Seramnya Laut Tiongkok Selatan (LTS) (BAG II)

Oleh: Budiman Djoko Said

US NDU (National Defense University) menawarkan suatu model kuantitatif sederhana tentang aksi, reaksi dan kategori aktor yang terlibat isu LTS, selama waktu 1995-2013. Dalam enam (6) tahun saja, pertikaian di LTS tercatat sudah ada aksi diskrit sebanyak 1200 kali, terbagi dalam sembilan (9) kategori dengan taktik masing-masing per kategori sehingga melibatkan total 39 kegiatan taktis yang berbeda[1]. Kategori tersebut adalah:aksi paramiliter[2], militer, ekonomik, diplomatik (+ diplomasi koalisi), manajemen pertikaian, legal, informasional, dan administrasi. Setiap kategori aksi memiliki unik taktik pencapaian. Misal aksi paramiliter (bukan militer formal) dengan lima (5) taktik, pertama; penggunaan sista letal (lethal/mematikan)~PM1, kedua; pergerakan menuju teritori pertikaian~PM2, ketiga; pergerakan sebagai respons terhadap pergerakan rival-nya~PM3, keempat; perkuatan terhadap kekuatan yang sudah hadir~PM4, dan kelima; pergerakan keluar dari teritori pertikaian~PM5 [3].

Aksi militer (relatif) sama dengan aksi paramiliter yang membaginya masing masing dalam lima taktik dari M1,M2,…sampai dengan M5 [4], masing masing relatif dengan kegiatan yang sama dilakukan oleh militer maupun oleh paramiliter.  Aksi ekonomik (E) merefleksikan ketrampilan aktor yang berusaha mempengaruhi rival-nya. Aksi ini bisa didistribusikan dalam bentangan mulai dari sanksi yang keras terhadap rival~E1 sampai dengan E4. Aksi berikut yakni aksi legal (L) yang terdistribusi dalam lima (5) taktik dari L1,L2,…L5 dan aksi berikut adalah aksi internasional (I) yang terbagi dalam tiga (3) taktik~I1,I2, dan terakhir adalah I3 sebagai taktik medsos internasional. Aksi administrasi (A) yang terbagi dalam tiga (3) taktik,A1,A2…dan A3 [5] adalah pertanggungan jawaban yang dibebankan kepada unit militer atau paramiliter untuk melaksanakan penegakan hukum dan kedaulatan negara. Perolehan dari sumber terbuka ini bisa saja tidak riil baik frekuensi aksi maupun taktik dengan alasan rahasia. Aksi dan taktik ini sangat mungkin subyektif dan masih jauh dari “fairness” mengingat Tiongkok selalu ingin menghindari agenda multilateral dan selalu mengajak bilateral saja[6] . Gambar 1 (fig #1) dibawah ini menunjukkan bahwa Tiongkok [7] tidak hanya menggunakan kekuatan militer & paramiliter guna menekan rival-nya namun mengutilisasikan [8]aksi ekonomi, aksi legal, aksi informasi (strategi komunikasi), aksi administrasi dan aksi diplomatik yang penuh semangat dan keras untuk mempertahankan klim teritorinya. Data yang dipetakan-pun dipercayai agak bias [9]. Alasannya kegiatan Tiongkok (maupun negara lain) militer maupun paramiliter tingkat kemudahan akses khususnya kategori aksi dan taktik yang tertutup (overt) hampir pasti sulit didapat. Gambaran total aksi selama periode 1995-2013 seperti dibawah ini:

total action

Dalam aksi Ekonomi, Tiongkok diklasifikasikan mahir melakukan dan ditandai dengan skor yang menonjol kuat dilakukannya. Termasuk kegiatan riset bersama effektif meredam ketegangan, misal China, Philipina dan Vietnam sepakat menandatangani MOU tentang riset  JMSU (Joint Marine Seismic Understanding) dalam bulan Maret 2005—riset bisa menjadi agenda bersama yang menyejukkan. Gambar berikut (fig#2), menunjukkan Tiongkok telah melakukan aksi ter-aktif dengan militer & paramiliter semenjak tahun 1995 dan 50%-nya adalah kegiatan di LCS.

military and paramilitary

Aksi legal, sangat menguntungkan aktor yang bersemangat menggunakan jasa peradilan internasional, arbitrasi  internasional atau jasa badan hukum internasional lainnya. Dari fig#1 dicermati bahwa Philipina menggunakan 21 kali aksi legal dibandingkan Tiongkok 12 kali [10]. Tiongkok berlaku defensif dalam kasus ini bahkan menolak ICJ, IT dalam hukum laut internasional atau badan semacam itu[11]. Philipina memanfaatkan bukan saja ITLOS, tetapi juga bekerjasama dengan ICJ untuk menunjuk pejabat pembela dan pakar hukum yang kompeten sebagai arbitrator internasional. Tiongkok mencoba membela posisinya sementara ini hanya melalui journal hukum internasional. Aksi diplomatik [12]sebagai aksi berikut berperan sentra dalam hubungan pertikaian mengingat diplomatik-lah penjuru yang berhadapan langsung dengan negara lain. Dalam aksi diplomatik yang terbagi tiga (3) kategori, pertama diplomasi koalisi. Kedua, perundingan yang bisa menempatkan posisi negara penuntut menjadi lebih menguntungkan dan terakhir adalah manajemen pertikaian yang melibatkan upaya untuk menenangkan ketegangan melalui CBM atau COC (code of conduct)—Tiongkok setuju dengan CBM (atau CSBM~confidence building and security measures) akan tetapi tetap tidak berkenan dengan COC. Kalau Vietnam dan Philipina berharap institusi regional ASEAN membantu penyelesaian, sebaliknya Tiongkok bersikeras dilakukan secara bilateral (posisi yang lebih menguntungkan negara yang lebih kuat). Dalam kontek ini Tiongkok [13] dikabarkan melakukan upaya mempengaruhi negara ASEAN lainnya (seperti Camboja) dengan insentif ekonomik. Philipina dan Vietnam nampak lebih aktif dibandingkan penuntut lainnya, meskipun memiliki kekuatan AL yang kecil. Model NDU sungguh menarik untuk dijadikan pelajaran para analis militer dengan riset yang bisa dikembangkan sebagai berikut; perolehan data aksi yang tertutup (covert), atau relasi antara aksi paramiliter dengan paramiliter aktor penuntut lainnya.

