Penangkalan (Strategi) atau penggetaran?

Penangkalan (Strategi) atau penggetaran  ?

Deterrence requires a combination of power (national power), the will to use it, and the assesment of these by the potential aggressor. Moreover, deterrence is the product of those factors and not the sum. If any one of them is zero, deterrence fails[1].

                                             Kissinger, Henry, dikutip dari “Nuclear Weapons and Foreign Policy

Oleh Budiman Djoko Said

Pendahuluan

Mendengar atau membaca “penangkalan” (penggetaran?,pen) terkesan sebagai suatu pekerjaan yang sederhana dan mudah sekali dilakukan, benarkah itu ? Cukupkah berbekal alut sista modern atau baru; sangat (optimistik?) diyakini memperoleh dampak (outcomes) penangkalan, dan bisakah setiap orang menyatakan hal ini?  Apa klasifikasi penangkalan dan seperti apa dampaknya serta kepada siapa dialamatkan ? Humor tentang penangkalan periksa ilustrasi # 1 dibawah ini.

 

x

 

 

 

 

 

Referensi : Deterrence Cartoon Images, mesin pencari Google tanggal 12 Juni 2014, jam 15.35.  Perhatikan yang menembakkan pistolnya justru si “penangkal” (yang merasa terancam…duluan?) yang mengancam aktor sasaran dengan menggunakan senjatanya.

Apakah ekspektasi penangkalan hanyalah sekedar “dampak”[2]-nya saja—sebanding bila sukses atau terlalu mahal bila gagal [3] ? Hanya dengan isyarat pembelian alut sista, benarkah negara “x”,”y”,”z”, akan merasakan dampaknya dan bereaksi (bisa saja) dalam suatu opsi mulai ajakan damai, menantang kalau kemampuan[4] (capability) kekuatan  militer yang dimilikinya diyakini unggul atau “cost-effectiveness”nya lebih besar yang akan didapat? Benarkah mythos penangkalan hanya properti militer saja[5]? Bisakah instrumen kekuatan nasional lainnya diperankan juga sebagai alternatif perangkat penangkalan gabungan yang disebut kekuatan “lunak”? Kalau itu semua benar lantas siapa “controller” yang sanggup (able) mengemas dalam agenda yang masif, terorkestra dan sangat effektif dalam aksi gabungan yang disebut strategi keamanan nasional melalui FDO[6]? Apa sebenarnya yang dikejar (pursue) pemerintah yang bergiat dengan penangkalan[7]itu? Dikaitkan dengan konsekuensi kegiatan akuisisi sista yakni biaya[8]yang dikeluarkan akan menjadi tidak jelas, ketika tidak bisa menjawab apa obyektifnya. Bila negara komit melakukan penangkalan (deterrer)[9], maka semua instrumen kekuatan nasional harus siap dengan konsekuensi biaya (cost of war) menghadapi benturan lebih lanjut apabila terjadi ekskalasi krisis, konflik bahkan mendekat jurang peperangan. Sentra isu penangkalan[10] adalah “kecemasan menghadapi” atau “menjauh dari sesuatu yang menakutkan”. Kalau ide penangkalan adalah “kecemasan”, pernyataan siapapun tentang “dampak” penangkalan sama saja mengisyaratkan bahwa negaranya terancam dan balik mengancam  si”pengancam”. Isyarat kecemasan tanpa pernyataan “cemas” dapat dicontohkan oleh Korut (Korea Utara beberapa waktu lalu) , dengan percobaan sista rudal jarak jauhnya—sebagai demo persiapan sista nuklir?

Mengapa Korut ingin memperoleh sista nuklirnya? Karena merasa terancam AS (plus Jepang,Korsel) atau bisa jadi mereka menyadari beberapa obyektif politik dan ekonomi (obyektif kepentingan nasional) mereka terganggu dan mengimbangi dengan demo kekuatan nuklirnya[11]? Penangkalan sebagai aksi di-dunia nyata berada dalam ruang strategi raya dan ruang keputusan nasional dan sebagai strategi nasional sepatutnya dipahami benar-benar oleh seluruh elit nasional baik sipil maupun militer.

 

Anatomi penangkalan

Sejarah penangkalan telah lama melibatkan instrumen kekuatan militer dan diplomatik. Penangkalan dilaksanakan dengan mencoba meyakinkan lawan bahwa serangan yang dibangun olehnya akan sia-sia belaka. Contoh China dengan tembok raksasanya[12], Tembok Roma di Inggris, dan konsep keseimbangan kekuatan dan kebijakan supremasi Maritim Inggris, contoh seperti ini dan mungkin lainnya yang serupa—bukti bahwa defensif adalah memelihara status-quo. Tembok raksasa China tidak pernah menyerang siapapun, juga kekuatan maritim Inggris tetap memegang teguh karakter defensifnya bahkan dalam perang dunia-I[13]—mereka membuktikan penangkalan telah berhasil dilakukan. Penangkalan sekarang lebih memiliki fitur yang terbarukan, khususnya kebutuhan melakukan penangkalan dan terpenting (necessary condition) tidak boleh gagal sama sekali (serangan Jepang ke-Pearl Harbor adalah penangkalan yang gagal). Karena itu penangkalan harus tetap effektif meskipun tidak ada peluang membuktikan mujarabnya dalam praktek[14]. Penangkalan yang lebih luas adalah memanipulasi dugaan lawan dengan konsep “keuntungan-biaya”, plus mengurangi prospek keuntungan dan atau menaikkan prospek biaya. Cara ini diharapkan dapat meyakinkan “lawan” untuk menunda melakukan ancaman. Definisi yang cukup “keras” ini dapat didefinisikan lebih lembut, yakni penangkalan adalah derivasi kecemasan atau ketakutan.

Karakteristik[15] kecemasan adalah penting, khususnya penangkalan dengan sista nuklir. Betapa cemasnya manusia dengan hadirnya senjata nuklir baik di Eropah, Asia dan AS sendiri. Penangkalan terdiri dari dua (2) komponen dasar, pertama; intensi yang diekspresikan guna mempertahankan kepentingan tertentu. Kedua, demo kapabilitas yang digunakan untuk mempertahankan kepentingan (?) atau mengintimidasi penyerang bahwa biaya yang digunakan nanti serta harapan yang didapat[16] menjadi sesuatu yang tidak berharga sama sekali (karena gagal).

Penangkalan termasuk keluarga pemaksaan[17] (coerce), dan pemaksaan ini masuk dalam keluarga besar kebijakan keamanan (security policy). Kebijakan[18] yang dibangun agar kepentingan nasional sebagai komoditi nasional yang dipromosikan keluar tidak dihambat oleh aktor/non-aktor lainnya dengan cara mempengaruhinya, periksa figur # 1 dibawah ini. Anehnya kebijakan penangkalan dengan sentra “kecemasan” dan kebutuhan jaminan “kredibilitas”,[19] justru menimbulkan dilema sekuriti. Misal, negara A membangun kapabilitas untuk menangkal ancaman kekuatan negara B[20], secara tidak langsung justru merangsang negara B memperkuat kapabilitasnya (dengan fikiran yang sama). Aksi-reaksi ini menciptakan model spiral yang berputar terus menerus[21]—menciptakan rasa aman dengan menciptakan rasa tidak aman negara lain—dilema sekuriti.

x

 

 

 

 

 

 

 

 

Referensi: Ibid, halaman 9. Perhatikan ada tiga (3) komponen kebijakan , yakni Persuasi, Defeat, dan Coerce (blok coerce dgn 2 blok turunannya, yakni deter dan compel) yang bisa dilakukan (opsi) untuk mempengaruhi aktor/non-aktor lainnya sebagai kandidat “lawan” (dalam blok-blok yang ada tersebut menyebut sasarannya selalu “adversary”) dan semuanya bernuansa menekan aktor atau non aktor lainnya dan semuanya banyak diperankan oleh kekuatan militer. Perhatikan blok “Defeat” adalah aksi tanpa syarat (sangat keras dgn penggunaan kekuatan militer penuh ~ pure force). Perhatikan induk dari penangkalan yakni pemaksaan (coerce~coercion) artinya—membuat “lawan” merubah CB (cara bertindak) yang ada…kegiatan dalam semua blok tersebut pasti memerlukan profesionalisme intelijen yang kuat utamanya Humint (human intelligents)—kalau tidak bagaimana mereka bisa memonitor reaksi aktor sasaran.

