K2 sebagai komando & kontrol atau komando & kendali?

One of the least controversial things that can be said about command and control is that it is controversial, poorly understood, and subject to wildly different interpretations [1].  Command and control (C2) is the means by which a commander synchronizes and/or integrates force activities in order to achieve unity of effort [2].

 

Pendahuluan

Kegiatan K2 (komando & kontrol) [3] atau K3 (bila ditambah komunikasi) [4]. K terakhir sebagai asset teknology yang menambah metrik, value atau view K2 sebagai system. Idem dengan K3I [5], K3ISR atau bahkan K4ISR. Isu K2 di-besarkan dan populer di-lingkungan militer maupun non-militer. Organisasi [6] (sipil atau militer) adalah suatu system yang membutuhkan kontrol terhadap individu dalam proses mengejar kepentingan organisasi sesuai keputusan dan “apa mau-nya” (goals) pemimpin-nya (pemilik Command/Komando). System kontrol membutuhkan prosedur, aturan main atau hukum untuk melakukan proses mengejar (pursue) tercapainya keinginan “boss” pemegang (system) komando (pemilik keputusan, pemegang kendali).

K2 menghasilkan produk informasi bagi Komando untuk memilih (alternatif) keputusan. K2 dari perspektif pengambilan keputusan adalah suatu proses identifikasi dan memilih cara bertindak (course of action) dan solusi yang lebih menguntungkan [7]. Bagi KemHan, hal ini sangat vital mendukung suksesnya ops militer—tantangan terbesar mendukung operasi militer gabungan mendatang. Komentar Sweeney…tidak ada satu-pun peperangan yang tidak membutuhkan K2. K2 tidak pernah bekerja sendiri dan sanggup menghancurkan sasaran. Kampanye militer tanpa K2 tidak ada artinya—K2 menjadi desain penting dalam arsitektur pos komando militer, sipil atau posko opsgab sipil-militer. Study tentang K2 mirip dengan siklus pengambilan keputusan, diawali dari observasi–orientasi-keputusan-aksi. Urutan K2 bahkan aliran system dukungan pengambilan keputusan (DSS)[8]—sebagai OODA-loop, periksa gambar dibawah [9]:

Gambar no.1. OODA loop.

 

Aplikasinya (contoh)[10]; temukan situasi baru (observasi)—temukan gambaran operasional  (orientasi) yang lebih baik—tetapkan keputusan (decide)—aksi (acts). Stigma kontroversi dan rendahnya pengertian tentang desain K2 sendiri—mendorong memahami apa itu K2 lebih dalam.

 

Pentingnya memahami K2

Command and Control (C2) systems are the tools employed by military commanders to manage the forces assigned to them in accomplishing an operational mission. They are an integral and essential part of any commander’s assigned force  encompassing all functions within the force. Command and control is not one word [11]. C2 (dan MOE-nya) are required to measure and evaluate the operation and performance of C2 systems in a combat context [12].

 Jargon K2 dari Jomini tahun 1838 menjadi populer ditahun 1964, ketika Pres Truman memberikan instruksi kepada Jend MacArthur untuk mengambil alih komando dan kontrol seluruh kekuatan militer. Komando (command)[13] melekat secara antropomorpisasi (anthropomorphized)[14] atau melekat dengan perilaku kewenangan komandan. Karena itu sentra studi K2 adalah komando dan kontrol tentunya. Meski awalnya mendalami isu komando saja, berkaitan dengan komando, ke-komandanan, dan apa yang harus diselesaikan atau lebih disiplin lagi seberapa jauh harapan atau capaian melalui komando yang bisa didapat atau yang harus diperbaiki merujuk capaian tersebut—domain komando. Alberts, et-all, mulai melacak studi K2 era Napoleon dengan kredit staf komando yang modern sebagai subyek studi [15]. Studi tentang komando dipahami sebagai suatu perintah atau keinginan Komandan (baca: kendali, kewenangan, keputusan) untuk di-teruskan, di-terjemahkan, di-monitor dan di-evaluasi terus menerus oleh si-kontroler.

 

Komando adalah kewenangan yang diberikan [16] pada seorang komandan (militer) untuk di-jalankan unit hirarkhis dibawahnya. Komando merupakan perintah, instruksi atau semacam itu (kendali, pen) dan format keinginan untuk di-patuhi dan di-laksanakan melalui kontrol [17]. Kewenangan kontrol adalah sebagian kewenangan seorang Komandan (kendali) [18]—kontrol tidak bisa menggantikan komando. Hadirnya teknologi abad 21, memaksa konsep K2 harus mendemonstrasikan “harga” kapabilitas K2 untuk ditampilkan. Misi militer dewasa ini berbeda dengan misi tradisional, kuantitatif maupun kualitatif. Selain kompleks, dinamik, di-tuntut kapabilitas dan upaya lebih kuat dibanding misi tradisional dengan platform centric warfare-nya. Model K2 yang baik selain bisa menjawab pertanyaan diatas juga menjadi basis desain informasi superioritas. Superioritas adalah fondasi peperangan jejaring sentrik (network centric warfare) yang sangat mahal [19], baik perangkat lunak, keras, maupun agilitas informasinya, seperti dibawah ini [20].

Gambar no.2 . Kerangka konseptual peperangan jejaring sentrik.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Hint: impetus, di-karenakan posisi harus berstatus sebagai pemilik informasi yang superior dan di-dukung indikator tiga (3) dimensi informasi yakni relevan, akurasi dan waktu yang singkat [21].

 

Gambar no.3 (bawah) mendemonstrasikan K2 sederhana namun lebih berbasis kognitif dan konseptual (menjawab cara berpikir kita) dengan sentra komando dan kontrol. Model tidak harus menjelaskan sempurna, namun bisa mendemonstrasikan apa yang terjadi dalam ikatan K2 ini? Model konseptual relatif mirip dengan model mathematika atau simulasi yakni studi yang melibatkan blok atau bagian seperti variabel dan hubungan antar variabel, seperti dibawah ini. Intinya, elemen minimum esensial K2 adalah komando, kontrol dan dua (2) himpunan kapabilitas (pendingin & pemanas), sasaran/obyektif (ruangan), lingkungan dan sensor (thermostat). Model menggambarkan bahwa kendali ditangan”komando” bukan si-”kontroler”. Kontrol adalah salah satu elemen penting dalam gambar, signifikan menunjukkan fungsinya bukan sebagai kendali. Lain dengan pemegang blok “komando” (dibelakang control) yang jelas berbeda jauh fungsinya. Atkinson & Moffat menyebut signifikan berbeda; kontrol adalah fungsi aturan main, waktu dan lebar frekuensi dan komando adalah fungsi kepercayaan, kesetiaan, dan agilitas [22]. Kontrol tidak bisa bekerja tanpa kendali “komando” à kendali melekat dalam “komando”.

