Kekuatan Udara (Airpower) atau ‘Air and Space Power’?

     Oleh Budiman Djoko Said

 

Pendahuluan

Usai PD-II menyisakan pertanyaan (legenda atau mitos) tentang hadirnya satuan udara masif dan besar sebagai kekuatan Udara (Airpower). Bahkan sebagian pengamat menyebut kekuatan Udara koalisi yang begitu besar dalam perang teluk tidak lebih dari kampanye Udara (air campaign).Disadari bahwa pengawak udara (airmen) yang terlibat dalam operasi Udara paham uniknya kapabilitas kekuatan Udara, berbasis teori “konsentrasikan tembakan kepada setiap titik dimuka permukaan bumi ini”. Teori yang disepakati pemikir kekuatan udara seperti Douhet, Trenchard, Mitchell, de Seversky dan Slessor disamping cerita kekuatan Udara yang disebut mitos (pen)[1].NATO mendemokan salah satu kekuatan Udara dalam operasi “Deny Flight” (ODF) di Bosnia-Herzegovina, dimulai April 1993 sampai Desember 1995 dan diterminasi setelah 970 hari “di aerial presence[2]. NATO mengklaim telah melakukan kurang lebih 100.000 x sorti dengan total penggunaan lebih 3000 bom ― jumlah sorti dan bom yang terbesar dalam sejarah NATO[3], dan apa alasannya ?

Tumpang tindih pertarungan etnik, beban kekerasanekonomikdan kepemimpinan oportunis serta lanskap paska perang dingintelah menciptakan chaos dan situasi berbahaya diBosnia[4]à memaksa PBB turun tangan. Apa definisi kekuatan Udara ? Wikipedi, mengartikan sebagai gabungan aplikasi dan strategi militer versus realisme peperangan aerial (aerial warfare). Dikaitkan dengan doktrinàdoktrin ada dalam wilayah dan ruang operasional yang kompleks. Doktrin Inggris menyebutkekuatan Udara sebagai abilitas (ability)memproyeksikan kekuatan melalui udara dan ruang angkasa untuk mempengaruhi dengan kecepatan, ketinggian dan capaiannya (speed, height, reach).Makalah mencoba mengamati konsep kekuatan Udara(Air and Space Power) dan tugas  gabungan,kaitannya dengan strategi keamanan nasional dan kepentingan nasional, serta dengan strategi instrumen kekuatan lainnya. Dua (2) kekuatan ; Udara dan Maritim bercirikan kekuatan strategik, sebagai senjata offensif dan kedua-duanya mencari sasaran (targeting)― mencari dan memilih sasaran tentunya akan memerlukan inteligen yang kuat (maritime intelligence, air space intelligence).

 

Doktrin, Kebijakan dan Strategi Keamanan Nasional

Satu dari 10 proposisi kekuatan udara menyebut kekuatan Udara sebagai kekuatan strategik[5]àmemahami kekuatan strategikperlu memahami konsep doktrin. Doktrin adalah petunjuk penggunaan kekuatan dan satu fondasinyaadalah sejarah. Sebaiknya tidak perlu membesarkan sejarah yang sulit diadopsi dalam peperangan modern dan doktrin .Pengunaan doktrin tanpa perubahan versus RMAberpeluang menciptakan “bias”, citra tradisional dan parokial (pikiran sempit).Tepat kalau doktrin bisa disebut juga sebagai “mesin perubahan” versus MTR/RMA mengingat begitu cepatnya perubahan yang diakibatkan revolusi teknik dan rekayasa (engineering)[6]. Berpikir arif dan profesional untuk memenangkan perang dengan cara yang paling effisiendan dirasionalisasikan melalui perbaikan doktrin.

Doktrin bicara tentang peperangan bukan fisikal. Fisik bagi kekuatan Udara adalah media udara dan ruang angkasa. Dua ruang terpisah secara fisika tetapi dihubungkan dengan “effek” (EBO) yang diproduksi bersama. Karena itu operasi berbasis effek ini dapat diintegrasikan à doktrin bicara “effek” dan sinergi, bukan bicara platform, media atau sistem atau cara yang dipilih. Adopsi konsep EBO memaksa pengawak Udara wajib memiliki kapabilitas berbasis effek lebih dari sekedar mencari dan memilih sasaran. Kekuatan Udara memandang dua media diatas sebagai media terbaik penggunaan sista offensif. Obyektif sistem-senjata offensif adalah menguasai, membendung dan mengeksploitasi inisiatif. Offensifcederung lebih kepada aksi dibandingkan reaksi dan akan mendikte waktu, ruang, tempat dan maksud, ruang lingkup, intensitas, dan langkah operasi à bandingkan pemakaian kata “offensif-aktif”  atau “defensif-aktif”  yang sering membingungkan.

Offensif identik aktif dan proaktif sedangkan defensif cenderung ke reaktifbukan proaktif  dan …. pertahanan terbaik adalah offensif[7]. Menyanggupi berbasis effek (Effect-Based/EBO), dalam pola operasi militer gabungan dan sebagai fondasi untuk memenuhi keinginan strategi keamanan nasional (atau strategi nasional)[8] menuntut pemikiran ulang pengembangan doktrin agar diselaraskan dengan strategi keamanan nasional. Ihwal seperti ini memperjelas doktrin dan strategi nasional tidak bisa lagi terisolasi satu sama lain . Relevansi lain, pengembangan doktrin agar dipertajam hubungannya dengan agensi pemerintah lainnya dalam wadah strategi keamanan nasional[9].Kebijakan (policy), strategi dan doktrin ketiganya sering digunakan bergantian dan “relatif” mirip, meski kenyataannya berbeda. Dilihat dari dampak atau kebisaannya dijadikan rujukan satu sama lain menjadi sangatlah penting mengapa harus dipahami perbedaannya[10]

Doktrin militer mempertimbangkan pekerjaan, aksi, kegiatan yang harus diselesaikan agar mencapai tujuan (ends) strategi militer. Doktrin adalah otoritatif, bukan arahan/mengarahkan.Kebijakan adalah petunjuk atau instruksi yang harus dicapai atau refleksi dari kesadaran untuk memilih sesuatu nilai/harga tertentu serta mudah berubah. Dikarenakan kebijakan nasional selalu mengait perubahan kepemimpinan nasional, dan atau  pertimbangan politik dan atau fiskal.Sebaliknya doktrin sulit untuk berubah . Kebijakan nasional biasanya akan diterjemahkan kebawah berbentuk rencana dan program (PJPT atau RPJM) nasional melalui sitem analisis yang akan menggunakan teknik dan analisis ekonomi untuk menemukan pilihan terbaik[11].Kebijakan nasional bisa diekspresikan dalam format yang lebih luas seperti Strategi KamNas atau perintah eksekutif Presidensial.

