Wadah pemikir (Think-Tanks) — belajar dari kasus wadah pemikir di-empat (4) negara

           Oleh : Budiman Djoko Said

…Think-Tanks have been increasingly required to bridge the gap between the world of idea and politics, raw information and relevant data, scholarly research and policy relevance, and the medium and the messages.

James G Mc Gann , 2007

…If the influences of mass media can be called the fourth power, other than the Executive, the Legislative, and the Judicial, in Western countries, then , I am going to argue that the think tanks should be entitled the fifth power .

Ren, Xiao.(2000)

Kalimat diatas menyadarkan kita, bahwa “pengetahuan” adalah kekuatan – pengetahuan berbasis sain, dan sain adalah fakta atau kebenaran bukan pembenaran.

 Pendahuluan

Wadah pemikir adalah lembaga independen yang diorganisir untuk melakukan riset dan produsen pengetahuan yang dikembangkan. Wadah pemikir mengisi ruang kosong kritis antara akademik dengan realisme birokrat, bahkan PBB mendefinisikan sebagai organisasi yang  menjembatani pengetahuan dan kekuasaan (Merz, hal 4). Dunia nyata dengan isu yang semakin komplek membutuhkan wadah pemikir yang berani menyarankan sebagai jembatan antara penguasa dengan pengetahuan. Sangat dipahami birokrasi pemerintah manapun hampir pasti terbelenggu dengan isu operasional sehari-hari (meski dibantu wadah pemikir internal, pen) dan nampaknya tidak ada waktu luang untuk melakukan riset riil bagi kepentingan pengembangan organisasinya.

Kelemahan ini pantas diisi oleh wadah pemikir, yakni organisasi yang bekerja bebas berbasis ilmiah, tanpa tekanan dengan obyektif menjembatani ilmu pengetahuan dengan strategi atau kebijakan (nasional). Sebutan bagi organisasi tersebut bisa saja tidak umum , namun yang lebih penting wadah pemikir tersebut akan membawakan keilmuwannya (dan pengalaman, pen) dan kepiawaiannya (expertise) membantu proses formulasi strategi, kebijakan-kebijakan turunannya dan evaluasi dilapangan bagi pemerintah. Definisi organisasi wadah pemikir yang masih pro-kon dan belum jelas batasannya tumbuh berkembang dengan pesaing hadirnya unit internal Departemen yang berperan relatif semacam itu atau  perguruan tinggi yang mengatas namakan riset atau pusat riset universitas dan “universitas tanpa mahasiswa”, dll. Wadah semacam itu tumbuh sebagai industri besar, bahkan tercatat didunia sekarang ada 6480 diseluruh dunia (Ibid, hal 2), awalnya bertumbuh di-AS kemudian menjalar ke-Eropah. Awalnya RAND-lah yang menggunakan label wadah pemikir ditahun 1960-an, kemudian semakin tumbuh besar ini lebih bergeser kepada kelembagaan kajian atau riset dengan ide-ide segar yang positif mempengaruhi publik dan keputusan nasional. Mengingat persepsi kontemporer menganggap organisasi semacam itu tidak lebih sebagai organisasi pembawa agenda politik spesifik atau ideologi — RAND sudah melepaskan diri dari stigma  “wadah pemikir” meskipun  atribut organisasi seperti itu tetap ada diluar ini.

Semenjak berdirinya DepHan AS , RAND telah bekerjasama dengan erat baik dengan elit sipil dan militer DepHan AS bersama-sama menghadapi isu dalam bentangan isu strategik, rencana operasi pembangunan kekuatan militer, dan melindungi kepentingan nasional AS versus ancaman terhadap kepentingan tersebut (Rich, hal 22). Kepemimpinan elit sipil maupun militer Dephan AS sesungguhnya menyadari dan membutuhkan hasil kajian “berkelas”, dengan kecenderungan riset geopolitikoekonomi dan implikasi varian  opsi kebijakan luar negeri. Realisme kemunculan ide segar dari “inside-the-box” yang cenderung bekerja dibawah tekanan, pesanan, titipan , retorik atau apapun juga namanya yang tak kunjung tiba – akhirnya berharap dan bertumpu pada ide-ide berani dan bebas oleh  “out-of-the box” semacam RAND.

Harapan kepada kajian berkelas dan realistik sebagai masukan utama dibangunnya skenario (model) keamanan nasional yang akan menjadi rujukan strategi instrumen kekuatan nasional lainnya serta perangkat evaluasi program-program dibawah kontrol strategi diplomasi. Diakui dalam formulasi strategi atau kebijakan luar negeri (demi kepentingan nasionalnya,pen) wadah ini sangatlah berperan penting dan pada awal terbentuknya jarang sekali diketahui perannya oleh media. Awal abad ke-20, peran wadah ini sebagian didiseminasi sesuai obyektif masing-masing seperti, bidang riset yang ditekuninya, spesialisasi-spealisasi, penilaian kebijakan / strategi nasional berorientasi kepada aksi yang telah dilakukan (action-oriented policy assesment), dll, semuanya bermuara kepada proses pengambilan keputusan strategik atau kebijakan nasional (Mc Gann, hal 2), dan berujung terkawalnya pencapaian obyektif kepentingan nasional. Makalah ini mencoba mendalami seberapa jauhkah organisasi seperti ini berperan membantu pemerintah utamanya membuat formulasi strategi, kebijakan nasional serta mengevaluasinya dengan menghadirkan  kasus yang terjadi diempat (4) negara.