Strategi  penangkalan bisa dilakukan bersama semua  instrumen nasional (dalam liputan Strategi KamNas)—namun siapa “controller”nya—WanKamNas. Literatur lainnya menyebutkan bahwa penangkalan dibagi menjadi dua (2) bagian[22] yakni deter by punishment dan deter by denial. Dua karakter penangkalan[23] yang masih diperdebatkan hingga sekarang yakni [1] menghukum (by punishment)—ancaman untuk membebankan “biaya” sangat besar kepada aktor sasaran (deterree), seperti kehancuran properti bernilai tinggi dan strategik sebagai hukuman atas tindakannya.[2] Menolak (by denial) dengan ancaman untuk menghambat kesanggupan lawan (ability) mengejar obyektif politik maupun militer mereka (bagian dari kepentingan nasional) terhadap aktor sasaran mereka dengan suatu agresi. Inti perdebatan sebenarnya adalah upaya menghapus konvensionalisasi menjadi nuklirisasi yang akan dibenarkan dalam penangkalan[24]. Keseluruhan, penangkalan dengan menolak[25]memiliki keunggulan dan suatu strategi yang lebih handal (reliable) dibandingkan saudaranya (by punishment) di-dalam konteks yang lebih konvensional—bila penangkalan konvensional gagal dan terjadi konflik, postur kekuatan yang dirancang untuk berperan dalam “penangkalan menolak” mudah ditransform menjadi kapabilitas untuk melibatkan dirinya dalam konflik, kontrol eskalasi, dan memenangkan perang[26].

Penggunaan kekuatan militer khususnya sebagai motor komponen dalam keluarga kebijakan keamanan perlu dipahami mengingat komponen keluarga ini banyak berperan, baik individu maupun bersama instrumen lain. Misal dalam isu kebijakan luar negeri, sanksi ekonomi dan perdagangan. Pemaksaan adalah penggunaan kekuatan ‘tuk  mengancam, bisa  saja terbatas namun kapabel menunjang ancaman ini guna membujuk/mempengaruhi kandidat “lawan” agar berfikir untuk tidak berbuat yang tidak semestinya. Dalam figur # 1, ditunjukkan bahwa pemaksaan memiliki dua (2) sempalan kegiatan, yakni persuasi (persuasion) dan kekuatan murni (pure force). Cara persuasi lebih lembut, tidak dengan memaksa dibandingkan pemaksaan; namun lebih baik memperlakukan kepentingan “lawan” dengan cara merubah perlahan-perlahan sistem nilai atau kepercayaan[27].

Sesungguhnya banyak kegiatan militer lainnya relatif bersifat persuasif terhadap aktor lain dan cenderung memperuncing lingkungan strategik, namun effek ini biasanya timbul gradual, pelan, dan hanya memberikan sedikit sumbangan peran strategiknya dihubungkan dengan krisis atau konflik. Bagaimanapun juga, pemikir strategik militer tidak boleh mengabaikan hal ini[28], bisa saja faktor ini justru memberikan sumbangan besar terhadap krisis mendatang yang pertama kali terjadi. Aksi tanpa syarat ini[29]— penggunaan kekuatan murni (pure force) atau kekalahan fisik (defeat/kalahkan atau physical defeat) dalam ruang militer terasa lebih langsung dibandingkan pemaksaan dan langsung mengarahkan aktor sasaran agar memilih CB  yang dikehendaki penangkal.

 

Klasifikasi penangkalan

Penangkalan berbentuk peperangan non konvensional bukan fenomena baru. Kisah  perang gerilya, mulai dari Fabians dan Spaniard yang menghantam Hannibal, kemudian Napoleon dengan perang kolonial, sampai ke perang Vietnam, Irak dan akhir-akhir ini di Afghanistan. Konflik di-Irak & Afghanistan menunjukkan kesulitan[30]bisa diderita siapa saja pemilik kekuatan dominan menghadapi kekuatan antagonis (kekuatan kecil), contoh Russia versus Chechnya. Pemikir strategik sepakat, bahwa gerilya merupakan senjata milik kelompok yang tidak diperhitungkan karena sangat-sangat terpaksa saja, demikian juga kata Mao. Kekalahan adalah produk tetap bagi kekuatan penduduk asli yang berjuang melawan kekuatan yang lebih besar.

Perang Vietnam lebih tepat disebut perang gerilya intensitas rendah. Perang gerilya tetap bisa diterima bagi mereka yang ingin memberontak sebagai sesuatu yang harus dilakukan, namun perlu dicatat bahwa ini bukan pilihan dan bukan juga doktrin bagi negara yang lemah sekalipun[31]. Kisah pertarungan semacam itu terus berkembang, menjadi perang terbatas, bahkan sekarang dikenal dengan peperangan generasi ke 4 bahkan ke 5. Perang kelompok lemah melawan yang kuat atau peperangan asimetrik, atau peperangan antara yang cemas versus kelompok yang percaya diri. Kecemasan akan diserang membuat mereka melakukan kegiatan penangkalan. Kekurangan dalam analisis penangkalan yang dirasakan adalah lemahnya faktor suksesnya penangkalan dan tidak memungkinkan digunakan sebagai bukti. Aktor yang ditangkal hampir pasti menyangkal atau tidak mengakui bahwa mereka ditangkal dengan suatu kegiatan tertentu. Penangkalan ada dibenak aktor yang ditangkal—intensi. Strategi penangkalan [32]sendiri sekurang-kurangnya diawal aksinya lebih banyak memainkan instrumen diplomatik/politik luar negeri dan militer, terutama Angkatan Laut yang jauh lebih ditonjolkan mengingat sifatnya. Indikator sukses[33] penangkalan adalah tidak hadirnya respons atau aksi aktor sasaran. Karena penangkalan melibatkan intensi maka kasus universal yang relevan tidak dapat di-identifikasi[34]. Semakin sukses penangkalan, semakin sedikit penggalan teka-teki masalah yang bisa ditinggalkan untuk pembelajaran. Perlu dipahami [35]dalam kajian penangkalan perlu pelibatan parameter, pertama, apa yang ditangkal, kedua, siapa penangkalnya (deterrer), dan ketiga siapa yang ditangkal (deteree)[36], terakhir bagaimana mekanisme penangkalannya. Studi penangkalan yang lebih jelas dan lengkap adalah di-era perlombaan senjata nuklir.

Umumnya penangkalan dapat diklasifikasikan sebagai “umum”, “segera”, “langsung” dan “diperluas”. Effek penangkalan bisa saja di desain untuk berlangsung lama, misal menyimpan arsenal sista yang perbandingannya sungguh luar biasa dibandingkan negara tetangganya, atau negara sasaran atau negara yang akan dipengaruhi atau dianggap berseteru (adversary) dengannya. Penangkalan kontemporer sebagian besar berklasifikasi penangkalan “umum” (general). Bahkan Inggris tetap berlindung dibawah  penangkalan “umum” dalam rangka mengurangi tekanan klim Argentina tentang kep Falklands, dan (sepertinya) tidak perlu melakukan proses penangkalan “segera[37] (immediate). Penangkalan “segera” di nilai effektif guna menghadapi aksi spesifik versus kekuatan khusus di lokasi yang spesifik  pada waktu disktrit, dengan cara konkrit, tidak abstrak, merupakan pertaruhan dan ditandai kesiapan pelibatan senjata. Meskipun Inggris tidak melakukan penangkalan “segera” relatif di posisi, waktu dan negara tertentu, namun Argentina sepertinya hanyut dalam isyarat bahwa tidak akan ada aksi kekuatan militer untuk melindungi Falklands. Arti penangkalan “langsung[38] (direct) adalah usaha meniadakan (langsung) aksi yang “tidak ramah” (hostile) terhadap dirinya dengan menyerang kekuatan yang dideploikan diluar (expeditionary) atau suatu wilayah diluar tempat tinggalnya. Penangkalan dapat “diperluas” (extended) dengan menyerahkan aksi penangkalan kepada aktor sahabat atau aliansi oleh aktor penjamin yang melindungi sahabat atau aliansi. Ancaman untuk membalas atau menyerang kembali agresor yang menyerang salah satu sahabat atau anggota aliansi masih bisa diliput dalam penangkalan “diperluas”, dan tipikal penangkalan ini jauh lebih rumit mengukur effeknya dibandingkan penangkalan “langsung[39].