    Gambar no.3 . Elemen minimum esensial sebagai kontrol suhu ruangan [23].

 

Alberts menegaskan, … the word “control” is used here in its traditional sense: is a set of actions taken to create an effect or achieve a desired outcome—outcome disini adalah temperatur ruangan yang terjaga sesuai perintah [24]. Kontrol berfungsi menterjemahkan muatan Komando untuk mengatur temperatur dengan suatu formula yang di-terjemahkan dalam program algoritmik oleh sang “kontroler”. Turun naiknya temperatur di-pengaruhi lingkungan; di-monitor sebagai sasaran dan di-stabilkan bila melanggar tetapan temperatur. Gambar no.4 memperjelas kualitas komando, setelah di-uraikan via fungsi komando dan di-jabarkan kedalam kualitas masing-masing fungsi komando-nya [25] (parameter kualitas—kolom kanan):

Gambar no.4. Kualitas komando

 

 

 

 

 

 

Gambar no.5 memperlihatkan bila blok komando & kontrol dipisahkan nampak berbeda fungsi komando (plus domain-nya) dan kontrol (kolom paling kanan) [26]. Model memperlihatkan harmonisasi dan fleksibelitas komando dan kontrol (anak panah dari kontrol ke-komando). Model memperlihatkan keberadaan control sebatas tidak langsung terhadap domain komando (tanda titik titik ke domain). Hadir empat (4) domain peperangan dalam fungsi komando, yakni social, kognitif, information, dan phisikal [27].

Gambar no.5. Fungsi komando dan kontrol terhadap domain liputannya.

 

Proses K2 dan interaksi antar dan intra individual menjadi dasar organisasi dan doktrin di-dalam domain social [28]. Persepsi dan pemahaman tentang status informasi dan sumberdaya di-dalam domain kognitif. Domain informasi adalah aset dan akses informasi maupun distribusi informasinya. Elemen domain physic adalah sensor, systems, platform dan fasilitas yang ada di-dalam. Kontrol meskipun berhak atas liputan domain yang sama, namun tingkat kewenangan-nya berbeda. Kontrol memperoleh kewenangan (kendali) sebatas yang diberikan komando (garis putus-putus—ditetapkan/designated), tidak mutlak dan “bukan kendali”. Manajemen tempur lebih mempertanyakan isu kualitas bahkan kapabilitas (plus kelemahannya), sebagaimana isu kualitas masing-masing blok (command, control, sensor, target, dll), dll.

Model dikembangkan (gambar no.6) guna menjawab pertanyaan itu [29]. Blok di-kembangkan (garis putus-putus) guna menjawab demonstrasi system nilai. Blok komando (misal) menjawab—kualitas (parameter penilaian, laporan, monitoring).

 

Gambar no.6. Model yang dikembangkan dengan system nilai (performa, kualitas).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sasaran (dhi: environtment) menjawab dengan kualitas dan effektifitas missi yang dijalankan. Parameter kualitas bisa lebih dari dua (2) variabel. Model dikembangkan guna memperkaya (rich pictures) konsep dan berakhir dalam desain teknis nanti. Gambar no.7 merubah system heating & cooling (gambar no.6) di-ganti dengan blok perilaku (behavior). Beralasan blok ini sebenarnya mencerminkan perilaku yang dikontrol oleh blok kontrol. Komponen penting dalam model adalah penilaian (assesment mission effectiveness—pojok kanan) berkaitan erat dengan produk effect operasional nantinya (EBO/effect-based operations)—sesuaikah dengan MOE. Kontrol dalam model mencerminkan fungsi-nya terhadap perilaku proses agar menghasilkan effek (versus sasaran/musuh) yang di-harapkan (MOE) sesuai rencana operasi (RO) [30]. Ukuran yang didapat (berbasis MOE) [31] adalah dampak relatif terhadap sasaran yang bisa dicapai atau di-inginkan (expected).

Gambar no.7. Modifikasi blok proses menjadi perilaku (behavior).

 

 

Membangun (umum) ukuran effektifitas (MOE) [32] … dan untuk K2 ?

Command and control is the process of and the means for the exercise of authority and direction by a properly designated commander (siapapun—pemegang komando) over assigned forces for the accomplishment of the commander’s mission[33]… (from means to ends state, pen). DoD describes MOEs as “tools used to measure results achieved in the overall mission and execution of assigned task”s,  which is fine as far as it documents (no paragraph) completed tasks and missions. In testimony to the U.S. Senate, Joseph A. Christoff, Director of International Affairs and Trade, argued that a report based on a number of completed missions in Iraq do not accurately reflect progress toward mission goals.[34] (sukses suatu operasi/kegiatan bukan dikarenakan jumlah operasi, namun seberapa jauh dampaknya/manfaat (yang didapat) terhadap lawan/sasaran dan seberapa jauh dukungan anggarannya).

 

Isu klasik seperti kekuatan militer dibahas dengan phrasa kualitas atau kuantitas. Kuantitas bicara jumlah, dan kualitas bicara dalam dimensi parameter (dp) seperti kecepatan, aksi radius, jarak tembak maksimum, dll. Meskipun DP; sama sekali bukan cerminan kapabilitas (kemampuan). Isu kapabilitas lebih ribet, lebih ke harga capaian atau sukses sista bila berdampak terhadap lawan atau sasaran—bukan sekedar bisa mengalahkan saja. Mengalahkan dengan ukuran seberapa jauh (dampak dan keyakinan) terhadap musuh…dan berapa konsekuensi sumber daya (dan anggaran) yang sudah digunakan untuk melaksanakan opsi ini? Contoh, bila negara Z menjadi musuh (dalam scenario berkategori—most likely) bagi A dan kedua-nya (hanya) memiliki jenis korvet sebagai platform utama di-laut. A dengan k Korvet, dan Z dengan n Korvet, bila k > n—negara A memenangkan pertarungan dilaut…dengan peta ini yakinkah publik percaya? Korvet negara A atau B memiliki abilitas (kesanggupan—sanggup menembak lawan; bukan kapabel)[35] yang sama—negara A berpeluang untuk memenangkan “duel” dilaut [36]. Kapabilitas (baca kemampuan) terukur dengan ukuran yang di-desain terhadap sasaran atau musuh dengan harga probabilita kena Meriam Korvet tersebut—cukup “fair” bukan? Keabsahan ukuran sukses atau capaian system tersebut di-ukur terhadap sasaran atau lawan, bukan di-berikan pabrik yang merancang desain awal (misal kecepatan tembak, aksi radii, dll).

