SURVEI TENTANG INTELIJEN KONTEMPORER

Oleh: Budiman Djoko Said

Pendahuluan

Tertembaknya Noordin M Top menunjukkan kemajuan Polri menangani terorisme dinegeri ini. Produk kerja keras, tekun, sabar, dilakukan mereka yang berdedikasi sebagai anggota komunitas intelijen (KI),didukung teknik analitik yang membantu informasi menjadi matang disajikan.  Intelijen sebagai proses adalah produk hasil siklus intelijen berawal dari koleksi, exploitasi,proses,integrasi dan diseminasinya,analisis,evaluasi dan interpretasi semua yang berkenaan dengan aktor negara luar atau area (NDP-2, hal 4).Visualisasi dalam gambar dibawah ini (Miller,hal 2):

Gambar no.1

 

Sumber:Dr. J. O. Miller,hal 2,fig 1.The Intelligence Cycle [JP 2-0,2000,hal II-1].

Standar pola kerja KI adalah siklus intelijen. Model ini lebih merupakan idealisasi dibandingkan kejelasan diskripsi. Model ini bekerja bagi para pelanggan di-Indonesia, misal BIN, ajensi intelijen semua Departemen seperti Dephan, TNI, Polri, BMG, Hidros, Topographi, dll dan empat (4) kolektor utama seperti Humint, Sigint, Imint dan Massint, termasuk  penginderaan dan imajing,pesawat tanpa awak (UV) tiga (3) dimensi, dll. Model ini menirukan isu intelijen secara umum,absah  dibahas dan  didiskusikan, dimodernisasi bahkan berpotensi untuk dikembangkan  menjadi model yang lebih komprehensif (Sharfman,hal 1). Pertanyaannya seperti apa “intelijen” itu,sebagai teori,seni,sesuatu yang harus disembunyikan (secrecy),sebagai perangkat pengambilan keputusan atau bantu keputusan?Aksi  terbuka (overt),tertutup  (covert), klandestin atau termasuk aksi spionase?Terlibat aktif sampai memenangkan perang dengan offensif dan atau defensif,bahkan sampai tercapainya outcome  suatu “operasi berbasis effek” turunan ketiga dst? Atau lebih banyak berorientasi keluar?

Pertanyaan ini cocok buat aktor yang merasa hidup berdampingan dengan “musuh”,seperti AS dengan Russia,era perang dingin,keduanya pasti akan banyak berfikir dan fokus pada optimalisasi organ dan ajensi intelijen mengumpulkan informasi musuh masing-masing.Berakhirnya perang dingin,dan tumbuhnya peperangan umum melawan terorisme (GWOT/general war on terorism) dirasakan  semakin diperlukan reformasi organisasi dan ajensi intelijen.

Karena definisi intelijen sangat beragam bagi  kepentingan masing-masing aktor tentunya sulit menggulirkan dalam muara kesamaan perspektif. Perubahan pola ancaman ini membuat tantangan multi dimensional sekuriti menjadi koheren global menghadapi ancaman asimetrik. Celakanya ancaman ini ditunggangi oleh aktor-aktor (lebih cenderung ke-non aktor) yang ikut meramaikan isu keamanan multi dimensi ini,seperti ancaman transnasional,kriminal transnasional, nasional,regional dan internasional,dan paling menonjol adalah terorisme. Apapun definisinya, intelijen militer lebih mencoba menangkap infomasi tentang siapapun yang menjadi aktor negara yang patut diketahui intensi dan kapabilitasnya. Intelijen mendemonstrasikan produk informasi aktor tersebut dan mendistribusikannya  dalam lima (5) skala Kent (Kevin,hal 2-5), seperti “hampir pasti”(90 % pasti),”boleh jadi” dengan 75 % kepastiannya, ”sepertinya” dengan 50% kepastiannya,“mungkin tidak” dengan 30% kepastiannya dan hampir pasti tidak dengan 7 % kepastiannya (Whaley,hal 10).Bandingkan dengan distribusi produk tradisional hanya dalam tiga (3) kelas seperti  kelas A,B,C justru  memperbesar simpangan baku (standar deviasi) distribusi tingkat ketidak kepastiannya dan mengurangi akurasi analisis produk intelijen.Dinamis dan luwesnya intelijen didayagunakan (utility),sangat tergantung kemahiran pakar (statecraft) yang menanganinya.LI atau lawan intelijen (counterintelligence) adalah aspek besar dari kepakaran intelijen.Bila kosa kata LI digunakan bersama kata intelijen,akan menekankan kepada pertanggungan jawab yang berbeda dari dua sisi mata uang intelijen (Steele, hal 40),bila dibicarakan intellijen tersendiri maka LI melekat didalam dan dijamin sebagai subset substansi intelijen.

