KONTROL SIPIL DALAM HUBUNGAN SIPIL – MILITER (HSM)

Oleh: Budiman Djoko Said

Pendahuluan 

The Word State is Identical With The Word War”, kalimat ini mengisyaratkan bahwa  keberadaan suatu negara-bangsa identik dengan perang. Sejarah membenarkan pernyataan itu dengan pemusatan dua kali perang besar dengan korban lebih dari 50 juta manusia. Meskipun egara-negara yang terlibat terdiri dari berbagai bentuk dan gaya pemerintahan, mulai regim otoritarian sampai dengan regim demokrasi atau diantaranya, hampir semuanya dibawah kepemimpinan sipil dan kekuatan militer sebagai subordinasinya. Menariknya Carl Von Clausewitz, bangsawan Prussia menulis dengan dalam dan tajam hubungan negarawan (sipil) dengan militer – HSM (Morgan, hal 1).

Studi dan pembelajaran HSM sangatlah penting bagi elit sipil dan militer. Demonstrasi paling sederhana tentang negara yang belum demokrasi adalah “absen” nya kontrol kelembagaan yang effektif. Pendekatan dan aplikasi pembelajaran serta “praktek terbaik” HSM – memudahkan elit sipil belajar cara mengontrol militer dan sebaliknya para perwira militer belajar menyadari untuk menerima kontrol yang “menguntungkan” kelembagaan militer dimasa mendatang mendatang yang secara umum sangat berguna bagi kelangsungan hidup suatu bangsa. (Bruneau, 2004, hal 1-2 ) dan dampaknya jauh kedepan adalah terciptanya demokrasi riil HSM.

Fokus HSM di-tingkat strategik lebih kepada hubungan otoritas politik sipil dengan senior elit militer dengan materi pokoknya – bagaimana pemerintah melakukan kontrol sipil ini. Kata Huntington : kontrol sipil obyektif akan meminimalkan tekanan dan pengaruh militer dalam pengambilan keputusan nasional sekaligus memaksimalkan tingkat profesionalisme militer. Trikunas, Harold; pengajar paska sarjana AL-AS menyatakan…stable democratic rule is impossible without civilian control of the military. (Bennet, hal 1). Literatur kontemporer banyak mempertanyakan kedalaman pengetahuan yang diperlukan politisi (sipil) agar benar-benar bisa mengontrol kekuatan militer nasional à khususnya effektivitas dan effisiensi militer (Ibid, hal 1-2). Meskipun tidaklah mudah menyajikan dua (2) materi system rekayasa (effektif dan effisien) tersebut. Nampaknya kebutuhan kontrol sipil dalam sistem demokrasi menjadi basis aturan main (rule of law) dalam praktek pemilihan jabatan politik, pemerintah dan proses pemerintahannya (Andrews, hal 1). Kontrol sipil effektif justru menguntungkan kepentingan militer. Dinamika HSM yang cukup peka dan menonjol seperti pergantian Panglima AS era perang Korea dan Vietnam ataupun bentuknya dinegara lain, adalah bukti dan praktek kontrol sipil yang bisa diterima tanpa suatu gejolak apapun juga. Meskipun begitu tetap saja ada pertanyaan sampai batas mana kontrol sipil dapat menjelaskan? Jendral Mac Arthur mungkin mewakili jawaban tersebut secara tidak langsung, dengan mengatakan :  “Once war is forced upon us, there is no alternative but to apply every available means to bring it to a swift end. War’s very object is victory—not prolonged indecision“.

Penjelasannya à perang adalah keputusan politik, tetapi Jendral/Laksamana/Marsekal-lah  sebagai pemangku otonomi penggunaan kekuatan (jumlah) militer nasional yang essensial dengan cara effektif dan effisien ‘tuk memenangkan perang. Setelah ada keputusan politik tentang perang sulit rasanya masih ada ruang “bebas” kontrol politik selama proses perang (Nielsen, hal 5) itu. Kecuali ada kondisi ideal dan khusus antara Panglima dengan elit sipil/negarawan, tetapi seperti apa? Memang ada kepala negara yang kapabel melakukan kontrol sipil rinci terhadap penggunaan kekuatan militernya misal Hitler, Eisenhower, JFK, Menhan Mc Namarra, dan lain-lain yang tidak ketahui serta jumlahnya sedikit, apakah seperti ini bisa disebut kondisi yang ideal?

Sulit menjaabnya, namun sangatlah penting mempertanyakan sesuai tingkat kontrol politik terhadap operasi militer dan seberapa jauh penggunaan kekuatan militer (use of forces) yang esensial untuk mencapai “ends” strategi militer nasional dan hal ini signifikan merupakan taruhan kepentingan nasional. Kata “pengunaan kekuatan” perlu diklarifikasikan mengingat pentingnya definisi tersebut bagi Panglima Mandala, Komandan tempur, sebagai penjabar AP (aturan pelibatan) agar semua anak buahnya dilapangan tidak ragu-ragu lagi untuk bertindak. Makalah ini mencoba mendapatkan “pembelajaran” dari beberapa aspek proses otoritarian dan demokrasi maupun yang samar-samar diantaranya serta diharapkan dapat meliput HSM. Bagi negeri yang baru mulai transisi demokrasi, tentunya akan banyak “ongkos” (waktu) pembelajaran yang harus dikeluarkan. Meskipun bisa saja dengan waktu pendek menyelesaikan proses transisi ini seperti Israel. Beberapa aspek yang dibayar selain interaksi antara sipil dan militer, ada domain inteligen yang menarik untuk dilakukan penilaian dan perkembangan dalam transisi demokrasi ini. Harapannya peran baru inteligen bisa menjaga keseimbangan antara harapan terhadap keamanan dan aktivitas inteligen serta kebebasan individual sebagai warganegara yang bebas dari ketakutan (Escobar, abstrak). Harapan lain aparat inteligen bukan produk resim otoritarian tetapi produk inteligen demokrasi yang mendapatkan mandat dari kontrol sipil untuk menjalankan fungsinya, dikontrol dan diawasi dengan prinsip demokrasi, seperti menghormati HAM, hukum, akuntabilitas dan transparansi (Ibid, abstrak).

