Perlunya waktu istirahat, di-lingkungan militer—isu tradisional yang jarang tersentuh

In the military, any degradation in performance may have serious implications, potentially resulting in loss of life or affecting mission accomplishment. The maritime environment imposes the additional unique challenges of waterborne motion on the shipboard crew.[1]

 

Pendahuluan.

Riset bagi militer begitu lama di-lupakan bisa jadi menjadi mythos, atau menyebut riset hanya diperlukan bagi perilaku mekanik, teknologi atau enjinering yang menjadi obyek, manusia-nya tidak. Kenyataan tidak ada negara maju dan modern yang tidak mengandalkan manusia terdidik yang berkualitas. Riset militer sangat menonjol bukan karena kepentingan teknologi, juga aspek operasi, manajemen, dan ketahanan personil—ihwal ketahanan lama operasi di-lapangan, seperti periode istirahat di-dalam tugas [2] dan effektifitas performa phisik guna menunjang tugas tempur. Tuntutan performa di-domain maritim sama halnya di-medan laga adalah phisik prima di-tunjang…kecukupan istirahat, tidak kehilangan hak tidur dan trauma kelelahan i yang berkepanjangan  [3].

 

Bahasan tentang bagaimana sehat, kualitas, dan performance motoric berpengaruh terhadap kewaspadaan akibat skedul pergeseran kerja (shift work/watch) yang merubah kebiasaan (melawan) ritme kirkadian [4].  Hadirnya standar minggu kerja (workweek—jam kerja per minggu) mempengaruhi siklus jaga di-atas kapal [5] selama berlayar berbasis kondisi taktis (merah, hijau, kuning, dsb).  Tradisional selama 24 jam biasanya 4 – 4 – 4, di-atur bergantian secara ketat dalam bentuk seksi jaga, atau tim. Sejauh mana tetapan skedul ini diyakini menjaga stamina, kesehatan dan tekanan (stress) yang ada serta bebas dari kelainan (disorder)? Samakah skedul pergantian di-setiap kapal? Rotasi jaga kapal permukaan AS terbaik adalah 3/9 (3 jam –on/9 jam-off) dengan effektifitas 89.9 % versus 83.4 % bagi kapal yang menggunakan 4 seksi jaga tradisional (4/4?)[6]. Rotasi 4/8 (4 jam-on/8 jam-off) memiliki harga effektifitas 82.9 %  dibandingkan dengan 82.5 % dengan rotasi 3 seksi jaga [7]. Obyektif skedul jaga ini adalah menjaga kompatibelnya system kirkadian, keseimbangan tidur-jaga, kesiagaan, jadwal istirahat, bahkan tidur sejenak-pun (naps sleep) [8] signifikan membantu kualitas istirahat ini. Tidur saat operasi tetap ada dan tugas Komandan menjaga dampak buruk  kelelahan kronis, turun-nya performa, keputusan buruk bahkan klimaknya bisa terjadi insiden “salah tembak teman” [9]. Tulisan membahas pembelajaran keseriusan Barat melakukan riset resim jaga laut di-kapal-kapal Angk Laut AS [10] maupun negara lain.

 

Tinjauan system jaga laut (watchkeeping atau watchstanding)

 

Referensi: Cpt John Cordle, USN, A Sea Change in Standing Watch, USNI (Naval Proceeding), January 2013, hal 34…. SWO adalah Surface Warfare Officers (komuniti peperangan atas air)…bagi Angk Laut besar dengan kemampuan bekal-ulang bahan bakar, dll atau dengan pendorongan tenaga nuklir di-laut, membuat siklus deploy bisa lebih lama, sehingga problem kurang tidur ini sangat peka sekali.

System jaga laut bagi Angk laut beberapa negara atau kapal niaga atau beberapa jenis kapal kombatan adalah penugasan spesifik bagi awak kapal, guna menjalankan roda operasional kapal, menjaga keselamatan kapal terhadap ancaman atau bahaya navigasi[11]. Tergantung kategori bisa saja tugas jaga ini menempati pos di-anjungan, kamar mesin, ruang elektronik, radio & komunikasi dan ruang-ruang lain yang dianggap harus selalu siaga 24 jam. Dalam keadaan aman, tanggung jawab di-bebankan kepada Perwira jaga[12], dalam keadaan siaga perwira jaga operasi atau perwira jaga CIC di-tugaskan tergantung status, fasilitas dan peralatan yang dimilikinya. Beberapa negara mempunyai format jaga yang berbeda-beda, secara umum di-kenal beberapa system seperti: 1 tipikal sistem jaga, 2 tipikal sistem jaga. Varian yang ada seperti: system tradisional, dengan 3 seksi, lima dan uang keeping (dime), 6 jam pergantian, 1 dalam 2 system jaga, system Swedia, system jaga kapal niaga, system jaga kapal selam dengan 3 seksi. Apapun juga formatnya, entah itu 3/9, 5/5 ada yang menyebut 3-on/3-off, atau 4-4-4-4 atau 4-8-dst, di-sepakati bahwa skedul-skedul tersebut adalah keluarga resim jaga laut [13]. Di-harapkan bisa menjamin derajad kesiagaan selama 24 jam dan tetap menjamin waktu istirahat secukupnya serta tugas lain-nya. Banyak system yang di-adop menganut konsep jaga anjing (dog watch), yakni system yang membagi setiap tim jaga dalam dua durasi jangka pendek setiap hari.

