” peluangnya rata-rata” (40-50%) ,keempat;“tidak sepertinya ” dengan (10-40%),kelima;“pasti tidak sepertinya “ dengan < 10%[29] .Kalimat sinonim dan persentasenya ada dalam tabel no.1 dibawah ini

Tabelno.1tentang  derajad kepercayaan

5

Referensi: JP  (Joint Pub) 2-0 , June 2007, “ Joint Intelligence “  , Appendix A , halaman  A-2. Tabel ini mirip mirip  dengan  5 kelas yang ditulis pak Whaley , tabel distribusi ini lebih melebarkan jumlah kelas menjadi 5 dari tadinya hanya 3 kelas (yang kurang akurat) distribusi tradisional .Perhatikan kolom sinonimnya, tabel ini menggunakan kalimat menduga dalam bhs kualitatif, misalnya probable, likely, most likely ,nearly probable, dll.

Bandingkan dengan produk tradisional dalam tiga (3) kelas yakni A,B,C (terlalu umum, dan biasnya besar) yang lebih mengesankanmemperbesar simpangan baku (standar deviasi), distribusi ketidak kepastiannya (probability error distribution) tinggidan mengurangi akurasi analisis produk intelijen.LI (counterintelligence) adalah aspek utama dari kepakaran intelijen.Bila kata LI digunakan bersama kata intelijen,seperti menekankan padadua (2) pertanggungan jawab yang berbeda tapi saling melengkapi seperti dua sisi mata uang[30].Bila dibicarakan intellijen tersendiri maka LI melekat didalam dan dijamin sebagai subset substansi intelijen.Kenyataannya lebih dari 40 tahun,studi intelijen telah menjadi bagian kurikulum studi hubungan internasional dan diintegrasikan kedalam kurikulum disemua War College.Sejauh ini sedikit sekali pemahaman tentang peran LI diantara pemikir,praktisi serta  elit keamanan nasional,bahkan pengambilan keputusan nasional[31]—mengabaikan ancaman dan peluang yang dilakukan intelijen “lawan” akan menjadimimpi buruk bagi keamanan nasional[32]. Perlu upaya keras menanggulanginyasebagai bagian penting dari transformasi kelembagaan intelijen.

Kelembagaan membutuhkan dinamisasi dan keluwesan intelijen dan ini sangattergantung tingkat “ kualitas “ kepakaran (statecraft) yang menanganinya. Pararel dengan upaya ini sudah sepantasnya dalam rangkaian reorganisasi-reformasi-revolusi-transformasi;pola analisis yang lebih berkualitassemakin dikedepankan dan dibakukan. Dibawah ini dicontohkan model-model sebagai upaya membangun produk Intelijen yang lebih berkualitas sekaligus menjawab profil kepakaran (crafting) KI sebagaianalis Intelijen, seperti yang ditunjukkan dalam figur  no.5.

Figur no.5  Piramida Analisis Tugas

8

Sumber: Treverton,Gregory F, et-all (2persons),RAND,2008, “ Assesing the Tradecraft of Intelligence Analysis “, hal 14.Hint: Massint = measurement and signature intelligence.Proses diawali dari sumber informasi yang tertutup(classified) dan terbuka (unclassified), yang terakhir disebut juga sumber yang terbuka OsInt.

Di-tingkat 3 piramidalebih banyak digunakan teknik kuantitatif (operasi riset dan teknik optimalisasi serta mathematika statistikal) dibantu dengan bagian piramida sebelah kanannya ditingkat 3 yakni dari tenaga kepakaran akademik dan “ dapur pemikir “ (think-tank) “ ~ intelligence enterprise (mengapa Intelligence enterprise?[33]. Sedangkan di tingkat 4 masih menggunakan methoda kuantitatif dan sedikit kualitatif (political intentions,economic capability, military capability) dan tingkat 5 lebih banyak produk dalam norma kualitatif.Figur ini menggambarkan keseriusan “ pemangku strategi intelijen nasional “[34]untuk ber“korporasi” melalui teknik Intelijen(enterprise) dengan melibatkan para “dapur pemikir” (think-tank),akademisi dan pemikir diluar. Secara umum bisa dilihat melalui garis tegak adalah prosessiklus intelijen diawali dari bahan mentahnya (raw data). Perhatikan garis lengkung hitam dibagian kanan, menunjukkan bahwa proses darisatu blokbisa langsung ke blok yang lebih diatas, tergantung kadar kepentingannya. Sedangkan panah disebelah kiri hanya menunjukkan bobot atau kualitas analisis yang diharapkan per setiap blok.