Lebih dari 40 tahun lamanya,studi intelijen menjadi bagian kurikulum studi hubungan internasional dan diintegrasikan kedalam kurikulum disemua War College.Sejauh ini sedikit yang mengenal atau mengetahui peran LI diantara pemikir,praktisi serta  elit keamanan nasional,bahkan pengambilan keputusan nasional (Van Cleve,hal 3).Mengabaikan ancaman dan peluang yang dilakukan oleh intelijen “lawan” akan menjadi kenyataan buruk bagi keamanan nasional (Ibid,hal 3).Meskipun makalah ini masih belum bisa menjawab semua pertanyaan diatas,namun mencoba menghadirkan berbagai konsep analitik dan pendalaman yang mungkin berguna untuk dikembangkan oleh ajensi intelijen RI.

Organisasi Intelijen dan Analisisnya 

Penajaman organisasi sebagai bagian reformasi intelijen meliput bukan saja strukturnya, yang penting bagaimana membangun fokus atau redefinisi  obyektif. Fokus pada obyektif yang jelas, misal produk intelijen aktor tertentu (defense),atau fokus pada produk intelijen tentang terorisme didalam negeri (homeland security).Beda fokus menciptakan arsitektur organisasi intelijen yang signifikan berbeda.Pertimbangan keberadaan KI sebagai komunitas ajen intelijen akan cenderung lebih menimbulkan isu kultur organisasi dibandingkan peta organisasi.Sangat masuk diakal karena pekerja intelijen lebih terbiasa bekerja tertutup dan penuh kerahasiaan (secrecy),dan jauh dari keterbukaan.Padahal tuntutan operasi intelijen gabungan urusan sipil,sipil-militer dan militer sangatlah diperlukan dengan alasan effisiensi,kecepatan dan fokus kepada musuh bersama.Gambar no.2 dibawah memperjelas posisi,hirarkhis strategi, kebijakan intelijen dilingkungan pemerintah dan menjadi basis penajaman arsitektur organisasi intelijen.

                   Gambar no.2

Sumber:DoD,Defense Intelligence Strategy,hal 7,8.

Peran strategi intelijen pertahanan nasional (DIS, ditengah) yang   mengintegrasikan dukungan bagi dua misi rujukan yang lebih superior, yakni obyektif strategi pertahanan nasional (NDS) dan obyektif  strategi intelijen nasional (tertulis NMS harusnya NIS). Cermati juga dalam konteks ini,bahwa semua kegiatan apapun juga termasuk intelijen  diranah strategi raya (grand strategy) selalu mengacu pada strategi keamanan nasional (NSS, blok paling atas) dengan produk yang dikenal sebagai Kamnas. Kerangka fikir ini mengisyaratkan mengapa, bagaimana, dimana posisi kegiatan intelijen pertahanan nasional, LI, kegiatan keamanan mendukung strategi intelijen nasional, merespon kebutuhan militer nasional dan departemen pertahanan nasional, dan bermuara di-strategi keamanan nasional (DoD, hal 8). Bisnis yang jelas, membangun jejaring (network) yang luas, menjamin integrasi sistem informasi intelijen nasional serta bantu pengambilan keputusan intelijen nasional diseluruh arsitektur pemerintahan.Memilih produk intelijen untuk kepentingan obyektif strategi militer nasional,pertahanan nasional,dan non-militer (OTW), atau terorisme sangat tergantung kejelasan obyektif kepentingan nasional dan obyektif strategi keamanan nasional,strategi pertahanan nasional dan strategi militer nasionalnya. Fungsi-fungsi  LI akan menampilkan performa taktis dan operasionalnya menghadapi dinamika perubahan ancaman intelijen asing (Van Cleve, hal 3). Bila LI sukses, ada sumbangan langsung pada strategi keamanan nasionalApa sumbangannya itu? Pertama,pengabdiannyasebagai perisai penjaga penetrasi terhadap pemerintahan dengan cara memberikan peringatan, informasi keamanan dan lain-lain ukuran untuk bertahan. Kedua, sebagai pengaman informasi buruk dari intelijen asing sekaligus menurunkan kapabilitas intelijen asing.