Bagi komuniti inteligen tentunya sulit untuk bersikap lebih terbuka dan bisa dimaklumi mengapa mereka memilih bersikap lebih tertutup. Rahasia essensial bagi inteligen adalah ukuran effektivitas (atau MOE, measures of effectiveness) suatu alut, sistem, sista (sistem senjata), atau operator pendeknya apa saja yang digunakan militer untuk bertempur. Bukan kepada kebisaan (ability) alut, sista, posisi, jaring frekuensi, jumlah alut, pasukan, dan lain-lain yang kesemuanya itu bisa dicari atau dicuri informasinya. Contoh kebisaan adalah : kecepatan menanjak tank atau panser per setiap tingkat kemiringan, jarak tembak meriam caliber xx, kebisaan sesuai rancang bangun pabrik, laju pemakaian BBM per jam per setiap kecepatan, jarak tempuh maksimum, kecepatan tembak, muatan standar amunisi,dan lain-lain. Variabel kebisaan seperti itu sekarang bukan lagi suatu hal yang “sulit” dihitung atau dicari atau dicuri – justru harga MOE alut, atau system atau operator justru yang sulit dicuri.

Misal probabilita sensor mendeteksi, probabilita tembak tepat per berbagai jarak per berbagai posisi bagi seorang “sniper” atau “marksmanship”, atau harga ketahanan lama per individu pasukan khusus dengan makanan terbatas, harga pergerakan individu pasukan infanteri, tim intai , dan lain-lain justru inilah materi MOE yang sangat-sangat perlu sekali dirahasiakan. Kebisaan adalah harga desain teknologi, sedangkan “outcome” adalah harga alat, alut, perangkat, system, setelah didayagunakan atau mengikuti serangkaian test/riset lapangan ditangan operator. Apabila dijumlahkan harga kebisaan ditambah harga “outcome” barulah benar-benar mencerminkan harga kemampuan (capabilities). Sungguh tidaklah mudah atau gampang mengatakan alut atau operator ini mampu. Pembahasan inteligen akan memperlihatkan bagaimana sebaiknya membangun sistem inteligen dibawah regim demokrasi tersebut. Makalah berasumsi pembahasan berada dalam kondisi domestik yang stabil dan terkontrol. Apabila ada kecenderungan instabilitas, HSM akan lebih intens lagi karena militer akan meningkatkan proses MIS (manajemen informasi sipil), yakni informasi yang sangat dibutuhkan militer guna melakukan operasi militer menghadapi peperangan yang tidak beraturan (Irregular Warfare), Operasi militer pokok/besar dan Operasi SSTR (Stability, Security, Transition, dan Reconstruction) (Burke, hal 3) serta Operasi gabungan seperti seperti Operasi militer dalam rangka membantu urusan sipil (joint civil-affairs opt), Operasi gabungan sipil-militer (joint civil-military opt) maupun Operasi gabungan militer sendiri dalam suatu negara  (joint military opt) samapi operasi gabungan antar negara (combined operations).

Kontrol Sipil  Terhadap Militer 

HSM adalah salah satu atribut perilaku suatu negara (Yamaguchi, et-all, hal 213). Studi HSM bukan saja memeriksa interaksi kedua elit tersebut tetapi memeriksa lebih dalam peran militer dalam bingkai politik dan derajad mana militer bisa berpartisipasi dalam bingkai itu. Karena militer bisa diperankan sebagai perangkat “penekan” (coercive) terakhir yang dapat digunakan negara serta dapat beroperasi dalam fesyen organisasi yang terlatih baik, sepantasnya dan yang “terbaik” bila militer dijadikan subordinasi kontrol sipil (Tam, hal 19). Militer sebagai subordinasi sipil menggunakan otoritasnya untuk memilih kekuatan militer yang paling esensial untuk berperang dan memenangkannya. Makna esensial adalah jumlah kekuatan yang diyakini berpeluang besar untuk menang apabila berperang.

Tidaklah keliru menetapkan HSM sebagai salah satu “majoring” paska sarjana dinegara maju guna menampung keinginan akademisi dan mahasiswa yang telah lama menyadari hubungan elit politik dan “pendirian militer” akan menciptakan kekuatan gabungan dan effek terhadap politik atau kebijakan luar negeri. ”Pendirian militer” diatas tidaklah sesederhana dimengerti sebatas Panglima atau Komandan saja tetapi yang lebih penting adalah mengetahui struktur kekuatan, doktrin, budaya militer dan tradisinya, dan cara bagaimana militer menyelenggarakan organisasi lembaganya (Ibid, hal 214). Pemahaman ini diperlukan selain untuk memahami kejadian didalam negeri juga isu-isu yang terjadi dalam lingkup bilateral, multilateral dan regional sebagai produk HSM.  Karena itu pemahaman serta pendalaman arti militer sungguh diperlukan agar lebih mudah berdialok dan melaksanakan konsep kontrol sipil ini. Menurut Finer; militer modern adalah instrumen yang diciptakan cenderung untuk kokoh, keras, jarang menerima simpati atau respek dari populasi sipil dibandingkan entiti lainnya yang ada dalam masyarakat umum serta kebisaan mereka untuk fokus terhadap sesuatu diluar batas kemampuan operasionalnya dan pemerintahan yang tradisional sangatlah terbatas. Sebaliknya militer lebih banyak konsen dan memahami pelaksanaan strategi dan solusi kebijakan luar negeri dibandingkan mitra kerja elit sipil (Kimminau, hal 20). Sementara itu agensi sekuriti memandang mereka sebagai penjaga dan pelindung kepentingan nasional, meskipun militer dinilai memiliki kelemahan dalam legitimasi untuk mengatur secara sefihak dan boleh jadi mereka hanya bisa memahami atau memprioritaskan kepentingan nasional itu dengan cara berbeda dengan masyarakat sipil lainnya. (Weinrub, hal 11-12).

Bahkan Bautista dalam thesisnya menyebutkan bahwa John Johnson mengakui bahwa militer kapabel mengintegrasikan berbagai kelompok etnis kedalam komuniti nasional, mengajarkan ketrampilan ekonomi dan bahkan pengetahuan masyarakat modern dan demokrasi. George Mirsky salah satu Kadep diDepartemen Ilmu Pengetahuan Russia menyetujui pendapat ini dan mengatakan bahwa “role-model” militer di-empat puluh enam (46) negara yang bersatus sedang berkembang diakui telah memainkan peran strategiknya (Bautista, hal 4). Hampir semua mengakui HSM dengan materi kontrol sipilnya tidak habis-habisnya diperdebatkan dan dikembangkan. Peter Feaver menyebut problematik kontrol sipil terhadap militer sebagai dilemma atau paradok yang sederhana, simak pernyataan pak Peter Feaver…because we fear others (ancaman luar,pen) we create an institution of violence (militer,pen) to protect us….but then we fear the very institution (militer itu, pen) we created for protection (Paper, hal 2). 

