VISI ANGKATAN LAUT INDIA 2022: TANTANGAN TERHADAP INDONESIA

Oleh: Alman Helvas Ali

1. Latar Belakang 

Dalam sebuah kesempatan belum lama ini di New Delhi, Kepala Staf Angkatan Laut India Laksamana Sureesh Mehta memaparkan Visi Angkatan Laut India 2022. Visi tersebut menggarisbawahi bahwa India ingin to create and sustain a three-dimensional, technology-enabled and networked force capable of safeguarding maritime interests in the high seas and projecting combat power across the littoral.[i] Kekuatan tersebut akan disebarkan untuk menjamin lingkungan yang aman dan damai di kawasan Samudera India dan pencapaian tujuan politik, ekonomi, diplomasi dan militer merupakan tanggung jawab Angkatan Laut India. Menurut Laksamana Mehta, pada 2022 Angkatan Laut India akan diperkuat oleh sekitar 160 lebih kapal perang, termasuk tiga kapal induk, 60 kapal kombatan atas air dan kapal selam dan hampir 400 pesawat udara berbagai tipe.[ii]

Pada dasarnya Visi Angkatan Laut India 2022 tidak lepas dari The Indian Monroe Doctrine. Menurut doktrin itu, Samudera India merupakan legitimate area of interests, sehingga harus berada dalam Indian political system. Yang dimaksud dengan Indian political system adalahIndia tidak bisa memberikan toleransi terhadap campur tangan kekuatan ekstra kawasan terhadap persoalan politik dan keamanan di sekitar SamuderaIndia. Seiring dengan kemajuan ekonomi India dan makin mandirinya industri pertahanan negara tersebut, saat ini India tengah merealisasikan aspirasinya sebagai pengendali Samudera India, di antaranya dengan membangun kekuatan lautnya.

Dalam beberapa tahun terakhir, terjadi peningkatan interaksi antara India dengan Indonesia dalam bidang keamanan. Kedua negara telah mempunyai Perjanjian Tentang Kegiatan Kerja Sama Di Bidang Pertahanan (Agreement Between The Government Of The Republic Of Indonesia And The Government Of The Republic Of India On Cooperative Activities In The Field Of Defence), yang diratifikasi menjadi Undang-undang No.21 Tahun 2006. Berdasarkan perjanjian itu, sejumlah kerjasama di bidang pertahanan telah dilaksanakan kedua negara, termasuk di dalamnya interaksi antar Angkatan Laut.

Tulisan ini akan membahas tentang pembangunan Angkatan Laut India dan tantangan yang ditimbulkannya terhadap Indonesia. Sebagai salah satu negara pantai Samudera India, Indonesia mempunyai banyak kepentingan yang bersentuhan denganIndia, khususnya dalam isu maritim. Oleh karena itu pembangunan kekuatan lautIndiaperlu dicermati, untuk merespon perkembangan kawasan di masa depan yang sulit untuk diprediksi.

2. Pembangunan Kekuatan Laut India 

Pembangunan kekuatan militer India tidak lepas dari permusuhan negara itu dengan Pakistan, sehingga di masa lalu pembangunan ditujukan untuk menghadapi tetangga serumpunnya itu. Kedua negara telah beberapa kali terlibat perang, yaitu 1947, 1965 dan 1971, yang juga melibatkan Angkatan Laut. Seiring dengan perubahan konteks strategis, pembangunan kekuatan laut India sejak 1990-an bukan saja sekedar ditujukan untuk menghadapi Pakistan, namun melampaui hal tersebut, yaitu ingin menegaskan otoritas politik dan militer India terhadap Samudera India.

