MENUJU TNI YANG PROFESIONAL, MODERN DAN MEMPUNYAI PROYEKSI REGIONAL DAN BERKOMITMEN GLOBAL – PERLUKAH DOKTRIN TNI BERUBAH ?

Abstrak

 

Peran militer dan angkatan bersenjata menjadi semakin penting sebagai fasilitator kebijakan luar negeri pemerintah, terutama dalam menghadapi tantangan non tradisional misalnya berpartisipasi dalam operasi penjaga perdamaian, latihan militer dan misi bantuan kemanusiaan. Bergesernya tantangan dari tradisional ke non tradisional adalah akibat dari bergesernya kekuatan bipolar menjadi multipolar dan globalisasi. Dalam menghadapi tantangan yang terus berlanjut ini, Tentara Nasional Indonesia (TNI) masih diandalkan sebagai aktor penting yang mampu mendukung kebijakan negara. Peran ini membutuhkan TNI yang modern, profesionalisme, dan mampu berkiprah di kawasan regional dan global sekalipun, mempunyai kemampuan proyeksi kekuatan yang tak tertandingi. Sementara TNI masih jauh dari peran tersebut, selain harus menghadapi tantangan internal, berupa tingkat profesionalisme dan modernisasi alut sista, TNI juga harus menghadapi tantangan eksternal termasuk ancaman asimetris baik regional dan global. Selain itu, dalam konteks peran regional dan global ini, TNI belum mampu menempatkan kelemahan substansial pada aset dan sumber daya militer untuk menjawab peran tersebut. Oleh karena itu, TNI perlu memikirkan cara untuk mengisi gap kemampuan ini dan memastikan perannya ke semua domain. Karena peran dalam proyeksi regional dan komitmen secara global berkembang, TNI perlu mengalihkan lebih banyak tanggung jawab dalam menyesuaikan diri dalam kemampuan operasi TNI, pemenuhan kebutuhan dan modernisasi alut sista, peningkatan profesionalisme, dan doktrin TNI.

Kata kunci : TNI, modern, profesionalisme, regional, global

 

MENGAPA PERUBAHAN DOKTRIN TNI PERLU DILAKSANAKAN ?

Sesuai Pembukaan UUD 1945, Indonesia sejak merdeka dituntut untuk “……… ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial,…….”[1] yang secara jelas bahwa Indonesia harus berpartisipasi dalam tingkat regional dan global. Untuk mendukung tujuan misi atau tujuan nasional yang lebih luas ini, kekuatan militer dapat digunakan dalam memperluas domain dari nasional menjadi regional dan global. TNI sebagai satu-satunya militer Indonesia perlu untuk menyesuaikan diri dan mengalihkan tanggung jawab, tugas, fungsi dan perannya dalam mendukung tujuan nasional ini.

Untuk menjawab ini, Kebijakan Panglima TNI kedepan mengacu kepada perkembangan lingkungan strategis, visi TNI ke depan adalah mewujudkan TNI yang profesional dan yang memiliki kemampuan proyeksi regional serta mampu berkomitmen secara global. Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto meyampaikan kebijakan terwujudnya TNI yang profesional dapat diaplikasikan dengan langkah-langkah antara lain, mengembangkan kemampuan TNI untuk dapat beroperasi baik yang bersifat tempur atau non tempur di kawasan Asia utamanya di kawasan Asia Tenggara atau ASEAN dan TNI terus berkomitmen melaksanakan tugas perdamaian dunia serta misi kemanusiaan di bawah bendera PBB.[2]

Kebijakan tersebut dijabarkan dengan berbagai misi oleh TNI sebagai tentara profesional dan modern yang memiliki keutamaan yaitu, 1) mewujudkan TNI sebagai kekuatan utama yang mampu dan handal dalam menjaga kedaulatan dan keutuhan wilayah NKRI; 2) TNI harus menjadi kekuatan regional yang mampu berperan secara aktif dan positif melalui proyeksi kekuatannya secara optimal; 3) TNI berusaha menjadi kekuatan yang berperan aktif dan optimal di lingkup global; dan 4) TNI akan terus mendukung kebijakan pemerintah Indonesia sebagai poros maritim dunia.

TNI juga perlu memerhatikan perkembangan dunia dewasa ini, terutama perubahan beberapa spektrum ancaman, dari tradisional menjadi non tradisional, seperti siber yang harus di sikapi bersama. Ancaman siber semakin mengemuka dengan kemajuan teknologi komunikasi yang pesat, berbagai interaksi dan transaksi memanfaatkan fasilitas siber menjadikan dunia semakin kecil dan memungkinkan perkembangan tanpa batas di berbagai sisi. Selain itu, tantangan lain berupa peperangan asimetris, proxy, dan hybrid, TNI perlu untuk bergegas melaksanakan perubahan doktrin dalam mendukung pembentukan kekuatan dan kemampuan dalam menghadapinya. Belum lagi dalam mendukung tujuan nasional yaitu ikut serta dalam operasi perdamaian dunia dan bantuan kemanusiaan, sesuai termaktub dalam Pembukaan UUD 1945.

Oleh karena itu, TNI perlu untuk merubah doktrin dari proyeksi ke dalam menjadi proyeksi keluar serta berkomitmen dalam tingkat regional dan global, baik melalui operasi sendiri maupun operasi dengan bekerja sama dengan negara dan organisasi global lainnya. Tingkat profesionalisme dan modernisasi alut sista adalah kewajiban untuk saat ini. Strategi dalam melaksanakan operasi, doktrin yang perlu diperbarui dan kompetensi personilnya perlu ditingkatkan.

Maaf untuk membaca full akses konten dalam format post artikel silahkan terlebih dahulu mendaftar sebagai anggota milist FKPM –> D A F T A R

0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Scroll to top
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x
Share via
Copy link
Powered by Social Snap