Huntington melalui kontrol sipil obyektif mempertimbangkan dua sisi kepentingan relatif bagi militer, yakni sisi imperatif fungsional (versus tingkat ancaman) dan sosial (struktur konstitusi Negara) serta komposisi ideologi atau persepsi masyarakat (Weinrub, hal 15-16). Oleh Huntington kontrol sipil obyektif dianggap paling tepat karena diyakini, pertama  memaksimalkan profesionalisme militer dan otonomi selaku alat Negara, kedua; mematangkan demokrasi – yang terakhir ini sangat disepakati Cohen. Realisasi kontrol sipil obyektif tergantung tercapainya keseimbangan antara kekuatan militer dan ideologi masyarakat (Porter, hal 13). Owens lebih menyentuh lagi, katanya keseimbangan sebenarnya terjadi sebagai produk dari “dialok yang tidak seimbang” (Owens, hal 68). Bahkan Prof Elliot Cohen mengatakan…coined the term the “unequal dialogue” by which he meant the conversation between political leaders and generals that needed to be candid, and sometimes even offensively blunt, yet remained always unequal, or forever resting on the final and unambiguous authority of the political leader (Conelly, hal 1). Teoris lain seperti Finer, Janowits dan Cohen adalah pendukung kuat kontrol sipil dan sepakat adanya dua (2) kerucut terpisah antara otoritas sipil dan militer à untuk mempertahankan demokrasi sangatlah penting bagi militer tetap dibawah kontrol otoritas sipil. Sebaliknya Peri, Lissak, Horowitz, Ben-Eliezer dan Schiff meyakini kedekatan dua (2) kubu tersebut bisa terjadi bila diliput dalam ikatan yang positif (Weinrub,hal 10-12).

Meskipun Perry dkk mempostulasikan tidak dipisahkannya dua kubu tersebut justru menguntungkan untuk mengurangi peluang militer untuk melakukan “coup”. Teorinya kontrol sipil terbagi dua yakni kontrol sipil subyektif dan obyektif (Budiman, hal 5) dan Huntington menambahkan, “kontrol sipil subyektif berakhir dengan meng-sipilkan “militer” – membuat militer sebagai ”cermin negara”. Kontrol sipil subyektif memiliki dua peluang yang sama besarnya yakni mempolitisikan militer dan melakukan “coup” (Levine, abstrak). Kontrol sipil subyektif berujud dalam berbagai format sebaliknya kontrol sipil obyektif berujud satu format. Otoritas sipil memikirkan obyektif dan “goals” Keamanan Nasional (baca:KamNas atau Strategi KamNas saja,pen), militer sebagai subordinasi sekaligus organisasi professional sukarelawan berperan menterjemahkan keinginan otoritas sipil.

Antithesis obyektif otoritas sipil yakni partisipasi militer dalam politik justru akan meningkatkan progresivitas dan agresivitas kelembagaan militer dalam kelembagaan, kelas dan konstitusi politik – akibatnya control sipil melemah (Porter, hal 12-13). Kontrol sipil obyektif berakhir dengan memiliterkan militer – membuat militer sebagai “alat negara” yang lebih profesional, periksa gambar no.1 dibawah ini. Sejarah mencatat rata-rata militer menghendaki pergerakan garis (Budiman, hal 5) menuju kearah kontrol sipil obyektif, sebaliknya elit sipil cenderung bergerak mempertahankan kontrol sipil subyektif (Weinrub, hal 17).

    Gambar no.1. Methoda Kontrol sipil terhadap militer — klasik

Referensi:Ibid, hal 18. Subordinasi dibawah kontrol sipil, seperti kelembagaan pemerintah, institusi budaya, dll, semuanya diatur oleh pemerintahan dan elit sipil.

Finer berpendapat kontrol sipil akan effektif apabila kapabel mengendalikan intervensi militer dan Kobi Michael mendefinisikan effisiensi kontrol terukur dengan perimbangan rasio pengaruh relatif antara militer dan sipil terhadap keputusan nasional (proses keputusan keamanan nasional, pen) dengan asumsi tidak ada dominasi militer. Semua teoris sepakat bahwa kontrol sipil dibenarkan mengingat militer sebagai produk satuan tangguh yang digunakan untuk perang. Bahkan Mira Sucharov mempostulasikan militer sebagai subordinasi sipil, katanya:…the subordination of civil society to military values and the subordination of civilian control of the military control of the civilian (Ibid, hal 13). Kebijakan pemerintah mempersenjatai rakyat (nation-in-arms) dan mensubordinasikan militer dibawah kontrol sipil adalah bentuk legitimasi kontrol sipil.

Tradisi “nation-in-arms” diawali Perancis tahun 1793 dengan “levee en masse”-nya untuk memobilisasi penduduk laki-lakinya. Keberanian melakukan kontrol sipil seperti itu lebih dikarenakan keinginan untuk tetap menjamin kelangsungan strategi pertahanan nasional berjalan baik. Karena itu semua instansi yang terkait dengan strategi ini atau para aktornya didefinisikan sebagai subordinasi pemerintahan sipil, dengan bentangan seperti: subordinasi transisi nasional, nilai, kebiasaan, kebijakan pemerintah, institusi sosial maupun ekonomi (Johnson, hal 10). Generasi pemikir baru seperti Bland, Ben-Meir dan Rebecca Schiff memberikan penalaran baru berbasis domain pemisahan yang dianggap lebih effektif sebagai pendekatan terbaik. Ben Meir, mendefinisikan HSM dengan tidak menekankan pemisahan formal dua (2) entiti ini, militer dan sipil, tetapi lebih kepada interaksi dua (2) entiti ini, bukan melihat secara terpisah masing masing entiti, periksa gambar no.2 dibawah ini.

Gambar no.2.Model HSM

Referensi : Weinrub, hal 19-20.Gambar ulang sesuai referensi aslinya, perhatikan garis terputus-putus adalah isu-isu yang tidak disarankan , yakni militer tidak terlibat dan melibatkan diri dalam isu politik (political affairs),  sedangkan kotak hitam adalah area utama kepentingan HSM. Elit militer hanya memiliki tiga (3) area kepentingan (3 garis tebal), sedangkan elit (pemerintahan) sipil memiliki hubungan dengan empat-empatnya (4 garis tebal). Interaksi sipil-militer berada dalam tiga (3) domain saja (periksa 3 kotak hitam).

Ben-Meir menambahkan bahwa ancaman populer bagi sipil bukan berasal dari petualangan elit militer atau para “kasta” ksatria (warrior=perajurit), tetapi lebih kepada campur tangan militer sehingga mengaburkan area khusus kompetensi HSM (Ibid, hal 20). Bland mempremiskan direktif sipil adalah suatu definisi yang mungkin lebih cocok dibandingkan kontrol sipil. Sama halnya dengan Ben, Bland berpendapat model kerucut ruang sipil maupun militer sebaiknya relatif tidak terpisah mengingat ada interaksi yang kuat untuk saling bertukar pendapat laiknya “orang yang berseberangan tetapi bersahabat (friendly adversaries)”. Kunci direktif sipil, kata Bland…adalah mekanisme akuntabilitas yang effektif. Gambar no.3 dibawah semakin menjelaskan pemahaman Bland tentang interaksinya.