Atau kesamaan sikap kapal ikan, pengawal pantai (coast guard) dan paramiliter penegak kedaulatan lainnya per masing masing aktor. Atau adakah reaksi China berubah (misalnya) setelah ada aksi bersama aktor lainnya diluar Vietnam dan Philipina sebagai penegak hukum di SGTP? Dibarengi dengan demonstrasi “score card” model RAND dibawah ini dapat digunakan untuk menilai kapabilitas masing masing kekuatan militer (utamanya maritim). Sungguh menarik bagi analis pertahanan, pengajar lemdik/perguruan tinggi pertahanan Thesis atau TOR diskusi), TNI dan Angkatan, analis KemLu, pembuat kebijakan, perancang struktur kekuatan militer gabungan, bahkan elit nasional yang merasa prihatin dengan modernisasi kekuatan Tiongkok dan keseimbangan kekuatan di Asia tenggara.

Model Balance Scorecard RAND. Dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah dengan mengamati perbandingan relatif kapabilitas Tiongkok vs AS ini di dalam methodologi yang konsisten[14] dengan menilai dalam bentangan potret empat (4) kelompok  waktu yakni tahun 1996, 2003, 2010, dan 2017 (proyeksi). Melalui methodologi yang konsisten, penilaian scorecard menjamin potret kecenderungan sepanjang waktu yang diminatinya. Kedalaman solusi masalah dilihat relatif dari posisi (geographi) dan jarak—muncul dua (2) skenario sebagai basis  pelibatan dua (2) kekuatan besar ini , yakni pertama, terjadinya invasi ke-Taiwan dan kedua, adalah kampanye kep.Spratly [15], kemudian diproses masing-masing dalam dalam balance scorecard dan skenario ini independen satu sama lain. Oleh penciptanya[16] model itu tidak dimaksudkan mengantisipasi konflik bersenjata AS dengan Tiongkok. Seperti biasanya kebanyakan model scorecard berbasis kuantitatif dan kualitatif akan melibatkan kumpulan model-model peperangan dinamik[17], kecuali model lawan ruang udara dan peperangan cyber (lebih banyak menggunakan pendekatan kualitatif). Model ini tidak bisa dipisahkan dengan kesediaan data yang ada (mining data), atau keterbatasan dan kualitas data sehingga kurang dipercayai sebagai output atau outcome yang andal (reliable), bahkan sebagai hipotetik peperangan sekalipun[18]. Tulisan ini hanya merujuk bahasan dua (2) model scorecard khusus pelibatan maritim (dari 10 sub model yang diamati khusus hanya ada dua (2) sub model pelibatan maritim), yakni scorecard5 dan scorecard6dengan penjelasan sebagai berikut:

Scorecard5; kapabilitas peperangan anti permukaan Tiongkok. Tiongkok lebih menekankan kapal induk AS sebagai sasaran utama. Tiongkok yakin dengan kapabilitas dan kokohnya system intelijen, pengintaian dan recon (ISR) jauh dibalik cakrawala (OTH), dukungan satelit penginderaan yang ditempatkan ditahun 2000 dan tipikal radar skywave di tahun 2007. Tipikal skywave ini kapabel mendeteksi [19]sasaran dan menjamin secara umum, meskipun dikabarkan tidak persis berlokasi jauh diluar garis pantai Tiongkok sejauh 2000 km. Kemajuan signifikan sektor industri elektronik Tiongkok begitu effektifnya ditandai dengan percepatan meluncurkan satelit pengangkutnya dan kapabilitasnya mendeploikan satelit canggih ISR. Kemajuan teknologi rudal anti kapal permukaan—pertama kalinya terjadi, sungguh merupakan dimensi ancaman baru bagi Komandan tempur AS dilapangan. Proses bekerjanya rudal balistik anti kapal tersebut sampai menghancurkan sasaran memiliki skema yang disebut rantai penghancuran (kill chain[20]process) dan teknologi proses ini diperkirakan menjadi problema serius bagi Tiongkok. Bagi AS situasi ini sudah menjadi fokus pengembangan teknologi untuk menangkal anti rudal tersebut.

Sungguh berbeda dengan media yang begitu mudahnya mengatakan seolah-olah rudal anti kapal permukaan sama dengan filosofi penembak jitu pasukan darat…one shoot – one kill [21]. Modernisasi kekuatan udara dan khususnya kapal selam Tiongkok telah menjadi ancaman potensial dan nyata bagi Gugus tugas tempur kapal induk AS dengan eskortanya. Dinamika [22]tahun 1996-2017 telah terjadi peningkatan inventori kapal selam diesel elektrik Tiongkok menjadi 37 dan sekurang kurangnya empat (4) kapal selam dipersenjatai dengan rudal jelajah (juga torpedonya). Informasi ini merupakan ancaman kredibel dan serius bagi setiap kapal permukaan bila muncul konflik yang terjadi di LTS umumnya, atau perairan Taiwan dan sekitar Spratly.