 

Konsep ini berkembang menjadi standar ukuran sukses atau pengukuran capaian efektiftas (atau suksesnya)—MOE (quantitative) measures of effectiveness. MOE usai PD-II, dalam publikasi grup evaluasi operasi “Methods of Operation Research” [37] adalah…“The measure of effectiveness is the criterion by which solutions will be judged –proposed solutions, solutions under test, or solutions in being”. Berkembang menjadi can be defined as a measure of the extent to which a system maybe expected to achieve a set of specific mission requirements”—dampak terhadap lawan (DP seperti: kecepatan, aksi radius, jumlah peluru, dll, tidak berpengaruh terhadap musuh)[38]. WSEIAC & Ackoff sepakat definisi effektifitas sebagian besar adalah probabilita [39]. Kapabilitas sebenarnya adalah tetapan MOE setelah di-uji dan berapa “outcome” (hasilnya) [40]. Bila ditetapkan (MOE) bagi platform Korvet (misalnya) adalah probability of submarine detection (versus kapal selam diesel elektrik) [41] dan melalui riset lapangan atau simulasi ditemukan sebesar .56—itulah harga kapabilitas deteksi-nya (bukan jarak maksimum sonar, phrasa ini adalah abilitas bukan kapabilitas). Contoh dibawah, tetapan MOE yang digunakan beberapa alut sista (kolom kanan), dengan kolom kiri adalah jenis platform-nya yang akan diukur: Pesawat, Destroyer, MAD dan Sonar.[42]:

Tabel no.1a. dari platform-missi-kriteria sukses-dan MOE

 

 

 

 

 

 

Contoh berikut adalah platform MAD dan Sonar, missi-nya adalah investigasi kontak, dan masing-masing kriteria sukses, baru terdefinisikan tetapan MOE-nya. MOE adalah bentangan (range) pengukuran sejauh mana suatu system telah mengerjakan tugas dengan baik. Misal: untuk mengevaluasi performa deteksi sebuah sensor, maka MOE-nya adalah bentangan probabilita deteksi sebagai fungsi dari jarak sasaran (harga probabilita per setiap jarak tentu berbeda)[43].

Tabel no.1b. uraian platform-missi-kriteria sukses-dan MOE

 

 

 

 

 

Bisa saja MOE dipahami dalam bentuk produk rangkaian. Misal: rangkaian serangan/tembakan berawal dari deteksi (probabilita deteksi)—lokalisasi & posisi (probabilita lokasi given deteksi)—klasifikasi (probabilita klasifikasi kapal selam)—penembakan (probabilita kena given bisa menembak)—menghancurkan diketahui (given) sasaran sudah dikenai tembakan (kill given hit, artinya bisa kena/hit tapi tidak menghancurkan atau penilaian kerusakan-nya/damage assesement rendah). Semuanya dihitung sebagai satu produk MOE. Contoh (konsep di-atas) berlaku pada tingkatan taktik. Sedangkan pada tingkatan satuan atau kekuatan (force level) berbeda dan terminology MOE disini menjadi MOFE—measures of force effectiveness. Pengeboman dari udara, MOEnya adalah harga probabilita lingkaran kesalahan—dalam bentuk jari jari lingkaran, makin kecil jari-jarinya semakin bagus MOE-nya [44]. Contoh MOE dalam komunikasi (berikutnya contoh model MOE untuk K2), bisa ditampilkan sebagai berikut:

Tabel no.2  Versus objective (sasaran) spesifik.

MOE per setiap platform bagi setiap Angkatan dan NATO sudah lama dibakukan. Awalnya MOE digunakan guna mempertajam system akuisisi (pengadaan) dan sebagai bentuk pertanggung jawaban baik buruknya system yang di-adakan saat itu (cost-effectiveness). Analis memandang lebih dari itu, MOE adalah pandangan jangka panjang kedepan, baik desain, konsep maupun operasional suatu platform yang dibangun—force planning. Tabel dibawah ini adalah ringkasan mengukur efektifitas tersebut dari objectifnya (keinginan atau sasaran), dampak dan pengambil keputusan [45].

Tabel no.3.  Dampak MOE terhadap keputusan dan pengambil keputusannya.

 

Terminologi berkenaan pengukuran performa secara umum ada 4 (empat) parameter seperti dibawah ini. Bagi K2, ke-empat-empatnya bisa dilibatkan dalam proses K2, yakni:  a.  Parameter dimensional (atau DP) [46]

  1. MOPs atau measures of performance
  2. MOEs system K2 (measures of effectiveness)
  3. MOFEs system K2 (measures of effectiveness) untuk satuan atau kekuatan (force level)

Ke-empatnya digambarkan dalam satu lingkaran berlapis[47]. NATO mengembangkan empat parameter tersebut menjadi lima dan disebut MoM (measures of merits). Dari lingkaran terdalam, yakni  DP (properties or characteristics in physical entities)—MoP (measures of performance, measures of attributes of internal system behavior)—MoE (untuk isu K2 disebut MOCE—measures of C2 effectiveness atau measures impact of C2 systems)—MoFE (measures of force effectiveness adalah measures of how a force meets mission objcetives)—MoPE (Measures of Policy Effectiveness), periksa gambar bawah [48].

Gambar no.8  Hirarkhis MoM ( 5 bagian).

 

Hint: DP (dimesi parameter, bagian MOE yang terkecil) — MOF — MOFE — MOPE.

Dari fokus, skenario, upaya, dll, di-tabel-kan pengukuran tinggi rendahnya masing-masing elemen merits (MoPE, MoP, dll) di-bawah ini [49]:

Tabel no.4.  Fokus, skenario, kebutuhan upaya, impak, dll, dihubungkandengan MoM.

 

Valdur Pile mengungkap, bahwa; [50]; [1] No single measures or methodology exists for assessing overall effectiveness of C & C (command & control), [2] A multi-method, multi-phase approach is necessary.