Gambar no.3. Gambaran (model) ruang silang pendapat (diskursus).

Referensi:Ibid, (digambar ulang sesuai referensi asli) hal 24-25.Produk/output model menunjukkan bahwa interaksi yang kuat ini tetap tidak berbentuk (samar-samar) meskipun pengaruh militer ada dan bisa terjadi.

Penggunaan Kekuatan (Use of Forces) 

Ditingkat institusi, HSM ibarat “dua tangan dengan satu pedang”. Tangan sipil membuat pertimbangan kapan dicabut dari sarungnya, digunakan untuk apa dan kemana – domain kebijakan (sipil). Tangan satunya sebagai militer mengasah pedang itu agar siap digunakan dalam perang, yang terakhir ini – domain operasional (militer) (Owens, hal 67). HSM lebih mempersoalkan lebih kepada harapan hadirnya kekuatan esensial yang dibutuhkan untuk memenangkan perang terhadap si”pengancam” dan disisi lain masyarakat berharap banyak militer akan melindungi mereka dengan kekuatan yang esensial itu. Meskipun tidak nampak dipermukaan namun proses keseimbangan HSM tetap merupakan produk ”dialok” diantara kedua kubu itu. Dialok seperti ini akan memperbaiki “tensi” yang mungkin muncul, seperti kata pak Owens (Ibid, hal 72)…but in practice is far more complex. Both sides frequently disagree among themselves. Further the military can evade or circumscribe civilian authority by framing the alternatives or tailoring their advice or predicting nasty consequences; by leaking dst (Ibid, hal 72). Owens juga menunjuk pernyataan Richard Kohn dalam “Erosion of Civilian Control”, US Naval War College  Review, Summer 2002,…the erosion of civilian control give rise to “toxic” CMR (civil-military relations)… dst  (Ibid, hal 73). Pak Kohn membeberkan hiruk pikuknya HSM dinegeri AS, dan nampaknya cukup menarik untuk dicermati (Kohn, hal 9-36). Boleh jadi negara yang banyak dilanda isu sekuriti dan aksi penangkalan – isu keseimbangan HSM ini lebih menonjol. Semakin tertata HSM ini akan semakin “elegant” isu keseimbangan ini. Bagaimanapun juga militer dengan dominasi manuvra penangkalan tetap menyadari posisinya relatif (subordinasi) terhadap elit sipil (Owens, hal 68).

Owens berpendapat masih ada empat (4) pertanyaan yang menjadi domain HSM dalam isu kontrol sipil ini, khususnya tentang kebijakan penggunaan kekuatan. Pertama, pada tingkat mana pengaruh militer masih ditolerir dalam masyarakat liberal ? Format ekstrim pengaruh militer adalah militarism, prakteknya nilai-nilai militer lebih mendominasi pemerintahan dan politik luar negeri serta banyak menggunakan sumber daya nasional. Selanjutnya apa porsi militer sebenarnya dalam pemerintahan demokrasi? Owens bahkan mempertanyakan apakah ini yang disebut pak Huntington sebagai “sesuatu” yang diluar cakrawala HSM dan disebut  sebagai “manajemen kekerasan” (Ibid, hal 69) ? Contoh; seberapa jauhkah campur tangan militer dalam kebijakan luar negeri lebih-lebih yang berkaitan dengan aksi penangkalan? Apakah dengan cara yang terakhir ini boleh disebut militerisasi kebijakan luar negeri?

Apakah Komandan satuan dilapangan boleh dibiarkan menggunakan kekuatan dan kewenangannya secara berlebih-lebihan, mengingat komando dan kontrol dilaut biasanya benar-benar diserahkan sepenuhnya kepada Komandan komposit peperagan ? Apakah Komandan dilapangan boleh bertindak bak “raja muda” atau “pangeran muda” yang berlebihan kekuatannya ? Apakah perwira-perwira yang masih aktif boleh memberikan opini-bebas (op-eds, pen) melalui media-media umum ? Apakah boleh perwira purna tugas melibatkan diri dalam politik partisan (partai) ? Kedua, apakah  peran yang tepat bagi militer? Apakah pendirian kekuatan militer digunakan untuk berperang dan memenangkan peperangan atau melibatkan dalam aksi konstabulari saja ? Bentuk peperangan seperti apa yang akan disiapkan? Oleh karena manuvra, doktrin, organisasi tempur, dll yang disiapkan untuk mengimbangi perilaku “lawan”, kemanakah fokus militer akan digunakan , domestik  atau luar negeri   (Ibid, hal 70)?  Pengalaman AS secara permanen fokus kepada “konflik skala besar” (LSC/large scale conflict) versus “musuh” mulai tahun 1930-an dan setelah perang dingin  dan serangan 9/11 sekarang lebih memfokuskan pada – peperangan tidak beraturan (PTB) seperti lawan insurgensi dan lawan terrorisme sama halnya dengan keterbukaannya versus bencana alam, seperti versus Tsunami, Katrina, versus penegakkan hukum seperti kekacauan di LA, pengamanan perbatasan (Ibid, hal 70), operasi kooperasi sipil-militer dengan sipil maupun militer negara sahabat (Joint CMO). Berikutnya apa dampaknya dalam isu HSM ditingkat pengambilan keputusan strategik tepatnya pengambilan keputusan keamanan nasional?

Ketiga, pola HSM seperti apakah yang menjamin tercapainya ukuran effektivitas penggunaan instrumen kekuatan militer (Ibid, hal 70)? Semua pertanyaan tersebut tidaklah berarti apa-apa apabila instrumen militer tidak kapabel menjamin kelangsungan hidup bangsa (baca kelangsungan hidup salah satu substansi kepentingan nasional, misal kedaulatan Negara yang tentunya sudah terdokumentasikan dalam payung kepentingan nasional, pen). Selanjutnya kata Macubin Owens…if there is no constitution,  the question of constitutional balance does’nt matterDoes effectiveness require a military culture distinct in some way from the society it serves ?  What impact does political structure exert ? What impact does the pattern of civil-military relations have on the effectiveness of strategic decision making processes (Ibid, hal 70)? Keempat, siapa yang menjamin ? Apakah militer menjamin obligasi masyarakat atau kepada siapa?