Pembangunan kekuatan laut India, sebagaimana dinyatakan dalam The Indian Navy’s Vision Document ditujukan untuk mempromosikan lingkungan yang tenang dan damai di kawasan Samudera India untuk mencapai tujuan-tujuan politik, ekonomi, diplomasi dan militer India.[iii] Saat ini, India tengah membangun kekuatan lautnya menuju status blue water navy. Pembangunan itu juga ditunjang oleh kinerja pertumbuhan ekonomi negara itu yang berkisar antara 7 persen hingga 8 persen dalam tiga tahun terakhir turut berkontribusi terhadap peningkatan anggaran pertahanan. Pada tahun 2006, anggaran pertahanan India meningkat 9,2 persen menjadi Rs 908 milyar atau US$ 20,5 milyar.[iv]

Untuk mencapai status blue water navy, para perencana strategis di Angkatan Laut India sangat dipengaruhi oleh pemikiran Alfred Thayer Mahan, khususnya aspek geopolitik. Apabila di masa lalu Mahan memandang strategisnya Samudera Pasifik dari aspek geopolitik dan geo ekonomi, India di abad ke-21 menerjemahkannya sebagai strategisnya Samudera India dari kedua aspek yang telah disebutkan sebelumnya.[v]

Guna menegaskan dari klaim India terhadap Samudera India, Angkatan Laut India terus meningkatkan frekuensi penyebaran ke negara-negara di sekitar perairan itu. Sebagai contoh, pada Agustus 2008 Gugus Tugas Angkatan Laut India melaksanakan penyebaran di Laut Merah dan sepanjang pantai timur Afrika untuk jangka waktu dua bulan. Gugus Tugas itu terdiri dari satu kapal perusak INS Delhi, dua kapal fregat kelas Talwar yaitu INS Talwar dan INS Godavari dan satu kapal bantu INS Aditya. Selain melaksanakan diplomasi Angkatan Laut, Gugus Tugas itu juga akan melaksanakan latihan bersama dengan Angkatan Laut Prancis dan beberapa negara lain di sekitar Laut Merah dan pantai timur Afrika.

Dalam rangka mendukung pembangunan kekuatan laut India, dalam 10 tahun terakhir pemerintah India telah menerbitkan sejumlah dokumen yang merupakan acuan bagi pembangunan itu. Dokumen-dokumen tersebut merefleksikan pandangan pemerintah dan Angkatan Laut India mengenai peran dan postur Angkatan Laut ke depan. Beberapa dokumen dimaksud antara lain The Strategic Defence Review: The Maritime Dimension – A Naval Vision (May 1998), The Indian Maritime Doctrine (April 2004), the Indian Navy’s Vision Statement (May 2006), Roadmap to Transformation (October 2006), and Freedom to Use the Seas: India’s Maritime Military Strategy (IMMS) (September 2007).

Dalam The Indian Maritime Doctrine, hal yang digarisbawahi adalah kebutuhan untuk mengendalikan choke points, pulau-pulau penting dan jalur-jalur perdagangan vital.[vi] Terkait dengan kebutuhan tersebut, Angkatan LautIndia menekankan diplomasi Angkatan Laut sebagai salah satu tugas utamanya di masa damai. Adapun  wilayah  penyebaran  kekuatan  laut India dalam  rangka  diplomasi Angkatan Laut terbentang dari Teluk Persiahingga Selat Malaka yang ditetapkan sebagai kawasan kepentingan Indiayang sah. [vii]

Luasnya kawasan kepentingan Indiayang sah merupakan salah satu pendorong mengapa Indiamembangun kekuatan lautnya menuju status blue water navy. Dengan status blue water navy, Angkatan Laut India mempunyai kemampuan untuk diproyeksikan di sekitar Samudera India sebagaimana dinyatakan oleh Laksamana Mehta. Terkait dengan hal itu, salah satu pertanyaan yang timbul adalah bagaimana pembangunan kekuatan laut India selama ini? Apakah program pembangunannya, termasuk dukungan anggaran, mendukung pada tercapainya status blue water navy?

Pada tahun 2005, alokasi anggaran bagi Angkatan Laut India untuk personel, operasi dan pemeliharaan sebesar Rs 60,3 milyar, selanjutnya pada 2006 meningkat menjadi Rs 67,1 milyar.[viii] Sedangkan alokasi anggaran Angkatan Laut bagi pengadaan dan konstruksi pada 2005 sebesar Rs 87,5 milyar dan meningkat menjadi Rs 90,5 milyar (US$ 2,0 milyar) pada tahun 2006.[ix] Dengan alokasi dana pengadaan sebesar itu, Angkatan LautIndia melakukan pengadaan enam kapal selam kelas Scorpene dari Prancis yang direncanakan akan diserahkan pada 2012 dan 2017. Keenam kapal selam itu dibangun di galangan Magazon Dockyard Limited, Mumbai di bawah program transfer teknologi dari Prancis.