Scorecard6,penilaian kapabilitas peperangan anti kapal permukaan AS menghadapi Armada permukaan Tiongkok[23]. Kapabilitas platform Armada tempur AS untuk menghancurkan kapal Amphibi Tiongkok cenderung menurun semenjak tahun 1996, namun tetap dikualifikasikan menakutkan. Total jumlah kapal amphibi Tiongkok telah meningkat jumlahnya dua kali lipat dalam tahun 1996-2017[24]. Dilaporkan[25] bahwa Tiongkok telah mendeploikan sejumlah besar heli dan kapal AKS yang canggih. Jumlah besar tersebut adalah fungsi sejumlah besar kapal yang disasarkan, yakni kapal selam AS[26]. Meski ada gejala menurunnya kapabilitas AS tentang peperangan anti kapal permukaan (dhi versus kapal-kapal amphibi), namun hasil scorecard tetap menunjukkan kapal selam AS menjelang tahun 2017-pun tetap memiliki ekspektasi merusakkan (expected damage)[27] sebesar 40 % bagi kapal Tiongkok yang menuju daerah sasaran dengan tetapan waktu 7 hari kampanye. Angka sebesar 40% adalah besaran kerusakan atau kehilangan yang kritikal atau menakutkan (wreck havoc) dalam suatu  pelibatan peperangan amphibi gabungan.

Pesawat terbang dan kapal permukaan yang dilengkapi rudal permukaan ke-permukaan (ASCM) [28]ikut berpartisipasi dalam kampanye anti permukaan[29]. Perkembangan dan deploi kapal pembawa Rudal jelajah anti kapal permukaan AS berjalan lamban dan berprioritas rendah era paska perang dingin. Dari sisi teknologi AS tetap unggul dan maju dalam bidang ini dibandingkan yang lain. Setelah beberapa tahun, AS mengfokuskan ulang dalam pengembangan rudal yang sesuai dengan perkembangan lingkungan dan ancaman prioritas[30]. Apapun kondisinya, diyakini kekuatan gabungan dan kombinasi manuevra kapal permukaan, kapal selam dan serangan udara AS merupakan ancaman sangat serius bagi invasi amphibi Tiongkok.

Kelemahan kelemahan didalam PLA.

Bahasan singkat berikut ini merupakan kajian singkat RAND tentang transformasi PLA. Secara umum PLA berhasil memodernisasi agar sanggup melakukan missi apapun yang dibebankan kepadanya[31], termasuk kapabilitas untuk menahan dan melawan invasi kekuatan AS saat krisis atau konflik regional. Meskipun begitu tetap saja mereka menghadapi hambatan dan kelemahan kelemahan yang cukup serius[32]. Tiga (3) kelemahan di domain maritim menurut RAND yang pantas dibahas singkat disini[33] adalah kelemahan potensial, kelemahan peperangan anti udara, dan kelemahan peperangan anti kapal selam serta kelemahan industri pertahanan Tiongkok .

Kelemahan potensial. Makalah ini hanya mengambil beberapa parameter yang akan diukur melalui balance-scorecard seperti kapabilitas tempur PLAN dan industri pertahananan (dengan sub-subnya seperti peningkatan kapabilitas industri, kelemahan industri dan dampak potensial kelemahan). PLAN sukses[34] mendeploikan dan memodernisasi armada laut selama dekade terakhir ini, bahkan mendemonstrasikan kapabilitasnya kedunia luar sebagai Armada laut biru dan sanggup melakukan misi yang jauh dari daratan Tiongkok. Sementara itu kekuatan kapal tempur permukaan dan kapal selam Tiongkok telah mendemonstrasikan secara impresif kapabilitas kekuatan laut berkualitas dunia dengan penugasan yang bisa dibilang sukses. Puncak dari tantangan teknologi adalah integrasi peningkatan modernisasi sista dan peralatannya. Tantangan lain adalah kualitas personil PLAN yang tidak disiapkan serius untuk beroperasi atau memelihara, faktor-faktor yang sering dikeluhkan dalam literatur terbitan Tiongkok[35]. Berikutnya adalah tantangan (kelemahan) lain berupa peperangan anti udara dan peperangan AKS, seperti dibawah ini.

Kelemahan peperangan anti udara [36]. PLAN paham benar bahwa pertahanan anti udara menjadi begitu essensi guna melindungan armada birunya dan perbaikan operasi kapal induk dan modernisasi beberapa perusak dan frigat dengan kapabilitas Aegis sistem. Kebanyakan kapal permukaan utamanya (kapital) adalah perusak kelas Luyang-II (perusak rudal jelajah) berbasis platform “siluman”(stealthy) tipe 052 B dan fitur-fitur radar yang didesain telah menunjukkan ada kaitannya dengan rudal anti udara (SAM) dengan sistem peluncuran vertikal. Perhatikan dalam gambar bawah salah satu contoh HQ-9 (berjarak sd 150 km) dikembangkan serius menjadi lebih kapabel dengan jarak lebih jauh dibandingkan sista anti udara sebelumnya dan merepresentasikan lompatan teknologi PLAN.

lompatan teknologi PLAN

Referensi: Ibid, halaman 89. Perhatikan grs tegak sebelah kiri adalah kapal tempur permukaan.HQ-9 adalah tipikal SAM terbaru.