 

Elemen penangkalan

 

12 tahun lamanya, AS, Sekutu bergulat dengan Soviet dan sahabatnya dengan ekspansi kekuatan senjatanya. Penangkalan (tradisional) waktu itu terdefinisi sebagai  keamanan kolektif, pembendungan (containments), serangan balas masif—slogan hangat di era perang dingin[40]. Definisi itu telah terkubur jauh digantikan dengan panakea bernama penangkalan dan telah bergeser dari tujuan membendung Komunis menjadi membendung kekuatan yang berpeluang membahayakan kelangsungan hidup bangsa (survival)—menghambat tercapainya obyektif kepentingan nasional. Pemilihan kata penangkalan inipun masih tumpang tindih artinya dengan disuasi (dissuasion) waktu itu[41](periksa juga blok disuasi dalam fig #1). Teori penangkalan kontemporer dapat dibedah dalam empat (4) bagian,yakni  kapabilitas, rasionalitas, komunikasi, dan kredibilitas [42]. Teori ini kontras dengan strategi penangkalan. Teori biasanya tertanam dalam suatu asumsi dan logika, sedang strategi lebih pada operasional dan aplikasi penangkalan. Obyek penangkalan adalah apa yang difikirkan aktor yang ditangkal (deteree). Karena itu timbul kesulitan dengan fakta yang didapat ketika aktor yang disasarkan telah memiliki akses—sesuaikah dengan realitas, atau masih belum cukup atau masih belum benar (teliti) ?—dan bagaimana persepsi tentang informasi yang diperolehnya?—samakah  dengan persepsi aktor penangkal [43](deterrer) ? Bagian pertama membahas kapabilitas—tanpa demonstrasi kapabilitas fisik maupun abstrak yang diisyaratkan dalam aksi kontijensinya oleh aktor penangkal—penangkalan tidak berarti sama sekali.

Sampai batas tertentu sasaran yang ditangkal merasakan atau menderita tekanan kapabilitas aktor penangkal dengan kualitas yang diunggulkan , jumlah kekuatan yang besar, susunan tempur (OOB/order of battle) yang terlatih, daya juang yang besar, sangat bernilai guna—derajad dan ukuran penangkalan yang benar-benar handal . Karena itu haruslah diingat bahwa fihak lain dengan inventori fakta-fakta dan persepsinya bisa saja diragukan kesanggupannya mempersepsikan fihak yang berseberangan dengannya. Kedua,[44] menekankan pentingnya rasionalitas hubungan dengan fihak yang berseberangan, artinya aktor sasaran harus memiliki “nilai” hirarkhis yang dicari untuk mencapai kepuasan perilaku bangsa negara (interest atau kepentingan?) dan diyakini akan menunjang pencapaian tujuan nasionalnya.

Hirarkhis sistem nilai ini mengelola rasionalitasnya dengan memilih berbagai alternatif cara bertindak (CB). Dihadapkan dengan keputusan ini, aktor sasaran akan memilih konsisten dengan prioritasnya. Aktor yang rasional adalah yang setia, fanatik dengan sistem nilai dan proses logiknya, bukan (mengikuti) prospek aktor penangkal[45]. Fihak lawan bisa saja rasional mengikuti terminologi, tetapi secara radikal bisa berbeda sistem nilai dan perspektifnya. Seringkali faktor politik domestik sangat mempengaruhi pengambilan keputusan (policy) luar negeri, menyebabkan elit nasional aktor sasaran mengambil keputusan yang tidak komprehensif bagi orang luar. Apa yang kelihatan sewenang-wenang (tidak sesuai aturan,pen), aneh, atau bahkan kelihatan menjijikan sebagai bagian rasionalisasi aktor yang disasarkan, tetap termasuk keputusan yang rasional. Preferensi partai domestik negara aktor tersebut boleh jadi tidak peka sama sekali, atau tidak dapat dibayangkan sama sekali bagi aktor lain, namun tetap saja tidak membuat keputusan mereka menjadi tidak rasional[46]. Apresiasi perbedaan sistem nilai adalah fundamental untuk memahami mekanisme penangkalan. Prospek aktor sasaran disebut irasional, apabila tidak mengejar tercapainya opsi perilaku yang mendukung hirarkhis sistem nilai yang ada didalamnya. Aktor seperti inipun akan dicap irasional apabila tidak memilih alternatif CB dari sistem nilai yang tertinggi sampai terbawah.

Dalam hal keputusan, aktor yang disasarkan harus “cerdik” memilih hirarkhis sistem nilai mana dengan pertimbangan risiko yang akan diperoleh[47]. Isu rasionalitas boleh jadi menjadi salah satu elemen dalam teori penangkalan yang menekankan betapa kompleks dan rumitnya kecenderungan isu penangkalan. Studi sejarah tentang penangkalan selama ini mencermati bahwa banyak pemimpin politik kurang memahami dan salah perhitungan tentang sistem nilai yang dianut fihak yang berseberangan, bahkan ketika mereka mencoba memilah opsi fihak yang berseberangan, dikarenakan kurang paham pentingnya komunikasi, akibatnya komunikasi yang terkirim tidak mendapatkan manfaat yang sebesar-besarnya. Ketiga, komunikasi, merupakan elemen penting dalam teori penangkalan[48].

Suatu isyarat atau peringatan yang disajikan dengan tidak jelas (unarticulated) sangatlah tidak relevan. Pesan terkirim dan tidak diterima (tidak dimengerti,pen) menjadi suatu yang tidak berguna. Komunikasi bukan sekedar melibatkan kejelasan dan keandalan transmisi, tetapi menjamin interpretasi berita yang terkirim sesuai dengan intensi pengirim. Sayangnya tidak semua elit pengambil keputusan bisa memahami hal ini. Contoh ancaman melalui komunikasi, dilakukan Jendral Ratko Mladic, Komandan Angkatan Darat Serbia, sewaktu memperingatkan fihak Barat untuk tidak ikut campur dalam urusan Bosnia – Herzegovina, ujarnya; ”Bila mereka mem-bom kita, saya akan membom London”. Selanjutnya dikatakan, “Ada penduduk Serbia di London, begitu juga di Washington” dan setiap personil pasukan darat Barat yang mengintervensi akan meninggalkan “tulang belakangnya” di Bosnia[49]. Begitu jelas dan begitu kuat pesan maupun pencitraan untuk membantu meyakinkan fihak Barat agar mereka bisa menerima pesannya. Terakhir, elemen kredibilitas—kredibilitas benar-benar bergantung pada ekspektasi aktor sasaran. Aktor yang menjadi sasaran harus mempercayai ancaman yang diciptakan aktor penangkal, syaratnya aktor penangkal harus pandai berkomunikasi (strategik)[50].

Contoh: agresor potensial didunia ketiga [51] boleh jadi tidak akan memperoleh ancaman AS yang kredibel sebagai respon agresinya dengan serangan balistik nuklir[52]. AS telah menyatakan tegas dalam Strategi Keamanan Nasional tahun 2002, apabila AS diserang dengan senjata pemusnah massal, strategi penangkalan barangkali tidak akan berlaku, nalarnya AS akan meninggalkan strategi ini atau mengadop konsep strategi lain[53].

 

Penangkalan … aphorisme atau kontemporer ?

Ungkapan atau pernyataan berikut bukan aphorisma dan bukan hal baru[54], namun bisa digunakan, minimal sebagai pendekatan guna menstimulasi diskusi atau bahasan penangkalan kontemporer. Pertama, peperangan sebagai penerapan penangkalan akan bergantung kepercayaan lawan potensial…begitu dia memulai perang akan muncul serangan-balas yang dahsyat dan hasil yang diperoleh akan sangat merugikan dibandingkan dengan hasil yang didapat tanpa perang. Kedua, menyelesaikan peningkatan penangkalan, sangatlah dipentingkan dengan cara meningkatkan keyakinan fihak yang berseberangan bahwa [1] jalan damai lebih meningkatkan penghargaan dan [2] memilih sebagai agresor akan menjadi bencana sekaligus penalti yang  menyakitkan. Ketiga, alternatif yang menekankan pada prospek perdamaian, harus jelas dibedakan dengan peredaan ketegangan yang memberikan hanya sedikit jaminan, khususnya bagi penangkalan yang berlangsung lama[55]. Peredaan ketegangan melibatkan kepuasan  tanpa imbalan positif sebagai bagian pereda ketegangan, sebagai tebusan alaminya  memperoleh yang terbaik yakni effek penundaan. Kebijakan penangkalan yang  dilanjutkan dalam bentuk perdamaian, dilakukan kooperasi oleh kedua belah dengan tawaran saling menguntungkan. Keempat, kemajuan sista nuklir memiliki dua (2) effek; (meski masih diperdebatkan) seberapa jauh terjadi pergeseran alternatif dengan mencermati effeknya apabila diduga penangkalan masih berlangsung lama, yang [1] meningkatnya aspek bencana/kerusakan apabila terjadi perang habis-habisan dan [2] berpeluang besar menurunkan peluang terjadinya perang habis-habisan apabila terjadi tangkal menangkal kedua belah fihak[56].