Selama ini kekuatan kapal selam Indiaditunjang oleh kapal selam kelas Kilo yang kini tengah menjalani program overhauled dan kelas U-209 dari Jerman. Sepanjang sejarah,India merupakan negara operator kapal selam buatan Uni Soviet/Rusia dan baru pada tahun 1980-an melirik kepada kapal selam buatan Barat. Pada tahun 2009,India akan memperkuat pula armada kapal selamnya dengan kapal selam nuklir kelas Akula yang dibangun di galangan Magazon Dockyard Limited, Mumbai dan dipersenjatai dengan rudal nuklir balistik.

Ambisi menuju blue water navy India ditunjang pula dengan pembelian bekas kapal induk Rusia kelas Admiral Gorskhov senilai US$ 1,5 milyar pada 2004, yang kini namanya menjadi INS Vikramaditya dan akan dilengkapi dengan pesawat tempur MiG-29K. Eksistensi  INS Vikramaditya  nantinya  akan  menggantikan kapal induk INS Viraat yang telah berusia lebih dari 50 tahun. Saat ini program overhauled INS Vikramaditya di Rusia yang dijadwalkan berlangsung dari 2004 sampai dengan 2008 mengalami sejumlah masalah dan berakibat pada pembengkakan biaya. Diperkirakan INS Vikramaditya baru bisa bergabung dengan armada India pada 2012, setelah pada 2010 akan menjalani sea trial selama 18 bulan.[x]

Seperti dijelaskan sebelumnya, Indiapada 2022 mempunyai ambisi memiliki tiga kapal induk. Tiga kapal induk itu masing-masing akan beroperasi di Laut Arab, Teluk Benggala dan Samudera Indiadalam tiga carrier battle group. Dua kapal induk lainnya dibangun di Chochin Shipyard, dikenal sebagai Indigenous Aircraft Carrier (IAC). Menurut rencana, kapal induk pertama buatanIndia akan diluncurkan pada 2010, sedangkan kapal induk kedua akan diluncurkan tujuh tahun kemudian.

Dibandingkan dengan daya jangkau kapal induk India yang dioperasikan saat ini, INS Vikramaditya akan mampu beroperasi sejauh 22.530 km (14.000 mil laut), adapun dua kapal induk lainnya dirancang untuk beroperasi sejauh 12.070 km (7.500 mil laut).[xi] Sebagai perbandingan, INS Viraat daya jangkaunya “cuma” 8.050 km (5.000 mil laut).[xii] Dengan daya jangkau yang lebih jauh tersebut, tidak diragukan lagi bahwa India memang merupakan kekuatan blue water navy dalam beberapa tahun mendatang, yang mana Angkatan Laut India akan menjadi instrumen kebijakan luar negerinya.

Untuk kapal kombatan atas air, Angkatan Laut Indiatengah melaksanakan sejumlah pengadaan, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Saat ini Yantar Shipyard di Kaliningrad, Rusia tengah membangun tiga kapal fregat kelas Talwar pesanan Indiasenilai US$ 1,6 milyar yang direncanakan diserahkan pada 2012.[xiii] Sedangkan 38 kapal lainnya, termasuk satu kapal induk, tiga fregat, tiga perusak, empat korvet anti kapal selam, tengah dibangun di sejumlah galangan di seluruh India.

Pada September 2007, Indiamenerima kapal jenis landing platform dock (LPD) eks USS Trenton dari Amerika Serikat. Penjualan kapal perang itu menandai era  baru  dalam  hubungan  kedua  negara, khususnya  pada  tingkat Angkatan Laut.

Seperti diketahui, hubungan Angkatan Laut kedua negara makin meningkat dalam beberapa tahun terakhir, seperti terlihat dalam Latihan Bersama Angkatan Laut bersandi Malabar. Pada tingkat strategis, Indiabersama Amerika Serikat, Jepang dan Australia tergabung dalam Quadrilateral Security Partnership.