LI sekaligus dan tidak langsung menciptakan jendela unik bagi pemerintah untuk menampung gambaran dari intelijen asing, semua intensi, rencana dan kapabilitasnya (Ibid,hal 3). Aktor dengan sumber daya terbatas seperti negara berkembang bahkan miskin lebih memilih atau fokus pada salah satu ancaman. Memilih keduanya akan menghasilkan mutu produk yang kurang optimal,dan sangat memungkinkan hasil mutu per katagori/kelas produk intelijen yang rendah. Dampak mutu serta kedalaman analisis juga berpengaruh kuat sekali. Proses menghasilkan produk intelijen tentang musuh berbeda dengan proses menghasilkan produk entiti aktor non-negara misalnya jaringan Al-Qaeda seperti kelompok JI (Jihadi Islamiyah).Analisis terakhir ini lebih cenderung ketingkat analisis murni dengan memberikan berbagai alternatif dan mempelajari ulang (deepen analysis) masing-masing alternatif dengan perangkat dan pendekatan analisis yang modern. Penajaman organisasi dengan penajaman teknik analisis intelijen sangatlah diperlukan sekali, salah satunya adalah teknik menghubungkan “dot”.“Dot” adalah entiti informasi seperti kejadian,fakta,hubungan,dan atau interpretasi serta berpeluang untuk dihubung-hubungkan sehingga membantu para analis intelijen menarik suatu rekaan kesimpulan. Tertangkapnya Noordin M Top merupakan kegiatan koleksi dan koneksi  dot-dot yang tersebar,meski mungkin masih menggunakan teknik-teknik tradisional.

Awal koneksi ini sepertinya tidak ada artinya,namun setelah ditampilkan dalam gambaran komprehensif sebagai respon ancaman akan menjadi lain. Konsep ini kelihatannya sederhana, namun sesungguhnya sangatlah sulit, karena tidak semua “dot” tersedia atau setidak-tidaknya memilih sekian banyak kandidat “dot” mana yang dapat diutilitikan. Harapannya versus isu “dot” ini adalah berbagi informasi dalam rangka mempercepat deteksi fenomena kritikal (Libicki,et-all,hal 35-59).

Berbagi informasi koresponden dengan menolak munculnya penghalang. Misal, membangun jejaring (networks) sama saja membuka penghalang adanya kompartementalisasi KI. Beberapa faktor dibawah ini perlu dicermati dalam rangka membangun kegiatan koleksi “dot”. Pertama, jejaring. Berbagi informasi membutuhkan semacam jejaring. Fisik jejaring sebagai mesin penghubung menjadi sangat berfaedah menggiring informasi yang terpisah-pisah menjadi informasi yang kohesif satu sama lain. Suatu saat komunitas bisa menjadi tidak jelas.Karena itu individual yang dikenal sebagai “konektor”lah yang lebih tahu dan dapat berbicara dalam suatu organisasi dan berperan penting sebagai penyangga jaringan sosial ini. Kedua,peran dan tanggung jawab.Setiap proses yang beralamat kepada sirkulasi informasi,memiliki sedikitnya tiga (3) aktor,yakni pengambil keputusan (decision makers), yang menyaksikan (perceiver) dan konektor (connectors). Klarifikasi peran dan tanggung jawab ketiga peran tersebut akan sangat membantu organisasi dan KI  menyempurnakan komunikasinya,dan sangat membantu kultur organisasi. Ketiga,kolaborasi atau bersama-sama membawa sekelompok orang yang tepat kedalam proses sirkulasi yang tepat.Mekanisme perlu dibangun agar orang tidak enggan untuk berkolaborasi. Bagaimanapun promosi berkolaborasi sangat menantang,yakni mengajak orang berbagi informasi yang mereka miliki meskipun sulit,sedangkan orang lain belum memilikinya. Keempat,menyimpan potongan-potongan informasi dalam katagori yang sejenis sangat memudahkan sistem manusia dan mesin mengkoleksi “dot”. Kelima,pendekatan dengan menggabungkan sistem manusia dan mesin dalam satu cangkokan (hybrid) kapabilitas akan mampu mengeksploitasi uniknya kapabilitas. Berikutnya ada lima (5) kerangka kerja yang essensi guna mendukung kegiatan koleksi “dot”. Kelima kerangka tersebut adalah monitoring “in-box”, syntesisor, analisor, perangkat pengambil keputusan interaktif, dan konektor yang menghubungkan produk jadi (finished good) intelijen  kealamat yang memerlukannya (Ibid,hal 54-55).

