POLITIK LUAR NEGERI INDONESIA 2014-2019

POLITIK LUAR NEGERI INDONESIA 2014-2019
Amelia Rahmawaty S. H. Int

Kata Pengantar
Pasca diajukannya Visi-Misi Capres/Cawapres oleh masing-masing kandidat bulan lalu kepada Komisi Pemilihan Umum (KPU), perdebatan dari berbagai kalangan menguak. Baik dari kalangan masyarakat, anggota partai, hingga tentu saja politikus. Bahasan yang dibicarakan pun beragam. Mulai dari hal sepele seperti mengenai jumlah halaman, sampai kritik-kritik cerdas yang menguji kerasionalitasan pemilih terhadap Capres/Cawapres 2014-2019 nanti. Visi-Misi Capres/Cawapres ini tidak hanya menjadi sorotan nasional, tetapi juga hingga level internasional. Banyak think-tanks (wadah pemikir) dan majalah-majalah luar yang mengangkat analisa mengenai visi misi tersebut dengan cara membandingkan satu dengan yang lainnya.
Sebagai analis pertahanan keamanan maritim, penulis pun tertarik untuk menganalisa visi misi tersebut. Dan sesuai dengan latar belakang akademik yang dimiliki penulis, maka penulis akan mengangkat analisa mengenai politik luar negeri Indonesia lima tahun mendatang melalui perbandingan visi misi kedua capres/cawapres. Tulisan ini diharapkan tidak diinterpretasikan sebagai ajang kampanye, melainkan semata-mata sebagai informasi/pengetahuan yang mudah-mudahan bermanfaat bagi para pembaca sebelum negara ini dihadapkan pada Pemilihan Presiden 9 Juli 2014 mendatang.

 

Pendahuluan: Politik luar negeri Indonesia dari Masa ke Masa
Sejatinya, pelaksanaan politik luar negeri selalu diabdikan kepada kepentingan nasional. Dan sebagaimana kepentingan nasional, politik luar negeri memiliki ciri khas tersendiri dari masa ke masa. Idiosinkretik pemimpin bukan satu-satunya faktor yang menentukan politik luar negeri, dinamika yang sedang terjadi di dalam dan luar negeri adalah faktor yang memengaruhi arah politik luar negeri. Bagaimana negara bereaksi terhadap suatu isu global atau kejadian-kejadian dewasa ini harus selalu mempertimbangkan untung rugi bagi kepentingan nasional. Persepsi yang cerdas dan bijak diperlukan untuk menghindari kesalahan tafsir pembuat kebijakan yang dapat mengakibatkan melencengnya kebijakan luar negeri dari kepentingan nasional.
Sejak masa kepemimpinan Soekarno hingga Susilo Bambang Yudhoyono, prinsip politik luar negeri Indonesia selalu bebas-aktif. Yang berbeda adalah kebijakan luar negeri dari masing-masing pemimpin. Politik luar negeri pada masa kepemimpinan Soekarno lebih banyak ditujukan untuk memperoleh pengakuan internasional. Hal ini berkaitan dengan status Indonesia yang saat itu baru saja merdeka. Selain itu, berkaitan dengan sejarah panjang dan menyakitkan antara Indonesia dengan kolonialisme, politik luar negeri Indonesia juga diwarnai oleh penentangan negara ini terhadap segala bentuk kolonialisme di dunia. Untuk itu, ketika Malaysia berencana membentuk Federasi Malaysia dibawah kontrol Inggris, Soekarno memberikan reaksi yang sangat keras. Pembentukan persekutuan tersebut dianggap sebagai neokolonialisme di kawasan Asia Tenggara. Jika terbentuk, berarti kontrol Inggris bertambah di kawasan Asia Tenggara, sehingga dapat mengancam kedaulatan Republik Indonesia.
Sejarah kelam kolonialisme juga membawa Indonesia pada arah politik luar negeri yang bebas-aktif. Dijajah selama berabad-abad membuat bangsa Indonesia menolak segala upaya yang hendak mengkolonialisasi mereka lagi, entah itu dari dominasi ekonomi maupun ideologi (Hatta, 1953). Pada saat Indonesia dipimpin oleh Soeharto, Indonesia berfokus pada pembangunan nasional. Kebijakan luar negeri Soeharto kemudian diarahkan untuk memperlancar pembangunan nasional, antara lain dengan cara membangun hubungan baik dengan negara-negara barat dengan tujuan mendapat bantuan luar negeri, dan membuka banyak peluang bagi investor asing.
Beralih pada masa kepemimpinan B.J.Habibie, beliau dihadapkan dengan tuntutan penyelesaian masalah HAM oleh pihak internasional, termasuk pula negara tetangga, Australia. Isu HAM ini pada kemudian hari yang menjadi salah satu faktor penyebab lepasnya Timor Timur (Leste) dari negara kesatuan Republik Indonesia. Ketika Abdurrahman Wahid memimpin, ia banyak melakukan kunjungan ke luar negeri dengan tujuan meningkatkan citra Indonesia di dunia internasional. Pada masa kepemimpinan Megawati, kebijakan luar negeri banyak diarahkan pada pemulihan ekonomi dalam negeri dan menjalin hubungan erat dengan Amerika Serikat pasca peristiwa 9/11. Terakhir ini, pada masa kepemimpinan SBY, kebijakan luar negeri Indonesia mengarah pada pembangunan citra positif Indonesia antara lain melalui menjadi tuan rumah forum-forum internasional dan banyak melakukan kerjasama, serta memberi peluang bagi investor asing di Indonesia. Lalu, bagaimana dengan politik luar negeri empat tahun mendatang?