Tipikal berikut [37] adalah perusak tipe 052C kelanjutan dari Luyang-II tipe 052B dengan perbaikan radar dan sistem peluncuran vertikal sebagai rumah baru rudal anti udara, anti kapal permukaan dan AKS. Berikutnya; frigat kelas Jiangkai-II, tipe 054FFG (frigat peluru kendali) dengan fitur laiknya “mini Aegis” telah didesain guna lebih menutup kapabilitas sistem pertahanan udara PLAN. Bagaimana rasio jumlah kapal tempur “utama” (capital ships)  ini [38]dibanding AL beberapa negara besar tetangga Tiongkok ? Gambar dibawah menunjukkan Tiongkok tetap mempertahankan sejumlah besar kapal “utamanya” semenjak tahun 2000. Meskipun kapal permukaan tipe 052C & D serta tipe 054A telah merepresentasikan improvisasi pertumbuhan eksponential[39] dalam kualitas dan kapabilitas satuan PLAN, tetap saja ada keterbatasan dengan pertahanan anti udara[40].

Misalnya, tipe 054A sebagai tipe “mini Aegis”, dan hampir pasti Tiongkok paham betul tentang keterbatasan konsep ini. Kapal yang lebih kecil dalam keluarga “kapal permukaan utama” ini tidak akan sanggup membawa cukup banyak rudal jarak jauh untuk membantu menambah performa aktual area pertahanan anti udara atau bahkan bisa saja frustasi berhadapan dengan rudal anti permukaan musuh[41]. Ukuran seperti ini  setidak-tidaknya dipaksakan bisa membawa 100 atau lebih rudal anti udara jarak jauh. Padahal kebanyakan “mini Aegis” Tiongkok hanya sanggup membawa 30-50 rudal bahkan lebih sedikit. Sebagai tambahan bagi kapal kecil ber-Aegis sistem membutuhkan sumber daya (power,pen) besar untuk mempertahankan dan memelihara keandalan sistem Radar yang ada—mengurangi kapabilitas sistem Aegis. Kapal kecil dan berukuran sumber daya rendah harus menempatkan sistem antenna setinggi mungkin diatas garis air yang akan mempengaruhi stabilitas dan daya tegak kapal. Effektifitas sistem Aegis tersebut secara substansial semakin nampak apabila dibebani dengan sistem terintegrasi ISR. Gambar dibawah adalah rasio kapal permukaan tempur utama Tiongkok dibandingkan dengan tetangganya, antara 1990-2014 (AS, Russia, India, Vietnam, Jepang,Taiwan).

SURFACE COMBATANTS

Referensi:Ibid, halaman 90. Perhatikan garis merah (Tiongkok ~ exponential “growth”) , hitam terputus putus adalah AS dan biru adalah Russia yang turun sebaliknya (atau ~ exponential “decay”).

Kapal berukuran kecil dan tidak terbantukan dengan pesawat yang dilengkapi dengan sistem ISR akan mengurangi kapabilitas anti udara bagi gugus tugas kapal-kapal yang berada jauh dari daratan Tiongkok [42]. Perlu diketahui bahwa deteksi penuh sistem Aegis lawan rudal anti kapal yang terbang rendah diatas muka laut (sea skimming) terbatas dalam jarak belasan mil saja (kl 25 km). Akhirnya tata letak banyak sistem radar, antena dan sistem komputer dalam ruang yang relatif sempit sangat menyulitkan upaya modernisasi bahkan upgrade yang akan datang—suatu problematik yang cukup serius bagi PLAN, utamanya perusak tipe 052-C [43] .

Kelemahan peperangan anti kapal selam. Keterbatasan armada biru China, khususnya deploinya diperairan jauh dari perairan pantai[44](sama halnya dengan isu logistik bagi PLAN) yakni kapabilitas peperangan AKS. Beberapa artikel dalam publikasi PLAN mendesak dan menyarankan beberapa hal, misal: pelatihan personilnya, profesi operasi AKS, koordinasi sista modern AKS, dan pengalaman operasional AKS. Sampai sekarangpun PLAN belum serius menekankan dirinya pada kapabilitas peperangan AKS. Bisa jadi, pertama masih mengfokuskan dirinya kepada pelaksanaan sista anti akses dibandingkan operasi atau pengembangan peperangan ekspeditionari dan kedua, bisa jadi belum matangnya konsep mengenai peperangan AKS[45]. Namun ditahun 2012 ini, nampaknya PLAN mulai serius menatap isu AKS ini dengan memproduksi besar-besaran frigat baru tipe 056 Korvet (korvet = frigat ringan) yang dilengkapi dengan  tiga (3) menara peluncur torpedo AKS yang tentunya lebih akurat dan lebih jauh jaraknya [46]. Meskipun sudah demikian usahanya, OSD tetap melaporkan di-tahun 2014, bahwa PLAN masih tetap menghadapi kesulitan tentang AKS, yakni peperangan AKS [47]khusus di perairan dalam dan dibandingkan dengan saudaranya dalam peperangan anti udara dan anti permukaan, AKS agak ketinggalan. Kelemahan berikut yakni tentang kelemahan industri pertahanan Tiongkok akan dibahas seperlunya.