Siklus Intelijen 

Bergesernyapola ancaman multi dimensi ke-bipolar,berlanjut ke asimetrik merubah pola pikir dan analisis KI yang terbiasa menghadapi perilaku ancaman tradisional dengan sejumlah besar ladang data dari sumber terbuka maupun tertutup dari seluruh penjuru dunia. Bergesernya pilihan atau fokus kepada ancaman asimeterik,dan aktor non-negara merubah dramatik lingkungan sekuriti,dan realita pendekatan tradisional. Masa lampau dengan tebaran data yang begitu banyak namun mudah ditengarai perilaku kelompok tebaran besarnya.Bandingkan dengan volume dan kecepatan tumbuhnya informasi sekarang yang jauh melebihi,namun bentuk alami sasaran intelijen berubah drastis,yakni besaran data semakin mengecil,tebarannya semakin melebar,semakin sulit dimengerti,dan sulit ditebak apakah mereka akan kembali menyerang atau muncul kedua kalinya. Fenomena dan realita ini menjadi inovasi perbaikan konsep siklus intelijen yang sudah ada.Gambar no.3 dibawah adalah analisis intelijen dengan komponen siklus ganda yang lebih rasional.

Gambar no.3

 

Sumber: Treverton, hal  3-4

Pembuat kebijakan dan elit militer mengawali siklus dengan formulasi masalah (problem formulation). Meski dalam putaran (kelipatan siklus) berikut bisa memotong (garis putus-putus C) siklus menuju analisis koleksi sasaran kemudian ke-distribusi penugasan (resource tasking) dan kepada para kolektor masing-masing (Humint,dst). Hasil koleksi didistribusikan dan diproses diberbagai tahapan atau putaran,akhirnya bermuara pada analisis semua sumber data (all-source analysis) dan kembali didistribusikan kepada para pembuat keputusan dan elit militer atau seleksi analisis, analisis ulang atau awal analisis “dot” baru. Analisis informasi dan proses data berbagai tahap atau putaran bisa saja memotong langsung ke-pembuat kebijakan atau langsung ke-koleksi sasaran yang direncanakan berikutnya, misal proses dengan garis putus-putus (A dan B).Dalam kontek proses analisis exploitasi (blok data processing & exploitation analysis),dapat menggunakan model HIMM (Holistic Interpersonal Influence Measures). Berikut contoh HIMM versus JI(Jihadi Islamiyah). Konsep ini mendayagunakan teknik operasi riset seperti teori jejaring kerja (network path) dan analisis hirarkhis proses. Mula-mula JI dibagi dalam katagori pemimpin senior (Emir), pemimpin dewan (disebut Colonel),pemimpin daerah (disebut Captain),dan terakhir operator papan bawah (Lieutenant).Himpunan data 48 anggota JI menjadi input kedalam model HIMM dan menghasilkan distribusi pengaruh religi satu sama lain, tingkat kekuatan kepemimpinan, tingkat kekuatan guru atau murid,dan tingkat hubungan antar kelompok, dll (Clark, et-all,hal 10-20). Gambar no.4 mendemonstrasikan penjelasan diatas melalui simpul hubungan antar katagori.

Gambar no.4

Sumber: Clark, hal 16, riset dilakukan tahun 2005,anggota JI diduga masih berkeliaran diregional Malaysia,Singgapura,Indonesia,Philipina dan Thailand.

Emir ditandai dengan bentuk lingkaran,Colonel dengan tanda segiempat, Captain dengan tanda segitiga dan Lieutenant dengan tanda belah-ketupat. Besar dan kecilnya intensitas hubungan per setiap pangkat atau golongan menunjukkan tinggi rendahnya bobot kepemimpinannya. Setiap simpul yang muncul diberikan label nama asli disebelah kanan, lengkapnya ada direferensi.Tabel no 1 menggambarkan salah satu produk  HIMM, yakni displai graphik kalkulasi final keluaran HIMM dan produk matrik H.

