STRATEGI DAN INSTRUMEN NASIONAL

1. Pendahuluan 

Kata strategi dan instrumen kekuatan nasional bagi sebagian pembaca lebih ditangkap sebagai suatu aurora mitos. Sebagian lebih sering dibaca dalam bingkai suatu visi  yang diartikan tidak lebih dari suatu rencana kegiatan yang mengorganisasi proses ke suatu sasaran. Kesederhanaan ini menghalangi demonstrasi arti strategi itu sendiri, yakni sebagai suatu yang berarti “sangat penting” atau “tingkatan tinggi”, didekati dari akar kata yang berasal dari bahasa Yunani. Konsep strategi dan entitas di dalamnya, antara lain instrumen kekuatan negara (sebutan waktu itu, bukan kekuatan nasional), diawali dari era ksatria dan kerajaan di Eropa, selanjutnya dikembangkan terus menerus sehingga menjadi konteks bahasan politiko-militer tingkat tinggi.

Strategi diera modern ini lebih dikenal sebagai suatu proses pengambilan keputusan nasional yang sangat kompleks dan mencoba membawa seluruh instrumen kekuatan nasional (means), yang mengorganisir dengan cara tertentu (ways) menuju suatu obyektif (ends). Strategi modern yang berhasil, baik teori ataupun prakteknya biasanya terdiri sekurang-kurangnyalima (5) dasar, interkoneksi, keputusan (proses) per setiap kewenangan dalam setiap strategi. Strategi ini memiliki bentangan keputusan mulai ekstrim yang sangat luas, abstrak, sampai ke ekstrim yang lebih operasional. Antara kedua ekstrim ini ada tiga (3) keputusan (strategi) krusial yang lebih dikenal sebagai strategi raya, strategi militer nasional dan strategi operasional.

2. Memahami Strategi Sebagai Suatu Kesulitan 

Strategi akan mengingatkan trio MWE (Means, Ways, dan Ends), sekaligus paradigma pembicaraan strategi di sini lebih kepada proses ilmiah, bukan produk strategi. Meskipun sebagai proses, regulasi pemikiran strategi tidak selalu mengikuti aturan paradigma tersebut. Proses yang menggunakan instrumen kekuatan nasional sebagai sumber daya sekaligus sebagai kendalanya, yaitu bagaimana mengoptimalkan kombinasi trio MWE. Memahami konsep ini agar tidak terjebak dalam suatu mitos, perlu mengorganisir pendalamannya dalam dua (2) bagian.

Pertama, bagian yang mendalami isu strategi nasional yang membentang dalam kurun jangka panjang dan jangka menengah (isu yang diliput berada diluar waktu sekarang). Contoh pada tingkat tinggi nasional, tujuan suatu negara yang fundamental biasanya meliput isu kedaulatan. Pada tingkat ini, proses atau keputusan strategi benar-benar diarahkan pada keputusan untuk menjamin tercapainya kedaulatan tersebut dalam jangka panjang ataupun jangka menengah.

Kedua, bagian yang mendalami suatu kegiatan yang meliput isu kontijensi atau fase waktu yang kritik. Keputusan menghadapi isu kontijensi atau isu darurat, utamanya berhubungan dengan aktor atau negara lain yang menyinggung kepentingan nasional, misal isu penangkalan, diplomatik. Kepentingan nasional (national interest) merupakan salah satu entitas sangat penting dalam strategi nasional .

England has neither permanent friends or permanet enemies; she has permanent interests.

                                                                            -Lord Palmerston

Kepentingan  nasional ada di dalam setiap sanubari para profesi diplomatik  dan militer dan memimpin formulasi strategi nasional dan kalkulasi kekuatan yang dibutuhkan dalam proses mendukung strategi nasional. Betapa pentingnya kepentingan nasional,seperti dikatakan Roskin tentang konsep kepentingan nasional, it seems crisp,clear and objective:What’s good for the nation as a whole in international affairs.Wajar  kalau hampir semua negara mendeklarasikan dengan tegas ke dunia internasional. Kepentingan nasional boleh dikatakan sebagai sasaran antara menuju tujuan akhir nasional (atau fundamental national goal, bagi RI dapat dianalogkan dengan isi pembukaan UUD).