Dalam proses analisis intelijen(paling bawah)dengan berbagai sensor dan kolektor—media komunikasi sangatberperan sekali, utamanya dibagian-dibagian “Classified Sources”, (Humint,Sigint, Massint, Commint,Imint,Elint,dll)[35].Pekerja(workforce) dibagian ini berkualifikasi mahir dan menguasaibahasa asing lengkap dengan dialek dan bahasa slenk serta bahasa sehari-harinya[36].Dalam piramida analisis tugas, secara umum  KI bekerja dengan bahan yang ada, meramunya dalam bentuk produk Intelijen yang bagus. Sedikit beda dengan model (fig no.6) berikut dengan kehadiranpengambil keputusan atau elit militer yang menginisiasi pekerjaan bagi KI.

Analisis yang dilakukan KI bersifat ganda (multiple), alasannya satu bentuk atau tipikal satu analisis tidak mungkinbisa menjawab semua isu (overall). Oleh karena itu figur no.6 di-bawah lebih banyak menampilkan komponen ganda dalam siklus intelijen. Sikluskanonik ini diawali dengan inisiasi elit nasional dan militer yang memberikan arah keprihatinan, dihadapkan segudang koleksi perencanaan terhadap “obyek” yang disasarkan, selanjutnya akan menjadi penugasan (tasking) besar bagi sekian kolektor KI (kolektor:humint,sigint,dll) untuk memprosesnya.

Figur no.6. Ilustrasi siklus Intelijen

9

Referensi:Treverton,Gregory F, et-all (2 persons),RAND,2008, “ Assesing the Tradecraft of Intelligence Analysis “, hal  4.Blok segi empat warna putih adalah blok siklus Intelijen yang diperkaya . Blok bulat warna kuning adalah blok kritikal. Model dijalankan diawali dengan inisiasi Policy makers/military leaders. Model ini lebih rumit , namun hasilnya jauh lebih baik, dan model ini jauh lebih interaktif, ada komunikasi terus menerus dengan pengambil keputusan.

Garis putus-putus merupakan garis yang bisa “memotong” apabila diperlukan setelah proses Humint screening, atau Raw data screening atau Data processing atau Analisis expolitasi bisa langsung dikembalikan ke pembuat kebijakan atau elit militer(grs putus putus warna hijau ~ garis A)[37], analog dengan garis B dan C. Dinamisasi proses via garis putus-putus kembali ke-pembuat keputusan atau elit militer seperti proses awal dikarenakan (kemungkinan) peluang perubahan signifikan tentang formulasi masalah, koleksi sasaran dan analisis perencanaan, dan kandidat sumber informasinya.

Model ini juga bisa menemukan“apa” profil ketrampilan KImendatang, agar ditemukanacuan kualifikasi yang diperlukan untuk mendukung profilsetiap analis KI untuk bekerja.Karena itu mudah ditebak bahwa KI nantinya akan banyak diisi oleh golongan Perwira maupun tenaga PNS gol III keatas yang berlatar belakang “sains” atau rekayasa (engineering). Masalah lain yang timbul adalah bagaimana menggali bermacam fungsi, ketrampilan dan perangkatdihadapkan dengan tahap analisis (stage of analysis) menuju produk intelijen yang diawali dari koleksi data (yang disasarkan/targeted), prosesnya, memilih, proses akses dan proses lanjut data mentah,dan membuat analisis bagian–bagian serta gabungannya (fusi)?Dengan model Treverton(tabel no.2 dibawah) ditemukan ketrampilan, perangkat dan fungsiyang membantu mencari seberapa jauh profil tingkat kepakaran yang diperlukan analis KI guna meningkatkan performa [38]transformasi operator KI.

Tabel no.2. Kebutuhan perangkat, ketrampilan dan analisis kontemporer.

10

Referensi: Treverton,Gregory F, et-all (2persons),RAND,2008, “ Assesing the Tradecraft of Intelligence Analysis “, hal 20.Tiga parameter (fungsi, perangkatdan ketrampilan) tersebut selain menjadi tantangan juga menjadi elemen profil kepakaran KI kontemporer atau dimasa mendatang dalam arsitektur kelembagaan intelijen.

 

Arsitektur intelijen nasional

Strategi keamanan nasional menjamin tercapainya obyektif kepentingan nasional. Strategi ini didukung oleh strategi-strategi nasional seperti strategi pertahanan nasional, strategi militer nasiobal, strategi intelijen nasionaldan seluruh strategi instrumen kekuatan nasional[39]. Karena strategi keamanan nasional akan sangat tergantung baik buruknya produk informasi yang diberikan oleh strategi intelijen nasional ditambah seberapa jauh “ kapabilitas “ kekuatan strategi pertahanan nasional dan strategi militer nasional.Kedua strategi terakhir ini akan didukung oleh strategi intelijen pertahanan nasional (DIS).