Tabel no.1

 

Sumber:Clark,Halaman 22.Notasi matrik dengan huruf besar (W,E,dan H),sedangkan anggotanya dalam huruf kecil (w,e,h).

Matrik H =[hij]=[wij ei  ], dengan hij adalah rata-rata besarnya pengaruh pasangan anggota i terhadap anggota i (Ibid,hal 23).Tabel no.2 berikut menggambarkan rasio kuat pengaruh  pasangan satu sama lain dibandingkan pengaruhnya terhadap yang lain.Sebagai produk final,ditampilkan matrik H dengan B,S,Hm,M dan I sebagai elemen matrik.Kelima elemen dengan satu,dua huruf adalah nama depan orang yang sudah cukup dikenal di-Asia tenggara,lengkapnya ada dalam referensi.

Tabel no.2 , jejaring HIMM (HIMM Network),dengan produk H (matrik 5 x 5).

 

Sumber:Ibid,hal 23.

Harga sel matrik tidak seluruhnya dimasukkan,harga sel menggambarkan rasio jejaring langsung, misal kuat pengaruh langsung B terhadap I (baris 1 dan kolom 5 = 0.64) ~ hampir dua kali besar pengaruh I terhadap B (baris 5 dan kolom 1 = 0.33).Pengaruh B terhadap S (2.03) ~  empat kali lebih kuatnya pengaruh B terhadap Hm (0.55).

Pendalaman Analisis Intelijen

Analisis intelijen sangat bergantung pada perangkat,teknik atau peralatan dan kualitas personil. Isu personil tidak dibicarakan disini.Fokus dan agresifitas litbang intelijen sangat membantu memperbaiki methoda analisis dimasa mendatang.Percobaan dengan berbagai-bagai methoda analisis,demonstrasi dan test,bukaan hanya membandingkan dan menunjukkan kelebihan kekurangan masing-masing methoda,namun juga  menunjukkan perbaikan manajemen waktu,porsi perangkat analisis, mekanisme yang lebih maju dan menunjukkan hasil kerja analisis mendatang jauh lebih maju dan akurat (Treverton,hal 13). Bagian ini  mencoba menjelaskan pendalaman analisis secara singkat berangkat dari tabulasi preferensi para pakar dan elit intelijen nasional tentang intelijen. Asumsinya bahwa rubrik analisis intelijen  membentang luas mulai pelibatan himpunan ketrampilan dan keahlian spesifik sampai kehimpunan perangkat analisis dari yang sederhana dengan derajat kepercayaan rendah (produk) sampai perangkat rumit dengan derajad kepercayaan yang tinggi.Periksa ulang gambar no.3,akan nampak satu garis kearah formulasi masalah dari policy-maker bertajukan “questions and issues” dalam siklus intelijen dikembangkan sebagai basis kestioner kepada para responden.Para responden adalah para praktisi intelijen,elit militer dan sipil dilingkungan KI.Tabel no.3 berikut merupakan kalkulasi akhir jawaban kestioner 3 pok jawaban,yakni tools of intelligence/analysis,staffing dan intracommunity.

        Tabel no.3

Sumber:Treverton,et-all,hal 12.

Gambaran preferensi ini merupakan penilaian dan kalkulasi para responden.Prosentase yang tampil belum merupakan kalkulasi yang akurat,sekedar  penilaian sederhana repsonden yang mengidentifikasi isu spesifik yang menjadi keprihatinan mereka. Analisis ini bisa  tidak terlalu benar, namun setidaknya memberikan gambaran besar kecilnya porsi yang dibutuhkan per item isu untuk perbaikan konsep dan analisis intelijen lebih lanjut. Faktor kritis dalam analisis tabel ini adalah harga rata-rata respond relatif per orang per setiap isu.Perhatikan bahwa kelompok “tools of intelligence/analysis” menunjukan angka yang lebih besar dari angka isu yang lain,misal staffing.Dengan tetap mengikut sertakan blok analisis seperti initial analysis and screening,more refined analysis,integrated analysis,dst,tabel ini dikembangkan menjadi gambar no.5, yakni piramida hirarkhis analisis penugasan.Model ini dikembangkan sekaligus menjawab isu yang ada disebelah kanan pojok atas gambar.

Gambar no.5. Piramida analisis penugasan

 

Sumber: Treverton,hal 14.