Bagaimana merekrut dan menahan (berapa lama dalam satuannya, pen) anggota militernya ? Bagaimana militer mengatur “kebijakan” diversitas satuan-satuannya ? Bagaimana dengan isu rasial, gender, ethnis, minoritas, bahkan isu homoseksual (Ibid, hal 70) ? Pelahan tetapi pasti, isu-isu tersebut mulai terpecahkan, mulai dari solusi komponen cadangan, wanita dalam satuan tempur darat laut dan udara bahkan ekstrimnya rekrut dari minoritas muslim, dan homoseksual (Ibid, hal 70) bahkan kekuatan militer sekarang cenderung menjadi kekuatan professional  sukarelawan . Diluar ini semua ada suatu focus pertanyaan myopik dan biasanya terlupakan namun justru sangat menarik. Misal:apakah kontrol sipil juga menyentuh kelembagaan eksekutif seperti terhadap Presiden dan Menhan ? Apa peran legislatif didalam mengontrol instrumen militer (militer sebagai instrumen)? Apakah pendirian militer merupakan satu (unified, pen) suara sedemikian rupa sehingga “bisa” bicara dalam corong “satu suara” sama halnya dengan otoritas sipil (Ibid, hal 71) ? Bagaimana bentuk ”alami” dari nasehat militer? Haruskah elit militer meminta dengan “keras” (atau “lunak-lunak”) agar nasehatnya  diterima? Bagaimana alternatif cara bertindak (alternatives course-of-action) militer bila menganggap elit sipil mengambil keputusan keliru, atau agak keliru atau dengan kata lain ada “silang pendapat” antara militer dan elit sipil, berbasis keyakinan bahwa keputusan itu akan sangat berbahaya bagi “kelangsungan hidup” suatu bangsa (Ibid, hal 71) ? Rangkaian control  sipil masih belum menyentuh bagaimana kontrol sipil dalam hal ini diterapkan pada eksekutif maupun legislatif khususnya versus isu penggunaan kekuatan militer.

Perspektif Clausewitz 

Filosof Prussia ini bukan penganjur HSM, namun lebih banyak berfikir tentang perang sebagai kelanjutan politik. Cara pandang yang sangat populer untuk menyatakan bahwa kekuatan militer waktu itu adalah perangkat kebijakan elit sipil, meskipun beberapa orang bisa-bisa saja menolak. Karena itu perspektif Clausewitz sangat tepat digunakan sebagai pendekatan pembenaran policy penggunaan kekuatan militer oleh sipil, seperti kata bangsawan Prusia tersebut…”War is merely the Continuation of Policy by other means…..The political object is the goal.War is the means of reaching it, and means can never be considered in isolation from their purpose” (Yamaguchi, hal 216). Sebagai alat negara, kekuatan militer bisa sangat cocok (well-suited) untuk suatu tugas, dan sebaliknya sangat tidak cocok (ill-suited) untuk tugas lain.

Memahami “kekuatan” sebagai kapasitas untuk mendapatkan sesuatu, dan memahami fundamental perangkat alat negara sebagai instrumen kekuasaan nasional untuk memperoleh sesuatu dengan aksi membentang mulai dari “cara yang manis” seperti mempertanyakan, dialok, persuasi, atau penawaran sampai cara yang relatif “kasar” seperti mengancam, atau memaksa bahkan menghukum dan nyata-nyata kekuatan militer sangatlah cocok untuk melakukan aksi yang lebih ekstrim seperti itu. Clausewitz tidak menceritakan HSM secara konkrit, namun lebih banyak menyebutkan bagaimana hubungan dan interaksi antara elit sipil dan militer, singkatnya dinamika antara elit sipil dengan militer, dengan fokus bagaimana melaksanakan perang. Karena esensi HSM adalah kontrol politik terhadap militer (baca keputusan tentang penggunaan kekuatan militer yang esensi), negarawan Prussia ini menilai bahwa mempertahankan atau menjaga kontrol politik ini bukan sekedar menjawab sistem nilai, akan tetapi lebih dari itu yakni kunci suksesnya suatu kegiatan yang strategik. Clausewitz sangat mengharapkan elit sipil memahami betul-betul apa yang akan dan sedang dikerjakan pengguna kekuatan militer agar proses kontrol sipil terhadap penggunaan kekuatan militer benar-benar dapat dijalankan dengan baik. Proses pemahaman ini diberlakukan bagi regim otoritarian atau demokrasi. Beberapa pemahaman yang perlu dikenal dari ajaran Clausewitz; pertama, mengingat perang adalah kelanjutan kebijakan atau politik negara, maka pertimbangan politik-lah yang akan mendominasi pelaksanaan perang. Karena maksud perang adalah mencapai beberapa sasaran politik, maka obyektif militer harus benar-benar ditegaskan dan dipilih berbasis sasaran politik à konkritnya bagaimana caranya agar beberapa sasaran politik yang diinginkan tercapai dengan menggunakan kekuatan militer (Nielsen, hal 35).

Politik tidak dapat menghentikan fungsinya ketika perang sudah dimulai. Wajarlah kalau politik akan terus menerus menggunakan pengaruhnya terhadap jalannya operasi militer.

Demi menjaga kelangsungan kontrol atau pengaruh ini, suatu hal yang sangat vital bagi seorang Komandan ditingkat senior/nasional untuk menjaga kualitasnya bukan saja sebagai seorang Perwira tinggi yang kompeten memahami sumber daya militer yang diberikan padanya tetapi juga seorang negarawan mumpuni tentang kebijakan nasional dan kontek politik yang diembannya. (Ibid, hal 35). Kedua, keharusan elit politik mencermati jalannya peperangan. Untuk memahaminya , sewaktu merancangpun diharapkan elit sipil sudah bisa memahami. Bila petinggi sipil kurang memahami dikarenakan tidak berlatar belakang militer dapat saja diperbantukan penasehat militer agar petinggi sipil tetap dapat mempertahankan kontrolnya terhadap penggunaan militer.

Ketiga, harapan Clausewitz untuk secara rinci mengamati jalannya peperangan tentu saja banyak tantangannya, dan Clausewitz kurang menjelaskan dengan tegas sejauh mana elit sipil bisa mengontrol jalan peperangan. Termasuk bagaimana dan apa yang harus dilakukan petinggi militer apabila elit sipil mengarahkan kesesuatu keputusan yang justru membawa negaranya kearah kekalahan perang (Ibid, hal 36). Keempat, suatu tantangan bagi negarawan (utamanya) maupun  militer. Mengapa ? Petinggi politik harus kapabel sebagai seorang pemikir strategik yang berfikir bagaimana menggunakan means, ways dan ends dalam satu kesatuan yang utuh dan terdefinisi sebagai strategi keamanan nasional. Petinggi politik diharapkan bisa bertindak selaku yang berwenang mengendalikan atau sekurang-kurangnya mengontrol faktor “kelemahan” dan “kekuatan” lingkungan domestik sama halnya di-lingkungan internasional, atau regional. Petinggi politik harus selalu memprihatinkan tercapainya obyektif substansi kepentingan nasional.