Kebijakan bisa juga diekspresikan dalam operasi  militer,selain sebagai “obyektif” bisa juga sebagai AP (aturan pelibatan atau rules of engagement) ― kondisi apa dan bagaimana dan  sasaran manadiijinkan diserang[12]. Analog pernyataan Dr Kugler bahwa analisis kebijakan mengutilisasikan [1] metode evaluasi strategik dan [2] sistem analisis dengan teknik ekonominya serta [3] operasional riset dengan model matematika yang lebih terstruktur[13].Metode dan teknik yang sama juga biasa digunakan oleh militer untuk membuat  analisis strategi dalam publikasi RAND sebagai bagian studi kebijakan nasional atau strategi nasional.

Kerangka analisis kebijakan nasional sering digunakan versus problema strategi pertahanan dan militer[14]. KamNas (atau strategi Kamnas) mengorkestrakan strategi semua instrumen kekuatan nasional untuk menjamin tercapainya kedaulatan dan kesejahteraanekonomiserta keamanan ( 3 substansi utama kepentingan nasional yang dideklarasikan)àpromosi kepentingan nasional kedunia luar(outward-looking). Strategi menggambarkan kebijakan yang lebih luas dan fokus pada perencanaan serta aksi pelaksanaannya dengan mengikat means, ways dan ends[15].Means bagiKamNas adalah semua strategi instrumen kekuatan nasional, waysbagi KamNas adalah bagaimana mengorkestrakan dan ends(ends-product) Kamnas adalah tercapainya obyektif kepentingan nasional (utamanya berkatagori “survival”).KamNas adalah “ruh” aplikasi pertahanan nasional, hubungan internasional, hubungan ekonomi dan perdagangan ― esensi KamNas adalah versus aktor negara lain.Isu Kam Nas dan perlunya kehadiran militer selalu dipandang (berorientasi) dari sisi kepentingan nasional[16]. Arsitektur (bangunan) strategi nasional atau strategi raya atau strategi keamanan nasional adalah rujukan bagi manajemen nasional,  strategi militer,postur kekuatan militer dan kapabilitas militer.Bahkan dukungan terhadap hubungan ekonomi yang lebih menguntungkan dan tercapainya kesejahteraan agar disegani aktor lainnya.Contoh betapa effektif dan luwesnya strategi militer nasional versus manajemen perubahan — dengan hadirnya agenda transformasi kekuatan militer segera mengagendakan dinamisasi strategi militer nasional (geser interaksi means,waysdan ends sebelumnya,pen)[17].

Contoh lain; kehadiran ancaman asimetrikmembuat strategi KamNas harus menyelaraskan  perencanaan dan kegiatan dibawahnya dengan tampilan perubahan ancaman asimetrik non-negara sebagai fokus dan basis kerangka pikir baru bahkan mungkin tidak ada sebelumnya ― rubah strategi, postur kekuatan militer, tugas, dinamisasi peran dan kapabilitas yang mengalir dari srategi ketugas (produk strategy-to-task, pen)[18].Dampakasimetrik lainnya berupa bentuk peperangan tidak beraturan (Irregular Warfare) akan melanda hampir semua negara. Pengancam non-negara memanfaatkan sista asimetrik yang sederhana, murah, effektif dan terbayar mahal apabila mengenai sasaran ― sangat “effektivitas-biaya”. Perang asimetrik adalah “yang lemah versus kuat”, tapi kapabel memegang kendali insiatif, misal penggunaan kapal selam, kapal kecil dengan rudal jarak menengah , ranjau , dan sistem senjata NBC (NuBiKa)[19].

Perkembangan dan fenomena kekuatan Udara

Kekuatan Udara diperkenalkan H.G. Wells tahun 1908 melalui “ The War in the Air” dan istilah tersebut meluas digunakan tahun 1920an, khususnya saat kekuatan ini menjadi terminologi umum dan kapabilitas satuan Udara.Saat itu teori tentang  kekuatan ini umumnya diterima sebagai isu kompleks dan sebatas pengertian sederhana tentang optimalisasi penggunaan satuan Udara.Bahkan Churchill menegaskan Airpower is the most difficult of all forms of military force to measure, or even express in precise terms[20]. Meski penggunaan kekuatan Udara sekarang sudah menjadi semakin maju dan merupakan kebutuhan penting bagi operasi militer gabungan dalam satu abad ini ― statusnya tetap sebagai penugasan yang kompleks dan membutuhkan pemikiran yang mendalam[21].

Kekuatan Udara menjadi bagian integral kekuatan militer gabungan dan peperangan modern dan konsekuensinya  menjadi komponen penting dalam strategi KamNas  —  strategi yang mengawal tercapainya obyektif kepentingan nasional. Strategi ini butuh kekuatan Udara sebagai kekuatan integral dan sentra elemen “penggetar” (deterrence) bagi aktor negara lain ― tentu saja dengan syarat tertentu. Tujuan ”menggetarkan” adalah mencegah aktor negara lain berbuat “sesuatu” yang bertentangan dengan keinginan (obyektif) kepentingan nasional. Dari perspektif keamanan nasional, “menggetarkan” diawali dari usaha menghindari konflik dengan menugaskan kekuatan Udaranya ( atau paket dengan kekuatan Maritim dan atau Darat)[22] dengan cara yang efektif, tepat dan meningkat gradual didikte oleh perkembangan lingkungan strategik.

Aktor pelaku penggetaran harus yakin memiliki kapabilitas merespon aksi “lawan potensial” dan kapabel mendemonstrasikan dengan cara “tegas”serta menyanggupi beban “biaya-perang” (cost of war), kalau terjadi skenario yang buruk.Angkatan Udara memiliki kebisaan memproyeksikan kekuatan militer melalui udara kemana dan kapan saja sekaligus penyumbang unit kekuatan Udara.Kecepatan, jarak dan fleksibilitasnya kapabel memberikan effek yang diharapkan.Keluasan ruang, waktu, dan informasi yang didapat menjadikan “gudang informasi” bagi kekuatan gabungan, teman atau sahabat bila diperlukan, termasuk elit nasional dan militer guna pengambilan keputusan nasional.Memberikan beberapa faktor kelebihan seperti kecepatan, akurasi keputusan militer, komplemen kebutuhan operasional satuan Udara Angkatan lainnya sekaligus saat yang sama dapat beraksi menutup akses kekuatan lawan potensial yang ingin berbuat sama[23].