Piramida ini menunjukkan jenjang tingkat analisis yang dibutuhkan pengguna dan dirinci dalam jenjang blok analisis dan bantu pengambilan keputusan disetiap tingkat. Di-dunia nyata (real world) tidak selalu tercipta proses yang teratur,kadang-kadang suatu informasi mentah dari tingkat terbawahpun dapat diasup langsung ketingkat yang lebih tinggi(anak panah bagian kanan, loncat langsung ketingkat lebih tinggi). Perhatikan asupan informasi berawal dari sumber data dengan klasifikasi rahasia/terbatas (classified) sampai terbuka (unclassified), berasal dari kolektor terbuka (mass of information in public domain) sampai dengan kolektor tertutup seperti humint, elint, sigint, imint, masint, comint, dan seterusnya. Idealnya, semua analisis awal diolah terlebih dahulu menjadi data yang mudah dibaca atau mudah dimengerti. Bisa saja tanpa diminta (otomatis) posisi lawan langsung disuntikan dari computer pesawat tempur,kapal tempur,kapal selam atau sebaliknya kepusat informasi tempur.Ditingkat bawah,dengan segudang data mentah yang bisa disuntikkan memerlukan keahlian dan spesialisasi tertentu untuk mengolah sejumlah besar ragam data menjadi  mulai berguna (more intelligible).Contoh, kolektor comint,mulai analisis awal,lanjut analisis imajeri,kemudian multi serta hyperspectral imajeri berjenjang.Bertahap secara alami sambil membuang data sampah.Semakin meningkat keatas semakin “cerdas” model analisis,perbedaan perilaku data olahan semakin tipis serta berkurangnya  keragu-raguan status (misal:target recognition).

Ditingkat menengah analisis data semakin jelas,perhatikan entiti pendidikan,lembaga riset,riset industri,think-tank sudah bekerja sama dan berkolaborasi.Kolaborasi ini membenarkan aktor pertahanan nasional terbagi dalam tiga (3) katagori,pertama adalah  “hard”, mereka yang benar-benar pengguna mesin perang.Kedua,mereka-mereka pendukung OTW dan ketiga atau“soft” adalah pemikir,akademisi,peneliti strategik, seni operasi, operasi dan taktik. Katagori ketiga ini lebih sibuk dimasa damai,dibandingkan masa krisis, konflik dan pra perang.Olahan data berbagai katagori,klasifikasi dan per-tahap teknik analisis semakin meyakinkan data tersebut menjadi semakin “intelligible””.Produk tahap ini, misal:karakter dan performa sistem senjata strategik seperti CEP (circular error probability) Rudal negara “x” tipe xx.Produk akhir intelijen akan meliput tiga (3) parameter unsur utama keterangan dan info kritikal bagi kepala negara yakni, intensi, kapabilitas militer dan ekonomi negara lain.Tabulasi kebutuhan ketrampilan seperti dalam tabel no.4 dibawah.

Tabel no.4. Bentang dan tahapan “tools” analisis,
contoh fungsi dan ketrampilan yang dibutuhkan.

 

Sumber: Treverton,hal 20.

Tools”,adalah teknologi,perangkat,teknik,produk atau proses yang digunakan untuk pertama,berkaitan pengolahan data.Seperti kemudahan akses data,improvisasi mesin pencari (search engine),algoritma yang lebih baik dan cepat untuk segera membuang “outlier” dan mentayangkan gambar lebih jelas.Kedua,kemudahan test hipothesa atau test statistikal lainnya.Ketiga,kemudahan komunikasi dan interaksi,misal antara operator dengan pelanggan,pengguna,pimpinan,analis,ataupun dengan para kolaborator.Status dan tahap analisis  (stage of analysis) berada di kolom paling kiri.Tahap tersebut mengikuti simpul siklus intelijen dalam   gambar no.3 dan 5.Kolom berikut adalah fungsi,tipikal perangkat dan keahlian dan ketrampilan yang harus dimiliki oleh operator intelijen atau analis.