Peran kekuatan udara Angkatan Laut tidak diabaikan pula, yang manaIndiatengah melakukan pengadaan sejumlah pesawat patroli maritim jarak menengah dan jauh. Selain itu, dilakukan pula pembelian helikopter berbasis di kapal perang, yang sebagian besar mengandalkan pada kerjasama dengan Rusia. Dengan kekuatan udara yang memadai, Angkatan LautIndiaakan mampu mandiri dalam melindungi konvoi dalam penyebaran jauh ke luar wilayahnya.

Peran industri pertahanan dalam negeri untuk mendukung pembangunan kekuatan Angkatan LautIndiasangat besar. Kebijakan luar negeri India yang dekat dengan semua kekuatan besar dunia seperti Rusia, Amerika Serikat dan Uni Eropa, mendukung terciptanya atmosfir bagi terjadinya alih teknologi pertahanan. Seperti diketahui, sebagian pembangunan kapal perangIndiayang dibeli dari luar negeri dilaksanakan di dalam negeri berdasarkan perjanjian alih teknologi dengan negara penjual.

Selain itu, besarnya peran industri pertahanan dalam negeri Indiajuga tak lepas dari kebijakan pemerintah Indiasejak awal kemerdekaannya yang mendorong dan sekaligus melindungi industri tersebut. Sebagai hasilnya, industri pertahanan Indiasaat ini telah menjadi industri berkelas dunia dan mampu bersaing di pasar internasional. Selain itu, industri tersebut mampu mendorong industri-industri pendukung yang berperan sebagai vendor, sehingga efeknya dirasakan oleh kalangan pelaku usaha diIndia beserta ribuan tenaga kerja.

Dalam meninjau pembangunan kekuatan laut India, hendaknya tidak dilewatkan pula penerapan revolution in military affairs (RMA). Untuk kepentingan operasi, Angkatan Laut telah menerapkan network-centric warfare. Melalui penerapan tersebut, kemampuan Angkatan LautIndia untuk mengawasi perairan Samudera  India   dan   sekaligus   maneuver   armada  kapal   perangnya,   semakin meningkat. Dengan demikian, kemampuan battlespace awareness Angkatan Laut India makin meningkat dan menjangkau wilayah-wilayah di luar wilayah kedaulatannya.

3. Arah Ke Depan 

Hubungan Indonesia-India terjalin sejak 1946 dengan segenap dinamika yang terjadi. Setelah hubungan kedua negara mengalami masa surut pada 1960-an sampai dengan 1980-an, pada 1990-an hubungan kedua negara mulai meningkat kembali. Di awal abad ke 21, kedua negara antara lain terjalin kerjasama dalam bidang pertahanan. Perjanjian itu merupakan payung bagi berbagai kerjasama bidang pertahanan antara Indonesia dengan India.

Pada tingkat antar Angkatan Laut, interaksi Angkatan Laut kedua negara makin meningkat dalam dasawarsa ini. Interaksi itu selain didorong oleh perkembangan lingkungan strategis yang makin menempatkan pentingnya keamanan maritim di kawasan, juga didorong oleh ambisi India untuk mengendalikan Samudera India. Terkait dengan hal itu, Indonesia merupakan salah satu negara peserta Indian Ocean Naval Symposium (IONS) 2008.

Seperti telah dijelaskan sebelumnya, saat ini kekuatan laut India tengah dibangun untuk menuju status blue water navy pada 2022. Dengan berstatus blue water navy, berarti Angkatan Laut India akan melaksanakan long distance naval operations. Dengan memperhatikan legitimate area of interests–nya, wilayah perairan yurisdiksi Indonesia akan menjadi salah satu sasaran operasi kekuatan laut India, karena aspirasi India sesungguhnya melampaui Samudera India itu sendiri.

Sulit untuk dibantah bahwaIndiasangat berambisi untuk menyebarkan kekuatan lautnya hingga di Laut Cina Selatan dan Samudera Pasifik sekitar kawasan Asia Timur. Salah satu parameternya adalah keinginan mengoperasikan kapal selam nuklir, yang dipastikan wilayah operasinya melampaui SamuderaIndia. Dengan demikian maka perairanIndonesia, khususnya Selat Malaka akan menjadi tempat perlintasan  kekuatan  lautIndiadari SamuderaIndia  menuju  Samudera Pasifik dan sebaliknya. Pertanyaan yang menarik untuk dikaji lebih lanjut adalah bagaimana pola interaksi Angkatan Laut Indiaketika sudah berstatus blue water navy dengan TNI Angkatan Laut.

