PILIHAN OPERASI DAN DIPLOMASI PEMAKSAAN

1. Latar Belakang 

Akibat ketersinggungan kepentingan nasional kategori vital, akan memunculkan respon yang cepat. Pelibatan kooperatif (cooperative engagement) sering menemui jalan buntu. Belajar dari isu yang masih belum dingin sama sekali yaitu Sipadan dan Ligitan, betapa cepatnya pemerintahMalaysiamemainkan orkestra nasionalnya. Semua lini instrumen kekuatan nasionalnya memainkan musik dengan nada dan irama yang lebih keras.

Begitu pula Inggris dalam isuFalklands, lebih cantik dalam reaksinya, diplomasi kooperatif tetap jalan, namun seluruh unsur tugas lautnya sudah langsung bergerak dari mana-mana untuk segera bergabung, hitungannya hanya dalam beberapa hari. Bahkan satu kapal selam nuklir serangnya sudah langsung masuk kepulauan Ascension. Demontrasi konsep komando, kendali yang nampak rapi, terlatih dan tidak ada keragu-raguan sama sekali bagi setiap pengambil keputusan. Kegiatan pemaksaan ini tidak sekedar hanya menakut-nakuti. Aturan pelibatan nampak jelas dan kokoh, tidak meragukan komandan di lapangan, seperti melewati lini garis penangkalan, tembak tidak sekedar “usir” begitu saja.

2. Mengapa Pemaksaan 

Manipulasi keinginan instrumen diplomatik dan militer mendemontrasikan betapa kerasnya dampak yang dirasakan oleh yang ditangkal.Lebih keras dari sekedar “diplomacy kapal meriam (gun boat diplomacy)”,seperti yang dilakukan instrumen kekuatan militer.

Bila boleh didefinisikan sebagai strategi pemaksaan(coercive strategy), maka akhir demonstrasi ini adalah bagaimana memanipulasi “manfaat dan biaya” bagi aktor yang ditangkal. Beberapa titik aktor yang ditangkal diharapkan akan menderita, antara   lain: (a)  isu  tentang  penghukuman, yang akan menjamin aktor tersebut menderita kerugian di sektor kependudukan dan perekonomian, (b) mengurangi drastis keuntungan di sektor industri.

Dua contoh sederhana bisa memanipulasikan aktor yang ditangkal degradasi menuju skala negara yang gagal, apabila berlangsung cukup lama dan situasi ini menjadikan isu suhu keamanan nasionalnya menjadi semakin meningkat.

3. Penolakan,Penangkalan Dan EBO 

Menarik mencermati proses manajemen di dalamnya, output berupa respon, reaksi dan sistem pengambilan keputusan nasional aKtor penangkal yang begitu cepat dan teratur. Meskipun nampak provokatif dan memaksa, namun setidak-tidaknya negeri itu (aktor penangkal atau aktor pemaksa) nampaknya tidak mau dicap atau berisiko sebagai pecundang. Format kecepatan pengambilan keputusan itulah yang perlu dipelajari bagi negeri kita.

Baru dua parameter dari opsi penangkalan luwes yang dicontohkan di sini (diplomatik dan militer), sudah merupakan faktor yang menyulitkan para perancang strategik, utamanya militer di lapangan. Misal, bagaimana dengan kapal-kapal yang tidak ada hubungan diplomatik namun membantu negara sasaran? Atau timbul rencana operasi tertutup (covert) yang dilakukan pasukan operasi khusus gabungan (joint special operations forces) untuk menyelamatkan warganegaranya yang ada di posisi sengketa. MayJen Deptula, USAF, menyarankan agar kedua parameter ini bersama-sama komponen instrumen kekuatan nasional lainnya bekerjasama to conduct a national security strategy in depth.

Penangkalan dalam konsep integrasi komponen instrumen kekuatan nasional sudah mengindikasikan bukan lagi domain militer. Definisi penangkalan berawal dari konsep pemaksaan. Definisi Rand Corp, tentang Pemaksaan sebagai berikut: “Coercion is the used of threatened forces, including the limited use of actual force to break-up the threat, to induce and adversary to behave differently than it otherwise would“.

Definisi ini menimbulkan dua kategori Pemaksaan, pertama penolakan (compelence), sebagai suatu  upaya  membalikkan  situasi  yang  sudah  terjadi atau sebaliknya mengembalikan ke status-quo, seperti memaksa kekuatan pendudukan aktor tertentu untuk segera meninggalkan wilayah yang direbut, atau usaha proliferasi agar yang bersangkutan membatalkan rencana produksi senjata non konvensional(nuklir).

