POSISI INDONESIA DALAM KONTEKS RIVALITAS CINA-AMERIKA SERIKAT PASCA PERANG LEBANON

1. Pendahuluan 

Cina kini tumbuh sebagai kekuatan regional di bidang politik dan ekonomi yang memiliki aspirasi global. Banyak pihak memprediksikan dalam 20 tahun ke depan Cina akan menjadi kekuatan global baru di percaturan baru yang akan mempengaruhi secara signifikan percaturan hubungan antar bangsa. Sebagai kekuatan regional yang memiliki aspirasi global, salah satu isu vital yang dihadapi Cina saat ini dan ke depan adalah perkembangan lingkungan strategis yang mempunyai keterkaitan dengan isu stabilitas keamanan dunia.

Dibandingkan dengan kemajuan yang dicapai Cina dalam bidang politik dan ekonomi, boleh dikatakan bahwa kemajuan pencapaian militer agak tertinggal di belakang. Tidak mengherankan bila Cina saat ini tengah mendorong penerapan Revolution in Military Affairs (RMA) setelah melihat unjuk kekuatan militer Amerika Serikat pada Perang Teluk 1990-1991. Selain melakukan impor teknologi dari Rusia, Cina juga aktif mengembangkan teknologi militer dalam negeri.

Salah satu isu perkembangan lingkungan strategis yang menjadi perhatian Cina adalah isu keamanan maritim di kawasan Asia Pasifik. Cina sangat berkepentingan untuk melindungi SLOC dan sumber daya maritimnya, khususnya yang berada dalam ”first islands chain” dan “second islands chain”. Dikaitkan dengan pasca PerangLebanon, ada kekhawatiran yang sangat dari Cina akan keamanan SLOC-nya di kawasan, terlebih khusus di Asia Tenggara. Naskah ini akan membahas tentang posisi Indonesia dalam konteks rivalitas Cina-Amerika Serikat pasca Perang Lebanon.

2. Keamanan SLOC 

Saat ini Cina tengah memperluas pengaruhnya ke seluruh dunia, khususnya ke kawasan Asia Pasifik melalui apa yang dikenal sebagai China’s Soft Power Diplomacy. Perluasan tersebut menggunakan pendekatan politik dan ekonomi, seperti tercermin dengan keterlibatan aktif Cina dalam beberapa forum dan isu di kawasan seperti APEC, ASEAN+3 dan Pembicaraan Enam Pihak menyangkut program nuklir Korea Utara. Di samping itu, Cina juga aktif memberikan bantuan ekonomi kepada negara-negara berkembang.

Dalam isu keamanan internasional, seringkali sikap politik memiliki warna yang berbeda dengan Amerika Serikat. Seperti diketahui, Amerika Serikat secara de facto adalah pendukung Taiwan, meskipun secara resmi tak mempunyai hubungan diplomatik dengan Taiwan. Hal ini dipandang Cina sebagai penghalang dalam upayanya melakukan reunifikasi Cina-Taiwan dalam formula One Country, Two Systems.

Sikap politik yang berbeda itu terlihat misalnya dalam isu keamanan maritim, PSI dan nuklir Korea Utara dan Iran. Selain karena isu Taiwan,  Cina memang tak ingin Amerika Serikat mendominasi isu keamanan dunia. Sikap Cina yang demikian tak ayal membuat Amerika Serikat menganggapnya sebagai strategic rival.

Pasca Perang Lebanon, terlihat bahwa sikap politik Amerika Serikat terhadap isu proliferasi senjata pemusnah massal kian keras. Hal itu antara lain terkait dengan kasus tertembaknya kapal korvet Israel INS Ahi Hanit di lepas pantai Lebanon oleh gerilyawan Hisbullah menggunakan rudal C-802 asal Cina. Mengerasnya sikap politik Amerika Serikat itu terlihat dalam Sidang Menteri Keuangan APEC 8 September 2006 di Hanoi, di mana Menteri Keuangan Amerika Serikat meminta negara-negara APEC membekukan rekening Korea Utara yang dicurigai digunakan sebagai sarana untuk membantu transaksi proliferasi senjata pemusnah massal.

Seperti diketahui, Cina selama ini mengekspor senjatanya ke Timur Tengah, khususnya  Iran  dan  Suriah dengan  menggunakan   kapal   berbendera  Korea Utara sebagai pengangkutnya. Cina adalah negara sekutu Korea Utara dan menjadi donatur utama ekonomi Korea Utara. Cina pula yang membantu Korea Utara agar tidak dipojokkan oleh Amerika Serikat dalam isu nuklir.