Peran Inteligen 

Selama regim otoritarian berkuasa, sistem inteligen berada dibawah bayang-bayang “kekeliruan” regim yang beroperasi melalui kepala negara dan dibawah kontrol kelembagaan militernya (Escobar, hal 1). Pemimpin yang otoritarian ini sering menyalahgunakan kewenangannya khususnya HAM, menindas kebebasan individual, dan khususnya melanggar prinsip-prinsip demokrasi. Berbeda dengan regim demokrasi – kekuatan politik dan kontrol pemerintah lebih banyak diwenangkan kepada masyarakat, meskipun ada pertanyaan seberapa jauh porsi masyarakat untuk mengontrolnya, kalau tidak mengetahui “sama sekali” apa sebenarnya yang dilakukan pemerintah ? Sekarang ini sasaran besar politik bagi sebagian besar negara adalah konsolidasi demokrasi baru.

Perlu dipahami bahwa demokratisasi entah baik regim otoritarian ataupun regim demokrasi memiliki dua (2) variabel demokrasi yakni transisi demokrasi yang lengkap dan demokrasi yang sudah terkonsolidasi, kedua variabel itu memerlukan prasyarat liberalisasi. Transisi demokrasi memerlukan liberalisasi. Hal ini memerlukan gabungan perubahan besar-besaran kebijakan dan sosial, seperti sensor, organisasi politik, habeas corpus (=aturan main hukum, seperti bawa kepengadilan untuk diperiksa salah/tidak), pembebasan tahanan politik, pengembalian mereka yang dibuang, rehabilisasi individual, memperbaiki distribusi pendapatan, dan sangatlah penting adalah toleransi (Escobar, hal 16). Kebanyakan Negara yang melewati tahap transisi demokrasi adalah negara-negara dengan regim yang didominasi milter (Bruneau, 2008, hal 1) dan hanya sedikit negara-negara yang melewati tahap konsolidasi demokrasi berawal dari regim yang didominasi militer.  Demokrasi memerlukan kebebasan dan keterbukaan kampanye politik dan pemilihan umum. Kebanyakan kasus setelah selesai transisi demokrasi, masih menyisakan banyak pekerjaan rumah – selain modifikasi khususnya perubahan sosial dan ekonomi, dan toleransi, dan perubahan tingkah laku serta sikap yang lebih berpendidikan sebelum berbicara tentang demokrasi yang sudah terkonsolidasi (variable kedua). Menurut pak Diamond, demokrasi yang terkonsolidasi adalah situasi politik dimana demokrasi menjadi “satu-satunya” aturan main diwilayah tersebut (Escobar, hal 16). Ethos kerja inteligen, sebagai subordinasi pemerintah yang berkuasa dengan tegas bisa membedakan antara “kebijakan” dan “inteligen”. Bagi komuniti inteligen kedua fungsi tersebut akan berbeda. Pemerintah sipil akan menjalankan suatu “kebijakan” tertentu dan inteligen akan mendukung tetapi tidak akan mengganggu apalagi menasehati (komentar) alternatif pilihan pemegang “kebijakan”.

Elit inteligen yang mendukung “kebijakan” pemerintah sipil diharapkan akan mempertahankan obyektivitas konten sehubungan dengan kebijakan khusus, atau alternatif keputusan nasional atau “outcome”. Gagalnya elit untuk mempertahankan obyektivitas akan menciptakan “inteligen yang dipolitisir” (Ibid, hal 11). Selagi dunia menyaksikan lahirnya demokrasi baru, peran sistem inteligen seharusnya mulai dievaluasi. Setelah satu dekade regim otoritarian, atau pemerintahan militer, didukung sistem inteligen “rahasia” dan sesuatu yang mengerikan terhadap pelanggaran HAM – demokrasi baru membuka debat publik terbuka dan legislatif  baru mendorong kontrol sipil yang memadai terhadap agensi inteligen (Ibid, hal 1). Sistem inteligen sebaiknya memiliki peran sentra baru yakni mencegah kesewenang-wenangan pelanggaran HAM sementara itu melindungi kepentingan nasional melalui strategi keamanan nasionalnya. Peran baru ini memerlukan keseimbangan yang baik antara keamanan negara, kegiatan inteligen, dan kekebasan (baca kenyamanan) individual penduduknya – tidak lagi terjadi ancam mengancam yang mencederai demokrasi (Suyanto, hal 1).

Peter Gill bahkan menyimpulkan singkat tentang inteligen dibawah resim demokrasi dengan kalimat “suatu sistem yang kapabel menjamin informasi tentang ancaman riil tanpa menyalahgunakan HAM” (Escobar, hal 1). Inteligen tetaplah dibutuhkan akan tetapi sudah terevaluasi dan berubah fokus performanya. Methoda yang digunakan sebaiknya dirancang untuk membangun dunia yang lebih aman dan nyaman, berbasis hukum dan kooperasi yang effisien dan effektif dan berkualitas. Operasi inteligen harus mereformasi kerahasiaannya lebih berbasis ukuran effektivitas (MOE), lebih terintegrasi dengan kebutuhan pemerintahan demokrasi dan kebijakan regional, dan  mewujudkan keseimbangan trinitas riil antara keamanan, kegiatan inteligen dan kebebasan individu warga negaranya. Masyarakat haruslah ikut mengontrol dan mengawasi inteligen dibawah prinsip demokrasi, seperti menghormati hukum dan HAM, akuntabilitas dan transparansi. Bahkan versus isu inteligen sebagai fungsional terstruktur sekarang ini harus ada kiat baru untuk bekerja lebih kolaboratif dan demokrasi, tidak harus berkerja hanya mengandalkan segelintir elit inteligen yang seolah-olah kapabel menjawab semua isu keamanan nasional seperti yang terjadi dimasa regim non-demokrasi. Berikut ditayangkan tabel matrik no.3, visualisasi perbandingan yang terjadi di-tiga (3) negara yang dianggap mewakili regim otoritarian dan kemudian mengikuti strategi negara yang mengikuti transisi demokrasi dan demokrasi yang terkoordinasi, seperti tabel dibawah ini. Matrik ini dapat digunakan bagi pemangku kepentingan dan amanah untuk merancang bangun “aturan main”, peran dan struktur baru bagi operator dan sistem inteligen yang lebih baik setelah membandingkan dari sistem inteligen otoritarian ke sistem inteligen demokrasi.