 

Format di-buat agar setiap personil tidak mengalami periode jaga yang sama berikutnya. Misal: setiap hari kebagian jaga malam atau selalu larut malam atau agar semua personil memiliki waktu yang sama (meski pendek sekali) untuk bertemu makan malam bersama atau relatif hampir bersamaan di-aturlah system jaga seperti berikut ini system tradisional dengan 2 seksi jaga (hint: biasanya masing masing seksi diberi sebutan seksi jaga lambung kanan dan kiri). System jaga kapal selam Inggris (tradisional) membagi menjadi 3 seksi jaga, yakni 2 jam jaga dan 4 jam istirahat ( 8 pagi sampai  dengan 8 malam) dan 3 jam jaga dan 6 jam istirahat waktu malam (8 malam sampai dengan 8 pagi) [14], periksa tabel berikut dengan 3 seksi jaga (dogged watch);

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pengaturan ini membuat awak kapal lebih memiiliki jam tidur yang lebih lama. Dibawah ini adalah format jaga 3 – 5 jam (3 seksi jaga dengan lama 5 jam jaga).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tabel berikut adalah format jaga 6 jam; membuat satu hari terbagi dalam 4 bagan, dengan 3 seksi jaga, pemulihan waktu istirahat dalam 3 hari siklus kerja. System ini juga memberikan keuntungan fleksibilitas waktu makan (menjadi 4 x sehari), perhatikan sebutan untuk masing – masing tim jaga tersebut Tim Blue, Gold, dan White.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Berikut resim jaga kapal selam AS, tabel tersebut telah digunakan jauh sebelum ini (tidak di-sebut mulai kapan berubah dari sumbernya), dan sekarang terbagi dalam 3 seksi jaga. Setiap seksi jaga mengalami jaga selama 8 jam, kemudian 16 jam tidak bertugas (off).

 

System ini sudah berjalan sampai tahun 2015 (selama 45 tahun); 18 jam per hari, di-alokasikan dalam 6 jam jaga di-ikuti dengan 12 jam bebas tugas. Selanjutnya 12 jam bebas terbagi 6 jam untuk memelihara, pembersihan dan bersantai, sementara 6 jam berikutnya bisa untuk tidur. Menurut Nita Lewis, sejumlah resim tetap (fixed) maupun yang tidak telah di-anut Angk Laut AS. Tetap, misalnya; 4-on/8-off, 6-on/6-off, 6-on/12-off (bagi komuniti kapal selam), 6-on/18-off, dan 3-0n/9-0ff (atau “3/9”). Skedul tidak tetap 5-on/10-off (atau “5/10”), menghasilkan jam 15 atau 30 jam kerja, dan 5-on/15-off menghasilkan total jam kerja 20 jam per hari [15]. Bekerja di-luar ritme 24 jam (atau lebih pendek lagi) per hari tidak kompatibel dengan system kirkadian, contoh pengalaman jet-lag. Pelanggaran terhadap ritme kirkadian akan menghasilkan performa yang buruk tentang phisiologi, kesehatan tidur, mood dan kesiagaan (vigilance performance) serta distribusi kerjanya [16]. Aplikasi seksi jaga ini bisa di-jelaskan sebagai berikut. Secara tradisional (misal) resim jaga 5/10 dalam 3 seksi, artinya 5 jam jaga di-ikuti 10 jam bebas jaga (off). Jam jaga di-mulai jam 02.00, 07.00, 12.00. dan 17.00 dan 22.00 hanya berlangsung hanya 4 jam durasi. Pola ini bekerja hanya setiap 3 hari sekali. Perhatikan siklus 2 x 3 harian untuk resim jaga 5/10 melalui tabel dibawah ini [17].

 

 

Hint: WS = watch sections

Selama siklus 3 harian dari resim 5/10 ini, bisa menikmati tidur selama 3 periode yang berbeda. Hari pertama siklus; para personil menikmati peluang tidur lebih pendek dari 4 jam di-ikuti 2 periode dalam kondisi siaga, antara 22 sampai dengan 20 jam lamanya. Kontras dengan resim 3/9 dengan 4 seksi jaganya, lihat tabel bawah. Seksi 1 (WS1) dari jam 0300 – 0600, dan dari 1500-1800), WS 2 (0600-0900) dan 1800-2100,WS 3 (0900-1200, 2100-0000), dan WS 4 (0000-0300, 1200-1500). Skedul harian adalah tetap, dan personil memperoleh 2 x per 3 jam-an, pergantian jaga (gambar bawah ini) dan peluang yang sama untuk tidur pada saat yang sama setiap hari.

 

Hint: resim jaga 3/9 dengan 4 seksi jaganya.

Kegiatan yang di-atur (atau melanggar) mekanisme kirkadian

….is the resilience [18]of the human body…lanjut dikatakan…A new approach to shipboard routine, as seen through two distinct lenses-science and naval operations-could increase readiness with no additional investment of time or money. (Cpt John Cordle, USN) [19].

Begitu seriusnya penelitian tentang tidur, kualitas maupun kuantitas-nya dalam rangka mengejar tingkat kesiagaan unit—semua berbasis kontrol kirkadian. Bukan itu saja, bahkan penyakit degenerasi saraf (neuro degenerative dementia—sangat progressive) seperti AD (Alzheimer’s Disease) menjadi alasan kuat di-lakukan studi tentang tidur dan faktor lain [20]. Stress (HPA—mediator utama stress dikontrol oleh mekanisme kirkadian dalam tubuh manusia), gangguan tidur, dan ritme kirkadian (disharmonik) ketiga-tiganya adalah agen promosi kuat penyebab timbulnya AD. Meski di-akui bahwa pergeseran kerja (idem dengan system jaga), merupakan bagian integral dari kehidupan masyarakat modern tetap menimbulkan jejak perilaku tidak wajar bagi kehidupan manusia.