 

Aplikasi K2 dalam peperangan-peperangan atau ancaman.

Command and control (C2) increasingly being recognized as an area of critical importance in the design of military   organizations[51]. Compared to the traditional command and control system, the new characteristics are listed as follows:…Combat spatial perception joint operations system is a Network-centric system, fully integrated with space-based, land-based, sea-based, air-based sensor information system. The “information structure” establishment greatly improves the ability of combat spatial perception, but also requires higher processing capacity of command and control system [52].

 

Bisnis Komandan adalah komando, bisnis staff adalah kontrol. Komando selain pemimpin, juga seniman. Komandan memformulasikan konsep, visualisasi status kedepan, perkiraan risiko dan keputusan. Kontrol, usai menerima komando berperan sebagai ilmu yang memproses keinginan “boss”nya dan kelanjutannya. Kontrol lebih berperan sebagai staff (bussiness staf) [53], seperti di-bawah ini,

Gambar no.9.  Komando sebagai seni versus Kontrol sebagai ilmu .

 

Gambar no.10 menjelaskan perspektif K2 bisa dilihat dari sisi doktrin, policy, dll, sebagai pendekatan atas ke-bawah (dari sisi makro atau strategy—from strategy-to-task). Sedangkan pendekatan bawah-ke-atas digunakan sebagai algoritma evaluasi atau analysis yang diawali dari entitas phisik sampai obyektif (sasaran misi atau goal), seperti dibawah ini[54]:

Gambar no.10. Perspektif K2 dari sisi doktrin, dll (top-down) dengan jenjang evaluasi dari bawah (bottom-up).

 

Sebagai pemimpin atau pengambil keputusan K2 bisa digambarkan dalam model Lawson (Lawson’s laws) seperti gambar bawah:

 

Gambar no.11. K2 dengan pendekatan Lawson’s

Lingkaran disebelah kiri menunjukkan system K2 sebagai “otak” suatu satuan (atau forces), di-hubungkan (beroperasinya) ke-“sensor” (sense) diikuti proses dengan perolehan data dari luar (external data), bandingkan dengan status yang di-inginkan (compare)—putuskan, aksi, dan lapor ke-otoritas yang lebih tinggi. Berikut di-kembangkan model proses konseptual (sesuai pikiran kita) K2, dengan merubah variabel proses sebagai penilaian, dan ketiga varibel lainnya seperti compare, decide dan act menjadi generate, select, plan, dan direct guna memudahkan proses analitik. Gambar no.12 dibawah, masih belum juga memberikan kejelasan tentang K2 bila menghadapi isu ganda (mulitple) seperti anti serangan udara, anti kapal selam, dan anti kapal permukaan, dll secara bersamaan.

 

Dengan arsitektur K2 dalam operasi gabungan yang mengalir seperti gambar no.13 [55]; bisa memodelkan bentuk peperangan ganda di-domain maritim.

Gambar no.13. Bagan K2 Operasi gabungan

 

Tugas utama departemen dalam ops gabungan ini adalah (periksa blok teratas) [56]: intai & intelijen, koleksi data/informasi, situasi lapangan, merancang operasi gabungan dan opsi-nya, mengorganisir operasi darat gabungan, maritim gabungan, dirgantara dan rudal jarak jauh, petunjuk operasi informasi [57], offensif informasi, informasi pertahanan, dan koordinasi operasi lanjutan [58]. Bedanya; blok atas bertanggung jawab tentang operasi dalam bingkai keseluruhan medan tempur, fokus pada perencanaan dan koordinasi serta dinamikanya sedangkan blok bawah pada rincian tugas dan operasional sesuai rencana operasi gabungan [59].  Bagan ini dibatasi pada operasi gabungan satu Angkatan dan konsep peperangan dilihat dari konsep peperangan sentrik platform (PCW—platform centric warfare). Produk teknology baru utamanya kecanggihan dan kecepatan meningkatkan kapabilitas signifikan kekuatan Maritim untuk berkoordinasi tentang aksinya lintas samudra, daratan, udara dan ruang angkasa maupun ruang cyber [60]. Tampil konsep lebih maju (namun lebih mahal)—yakni peperangan jejaring sentrik (NCW—network centric warfare); mengadopsi hadirnya peperangan modern dan terkinikan.

Kedua-nya dilihat relatif dari K2; yakni platform centric warfare—gabungan Angkatan sendiri dengan network centric warfare—dan network centric warfare sebagai kebutuhan gabungan antar angkatan, negara, atau lebih dari itu; dengan syarat kapabel ber-interoperabilitas (system didalamnya harus compatible), periksa gambar no.14 [61]. Teknologi merangsang K2 untuk berbuat lebih jauh, baik jangkauan, entiti bahkan domain yang digarapnya.

K2 dituntut meliput tantangan global yakni mendukung peperangan jejaring sentrik[62].

Gambar no.14. Platform centric vs network centric warfare

 

Hint: kiri bagan peperangan platform sentrik (platform centric warfare)  dan kanan jejaring sentrik (netwok centric warfare).

Di-tingkat nasional desain K2 dalam sistem pertahanan nasional bergantung pada kehadiran skenario pertahanan (fungsi & produk Kemhan) dengan klasifikasi sangat mungkin terjadi (most likely).Gambar di-bawah lebih menjelaskan proses K2 dalam kedua peperangan tersebut[63]:

 

Gambar no.15. Platform vs network cenric warfare dalam bagan proses kontrol (K2) sampai ke sista (weapon system) di area pelibatan.

 

Hint: Proses dari S(ensor) – P(rocessor) – W(eapons) dan keputusan—aksi; dilaksanakan di-area pertempuran B (B= battlespace).  Skenario pertahanan nasional memerlukan konten [64] ancaman dan risiko. Sulit menterjemahkan hanya dari sisi militer atau non-militer, mengingat dunia kontemporer sudah masuk dalam arena hybrid atau ambigu antara militer dan non-militer (aneksasi Estonia, Crimea, Ukraina, Georgia, serta PLAMM) [65]. Tipikal ancaman dengan varian dimensi parameter (DP) bertujuan memetakan situasi kesiagaan (situation awareness) dengan  ukuran probability kemunculan, response (seperti apa) dan kekuatan yang terlatih khusus mengatasinya—peta yang komprehensif. Bentangan potensi ancaman (risiko) menjadi kumpulan entitas tantangan strategik yang harus dihadapi—terrorism global, senjata pemusnah massal, senjata NBCD, cyber, proxy, hybrid, negara gagal, konflik lokal & regional, dan perang antar negara besar. Memaksa peninjauan ulang kebijakan hankam AS dan merubah asumsi sifat ancaman & bahaya dalam sistem internasional [66]. Gambar no.16, ilustrasi elemen kuadran [67] tentang tipikal tantangan yang mungkin muncul dengan harga ancaman. Mulai dari katastropik (I), disruptif (II), tradisional (III) dan tak beraturan (IV). Kuadran di-batasi dengan garis mendatar dan garis tegak. Mendatar adalah bentangan kelemahan maksimum (kanan) dan minimum (kiri) sedangkan tegak adalah bentangan garis yang tertinggi peluangnya untuk muncul (higher likelihood) dan yang terendah.