Strategi intelijen pertahanan nasional adalah komponen kritikal yang akan mendukung [1] strategi pertahanan nasional (NDS) dan [2] strategi intelijen nasional (NIS ~ national intelligence strategy) kedua-duanya sebagai komponen yang terpadu (enterprise)[40]. Strategi intelijen pertahanan nasional ini (DIS) memiliki dua (2) respon : [1] respon terhadap kebutuhan unik kebijakan, operasional dan akuisisi KemHan dan [2] respon terhadap misi intelijen nasional yang ditetapkan Kemhan. Figur no.7selain memperjelas bahasan diatas, juga menjadibasis penajaman arsitektur organisasi intelijen.

 Figur  no.7. Hirarkhi strategi

11

Sumber:DoD,US, “Defense Intelligence Strategy”, halaman 7,8. Perhatikan bahwa figurini mencerminkan hadir dan teroskestranya kesatuan arah (visi dan obyektif kepentingan nasional) menuju tercapainya kepentingan nasional melalui strategi keamanan nasional (kumpulan semua semua strategi pilar nasional). IC adalah singkatan Intelligence Community.

Strategimiliter nasional menurunkan obyektif, misi, dan kapabilitas yang dibutuhkan dengan suntikan analisis strategi keamanan nasional, strategi pertahanan nasional dan lingkungan keamanan[41].Strategi keamanan nasional dan strategi pertahanan nasional menjamin kontek yang lebar/luas untuk menggunakan kekuatan militernya dalam suatu orkestra bersama-sama instrumen kekuatan nasional lainnya.Strategi militer nasionalfokus kepada kegiatan militer dengan mendefinisikan obyektif kepentingan militer termasuk operasi gabungannya (joint) maupun gabungan dengan negara lain (combined).Penajaman organisasi sebagai bagian transformasi intelijen meliput bukan saja strukturnya,yang penting bagaimana membangun fokus atau redefinisi obyektif.

Organisasi intelijen ini akan bisa fokus apabila hadir strategi yang pantas dijadikan ruh arsitektur intelijen nasional ? Tanpa strategi yang pantas dijadikan arahan atau petunjuk maka organisasi mahal seperti ini akan kehilangan arah dan maknanya ? Bila sudah ada, maka aliran kebawah mudah diderivasikan untuk dijadikan pegangan operasional bagi KI. Fokus pada obyektif yang jelas,misal produk intelijen aktor tertentu (defense),atau fokus pada produk intelijen tentang terorisme didalam negeri (homeland security).Pertimbangan keberadaan KI sebagai komunitas agen intelijen cenderung lebih menimbulkan isu kultur organisasi dibandingkan peta organisasi, mengingat kebiasaan untukbekerja tertutup dan penuh kerahasiaan (secrecy).

Tuntutan operasi intelijen gabungan urusan sipil,sipil-militer dan militer sangatlah diperlukan azaz keterbukaan dengan alasan effisiensi,kecepatan dan fokus kepada musuh bersama. Sehingga dalam proses transformasi kultur ini akan jadi isu keprihatinan.Patutlah dipahami bahwa jantung dari arsitektur intelijen nasional adalah strategi intelijen nasional.Strategi intelijen nasional akan membuka peta jalan bagi KI untuk fokus kepada misi yang diembannya, menjamin kecerdasan bagi organisasi pemakainya, memperbaiki pengertian serta mendukung pengguna agensi lainnya dalam liputan nasional.Strategi intelijen nasional ini diterjemahkan kedalam perencanaan, inisiatif dan kapabilitasnya. Hasilnya suatu keputusan tentang prosedur, program, penganggaran, kebijakan , dan akuisisinya  termasuk didalamnya semua pelaksanaan operasional para operator ada didalam dokumen ini. Obyektif dan semua muatan strategi intelijen nasional bersama-sama strategi intelijen pertahanan nasional menjadi suatu petunjuk perencanaan (ICA), ISR Roadmap, dan DIG kemudian mengalir kebawah sebagai suatu arahan untuk mengembangkan program terintegrasi. Gambar blok teratas (diatas strategi keamanan nasional), meski tidak digambarkan adalah blok kepentingan nasional dengan obyektifnya[42], mengingatresim kerja strategi nasional selalu mengacu kepada strategi keamanan nasional dan kepentingan nasional (blok atas).