Prinsip-prinsip sederhana seperti diatas benar-benar membuktikan bahwa  udara dan ruang angkasa adalah media terbaik penggunaan sista offensif. Sementara itu memilih cara defensif selain dikatagorikan sebagai pertahanan yang paling lemah dan pastinya akan tergerus oleh inisiatif lawan. Statistik menyebut bahwa  sukses peperangan umumnya baik ditingkat operasional ataupun taktik umumnya tercapai melalui offensif―meski “Battle of Britain” disebut sebagai kampanye Udara defensif, tetap saja terdiri dari penggal besar pelibatan besar perang Udara offensif[24]. Umumnya ditingkat operasional maupun taktik penggunaan kekuatan Udara selalu dalam posisi offensif, meskipun pelaksanaan operasi atau taktik tersebut berada dalam rangkaian kampanye pertahanan strategik dan operasional. Bahkan kegiatan kontrol Udara dan ruang angkasapun sangatlah offensifà operator kekuatan Udara siap untuk melibatkan dirinya setiap saat.

Sejarah juga mencatat bahwa rencana serbuan Udara (dan ruang angkasa) yang direncanakan dengan sangat baik akan ekstrim sulit dicegah[25]. Bagi yang bertahan pasti akan  memerlukan asset “lebih” untuk mempertahankan area diluar poros serangan Udara― selain melelahkanjuga biaya yang mahal.Pernyataan tradisional diatas banyak dijumpai dalam petunjuk atau doktrin Angkatan Udara dan digolongkan sebagai “misi Angkatan Udara” seperti interdiksi, bantuan udara dekat, patroli tempur udara, lawan udara defensif, dan lainnya.Misi yang tidak dinikmati oleh dinas penerbangan lain,walaupun mereka bisa saja melakukannya; mengingat daftar tersebut tidak termasuk dalam misi formal mereka. Awalnya kekuatan Udara lebih banyak disebut sebagai kekuatan pendukung, tidak sebagai komponen kekuatan gabungan apalagi elemen manuvra. Apalagi sebagai kekuatan yang menentukan (decisive) sangat diragukan untuk menghasilkan effek strategik. Namun hal ini berubah sejak perang Teluk tahun 1991 ― membuktikan kekuatan Udara sama baiknya dengan mitranya yakni elemen manuvra perang Darat, dan Maritim. Konsekuensisebagai elemen manuvra, kekuatan Udara berhak didukung kekuatan lainnya[26].

Perkembangan kekuatan Udara dimulai akhir abad 20-an dan sebagai komponen kekuatan gabungan dan elemen manuvra; biasanya melakukan tugasnya dalam 3 phasa linear[27]. Pertama sebagai kekuatan siap reaktif, dan akan bereaksi menghentikan serangan awal lawan (halted-initial attacks).Kedua, membangun kekuatan besar serta menentukan mandala tempur, beroperasi offensif terbatas terus menerus (masif) sambil membatasi dan melemahkan kekuatan lawan.Akhirnya dilakukan serangan atau operasi sentrik darat (ground centric) yang menentukan.Pola klasik seperti diatas adalah rangkaian kegiatan linear dan akan berakhir dalam produk (end-product) serangan balas darat (ground-based counter attacks).Tahapan seperti diatas tidak selalu harus dilalui, prinsip ekonomi peperangan bisa saja hanya memerlukan dua atau bahkan satu  phasa saja.

Kekuatan Udara dalam tugas gabungan

Tugas gabungan adalah bentuk operasi yang berbasis effisiensi. Militer gabungan menatap peperangan mendatang sangat dipengaruhi oleh kehadiran sista modern dengan jarak jangkau yang semakin unggul, meningkatnya daya hancur (lethality) dan pintar (smart weapons). Didukung sistem pengamatan, penilaian dan managemen tempur yang bagus akan terbangun kapabilitas cara bertempur baru.Kapabilitas seperti ini sangat memungkinkan untuk melakukan transisi dari perang penghancuran (annihilation) dan berlarut (attrition) dengan memposisikan ratusan ribu personil militer yang berpeluang besar dan berisiko terlibat dalam perkelahian brutal, saling berhadap-hadapan dan sebaliknya risiko rusak beratnya area dan infrastruktur yang bertahan, menjadi cara langsung mencari dan menyerang pusat gravitas lawan (termasuk pemimpinnya) baik strategik atau taktik ― waktu (respons) menjadi sangatlah penting sekali[28], inilah barangkali cara berperang terkinikan. Cara berperang seperti ini dituntut bisa memproyeksikan kekuatan sesegera mungkin dan kemana saja serta sangat mengurangi beban biaya di”stasion”kan ditempat terjauh lebih permanen.

Idealnya akan meminimalkan tingkat risiko kerusakan yang dialami oleh penduduk maupun infrastruktur negara penyerang.Sejauh ini hanyalah satuan Udara yang alami memiliki mobilitas tinggi dan bisa membawa sista yang lebih akurat serta lethal sebagai platform yang tepat dan terbaik digunakan dalam operasi gabungan untuk memainkan peran dan effektif menyerang pusat gravitas iniàlebih offensif[29].Snyder berhasil meyakinkan organisasi militer untuk lebih memilih offensifyang menjamin pengaruh kuat terhadap “lawan” dibandingkan memilih “defensif”[30].Lebih dari itu, kekuatan Udara kapabel diperankan lebih jauh untuk beroperasi dan bermanuvra “bebas” atau “simultan” ditingkat peperangan taktis, operasional bahkan strategik dan sangat membantu Komandan Operasi Gabungan (JFC/Joint Force Commander).

Mudah dideploikan kemana saja, dengan tugas tambahan mengumpulkan informasi dan sambil menyerang sasaran terpilih ― serta masif dan effektif merebut inisiatif kontrol “lawan”.Bisa dicatat disini bahwa serangan kekuatan Udara akan memaksakan “lawan” bereaksi bukan beraksi dan memaksa untuk tidak bisa berinisiatif sama sekali[31]. Era modern ini adalah era bagi pemilik aset kekuatan Udara untuk segera menguasai kontrol Udara dan ruang angkasa dalam rangka mengamati manuvra kekuatan lawan dengan akurat bagi kepentingan manuvra gabungan. Tahun 1991 dalam operasi Badai Gurun, kekuatan Udara mendemonstrasikan sebagai satuan yang terlatih baik dengan peralatan terbaik dan kapabel mendominasi semua aspek operasi dalam peperangan modern[32].Hanya beberapa hari sejak awal operasi tempur, kekuatan koalisi kapabel memperoleh (hampir ~ 100%) kebebasan beroperasi didaerah lawan.

