RANCANG BANGUN RUANG PERTAHANAN

Membangun ruang pertahananan nasional, dapat didekati dengan cara yang sangat rasional, yakni memperhitungkan ruang dan mobilitas kandidat lawan/musuh, memperhitungkan respons segera, memperhitungkan keterbatasan penggunaan komunikasi dan data-link. Pemetaan konsep koordinator pertahanan gabungan dengan membagi dalam (mulai dari dalam keluar) pertahanan titik atau lokal, area pertahanan (area defense) serta pengamatan pertahanan (surveillance defense). Dan kriteria gabungan (jointneess) mutlak menjadi ukuran utama.

1. Memperhitungkan ruang dan mobilitas kandidat lawan[1] dan versus bicara tentang actor militer suatu negara, hampir dipastikan kecil sekali peluangnya.[2] Oleh karena itu standar posisi geografis major theater war seperti yang pernah dilakukan NATO dengan 2 major theater war, sekarang mengecil berubah menjadi 2 medium scale conflict.[3] TNI dalam dokumen strategiknya pernah menetapkan juga 2 atau 3 trouble spot yang simultan mungkin saja meniru standar NATO tersebut, namun tanpa rasionalisasinya, utamanya berujud posisi geographic yang tidak jelas di mana?

Kalau kekuatan militer asing peluangnya kecil, maka degradasi ancaman akan lebih kohesif ke arah MSC atau SSC (small scale conflict). MSC atau SSC akan lebih banyak disebabkan  dan dilakukan  tidak  langsung  oleh state-actors (rouge–state) dan non-state actor serta membentang mulai kejahatan transnasional, lintas batas peyelundupan wanita/anak, senjata ringan, narkoba, dan lain-lain. Tidaklah dipungkiri profil ancaman di negeri ini, hampir dipastikan akan lebih banyak melalui media udara atau laut, dan berpikir efisien pengancam akan lebih banyak menggunakan media laut.

2. Memperhitungkan respons segera, di dunia manapun juga kekuatan Angkatan Laut akan lebih banyak melibatkan diri. Khususnya di negeri ini dengan luas area dan pintu masuk yang begitu banyak, maka perimeter pertama adalah di laut. Artinya peluang untuk mendeteksi awal akan lebih banyak selama pengancam berada di laut. Sebaliknya instrumen kekuatan nasional di laut dalam hal ini Angkatan Laut akan langsung melibatkan diri versus pengancam tersebut (berlaku dan bertindak sebagai  On Scene Commander atau Contact Area Commander) yang biasanya langsung memutuskan untuk bertindak dengan AP  (aturan pelibatan) yang jelas.

3. Keterbatasan penggunaan komunikasi, salah satunya yang menciptakan dokrin bagi Satgas Laut untuk tidak dibebani dengan harus menjawab pertanyaan dari komando di darat. Cara ini sama saja dengan membunuh Satgas tersebut  dengan kata lain serta merta memberikan posisi satgas kepada lawan.[4]

4. Teoritik membagi koordinator pertahanan dalam pertahanan area dengan seorang coordinator sebagai pemegang kendali. Area ini dipilih berdasarkan ruang yang diprediksi akan terjadi pelibatan besar dan luas atau awal pelibatan. Area ini ditetapkan oleh Panglima TNI dan ditentukan seorang Komandan atau Panglima (commander in chief) sebagai koordinatornya. Sebaiknya Panglima area ini adalah seorang yang mengenal  betul geografisnya, artinya kalau wilayah laut dan udaranya lebih luas, sebaiknya dari korps laut atau udara. Kewenangan komando akan lebih banyak terjadi dalam liputan control taktis (tactical control) dan atau kontrol operasional (operational control), tergantung kondisi taktis yang diisyaratkan bukan kontrol komando (command control). Ujung jari-jari lingkaran pertahanan area ke arah luar sama panjangnya dengan jarak tempuh unsur intai baik kapal atau Pesud, area ini disebut wilayah pengamatan (surveillance area). Geometrik gambaran wilayah pertahanan secara lengkap sebagai berikut:

a.  Sebagai titik pusat adalah posisi koordinator pertahanan wilayah atau area.
b. Dari titik tersebut lingkarkan jari-jari yang sama panjangnya dengan jarak tempuh sista pertahanan yang terpendek bisa dilakukan oleh unsur pertahanan titik atau lokal.
c. Dari titik pertahanan lokal, lingkarkan jari jari yang panjangnya sama dengan jari pertahanan lokal ditambah jarak maksimum yang bisa dilakukan unsur udara atau laut yang diprediksi akan melibatkan diri dalam pertempuran laut dan pertempuran udara. Ruang antara pertahanan lokal dan lingkaran teluar adalah ruang pertahanan area atau wilayah.
d. Dari titik terluar lingkaran ukur jari yang sama panjangnya dengan jaak maksimum sensor pengamatan baik laut atau udara (mana yang lebih panjang ).