Peran wadah pemikir di-Amerika serikat

Amerika dan Eropah adalah ladang fenomena demo wadah seperti ini yang banyak melibatkan diri dalam politik luar negeri (dan pertahanannya,pen) lebih dari seratus tahun. Bekerja dengan merendahkan diri jauh dari publikasi, jauh dari manuvra parpol dan persaingan dengan lembaga “relatif” internal dalam tiap Departemen (lembaga kajian/penasehat internal,pen) (Haass, hal 5). Menurut Haass, organisasi ini telah memberikan pengaruh besar AS sekurang-kurangnya lima (5) hal, yakni [1] membangkitkan ide segar, opsi strategi dan kebijakan nasional,[2] mengirimkan sejumlah besar ahlinya diperbantukan dipemerintahan, [3] mengadakan tatap muka dan diskusi tingkat tinggi dengan pejabat tinggi, [4] mendidik pemuda-pemuda untuk menjadi pakar kelas dunia dan mengisi organisasi ini, [5] berperan sebagai mediator dalam berbagai krisis atau konflik dinegara manapun juga. Evolusi pertumbuhan modern organisasi ini paralel dengan tumbuhnya (ambisi, pen) kepemimpinan global AS .

Seabad lalu, tahun  1910-an, selama era progresif, merupakan bagian dari ketulusan profesionalisme pemerintahan. Hampir semua yang dikerjakan serta mandat mereka adalah ketidak berpihakan politik dan hanya melayani kepentingan publik serta saran bagi pejabat pemerintahan, misalnya Goverment Research dan The Brooking Institution ditahun 1927-an. Satu-satunya wadah yang tulus dan murni terhadap kepentingan nasional diluar negeri dan diplomasi adalah Carnegie Endowment for International Peace berdiri ditahun 1910 dan telah menyelidiki penyebab peperangan dan promosi perdamaian via penyelengaraan perundingan. Dalam “gelombang kedua” evolusi wadah pemikir semacam ini dicontohkan pak Haass adalah RAND Corpt, organisasi tertua dan nirlaba yang berkiprah mulai tahun 1945-an. Kucuran dana Angkatan Udara AS  telah meluncurkan studi tentang sistem analisis, teori olah main (game theory) dan “tawaran strategik” (aplikasi,pen) yang dilanjutkan studi penajaman strategi pertahanan nasional dan keluarga penangkalan dalam dekade perang dingin dan sesudahnya versus konflik-konflik global (Rich, hal 22). Kajian RAND banyak mewarnai konsep manuvra, doktrin, perencanaan strategik di-DepHan, Angkatan masing-masing, bahkan Komando operasionalnya, termasuk analisis sumber daya manusia dan logistiknya. Organisasi wadah pemikir semacam ini juga mengkhususkan dirinya sebagai agensi intelijen dan pertahanan independen dan lebih fokus kepada isu regional, fungsional dan dalam perjalanannya seringkali diarahkan militer untuk memikirkan ide pemberantasan terorisme dan Keamanan dalam negeri (homeland security) (Ibid, hal 22).Setengah pekerjaan RAND sekarang berkaitan dengan isu pertahanan nasional, selebihnya berkaitan dengan isu kebijakan domestik. Kreasi RAND yang cukup signifikan adalah mempertahankan dan memperbanyak ilmuwan sipil yang dikontribusikan selama PD-II. RAND juga banyak melakukan riset tentang Uni Soviet seperti strategi, doktrin dan sistem militer Soviet.

Pekerjaan pionir seperti ini bagi RAND merupakan sesuatu yang baru dan  memerlukan sejumlah besar literatur dan terjemahan tulisan terbuka maupun tersembunyi, bukan saja yang berkadar ilmiah bahkan beberapa metoda analitikal sangat diperlukan guna menghasilkan riset yang berkualitas tentang Uni Soviet. AU-AS juga meminta RAND melakukan riset tentang ekonomi, kebijakan luar negeri, program sain dan teknologi Soviet, diantara topik penting lainnya kepada RAND — kajian yang realistik, dinamik dan effisien.