Bahkan tidak memberi kesempatan lawan bisa beroperasi dan manuvra didaerah “teman” pun ß koalisi benar-benar memegang inisitiatif diawal serbuan.Mencermati tiga phasa yang bisa dilakukan oleh kekuatan Udara, versus transisi kapabilitas tempur tersebut sangat menguntungkan sekali bagi kekuatan gabungan bahkan kekuatan koalisi serta  memanfaatkan kebisaan kekuatan Udara diperankan dalam tugas  gabungan atau koalisi dewasa ini yakni[33]:

[1] kapabel mendeteksi, melokalisir dan mengidentifikasi formasi kekuatan darat lawan yang besar dan beberapa tipikal sasaran fisik dengan segera dan cepat dalam area yang luas, [2] perbaikan akurasi dan lethalitas munisi konvensional telah meningkatkan besaran ukuran effektivitas sistem senjata yang dapat diluncurkan dari platform udara dan [3] sensor baru yang ditempatkan dipesawat penyerang, dengan pengaturan miniaturisasi munisi, menambah effektivitas serangan dimalam hari atau cuaca yang kurang baik. Faktor yang selama ini dimanfaatkan untuk melindungi kekuatan permukaan laut atau darat dari serangan udara.[4] Paket kombinasi jaming, desepsi, dan senjata jarak jauh (stand-off) serta sejumlah pesawat “siluman” baik pembom/B-2 dan atau penyerang/F-117 telah membatasi effektivitas “pertahanan  udara“ lawan yang berbasis di-darat, dan membiarkan paket kekuatan udara lainnya praktis tidak terganggu sama sekali melakukan pekerjaan pokoknya dengan meluncurkan muatan pokoknya menghancurkan “pusat gravitas” lawan ― sentrik Udara.Isu sentrik ini muncul belajar dari perang Gurun (Desert) tahun 1991an. Mengingat konfrontasi lewat media Maritim diyakini paling banyak terjadi dan luas skala dan katagorinya, maka operasi gabungan Maritim dengan kekuatan Udara akan banyak diperankan dimasa mendatang[34].Kekuatan Udara gabungan baik milik Laut dan Udara paling banyak berperan dalam tugas gabungan operasi Maritim (JMO/Joint Maritime Operation).

Bila kekuatan Udara bergabung dengan kekuatan Maritim, maka kekuatan ini akan berada dibawah kontrol JFC (Joint Force Commander). Kekuatan Udara yang digabungkan bersama kekuatan Maritim ini akan mengikuti aturan Komando dan Kontrol [35]dari Komando Gabungan operasi Maritim ― disebut JMO (Air) atau Komando Gabungan (Udara) Operasi Maritim/JFACC (Joint Force Air Component Commander) dan Komando ini bersifat komponen.Komando ini membantu Komandan Operasi Maritim membuat rancangan, koordinasi, alokasi dan tugas operasi udara gabungan Maritim dan merujuk konsep operasi gabungan Maritim.JFC juga menunjuk pemegang otoritas kontrol (kontroller) Udara dan ruang angkasa (atau ACA/airspace control authority) untuk memegang tanggung jawab penuh semua kontrol diudara dan ruang angkasa dalam area tanggungjawabnya (AOR). Demikianlah gambaran singkat kekuatan Udara. Apabila dilakukan studi dan pemeriksaan lebih dalam dan lebih jauh tentang (peran) kekuatan Udara maka kegiatan ini dapat dikatagorikan sebagai studi tentang sekuriti internasional[36].

Isu Sentrik ?

Berawal dari kompetensi kekuatan Udara adalah “keunggulan diudara”, demikian juga Angkatan Darat dengan “keunggulannya di darat” dan Angkatan Laut dengan keunggulan “diarea Maritim”[37].

Isu sentrik ini muncul semenjak perang Gurun tahun 1991-an dan sentra isu muncul dari pertanyaan kapabel tidaknya kekuatan Udara melaksanakan operasi “mendalam” (deep-strike).Kubu Angkatan Darat menengarai operasi ini tidak akan bisa dilakukan Angkatan Udara sebagai alasan pertama. Kedua, doktrin Angkatan Darat selama ini percaya bahwa  operasi “mendalam”  adalah kunci kampanye pasukan tingkat divisi.Dalam kegiatan perkelahian (warfighting)[38] sebagai bagian dari tingkat operasional, kekuatan Udara telah membuktikan kapabel menjalankan misinya ― termasuk aksi operasi “mendalam” (deep strike)[39].Suksesnya misi tersebut bukan berarti Angkatan Udara mengklim kapabel mendominasi semua medium dan semua situasi peperangan. Dicontohkan pengusiran pasukan lawan yang bersembunyi “dalam-dalam” diteritorinya atau merebut teritori dan ruang mereka atau effektivitas melakukan patroli pinggiran (urban)àsesuatu yang sungguhtidak mungkin dilakukan kekuatan Udara[40]. Belum hadirnya kejelasan doktrin versus isu kekuatan Udara ini memaksa Angkatan mencari jalan keluar[41]dan hadirnya operasi “Badai Gurun” menjadi “bench-marking” perbaikan doktrin. Sebenarnya “ketegangan” ini sudah hadir, semenjak munculnya dinas penerbangandalam Angkatan Darat dan bertumpu pada beberapa isu [1] peran darat dan udara, utamanya peran yang menentukan (decisive).[2] Kesimpulan (konservatif) Darat bahwa kekuatan Udara tidak kapabel dan potensial sebagai kekuatan Udara, bahkan tidak lebih baik dari Artileri jarak jauh pendukung manuvra pasukan Darat[42].

[3] Petinggi Angkatan Darat waktu itu berpikir bahwa Angkatan lain dan kedinasan lain bersifat membantu Infanteri, hal ini terjadi pada periode antar Perang Dunia (interwar period). Studi sentrik ini akan memeriksa seberapa jauh bentuk dan derajad konvergensi antara Angkatan darat dan Udara dengan pendekatan doktrin dan konsep. Harapannya; upaya studi ini akan menjamin pengertian yang lebih baik untuk membangun basis konsepyang lebih komprehensif danlebih maju, serta bagaimana teori kekuatan Udara yang dipangkalkan didarat (land-based)[43].Kubu Angkatan Udara memandang teori kekuatan Udara dan doktrin era perang Vietnam, terkotakan dalam “strategik” dan “taktik”. Sebaliknya kubu Angkatan Darat menganggap konsep dan doktrin kekuatan Udara tetap mengikuti dan mengait erat dengan doktrin dan taktik perang Darat (land warfare).

Doktrin  Angkatan Darat berevolusi dari isu linear, intensifitas daya tembak dalam kegiatan “Pertahanan Aktif” kealam manuvra yang berorientasi pada “Pertempuran Darat-Udara” (Air-Land Battle). Debat berkembang meluas keisu kontrol, desentralisasi kekuatan Udaradan meliput area tingkat taktis CAS (combat air system) keisu interdiksi. Pada tahun 1986 lebih berkembang kedalam operasi gabungan, tingkat mandala, dan perspektif kampanye dan operasional[44]. Hadirnya teori tentang kelumpuhan industri pertahanan lawan oleh kekuatan Udara, makin menambah bukti pentingnya kekuatan Udara sebagai penentu. Dan nampaknya persaingan (sentrik) intra Angkatan/Kedinasan akan berlangsung terus.