Pada awal peperangan Napoleon, perkembangan konsep strategi, merujuk ungkapan Karl Von Clausewits, yaitu “means adalah kekuatan militer yang terlatih untuk perang, dan ends adalah kemenangannya”. Semua kekuatan yang terlatih ini itu tidak akan ada artinya kecuali bagi kepentingan politik—kepentingan nasional. Orang Prussia tersebut menyimpulkan obyektif akhir (ends) adalah tujuan kebijakan nasional. Clausewitz memulai membuat hubungan tetap antara kebijakan, strategi dan taktik, berikutnya memformulasikan ada segitiga hubungan antara militer, pemerintah dan rakyat.

Clausewitz banyak dipengaruhi oleh Revolusi Perancis (dan evolusi strategi) waktu itu. Singkatnya perkembangan konsep ini, semakin diperjelas setelah usai Perang Dunia I. Laksamana Henry E. Eccles mendefinisikan konsep strategi nasional sebagai…….arah yang komprehensif dengan menggunakan seluruh sumber daya nasional,untuk mencapai obyektif nasional yang disepakati. Figur instrumen kekuatan nasional semakin jelas muncul dalam konsep, yakni kekuatan ekonomi, politik, militer dan psikologi, dan digerakkan paralel dalam himpunan strategi kekuatan nasional ini.

Strategi-strategi kekuatan nasional ini tidak bisa dipisah-pisahkan atau bergerak sendiri-sendiri. Mereka bergerak dalam kepemimpinan strategi nasional dan dinaungi oleh kepentingan nasional. Strategi-strategi ini menjadi roh kelembagaan, departemen-bagian atau kompartemen dalam organisasi pemerintahan. Sebutan strategi nasional sama saja artinya dengan strategi raya, alasannya sederhana  bahwa strategi nasional akan lebih menoleh (promosi) ke dunia luar atau ke sistem internasional— strategi raya.

3. Instrumen Nasional: Suatu Kekuatan 

Salah satu elemen instrumen kekuatan nasional yang paling sering disebut-sebut adalah ekonomi. Secara teoritik, ilmu ekonomi mempelajari bagaimana mengatasi kelangkaan sumber daya. Pada dasarnya ekonomi memiliki dua muka, yang satu berperan sebagai elemen kekuatan yang dominan, satunya lagi dapat menjadi suatu milik bangsa yang peka atau mudah sekali ditekan dan dilemahkan. Perilaku  ekonomi seperti inilah sebaliknya dapat dijadikan kekuatan nasional guna menekan “lawan” (economics sanction/ punishments/ diplomations?, pen) dan sekaligus dijadikan suatu tujuan proteksi terhadapnya sebagai elemen kepentingan nasional.

Bagaimana proteksinya didefinisikan sebagai strategi keamanan nasional. Dalam konteks di sini, ekonomi lebih sering dikemas dalam format kesejahteraan yang harus dicapai. Ekonomi juga harus membaur dengan dunia luar, yaitu perdagangan internasional. Meskipun bisa saja suatu bangsa hidup tanpa perdagangan internasional, namun dapatkah suatu bangsa memenuhi kebutuhannya sendiri (mutlak)?

Kebisaan ekonomi menjadi potensi kekuatan luar biasa bagi pemerintah sekurang-kurangnya mempengaruhi dunia, bahkan kekuatan militer mana pun juga tidak akan ada artinya tanpa kekuatan ekonomi ini—the cost of war? Sifat-sifat inilah yang dijadikan alasan mengapa didefinisikan sebagai instrumen kekuatan nasional. Kekuatan nasional yang dapat ditransformasikan menjadi kekuatan apapun juga. Kebisaan inilah yang menjadikan ekonomi nasional sangat dominan. Lantas bagaimana peran instrumen yang lainnya? Salah satunya adalah diplomasi.

