Mentrampilkan (crafting) perencanaan kekuatan pertahanan…mengejar (pursue) kapabilitas

The most difficult military problem to resolve is that of establishing a security system, as inexpensively as possible in time of peace, capable of transforming itself very rapidly into a powerful force in case of the danger of aggression (Gen. Andre Beaufre) [1]. Strategic planning is an organization’s process of considering objectives, formulating strategy, and making decisions about how to allocate resources. It might also include control mechanisms for monitoring, feedback, and adaptation [2]. New priorities must be chosen and additional resources, focused on investments of greatest relevance to those priorities, must be made available if the nation is to reverse the decline in the credibility of its conventional deterrent  [3].

 

Umum  

Proses perencanaan (strategik) kekuatan Kemhan adalah menentukan objektif (sasaran fisik—apa maunya organisasi atau policy [4] ), formulasi strategi (given policy) dan alokasi sumber daya nasional [5]. Kemhan memerlukan kerangka kerja (model, desain, atau metodologi) untuk memudahkan proses tersebut agar menghasilkan produk kekuatan yang di-kejar (pursue) atau obyektif; yang terbaru, sedang berjalan, modernisasi atau perubahan [6]. Ada dua (2) bagian dalam kerangka besar ini, pertama adalah menentukan pilihan strategik (strategic choices) di-ikuti melakukan pilihan kekuatan (force choices) di-dalam bingkai strategi terpilih. Produknya berupa struktur kekuatan, postur, dan kapabilitas [7]. Injek masukan bisa berupa (awareness) sistem politik internasional, sistem politik domestik, dan petunjuk yang diperlukan (Juk Presiden, Menhan, Menlu, Panglima area, Intelijen, dll) [8] dan kendala atau sumber daya yang di-alokasikan. Blok pilihan strategik meliput (atau identifikasi) keamanan nasional (baca: lengkapnya—strategi KamNas), kebijakan pertahanan nasional (atau negara?) dan strategi pertahanan nasional, strategi-strategi pertahanan maritim, darat, dirgantara [9], operasional, postur, struktur (termasuk manusia-nya) yang lalu (+evaluasinya). Blok berikut (setelah di-temukan strategi terpilih) adalah pilihan kekuatan dibantu dengan scenario yang di-kembangkan (AoR & AoI) [10] dan diikuti dengan model pembangunan kekuatan militer, ancaman, militer/non-militer atau hybrid (abu-abu), transformasi militer nasional [11], kapabilitas, dan risiko. Rangkaian pemikiran ini adalah bagian teknis methodologi yang lebih tepat disebut desain. Sama hal-nya metodologi; desain di-jabarkan rinci dalam bentuk algoritma (urut-urutan) kerangka pikir.

Desain menjamin[12] kalkulasi dan evaluasi struktur serta terciptanya postur kekuatan militer— yang andal (reliable) [13]. Metodologi adalah cara menemukan kebenaran melalui cara ilmiah. Metodologi menghantar perencanaan ini menemukan infrastrutur, struktur dan postur kekuatan yang teruji. Perencanaan pembangunan pertahanan adalah substansi manajemen pertahanan [14] dan  pokok materi produk KemHan. Di-tambah interaksi atau debat hangat dengan parlemen ikhwal kebijakan pertahanan, transformasi, perubahan strategi pertahanan nasional, up-dating tingkat keamanan nasional [15], relasi kebijakan dengan perubahan lingkungan strategik, kapabilitas, penganggaran, struktur kekuatan dan postur. Selanjutnya Kemhan mengerjakan dengan pruden, mengarahkan Angk dan alokasi anggaran dengan cara ekonomik [16]. Metodologi dan algoritma menjawab isu pertahanan lebih rasional dan menciptakan kebutuhan bagi kepentingan pertahanan nasional…misal porsi kekuatan darat, udara, laut, ruang angkasa, cyber dan kapabilitas lain-lain. Juga kesanggupan menjawab pertanyaan Pangima, Komando dan eselon di-bawah untuk memahami dan mengevaluasi; utamanya kapabilitas [17] yang diperlukan. Desain kekuatan pertahanan nasional [18](model kuantitatif) [19] berbasis skenario dengan visualisasi kedepan versus lingkungan dan bahaya, di-ikuti model perencanaan yang menjamin kalkulus kebutuhan kekuatan (status) untuk memitigasi risiko [20] dengan program dan data-besar. Hasilnya—struktur kekuatan (terpilih) baik jumlah & jenis alut sista; manusia (+ cadangan) dari sekian alternatif kekuatan dengan harga effektifitas yang ditentukan [21] dengan konsekuensi biaya yang terkecil [22].

Isu keamanan nasional [23]

…we will launch a comprehensive plan to detect, deter, and defend against attacks on our critical infrastructures[24]—our power systems, water supplies, police, fire, and medical services, air traffic control, financial services, telephone systems, and computer networks (Pres W. J. Clinton, US Naval Academy, Commencement Address, May 22, 1998).

Kasus WTC, mendorong peningkatan tren perlindungan infrastruktur kritikal[25] bagi semua strategi instrumen kekuatan nasional sebagai komponen KamNas. Strategy raya dalam kontek ini di-posisikan sejajar dengan  strategi instrumen nasional, bahkan lebih di-pandang sebagai rute panjang menuju tujuan [26] kata R D. Hooker, Jr [27]. AS melaksanakan strategi raya ini berbeda-beda, tergantung siapa Presiden-nya dan Bush tua dianggap paling sukses berstrategi raya [28]. Dalam pilihan strategik, analis perencanaan fokus pada (identifikasi) kehadiran kepentingan nasional, tujuan nasional (national objectives/ fundamental of national goals) sampai ke strategi–strategi militer nasional, ekonomi dan politik. Sedangkan bagian pilihan kekuatan (blok perencanaan kekuatan militer nasional); mengunakan strategi militer, konsep operasi dan kapabilltas untuk membedah struktur kekuatan militer mendatang. Menhan memiliki peran sentra [29] dalam perencanaan kekuatan di-bantu metodologi yang kokoh guna me-“respons” dinamika setiap tingkat KamNas [30]. Metodologi pemikiran strategik ini dengan sentra-nya strategi KamNas; di-jabarkan berturut-turut mulai dari tujuan nasional (fundamental of national goals atau national objectives)–kepentingan nasional–strategi keamanan nasional yang mengayomi kepentingan nasional–kalkulus kekuatan dengan kapabilitas-nya. Proses yang dipahami Angkatan, meski berbeda format; namun di-ajarkan di-masing-masing War College. Gambar bawah adalah fenomena KamNas dalam versi Llyod & Lorenzini yang di-ajarkan di-Naval War Coll [31]. Strategi keamanan nasional (strategi semua kekuatan nasional—politiko, ekonomi, militer, informasi, dll) [32], teroskestra mendukung (konduktor adalah Menhan) mengejar (pursue) tercapainya obyektif kepentingan nasional (national objectives—lengkap-nya the objectives of national interest).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Hint: model perencanaan kekuatan (versi US Naval War Coll), oleh Richmond M. Lloyd & Dino A. Lorenzini dalam text book sekolah. Jantung framework ini adalah sistem KamNas (National Security Strategy–blok tengah). Produk berupa program kekuatan (programmed forces) dan aliran balik ke-assesment sebagai umpan balik. Force structures lebih fokus kekuatan untuk operasi gabungan (paling effisien—blok operations concepts), dan memberikan ancang-ancang Angkatan tentang kapabilitas yang di-pilih [33].

Porsi Angkatan sudah mulai nampak…misal AD berapa %, AL % dst. Kekuatan cadangan bukan saja manusia tetapi termasuk alut sista. Force Planning tidak meliput isu material pertahanan utama saja, bahkan manusia, risiko dan assesment lainnya. Strategi pertahanan nasional adalah dokumen rujukan KamNas (StratKamNas) atau StratHanNas adalah pelaksana pendukung strategi keamanan nasional [34]. Perhatikan antara blok strategi keamanan nasional (Kamnas—National Security Strategy/NSS) [35] dengan  strategi militer nasional (NMS–National Military Srategy), sebenarnya hadir strategi pertahaman nasional (NDS–National Defense Strategy) namun tidak tergambarkan—StratHanNas menjadi rujukan StratMilNas [36].