 

Padahal banyak fungsi physiological manusia berhasil di-kontrol (di-regulasi) oleh “jam” siklus kirkadian dengan baik (harmonis) dan menjadi kebiasaan (misal: waktu tidur, bangun, dll) sehat. Hadirnya pergeseran (yang terpaksa) siklus jaga mempromosikan fungsi yang erat kaitan-nya untuk melawan kodrat, yakni malam hari di-paksakan (?) untuk tetap dalam situasi tersadar/terjaga/bangun (wakefulness). Padahal situasi ini sesungguhnya terbiasa (alami) terjadi di-siang atau pagi hari. Riset sudah banyak menunjukan bahwa kegiatan kerja yang melanggar ritme yang sudah biasa di-atur irama-nya oleh waktu kirkadian (circadian clocks), membuat siklus kirkadian tidaklah harmonik. Disrupsi (gangguan) ritme kirkadian di-dalam-nya, menurut riset terdahulu telah merangsang perubahan produksi melatonin dan membuat gangguan siklus tidur serta siaga/sadar [21]. Butuh waktu cukup lama untuk memperbaiki ketidak seimbangan ini, bahkan bisa terjadi berbulan-bulan atau menimbulkan trauma (PTSD?), insomnia, bahkan bisa lebih dari tiga (3) tahunan dengan hari-hari di-bayang-bayangi ketakutan terus menerus [22]. Bisa di-simpulkan secara umum, pergeseran jaga pada malam hari dan dini hari sangat peka meningkatkan tingkat ngantuk yang luar biasa dan keinginan luar biasa untuk tidur sejenak. Di-bandingkan dengan mereka yang tidak mengalami, bekerja dengan pergeseran jaga sungguh telah menimbulkan jejak perampasan hak tidur, fragmentasi tidur, episode tidur terbatas (naps sleep) dan meningkat-nya tingkat kelelahan. Sangat menarik untuk di-pelajari militer mengingat akibat yang serius terhadap personil dengan timbulnya ngantuk, kehilangan jam tidur, suasana hati, kemarahan, saat (kapan) sadar penuh setelah terbangun, tidur sekejab (naps sleep), tidak bisa tidur, alcohol, dan berujung kepada tidak tercapai-nya tingkat kesiagaan yang paling optimum. Bahkan dikelas perusak tertentu (destroyer dengan kelas yang sama), bisa berbeda siklus jaga atau bahkan tidak bisa di-samakan.

 

Pergeseran waktu yang panjang, misal > 12 jam akan mendorong rasa kantuk yang luar biasa, karena hilangnya hak tidur (ekstrim) yang telah dirampas. Tidur sebentar dan rasa kantuk yang meningkat akan melekat bagi setiap indivitu yang di-kenai pergeseran jaga panjang (> 16 jam) dan melanggar ambang batas kerja per minggu (> 55 jam)?  Pergeseran jaga (shift work) adalah penyebab munculnya disrupsi ritme kirkadian. Pegeseran ini memberikan dampak signifikan terhadap risiko organisasi dan laju keselamatan. Studi epidemiologi telah menunjukan bahwa risiko relative yang terjadi di tempat kerja cenderung meningkat saat pergeseran jaga sore hari (meningkat kl 15 %) dan malam hari (meningkat 30%) di-bandingkan pagi hari atau dini hari. Sedangkan penambahan waktu pergeseran dan frekuensinya yang di-gunakan menaikkan laju insiden antara 50 sampai 100 %. Dampak pergeseran jaga dan kerja serta lamanya pergeseran serta frekuensinya berujung pada performa organisasi, penjelasannya periksa model dinamik dibawah ini [23]. Perhatikan bahwa gangguan jadwal tidur dan bangun (sleep/wake) produk regulasi ritme kirkadian (disharmonik) kuat sekali pengaruhnya terhadap performa organisasi, di-tambah perubahan perilaku/kebiasaan (merokok, minum, dll). Evolusi perilaku ini di-dorong oleh kondisi stress, yang berpeluang kuat menjadi penyakit (disease). Kedua produk ini (performa dan penyakit) ber-sama-sama mendorong dampak kurang baik bagi organisasi.


Secara umum skedul jaga 6/6 menggunakan menggunakan waktu kerja lebih lama yakni mencapai 105 jam lebih lama di-bandingkan 81 jam kerja per minggu sesuai standar jam kerja yang ditetapkan. Model dibawah ini barangkali bisa membantu memberikan penjelasan berkaitan dengan kontrol kirkadian [24] tersebut dan bagaimana prosesnya, dll. Model lebih popular di-sebut SAFTE (Sleep, Activity, Fatigue, and Task Effectiveness) dengan mesin utamanya adalah fungsi kirkadian (circadian oscillators), periksa gambar bawah[25]. SAFTE merupakan kombinasi antara pola tidur, dan inersia tidur. Kirkadian berusaha mengontrol pengaruh, performa maupun pengaturan tidur. Regulasi tidur (produk mesin homeostatic sleep drive) dengan mengatur keseimbangan jam tidur, jam bangun/jaga, hutang (kekurangan) jam tidur, proses kirkadian dan fregmentasi atau terbangunnya selama jam tidur (akibat kualitas tidur yang buruk). Performa adalah fungsi dari proses menyeimbangkan regulasi tidur (diatur oleh mekanisme homeostasis dalam sistem kirkadian) terkinikan, proses kirkadian, dan inersia tidur [26]. Pengaturan tidur (homeostatic sleep drive) adalah proses pengaturan jam tidur, jam bangun/terjaga, jam kurang tidur (hutang/debt), proses control kirkadian, dan fragmentasi atau terbangun/terjaga selama periode (yang seharusnya) tidur sebagai produk kualitas buruk dari tidur, periksa gambar bawah. Sedangkan performa adalah produk fungsi keseimbangan oleh proses pengaturan tidur, proses kirkadian dan inersia tidur [27].

 

Hint: Model SAFTE (schematic), pengukuran dalam system Kirkadian atau pengukuran tentang kualitas tidur dalam jangka waktu 1 bulan ditetapkan dalam ukuran PSQI [28].