Mengacu pada Postur Pertahanan 2010-2029, dapat ditarik kesimpulan bahwa hingga 20 tahun mendatang pembangunan kekuatan TNI Angkatan Laut tidak akan meningkatkan kekuatan TNI Angkatan Laut secara drastis dibandingkan dengan kondisi saat ini. Artinya hingga 20 tahun mendatang fokus utama operasi TNI Angkatan Laut masih tetap pada pengamanan wilayah perairan yurisdiksiIndonesia. Dalam kondisi keterbatasan itu, tantangan terhadap TNI Angkatan Laut akan bertambah satu dengan lalu lalangnya kekuatan laut India.

Sebagai kekuatan laut yang naik status menjadi blue water navy, dapat dipastikan bahwa suatu saat nanti Angkatan Laut India akan “tinggi hati” terhadap Angkatan Laut di kawasan yang statusnya di bawah blue water navy. Kondisi seperti ini yang perlu diantisipasi sejak dini olehIndonesia. Memperhatikan sikap politikIndia, besar kemungkinan ke depanIndia tidak ingin dianggap menjadi Deputi Sherif Amerika Serikat di kawasan seperti yang disandangAustralia saat ini, namun sebagaiIndia yang independen. Namun hal itu bukan berartiIndia akan bersikap oposisi terhadap kekuatan militer Amerika Serikat di kawasan Asia Pasifik dan Samudera India.

Menurut hemat penulis, perairan yurisdiksi Indonesiayang akan bernilai vital bagi Indiaadalah Selat Malaka, Selat Sunda dan Laut Natuna. Ketiga perairan itu merupakan penghubung bagi Indiauntuk menyebarkan kekuatan laut dari Samudera Indiake Laut Cina Selatan dan Samudera Pasifik dan sebaliknya. Berdasarkan hal tersebut, kehadiran unsur-unsur kapal perang TNI Angkatan Laut di wilayah Barat bukan saja suatu keharusan sebagai bagian dari naval presence, namun juga mesti dirasakan dampaknya oleh semua pengguna laut.

Untuk itu, dalam penyusunan Postur TNI Angkatan Laut 2010-2029 yang mengacu pada Postur Pertahanan 2010-2029, sebaiknya pengadaan kapal perang lebih  menitikberatkan  pada  kapal  patroli  dibandingkan  kapal fregat. Maksudnya, jumlah pengadaan kapal patroli jauh lebih besar daripada kapal fregat. Hal itu perlu dirancang sebab dalam 10-15 tahun ke depan, sebagian kekuatan kapal patroli TNI Angkatan Laut akan memasuki masa pensiun. Selain itu, sulit untuk mengandalkan terciptanya efek dari naval presence apabila unsur yang disebar adalah kapal perang generasi lama.

Salah satu kekhawatiran yang muncul dengan kemampuan proyeksi yang akan dimiliki oleh Angkatan LautIndiadi masa depan adalah turut campurnyaIndiadalam berbagai masalah keamanan di kawasan, khususnya masalah keamanan internal di negara-negara sekitar SamuderaIndia. Di masa lalu terdapat preseden India untuk ikut campur masalah negara-negara lain di sekitar Samudera India, misalnya “diundang” oleh pemerintah Srilangka pada 1988-1989 untuk menghadapi pemberontakan Tamil dan penyebaran militer India ke Maladewa untuk merespon kudeta militer di sana.

Dalam konteks Indonesia, perkembangan lingkungan strategis di wilayah Barat sekitar Selat Malaka perlu pula untuk diantisipasi. Terciptanya instabilitas di wilayah littoral Selat Malaka akan mengundang kekuatan laut asing, termasuk India, untuk masuk dengan alasan guna mengamankan SLOC, yang merupakan bagian dari kepentingan nasionalnya. Sedangkan di Laut Natuna, perairan itu akan menjadi sarana pertemuan kepentingan banyak pihak, seperti Singapura, Malaysia, Cina, Jepang, Australia, Amerika Serikat dan India sendiri. Dari sini perlu dipertimbangkan bagaimana gelar kekuatan TNI Angkatan Laut ke depan di sekitar Selat Malaka dan Laut Natuna.