Tabel dibawah ini menunjukkan kehadiran isu “sentrik“ (Darat-Udara) tersebut  per setiap kegiatan pertempuran dimulai dari perang Irak,tahun 1991.Kolom menggambarkan ada isu sentrik Udara dan sentrik Darat. Kolom Integrated adalah status kompromi kedua perspektif sentrik tersebut sedangkan kolom end-state adalah produk kegiatan yang terintegrasi (integrated). MOOTW atau OTW (sama saja) adalah kependekan dari Military Operation Other than War atau Other Than War yang artinya sama saja.

 

Referensi: RAND CORPT, 2006, “Learning Large Lessons. The Evolving Roles of Ground Power and Air Power in the Post-Cold War Era”, Johnson,David.E, halaman xiv.Perhatikan isu sentrik ini berlangsung cukup panjang, mulai perang Irak pertama sd Irak tahun 2003.

Bahasan khusus tentang “sentrik udara” dapat diawali dari komentar Prof James A Mowbray, Profesor Air War Coll, tahun 1991 yang menangkap perspektif sentrik udara dalam perang Teluk, sebagai berikut:

the Gulf War brought to the fore the technology, tactics, techniques, and operational methods on which the Air Force had been working since the Vietnam War. Precision guided munitions , precision navigation systems like the global positioning system (GPS), and day–night all–weather operations allowed the Air Force to fly , fight, and win in the face of the worst weather in the Middle East in more than  a decade. That technology helped to win the fastest , lowest casualty, most devastatingly destructive one-sided war in recorded history. Air Force capabilities had come of age[45].

Nada yang sama dari Kas Angkatan Udara dengan klim ucapannya; “This is the first time a field Army has been defeated by Airpower” . Hampir sama, ahli sejarah ke-Angkatan Udara-an, Richard P Hallion, yang menggaungkan kembali pandangan Kas Angkatan Udara AS dengan menulis[46]:

Today, Airpower is the dominant form of military power. Does this mean that all future wars will be won solely by Airpower ? Not at all. But what it does mean is that Aipower has clearly proven its ability not merely to be decisive in war —after all, it had demonstrated decisiveness in the Second World War and, to a degree, as early as the First World War — but to be the determinant of victory in war[47] .

Akar sebenarnya penyebab sentrik ini adalah jawab pertanyaan “siapa sebenarnya yang memenangkan perang (decisive) ini ?” Dua kubu berusaha menjawab dan berdebat tentang isu peran masing-masing dalam koalisi. Darat bersikukuh dengan konsep “pancangan kaki didarat adalah faktor penentu” makanya kekuatan Udara tidak lebih sebagai elemen bantu atau pendukung saja (meski penting) dan kapabilitas kekuatan Udara adalah subordinasi kampanye Darat yang menentukan. Meskipun kekuatan Udara berhasil membuktikan kapabilitasya untuk membungkam kekuatan lawan , lagi-lagi kubu Darat tetap bersikeras menyimpulkan bahwa operasi Udara hanya menghentikan sementara, dan menyatakan bahwa pasukan Darat lawan masih bisa berkeliaran dimalam hari atau cuaca buruk.

Apapun juga isu sentrik ini, pelajaran perang Teluk 1991, banyak membawa perubahan muatan doktrin kedua Angkatan ini.Lain Angkatan (kubu) Darat lain lagi dengan Angkatan Laut, dalam tiga dekade akhir ini, hubungannya sangat harmonis dalam pelaksanaan operasi serbuan aerial (aerial strike operations) bersama-sama unit Udara Angkatan laut, Udara bahkan Marinir AS.Berbeda dengan periode sebelum perang Vietnamsatuan Udara masing-masing Angkatan dan Marinir masing-masing memiliki budaya dan perilaku yang berbeda jauh satu sama lain.

Bayangkan dalam bentangan waktu dua (2) abad, penerbang Angkatan Laut telah menikmati kebiasaan beroperasi bebas di laut terbuka, jauh dari pangkalan dengan konsekuensi yang terbangun adalah sangat “percaya diri” dan terbiasa untuk beradaptasi menghadapi setiap perubahan situasi yang jauh dari keputusan pusat dan sedikit menghadapi rintangan untuk melakukan kebebasan bernavigasi dan kebebasan bertindak.Sampai pertengahan tahun 1980-an, integrasi antara Laut dan Udara masih sulit untuk dibicarakan[48],fokusnya masih dalam tahap “dekonfliksi”. Ada juga upaya “sedikit” bersinergi dalam perang Vietnam, dimana dua Angkatan tersebut membagi daerah sasaran di Vietnam Utara dalam beberapa “rute paket” ,empatrute paket dekat pantai diserahkan ke Angkatan Laut dan sisanya yang lebih kedalam diserahkan ke Angkatan Udara ― nampaknya masih belum berpengaruh terhadap upaya “sinergitas”.

Sesungguhnya dasar K2 Angkatan Udara adalah “orkestra tunggal” atau sentralisasi komando, mungkin faktor ini yang menyulitkan upaya sinergitas. Kenyataannya penerbang Laut dan Udara masih saja beroperasi diruang masing-masing dan terpisah dan tidak satupun produk sinergik yang terbangun. Bahkan ditahun 1987, terjadi insiden di Mediterania, dimana satu F-14A Tomcat  (US Navy) dipangkalkan dikapal induk telah menjatuhkan RF-4C Phantom (USAF)yang dipangkalkan diJerman Barat tahun 1987[49].Anti klimaksterjadi semenjak selesainya perang Vietnam dan awal perang dingin, dan sangat merubah iklim dan  budaya hubungan satu sama lain. Simak saja pernyataan Komandan komponen Udara Sekutu di Korea … sulitnya membedakan mana satuan Udara dari Angkatan Udara, Laut dan Marinir dalam suatu operasi gabungan Udara kalau tidak dilihat dari atribut atau papan nama dan  tanda tanda lainnya, saking begitu akrabnya.

Hal yang sama adalah komentar para instruktur Sekolah Sista Pesawat pemburu  yang sekarang menjadi Pati bintang tiga dengan pernyataan relatif mirip seperti rekannya diatas, bahkan menambahkan … sulit membedakan mana penerbang Laut,Udara dan Marinir yang sedang berbicara hangat tentang taktik dan operasi Udara baik itu penerbang Laut F/A-18 Hornet, penerbang Udara F-15 dan F-16 C, dan Marinir dengan AV-8B nya. Sinkronisasi ini berlangsung dengan klimaksnya ditahun 1990 dengan finalisasinya ditahun 2001, dalam Operasi “Enduring Freedom” di Afghanistan tahun 2001, dan semakin bertambah membaik ditahun 2002 dengan Operasi “Iraqi Freedom”-nya. Bisa jadi proyek JSF (Joint Strike Fighter) dengan F-22 (kode Raptor?) diciptakan untuk membuat semua unit pesawat pemburu menjadi lebih sinergik.Sebelum ditutup seksi ini, ada baiknya menampilkan gambar dibawah ini ; barangkali kapabel mengelaborasikan “keinginan” masing-masing lanskap penerbangan dengan variasi basis pemangkalan  baik dari kapal induk, darat dan dihadapkan dengan jenis dan katagori elemen kekuatan Udaranya baik itu Pemburu (strike) atau Pembom, agar bisa digali lebih dalam fenomena kekuatan Udara ini.