Selanjutnya data hasil graphic kegiatan (actigraphy) monitor di-pergelangan tangan di-teruskan sebagai informasi tidur utama untuk menjalankan model ini. Jantung dari SAFTE adalah “waduk” yang memelihara keseimbangan effektifitas performa “unit”. Sewaktu terjaga, “waduk” tidur menjadi kosong, dan sewaktu tertidur muatan “waduk” di-ganti. Akumulasi tidur berdasarkan kualitas tidur dan intensitasnya dan intensitas tidur menjadi bagian dari proses kirkadian [29]. SAFTE menjadi perangkat untuk menentukan (hipotetik) jadwal kerja dan tidur atau prospektif sebagai cara untuk menemukan penurunan kinerja—membantu  mengoptimalkan perencanaan dan manajemen operasional organisasi [30]. Studi diatas (kapal induk) USS Nimitz, menemukan bahwa semakin banyak tidur seseorang, semakin tinggi kinerjanya. Tiga (3) jam tidur adalah waktu kritikal bagi seseorang agar mencapai tingkat performa yang memuaskan (di-bawah akan buruk performanya?), sebaliknya tidur lebih dari 9 jam tidak bisa lagi menambah tingkat performa (jenuh?) [31] dan orang yang paling lelah adalah orang yang paling tinggi jabatan-nya. Thesis Kevin M Kerno [32] telah merekomendasikan untuk mengadopsi perubahan skedul istirahat, namun terlebih dahulu seorang Komandan harus memahami isu perampasan hak istirahat ini dan methoda untuk memerangi kekurangan tidur ini. Berikutnya, disarankan agar Komandan pelan-pelan dalam waktu segera agar merubah periode istirahat anak buah dalam format system jaga. Khususnya system jaga 4 – on dan 4 – off tidak disarankan lagi, sebab telah ditemukan bahwa system ini mencegah skedul istirahat sekurang-kurangnya 4.5 sampai 5 jam [33]. Selain itu Nguyen menemukan sesuatu yang tidak kalah menarik, yakni kekurangan jadwal tidur lebih banyak di-derita oleh mereka yang bekerja di-atas geladak, di-banding yang di-bawah geladak (below deck) [34].

Produk riset vs isu resim jaga terhadap jadwal tidur, kerja, dan dampak lainnya.

 

Hint: DoN (Depart of the Navy), Crew Endurance Handbook, (version 1.0, released 1 Agust 2017), periksa http: // my . nps . edu / web /crewendurance…mungkin yang dimaksud dari 9 jam – on menjadi 5 jam –on.

 

System kesiagaan (readiness) akan mempengaruhi resim jaga, periksa tabel kesiagan yang berlaku umum (di-luar siaga khusus) di-bawah ini [35]. Meskipun setiap kondisi tidak bisa ditentukan kapan muncul dan kapan berakhir, namun tabel itu memberikan suatu batasan maksimum per setiap kondisi—mungkin cara untuk memberikan waktu istirahat bagi anak buah kapal. Di-kaitkan dengan kondisi kesehatan (fit) atau tidaknya, ternyata penambahan jumlah (manning) tidak signifikan terhadap upaya melawan kelelahan, dll. Survei ini dilakukan di-kapal perusak USS John C. Stennis menunjukkan upaya perubahan siklus tidur-bangun (dampak resim jaga) sangat mempengaruhi pola tidur dan tingkat kelelahan awak kapal [36]. Komandan kapal harus menyadari secara perlahan dalam setiap operasi yang di-lakukan untuk merotasi personil dari jaga waktu siang ke-malam atau larut malam (bisa saja total jam jaga seseorang lebih banyak waktu malam atau larut malam di-banding siang hari).

 

Skedul istirahat-kerja di-sarankan juga untuk di-rubah dari resim 4-on dan 4-off karena skedul ini tidak menjamin kebutuhan tidur minimal 4.5 sampai dengan 5.5 jam per hari dalam kondisi tidur menerus [37]. Cara lain untuk mengurangi perampasan jam tidur,  kualitas serta kuantitas jam tidur, yakni mengenakan kacamata gelap saat bekerja atau pergi ke-geladak atas sebelum tidur untuk menghindari tekanan (sekresi) melatonin [38].  Prakteknya; jadwalkan rotasi shift sebelum matahari terbit untuk mencegah paparan sinar matahari bagi awak kapal yang bekerja di bagian atas. Tidur di-ranjang gelap dengan cahaya minim, pantau asupan kafein dan nikotin pada jam sebelum tidur. Sebagai upaya terakhir dapat di-pertimbangkan intervensi farmako seperti suplemen melatonin [39]. Lain lagi dengan temuan Ltn Derek R Mason yang menunjukkan bahwa standar jam kerja anggota Angk Laut di-kapal sangat jauh meleset dari perkiraan-nya, khususnya di-kapal penjelajah dan menyarankan agar salah duga jam kerja yang di-tetapkan di-jadwal ulang kembali [40]. Hasil-nya menunjukkan bahwa jam kerja di-atas kapal penjelajah melebihi (survei 85 % partisipan) sebesar 9.9 jam per minggu atau 1.41 jam per hari. Faktanya Departemen System Tempur (combat system) di-kapal penjelajah mengalami dampak salah duga dengan jam kerja (lebih) dari 2.5 jam. Secara umum hasil survei ini menunjukkan ada kesamaan kelebihan jam kerja (2 penjelajah) di-banding standard jam kerja yang di-tetapkan Angk Laut [41].