A diplomat is an honest man sent abroad to lie for his country 

Apocryphal-

Apakah diplomasi berperan optimal? Apa ada hubungan dengan ekonomi, diplomasi, militer atau penangkalan? Apa kaitannya dengan kepentingan nasional dan keamanan nasional? Diplomasi adalah salah satu instrument kekuatan nasional, bersama-sama instrumen lainnya, didayagunakan pemerintah guna mengejar tercapainya obyektif kepentingan nasional.

Rekannya adalah kekuatan militer, kekuatan ekonomi, pengumpulan informasi dan data inteliijen, dan mungkin kekuatan lainnya. Diperankan pemerintah pada saat tertentu dalam “orkestra nasional” dan aktif bermain bersama saat instabilitas (krisis—konflik–jelang perang) dalam kemasan yang disebut opsi penangkalan fleksibel (flexible detterent option). Diplomasi merupakan kumpulan penilaian “tetap” yang dilakukan kekuatan nasional negara lain yang biasanya terkait karena mungkin ada ketersinggungan atau ada kesamaan kepentingan nasionalnya.

Hubungan ini terjadi karena satu sama lain menginginkan kekebasan aksinya (freedom action) dalam rangka pencapaian obyektif kepentingan nasionalnya, utamanya yang  berkategori survival. Diplomasi tradisional maupun cara sekarang ini berupaya mendayagunakan berbagai cara dan praktek guna mengamankan dan melindungi atau peningkatan kegiatan agar tujuan kepentingan nasional yang mungkin bersinggungan dengan Negara lain semakin mulus jalannya. Sedangkan instrumen utama kegiatan diplomasi adalah negosiasi.

Kegiatan diplomasi di atas, cukup memberikan nuansa dan kejelasan  betapa pentingnya peran diplomasi, bermain “musik dan irama yang sama”, yaitu orkestra nasional, bersama-sama dengan instrumen nasional lainnya. Salah satunya adalah peran militer. Hans Morgenthau  mengakui instrumen itu masih relevan sampai  saat ini, yakni “sebagai kekuatan yang dipersenjatai, bisa sebagai ancaman maupun kekuatan potensial dan tetap merupakan faktor yang sangat penting sebagai elemen kekuatan politik negara”.

Mempelajari peran militer sebagai instrumen kekuatan nasional dapat dilihat dari dua bagian. Bagian pertama adalah kemauan politik penggunaan kekuatan militer, seperti gambar dibawah ini.

(Referensi :”Military Power and the Use of Force” John F Troxell, halaman 193).

Gambar di atas, merujuk Publikasi Operasi Gabungan AS (US Joint-Pub 1-0) yang merasionalisasikan kepentingan politik penggunaan kekuatan militer itu terdiri dari lima(5) kegiatan  di bawah kendalinya seperti: deter, coerce, compel, defeat dan seterusnya. Sedangkan bagian kedua dikaitkan dengan penggunaan ril kekuatan militer, bentangan penggunaan kekuatan militer dapat divisualisasikan seperti tergambar di bawah ini:

 (Referensi: Ibid, halaman 198)

Gambar tersebut mendemonstrasikan bentangan penggunaan militer bagi kepentingan operasi militer secara umum. Gambaran di atas masih bisa dikembangkan dalam kategorisasi operasi gabungan. Seperti diketahui operasi gabungan-pun (opsgab) dapat dikemas dalam tiga (3) kategori yakni opsgab urusan sipil (joint civil affairs operation), opsgab sipil-militer (joint civil-military operations) dan opsgab militer (joint military operations).

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x
Share via
Copy link
Powered by Social Snap