Penutup 

Model intelijen diatas dapat digunakan sebagai rujukan reformasi, disesuaikan dengan obyektif kepentingan nasional dan strategi keamanan nasional.Merenungkan muatan paramater dalam gbr no.2,no.3,no.5 dan tabel no.3 dan 4,merupakan tantangan dan beratnya beban kerja yang dihadapi  siapapun pemimpin KI yang menginginkan tranformasi dan reformasi ajensi intelijen nasional dinegeri ini agar kapabel menampilkan produk puncak intelijen seperti intensi,kapabilitas militer dan ekonomi nasional asing.Model ketrampilan,keahlian dan spesialisasi intelijen per blok proses siklus intelijen adalah suatu kejelasan dan merupakan acuan dalam rangka mengolah semua kegiatan intelijen,sekaligus kurikulum pelatihan.Model yang ditawarkan diatas,lebih banyak menggunakan analisis modern dan kuantitatif.Penggunaan  beberapa model saja sudah cukup bagus untuk membantu reformasi intelijen.Apapun pilihan model dan aplikasinya,penajaman organisasi sebaiknya berorientasi pada obyektif organisasi,karena itu redefinisi KI dan perannya perlu dilakukan.

Kenyataan kegagalan intelijen bukan karena kesalahan analisis,akan tetapi lebih banyak pada kesalahan mengumpulkan koleksi yang keliru, …the intelligence failure in Iraq did not begin with faulty analysis.It begin with a sweeping collection failure (Treverton,2005,hal 24).Penggunaan satelit penginderaan mudah dimanipulasi obyek pada saat sensitif,yakni saat berada diatas obyek.Pusat intelijen memang menampung banyak data, namun sangat sedikit produk intelnya,contoh keluhan tentang Imint dan Sigint sewaktu perang Irak,…….produced precious little intelligence for the analysts to analyze (Treverton, 2005, hal 25). Diikutinya kecenderungan revolusi seperti revolution in intelligence affairs, dan revolution in military affairs (Barger,hal 136), dst, memungkinkan menegasikan reformasi. Pernyataan menggelitik Prof James Wirtz/US Naval Postgraduate School yang mengatakan ironi dengan kenyataan bahwa intelijen tidak kapabel (capable) atau sekurang-kurangnya harus bisa (able) memprediksi sukses tidaknya suatu operasi militer (Treverton,et-all, 2006,hal 26).Semoga bermanfaat.

Referensi:

1.Barger,Deborah.G,RAND,2005,Toward a Revolution in Intelligence Affairs.
2.Clark,Clinton.R,Analysis Division Combat Airforce HQ,Dr.Deckro,Richard.F,Lt Col Weir,Jeferry.D,Dr Perry,Marcus.D,Paper AFIT(Air Force Institute of Technology),2005,Modeling And Anaysis of Clandestine Networks.
3.DoD,2008,Defense Intelligence Strategy.Di-ranah strategi raya (grand strategy) semua blok strategi selalu diikuti kosa kata nasional (national = negara + “core values”),misal strategi keamanan nasional,strategi militer nasional,strategi pertahanan nasional,dll,bukan kosa kata negara (kata negara lebih cenderung kefisik,pen).
4.Libicki,Martin.C dan Pfleeger,Shari Lawrence,RAND,OP-103-RC,2004,Collecting the Dots,Problem Formulation and Solution Elements.
5.Miller,J.O,AFIT (Air Force Institute of Technology),2004,Modeling The US Military Intelligence Process.
6.NDP,N(aval)D(octrine)P(ublication)-2,DoN (Dept Of The Navy),1993,Naval Intelligence.
7.Sharfman,Peter.J,Director Of Policy Analysis,MITRE CORP,Va,Network-Centric Intelligence:An Approach To A Strategic Framework.
8.Steele,Robert.D,US Army War College,Feb 2002,The New Craft Of Intelligence:Achieving Asymmetric Advantage In The Face Of Non-Traditional Threats.
9.Treverton,Gregory.F,RAND,2005,The Next Steps in Reshaping Intelligence.
10.Treverton,Gregory.F dan Jones,Seth.G dan Boraz,Steven serta Lipscy,Phillip,RAND,2006,Toward a Theory Of Intelligence, Workshop Report,2005.
11.Treverton,Gregory.F dan Gabbard,C.Bryan,RAND,2008,Assesing the Tradecraft of Intelligence Analysis.
12.Van Cleve,Michelle.K,NDU(National Defense University),April 2007,Counterintelligence and National Strategy.
13.Whaley,Kevin.J,Cpt USAF,Thesis AFIT (Air Force Institute of Technology),Master of Science (MS) in Operations Research,March 2005,A Knowledge Matrix Modeling Of The Intelligence Cycle.

 

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x
Share via
Copy link
Powered by Social Snap