 

Bukan saja di-kapal penjelajah bahkan di-Fregat (lebih kecil dari penjelajah) terjadi kasus yang sama, dengan hasil survei, 61 % dilaporkan melebihi 81 jam dari standar yang ditetapkan. Perwira sampai Tamtama dilaporkan bekerja rata rata 20,24 dibanding standar, termasuk jam tidur hanya 8,98 jam per minggu [42]. Standar yang di-tetapkan tidak mencerminkan akurasi pola istirahat bekerja para awak kapal [43]. Rekomendasi kuat dan relatif sama juga diajukan oleh Ltn Leonard. E. Haynes [44] tentang tidak akuratnya standard kerja yang ditetapkan Angk Laut. Effisiensi tidur adalah ukuran yang ditetapkan (dalam jam tidur di-tempat tidur, bukan snap sleep), dalam persentase dengan bentangan > 80 % adalah normal, sedangkan kurang dari 80 % terindikasi insomnia (sulit tidur). Mencermati isu kualitas tidur, para peneliti menyarankan bisa di-kurangi dengan cara mengurangi gangguan di-tempat tidur seperti bunyi lonceng, peluit, broadcast, membatasi pemeriksaan oleh Palaksa kapal sampai ke-tempat tidur, membuat kedap suara permesinan atau peralatan yang bisa masuk ke-ruang tidur, memperbaiki kualitas udara dan mengurangi lampu yang ada disekelilingnya [45]. Kim bahkan merekomendasikan bagi pimpinan Angk Laut AS untuk kesiagaan operasi militer selain perang (MOOTW), yang focus pada isu penanggulangan humanitarian, krisis baik internasional maupun domestik. Hal ini menjadi tantangan baru bagi Angk Laut yang membutuhkan awak tamtama lebih banyak, sedangkan standar jam kerja yang ditetapkan tidak mewadahi harapan untuk terlibat dalam MOOTW. Prosedur, tabel peringatan, organisasi jaga dan siaga tidak di-rancang menghadapi isu ini. Berbagai upaya dan riset telah dilakukan, guna menghasilkan pilar-pilar utama untuk mengawal bagaimana membangun skedul tidur guna mendukung kesiagaan selama operasi militer [46].

 

Paket A; perubahan cepat dari jaga siang hari ke-malam hari guna mencegah kelelahan dan meningkatkan performa kesiagaan dengan cara membuat tidur 4-5 jam di-petang atau sore hari dan langsung jaga malam hari plus upaya farmakology, misal: pemberian obat temazepam, zolpidem, dll, dosis dan macam obat berbeda untuk awal petang hari, mendekati malam hari. Saat jaga malam hari di-atur kadar pemberian caffeine, dan medofinil, dst. Saat tidur sebaiknya dengan lampu tidur yang remang remang, dll. Idem paket B, C dan D yang berbeda-beda [47] tapi semuanya mengupayakan pemulihan stamina lewat resim jaga yang tepat. Nita Lewis mengamati factor PVT (psychomotor vigilance test) yang mengukur seberapa jauh seseorang (dan keberlanjutannya) dalam keadaan siaga, kaitannya dengan lamanya waktu tidur yang terganggu [48]. Dia mendesain dua (2) variabel bebas, yakni skedul jaga dan seksi jaga, guna membandingkan skedul jaga 3-on/3-off dan 6-on/6-off kedalam beberapa kegiatan seperti: skedul tidur, jaga dan siaga (kewaspadaan—menggunakan PVT). Studi di-perairan teluk Persi diatas perusak USS Jason Dunham, sekaligus mencermati effek dari dua resim jaga yakni 3/9 dan 6/6 dengan populasi sebanyak 122 personil. Meskipun kedua resim jaga tersebut memberikan tekanan gangguan tidur, hasilnya resim jaga 3/9 lebih bagus dan lebih banyak menerima jam tidur yang lebih baik dibandingjkan dengan resim jaga 6/6, yakni rata rata 6.46 ± 0.77 jam dibandingkan dengan 5.89 ± .87 jam [49]. Skedul 3/9 lebih baik dalam artian distribusi episode tidur per hari. Mereka yang bertugas dengan skedul 3/9 menerima jam tidur lebih di-siang hari, sedangkan yang kebagian tugas dengan resim jaga 6/6 menerima porsi tidur siang hari sebagai kompensasi kekurangan tidurnya di-malam hari. Dalam arti beban kerja yang di-butuhkan (demand, work load) awak kapal dengan resim 6/6 menerima jam kerja berlebihan, rata – rata 15 jam alokasinya, yang setara dengan 30 % dari alokasi waktu standar yang di-berikan oleh Angk Laut [50].

 

Khusus untuk skor kesiagaan (PVT) ber-beda  variabilitas antara kedua resim jaga tersebut, yakni 6/6 lebih besar variabilitasnya di-bandingkan 3/9 (significant level p< .05) [51].  Analysis aktigraphik [52] menunjukkan bahwa 24.4 % partisipan dari pok 3/9 mengalami ketiduran sesaat (nap sleep) di-banding dengan 45.5 % dari pok resim 6/6 selama periode jaganya. Ketiduran lebih banyak di-laporkan dari pok resim 6/6 selama jaga malam (plus larut malam) [53]. Resim jaga kapal selam diesel elektrik yang lebih kecil seperti  type German 212 atau 214…disarankan untuk tidak menggunakan alternative 1-in-3 straight eights atau 1-in -3 strights fours, lebih baik dengan 1-in-2 (8-4-4-8) atau yang lebih tradisional adalah 1-in-2 (6-6-6-6) [54]. Miller menyarankan 9 prinsip skedul pergeseran jaga, dengan pengertian lebih mendahulukan kualitas system[55]. Prinsip ini terbagi dalam tiga (3) kelompok; stabilitas kirkadian, prinsip chronohygiene (waktu pergantian berikut yang lebih pendek, minimum frekuensi waktu jaga malam, pengembalian kondisi tubuh setlah 8 x jaga malam, maksimal jam week-ends, dll) dan prinsip kepuasan (keadilan, pemerataan, dll). Hasil dari sekian riset diatas kapal permukaan dan kapal selam dijadikan suatu petunjuk Komandan kapal, berikut ini [56].

 

Tulisan pada blok paling atas mengingatkan pada konsep Kirkadian. Tabel ini menjelaskan hubungan antara durasi resim jaga dengan jumlah seksi jaga dan pilihan (2, 3 atau 4 seksi jaga). Hasilnya bisa diihat dari harga dari sisi tegaknya, mulai dari yang terburuk sampai yang terbaik (teratas…shorter—better)[57]…dan hindari apa yang sudah di-peringatkan dalam tabel berikut untuk resim 3/9 dan 5/10 rotasi jaga kirkadian:

 

Tabel di-atas menggambarkan effektifitas (performa kerja) dengan resim jaga (3/9 atau 5/10) dan garis tegak sebelah kanan menunjukkan ekivalensi degan tekanan darah setelah minum beralkohol dalam periode 12 minggu-an.