Sedangkan obyektif (sasaran atau tujuan) StrategiKamNas (harus terdokumentasikan) a.l [37]: keberlangsungan hidup (survival) bangsa, kesehatan dan pertumbuhan ekonomi, hubungan baik dengan sekutu dan partner politik luar negeri serta menjaga stabilitas lokal dan regional sekurang–kurang-nya. Clausewitz mengawali ide kepentingan ini dengan pernyataan-nya, bahwa negara di-picu keinginan untuk bertahan hidup (survival). Wajar; asset pemberi kehidupan (+kesejahteraan) suatu bangsa di-pertahankan mati-matian, bila perlu perang demi  kepentingan ini (survival)—kepentingan nasional sebagai raison d’etat [38] dan di-payungi kewaspadaan (situation awareness) sistem sekuriti; mulai sekarang sampai yang akan datang (panah dari kiri-kanan di-atas). Dalam Siskamnas peran sentra MenHan adalah meliput kewaspadaan situasi (situation awareness) [39]. Model di-bawah bisa diapakai sebagai generik terciptanya WanKamNas (atau perspektif kebijakan keamanan nasional). KamNas adalah jaminan memelihara obyektif kepentingan nasional sebagai survival bangsa yang di-proteksi [40]—SisKamNas mengawal dan menjamin tercapainya obyektif kepentingan nasional [41] dengan dukungan semua strategi instrumen kekuatan nasional.

 

 

 

 

 

 

 

Hint: Khusus Kemhan dan jajarannya (Angkatan), hasil keputusan dan monitoring tingkat keamanan nasional (output/outcome paling kanan) akan menjadi injek program, evaluasi dan updating program serta perbaikan operasi di-lapangan bagi masing-masing Angkatan atau operasi gabungan. Perhatikan blok kanan (tanda merah, putih, dan kuning sebagai gradasi tingkat kamnas).

Pemahaman tentang kepentingan nasional sangat penting dan bisa berbeda (relatif) antar ilmuwan/teoris, seperti Charles Beard, Hans Morgenthau, Joseph Frankel, Donald E. Nuechterlein bahkan generasi belakangan ini seperti P H. Liotta, dll [42]. Dalam WanKamNas Menhan dibantu kontroler (pemilik) strategi-strategi politik/diplomasi nasional, militer nasional dan ekonomi nasional (hint: model Lorenzini, dalam gambar atas blok tengah tentang National Security Strategy) yakni tiga (3) instrumen kekuatan nasional sebagai komponen (minimal) pendukung utama strategi KamNas. Oleh karena KamNas adalah pengawal kepentingan nasional (keluar utama-nya), sewajarnya effektifitas KamNas bisa di-ukur dengan sukses/gagal-nya capaian obyektif kepentingan nasional [43]. Selaku “boss” dan manajer manajemen pertahanan, posisi Menhan berada di-antara formulasi kebijakan pertahanan nasional dan realita komando & kontrol organisasi pertahanan [44]. Evaluasi KamNas realita-nya jauh lebih komplek, sehingga memerlukan transformasi SisKamNas [45]. Lebih-lebih bila mencermati konten tabel (di-bawah) sebagai evaluasi dan produk kondisi sekarang serta menunjukkan ihwal yang harus segera di-respons. Menurut Jack A LeCuyer, kejelasan ketiga kriteria (new security environtment, competition, new threat); masing masing dengan 9 kondisi (9 baris) yang muncul, nampak lebih realistik dan saling berhubungan serta signifikan menunjukkan kelemahan strategi KamNas AS yang sudah berjalan.

 

 

Gagal-nya KamNas ini menurut Jack; memerlukan transformasi guna perbaikan mendatang. Transformasi [46] (lebih dramatis di-banding reformasi) hanya bisa berjalan  jika dan hanya jika hadir kolaborasi serius di-semua sistem KamNas. Karena itu kepentingan nasional harus terdefinisi terlebih dahulu (documented) [47]. Muara kepentingan nasional adalah tujuan nasional yang hakiki (semua negara memiliki sebagai tujuan akhir yang indah dan harus di-capai—adil & makmur, loh jinawi, dll). Mulai dari puncak, turun ke-tingkat strategik dalam  sistem itu sendiri—di-sini strategi KamNas (sebagai pengawal kepentingan nasional) dan WanKamNas hadir sebagai lembaga kontrol perjalanan KamNas dengan kepentingan nasioalnya sehari-hari [48]. Di-laporkan juga bahwa effektifitas [49] SisKamNas belum laik berperan sebagai “injek” pengambil keputusan dengan  [50] lambannya proses perubahan dari idea menjadi aksi ( tanda from à  to ) melalui tabel (bawah) indikator kualitas sisKamNas.

 

Akhir laporan menyebut: KamNas belum [1] “capai” obyektif KamNas[51] (desired policy outcomes), [2] memilih strategi terbaik dan [3] mengelola sistem dari sistem (SoS) [52]. Terdefinisi-nya obyektif (sebagai syarat) Strategy Kam Nas dan ukuran sukses-nya (kriteria sukses) memastikan kemudahan evaluasi ketajaman [53] Siskamnas.

Skenario dalam metodologi perencanaan

As in many endeavors, a starting point is to appreciate the range of possibilities by itemizing plausible scenarios. The DoD has an elaborate process for identifying such a range of scenarios [54]Challenges in Defense Planning Methodology: The Use of Scenarios [55].

 

MenHan (atau SecDef) mengarahkan Angkatan memilih opsi “struktur kekuatan” terbaik dan selanjutnya Angkatan melakukan studi kapabilitas “struktur kekuatan” Kemhan[56] dengan konsekuensi dukungan biaya yang rendah (gambar bawah)—muncul program, anggaran dan direktif, dll, (perhatikan blok—forcing functions and measures mengawali metodologi perencanaan kekuatan militer)[57]. Pertanyaan yang muncul adalah bagaimana menghubungkan means-to–end state (formulasi strategi) tanpa bekal kerangka situasi ( situation awareness) khusus atau (di-kenal sebagai) skenario [58]. Dalam alur dinamik keputusan Menhan (di-bawah), di-mana kira-kira posisi skenario…setelah blok pertama  (dari atas) arahan Menhan?

 

 

Tiga (3) blok berikut adalah kerjasama tim KemHan (SecDef—MenHan) dan Angkatan mendalami metodologi perencanaan berbasis skenario dan menemukan hasil-nya (produknya—struktur kekuatan dan postur). Beda dengan methoda peramalan (forecasting) yang lebih mengandalkan data historik kuantitatif di-banding skenario. Skenario lebih condong menstrukturkan masalah dari masalah yang tidak terstruktur (unstructured–system thinking). Skenario adalah peta identifikasi kebutuhan pertahanan strategik seperti: identifikasi dan prioritasisasi kapabilitas yang di-butuhkan, studi kekuatan mendatang dan jurang kapabilitas, kebutuhan kapabilitas, proyeksi kekuatan, pengembangan akuisisi kapabilitas, definisi kontek latihan, simulasi, experimen & olah-yudha, mengukur kesiapan, membangun kesiagaan situasi (situation awareness), dll [59]. Skenario adalah konstruksi sekuen kejadian agar fokus pada proses kausal dan titik keputusan [60]. Sebagai ilustrasi skenario titik (kuantitatif/kualitatif) keputusan organisasi; di-kembangkan dengan sekumpulan asumsi spesifik—menggambarkan dampak (tergambar dalam titik) vs organisasi. Skenario memvisualisasikan sesuatu yang gelap  menjadi agak jelas (state actors, siapa dan bagaimana sekuen-nya, dll) maupun yang tetap kabur (non-state)—hybrid, irregular, atau grey-zone warfare[61]. Skenario meliput pengamatan dalam cakrawala waktu jauh (relatif mirip forecasting), yang terpendek disebut penilaian (assesement) dan jangka sedang disebut pengawasan (monitoring), lihat gambar bawah [62]:

