MEMBAHAS STRATEGI ASIMETRI DI LAUT

Letkol Laut (P) Dickry Rizanny N., MMDS

“Strategy of asymmetric seeks to transform advantage in mass and firepower into disadvantages by exhausting the foe in a protracted campaign while goading or misleading him into misdirecting forces against the civilian population”[1]

Breen dan Geltzer

 

Abstrak

Artikel ini memberikan gambaran tentang strategi asimetris, khususnya yang terjadi di laut dengan memberikan beberapa contoh studi kasus ancaman asimetris di berbagai belahan dunia. Strategi asimetris didefinisikan sebagai strategi yang seringkali tampak sangat membingungkan, namun mengganggu dan menjadi fokus yang dengan jelas mengancam negara di dunia. Artikel ini mengambil konsep strategi asimetris secara serius namun kemudian menjelaskan kembali dengan cara contoh kasus yang terjadi. Artikel ini secara kronologis membahas perkembangan strategi asimetris yang dipicu sejak kejadian aksi teroris 9/11. Bagian kedua artikel ini menjelaskan mengapa strategi asimetris merupakan pilihan strategi terutama untuk pihak-pihak yang memiliki kekuatan lebih lemah. Ketidaksetaraan kekuatan, kemampuan dan anggaran antara dua pihak yang berkonflik, menghasilkan konsep dan strategi baru yang memanfaatkan ketidaksetaraan tersebut. Selanjutnya, artikel ini mengidentifikasi strategi asimetris sebagai strategi orang lemah yang harus diambil dengan memanfaatkan ketidaksetaraan kekuatan dan kemampuan. Artikel ini juga mengidentifikasi tentang variabel pada dimensi ancaman terhadap dunia maritim dalam konteks ancaman asimetris di laut dengan mencontohkan kejadian pembajakan dan terorisme di laut. Di bagian akhir, artikel ini menjelaskan bahwa strategi dan ancaman asimetris di laut telah menjadi pusat perhatian para ahli dan kelompok think tank dalam keamanan maritim baik secara nasional, regional maupun global.

 

Perkembangan Peperangan Asimetris

Konsep dari suatu konflik atau peperangan asimetris sudah ada dan dikenal sejak lama, namun para ahli dan kelompok think tank semakin meminati dan membicarakan konsep ini sejak serangan terorisme yang terjadi secara berturut-turut terhadap beberapa negara. Seorang ilmuwan bidang politik bernama T.V Paul dalam bukunya tahun 1994 berjudul “Asymetric Conflicts : War Initiation by Weaker Powers” secara tradisional mendefinisikan konflik asimetris, sebagai “konflik yang melibatkan dua negara dengan sumber daya militer dan ekonomi yang tidak setara secara keseluruhan.”[2] Sejak perang sudah merupakan perpanjangan tangan dari politik[3] dan merupakan salah satu cara untuk menyelesaikan suatu konflik antar negara atau kelompok, konsep asimetris sudah hadir ada. Asimetri sendiri dapat digunakan untuk  menggambarkan beberapa tipe konflik dan hal ini tidak terbatas terhadap musuh yang tidak seimbang dalam melaksanakan peperangan melawan kekuatan militer konvensional yang mempunyai struktur yang jelas di bawah kendali suatu negara. Asimetri berarti hilangnya sebuah perbandingan dasar yang biasa digunakan dalam hal kualitas, atau dalam arti operasional, adalah sebuah kemampuan.

Setelah Perang Dunia pertama tahun 1916, konsep asimetri ditunjukkan oleh bagaimana partisipasi kekuatan sipil Afrika untuk melawan Inggris dalam Perang Boer dengan tujuan “War for Freedom”. Selanjutnya pada tahun 1920-1948 oleh rakyat Palestina, yang merupakan kelompok berbasis religius, memperjuangkan nasionalisme untuk mendapatkan pengakuan secara administratif. Bentuk perlawanan kekuatan sipil melawan kekuatan militer tersebut terjadi secara sporadis dan tidak teratur, selain terdapat ketidakseimbangan atau tidak adanya kesetaraan dalam ekonomi dan militer, yang biasanya disebut Insurgency (pemberontakan). Insurgensi berbentuk perang gerilya (Guerrilla Warfare) pun juga terjadi selama Pemberontakan Rakyat Filipina melawan US tahun 1899-1902, kemudian melawan komunis sampai dengan tahun 1954, Pemberontakan Banana Wars di Nicaragua tahun 1902-1912, British Strategy di Malaya 1948-1960, Perang gerilya di Vietnam[4] serta Perang Gerilya Panglima Sudirman melawan Belanda pada tahun 1946. Beberapa contoh tersebut menunjukkan bahwa konflik atau peperangan asimetris telah menjadi bagian dari perang-perang kolosal atau besar lainnya. Dari sini kemudian muncul pengembangan doktrin dan strategi peperangan anti insurgensi (counter-insurgency warfare) dan anti asimetris (counter asymmetric warfare) yang dikembangkan oleh negara-negara yang berhadapan langsung dengan musuh asimetris, seperti Inggris, Perancis dan US.

Gambar 1. British Counter Insurgency in Malaka

Maaf untuk membaca full akses konten dalam format post artikel silahkan terlebih dahulu mendaftar sebagai anggota milist FKPM –> D A F T A R

0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Scroll to top
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x
Share via
Copy link
Powered by Social Snap