Kelemahan industri pertahanan Tiongkok. Beberapa hal mendasar yang perlu diperhatikan sebagai halangan terhadap ambisi Tiongkok untuk menjadikan industrinya berkelas dunia. Sejarah panjang industri pertahanan Tiongkok telah sarat dengan hal-hal yang korosif dan sulit untuk dibersihkan[48]. Fondasi kelembagaan dan normatif serta bekerjanya industri pertahanan Tiongkok merupakan “kopi” konsep komando pertahanan dan ekonomi Uni Soviet (Russia lama) dan tetap diteruskan bahkan sampai sekarang. PLA dan otoritas industri pertahanan sedang mencari pengganti manajemen atas-bawah yang sudah usang dengan model yang lebih modern, lebih kompetitif dengan rejim yang langsung mengaturnya, tetapi masih memiliki kepentingan pribadi terhadap kemajuan industri ini[49].

Pimpinan militer senior Tiongkok telah mengidentifikasi pengantian manajemen yang ada, utamanya dibagian riset sista, pengembangan dan sistem akuisisi adalah bagian terpenting yang harus dilakukan sebelum mengatasi rintangan modernisasi industri pertahanan. Jendral Zhang, Direktur GAD (general armamanet department) mengingatkan ditahun 2014, bahwa dana, teknologi bukan lagi menjadi penyumbat, namun sistem kelembagaan & mekanisme yang menjadi rintangan. Oleh karena itu halangan tersebut harus segera dibuang, kalau tidak pengembangan sista hanya merupakan “pepesan kosong” saja [50]. Menurut pengamat sistem akuisisi pertahanan, dalam tubuh indsutri pertahanan Tiongkok hadir struktur monopoli. Akibatnya kompetisi yang lebih sehat dalam pemilihan sista dan peralatan pertahanan oleh enam (6) sektor industri Tiongkok nampaknya tertutup bagi kompetisi dari luar karena didominasi oleh beberapa orang penentu dalam korporasi itu[51]. Sistem kontrak hanya dilakukan oleh kontraktor tertentu saja. Tender dan tawaran yang lebih terbuka hanya diperbolehkan bagi peralatan non tempur saja.

Sepertinya upaya-upaya yang dilakukan tidak berhasil menumbuhkan rasa persaingan yang sehat demi terciptanya kualitas yang lebih baik. Berikutnya nampak adanya kesulitan pengambilan keputusan versus kapabilitas dan inovatif sista yang lebih maju. Dari sisi manajemen sepertinya membutuhkan keputusan berbasis konsensus yang memerlukan negosiasi yang interaktif, tawar menawar dan pertukaran. Kesadaran ini menciptakan terbentuknya CSC ( Central Special Committee) yang menjamin lebih baiknya kepemimpinan yang lebih fokus memutuskan untuk mendukung proyek proyek yang strategik dan berprioritas tinggi [52] . Empat (3) hal[53] telah dibahas dalam sesi ini yakni kelemahan potensial, kelemahan peperangan anti udara dan kelemahan peperangan anti kapal selam dan industri pertahanan-nya mewakili beberapa kelemahan dalam peperangan dilaut. Sedangkan Logistik, Pelatihan, Nuklir, dan lain-lainnya masih banyak lagi, tidak dibahas dalam makalah ini [54]. Apapun juga modernisasi dan kapabilitas yang dibangun, ada indikator kuat bahwa Tiongkok akan melangkah jauh mendemonstrasikan kekuatannya sampai ke timur jauh[55], keluar dari kandang FCI (first chain islands) menuju SCI (second chain islands).

Kesimpulan

Kata  Jefferey Bader [56]….apa yang terjadi sebenarnya di LTS ? Sementara projek reklamasi & fitur daratan membuat ambigu tentang klim hak berdaulat diatas area kl 1.5 juta mil persegi area SGTP, inkonsisten dengan UNCLOS, manuevra kapal nelayan Tiongkok yang membahayakan keselamatan kapal di LTS, mengusir nelayan Philipina dari wilayah penangkapan ikan tradisional, menolak juridiksi dan peradilan  yang mencari solusi berbasis keadilan hukum internasional, mengeksplor minyak dengan lindungan PLA dan Coast Guard diperairan klim Vietnam[57]. Bagaimana bisa bicara bahwa LTS nyaman dilayari dan fitur daratan di LTS sudah bukan pertikaian lagi[58]. ASEAN sekedar (hanya) dijadikan “mitra” dagang Tiongkok saja, bukan mitra solusi politik? Seberapa jauhkah keseriusan pemerintah RI membawa isu SGTP ke arbitrasi internasional, menyimak [59] kata-kata Menlu RI dan Menko Polhukam ? Sementara dua (2) kekuatan maritim besar dan modern serta lethal (mematikan) berada di dalam area panas di LTS dan barangkali siap melibatkan diri (meningkatnya eskalasi) apabila solusi melalui perundingan bilateral, multilateral serta internasional tidak kunjung menghasilkan kemajuan signifikan. Bahasan sebagian kecil kapabilitas dan kelemahan kekuatan maritim AS dan Tiongkok sebenarnya merujuk sumber terbuka dari journal Tiongkok sendiri. Entahlah kita tidak tahu, apakah kapabilitas dan kelemahan (sebaliknya kelebihan-kelebihan) terukur benar meskipun berasumsi bahwa sumbernya dapat dipercaya. Apakah dua negara maritim besar tersebut akan bisa meredam kecemasan setidak-tidaknya negara-negara pantai sepanjang LTS atau sebaliknya ? Dilematis kecemasan negara pantai sekitar LTS dapat diredam apabila dua negara besar tersebut mengurangi tensi dan ikut aktif meredam ketegangan—sepertinya banyak lemma yang hadir dalam isu LTS.