Gambar no.16. tantangan strategik yang mungkin dihadapi [68].

 

Hint: Kuadran dengan tipikal ancaman. Katastropik (catastrophic) lebih menyedihkan, menyakitkan dan parah dibanding disaster.

RAND Corpt menterjemahkan ancaman dan konteknya yakni kelemahan (vulnerability) dan konsekuensi. Ancaman sebagai skenario terjadinya (probabilita) serangan teroris. Kelemahan adalah harga probabilita sukses serangan (dampaknya) yang dilancarkan teroris tersebut diketahui (given) informasi tentang serangan [69]. Konsekuensi adalah ukuran fatalitas, luka-luka dan dampak ekonomi maupun psikologik di-ketahui (given) serangan teroris sukses di-lancarkan. Risiko adalah kombinasi dari tiga (3) elemen; skenario, probabilita dan konsekuensi (risiko beda dengan ketidakpastian). Skenario adalah urutan peristiwa yang terpisah dan lengkap yang bisa terjadi dalam konteks risiko tertentu. Probabilita mencerminkan kemungkinan (likelihood) munculnya suatu skenario dan kejadian didalam. Konsekuensi (korban, cedera, dampak, dan semacam itu) didefinisikan pada akhir urutan kejadian. Untuk memudahkan fokus tantangan ini peta kuadran dibagi dua (2) bagian besar, kuadran I & IV — global war on terrorism, dan kuadran II & III — major combat operations [70]tergantung produk Dewan Keamanan Nasional dan masukan dari Skenario Kemhan (gambar no.17).

 

Pergeseran ancaman dari kuadran III ke I adalah kecenderungan kontemporer—elemen kuadran III semakin kecil peluang untuk muncul dan bergeser kuat ke-kuadran I. Risiko yang sangat mungkin terjadi adalah terorisme global (kuadran I & IV). Ancaman katastropik (termasuk keluarga bencana, lebih menyedihkan, menyakitkan, dibanding disaster). Termasuk serangan terhadap masyarakat atau simpul kritikal pemerintah[71], keuangan, perdagangan, atau infrastruktur oleh negara sponsor (surrogated, sponsorized), negara “jahat” (rogue), atau aktor teroris non-negara—risiko sulit di-minimalkan apabila probabilita munculnya tinggi dan kelemahan-nya maksimal (most likely).

Gambar no.17. Dua (2) kelompok besar yang diwaspadai

 

Ancaman tak beraturan, di-kuadran IV (irregular threat ßà irregular warfare)[72], derajad  (probabilita) ancaman yang masih di-bawah katastropik. Seperti: terroris, insurjensi (organisasi, individu yang menentang penguasa yang syah) atau agen proksi. Ancaman gangguan (disruptive threat) dengan probabilita hadir lebih kecil di-banding katastrophik, mungkin lebih tinggi karena teknologi atau melalui informasi global dan ruang angkasa atau sista energi terarah (direct energy weapons)[73]. Ancaman tradisional (kuadran III) masih di-tingkat probabilita terendah. Risiko yang sangat mungkin terjadi adalah peperangan global lawan terorisme (kuadran I) dan peperangan tak beraturan (kuadran IV); tergantung produk skenario pertahanan nasional negara.

 

Kalkulasi Ancaman dan Risiko menjadi rujukan strategy dan operasional seluruh instrumen kekuatan nasionalRisk is a function of the values of threat, vulnerability and consequence. The objective of risk management is to create a level of protection that mitigates vulnerabilities to threats and the potential consequences, thereby reducing risk to an acceptable level. Risiko adalah demonstrasi ukuran sekuriti tertentu yang masih bisa ditolerir dan risiko berbeda dengan ketidakpastian [74]. Organisasi sebaiknya memiliki format penilaian risiko guna melindungi aset-nya. Blok dibawah menjelaskan parameter yang dibutuhkan untuk memproses harga masing-masing variabel T, V dan C. Organisasi harus memproteksi (bukan mengamankan saja) aset-nya (utama-nya yang kritikal) terhadap ancaman (T), kelemahan (V) dan konsekuensi-nya (C) di-notasikan R, yakni R (isk) = T(hreat) x V(ulnerability) x  C(onsequences ). Bawah, gambar risiko dan masing-masing variabel (T,V,C) serta parameter dibawahnya [75]. Konsekuensi (severity=menyakitkan) menggambarkan dampak (kotak kanan) riil bila risiko yang diperkirakan muncul atau ada pengeluaran ongkos atau sumber daya untuk memitigasi risiko.

Gambar no.18. Rumusan Risk dengan variabel dan parameternya.

 

….akhirnya [1] masihkah di-sebut komando & kendali (kodal) atau komando & kontrol (kokon) dan [2] berharap PCW atau NCW?… saran; perkuat industri pertahanan dan pendukung. Semoga bermanfaat.

______________________

[1] Maj USMC Michael M. Sweeney, An Introduction to Command and Control, (Thesis US Naval Postgraduate School, MS in System Technology, June 2002), halaman  1.

[2] Bradley Wilson, et-all (9 personnel), Maritime Tactical Command and Control Analysis of Alternatives, (RAND CORPT, 2016), hal 1.

[3] Penulis lebih memilih kata kontrol daripada kendali melihat prasa yang sudah menjadi umum yakni komando dan kendali (KoDal). Sebenarnya hanya dua kata yang menjadi jantungnya yakni komando (command) dan control (control) dalam suatu system atau organisasi yang bekerja. Kontrol dan kendali sepertinya tidak sama. I=intelligence, S=surveillance, R=reconnassaince.