Contoh kajian realistik,dinamik dan effisien — format dua (2) trouble-spot era perang dingin didefinisikan sebagai Two MTW/Two Major Theatre War, yakni mandala Eropah dan mandala Pasifik. Sesudah perang dingin langsung bergeser menjadi dua (2) trouble-spot berbentuk (hanya,pen) Two SSC (Small Scale Conflict, pen) yakni Timur tengah dan semenanjung Korea dan segera dilakukan reposisi kekuatan didua (2) trouble spot tersebut (mengurangi sejumlah posisi penting dan jabatan, pen) — skala, dan posisi geographik jelas serta tingkat dan besaran pengendali organisasi juga jelas berikut perubahannya setelah reposisi. Organisasi semacam ini umumnya berkembang menjadi fenomena kegiatan global. Kelebihan AS adalah faktor kebisaannya (ability) untuk “berpartisipasi langsung ataupun tidak langsung dengan pembuat kebijakan (dan strategi, pen) nasional” (timbal balik,pen) dan timbal baliknya ada “keinginan kuat pembuat kebijakan di-AS untuk memanfaatkan mereka”, kata pak Abelson (Abelson, hal 9) dibandingkan negara lain. Abelson menyoroti evolusi dan proliferasi wadah pemikir di-Amerika mengapa begitu tampil menyatu dalam fitur pengambilan keputusan kebijakan luar negerinya. Berasumsi politik luar negeri sangat dominan baik sebagai pilar instrumen kekuatan kekuatan nasionalnya maupun sebagai aktor pilar strategi diplomasi biasanya bersama-sama strategi pertahanan nasionalnya menjadi tulang punggung promosi kepentingan nasional sekaligus pengamanan (strategi keamanan nasional,pen) terhadap tercapainya “obyektif” kepentingan nasionalnya. Fakta keberhasilan mereka ditunjukkan dengan sikap pembuat kebijakan di Kongres, kelompok eksekutif, dan sebagian besar birokrasi federal untuk tidak segan-segan menoleh kepada wadah pemikir tersebut dalam proses formulasi pembuatan kebijakan atau strategi instrumen kekuatan nasionalnya. LBJ termasuk pengagum salah satu kelompok wadah ini (Brooking Institute) dengan mengatakan…the men of [the] Brookings [Institution] did it by analysis , by painstaking research, by objective writing, by an imagination that questioned the “going” way of doing things, and then they proposed alternatives … After 50 years of telling the Goverment  what to do , you are more than private institution…You are a national institution, so important … that if you did not exist we would have to ask someone to create you, kata Presiden AS, September 29, 1966 (Rich, hal 1).

Berikut ucapan jubir of the House,  Newt Gingrich , November 15, 1994, tentang Heritage Foundation, … [The Heritage Foundation] is without question the most far-reaching conservative organization in the country in the war of ideas , and one which has had a tremendous impact not just in Washington, but literally across the planet (Ibid, hal 1). Bukti kuat bahwa organisasi pemikir semacam ini dinilai sebagai fitur yang berintegrasi dengan landskap politik negara. Ucapan penghargaan dua pejabat ini selama kurun waktu 28 tahun menimbulkan pencitraan kuat tentang dua (2) hal, sekaligus menggelorakan pengertian kuat tentang dua (2) hal juga. Pertama, penekanan peran organisasi ini sebagai produser kepakaran khusus, kedua, menerangi kontribusi mereka yang memberikan pencerahan diatas debat berpolemik selama ini dengan ide-ide segarnya. Mengapa organisasi tersebut dapat memainkan perannya begitu bagusnya ? Ada beberapa alasan:[1] Awal tahun 1990-an ada keinginan kuat untuk berfikir keluar dari pakem selama ini (“inside-of-the box”). Kuatnya keinginan mengatasi revolusionari perubahan (managamen perubahan,pen) atau berusaha tampil dengan paradigma intelektual baru yang nampaknya sulit dilakukan oleh kekuatan alami birokrasi (Asmus, hal 29). Bukan dikarenakan orang di-birokrasi tidak memiliki talenta namun lebih disebabkan kebiasaan bekerja dengan konsensus (pakem,pen), keengganan  menerima risiko (cari amannya saja,pen) serta lebih terjebak dengan konsensus operasional/taktis dan mungkin saja disana-sini masih diliputi iklim feodalisme yang kental. Sangatlah mudah berfikir dari luar kotak, untuk mencermati fenomena masalah secara garis besar dan komprehensif — wadah seperti ini adalah struktur insentif yang paling tepat diluar ( Ibid, hal 30 ). [2] Banyak aktor didalam pemerintahan yang berusaha menoleh keluar mencari masukan dan analisis kepada mereka sebagai refleksi cara baru menjembatani  perbedaan yang ada antar interagensi selama ini. Upaya kolektif semacam ini mendorong pejabat senior pemerintah lebih proaktif menjemput organisasi itu dan membawanya dalam isu kooperasi interagensi.[3] Organisasi ini memiliki oportunitas pemberi saran, mengingat stok inventori sejumlah besar orang-orang dengan kredo dan keahlian spesifiknya diyakini dapat menekan dan meningkatkan kooperasi interagensi. Sekali lagi RAND mendapatkan pujian ditahun 1990 sebagai satu dari tim terkuat dalam bidang keamanan Eropah diluar pemerintah AS. RAND diakui sebagai kontak kunci yang terbaik dalam rangka hubungan dengan Barat, Eropah Tengah dan Timur termasuk Russia, bersama-sama dengan The Atlantic Council dan National Defense University  dan termasuk barisan organisasi pertama wadah pemikir  dalam era demokrasi baru di Eropah Timur dan Tengah (Ibid, hal 30).

