Intelijen: —“Taboo” dan Beberapa Pendekatan Terkinikan?

Intelijen[1]: —“Taboo” dan Beberapa Pendekatan Terkinikan ?

                                                         Intelligence is now no longer a forbidden subject…[2]

Oleh: Budiman Djoko Said

Pendahuluan

Bergabungnya organisasi terrorisme dan kriminal lain, global dan transnasional ditambah rapuhnya (fragility) rantai pasokan serta penyakit bisa menjebak negara[3] dalam isu keamanan yang serius. Sekarang; pemimpin, elit, negarawan dan militer mencari jawab agar tantangan tersebut bisa dipahami dan diatasi. Bocornya rahasia dan kegagalan negara mengatasi terrorisme dan radikalisme, membuat intelijen bukan lagi “taboo”. Intelijen bukan lagi dominasi militer yang kapabel melakukan kontrol produk intelijen. Performa intelijen dipertanyakan dan menjadi subyek (skandal) manuevra ancaman serta subyek penelitian akademik dan riset. Di-ikuti meningkatnya debat publik terbuka tentang intelijen dikaitkan tata-kelola pemerintahan yang berjalan[4]. Sulit menolak hadirnya isu keamanan yang mengglobal, regional, lokal dan aspek ekonomi, kesehatan, sosial, dll, dan memberikan dampak sama halnya dampak perang konvensional antara unit militer-ke-militer[5].

Aktor pengancam, operator dan mekanisme kerja ancaman sulit di-kontrol oleh pemerintah—penting ada kejelasan unit lawan kejahatan (counter-threats) yang dikontrol pemerintah. Negara atau pemerintah[6] harus melawan dan belajar dari situasi yang kompleks serta tidak pasti—membangun strategi intelijen nasional. Pengetahuan intelijen menjadi kritis untuk membangun profesionalisme dan memahami perilaku ancaman. Ihwal keluhan Sherman Kent, ilmuwan dan pionir intelijen AS; 50 tahun lalu tentang  minimnya literatur intelijen professional[7], melemahkan respons ancaman dan pengetahuan modern bagi operator intelijen. RI sebagai pemilik domain maritim yang begitu luas menuntut konsekuensi hadirnya profesionalisme unit intelijen maritim[8]. Guna mendukung strategi pertahanan maritim dan strategi nasional ‘tuk keamanan maritim (maritime’s homeland security) agar mempersempit akses keluar/masuk domain maritim RI dan memitigasi isu keamanan dan keselamatan maritim. Dibutuhkan juga bagi Strategi pertahanan maritim sebagai rujukan kekuatan maritim (Angk Laut) versus aktor negara di-domain maritim dan strategi nasional ‘tuk keamanan maritim menjadi rujukan Bakamla[9] versus keamanan dan keselamatan maritim, periksa gambar dibawah ini.

 

Hint: duo kekuatan yang hadir di-domain maritim bisa saling membantu, misal: Coast Guard menjadi kekuatan maritim cadangan diwaktu perang dan sebaliknya Angkatan Laut bisa membantu Coast Guard dimasa damai apabila diperlukan.

Duo strategi diatas menjadi pengawal utama proses berjalannya “policy”, “strategi” dan “operasional” (necessary condition) yang di-amanahkan kantor Menko maritim menuju “terwujudnya” negara maritim RI.

Pengetahuan dan pembelajaran serangan mendadak (surprise)  

                                                       — Knowledge, if it does not determine action, is dead to us [10].

Risiko secara umum dapat diformulasikan sebagai berikut:

—- Risk = (threat + vulnerability) – capability [11].

Besar-nya ancaman, kelemahan penduduk, dan lemahnya kapabilitas pemerintah memperbesar risiko. Risiko bisa dikontrol pemerintah melihat formulasi di-atas dan sukses yang dramatik adalah pendadakan. Kegagalan intelijen di-artikan gagal menatap tantangan analitik, organisasi, dan pemberian informasi awal—gagalnya kepemimpinan kebijakan publik[12]. Di-era tradisional variabel risiko jarang di-diskusikan atau bisa jadi risiko termasuk “taboo” yang tidak boleh diketahui umum. Sukses/gagalnya suatu kegiatan mudah ditunjukkan dengan rasio biaya yang telah dikeluarkan dengan output/outcome atau effektifitas yang dihasilkan. Mengontrol risiko adalah kesadaran (awareness) melalui analisis berbasis pengetahuan dan ketrampilan modern.

Analisis adalah suatu fondasi seluruh proses produksi intelijen menghadapi ancaman. Membuat penilaian (assessment) intelijen strategik adalah kegiatan penting dan memerlukan pengetahuan. Pengetahuan guna menjawab ”apa” respon terbaik atau saran peringatan/antisipasi yang di-keluarkan pengambil kebijakan. Pengetahuan diharapkan bisa mengatasi “cerdik”-nya operator pengancam dalam situasi komplek bahkan kaos. Biaya pengetahuan ini merupakan biaya relevan (relevan costs) dan ini sangat mahal. AS membayar “biaya” intelijen berlipat kali biaya pertahanan dan Inggris membayar jauh lebih banyak dibandingkan ongkos diplomasi. Biaya menjadi jauh lebih mahal, mulai dari computer super canggih dengan proses ber-kecepatan super tinggi dan penginderaan satelit serta model monitoring elektronik miniatur. Begitu pentingnya intelijen sehingga pantas menjadi salah satu elemen instrumen kekuatan nasional (MIDLIFE)[13]. Semenjak tugas intelijen untuk memperoleh informasi sedini mungkin, maka kegagalan terbesar adalah ketidak mampuan membaca “lawan” melakukan pendadakan dan ketidakmampuan pemerintah melindungi warga sendiri. Intelijen bukanlah tipikal sain yang memiliki methoda berfikir yang andal—wajar kalau intelijen berpeluang gagal dari waktu ke-waktu[14].

Maaf untuk membaca full akses konten dalam format post artikel silahkan terlebih dahulu mendaftar sebagai anggota milist FKPM –> D A F T A R

0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Scroll to top
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x
Share via
Copy link
Powered by Social Snap