PELUANG DAN TANTANGAN INDONESIA MENUJU POROS MARITIM DUNIA DI ERA GLOBALISASI (BAGIAN I)

PELUANG DAN TANTANGAN INDONESIA MENUJU POROS MARITIM DUNIA DI ERA GLOBALISASI (BAGIAN I)

Oleh: Amelia Rahmawaty

 

Pendahuluan

Sebagai gerbang jantung maritim Asia[1], sikap, situasi, dan arah politik Indonesia selalu menjadi perhatian dunia. Sorotan ini bertambah tatkala perdagangan berbasis laut kian dibutuhkan untuk memenuhi ekonomi dunia di era globalisasi.Oleh karena, sadar atau tidak, Indonesia merupakan bagian penting dalam kelancaran sistem tersebut. Maka tidak heran ketika Presiden Joko Widodo memperkenalkan Poros Maritim Dunia, hal ini ditanggapi serius oleh masyarakat internasional, terutama terkait definisi dan objektif poros maritim yang Indonesia maksud.Sepanjang sejarah maritim, tercatat beberapa negara yang berkuasa di dunia maritim.Ada yang perlahan berkurang kemudian tenggelam dominasinya, beberapa tetap berkuasa hingga saat ini, dan tidak sedikit pula muncul aktor baru yang mendominasi industri maritim disamping kenyataan bahwa mereka adalah negara kontinental. Terdapat empat domain yang dipahami secara umum sebagai bidang utama dalam menjamin keberlangsungan sistem perdagangan maritim, yaitu teknologi, keuangan, regulasi, dan politik. Dari kesemuanya, telah bercokol negara yang mendominasi masing-masing bidang.

Di sebelah barat ada Inggris yang menguasai maritim dari aspek legal, politik, dan finansial. Meskipun beberapa mungkin beranggapan bahwa era Pax Britannica telah usai, namun Inggris masih memiliki kontrol kuat di dunia maritim melalui finansial dan regulasi maritim, dan dengan demikian memiliki posisi berpengaruh dalam politik. Kemudian di Pasifik Barat ada pula Amerika yang mendominasi maritim dari aspek militer. Sejak Perang Dunia kedua hingga hari ini, seluruhSea Lines of Communications (SLOCs) dikuasai oleh kekuatan laut Amerika.Dominasi ini mampu menjamin keberlangsungan sistem maritim, atau dengan kata lain, ekonomi dunia. Lalu di utara Indonesia ada Korea Selatan yang menjadikan industri galangan kapal sebagai sentral perekonomian mereka. Sejak memutuskan untuk beralih fokus pada industri tersebut di tahun 1950an, Korea Selatan kini berhasil meraih status sebagai raksasa galangan kapal. Belum lagi jika menyebutkan poros-poros lainnya seperti Denmark dengan Maersk Group yang mengontrol 15% kapasitas kapal kontainer global, Singapura dengan Port of Singapore Authority (PSA) yang merupakan salah satu operator pelabuhan terbesar di dunia, atau Filipina yang terkenal sebagai penyedia utama pelaut dalam industri pelayaran global sejak hampir tiga dekade lalu.

Dengan situasi yang sudah well-established demikian, dimanakah Indonesia ingin menempatkan diri sebagai poros maritim?

 

GLOBALISASI DAN MARITIM

Untuk dapat menilai peluang dan tantangan Indonesia menuju Poros Maritim Dunia tidak dapat hanya dengan menaksir kekurangan dan kelebihan dalam negeri tanpa mengantisipasi kecenderungan dari fenomena yang sedang berlangsung, globalisasi. Setiap negara, tidak terkecuali Korea Utara, dipengaruhi oleh globalisasi, beberapa bahkan memiliki andil dalam menentukan dan mempertahankan sistem ini. Sedangkan berbicara globalisasi, tidak mungkin mengabaikan domain maritim, yang bersamaan dengan perkembangannya, jelas-jelas membentuk globalisasi.Istilah globalisasi pertama kali diciptakan Theodore Levitt pada tahun 1980an, tetapi kapan pastinya fenomena ini dimulai masih menjadi perdebatan.Bagi masyarakat sendiri, dampak globalisasi tiba-tiba saja terasa hampir di seluruh aspek kehidupan.Jarak dan waktu bukan lagi hambatan bagi dunia untuk berinteraksi dan terkoneksi dalam suatu sistem yang saling berkaitan. Teknologi, transportasi, dan komunikasi telah memberi sumbangan besar bagi keberlangsungan tersebut, yang terutama sekali berpengaruh terhadap percepatan pertukaran informasi, gagasan, pengetahuan, budaya, modal, dan perpindahan barang ke seluruh dunia. Dari semua pergerakan dan kemudahan tersebut, laut memiliki peran yang sangat menentukan.

Laut telah dimanfaatkan oleh manusia sejak jaman batu. Di era globalisasi, teknologi sama sekali tidak membuat peran laut menjadi kuno. Kepentingan strategis laut tidak berkurang sedikitpun karena seiring dengan terus meningkatnya standar hidup global, arti laut bagi kehidupan manusia di era globalisasi justru semakin vital. Sam Tangredi, seorang ahli strategi yang menyoroti relasi antara globalisasi dan kekuatan maritim, mengatakan bahwa “the dominant facilitator of the process of globalization has always been the sea.[2] Hal ini tidak terlepas dari empat sifat laut itu sendiri, yaitu (i) laut sebagai media transportasi dan pertukaran (barang), (ii) laut sebagai media informasi dan penyebaran ide, (iii) laut sebagai sumber, dan (iv) laut sebagai media pertahanan.[3] Sifat laut ini disadari atau tidak berkontribusi besar dalam menunjang proses globalisasi. Bagi Indonesia, relasi antara globalisasi dan bagaimana aktor-aktor Hubungan Internasional, terutama negara, memanfaatkan sifat laut ini penting diperhatikan untuk mengetahui gejala dan kemungkinan apa yang sedang dan akan Indonesia hadapi. Ancaman, resiko, dan kesempatan yang ditimbulkan dari perkembangan tersebut dapat dijadikan pertimbangan untuk memperhitungkan kira-kira peluang dan tantangan apa saja yang dihadapi Indonesia dalam rangka mencapai Poros Maritim Dunia.