Cina adalah salah satu negara yang tak setuju dengan PSI yang digagas oleh Amerika Serikat. Dari sudut pandang Cina, PSI secara tidak langsung ditujukan untuk mengawasi ekspor senjata Cina ke kawasan lain di dunia dan sekaligus dapat digunakan sebagai alat untuk mencekik ekonomi Cina. Seperti diketahui, Cina adalah konsumen minyak terbesar kedua dan importir minyak terbesar ketiga di dunia. Meskipun Cina kini tengah berupaya untuk mengurangi ketergantungan pasokan minyak dari Timur Tengah dengan mencari ladang baru di Asia Tengah, namun hal itu belum merubah secara signifikan pasokan minyak dari Timur Tengah.

 

Jalur pasokan minyak Cina

Pada tahun 2004, lebih dari 80 persen impor minyak mentah Cina melintasi Selat Malaka dan kurang dari 2 persen melintasi Selat Lombok. Oleh karena itu, tidak mengherankan bila Cina sejak beberapa tahun terakhir aktif melakukan pendekatan kepada beberapa negara Asia Tenggara. Khusus Selat Malaka, Cina sangat tidak menginginkan adanya kekuatan militer Amerika Serikat yang bercokol di selat itu, karena dapat mencekik SLOC Cina. Sementara secara militer, kemampuan Angkatan Laut Cina untuk menggelar long distance naval operation masih sangat diragukan, meskipun setiap tahunnya adalah flotila Cina yang melakukan muhibah ke beberapa negara Asia Pasifik.

Pasca Perang Lebanon, Cina aktif melakukan pendekatan ke negara-negara yang dilewati oleh SLOC-nya untuk mengukur sikap politik masing-masing negara terhadap berbagai isu keamanan maritim, utamanya PSI. Pendekatan yang dilakukan Cina menggunakan jalur resmi (first track diplomacy) yaitu melalui G to G dan jalur tidak resmi (second track diplomacy) yakni melalui pertemuan/dialog antar lembaga kajian strategis.

3. Hubungan Indonesia-Cina 

Pada 25 April 2005, PresidenRIdan Presiden Cina menandatangani RI-PRC Joint Statement on Strategic Partnership. Salah satu bidang kerjasama dalam Kemitraan Strategis Indonesia-Cina di bidang pertahanan. Sebagai realisasi dari kemitraan strategis di bidang pertahanan, pada Juli 2006 di Jakarta dilangsungkan RI-PRC Bilateral Defense Dialogue untuk yang pertama kalinya. Dialog ini lebih sebagai perkenalan dan saling menjelaskan posisi masing-masing pihak dalam berbagai isu keamanan kawasan. Salah satu kesepakatan akhir dalam dialog adalah dilanjutkannya dialog serupa tahun depan dengan Cina sebagai tuan rumah.

Salah satu butir penting yang hendaknya dicermati dari dialog itu adalah sikap Cina yang hendak merangkulIndonesiadalam pengamanan SLOC-nya, khususnya di Selat Malaka. Seperti diketahui, Indonesia merupakan salah satu negara  pantai yang  menolak  dengan keras keterlibatan kekuatan ekstra kawasan untuk mengamankan langsung selat itu. Sikap demikian nampaknya sejalan dengan pandangan Cina yang tidak menghendaki masuknya kekuatan ekstra kawasan (baca: Amerika Serikat) ke Selat Malaka.

Ke depan, nampaknya Cina akan terus berupaya untuk merangkul Indonesia dalam berbagai isu keamanan kawasan. Tantangannya adalah bagaimana Indonesia menyikap hal itu, karena Indonesia juga harus memperhatikan sikap politik Amerika Serikat. Sebagaimana halnya Cina, Amerika Serikat juga berupaya untuk merangkul Indonesia kembali, seperti yang dicerminkan dengan pencabutan embargo militer tahun lalu

4. Pilihan Sulit 

Dalam hubungan Indonesia-Cina dikaitkan dengan isu keamanan maritim dan proliferasi senjata pemusnah massal, penting untuk menghindarkan agar Indonesia tidak menjadi pelanduk di antara dua gajah yang sedang bertarung. Baik Amerika Serikat maupun Cina sama-sama memandang penting dan krusial posisi geopolitik Indonesia. Dengan kondisi demikian, Indonesia berada pada pilihan sulit karena opsi yang tersedia tidak banyak.

Pada sisi lain, Indonesia kian intensif melakukan kerjasama di berbagai bidang dengan Cina, termasuk bidang pertahanan. Menurut hemat FKPM, kerjasama di bidang pertahanan dengan Cina perlu dilakukan dengan cara yang smart sehingga tak mengundang kecurigaan dari Amerika Serikat. Pada dasarnya, ada banyak peluang yang dapat dipetik dari Cina guna memperkuat pertahanan Nusantara.

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x
Share via
Copy link
Powered by Social Snap