OPTIMASI PERBATASAN: MODEL INTEGRASI

1. Pendahuluan

General Border Crossing (GBC), kerjasama patroli bilateral yang pernah dilakukan TNI, dengan Nnegara tetangga kita sudah berjalan sekian lamanya. Pertanyaan besarnya adalah sudah optimalkah? Optimal dihitung dari jumlah sasaran yang berhasil diamankan, ditangkap, diproses secara terus menerus, dengan konsekuensi sumber daya yang rendah. Jumlah yang ditangkap dan seterusnya, adalah tetapan atau ukuran efektivitas (MOE/Measures of effectiveness). Kenyataannya sampai sekarang hal itu belum pernah terukur.

Sumber daya adalah jumlah personel, peralatan, alut dan korban serta konsekuensi dana. GBC atau semacamnya belum pernah dievaluasi dengan angka serta dirasiokan dengan total sumberdaya yang digunakan. Evaluasi selama ini cenderung kualitatif yang lebih berorientasi kepada terlaksana tidaknya operasi tersebut, tentu saja mengabaikan sumber daya dan dana yang dipastikan sangatlah besarnya. Berhitung ekonomis, ongkos yang   tidak   diperhitungkan  dalam  satu  kegiatan  disebut  “sunk-cost”. ”Sunk-cost” hanya terjadi di dalam kegiatan seperti promosi atau untuk kegiatan urgent seperti operasi intelijen atau operasi tempur yang bersifat tertutup (covert). Hal ini tentu saja sangat menyulitkan berhitung “efisiensinya”.

2. Diskusi 

Menemukan “angka efisiensi” operasi yang dilakukan Angkatan Laut (1) dan selanjutnya mencermati efektivitas GBC, dengan berasumsi bahwa GBC adalah format patroli kerjasama yang diharapkan sinergik akan memberikan sumbangan besaran (angka) efektivitas yang signifikan dibandingkan bila beroperasi mandiri (multiplier effect)(2).

2.1 Model yang digunakan

(1). Sudah waktunya bagi Angkatan Laut memprakarsai terlebih dahulu bermanajemen lebih komprehensif,  modern dan lebih “engineering” tentang bagaimana mengevaluasinya.Apapun juga masalahnya, namun dua kriteria selalu disertakan yakni berapa tingginya ukuran efektivitasnya dan berapa rendahnya konsekuensi sumberdaya yang digunakan dan selanjutnya rasiokan, bila harga rasio tinggi sekali, maka ≈ efisien. Contoh sederhana, deploi n KRI untuk area tertentu, pada waktu tο dihasilkan kton [tangkapan ikan atau apapun juga] dengan total cost sejumlah Crpho. Pada tahun ke t1 dengan jumlah p KRI dihasilkan  lton dengan total cost Crph1. Asumsi Crpho ≡ dengan Crph1, dan  lton signifikan > kton,  p > n, p & n  non-negative:

→  t1 dihasilkan suatu “pay-off” sebesar =  . lton/Crph1,

Dengan cara yang sama thd  to didapat  =  n . kton/Crpho.

“pay-off” pada to < “pay-off” pada t1.

[Hint:bila total cost berbeda signifikan bisa dimanipulasikan dengan memfaktorkan dalam bilangan yang sama], artinya patroli yang dilakukan pada tahun kedua lebih efisien dibandingkan tahun pertama .

(2). Algoritma Patroli Bersama:

a. Tentukan area reaksi  (reaction-zone), di mana KRI berada di satu sisi (terdekat wilayah RI), KD atau RSS di sisi lain (terdekat wilayah  mereka sendiri).  Pembatas   adalah axis, yang  merupakan jalur internasional (border). Gambaran lebih jelas periksa gambar di bawah ini:

Model ini akan terbalik bila dilakukan sendiri (tidak ada kerjasama), yakni terdekat dengan border adalah detection zone, ke belakang menjadi identification zone dan terjauh adalah reaction zone.

b. Rule of the game:

Target diperkirakan berpeluang besar akan bermain di antara dua area reaction zone. Tergantung posisi geografik dan jumlah asset yang digunakan, posisi terbaik KRI atau KD bisa ditempatkan diantara identification zone dan reaction zone. Posko bersama kedua belah pihak akan memberikan data sebagai simpulan akhir bahwa sasaran yang  didesignasi (ditetapkan) perlu diperiksa, atau ditangkap dll. KRI dan atau KD sebagai aktor yang divektorkan oleh posko. Begitu didesignasikan, selanjutnya posko bersama hanya memonitor.

Perhitungan matematik, diawali dari proses di zone deteksi (deteksi adalah kontak, tanpa diketahui profil kontak). Bila probabilitas deteksi sukses disatu sisi adalah pdet, maka :

Bila kedua-duanya bekerjasama maka teorema Bernouli diperlakukan, yakni probabilitas deteksi oleh kedua belah pihak (sama dengan percobaan dengan 2 kali dan 2 kali percobaan gagal, yang ketiga pasti berhasil, bisa saja suksesnya terjadi saat pertama, atau kedua atau ketiga):

p det bersama-sama sukses = 1 – p det gagal,

perhatikan angka eksponential sesuai dengan jumlah sensor yang ada, jadi bila ada 3 kapal, maka eksponentialnya menjadi 3. Arti lebih jauh,  meskipun secara statistik didapatkan probabilita gagal per setiap sensor cukup besar,  namun bila dilakukan oleh lebih dari satu sensor, probabilitas  deteksi   sukses  akan   menjadi  semakin  besar. Probabilitas deteksi per setiap kapal dengan mudah bias didapat dengan membagi luas radius sensor dengan luas areanya.

3. Boundary zone adalah area yang dihimpun memusat di tempat kejadian yang sangat sering sekali terjadi kegiatan kriminal. Dengan data statistic dan teorema CTT (central tendency theorema), akan didapat posisi yang diperkirakan sangat besar peluangnya akan terjadi lagi.

4. Pola “sky patrol” akan menjadi sangat mahal, mengingat patroli tersebut hanya efektif dilakukan di siang hari, jarak pandang visual bagus dan waktunya pendek.

3. Penutup 

Demikian kajian ini dibuat untuk digunakan sebagai masukan.

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x
Share via
Copy link
Powered by Social Snap