 

Berikut praktek yang harus di-hindari (perhatikan tulisan dibawah gambar) [58]:

 

Tabel dibawah (berturut-turut) adalah template rotasi kirkadian, yakni 3/9, 6/18, 4/8 dan D5/N3. Setiap rotasi resim jaga, berikut di-jelaskan ciri-ciri dasar, diagram gagasan kerja rutin untuk setiap seksi, dan gambaran lain-nya. Berikut contoh tabel resim jaga 3/9 [59] kirkadian ini:

 

Konsekuensi resim jaga ini:

1.Membutuhkan 4 seksi jaga. Bila seluruh kapal tidak sanggup mendukung 4 seksi,  fokuskan ke statsion control—ke OOD (officer of the decks), EOOW (electronic officer of the watch), TAO (tactical action officer) untuk menyakinkan ada pegambil keputusan setiap saat.

2.Tim mengalami jaga 2 kali seksi jaga yang sama setiap hari (misal: 12- 03,00-03). 3.Ketika merotasikan ke skedul baru, setiap pergeseran menuju rotasi baru dengan memperpanjang jaga dengan 1 jam per hari. Batasi putaran rotasi atau sesuaikan dengan waktu pesiar kepelabuhan sehingga setiap orang tetap memnuhi kuajiban rutinnya. Tiga (3) minggu atau lebih, lebih baik.

4.Lindungi periode tidur dan ingatkan selalu personil untuk tidur minimal 7 jam per hari. 5.Jam makan usahakan agar makanan tetap dalamkeadaan hangat di-semua rotasi. Pertimbangkan juga untuk makan larut malam tetap hangat

…dan contoh tabel resim jaga 6/18 rotasi jaga kirkadian..

 

…dan resim rotasi 4/8 rotasi jaga kirkadian…dalam tabel dibawah ini:

…dan D5/N3…dalam tabel dibawah ini:

…dan akhirnya:

 

Kesimpulan

               Sleep is a Weapon. A Clear Mind is a Combat Edge. Fatigue Increases Operational Risk.

(Ref: NPS, Crew Endurance Handbook: A Guide to Applying Circadian-Based Watchbills).

Tidur-pun menjadi prioritas riset, mengait performa dan ketahanan lama operasi. Obyek riset bagi militer bukan di-area material (teknis) tetapi yang lunak-pun (soft) seperti personil & organisasi jadi bagian para periset. Perangkat pendekatan riset di-bidang taktik, operasi dan strategy bahkan policy-pun memerlukan bantuan statistika[60]—plus bantuan DSS (decision support system) yang mengandalkan algoritma program dengan inject mathematika dan statistika. Banyak sekali potensi untuk diteliti di-bidang personil, semisal prediksi penumpukan Perwira, (given) setiap Angkatan (kelulusan), laju meninggalkan tenur (posisi jabatan, lamanya, dll), jumlah tenur yang tersedia, dll. Lama kepangkatan Bintara atau Tamtama, usia pension yang optimal, jumlah Pwa, Ba, Ta, yang direkrut, termasuk kekuatan cadangan. TNI modern memerlukan transformasi pengetahuan yang modern dan tentu saja akan menoleh kembali kepada strategy dan policy (maunya/obyektif strategy dan policy ke-depan) yang akan menjadi injek kurikulum pendidikan militer mendatang. Riset dibidang personil bisa di-lakukan oleh STTAL, S-1 maupun S-2-nya dibantu dan di-arahkan staff personil dan Dispsychology atau kadet Akademi sebagai latihan…menulis (skripsi).

___________________________________________________________________

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

[1] Stephanie Brown, Panagiotis Matsangas, Nita Lewis Shattuck, Comparison of a Circadian-based and a Forward Rotating Watch Schedules on Sleep, Mood, and Psychomotor Vigilance Performance, OR Department, Naval Postgraduate School, Monterey, CA. Proceedings of the Human Factors and Ergonomics Society 59th Annual Meeting – 2015.

[2] Riset dampak operasi darat banyak di-publikasikan, spt isu PTSD (post-traumatic stress disorder), mulai perang Teluk, Gurun, dst sampai sekarang.

[3] Nita Lewis Shattuck, Panagiotis Matsangas, Comparison of the 3/9 and 6/6 Watchstanding Schedules for Crewmembers of a U.S. Navy destroyer, (Operations Research Department, Naval Postgraduate School, Monterey, CA), halaman 1.

[4] Stephanie Brown, Panagiotis Matsangas, Nita Lewis Shattuck, Comparison of a Circadian-based and a Forward Rotating Watch, Schedules on Sleep, Mood, and Psychomotor Vigilance Performance, … cara-cara traditional membentuk skedul jaga sepertinya tidak memperhatikan (melawan) ritme kirkadian.

[5] Selanjutnya definisi kapal akan merujuk kepada kapal perang.

[6] Jaga tradisional, sama halnya dikapal kapal non-Angk Laut adalah 4 jam jaga, dst kembali lagi jaga 4jam (pada  periode waktu yang sama).

[7] Ltn Matthew T. Yokeley, USN, Effects of Sleep Deprivation on US Navy Surface Ship Watchstander Performance Using Alternative Watch Schedules, (Thesis US NPS, MS in Operations Research, Sept 2012), halaman 2.  Bisa saja diatur satu kapal dengan 2, 3 atau 4 seksi jaga untuk bertugas.

[8] Lt. Col P J. Murphy, DSTO, Australia, Fatigue Management During Operations: A Commander’s Guide, by Lieutenant Colonel P.J. Murphy, DSTO, Australia, hal iii…glossary; …nap sleep  adalah waktu tidur kurang dari 3 jam.