Kerangka fikir ini mengisyaratkan mengapa,bagaimana, dimana posisi kegiatan intelijen pertahanan nasional,LI,kegiatan keamanan mendukung strategi intelijen nasional,respon kebutuhan militer nasional dan departemen pertahanan nasional,dan bermuara di-strategi keamanan nasional[43].Bisnis yang jelas, membangun jejaring (network) yang luasmenjamin integrasi sistem informasi intelijen nasional serta bantu pengambilan keputusan intelijen nasional diseluruh arsitektur pemerintahan.Memilih produk intelijen untuk kepentingan strategi militer nasional dan atau pertahanan nasional dan atau bukan militer (OTW/other than war)atau terorisme tergantung kejelasan obyektif kepentingan nasional dan obyektif strategi keamanan nasional dan pendukungnya yakni strategi pertahanan nasional, militer nasional dan intelijen nasional.

Kesimpulan:

Transformasi KI harus bereksperimenmemperbaiki performanyaguna mencegah di-dadak. Penguasaan teknologi, konsepoperasionalyang lebih maju, pengukuran hasil (outcome)yang lebih akurat, performa, sistem personil yang baru dan terlatih semuanya menjadi  program pengembangan organisasi Intelijen[44]. Divisi koleksi data/informasi (SigInt,ElInt,dll) sangatlah mutlak, tanpa ini intelijen kehilangan ruh. Kolaborasi aktor dibawah FPDA diduga cukup kuat, yakni Elint (Air Surveillance Radar) Singapore dan Elint (Surface Sureveillance Radar di Jindale) Australia dengan mudahnya mengontrol penerbangan TNI-AU dan manuvra KRI—ada baiknya RI memiliki pesud (terlatih terbang malam, dan rendah) dan KRI “siluman” (yang selalu bergerak malam hari) dan diperbanyak kapal selam (semua aset tempur tersebut tidak perlu tranmisi HF-nya)…belum lagi kolaborasi satelit intainya. Tampilnya SigInt Australia (skandal disadapnya tlp/hp Presiden RI—kerja divisi SigInt) dan boleh jadi SigInt antar negara tersebut saling berkolaborasi memonitor percakapan dengan kapabilitas operatornya “berbahasa “ Indonesia [45].

Perubahan perilaku Lembaga Intelijen memerlukan teknik analisis dan struktur organisasi terbarukan dan berorientasi kepada prioritas serta fokus kepada sistem ancaman terkinikan[46].RAND bahkan menyarankanpelatihan[47], salah satunyauntuk mengkoleksi, menggabungkan dan mengutilisasikan produk intelijendengan pendekatan (methoda) fusi[48].Konsekuensinya dibutuhkan teknik dan penguasaan model bagi kepakaran KI[49].Analis Intelijen adalah bagian profesi yang jauh lebih penting, dan memungkinkan personil KI sebagian besar akan diisi para perwira-perwira dengan latar belakang “engineering”, untuk menghasilkan produk yang berkualitas.Kata transformasi [50]jauh lebih tepat karena reorganisasi, reformasi, bahkan revolusipun, tidaklah cukupradikal membangun perubahan perilaku kelembagaan Intelijen[51].Transformasi dengan cara (hanya) merubahtupoksi organisasi sulit dimintai pertanggungan jawab. Tanpa performa yang (wajib,tertulis) ditunjukkan lembaga tersebut sebagai konsekuensi bekerjanya lembaga tersebut,sulit dituntut tanggung jawabnya.Sebaliknya; hadirnya performa (dalam orgaspros)dan tidak tercapai, mudah dituntut baik tidaknya tupoksi yang dijalankan pemangkunya— sangat memudahkan proses Wasrik, bukan ?[52].

Kelembagaan intelijen memerlukan rujukan sepertistrategi keamanan nasional, strategi pertahanan nasional,strategi militer nasionaldan strategi intelijen nasional.Tanpa mengemas acuan-acuan tersebut, maka format “ performa “ kelembagaan ini, tidak akan pernah “ lahir “—sama halnya dengan sekedar menghadirkan “ tupoksi “ yang kurang menggigit.Secarakeseluruhannya akan mengacukepada obyektif kepentingan nasional yang terdokumentasikan, agar resim kerja semua strategi(pemangku strateginya dhi para menteri, sedangkan pemangku strategi keamanan nasional adalah kepala negara) diyakiniakan koheren dan teroskestra.Semoga bermanfaat .



[1] Jackson,P.D dan Scott, L.V, Routledge, 2005, “  Understanding Intelligence in the Twenty-First century; Journeys in the Shadows,” prakata.

[2]Lahneman, William.J,PhD, CISSM,University of Maryland, March 10,2006,  “ The Future of Intelligence Analysis “ volume- 1, Final report , halaman 3.

[3]Open source intelligence = sumber terbuka intelijen.

[4]Barger, Deborah.G, RAND, 2005,  “ Toward a Revolution  in Intelligence Affairs “, halaman 1.

[5]Ibid, halaman 7. James Belasco dan Ralph Stayer dalam novelnya, 1939, “Flight of the Buffalo” ….”Change is hard because people overestimate the value of what  they have and underestimate the value of what  they may gain by giving that up “.