 

1.      Laut Sebagai Media Transportasi

Aktivitas manusia yang banyak dihabiskan di darat terkadang membuat kita menyepelekan nilai penting dari laut bagi kelangsungan hidup manusia dan negara. Seringkali manusia taken for granted barang-barang yang berada di sekelilingnya. Listrik yang kita nikmati, makanan yang dikonsumsi, maupun barang-barang elektronik yang kita gunakan, tidak disediakan oleh negara itu sendiri, atau berasal dari satu negara saja. Misalnya, minyak yang digunakan untuk menerangi kota dan menggerakkan aktivitas industri dominannya disuplai dari negara-negara di Timur Tengah, komponen telepon genggam bisa berasal lebih dari tiga negara, bagian-bagian untuk membuat mobil diproduksi hingga lebih dari lima negara kemudian proses penyatuannya dikerjakan di negara lain, dan bahkan, rambut, pakaian, pigmen, atau plastik yang menjadi komponen untuk membuat Barbie berasal dari negara yang berbeda-beda sebelum akhirnya dipajang di toko-toko mainan seluruh dunia.

Kesiapan ekonomi dan sumber daya manusia, prinsip spesialisasi, dan terutama sekali nilai ekonomi liberal yang berlaku dalam perekonomian global “memaksa” negara untuk tidak dapat mencukupi kebutuhannya sendiri, kecuali melalui perdagangan. Negara industri membutuhkan negara-negara berkembang untuk menjual produk industri dan membeli bahan mentah untuk menggerakkan industri mereka.Bahkan tidak sedikit mereka juga mengendalikan agrikultur, peternakan, dan perikanan di pasar-pasar negara berkembang, terutama emerging markets.Sedangkan negara berkembang membutuhkan negara industri untuk menjual bahan mentah dan membeli hasil industri yang tidak bisa mereka produksi karena berbagai keterbatasan. Interaksi ini tentu saja tidak bisa kita pahami dari kacamata ekonomi belaka, tetapi juga harus memadukannya dengan faktor geografi yang memiliki pengaruh sentral dalam membentuk perdagangan internasional.

Dunia terbagi atas lima benua berpenghuni, masing-masing benua dipisahkan oleh lautan. Pasar-pasar atraktif (emerging markets)seperti Brazil, Russia, India, China, Indonesia, dan berada jauh dari negara-negara industri yang didominasi oleh negara Barat. Di sisi lain, negara berkembang dan negara maju umumnya tidak dikaruniai minyak atau gas alam di wilayah kedaulatannya. Kalaupun memiliki cadangan minyak, jumlah tersebut tidak mampu untuk menopang seluruh kegiatan ekonomi dan kebutuhan masyarakat tanpa pasokan dari negara-negara produsen minyak. Sedangkan, ladang minyak dan gas alam berada jauh di seberang benua, di lepas pantai, atau di laut dalam.Ketiga situasi tersebut memperlihatkan bahwa, faktor geografi telah mendikte manusia untuk selalu mengandalkan laut untuk saling berinteraksi. Seandainya pun ekonomi berkembang dan pusat pertumbuhan bergeser ke belahan dunia lainnya, benua yang dibatasi oleh laut luas tidak bisa mengingkari kenyataan bahwa laut merupakan penghubung yang menyatukan daratan-daratan di dunia.Bahkan negara land-locked sekalipun pasti membutuhkan laut untuk mengakses pasar dan sumber daya alam atau energi.  Sehingga, kebutuhan manusia akan transportasi laut bukanlah suatu kebetulan atau sementara, melainkan hal alamiah dan permanen.[4]

Karena telah tersedia oleh alam, sehingga pembangunan dan pemeliharaan laut sebagai “jalan raya” tidak memakan biaya sebesar jalur darat, kecuali beberapa manajemen yang perlu dilakukan untuk menjaga keseimbangan ekosistem laut. Keunggulan ini terefleksi dalam tulisan Kapten Mahan pada tahun 1900;

Jalur komunikasi melalui laut, darimanapun titik pangkal dan arahnya, membentang sepanjang kapal dapat mengapung dan bernavigasi. Hamparan laut yang luas tidak memerlukan pelebaran jalan atau penambahan rute sebagaimana yang dibutuhkan moda transportasi darat. Hanya jika tidak ada perhubungan laut, atau ketika jarak yang ditempuh melalui laut lebih jauh, baru jalur darat dapat menandingi kemurahan dan kemudahan transportasi  laut.[5]

Meskipun pemikiran di atas dikemukakan seratus tahun lalu, namun argument tersebut masih relevan hingga sekarang. Hal ini tidak terlepas dari perkembangan yang dilakukan oleh industri kapal melalui perbaikan-perbaikan kapasitas, maupun mesin kapal yang mana berkontribusi terhadap penghematan waktu dan biaya transportasi. Dikarenakan efektifitas dan efisiensi moda ini, berdasarkan informasi International Chamber of Shipping, kapal merupakan moda transportasi terbaik untuk kepentingan komersial dibandingkan truk, kereta, dan pesawat.[6]