[4] Dr Ricki Sweet, Dr Morton Metersky, Dr Michael Sovereign, Command and Control Evaluation Workshop, (MORS C2 MOE Workshop, January 1985, Naval Postgraduate School), halaman 2 -2… Thus, throughout this report the term “C ” should be taken to mean as broad a concept as is useful for the analysis being undertaken or discussed.

[5] Hadirnya keunggulan teknologi Informasi di abad 21 ini menambah ikatan pengertian K2 menjadi K3I.

[6] Il-Chul Moon, Kathleen M. Carley, Tag Gon Kim, Modeling and Simulating Command and Control; For Organizations Under Extreme Situations, (Springer, 2013), halaman 4.

[7] Scott A. Berg, L.Cdr US Navy; Introduction to Command, Control and Communications (C3) Through Comparative Case Analysis, (Thesis US NPS, MS in System Technology, March 1990), halaman 32.

[8] DSS — decision support system.

[9] National Research Council of the National Academic, USA, Network – Centric Naval Forces; A Transition Strategy for Enhancing Operational Capabilities, (Committee of C4ISR for Future Naval Strike Groups Naval Studies Board, Division on Engineering and Physical Sciences, National Academic Press, Washington, DC, 2000), halaman 57.

[10] OODA – loop akronim dengan langkah pengambilan keputusan cepat (observe-orient-decide-act) dikembangkan oleh penemunya Col USAF John Boyd, periksa: https://www.google.com/search?q=OODA+loop+%2Cthe+founderrlz=1C1CHBFenID793ID793 &oq=OODA+loop%2Cthe+founder&aqs=chrome..69i57.10047j0j8&sourceid=chrome&ie=UTF-8.

[11] DoA (Depart of the Army), Command and control, Measures of effectiveness, Handbook, (Study and Analysis Center, Fort Leavenworth, Kansa USA), C2 Definitions, 2 – 2.

[12] Ibid, halaman 2 – 1.

[13] Terjemahan command sebagai komando.

[14] Anthropomorphized… menggantikan atribut manusia pada yang bukan manusia atau binatang.

[15] David S Alberts & Mark E Nissen, Toward Harmonizing Command and Control with Organization and Management Theory, (CCRP, The International C2 Journal, vol 3, no.2, 2009), halaman 5.

[16] DoD, Dictionary of Military and Associated Terms, (DoD, JP 1-02, 12 April 2001, as amended through April 2010), halaman 86.

[17] Ibid, …. A unit or units, an organization, or an area under the command of one individual.

[18] Ibid, halaman 104, …. control1. Authority that may be less than full command exercised by a commander over part of the activities of subordinate or other organizations…

[19] Lim, Soon-Chia, Lieutenant Colonel, RSAF, Network Centric Warfare: A Command and Control Perspective, (Thesis US NPS, March 2004, MS in Information Technology Management), halaman 9,…“Network Centric Warfare (NCW) is an information superiority enabled concept of operations that generates increased combat power by networking sensors, decision makers, and shooters to achieve shared awareness, increased speed of command, higher tempo of operations, greater lethality, increased survivability, and a   degree of self synchronization. In essence, NCW translates information superiority into combat power by effectively linking knowledge   entities in the battlespace.

[20] Ibid, halaman 10.

[21] Ibid, halaman 10.

[22] David S Alberts & Richard E Hayes, Understanding Command and Control, (DoD CCRP/Depart of Defense Command and Control Research Program, 2006), halaman 20.

[23] Ibid, halaman 20.

[24] Ibid, halaman 20….khususnya penjelasan footnotes.

[25]Ibid, halaman 155.

[26] Ibid, halaman 60.

[27] David S Alberts & Richard E Hayes, Power to the Edge; Command…Control…in the Information Age, (DoD, CCRP), halaman 15.

[28] Ibid, halaman 15.

[29] David S Alberts & Richard E Hayes, Understanding Command and Control, (DoD CCRP/Depart of Defense Command and Control Research Program, 2006), halaman 29.

[30] Memahami konsep MOE akan mudah menjawab … misalnya seberapa jauh effektifitas unit tempur ini, atau pesawat pemburu modern ini , dll…..atau tanpa MOE yang didefinisikan bagaimana bisa menjawab harga effektifitasnya?

[31] Director, Center for Army Lessons Learned, Assesment and measures of effectiveness in stability operations: tactics, techniques and procedures, (Handbook no 10-41, May 10), halaman 6, … Measures of effectiveness (MOEs) are based on effects assessment. Effects assessment is defined as the process of determining whether an action, program, or campaign is productive and persuasive and achieve desired results in stability operations. MOE atau measures of effectiveness…adalah ukuran relatif yang bisa digunakan sebagai standar untuk meyakinkan apakah missi yang dijalankan berhasil atau tidak dengan mengukur tingkat kesuksesannya, misal: kalau sukses seberapa suksesnya atau kalau tidak seberapa jauh gagalnya. Misal: sukses besar bila bisa menguasai 80 % teritori musuh (sesuai RO) dengan kehilangan korban yang jauh lebih kecil dari perkiraan. Atau dalam konsep sista yang sudah melalui T & E (test & evaluation) didapat tabel berapa probabilita mengenai sasaran per sekian jumlah peluru dan lebih bagus lagi ada tabel probabilita kerusakan sasaran diketahui (given) probabilita mengenai sasaran (Bayesian konsep). Ukuran effektifitas yang didapat merupakan kandidat pernyataan kapabilitas (kemampuan) sista—misal:berapa probabilita merusakkan sasaran diketahui probabilita mengenai sasaran adalah ukuran kapabilitas yang dapat dipertanggung jawabkan. Bukan seberapa jauh kecepatan tembak atau seberapa jumlah peluru yang bisa dibawa atau kecepatan maksimum platform atau aksi radii platform, dll yang tidak berdampak sama sekali terhadap sasaran atau musuh—pernyataan ini bukan pernyataan kapabilitas (atau kemampuan) tapi lebih ke abilitas (kebisaan, kesanggupan) saja, pen

[32] JP 1 – 02, Joint Publication, DoD Dictionary of Military and Associated Terms, (JP 1-02. DoD Dictionary of Military and  Associated Terms, 12 April 2001), halaman 293… measure of effectivenessA criterion used to assess changes in system behavior, capability, or operational environment that is tied to measuring the attainment of an end state, achievement of an objective, or creation of an effect…also called MOE….bandingkan dengan cara tradisional yang menggambarkan kemenangan hanya dengan satu standar saja…mengalahkan musuh, titik. Bukankah ada alternatif lain? Misal: 90 % kuasai teritori atau 80%-nya saja (tidak harus 100% terlalu mahal) atau tangkap pemimpinnya saja, dll.

