PELAJARAN DARI PERANG LEBANON

1. Pendahuluan

Perang di Libanon atau lebih tepat dikatakan sebagai serbuan (militer) pihakIsraelke Libanon, yang durasi intensitasnya relatif sangat singkat akan tetapi dampaknya sangat besar dan akan membawa pengaruh secara global. Mengapa bisa terjadi demikian?  Banyak hal yang terungkap dari peristiwa tersebut.

2. Peta Besar 

Ada beberapa pihak yang secara tegas mengatakan bahwa tindakan militer (Israel) ke Libanon, sangat terkait dengan energy security untuk kepentingan Israel dan backing-nya Amerika Serikat. Apabila ada tiga sumur yang diperkirakan masih mengeluarkan minyak yang berlimpah melewati tahun 2020, yaitu Irak, Iran dan Arab Saudi, maka situasi di lapangan memperlihatkan bahwa hanya Iran yang belum berhasil ‘dikendalikan’ oleh AS. Bagi Israel, yang sangat membutuhkan minyak, maka penyaluran minyak bumi dengan menggunakan pipa besar, sudah pasti akan melewati teritori pihak-pihak lain, dan satu diantaranya adalah lewat wilayah Suriah. Gertakan Israel yang didukung sepenuhnya oleh AS, nyatanya terpukul balik dan banyak kejutan yang terjadi (strategic surprised). Tamparan pertama datang dari Libanon yang secara tegas menolak kehadiran Menlu AS Condolezza Rice, dan kejutan yang paling besar adalah reaksi dunia yang nyaris kompak mengutuk tindakan militerIsrael. Malahan sekutu utamanya AS yaitu Inggris, sudah memperlihatkan sikap yang berbeda.

Tidak ada jalan lain, kecuali immediate cease fire dan Dewan Keamanan PBB segera mengeluarkan Resolusi No. 1701 (2006) yang bahasa  politiknya sangat keras. Benar bahwa ada sasaran taktis yang dapat dicapai oleh Israel, akan tetapi dunia dapat menyaksikan dengan jelas, bahwa ada kekuatan kecil (non-state actor) ternyata mampu memberikan military surprise.

Kejutan (taktis) yang terjadi ialah satu korvet canggih dengan teknologi super brands ternyata dapat dihantam dengan telak oleh teknologi non-brand, yang sebelumnya sangat dipandang enteng. Kini terungkap berbagai pertanyaan, yaitu; (i) bagaimana suatu non—state actor (Hizbullah) menyiapkan kesiapan infrastruktur militer yang kemampuannya sama dengan suatu negara ?, (ii) seberapa besar dukungan dana dan pasokan sistem kesenjataan, termasuk intelijen yang diberikan oleh pihak ketiga ?, (iii) lalu bagaimana pula kesiapan SDM untuk mengawaki infrastruktur dengan mental dan moril yang sangat kuat seperti itu ?

3. Peta Kawasan 

Begitu banyak pertanyaan yang dalam istilah intelijen disebut sebagai essential elements of information, mengejutkan pihak AS yang sedang gencarnya mengembangkan upaya untuk mengendalikan keseimbangan kekuatan (teknologi) militer di kawasan Asia Pasifik. Dari perang Libanon terungkap bahwa teknologi yang menghantam korvet Israel, adalah non brand berasal dari Cina dan (kabarnya) dikembangkan dan disalurkan oleh jaringan distribusi pihak Korea Utara. Kalau demikian halnya maka ada dua hal yang mencuat ke permukaan, pertama, ada bagian dari teknologi sistem senjata dari non-brand sudah setara dengan teknologi super brands dan harganya pun relatif murah.

Kedua, upaya pencegahan persebaran sistem yang ‘relatif murah’ tersebut, nyatanya sulit dideteksi dan dibendung. Di lapangan, pihak AS sudah membangun koalisi dengan ‘wadah’ Proliferation Security Initiatives (PSI) dan berhasil menggaet 70-an negara untuk bergabung. Tujuannya yang tersurat adalah untuk mencegah persebaran senjata pemusnah massal dan material yang terkait, akan tetapi yang tersirat adalah membendung proliferasi teknologi sistem senjata (murah harganya) dari Korea Utara ke pihak-pihak yang tidak disukai oleh AS.

Sepertinya, AS merasa kecolongan dan tidak mustahil mereka akan meningkatkan langkah-langkah untuk mengketatkan pengawasan terhadap lalu lintas (terutama lewat laut) persebaran atau penyaluran material sistem senjata non—brand dari  pabriknya ke Timur Tengah dan tempat lainnya. Apabila demikian halnya, maka area operasi yang akan dituju tidak pelak lagi adalah perairanIndonesia, khususnya Selat Malaka dan Selat Makassar (ALKI tengah). Untuk kepentingan kesana, pasti AS tidak akan kesulitan oleh karena banyak sekali alasan yang sudah tersedia, dan bisa pula merekayasa skenario yang buntutnya mereka punya alasan untuk masuk kesana.