Kelima, saling menangkal oleh dua (2) belah fihak kekuatan nuklir negara adidaya  mendorong terjadinya perang lainnya (peripheral), namun tidak perlu di-cemaskan bahwa perang kecil semacam itu tidak cukup effektif  berkembang tidak terkontrol sehingga terjadi perang besar-besaran. Keenam, penangkalan bagi munculnya perang lain-lain, dijadikan masalah yang terpisah namun tetap diberikan perhatian yang terpisah. Fakta ini tetap menjadi masalah, yang lebih penting semenjak penangkalan terpusat mulai lebih ditata dan dikontrol dengan ketat,  mengingat akan  tetap ada kecemasan bahwa perang kecil lainnya dengan tidak sengaja bisa saja meningkat gradual menjadi perang habis-habisan[57].

Ketujuh, untuk perang lainnya, kebijakan yang dilakukan bisa saja bergerak menuju salah satu dari dua (2) ekstrim—[1] melakukan peran tersembunyi dengan kerelaan melakukan intervensi kedalam mandala perang lainnya—atau [2] mengancam dengan serang-balas terpusat. Tetapi kedua ekstrim itu tidak “pas” juga dengan kebijakan penangkalan. Nyata – nyata peristiwa [1] (misal : Hitler menyerbu ke Eropah barat dan invasi China dan Korut ke Korsel sebagai contoh jelas) dan [2] lebih banyak diletakkan sebagai “gertak sambal”, semenjak perang lainnya[58] jarang bisa dilibatkan dengan isu kepentingan nasional “survival” untuk dijadikan alasan cukup merespons awal  dengan peperangan habis-habisan serta implikasinya yang mengerikan itu. Kedelapan, untuk peperangan lainnya harus percaya pada eskpresi kerelaan dan kapabilitas yang didemonstrasikan dari intervensi segera dari peperangan lainnya dalam kasus agresi, berhati-hatilah untuk menghindari keterlibatan dengan peperangan besar tetapi dengan cara lain biarkan lawan menduga bentuk tepat respon militer apa yang dihadapi bila dia melakukan agresinya[59]. Kesembilan, keyakinan lawan, bahwa penangkalan terbagi dua (2) bagian, yakni [1] kepercayaan bahwa penangkal memiliki kapabilitas melaksanakan serangan-balas yang dahsyat, dan [2] penangkal boleh jadi memiliki intensi untuk melakukan itu. Kesepuluh, penangkalan adalah masalah kepercayaan maupun fakta, karena itu tidaklah logik dan penting bahwa penangkalan didasarkan semata-mata kepada kapabilitas dan intensi aktual.

Kesebelas, kapabilitas aktual lebih mudah diakses[60] intelijen lawan dibandingkan intensi aktual…dan yang terdahulu lebih stabil dibandingkan yang belakangan — mudah berubah setiap malam. Keduabelas, aparat intelijen lawan tidak bisa diharapkan amat sangat dibohongi tentang kapabilitas aktual penangkal. Berpura-pura hanya memberikan effek tipis yakni sedikit meningkatkan atau menurunkan dugaan lawan tentang kapabilitas penangkal[61]. Ketigabelas, berpura-pura tentang intensi AS (misal dengan manuvra diplomatik atau kebocoran berita) lebih menjanjikan disisi lain, dan pertimbangan masak-masak perlu diberikan kepada implikasi strategik dari kemungkinan ini[62]. Keempatbelas, lawan yang dihadapkan dengan kemungkinan perang, akan tetap menimbang peluangnya untuk menang dengan menyerang dibandingkan bila diserang. Penangkalan[63] dalam kasus ini menjadi ineffektif apabila lawan berkesimpulan bahwa serangan–balas meskipun masif, tetap akan memberikan peluang kemenangan baginya, sementara itu dia tidak akan memiliki apa-apa apabila diserang duluan. Karena itu berseberangan [64]dengan penangkalan yang dapat diperoleh dengan demonstrasi kapabilitas agresif tinggi, dan pada saat yang sama sepertinya rentan terhadap serangan pertama.

Kelimabelas, sebaliknya penangkalan akan memperoleh skor tertinggi apabila lawan dapat diyakinkan bahwa dia akan mendapatkan yang terbaik apabila menyerang terakhir. Sementara itu tidaklah mungkin serangan pertama yang pernah dibuat akan merugikan, satu aspek penting dalam kebijakan penangkalan adalah bagaimana meminimalkan (aktual atau berpura-pura) pengurangannya sehinggga kapabilitas seseorang dengan serangan–balas akan dialami sebagai akibat serangan pertama lawan. Olaf Helmer masih menawarkan lebih banyak lagi aphorisme, namun untuk sementara beberapa titik penting diatas sudah bisa digunakan guna membahas topik yang lain[65] .

 

Penangkalan (teori) dari waktu ke waktu

Penangkalan militer bisa dianalogkan sebagai ancaman militer terhadap “lawan”[66]. Apabila negara yang ditangkal menghadapi ancaman militer tidak mengambil tindakan sesuai dugaan negara penangkal, maka penangkalan telah bekerja dengan baik. Bagaimana negara penangkal mengerti bahwa apa yang dilihat merupakan hasil positif penangkalan ? Oleh karena itu diperlukan intelijen manusia (utamanya) dan peralatan lainnya untuk mengkoleksi kenyataan-kenyataan yang muncul dan wajar meskipun tidaklah mencukupi untuk ditampilkan dalam bentuk ukuran effektivitas (MOE) strategi penangkalan. Kontras dengan usaha yang sama, namun sangatlah mudah mengukur apabila gagal—semuanya tahu, bila negara yang ditangkal abai dengan ancaman militer dan tetap meneruskan langkah-langkah yang tidak disukai negara penangkal—gambaran kegagalan[67]. Walaupun konsep ini sulit, rumit serta penuh dengan ketidakpastian, sesudah PD-II, orang Barat menyambut antusias teori ini guna melengkapi teori strategi. Politisi dan ilmuwan disiplin keamanan, dan yang berminat tentang dua (2) penyebab masalah “strategi karet”(strategic gums, sebutan penangkalan waktu itu), yakni pengelabuan (containment) dan penangkalan sebagai dua (2) disiplin yang terus menerus diyakini  selama dua (2) dekade[68]. Berakhirnya perang dingin, definisi “ strategi karet ” sepertinya dipinggirkan dan sama halnya dengan “ penangkalan karet ” mereka masih  enggan untuk mengakuinya.

Penangkalan sebagai teori militer yang utama dan dipelajari di-Barat memiliki beberapa varian atau turunan seperti:penangkalan nuklir, penangkalan konvensional, penangkalan eskalasi, dan penangkalan maksimum atau minimum. Mengapa analis militer Barat[69]sangat menyukai teori penangkalan? Jawabnya lebih ke-realita dibandingkan teorinya. Pertama dan yang terpenting, penangkalan adalah favorit negara besar dan kuat. Oleh karena itu wajar menyebut komponen utama dalam penangkalan adalah kekuatan militer. Biasanya orang berpendapat bahwa hanya negara yang berkekuatan militer besar dan kuat yang bisa menangkal, meskipun sejarah militer berulangkali membuktikan kenyataannya tidaklah sesederhana itu.

