Kebijakan sama dengan pengambilan keputusan atau regulasi?

 

Oleh Budiman Djoko Said

 

Pendahuluan

________________________________________________________

—- Bagaimana kebijakan yang sudah berjalan(lancar sekali, lancar, tersendat-sendat, lamban, dll)? atau … Apakah ada kebijakannya?… Oh, sudah tertuang dalam UU,Perpres, Permen, Perda, dll…Dan, Pang, Ka atau Manajer sudah menuangkan dalam insruksi nomer…,dll.

  ________________________________________________________________

 

… sama-sama beragendakan “kebijakan”, bandingkan dengan pernyataan dibawah ini[1];

Policy analysis is concerned with “who” gets “what” in political and, more important, “why” and “what differences it makes”— di-demonstrasikan (dalam gambar dibawah) dengan siapa pemegang kebijakan-nya (policy maker), pilihan kebijakan (policy choice), bagaimana implementasi-nya (implementation), dan bagaimana “outcomenya” (policy outcome).

Penjelasan diatas adalah diskusi atau percakapan tentang isu kebijakan sehari-hari dan bisa disandingkan dengan konsep atau teori. Diskusi[2]yang menyangkut kebijakan (policy) sementara ini mudah ditebak dan hampir pasti berkembang atau mengerucut pada hal-hal yang menyangkut isu regulator; seperti peraturan, per-undang-undangan, perpu, perpres, keppres, dan semacam itu, singkatnya  bagaimana aturan mainnya. Benarkah ungkapan atau kalimat kebijakan adalah aturan mainnya atau regulasi—sementara ini selalu menjadi jawaban diskusi tentang kebijakan? Dampaknya (mungkin) timbul mithos yang mengatakan masalah apapun yang timbul perlu kehadiran payung hukum—alhasil payung hukum dianggap obat mujarab penyelesaian masalah(?). Mungkinkah satu (1) payung hukum sanggup menghadapi beragam tipikal masalah, baik dengan single-objective atau multiple objectives diketahui (given) single constrain atau multiple constrains. Ruang kebijakan bisa saja menyentuh ruang publik (mengait public interest) atau public policy dan nasional (national interest/national security) —ulasan lebih menyentuh substansi konsep atau teori yang mendasar, yakni konsep sebenarnya tentang kebijakan.

Aturan main atau perundang-undangan yang terlibat disini (kalau ada) akan menjadi pendorong (driver) kelambatan, kelemahan atau tersendatnya berjalannya kebijakan atau subordinasinya yakni strategi dan turunan strategi yakni operasional sampai ke-bawah. Regulasi (sebagai driver) lebih berperan unuk memuluskan jalan kebijakan.Regulasi tidak pernah bisa menjawab dengan lugas apa sebenarnya yang di-inginkan pemerintah, kebijakan-lah yang lugas menjawabnya. Suatu negara (contoh) berambisi menjadi negara ber-teknologi, akan membangun kebijakan pendidikan dengan mengijinkan perguruan tinggi-nya mencetak tingkat doktoral (S-3) bidang humanisme dan sosial dengan porsi lebih kecil, di-bandingkan teknik (engineering) dengan porsi lebih besar.

Tentunya kebijakan ini (bila dipetakan) akan mengalir kebawah …terbaca berapa porsi (peta jumlah dan kualitas) S-2 untuk bidang teknik(engineering) dan sosial (ekonomi, dll), proses ini akan membantu pemerintah mengontrol ketat mutu, jumlah, dan porsi perguruan tinggi sampai ketingkat SMU kebawah. Fungsi (core function)[3] Kemhan sebagai Policy’s maker struktur kekuatan militer (force structure); termasuk kekuatan manusia-nya baik regular dan cadangan berbasis skenario pertahanan nasional (bukan pertahanan negara)[4]. Skenario adalah suplemen kebijakan yang dibangun Kemhan. Sulit tanpa skenario untuk membangun kalkulus struktur kekuatan dan bagaimana memilih dan memilah esensial yang maksimum sampai paling minimal esensi-nya? Skenario adalah basis menurunkan kapabilitas kekuatan militer, jumlah, jenis kekuatan baik manusianya, kapal, pesawat yang dibutuhkan untuk dibangun dan digunakan sepanjang usia pakai (TLCC ~ total life cycle cost) termasuk kekuatan cadangan.

Maaf untuk membaca full akses konten dalam format post artikel silahkan terlebih dahulu mendaftar sebagai anggota milist FKPM –> D A F T A R

0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Scroll to top
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x
Share via
Copy link
Powered by Social Snap