PENGEMBANGAN ARMADA KAWASAN DARI PERSPEKTIF LINGKUNGAN STRATEGIK

Pada awal tahun 2006, ada dua masalah global yang semakin crucial dan menjadi perhatian masyarakat internasional yaitu maritime security dan energy security. Kedua masalah tersebut sudah jelas berkaitan erat dengan kelangsungan pasokan migas, untuk kepentingan nasional banyak pihak dan terutama untuk kepentingan industri.Ada beberapa inisiatif yang  sudah di kembangkan oleh banyak pihak, misalnya AS, Jepang, dan China.

Pihak AS sudah mengembangkan tiga inisiatif, yaitu Container Security Initiatives (CSI), Proliferation Security Initiatives (PSI), dan Regional Maritime Security Initiatives (RMSI). Secara khusus, perlu dicermati ketiga inisiatif tersebut oleh karena, pihak AS berhasil menggalakkan inisiatif tersebut menjadi ‘gebrakan global’ dan berhasil mengajak banyak pihak terlibat di dalamnya. Misalnya saja PSI, yang berawal dengan 9 negara, sekarang sudah mendekati 70-an negara yang terlibat. Sasaran operasi adalah perairan-perairan yang dianggap rawan perompakan dan pembajakan di laut, dan juga ada kekuatiran ancaman aksi terror maritim, yang tujuannya untuk melumpuhkan perekonomian global.

Tidak sulit untuk mengemukakan secara tegas, bahwa perairan Indonesia, masih dipandang sebagai ‘dangerous water’ dan (kabarnya) paling rawan  di  dunia. Pandangan tersebut juga datang dari Jepang, yang sudah menyiapkan langkah-langkah stratejik untuk mengamankan jalur suplai migas ke Jepang. Maritime force yang dikerahkan adalah Japanese Coast Guard yang kapabilitasnya sama dengan naval force tetapi ‘berbaju’ sipil. Jepang adalah sponsor utama untuk PSI dan CSI, dan sikapnya sekarang ini adalah menunggu (dalam batas kesabaran tertentu) apa inisiatif ‘maritime forces’Indonesia untuk mengamankan SLOC dan SLOT yang melewati perairan Indonesia.

Sedangkan pihak China, secara diam-diam sudah mengembangkan kebijakan yang di beri sandi Chain of Pearl (rangkaian mutiara), yang esensinya adalah mengamankan jalur supply migas keChina. Benar bahwa China tidak menjadi pihak pada PSI dan CSI, akan tetapi mereka mempunyai ‘cara’ sendiri untuk mengembangkan pengaruhnya di dalam rangka mengamankan kepentingan vital tersebut.

Dari perspektif kepentingan Indonesia, ada tiga bentuk ancaman yang bersifat laten, yaitu (i) ancaman disintegrasi, (ii) pelanggaran wilayah perbatasan, dan (iii) ancaman terhadap SLOC/SLOT. Namun bila di perhitungkan derajat kebutuhan di lapangan, maka pengamanan ALKI merupakan prioritas. Argumentasinya  adalah kekuatan luar sedang ‘mencari’ dalih untuk mengamankan kepentingan mereka yang melewati perairan rawan. Tidak sulit pula untuk memperkirakan, perairan mana di Indonesia ini yang menjadi fokus atensi pihak-pihak tersebut, yaitu Selat Malaka, ALKI tengah yang sangat ideal untuk super tanker dan kapal container generasi keempat, dan ALKI timur.

Secara politis, posisi mereka sekarang ini adalah lending hands but not step in, akan tetapi posisi tersebut relatif kontemporer oleh karena sudah banyak indikasi bahwa mereka akan lending hands and step in. Bentuknya masih dalam kerangka kerjasama dan lokasinya berada di corong ALKI, misalnya di Laut Sulawesi. Apapun bentuk kerjasama tersebut, sudah pasti mereka akan mengukur kapabilitas pihak Indonesia, akan tetapi yang penting dikemukakan adalah political will yang diikuti dengan komitmen yang kuat.

Situasi di lapangan memperlihatkan kekuatan nyata alut sista TNI-AL (yang mewakili maritime forces) sekarang ini, sangat-sangat terbatas sehingga perlu dipikirkan konsep operasional yang paling efektif. Ada dua kata kunci di sini, yaitu efektif dan efisien. Dan, sudah pasti langkah apapun yang di kembangkan oleh Indonesia, akan ditakar oleh pihak luar (yang lebih superior) dengan parameter; (i) ada political will, (ii) relatif efektif, (iii) dapat bekerja sama.

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x
Share via
Copy link
Powered by Social Snap