Atribut format yang berbeda dari elemen kekuatan Udara

Referensi:Ibid, halaman xi. Ada tiga (3) basis himpunan yakni Carrier-based, Land-based dan Bombersyang memberikan sumbangan besar kecilnya “end-products” kekuatan Udara. Perhatikan penilaian (assesments) interseksi antara dua basis , misal Carrier-Based dengan Bombers , akan menghasilkan — ketidak perlunya berbasis kejadian yang sama.Antara Bombers dengan Land-Based strike fighters akan menghasilkan —- sedikit “ deck constrains” (hambatan) dan menciptakan utilisasi penggunaan jenis siluman (Stealth). Interseksi dari tiga interseksi ini membulatkan satu obyektif yakniàpukulan terhadap sasaran yang bergerak maupun tetap dengan akurasi yang tinggi.

 

Kesimpulan

Bahasan diatas lebih banyak menyoroti kekuatan Udara negara besar, karena merekalah yang memang pantas memiliki dan memperoleh manfaat dengan dukungan Ekonomi yang sukses  (strategi ekonomi nasional). Sebaliknya nampak sangatlah sulit bagi negara kecil atau sedang untuk tetap menghadirkan apalagi mempertahankan utilitas kehadiran kekuatan Udara dengan atribut besaran jumlah sorti, jumlah senjata yang dilontarkannya dan “biaya” perang yang luar biasa…dan bisa dihitung berapa jumlah (total) “life-cycle cost”-nya. Namun satu hal yang pantas disepakati, bahwa unsur RMA sangat kuat sekali dalam membangun kapabilitas kekuatan Udara, dan pelaksanaan dilapangan adalah Industri pertahanan nasional yang kuat didukung riset pertahanan nasional yang unggul.Aktor yang memberikan isyarat telah memiliki kekuatan Udara(lebih dari Angkatan Udara), telah dikaruniai “keberuntungan” sudah memberikan nuansa effek “getar” dan mengingatkan siapa saja bahwa pemilik kekuatan Udara ini kapabel melakukan kontrol dan akan memegang kendali insitiatif diawal konflik atau pertempuran dan tahapan berikutnya sebagai rangkaian kampanye perangnya dan diakhiri dengan memenangkan perang. Dukungan statistik selama ini menunjukkan bahwa sukses ditahap awal sangatlah menentukan sekali.


[1] Drew, Dennis.M, Colonel USAF (Ret),The Fairchild Papers, hal59, Air University Press, May 2008, Recapitalizing the Air Force Intellect, Essays on War, Airpower, and Military Education dan periksa Hammond, Grant T,Dr, Air and Space Journal, 2000,  Myths of the Air War over Serbia . Some ‘Lessons’ not to Learn.  Guillino Douhet, bukan penerbang tapi pemikir kekuatan Udara yang bagus setelah diangkat sebagai Dan Yon Penerbangan Italia, Trenchard orang Perancis dan Billy Mitchell, orang America. Meskipun konsep mereka bisa saja dianggap klasik, namun beberapa bagian masih relevan.

[2] Definisi Aerial Presence , tidak diketemukan di kamus khusus militer NATO maupun AS (Dictionary of Military and Related Terms, JP 1-02),  namun dari beberapa terminologi yang berdekatan (aerial picket, port) dsb dapat diperkirakan sebagai Area yang diorganisir Angkatan Udara untuk dijadikan fokus operasi udara atau kontrol area keluar dan masuknya pesawat terbang.Terminologi kekuatan udara,  nampaknya mengalami perubahan sebutan kearah kekuatan udara dan ruang angkasa (air and space power― periksa Air Force Doctrine/AFDD 1) yang artinya kekuatan sinergik produk aplikasi kekuatan udara, ruang angkasa dan sistem informasi untuk memproyeksikan kekuatan strategik global. Misi awal ODF sebenarnya mengawal mandat PBB tentang “zona larangan terbang (no-fly zone)” diatas Bosnia. Misi ini berkembang dan termasuk didalamnya misi bantuan udara dekat (CAS/close air support) untuk membantu dan melindungi manuvra darat PBB dan menangkal serangan unit Serbia terhadap enam area aman (safety-areas) tetapan PBB. Belum adanya kamus umum militer nasional bagi TNI—belum ada kesepakatan apakah definisi Airpower sebagai kekuatan udara, atau lainnya dan bandingkan kekuatan juga merupakan terjemahan dari force.Lantas apa beda terjemahan Air Force denganAirpower?

 

[3] Beale, Michael O, BS & MS, May USAF , School of Advanced Airpower Studies Air University, “ Bomb Over Bosnia: The Role of Airpower in Bosnia-Hersegovina”,  hal 1.

[4] Ibid, abstrak.

[5]10 Propositions Regarding Air Power ”, Chief of Staff/USAF, Air Force Historical Studies Office,Washington,1995,hal 1.

[6] Tritten,James J dan Cimbala, Stephen J,National Defense University, Joint Force Quarterly,Winter 2002-03, “Joint Doctrine―Engine of Change ?”, hal 90. MTR adalah Military Technology Revolution (definisi Russia) atau RMA (revolution in Military Affairs) sebutan sekarang; kedua-duanya berbasis perubahan teknologi yang lebih maju. RMA akan mendikte ukuran effektivitas atau (MOE).

[7]Force Planning”,Naval War Coll Press, strategi nasional,strategi keamanan nasional dan strategi raya (grand strategy) bisa dibolak balik, sama artinya

[8] Air Power Development Centre, Australian Govt,2008, Dr Sanu Kainikira , “A Fresh Look at Air Power Doctrine”, hal 5.

[9] Ibid, hal 11

[10] Kugler, Richard L, NDU, CTSP, 2006, Policy Analysis in National Security Affairs;New Methods for a New Era, hal4.