Bahkan Jerman sebagai anggota negara Eropah Timur juga Tengah telah menoleh kepada lembaga semacam RAND guna membantu mencari metoda analisis terbaik untuk mengembangkan kebijakan dan strategi nasionalnya. Situasi ini semakin menambah akses dan semangat wadah pemikir  semacam ini bagi Washington dan hampir setengah negara Eropah serta menikmati produk kerja lembaga itu (Ibid, hal 30). Akses dan pujian saja tidaklah cukup mendewasakan kelembagaan semacam itu. Patut digaris bawahi bahwa RAND sukses besar dengan langkah ekstra panjangnya untuk tetap mempertahankan spesifikasinya dibidang analitikal dan obyektifnya – produknya berupa beberapa himpunan alternatif solusi dengan pro-kon (pro – ukuran effektivitasnya,kon – adalah biayanya,pen) suatu kerangka fikir yang lebih komprehensif, lebih bertanggung jawab dan transparan, bukan saja terhadap jumlah  anggaran yang sudah dikeluarkan tetapi dipasangkan dengan performa produk yang dihasilkan dengan dukungan anggaran sebesar itu. Contoh suksesnya analitikal studi yang dilakukan RAND berbasis ide segar dalam debat tentang pemekaran kekuatan NATO Eropah – sangat berbeda dan tidak seperti biasanya dalam format “pendapat” umum (ops-eds,pen) yang dilontarkan para pakar dalam diskusi terbatas,  seminar atau dalam format tulisan komentar singkat para pakar di-media cetak. RAND lebih menekankan hal-hal yang praktis dapat dilakukan dalam rangkaian analitikal, dilengkapi dengan “biaya” dan “alternatif”-nya. Suatu hal yang baru dengan dilontarkannya gagasan bahwa “biaya” (cost) bukan berarti nominal dollars saja, bisa diartikan laju atrisi, kerugian, kehilangan, korban, dll. Pro-kon solusi diterjemahkan RAND dalam format solusi dengan varian alternatif dengan harga “effektivitas” dan dipasangkan dengan “biaya” sebagai konsekuensi dukungan terhadap masing-masing alternatif pilihan.

Teknik yang dilontarkan didepan forum saat itu baik di-Washington maupun didepan petinggi NATO merupakan suatu yang baru, sedikit diketahui dan ditandai isyarat kuat bahwa peran mereka tidak lebih sebagai pembantu pengambil kebijakan (Ibid, hal 30) nasional dan strategi nasional agar para pemangku kepentingan dan strategi nasional lebih memahami isunya, opsinya dan kapabel melakukan analisis geser (trade-off,pen). Berikutnya membiarkan para elit nasional dapat memahami dan mengerti cara pengambilan keputusan yang benar dan memilih opsi yang tergambar jelas , mana yang effektif dan effisien .

Bagaimana dengan wadah pemikir (Zhiku atau Sixiangku) di-China ?

“Creative Brain Farm” adalah ruh wadah pemikir Barat, sebaliknya ruh wadah pemikir ASIA adalah “Collective Brain Farm“ khususnya Jepang dan Korea, menurut Hassig —  kelemahan menyolok lembaga riset Korea dan Jepang berupa terbatasnya kebebasan berideologi / berpendapat dan kebebasan berdebat versus suatu isu (Hassig, hal 13-14) dan lebih cenderung “hanya” menjamin kredibilitas dan respektabilitas pemilik idea/sponsor.  Bagaimana dengan China ? Model wadah pemikir China sepeninggal Russia — mengikuti model Russia dengan karakter China. Mewarisi segala kelemahan Russia, seperti ketidak beranian mengemukakan pendapat apalagi yang (cenderung) tidak sependapat, entah beralasan innovasi, inisiatif maupun saran (lebih-lebih,pen) bagi pemimpin partai. Di-era kontemporer China, dibawah kepemimpinan ketua Mao peran Sixiangku sangatlah terbatas bahkan tidak satupun organisasi pengayomnya. Mao mengabaikan rasionalitas pemerintahnya dan saran para intelektualnya (Bader, hal 5) — Mao adalah simbol keputusan. Sixiangku mulai berkembang sejak Hu Jiantao menjadi Presiden Sekolah Pusat Partai ditahun 1990, dibantu Sun Qingju sebagai wakilnya memainkan peran yang siginifikan mengembangkan teori Hu yakni pengembangan perdamaian (peaceful development). Dibawah kepemimpinan Hu, Universitas berbasis Sixiangku di-Beijing menjadi lebih berkembang (Ibid, hal 6), dan basis wadah pemikir ini lebih banyak berada di Universitas, bukan di-lembaga independent nirlaba seperti di Barat. Setelah reformasi dan semangat keterbukaan dijalankan, partai  dan pemerintah menyadari benar benar peran Sixiangku ini sangat penting dalam memecahkan problema sosio-politiko-ekonomi. Bahkan dalam agenda Opini Komite Sentral Partai tahun 2004 diumumkan bahwa komuniti dan akademia ilmu philosophi dan sosial dilibatkan sebagai “otak” partai dan pemerintah.

Bahkan ketika SekJen Hu Jintao memimpin rapat temu Sentral Partai dan mendengarkan laporan akademik, dia memerintahkan agar tingkat ilmu sosial harus meningkat dari “baik” menjadi “lebih baik” (Yang Ye, hal 26). Apapun perkembangan wadah pemikir China yang dipimpin partai komunis dengan segala format hirarkhis, rantai komando yang “super ketat” serta kepemimpinan kolegialnya perlu diacungi jempol untuk berani dan bisa merasionalisasikan manajemen pemerintahan dibantu wadah pemikir sebagai solusi yang effektif – negara mana yang tidak maju karena “kuatnya” wadah pemikir baik yang independen maupun dari lembaga pendidikan tingginya? Perjalanan berevolusi Sixiangku semenjak revolusi kebudayaan dan keterbukaan, dapat dipetakan sebagai berikut:

Tahap-I; tahun 1980, ditandai kemauan pemerintah China untuk memberikan apresiasi hadirnya wadah pemikir modern. Pada tahap ini, konsentrasi riset ditujukan kepada analisis kebijakan atau strategi nasional. Dorongan kuat termasuk keinginan yang menggebu-gebu untuk meraup dan menguasai ilmu pengambilan keputusan modern utamanya bagi kaum intelktual muda China. Banyak intelektual muda China yang berada pada posisi penting dipemerintahan ikut aktif dalam diskusi dan kegiatan pengambilan keputusan dan pembuatan strategi/kebijakan nasional dipromosikan sebagai anggota wadah pemikir modern resmi dipemerintahan. Pada saat yang sama, beberapa inteletual yang berbakat keluar dari pemerintahan dan mendirikan organisasi pemikir yang independen, didorong dengan antusias, semangat serta tekad yang kuat (Ibid, hal 27). Tahap-II, dipertengahan tahun 1990, pidato ketua Deng Xiaoping dalam inspeksi dan turnya kewilayah China selatan, resmi meluncurkan babakan baru reformasi, revolusi kebudayaan dan keterbukaan. Perekonomian dan perusahan privasi berkembang pesat. China benar benar membuka diri seluas-luasnya. Selama tahap ini wadah pemikir ini bersemi dan berkembang bukan lagi fokus kepada kebijakan publik, mereka mulai terjun kedunia bisnis sebagai konsultan dan ikut melancarkan roda bisnis agar semakin lancar (Ibid, hal 27). Pemikiran cerdik untuk memaksimalkan produk strategi ekonomi, dan buahnya digunakan mendorong semua sektor. Tahap-III, diabad 21, tajamnya konflik yang disebabkan pertumbuhan ekonomi yang begitu cepat versus pengembangan sosial membuat problema nasional semakin serius, dan menyebabkan elit nasional senior semakin menoleh kepada para wadah pemikir. Perhatian lebih ini diperhangat dengan peran proaktif wadah pemikir yang menyelenggarakan forum wadah pemikir China di-Beijing bulan November 2006 dan Shanghai bulan Juli 2007.  Forum tahun 2006 , menampilkan “10 besar wadah pemikir paling berpengaruh di China”, al: Akademi China tentang ilmu sosial, Pusat Pengembangan Riset Negara, Akademi Ilmu-ilmu China, Akademi Ilmu Militer China, Institut Studi Internasional China, Institut Kontemporer Hubungan Internasional, Komite Nasional China untuk Kooperasi Ekonomi Pasifik, Asosiasi China untuk IlPengTek, Institut Studi Strategi Internasional China dan Institut Shanghai untuk studi Internasional. Apa yang bisa ditangkap dari bidang studi yang dikembangkan ini — penguasaan diplomasi, kooperasi internasional, studi strategi, dan ekonomi internasional hampir semuanya sangat berkepentingan sekali dengan tercapainya obyektif kepentingan nasional China (ends) dan promosinya (ways) kedunia internasional.

Awal tahun 2009, Prof James.G.McGann dari Universitas Pennsylvania dengan tim menerbitkan buku tentang urutan wadah pemikir didunia dengan judul “2008, Global Think Tanks” (Ibid, hal 27). AS unggul dengan 1777 organisasi wadah pemikir, diikuti Inggris dengan jumlah 283 , Jerman dengan 186. Asia sebagai penjurunya adalah India dengan 121 organisasi wadah pemikir diikuti Jepang dengan 105 wadah pemikirnya. Statistik sekarang mencatat China memiliki organisasi riset sebanyak 2500 , memperkerjakan periset sejumlah 35000 periset tetap dan 270000 staf, atau 80% fokus kepada riset kebijakan dan telah membantu langsung/tidak langsung kepada pemerintah, melebihi jumlah yang ada di AS sendiri. Hasilnya – (barangkali,pen) China telah menarik perhatian para petinggi negara besar (dan mulai cemas,pen) dengan meroketnya kemajuan yang telah dicapainya. Menarik adanya komitment elit nasional, termasuk elit partai untuk bukan saja mendengarkan bahkan menerima kehadiran wadah pemikir tersebut. Apalagi semenjak Kongres partai ke-enambelas, Biro Politik dari Komite Sentral China telah mengundang para  pakar untuk rutin memberikan kuliah kepada mereka setiap 40 hari (Ibid, hal 29) … dan dihadiri oleh para petinggi yang langsung memberikan keputusan strategik dan kebijakan nasional – sungguh upaya cerdik membuat trampil (state-craft) negarawan dan elitnya. Menurut Cheng Li, senior fellow di-Foreign Policy, John L Thornton China Center (Bader, hal 6) ada tiga (3) faktor kecenderungan penyumbang perkembangan positif kehadiran wadah pemikir China (Bader, hal 6,7).

Pertama, berakhirnya era “orang kuat China” dan bangkitnya kepemimpinan kolektif telah mendorong pembuat kebijakan untuk mencari legitimasi produk kebijakannya melalui wadah ini. Kedua, pertumbuhan Ekonomi China sangat membutuhkan masukan kepakaran dan keahlian profesional, khusunya diarea investasi asing dan finansial internasional. Faktor ketiga adalah  pertumbuhan pasar ekonomi China yang cepat tidak saja membuat ekonomi China dan struktur sosio-politiko lebih plural, tetapi berimbas meningkatkannya kelompok kepentingan (Ibid, hal 7). Kelompok ini, khususnya disektor bisnis, telah berupaya mempengaruhi kebijakan pemerintah dan opini publik.