Jika dihitung secara nyata, kapal kargo terbesar dapat membawa 200.000 ton padi yang mana mampu memberi makan setengah juta orang selama setahun. Kapal tanker terbesar dapat mengangkut 300.000 ton minyak yang cukup untuk menghangatkan seluruh kota selama satu tahun.[7] Kapal kontainer terbesar saat ini, dapat mengangkut kira-kira 9.61 juta ban yang dapat digunakan untuk 2.4 juta mobil, atau membawa 13.8 juta panel solar yang dapat menggerakkan 346.000 rumah tangga per sekali berlayar.[8] Dari segi biaya, transportasi maritim juga sangat efektif. Bila dihitung, biaya pengiriman minyak mentah Amerika yang diimpor dari Timur Tengah hanya senilai US$ 0.005 per liter. Biaya pengangkutan satu ton bijih besi dari Australia ke Eropa hanya $ 10, sedangkan satu kaleng bir hanya seharga $ 0.01 saja.[9]

Seiring pertumbuhan ekonomi yang diprediksi akan terus meningkat, kesepakatan perdagangan internasional yang semakin menjamur, dan ditambah pula dengan peningkatan konsumerisme dunia, peran besar transportasi maritim untuk memuaskan gaya hidup dan memenuhi permintaan ekonomi global akan terus berlanjut. Volume perdagangan internasional yang tumbuh dengan rapid mendorong industri kapal untuk terus menyesuaikan permintaan pasar modern. Dalam 15 tahun terakhir saja, kapasitas angkut kapal telah meningkat dua kali lipat. MSC Oscar, kapal kontainer terbesar 2015, mampu mengangkut 19.224 TEUs, melebihi batas maksimal Kanal Panama, dan mendekati batas lewat Selat Malaka. Diperkirakan pada tahun 2018, kapal berkapasitas 22.000 TEUs akan diluncurkan, dan menyusul kapasitas tersebut, kapal 24.000 TEUs pun saat ini sedang dalam proses gambar.[10]

Dengan kapasitas sebesar itu, bayangkan berapa total dolar per sekali kapal ini berlayar. Pihak-pihak yang memiliki kepentingan terhadap keamanan kapal ini, baik negara, industri perkapalan, maupun asuransi, melakukan berbagai upaya untuk menjamin kelancaran lalu lintas perdagangan maritim. Para pihak berkepentingan membentuk strategi dan memimpin dalam mendorong sharing information dan data yang dibutuhkan untuk keselamatan bukan saja ketika melaut, tetapi seluruh kegiatan yang berkaitan dengan keamanan transportasi maritim. Mendayagunakan peran organisasi internasional pemerintah, masyarakat maritim melalui International Maritime Organization (IMO) telah membuat regulasi-regulasi untuk menghindari terjadinya hambatan dan ancaman terhadap keamanan maritim.Regulasi tersebut tidak hanya bertujuan untuk menghindari gangguan dari teroris, perompak, dan pembajak. Tetapi juga ditujukan kepada negara-negara, bukan untuk sekedar ikut serta menjamin keamanan sistem, namun sekaligus sebagai syarat keterlibatan negara dalam transportasi maritim. Standar-standar, seperti standar pelaut, standar pelabuhan, ataupun standar kapal  yang digunakan untuk perdagangan internasional, berlaku dan harus dipatuhi oleh negara-negara anggota dan yang telah meratifikasi untuk dapat terlibat dalam sistem maritim. Dengan kata lain negara yang tidak dapat menyesuaikan kapasitasnya dengan standar yang berlaku sudah pasti akan menghadapi kesulitan untuk bersaing, atau bahkan paling tidak, berpartisipasi dalam sistem ini.

Selain regulasi, pengamanan jalur perdagangan maritim pastinya menjadi hal utama yang selalu diawasi karena keamanannya menentukan kestabilitasan ekonomi global dan kepentingan nasional banyak negara. Tingginya nilai ekonomi yang dipertaruhkan setiap monster-monster kotak itu berlayar sudah jelas sekali meningkatkan antisipasi banyak pihak untuk memastikan terselenggaranya keamanan jalur perdagangan maritim. Kapal memang dapat melintas ke arah manapun sejauh fisik perairan tersebut mengizinkan. Namun, ada jalur-jalur tertentu yang lebih disenangi karena jaraknya yang lebih singkat. Jalur ini selalu dilalui  untuk menuju dari satu daratan ke daratan lainnya dan menjadi jalur tetap dalam pelayaran internasional, inilah yang dinamakan jalur perdagangan.  Namun, jalur ini tidak selalu lebar dan nyaman dilewati oleh kapal, terutama kapal-kapal besar yang sulit bermanuver. Pada beberapa titik kapal akan melalui jalur menyempit yang kita kenal dengan chokepoint. Jalur ini identik dengan akses sumber energi karena kapal-kapal tanker yang mengangkut minyak dan gas alam berlayar melalui chokepoint. Akan tetapi, tingkat kerawanan chokepoint tinggi, seperti ancaman aksi teroris, pembajakan, perompak. Sayangnya, kapal tanker tidak banyak memiliki alternative untuk menghindari kerentanan dari chokepoint.