 

Perang Teluk telah menghadirkan skenario titik (point scenario) dengan imej ancaman yang di-batasi (bounding threat method) [63]—produknya à respon kapabilitas versus ancaman nyata. Contoh, skematik skenario “titik” tradisional dengan  perencanaan berbasis kapabilitas, dalam perang melawan Irak, di-bawah ini:

 

Setiap titik dalam skala tertentu di-tuliskan kejadian yang mungkin terjadi (plausible skenario—Irak menyerang Kuwait), penjelasan tertuliskan di-atas/bawah garis, dan titik skenario (mestinya) di-berikan label besarnya probabilita [64]. Contoh skenario NATO saat perang dingin ppular dengan label flexible response, atau skenario 2 ½ sebagai basis kalkulus kekuatan yang digunakan NATO vs Warsawa [65]pertama, AoR-nya di-perbatasan Jerman Barat/Timur [66], kedua di-domain maritim Pasific. Duo skenario yang realitistik & parallel (most likely & plausible) [67] dan di-kelompokkan sebagai major theatre war (MTW), ½ adalah kontijensi (kartu liar skenario). Berbasis skenario, proses  kalkulus kekuatan berjalan sesuai dinamika waktu [68]; di-olah dalam metodologi, produknya adalah kesan & tampilan umum di-sebut postur dan anatomi kekuatan militer di-sebut struktur kekuatan. Skenario bisa menjadi bencana[69];—karena lawan bisa saja menggunakan ruang kelemahan dalam skenario guna keunggulan sendiri dan isu ini bisa menjadi debat seru antara Menhan vs Parlemen tentang kekuatan militer [70]. Contoh posisi skenario dalam gambar bawah ini (di-tengah-tengah adalah…scenario space) [71].

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Hint: Elips di-tengah adalah blok skenario (scenario space), dengan syarat blok di-atas skenario harus sudah di-definisikan dengan jelas, seperti strategi KamNas dan strategi MilNas, baru bisa di-ciptakan skenario yang lebih jelas. Rand menterjemahkan 2-MTW sebelumya sebagai 2-MRC (Major Regional Conflict), kanan dan kirinya adalah lebih kecil lagi yakni SSC (small scale conflict). Tengah adalah produk yang diprogramkan.

Metodologi negara persemakmuran leih sederhana lagi (gambar berikut—bawah). Bagian tengah atas, adalah skenario, lainnya relatif sama—blok national interest, national security strategy dan national military strategy masih tetap hadir, di-wakili (cukup dalam satu blok) oleh prioritas pertahanan (defence priorities). Prioritas (alternatif terpilih) di-antara alternatif kekuatan yang berpeluang muncul adalah keputusan pemerintah (atau policy) [72]. Satu blok ini sebenarnya adalah komponen strategy dan operational (versi US lengkap—national goals-dst-national military strategy). Setelah Policy Pemerintah dan  Defense  Priorities, maka  skenario adalah awal penentuan kapabilitas yang di-butuhkan (lihat gambar) [73].

 

…dan bisa semakin di-sederhanakan sebagai berikut:

 

 

 

 

 

 

 

 

Hint: Guide to Capability-Based Planning, (The Technical Cooperation Program Joint System and Analysis Group Technical Panel 3), halaman 2. Format force structure negara commonwealth (penggalan), seperti UK, Australia, Canada, dll, berbasis scenario (tengah).

 

Kapabilitas yang diperlukan

The Navy needs to excel at capabilities-based planning (CBP) for at least two reasons: (1) to maximize the effectiveness of the resources that it receives and (2) to be a credible participant in the larger DOD (Depart of the Defense) arena [74].

 

TBP (threat-based planning) di-anggap gagal mengatasi kekuatan Pakta Warsawa (mahalàbasis one-one-engagement sd force–on-force engagement), gagal mengatasi peperangan tidak beraturan (irregular warfare) [75] bahkan disebut-sebut gagal menghadapi ancaman baru berujud religi, anarkhis, kriminal, radikalisme bahkan terrorisme. Sel teroris yang terpisah, petarung solo, petarung gelap, tanpa pemimpin, tanpa jejaring, sungguh sulit untuk di-petakan dalam postur kekuatan. TBP tradisional biasanya mengawali kegiatan dengan penilaian intelijen tentang EOB [76] lawan, dan mengatasinya dengan perkiraan CB [77](CB=cara bertindak atau COA=course of actions) lawan yang di-adu dengan CB sendiri, sekarang semua-nya seperti kabur. CBP adalah basis kalkulus perencanaan kekuatan, yang terbukti sanggup  memecah kebuntuan “pipa-cerobong” (stove-pipe) [78] birokrasi menjadi lebih transparan, cepat, portofolio, koheren, rasionalisasi akuisisi kedepan, respon versus ketidakpastian, kendala ekonomi, manajemen risiko dan fokus sasaran atau ends-state (status akhir) serta dorongan untuk lebih ber-inovasi.

 

CBP dikenalkan sebagai metodologi yang lebih adaptif, lebih memilih investasi makro dan melebihkan program teknologi (lebih effisien-bahkan bisa disebut teknologi habis) dan akan berakhir dengan terbentuknya EOB sendiri yang lengkap. CBP sangat berkaitan dengan dengan EBO (effects-based operations), dan tentunya tingkat kapabilitas sebagai nilai atau harga produk CBP akan membuat besar kecil-nya dampak kerusakan atau kegagalan bagi lawan (effect-based). Di-abad milenial yang serba cepat, CBP adalah inovatif, tidak bisa duduk diam dan menunggu rutin seperti biasanya (duduk diam—gagal), kalau tidak akan menjadi bulan-bulan-an CBP bakal lawan, mulai yang jelas sampai yang hybrid (adversaries). CBP menjadi lebih fleksibel, dan lebih dari sanggup untuk melakukan respons (tanggap) terhadap setiap tantangan [79]. Bahkan konsep strateg-ke-tugas (from strategy-to-task) terbukti menjadi jembatan penolong, setidak-tidaknya menemukan cara merespond yang baik. Methodologi Strategi-ke-tugas membuktikan bahwa task (respond) yang di-ciptakan untuk menimbulkan effek tertentu bagi lawan segera lebih mujarab daripada menunggu datangnya sista yang lebih spesifik dan tentunya lebih mahal [80]. Perlu di-catat bahwa kekuatan yang di-bangun adalah kekuatan berbasis system-mission level (misal membangun kapabilitas kekuatan gabungan dengan beberapa CBG/Carrier Battle Group) ditingkat national security strategy (atau di-tingkat Joint Warfighting Concepts), tidak pada tingkat operational atau taktik. Hubungan tugas militer (tingkat) strategik—tugas operational—tugas taktik, dapat di-mediasikan (task hierarchies mediated) hirarkhis oleh konsep operasional, mulai konsep gabungan tempur, konsep operasional dan konsep taktik, periksa gambar berikut [81]

 

Hint: RAND Corpt, menyebut konsep mediasi ini sebagai konsep hirarkhi from strategy-to-task.