4. Peta Tanah Air 

Reaksi yang spontan datang pihakIndonesiaialah akan mengirimkan kontingen militer untuk ikut misi perdamaian di Libanon, sekalipun harus menyiapkan 300 milyar rupiah. Reaksi dari masyarakat antara lain, siap ‘berjihad’ dan minta pemerintahIndonesiauntuk memfasilitasi keinginan tersebut agar mereka dapat segera diterjunkan ke daerah operasi. Itu adalah satu potret yang sangat jelas dan dipahami oleh masyarakat luas. Namun ada potret—potret lainnya yang terpantul dari pelajaran perang Libanon.

Dari perang Libanon, ada beberapa pelajaran yang dapat disimak, pertama, di Libanon ada satu entitas (non—state actor) yang eksis, dan pemerintah tidak berdaya menghadapinya. Kelompok tersebut mampu membangun kekuatan paramiliter yang memiliki kapabilitas bertempur yang setara dengan kemampuan militer. Konon pihak tersebut mendapatkan dukungan dari luar berupa dana, pasokan sistem senjata, intelijen, logistik, dan pelatihan untuk memiliki kemampuan berhadapan dengan pihak yang lebih superior.

Sulit dibayangkan apabila di tanah air ini, ada entitas seperti itu yang berhasil mengembangkan dirinya (dengan bantuan pihak asing) untuk mampu mengatasi  kemampuan tempur jajaran TNI. Sekarang ini, pihak keamanan tidak mampu mengawasi luasnya perairan dan panjangnya perbatasan yang terbuka selama 24 jam sepanjang tahun. Artinya, sulit bagi jajaran keamanan untuk mengawasi munculnya embrio entitas seperti tersebut di atas, bersembunyi di pulau-pulau terpencil, dan sulit pula untuk membendung aliran pasokan sistem senjata dan logistik yang datangnya dari luar.

Kedua, peluru kendali yang semula tidak diperhitungkan yaitu C-802 yang dikembangkan dari Silkworm, mampu menghantam korvet INS Ahni Hanit, kelas SAAR—5, yang di rancang secara khusus untuk mandala perang di Timur Tengah. Peluru kendali tersebut tidak semahal Harpoon atau Exocet, atau super brands lainnya akan tetapi dapat digunakan secara efektif untuk menghantam teknologi ECCM super brands. Apabila demikian halnya, maka anggapan bahwa teknologi AS, Israel, dan pihak Barat adalah yang terbaik, kini sudah berubah. Teknologi ECCM buatan Cina sudah harus diperhitungkan, padahal masih ada pihak lainnya yang perlu di perhitungkan pula yaitu Rusia yang dulunya adalah super power. Yang dimaksudkan dengan bekas super power ialah, disana pernah ada tataran teknologi kelas global yang, konon kabarnya sebagian diwariskan kepada Cina yang kemudian mengembangkan secara efektif. Kesimpulannya, kalau C—802 bisa mengenai INS Ahni Hanit, tentunya perangkat tersebut akan mampu menghantam kapal-kapal pihak lainnya yang tidak setara kecanggihan dengan korvetIsrael tersebut. Lalu bagaimana pula dengan kualitas peluru kendali buatan Rusia?

Ketiga, barangkali besar kemungkinan pihak AS akan menghitung ulang (mapping), mana teman yang dapat diandalkan dan pihak mana pula yang akan di tekan habis-habisan. Dari pendekatan tersebut, sepertinya Indonesia berada pada bagian yang kedua, yaitu kan ditekan habis-habisan. Tuntutannya ialah Indonesia, khususnya jajaran maritime security forces, harus dapat mengawasi seluruh perairan Indonesia terutama di Selat Malaka dan ALKI tengah. Moda operasi yang akan ditekankan adalah interdict and boarding, danIndonesia akan ‘diarahkan’ untuk menjalin kerjasama dengan berbagai pihak yang ujung-ujungnya adalah internasionalisasi kedua jalur laut tersebut.

Keempat, bagi TNI-AL, pilihannya tidak banyak oleh karena ada berbagai keterbatasan yang sulit untuk diatasi. Pilihannya akan terbatas pada hal-hal, sebagai berikut ini; (i) mengkaji ulang strategi yang dikembangkan, (ii) mengevaluasi available means (termasuk sistem pangkalan) yang dapat digelar, (iii) menyiapkan konsep operasi yang efektif dan kompatibel dengan interoperability pada dua perairan tersebut di atas, tentunya tanpa mengabaikan ALKI Timur, dan (iv) ke semuanya diharapkan menghasilkan kinerja yang dapat meyakinkan banyak pihak, terutama sang super power.

Kelima, berkaitan dengan kepentingan pengembangan alut sista, ada baiknya mencermati ‘tataran’  teknologi di lapangan yang eksis sekarang ini, oleh karena pelajaran dari perang Libanon mengatakan bahwa suatu laboratorium elektronika yang tidak terkenal, mempunyai potensi untuk menghasilkan produk yang setara dengan super brands. Kepentingan tersebut bukan suatu hal yang utopis oleh karena sudah ada putra—putraIndonesia yang meraih juara olimpiade fisika, artinyaIndonesia nantinya mampu ke arah sana.

[1]. Naskah ini telah dimuat dalam Harian Sinar Harapan edisi 22 Agustus 2006 dengan sejumlah penyesuaian.

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x
Share via
Copy link
Powered by Social Snap