Tabel no.3. Inteligen negara-negara dibawah regim otoriter dan demokrasi

Referensi:Ibid, hal 116.

Sistem inteligen El Salvador tidak bisa digabungkan dalam matrik dibawah regim demokrasi,  mengingat negara tersebut belum berubah sama sekali dari sistem inteligen otoritarian ke sistem inteligen demokrasi dan sampai sekarangpun belum ada informasi tentang reformasi sistem inteligen ini. Perhatikan muatan sel-sel matrik dengan Romania dibawah regim otoritarian benar-benar berada dalam genggaman tangan yang nakal (wicked problem) jauh dari legalitas mandat yang jelas, struktur maupun pengawasan, bahkan Romania dibawah regim demokrasipun tidak banyak mengalami perubahan siginifikan. Perhatikan kriteria strategi dalam tabel yang bisa dipilih baik otoritatif, atau kolaboratif atau kompetitif. Ketiga alternatif “means” ini mengadop teori Dr Nancy dari Pasca Sarjana AL-AS  tentang mengatasi masalah jahat atau nakal (against wicked-problems) (Ibid, hal 34). Kriteria perilaku (beaviourally), sikap (attitudinally) dan konstitusi (constitutionally) adalah ciri-ciri system inteligen yang relatif sama dibawah kontrol regim otoritarian.

Menegasikan pelanggaran terhadap hak individual dan masyarakat membutuhkan perubahan mandat, struktur dan pengawasan system inteligen dalam transisi demokrasi. Ketiga varibel perubahan ini merupakan subordinasi konstitusional à periksa tiga (3) sub-kriteria (3 kolom terakhir) dibawah konstitusional. Sepertinya kasus Argentina dalam tabel dipilih guna mendemonstrasikan pilihan strategi kolaborasi dan otoritarian sebagai strategi “nakal” pilihan Romania (Ibid, hal xvi) – siapa yang tidak mengenal Ceausescu? Argentina lebih maju dalam konsolidasi demokrasi sebaliknya Romania dengan kelemahan masyarakat sipilnya ditandai dengan lemahnya kepercayaan pemerintah yang diekpresikan dengan diangkatnya pejabat otoritarian sebelumnya untuk menjalankan bisnis inteligen.

Penjelasan singkat ini yang mungkin ingin ditampilkan Escobar guna menjelaskan thesisnya. Akhirnya dua (2) petunjuk sebagai pegangan bagi resim kerja agensi Inteligen, pertama fokus kepada ancaman utamanya yakni sesuatu yang mengancam subtansi kepentingan nasional – keamanan nasional. Kedua, ditingkat politik nasional, Presiden dan penasehat haruslah memandang agensi inteligen sebagai kelembagaan yang sangat berharga khususnya menjawab dengan premis keberadaan (situasi) kebijakan nasional (Ibid, hal 14-15) utamanya yang berkaitan dengan gangguan terhadap pencapaian obyektif kepentingan nasional yang berkatagori “survival” – ancaman prioritas.

Kesimpulan

Isu HSM sebagai bisnis elit sipil dan militer menjadi daya tarik tersendiri bagi akademisi dan mahasiswa yang menyadari bahwa gabungan operasional sipil dan militer akan memberikan kekuatan yang potensial bukan saja versus urusan domestik bahkan eksekusi kebijakan penangkalan (FDO/fexible detterent options) yang membentang mulai dari kekuatan penekan (influence power) dengan cara yang paling “manis” dan bergerak lebih kearah “persuasi” dan “tangkal” terhadap aktor Negara lain. HSM akan menjadi sesuatu tantangan bagi elit sipil sama halnya elit militer dengan dukungan fungsional inteligen. Tantangan bagi elit sipil bukan saja memikirkan bagaimana mengontrol penggunaan kekuatan militer namun lebih dari itu mengenal militer lebih dalam sampai kedoktrin, struktur, taktik dan teknik serta organisasinya.

Perlu perubahan sikap, perilaku dan pengawasan fungsional inteligen dan menuntut transparansi dan akuntabilitas selain harus lebih effisien dan effektif bagi unit inteligen sesuai mandat,  struktur dan pengawasan resim pemerintahan yang demokrasi dan lebih kolaboratif. Diperlukan penggunaan teknik manajemen modern yang lebih berbau kuantitatif seperti penggunaan MOE dan AHP (analisis hirarkhis proses) untuk membantu menganalisis inteligen. Meskipun literatur HSM berumur lebih dari 50 tahun, pemikiran Huntington dan Janowitz, dengan fokus upaya rekonsiliasi fihak militer selaku subordinasi kontrol sipil ternyata literature tersebut masih relevan menjelaskan fenomena HSM.

Bahkan Clausewitz yang jauh lebih senior masih bisa menjelaskan dasar-dasar konsep penggunaan kekuatan militer oleh elit sipil. Sementara ini ada perkembangan konsep berkaitan dengan demokrasi selain HSM yang disebut Reformasi Sektor Sekuriti/RSS yang mulai dikembangkan di Inggris  dan daratan Eropah sebagai reaksi terhadap HSM yang sudah mulai dianggap kuno  (Bruneau, 2008, hal 4) dan keterbatasan-keterbatasan HSM. Nampaknya RSS sekarang ini diutilisasikan pemerintah dan lembaga/organisasi internasional guna mengembangkan kebisaannya (ability) mengembangkan cara yang lebih effektif membantu mewujudkan keamanan (Ibid, hal8-9). Pendukung RSS berdalih bahwa isu keamanan bukan hanya masalah ancaman dari dalam dan dari luar saja atau dari militer dan non-militer, sedangkan militer dan elit sipil tidak bisa sendiri-sendiri melawan ancaman itu, oleh karena itu dibutuhkan kolaborasi. Perkembangan teori RSS ini mencermati tiga (3) instrumen keamanan yang ditampilkan yakni militer, polisi dan inteligen – sepertinya masih belum effektif dikontrol oleh sipil (Bruneau, 2008, hal 30). Hal-hal yang perlu dipertimbangkan lagi khususnya saat menghadapi spektrum misi dan peran domestik seperti lawan terorisme dan menjamin dukungan operasi kemanusiaan paska bencana alam ataupun peran internasional seperti menghadapi kasus terrorisme atau menyiapkan unit PKO yang lebih kapabel, ketiga instrumen keamanan tersebut biasanya sulit melaksanakan perannya diluar kebisaannya (Ibid, hal 31). Kolaborasi HSM dalam jaringan yang lebih luas akan lebih baik dengan melibatkan satuan pendukung perdamaian (PSO), agensi intelligen, pengadilan dan aparat penegak hukum  struktur sipil yang mengatur kekuatan sekuriti, LSM-LSM dan media masa (Ibid, hal 9-10). Materi HSM yang dipertanyakan Macubin Owens tidak dibatasi terhadap kontrol legislatif maupun eksekutif dan diluar itu masih banyak pertanyaan Owens lainnya yang masih belum terjawabkan.