Memutar rute bukan pilihan yang tepat karena jarak lebih jauh yang harus ditempuh tersebut dapat berdampak pada penambahan biaya dan waktu, sedangkan, ekonomi global saat ini semakin bergantung pada prinsip just-in-time (JIT) untuk menekan pemborosan operasional. Daripada mencari rute lain, hal yang telah lama dan selalu dilakukan negara adalah mengontrol chokepoint, dan dengan demikian, menyoroti stabilitas, orientasi atau sikap yang diambil, dan berbagai kecenderungan dari negara-negara yang berbatasan yang mungkin menimbulkan resiko terhadap keamanan sumber energi dunia. Entah keberuntungan atau sebaliknya, keamanan negara-negara yang berbatasan dengan chokepoint akan selalu menjadi sorotan dunia, bahkan jika dibutuhkan, pihak berkepentingan akan mengambil tindakan yang dianggap perlu untuk melindungi bagian vital dari kepentingan nasionalnya tersebut.

 

2.      Laut Sebagai Media Pernyebaran Informasi

Selain berperan sebagai nadi perdagangan internasional, laut di era globalisasi juga berperan sebagai media informasi.Ketika menyebutkan kata “informasi”, hal pertama yang muncul dalam benak barangkali adalah barang-barang atau aplikasi high-tech seperti iphone, tab, google, youtube, flipboard, dan banyak lagi.Disadari atau tidak, pada dasarnya laut masih berperan besar sebagai sarana penyedia informasi.Dahulu, pelayaran telah membuka pengetahuan manusia bahwa mereka tidak terisolasi di daratan yang sempit. Ada kehidupan lain di seberang lautan sana. Masa-masa berikutnya, ekspedisi laut terus dilakukan yang mana kemudian mengarahkan pada penemuan lain, termasuk berkontribusi terhadap perkembangan peradaban manusia, seperti penyebaran agama, pengenalan budaya, dan pertukaran barang dan sumber kekayaan alam. Di era globalisasi, jangankan agama dan budaya, pertukaran informasi mengenai kehidupan sosial, urusan keuangan hingga politik, dapat dilakukan dengan internet.Membayangkan pertukaran informasi dilakukan melalui laut terdengar “purba”.Mengapa membutuhkan laut jika internet memfasilitasi segalanya? Menarik, karenajaringan internet itu sendiri bertumpu pada laut sebagai media untuk mengirimkan data dan sinyal lintas benua.

Internet memiliki pengaruh luar biasa terhadap politik dunia.Arab Spring menunjukkan bagaimana andil internet dalam revolusi politik. Kemudian, kita juga mengenal CNN Effect yang secara signifikan mampu menggalang kesadaran sekaligus mengonstruk pandangan masyarakat internasional terhadap peristiwa tertentu sehingga berdampak pada perubahan pelaksanaan politik luar negeri suatu negara, dan beberapa tahun terakhir dunia menyaksikan, bagaimana ketegangan diplomatik dapat muncul akibat pembocoran informasi intelijen melalui internet. Di bidang ekonomi, internet mendorong kesempatan investasi dan bisnis yang menciptakan lapangan kerja baru. Berdasarkan laporan Boston Consulting Group, internet memiliki kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi, terutama di negara-negara maju. Pada 2010, kontribusi internet terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Inggris lebih besar daripada kontruksi dan pendidikan. Di China dan Korea Selatan, ekonomi internet menduduki posisi sebagai enam sektor industri utama.[11]

Begitu pentingnya internet hingga mampu menentukan stabilitas dan instabilitas keamanan nasional negara. Namun selama ini terdapat kesalahpahaman yang umum berlaku yaitu, komunikasi internet ditransfer melalui satelit.Padahal, 95% lalu lintas telekomunikasi dunia justru ditopang oleh kabel bawah laut.[12] Bukan berarti satelit tidak penting.Namun, volume data yang dibawa oleh kabel bawah laut jauh melampaui kapasitas satelit yang lebih terbatas. Jika kabel bawah laut mampu mengirim data terabit per detik, kecepatan satelit hanya megabit per detik. Kecepatan transfer data ini tidak hanya efektif bagi kepentingan komersial dan finansial, tetapi juga sosial, politik, dan militer. Di Amerika, hampir seluruh komunikasi pemerintah, termasuk perintah diplomatik dan militer yang sensitif sekalipun mengandalkan kabel komunikasi bawah laut.[13] Jika kabel yang menghubungkan Amerika dengan dunia tersebut putus, diestimasikan gabungan semua satelit dilangit hanya dapat memikul 7% dari total volume lalu lintas saat ini.[14]

Ketika dunia semakin mengandalkan jaringan internet untuk menopang berbagai lini kehidupan, maka nilai kritis dari keamanan kabel bawah laut semakin signifikan. Hal ini tidak terlepas dari karakteristik fenomena globalisasi. Di satu sisi, komunikasi dan transportasi adalah pemicu proses globalisasi yang merekatkan seluruh dunia. Di sisi lain, keduanya merupakan refleksi paling nyata dari kerentanan globalisasi.Globalisasi memberi ruang terbatas bagi negara untuk terbebas dari instabilitas negara lain.Sehingga, peristiwa apapun yang terjadi di suatu wilayah dapat meluas dampaknya kepada negara lain, tidak peduli berapa mil jarak lintasnya. Disamping keberadaannya yang tidak terlihat dan kecil, efek domino dari kerusakan kabel bawah laut dapat melumpuhkan ekonomi dan komunikasi internasional. Desember 2006 lalu, gempa di Taiwan telah mengacaukan telekomunikasi di negara tersebut, dan negara tetangga seperti; China, Korea Selatan, dan Jepang. Dampaknya tidak berhenti sampai disitu. Kemacetan lalu lintas pengiriman data juga dirasakan oleh beberapa negara di belahan dunia lainnya yang berupaya untuk terhubung dengan mereka. Kerusakan di darat akibat gempa Hengchun ini tidak seberapa parah jika dibandingkan dengan dampak kerusakan kabel bawah laut yang menyebabkan kelumpuhan pada transaksi keuangan dan pasar valuta asing, tidak dapat diaksesnya situs berita dan mesin pencari online hingga ke negara-negara Asia Tenggara sebelum akhirnya perbaikan dilakukan.