Semenjak berakhirnya PD-II , anggota kelompok dunia Barat masih berstatus memiliki keunggulan strategik—sungguh “unggul”, dibandingkan “lawan” bahkan dengan majoritas negara berkembang lainnya. Karena itulah mereka cenderung sanggup menundukkan siapa saja lawannya tanpa berperang—meskipun menang hanya dengan penangkalan[70]. Kedua, lahirnya bom atom dan dampak besarnya terhadap doktrin militer mereka semakin meningkatkan pemahaman penangkalan sebagai pemahaman yang lebih logik. Suka atau tidak, bom atom merupakan label senjata pemusnah nuklir yang dahsyat, dan di-berikan cap sebagai senjata pintar di medan perang. Dua (2) negara besar yakni AS atau Russia semakin terjebak dalam suatu dilema, disatu sisi, telah menonjolkan peran strategik senjata nuklirnya, di sisi lainnya harus membatasi penggunaannya. Seperti diketahui, teori penangkalan menampilkan realitas strategi hubungan internasional tentang kompetisi sista nuklir Russia versus AS sesudah PD-II dan memenuhi permintaan konsep strategi baru untuk menempatkan arsenal sista nuklir diatas keamanan nasional. Akhirnya, penangkalan didesain untuk mencegah “lawan” potensial melancarkan serangan mendahului (pre-emptive) dan pertahanan adalah teori penangkalan yang alami. Apabila suatu negara mengemas strategi militernya dalam kampanye penangkalan dan melancarkan operasi militernya dibawah bendera pertahanan dapat di-kiaskan laksana “menembak  dua (2) burung dengan satu kali tembakan“[71].

Di-era perang dingin konsep penangkalan telah mendorong lahirnya senjata nuklir. Penangkalan telah menempatkan nuklir ditempat teratas. Awalnya AS tidaklah membedakan antara bom nuklir dengan konvensional namun konsep berubah dengan effek yang ditimbulkan dengan jatuhnya bom di Hiroshima & Nagasaki. Beda dengan pernyataan Bernard Brodie ditahun 1946 yang mengatakan ; bahwa tujuan penempatan militer adalah untuk memenangkan perang tanpa menggunakan sista nuklir. Faktanya AS tetap berencana memenangkan perang dengan  sista nuklir masif. Bulan Juli, tahun 1953, saat gencatan senjata perang Korea,  analis strategi berkesempatan mengkritisasi pem AS tentang cara memenangkan perang dengan segudang inventori senjata nuklir yang tidak digunakan secara optimal.

Dijawab dengan konsep strategi militer berbasis nuklir—lahirnya sista nuklir yang siap di lakukan (hanya) dengan serangan balas masif. Dalam kontek ini strategi serangan balas masif disebut strategi penangkalan nuklir[72]. Perkembangan konsep ini tetap tidak menggembirakan para analis tersebut, mengingat kesulitan aplikasinya. Sekelompok analis strategik; di prakarsai Kissinger mencoba melunakkan situasi ini dengan membuat konsep yang relatif tidak jauh dari konsep penangkalan—peperangan terbatas (limited warfare). Definisi tersebut memudahkan diterima sebagai muatan inti strategi militer AS, selain itu teori perkembangan eskalasi oleh pak Herman Kahn membantu menampilkan esensi yang dapat dijadikan alasan guna menaikkan secara gradual tingkat penangkalan[73]. Russia-pun ikut kecewa, sehingga diputuskan untuk maju setapak lebih kedepan dibandingkan rivalnya AS, dengan jumlah arsenal nuklirnya. Tangkal menangkal ini berlangsung hampir satu dekade dengan saling membangun jumlah inventori sista nuklirnya. Krisis Rudal Cuba yang terjadi di-tahun 1962 telah menyadarkan kedua negara adidaya tersebut bahwa penangkalan antar mereka telah memberikan peluang erupsi perang nuklir. Alih-alih saling berlomba sista nuklir, mereka lebih menyadari untuk menghindari berhadapan dan mengatur dirinya dalam satu AP (aturan pelibatan) yang sama—MAD (mutual assured destruction) yang membatasi inventori nuklir.

MAD otomatis menghentikan kedua belah fihak untuk “gatal telunjuk” (trigger-happy) menekan tombol Rudal. Selain sista nuklir, sista konvensional juga ikut terpengaruh dengan AP bersama diatas. Selama perang dingin dunia telah menyaksikan sejumlah konflik regional dan melibatkan kedua negara adidaya tersebut, hebatnya tidak satupun sista yang meletup. Perhatikan fig#2 dibawah, merupakan tabel keterlibatan  dalam konflik regional, serta waktu meletusnya konflik[74] .

Fig # 2 . Keterlibatan negara Adidaya dalam konflik regional

x

Hint: MAD diperhitungkan dengan tetapan angka sebesar 25 – 30 % yang berpeluang menghancurkan  populasi Russia, dan kl 50 % kelumpuhan industri [75]. Besaran angka tersebut diharapkan dapat meredam dengan pasti (assured destruction)  keinginan mereka untuk meluncurkan serangan terdahulu (pre-emptive)  dan berpeluang  melumpuhkan dan membunuh lebih dari tetapan itu .

Kesimpulan

Tidak seorangpun membantah bahwa penangkalan adalah lini pertama pertahanan nasional[76]. Penangkalan perlu dipahami, dan  diandalkan untuk  mencermati apakah negara lain melakukan hal yang sama terhadap kita dalam format strategi keamanan nasional yang terorkestra ? Penangkalan (asal kata “tangkal”) lebih tepat digunakan untuk mempengaruhi keputusan nasional fihak berseberangan, kompetitor, kandidat “lawan” dan memprovokasi agar mengikuti persepsi pihak yang menangkal dibandingkan pemakaian kata menggetarkan (asal kata “getar”). Penangkalan bukan sekedar mengharapkan dampak, apalagi tanpa ukuran dan tanpa berbuat apa-apa—penangkalan menjadi sesuatu yang sangat murah. Alasannya, sungguh benar penangkalan pasti melibatkan keputusan elit nasional, strategi semua instrumen kekuatan nasional yang harmonik, “dirigen” keamanan nasional, waktu serta kesiapan kekuatan militer “stand-by force”, didukung dengan aktivitas intelijen-manusia (humint)…realitanya penangkalan hanya sanggup dilakukan oleh negara besar saja.

Hadirnya penangkalan melibatkan parameter yang ditangkal, penangkal, area penangkalan yang dipertanggungjawabkan (AOR/area of responsibility) dan lain-lainnya—tidak mudah, sehingga perlu badan yang kapabel mengatur semua instrumen kekuatan nasional untuk bekerja sama dalam suatu orkestra yang harmonik (bukan sekedar berkoordinasi)—membantah mythos penangkalan adalah dominasi militer. Penangkalan sama seriusnya dengan persiapan perang besar dan aktivitas intelijen sangatlah dibutuhkan minimal mengkoleksi niat dan kapabilitas negara yang ditangkal. Kesulitan mendeteksi niat aktor yang ditangkal (deterree), kecuali memonitor percakapan pejabat, diplomat atau orang orang yang dekat dengan elit nasional sipil maupun militer selain cara penyadapan elektronik. Kapabilitas sebagai kumpulan ukuran effektivitas (atau MOE dan MOE adalah turunan dari MOPE[77]) kekuatan militer, tentu saja tidak mudah diperoleh oleh aparat intelijen. Penangkalan adalah isu serius di-dunia nyata yang sulit diajak berstatus damai setiap saat dengan aktor manapun juga—menciptakan bentangan status antara non-zero enemies dan non-zero friends. Konsekuensi yang wajar dibutuhkan kekuatan udara (airpower) dan kekuatan maritim (maritime power) yang luwes, cepat & mudah digerakkan, luas area pengamatan dan mudah diproyeksikan di awal penangkalan, krisis, konflik apalagi perang—jika dan hanya jika (iff~if only if) intelijen udara dan laut (bukan pengamanan) hadir. Semua isu kegiatan pertahanan nasional beralasan kepada definisi, effisiensi, total kualitas, penilaian & pengukuran ancaman, risiko, analisis keputusan, modeling & teknik kuantitatif lainnya, statistik, optimalisasi deploi & redeploi, kalkulus pembangunan kekuatan gabungan (force planning)[78] dan lain-lain dan selalu berorientasi (fokus) kepada isu operasi gabungan[79].

Kelangkaan sumber daya dan meningkatnya permintaan solusi isu itu akan mengungkit  porsi teknik kuantitatif lebih banyak untuk mencari solusi bukan saja isu akuisisi alut sista[80], operasi, bahkan dibagian penunjang seperti logistik, inventori, intelijen, personil, pendidikan, administrasi, maupun bidang-bidang lainnya yang sebaiknya mulai disiapkan hadirnya analis yang menguasai teknik kuantitatif sebagai perangkat “problem solving”…dari hulu ke-hilir. Tidaklah berlebihan pentingnya (essential & necessary) kehadiran strategi sumdaman (human capital strategy) yang handal (reliable) dan konsisten bagi TNI serta didukung dengan riset ilmiah lapangan tentang isu perkembangan sumber daya manusia mulai dari isu rekruit (standar entri), pendidikan, distribusi pangkalan yang optimal yang menunjang skenario pertahanan nasional, lapangan, karir, kegagalan dan sukses, dari pangkat terbawah ke tingkat senior[81],dll…agar dimasa mendatang hadir personil TNI yang jauh-jauh lebih profesional, lebih berkualitas (total) dengan distribusi yang merata.  Semoga bermanfaat.