[6]Barger menyebutnya sebagai Revolution in inteligence affairs (RIA).

[7]Lahneman, William.J,PhD, CISSM,University of Maryland, March 10,2006,  “ The Future of Intelligence Analysis “ volume- 1, Final report , halaman 2.

[8]Ibid, halaman 2.

[9]Ibid,

[10]Ancaman potensial bagi keamanan nasional dihitung relatif peka tidaknya memberikan dampak terhadap (kelangsungan hidup) bangsa dan negara terhadap kepentingan nasional. Misal kedaulatan (adalah kelangsungan hidup mati bangsa, dan salah satu elemen kepentingan nasional), maka ancaman ini dikatagorikan tidak ada kompromi lagi dan  harus dihentikan . Misal kepentingan nasional lainnya seperti kesejahteraan ekonomi, sejauh tidak mengait dengan isu kedaulatan ekonomi , maka bisa dikompromikan dan dinegosiasikan. Analog dengan kejahatan narkotik, effeknya yang memberikan jumlah seperti yang mudah dilipatgandakan (model exponential) , dgn  cepat akan merusak kehidupan bangsa dalam waktu yang pendek. Ancaman ini dipotensikan sebagai ancaman vital . diluar ini semua potensi ancaman dikatagorikan dalam keamanan dalam negeri (homeland security).

[11]Ibid, halaman 3.

[12]Bukan sekedar teknologinya, namun juga sistem teknologi, sistem rekayasanya ,  teknik statistik, military opt research, bayesian, dan teknik peramalan lainnya, lebih banyak membantu pendayagunaan produk intelijen yang kebanyakan  lebih diwarnai methoda kuantitatif  sangatlah membantu produk Intelijen yang lebih dapat dipercaya (confidence level).

[13]Periksa Steury, Donald P, History Staff,Center for the Study of Intelligence,CIA,Washington,DC,1996, “Intentions and Capabilities : Estimates on Soviet Strategic Forces , 1950-1983 “,

[14]Kata kata yang ditulis miring populer sebagai elemen siklus intelijen.

[15]Kapabilitas (kemampuan/capability) berbeda signifikan dengan kebisaannya (ability). Kapabilitas lebih cenderung kepada hasil atau “outcome”  asset tempur atau sista , sebaliknya kebisaan (ability) lebih cenderung kepada desain pabrik sista atau aset tempur, misal kecepatan tembak, jarak tempuh , kecepatan manuvra, kecepatan tanjak, dll. Outcome, misalnya dalam isu pemboman sasaran darat , maka CEP (circular error probability) jatuhnya bom merupakan outcome, atau dalam isu peperangan anti kapal selam , maka probability kill given hit kapal selam merupakan outcomenya. Rumusannya,  Kapabilitas (capability) = kebisaan (ability) + “ outcome ”.  Kosa kata kemampuan mengandung pengertian ada harga “outcome”nya,  tanpa “ outcome ” baru  dianggap  “bisa”,  masih belum  kapabel atau masih belum mampu. Rumusan ini diambilkan dari workshop MORS (Military Operations Research Society).

[16]Defense Intelligence Agency, Historical Research Support Branch ,DC, “ Defense Intelligence Agency: 50 Years Committed  to Excellence in Defense of the Nation “ ,  halaman   4.

[17]JCS, 2004, National Military Strategy of the USA, 2004, “ A Strategy for Today ; a Vision for Tomorrow “, halaman 4.

[18]Elemen Domain Maritim adalah semua yang ada diatas, dibawah, dalam , di, laut, kelautan, pantai, estuari,sungai, teluk, selat , termasuk udara diatasnya semuanya adalah domain Maritim atau boleh disebut sebagai subyek Maritim saja.  Luas domain Maritim bagi RI sangatlah meyakinkan dan sangat  berpotensi untuk diutilisasikan.

[19]Treverton, Gregory. F, RAND, 2005,  “ The Next Steps in Reshaping  Intelligence “, halaman 18.

[20]TNI mungkin lebih siap menghadapi aksi anti (bukan counter) terrorisme dalam bentuk peperangan pinggiran/kota (urban warfare) atau peperangan  antar ruangan (close combat quarter), inipun masih sebatas  bagi pasukan khusus atau elite. Elite= khusus dari khusus, misal Passus adalah SF (spec forces), maka elitenya adalah Delta Forces, atau  pasukan khusus peperangan laut adalah SEAL, maka elite SEAL adalah tim Six. Anggota  tim setidak tidaknya seorang yang berkualifikasi penembak jitu dalam peperangan (combat sniper)  .

[21]Bukankah TNI dipayungi UU yang melegalkan operasi selain perang ?