Konsep hirakhis ini bisa digunakan sebagai konsep yang adaptive dan flexible dan secara hirakhis dapat digunakan sebagai basis pembagian kekuatan sampai dengan kekuatan yang dideploikan. Merujuk gambar diatas, diawali dari tujuan nasional (national objectives atau national goals atau lebih mendasar adalah the fundamental of natonal goals), blok blok lainnya sama dengan model di-atas. Selanjutnya di-gambarkan secara hirarkhis pembagian konsep penggunaan kekuatan (dengan kapabilitas nantinya) di-bawah ini [82];

 

Di-contohkan deploy/emploi kekuatan melalui satu aliran yakni dari obyektif operasional regional, ke-tugas operasional dan elemen yang di-emploikan sampai tingkat (unit) terbawah (elemen kekuatan bisa Darat, Laut, Udara dan KamLa—giat pertahanan maritim), mengikuti aliran garis hitam tebal dari atas kebawah. Elemen dalam elips konsep emploi (blok bawah) akan tergantung muatan blok yag di-atasnya secara khirarkhis—bila  di-atasnya di-bunyikan sebagai penugasan bagi pasukan khusus (special operations force task) maka elemen dalam elips tersebut akan berbeda tentunya. Bila blok di-atasnya dibunyikan prioritas kekuatan militer adalah anti insurgensi/lawan insurjensi (COIN-Counter Insurgencies) maka unit employ di-blok terbawah akan terbagi (missal) dalam elemen anti radikalisme, intelijen, drone intai/serang, dan elemen sergap, dll). Melihat skema gambar tersebut, menunjukkan bahwa kapabilitas bisa ber-bentuk rantai. Kapabilitas telah mampu memigrasikan konsep peperangan yang mengandalkan  pemusatan kekuatan (tradisional) pada setiap platform seperti jenis kapal tempur, pesawat dan tank (platform centric warfare). Berkembang dengan mengandalkan sistem informasi yang canggih dan interoperabilitas guna mendukung sistem kombinasi platform, taktik dan operasional-nya dalam suatu jejaring (network) yang dapat di-andalkan dan mampu mengatasi keinginan lawan untuk merusakkan jejaring yang terbangun dan di-kenal sebagai peperangan jejaring sentrik (network centric warfare atau network centric operations). Era sekarang lebih di-kenal dengan kapabilitas sentrik, semakin lebih effisien, lebih cepat dan lebih meyakinkan memberikan dampak terhadap lawan à capability centric warfare.

 

CBP menjawab pertanyaan apa yang harus dilakukan (agar lebih baik effeknya) [83] bukan bertanya peralatan atau sistem apa yang harus diganti (atau diadakan/dibeli) [84]…  capabilities-based planning (CBP) is planning, under uncertainty, to provide capabilities suitable for a wide range of modern-day challenges and circumstances while working within an economic framework that necessitates choice [85].….Samakah kapabilitas dengan desain yang ditetapkan pembeli atau pabrik, misal Angk Laut mendesain fregat AKS (anti kapal selam)? Kapabilitas adalah kesanggupan (able) sesuai keinginan pemilik atau desainer teknis sistem ditambah (bukti) outcome sebagai obyektif performa [86]. Tanpa demonstrasi performa (outcome) sistem tersebut masih ber-kelas sanggup (able) saja [87]. Contoh; kapabilitas anti kapal selam sesungguh-nya tergambar dalam seri kill-chain (KC) [88]. Mulai deteksi (kontak/tidak)–klasifikasi (kapal selam /bukan)–lokalisasi (posisi kapal selam)–penembakan sista AKS (meluncur/gagal)–menghancurkan (hancur atau tidak)[89]. KC dapat di-gunakan sebagai ukuran effektifitas (MOE) dari ketiga tipe A, B atau C (periksa tabel KC dibawah). Menambah 1 kolom akhir tentang konsekuensi biaya per masing-masing type fregat—rasio KC tertinggi dengan konsekuensi biaya terendah (Type A, biaya, Type B, biaya, dst)—tabel keputusan. Contoh tabel KC dibawah, sebagai ukuran effektifitas (atau MOE) [90] fregat yang akan di-bangun tanpa kolom biaya/cost).

Kill Chain [91]

  P det P klas P lok P tbk P hanc Outcome

[Pdet x Pklas x Plok x Ptbk x Phanc]

Ty A .62 .71 .81 .73 .72 0.1874089872
Ty B .71 .63 .76 .68 .75 0.1733734800
Ty C .74 .69 .79 .71 .72 0.2062047888

 

Besaran KC adalah gambaran demo kapabilitas yang di-inginkan. KC (contoh di-atas) sebagai bagian dari MOE kapabilitas keseluruhan fregat AKS; belum di-lihat KC anti udara, MOE sistem radar permukaan, Pernika, dll. Akhirnya akan mengerucut kepada kapabilitas operasi gabungan. Tanpa unit pengukuran ini, dari mana muncul kalkulus porsi anggaran yang harus di-distribusikan dengan cara yang cukup “fair”? Artinya kalkulus kekuatan siap atau standby dalam operasi gabungan diperhitungkan terlebih dahulu, plus cadangan untuk pengganti kekuatan “siap”-nya. Distribusi dukungan anggaran berbasis “siap” sebagai kategori prioritas. Mengulang skema lengkap metodologi perencanaan kekuatan seperti gambar bawah (US, UK, Commonwealth, relatif sama), perhatikan blok future environtment, threat, tech, dll, (blok kiri tengah) tetap di-pertimbangkan (tidak di-hapus)—skema sederhana capabilities-based.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Hint: dalam Force Development, Staff Menhan & Angkatan menghitung (hasil perencanaan) porsi ops mil dan opsmil selain perang atau di-gabung dua-duanya.

Ilustrasi P. K. Davis…dari diskripsi skenario (dibawah ini)[92] di-kembangkan menjadi ploting kandidat kapabilitas yang mempengaruhi proyeksi kekuatan mendatang.

 

 

 

 

 

 

 

Konten skenario berpeluang mengeksplor di-alokasikan-nya proyeksi kekuatan ‘tuk perang atau non-perang [93] atau lain-lain. Model yang didalami RAND sangat “engineering” dan membutuhkan data besar, data historik besar (big-data), dan evaluasi nyata di-lapangan serta digarap oleh para “engineer” yang banyak dan terlatih baik sebagai tenaga sipil maupun militer, tetapi tidak semuanya berlatar belakang operasi riset [94]. Betapa pentingnya peran skenario yang perlu di-kembangkan; perhatikan gambar di-bawah ini:

 

Referensi: Paul K Davis, Capabilities for Joint Analysis in the Department of Defense: Rethinking Support for Strategc Analysis, (RAND Corpt, 2016, RR 1469) , halaman 36. Perhatikan pentingnya scenario mulai dari tingkat Policy sampai tingkat staff gabungan semua membicarakan dan mendiskusikannya, dari blok atas dari kiri ke-kanan (mulai arah panah Awareness, disebelah kiri). Policy dibuat oleh kantor Menhan. SecDef = Menhan, PPBE = Planning, Programming, Budgeting dan Execution. Chairman = para ketua gabungan, Chief = kepala staf gabungan. CONOPS = Concepts of Operations. Blok Decision sudah berbentuk program dan anggarannya.

Skema ini adalah produk studi perbaikan perencanaan kekuatan dan evaluasi (defense review) yang di-lakukan RAND. Ekpresi kapabilitas kekuatan muncul dalam produk struktur kekuatan militer bukan hanya alut sista bahkan personil dan kekuatan cadangan. Intelijen (tradisional) lebih focus pada kapabilitas lawan dibandingkan struktur kekuatan. Mithos bahwa riset (litbang) tidak ditujukan hanya kepada isu teknik material, bahkan soft-pun seperti sumber daya manusia dan perencanaan-nya, operasi, biaya, dan kegagalan kegagalan-pun menjadi isu serius untuk dilakukan penelitian…kalau tidak bukan sukses demi sukses yang diraih namun sebaliknya kegagalan demi kegagalan yang terus menerus di-raih [95].

____________________________

[1] Richmond M. Lloyd & Lt Col Dino A. Lorenzini, A Framework for Choosing Defense Forces, (Naval War College Review, Vol. 34 [1981], No. 1, Art. 5), halaman 46.

[2] Paul K Davis; Capabilities for Joint Analysis in the Department of Defense Rethinking Support for Strategic Analysis, (RAND Corpt, 2016), …halaman 7.

[3] David Ochmanek, Recommendations for a Future National Defense Strategy, (RAND Corpt, CT-484, Testimony presented before the Committee on Armed Services, United States Senate on November 30, 2017), ...halaman 5.

