PESAN TERSELUBUNG PANGLIMA US PACOM

1. Pendahuluan

Pada tanggal23 September 2005, petinggi US Pacom Admiral William J. Fallon pada suatu wawancara di Australia mengatakan bahwa AS menginginkan langkah yang konkrit di dalam upaya reformasi TNI. Intinya ada beberapa point, yaitu (i) para politisi di Washington sangat prihatin dengan perisitwa tahun 1991 di Timor Timur, yaitu sewaktu unit TNI menembak mati lusinan demonstran, (ii) rakyat AS ingin melihat kinerja nyata, buka sebatas verbal, (iii) ada usaha dari petinggi US Pacom untuk menyakinkan rakyat AS bahwa TNI sudah melakukan upaya yang konstruktif, (iv) pada bulan Februari tahun ini, program latihan singkat yang sudah dilakukan sebagai upaya memperbaiki hubungan dengan Indonesia yang dinilai sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia, (v) kunjungan Presiden RI ke AS dapat membantu mencairkan situasi.

2. Diskusi 

Ada beberapa point yang  dapat ditangkap dari pernyataan tersebut. Yang pertama untuk kalangan militer. Pernyataan tersebut disampaikan pada bulan September 2005, artinya peristiwaSanta Cruz yang terjadi pada tahun 1991, empat belas tahun lalu, masih melekat dalam ingatan masyarakat AS. Kata kuncinya—masih melekat. Standar pemikiran mereka adalah insiden pembantaian tersebut harus ada yang bertanggung jawab dan dihukum. Pada kenyataannya, orang-orang yang dipandang sebagai pihak yang harus bertanggung jawab, sampai saat ini tidak kena jerat hukum. Arahnya adalah adalah para petinggi ABRI waktu itu.

Meskipun secara sepihak TNI sudah mengembangkan Reformasi TNI dan ‘re-reformasi’ lagi, nampaknya upaya tersebut belum memenuhi keinginan atau standar pemikiran pihak Amerika. Dari sudut pandang tersebut, sangat masuk akal apabila pihakKongresASbelum mau menghapus embargo secara keseluruhan, dan dampaknya masih sangat melemahkan kemampuan operasional satuan-satuan TNI sekarang ini. Malahan dalam kasus sederhana, ada seorang pasis Sesko TNI yang ditolak masuk keAustraliakarena termasuk dalam ‘daftar’ yang harus bertanggung jawab terhadap kasus di Timor Timur.

Yang kedua untuk kalangan politisi/diplomat. Kasus tersebut sudah berlalu empat belas tahun tetapi image tersebut masih kental  melekat  dalam   ingatan   rakyat   Amerika (baca: politisi).

Artinya—tidak ada upaya yang signifikan dari pihak politisi dan diplomat untuk ‘menghapus’ image tersebut. Barangkali ada dua hal yang tersembunyi, yaitu memang tidak suka terhadap TNI atau tidak (becus) berperan dengan semestinya.Adadua jalur yang dapat dicermati dan diukur yaitu inisiatif penggalangan oleh unit Indonesia di Washington, dan inisiatif penggalangan unit Amerika di Jakarta. Kalau dalam jangka waktu empat belas tahun tidak ada hasil yang signifikan, maka satu pelajaran yang dapat diambil yaitu, ‘jangan terlalu berharap kepada pihak lain’.

Yang ketiga untuk Angkatan Laut. Dari pernyataan Admiral Fallon, terungkap ada ‘pintu kecil’ yang terbuka di dalam hubungan antar militer. Khususnya didalam latihan (terbatas) dan sedang dijajaki keringanan dalam hal pengadaan suku cadang untuk keperluan transportasi (baca: mobilitas). Singkatnya—ada peluang sekalipun sangat kecil. Jalur yang sudah efektif digunakan adalah navy to navy talk, salah satunya adalah WPNS. Pertemuan WPNS di Bali tahun ini sudah pasti ada pointers yang dapat dikembangkan untuk kepentingan Angkatan Laut. Selebihnya, menjajaki semua jalur yang potensial membuka pintu dan biasanya empat pintu yang dapat digunakan yaitu intelijen, logistik dan operasi. Substansinya akan diskusi tentang lingkungan stratejik yang dapat ‘membaca’ kepentingan  bersama, misalnya maritime terrorism, trans-national crime, atau target lainnya yang mengandung tujuan ganda. Maksudnya ialah, di satu pihak tujuannya untuk mendapatkan bantuan peningkatan capability, dan di lain pihak tujuannya ialah memanfaatkan ‘dukungan’ tersebut untuk ‘mendongkrak’ peran Angkatan Laut yang semakin ‘digerogoti’ oleh pihak lain.

Dari pernyataan Admiral Fallon tersebut, ada hikmah yang dapat disimak oleh Angkatan Laut yaitu, jangan terlalu berharap kepada pihak lain, sebaliknya kembangkan inisiatif melalui semua pintu yang potensial dapat ‘digarap’. Di Jakarta misalnya, ada unit militer Amerika yang dapat digunakan sebagai medium perantara. Selain itu, masih banyak unit unit militer dari negara lain yang potensial ‘digarap’ sebagai alternatif. Modalnya adalah ruang yang cukup nyaman, coffee dan tea, snacks, dan muatannya. Muatan yang tersedia cukup banyak, mulai dari menjelaskan tentang diri sendiri, misalnya kebijakan KSAL, dan seterusnya. Sebaliknya, bisa minta penjelasan tentang kebijakan AS dalam bidang tertentu, sampai pada penjajakan mengenai pandangan yang bersangkutan mengenai suatu hal. Rentang klasifikasi juga terbuka lebar, mulai dari yang kurang sensitif sampai pada yang sensitif. Format diskusi dilaksanakan secara informal, ringan, tidak mengikat atau mewakili institusi, sifatnya ngobrol lepas tetapi secara profesional.

3. Penutup

Demikian kajian ini dibuat untuk digunakan sebagai masukan.

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x
Share via
Copy link
Powered by Social Snap