[22]Pertempuran jarak pendek dan malam hari atau  cuaca berkabut sebaiknya sering dilatihkan bagi tim gabunagn ~ close quarter combat X.

[23]Barger, Deborah.G, RAND, 2005,  “ Toward a Revolution  in Intelligence Affairs “, halaman 2….She presents  a framework for how the US should consider specific changes to its intelligence enterprise to improve its effectiveness . As such  , this report should be of interest to intelligence proffesionals  , students , scholars, and researchers  alike.

[24]Office of the Director of National Intelligence, USA, October, 2005, “ The National Intelligence Strategy of the USA ; Transformation through Integration and Innovation “,halaman 4. Enterprise sendiri dikaitkan dengan kapasitas untuk tetap memelihara keunggulan kompetitive terhadap negara dan kekuatan militernya yang mengancam keamanan suatu aktor.

[25]Reorganisasi menurut kamus umum , bisa disebut perbaikan darurat guna mempanjang masa hidup organisasi yang hampir kolaps.

[26]Ibid, halaman 7-10. Patut dipahami bahwa untuk kegiatan reformasi  dan reorganisasi saja sudah membutuhkan bantuan teknik manajemen modern  untuk mengevaluasinya, sedangkan kelanjutan reformasi dan reorganisasi yakni transformasi  lebih banyak lagi membutuhkan teknik yang agak rumit untuk mengukur performa dan evaluasi yang lebih signifikan (portofolio manajemen dan analisisnya) yang didukung dengan produk intelijen yang lebih berkualitas dan jauh lebih dapat dipercaya.A transformation process looks forward to consider the impact of changed circumstances and to discern opportunities to address “what could be.”Debora.G Barger cukup banyak membahas isu revolusi, reorganisasi,reformasi dan transformasi dalamrisetnya tentang RUI.

[27]Barger, Deborah , 2004, “ It is time to Transform, not Reform ,US Intelligence “ SAIS   Review ,24 (1).

[28]Whaley,Kevin.J,Cpt USAF,Thesis AFIT (Air Force Institute of Technology),Master of Science (MS) in Operations Research,March 2005,  “A Knowledge Matrix Modeling Of The Intelligence Cycle“, halaman 2-5.Lima (5) kelas ini disebut skala Kent.

[29]Ibid, halaman 10. Konsep seperti ini lebih banyak  menggunakan konsep Bayesian  (conditional probability).

[30]Steele,Robert.D,US Army War College,Feb 2002, “The New Craft Of Intelligence:Achieving Asymmetric Advantage In The Face Of Non-Traditional Threats“, halaman 40.

[31]Van Cleve,Michelle.K,NDU(National Defense University),April 2007,”Counterintelligence and National Strategy”, hal 3.

[32]Ibid, …dan diluar “ mimpi buruk “ ini semua disadapnya pembicaraan tlp atau HP merupakan isu ter-dadaknya bagi operator LI.

[33]Office of the Director of National Intelligence, USA, October, 2005, “ The National Intelligence Strategy of the USA ; Transformation through Integration and Innovation “,halaman 4…..ada kepentingannya yakni mencapai obyektif  “ enterprise “. Enterprise sendiri didefinisikan sebagai sesuatu yang berkaitan dengan kapasitas untuk memelihara keunggulan kompetitive terhadap negara dan kekuatan militernya yang mengancam keamanan suatu aktor negara. Selanjutnya halaman 5, …sedangkan obyektif “enterprise” … adalah transformasikan kapabilitas kita lebih cepat dibandingkan pertumbuhan ancaman itu sendiri, lindungi apa saja yang harus dilindungi, dst…ada 10 item yang harus dilakukan guna mendukung obyektif “ enterprise” , dua yang teratas adalah : 1.Build an integrated intelligence capability to adress threats to the homeland, consistent with US Laws and the protection of privacy and civil liberties. 2. Strengthen analytic expertise , methods, and practices ;tap expertise wherever it resides ; and explore alternative analytic views. Sementara kata enterprise tetap digunakan mengingat padanan arti dalam kontek intelijen belum ada.

[34]Perhatian dalam ranah strategi selalu diikuti kata nasional bukan negara , karena  yang diproses (subyeknya) lebih ke nasional bukan lagi negara, misal strategi intelijen nasional (national intelligence strategy), analog dengan strategi keamanan nasional,strategi militer nasional,dll.

[35]Dipercayai bahwa divisi Sigint,Komint dan Elint  negara-negara  tetangga kita hampir pasti mahir berbahasa  Indonesia bahkan sangat bisa jadi dengan slenk-nya mereka mahir, kasus tersadapnya pembicaraan Pres RI dan Ibu negara dan ini juga diyakini sdh dilakukan semenjak divisi itu berdiri.