[11] Ibid,hal 11.Militer lebih mengenal strategirelatif sama dengan policy.Publikasi Army, Naval, Air War Coll/University, lebih sering menyebut strategi. Strategi nasional diturunkan dari muatan kepentingan nasional (obyektifnya), menjadi strategi-strategi instrumen kekuatan nasional ― strategi diplomatik,strategi ekonomi nasional dan strategi pertahanan militer, berasumsi bahwa kepentingan nasional terdokumentasikan. Semua strateginasional tegabung dalam strategi keamanan nasional. Tugas Strategi KamNas (KamNas) menjamin tercapainya obyektif kepentingan nasional.TingNas=visi jangka menengah,strategi=misi yang mendukung visi negara bangsa. TingNas dibangun setiap kepala pemerintahan baru (menurut Huntington). Muatan dalam pembukaan UUD RI adalah fundamental of national goals yang jauh lebih tinggi dan lebih abstrak dibandingkan TingNas. Semua entiti dalam ruang strategi raya (grand-strategy) diikuti dengan kata belakang adalah nasional ― misal:strategi pertahanan nasional,strategi militer nasional,kepentingan nasional,dst,bukan negara (state/nation). Mengapa nasional? National=nation/state+“core value”.Obyektif strategi adalah lebih kesistem nilai bukan nation/stateyang lebih fisikal. Yang diamankan strategi KamNas adalah obyektif muatan kepentingan nasional, lebih dari kepentingan negara. KamNas berorientasi pada pengancam TingNas. Diluar iniancaman masuk dan diagendakan dalam isu Kamdagri (Homeland Security’s issues)― cara yang lebih effisien.Periksa juga “Aturan Pelibatan (AP)” dan dua artikel tentang Kamnas oleh tim FKPM dalam situs www.fkpmaritim.org.

[12] Quarter Deck (QD) , Vol 5, no15, 2012, “Pentingkah analisis kebijakan ?… dst”, Budiman Djoko Said, hal2, kolom kanan.

[13] Periksa Bibliography publikasi RAND dengan judul yang bertebaran seperti Cost Analysis,Cost Consideration, Cost Benefit,Cost Effectiveness, Economics of Defense, Defense’s Economics, System Analysis in the Defense”, dll.

[14] Kugler, Richard L, NDU, CTSP, 2006, Policy Analysis in National Security Affairs;New Methods for a New Era, hal 15.

[15] Doctrine, USAF, Air Force Doctrine Document 1, 17 November 2003, hal 11.

[16] Kepentingan Nasional yang terdokumentasi menjadi basis pengambilan keputusan nasional (NSDM/National Security Decision Making).Isyarat setiap isu Keamanan nasional dengan tingkat dan kategori (tingkat mulai 4,3,2 dan 1, serta katagori mulai “lain-lain”, sampai dengan “survival”) ditentukan (dan dilaksanakan) oleh Dewan Keamanan Nasional (perintah wakil ketua)à mengingat waktu (respons) untuk bertindak sangatlah penting, dan info selalu kepada Ketua (dhi Presiden). Tidak selalu harus menunggu keputusan sang Ketua. Veto tingkat dan katagori bisa langsung dilakukan Ketua setiap saat. Isu ancaman yang tidak relevan dengan ancaman terhadap kepentingan nasional (asumsinya kepentingan nasional sudah terdokumentasikan dan disetujui Parlemen) dikeluarkan dan dimasukan dalam agenda Kamdagri à lebih effisien.

[17] Transformasi adalah contoh agenda (keberanian)perubahan manajemen.Transformasi adalah agenda bentuk perubahan,obyektifnya adalah effisiensi tentunya ― contoh agenda pertama yang dilakukan DepHan AS adalah merubah konsep perencanaan dan anggaran berbasis TBP (threat-based planning) ke basis CBP (capabilities-based planning).Kedua  merubah konsep ekspeditionari Angkatan Udara sebagai kekuatan Udara dan ruang angkasa (Air and Space), periksa  Supporting Air and Space Expeditionary Forces, Capabilities and Sustainability of Air and Space Expeditionary Forces, Snyder,Don, et-all, 4 persons, RAND, 2006.Reformasi ataupun RMA dalam tubuh organisasi militer hanyalah  bagian kecil transformasi.

[18] Peran ditentukan oleh UU, tapi tidak bagi fungsi dan tugas. Periksa QD tentang konsep strategy-to-task (www.fkpmaritim.org) ― membuat formulasi “tugas” (task) diawali dari paradigma (model) strategi nasional sampai ke-tugas, lebih realistik disesuaikan dengan situasi dan lingkungan strategik yang selalu berkembang. Model tersebut adalah teknik atau perangkat untuk membuat atau menciptakan tugas dan tanggung jawab serta koordinasi dalam organisasi ― tugas (task) selalu ada acuannya yakni strategi dihirarkhis paling atas.

[19] Pemegang kendali sistem senjata asimetrik bisa juga disebut melakukan peperangan atau strategi A2/AD (anti access dan area denial).

[20] Air Power Development Centre, Australian Govt,2008, Dr Sanu Kainikira , Essays on Aipower, Preface, halaman xi.

[21] Ibid, halaman 1.

[22] Menggunakan paket gabungan militer berupa kekuatan Darat (land-power), Maritim (maritim power) dan Udara (air-power) dan bisa saja menugaskan ketiga-tiganya atau dua saja atau salah satu dengan kriteria kredibilitas, kapabilitas dan kesanggupan dan respon serta siap bertarung dalam jangka yang cukup panjang dan melelahkan. Asumsinya ada keputusan Ketua Dewan Keamanan Nasional untuk mendemonstrasikan gelar “operasi penggetaran” ini — effektivitas getar, butuh sistem logistik dan stok serta inventori “perang” untuk waktu yang cukup lama. Dengan mengirim atau mendengung-dengungkan saja dengan mengirim 2 atau 3 kapal atau pesawat dalam AOR (area of responsibility) atau dalam axis “menggetarkan” (deterrence axis) mungkinkah lawan langsung tergetar ?Opsimenggunakan paket kekuatan gabungan militer bisa saja menjadi paket lebih besar lagi dengan melibatkan instrumen kekuatan ekonomi dan diplomasi bersama-sama dalam paket yang disebut FDO (flexible deterrence option) —semua paket strategi tersebut dikendalikan (bukan koordinasi saja) dan diatur oleh  WanKamNas dan pada tingkat KamNas 3, 2 langsung dikendalikan oleh WaPres.

[23] Doctrine, USAF, Air Force Doctrine Document 1, 17 November 2003, hal 15.

[24] Doctrine, USAF, Air Force Doctrine Document 1, 17 November 2003, hal 22.

 

[25] Ibid, halaman 22. Melelahkan dikarenakan tidak diketahuinya faktor inisiatif dan waktu yang dipegang oleh penyerang.

[26] Ibid, halaman 16.

[27] Ibid, halaman 16.

[28] RANDCORPT, “Defining the Role of Airpower in Joint Missions”, ch1. “Introduction : Airpower and the “ New American Way of War “, halaman 3.

[29] Air Force Basic Doctrine, halaman 22.

[30] Carter, John. R, Major USAF , Cadre Paper, Air University Press, October 1998, “Airpower and the Cult of the Offensive”, halaman 24.