[9] Ibid, hal iii.

[10] Kebetulan beberapa thesis hasil riset mereka di-publikasikan terbuka dan bisa saja menjadi perhatian TNI-AL.

[11] https://en.wikipedia.org/wiki/Watchkeeping

[12] Bila kapal dalam keadaan merapat, maka tim jaga di-sebut jaga darat, sedangan bila berlayar di-sebut perwira jaga laut.

[13] T. Kongsvik & K. Størkersen, The possible impact of different watch keeping regimes at sea on sleep, fatigue, and safety, Conference Paper, June 2011, DOI: 10.1201/b11433-413.

[14] https://en.wikipedia.org/wiki/Watchkeeping..The Royal Navy traditional submarine three watch system is 2 on 4 off during the day (8 a.m. to 8 p.m.) and 3 on 6 off during the night (8 p.m. to 8 a.m.).

[15] Stephanie Brown, Panagiotis Matsangas and Nita Lewis Shattuck, Comparison of a Circadian-based and a Forward Rotating Watch Schedules on Sleep, Mood, and Psychomotor Vigilance Performance, (Operations Research Department, Naval Postgraduate School, Monterey, CA ), Introduction, halaman 1165-1167.

[16] Ibid, halaman 1167.

[17] Ibid, halaman 1168.

[18] Kelley A. Pesch-Cronin, Nancy E. Marion, Critical Infrastructure Protection, Risk Management, and Resilience: A  Policy Perspective, (CRC Press, 2017), halaman 334,..istilah “ketahanan” berarti kapabel untuk bersiap dan beradaptasi dengan kondisi yang berubah dan bertahan dan pulih kembali dengan segera dari gangguan..atau ketahanan mencakup kesanggupan bertahan dan bangun segera akibat terpuruknya, atau rusaknya atau kelumpuhan akibat  serangan yang disengaja, kecelakaan, atau ancaman atau insiden yang terjadi secara alami atau …buatan manusia. Banyak literatur yang menyebut arti ketahanan (resilience)…adalah kesanggupan (ability) bertahan terhadap suatu gangguan atau kondisi yang tidak nyaman.

[19] Cpt John Cordle, USN, A Sea Change In Standing Watch,

[20] Trongha Phan & Roneil Malkani, Sleep and Circadian Rhythm Disruption and Stress Intersect in Alzheimer’s Disease, hal 2.

[21] Nita Lewis Shattuck, PhD & Panagiotis Matsangas, Ph.D, Work and Rest Patterns and Psychomotor Vigilance Performance of Crewmembers of the USS Jason Dunham: A Comparison of the 3/9 and 6/6 Watchstanding Schedules,  Dept OR,US Naval Postgraduate School, Dec 2014, hal 1.

[22]  Adam D. Bramoweth & Anne Germain, Deployment-Related Insomnia in Military Personnel and Veterans, Curr Psychiatry Rep (2013) 15:401, DOI 10.1007/s11920-013-0401-4, halaman 401….PTSD adalah post  traumatic stress disorder.

[23] Nita Lewis Shattuck, PhD & Panagiotis Matsangas, Ph.D, Work and Rest Patterns and Psychomotor Vigilance Performance of Crewmembers of the USS Jason Dunham: A Comparison of the 3/9 and 6/6 Watchstanding Schedules,  Dept OR, US Naval Postgraduate School, Dec 2014, hal 4.

[24] Ritme kirkadian, adalah proses alami, proses internal dalam tubuh manusia yang mengatur siklus tidur-bangun dan berulang setiap 24 jam. Bisa disebut sebagai oscilasi yang terlatih, mengatur sirkulasi mulai bangun, tidur, terjaga, ngantuk, dst.  Kirkadian bisa disebut juga jam (clock) yang mengatur.

[25] Ltn Kevin M Kerno, USN, An Analysis of warfighter sleep, fatigue, and performance on the USS Nimitz (Carrier), (Thesis US NPS, MS in Operations Research, Sept 2014), halaman 48.

[26] Inersia tidur… Kelambanan tidur (juga disebut masih mabuk tidur, belum terjaga betul) mengacu pada periode saat-saat penurunan kinerja dan penurunan kewaspadaan setelah bangun dari periode tidur biasa atau dari tidur siang.

[27] Ibid, halaman….dan Paul Naitoh, et-all, Sleep Inertia : Is There a Worst Time to Wake-Up? (Naval Health Research Center, San Diego)..hal 2…inersia tidur didefinisikan… Sleep inertia is a brief period of inferior task performance and/or disorientation occurring immediately after awakening from sleep. Sleep inertia generally lasts less than 5 min and has no serious negative impact on restarting routine jobs.

[28] Ibid, halaman 39, … the PSQI (Pittsburg Sleep Quality Index), develop in the late of 1980’s, is a validated, self-rated questionnaire that evaluates sleep disturbances over a one-month period of time (Buysse, Reynolds, Monk,Berman & Kupfer, 1989a). The questionaire consists of 19 individual items that are combined to produce seven component scores. The seven component scores are: subjective sleep quality, sleep latency, sleep duration, habitual sleep efficiency, sleep disturbances, use of sleeping medication, and daytime dysfunction.     

[29] Ltn Kevin M Kerno, USN, An Analysis of warfighter sleep, fatigue, and performance on the USS Nimitz (Carrier), (Thesis US NPS, MS in Operations Research, Sept 2014), halaman 49.

[30] Ibid, halaman 48.

[31] Ibid, halaman 57, 58.

[32] Ibid, halaman 60,—

[33] Nguyen J.L, The Effects of Reversing Sleep Wake Cycles on Sleep and Fatigue on the Crew of USS John C Stennis, (Thesis NPS, MS in OR, 2002) atau  periksa  http://hdl.handle.net/10945/4736

[34] Ibid, periksa bab diskusi dan rekomendasi.