Perkembangan wadah pemikir di Inggris

Berbeda dengan China yang mengalami tiga (3) gelobang, Inggris mengalami empat (4) gelombang. Gelombang-I, diabad 19, diklim sebagai awal tumbuhnya wadah ini (Garnett, hal 35). Gelombang ini diasosiasikan dengan hadirnya Jeremy Bentham dan John Stuart Mils yang menerbitkan Journal “The Westminster Review” secara periodik, dan menguasai opini dalam parlemen. Mereka tidak menampilkan keinginan untuk kemajuan mereka sendiri namun lebih kepada promosi yang effektif tentang ide-ide segar kebijakan nasional. Iklim kebijakan nasional waktu itu dapat dilacak melalui kesungguhan dan perjoangan  Jeremy dkk, melalui kredo mereka. Mengikuti langkah mereka adalah kelompok The Fabian Society yang bekerja mempromosikan semacam penyembuhan kolektif terhadap isu sosial, nampaknya berhadapan dengan Partai  Konservatif dan Buruh yang lagi berkuasa. Gelombang–I banyak diwarnai dengan respon idiologi insititusional dan konsep atau pemikiran. Gelombang-II, terjadi dalam periode antara PD-I dan PD-II, sebagai respon terhadap kelambanan dan kelemahan pemerintah menghadapi problema sosio-ekonomik dengan penjurunya adalah PSI (Policy Studies Institute) dan NSIER (National Institute of Economic and Social Research). Kedua lembaga wadah ini nampaknya mewakili publik untuk mempertanyakan alokasi (alternatif kegiatan dan konsekuensi dukungan anggarannya, pen) sumber daya nasional yang digunakan sebagai obyektif kegiatan dan relevansinya dengan kebijakan yang dibuat (urutan prioritas,pen) (Ibid, hal 36) – lebih banyak mengarah pada preferensi “kebijakan”. Wadah ini lebih bersifat terbuka dibandingkan perilaku wadah lainnya sebelumnya dan dinaungi oleh organisasi yang lebih formal. Bisa jadi ada anggapan bahwa wadah pemikir ini mencoba mempengaruhi publik tentang ketulusannya sebagai wadah pemikir, jelasnya sebagai profesional penasehat kebijakan, independen, akan tetapi berharapan bisa membangun hubungan konstruktif dengan gedung Wesminster atau Whitehall. Secara umum wadah ini cenderung menguntungkan intervensi pemerintah versus isu problema (solusi, pen?) ekonomi.

Gelombang-III dan-IV, era ini cenderung eksplisit dalam bentuk respon ideologik terhadap pemerintah tentang kegiatan pemerintah versus isu sosioekonomik setelah PD-II. IEA (The Institute of Economic Affairs) berdiri di-tahun 1957, adalah yang pemain pertama dan sendirian sebagai pengawal ekonomi liberal versus partai utama berkuasa yang waktu itu yang bisa menerima  intervensi pemerintah. Masuknya CPS (Centre for Policies Studies) tahun 1974, sealiran dengan IEA, namun eksplisit tidak ada hubungan dengan partai konservatif yang dipimpin bu Margaret Tacher ditahun 1975. Meskipun demikian kapabel membawakan ide mereka – advokasi yang effektif versus partai penguasa termasuk pengikutnya dari aliansi lain tentang kasus ekonomi liberal (Ibid, hal 36). Singkatnya IEA sebagai wadah pemikir tidak pernah melemah terhadap partai penguasa. Wadah tetap ini merasa nyaman bahwa mereka tidak sendirian untuk memikirkan Inggris yang telah berjalan dijalur yang salah tentang kebijakan sosioekonomiknya semenjak tahun 1945. Munculnya IPPR (Institute for Public Policy Research) 1980-an, dianggap sebagai inagurator gelombang keempat – kelompok yang “berfikir suatu yang tidak terfikirkan” atau lebih pada tampilan ide segar yang mendapatkan simpati senior/elite partai politik yang berhubungan formal atau tidak formal dengan mereka. Singkatnya meskipun banyak wadah pemikir yang tumbuh di Inggris namun ditengarai hampir semuanya – terjebak kepada keinginan publisitas, dan biasanya mudah berakhir dengan sendirinya. Mungkin saja dikarenakan pertarungan atau persaingan antar wadah – berkedok substansi mempengaruhi kebijakan, namun tetap ada kepentingan lain yang lebih menonjol (Ibid, hal 38).

Bagaimana dengan Jerman ?

Organisasi riset kebijakan bukan suatu fenomena baru di-Jerman. 100 tahun Institut Kiel sudah terhitung sebagai institut tertua yang ada dibumi ini. Sebelum era Nazi, sudah ada pelaku organisasi yang relatif mirip dengan wadah pemikir a.l: German Council for Foreign Relations dan The Friedrich-Ebert-Stiftung dan sampai tahun 1990 , dan terminologi wadah pemikir masih belum terbiasa di-Jerman. Sebagian besar mengenalnya sebagai institut riset, yayasan politik, atau yayasan operational, dan belum ada yang menamakan dirinya resmi sebagai wadah pemikir hingga tahun 1990 (Thunert, hal 43). Wadah ini  bisa saja berbentuk  nirlaba, privat atau publik yang menghasilan output riset dalam format publikasi, laporan-laporan tahunan, kuliah atau lokarkarya – terbukti dengan lonjakan tajam produk riset mereka (periksa http://thinktankdirectory.org/index.html). Dua (2) landskap wadah pemikir yang berkembang di-Jerman yakni bidang akademik dan advokasi.

