KEBANGKITAN KEKUATAN CHINA DI AWAL ABAD 21

KEBANGKITAN KEKUATAN CHINA DI AWAL ABAD 21

Oleh: Amelia Rahmawaty

 

Pendahuluan

Setiap kawasan memiliki karakteristik masing-masing, tapi bagi Asia, ekonomi adalah raja. Hubungan antar negara di kawasan ini diwarnai dengan ketegangan dan perselisihan, serta dibayangi sejarah pertarungan berdarah. Namun, hal tersebut dikesampingkan dan lebih mengedepankan kerjasama perdagangan dan investasi demi integrasi ekonomi negara masing-masing. Sebut saja Korea Selatan yang merupakan mitra dagang terbesar keempat bagi China, meskipun China adalah aliansi utama Korea Utara sejak lebih dari setengah abad lalu. Kemudian, meskipun belakangan ini, investasi perusahaan Jepang kepada China merosot hingga 45%, China adalah investor dan mitra dagang strategis bagi Jepang, disamping perselisihan kedua negara terhadap Pulau Senkaku/Diaoyu. Jika kawasan diperluas hingga Pasifik, kita mengetahui bahwa Amerika adalah mitra dagang terbesar China sekalipun hubungan keduanya diwarnai persaingan.

Dalam teori ekonomi sendiri kita mengenal istilah The Asian Miracle yang menandakan progres pertumbuhan ekonomi Asia yang begitu cepat. Sebelumnya, di pertengahan abad 20, negara-negara di Asia menghadapi situasi yang benar-benar kacau dimana peperangan, kemiskinan, kelaparan melanda negara-negara di kawasan tersebut. China adalah salah satu negara yang tidak beruntung pada waktu itu karena mengalami peperangan, revolusi, dan kelaparan sekaligus. Pada tahun 1960, penghasilan satu orang Jepang sama dengan 1/8 pendapatan satu orang Amerika, Korea Selatan tidak lebih kaya daripada Sudan, Taiwan sama miskinnya seperti Zaire (Rohwer, 1995). Namun pada empat dekade terakhir, ekonomi Asia bertransformasi. Asia kini ialah kawasan dengan pertumbuhan ekonomi paling cepat dibandingkan seluruh kawasan di dunia. Bahkan sekalipun dihantam oleh krisis finansial dan resesi pada akhir 90an, Asia dengan cepat bangkit dan kini merupakan motor penggerak pertumbuhan ekonomi dunia.

Fenomena The Asian Miracle ini tidak terlepas dari peran China sebagai ekonomi terbesar di Asia dan kedua di dunia setelah Amerika. China memperluas pengaruh dengan memanfaatkan kekuatan ekonominya melalui kerjasama perdagangan, bantuan infrastruktur, investasi, dan strategi ekonomi. Seiring dengan kekuatan ekonomi yang terus berkembang, China kini juga ingin memainkan peran yang lebih dominan dalam Hubungan Internasional. Sebagai emerging power, China mulai membuat inisiatif-inisiatif tatanan baru dimana China tidak hanya ada didalamnya, tetapi juga terlibat didalam proses pembuatan aturan-aturan sistem global yang selama abad modern ini hampir tidak pernah mengikutsertakan China.

 

China Hari Ini

Terhadap China, Napoleon Bonaparte pernah berkata, “Ici repose un géant endormi, laissez le dormir, car quand il s’éveillera, il étonnera le monde” (Disinilah seekor raksasa tertidur, biarkan dia tidur, karena ketika dia terbangun, ia akan mengejutkan dunia). Bagaimanapun, Bonaparte telah secara cermat memprediksikan China di masa depan. Saat ini, meskipun belum dapat disetarakan dengan Amerika, China adalah emerging power yang tak terbantahkan dalam Hubungan Internasional.

China adalah salah satu eksporter terbesar di dunia. Sejak reformasi pasar pada akhir tahun 70an, ekonomi China telah meningkat empat kali lipat dan diperkirakan akan berlipat ganda pada dekade berikutnya (Ikenberry, 2008). Pertumbuhan China tersebut merupakan salah satu yang tertinggi di dunia. Pada tahun 2009, runtuhnya pasar ekspor internasional yang disertai krisis finansial global telah berdampak pada China, tetapi ekonomi negara ini dengan segera tumbuh kembali (BBC, 2014).