Isu keseimbangan HSM yang ditulis pak Kohn, Cohen dan Connelly cukup menarik untuk direnungkan (periksa referensi masing-masing penulis). Disertasi Kimminau, Letkol USAF, dengan salah satu pendekatan yakni membandingkan gaya tulisan dalam essei strategi baik dari elit sipil maupun militer, perilaku offensive,defensif, dan perilaku sub-grup masing masing menghasilkan perbedaan signifikan diantara kedua kubu ini dan menarik untuk dipelajari (Kimminau, abstrak). Materi ajaran tentang HSM masih menjadi daya tarik utamanya yang berfokus di-area kontrol sipil terhadap militer atau di-tingkat pengambilan keputusan keamanan nasional dan bahkan dijadikan materi ajaran di perguruan tinggi yang dikelola militer maupun non-militer. Pendalaman materi HSM di-era kontemporer dikembangkan mengamati dalam liputan tiga (3) faktor yakni kontrol, effektivitas dan effisiensi.

Area studi HSM sangat luas, belum lagi mencermati praktek HSM dinegara-negara yang mewarisi tradisi kerajaan yang kuat seperti di Eropah (Jerman, Belanda, Turki, Inggris) atau Jepang, atau China, atau Thailand dengan rekor “coup yang sukses” sebanyak 18 kali di-Asia ini (O’Connor, hal 1) atau dinegara bekas Komunis (negeri-negeri Balkan), atau dinegara yang penuh dengan aksi “coup d’etat” seperti di-Amerika latin, atau dikaitkan dengan operasi gabungan sipil-militer (CMO). Semoga bermanfaat.

Daftar Pustaka

1. Andrews, Brandy M,Maj US Army, School of Advanced Military Studies ,US Army Command and General Staff Coll, Fort Leavenworth , Kansas , AY 2008 ,  “Patterns of Civil-Military Relations In Democracies”.
2. Bautista, Fredelino S, LtCol Philipinne Army, Thesis US Army War Coll, Master of Military Arts and Studies, “ Toward a Theory of Military Involvement in National development In Underdevelop Countries”.
3. Bennet, David J,Maj USAF, Thesis US NPS, Dec 2007, MA In National Security Affairs, “The Trinity : A New Approach To Civil-Military Relations”.
4. Bruneau, Prof Thomas C dan Matei,Christina Florina, Naval Postgraduate School (NPS) , Democratization, vol # 15, no # 5, 2008, “Towards a New Conceptualization of Democratization and Civil-Military Relations”.
5. Bruneau, Prof Thomas C , e-Journal, Foreign Policy Agenda, November 2004, “Teaching Civil-Military Relations”.
6. Budiman Djoko Said, QD , vol # 5, no # 12, Juni 2012, “Menakar Ulang Hubungan Sipil-Militer (HSM)”.
7. Burke, Kevin P, May US Army, Thesis US Naval Postgraduate School, March 2007, MS in Defense Analysis, “Civil-Reconnaissance : Separating the Insurgent From The Population
8. Connelly, Donald B, PhD, Dept of Joint,Interagency,and Multinational Operations,US Army Command and General Staff Coll, Nov 2010, “The Unequal Proffesional Dialogue : American Civil-Military Relations and The Proffessional Military Ethic”, Prepared for US Army Command and General Staff College, Proffesional Military Ethics Symposium, 15-17 Nov 2010…literatur  ini sangat menarik untuk didalami .
9. Escobar, Anna M Chavez, Civilian, Thesis US Naval Postgraduate School, March 2001, MA In International Security and Civil-Military Relations,   ”From Authoritarian To Democratic Regimes : The New Role of Security Intelligence”.
10.Johnson,Dauglas, dan Metz, Steven, US Army War Coll, Monograph, 1995, ”American Civil-Military Relations : New Issues, Enduring Problems”.
11.Kimminau, Jon A, Lt Col USAF, Ohio State Univ Dissertation (Political Science), 2001, “Civil-Military Relations and Strategy : Theory and Evidence”.
12.Kohn, Richard H, Proff of National Security Affairs, US Naval War Coll, Naval War Coll Review, Summer 2002, Volume # LV, Nr # 3, “The Erosion Of Civilian Control Of The Military In The US Today”.
13.Lovell, Proff John P, Center for Research and Social Systems, March 1970, “The Military and Politics in Five Developing Nations”.
14.Morgan, Michael J, US National War Coll, 2002, “Clausewitz on Civil-Military Relations : What Hitler Should Have Known”.
15.Nielsen, Suzanne C, US Army War Coll, Monograph, May 2001, “Political Control Over The Use Of Force : A Clausewitzian Perspective”.
16.O’Connor, Andrew C, Lieutenant US Navy, Thesis US Naval Postgraduate School, March 2011, Master of Arts in Security Studies , “Why Thailand’s Military Stepped in
17.Owens, Mackubin Thomas , Proff of National Security Affairs, Naval War Coll Review, Spring 2012, Volume # 65, Nr # 2, ”What Military Officers Need To Know About Civil-Military Relations (CMR)”.
18.Paper, “The Civil-Military Problematique: Huntington, Janowitz , and the Questions of Civilian Control”.
19.Porter,Jack J,Proffesor, pengajar Teori KamNas, Antara perang dan damai, Strategic Studies Institute, US Army War Coll, April 2010,Monograph, ”The Construction of Liberal Democracy : The Role Of Civil-Military Institutions In State and Nation-Building In West Germany and South Africa”.
20.Suyanto,Djoko,Harian Kompas, Jumat, tanggal 24 Agustus 2012, hal 1, “Djoko :  Menghasut dan Mengancam Cederai Demokrasi”.
21.Tam, Andrew H, Lieutenant US Navy, Thesis US NPS, March 2006, MA in National Security Affairs, ”Coercion and Governance in China: Analyzing Civil-Military Relations In The Post-Deng Era Using Multiah Alagappa’s  Analytical Framework”.
22.Weinrub, Alan, Lieutenant US Navy, Thesis US Naval Postgraduate School,MA in Security Studies,Dec 2009, ”The Evolution of Israeli Civil-Military Relations : Domestic Enablers and the Quest For Security”.
23.Yamaguchi, Noboru dan Welch, David A, ASIAN Perspective, Volume # 29,Nr # 1,2005, “Soldiers, Civilians, and Scholars : Making Sense Of The Relationship Between Civil-Military Relations and Foreign Policy”.

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x
Share via
Copy link
Powered by Social Snap