Bila dibandingkan bidang yang ditekuni di Anglo-Amerika utamanya disektor privat dan advokasi yang berorientasi kepada riset strategi dan kebijakan nasional sangatlah sedikit sekali dikembangkan di-Jerman. Sulit membedakan wadah pemikir yang berorientasi riset dengan institusi riset (universitas misalnya,pen) yang menyentuh solusi tentang kebijakan  nasional. Wadah yang berorientasi akademik dapat dibagi bagi dalam beberapa sub-bidang, seperti lembaga ciptaan pemerintah , tetapi bekerja independen dalam lorong petunjuk sektor  publik yang ada. Berikutnya adalah institut non-universitas (kebanyakan Institut Masyarakat Leibniz) dan universitas yang berafiliasi dengan pusat riset aplikasi kebijakan, serta akademi wadah pemikir dengan pendanaan swasta (Thunert, hal 44). Singkatnya landskap akademik lebih banyak berorientasi pada netralitas politik, menahan diri tidak memposisikan dirinya dalam isu kebijakan nasional spesifik atau tidak menampilkan diri dalam format ideologi tertentu. Menarik mencermati perkembangan landskap advokasi yang bekerja mengkritisasi pemerintah dan eksplisit melibatkan dirinya untuk mendukung solusi kebijakan nasional tertentu. Wadah pemikir ini bisa saja berbasis kelompok kepentingan, atau merupakan akademi riset berbasis politik milik partai politik atau institut yang independen dari partai maupun kepentingan. Dari sisi pendanaan , kelompok yang berafiliasi dengan partai politik sangat kuat pendanaannya. Perkembangan lanjut wadah di-Jerman ini sangat menggembirakan sejalan dengan kesadaran pentingnya pengetahuan. Kesadaran sebagai masyarakat berpengetahuan memainkan peran yang menentukan. Terjadilah migrasi  masyarakat tradisional menjadi masyarakat teknologi — format baru serta masalah baru menggantikannya (Ibid, hal 57) . Format serta masalah baru ini tentu saja akan meningkatkan kebutuhan solusinya – dan supply kebutuhan format dan masalah baru serta demand teknologi dan kebijakan yang tepat (Ibid, hal 57). Wadah pemikir yang dapat memberikan ide-ide segar bagi dua (2) kebutuhan tersebut (demand dan supply,pen) sangatlah dibutuhkan. Dewasa ini tekanan seperti itu semakin meningkatkan kebutuhan sain untuk memproduksi aplikasi yang lebih berguna dan bermanfaat bagi masyarakat.

Universitas dan institusi sain didesak (bukan dituntut,pen) untuk melakukan riset berkooperasi dengan perusahaan atau organisasi yang terlibat dalam ruang politik. Desakan pemerintah serta tuntutan masyarakat membuat Universitas dan Institusi riset merubah obyektif strateginya sehingga semakin lama relatif mirip dengan wadah pemikir. Wadah yang dibiayai oleh dana publik akan lebih banyak berkonsentrasi kepada pengetahuan aplikasi, sebaliknya organisasi besar akan berkonsentrasi kepada riset dasar – distribusi ini tentunya diatur melalui strategi pengetahuan oleh pemerintah. Perkembangan ini memberikan kesadaran bahwa politik semakin lama menyandarkan kepada konsep aplikasi pengetahuan. Kesimpulan singkat wadah pemikir di-Jerman dasarnya berorientasi akademik. Wadah ini mengembangkan strategi bagaimana mempengaruhi proses politik, khususnya pengaturan agendanya. Merupakan suatu realita khusus berkaitan dengan kelompok kepentingan dengan adanya aturan baru yang memperbolehkan swasta mendanai wadah ini, dikuatirkan akan menggoyang netralitas bebas wadah ini – bila terjadi komunikasi yang intens dengan sponsor atau pelanggan yang mendanai (Thurnet, hal 59)… dan era sekarang wadah tersebut tetap  mengklim dirinya sebagai pengabdi riset dan analis isu publik penting.

Kesimpulan

Wadah pemikir lebih banyak mewarnai sisi positifnya sekurang-kurangnya “buah” berkomunikasi intens dengan penguasa tentang kebijakan dan evaluasinya. Inti “task” wadah pemikir adalah jembatan ilmu pengetahuan dengan kekuasaan … dengan ide-ide segarnya melalui riset atau kajian. Atribut wadah ini tertata bagus, apabila berani bertindak netral, bebas dari intervensi atau pesanan , jauh dari manuvra politik dan pendanaan kelompok kepentingan. Haruslah diakui bahwa lembaga internal Departemen relatif semacam wadah ini, dan diposisikan tetap bernaung dibawah label ”inside-of-the box” (internal birokrasi,pen) dipastikan sulit, kurang berani dan jauh dari kelahiran ide segar ataupun kajian yang berkelas dan obyektif — ineffisiensi ? Analog dengan wadah semacam ini baik di Barat maupun di China (sebagian besar,pen) dan berafiliasi dengan Universitas pemerintah yang didanai penuh atau subsidi pemerintah tetap akan sulit menelorkan ide segar dan berani dan tetap berada di jalur satu (track-one).