Dahulu, aktivitas ekonomi mengandalkan pasar, sumber daya alam, dan sumber daya manusia. Ketiganya menjamin kelancaran ekonomi nasional. Namun saat ini, perkembangan teknologi dan teori, serta pola ketergantungan yang ada membuat negara tidak dapat hanya mengandalkan ketiga sumber tersebut, tanpa memperhatikan ketersediaan informasi dan komunikasi dengan dunia luar. Informasi dan komunikasi internasional menjadi hampir-hampir sama penting dengan pengangkutan barang. Baik barang maupun informasi yang wujudnya tidak terlihat, keduanya sama-sama “diangkut” melalui laut. Keduanya sama pentingnya dalam menunjang kehidupan manusia di era modern. Dalam menjamin stabilitas ekonomi, pengurangan terhadap salah satunya berdampak besar terhadap keseimbangan yang lainnya. Hal ini membuat baik angkut barang melalui laut, maupun informasi melalui jaringan komunikasi bawah laut, sama-sama memerlukan akses tanpa hambatan. Jika barang memerlukan keamanan maritim dari ancaman aksi teroris, maka tidak ada alasan bagi akses internet terbebas dari ancaman-ancaman non-konvensional yang serupa.

Keuntungan lainnya yang diberikan laut tentu tidak sebatas infrastruktur kabel bawah laut.Penelitian mengenai permukaan, dalam, dan bawah laut sama pentingnya bagi keberlangsungan hidup manusia, misalnya untuk pengetahuan perubahan iklim dan keseimbangan lingkungan, atau untuk mencari informasi baru mengenai sumber pangan dan energi, potensi alternative devisa negara, kepentingan medis, hingga strategi militer.70% planet ini terdiri dari lautan, namun hanya 5% dari lautan yang sudah dieksplorasi. 95% sisanya masih menjadi misteri. Dengan penemuan yang bahkan tidak sampai sepertiga itu saja manusia sudah diuntungkan dari segi kecukupan pangan, penemuan obat-obatan baru, mineral berharga, dan lainnya. Jika penelitian terus dilakukan, bayangkan apa lagi yang mungkin bisa ditemukan manusia dari laut.

Hanya jika negara menyadari betapa pentingnya informasi yang didapat dari laut bagi kepentingan nasionalnya, eksplorasi laut akan dilakukan secara intensif. Oleh karena kegiatan eksplorasi ini membutuhkan biaya yang tinggi dan teknologi yang canggih, sehingga tanpa niat besar dan berkesinambungan, eksplorasi laut (terutama laut dalam) sulit dilaksanakan. Padahal, the more we know, the more we get.  Semakin banyak informasi yang kita dapat mengenai laut, semakin banyak pengetahuan untuk mengantisipasi bencana alam, serta potensi yang dapat dikelola dan diubah menjadi kekuatan ekonomi nasional. Pengetahuan mengenai laut tidak untuk kepentingan ekonomi saja, tetapi juga perlu untuk meningkatkan kesadaran maritim bangsa. Tanpa kesadaran maritim, tidak akan pernah bisa menciptakan dukungan dari masyarakat terhadappemerintahan yang berorientasi pada maritim, dan dengan demikian, membuat kebijakan-kebijakan yang mengarah pada pembangunan dan perlindungan domain tersebut. Bagaimanapun, salah satu basis untuk membangun negara maritim yang kuat adalah masyarakat yang berkarakter dan berbudaya maritim.

 

3.      Laut sebagai Sumber

Masalah kelaparan bukan hal baru dalam Hubungan Internasional. Sejak masa kekaisaran Romawi, Perang Dunia, hingga era globalisasi, kelaparan merupakan tantangan bagi stabilitas sosial dan politik. Disamping ekonomi global yang disebut-sebut terus tumbuh, peningkatan produksi makanan, dan kecanggihan teknologi, masalah kelaparan masih melanda banyak negara di dunia, terutama negara berkembang. Pada tahun 2008, terjadi kerusuhan di negara-negara Afrika, seperti Burkina Faso, Senegal, Yaman, Cameroon akibat meroketnya harga pangan. Di Haiti, krisis pangan mendorong masyarakat turun ke jalan dan menuntut Rene Preval turun dari kursi kepresidenan. Rakyat Tunisia, Mesir, dan Libia yang merasakan kesulitan serupa melakukan demonstrasi sebagai bentuk protes terhadap rezim pemerintahan. Masalah pangan di negara-negara Arab tersebut kemudian menjadi salah satu pemicu Arab Spring.

Episode kekacauan yang diakibatkan oleh krisis pangan ini mungkin sekali terulang di masa depan. Mengingat sembilan miliar orang diprediksi akan memadati planet ini pada tahun 2050. angka populasi tersebut membutuhkan 70% produksi pangan lebih banyak dibandingkan sekarang.[15] 90% dari total pertumbuhan kepadatan tersebut berkonsentrasi di negara berkembang dan mereka yang tinggal di negara-negara ini merupakan mayoritas dari masalah kelaparan dunia.[16] Dengan kata lain, solusi terhadap kelaparan dibutuhkan oleh negara berkembang, tapi di sisi lain, pengejaran kekuasaan dan kemakmuran di negara maju telah menimbulkan masalah keamanan yang kompleks pada negara berkembang, seperti cuaca ekstrem yang berdampak pada kekeringan, alokasi pangan yang harus dibagi untuk pangan hewan ternak dan ethanol, hilangnya lahan karena dijual atau disewa kepada investor asing untuk kepentingan industri, atau bahkan ketergantungan negara berkembang terhadap impor negara maju.