[4] Definisi Policy, sebagai tetapan pemerintah (keputusan atau maunya pemerintah atau what the Govt choices), pasti diikuti statement dan dokumen yang jelas sebagai dasar untuk dilaksanakan (definisi umum), atau periksa Eric V Larson, Force Planning Scenarios, 1945 – 2016, (RAND, RR-2173/1-A, 2019), halaman 277, National Policy is ….…. a broad course of action or statements of guidance adopted by the government at the national level in pursuit of national objectives.

[5] Ibid, halaman 7.

[6] Kekuatan militer yang di-proses ini bukan hanya alut sista-nya tetapi juga manusia dan infrastrukturnya.

[7] Frank. G.Hoffman, US Defense Policy and Strategy, halaman 37…. To guide the development of the Armed Forces, the new team at the Pentagon will need an updated force design mechanism to size and shape that force. This chapter offers options and guidance for two major components of U.S. defense policy: alternative force design constructs and design principles. These force constructs are not the strategy itself, but they are the requisite building blocks and guidance that defense policymakers use to shape the desired force and explain that force in its requests for the funding required from the American people.

[8] Yang dimaksud Menhan disini diartikan Menhan pada umumnya.

[9] Negara lain berbicara tentang isu yang strategik di-awali (hirakhis) dari tujuan nasional yang mendasar (fundamental of national goals)—national interest—national policy—national defense strategy—dst di-belakang-nya selalu di-ikuti dengan kata nasional bukan kata negara….nasional = negara + sistem nilai.

[10] AoR (Area of Responsibility), AoI (area of Interest).

[11] Reformasi militer terlalu sederhana dibandingkan dengan Transformasi militer.

[12] Tentu saja proses ini menjadi fokus utama profesionalisme KemHan dan terwujudnya perencanaan akan di-ikuti dengan pembangunaan kekuatan militer (baru, sedang berjalan, disposal, dll).

[13] Michael J. Mazarr, et-all, (6 persons), The US Department of Defense’s Planning Process; Components and Challenges, (RAND, www.rand.org/t/RR2173z2, 2019), halaman ix,

[14] Hari Bucur-Marcu, et-all, (3 personnels), Defence Management; an Introduction, (DCAF, www.dcaf.ch, Geneva, 2009), halaman 45,  ….. defence planning – core processes in defence management .

[15] Biasanya (menjadi sangat umum) dimanapun kontroler (atau pelaksana) harian strategi keamanan nasional (baca KamNas) adalah Menhan—mengingat dalam keadaan darurat, bisa langsung menggerakkan kekuatan militernya).

[16] John J. Clark PhD, The Management of National Defence by Systems Analysis: An Evaluation, (Royal United Services Institution, Journal, 2009), halaman 298, .. ……The allocation of funds among the armed Services, the size and mix of weapons to achieve tactical and strategic objectives, the disposition of forces at home and abroad. Logistical problems, decisions on research and development, and so forth-all are presently deemed subject to the judgment of economic rationality—defense economics. Bagi negara berkembang ekonomi pertahanan cukup sensitif, alokasi penggunaan (spending) yang tidak baik akan menambah besarnya agregat demand, apalagi kalau semuanya dipenuhi dari sector impor… singkatnya bidang Ekonomi pertahanan (mikro) adalah sistem pengambilan keputusan yang memilih dari beberapa alternative mana yang tinggi effektifitasnya dan konsekuensi biaya yang terendah subyeknya semua sumber daya yang bisa dialokasikan ke Kemhan, seperti sista, alut, pendeknya semua akuisisi, termasuk personil,dll.—-effektifitas biaya. Pionir dibidang ini adalah Hicth dan McKean—the Economics of the Defense in the Nuclear Age.

[17] Capabilities-based bukan melupakan threat-based, tetapi menggunakan kapabilitas akan dinamik, fleksibel dan adaptive menghadapi ancaman—efisiensi. Pergeseran dari TBP (threat-based planning) ke CBP adalah mahal-nya TBP.

[18] Kekuatan termasuk personil. Materi-materi tersebut menjadi konsekuensi hadirnya alut sista (utama dan cadangan), bahkan pangkalan, fasilitas, pengawakannya, dll. Termasuk alut sista cadangan dan personilnya. Logikanya kejadian (event) hadirnya kekuatan cadangan tidak mungkin berdiri sendiri artinya rusaknya dan gugurnya personil alut sista, dll dikarenakan event yang sama, perang, konflik, benturan phisik dengan actor negara lain. Aneh, kalau cadangan berdiri sendiri (dan di-UU-kan tersendiri) seolah-olah kemunculan kekuatan cadangan karena kejadian yang independently atau tidak ada kaitannya sama sekali dengan hadirnya kekuatan utama.

[19] Tentu saja manajemen perencanaan kekuatan akan lebih rasional menggunakan pendekatan kuantitatif di-bantu teknik manajemen modern lainnya.

[20] Michael J. Mazarr, et-all, (6 persons), The US Department of Defense’s Planning Process; Components and Challenges, (RAND, www.rand.org/t/RR2173z2, 2019), Summary, halaman xi, dan …. Challenges in Defense Planning Methodology: The Use of Scenarios, dan periksa Z . Khalilzad & Ian O. Lesser, Sources of Conflict in the 21 st century: Regional Futures and US Strategy; (RAND, MR – 897),…selected scenarios,…we used scenarios throughout this study, both as analytic organizing constructs and as ways of framing our results. Michael J. Mazarr, et – all, (6 persons), The US Department of Defense’s Planning Process; Components and Challenges, (RAND, WWW.RAND.ORG, 2019), Summary, halaman xi….karena scenario adalah probabilistik, maka besaran yang di-harapkan (expected value) akan muncul di-cantumkan, seperti most likely, dll (plausible).

[21] Kalau bisa mengonrol suatu area sasaran tertentu dengan penguasaan 50% nya saja, mengapa harus seluruh teritori harus dikuasai.

[22] Dalam konsep sistem analisis atau analisis biaya, maka biaya yang dikeluarkan dipahami sebagai konsekuensi yang harus dikeluarkan terhadap pilihan sesuatu. Biaya bukan suatu kendala, kendala sebenarnya adalah bagaimana membuat daftar pilihan yang terbaik dengan harga effektifitasnya.

[23] Umumnya negara-negara membangun sistem keamanan membagi dua (2) yakni kamnas (national security) dan kamdagri (homeland security), satunya memandang keluar versus aktor (outward looking) dan satunya memandang kedalam versus non-aktor (inward looking—homeland defense atau kamtibmas atau kamdagri).

[24] LtCol Deborah J. Beckworth, US Army, Critical Infrastructure Protection; A New Dimension of US National Security Strategy, (US Army War Coll, Strategy Research Project, April 1999), halaman iii. Negara lain memandang pam obvit bagi negara lain agak berbeda, mereka mendefinisikan sebagai infrastruktur kritikal yang haus diproteksi (CIP—critical infrastructure protection).

[25] Negara lain menyebut sumber daya nasional seperti air, energy, minyak, listrik, dll, adalah infrastruktur kritikal yang harus di-lindungi—disebut sebagai program perindungan infratsruktur kritikal (critical infrastructure protection—cip). Berbeda mungkin dengan sebutan pengamanan obyek vital (pam obvit), padahal sama sama berbasis infrastruktur kritikal.

[26] R D. Hooker, Jr, Understanding U.S. Grand Strategy, (© 2015 Published for the Foreign Policy Research Institute by Elsevier Ltd, Summer 2015), halaman 315. … At its best, grand strategy is not fundamentally about the military application of force, but rather an appreciation of its potential, along with the other instruments of power, in the mind of the adversary. Bahkan …kata Colin Gray….it as the “purposeful employment of all instruments of power available to a security community.” Kata Nina Silove dalam Beyond the Buzzword: The Three Meanings of “Grand Strategy”, (http://dx.doi.org/10.1080/09636412.2017.1360073, 2017), Journal Security, halaman 3 & 4… First, scholars use grand strategy to refer to a deliberate, detailed plan devised by individuals. Second, they employ it to refer to an organizing principle that is consciously held and used by individuals to guide their decisions. Third, scholars use the term to refer to a pattern in state behavior.