[33] Noel Sproles, University of South Australia, Establishing Measures of Effectiveness (MOE) for Command and Control: A Systems Engineering Perspective, (DSTO, Information Technology Division, Electronics and Surveillance Research Laboratory, March 2001), halaman 8.

[34] Sean P. Sutherland Major, USAF, Measuring Effectiveness In Conflict Environtments, (Thesis NPS, Master of Arts in Security Studies, Sept 2009), halaman 36-37. …. dengan ditetapkannya MOE sebagai suatu standar ukuran effektifitas setiap missi, maka seluruh Angkatan akan menggunakan konsep ini dalam setiap missi-nya. Menurut laporan atau testimoni didepan Senat, bahwa jumlah (seberapapun) laporan missi yang telah diselesaikan tidak mencerminkan (seberapa jauh atau sebenarnya) effektifitas missi yang telah ditetapkan.

[35] Abilitas diterjemahkan kesanggupan saja. Sanggup sesuai desain pabrik, misal Meriam cal 100 mm  (abaikan panjang laras), maka jarakan tembak maksimum bisa (ekpektasi) 10 mil atau jarak deteksi Radar … sekian mil, benarkah itu berlaku umum di-semua kondisi, tidak bukan?—ini bukan kemampuan, baru sebatas kesanggupan bukan? Kesanggupan akan meningkat apabila sudah dilakukan test dan modifikasi atau modernisasi teknologi. Rekayasa (engineering) sederhana bisa dilakukan dengan cara statistik, yakni melatih terus menerus Meriam tersebut sehingga mengetahui berapa harga probabilita kena Meriam (belum probabilita menghancurkan given kena—berbeda) per masing- masing jarak yang bervariasi. Output test, latihan modernisasi dll akan menemukan harga kapabilitasnya dengan memperoleh harga probabilita yang telah diperbaiki dengan cara (missal) memperbaiki tabel penembakan dengan angka koreksi, dll). Harga probabilita yang telah diperbaiki akan menjadi harga kapabilitas (kemampuan) yang sebenarnya yang dimiliki Meriam korvet.

[36] Kesanggupan akan meningkat apabila sudah dilakukan test dan modifikasi atau modernisasi teknologi. Rekayasa (engineering) sederhana bisa dilakukan dengan cara statistik, yakni melatih terus menerus Meriam tersebut sehingga mengetahui berapa harga probabilita kena Meriam (belum probabilita menghancurkan given kena—berbeda) per masing- masing jarak yang bervariasi. Output test, latihan modernisasi dll akan menemukan harga kapabilitasnya dengan memperoleh harga probabilita yang telah diperbaiki dengan cara (missal) memperbaiki tabel penembakan dengan angka koreksi, dll). Harga probabilita yang telah diperbaiki akan menjadi harga kapabilitas (kemampuan) yang sebenarnya yang dimiliki Meriam korvet.

[37] John M Green, Towards a Theory of Measures of Effectiveness (MOE), (NPS, 2002), halaman 2.

[38] Ibid, halaman 2.

[39] Ibid, halaman 3.

[40] Dapat di-notasikan bahwa C (apabilities) = A (bilities) + “ outcome”.

[41] Harus jelas berhadapan dengan siapa, tidak sama semua kapal selam, Korvet kapabel. Versus kapal nuklir penyerang mungkin Cuma kapal selam penyerang nuklir yang terbaik.

[42] J.G. Rau, Measures of Effectiveness (MOE) Handbook, (Operations Research & Economic Analysis Depart, Ultrasystems, Incorporated Irvine, California, August 1974), halaman 3, 4, dst. MAD (magnetic anomaly detector).

[43] J.G. Rau, Measures of Effectiveness Handbook, (Operations Research & Economic Analysis Depart, Ultrasystems, Inc, Irvine, California, August 1974), halaman 6.

[44] Probabilita ini merupakan fungsi ketinggian terbang dan kecepatan pesawat, artinya makin pelan dan makin rendah akan semakin kecil Circular Error Probabilita (atau CEP-nya, dihitung dengan besarnya jari-jari lingkaran kesalahan)…semakin effektif operasi pemboman tersebut.

[45] Dr Ricki Sweet, Dr Morton Metersky, Dr Michael Sovereign, Command and Control Evaluation Workshop,   (MORS, C2, MOE Workshop, January 1985, Naval Postgraduate School), halaman 1 – 11….tambahan isu akuisisi dan procurement adalah isu yang sering dan selalu muncul dalam masalah pengadaan dan negosiasi dengan kontraktor.

[46] Ibid, Parameter dimensional, lebih diartikan sebagai property atau ciri-ciri dari system perilaku seperti berat, kecepatan, ukuran, kapasitas, luminositas, jumlah piksel, aksi radii, dll), …. Dimensional Parameters – Properties or characteristics inherent in the physical entities whose values determine system behavior and the structure under question even when at rest (size, weight, aperture, size, capacity, number of pixels, luminosity).

[47] Dr Ricki Sweet, Dr Morton Metersky, Dr Michael Sovereign, Command and Control Evaluation Workshop, (MORS, C2, MOE Workshop, January 1985, Naval Postgraduate School), halaman 2 – 5.

[48] Valdur Pile, Dr R Hayes & Ms C Wallshein; Measures of Merits (MoM), (Metrics and Experimentation Group Systems of Systems Section  Defence R & D Canada, Valcartier ),  Slide # PR 3 – 8.

[49] Ibid, slide # PR 3 – 11.

[50] Ibd, PR 3 – 26.

[51] Dale F Cooper, et-all, ( 3 personnel ), Dept of Accounting & Management University of Southampton, UK, Models of Naval Command and Control Systems, (European Journal of Operational Research 26 (1986), halaman 217.

[52] Chen-yan Kong, et-all, Effectiveness Evaluation of Command and Control System in Joint Operations, (Science and Technology on Information System Engineering key Laboratory Nanjing, China), halaman 146.

[53] David S Alberts & Richard E Hayes, Command Arrangements for Peace Operations, (DoD,CCRP), halaman 5.

[54] DoA (depart of the army), Command and Control; Mesures of Effectiveness Handbook, (TRADOC Analysis Center, Study and  AAnalysis Center, Fort Leavenworth, Kansas), halaman 2-2.