[1] Sr.Col Xu Weide, Research Fellow, Institute for Strategic Studies, National Defense University, People’s Liberation Army,China,diterbitkan oleh US Air Force Research Institute, Agsutus 2012,   “ Embracing the Moon in the Sky of Fishing the Moon in the Water? Some Thoughts on Military Deterrence : Its Effectiveness and Limitations  ”, halaman 5.

[2] Brodie, Bernard, RAND, RM – 2218, July, 1958, “  The Anatomy of Deterrence  “, halaman 8….era perang dingin dengan perlombaan senjata thermo nuclearnya, mudah untuk diplot “ dampak  penangkalan” sebagai fungsi tebaran bom, jatuhnya bom (CER=circular error probability), jumlah kota, dan luasnya, serta hari berlangsungnya “kiamat “ tersebut, semua akan menggambarkan dampak penangkalan yang terukur.

[3] Sr Col Xu Weidi, Research Fellow, Institute for Strategic Studies, National Defense University, People’s Liberation Army, China, ditulis dalam  Air Force Research Institute (AFRI),Air & Space Power Journal,155 N Twining Street,Maxwell AFB,AL,36112, Agustus, 2002, ” Embracing the Moon in the Sky or Fishing the Moon in the Water? Some Thoughts on Military Deterrence: Its Effectiveness and Limitations”, halaman 5…the success of deterrence—the production of desired effects. Sukses penangkalan adalah produksi dari suatu effek yang diharapkan (terukur ~ ada sesuatu yang benar – benar diharapkan, bukan sambil lalu begitu saja) dan selanjutnya dikatakan…does not depend on the superiority of the deterrer (si-penangkal) over the deterred (yang ditangkal atau deterree).

[4] Kemampuan atau capability harus dibedakan dengan kesanggupan, kebisaan atau ability. Yang terakhir ini lebih merupakan “by design” pabriknya sebagai ukuran yang diharapkan (expected) , seperti kecepatan platform, kecepatan tembak per satuan waktu, kecepatan tanjak, jarak jelajah, dll, bukan suatu assesment kemampuan yang sebenarnya. Kemampuan atau capability lebih diorientasikan kepada dampaknya terhadap musuh, misal probabilitas kesalahan dalam lingkaran jatuhnya bom per setiap ketinggian tertentu (CEP-circular error probability) adalah kemampuan yang berorientasi pada sasaran atau musuh. Untuk sensor misalnya besaran probabilita deteksi per jarak per kedalaman, inipun masih belum sesungguhnya menunjukkan kemampuan, bandingkan dengan probabilitas mengklasifikasikan “sasaran” diketahui (given) probablita deteksi , barulah benar-benar telah menunjukkan “harga” kemampuan (capability).

[5] FDO (flexible deterrent options), periksa JP 1-05, Joint Opt Planning, tahun 2006, Appendix  A, … FDO adalah suatu penangkalan yang dilakukan bersama-sama semua instrumen kekuatan nasional secara terpadu, harmonik, dan teroskestra. Bukan dominasi kekuatan militer saja, namun semua  strategi instrumen kekuatan nasional beraksi dipimpin oleh WanKamNas (diketuai  Presiden atau wakilnya, sdgkan lakharnya adalah Menhan—jauh lebih effektif kepada sasaran yang ditangkal (deterree).  Orientasi kamnas adalah mengamankan kepentingan nasional. Kepentingan nasional sendiri adalah kepentingan untuk dapatnya melaksanakan kelangsungan hidup  bangsa (survival), karena itu lakhar yang tepat adalah MenHan. Kam diluar ini (yang tidak beorientasi pada kepentingan nasional) didegradasikan kepada internal affairs, atau homeland security (kamdagri) ~ lebih effisien bukan menanganinya? Aparat KamNas ya strategi (instrumen kekuatan nasional) nasional pendukung strategi keamanan nasional itu. Aparat KamNas berbeda jauh dengan aparat Kamdagri atau KamTibNas. Satu urusan keluar , satunya lagi urusan kedalam.

[6] FDO (flexible deterrent options), operasi penangkalan  gabungan semua instrumen kekuatan nasional , periksa QD sebelum nomer  ini .

[7] Olszewski, Ryszard, Course 5605, US Military Strategy and Joint Opt, Washington,April, 2007,  Deterrence in the National Security of a Middle-Sized Country, hal 2. ..The word “deterrence” is derived from the Latin de + terrere and literally means “to frighten from” or “to frighten away.” … Thus, threat and fear are central to the original meaning of deterrence. Penangkalan adalah milik aktor yang ditangkal (sasaran)…..deterrence is thus adversary , objective, and scenario specific…contohnya we must plan to deter X  from doing Y under Z  condition, periksa Weaver,Greg, Senior Adviser for Strategy & Plans, US StratCom J-5, dalam paper-nya; Deterrence Analysis Needed”, slide # 3 . Asisten Menhan AS urusan strategi global, ny.Madelyn Creedon  dalam remarks on Deterrence di-Stimson Center, Washington, DC , September 17, 2003, menjelaskan deterrence sebagai berikut:.. ”the prevention of action by  the existence of a credible threat of unacceptable counteraction and/or the belief that the cost of action outweighs the perceived benefits”.

[8] Biaya adalah konsekuensi kegiatan—pilih kegiatan dulu yang bermutu barulah mengais biaya, dan pertanggungan jawaban adalah [1] manfaat,keuntungan, atau effektivitas program plus [2] jumlah biaya yang dikeluarkan sebagai konskuensinya, bukannya dibalik pertanggungan jawaban kegiatan hanya dibebankan kepada anggaran saja (Pjk Keu), sdgkan performa kegiatan atau performa program tidak ada, tidak cukup adil bukan ? Publik akan mempertanyakan bukan Pjk Keu-nya, namun mana keuntungan, manfaat atau effektivitas program, kegiatan atau proyek.

[9] Cost of war tidak selalu “biaya” perang dalam rupiah atau dollar, namun termasuk jumlah atrisi baik alutsista , manusia, dan konsekuensi anggarannya. Cost  adalah konskuensi kegiatan, jadi “ongkos” atau “biaya” sebenarnya adalah kegiatan yang dialihkan (alternatives cost).

[10] Jepang telah melakukan penangkalan kepada AS karena cemas dengan kapabilitas dan kredibilitas AS akan mengancam dan menyerang balik Jepang.

[11] Murat,Yetgin, Maj Turkish Army, Thesis US NPS,Dec 2003,MA in Security Studies (defense Decision-Making and Planning), Strategic Interactions Between the US and North Korea: Deterrence or Security Dilemma?”,halaman 2.

[12] Terjemahan dari China’s Great Wall , halaman 1,  Reinhardt,G.C, P-983, RAND, “ Deterrence is Not Enough “, halaman 1.

[13] Ibid, halaman 1.

[14] Brodie,Bernard, RAND, R – 335, January 15, 1959, “ Strategy in the Missile Age “, halaman viii. Anatomi ini  diakui Brodie diilhami oleh budaya bangsa AS untuk mempertahankan dirinya dari serangan pertama (preemptive attacks) dalam masa masa terancam serius , selanjutnya periksa halaman 270, … bahkan menambahi budaya tersebut bukannya sesuatu yang tidak boleh dipertanyakan … that is not to say it is out of the question that we should do so.

[15] Long, Austin, RAND, 2008,” Deterrence:  From Cold  War to  Long War , Lessons from  Six Decade of Rand Research ”, halaman 7.

[16] Ibid, halaman 8. .. Austin mensitir kata – kata Kaufmann dalam bukunya yang terbit tahun 1958.

[17] Johnson, et-all, 3 persons,  RAND, 2003, “ Conventional Coercion Across the Spectrum of Operations : The Utility of US Military Forces in the Emerging Security Environtment “ , bab-2, “ Theory of Coercion “ , halaman 9.

[18] Ibid, halaman 9.