Menarik saran yang diajukan Ltk Laut Askari dalam thesisnya—agar dilakukan interaksi antara ajensi sipil maritim dan militer dalam suatu forum multilateral [60]. Mungkin Askari berharap koalisi sipil maritim dan militer negara pantai sekaligus penuntut klim ZEE pada gilirannya bisa mempengaruhi pemerintah masing-masing untuk melakukan pendekatan yang jauh lebih effektif dan mengurangi frustasi diantara mereka sendiri. Bila terjadi suatu krisis atau konflik bahkan yang lebih mengerikan lagi, maka fondasi perdagangan dan kesejahteraan bagi masing masing negara pantai di LTS  (utamanya) akan porak poranda sebagai dampaknya. Tidak ada jalan lain kecuali semua negara pantai, AS, Tiongkok utamanya menahan diri dan mencoba memberanikan diri masuk area perundingan multilateral dan internasional dibawah bendera GO dan atau NGO (track -1 dan atau track -2) dengan pendekatan yang lebih elegan dan terhormat. Apapun juga cerita diatas bisa dijadikan pelajaran menarik bagi komuniti Intelijen untuk mencoba mencari tahu bukan saja sekedar jumlah, jenis atau sista yang ada, namun jauh lebih penting lagi adalah kapabilitas, effektifitas, dan keandalan sista senjata (andal=probabilita untuk tidak rusak) dan derajad kesiagaan asset tempur yang dimiliki siapapun juga melalui dan menekuni semua sumber-sumber terbuka (dan tertutup tentunya) yang lebih lengkap (analisis sistematika sebaiknya dilakukan melalui jurnal, buku, teks, bahan kuliah,dll, bukan melalui berita sesaat/instan dari TV, harian, majalah, blog-blog, atau situs-situs pendek internet, dll). Sekian.

______________________________________________________________________

Kata pengantar:

Sebagai kelanjutan tulisan pertama tentang seramnya Laut Tiongkok Selatan, sesi ini menampilkan hasil statistik kegiatan militer, para militer, diplomasi, administrasi, legal dll dan ditambah dengan hasil balance-scorecard yang mungkin pertama kalinya digunakan guna mengukur performa pelibatan kekuatan maritim. Isu LTS sungguh-sungguh serius dipandang dari ekskalasi pelibatan, dan penggunaan kekuatan maritim dengan asumsi analisis intelijen maritim sungguh-sungguh dapat diandalkan—mungkin perlu diikuti dengan diskusi di Lemdik lemdik, lembaga kajian maritim; Kemlu, dan Kemhan (simulasi FDO/Flexible deterrent options), kajian di Unhan ataupun thesis dan disertasi tentang pelibatan. Poros maritim dilihat dari perspektif militer sungguh benar memerlukan analis intelijen yang berkualifikasi maritim.

 

 

 

 



[1] Yung, Christopher.D & McNulty,Patrick, An Empirical Analysis of Claiment Tactics In The South China Sea, (National Defense University, INSS, Pusat Studi Tiongkok, Strategic Studies, SF (Strategic Forum) # 289,August 2015) , halaman 1.

[2] Paramiliter, misalnya menggunakan kekuatan bukan militer seperti kapal nelayan untuk bertindak menghalang-halangi aksi militer/AL negara rival atau menggunakan kapal kapal Coast Guard untuk bermanuevra mengganggu kepentingan gerakan kapal  AL.

[3] Yung, Christopher.D & McNulty,Patrick, An Empirical Analysis of Claiment Tactics In The South China Sea, (National Defense University, INSS, Pusat Studi Tiongkok, Strategic Studies, SF (Strategic Forum) # 289,August 2015) , halaman 1.

[4] Ibid,

[5] Ibid, halaman 2.

[6] Ibid, kasus Vietnam versus Tiongkok dalam isu “oil rig standoff”, yang melibatkan belasan kapal Tiongkok dan skor tabrakan, hanya menghasilkan beberapa (sedikit) data , termasuk gerakan militer dan paramiliter Tiongkok ke ZEE Vietnam dan Vietnam dengan gagah beraninya membalas dengan mengirimkan kapal Coast Guardnya, dll.

[7] Bonnie S Glaser, reporter The National Interest,  This Is Why a Code of Conduct in the South China Sea Can’t Wait, … periksa www.anationalinterest.org/blog/the-buzz/why-code-conduct-the-south-china-sea-cant-wait-13552……pertemuan regional di Kuala Lumpur, Agustus,2015, Tiongkok menekankan negara regional ttg niatnya untuk  berdamai dan menghindari kegiatan  yang mendukung instabilitas di kep Spratley. Bicara didepan wartawan Menlu Tiongkok Wang Yi mengatakan telah menghentikan pengurukan pasir di sana, berarti telah menghentikan niatnya untuk membangun pulau buatan, “ Silahkan periksa “, sambungnya.  Tetapi Wang Yi tidak mengungkap pembangunan kontruksi dan militerisasi di beberapa fitur daratan, seperti di Fiery Cross, dan Subi reef, konon kata Panglima Pacific AS di fitur daratan tersebut telah dibangun hanggar utk pesawat Jet taktis, serta pelabuhan dan fasilitasnya siap menerima kapal tempur laut berukuran besar.

[8] Gambaran betapa effektifnya “orchestra” strategi penangkalan yang dilakukan China dengan mengontrol kerjasama aktif seluruh instrumen kekuatan nasionalnya (PEM, DIME atau MIDLIFE-nya).

[9] Yung, Christopher.D & McNulty,Patrick, An Empirical Analysis of Claiment Tactics In The South China Sea, (National Defense University, INSS, Pusat Studi Tiongkok, Strategic Studies, SF (Strategic Forum) # 289,August 2015) , halaman 3.