[27] R D. Hooker, Jr, Understanding U.S. Grand Strategy, (© 2015 Published for the Foreign Policy Research Institute by Elsevier Ltd, Summer 2015), halaman 1, Grand strategy can be understood simply as the use of power to secure the state….tingkat KamNas adalah kriteria keputusan untuk melaporkan kondisi KamNas pada tingkat merah,kuning atau hijau atau dengan skala 4,3, 2 dan 1. Tingkatan ini berbeda dengan spectrum ancaman.

[28] Hal Brands, What Good is Grand Strategy: Power and Purpose in American Statecraft from Harry S Truman to George W Bush, halaman 155-157.

[29] Menhan-lah yang paling berhak menggerakkan kekuatan (how to use the forces) demi kepentingan nasional yang terganggu.

[30] Hari Bucur – Marcu, et-all, (3 personnels), Defence Management: An Introduction, DCAF, halaman 39. Model yang di-modifikasi.

[31] P H. Liotta & Richmond M Lloyd, …From Here to There; the Strategy and Force Planning Framework, (Naval War Coll Review, Spring, 2005, volume # 58, no # 2), halaman 124. National objective atau tujuan nasional, boleh jadi beberapa negara menyebutnya sebagai visi negara/pemerintahan. Visi negara ya milik Presiden atau kepala negara yang memutuskan, semua menteri akan mendukungnya.

[32] Instrumen kekuatan nasional, bisa disebut kekuatan nasional sajaàsama artinya. 4 instrumen kekuatan nasional (lengkapnya strategi politik/diplomasi nasional, strategi militer nasional, strategi informasional), sesuai tetapan pemerintah wajib membuat strategi yang mendukung capaian strategi KamNas. Bisa saja minimal tiga (politiko-ekonomi-militer) atau PEM atau DIME atau MIDLIFE—tergantung pemerintah menggunakan yang mana. Instrumen kekuatan nasional yang terkecil adalah PEM (politik, diplomasi dan militer), berkembang menjadi DIME (diplomatic, informasional, militer dan ekonomi), terlengkap adalah MIDLIFE (militer, informasional, diplomatic/politik, legal, informasional, finansial dan ekonomi.

[33] Capability bukanlah definisi sesuai desain pabrik, misal sebuah fregat yang didesain sebagai kapal AKS, laik-kah disebut berkemampuan (kapabel) AKS….kapal selam yang mana, tipikal apa, kalau membangun 2 atau lebih desain yang berbeda mana yang lebih kapabel untuk dipilih dalam suatu operasi atau tugas? Beberapa literature menyebut kapabilitas (capability) adalah kesanggupan (ability) menjalankan misinya dan mencapai performa yang diinginkan…atau ability ditambah ukuran capain-nya (gunakan effektiftas, performa sesuai MOE) barulah laik disebut kapabel—Fregat dengan probability .80 jauh lebih kapabel dibandingkan kapal dengan probability deteksi  .70 . MOR (military operations research)  menterjemahkan dalam formula C (apability) = A (bility) + Outcome. Contoh lain… ada sekian personil lulusan sekolah penembak jitu (penembak runduk),akan dipilih sejumlah kecil yang paling kapabel….tentu akan di-pilih mereka dengan probabilita perkenaan-nya yang tinggi di-semua posisi  menembak (rata-rat) dan di-semua jarak capai.

[34] Eric V Larson, Force Planning Scenarios, 1945-2016, Their Origins and Use in Defense Strategic Planning, (RAND, RR – 2173z1, 2019), halaman 279… The National Defense Strategy (NDS) serves as the Department’s capstone document in this long-term effort [to implement the NSS]. It flows from the NSS and informs the National Military Strategy. It also provides a framework for other DoD strategic guidance, specifically on campaign and contingency planning, force development, and intelligence. . . . The NDS describes our overarching goals and strategy.

[35] Bagaimana bisa muncul stratgei instrumen kekuatan nasional lainnya apabila stratgei keamanan nasional belum terdefinisikan?

[36] Ibid, ….it flows from the NSS and informs the NMS.

[37] Leslie Lewis & C Robert Roll, Strategy-to-Task: A Methodology for Resource Allocation and Management, (RAND, P – 7839, 1993), halaman 10….bagi setiap negara tentu tidak sama, tergantung pemerintahnya, mau seperti apa dan disetujui parlemennya, pen.

[38] Michael G Roskin, National Interest: From Abstraction to Strategy, (US Army War Coll, Monograph, 1994), halaman 2.

[39] Hari Bucur – Marcu, et-all, (3 personnels), Defence Management: An Introduction, DCAF, halaman 39.

[40] Seberapa jauh dan seriusnya melindungi tergantung kategori kepentingan nasional tersebut, misal kedaulatan wilayah adalah isu yang tidak bisa dikompromikan, pantas kalau kategorinya atau kelasnya adalah vital.

[41]http://www.yourarticlelibrary.com/international-politics/national-interest-meaning-components-and-methods / 8487 , diunduh tanggal 17 Sept 2019, ….“The meaning of national interest is survival—the protection of physical, political and cultural identity against encroachments by other nation-states”. —Morgenthau.

[42] Donald E Nuechterlein, National Interest and Foreign Policy: A Conceptual Framework for Analysis and Decision Making, (British   Journal  International Studies 2, 1976, 246- 266), halaman 247.

[43] Menhan merupakan lakshar WanKamnas, memonitor tingkat keamanan nasional. Keamanan nasional (lengkapnya strategi keamanan nasional) merupakan strategi (strategi ini merupakan kumpulan strategi semua instrumen kekuatan nasional yang telah di-tetapkan pemerintah) yang mengawal, melindungi serta menjamin tercapainya obyektif kepentingan nasional—lebih banyak outward looking.

[44] Hari Bucur – Marcu, et-all, ( 3 personnels), Defence Management: An Introduction, (DCAF), halaman 5. …the management of defence is situated between defence policy formulation an actual command and control of the military forces. It should address areas of action such as defence resurce management, personnel management, acquisition management, where—during defence policy implementation. Tentu saja reformasi sangatlah berbeda dengan transformasi.

[45] Jack A LeCuyer, A National Security Staff for the 21 St Century, (Strategic Studies Institute Monograph, US Army War Coll), hal 29. …Source: Colonel Wally Walters, U.S. Army (Ret): Unpublished Working Paper, dengan judul “Transforming the National Security System,” PNSR, November 2010, halaman 34.

[46] Transformasi bisa diartikan suatu perubahan dramatis kearah perbaikan.

[47]  Donald E Nuechterlein, National Interest and Foreign Policy: A Conceptual Framework for Analysis and Decision Making, (Brit J International Studies 2 (1976),246- 266), halaman 248,…the national interest is the perceived needs and desires of one sovereign state in relation to other sovereign states comprising the external environtment. Terdokumentasi artinya sdh dibicarakan dengan parlemen dan bila perlu di-uu kan. Di-luar pemikiran Nuechterlein masih ada definisi dan konsep oleh pemikir kepentingan nasional a.l: Charles Beard, Hans J Morgenthau, Joseph Frankel, dll.

[48] Ibid, halaman 37.

[49] Effektifitas atau produk dari MOE yang ditetapkan bagi setiap lembaga atau unit organisasi sbg basis pengukuran sukses.

[50] Jack A LeCuyer, A National Security Staff for the 21 St Century, (Strategic Studies Institute Monograph, US Army War Coll), hal 29. …Source: Colonel Wally Walters, U.S. Army (Ret): Unpublished Working Paper, dengan judul “Transforming the National Security System,” PNSR, November 2010, halaman 34….usulan tim reformasi dan sistem transformasi KamNas, WanKamNas tahun 2009, dengan judul Turning Ideas into Action, … The national security system of the 21st century must be more capable of incorporating all of the elements of national power (mengorkestrakan seluruh strategi instrumen kekuatan nasional, pen), integrating intelligence (produk intelijen), anticipating threats and opportunities, making timely and informed decisions, and taking decisive action. The current vertical, rule-based system is no longer appropriate for dealing with the “wicked,” complex horizontal problems that characterize the global security environment.