Terdapat banyak faktor yang membuat penyelesaian masalah ini sulit. Tapi yang pasti, jika kita berupaya mengatasi masalah kelaparan, maka kita tidak dapat hanya berfokus ke darat dan mengabaikan arti penting laut yang mewakili sebagian besar dari planet ini. Ketika sumber pangan di darat semakin langka dan ruang semakin terbatas, manusia pada akhirnya akan bergantung kepada laut untuk memenuhi kebutuhan pangannya sebagaimana yang telah dilakukan selama ini.Protein dari laut, baik hewan maupun sayur laut, sangat tinggi dan sehat untuk kecukupan nutrisi manusia. Sumber pangan dari laut juga tidak pernah habis, kecuali jika manajemen eksploitasi mengancam kesehatan ekosistem dan keseimbangan laut. Sumber pangan di laut tidak butuh disiram air, diberi pupuk, diberi makan, ataupun membutuhkan lahan tertentu, cukup dengan pengelolaan yang tepat sehingga pemeliharaan sumber kekayaan hayati tidak terancam oleh eksploitasi berlebihan.Bagi Indonesia yang diekspektasikan menjadi salah satu dari tujuh negara yang mewakili setengah kepadatan penduduk dunia di tahun 2050[17], solusi sumber pangan yang bergizi berada tepat di depan batas pantai Indonesia.

Dalam waktu 50 tahun terakhir, permintaan global terhadap ikan terus meningkat. Pada tahun 1960an rata-rata satu orang mengonsumsi ikan sebanyak 22 pon setiap tahunnya. Di tahun 2012, angka ini naik hingga hampir dua kali lipat.[18] Tingginya konsumsi ikan ini menjadikan ikan sebagai komoditas pangan yang paling banyak diperdagangkan. Pada tahun 2008, komoditas ini bernilai $ 102 miliar[19]. Total nilai dari perdagangan ikan bagi China, Norwegia, dan Thailand yang merupakan tiga eksporter utama di tahun 2013 mencapai $ 19.6 miliar, $ 10.4 miliar, $ 7 miliar berturut-turut.[20] Sekitar 200 negara dilaporkan mengekspor ikan dan produk perikanan lainnya di tahun 2012.[21]

Tingginya permintaan konsumsi ikan membuat tidak sedikit pencari profit menangkap ikan secara ilegal dengan tidak memedulikan teknik dan jumlah tangkapan. Eksploitasi illegal dan berlebihan ini tidak hanya menyebabkan kerugian material bagi negara-negara pantai, tetapi juga kerugian dari kerusakan terhadap kekayaan hayati. Berdasarkan informasi dari Catham House, nilai dari illegal fishing bisa mencapai hingga $ 23.5 miliar per tahun.[22] Jika direfleksikan kepada Indonesia, illegal fishing telah menyebabkan kerugian Rp. 300 triliun setiap tahunnya.[23]Setiap harinya, sekitar 5.400 kapal-kapal asing di lautan Indonesia, dan 90% dari mereka adalah ilegal.[24]Jumlah ikan-ikan bawah laut Indonesia sepuluh kali lebih banyak dibandingkan yang terkandung di bawah laut wilayah tetangga lainnya.[25] dan perairan Indonesia yang merupakan coral triangle menyumbangkan multi-miliar dolar terhadap industri ikan tuna global.[26] Sehingga Indonesia menjadi ladang yang menggiurkan untuk memanen ikan-ikan bernilai ekonomi tinggi. Keamanan maritim yang longgar hanya semakin mendorong para pencuri ikan untuk mengeksploitasi kekayaan perikanan Indonesia dalam jumlah besar-besaran dan dengan menggunakan cara yang merusak kesehatan ekosistem.

Sumber lainnya yang didapat dari laut sudah pasti adalah minyak, gas alam, dan mineral-mineral bawah laut yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Rata-rata ekonomi dunia diprediksi tumbuh 2.6% dan 3% per tahun selama dua dekade mendatang.[27] Pada tahun 2030, satu miliar orang di China – setara dengan 70% populasinya – adalah kelas menengah.[28] Peningkatan juga terjadi di Indonesia, McKinsey memprediksi sebanyak 135 juta penduduk Indonesia pada 2030 adalah kelas konsumtif.[29] Seiring dengan pertumbuhan ekonomi global, maka kebutuhan akan bahan bakar dan mineral-mineral bawah laut juga akan meningkat untuk menggerakkan industri. Disamping kemunculan bahan bakar alternative, konsumsi minyak dan gas alam bagi ekonomi dunia masih mendominasi. Berkaitan dengan hal tersebut, sepertiga dari minyak dunia terletak di lepas pantai dan laut dalam.[30] Dengan kata lain, untuk memenuhi ekonomi global dan permintaan gaya hidup populasi yang semakin konsumtif, dunia masih akan membutuhkan laut, baik bagi sumber ekonomi, pangan, maupun energy.

 

4. Laut sebagai Media Pertahanan

Apa yang terjadi di laut, tidak berhenti di laut. Apa yang terjadi di tanduk Afrika, bukan hanya menjadi kepentingan negara-negara tetangganya. Perkembangan yang terjadi di littoral states Selat Hormuz menjadi perhatian seluruh dunia. Inilah karakteristik dari globalisasi.Peristiwa yang terjadi di suatu area berdampak parallel terhadap stabilitas dunia, benign maupun hard, langsung ataupun tidak langsung. Batas-batas antar negara luruh dan menyebabkan keamanan dan kepentingan setiap negara melewati garis teritori kedaulatannya. Jadi, apa peran laut disini?