[35] Ltn Mansfield C Murph, USN, How Increased Manning Affects Crewmembers Fatugue, Mood, and Sleep Patterns: Results  of a Study Onboard Two US Destroyers, (Thesis NPS, MS in OR, Sept 2019), halaman 13…US Navy Wartime Readiness Conditions. Adapted from Chief of Naval Operations (2017).

[36] Nguyen J.L, The Effects of Reversing Sleep Wake Cycles on Sleep and Fatigue on the Crew of USS John C Stennis, (Thesis NPS, MS in OR, 2002) atau  periksa  http://hdl.handle.net/10945/4736, halaman 65.

[37] Ibid, halaman 66.

[38] Ibid, halaman 66,

[39] Ibid, halaman 66.

[40] Ltn Derek R Mason, USN, A Comparative Analysis Between the Navy Standard Workweek and the work/rest patterns of sailors aboard US Navy Cruisers, (Thesis US NPS, MS in Human System Integration, Sept 2009), halaman 45.

[41] Ibid,

[42] Ukuran tidur bisa kuantitas, kualitas, sedangkan performa lain adalah effesiensi. Apa hubungan-nya antara kualitas tidur dengan effisiensi.

[43] Ltn Kim, Y.Green, USN, A Comparative Analysis Between the Navy Standard Workweek and the Actual WorkRest Patterns of Sailors Aboard US Navy Fregates, (Thesis US NPS, MS in HIS, Dec 2009), halaman v.

[44] Ltn Leonard E. Haynes, USN, A Comparison Between The Navy Standard Workweek and the Actual Work and Rest Pattern Of US Navy Sailors, halaman 33.

[45] Ibid, halaman 47, 48.

[46] M Simons & PJ L Valkview, Sleep and Alertness Management During Military Operations, halaman 3.

[47] Ibid, halaman 33.

[48] Shattuck, N. Lewis & Matsangas, Panagiotis, Work and rest patterns and psychomotor vigilance performance of crewmembers of the USS Jason Dunham: a comparison of the 3/9 and 6/6 watchstanding schedules, (US NPS, Technical Report, 31- 12- 2014), halaman 1.

 

 

[49] Ibid, abstrak,…6.46 ± 0.77, dibaca 6.46 jam rata-rata dengan simpangan baku (standard deviation) kl  0.77 jam.

[50] Ibid, abstrak.

[51] Dalam pengertian statistic dua (2) sampel sulit dibedakan apabila keduanya memiliki variabilitas yang besar, yang baik apabila dua atau lebih sampel memiliki variabilitas kecil.

[52] Pengukuran kegiatan (aktifitas) melalui actigraph di-pergelangan tangan akan mengukur  kejadian aktif tidaknya per periode pengamatan yang didesain.

[53] Shattuck, N. Lewis & Matsangas, Panagiotis, Work and rest patterns and psychomotor vigilance performance of crewmembers of the USS Jason Dunham: a comparison of the 3/9 and 6/6 watchstanding schedules, (US NPS, Technical Report, 31- 12- 2014), halaman 33.

[54] Michel A. Paul, Steven R.Hursh, James C. MillerAlternative SubmarineWatch Systems: Recommendation for a new CF Submarine watch schedule, (Hint: CF = Canadian Forces), Defence R&D Canada (DRDC), Technical Report, DRDC Toronto TR 2010-001, January 2010, ….The mean modeled cognitive effectiveness for all watches within each system were 96%, 96%, 89%, and 66% for the 1-in-3 straight eights, 1-in-3 straight fours, 1-in-2 (8-4-4-8) and the current CF 1-in-2 (6-6-6-6), respectively. Smaller diesel-powered attack submarines have small crews which make it impossible for such boats to operate either the 1-in-3 straight eights or the 1-in-3 straight fours. Essentially, small diesel-powered submarines must employ a 1-in-2 watch system with two syndicates (8-4-4-8, lebih baik, dgn E= 89%) atau (6-6-6-6 dgn E=66%) that work a total of 12 hours each day.

[55] James, C Miller, et-all, al, Effects of Three Watchstanding Schedules on Submariner Psychiology, Performance and Mood, (US NavSubMedRschLab, TR – 1226, March 2003), …

[56] US Naval Postgraduate School, Crew Endurance Handbook, (version 1.0, released 1 Agust 2017),

[57] Ibid,

[58] Ibid,

[59] Ibid,

[60] Suka atau tidak suka, riset militer sebagian besar akan bertumpu pada model model kuantitatif dengan statistika sebagai  bantunya.

Skimlinks Test

0 0 vote
Article Rating

Budiman Djoko Said

View posts by Budiman Djoko Said
Budiman Djoko Said, lahir di Pekalongan, Jawa Tengah 1 Oktober 1946, alumni AAL-XV (1969). Berbagai penugasan sebagian besar dihabiskan di kapal-kapal Armada timur (terakhir Komandan KRI HSN) , dan variasi penugasan dalam rangka latihan baik dengan TNI-AL maupun gabungan dan staf perancang latihan bersama dengan negara-negara sahabat. Penugasan di Pendidikan di Kodikal, AAL dan Seskoal. Pendidikan militer jenjang di Long TAS/India, Diklapa-II, Seskoal, Sesko TNI, dan kursus Sumber Daya Hankam di AS (IDMC). Jabatan terakhir adalah Dan Seskoal. S-1 ditempuhnya di STTAL, progdi Teknik Manajemen Industri. S-2 Program Manajemen DI UPN “Veteran” Jakarta. Sebagai PUREK –III/UPN “Veteran” Jakarta, dan menjabat Rektor selesai tahun 2011. Beliau juga merupakan dosen dan pembimbing aktif di progdi Keamanan Maritim Universitas Pertahanan Indonesia (IDU). Bergabung dengan FKPM (Forum Kajian Pertahanan dan Maritim) di bawah kontrol Asrena KASAL semenjak tahun 2003 sampai sekarang selaku Wakil Ketua merangkap analis.
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x
Share via
Copy link
Powered by Social Snap