Kedua, penangkalan (detterence), kegiatan yang meliput tindakan pencegahan suatu tindakan yang tidak secara materi masuk dalam usaha menduduki negara tetangga atau meyakinkan negara tersebut untuk tidak melanjutkan keinginannya membangun kekuatan senjata non-konvensionalnya. Kedua kateagori yang relatif berbeda, namun dalam pelaksanaannya di lapangan diliput dalam bentangan penangkalan. Alasannya sederhana,yaitu basis tujuannya relatif sama yakni memaksa “sang lawan” untuk menghentikan tindakannya.

Apa hubungannya dengan operasi berbasiskan efek (EBO)? EBO terdefinisi sebagai suatu metodologi untuk merancang, melaksanakan dan menilai operasi (yang didesain untuk mencapai efek yang tertentu/terukur) yang dibutuhkan untuk mencapai “outcomes” strategi keamanan nasional. Konsep ini diawali dari basis pemikiran tentang efek(Effect-Based Thinking). Lengkapnya pemikiran basis efek ini sebagai menekankan jejaring tindakan terpadu antara semua lini instrumen kekuatan nasional dan selalu fokus pada implikasi dan konsekuensi efek setiap saat.

Implikasi dan konsekuensi ini akan tetap mengacu kepada “outcomes” strategi keamanan nasional. Kata strategi keamanan nasional menunjukkan posisinya berkepentingan terhadap strategi raya (grand strategy). Sedangkan kalimat mencapai “outcomes” strategi keamanan nasional artinya memberikan nuansa, EBO bisa dilaksanakan di tingkat strategik bahkan strategi raya. Konsekuensinya menuntut suatu integrasi operasional seluruh instrumen kekuatan nasional.

4. Kesimpulan 

Ada hubungan erat antara penangkalan,pemaksaan dan EBO sendiri. Hubungan ini merupakan akibat langsung perubahan kerangka pikir rancangan strategik. Perubahan  tersebut  banyak  disebabkan  oleh  faktor-faktor  antara   lain seperti tipisnya perbedaan antara perang dan damai, isu  domestk versus isu luar negeri, ancaman asimetrik oleh aktor-aktor “non-negara” plus minus aktor kejahatan transnasional,penegakkan hukum domestik dan keamanan nasional. Semua ini semakin menyulitkan muatan strategi-strategi nasional—rumusan strategi bergeser menjadi:

Di sisi lain kebutuhan penyatuan usaha (unity of effort) antara dua atau lebih instrumen kekuatan nasional bagi setiap pemerintahan mutlak diperlukan guna menyusun muatan kebijakan nasional guna menuju orkestra nasional apabila diperlukan.

Penyatuan usaha dan tindakan selanjutnya amatlah sangat memerlukan “isyarat” derajad atau tingkatan keamanan nasional (level of national security), lantas siapa yang menciptakan penilaian setiap saat derajat keamanan nasional ini,agar ditindak lanjuti dengan tindakan yang tepat? Fakta seperti ini sekurang-kurangnya sudah mendemonstrasikan konsep penangkalan bukan lagi domain militer saja atau strategi militer.

Cukup banyak isu strategik yang menghambat  tercapainya sasaran strategi keamanan nasional, barangkali sudah waktunya bagi TNI sebagai salah satu instrumen kekuatan nasional untuk menjadi “leading-actor” membangun prakarsa dan melatih instrumen kekuatan nasional lainnya dalam soal penangkalan. Sosialisasi awal dengan cara pemberian  kesempatan kandidat elit non-TNI untuk bergabung dalam pendidikan TNI, AD, AL dan AU mulai tingkat Selapa sampai dengan Sesko Angkatan dan Sesko TNI, sebagaimana telah dilakukan negara lain.

Harapannya di masa mendatang jalinan kohesif melakukan “orkestra nasional” lebih terjamin. Seperti halnya di negeri lain, militer selalu menjadi kebenaran acuan manajemen bagi elit lainnya—-Revolusi urusan militer (RMA), tidak ada salahnya kita mulai belajar banyak tentang lingkungan strategik dan sistem pengambilan keputusan nasional dinegara maju. Akhirulkalam bahasan di atas mendemonstrasikan pertanyaan besar bagi negeri ini, sudahkah kita berorkestra dengan baik……dan bagaimana solusinya?

5. Penutup

Demikian kajian ini dibuat sebagai bahan masukan.

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x
Share via
Copy link
Powered by Social Snap