[36]Beth J. Asch, John D Winkler, RAND, 2013, “ Ensuring Language Capability in the Intelligence Community : What Factors Affect the Best Mix of Military , Civilians, and Contractors “, Summary , halaman xi. Pernahkah pembaca menonton film Mariniryang mendarat di Tarawa, dan kepulauan berikutnya menggunakan bahasa taktis, yakni bahasa terbuka suku Indian Navayo ? Pikirkan dg disadapnya (sigInt) pembicaraan tlp/hp Presiden RI dan Ibu negara oleh negara tetangga, bukankah ada indikator kuat bahwa divisi umum “classified sources” dan divisi Elint dan SigInt intensif bekerjanya dan tentu saja operatornya akan mahir berbahasa Indonesia bahkan dgn dialek Jakarta ? Bagaimana dengan negara tetangga lainnya yang sangat boleh jadi berkolaborasi satu sama lainnya, baik karena sesama ex didikanInggris , satu dgn radar air surveillance-ya, dan satu dgn radar surface surveillancenya ?

[37]Bahkan bisa saja langsung kirim  DMPI (desired mean point of impact) ke kokpit pesawat tempur , dan  pesawat tinggal menunggu “positive command”untuk menembaknya —  masalah effisiensi, perhatikan garis putus putus C.

[38]Performa lembaga Intelijen secara umum adalah bagaimana meniadakan kejutan (surprise ) yang dilakukan “ kandidat “ lawan ” atau si pengancam . Kalau suprise dipegang mereka maka KI boleh dinyatakan  tidak sukses (atau “kecolongan”) .

[39]Definisi Strategi yang merupakan kumpulan dari means,ways,dan ends ,merupakan arah kebijakan yang memanfaatkan instrumen kekuatan nasional yang terpilih (PEM,atau DIME atau MIDLIFE), yang lebih penting lagi selain konsep strategi  itu dgn kejelasan, siapa dan apa itu means, ways, dan ends, serta pemangku strateginya. Misal : siapa lagi pemangku strategi ekonomi nasional kalau bukan MenEko,dst. Cermati bahwa kata akhir sesudah strategi adalah nasional bukan negara. Negara adalah simbol fisik, sdgkan nasional adalah simbol fisik negara  + sistem nilai.

[40]Defense Inteligence Strategy, DoD, 2008, halaman 7.

[41]JCS, 2004, National Military Strategy of the USA, 2004, “ A Strategy for Today ; a Vision for Tomorrow “, halaman 2 .

[42]Periksa naskah strategi  dalam QD  yang pernah terbit (model Lloyd & Lorenzini) dan membahas kepentingan naisonal serta strategi  nasional,  akan diawali dengan blok kepentingan nasional sebagai acuan bermanajamen nasional  seluruh elite bangsa.

[43]Defense Inteligence Strategy, DoD, 2008, halaman 8.

[44]Treverton, Gregory.F and  Gabbard,C.Bryan, RAND, 2008, “ Assesing the Tradecraft of Intelligence Analysis “,  Summary, halaman xi.Treverton menyebutkan adanya dilemma bagi analis untuk membangun perangkat analisis yang lebih baik, namun mereka terkendala untuk bisa memasteri suatu perangkat baru yang lebih akurat dan cepat, lain lagi dengan para analis muda, yang punya latar belakang teknik rekayasa, system thinking, computer dan operasi riset , mathematik dan statistik, economics engineering, social engineering,dengan ketrampilan seperti ini sepertinya generasi ini jauh lebih mudah ditata dan melakukan bentuk kajian (model) yang lebih akurat . Perbedaan seperti ini dipastikan akan menimbulkan konflik perilaku organisasi yang serius dinegara berkembang yang mungkin masih  sarat dengan kultur dan kepemimpinan feodalisme. Kalau memang generasi baru sebagai analis dilembaga Intelijen nasional bisa memasteri profesinya dengan cepat karena latar belakang pengetahuan dan pendidikan yang diperolehnya (computer,ops riset, sistem rekayasa, matematika dan statistik, dll) mampu menunjang pembuatan suatu model , maka bisa disimpulkan bahwa sistem pendidikan nasionalnya jauh lebih baik, bandingkan saja dengan hasil survei (kalau memang benar, mdh-2 tidak) anak Indonesia yang menduduki ranking terbawah dibidang sains, dan matematika .

[45]Sistem sandi dengan kombinasi yang cukup rumit masa PD-II pun dgn mudahnya dibongkar dgn cara manual, apalagi sekarang dgn bantuan komputer yang berkekuatan dan proses kecepatan tinggi, tdk ada kesulitan sama sekali membongkar sandi tersebut, setidaknya setidaknya akan didapat posisi platform pemancar dgn berkolaborasiyakni cara “cross-bearing”.