 

Arah Politik Luar Negeri Indonesia 2014-2019
Hanya terdapat dua kandidat yang maju pada Pilpres 2014-2019. Kampanye sudah dimulai sejak 4 Juni hingga 5 Juli mendatang. Jika diperhatikan, arah kebijakan luar negeri Indonesia empat tahun mendatang tidak banyak dikampanyekan oleh dua kandidat. Kampanye kebanyakan berfokus pada penyelesaian masalah domestik, terutama seputar kesejahteraan rakyat, korupsi, dan infrastruktur. Sebagai negara berkembang, fokus terhadap masalah domestik adalah wajar. Indonesia masih membutuhkan banyak pembenahan di dalam. Meskipun Indonesia aktif menjadi tuan rumah forum-forum internasional di bawah kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono, namun nampaknya masyarakat masih lebih tertarik dengan isu domestik dibandingkan internasional.
Padahal, sebagai negara berpenduduk terbesar di Asia Tenggara, pemimpin ASEAN secara de facto, negara muslim demokrasi terbesar di dunia, dan negara yang berlokasi di persimpangan dunia, kebijakan luar negeri Indonesia banyak mendapat sorotan dari negara-negara luar. Misalnya, jika kebijakan ekonomi Indonesia meningkatkan hambatan tarif ataupun non-tarif, akan mempersulit para investor asing yang ingin membangun bisnis di Indonesia padahal Indonesia adalah pasar yang besar. Indonesia, tanpa banyak bertingkah pun, akan selalu menjadi perhatian dunia.
Dua debat calon presiden yang telah dilalui beberapa waktu lalu pun belum sempat mengangkat tema politik luar negeri Indonesia kedepannya. Sehingga, gambaran yang didapat masih kurang jelas. Baru pada debat ketiga yang dilaksanakan pada 22 Juni 2014, KPU mengangkat tema mengenai Politik Internasional dan Ketahanan Nasional. Debat ini menarik sebagai referensi penulis dalam menganalisa politik luar negeri Indonesia dibawah masing-masing kandidat karena kubu Prabowo/Hatta bahkan hanya menuliskan satu poin yang amat singkat mengenai arah politik luar negeri mereka. Sehingga, dibutuhkan referensi lain untuk memahami arah politik luar negeri Prabowo/Hatta.
Namun demikian, mari kita ketahui terlebih dahulu visi/misi politik luar negeri masing-masing kandidat. Pada poin terakhir dari visi/misi Prabowo/Hatta, diungkapkan bahwa kandidat ini akan melaksanakan politik luar negeri yang bebas aktif, tegas dalam melindungi kepentingan nasional, dan menjaga keselamatan rakyat Indonesia di seluruh dunia, dan meningkatkan peran serta Indonesia dalam menjaga ketertiban dan perdamaian dunia. Pada perkembangannya, diketahui bahwa, Prabowo/Hatta tidak akan melakukan perubahan dari periode kepemimpinan sebelumnya untuk bidang politik luar negeri. Mereka akan melanjutkan politik luar negeri ala Presiden SBY yang mengusung prinsip million friends zero enemy. Sedangkan politik luar negeri Jokowi/JK akan dilaksanakan dengan penekanan pada empat prioritas utama; (1) Mengedepankan identitas maritim dalam pelaksanaan diplomasi dan kerjasama internasional, (2) meningkatkan peran global melalui diplomasi middle power, (3) memperluas mandala keterlibatan di kawasan Indo-Pasifik, (4) memperkuat diplomasi publik.

Maaf untuk membaca full akses konten dalam format post artikel silahkan terlebih dahulu mendaftar sebagai anggota milist FKPM –> D A F T A R

0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
2 Comments
Newest
Oldest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
dimas
dimas
4 years ago

welldone mbak!

kupyanto
kupyanto
5 years ago

Good paper.

Scroll to top
2
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x
Share via
Copy link
Powered by Social Snap