Pada dasarnya laut tidak dapat dihuni, namun laut bisa dimanfaatkan. Untuk dapat memanfaatkan ketiga sifat laut diatas, negara harus memiliki akses; akses menuju pasar, akses untukmendapat bahan mentah, akses untuk melakukan perdagangan, dan akses untuk mendapatkan informasi dan komunikasi tanpa hambatan. Akses yang dimaksud disini adalah kebebasan untuk menggunakan laut sebagai jalan raya perdagangan, atau dikenal dengan sea lanes. Jika akses ini ditutup, industri China tidak akan berkembang, perekonomian Jepang runtuh, orang-orang Afrika kelaparan, mereka yang berada di belahan Eropa kedinginan, Korea Selatan gelap gulita. Agar menjamin akses ini tetap terbuka, negara menggunakan angkatan laut untuk menyelenggarakan pengendalian laut.

Semakin negara terlibat dalam industri dan bergantung pada perdagangan internasional, terjaminnya keamanan jalur perdagangankian dibutuhkan. Mengetahui bahwa keberlangsungan globalisasi erat kaitannya dengan industri dan perdagangan internasional, maka dapat dipahami bahwa interaksi internasional bertumpu pada keamanan laut.Ketika masa damai, pengendalian laut dibutuhkan untuk memastikan operasi militer dan kepentingan komersial tidak terhambat sehingga tidak mengancam kelangsungan hidup di darat. Sedangkan pada masa krisis, pengendalian laut digunakan untuk melindungi komunikasi maritim atau mencegat komunikasi maritim lawan, sehingga dapat memaksa lawan merubah sikap atau kebijakannya tanpa harus melakukan penyerangan ke darat.Komunikasi maritim disini berbeda dengan komunikasi dalam arti yang biasa kita gunakan untuk kegiatan sehari-hari, maupun komunikasi yang digunakan pada saat perang di darat. Komunikasi yang dimaksud memiliki arti lebih luas dimana bagian dari kehidupan bangsa ada di dalamnya. Jika kelangsungannya diputus di laut, maka akan berdampak pada kekacauan di darat.[31]

Kepentingan setiap negara terhadap keamanan jalur perdagangan berbeda-beda. Amerika sebagai super powers memiliki kepentingan vital terhadap kebebasan bernavigasi di seluruh jalur perdagangan internasional, baik untuk menjamin kepentingan dalam negeri, maupun kepentingan negara-negara aliansinya. Sedangkan China yang ekonominya tumbuh dengan pesat, menunjukkan ketertarikan yang lebih besar dalam mengamankan jalur kehidupannya di laut dibandingkan 40 tahun yang lalu. Terlihat dari kebijakan dan sikap China di lapangan yang meningkatkan kehadiran angkatan lautnya di sejumlah titik jalur strategis untuk menjamin kapal niaga dan perangnya dapat bergerak melintasi laut tanpa adanya gangguan atau perlawanan. Untuk memastikan kebebasan akses tersebut, China berupaya ‘mengamankan’ empat gerbang utama sebelum memasuki daratannya; Samudera Hindia, Malaka, Alur Laut Kepulauan Indonesia, dan Laut China Selatan.

Kemudian ada pula India yang memiliki kepentingan besar dalam mengendalikan Samudera Hindia. India telah lama menganggap Samudera Hindia sebagai halaman depannya. Siapapun yang mendominasi Samudera Hindia dengan demikian menguasai akses perdagangan India. Seiring dengan perekonomiannya yang terus tumbuh, India tercatat sebagai konsumen minyak mentah terbesar keempat di dunia pada tahun 2013, dan negara pengimpornya umumnya berlokasi di Timur Tengah.[32] Hal ini membuat pengendalian terhadap Samudera Hindia semakin vital karena mementukan ekonomi, dan dengan begitu, keamanan nasional India. Lalu, bagaimana dengan Indonesia?

Indonesia terletak di tengah perlintasan perdagangan dunia dan center of gravity.Saat ini ketiga Alur Laut Kepulauan Indonesia telah dipadati dengan kepentingan, militer maupun ekonomi, selain kepentingan nasional Indonesia sendiri. Kepentingan pihak luar di perairan Indonesia akan semakin tebal jika dalam beberapa waktu mendatang kapal-kapal Malaccamax semakin banyak digunakan. Meskipun Selat Sunda – yang saat ini pun telah padat – mungkin kurang dijadikan alternative bagi perlintasan kapal-kapal raksasa tersebut, namun Selat Lombok dipastikan akan menjadi rute penting bagi perekonomian dunia.Ini perlu menjadi perhatian Indonesia oleh karena bukan tidak mungkin jika kepentingan pihak luar terhadap perairan Indonesia berpengaruh bagi kelancaran life line nasional.



[1] Kaplan, Robert (2010) Monsoon: The Indian Ocean and The Future of American Power, New York: Random House.

[2]Tangredi, Sam. (2002), Globalization and Maritime Power,  Washington: National Defense University Press.

[3]Till, Geoffrey. (2009), Seapower: A Guide for the Twenty-First Century, 2nd ed., New York: Routledge.

[4]Mahan, Capt. Alfred, T. (1900) The Problem of Asia: and Its Effect Upon International Policies, Boston: Little, Brown, and Company.

[5]Ibid.

[6]ICS/ISF (2010) Shipping, World Trade, and The Reduction of CO2, online video, 22 November, tersedia di: https:// www.youtube.com/watch?v=HXQspkm4oCc (diakses 5 Juni 2015)

[7]Ibid.