[46]Barger, Deborah.G, RAND, 2005,  “ Toward a Revolution  in Intelligence Affairs “, halaman 134. Salah satu yang disebut sebagai hasil eksperimen terus menerus (bukan contoh bentuk retorika dinamisasi organisasi,pen) contohnya terbentuknya tampilnya CIA dan NSA. Dinamisasi akan berjalan baik dengan cara fusi atau terintegrasi dengan lingkungan luar dan akademisi serta hadirnya faktor keterbukaan. Faktor penting lainnya adalah dukungan anggota perwakilan ikut berperan besar karena menyadari dan memahami betul untuk apa dipilih transformasi.

[47]in this RAND project , we sought to review, asses, and make recommendations about the Intelligence Community’s priorities forresearch and development and training and education that might lead to better analytic capabilities in the future

[48]Connable, Ben , RAND, 2012, “ Military Intelligence Fusion for Complex Operations, a New Paradigm “, halaman 5. Pendekatan fusi memang cocok untuk menghasilkan kapabilitas dan intensi “musuh” untuk kepentingan indikasi dan problema peringatan dini atau langsung adanya serangan konventional lawan (Menjadi tantangan besar bagi analis Intelijen untuk trampil dengan berbagai model analisis intelijen). Tetapi teknik ini tidaklah cocok sama sekali untuk menjelaskan isu COIN (counterinsurgencies)  yang lebih kompleks. Contoh proses fusi (penggabungan) dapat dijelaskan dalam figur sebagai berikut :

12

Hint:kolom kiri merupakan sumber (source) — Humint=human Intelligence,Sigint=signal intelligence,Imint=Imagery intelligence, Massint=measurement intelligence, Geoint=gographic Intelligence. Muatan informasi masing-masing sumber akan bermuara melalui proses fusi dan bergabung (fusi) menjadi suatu produk kapabilitas lawan dan intensinya.

[49]Pernin, Christopher G, et-all, (3 persons), RAND , 2007, “ The Knowledge Matrix  Approach to Intelligence Fusion “ , Summary, halaman ix.

[50]…….Transformation of the Intelligence Community will be driven by the doctrinal principle of integration. Our transformation will be centered on a high – performing intelligence workforce that is: [1] Result focused [2] Collaborative [3] Bold [4] Future – oriented [5] Self – evaluating [6] Innovative . These six characteristics are interdependent and mutually reinforcing. They will shape our internal policies,programs,institutions, and technologies.

[51]Barger, Deborah , 2004, “ It is time to Transform, not Reform ,US Intelligence “ SAIS   Review ,24 (1).

[52]Bagi suatu Lemdik (contoh, bisa dianalogkan dengan unit lainnya yang berkarakter sama,beda karakter akan beda performanya), menjalankan orgaspros ataupun tupoksi tidaklah terlalu sulit, masalahnya akan lain seandainya ditambahkan parameter performa yang harus dicapai , misalnya bagi Perguruan tinggi, atau Lemdik TNI, dengan dicantumkan tambahan kalimat performa sebagai muatan dalam orgasprosnya a.l(misal) : 1. Kenaikan jumlah kelulusan dengan catatan ada kenaikan signifikan jumlahnya dari tahun ketahun yang bisa diberikan merits terbaik, 2. Kenaikan jumlah instruktur yang bergelar S-2/S-3 dengan latar belakang keilmuan yang sesuai,tidaklah tepat bila lulusan S-3, atau S-2 peminatan Sejarah mengajar Mathematik, 3. Kenaikan signifikan jumlah dosen/instruktur yang semakin berkualitas dari tahun ketahun, 4. Kenaikan jumlah dan kualitas buku-buku referensi yang jauh berkualitas dan terbaru, 5. Kenaikan jumlah tulisan kertas karya, paper, taskap,dll yang masuk dalam journal nasional bahkan internasional dalam kurun waktu 10 tahun belakangan ini, 6. Kenaikan jumlah taskap,kertas karya, thesis, dll, yang sangat berguna atau dilanjutkan sebagai topik riset bagi Angkatan, 7. Rasio dosen berkualitas dengan yang tidak , dll, dan seabrek lagi ukuran performa yang bisa dituliskan. Bukan diukur dari pencitraan seperti pembangunan joglo, ruang rapat, tempat olahraga, dll. Semua ini akan menjadi suatu pekerjaan yang serius, berat dan membutuhkan kepemimpinan yang bertalenta untuk mencapai performa seperti itu, yang dikualitaskan bukan alut sistanya saja, namun kesemuanya (total quality), kalau memang baik, kenaapa tidak dicoba ?

0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Scroll to top
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x
Share via
Copy link
Powered by Social Snap