Sulit membayangkan dalam kultur kepemimpinan dan hirakhis partai komunis China yang begitu ketat diera sebelum revolusi kebudayan dan keterbukaan, ditambah (boleh jadi,pen) arogansi kepemimpinan — wadah pemikir terbebas dari rasa ketakutan untuk menampilkan kebenaran akademik, dampaknya pasti kembali terjebak tuduhan seperti disloyal kepada partai, dan atau pemimpin. Padahal apa yang akan ditemukan adalah kebenaran yang berujung kepada perbaikan organisasi … bukankah keprihatinan kepada organisasi dalam pengertian menemukan fakta benar atau salah dalam kajian atau riset memerlukan suatu keberanian dan tekad luar biasa dan hampir pasti terbungkus dalam bentuk loyalitas paling tulus kepada organisasi sekaligus menjadi kredo wadah pemikir ?

Mengurang-ngurangi atau mengabur-ngaburkan kenyataan baik positif ataupun negatif dalam konsep pemecahan masalah (decision science), identik dengan membangun asumsi sekaligus menciptakan risiko apabila asumsi tersebut ternyata menjadi kenyataan…risiko adalah ongkos yang harus dibayar mahal. Analog dengan wadah semacam ini baik di Barat maupun di China apabila ada wadah yang berafiliasi dengan Universitas pemerintah dan didanai penuh atau subsidi pemerintah akan sulit menelorkan ide segar dan berani, padahal simbol dari wadah pemikir adalah kebenaran … dan tentunya tidak akan sama kualitas produk antara wadah pemikir dengan kelompok PokJa ad-hoc. Wadah pemikir adalah investasi sumber daya manusia yang melakukan riset riil dan membantu mitranya yakni kelompok “inside-of-the box” dengan ide segar dan jauh dari pesanan, titipan, tekanan , retorik maupun tuduhan disloyal. Wadah pemikir dapat dijadikan simbol kemajuan pengetahuan suatu negara — pengetahuan adalah kekuatan dan kekuatan adalah mahal.

Referensi:

1.Abelson,Donald.E, Proffesor , Dept of Political Science, University of Western Ontario, Canada, “ An Historical Perspective — Think Tanks and US Foreign Policy ” , khususnya halaman 9……why “think tanks” in the United States have become an integral feature ofthe country’s political landscape and why policy-makers in Congress, the Executive Branch, and the wider federal bureaucracy often turn to them for policy advice.

2.Asmus, Ronald. D, Senior Transatlantic Fellow, German Marshall Fund of the United States Adjunct Senior Fellow, Council on Foreign Relations, “Having an Impact : Think Tanks and the NATO Enlargement Debate”.

3.Bader , Jeffrey A , Director John L Thornton China Center, Participants : Murray, Scot. Tanner,  China Security Analyst , et-all, Brooking Institution, Washington, 2008, “Think Tanks in China : Growing Influence and Political Limitations”.

4.Haass, Richard.N, Director of Policy and Planning US Dept of State, November 2002, “ Think Tanks and US Foreign Policy: A Policy-Maker’s Perspective”, US Foreign Policy Agenda, An Electronic Journal of the US Departement of State……He says they generate “new thinking” among U.S. decision-makers, provide experts to serve in the administration and Congress, give policy-makers a venue in which to build shared understanding on policy options, educate U.S. citizens about the world, and provide third-party mediation for parties in conflict

5.Hassig, Kongdan Oh, Institute of Defense Analysis , 1998 , “ IDA’s Outreach to Asia-Pacific Research Institutions “.

6.MC Gann, James G, Rutledge Research in American Policy, 2007, “Think Tanks and Policy Advice in the US : Academics, Advisors and  Advocates”.

7.Merz, Rudolf Traub, Briefing Paper Sanghai, Special Issue, Sept 2011,Friedrich Ebert Stiftung, ”Do We Need More and More Think Tanks?”.

8.Ren,Xiao, Modern International Relations, Issue # 7, 18-48, 2000, “ The Fifth Power — The Formation, Function, and Operation Mechanism of the US Think Tanks,”

9.Rich, Michael. D, RAND, 2003, “How Think Tanks Interact with the Military

10.Rich,Andrew, City College of New York, 2004, ” Think Tanks , Public Policy , and the Politics of Expertise” ;

—Ch1. “ The Political Demography of Think Tanks “ .

11.Yang Ye, Friedrich Ebert Stiftung, Briefing Paper Shanghai, Special Issue, September 2011/English, Editor Andrew Rich, James Mc Gann, et-all (8 persons) , “Think Tanks in Policy Making — Do They Matter ?” ;

—–ch4.”Feasible Paths of Development for Think Tanks in China ; Yang Ye

—–ch5.”Think Tanks in Trouble in the UK: an Honourable Tradition in Troubled Times”, Mark Garnett.

—–ch6.”Think Tanks in Germany”,Martin Thunert.

 

0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x
Share via
Copy link
Powered by Social Snap