Begitu pula dengan banyaknya komunitas India di Indonesia, yang sebagian terkonsentrasi di kota-kota sekitar Selat Malaka. Dibandingkan dengan masyarakat lainnya, komunitas India jauh lebih eksklusif dalam pergaulannya. Dengan kata lain, tingkat pembauran komunitas India dengan masyarakat Indonesia lainnya rendah. Eksistensi komunitas India di Indonesia perlu untuk diperhatikan dengan seksama, karena bukan tidak mungkin India akan menyebarkan kekuatan militernya keIndonesiabila komunitas itu terancam secara fisik akibat pergolakan politik.

Preseden kasus ini pernah terjadi diFijiyang sebagian warganya adalah komunitasIndia. Kudeta militer oleh Kolonel Sitiveni Rabuka melakukan kudeta militer pada 14 Mei 1987 untuk merebut kembali kekuasaan politikFijidari dominasi etnisIndia. Sebagai reaksi terhadap kudeta itu,Indiasebenarnya ingin menyebarkan kekuatan militernya untuk melindungi komunitasIndiadisana. Hanya karena jaraknya yang jauh dariIndiadan kemampuan operasi Angkatan LautIndiayang masih terbatas membuat rencana operasi itu dibatalkan.

Persaingan India-Cina di masa depan, termasuk dalam konteks kekuatan laut, perlu pula diantisipasi oleh Indonesia. Sebagai negara yang berada pada posisi strategis di kawasan, terdapat kekhawatiran bahwa Indonesiaakan dihadapkan pada pilihan yang sulit berada di tengah dua kekuatan besar. Indiaberambisi menyebarkan kekuatan lautnya hingga Laut Cina Selatan, sebaliknya Cina berambisi menyebarkan Angkatan Laut-nya sampai ke Samudera Indiauntuk mengamankan garis perhubungan lautnya yang dikenal sebagai string of pearls. 

Cina berambisi untuk mempunyai empat sampai enam kapal induk dalam dekade mendatang. Kapal induk tersebut dikembangkan di dalam negeri dengan mempelajari rancang bangun dua eks kapal induk Angkatan Laut Uni Soviet yang dibelinya, yaitu Varyag danMinsk. Meskipun kedua bekas kapal induk tidak dimasukkan dalam armada Angkatan Laut Cina, namun sangat jelas Cina mempelajari rancang bangunnya agar dapat mengembangkan kapal induk sendiri.

Terbentuknya Quadrilateral Security Partnership di manaIndia tergabung di dalamnya, menjadikan sulit untuk menepis adanya skenario pembendungan Cina oleh kekuatan-kekuatan besar di dunia. Kaitannya denganIndonesia adalah wilayah perairanIndonesia di masa depan besar kemungkinan jadi ajang pertarungan kepentingan negara-negara itu, khususnya dalam konteks kekuatan laut. Menjadi pertanyaan menarik yaitu bagaimana mengantisipasi skenario demikian?

Jawabannya sudah pasti dibutuhkan pendekatan komprehensif yang mengedepankan semua instrumen kekuatan nasional. Menyangkut instrumen militer, TNI Angkatan Laut harus mempunyai kekuatan yang kredibel dan itu merupakan satu-satunya pilihan. Hanya dengan kekuatan yang kredibel maka pihak-pihak Angkatan Laut asing yang menggunakan perairan yurisdiksiIndonesiaakan berpikir untuk melakukan tindakan-tindakan yang tidak semestinya.

Selain itu, dibutuhkan pemahaman ulang terhadap konsep penangkalan itu sendiri. Apakah konsep penangkalan yang dianut selama ini masih relevan dengan perkembangan lingkungan strategis? Apakah tidak sebaiknya penangkalan yang dibangun ke depan lebih ditujukan kepada negara-negara tertentu saja yang dinilai probabilitasnya tinggi untuk berbenturan kepentingan denganIndonesia, khususnya di laut.