 

[10] Ibid,

[11] ICJ –international court of justice, ITLOS – International tribunal of the law of the sea.

[12] Yung, Christopher.D & McNulty,Patrick, An Empirical Analysis of Claiment Tactics In The South China Sea, (National Defense University, INSS, Pusat Studi Tiongkok, Strategic Studies, SF (Strategic Forum) # 289,August 2015) , halaman 4.

[13] Ibid, halaman 5.

[14] Eric Heginbotham,et-all, (and 13 other peoples), The U.S.-China Military Scorecard : Forces, Geography, and the Evolving Balance of Power 1996-2017, (RAND,2015) , … antisipasi (dan memprediksi)  pelibatan melalui riset RAND Corp yang akan datang dengan model balance score cards-nya,halaman xxii.

[15] Ibid, Summary, halaman  xix.

[16] Ibid, halaman xix-xx , …The authors do not hope for or anticipate armed conflict with China. The scenarios and the operational activities depicted in them are not meant to signify anything about either the likelihood of a future conflict or the course of events should one occur. Nor do they represent U.S. national or military policy about whether or how such a war would be fought. The scenarios are, rather, a means to evaluate relative capabilities, providing notional distances, geography, and other situation-specific factors necessary to make such an assessment.

[17] Model peperangan dinamik lebih secara teknis menggunakan pendekatan operasi riset militer (MOR), misal simulasi, atau konsep Bayesian statistic. Apapun juga model yang digunakan membutuhkan data intelijen yang dijadikan input seperti ukuran efektifitas lawan, bukan ukuran desain pabrik (yang ini sangat mudah didapat, dan tidak terlalu membantu solusi pemodelan).

[18] Eric Heginbotham,et-all, (plus 13 other peoples), The U.S.-China Military Scorecard : Forces, Geography, and the Evolving Balance of Power 1996-2017, (RAND,2015) , halaman xii… the dynamics interactions between these factors —is intended to capture the general magnitude of the challenge facing US Commanders in each area…dst.

[19] Ibid, halaman xxv.

[20] Kill chain ; dapat dicontohkan sama dengan proses bekerjanya serangan cyber, saat mulai masuk (instrusi) sampai dengan melumatkan data atau merusak sub system didalamnya dan menghancurkan total system yang bekerja dalam suatu sasaran serangan siberà ada proses panjang untuk menghancurkan sasaran secara mutlak, dan tiap tahap bisa saja memiliki peluang untuk gagal (probability’s failure), atau ada proses perhitungan Bayesian.

[21] Eric Heginbotham,et-all, (and 13 other peoples), The U.S.-China Military Scorecard : Forces, Geography, and the Evolving Balance of Power 1996-2017, (RAND,2015) , halaman xx… Anti – ship ballistic missiles therefore may not pose the kind of one-shot, one-kill threat sometimes supposed in the popular media.

[22] Ibid, hal xxv

[23] Ibid, hal xxvi.

[24] Mungkin pertanyaan yang timbul sehubungan dengan begitu besarnya kapal angkut personil dan tank sampai dua kali lipat yang diproduksi … mau diproyeksikan kemana ?

[25] AKS atau anti kapal selam.

[26] Fungsi atau difungsikan atinya Helli dan pesawat sebagai variable yang akan menunjang output atau keluaran yakni tenggelamnya kapal selam AS, dan kalau variable Helli dan Pesawat  jumlah besar, bisa ditebak bahwa sasaran (variable tidak bebas) yang akan dicapai berjumlah banyak.

[27] Expected damage (konsep prbabilistik) adalah ukuran effektifitas (angka harapan atau outcome per setiap kali penembakan). Angka ini didapat dengan formula matematika dan diujikan melalui simulasi stokastik  yang berkali kali (bahkan ribuan atau jutaan) dengan program computer berkecepatan tinggi. Model balance-scorecard ini dibuat dengan waktu kampanye akan berakhir dalam tujuh (7) hari (asumsi).

[28] ASCM atau anti ship cruise missile.

[29] Ibid, halaman xxvi.

[30] Ibid, halaman xxvi.

[31] Chase, Michael.S, et-all (plus six other peoples), China’s Incomplete Military Transformation: Assesing the Weakness of the People’s Liberation Army (PLA), (RAND,2015), halaman 135.  Sekali lagi mengingatkan bahasannya adalah transformasi yang berbeda jauh artinya dengan reformasi, dan lebih visioner serta lebih memiliki obyektif yang jelas dan terencana.

[32] Ibid, halaman 135.

[33] Tentang organisasi PLA dan sumber daya manusianya, kapabilitas tempur PLA, dan industri pertahanannya. Lebih lengkapnya periksa Chase, Michael.S, et-all (plus six other peoples), China’s Incomplete Military Transformation: Assesing the Weakness of the People’s Liberation Army (PLA), (RAND,2015),

[34] Chase, Michael.S, et-all (plus six other peoples), China’s Incomplete Military Transformation: Assesing the Weakness of the People’s Liberation Army (PLA), (RAND,2015), halaman 88.

[35] Ibid, halaman 88.

[36] Peperangan anti udara bukan saja melawan pesawat terbang yang adatng menyerang, namun jauh lebih rumit dan sulit serta berbahaya adalah melawan rudal anti permukaan.

[37] Chase,Michael.S,et-all(plus six other peoples), China’s Incomplete Military Transformation: Assesing the Weakness of the People’s Liberation Army (PLA), (RAND,2015), halaman 89.

[38] Ibid, halaman 90,…Definisi kapal tempur “capital” adalah kapal induk, penjelajah, perusak,dan frigat, tidak termasuk kapal amphibi, kapal patrol, kapal selam, kapal logistic dan kapal bantu.

