Zona “abu-abu” pak…bukan hitam-putih–tunggu momentum?

—in the simple truth that the military is a highly complex social phenomenon in itself and one that cuts through various level, touches several different context, and is thus subject to multiple processes of interpenetration (Gerhard Kuemmel)[1]. The illegal trade in drugs, arms, intellectual property, people, and money is booming. Like the war on terrorism, the fight to control these illicit markets pits goverments against agile, stateless, and resourceful networks …. is important to know when and how military forces may be used legitimately.To do so, it is necessary to understand the transformation of the threat—-armed groups, which once challenged goverments[2]. There exists a nexus among illicit trafficking, corruption, organized crime which feeds on the proliferation of fragile states, insurgency and terrorism [3].  

Oleh: Budiman Djoko Said

 

Pendahuluan

Konflik di-Ukraina, Crimea, Syria, Iraq, dan Laut China Selatan[1] terus menerus menarik perhatian [2]. Kategori apa atau jenis konflik apa yang terjadi …peperangan “hybrid” atau “zona abu-abu” peperangan “tak terbatas” atau “tidak beraturan” atau ”generasi baru” atau peperangan versus “little green soldiers” atau “green sailors”[3]. Untuk membedakan dengan praktek kontemporer seperti peperangan konvensional/tradisional atau perang “hitam-putih” (periksa diagram Venn berikut, pen), maka kapabilitas dan unit apa yang disiapkan[4]. Analis sekuriti, militer, pengambil kebijakan sulit memberikan label yang tepat. Pengalaman usai perang dingin, membuat militer Barat cenderung memikirkan tradisi baru membangun konsep kekuatan militer yang luwes (flexible forces)[5]—menyadarkan pengamat, pemerhati dan pemikir studi perang kelirunya pelabelan format peperangan selama ini atau kaget dengan fakta bahwa tiba-tiba mereka sudah dipintu gerbang peperangan hybrid. Persis pernyataan Perdana Menteri Perancis, Paul Reynaud[6]:

… Our classic conception of war has come up against a new conception … Of all the tasks which confront us the most important is clear thinking. We must think of the new type of warfare we are facing and take immediate decisions.

Diskusi perang dan strategy sangat luas, namun sedikit yang membahas perbedaan peperangan tidak beraturan, konvensional/tradisional, dengan isu kontemporer seperti hybrid, peperangan generasi, atau semacam itu.

Pemetaan umum (lihat diagram Venn dibawah ini)—peperangan hybrid [7] ?

— In the twenty-first century we have seen the tendency toward blurring the lines between states of war and states of peace. Wars are no longer declared, and having begun, proceed according to an unfamiliar template.  

(Gen. Valery Gerasimov, Chief of the General Staff, Russian Armed Forces)[8].

Diagram dibawah ini mendemonstrasikan perpotongan lingkaran peperangan tidak beraturan (Irregular Warfare) dengan peperangan konvensional sehingga membentuk irisan elips peperangan hybrid. Hybrid bisa saja bermain di-lingkaran peperangan tidak beraturan atau bergeser ke-konvensional atau dalam irisan Hybrid.

Contoh; sukses Jerman tahun 1940 (blitzkrieg?) dan Rusia tahun 2014 & 2015 (aneksasi negara sempalan Russia lama?), bukan karena digunakan konsep peperangan baru, tetapi karena perhitungan cermat kekuatan lawan. Perhitungan ini dikembalikan untuk mengekploitasi kelemahan dan menghindari kekuatan besar[9]. Sukses kampanye sangat tergantung pada operasional pendadakan dan membuktikan bahwa kelemahan untuk di-dadak adalah fungsi ketidak siapannya disemua lini domain kekuatan. Kasus tahun 1940, 2014 & 2015 di sebut-sebut sebagai bentuk peperangan baru[10] dan mulailah sebutan baru seperti hybrid atau abu-abu bermunculan. Echevarria, II,[11] menyebut dalam bukunya bahwa Russia dan China telah mengeksploitasi kelemahan konsep kampanye militer AS.

Menoleh pada diagram diatas, nyata-nyata profesionalisme militer telah terlempar dari kompartementalisasi peperangan. Artinya masing-masing satuan tersebut tidak memiliki lagi “juridiksi” manuevra. Misal: Passus biasanya berperan dalam perang tidak beraturan (misal: kontra insurjensi, kontra terorisme) dan pasukan regular umum berperan dalam peperangan konvensional, namun dengan munculnya elips antara ruang konvensional dengan ruang tidak beraturan—siapa yang berperan lagi antara dua (2) lapisan itu? Perlu “jahitan” (organisasi) baru, namun tidak perlu baju baru—lebih ke-isu tantangan bukan krisis. Isu perang konvensional (state-to-state conflict) murni[12] mengecil peluangnya untuk hadir, mungkin dunia sudah merasakan trauma pahitnya penderitaan perang dunia. Pantas kalau negara menggeser (trade-off) “policy” agar mengoptimalkan kekuatan militer & sipil dalam bentuk operasi gabungan (joint civil-military) mengatasi manuevra kekuatan tidak beraturan ini (radikal, terror, transnasional kriminal, dan semacam itu)[13] dan semuanya beroperasi di dalam ruang  keamanan dalam negeri (homeland security). Ruang atau lingkaran yang berada di ruang irisan tersebut, berpeluang besar menciptakan peperangan hybrid.

“Kaburnya” format peperangan, bukan hanya diwaspadai Barat bahkan oleh Gen Valery Gerasimov[14](Russia); periksa tabel Gerasimov dibawah ini. Berbeda sedikit versi Barat dan sangat wajar mengingat persepsi dan pengalaman perang Russia dan cara menjalankan perang tersebut, namun ruh-nya nampak sama, yakni format peperangan baru dengan tindakan (respon) yang baru. Russia lebih menitik beratkan pada tindakan yang patut dilakukan, sebaliknya Barat lebih komprehensif memikirkan ruang, peran, baru tindakan, bisa jadi hal ini dilakukan mengingat Barat selalu melakukan peperangan dalam bentuk koalisi (lebih pruden). Echevarria, II menyebut item # 1 dan # 2 baik dalam kolom tradisional maupun method baru tidaklah tepat.

Perang dunia ke-II, Hitler menyerang Polandia tahun 1939, tanpa deklarasi, bahkan Jepang berbuat yang sama sewaktu penyerang Pearl Harbor, tahun 1941. Faktanya para aggressor melakukan hal yang sama yakni tanpa peringatan—peringatan akan menurunkan output “pendadakan”[15]. Deklarasi sudah dianggap menyatu dengan serangan mendadak. Russia, satu-satunya yang menyatakan perang terhadap Jepang (Russo-Japan War) tahun 1945.

Referensi: Ibid, halaman 9.

Maaf untuk membaca full akses konten dalam format post artikel silahkan terlebih dahulu mendaftar sebagai anggota milist FKPM –> D A F T A R

0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
Scroll to top
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x
Share via
Copy link
Powered by Social Snap