Diberitakan oleh Bloomberg, Washingtonpost, NYTimes, dan The Economist pada Agustus 2010, China akhirnya melampaui Jepang sebagai ekonomi terbesar kedua di dunia, dan dengan demikian terbesar di Asia Timur. Jika China mampu melampaui ekonomi Amerika sebagai kekuatan ekonomi terbersar dunia 10 sampai 15 tahun mendatang, maka untuk pertama kalinya, ekonomi dunia akan dipimpin oleh negara non-barat, non-demokrasi, dan negara yang tidak menggunakan bahasa inggris sebagai bahasa ibu (Johnson, 2014).

Mengapa pemimpin ekonomi dunia menjadi begitu penting dalam hubungan internasional? Karena ekonomi (bersama dengan militer) adalah fundamental power dalam politik dunia. Berbeda dengan abad 18 hingga 19 dimana perluasan wilayah dan persaingan militer adalah hal krusial untuk menjadi negara yang powerful. Di abad 20 dan 21, perdagangan telah menjadi alat dalam politik dunia, baik sebagai instrument untuk memperkuat aliansi, sekaligus juga untuk memberikan sinyal kepada rival, atau menahan semakin meluasnya pengaruh potential emerging power (Froman, 2014).

Sebagai contoh, Trans-Pacific Partnership (TPP) yang saat ini sedang dinegosiasikan oleh Amerika dengan 11 negara Asia-Pasifik, tidak hanya sekedar untuk memperluas akses pasar Amerika ke kawasan pertumbuhan ekonomi paling cepat di dunia tersebut, tetapi juga mengirimkan sinyal-sinyal kepada China; pertama, menegaskan bahwa Amerika tidak tertinggal oleh China dalam persaingan ekonomi di kawasan vital dunia, kedua, untuk menekankan bahwa aturan sistem perdagangan global akan tetap berada dibawah nilai-nilai Amerika sehingga jika ingin terlibat didalamnya maka harus mengikuti aturan main Amerika, ketiga, mengabaikan China dalam perjanjian perdagangan – yang keuntungan ekonominya diperkirakan hampir mencapai US$ 1 triliun – melalui penerapan standar yang tinggi yang nampaknya belum dapat dipenuhi oleh China.

Mengetahui bahwa dirinya tidak dapat (dan tidak mau) mengikuti standar tinggi yang diterapkan dalam TPP, pada Konferensi Tingkat Tinggi Asia-Pacific Economic Cooperation (KTT APEC) November lalu, China memanfaatkan momen tersebut untuk mempromosikan bentuk lain perjanjian perdagangan Pasifik dimana China diikutsertakan dan menginisiasi pembentukan Asia Infrastructure Investment Bank (AIIB) untuk memuluskan strategi pengembangan ekonomi China, Maritime Silk Road (MSR). Namun sesungguhnya, isu utama dalam persaingan pakta perdagangan di Asia-Pasifik ini tidak hanya perihal kepentingan ekonomi, tetapi juga merefleksikan seberapa besar pengaruh masing-masing negara yang mana hal tersebut akan memengaruhi pengakuan status power Amerika dan China di kawasan vital ini.

china surpassed japan as second largest economy in the worldBangunnya China, seperti yang dikatakan Bonaparte, juga diutarakan oleh Presiden Xi Jinping dalam pidatonya pada peringatan 50 tahun hubungan diplomatik China – Perancis, “China, the (sleeping) lion, has woken up. But this is a peaceful, amiable, and civilized lion.” Hal tersebut diutarakan China untuk menghindari atau mengurangi sedikit kekhawatiran Amerika yang memandang China berpotensi menantang posisinya sebagai negara hegemon. Mungkin juga untuk menekankan kepada negara-negara tetangga bahwa kebangkitan China tidak dimaksudkan untuk mengintimidasi mereka. Namun yang terjadi di lapangan, perkembangan kekuatan China tersebut telah membuatnya lebih teguh dalam mempertahankan kepentingannya, terutama ketika hal tersebut berkaitan dengan kedaulatan teritori. Sikap agresif China di Laut China Timur dan di Laut China Selatan justru membuat negara-negara yang terlibat perselisihan merasa khawatir. Apalagi ditambah dengan modernisasi militer China yang terus menerus dilakukan tanpa transparansi.