Sesuai dengan perkembangan keilmuan militer, bentuk-bentuk penangkalan bukan lagi sebatas multilateral (multilateral deterrence) yang ditujukan kepada semua pihak, namun telah berkembang pula menjadi unilateral (unilateral deterrence) dan bilateral (bilateral deterrence). ApabilaIndonesia belum sanggup untuk melaksanakan penangkalan multilateral, masih tersedia dua pilihan lain. Hal ini penting untuk dipahami karena untuk membangun kekuatan pertahanan yang mampu menciptakan penangkalan multilateral, dibutuhkan waktu yang panjang karena keterbatasan anggaran pertahanan. Dikaitkan dengan India, perlu dipertimbangkan dengan seksama apakahIndia layak atau tidak untuk dimasukkan dalam skenario sebagai kekuatan laut di masa depan, yang probabilitasnya tinggi untuk berbenturan denganIndonesia dalam 10 tahun ke depan.

4. Penutup 

Bangkitnya Angkatan Laut Indiasebagai kekuatan laut berstatus blue water navy pada dekade mendatang perlu diantisipasi olehIndonesia. Sebaiknya bila dalam penyusunan Postur TNI Angkatan Laut 2010-2029, isu kebangkitan kekuatan lautIndia menjadi salah satu perkembangan lingkungan strategis yang harus diantisipasi. Sebab bagaimanapun, dalam pertemuan kepentingan antar negara, bukan saja kerjasama sebagai skenario yang harus dipertimbangkan, tetapi juga kemungkinan benturan yang mungkin terjadi.

Meskipun dalam tulisan ini menitikberatkan pada antisipasi skenario-skenario pesimistis yang mungkin terjadi, bukan berarti tidak ada peluang untuk meningkatkan kerjasama antara TNI Angkatan Laut dengan Angkatan LautIndia. Indonesia, khususnya TNI Angkatan Laut, sudah sewajarnya memanfaatkan pula kebangkitan Angkatan Laut India sebagai peluang untuk meningkatkan kekuatan TNI Angkatan Laut di segala bidang, baik intelijen, operasi, personel maupun logistik. Eksistensi Undang-undang No.21 Tahun 2006 perlu dimanfaatkan dengan maksimal bagi pembangunan kekuatan TNI Angkatan Laut ke depan.

[i]. “Indian Navy Chief Admiral Sureesh Mehta Speels Out Vision 2022”, http://www.india-defence.com/reports-3954
[ii]. Ibid
[iii]. Integrated Headquarters of the Ministry of Defence (Navy), The Indian Navy’s Vision Document, May 2006
[iv]. The International Institute for Strategic Studies, The Military Balance 2007.London: 2007 The International Institute for Strategic Studies, 2007, hal.308
[v]. Scott, Dr. David, “India’s Drive for a Blue Water Navy”, Journal of Military and Strategic Studies, Winter 2007-2008, Vol.10, Issue 2, hal.2-3
[vi]. Ibid, hal.11
[vii]. Berlin, Donald L. “India in The Indian Ocean”, Naval War College Review, Spring 2006, Vol.59, No.2, hal.60
[viii]. The International Institute for Strategic Studies, Op.cit hal.309
[ix]. Ibid
[x]. “Russia Valuing INS Vikramaditya Aircraft Carrier Deal At US$ 2.7 billion”, http://india-defence-com/reports-3880
[xi]. Scott, Op.cit hal.17-18
[xii]. Ibid
[xiii]. “India, Russia Sign Contract for Construction of Three Frigates for Indian Navy”, http://india-defence-com/reports-3471

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
1 Comment
Newest
Oldest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
purnomo agus
purnomo agus
8 years ago

titik kritis pada armadayg besar yg akan msk indonesia dr samudra india adalah selat sunda krn selat sunda adalah selat yg sempit sehingga akan menjadi wilayah yg rawan bagi armada yg besar . bila indonesia menyebarkan yakhont yg berbasis di darat seperti yg dilakukan oleh vietnam di sekitar selat sunda ditambah dgn roket2 buatan.pt lapan , armada yg besar itu akan menjadi sasaran yg empuk .

1
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x
Share via
Copy link
Powered by Social Snap