[51] Policy adalah apa yang di-inginkan atau diputuskan pemerintah (what the government choices) sedangkan harapan capaian Policy—-terukur dengan MOP (measures of policy effectivenss),—kira-kira yang bisa dirasakan publik. Obyektif setiap misi sebaik-nya tercantum dalam orgaspros atau RO, sehingga seorang pejabat akan terlihat performa yang bisa (atau harus) di-capai. Bukan dilhat dari tupoksi-nya. Misal: Kepala Lemdik di-nilai bagus apabila bukan saja bisa meluluskan siswa sampai 100 % katakanlah, tapi setiap periode jumlah yang lulus dengan IPK bagus semakin meningkat atau jumlah buku yang berkualitas di-perpustakaannya menaik tajam di-perpustakaannya, journal jurnal semakin banyak, dll.

[52] SoS atau System of the System.

[53] Ukuran effektifitas atau MOE (measures of effectiveness), sebagai salah satu ukuran suksesnya suatu sistem atau program atau proyek—alangkah bagusnya apabila setiap unit organisasi  di-definisikan dengan jelas apa obyektifnya atau goals dalam bentuk ukuran (bukan tupoksi) lagipula akan menimbulkan pertanyaan bagaimana orang bisa menciptakan tupoksi kalau obyektif (sasaran phisik) belum didefinisikan dengan jelas.—darimana munculan tupoksi kalau arahnya atau perfoma yang dituntut belum ada?

[54] Paul K Davis, Analytic Architecture for Capabilities-Based Planning, Mission-System Analysis and Transformation, (RAND, NDRI, 2002), Summary xii.

[55] Michael J. Mazarr, et-all, (6 persons), The US Department of Defense’s Planning Process; Components and Challenges, (RAND, www.rand.org/t/RR2173z2, 2019), Summary, halaman xi.

[56] Capability (kemampuan) beda dengan sanggup (ability). MORS merumuskan sebagai berikut: Capability = Ability + “outcomes “, tanpa outcome (test, research) atau uji coba sulit menetapkan harga kapabilitasnya). Sanggup atau tidak, tidak sama harganya dengan kapabilitas. Misal bagaimana memilih 3 orang sniper, mana yang paling kapabel? BIla ditetapkan bahwa outcomes sniper adalah probabilita kena, maka siapa yang memiliki skor dengan probabilita kena tertinggi dialah yang paling kapabel, tidak bisa serta merta semua sniper memiliki kemampuan yang sama. Bagaimana dengan kapal, pesawat? Sama, misal: kapal disebut memiliki kemampuan anti kapal selam, bila sanggup (able) melakukan serangkaian proses mulai dari deteksi, lokalisasi, klasifikasi, kemudian penembakan dan meledakkan sasaran per setiap sasaran kapal selam. Rangkaian yang di-sebut kill-chain (KC), di-mulai dari probabilita deteksi-probabilita menentukan posisi-probabilita klasifikasi sasaran-probabilita sukses (tidaknya) menembakkan sista-probabilita meledakkan kapal selam—semua merupakan rangkaian probabilita yang harus melalui uji coba. Pilihan yang di-lakukan sudah menggunakan teknik keputusan modern dengan pendekatan analisis biaya tepatnya efektiftas biaya. Hint: probabilita yang menegasikan dengan mudah bisa dilakukan, misal bila (given) probabilita sukses menembak adalah .60 ( Psukses = .60 ), maka probabilita gagalnya menembak (Pgagal ) adalah 1 – .60 = .40, asumsi tidak ada kejadian bias (probabilita kondisional) atau informasi lain sebelumnya.

[57] Paul K Davis, Analytic Architecture for Capabilities-Based Planning: Mission-System Analysis and Transformations, (RAND CORPT, National Defense Research Institute, 2002), halaman 6.

[58] Kees van der Heijden, Scenario, the Art of Conversation, (Wiley and Sons, 1996), …ulasan…Skenario tradisional yang dilaksanakan dan paling tua dilakukan oleh Shell dan sukses. Pembahasan dari internal, external, transaksional dan kontekstual pertumbuhan skenario di-jelaskan dengan gamblang.

[59] Ronnie Gori, Pin Chen and Angela Pozga, Model-Based Military Scenario Management for Defence Capability Analysis, (Defence Systems Analysis Division, Defence Science and Technology Organisation/DSTO, Department of Defence, Canberra ACT 2600 Australia), slide # 3, 4.

[60] Cpt. Jamey C. Cihak, USAF, Scenario Analysis: An Integrative Study And Guide To Implementation In The USAF, (Thesis US Air Force Institute Technology, MS in Logistics Management, 1994), hal 3 – 18.

[61] Justru hal kontemorer ini yang sekarang menjadi tren sekarang.

[62] Ibid, hal 3 – 13.

[63] Paul K Davis, Analytic Architecture for Capabilities-Based Planning: Mission-System Analysis and Transformation, (RAND CORPT, National Defense Research Institute, 2002), halaman 7, 8.

[64] Harga probabilita yang muncul, di-update terus menerus akan menghasilan harga yang lebih halus — konsep Bayesian.

[65] Dua (2) di-artikan sebagai dua (2) mandala perang besar (MTW atau Major Theatre War) sebagai area panas (trouble-spot) yang sangat diperkirakan muncl (most likely), satu diperbatasan Jerman Barat/Timur (sentra pep darat/tank), satunya lagi di-Samodra Pasifik dengan sentrumnya di-perairan Jepang Korsel dan sekitarnya (sentra pep laut).

[66] Ted Greenwood & Stuart Johnson, NATO Force Planning Without the Soviet Threat, (Parameter, Spring 1992), halaman 27-28. ….peperangan darat besar di-area AoR perbatasan Jerman diperkirakan akan melibatkan 90- 100 divisi dengan waktu peringatan hanya 14 hari.

[67] TNI juga pernah menggunakan bahasa pilihan strategi yakni hadirnya dua (2) trouble-spot secara bersamaan (entah kebetulan atau tidak—sama dengan konsep NATO atau Sekutu), realitanya tidak pernah jelas dimana AoR (Area of Responsibility), lebih spesifik lagi dimana AoI-nya (Area of Interest)—guna memudahkan pelatihan atau membiasakan latihan gabungan dalam rangka kesiagaan dan deploi postur kekuatan gabungan, sebagai konsekuensi pilihan trouble spot, berdasarkan kir-intel dan prediksi skenario bahwa dua AoR tersebut adalah most likely happened (sangat-sangat mungkin terjadi). Literatur lainnya, menyebutkan bahwa kedua AoR NATO tersebut sebagai duo (2) MTW (major theatre war—mandala perang besar), satu di-darat diperbatasan Jerman, dan satunya di-samodra Pasifik. Duo mandala yang muncul secara parallel dan plausible. Setiap periodik negara membuat kaji ulang, apakah kapabilitas dan kekuatan-nya masih perlu di-pertahankan atau di-kurangi, dll—US menyebut QDR (quadrenial defense review), lainnya menyebut defense review atau DR saja.

[68] Waktu sebagai fungsi kejadian, situasi yang di-dikte keputusan strategik, operasi atau taktik.

[69] Richmond M. Lloyd & Dino A. Lorenzini, A Framework for Choosing Defense Forces, (Naval War College Review, Volume 34, Number 1, January-February Article, 1981), halaman 7. … Although selected scenarios are important tools in threat analysis, they can easily be misused in planning military forces. Optimizing forces to the specifics of one scenario may be painfully disappointing if the enemy selects an alternative approach that capitalizes on our vulnerabilities.

[70] Apa bedanya perencanaan pembangunan kekuatan dan perencanaan kekuatan, yang terakhir ini lebih ditekankan pada periodesasi pembangunan-nya. Yang paling penting adalah analisis perencanaan karena penggunaan kaidah ilmu dan aplikasi model guna menganalisis terberat ada di-sini.

[71] John F. Troxell, Force Planning in an Era of Uncertainty: Two MRC’s as a Force Sizing Framework, (Monograph, US Army War College), halaman 40.