[19] Murat,Yetgin, Maj Turkish Army, Thesis US NPS,Dec 2003,MA in Security Studies (defense Decision-Making and Planning), Strategic Interactions Between the US and North Korea: Deterrence or Security Dilemma?”,halaman 60, … Although North Korea engages in some behavior similar to the aggressive state in the deterrence theory, it more closely resembles the insecure state in the spiral model. North Korea’s positive responses to cooperative approaches addressing its security concerns support the idea that its efforts to obtain nuclear weapons are insecurity driven reactions. North Korea seems to have perceived U.S. policies as a threat towards its existence since its foundation. It still believes that the United States wants to destroy the regime; therefore, it resorts to the ultimate deterrent, nuclear weapons, to save the regime.

[20] Long, Austin, RAND, 2008,” Deterrence :  From Cold  War to  Long War , Lessons form Six Decade of Rand Research ”, halaman 10.

[21] Murat,Yetgin, Maj Turkish Army, Thesis US NPS,Dec 2003,MA in Security Studies (defense Decision-Making and Planning), Strategic Interactions Between the US and North Korea: Deterrence or Security Dilemma?”,halaman 5 dan khusus tabelnya  di  halaman 8, ..table # 2 didalamnya dgn judul “ Behaviours of  States  in the Spiral  Model (the Security Dilemma) “.

[22] Kanzelberger,Michael.W, RAND, N-1238-AF, September 1979 , “ American  Nuclear Strategy: A Selective Analytic Survey of Threat Concepts for Deterrence and Compellence “, halaman 3  juga periksa Beattie,Troy.J,Maj US Army, Thesis NPS, MA in Security Studies  (Defense Dec Making and  Planning), March 2010, “ Conventional Deterrence and The Falkland Islands Conflict “ , halaman 8,…Deterrence by punishment, is usually  associated with nuclear strategy,  deterrence by denial is usually associated with conventional military capabilities.

[23] Gerson,Michael.S, Parameter (Journal US Army ), Autumn 2009, “ Conventional Deterrence in the Second  Nuclear Age”, halaman 33. Ancaman “ by punishment” akan menimbulkan konsekuensi kegiatan dengan biaya yang luar biasa. Biaya adalah konsekuensi kegiatan, tidak selalu diartikan dalam arti rupiah atau dollar, tetapi bisa dalam arti  kerugian, kematian, korban, kerusakan (atrisi) , termasuk biaya rehab, perbaikan kerusakan, dll.

[24] Ibid, halaman 33.

[25] Deterrence by denial merupakan strategi penangkalan paling tradisional dibandingkan by punishment.

[26] Gerson,Michael, et-all, two persons, Center of Naval Analysis , March 2009, “ Deterrence and Influence : The Navy’s Role In Preventing War “, halaman 3. Artian handal adalah dapat dipercaya (terukur dan teruji), konsisten dengan kualitas kapabilitasnya.

[27] Kanzelberger,Michael.W, RAND, N-1238-AF, September 1979 , “ American  Nuclear Strategy: A Selective Analytic Survey of Threat Concepts for Deterrence and Compellence “, halaman 8.

[28] Ibid, halaman 7.

[29] Ibid, halaman 9,…US Armed  forces have been employed to achieve major objectives through pure force  in situations ranging from  the U.S. invasion of Grenada in 1983 to Israel’s 1981 attack on the Osirak nuclear reactor.

[30] Rekasius,Mindaugas,2Lieutenant, Lithuanian Army, MS in Defense Analysis,Thesis NPS, June 2005,“ Unconventional Deterrence Strategy “ ,  halaman 1.

[31] Ibid, halaman 1….however, guerrilla warfare has remained more accepted by sub-state groups (mostly for insurrectionary   purposes) than it has by weak states…. small states have not treated guerrilla warfare as  a way to balance  their  inherent  military  weaknesses,  vis-à-vis stronger opponents, especially in defensive wars. Guerrilla warfare has been either an ancillary  function, if any, of main conventional forces, or has been believed to arise, spontaneously, out of the common populous, as a response to the enemy’s occupation. Nalarnya tidak satupun negara yang menyukai terjadinya peperangan dengan aktor lain dinegaranya sendiri, rusak lingkungan yang jelas ~ benefit loss.

[32] Helmer,Olaf, RAND, 1957, “ Deterrence  “,halaman 1.

[33] Weaver,Greg, Senior Adviser for Strategy &Plans, US Stratcom J-5,  Deterrence Analysis Needed”, slide # 3….deterrence is thus adversary , objective, and scenario specific — we must plan to deter X  from doing  Y under  Z condition., dan  slide # 6, …deterrence success (indikatornya) is the absence of adversary action.

[34] Barnett, Dr  Roger,  Naval War Coll, Center for Naval Warfare Studies, June, 1993, “ Global  1993 : Deterrence Theory for  the Coming Decade ”,  halaman  3.

[35] Ibid,

[36] Geelhood, Philip, Maj USAF, Thesis US NPS, MA in Security Studies, Dec 2009, “ Deterrence of Nuclear Terrorism Via Post-Detonation Attribution : Is the US On Targets ?”, periksa halaman 27-31, who ?….. precisely what action ?,..whom ?  How convincing…?,dst.

[37] Dengan memilih penangkalan “ umum “ nampaknya Inggris ingin lebih nampak bermain cantik.

[38] Barnett, Dr  Roger,  Naval War Coll, Center for Naval Warfare Studies, June, 1993, “ Global  1993 : Deterrence Theory for  the Coming Decade ”,  halaman  4.

[39] Ibid, halaman 4.

[40] Reinhardt, G.C, RAND, P-983, June 1958, “ Deterrence is not enough ”, halaman 1.

[41] Perancispun menggunakan kata disuasi sewaktu perang dingin yang anonim dgn penangkalan. AS  dalam kamusnya mengartikan disuasi berbeda ; yakni … act of advising or urging somebody  not to do something . Antonim dgn kata persuasi yag artinya mempromosikan CB (cara bertindak). Kamus AS ttg disuasi dalam pengertian strategik  dapat didefinisikan sebagai cara untuk meyakinkan suatu negara atau koalisi untuk mempertimbangkan CB-nya yang mungkin mengancam kepentingan nasionalnya (identik dengan kelangsungan hidupnya), bahkan keamanan dunia.

[42] Reinhardt, G.C, RAND, P-983, June 1958, “ Deterrence is not enough ”, halaman 4.

[43] Ibid, halaman 4.

[44] Ibid, halaman 5.

[45] Ibid, halaman 5.

[46] Ibid, halaman 5.

[47] Ibid, halaman 6.

[48] Ibid, halaman 6.

[49] Ibid, halaman 6…akan tewas maksudnya.

[50] Uddin,Washem, LtCol,Pakistan Army, Dizdaroglu, Vural, Cpt,Turkish Army, Thesis US NPS,  MS in Defense Analysis , Dec 2013, “ Striking in Underbelly : Influencing Would Be Terrorists”, halaman 96….kata Adm Mc Mullen (USN) ,…To put it simply,  we need to worry a lot less about  what our actions communicate

[51] Reinhardt, G.C, RAND, P-983, June 1958, “ Deterrence is not enough ”, halaman 8 …deterrence works only  because the deteree chooses to be deterred.

[52] Ibid, halaman 8.

[53]  Robinson,George.M, Maj USMC, Master in National Security Affairs, Thesis US NPS, Dec 2003,  “ Deterrence and The National Security Strategy of 2002: Around Peg for a Round Hole ”, abstract .

[54] Helmer,Olaf, RAND, 1957, “ Deterrence  “,halaman 1. Bisa saja tidak berlaku sepenuhnya atau sebagian saja.

[55] Ibid, halaman 2.

[56] Ibid, halaman 2.

[57] Ibid, halaman 2.

[58] Ibid, halaman 3.

[59] Ibid, halaman 3.

[60] Ibid, halaman 3.