Kesimpulan

Geometrik model pertahanan yan membagi ruang dari pertahanan titik atau lokal, pertahanan area dan wilayah pengamatan merupakan konsekuensi logic ruang pertahanan. Oleh karena gambaran tersebut akan dihadapkan terhadap aksis peluang datangnya pengancam konflik, maka sewajarnya wilayah pertahanan nasional dibagi dalam tiga area besar yakni barat, tengah dan timur. Barat konsentrasi ke Samudera Hindia, Selat Malaka dan Laut China selatan, tengah jalur ALKI Tengah, ke utara Mindanao dan Philipina, sedangkan Timur mengawasi perairan  Aru , wilayah Maluku dan Irja.

Artinya ada tetapan 3 area konflik (MSC atau SSC) yang diprediksi dengan kejelasan geographic sebagai focus shaping, respond dan preparenya.[5] Pertahanan titik akan lebih banyak bertumpu kepada pertahanan pantai dan darat (Land combat/Urban warfare), sedangkan pertahanan wilayah atau area akan banyak melibatkan unsur tempur laut (Battle–group) sedangkan wilayah pengamatan akan lebih banyak melibatkan unsur patroli maritim dan intai strategis. Sebaiknya unsur Patmar yang ideal dilengkapi sensor dan sista AKS dan AKP sedangkan unsur intai srategik dilengkapi dengan rudal anti Pesud dan anti kapal permukaan jarak jauh.

Namun secara politik, pernyataan TNI membagi daerah pertahanan dalam 3 dimensi penugasan tersebut (titik, area dan pengamatan) akan memberikan kejelasan bagi negara lain. Sekurang-kurangnya TNI telah menatamedanjuangnya untuk menjawab strategi pertahanan nasional dan strategi militer nasionalnya. Konsekuensinya hitung saja untuk kebutuhan pertahanan titik, pertahanan area atau wilayah dan wilayah pengamatan di tiga MSC atau SSC sudah cukup besar. Justru kiat untuk membagi wilayah pertahanan seperti ini akan memperkuat posisi TNI di mata dunia, sangatlah beralasan untuk memodernisasi kekuatan TNI dalam liputan gabungan.

[1]. Lawan (adversaries), di era sekarang ini merentang dari kekuatan militer suatu negara (state’actors) sampai dengan non-state actors.
[2]. Kekuatan super power dan koalisinya begitu besarnya, ditambah sanksi internasional dan tekanan instrumen kekuatan internasional semakin memperkecil peluang ambisi suatu negara untuk ekspansi. Konsep perang sekarang bukan ekpansi terhadap negara akan tetapi lebih kepada eleminir “sang pemimpin besarnya” (kill the enemy leaders) sehingga lebih effisien.
[3]. Standard 2 MTW NATO pra Perang Dingin (daratan Eropah) dan Pasific membagi 2 komando wilayah, daratan Eropah dipimpin Marines atau Army, sedangkan Pacific karena wilayah laut dan udara lebih luas dipimpin Udara atau Angk Laut. Pascaperang dingin menjadi 2 MSC, yakni di Timur Tengah dgn sentranya Irak dan Semenanjung Korea. Posisi yang jelas akan membantu para Kas Staf  gabungan dan Kas masing-masing untuk membangun kekuatan melalui 3 parameternya yakni shaping, respond dan prepare-nya lebih konkrit, jelas dan kokoh.
[4]. Pancaran TX via HF, sangat mudah disadap siapapun juga (sifatnya yang random ke segala arah dan berjarak capai sangat jauh), meskipun di sandipun, pengalaman Perang Dunia dengan cara manual, banyak operasi Jerman dan Jepang yang terbongkar, apalagi sekarang dengan mesin komputer kecepatan tinggi. Tidak lazim bagi Satgas di laut untuk mengirimkan bra radio kepada Komando di darat, kecuali sangat emergencies sekali (prosedur jangan jawab)à”fire and forget” bagi Satgas Laut yang lepas dari dermaga.
[5]. Parameter shape, responds, dan prepare for tomorrow menjadi 3 parameter strategi militer nasional US maupun NATO selama lebih dari dekade ini. Konsep ini barangkali bisa diadop sebagai parameter pembangunan kekuatan dan penggunaan kekuatan gabungan TNI.

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x
Share via
Copy link
Powered by Social Snap