[72] Policy per definisi adalah…what the goverment choices…apa yang di-putuskan pemerintah (prioritas), kemudian di-ikuti strategi oleh menteri atau direktorat di-bawah yang terkait, dan di-lanjutkan operasional di-lapangan.

[73] Sharon L. Caudle, Homeland Security Capabilities-Based Planning: Lessons from the Defense Community, Journal Homeland Security Affairs, Volume I, Issue 2, 2005, Article 2, hal 2.

[74] Committee on Naval Analytical Capabilities and Improving Capabilities-Based Planning; Naval Studies Board, Naval Analytical Capabilities: Improving Capabilities-Based Planning, (National Academic of Science, 2005), halaman 16.

[75] Lawrence Spinetta, Maj, USAF, Capabilities-based Planning: A Novel Use for Strategy-to-Task, (Quick-Look 04-15, Catalyst for Air & Space Power Research Dialogue), ….Instead of battling a single Soviet threat, planners now have to contend with scores of religious, ethnic, and anarchist terror and criminal groups.

[76] Economics Order of Battle, susunan/formasi tempur.  EOB)—i.e., troops, air forces, naval assets, C2, etc, lebih umum lagi menyebut EOB adalah postur.

[77] Ibid,

[78] TBP atau Threat-Based Planning, sangat mahal jatuhnya, pengalaman selama perang dingin. Kekuatan yang dibangun sepertinya berkejar-kejaran dengan kekuatan militer Pakta Warsawa…mulai one-on-one engagamenet, one-on-group, force-on-force sampai multiple-on-multiple asset yang digunakan milik NATO maupun Warsawa….mahal sekali. CBP adalah jawab yang lebih murah, flexible, dan adaptive, serta mobil. Stove-pipe menjelaskan hirarkhis yang terlalu ketat sehingga respons segera sering terhambat & terlambat. Stove-pipe di-artikan sebagai proses atau prosedur manajemen hirarkhis yang berbelit-belit.

[79] Kalau seseorang sosiolog menyebut setiap perubahan sosail sekecil apapun berarti ada katalisatornya (social change catalyst), dan kita tidak bisa melihatnya—gagal.

[80] Lawrence Spinetta, Maj, USAF, Capabilities-based Planning: A Novel Use for Strategy-to-Task, (Quick-Look 04-15, Catalyst for Air & Space Power Research Dialogue), ……It focuses on identifying the required tasks to generate desired effects rather than on the specific weapons used or the targets attacked.

[81] John O’Neill, Fergus O’Brien, New Organisational Forms and their Relationship to Future Military Capabilities, (DSTO/Defence Science and Technology Organisation C 3 Research Centre, Department of Defence, Canberra),

[82] Leslie Lewis & C Rbert Roll, Strategy-to-Task: A Methodology for Resource Allocation and Management, ( RAND, P –  7839,1993), halaman 5.

[83] Pengertian effek erat kaitannya dengan operasi berbasis effek, artinya sista atau sistem manapun yang dikejar atau dicari adalah seberapa jauh di-pahami-nya atau di-ketahui effeknya (dampaknya) terhadap musuh atau obyek….artinya bagaimanapun mahal-nya alut sista tanpa diketahui seberapa jauh kesanggupan memberikan effect terhadap lawan atau obyektif, pantaskah di-keluarkan  (konskeuensi) anggaran yang begitu besarnya? Semakin besar effek yang ditimbulkan akan semakin besar kapabilitsnya. Munculah konsep effek dalam bentuk measure of effectiveness, measure of policy effectiveness (MOE,MOP,MOFE,dll), dll..

[84] TTTP, Commonwealth, Guide to Capability-Based Planning, (The Technical Cooperation Program Joint System and Analysis Group Technical Panel 3), halaman 2.

[85] Paul K Davis, Analytic Architecture for Capabilities-Based Planning Mission-System Analysis, (RAND CORPT, National Defense Research Institute, 2002), halaman 1.

[86] Menurut MORS—Capability = Ability +  “oucome ”, bila tidak ada outcome (=0), maka capability = ability.

[87] Ibid, hal 13…the desired ability which satisfies the driver, and encourages the accomplishment of the sub-task. Misal outcome fregat AKS yang ditetapkan adalah probabilita deteksi kapal selam, maka tidak di-ketahuinya probabilita tersebut, maka harga outcome = nol. Bila Capability = Ability (sanggup menghancurkan kapal selam) + outcome, dan tidak dimasukan harga outcome, maka Capability hanya berharga sama dengan Abilitynya saja, tidak mencerminkan Capability yang sebenarnya—tidak kapabel. Seberapa jauh kesanggupan bisa dibuktikan, tanpa ini maka capabilitas hanya sebatas abilitas atau hanya dikatakan sanggup saja.

[88] Joong Yang Lee, Military Expert 5, Republic of Singapore Air Force, Expanded Kill Chain Analysis Of Manned –Unmanned Teaming for Future Strike Operations, (Thesis NPS, Sept 2014, MS in System Engineering), halaman xi, … A kill chain is a sequence of activities, that when executed successfully in the prescribed sequence, leads to the destruction of an objective or target. Traditionally, the kill chain only specifies the final phases of target location, identification, designation and engagement.

[89] Bisa saja kena namun sista-nya gagal meledakkan (not kill) muatannya. KC merupakan bagian familiar dari pertempuran yang di-awali dari deteksi, klasifikasi, pelacakan (tracking), olah gerak (manuevre), pelibatan sehingga rumusan KC adalah total probabilita, periksa .

[90] MOE atau measures of effectiveness—ukuran effektifitasnya.

[91] Disarankan type Fregat C.

[92] Paul K Davis, Analytic Architecture for Capabilities-Based Planning Mission-System Analysis, (RAND CORPT, National Defense Research Institute, 2002), Summary, halaman xii…tabel yang di-ambil setengah penggalan dari atas, tidak lengkap.

[93] Ibid, imej hanya diambil penggalan setengahnya saja.

[94] Paul K Davis, Capabilities for Joint Analysis in the Department of Defense: Rethinking Support for Strategc Analysis, (RAND Corpt, 2016, RR 1469), halaman 55….What are the background of good analysts? Even when reffering to the DoD join-analysis domain, the term analysts should not be interpreted as synonymous with someone with an operations research degree. It is merely an artifact ….  

[95] Menarik mengingat kata kata Mendiknas baru, bahwa kalau kita duduk diam (rutin) berarti gagal…then do it do it!!! …apapun yang dikerjakan meskipun sedikit itu lebih baik dan sukses.

0 0 vote
Article Rating

Budiman Djoko Said

View posts by Budiman Djoko Said
Budiman Djoko Said, lahir di Pekalongan, Jawa Tengah 1 Oktober 1946, alumni AAL-XV (1969). Berbagai penugasan sebagian besar dihabiskan di kapal-kapal Armada timur (terakhir Komandan KRI HSN) , dan variasi penugasan dalam rangka latihan baik dengan TNI-AL maupun gabungan dan staf perancang latihan bersama dengan negara-negara sahabat. Penugasan di Pendidikan di Kodikal, AAL dan Seskoal. Pendidikan militer jenjang di Long TAS/India, Diklapa-II, Seskoal, Sesko TNI, dan kursus Sumber Daya Hankam di AS (IDMC). Jabatan terakhir adalah Dan Seskoal. S-1 ditempuhnya di STTAL, progdi Teknik Manajemen Industri. S-2 Program Manajemen DI UPN “Veteran” Jakarta. Sebagai PUREK –III/UPN “Veteran” Jakarta, dan menjabat Rektor selesai tahun 2011. Beliau juga merupakan dosen dan pembimbing aktif di progdi Keamanan Maritim Universitas Pertahanan Indonesia (IDU). Bergabung dengan FKPM (Forum Kajian Pertahanan dan Maritim) di bawah kontrol Asrena KASAL semenjak tahun 2003 sampai sekarang selaku Wakil Ketua merangkap analis.
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x
Share via
Copy link
Powered by Social Snap