[31] Ibid,  halaman 22.

[32] RAND CORPT,2002, Edited by Zalmay Khalilzad, Jeremy Shapiro, “ Strategic Appraisal; US Air and Space Power in the 21 St Century”, Part—II, Where Does the USAF Need to GO ?

—ch4. “Modernizing the Combat Forces:Near – Term Options”, halaman 93.

[33] RAND CORPT,2002, Edited by Zalmay Khalilzad, Jeremy Shapiro, “ Strategic Appraisal; US Air and Space Power in the 21 St Century”, Part—II, Where Does the USAF Need to GO ?

—ch4. “Modernizing the Combat Forces:Near – Term Options”, halaman 93.

 

[34]Doctrine for Joint Maritime Operations (AIR) “ , Joint Pub 3-04, 31 July 1991, halaman II-1.Komandan diterjemahkan dari Commander, sedangkan Panglima yang berasal dari terjemahan  “C-in-C” (Commander – in- Chief …Kepalanya para KomandanàPanglima).

[35] C2 (Command and Control) sering diterjemahkan sebagai Komando dan Kendali (Kodal), bukan Komando dan Kontrol. Padahal artian Komando sendiri lebih banyak kepengendalian penuh atau kendali lebih dekat kepada Komando — ada pengertian ganda sepertinya. Arti K berikutnya adalah kontrol yang kewenangannya tidaklah sepenuh Komando, artinya secara kualitas dan bobot kewenangan berada dibawah Komando.

[36] RAND CORPT,USA, 2010, “ Air power “ ,ch1. Introduction, halaman 3.

[37] RANDCORPT, “Defining the Role of Airpower in Joint Missions”, ch1. “Introduction : Airpower and the “ New American Way of War “, halaman 4.Kekuatan Udara dengan kapabilitasnya bisa mengontrol manuvra “lawan” diarea tanggung jawabnya dan bisa meliput area kontrol keunggulan Darat, dan Maritim , akibatnya kekuatan Udara menjadi kompetitor  bagi kekuatan Darat dan Maritim, periksa halanan 5. Tentang isu Maritim , periksa juga “The National Strategy for Maritime Security “, September 2005, Dept of Homeland Security, USA, Washington, halaman 1, Introduksi.  Note:The Maritime domainfor theUnited States includesthe Great Lakesandall navigableinland waterways suchastheMissisipi River lanjutan catatan kaki no.5 ……. andtheIntra-CoastalWaterwayàartinya sungai, laut, kelautan, teluk, pantai sampai dasar laut dan udara diatasnya adalah domain (dalam ruang Cordonne Sanitaire—ruang kontrol) Maritim. Bukan dibalik seperti Kelautan yang malah mengontrol Maritim – tentunya super-set yang akan mengontrol sub-set ? Bagi RI dengan hadir lengkapnya semua elemen domain Maritim, menjadi aneh kalau justru Kelautan yang mengontrol Maritim dan perlu diketahui bahwa jantung kekuatan Maritim (Maritime Forces) dimana-mana adalah Angkatan Laut.

[38] Sulit menterjemahkan “warfighting” (TNI belum memiliki kamus umum pertahanan nasional dan militer), berbeda dengan terjemahan combat, war , operational dll, yg lebih jelas. “warfigting” ditemukan dalam ADP (US Army Doctrine Publication) 3-0, Unified Land Operations, October 2011, hal iv, dengan terminologi “warfighting”  yang meliput kegiatan seperti: mission command, movement and manuevre , intelligence, fire, sustainment dan protection.

[39] Operasi mendalam (deep-strike) dilakukan dengan mendeploikan seluruh pasukan lengkap dengan peralatannya  langsung kejantung lawan dari titik embarkasi atau pendaratannya. Meskipun nampaknya sama , akan tetapi doktrin Marinir AS dan Angkatan Daratnya berbeda tentang pelaksanaan operasi men”dalam” (deep operations)nya, periksa RAND CORPT, 2006, “Learning Large Lessons. The Evolving Roles of Ground Power and Air Power in the Post-Cold War Era”, Johnson,David.E,halaman 145.

[40] RANDCORPT, “Defining the Role of Airpower in Joint Missions”, ch1. “Introduction : Airpower and the “ New American Way of War “, halaman 4-5.

[41] RAND CORPT, 2006, “Learning Large Lessons. The Evolving Roles of Ground Power and Air Power in the Post-Cold War Era”, Johnson,David.E, halaman 42.

[42] Ibid, halaman 9.

 

[43] Hamilton, Robert.J, Major USAF, School of Advances Airpower Studies , Air University, June 1993,“Green and Blue in the Wild Blue: An Examination of the Evolution of Army and Air Force Airpower Thinking and Doctrine Since The Vietnam War”, abstract.

[44] Ibid, halaman 5.Menarik mencermati isu sentrik ini, mengingat bisa saja terjadi persinggungan sebagai penyebab isu sentrik ini dan melanda hampir pasti disemua Angkatan, masalahnya bagaimana menyelesaikan bukan dengan sederhana dengan sekedar kompromi atau mendikotomikan namun lebih penting lagi dengan cara pembagian distribusi taskdan effisiensi  bagi kepentingan (obyektif) operasi gabungan.

[45] RAND CORPT, 2006, “Learning Large Lessons. The Evolving Roles of Ground Power and Air Power in the Post-Cold War Era”, Johnson,David.E, halaman 27.

[46] Ibid, halaman sama , disitu tercatat sang Profesor menulis dalam artikel berjudul “ Air Force Doctrine Problems 1926- Present,” Air Power Journal , Winter 1995.

[47] RAND CORPT, 2006, “Learning Large Lessons. The Evolving Roles of Ground Power and Air Power in the Post-Cold War Era”, Johnson,David.E, halaman 28.

[48] Rand CORPT,USA , Prepared for USAF , 2007, Lambeth, Benjamin S, “Combat Pair; The Evolution of Air Force – Navy Integration in Strike Warfare”, halaman 3-5.

[49] Ibid, halaman 10. RF – 4, adalah pesawat pemburu F-4, kode R didepan adalah Radar. Skuadron ini  dipangkalkan di Jerman Barat , pesawat tsb sedang bertugas mencoba peralatan baru (TEREC) guna mendeteksi dan melokalisasi posisi emisi Radar Rudal Darat ke Udara. F-14 A (F kode untuk jenis Fighter) menembak dengan Rudal anti Udara. Beruntung satu (1) Rudal AIM – 9 L (heat seeking missile) tidak meluncur, rudal kedua meluncur namun tidak meluluh lantakkan RF tersebut karena terlalu dekat jaraknya sehingga hulu ledaknya tdk berfungsi penuh.Kedua penerbang RF-4C meloncat dengan kursi lontarnya.

0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x
Share via
Copy link
Powered by Social Snap