Struktur kekuatan militer (FS/force structure)—skenario dan beberapa problema didalam

Oleh  Budiman Djoko Said

 

Pendahuluan

 

Kalkulus FS[2] menjadi bisnis utama manajemen pertahanan Kementerian pertahanan nasional umumnya. Tidak ada kerangka baku  namun normanya adalah menurunkan struktur tersebut dari paket “policy”[3] pertahanan nasional kedalam strategi berujung munculnya alternatif FS untuk operasi dilapangan berupa (paket) kekuatan gabungan yang digunakan, sedang atau di pelihara selama ini. Rencana jangka panjang ini selalu berbasis gabungan, mengingat opsgab adalah operasi yang paling effisien[4]. Tidak effisien kalau setiap Angkatan berhitung FS masing masing; baru di-linearkan sebagai kekuatan gabungan[5]. Bisa terjadi TNI-AL kapal-nya bisa berlebihan atau kekurangan, idem TNI-AD atau TNI-AU[6]. Hadirnya tetapan MEF apakah diartikan bagi satu (2), dua (2) Angkatan atau bagi kekuatan gabungan; tentu saja ketiganya berbeda artinya bukan? Meningkatnya ketidakpastian[7], kaburnya batas ancaman, tebalnya “kabut peperangan” (fog of war), dan semakin terbatasnya sumber daya mendesak diperlukan mekanisme kalkulus FS yang kokoh dan konkrit sebagai basis pemilihan kekuatan yang transparan dan akuntabel. Mekanisme ini membantu terciptanya “road-map” transformasi keinginan militer dengan cakrawala waktu antara 15-20 tahun[8]. Produknya adalah rencana pengembangan; rincian jangka panjang sebagai turunannya, dan produk-nya berupa kapabilitas (capabilities) kekuatan militer. FS adalah perangkat hubungan sipil-militer KemHan dengan Parlemen. Kecenderungan menggunakan skenario sebagai basis FS à makalah lebih banyak menyoroti skenario. Isu modernisasi[9], biaya total (total life-cycle cost) & estimasi-nya[10], elemen FS seperti personil & laju atrisinya baik aktif dan cadangan[11], rekruiting, industri pertahanan nasional, QDR (quadrenials defense review), DDR (defense requirements review), dan FS portofolio diluar bahasan ini. QDR atau DDR merupakan kajian rutin[12] KemHan untuk uji keabsahan pendekatan kalkulus FS dan evaluasi pengembangannya serta keandalan track “road-map”—perlu tidaknya koreksi (gambar no.13). Asumsi bahasan; semua problema yang muncul berangkat bersama-sama dari tahun ke-nol.

 

Peran KemHan, strategi dan kebijakan dan interaksi dengan Parlemen[13].

KemHan sebaiknya memiliki tim ahli yang membangun konsep kebijakan pertahanan nasionalnya[14], kebijakan & perencanaan, penganggaran (dalam total life-cycle cost), konsep kapabilitas, kaitan pengembangan kekuatan & teknologi & modernisasi serta seksi effektifitas – biaya dan isu kritis lainnya[15]. Inisiasi Menteri/Sekretaris pertahanan dengan format populer yakni “policy” dan di-ikuti dukungan konkrit subordinasi policy yakni “strategi” dan kata terakhir ini mencerminkan ajakan jelas kearah mana performa kinerja KemHan[16]. Strategi adalah pendekatan sistematik menuju perubahan dan aplikasi yang menjamin tercapainya obyektif (desired ends). Strategi fokus[17] pada suatu obyektif jangka panjang guna mempertemukan prediksi suatu kondisi dengan realitas-nya.Kelangkaan strategi hampir pasti mengaburkan kejelasan arah; terhimpit krisis dan perubahan, antara politik dan kebijakan, tergerus hantaman kanan/kiri isu lingkungan dengan konsekuensi hilangnya energi atau kehilangan manfaat (benefit-loss) yang bisa saja tidak terukur dan tidak transparan. Untuk lebih mudah memahami persepsi policy dan strategy, dibuat algoritma pertanyaan seperti dibawah ini [18]:

 

  • Obyektif “kebijakan”(policy) [19] —-What do we want to do ?
  • Strategic execution —- How do we plan to do it ?
  • Threats, vulnerabilities, challenges, opportunities —- What we are up against ? Unilateral or multilateral choices, alliances or coalitions or alingments, international institutions, viable defense forces, economic or political or diplomatic or informational instruments —- What is available to do it ?
  • Risks, deficiencies unforseen outcome, cultural blinders —- What are the mismatches ?

Diawali dengan demonstrasi peran utama Menhan yang relatif umum dimana-mana, yakni membangun program pertahanan nasional (FS) melalui skema dibawah ini.

Gambar no.1. Peran Menhan
gambar 1 peran menhanReferensi: Paul K Davis, Analytic Architecture for Capabilities-Based Planning Mission-System Analysis, and Transformation, (RAND, NDRI, Office of the Secretary of the Defense,2005), halaman 6. Meski berbasis paradigma lama, namun kerangka fikir ini masih bisa dipakai. Bagian kiri merupakan muatan strategi pertahanan nasional, strategi militer nasional dan lingkungan strategik yang menjadi masukan proses keputusan ini. Bagian kanan merupakan arahan Presiden tentang penggunaan sumberdaya dan analisis ekonomiknya. Blok terahir (blok 4) dan sebelumnya banyak terjadi agenda yang ketat dan sejumlah iterasi (ulangan, turun naik). Di-antara blok kedua dan ketiga (dari atas) terjadi iterasi tentang kapabilitas yang dibutuhkan—Menteri memutuskan pilihan pembangunan kekuatan militer gabungan (blok 4).

Baca lebih jauh : Quarterdeck Edisi Mei 2016

Maaf untuk membaca full akses konten dalam format post artikel silahkan terlebih dahulu mendaftar sebagai anggota milist FKPM –> D A F T A R

0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Copyright © 2020 Forum Kajian Pertahanan dan Maritim. 
Scroll to top
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x
Copy link
Powered by Social Snap