Pertumbuhan ekonomi yang progresif selalu diikuti dengan kebutuhan untuk meningkatkan kekuatan militer. Melalui perbaikan terus menerus, pada tahun 2000 saja, China telah memiliki pesawat terbang, misil, dan kapal selam berteknologi canggih. Serta 17 rudal balistik antarbenua, 70 rudal balistik menengah, dan 12 kapal selam yang mampu meluncurkan rudal. Rudal antarbenua China tersebut mampu menjangkau hingga 8,000 km, atau dengan kata lain, mampu mencapai hingga Moskow dan pantai barat Amerika (Hsu, 2000: 992). Sejak tahun 2010, China juga telah menyebarkan rudal balistik darat yang dapat diluncurkan dengan menggunakan truk dan mampu mencapai jarak hingga 1,500 km. Jika dahulu China tidak menyadari bila ada kapal perang Amerika yang berlayar 5 km dari negaranya, pada beberapa dekade terakhir, dengan menggunakan  radar jarak jauh dan bentuk-bentuk pengintaian lainnya, China mampu secara jelas mengetahui apabila terdapat kapal perang Amerika sedang bernavigasi tidak jauh dari garis pantainya (Thompson, 2014).

Kekuatan ekonomi yang diiringi dengan pembangunan kekuatan militer ini kemudian meningkatkan kepercayaan diri dan keinginan China untuk berperan lebih dominan dalam hubungan internasional. China memperluas pengaruh tidak hanya di kawasan Asia, tetapi juga Afrika, Timur Tengah, Eropa, dan Amerika Selatan. Hal ini terutama dilakukan untuk menghindari China tergantung hanya pada satu kawasan sumber penyuplai energy. Sehingga, jika salah satu kawasan mengalami instabilitas, pergerakan roda ekonomi China tetap aman. China juga telah lebih banyak terlibat dalam tatanan global yang selama ini didominasi oleh Amerika, sekaligus berupaya membuat sebuah tatanan baru yang sesuai dengan nilai-nilai dan kepentingan China. Salah satu indikasi tersebut terlihat dari sikap China yang menginisiasi AIIB untuk menyaingi World Bank yang nilai-nilai dan aturannya dikomando oleh Amerika.

Baca lebih jauh : Quarterdeck Edisi Januari 2015

Maaf untuk membaca full akses konten dalam format post artikel silahkan terlebih dahulu mendaftar sebagai anggota milist FKPM –> D A F T A R

0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
9 Comments
Newest
Oldest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
terbit
3 years ago

alhamdulillah tulisannya bagus bu, izin share krn saya lg nyusun skripsi ttng TPP dan AIIB, semoga ibu mengizinkan

refvando
refvando
3 years ago

tulisan nya sangat bermamfaat bagi yg membaca saya izin copy buat analisa makalah saya thx sebelumnya

asmuri
asmuri
3 years ago

BU AMEL mohon izin catatan ibu sya manfaatkan, sya berharap bu amel meng ikhlaskan gaar saaya memperoleh mnfaat

Ibrahim Arsyad
Ibrahim Arsyad
3 years ago

Sayang sekali di Kesimpulan disebutkan…Ekonomi China yang terus tumbuh sejak 30 tahun terakhir telah membuat 500 miliar orang keluar dari kemiskinan..Sedangkan penduduk dunia saja baru kisaran mendekati 6 milyar…Ini yang membuat cerita dari awal sampai menuju kesimpulan yang runtut dan indah…Sangat penting untuk membuat kita waspada…hanya saya menjadi agak ragu dengan paparan isi di atas.

iman bintara
iman bintara
3 years ago

tulisan sangat penting untuk diperhatikan bangsa Indonesia. maaf saya komentari dalam facebook saya. penting bagi kita untuk mensikapi. apakah akan mengalir bersamanya , atau mengambil moment dari itu , atau bagaimana . Saya merasakan kita sedang mengambil bagian di dalam nya.

choromaster
5 years ago

Bagaimana dengan Indonesia Bu?

Amel
Amel
5 years ago
Reply to  choromaster

Terima kasih atensinya. Mengenai Indonesia, ada di artikel saya selanjutnya pak.

Copyright © 2020 Forum Kajian Pertahanan dan Maritim. 
Scroll to top
9
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x
Copy link
Powered by Social Snap