[39] Eksponensial “growth” artinya (sederhana) terjadi lonjakan drastik suatu pertumbuhan dari kurva linear mendadak menadi kurva melonjak tajam (naik), kebalikannya dengan kasus exponensial “decay”, turun pelan (linear turun) dan tiba tiba melonjak jatuh kebawah sesuai berjalannya waktu.

[40] Chase,Michael.S,et-all(plus six other peoples), China’s Incomplete Military Transformation: Assesing the Weakness of the People’s Liberation Army (PLA), (RAND,2015), halaman 90.

[41] Ibid, halaman 90.

[42] Ibid, halaman 91.

[43] Ibid, halaman 91. Merujuk tulisan Xiao Feizhu, Improving the Type 054-A from the Viewpoint of Mini Aegis, (Journal Shipborne Weapons, no.10, October 2011 , hal 27-35).

[44] Perairan pantai, tentu saja akan menimbulkan problem bagi kapal selam sendiri,a.l sulit  bermanuevra, dll.

[45] Chase, Michael.S, et-all (plus six other peoples), China’s Incomplete Military Transformation: Assesing the Weakness of the People’s Liberation Army (PLA), (RAND,2015), halaman 93, merujuk tulisan You Min;  How China Can Guard Against US Nuclear Submarine, (Journal Naval & Merchant Ships ,July 2013), halaman 32-37.

[46] Ibid, halaman 98-99. Dilaporkan oleh Wang Jin dalam Journal Shipborne Weapons, agustus 1, 2012, A New Era, a New Mission : China’s Type 056 Light Frigate , …..

[47] Ibid, halaman 100, …dilaporkan Ronald O’Rourke, PLAN Force Structure: Submarine , Ships, and Aircraft, dalam judul besar The Chinese Navy:Expanding Capabilities , Evolving Roles?, NDU,2012,hal 141-174) dan laporan OSD (office of the Sec of the Defense,June 2014, halaman 32), dgn judul Military and Security Developments Involving the PRC.

[48] Chase, Michael.S, et-all (plus six other peoples), China’s Incomplete Military Transformation: Assesing the Weakness of the People’s Liberation Army (PLA), (RAND,2015), halaman 93, merujuk tulisan You Min; How China Can Guard Against US Nuclear Submarine, (Journal Naval & Merchant Ships, July 2013), hal 126.

[49] Ibid, halaman 127.

[50] Ibid, halaman 127.

[51] Ibid, halaman 128.

[52] Ibid, halaman128, yang merujuk tulisannya Cheung, Tai Ming, Fortifying China : The Struggle to Build a Modern Defense Economy, (Cornell University Press, Ithaca, NY,2009).

[53] Ibid, halaman 93. Merujuk tulisan You Min, How China Can Guard Against US Nuclear Submarine, (Journal Naval & Merchant Ships , July 2013, halaman 32-37)

[54] Ibid, halaman 95-97, isu pelatihan dan logistik dimasukkan dalam tipe – 3 Kelemahan … The identified weaknesses of training and logistics may constitute a Type – 3 weakness, ….

[55] Sharman, Christopher H, China moves out: Stepping Stones Toward a New Maritime Strategy,(NDU,INSS, CSCMA, Perspective no.9, 2015),  Halaman 30….…during this 2 year period was its Mobility -5 Exercise in October 2013….conducted coordinated combat drills in the Western Pacific involving ships from all three fleets and PLAN fixed wing aircraft. Kata Komandan Armada China Selatan :”…building the capability of distant – sea combat system under conditions of informatizations. In this exercise , importance was attached to exploring major and challenging problems related to the building of distant sea combat system , recon and early warning , target identification and guidance, long distance defense penetration conducted bu aviation forces, and vessel aircraft coordination in carying out ocean based ASW operations….… a focus of the exercise was “back-to-back” drills in which opposing forces did not know the plans or intentions of the opposing force. PLAN officials state the want to use back-to-back training in exercises because “troops should be trained according to how wars are fought”.

[56] Bader,Jeffery, Changing China Policy :  Are We in Search of Enemies ?, (China Center at Brookings,  Strategic Paper, June 2015), halaman 2.

[57] Peran ganda Coast Guard juga selaku kekuatan cadangan AL, dimanfaatkan benar-benar oleh Tiongkok yang  mengoperasikan gabungan Coast Guard dengan PLAN.

[58] Ibid, halaman 2.

[59] Jumat, 13 Nov ,2015,jam 21.30, | Adib Muttaqin Asfar/Newswire/JIBI |, Solopos.com, Jakarta. …. “Posisi Indonesia jelas dalam hal ini, kami tidak mengakui sembilan garis tersebut karena tidak sejalan dengan hukum internasional,” kata Juru Bicara Menteri Luar Negeri RI Armanatha Nasir seperti dikutip Reuters, Kamis. “Kami meminta klarifikasi apa maksud garis itu. Semua itu belum diklarifikasi.” Dan Menkopolhukam Luhut Binsar Panjaitan mengatakan Indonesia bisa membawa Tiongkok ke pengadilan internasional jika dialog kedua negara gagal.

[60] Askari, LtKol Laut, TNI-AL, Preventing Escalation in the SCS Disputed Waters:  A Comparative Study of Republic of  Philippines and Socialist Republic  of Vietnam, (Thesis US NPS, Master of Arts in Security Studies/Civil-Military Relations,March 2015), hal 78.

 

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x
Share via
Copy link
Powered by Social Snap