[61] Rumusan capability = ability + “outcome”, terminologi ini diperkenalkan kelompok MORS (military operations research) yang lebih spesifik disebut MOP (measures of policy effectiveness) dan MOE (measures of effectiveness).  Standar kapabilitas adalah adalah seberapa jauhnya sistem,atau alut, atau taktik, atau kampanye tersebut memberikan dampak kepada lawan. Berapapun juga banyaknya data yang katanya “kemampuan” (atau capabilities?) hasil pembelian alutsista baru hanyalah sekedar angka harapan pabrik atau penjual , belumlah realita dilapangan (dampaknya terhadap lawan).  Data yang diberikan pabrik atau penjual hanyalah desain atau harapan pabrik (lebih populer sebagai “ability” saja) , seperti kecepatan tembak, kecepatan platform  (kapal, pesawat, tank,dll), ), kecepatan tukik, dll (dan inipun sudah menjadi sumber terbuka (open sources) baik melalui buletin Jane’s Defence, Jane’s Intelligence,  Jane’s EW, ataupun Jane’s spesifik seperti kapal perang, pesawat terbang, tank, dll masih dalam cakupan skala sanggup (ability). Sedangkan kapabilitas (capability=kemampuan) merupakan kumpulan ukuran efektivitasnya (MOE) diperhitungkan relatif terhadap lawan (dampaknya), misal bom dihitung berapa besarnya lingkaran kesalahan jatuhnya bom (circular error probability~ semakin kecil CEP dan semakin tinggi dijatuhkannya semakin kapabel bom tersebut) atau tembakan meriam dihitung berapa probabilitas perkenaan, lebih spesifik lagi misalnya probabilitas merusakkan sasaran (bangunan, rumah, tank, bunker, orang, dll) yang berbeda-beda dan setelah mengenai sasaran ~ MOE-nya yang dikenal sebagai besaran probability of kill/damage given hit. Kegiatan Intelijen nasional dengan  “outward looking”  dengan masing masing angkatan harus bisa menangkap niat dan kapabilitas lawan (bukan abilitasnya/ability) dan … tidak mudah bukan ? Bahwa benar lebih disukai menghadapi situasi aman menghadapi lawan nol (zero enemy) akan tetapi bagaimana dengan aktor lainnya yang mungkin tidak sepakat, tidak suka, tidak gembira, bahkan memusuhi kita , sebagai penganut falsafah non-zero enemy, bagaimana mungkin dikendalikan ?

[62] Helmer,Olaf, RAND, 1957, “ Deterrence  “,halaman 4.

[63] Ibid, halaman 4.

[64] Ibid, halaman 4.

[65] Ibid, halaman 4 -5 .

[66] Definisi lawan  bisa saja aktor negara maupun aktor non-negara (terroisme, kriminal transnasional  nasional,dll).

[67] Sr Col Xu Weidi, Research Fellow, Institute for Strategic Studies, National Defense University, People’s Liberation Army, China, ditulis dalam  Air Force Research Institute (AFRI),Air & Space Power Journal,155 N Twining Street,Maxwell AFB,AL,36112, Agustus, 2002, ” Embracing the Moon in the Sky or Fishing the Moon in the Water? Some Thoughts on Military Deterrence: Its Effectiveness and Limitations”, halaman 6.

[68] Ibid, halaman  6.

[69] Ibid, halaman 6.

[70] Ibid, halaman 6.

[71] Ibid, halaman 7.

[72] Ibid, halaman 8.

[73] Ibid, halaman 8.

[74] Ibid, halaman 9. Dalam konflik Korea, sepertinya China terlibat, entah mengapa tidak dicantumkan dalam tabel.

[75] Masalahnya perangkat mana yang bisa digunakan  untuk  mengontrolnya ?  CEP (circular error probability, dan radiasi serta jatuhnya awan/fall out juga sangat berbeda antara milik AS dengan Russia) masing Rudal  berhulu ledak nuklir bisa berbeda signifikan antara Russia dengan AS. Haruskah  =  , artinya adalah jumlah rudal berhulu ledak nuklir milik AS (analog untuk Russia) , apakah tidak mungkin  +  cadangan , dgn alasan  tentu saja ada kekuatiran tidak semua bisa terbang pada saat bersamaan dan bisa meledak keseluruhannya atau tertembak jatuh dalam perjalanannya,dll.juga perilaku rudal balistik berbeda tentunya — bagaimana dgn MIRV ? Demikian juga yang difikirkan Russia ~ akhirnya sama-sama akan kembali saling berlomba. Meskipun ada protokol pembatasan senjata nuklir (Arms Control~ SALT) , tetap saja orang banyak kuatir dgn jumlah rudal balistik ini.

[76] Rekasius,Mindaugas,2Lieutenant, Lithuanian Army, MS in Defense Analysis,Thesis NPS, June 2005,“ Unconventional Deterrence Strategy “ ,  halaman 1.

[77] MOPE atau Measures of Policy Effectiveness, MOE adalah measure of effectiveness. MOE inilah sebenarnya  yang perlu dijadikan parameter untk diujikan dalam setiap sistem atau sista yang dibeli . Bukan ekspektasi yang dibangun pabrik seperti kecepatan , aksi radius, kecepatan peluru , dll,  bagaimana menguji dampaknya terhadap sasaran atau “lawan” ini yang jauh lebih penting. Bukankah sista dibangun untuk “lawan” atau sasaran ?

[78] Bucur-Marcu, Hari, et-all, 3 persons, DCAF,Procon,Geneva,2009, “Defence Management : An Introduction”, halaman 48…perhatikan dalam fig #1 didalamnya…core diciplines defense management (jantung isu atau isu utama Dephan adalah) is Force Planning…selanjutnya dikatakan…the purpose of defense planning, particularly long-term defense planning (horizon of defence planning) , is to define the means, including the future force structure (FS, atau calculus force structure for joint opt ), that would allow defence institutions to deal effectively with likely future challenges (tergantung skenario pertahanan nasionalnya,pen). Thus, long term defence planning is and should be examined as an integral component of defence policy-making. Perhatikan juga pada halaman 55, tentang bagaimana menghitung kekuatan yang akan dibangun (future force structure). Analog dengan literatur manajemen umum pasti jantung isu atau isu utamanya adalah Leadership (dalam bab ditengah buku hampir pasti dibahas Kepemimpinan) dan bagi manajemen pertahanan, ditengah buku pasti dibahas (corenya) tentang force structure atau force planning dan formulanya. Peran sentra Manajemen Umum adalah Kepemimpinan, dan peran sentra Dephan adalah Force planning (meskipun masih lebih berujud kepada draft, estimate, guidance, policy bagi Angkatan).

[79] Masing-masing Angkatan tidak berhitung sendiri sendiri dengan emosi dan ambisi masing-masing, tetapi ada direktif berupa “policy letter” berbasis skenario pertahanan nasional dan guidance berujud strategi pertahanan nasional , strategi intelijen nasional dan strategi militer nasional, baik dari Dephan maupun Pang/Kas gabungan .

[80] Isu alutsista bukan hanya  isu akuisisi saja, namun lebih dari itu, bagaimana berhitung kapabilitasnya (lebih dari abilitas) disesuaikan dengan skenario pertahanan nasional mendatang.

[81] RAND banyak sekali membuat riset (akademik) lapangan tentang standar yang ada, pendidikan, penajaman organisasi (shaping) , dinamika (perubahan ~ pergeseran kosep strategi) ,  kegagalan atau sukses  operasi, logistik, intelijen, personil,  dan kepemimpinan bahkan karir serta seleksi perwira tinggi. Mengingat penangkalan (plus FDO dan KamNasnya) perlu dipahami untuk dikembangkan lebih lanjut sebagai naskah akademik atau teks /referensi (bukan  paket instruksi) di lemdik TNI /Non-TNI , guna mengisi kurangnya literatur tentang penangkalan (baca strategi), aplikasinya dan kesamaan persepsi elit nasional sipil maupun militer.

0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
1 Comment
Newest
Oldest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Teguh Subrata
3 years ago

assalamu’alaikum wr. wb pak, saya Teguh Subrata, mahasiswa HI fisip Unpas, saya perlu gambaran nih bagaimana upaya Indonesia dalam optimalisasi keamanan dan keselamatan pelayaran dari ancaman dan gangguan di laut. saya kira perlu untuk dibahas karena perairan indonesia dari segi geopolitik dan geostrateginya sangat menguntungkan dan juga perairan indonesia adalah salah satu jalur dagang internasional, apalagi indonesia berupaya menjadikan indonesia sebagai PMD. Berkaitan dengan hal itu, untuk menciptakan keamanan dan keselamatan pelayaran perlu upaya yang komprehensif.
jika ada penjelasan menyeluruh bisa kontak saya di ugettsubrata@yahoo.co.id
mohon bantuannya, terimakasih pak. wassalamu’alaikum 🙂

Scroll to top
1
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x
Share via
Copy link
Powered by Social Snap