[8]Mediterranean Shipping Company, Introducing The MSC Oscar, tersedia di: https://www.msc.com/getattachment/ fef76cbe-2589-4c26-a4db-0d41b72058ba (diakses 1 Juni 2015)

[9]ICS/ISF (2009) International Shipping Lifeblood of World Trade, online video, 25 September, tersedia di: https:// www. youtube.com/watch?v=x_G_kfcR_QQ (diakses pada 5 Juni 2015)

[10] Millman, Gregory, J. (2015) Bigger Container Ships Pose Bigger Risks, The Wall Street Journal, Februari 8, tersedia di: www.wsj.com/articles/bigger-container-ships-pose-bigger-risks-1423443013 (diakses 20 Juni 2015)

[11]World Bank Group (2015) World Development Report 2016: Internet for Development, Februari, tersedia di: http://www.worldbank.org/content/dam/Worldbank/Publications/WDR/WDR%202016/WDR2016_overview_presentation.pdf (diakses: 25 Mei 2015)

[12]The United Nations Environment Programme World Conservation Monitoring Centre(2009) Submarine Cables and The Oceans: Connecting The World, tersedia di: https://www.iscpc.org/documents/?id=132 (diakses: 7 Juni 2015).

[13] Sechrist, Michael. (2010), Cyberspace in Deep Water: Protecting Undersea Communications Cables By Creating an International Public-Private Partnership, Maret 23, tersedia di: http://belfercenter.ksg.harvard.edu/files/PAE_ final_draft_-_043010.pdf  (diakses pada: 8 Juni 2015).

[14] Burnett, Capt. Douglas. (2011) Cable Vision, Proceedings Magazine, Vol. 137/8/1.

[15]Food Agriculture Organization(2009) How to Feed The World in 2050, Oktober 12, tersedia di: http://www.fao. org/fileadmin/templates/wsfs/docs/expert_paper/How_to_Feed_the_World_in_2050.pdf (diakses: 11 Juni 2015)

[16]Ibid., Baylis, John.., Smith, Steve., Owens, Patricia. (2008) The Globalization of World Politics, New York: Oxford University Press Inc.

[17]Thomas, Caroline. dalam Baylis, John.et al., (2008)

[18]Moskowitz, Peter. (2014) U.N.: Record-high Global Demand for Fish Threatens Oceans, Aljazeera America, Mei 19, tersedia di: http://america.aljazeera.com/articles/2014/5/19/aquaculture-fishingreport.html (diakses 20 Juni 2015).

[19]Kinver, Mark (2011) Global Fish Consumption Hits Record High, BBC, Februari 1, tersedia di: http://www.bbc.com/news/ science-environment-12334859 (diakses 19 Juni 2015).

[20]FAO (2013) Fact Box: The World’s Most Traded Fish, tersedia di: http://www.fao.org/news/story/en/item/ 214442/icode/ (diakses 20 Juni 2015)

[21]FAO (2014) The State of World Fisheries and Aquaculture,  tersedia di: http://www.fao.org/3/a-i3720e.pdf (diakses pada 20 Juni 2015)

[22]Moskowitz, Peter. (2014)

[23]Widhiarto, Hasyim (2014), Jokowi Declares War on Illegal Fishing, The Jakarta Post, November 18, tersedia di: http://www.thejakartapost.com/news/2014/11/18/jokowi-declares-war-illegal-fishing.html (diakses 20 Juni 2015)

[24]Otto, Ben (2014) President Jokowi Orders ‘Shock Therapy’ For Illegal Fishing Boats, The Wall Street Journal, Desember 9, tersedia di: http://blogs.wsj.com/indonesiarealtime/2014/12/09/president-jokowi-orders-shock-therapy-for-illegal-fishing-boats/ (diakses 20 Juni 2015).

[25] INDEX/SATAL (2010)Four Good Reasons to Explore Indonesia’s Deep Sea, tersedia di: http://oceanexplorer. noaa.gov/okeanos/explorations/10index/background/info/media/10index_edu_fact_sheet.pdf (diakses 13 Juni 2015).

[26]WWF, Coral Triangle Facts, tersedia di: http://wwf.panda.org/what_we_do/where_we_work/coraltriangle/ coraltrianglefacts/ (diakses 20 Juni 2015)

[27]World Bank (2013) Developing World’s Share Global Investment Says New World Bank Report, Mei 16, tersedia di:

[28] Ernst & Young (2013) Hitting The Sweet Spot: The Growth of the Middle Classin Emerging Markets, tersedia di: http://www.ey.com/Publication/vwLUAssets/Hitting_the_sweet_spot/$FILE/Hitting_the_sweet_spot.pdf (diakses 18 Juni 2015)

[29] McKinsey Global Institute (2012) The Archipelago Economy: Unleashing Indonesia’s Potential, September, tersedia di: http://www.mckinsey.com/mgi (diakses 18 Juni 2015)

[30] World Ocean Review (2014) Marine Resources – Opportunities and Risks, tersedia di: http://worldoceanreview.com/wp-content/downloads/wor3/WOR3_english.pdf (diakses 18 Juni 2015)

[31] Corbett, Julian, S. (1911) Some Principles of Maritime Strategy, London: Longmans, Greens And Co.

[32] U.S. Energy Information Administration (2014) India is Increasingly Dependent on Imported Fossil Fuels as Demand Continues to Rise, Agustus 14, Tersedia di: www.eia.gov/todayinenergy/detail.cfm?id=17551 (diakses 21 Juni 2015).

0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Scroll to top
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x
Share via
Copy link
Powered by Social Snap