MENCERMATI PERNYATAAN PANGLIMA KOMANDO PASIFIK AMERIKA SERIKAT

1. Pendahuluan

Panglima Komando Pasifik Amerika Serikat Admiral William J. Fallon bulan lalu berkunjung keAustraliadalam rangka menghadiri pertemuan pejabat militer kedua negara. Pada acara jumpa pers di Australia tanggal 23 September 2005, Panglima Komando Pasifik Admiral William J. Fallon menyampaikan banyak hal, beberapa di antaranya ada  yang terkait dengan Indonesia.

2. Diskusi 

Pertama, mengenai bencana alam. Rujukannya adalah kasus badai Katrina yang menghantam New Orleans dan kasus Tsunami yang menghantam  Asia Selatan (tidak menyebutkan secara spesifik Indonesia). Pendapatnya adalah bencana alam tidak dapat dicegah, dan pekerjaan yang dapat dilakukan adalah minimizing the damages. Artinya—upayanya berada pada lingkup pemberian bantuan dan rehabilitasi, agar kehidupan setempat dapat berjalan normal.

Pejabat   tersebut   mengingatkan   bahwa  wilayah  kerjanya adalah dari west coast sampai Madagskar dan untuk ke depan ada beberapa langkah yang dirancang, yaitu:

  • Planning and arrangement agreed in advance, maksudnya ada perencanaan dan kesepakatan (sebelumnya) dengan pihak lain,
  • (sehingga) mampu memberikan respon secara efektif dan cepat,
  • Tidak ada maksud mengancam (kepentingan) pihak lain,
  • Australiasebagai mitra di kawasan ini.

Ada dua kata kunci yang penting untuk disimak yaitu (i) kesepakatan bersama, dan (ii) Australia sebagai ‘deputi’ di kawasan ini.

Kesepakatan untuk menolong korban bencana alam dapat dikembangkan dalam berbagai bidang yang secara teknis adalah mobilitas, komunikasi, kodal dan dukungan logistik. Meskipun sasarannya adalah peningkatan kerjasama untuk menangani bencana alam, akan tetapi capacity building yang dikembangkan tersebut sudah jelas akan memberikan manfaat besar, khususnya bagi peningkatan kemampuan tertentu bagi satuan operasional.   Memang benar bahwa judulnya adalah kerjasama penanganan bencana alam, tetapi di dalamnya terselip keuntungan tertentu yang dapat diraih (blessing in disguise) bagi Angkatan Laut, sehingga tawaran tersebut seyogyanya dapat dimanfaatkan dan direkayasa manfaat berantainya yang dapat diraih.

Mengenai Australiasebagai ‘deputi AS’ di kawasan ini, nampaknya merupakan pesan politik yang ditujukan kepada sekutunya. Akan tetapi, perlu diingat ‘kelakuan’ Australia yang selalu memanfaatkan ‘restu’ AS di dalam mengkukuhkan posisinya sebagai regional power. Australia bisa saja menawarkan kerjasama untuk menangani bencana alam, mulai dari kerjasama teknis bidang early warning system sampai pada evakuasi dan rehabilitasi.

Masukan yang ingin disampaikan ialah Australiaakan membungkus (packaging) kepentingan (baca: ambisi) tertentu di dalam bentuk kerjasama penanganan bencana alam. Singkatnya—perlu kejelian yang tinggi untuk ‘meraba’ apa kandungan kepentingan dibalik  tawaran dari pihakAustralia. Perhatian khusus diarahkan kepada kemungkinan kerjasama yang diarahkan ke Papua dan Maluku Selatan (ALKI timur).

Skenario tersebut perlu dicermati dan diumpankan secara dini ke Armada Timur dan Lantama setempat, sehingga jajaran di sana sudah memiliki ‘bekal amunisi’ (dan langkah pre-emptive) bagaimana   menyikapi   langkah-langkah   yang bersifat penjajakan dari pihak Australia. Mula awalnya akan bersifat informal, ringan dan nuansanya kemanusiaan, akan tetapi masukan tersebut dapat dijadikan rujukan untuk dikembangkan olehAustraliamenjadi formal-legal yang bersifat mengikat.

Pengalaman masa lalu memperlihatkan banyak kasus yang mengikat (baca: merugikan)Indonesia, baik pada tataran stratejik maupun tataran taktis setingkat komando operasional ataupun pembinaan. Contohnya, lepasnya Timor timur melalui penjajakan informal kepada salah satu ‘penjabat’ Indonesia yang dikembangkan sewaktu beliau berkunjung ke kampus perguruan tinggi di Australia, dan pada waktu itulah terangkat wacana untuk mengembangkan opsi kedua.

Kedua, mengenai terrorism.  Admiral Fallon menyampaikan penilaian (diwilayah kerjanya) sebagai berikut :

  • Banyak negara tergolong under capacity,
  • Padahal memiliki batas wilayah yang sangat panjang, banyak pulau dan banyak pula tempat yang memudahkan orang-orang (maksudnya teroris) bergerak secara bebas,
  • Situasi tersebut diexploitasi oleh pihak teroris.

Nampaknya, penilaian tersebut  banyak cenderung mengarah kepada Indonesia yang disoroti dalam dua hal, yaitu situasi geografis yang sangat luas dan kemampuan operasional yang sangat terbatas untuk mengawasinya. Salah satu alternatif solusinya merujuk pada Proliferation Security Initiatives. Memang benar platform kerjasama multilateral yang diprakarsai oleh AS, sepertinya memberikan ‘kuasa’ kepada AS dan sekutunya untuk memeriksa (search and boarding)kapal dan pesawat terbang yang dicurigai membawa illegal weapon or missile technology.

Tujuannya memang demikian akan tetapi tidak mustahil ada ‘titipan tugas’ untuk sea robbery and piracy, dan  bisa saja Australia mengajak Jepang sebagai negara pihak, untuk ikut beroperasi. Catatan—tiga negara yang paling aktif melakukan surveillance yang nantinya dikembangkan dengan kemampuan interdiction di kawasan Asia-Pasifik adalah Jepang, Korea Selatan, danAustralia.

Pada poin kedua ini, Admiral Fallon juga menyinggung faktor kepemimpinan dan mengungkapkan pertemuannya dengan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono dan Jenderal Sutarto. Katanya—ada kesan yang kuat bahwaIndonesiamempunyai keinginan yang besar untuk  berkembang lebih baik,  tetapi  yang  diharapkan sebenarnya adalah tindakan nyata (deeds in addition to words). Dari ungkapan tersebut, pejabat tersebut sepertinya memberikan political message bahwa ada gap antara sikap dan tindakan nyata. Barangkali juga ada gap komunikasi, yang mungkin dapat dijembatani oleh Angkatan Laut, misalnya bagian pendidikan dan atau sampai bidang intelijen.

Apabila peran tersebut dapat dipertimbangkan maka sebagai bahan masukan, perlu memperhatikan score-nya. Artinya, dalam setiap pertemuan atau komunikasi, sudah jelas akan menghasilkan score berapa untuk siapa dan di bidang apa. Dengan demikian, kinerjanya terukur dan dapat dijadikan pijakan untuk berkembang ke tahap berikutnya. Barangkali benar sindiran Adm Falllon—many words but needed deeds in addition to words. 

3. Penutup

Demikian kajian ini dibuat untuk digunakan sebagai masukan atau bahan pertimbangan dalam menentukan langkah-langkah berkaitan dengan pembangunan kekuatan Angkatan Laut di masa depan.

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x
Share via
Copy link
Powered by Social Snap