[55] Chen-yan Kong, et-all, Effectiveness Evaluation of Command and Control System in Joint Operations, (Science and Technology on Information System Engineering Key Laboratory Nanjing, China), halaman 147.

[56] Ibid, halaman 147. Blok atas disebut Departement dari komando operasi gabungan (The Joint Opts Command Dept), sedangkan blok bawah disebut sebagai Military Branches Command Department (land forces, sea/maritime forces, dst).

[57] DoD, DoD Dictionary of Military and Associated Terms, (DoD, as for January 2019), halaman 112…… information operations — The integrated employment, during military operations, of information-related capabilities in concert with other lines of operation to influence, disrupt, corrupt, or usurp the decision-making of adversaries and potential adversaries while protecting our own. Also called IO. See also electronic warfare; military deception; operations security; military information support operations. (JP 3-13), halaman 12. Sedangkan sel-sel operasi informasi yang harus dilakukan begitu banyaknya, periksa bagan di-bawah ini (periksa JP 3 –13, halaman II-6):

 

[58] Chen-yan Kong, et-all, Effectiveness Evaluation of Command and Control System in Joint Operations, (Science and Technology on Information System Engineering Key Laboratory Nanjing, China), halaman 147.

[59] Ibid, 147.

[60] DoA (Depart of the Navy), US Navy Information Dominance Roadmap 2013 –  2018, (Director of Warfare Integration), halaman 7.

[61] National Research Council of the National Academic, C4ISR for future Naval Strike Groups, (Committee of C4ISR for Future Naval Strike Groups Naval Studies Board, Division on Engineering and Physical Sciences, National Academic Press, Washington, DC, www.nap.edu, 2006), halaman 34.

[62] Supaya bisa interoperability, negara harus memiliki industry pertahanan sendiri.

[63] National Research Council of the National Academic, USA, Network – Centric Naval Forces; A Transition Strategy for Enhancing Operational Capabilities, (Committee of C4ISR for Future Naval Strike Groups Naval Studies Board, Division on Engineering and Physical Sciences, National Academic Press, Washington, DC, www.nap.edu, 2000), halaman 27.

[64] Definisi perkiraan (estimate) sebaiknya dengan kalmat peluang yang ada (mulai least likely sampai dengan most likely).

[65] PLAMM artinya kekuatan ketiga satuan maritim yang dikontrol PLAN (Angk laut China) dalam armada kapal ikannya—PLA Maritime Militia dan menjadi salah satu isu sentra di Laut China Selatan.

[66] Nathan Freier,  Strategic Competition And Resistance In the 21 St Century: Irregular, Catastrophic, Traditional, and Hybrid Challenges in Context,  (US Army War Coll, Monograph, May 2007), halaman 1.

[67] Kuadran diberi nomor mulai I, II, III, dan IV. Kuadran I adalah ruang pojok kanan atas, kemudian kebawahnya (kuadran II), bergerak ke-kiri (kuadran III), dan keatas lagi—kuadran IV.

[68] Ibid, halaman 2

[69] Howard Kunreuther & Michael Useem, Learning from Catastrophes: Strategies for Reaction and Response, (Pearson Education, Inc, 2010), halaman 181….semakin sukses serangan berarti semakin lemah yang diserang. Kata diketahui (given) adalah kata kondisional (probabilita yang diperbaiki dengan informasi yang ada sebelumnya—conditional probability).

[70] National Research Council of the National Academic, C4ISR for future Naval Strike Groups, (Committee of C4ISR for Future Naval Strike Groups Naval Studies Board, Division on Engineering and Physical Sciences, National Academic Press, Washington, DC, www.nap.edu, 2006), halaman 20.

[71] Oleh karena itu hasil format penilaian asset akan muncul daftar asset nasional yang kritikal menjadi subyek yang diproteksi dalam program nasional yang disebut CIP (critical infrastructure protection, benar benar melindungi asset nasional yang kritikal, bukan lagi mengamankan), bagi kita (mungkin) relatif sama dengan pengamanan obyek vital ( Pam Obvitnas?,pen).

[72] Peperangannya disebut pep tak beraturan (PTB).

[73] National Research Council of the National Academic, C4ISR for future Naval Strike Groups, (Committee of C4ISR for Future Naval Strike Groups Naval Studies Board, Division on Engineering and Physical Sciences, National Academic Press, Washington, DC, www.nap.edu, 2006), halaman 19.

[74] NASA Cost Estimating Handbook Version 4.0, Appendix, G 1.1. The Difference Between Risk and uncertainty…..Risk is the chance of loss or injury. In a situation that includes favorable and unfavorable events, risk is the probability that an unfavorable event will occurUncertainty is the indefiniteness about the outcome of a situation. It is assessed in cost estimate models to estimate the risk (or probability) that a specific funding level will be exceeded.

[75] https://www.wbdg.org/resources/threat-vulnerability-assessments-and-risk-analysis

0 0 vote
Article Rating

Budiman Djoko Said

View posts by Budiman Djoko Said
Budiman Djoko Said, lahir di Pekalongan, Jawa Tengah 1 Oktober 1946, alumni AAL-XV (1969). Berbagai penugasan sebagian besar dihabiskan di kapal-kapal Armada timur (terakhir Komandan KRI HSN) , dan variasi penugasan dalam rangka latihan baik dengan TNI-AL maupun gabungan dan staf perancang latihan bersama dengan negara-negara sahabat. Penugasan di Pendidikan di Kodikal, AAL dan Seskoal. Pendidikan militer jenjang di Long TAS/India, Diklapa-II, Seskoal, Sesko TNI, dan kursus Sumber Daya Hankam di AS (IDMC). Jabatan terakhir adalah Dan Seskoal. S-1 ditempuhnya di STTAL, progdi Teknik Manajemen Industri. S-2 Program Manajemen DI UPN “Veteran” Jakarta. Sebagai PUREK –III/UPN “Veteran” Jakarta, dan menjabat Rektor selesai tahun 2011. Beliau juga merupakan dosen dan pembimbing aktif di progdi Keamanan Maritim Universitas Pertahanan Indonesia (IDU). Bergabung dengan FKPM (Forum Kajian Pertahanan dan Maritim) di bawah kontrol Asrena KASAL semenjak tahun 2003 sampai sekarang selaku Wakil Ketua merangkap analis.
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x
Share via
Copy link
Powered by Social Snap